Lebih Memilih Kata Hati

Lebih Memilih Kata Hati, terinspirasi dari Ibu pas tadi pagi ngobrol ringan di dapur. Perbincangan pagi tadi gak begitu penting sih. Tapi, setelah dikaji, rasanya saya terlalu sering memilih “apa kata hati”. Kata hati, selalu saya artikan sebagai bisikan postif untuk mengambil tindakan atau langkah.

Entah mengapa, saya koq selalu mengedepankan feeling, ketimbang pendapat orang lain. Seingat saya, sejak duduk di bangku MTs lebih memilih feeling. Bukan berarti saya tidak menghargai pendapat orang lain. Pendapat dari teman atau kerabat tentunya menjadi bahan pertimbangan juga, namun ntuk endingnya ya tetap menggunakan feeling. Curhat, nih mau curhat. . Whahaha

Ada dua kata hati yang selalu menjadi pertimbangan saya ketika hendak melangkah. Adalah kata hati Ibu dan kata hati pribadi tentunya. Beberapa hal yang saya putuskan dengan mengikuti kata hati, diantaranya terkait dengan pekerjaan.

Ketika masih menjadi tenaga pendidik, pernah ada teman bilang “Enak ya, Dah. Bukan lulusan dari Pendidikan, tapi bisa ngajar. Padahal lulusan Pendidikan TIK saja masih banyak yang nganggur”. Emmm, saya hanya bisa tersenyum, kemudian setelah sampai rumah langsung ambil sikap. “Benar juga, sih. Sepertinya saya harus mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan kemampuan saya”. Bisa dibilang bekerja sesuai dengan bidangnya. Sok yes banget, ya. Padahal, saya tahu bahwa mencari pekerjaan sekarang susah banget.

DosPem ketika skripsi menyarankan saya untuk ikut tes penerimaan pegawai kontrak di Surabaya. Tanpa berpikir panjang, sudah mengantongi ijin Ibu juga, saya pun pergi ke Surabaya. Kata Bapak saya, sih, nekat banget. Dengan sebuah keyakinan yang kuat didampingi feeling yang baik, maka saya “harus mencoba”. Then, saya putuskan untuk ke Surabaya.

Dan setelah menjalani tes praktik selama dua jam, hasilnya lumayan baik. Praktik terselesaikan semua. Seminggu setelah tes, ada telphone masuk yang memberi kabar kalau saya dinyatakan diterima di salah satu instansi sebagai pegawai kontrak.

Betapa bahagianya, ketika niat terkabul dan keingian tercapai sesuai harapan.

Namun, tiba-tiba Ibu seperti menghentikan langkah saya. Saya bercerita dengan semangatnya, tapi Ibu merasa sedih. Sedih karena akan ditinggal saya. Byuuuh. . .gak tega rasanya melihat Ibu menangis sampai sesegukan. Saya harus ambil sikap. Minta maaf kepada pihak instansi atas sikap saya yang terkesan gak niat atau gak tegas.

Jujur, saat itu saya sedih. Merasa telah menenggelamkan sebuah peluang dan kesempatan. Hanya bisa belajar ikhlas dan mengambil hikmat. Hikmahnya bisa silaturrahmi ke Galaksi, menikmati Rujak Cingur dan Jalan-jalan dengan Mba Yuni. Whihihi

Lulusan yang berlatar belakang dari non pendidikan, sangat disarankan tidak bekerja di bidang Pendidikan (mengajar). Karena, pasti ada kekurangan dalam penyampaian saat KBM. Secara, tidak mendapat mata kuliah metodologi pembelajaran. Wkaikiaki.

Suatu malam, Ibu minta maaf dan ngadem-ngademi, “kata hati Ibu, kamu tetap bekerja di Banjarnegara. Sabar dulu, ya?”.

Hyaaaah, jadi mewek dimalam hari!. Hanya bisa berdoa, menyeimbangkan antara meminta dan memberi. Meminta kepadaNya dan berbagi dengan sesama. Puji syukur, sampai akhirnya doa kami dikabulkan olehNya. Saya bekerja di sebuah instansi dan masih di Banjarnegara. Bahagia maksimal. . .! Dan sampai saat ini saya masih suka menggunakan feeling dalam pengampilan keputusan. Karena, menurut saya, suara hati yang sebelumnya didampingi niat awal yang baik bisa saja menjadi salah satu petunjuk dariNya.

22 Comments

  1. Biisa dapat pekerjaan sambil tinggal dikota kelahiran tanpa harus merantau malah jadi keinginan banyak orang Idah 🙂

    Puji syukur, Kang. . . ^_*

  2. sepakat! kata hati (nurani) memang sebaiknya selalu diikuti, namun logika juga tak boleh dilupakan.

    Logika menjadi pendamping ya, Mba Nani. ^_*

  3. Memang ia, kuliah bukan jurusan pendidikan memang tidak mendapatkan pelajaran metodologi pembelajaran. Tapi kita harus pintar untuk memanage diri dengan belajar lagi tentang metodologi pembelajaran. Banyak referensi kok tentang teori mengajar.. 🙂
    ** Pengalaman saya..

    Emmm, bukan masalah belajar lagi bisa, sih, Mas. Tapi, niatnya lebih ke mempersilakan teman2 lulusan Pendidikan untuk mengajar. 🙂 Yang non Pendidikan menyingkir dulu. 😀 ^_*

  4. sama,saya juga gitu mbk,feelingnya kuat *tsah*…tapi alhamdulillah meski jurusanku psikologi murni, bisa kerja dimana saja,termasuk ngajar yang menyenangkan itu rasanya sesuatu 😀 *kok ikutan curhat gini* ^^

    Emmmm, semua tergantung pada pribadi masing-masing dalam menyikapinya ya, Mba Hanna. . Hahaha ^_*

  5. di kedalaman hati yang bersih, kata hati bisa menunjukkan sinyal-sinyal petunjuk yang berasal dari Tuhan. Kata hati kadang bisa menjadi penyelamat hidup

    Bapak Mandor bijak sekali. ^_*

  6. aku..salah satu termasuk yang kurang mengikuti kata hati..salah terus je 😀

    Pakai GoogleMaps, Mba Cheil. Biar gak salah. Hahaha ^_*

  7. Waaahh,, samaa aku juga selalu lebih menuruti feeling atau kata hati daripada kata orang, biasanya ada kepuasan sendiri, kalo mnuurt kata orang suka bikin galau, karena yang tau kita yah, diri kita sendiri.
    Tapi, kalo orang itu beneran ngertiin kamu, aku biasanya terima juga, kadang itu baik juga buat kamu.

    Saya sangat setuju, Mba Rin. Rasanya manteep, ya. ^_*

  8. Lulusan yang berlatar belakang dari non pendidikan, sangat disarankan tidak bekerja di bidang Pendidikan (mengajar).

    Kalaupun ingin tetap mengajar … maka jadilah internal trainer atau internal facilitator di suatu perusahaan atau instansi …

    atau berkecimpung di departeman Pelatihan dan Pengembangan …

    (kayak saya …)
    (hahahaha)

    Salam saya Idah

    (13/2 : 3)

    Kurang lebih begitu maksud saya, Om. Dan juga memberi kesempatan kepada teman2 yang dari jurusan Pendidikan. ^_*

  9. Setuja saya, pilihlah sesuatu dengan kata hati kita dan kata hati Isya Allah tidak akan pernah salah

    Terima Kasih kalau sudah setuju, MBa Bunga. Hahaha ^_*

  10. Ibaratnya sebelum mengambil keputusan untuk menentukan tindakan berikutnya, ambil sekian detik untuk memantapkan diri dengan meletakkan dasar utama dari semua keputusan yaitu mengucapkan bismillah yang insya Alloh efeknya menjadi sangat luar biasa. Karena ia akan menuntun kata hati kita menuju pilihan yang akan disandarkan dalam mencari ridho Alloh Ta’ala. Perkara keputusan itu kelak nggak sesuai dengan harapan, paling tidak ada banyak hikmah dibalik itu semua. #koyoke ra nyambung nih, kebanyakan mikir gunung kelud sih hhhh

    Semoga Pakies sekeluarga diberi keselamatan, ya. Semoga saudara2 di sekitar G. Kelud diberi kesabaran dan ketenangan juga. ^_*

  11. Setujuu.. Makanya dosen banyak yg gak bener cara ngajarnya, soalnya banyak dosen yg gak ngerti psikologi pendidikan, lawong bukan lulusan pendidikan dosen. Eh emanga da ya pendidikan dosen? makanya semena mena ngajarnya..

    Lha mbuh ana apa ora. Ra ngerti, Mas Ndop. ^_*

  12. aku percaya, harapan baik seorang ibu adalah doa yang sangat mungkin di ijabah. Dulu saat adikku berujar jika gak kunjung dapat kerjaan di Jawa, dia mau balik saja ke Bengulu [kota dimana dia kuliah] krn saat kuliah dia jadi aktivis kampus jd peluangnya dapat kerja lbh besar/cepat. Tapi Simbokku bilang ” mosok to kowe ora oleh gawean nang Jowo?”

    Kun Faya Kun, adikku ktrima pas ikut PNS dosen.

    #kapan main ke jogya lagiiii?

    Waaah, begjo iku ya, Mba Rie. ^_*

  13. eh, dirimu teryata masuk 50 SB 2014 ya? baru ngeh pas lht ada banner SB di samping..

    #congrats yaaaa…ayo maju terus sampai final

    Aamiin. . . Makasih ya, Mba Rie. ^_*

  14. setujuuuu mak….aku juga selalu percaya feeling dan intuisi…walaupun tetap baca tanda2 yang lain :D…apalagi dengan doa Ibu mak…manjuuur juuur judulnya..

    Yang penting orang tua juga meridhoi ya, Mba Indah. ^_*

  15. Sepertinya manusai itu hanya tinggal menemukan jalannya saja. Pendidikan itu merupakan bekal. Jadi santai saja. Sedangkan nge blog kan juga sebuah pekerjaan. He,, he, he,,

    Salam

    Apapun itu, kalau memerlukan pikiran dan tenaga adalah pekerjaan. 😀 Terima Kasih ya, Pak Indra. ^_*

  16. Subhanallah..
    Salut buat m(b)ak Idah yang sangat menenggang perasaan ibu 🙂 yaaa buat apa ya, jauh-jauh kerja tapi ibu tidak/kurang merestui.. karena justru yang menguatkan langkah kita adalah doa dan keikhlasan ibu..

    Spicles dengan komen ini. Hiks ^_*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *