OBYEK WISATA TAMPOMAS BANJARNEGARA

Suguhan Alam Tampomas Bikin Geregetan

Gunung Tampomas atau yang lebih dikenal dengan nama Tampomas sepertinya tahun ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Banjarnegara setelah kawasan dataran tinggi Dieng. Aku tidak melakukan survey, sih. Hanya saja melihat banyaknya wisatawan yang terus berdatangan baik weekday maupun weekend, destinasi wisata yang baru melakukan pengembangan tahun ini bisa dikatakan sukses menarik perhatian wisatawan.

Obyek wisata yang menyuguhkan pemandangan alam berupa pepohonan, tebing bekas galian batu dan wisata perahu di danau, dulunya dimanfaatkan oleh wisatawan untuk sakadar swafoto dan prewedding. Meski sudah menjadi obyek wisata, masyarakat sekitar masih aktif menggali dan memecah batu di sekitar Tampomas. Namun kini, aktivitas tersebut sudah tidak nampak karena pemerintah desa telah menata ulang, melakukan pengembangan, dan menjadikan Tampomas sebagai destinasi wisata secara utuh.

Aku terkesima saat melihat sepeda motor berderet memanjang ke belakang mulai dari jalan utama masuk obyek wisata Tampomas sampai depan pintu masuk. “Gilaa…ramai banget, Tampomas!” Aku berbisik kepada suami yang sama-sama sedang memperhatikan deretan motor tersebut. Dia pun ikut terkagum-kagum.

Sepeda motor yang memanjang itu ternyata sedang antre tiket masuk. Antrean dibuat dua baris untuk sepeda motor. Sementara masih sisa separo jalan digunakan untuk lalu lintas. Pemuda-pemudi desa setempat yang bertugas terlihat kompak melayani wisatawan dan mengatur  jalannya antrean. Ada yang bertugas menghentikan laju sepeda motor, ada yang memberikan tiket masuk, dan ada juga yang mempersilakan wisatawan menuju tempat parkir.

Akhir pekan itu, tepatnya semingu setelah lebaran tahun ini, obyek wisata yang berlokasi di Kecamatan Pagedongan, tepatnya di Dusun Mendingin, Desa Gentansari, betul-betul banjir wisatawan. Mulai dari anak-anak sampai orang tua, raut wajahnya nampak bahagia. Terlebih anak-anak karena ada banyak pilihan permainan di sini. Odong-odong, misalnya. Di sini ada lebih dari satu odong-odong yang standby di area wisata. Belum lagi permainan lainnya yang sukses menjadi magnet obyek wisata ini. 😀

Dengan membayar tiket masuk Rp 3.000 per orang, anak-anak sampai usia 5 tahun masih free tiket masuk dan parkir Rp 2.000 per motor, aku yang saat itu datang bersama Kecemut, Suami dan keluarganya dedek Al, sepakat untuk membahagiakan anak-anak ke istana balon. Hahaha. Ya gimana lagi, mereka langsung teriak heboh melihat permaianan tersebut.

Melihat deretan permainan anak di kompleks Tampomas, sungguh ini diluar ekspektasi. Memang, ini bukan kali pertama aku datang ke Tampomas. Namun ini menjadi kali pertama aku melihat obyek wisata alam yang mana di dalamnya terdapat aneka permainan anak. Saat itu aku melihatnya dari tempat media informasi yang berada di atas atau bukit. Sudah seperti di pasar malam.

Asli, permainan anak ini ada di dalam kompleks wisata, menyatu dengan obyek wisata. Menurut salah satu pelapak, permainan anak baru mulai masuk saat pekan lebaran. Hari-hari biasa, mereka tidak ada di sini. Meski hanya ada saat pekan lebaran dan bisa dibilang karena memanfaatkan momen, tetap saja yang seperti ini bikin geregetan. Kenapa tidak dikumpulkan di luar obyek wisata supaya lebih fokus pada suguhan alam Tampomas, gitu. Ugh! 😆

Setelah puas bermain di istana balon, aku mengajak Syaquita dan Al untuk naik kuda. Aku kira Syaquita bakal tertarik dengan naik kuda ini, ternyata dia masih takut. Hahaha. Jadi, hanya Alkarim saja yang naik kuda. Oiya, Kuda yang disewakan di sini ada dua ekor. Untuk dapat naik kuda ini, wisatawan dikenakan biaya Rp 10.000 per sekali putaran. Pemandunya baik-baik dan ramah juga sama anak. Sambil keliling, pemandu kuda tunggang ini terus mengajak si kecil berkomunukasi. Anak pun betah jadinya. 🙂

Setelah anak-anak puas bermain, kami mengajak mereka untuk naik perahu mengelilingi danau. Untuk menuju danau, kami harus melewati beberapa anak tangga lalu kembali antre menunggu perahu. Di sini tersedia tiga perahu dan satu perahu maksimal berisi 10 orang dewasa. Tarif naik perahu Rp 5.000 per orang, anak-anak tetap dikenakan tarif sama seperti orang dewasa. Tarif tersebut sudah termasuk sewa life jacket.

Lagi-lagi aku merasa geregetan karena perahu yang beroperasi di danau ini ternyata menggunakan mesin motor. Apalagi saat melihat bunga teratai tumbuh di tengah dan pinggiran danau. Belum lagi habitat-habitat di dalam danau itu, apa kabar mereka? Sedih rasanya. 🙁

Seketika aku teringat Telaga Merdada, sebuah obyek wisata alam di Desa Karang Tengah, Kecamatan Batur. Telaga Merdada telah menjadi destinasi wisata yang terkenal dengan Kayaknya. Pengelola Telaga memilih menggunakan Kayak untuk eksplorasi Telaga karena pertimbangan makhluk hidup yang tumbyh di sekita Telaga. Mereka ingin spesies di dalam Telaga tetap utuh, dapat berkembang, dan juga melestarikannya sesuai dengan konsep yaitu wisata alam.

Aku kira di Tampomas akan berlaku hal demikian. Menggunakan perahu dayung atau jenis perahu lain tanpa mesin. Namun ternyata tidak.

Pengelola pasti punya alasan kenapa lebih memilih perahu motor ketimbang menggunakan perahu dayung. Seperti zona aman, misalnya. Karena menurut keterangan nahkoda kami, ada beberapa ruas danau yang tidak boleh dilewati karena kedalamannya tidak diketahui -mungkin dalam banget-. Tapi kembali lagi untuk masa depan danau dan ekosistem yang ada di dalamnya, aku sedih. Rasanya lebih ramah menggunakan perahu dayung atau kalau tidak bebek kayuh.

Selain perahu motor dan permainan anak, ada satu lagi yang bikin aku geregetan. Adalah spot selfie. Wisata berbasis alam yang kemudian menawarkan tempat swafoto dari bunga plastik, tuh, rasanya bikin UGH! Hahaha. Tapi entah lah, wisatawan merasa geregetan juga atau nyaman-nyaman saja. 😀

Menciptakan solusi kalau tidak tahu permasalahan memang agak ribet, nih. Menurutku beberapa yang bikin geregetan itu adalah masalah. Tapi mungkin bagi pengelola bukan masalah. Ribet, kan? Hahaha.

Wisata Tampomas, Banjarnegara

One thought on “Suguhan Alam Tampomas Bikin Geregetan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *