Sowan Ngalas 2017, Menyambangi Kesederhanaan Hutan

Pakaian yang dikenakan mereka didominasi dengan warna hijau. Tiap hari, tiap waktu, nyaris tak pernah ganti. Mereka hidup namun hanya bisa pasrah, pakaian akan semakin hijau, atau berganti cokelat, pekat.

Mereka bernapas namun hidupnya bergantung pada makhluk hidup, manusia khususnya. Mereka, pepohonan di hutan. Akan menjadi lebih baik atau sebaliknya, betul-betul bergantung pada tingkah laku kita sebagai manusia. Ya, sesederhana ini mereka dapat “hidup bahagia”. Hutan makin bahagia, apalagi dengan ekosistem yang ada di sekitarnya. Akan bahagia juga, bukan? Seperti yang kurasakan saat menghadiri event Sowan Ngalas 2017 yang berlokasi di Desa Pesangkalan, Kecamatan Pagegongan, Banjarnegara. Bahagia melihat hutan yang dijaga, dirawat oleh masyarakat Pesangkalan.

Sowan ngalas diambil dari bahasa jawa yang berarti berkunjung ke hutan. Bagi masyarakat Pesangkalan, hutan yang mereka miliki termasuk rezeki yang patut disyukuri. Ya, selain tanahnya subur, hutan di sini begitu rimbun. Tak heran jika masyarakat memanfaatkan kekayaan hutan untuk wana wisata.

SOWAN NGALAS
Jalan sudah beraspal. Pepohonan ada di kiri kanan jalan…

Bersama keluarga, dan teman-teman @vinslog, kami turut menyaksikan sebuah gelaran unik dan menarik yang diselenggarakan oleh Desa Pesangkalan. Ya, event ini begitu nyentrik. Terlebih jika dilihat dari rangkaian acara yang ada di event: Kirab Budaya, Jamasan Pusaka, Sadranan, Jazz Hutan dan Grebek Rakan. Menarik banget, ya.

Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 45 menit dari titik kumpul yaitu alun-alun Banjarnegara. FYI, rute bersama untuk sampai Desa Pesangkalan sudah aku tulis, ya. Penting baget buat ditulis karena ada obyek wisata alami di sana, yaitu Wana Wisata Curug Pletuk. Siapa tahu kalian pingin singgah ke curug saat sampai di Banjarnegara, kelak. Kan tinggal klik blog postku. 😆

SOWAN NGALAS 2
Terpampang dalam bingkai wajah-wajah Kepala Desa Pesangkalan dari waktu ke waktu…

Acara sowan ngalas yang dimulai dari Kirab Budaya dijadwalkan mulai jam 09.00 WIB. Kami sampai di Lapangan Desa Pesangkalan jam 10.00 WIB dan acara belum dimulai. Antara alahamdulillaah dan innalillaahi. Hahaha. Asyik sih ngaret, jadi aku masih bisa menyaksikan prosesi kirab dari awal. Tapi ya innalillaahi juga, ngaret sampai 1 jam. Hihihi.

Sesampainya lapangan desa, ternyata masih sepi. Kami pun memutuskan untuk kembali menyalakan sepeda motor dan melanjutkan perjalanan sampai parkiran bawah curug.

Btw, beberapa titik jalan menuju parkiran masih berupa bebatuan yang belum tertata. Tapi masih aman, kok. Terpenting kondisi sepeda motormu fit, termasuk rem dan ban.

SOWAN NGALAS PAGEDONGAN
Usai jamasan pusaka…

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberi sambutan sekaligus membuka acara Sowan Ngalas. Dipimpin oleh sesepuh Desa Pesangkalan, Kirab Budaya dimulai dari lapangan desa Pesangkalan.

Rama Salim, namanya. Beliau berada di barisan paling depan dan membawa benda-benda pusaka. Beliau ngga sendirian, tiap baris terdapat tiga orang. Ada juga sesepuh desa yang mengenakan baju adat juga turut mengawal prosesi kirab. Mereka ada yang membawa foto kepala desa dari waktu ke waktu, ada juga prajurit-prajurit yang bertugas membawa tumpeng.

SOWAN NGALAS KIRAB BUDAYA
Merawat benda-benda pusaka penggalan…

Wana Wisata Curug Pletuk menjadi tujuan akhir Kirab Budaya. Di sini dilakukan ritual jamas pusaka tepat di bawah gemricik air terjun Pletuk. Sebenarnya aku cukup penasaran dengan prosesi ini karena hanya beberapa orang saja yang melaksanakannya. Ada Rama Salim didampingi beberapa prajurit, dan juga media untuk keperluan dokumentasi. Tadinya aku pingin lihat detail prosesinya, tapi melihat pusaka yang dibawa Rama Salim, kok deg-degan, ya. Hahaha. Yaudah, akhirnya aku menunggu di bawah.

“Pusaka apa, sih, yang dibawa Rama Salim dan Prajurit ngalas?” Batinku saat itu saking penasarannya. Setalah kutanyakan melada sesepuh Desa, ternyata ada beberapa benda pusaka yang dipercaya sebagai pelantar penerang hujan. Tombak Ronggo Jati, namanya.

Aku baru pernah melihat pusaka tersebut. Kalau cerota-verita, entah itu mitos atau fakta sih pernah mendengar ada pusaka yang bisa digunakan sebagai pelantar penerang atau bahasa Banjarnegara yaitu penangkal hujan. Eeeeh…kalau kalian ngga percaya akan hal ini, jangan diambil hati, ya. Karena ini termasuk tradisi atau kepercayaan masyarakat Pesangkalan. Jadi, hargai saja. 😉

SOWAN NGALAS BANJARNEGARA
Tumpeng dan aneka jajan pasar. . .

Acara Jamas Pusaka ngga sampai satu jam. Usai dibasahi menggunakan air yang dalam kendil, pusaka kembali ke tangan Rama Salim untuk disimpan kembali.

Omong-omong, pada acara jamas pusaka, tuh, ngga ada sambutan, tutur kata, baik dari Dinas maupun Sesepuh. Dari awal sampai akhir, ritual berjalan dengan tertib dan hening. Selain prosesi jamas pusaka, ada satu hal lagi yang membuatku penasaran, yaitu tumpeng.

Ya, kenapa tumpeng yang telah diarak dari Lapangan Desa Pesangkalan sampai Curug dengan jarak tempuh kurang lebih 3 km ngga dinikmati di kawasan curug? Bukankah lebih nikmat jika dimakan bersama di area wana wisata curug pletuk? Hahaha. Mungkin memang harus dibawa kembali karena setelahnya akan lanjut acara sadranan kalik, ya. 😆

SOWAN NGALAS 2017 copy
Anak-anak menikmati padusan…

Hampir seluruh masyarakat, wisatawan, kembali ke lapangan Pasangkalan untuk turut menikmati tumpeng yang telah disiapkan oleh ibu-ibu dasa wisama setempat. Saking ramainya pengunjung yang turun, aku bersama teman-teman memilih untuk melihat anak-anak yang sedang asyik padusan sampai lupa kalau di bawah akan ada acara.

Padusan atau mandi di sungai aliran air dari curug ini termasuk bagian dari rangkaian acara sowan ngalas. Tradisi ini bertujuan untuk mensucikan diri. Tepat sekali, sowan ngalas digelar menjelang bulan suci ramadhan. Sebagai salah satu wujud syukur masyarakat Desa Pesangkalan.

SOWAN NGALAS PESANGKALANKembali dibawa ke Lapangan Desa Pesangkalan. . .

Aku bersama teman-teman memilih untuk tetap di kawasan curug. Ngga bergabung dengan masyarakat untuk ikut sadranan. Padahal sebenarnya sudah lapar. 😆 Naik sampai bibir curug, mainan air di bawah aliran curug, dan duduk-duduk di gazebo. Itu yang kami lakukan di curug. Asyik banget  curug pletuk!

Btw usai sadranan, masih ada beberapa acara yang akan digelar yaitu jazz hutan pada malam harinya, dan ada grebek rakan esok harinya. Sayang banget, saat itu kami ngga bisa nonton jazz hutan karena suatu sebab. Padahal sih udah penasaran banget dengan acara ini. Secara ada jazz di tengah hutan, suasanannya pasti syahdu banget, ya. Perpaduan suara musik alam dan alunan jazz. Wuuh…

Tahun depan datang lagi ke acara ini, dong. Karena kata Pak Kadinpar, sowan ngalas akan dimasukan menjadi event tahunan. Dan 2017 menjadi tahun pertama, dan bisa dibilang ramai. 😉

12 Comments

  1. Acaranya seru dan menarik ya Mbak. Saya jadi tertarik juga untuk bisa membahasnya dengan mendalam, semoga nanti kalau ada kesempatan bisa ikut gabung, hehe. Menurut saya di semua upacara tradisional pasti ada filosofi, dan saya ingin tahu filosofi mendalam apa yang ada di acara jamasan pusaka itu. Ingin tahu juga soal pusaka-pusaka di sana beserta sejarahnya, terus bagaimana menggunakannya, haha. Semoga ritual-ritual ini tetap lestari sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa ya.

  2. Assalamualaikum mba, saya Wisnu Dari Muslim Entrepreneur University Banjarnegara
    Saya td di hubungi Pihak panitia Serayu Expo dari Jakarta yang sedang butuh Blogger Lokal utk konten lokal Serayu Expo. Bisa WA saya untuk menindak lanjuti ini mbak di 085225020038

  3. Acaranya seru dan menarik ya Mbak. Saya jadi tertarik juga untuk bisa membahasnya dengan mendalam, semoga nanti kalau ada kesempatan bisa ikut gabung, hehe. Menurut saya di semua upacara tradisional pasti ada filosofi, dan saya ingin tahu filosofi mendalam apa yang ada di acara jamasan pusaka itu. Ingin tahu juga soal pusaka-pusaka di sana beserta sejarahnya, terus bagaimana menggunakannya, haha. Semoga ritual-ritual ini tetap lestari sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa ya.

  4. Banjarnegara harus di eksplorasi nih, baru sebatas lewat aja.
    Ternyata bukan hanya dawetnya, curug dan hutannya jg bisa menghilangkan lelah jiwa 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *