RIVER TUBING KALI PANARABAN 2

River Tubing di Kali Panaraban, dan Alasan Kenapa Aku Akan Kembali Mencobanya 

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”.

Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman blogger di dekatku yang ikut river tubing di Kali Panaraban. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendangku karena pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing. 😀

Kenapa minta ditendang cobak? Karena sore itu aliran sungai ngga sederas hari biasanya. Ini menjadikan tubing kerap nyantol bebatuan. Selain itu, kami sering salah jalur juga. 😆 Meski demikian, kami masih sempat ketawa jahat saat melihat teman lain yang selalu berjodoh dengan bebatuan di kali. 😀

Eeeh, kamu bisa ngebayangin ekspresiku saat minta ditendang? Jadi nih ya, suaraku tiba-tiba sok manja, cengar-cengir tengil, sambil mencoba menggoyangkan tubuh yang tengah rileks duduk di atas tubing agar bisa lepas dari belenggu bebatuan. 😆 😀 Duuh…rasa-rasanya udah kayak puteri duyung versi Pretty Asmara, deh. Emang ada? Wkwkwk

RIVER TUBING PANARABAN WANAYASA

Enak zamanku to?

😀

Sore itu, river tubing di Kali Panaraban tetap dilaksanakan, dan ini luar biasa!

Tepat pukul 15.00 WIB, aku, bersama teman-teman Blogger dari Banyumas dan Wonosobo, tiba di Balai Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Sebelum menuju Kedung Umpluk, tempat mulai tubing, aku beri tahu sedikit informasi tentang Kecamatan Wanayasa.

Masuk daerah Wanayasa, hawa dingin mulai terasa sampai dinding kulit. Karena kecamatan ini cukup dekat dengan dataran tinggi dieng, kira-kira empat puluh lima menit, tak heran jika suhu air dan udara pun hampir sama dengan Dieng. Makanya, para operator river tubing sempat memastikan kesediaan kami untuk tetap menikmati tubing, atau cukup melihat arus Kali Paraban. Dengan mantap, kami memilih untuk tetap tubing. Susur sungai sore hari dengan kondisi air yang tergolong dingin. Luar biasa, ya!

Iyalaah…soalnya sayang banget kalau sampai ngga jadi nge-tubing. Udah naik mobil terbuka selama enam puluh menit, udah lama menunggu para operator menyiapkan peralatan tubing, masak batal tubing. Kan ngga asyik. Lagipula, kalau bukan sore ini, sepertinya bakal ngga ada waktu lagi karena esok hari pasti tenaga udah lempoh di acara Pesta Budaya Kalilunjar.

Berbekal ketaatan pada rundown, kami memutuskan untuk memakai lifejacket, pelindung kepala, decker untuk pelindung tangan dan kaki yang telah disediakan oleh teman-teman Pokdarwis Tirta Panaraban. Omong-omong, pokdarwis ini lagi hot-hotnya, lho. Baru diresmikan bulan Maret tahun 2017 berdasarkan SK dari Bupati Banjarnegara. Mereka lagi gesit-gesitnya mempromosikan potensi Desa Dawuhan. Salah satunya yaitu Kali Panaraban yang kini dimanfaatkan untuk olahraga River Tubing.

RIVER TUBING

Semangatnya ngalahin pas mau ketemu patjar. . . Hihihi

Perjalanan menuju Kali Panaraban dimulai dari depan Balai Desa Dawuhan, kemudian lanjut jalan manja melewati perkebunan dengan waktu kurang lebih sepuluh menit. Untuk meringankan para operator, tiap peserta membawa satu tubing yang nantinya akan digunakan untuk susur kali. Supaya ngga terasa berat, angkat tubing dengan dua tangan, lalu letakkan di atas kepala. Ini lebih nyaman ketimbang dijinjing apalagi dipeluk. 😆 Anggap saja sedang nyunggi kerupuk, ya. Ini tip, lho. Hahaha.

Yes…akhirnya nyobain paket tubing Happy Fun

Mengingat waktu yang kami punya cukup terbatas, para operator tubing Delta Dantana menyarankan kepada kami untuk mencoba track river tubing yang paling dekat. Estimasi waktu kurang lebih satu jam dengan kondisi air kali yang ngga begitu deras. Kami pun mengangguk pasrah karena ternyata kami masuk kali jam 16.30 WIB. Brrr

Satu per satu tubing mulai digelindingkan ke kali. Sebelum tubuh menyatu dengan air, Mas Alwanto (guide air) memimpin do’a untuk keselamatan aktivitas kami. Saat itu ngga ada sesi pemanasan seperti yang biasa dilakukan di depan Balai Desa Dawuhan sebelum mulai river tubing. Lagi-lagi, karena keterbatasan waktu. Tapi aku percaya, para Operator Delta Dantana tuh tangkap, tangkas, dan trengginas, seperti moto mereka. Ini lah yang membuatku cukup tenang. Terpenting selalu ada komunikasi, baik dengan teman maupun operator. 😉

PERSIAPAN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA

Buuuk, gayanya biasa aja bisa, kaaan?

Satu per satu kaki masuk ke dalam air. Nyesss…celana pun mulai basah. Brrr…duiingin, asli dingin banget. Tapi melihat semangat para Operator, dingin pun berhasil tersamarkan sampai akhirnya aku bisa duduk di atas tubing dengan bahagiaaaaa! 😉

Paket tubing yang kami jajal sore itu adalah Happy Fun dengan jarak tempuh kurang lebih 1 km. Jika debit air sedang tinggi, jalur ini bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit. Menurut Pak Supri, pegiat Desa Wisata setempat, jalur ini biasanya diambil oleh anak-anak SD atau SMP. Jeramnya memang ngga begitu banyak dan pendampingannya pun mudah. Cukup aman buat anak-anak.

Arus sungai lebih sering membawa kami ke sebelah kiri di mana pepohonan itu bergelantungan. Kalau seperti ini, harus fokus ke depan supaya ngga kesambet. Yaa…meski hanya kesambet dedaunan, ternyata sukses bikin kaget, lho. Kaget plus sedikit perih, meski ngga seperih pas tahu kalau babang gebetan ternyata sudah punya tunangan. 😆  😀

ASYIKNYA RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA

Benerin helmet duluu…

River tubing dengan debit air rendah memang kurang asyik dan kurang menantang. Tapi pas melihat teman-teman lain pada temangsang di bebatuan, rasanya pingin ngakak-ngikiks. Apalagi yang temangsang itu cewek, kayak Eci dan Tiwi. Hanya bisa menunggu Babang-babang guide datang, lalu menggoyangkan hatinya tubingnya. 😀

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”.

Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman yang berada di dekatku. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendangku. Artinya, pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing. Jadi guidenya ngga berat-berat banget laah.

Disambut Api Unggun…

Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib dan kami masih di dalam air. Hahaha. Panik? Ngga, dong! Banyak orang di sekitar kali, banyak teman yang masih di atas tubing, dan hanya aku yang temangsang. Duuh…nasib puteri duyung, ya. 😆

API UNGGUN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA

Dibuatin Api Unggun…

Beruntung banget sesampainya di Rest Area, kami disambut api anggun yang memang selalu ada untuk para eserta tubing. Aaah…nikmat banget. Meski sebenarnya ada yang kurang, yaitu anget-anget yang lain. Mendoan, misalnya. 😆 Etapi sajian khas di sini bukan mendoan, melainkan tempe wudha. Itu lho, tempe goreng yang ngga dipakein tepung. Hahaha. Tempe ditambah nasi jagung dan ikan asin. Yuummii banget, ya.

Sajian khas lain setelah tubing yaitu ada aneka camilan berbahan dasar singkong. Ya, Desa Dawuhan termasuk salah satu desa penghasil singkong. Duuh…sayang banget, yaa. 😉

River tubing ini bisa dibilang dadakan karena ada miss antar penyambung komunikasi. Meski apa adanya, aku tetap bahagia. Apalagi karena obyeknya air, uuw…tambah bahagiaa.

Tentang Desa Wisata Tirta Panaraban

Desa Wisata Tirta Panaraban dan Wisata River Tubing digagas oleh H. Sakim, S.Pd, Kepala Desa setempat. Ide untuk menjadikan wisata river tubing ini muncul saat di Desanya sedang ada pelatihan rescue. Para pemuda Desa Dawuhan dilatih langsung oleh BPBD Kabupaten Banjarnegara. Nah, saat kegiatan sosial sedang senggang, BPBD mengarahkan para pemuda ke Kali Panaraban untuk belajar menjadi rescue. Dari sini, akhirnya masyarakat sepakat untuk menjadikan Kali Panaraban sebagai obyek wisata olahraga yang dikelola secara swadaya.

Sebelum dimanfaatkan untuk river tubing, Kedung Umpluk, kedung yang berada di bawah jembatan bambu, penuh dengan sampah. Ngga hanya di kedung saja, hampir sepanjang aliran sungai bertebaran sampah sampai ke pinggir sungai. Hmmm…mengerikan, ya. Bukan hanya sampah saja yang menjadikan kali ini ngga sehat, ada tingkah laku manusia juga yang membuat ekosistem di kali ini nyaris hilang. Adalah tangan-tangan jahil manusia yang suka meracuni atau setrum ikan. Hiiih…ngeselin, ya. Pingin njeweer rasanya. Weeerrr…

RIVER TUBING PANARABAN

Jeraam….

Sekarang kamu bisa lihat kondisi Kali Panaraban lewat foto-foto di sini. Lebih bersih, bukan? Aku yang menyusuri sungai saja betah mainan air di sini. Hanya saja, di beberapa titik ada pepohonan yang menjuntai sampai kali dan ini cukup mengganggu aktivitas tubing.

Saat ini, pihak Pokdarwis terus meningkatkan fasilitas untuk river tubing, khususnya. Seperti pengadaan sepatu untuk para wisatawan. Selain wisata tubing, mereka juga pelan-pelan mengenalkan potensi daerah seperti kerajinan tangan, dan camilan khas setempat.

Dan ini alasanku kenapa ingin kembali tubing di Kali Panaraban

Idih…manusia emang ngga ada puasnya, ya. Hahahaha. Ngga, kok. Aku cukup puas dengan tubing ini. Hanya saja, aku pingin nyobain yang paket Full Adrenalin. Jalurnya lebih panjang, lama, dan banyak jeramnya. Tubing dimulai dari bawah aliran Curug Panaraban dan Finish Rest Area. Sekalian main ke Curug. Jarak tempuh kurang lebih 4 km, waktu yang dibutuhkan 90 menit, dan harga untuk paket ini yaitu 140.000 per orang.

Ada satu paket lagi dengan track sedang, yaitu paket Adrenalin. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 60 menit kalau debit air lagi tinggi. Jarak tempuh 2.5 km, dimulai dari Desa Sarwodadi, dengan biaya Rp 75.000 per orang. Untuk dapat menikmati olahraga ini, minimal harus ada lima peserta baru bisa susur Kali Panaraban.

Selain nyobain paket Full Adrenalin, aku pingin juga nyobain masakan mamak-mamak Desa Dawuhan yang katanya endeeus banget. Pingin ngerasain api unggunan, sambil makan nasi jagung. Pingin nyobain aneka camilan dari singkong. Pingin ngobrol lebih lama dengan para operator Delta Dananta (Destinasi Lintas Air, Dawuhan Tangguh Bencana). Abis mereka tetap keliatan semangat nemenin kami ber-tubing, meski udah sore dan airnya dwingiiiinnn.

Kira-kira, kapan ke Dawuhan lagi, ya. Ada yang mau ikut? ^_*

River Tubing Kali Panaraban

  • Alamat: Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara
  • Kontak: +62812 1022 4432 (Pak. Supri)
  • Instagram: @tubingx_panaraban

 

11 thoughts on “River Tubing di Kali Panaraban, dan Alasan Kenapa Aku Akan Kembali Mencobanya 

  1. what? nyemplung kali di wanayasa jam 16.30? kalo aku mending melipir deh, dingin banget itu pasti *malesan

    sekarang river tubing lagi ngeheits ya, banyakan deswita yg punya sungai mesti punya aktivitas ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *