Gedung Lembaga Kursus

Saat Udara Panas, Tidur Tetap Bisa Nyenyak

Udara di Banjarnegara Sejuk Banget! Sebentuk harapan dan sugesti kuat dariku. Padahal, aslinya PANAS, HOT, VERI HOT, PANAS BANGET! Entahlah, rasanya sedang berada pada titik paling sumuk. πŸ˜† Titik, kok, sumuk, ya. Titik kebahagiaan, gitu. Keren sedikitlah, Dah! πŸ˜€

Hidup di Desa yang notabenenya dikelilingi Gunung, Bukit, Pepohonan rindang, tapi udara segar ngga menghampiri sama sekali. Saat ini.

Ya, di Banjarnegara sekarang susah banget untuk mendapat udara segar tiap harinya. Pun dengan pagi hari. Jalan-jalan di pematang sawah susah banget mendapat semilir angin. Ngga seperti dahulu, saat aku masih kinyis banget. πŸ˜€

Meski demikian, aku beruntung. Karena, masih bisa menikmati pemandangan lepas sawah saat jalan-jalan pagi, atau berangkat kerja. Lumayan hijaunya bikin segar mata. Ngga kebayang Teman-teman yang tinggal di Kota. Bisa mendapat suplay udara segar darimana, ya? Mungkin daru kipas angin atau AC dowang, ya.

Sekarang sudah masuk bulan Oktober. Katanya, jika masuk bulan yang berakhiran -ber, air hujan akan segera membasahi bumi, sehingga menjadi mber-mber atau becek. πŸ˜€ Tapi, sekarang sudah ngga ngefek sama sekali, ya. Buktinya sekarang. Tiap hari yang kurasa hanya sumuk, panas. *Ibu hamil mah suka, gitu. Dikit-dikit sumuk, kipas-kipas.* *efek dari pembakaran hutan* *pemanasan global*

Ada yang bilang, kita harus terus bersyukur dengan segala keadaan, apa yang diberikan olehNya. Hmmm…bukannya aku ngga bersyukur, kawan. Hanya berkabar saja, di Banjarnegara sekarang susah mendapat udara segar.

Akhir bulan lalu, aku bergeser ke Kota Perwira, Pubalingga. Ada hal penting yang harus kuselesiakan, dan hidup sehari di sana. Udara di sana lebih panas dari Banjarnegara. Pun dengan malam hari. Mandi sekitar pukul 20.00 WIB, setelahnya gobyos lagi. Keringat bercucuran dimana-mana.

LAMPU REDUP

Cakeep, ya. . .

Ini gimana gue bisa bobok kalau panas gini, Nte.” Menyalakan kipas angin bukanlah hal yang bijak. Takut masuk angin, kasihan Dede. πŸ˜‰ Sampai akhirnya, saat mau tidur, Tante menyalakan lampu redup yang dikasih Om. Lampu khusus kamar tidur, gitu. Hanya dengan lampu ini, aku bisa tidur nyenyak saat udara panas, bikin gerah badan, sumuk.

Lampu ini cukup memberi efek tenang, adem, dan panas ngga begitu terasa. Tidur terasa nyaman, karena ruang kamar menjadi redup dan remang-remang, gitu. Malam itu juga, aku minta sama Tante, kalau lampu redup dengan karakter Popay itu akan kubawa pulang, tak minta. πŸ˜€ Tapi, aku disuruh minta izin ke Om dulu. Ini yang bikin malas, nih.

Sebenarnya ada banyak toko yang menyediakan lampu untuk kamar tidur, ya. Tapi, kok, aku pingin banget yang kayak punya Tante. πŸ˜† πŸ˜† *kode morse*

17 thoughts on “Saat Udara Panas, Tidur Tetap Bisa Nyenyak

  1. Lah sama ya..dulu sebelum menginjakkan kaki ke Purwokerto aku mikirnya kota ini adem ternyata sama Surabaya sama aja, puanase poool (kata orang sini). Kalo udah kyk gini pengen lari ke mertua di Punggelan, tempatnya adem sepi dan hijau sayangnya jauh hee :V

  2. Kalo aku di sini lampu harus mati.. tapi sekarang lg galau. Kalau lampu mati, nyamuknya banyak; kalau nyala, nggak bisa tidur. Mau pake kelambu kok ya rasa2 sesak gitu jadinya..
    galau segalau galaunya.. akhirnya beli penutup mata, trus jadi nggak galau lagi.. ^_^

  3. Hampir disemua daerah sepertinya mbak megalami musim panas seperti ini, di daerah juga gak beda jauh, panasnya full banget… kalo bangun pagi aja baju pada lepek karena basah keringetan πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *