Pengaruh Covid-19

Hikmah Ramadan di Masa COVID-19

Hikmah Ramadan di Masa COVID –  Siapa yang menginginkan suatu musibah menghampiri kita? Siapa yang mau negeri ini dihampiri virus corona sampai berdampak pada perekonomian masyarakat? Siapa yang mau dunia ini ramai membicarakan musibah?

Siapa yang mau?

Saya yakin tidak ada yang mau. Dalam setiap doa yang dipanjatkan setiap harinya saja, kita meminta untuk selalu dijauhkan dari segala musibah dan bahaya. Meminta untuk terus sehat, selalu dilimpahkan banyak rezeki yang halal dan baik. Namun, ketika Alloh sudah berkehendak, kita hanya bisa berdoa, memohon yang baik-baik kepadaNya.

Saya sempat syok dengan datangnya wabah COVID-19. Merasa tidak bisa biasa saja karena saat wabah ini datang, tepatnya Maret lalu, saya sedang hamil dengan usia kandungan 7 bulan. Panik sering menghampiri. Apalagi ketika mengikuti update berita tentang penyebaran virus ini, nyaris ketakutan saban harinya. Kerap khawatir jikalau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan kehamilan ini. Na’udzubillaah. 🙁

Pelan-pelan saya mencoba untuk biasa saja menyikapi datangnya musibah ini. Biasa, namun tetap waspada dan tetap mengikuti himbauan-himbauan yang dikeluarkan pemerintah. Saya atau bahkan kalian pasti sampai saat ini ada yang masih belum bisa menerima hadirnya virus corona di tengah-tengah kehidupan ini. Banyak yang bilang, virus ini menyusahkan umat. Banyak juga yang menyalahkan virus corona tanpa menyadari bahwa sebenarnya penyebarannya ini bergantung pada kesadaran manusia.

Semakin hari, kasus penyebaran virus corona di Indonesia terus meningkat. Mulai dari ODP, PDP, dan OTG. Sampai dalam suatu percakapan dengan seorang teman, dia sempat berkeluh; kenapa, sih, virus ini harus menyebar di Indonesia? Kenapa tidak menetap saja di China?

Menerima musibah yang seperti ini memang tidak mudah. Namun saya yakin selalu ada hikmah di balik musibah. Terlebih musibah ini masih berlangsung saat bulan ramadan tiba. Kira-kira, apa hikmah yang dapat kita ambil dengan adanya musibah COVID-19 yang masih terus “bergerak” sampai bulan ramadan?

Salah satunya yaitu masyarakat lebih fokus beribadah.

Ramadan di tengah pandemi ini betul-betul sepi karena seluruh masyarakat diminta untuk tidak sering keluar rumah kecuali ada keperluan yang sifatnya penting. Masyarakat diminta untuk tetap di rumah saja dan banyak beraktivitas dari rumah. Hasilnya, tempat ibadah yang biasanya dipenuhi jama’ah pada bulan ramadan, saat ini tidak ada aktivitas apapun.

Masyarakat fokus beribadah di rumah masing-masing. Saya yakin, banyak orang yang memohon, memanjatkan doa agar pandemi ini segera berakhir. Apalagi kita tahu, keika memanjatkan doa di bulan ramadan ini insya alloh banyak terkabul.

Hikmah selanjutnya yaitu makin peduli dengan kesehatan.

Selain bulan untuk meningkatkan ibadah, Ramadan identik dengan kuliner. Berbeda dengan ramadan tahun lalu yang mana masyarakat masih bisa bebas pergi kemana saja untuk mencari takjil atau bekal buka puasa, tahun ini dengan segala pertimbangan, masyarakat membuat hidangan sendiri untuk bekal buka puasa. Artinya, asupan lebih terjamin dari sisi kesehatan, lebih higienis.

Di area kota tempat saya tinggal, saya masih melihat warung-warung yang menyediakan takjil dan masakan buat buka puasa, namun tidak seramai tahun lalu. Pun dengan pembelinya.

Kesehatan tidak hanya pada masakan, namun masyarakat juga terlihat makin peduli dengan kesehatan lingkungan,  dan juga kebersihan rumahnya.

Btw, bagaimana suasana ramadan di kotamu, Gengs?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *