Konferensi yang Gagal Bersama CERIS

Makanan ringan yang aku beli di pinggiran alun-alun kota telah habis. Sudah mulai bingung mau pose gimana lagi. Ngga mungkin ngambil camilan milik tetangga, kan? Mau beli lagi, takut tambah begah. Ya, begah banget rasanya. Lha wong sudah habis banyak jajan!

Kaki ingin naik, kemudian diluruskan. Ups….tapi aku pakai gamis. 😀 Jika boleh percaya diri alias PD, mungkin beberapa orang yang berada di dekatku membatin “Ini orang sudah makan banyak jajan, kok masih gelisah saja, sih. Masih lapar kalik, ya.” 😀 *hah….emang elo siapa? ngga ada yang merhatikan elo kalik, Dah!* 😆

Belum lama aku duduk di bundaran alun-alun dekat pendhapa yang baru direnovasi. Tiga puluh menit dari jadwal yang telah disepakati. Duduk, sembari ngemil memang ngga begitu terasa. Tapi, waktu terus berputar. Itu yang membuatku gundah.

Aku mengira akan ada pembatalan secara sepihak. Tapi, itu ngga mungkin terjadi. CERIS bukan tipe orang yang suka membatalkan perjanjian secara sepihak. Ingin mengadakan konferensi saja, minimal ditentukan dua minggu sebelumnya. Harus se-iya, se-kata, meski sebenarnya susah banget untuk hadir semua. 😛

Terakhir mengadakan konferens utuh, tuh, sepertinya pas perpisahan semasa duduk di bangku MTs. 😆 😆 Setelahnya, cukup sering bertemu, tapi tidak semua bisa hadir. Selalu minus. Tak lain, karena aktivotas harian kami tak sama. Sampai akhirnya, kami kembali mengadakan konferensi hari ini. Sabtu, 17 Oktober 2015, bertempat di Kedai Woelong (KW). 😆

CERIS FAMILY
Sedaaf. . .  😛

Tepat pukul 14.00 WIB, kami bertemu di bundaran alun-alun kota. Emmm…ternyata satu jam lebih akhir dari jadwal yang telah ditentukan. *cieee jadwal* Itu pun minus Inung yang ngga bisa hadir, karena baru pulan kerja pukul 15.00 WIB. Susah menyesuaikan kalau sudah bekerja. Jam kerja yang ngga sama, dan kadang ada yang namanya kerja shift.

Citra yang baru pulang kerja, memutuskan untuk langsung bergabung. Tanpa pulang rumah terlebih dahulu untuk sekadar say hai si ganteng Zafran, anaknya. Rusydiana alias Dina alias saudara kembarki yang baru saja pulang dari pasar, tanpa make up seperti biasanya, menyusul untuk bergabung. Eti, gadis lemah lembut ini datang memberi kabar kalau baru resign dari gawean. Makanya, bisa ikut konferensi. 😀

Sedangkan aku??? Ya, aku datang membawa sapu lidi untuk membersihkan alun-alun kota, supaya gundah yang kurasa hilang. *tapi bohong* Menunggu untuk menyatu.

KW menjadi pilihan kami untuk mengadakan konferensi, sebab lokasi tak begitu jauh dari tempat kami berada, yaitu alun-alun Banjarnegara. Hanya 500 meter.

Konferensi. Sengaja banget meminjam kata para pejabat. Padahal, sih, hanya pertemuan biasa. Biasa, tapi memang ada suatu hal yang ingin kami rundingkan. Bukan masalah bersama, sih. Hanya saja, ini menyangkut masalah hajat hidup CERIS. 😀

Sesampainya di KW dan memilih menu makanan yang ada di daftar menu, microphone gagal dinyalakan. Konferensi tanpa microphone, kan, kurang seru, ya. Hambar! :mrgreen:

Tanpa sadar, kami ngobrol banyak hal yang berkaitan dengan kehamilan dan Keluarga Berencana (KB). Bhahaha Ini sepertinya efek ada aku, ya. Ibu hamil yang sekarang makin seksi! 😛

Banyak yang diobrolkan, banyak yang dipesan. Satu camilan habis, pesan lagi dengan camilan yan berbeda. Dari Banana Baked, sampai pada Tahu Bantal yang membuat wajahku makin teasa seperti bantal. Minuman sampai habis, tapi ngga berani menambah. Karena, jam digital pada handphone menunjukkan pukul 16.30 WIB.

Terlenaaa! Kami terlena dengan apa yang tersaji di atas meja. Pertemuan kali ini memang begitu menyenangkan. Meski melenceng dari tema, serta tujuan utama konferensi, tapi banyak pembahasan baru. Banyak pula pengetahuan baru yang didapat. Dan sepertinya, akan ada kisah baru di keluarga CERIS.

15 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *