Misteri Hilangnya Sepatu Kerja

Sepatu kerjaku berpindah tempat. Sepatu yang semula berada di rak ruang tengah, berpindah sendiri ke gudang. Tak lama kemudian, sepatu kerjaku yang paling nyaman itu berpindah tempat (lagi) ke tempat pemakaman umum. Horor, tapi bohong. hahaha…

Misteri yang aku maksud sama sekali ngga ada hubungannya dengan aroma mistis, kok. Hanya saja, aku merasa sedih atas hilangnya sepatu kerjaku yang entah kenapa bisa sampai hilan, padahal di rumah.

Aku ngga menyangka sepatu kerja yang -sepertinya- dari dulu ngga pernah aku ajak wefie bisa hilang. Sepatu kerjaku, tuh, ngga ada bagus-bagusnya. Jauh dari kata menarik untuk diambil, apalagi dijual di pasar loak. Pasar barang-barang bekas, gitu.

Sepatu kerja yang tanpa model itu memang kurang menarik dipandang. Tapi, sepatu tersebut nyaman banget dipakai. Lebih nyaman pakai sepatu ini ketimbang bersandar di bahu Nicholas Saputra. πŸ˜†

Aku masih ingat, sepatu ini aku beli tahun 2011. Hampir lima tahun kami bersama-sama. Melangkah untuk menuju pelaminan mendapat apa yang aku butuhkan. *daleem*

Sepatu yang paling setia menemaniku Kuliah, KPM, sampai Kerja. Sepatu yang ngga pernah minta jajan ke tukang sol sepatu. Sepatu yang awet banget meski sering kena air saat musim hujan. Satu-satunya sepatu yang aku pilih untuk dinas luar. Sepatu buatan Kang Dakir, lima tahun yang lalu. Sepatu yang kini tinggal kenangan.

Memangnya sepatu kerja milikmu hanya satu ya, Dah? Kasihan banget, sih!

Hmmm…ngga, kok. Ada beberapa sepatu kerja. Nih, salah satu sepatu yang aku punya. Tapi kurang nyaman.

SEPATU

Aneh, ya. Sepatu milih sendiri, kok, bisa sampai merasa kurang nyaman dipakai. Hahaha…padahal sebelum membelinya, aku mencobanya terlebih dahulu. Tapi aku memang perempuan manis kadang suka di awal saja. Mencobanya pun ngga maksimal, karena merasa udah suka duluan. Semacam jatuh cinta pada pandangan pertama. πŸ˜†

Lalu, sepatu kerjamu yang nyaman itu sekarang di mana, Dah?

Sudah kubilang, berpindah ke pemakaman. *tapi bohong* Aku ngga tahu berpindahnya ke mana. Saat Kecemut lahir, beberapa barang yang ada di ruang tengah dipindah ke gudang, termasuk rak sepatu. Nah, karena sebentar lagi masuk kerja, aku mencari sepatu ternyaman itu di gudang, kan. Rak sepatunya masih utuh, beberapa sandal dan sepatu juga masih tertata rapih. Tapi sepatuku dowang yang ngga ada. *syedih pisaan*

Kata Ibuku, sih, aku lupa naruh. Atau, bisa jadi masih di Kantor. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu. πŸ˜† *sok serius*

SEPATU 2

Sampai sekarang, aku masih suka bawel ngomongin sepatuku yang hilang. Sampai Ayah bosen denger aku ngerengekin sepatu itu. Ayah udah berkali-kali nyuruh buat beli, tapi aku pingin buat saja. Pesan ke Kang Dakir lagi. Alasnya lentur banget, kulit sepatunya juga. Ngga kaku.

Misal pun beli, pinginnya kayak model sepatu di atas. Sepatu dr martens, bukan model yang high heels dengan bagian depan mengerucut. Sepatuku yang hilang juga model haknya seperti itu. Nyaman banget buat jalan, naik turun tangga, dan lariiii dari lantai 3 menuju meja kerjaku yang berada di lantai dasar. πŸ˜€

Sampai postingan ini aku terbitkan, sepatu itu masih menari-nari di depan mataku. πŸ™

12 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *