Senandung Cinta

Tak Ada Langkah Mundur

Terik matahari tak mampu menghentikan laju motorku untuk sampai kerumah. Sesampainya dirumah, “Tadi pak pos kesini, ada surat dari Surabaya untukmu, Nduk.” Ibuku mengacungkan sebuah amplop kepadaku.

Cepat aku ambil amplop itu dan buru2 masuk kamar, utk mengganti baju kerjaku yang sudah tak enak dipakai,gerah. Kulirik amplop itu, “Astaga, surat dari kapten bhirawa….” baru ingat kalau kesibukanku akhir-akhir ini sungguh padat, dan fatalnya aku lupa untuk membalas surat cinta darinya, sampai datang surat yang ketiga belas. “tunggu, 13…bukankah katanya itu angka sial? Mulutku komat kamit sendiri. Kutarik bibirku 2cm ke kanan dan 2cm ke kiri, tersenyum sambil membuka amplop surat yang masih bernuansa kuning itu, amplop kuning, kertas kuning, dan ditulis dengan tinta kuning.

Kubaca,

“Aku sudah tak punya banyak waktu lagi, segeralah beri aku kepastian, Dik. Aku tunggu sampai akhir pekan ini.”

 

Salam

 

Kapten Bhirawa

Hangat kata-kata kapten yang sudah tak ada membuat senyum yang ku kembangkan tiba-tiba hilang, berganti dengan mulut bungkam, dan ada butiran bening yang jatuh ke pipi sebelum sempat aku menyekanya. “Kapten, sepertinya dia memang sudah tak bias menunggu lebih lama lagi..” akhirnya kuputuskan untuk membicarakan tentang isi surat ini pada keluarga.

Berbagai macam pertanyaan Ayah lontarkan, aku mencoba menjawabnya dengan serius. Akhirnya, hubungan ini menemukan titik terang. Ayah, Ibu dan keluarga lainnya menyetujui hubungan kami. Kakek yang juga ada disitu tersenyum melihatku yang begitu senang. Segera, kakek pun ingin tahu lebih lanjut tentang lelaki yang aku banggakan itu. Pertanyaan pertama kakek, tentang hari lahir Kapten. Sebagai seorang yang masih kental dengan budaya Jawanya, kakek harus menghitung weton kami dan ini itu. Aku menurut saja, kubacakan hari lahir kapten dan semua tentangnya yang dianggap penting oleh kakek. Kakek mulai menghitung, yang kulihat rumit, bahkan lebih rumit dari Kalkulus.

Hampir 2 jam kakek menghitungnya, hingga akhirnya selesai dengan hasil perhitungannya. “bagaimana kek? Ayo baca, aku ingin segera tahu..”  pintaku kepada kakek dengan wajah yang berbinar. Aku tak sabar.

Nduk, sudah kakek hitung. Jika kamu menikah dengan si kapten hidupmu nanti akan Gotong Omah. Carilah lelaki yang bias Njagong Omah saja, itu akan lebih baik untuk masadepanmu.” Suara kakek terdengar gemetar, bukan apa-apa tapi karena beliau sudah tua.

Seketika diam merajai ruangan tempat kami berkumpul, senyap. Yang kurasa, waktu seakan berhenti, dan ada batu besar yang menghimpit dadaku, sesak. “Bagaimana aku menjelaskan ini kepada Kapten Bhirawa?” hanya itu yang memenuhi otakku saat ini.

Cerita  ini sebagai penggembira Flash Fiction Writing Contest: Senandung Cinta

Ini Fiksi pertamaku, belajar ngefiksi sama Tante. 😆

14 thoughts on “Tak Ada Langkah Mundur

  1. keren mbak, mengusung tradisi jawa yang masih ada higga saat ini. so tinggal memilih diam mengikuti adat atau berlari sesuai kata hati..sukses GAnya..:)

    Sesuai dengan judul, Mba. Tak akan menyerah. 😀 ^_*

  2. sponsorsipnyapun akhirnyaikut meramaikan lomba juga ya mbak.. 😀

    Halal, kan? 😀 Kowe melu ora, Mas?^_*

  3. what? gotong omah? njagong Omah? Klo versi bapakku…sandang, pangan, gedong, loro [sakit], pati [kematian]….

    #gud luck yaaa

    Lain lubuk, lain ikannya, Mba. 😀 ^_*

  4. Idaaah, typo (seperti aku juga kadang bisa jadi bias)

    Baru tahu,, swear ada gotong omah, jadi omahnya digotong getu ya? hihiii *jangan diglepaaaaakkk,

    Salam
    Astin

    Hahaha, itu komputernya sok tau ya, MBa. 😀 Swear? Masa sih? Geplak pake opak ya? 😀 ^_*

  5. semacam pengalaman pribadi ya ini…mengusung tradisi itungan weton…..keren nduk..hahahaha..
    klo cari yg itungannya pas ya…..xixixizi

    Fiksiii, MBa. Fiksiii. . . 😀 ^_*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *