Berilah Jalan Menuju Sipawon

Semakin sore udara di Girtirta makin menyehatkan tubuh, segar. Berjalan, melewati gundukan batu hasil galian milik warga membuat kami terus mengucap kata permisi kepada mereka. Tata krama di Desa.

Sampai di pertigaan jalan keluar Air Terjun Merawu, seorang Ibu paruh baya yang menggendong keranjang berisi batu pecahan menyapa kami.“Mau ke Sipawon ya, Mba-Mas? Dekat kok di situ. Dari pertigaan ini, ambil lurus, mengikuti jalan yang sudah ada. Jalan kaki, paling lima belas menit”. Ketika mengucap kata lurus, telunjuknya menunjuk ke arah barat.

Sipawon, sebentuk nama yang tidak asing bagi saya. Pawon yang saya tahu tahu dalam bahasa jawa sama artinya dengan tungku atau kompor. Untuk memecah rasa penasaran tentang Sipawon, kami pun bertanya kepada Ibu Noname. Dan barulah kami tahu, bahwa Sipawon adalah nama Air Terjun yang letaknya masih di Desa Giritirta. Sipawon, tanpa spasi. Bukan Si Pawon yang berarti Si Tungku.

Lima belas menit waktu yang dibutuhkan untuk sekali jalan menuju Air Terjun Sipawon. Masih cukup sore jika kami meneruskan perjalanannya. Jadi, kami memutuskan untuk lanjut!

BINATANG LIAR CURUG SIPAWON
Hai Nyemooots. . .

Petunjuk arah menuju Sipawon saat itu belum ada. Kecuali dengan cara bertanya kepada masyarakat setempat. Akses menuju Sipawon pun cukup mudah. Sebab, jalan tersebut sering digunakan oleh para petani ke ladang. Cukup lebar, mungkin bisa untuk jalan dua motor.

Tapi, jangan berharap bisa menggunakan motor untuk ke sana. Sebab, jalan masih berupa tanah. Dan, sesekali batu kecil yang belum tertata itu pun kami lewati. Ya…namanya saja jalan ladang, mana ada aspal hotmix.

Sudah lebih dari lima belas menit kami melangkahkan kaki. Betis dan telapak kaki sudah mulai protes. Hampir setiap orang yang pulang dari ladang kami sapa, menyanyakan dimana letak Sipawon. Dan, jawaban dari mereka satu nada. “Sudah dekat, Mas-Mba. Paling dua pengkolan lagi”. Kamu tahu pengkolan kan, ya. Sama artinya dengan tikungan.

Sampai orang ke sekian yang kami tanya, jawaban masih satu nada. Pengkolan memang jahat! Hahaha

Seperti ingin balik arah saja. Tapi, mana mungkin. Kami sudah jalan kurang lebih tiga puluh menit. Masak mau kalah dengan pengkolan. Kami yakin tidak akan tersesat, sebab hanya ada satu jalan bertemu Sipawon.

Tak terasa kami telah memasuki kawasan hutan yang cukup membuat jantung ini–? Banyak suara monyet liar, kicauan burung, dan yang paling menggelikan adalah suara babi. Kami bersyukur, karena suara gemricik air mulai terdengar. Meski monyet-monyet liar sepertinya ingin mengajak kami bermain. Hish…jantung ini!

AIR TERJUN PEJAWARAN
Penampakannya. . .

Oh God, itu Sipawon! Kami merasa plong. Sebab sudah melihat penampakannya, meski masih harus jalan menyusuri hutan lagi. Suara monyet tak berdosa kembali menemani perjalanan.

Tanpa kami sadari…Tuhan, kami tidak menemukan jalan untuk menuju ke Sipawon. Kami terus berusaha mencari jalan setapak. Namun tidak berhasil menemukannya. Yang kami lihat hanyalah jurang dan aliran sungai yang saat itu tidak cukup deras. Berilah jalan menuju Sipawon, Tuan. Kami tidak bisa membuat jalan, meski hanya setapak. Takut melanggar.

Pantas saja pada sebentuk papan berwarna hijau, yang terpaku diantara dua bambu tidak ada rekomendasi menuju Air Terjun Sipawon. Sebab, aksesnya saja belum memenuhi standarisasi untuk wisata kalik, ya.

Dan kita semua tahu, bahwa yang namanya air terjun ya air yang mengalir dari atas ke bawah. Terjun! Hihihi Tapi, untuk mencapainya jelas tidak sama. Pun dengan suasana di sekitar air terjun itu, yang mana masing-masing memiliki magnet tersendiri.

Sungguh kami tidak menyesal sudah berjalan puluhan kilo meter, meski tidak bisa mencumbui objek. Setidaknya, kami mempunyai jejak di hutan itu, yang membuat jantung–?

22 Comments

  1. wuih,bikin ngiler aja..terakhir mbolang ke air terjun tahun 2010 hehe….jauh juga ya,tapi kalo dah nyampe,pasti capek terobati hehe

    Sudah lama juga ya, Kak. 😀

  2. Ah mending gitu gak usah dibangun, biar pengunjung susah hahaha… ah ijoooonya segeeeeeeeerrr

    Senang lihat orang susah yes. 😛

  3. Jalan kakinya jauh capek pasti ya, tapi ketika sampai tempatnya capeknya langsung hilang ihat pemandangan indah 🙂

    Suka yang capek2, Kak. . 😀

  4. Kalau tidak ada jalan ya mbikin sendiri yang penting nyampe tujuan. Kalau kondisi jalan berbukit seperti itu biasanya saya menghafal letak bukit. Saya jalan tadi berada di samping kanan bukit, jadi nanti baliknya ya lewat situ

    Enggak boleh, Kak. Takut merusak. Karena, tidak tahu aturannya.

  5. hahahaa… ngeri juga mbak kalo tersesat… tapi dapat pengalaman baru, bisa diceritakan ke anak cucu :)))

    Tersesat dan tak tau arah jalan pulang. .Uwoouwooo. 😀

  6. dari bentuknya ini curug naraban d ds, tlodas, desa sarwodadi ya mbak??saya pas kesana memang dikasih tahu bapak bapak yg sedang menambang batu katanya masih ada babi hutannya,,,tapi pas kesana alhamdulillah tdk bertemu babi hutan atau monyet,,,,

    Saya diberi tahunya curug sipawon tuh, Mbak. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *