BATU PANDANG DIENG WONOSOBO

Minggu Malam yang Menegangkan

Minggu malam, (30/08) penuh drama. Usai memeriksa kandungan pada Minggu siang, aku merasa cukup lelah. Perjalanan menuju rumah bersalin memang tidak begitu jauh, hanya beberapa jam saja. Tapi, kini aku telah berbadan dua. *jadi ingat lagu titi kamal* πŸ˜† Mudah lelah.

Sore itu cukup dingin. Aku yang sampai rumah hampir Maghrib, bergegas menuju kamar mandi untuk segera membasahi tubuh. Aku ngga berani berlama-lama di dalam. Hanya beberapa menit saja, adzan Maghrib pun berkumandang. Aku lekas berwudhu, keluar kamar mandi, kemudian mengambil sandal yang ada di rak dekat dapur.

Aku kembali lagi ke kamar mandi. Mencuci kaki, lalu sandal kupakai. Perlahan, aku melangkahkan kaki. Berjalan cukup santai, karena aku cukup repot dengan barang bawaanku. Ember yang berisi sedikit cucian aku tenteng di tangan kanan. Sedangkan tangan kiriku memegang botol minum yang baru kucuci.

Tanpa sadar, aku melewati keset yang ada di depan kamar mandi. Alas kaki langsung menyentuh lantai. Nasib. Kaki kananku yang biasanya kujadikan tumpuan, lemas seketika. Sandal yang kupakai masih terlalu licin, ngga bisa buat menahan langkahku sore itu. Pun dengan lantai depan kamar mandi.

Aku ngga berani bersuara. Hanya Adikku yang tahu kalau aku baru saja jatuh. Karena, memang hanya dia yang saat itu mendengar “suara aneh” dari belakang, meski samar. “Aku ngga apa-apa.” Seruku kepadanya yang saat itu hendak berwudhu.

Aku pun langsung berdiri, tidak merasa sakit sedikitpun. Lekas menuju Mushala, mengaji, menikmati aktivitas malam seperti biasa, sampai akhirnya aku minta untuk dipijat oleh Simbah Dukun Bayi desa. Meski ngga lama, tapi pijatan Simbah cukup membuat badan bugar.

Hampir tengah malam, perutku mulai terasa panas. Sakit tak terkira. Aku ngga bisa menahan sakit, bahkan tangis. Suami, orangtua, semua orang rumah cemas. Sampai akhirnya, Bapak memanggil Bidan Desa, yang kemudian Beliau memberi rujukan untuk segera dibawa ke Klinik yang tak jauh dari tempat tinggalku.

Aku panik. Semua orang yang ada di dekatku juga merasa demikian. Sesampainya di Klinik, kandungan langsung diperiksa oleh Bu Bidan dan beberapa Mahasiswa yang sedang praktik. Aku merasa selalu dilindungi olehNya, detak jantung Dede masih berdetak normal. Alhamdulillaah.

“Alhamdulillaah Bayinya tidak apa-apa, Mbak. Tapi, lebih jelasnya besok ke Rumah Sakit untuk di USG, ya. Supaya lebih pasti dan tenang. Sekarang, saya beri obat pereda nyeri. Kalau Mbak bisa istirahat, perut tidak akan nyeri lagi.” Ibu Bidan memberi sebutir obat berwarna kuning. Tak lama kemudian, aku telan obatnya dengan bantuan segelas air putih.

Tak ada keinginan lain, selain segera memejamkan mata malam itu. Tidur di Klinik, ditemani Suami, Ibu, dan Uwa Silo. Tak hentinya aku terus berdoa, dan berharap malam segera habis, berganti pagi. Tak sabar untuk segera melakukan USG.

Lalu, bagaimana dengan hasil USGnya? Alhamdulillaah baik. *sujud syukur* Keadaan Dede sehat, segar, dan sudah mulai aktif di dalam. Kini usia kandunganku dua puluh minggu, dan berat badan Dede tiga ons. *emesh*

18 thoughts on “Minggu Malam yang Menegangkan

  1. Idaah…. duh aku ikut deg2an bacanya, soalnya aku punya pengalaman jatuh juga saat hamil. Pernah jatuh dari tangga, untung tangganya gak tinggi2 amat. Itu kejadian saat aku di kantor. Setelah itu beberapa hari aku gak bisa jalan. Hikss…
    Pernah juga beberapa kali aku terpeleset… untungnya janinku selamat dan sehat2 aja.
    Lain kali hati2 ya Idah… Semoga kelak persalinanmu lancar. Aamiin.

  2. Alhamdulillah ga kenapa2 ya mba…
    Hati2 ya mba… Tp namanya kecelakaan siapa yg minta ya mba… Semoga mba sm dede nya selalu sehat sp proses lahiran yaa..aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *