OBJEK WISATA DI GOMBONG

“Gang Sadar” Monumen Waduk Sempor

Memasuki kawasan objek wisata Waduk Sempor, rencana mencicipi wisata kuliner mendoan dan tiga objek wisata harus aku babad tuntas. Niat banget, ya. Harus, dong!

Kota Gombong memang ngga jauh dari tempat tinggalku, Banjarnegara. Tapi, kesempatan aku harus memanfaatkan kesempatan yang langka ini; bekeliling Kota Gombong ditemani dua perempuan, di mana salah satunya adalah warga asli Gombong. Ambar, namanya. πŸ˜‰

Di kawasan objek wisata Waduk Sempor, terdapat tiga objek yang sangat menarik untuk dikunjungi. Yaitu; kawasan joging, susur waduk sempor menggunakanΒ perahu, dan monumen waduk sempor.

Usai joging pagi, kami menuju tempat parkir bagian atas untuk mengambil sepeda motor yang kami titipkan di sana. Kami sengaja menitipkan di parkiran atas, karena di sana ada seorang lelaki yang bertugas menjaga tempat parkir beserta isinya. πŸ˜‰ Berbeda dengan tempat parkir bagian bawah. Meski banyak motor yang diparkirkan di dekat pintu masuk kawasan joging area, tapi tetap saja was was.

Kami langsung menuju monumen waduk sempor di mana lokasinya tak jauh dari tempat parkir. Kurang lebih 500 meter.

Monumen Waduk Sempor yang diresmikan pada bulan Maret 1978 oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik pada saat itu, Prof. DR Ir Sutami, dibangun untuk mengenang para pekerja Proyek Waduk Sempor yang menjadi korban jebolnya Waduk Sempor pada tahun 1967.

Membaca dibeberapa situs media online, sebanyak 127 orang yang gugur saat sedang mengerjakan bendungan tertulis dalam sebentuk prasasti yang terletak di dalam Monumen. Aku ingin melihat prasastinya.

MONUMEN WADUK SEMPOR

Ngga cetho Monumennya. . . Hihihi

Posisiku saat itu mbonceng Lulu. Melihat tanjakan jalan yang ngga begitu lebar, nyaliku menciut. *maaf, bukan rider* πŸ˜† Selain itu, karena malam harinya hujan telah mengguyur Kota Gombong, jalan yang lebih cenderung seperti Gang pun nampak licin. Semisal jalan tersebut lempeng, sih, mungkin aku berani. Tapi…..merinding banget pas melihat samping kiri jalan adalah Waduk. Akhirnya, aku putuskan untuk jalan kaki menuju Monumen.*cemeeen beud*

Satu hal lain yang membuatku ragu untuk melewatinya, yaitu karena banyaknya muda-mudi yang bersantai di depan monumen persis. Bersantai serasa dunia milik berdua. πŸ˜€ Rasa ragu berubah menjadi takut, ketika beberapa sepeda motor bertengger di dekat Monumen.

WADUK SEMPOR GOMBONG

Berduaan di sini saja. . . Hahaha

Melihat pemandangan di sekitar kawasan Monumen yang kurang kondusif membuatku syediiiih pisaaan. Tiga hal yang membuatku sedih yaitu; Pertama, karena pintu gerbang monumen dikunci dan saat itu ngga ada seorang pun yang menjaganya. Aku ngga bisa masuk! πŸ™ Mungkin, karena aku datang pada tanggal merah atau libur kerja. Pupus sudah keinginanku untuk masuk Monumen.

Kedua; karena taman yang berada di dalam atau sekitar monumen kurang terawat. Ketiga; Karena ngga sedikit muda-mudi dengan enjoy-nya bermesraan di depan monumen. Aku ngga tahu maksud mereka hanya sekadar hore-hore saja, atau memang dari rumah sudah niat berkencan di depan monumen.

Melewati jalan dan singgah sejenak di Monumen Waduk Sempor membuatku sadar. Bahwa untuk menghargai jasa pahlawan, peninggalan yang bernilai sejarah, tuh, ngga cukup hanya dengan mengikuti upacara, berziarah, atau mendoakannya. Menjaga, merawat, menghargai peninggalannya dan bersikap sopan juga tak kalah pentingnya, ya.

27 thoughts on ““Gang Sadar” Monumen Waduk Sempor

  1. Setuju banget dengan paragraf terakhir tulisan ini. Tapi… aku jadi tersentil. Upacara gak pernah lagi, mendoakan baru sebatas keluarga, berziarah gak pernah, merawat peninggalannya juga gak ikutan. Ihiks…

  2. Baru tahu kalau dalam pembangunan Waduk Sempor pernah jebol πŸ™
    Semoga arwah para pekerja diterima di sisiNya

    Btw pemandangan di foto vantik dan keliatan seger.

    Mungkin Mbaknya bsa dateng ke sini lagi pas egak tgl merah. Mengenai 2 lainnya yakni taman yg kurang terawat memang bikin miris ya?

    Terus muda-mudi pacaran itu lho, bikin illfeel sumpah -_- saya juga risih klo liat pemandangan kayak gitu. Gerah.

    paling suka membaca paragraf terakhir πŸ™‚
    Nice artikel. Salam kenal mbak πŸ˜€

  3. Fungsi waduk sebagai penampung air jg memang banyak yg dijadikan obyek wisata ya, termasuk waduk sempor itu. Saya blm pernah kesana, dan dari cerita dan foto2nya keliatan asik πŸ™‚

  4. Kalau cuma upacara baru secuil saja dari bentuk penghargaan ya Mbak Idah. Banyak ternyata yg bisa kita lakukan. Memelihara berbagai peninggalan seperti monumen waduk sempor ini πŸ™‚

  5. Wiih serem juga, banyak yang meninggal saat pembangunan waduk itu yah

    Idah, ke sananya koq … malam? .. Ooh karena mau “menuntaskan” perjalanan yang singkat yah? πŸ˜€

  6. bnr2 ga ngerti ama muda mudi jaman skr yg kalo pacaran di tempat aneh2 gitu… :D. ajak ke kafe, bioskop , mall kek, ato minimal kalo mw duduk di rumah ajalah ;p BTW, waduk2 di jkt knpa ga ada yg sbgus di sana ya… di sinimah waduknya jelek at biasa bgt mba.. ga kyk waduk sermo ato waduk sempor ini jg enak diliat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *