ALAT TRANSPORTASI UMUM

“Permainan” Seru di Terminal Lebak Bulus

Sebagai perempuan yang lebih suka memanfaatkan sarana transportasi umum, saya semacam mengkoleksi nomor telephone agen, dan juga kondektur Bus antar kota. Ngga banyak, sih. Hanya agen dan kondektur Bus antar kota yang sering saya tuju. πŸ˜†

Ya, demi efisien waktu, mempermudah pemesanan tiket pulang, banyak tersimpan nomor agen Bus, dan atau travel di kontak handphone. Pemesanan tiket melalui telephone, biasanya saya lakukan sehari sebelum jadwal pulang. Seperti saat saya hendak pulang dari Jakarta, pasca acara warung blogger.

Saya lebih sering memesan tiket Bus Sinarjaya (SinJay), bus favorit, melalui agen. Bahagianya, tiap kali pesan tiket Bus SinJay penumpang ngga harus datang langsung ke lokasi. Hanya memesan via telephone, kemudian barulah dibayar ketika penumpang sampai agen. Bermodal kejujuran. πŸ˜†

Jadwal pemberangkatan Bus SinJay rata-rata pukul 17.30 WIB, meski pada jadwal tertera pukul 16.00 WIB. Sore itu, saya datang lebih awal dari jam berangkat.

JAKARTA MALAM HARI

Bukam terminal Bus, sih.. hihihi

Sesampainya di Terminal LB, saya segera menuju loket agen Bus SinJay yang berlokasi dekat dengan mushala. Belum masuk terminal LB, lho, ya. Mushala di pinggir jalan raya.

Tahu jam berangkat masih cukup lama, usai membayar tiket seharga Rp 100.000, saya masuk Bus untuk meletakkan barang bawaan di laci, kemudian dilanjut duduk santai di sebuah warung dekat pintu masuk terminal.

“Mau kemana, Mbak? Sini, barangnya saya bawakan.” Ucap seorang lelaki berperawakan bongsor, yang mengenakan kaos oblong. Tangannya mengambil alih dua tas milik Si Mbak yang baru saja turun dari taksi. Kamu tahu, kan? Lelaki itu berprofesi apa? πŸ˜‰

“Banjarnegara, Pak. Busnya sudah berangkat belum, ya?” Mendengar kata Banjarnegara, saya buru-buru banget meletakkan minuman yang sedang saya nikmati bersama beberapa Bapak Ojek.

“Weeeh…dulur saya, nih.” Batin saya, dan lekas bergegas mengikuti Si Mbak yang jalannya cepat banget. Mungkin ia khawatir karena lelaki yang membantu membawakan tasnya sudah tidak kelihatan.

Hmmm…benar dugaan saya tentang profesi si lelaki itu. Dua tas milik Si Mbak dibawa ke loket agen yang tak bernama, dimana agen sudah menyediakan selembar tiket bus menuju Banjarnegara.

TIKET BUS PALSU copy

Semoga gue ngga ditonjok sama yang jual tiket ini. . .hihihi

“Haai…kamu pulang Banjarnegara juga, ya?” Suara Si Mbak mengagetkan saya yang sedang susah payah melihat nominal yang tertulis di tiket. Wiih…ternyata hampir dua kali lipat dari harga tiket milik saya.

“Mbak, ngasih Rp 20.000 saja untuk bantuan bawain tas ini, ya.” Lelaki itu meminta upah setelah membawa barang-barang Si Mbak. Tapi, Si Mbak ngga mau bayar.

Alasannya simpel. Karena dia ngga minta dibawain, main serobot, gitu. :mrgreen: Si Lelakinya pun marah-marah ngga jelas. Yaa….mau gimana lagi, ya. Cara membantunya ngga sopan, sih. Namun, pada akhirnya diberi. Karena lama-lama pakai otot gitu, deh, ngomongnya. πŸ˜†

Saat Si Mbak tahu kalau tiket pulang saya seharga Rp 100.000, dia berniat untuk membatalkan pesanan tiket yang ngga jelas naik Bus apa. Setelah melakukan konfirmasi, ternyata kalau dibatalkan, jumlah uang yang bisa kembali hanya 50% saja. Gila abizzz, ya! Ngga sesuai dengan persyaratan yang tertulis di tiket.

Tak hanya itu saja. Ternyata, jam berangkatnya tuh belum jelas. Si Mbak diminta sabar untuk menunggu Bus sampai datang. Karena tak lama lagi Bus SinJay akan berangkat, saya pun segera pamit kepada Mbaknya. *puk puk Si Mbak yang belum sempat berkenalan*

Serius, Terminal Lebak Bulus, tuh, menurut saya ngga aman. Banyak lelaki yang menawarkan ini itu dengan cara yang ngga sopan blas!

Jika teman-teman ada yang mau naik dan atau turun di Terminal Lebak Bulus, hati-hati banget, ya. Mending pasang wajah preman sekalian di sana. πŸ˜† *bercanda* Ya…intinya jangan ragu, tetap percaya diri, lebih baik tanya kepada para penjual di sekitar terminal. Penjualnya banyak yang baik, kok. πŸ˜‰

19 thoughts on ““Permainan” Seru di Terminal Lebak Bulus

  1. Dulu waktu di Ciputat, pas mudik pasti lewat lebak bulus, apalagi pas awal2 di jakarta, udah ngeri ajah, takut di copet dan lain2 πŸ™

    Jangan berpikiran negatip kalau sedang diperjalanan ya, Kak. πŸ˜€

  2. Ternyata masih bertahan juga ya calo seperti itu. Perlu di tindak lanjuti tuh sama pemerintah biar gak ngerugiin calon pengguna jasa angkutan.

    Semoga ada yang menindaklanjutilah, ya. πŸ˜€

  3. yang di Kampung Rambutan juga ada yg kayak gitu. Jangan pasang wajah lugu dan bingungan lah.

    Pasang wajah termanis ya, Kak. πŸ˜€

  4. Kalo ditawari kayak gitu mending langsung sebut nama busnya aja, bilang udah beli karcis.
    Pegawai terminal juga gak akan bantu kalo ada masalah begini, percaya deh…

    Mungkin dia belum berpengalaman, Kak. πŸ˜€

  5. Saya lebih suka naik kereta api
    Nyaman dan aman
    Hati2 ya say
    Salam sayang selalu dari Jombang

    Kalau dari Banjarnegara, musti ke Purwokerto dulu kalau mau naik kereta, Dhe. Jadi pilih Bus saja. Hehehe Salam senyum, deh. πŸ˜€

  6. Makanya aku tak pernah naik bis.. Selain kejam, juga karena mabokkan. Wkwkwkwk *ora nyambung* *sing penting komen*

    Apaan kejam? Hahaha πŸ˜€

  7. Di terminal sih selalu waspada kapan saja, pernah hampir ribut sama preman setempat karena maksa naik bis yang mahal. Lha males, yang murah aja udah bisa kok πŸ˜€

    Kamu berani sama Preman, Kak? πŸ˜€

  8. Idah beranian ya, aku pernah ke terminal Lebak Bulus siang2 padahal, tapi kok ya berasa serem bgt gituh, ga pernah mau lagi, kecuali ditemenin kali ya hahahaha

  9. Tidak suka naik bus, mending kereta. Pernah dulu bgt wakt msh SD naik sinjay. Sampai takut, ngebutttz bgt sopirnya

  10. DI terminal manapun aku ngeri. Kalau naik bus biasanya aku pilih yg punya kandang dikotaku gitu. Kalau ada apa2 tinggal ngamuk aja kekandangnya heheee

  11. kyknya diterminal jkt jangan pasang muka lugu atau bingung hehe..ga cuma di LB aja sih. tp klo dibandingkan yg lain, LB masih mending (versiku)..tp klo aku keluar kota enakan naik kreta..ke LB paling cuma sekitaran aja, karena memang arah rumah lewatin LB…

  12. Saya ngga pernah naik bis sendiri, hehe, kayaknya di setiap terminal pasti banyak yang seperti itu ya, kudunya kitanya juga sudah ngerti arah tujuan dan jangan pasang tampang yang ‘ngga tau’ ya, takut dikerjain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *