Singgah Di Monumen Hasil Perjanjian Renville

Singgah Di Monumen Hasil Perjanjian Renville

Singgah Di Monumen Hasil Perjanjian Renville Banjarnegara – Belum lama ini, saya bersama Bapak ada suatu urusan. Sebenarnya urusan Bapak, sih. Tapi, saya ngekor begitu saja. Kami bermotoran ke arah barat. Masih dalam perjalanan, henpong Bapak berbunyi nat nit nut berulang kali. Merasa panggilan tersebut sepertinya penting, akhirnya kami berhenti sejenak di didekat monumen hasil perjanjian renville.

Awalnya saya tidak tahu kalau monumen ini merupakan monumen hasil perjanjian renville. Sembari menunggu Bapak menjawab teleponan, saya mulai mendekat ke monumen, dan pun mencoba masuk ke monumen tersebut.

Monumen Hasil Perjanjian Renville terletak di Desa Joho, Kec. Bawang, Kab. Banjarnegara. Dari arah timur, kurang lebih sepuluh meter dari pertigaan Desa Joho. Semua orang mempunyai akses masuk ke monumen tersebut. Karena, pintu monumen tidak terkunci.

Pintu monumen ini semi permanen. Sebagian ada yang terbuat dari bambu tersusun rapih, ada juga yang dari besi. Samping kanan-kiri monumen tidak ada benda lain terkecuali tiang bendera yang masih terlihat kokoh. Begitu juga dengan tempat tiang benderanya, masih layak.

Monumen Hasil Perjanjian Renville Di Banjarnegara

Siapa saja boleh masuk. Asal tidak meninggalkan apapun didalam monumen!

Saya berjalan disekitar monumen dengan hati-hati. Karena, disekeliling monumen banyak rumput lateng, yang apabila kulit menyapanya akan gatal-gatal parah. Tiap sisi dinding tugu terukir relief yang menggambarkan sejarah singkat perjanjian renville.

Jejak Perjanjian Renville di Banjarnegara

Tak  jarang orang tahu ada monumen hasil perjanjian renville ini, meski letaknya berada di pinggir jalan raya Desa Joho. Masih ingatkah tentang Perjanjian Renville? Adalah salah satu usaha Pemerintah Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia.

Membaca buku karya Makhlani Yudhokusumo yang berjudul, Banjarnegara Berjuang, Lukisan Sejarah Perjuangan Merebut Kemerdekaan di Kabupaten Banjarnegara. Dengan bahasa yang renya beliau menuliskan, bahwa Belanda masuk Banjarnegara Setelah persetujuan perjanjian Renville antara pihak RI dan Belanda 17 Januari 1948.

Masuknya Belanda ini menyebabkan sebagian besar daerah karesidenan Banyumas diduduki oleh tentara Belanda, termasuk kota Banjarnegara.

Belanda menyerang Banjarnegara hampir bersamaan dengan pendudukan tentara Belanda di Yogyakarta. Banjanegara menjadi bulan-bulanan pengintaian udara dari tentara Belanda dan satu waktu mendapat bom bardemen dan serangan dari udara dari tentara Belanda.

Banyak perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Banjarnegara untuk melawan tentara Belanda. Keikut sertaan rakyat biasa dalam mempertahankan kemerdekaan merupakan bukti bahwa rakyat tidak ingin lagi mengalami penjajahan di Negara mereka sendiri.

Perlawanan terhadap tentar Belanda banyak terjadi di wilayah Banjarnegara yaitu di Prigi, Purworeja Klampok, Joho dan Kalibening. Perlawanan ini merupakan wujud dari ketidaksenangan rakyat Banjarnegara terhadap tentara Belanda.

Perlawanan rakyat Banjarnegara terhadap tentara Belanda pada tahun 1948-1949 berdampak pada banyaknya korban jiwa baik dari rakyat maupun tentara Belanda. Selain itu, setelah kepergian tentara Belanda dari Banjarnegara kondisi pemerintahan juga kacau balau akibatnya system pemerintahan sempat mengalami kebrobokan.

BATAS STATUS QUO

Banyak sampah disekitar ini. . .  🙂

Pada akhirnya, usaha Belanda dalam menguasai wilayah Banjarnegara akhirnya dapat dikalahkan dengan adanya serangan yang terus dilakukan oleh rakyat Banjarnegara. Berakhirnya pemerintahan Belanda di Banjarnegara ditandai dengan adanya serah terima kedaulatan yang dilakukan pada tanggal 8 November 1949 di alun-alun Banjarnegara.

Tak hanya monuen saja yang berdiri kokoh di Desa Joho Mantiranom. Terdapat juga lempengan marmer di luar monumen (sebelah barat) yang bertuliskan “Batas Status QUO RI dan Belanda dalam Perundingan di Kapal Renville Tanggal 17 – 1 – 1948 antara Daerah Belanda dan Daerah RI “.

Sejauh mata melihat, bagian dalam monumen ini cukup bersih. Sepertinya ada pemeliharaan monumen, entah dari warga sekitar atau pemerintah. Hanya saja, saat itu rumputnya lumayan njembrong. Jadi, agak geli dan juga mengganggu pemandangan. Mungkin, penjaga monumen belum sempat memangkas rumput. Ingin rasanya ambil alih pemangkasan rumput tersebut. Andai saya membawa cangkul, ya. Hahahaha. Gaya banget!

Semoga peninggalan sejarah berupa monumen hasil perjanjian Renville di Banjarnegara akan terus terlihat indah, bersih dan gilar-gilar. ^_*

25 thoughts on “Singgah Di Monumen Hasil Perjanjian Renville

  1. Wow Idah jeli banget, kami pembaca bisa ikut menikmati monumen berharga ini. Makin cinta mBanjar nih saya….Trim ya Non

    Asyiik, cinta terus ya, Bu. 😀

  2. Kie angger dholan mene meng Banjarnegara kayane kudhu mampir yah, Dah? 🙂
    Wis saiki Mbak Anaz angger komen nganggo bahasa ngapak bae 😀 😛

    Penak ngapak malah, Mba. 😆

  3. Bolak balik singgah di Banjar tapi kok saya nggak pernah liat monumen ini ya, mbak? dari terminal banjar jauh nggak?
    nanti kalo ke Banjar lagi, kudu wajib mampir nih, 🙂

    Dari terminal lumayan jauuh. 😆

  4. paling males pelajaran sejarah,tapi paling smangat kalo jalan2 ke monumen atau museum,padahal sama lo ya 22nya tentang sejarah tapi kl belajar di monumen atau museum rasanya kok seneng ya…*malah curhat*

    Begitulah saya. #Eh 😆

  5. Yaaaa… sayang banget ya mak sampahnya tertebar dimana-mana… padahal batas wilayah itu harusnya dipagari dan disteril..itu termasuk kenangan bagi generasi mendatang padahal.

    Semoga kedepannya mendapata perhatian deh, Mak. 😆

  6. senengnya bisa menapak tilas peninggalan sejarah.. daaaan… lebih seneng lagi, itu ada di sekita kita, di kota kita.

    Ada kepuasan tersendiri ya, Mba. 😆

  7. wah joss ini,,, selalu mengingat sejarah. Bagus juga kalo ngupas peninggalan sejarah bangsa ini agar kita tidak lupa jaman perjuangan bangsa ini

    Ngupas apel juga bagus, Pak. 😆

  8. Waduh sedih liat banyak sampah berserakan disitu. Kenapa ya pemda setempat gak perhatian tempat bersejarah begini?

    Jangan dilihat sampahnya, Ka. 😆

  9. Singgah di blogmu itu selalu ngingetin aku sama pelajaran Sejarah. Duh… aku payah deh. Lupaaa sama pelajaran itu. Coba zaman aku sekolah udah booming internet dan blog kayak sekarang, aku pasti bisa inget sama pelajaran itu. Belajar dari buku dan guru sejarah sungguh bikin bosen. Semoga anak sekolah sekarang mah enggak ya… *malah curhat* 😀

    Hahahha. Anak sekolah sekarang enak, ya. Udah ada koneksi inet. 😆

  10. Hah kok kayak nggan terawat ya monumennya pdhl penting buat sejarah

    Dirawat koq, Mba. Hanya saja kurang maksimal. Mugnki, sih. 😆

  11. Postingan ini membuat saya merasa sedang melakukan napak tilas *tsah* wisata sejarah. Ya, sampah masih menjadi salah satu hal yang mengganggu di tempat wisata. Kalau di Pulau Kanawa, setiap sore ada acara bersih-bersih loh hehehe… tamu pun boleh ikutan bersih-bersih pulau.

    Asyiik banget kalau bersih2 pulau gitu. Bareng2 dan setelahnya makan bareng. 😆

  12. saya salah satu anak pejuang yang ada di buku tersebut.saya punya bukunya.buku ini seolah hanya yang penulisnya saja yang dominan..oya ayah saya waktu Wk Ki 1 bat gunungjati

    Weeh..hebat! Pinjam bukunya, dong.

  13. punya bukunya makhlani ya? dulu aq punya tapi dah ilang. pdahal isinya lngkap hingga mncakup luar banjar, trus ilustrasinya jg keren… pingin baca lg..

  14. Terima kasih infonya ya, Mbak… bisa saya jadikan referensi untuk lomba menulis cerpen dengan tema sejarah… izin share ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *