SAOTO BATHOK SAMBISARI YOGYAKARTA

Saoto Bathok, Sajian Soto Segar yang Begitu Khas

Hari ini aku sengaja ngga masak. Kalian akan kami ajak jalan-jalan dan kulineran. Pertama, kita akan menikmati Saoto Bathok Mbah Katro. Belum pernah ke sana, to?” Pemilik penginapan akan mengajakku dan Lulu bersenang-senang. Antara malu dan malu banget. Diizinkan menginap, sebenarnya sudah lebih dari cukup. Tapi, ternyata diberi lebih.*hamdallah berkali-kali*

Mendengar nama kuliner Saoto Bathok, aku tak langsung penasaran dengan kuliner tersebut. Aku justeru penasaran dengan nama pemilik yang disertakan di belakang nama kulinernya, yaitu Mbah Katro.

Aku membatin, “Seriusan yang punya warung Saoto namanya Mbah Katro?” 😆 Seketika, aku teringat Om Tukul yang sering ngomong Katro, Katrok, Katro, saat tampil di layar televisi.

Sesampainya di sana, niatku mau menanyakan perihal Mbah Katro. Penting banget, ya? Hihihi Kurang gawean mbanget. Memperluas persaudaraan.

Ada yang bilang, Saoto Bathok ini termasuk kuliner high class. Alasannya, cukup simpel. Karena, di pinggir jalan kompleks Warung Saoto Bathok banyak mobil berderet, yang menandakan bahwa pelanggan adalah horang kayah. Mereka berhenti memang untuk menikmati sajian Saoto Bhatok. Bukan sekadar menitipkan mobil atau memarkirkannya.

7 SOTO BATHOK MBAH KATRO

Halam depan Warung Sederhana Saoto Bathok. . .

Sesampainya di Warung Saoto (Soto) Bathok yang berlokasi tak jauh dari kompleks Candi Sambisari Sleman, Yogyakarta, tempat duduk hanya bersisa satu. *menatap nanar meja kosong*

“Silakan pilih nomor dahulu, Mbak. Nanti kami bantu catat pesanannya.” Tanganku bergerak cepat mengambil satu nomor. Kemudian menaruhnya di meja yang masih kosong. Rasanya buru-buru banget, ya. Nampak ngga sabar untuk melahap Saoto. 😀

Bukaaaan! Bukan seperti itu, Kawan. Pada hari itu juga, kami berencana untuk singgah ke Candi Sambisari dan Cave Tubing. Makanya, saat melihat ada kursi kosong, aku lekas mengisinya.

Sedangkan Lulu, Pak Umam beserta Isteri, memesan Saoto dan beberapa jenis lauk sebagai pelengkap. Di sini, lauk memang harus dipesan. Tidak tersaji di meja. Apa yang ada di meja, berarti sudah dipesan. Habis atau ngga, sudah risiko. Tetap membayar penuh apa yang sudah dipesan.

2 SAOTO BATOK YOGYAKARTA

Racikan telah dibuat banyak. . .

Saat itu, kami datang cukup siang. Andai Matahari belum nampak penuh, aku memilih tempat duduk lesehan yang berada di paling ujung. Nampak lebih luas dan segar saat menyantap Saoto Bathok sembari memandang lepas sawah di sekitarnya.

Warung Saoto Bathok memang terlihat jarang senggang. Pelanggan terus berdatangan, silih berganti. Tempat duduk yang disediakan, nampaknya sedang mulai ada penambahan. Sudah seharusnya, sih. Satu lokasi atau tempat duduk yang kami singgahi hanya berisi lima meja berukuran sedang. Satu meja, rata-rata terisi empat sampai enam kursi.

Saoto Bathok, Soto yang disajikan dalam sebuah Bathok atau Tempurung Kelapa yang berwarna gelap terasa lebih segar dinikmati di pinggir Sawah. Ngga musti menunggu waktu yang tepat untuk menikmatinya. Siang pun tetap terasa nikmat menyantapnya. Karena, semilir udara segar khas sawah terus menyapa tiap pelanggan.

3 SAOTO BATHOK CANDI SAMBISARI

Segeernya serius. . .

4 SOTO BATHOK MBAH KATRO YOGYAKARTA

Tempeeenyaaa. . .

Cita rasa Saoto Bathok hampir sama dengan Soto Broto Wonosobo. Hanya saja, cara penyajiannya berbeda. Saoto yang disajikan menggunakan Bathok, atau yang dalam KBBI tertulis Batok rasanya khas banget. Memanfaatkan tempurung kelapa untuk dijadikan mangkuk adalah sebentuk pemikiran yang tak biasa. Pemilik warung Saoto pasti akan hati-hati, lebih teliti dalam memilih Bathok, agar pelanggan nyaman dan merasa aman ketika menikmati Saoto.

Seporsi Saoto Bathok berisi nasi yang sudah dicampur dengan kuah. Taburan tauge, daging sapi, seledri dan berambang goreng menjadikan Saoto makin sedap. Terlebih, jika ditambah dengan satu siung jeruk nipis dan sambal. Menggelegar!

Dalam penyajiannya, Saoto Bathok beralaskan piring yang terbuat dari tanah liat. Tatakan mirip coet, tapi diameternya lebih kecil. Begitu juga dengan tempat lauknya. Tidak disajikan dalam piring pecah belah seperti pada umumnya. Ini juga menjadi ciri khas Saoto Bathok. Njawani banget.

6 SAOTO BATHOK CANDI SAMBISARI YOGYAKARTA

Sambil menikmati suguhan segar ini. . .

5 SOTO BATHOK

Modelnya segar juga, kan?

Selain penyajian Saoto Bathok Mbah Katro yang khas, tempatnya juga terasa pas. Warung yang berdiri di tengah sawah, cukup sederhana. Pemandangan khas desa berupa Sawah, membuat para pelanggan enggan beranjak dari tempat duduknya. Warung tersebut juga tidak dibangun secara permanen, hanya dari anyaman bambu, namun bersih.

Andai bisa egois, aku akan berlama-lama di Warung ini, menunggu satu per satu lauk yang sudah kami pesan terlahap semuanya. Namun, melihat pelanggan yang makin banyak berdatangan, kami ngga mungkin menghabiskan tempe krompyong, sate puyuh dan sate usus secepat mungkin. Meski Bathok terlihat mini, ternyata Saoto Bathok mengenyangkan juga. 😀 !

Kami meninggalkan meja nomor 13 dengan membawa selembar kertas yang berisi catatan pesanan kami. Bu Umam membayar di tempat pengambilan nomor, dan aku menuju mobil tanpa ingat niatku untuk menanyakan Mbah Katro. Ya…begitulah kalau sudah kenyang. Banyak yang terlupakan. 😛

Saoto Bathok Mbah Katro

Alamat: Jl. Candi Sambisari, Desa Sambisari, Kalasan, Kec. Sleman, Yogyakarta.
Harga: Saoto Bathok Rp 5.000 per porsi.
Lauk: mulai dari Rp 1.000 – Rp 2.000 per buah.
Jam Buka: Mulai pukul 06.00 WIB-habis.

13 thoughts on “Saoto Bathok, Sajian Soto Segar yang Begitu Khas

  1. Kalau beli makanan di daerah saya suka heran waktu bayarnya, padahal makan ini itu, nambah ono ini ehhhh,,, pas di total harganya murah banget… puas deh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *