PATUNG DAWET AYU BANJARNEGARA

Sisi Lain Pasar Ikan Air Tawar

Saya paling suka kalau diajak Ibu jalan-jalan memasuki gang demi gang milik pasar kota Banjarnegara. Entah itu pasar sayur, pasar baju, pasar buah, pasar daging, pasar ikan, atau pasar adam. Hihihi

Nah, kali ini saya akan mengajak kamu untuk melihat pasar ikan air tawar, yang berada di kompleks pasar daging sapi. Sebentuk pasar yang dikhususkan untuk menjual ikan air tawar di Banjarnegara (kota) bisa dibilang cukup luas, dan bersih.

Saya mengatakan demikian, sebab di pasar ini ada beberapa fasilitas umum yang bisa dimanfaatkan dengan baik oleh penjual dan pembeli. Misalnya, adanya mushalla, tempat parkir, kamar mandi, dan tempat wudhu. Itu semua membutuhan tempat, bukan? Mungkin di pasar ikan air tawar yang berada di daerah kamu juga demikian, ya?

Meski yang saya sebut di atas termasuk fasilitas yang umum banget, tapi entah kenapa saya merasa nyaman singgah di pasar ikan ini. Apa karena penjualnya ramah? Itu, sih, sudah kewajiban sebagai penjual bila ingin mendapat banyak pelanggan. Apa karena penjualnya sering memberi bonus? Entah satu ons, dua ons, satu biji, dua biji, yang namanya pembeli dikasih bonus inysa Allah bahagia dan akan datang kembali di lain waktu. :mrgreen:

PASAR IKAN BANJARNEGARA JAWA TENGAH

Ibu Cantik berbaju cokelat memasuki Pasar Ikan Air Tawar. . .

Satu hal yang membuat saya kagum, yaitu saat waktu sholat tiba. Mereka, baik penjual, maupun pendamping, satu per satu meninggalkan lapaknya, kemudian mand, dan beribadah di Mushalla yang berada tepat di pojok pasar. Sebentuk ruang yang berukuran 2 x 3 meter selalu ramai antrean shalat. Rasanya nikmat sekali melihat mereka membuka tas, mengambil baju ganti, sarung, kemudian mengenakannya.

Tak sampai pada kegiatan beribadah secara vertikal saja. Di pasar ikan air tawar ini, saya juga turut menikmati kebahagiaan kaum adam ketika mendapat pesanan untuk membersihkan ikan.

Kalau saya perhatikan, hampir setiap penjual ikan mempunyai pendamping atau asisten. Asisten ini bertugas untuk mengambil, dan menimbang ikan yang telah dipesan oleh pembeli. Selain tugas pokok tersebut, mereka juga menawarkan jasa membersihkan ikan. Jika harganya cocok, maka asistennya akan segera membawa ikan ke belakang Mushalla. Tak lain adalah tempat khusus untuk membersihkan ikan.

Rajinfsdfff

Lumayan...

Rajin banget. . .

Tempatnya tidak luas banget, sih. Hanya saja dibuat memanjang. Mungkin cukup untuk ber enam. Karena, saya melihat air pipa yang mengalir itu baru enam pipa kecil.

Entah kenapa, tiap kali melihat mereka memegang pisau, kemudian mulai membersihkan sisik ikan, saya selalu terharu. Bagi Ibu, atau Bapak yang sudah terbiasa membersihkan ikan air tawar, mungkin akan berkomentar “ah, gitu dowang“. Tapi, bagi saya tidak. Ada sebentuk rasa yang tidak bisa diungkapkan. Hahaha *lebai* Pun bagi mereka, kegiatan ini pasti akan menambah pemasukan. Sebab, tiap membersihkan satu kilogram ikan, mereka mendapat uang tambahan sebesar Rp 1.000.

Uang tambahan tersebut belum include dari pembelian. Maksudnya, kalau membeli ikan lele Rp 11.000 per kilogram, berarti kalau mau dibersihkan sekalian harganya menjadi Rp 12.000. Menjadi untung, atau rugi? Hihihi Kalau keluarga kami, sih, merasa terbantu. Soalnya, sesampainya di rumah, tinggal dicuci kembali, kemudian digoreng. Sudah bebas dari sisik, dan kotoran. Seribu rupiah untuk memanjakan tangan. 😆

Sisi lain pasar ikan tawar ini, sebenarnya sudah ada semenjak saya masih MTs. Tapi, baru diterbitkan sekarang, seiring dengan berkembangnya IPTEK. Hahaha

Jadi ingin tahu, nih. Kira-kira seperti apa pasar ikan di kota kamu, Teman?

20 thoughts on “Sisi Lain Pasar Ikan Air Tawar

  1. wahhh senangnya main ikan eh beli ikan, kebetulan saya juga doyan makan ikan, dulu di Cianjur juga begitu tempatnya, tapi setelah pasarnya terbakar jadi kacau balau deh, di Cianjur sih gratis bersihin ikannya mba! cuma tempatnya bagusan di Banjarnegara deh! pindah ah kesana! hehehe

    Enak ya gratis! 🙂

  2. Di pasar tempat ibu saya biasanya belanja, pedagang ikannya campuran… mau ikan laut maupun tawar dijadikan 1 😀

    Haduuuh. . .enggak asyik ah.

  3. Sayang sekali orang Jogja kurang begitu suka makan ikan, hahaha. Saya bilang begitu karena di Jogja ini ada semacam Fish Market yang terbengkalai.
    Di warung-warung pinggir jalan umumnya menyajikan ikan tawar dari jenis lele dan nila. Cara penyajiannya pun seragam, kalau tidak digoreng ya dibakar.
    Padahal, menurut saya sih ikan itu lebih bergizi dibanding ayam atau sapi.

    Kalau lebaran pun demikian, Mas? Woow. . .

  4. saya suka ikan tapi sekarang muak mbak,
    dulu pernah ikut ortu nyari ikan selagi ga sekolah, tiap hari makan ikan 😀
    salam kenal yaa, 🙂 mampir diblogku juga ya mbak, ditunggu sarandan kritiknya 🙂

    Muak sama ikan? Waah…kasihan ikannya. 😛

  5. iya Mbak, akan berasa sejuk di hati tatkala menyaksikan para pedagang yang selalu ingat akan Tuhannya. indah banget.

    Syahduu. . . 🙂

  6. Kunjungan malam, maaf belum sempet baca artikelnya soalnya bnyk tugas hehe, ijin bookmark dulu hehe

    Yaelaah. . .:P

  7. wah ane malah jarang banget gan pergi ke pasar ikan, soalnya daerah ane jauh dari pasar hehehe tapi bagus juga nih gan ulasannya, jadi nya ane lebih mengerti tentang pasar ikan, makasih banyak ya gan udah mau berbagi ma ane

    salam kenal ya gan & salam hangat dari palembang

    Salam kenal kembali dari saya, ya. 🙂

  8. lumayan yah 1000 bisa memanjakan tangan hehe, kalo dua ribu ikannya bisa sambil nari di sawer gak ya mbak?? hehe wah seru juga ya pasar ikannya , klo ditempat saya Ayah yg suka mancing jadi dari kecil udah makan ikan, tapi kadang bosan karena makan ikan teru hhe, beruntung tetep doyan makan ikan, itu kan sehat…andai aja ada ikan yg dikentucky dan itu menjamurr….

    Apapun yang terus2an mboseniin. .. 😀

  9. ikan paling enak kalau dibakar lalu dikasih kecap dan bumbu sambal gitu. hhmmm yummy…

    Terus di tambah dengan nasi satu piring makin nikmat daah
    hwahaha

    Malah mingin2i. . .Hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *