Belajar Melepas “Jam Karet”

Aku punya sepupu kisaran umur lima tahun hobi mengoleksi jam karet. Padahal, jika dipakai lama-lama, tuh, kadang bikin pergelangan tangan gatal. Pun dengan “Jam Karet” dalam kehidupan, di mana jika diterapkan terus menerus akan membuat orang lain “gatal” juga. Entah “gatal” tangannya, maupun “gatal” mulutnya saking pingin ngocehin si pemilik “jam karet”. 😀

Btw, ini terlalu banyak tanda petik yang berarti bukan makna sesungguhnya, ya. :mrgreen: Tapi, Teman-teman pasti paham lah maksudku. Ya, “Jam Karet” yang aku maksud di sini yaitu tentang disiplin waktu.

Penerapan disiplin waktu sebenarnya sudah jauh hari diajarkan oleh orang tua semenjak dini. Ngga hanya orang tua, di bangku pendidikan pun banyak guru yang mengajarkan disiplin kepada para siswanya. Namun, ngga tahu semenjak kapan aku sering melakukan indisipliner. Khususnya dalam hal janji temu teman.

Ngga bisa menghargai waktu yang telah disepakati bersama. Memalukan, bukan? Terlebih, jika janji temunya dengan Tante, di mana ia lebih sering datang tepat waktu. Jarang terlambat kecuali ada godaan saat perjalanan. 😆

“Sudah sampai mana, Budey? Awas aja kalau telat.” Gertak Tante melalui pesan singkat.

Satu jam sebelum waktu temu, perempuan yang sekarang hobi banget mengkoleksi jilbab monochrome, pasti mengirim pesan singkat. Memastikan kembali sekiranya jam berapa aku akan sampai tempat janjian. Darinya aku belajar untuk lebih menghargai waktu. Sedikit telat saja, aku pasti memberi kabar. Sampai akhirnya aku sekarang paham, bahwa jam karet itu memang bikin gatal.

Iya, semenjak Jasmine hadir di tengah-tengah kami, jam karet sudah ngga bisa diberlakukan (lagi). Sekali diterapkan, pasti Jasmine gatal. 😉 Eh, sudah pada kenal dengan Jasmine, kan? Ehm…begini lho, Jum’at lalu alhamdulilaah aku telah resmi menjadi seorang Ibu dari seorang perempuan bernama Jasmine Syaquita Nusaiba. Bahagia tak terhingga, Baby. 😉

Teman-teman yang sudah menjadi orang tua pasti paham, ya. Betapa berartinya sebentuk waktu untuk anak. Sedetik, tiga detik, semenit waktu begitu berarti. Apalagi bagiku yang baru mempunyai keturunan. Bukan berarti aku berlebihan. Tapi, ini lah yang sedang aku nikmati.

Ngga kebayang jika Jasmine ngompol jam 01.00 WIB, lalu aku baru mengganti popoknya jam 04.00 WIB. Aku yakin banget dia ngga bakal nyaman bobonya. Parahnya lagi, saat ia menangis karena haus, lalu aku membiarkannya barang sebentar. Sudah pasti dia akan protes. Iya, kan, Ibu-Bapak? 😉

Bukan karena Jasmine atau Tante, sekarang aku mulai belajar melepas “jam karet” demi kebaikan diri. Ngga ada kata terlambat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena, untuk menuju yang terbaik memang memerlukan proses. ^-*

*ditulis dini hari setelah gantiin popok Jasmine* *notesnya penting banget* *biarin*

10 thoughts on “Belajar Melepas “Jam Karet”

  1. Jadi seorang ibu itu proses belajar terus menerus ya. Skr ga bisa lagi males2an aatau nunda. Masa anaknya laper pakai jam karet hehehe. semangat Idah

  2. Haha sepertinya emang di negara kita rata2 semua punya jam karet dalam tanda kutip ???????????? aku pun terkadang seperti itu hehe ????????????????

  3. soal disiplin itu, termasuk disiplin sama waktu adalah kebiasaan, kalau dilakuin tiap hari nanti otomatis jadi bagian keseharian hehee.. kalo saya memang didikan orang tua dari kecil banget supaya tepat waktu jadi kalau telat rasanya kayak dosa gitu

  4. Segelanya apapun itu, pada awalnya pasti akan berat.. namun ketika sudah terbiasa nanti juga terbiasa.. terbiasa tepat waktu atau semacamnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *