LAMPUNG-ELEPHANT-PARK

Lampung Menginspirasi dan Membuatku Jatuh Hati

Bertandang ke Lampung sama sekali tidak ada dalam daftar rencana piknik tahun ini. Tapi karena ada tawaran dan juga kesempatan, mengapa tidak! Pikirku saat itu, sekali jalan dan dapat pengalaman baru, tuh, seperti dapat rezeki dobel.

Ya, bulan lalu aku ke Lampung dalam rangka mengikuti event Lampung Krakatau Festival (LKF) 2018. Sebenarnya tujuan utamanya bukan untuk menghadiri event, sih, melainkan silaturahim sama tante-tante baik yang lama tidak bersua. Nah, karena kebetulan ada teman dari Lampung menawarkan seat untuk menghadiri event LKF 2018, jadi aku makin berusaha untuk bisa sampai ke Lampung untuk kembali kopdar dengan teman-teman Blogger. 😆

Btw, ini kali pertama aku ke Lampung. Ada banyak pengalaman yang aku dapat selama di sana sampai akhirnya aku menyatakan bahwa, aku jatuh hati pada Lampung. Ini bukan berlebihan karena selama perjalanan menuju lampung, trip, dan mengikuti rangkaian kegiatan LKF, banyak hal menarik yang aku jumpai di sana. Banyak yang mengesankan pula, sampai akhirnya menjadi sebuah inspirasi tersendiri. Ya, bagiku Lampung menginspirasi dari berbagai sisi dan membuatku jatuh hati!

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (6)

Niat banget nambah gosong… 😀

Aku bersama Rois, Mbak Lia dan Mbak Way berangkat ke Lampung menggunakan transportasi darat dan laut. Selama perjalanan, kami merasa asyik-asyik saja meski di kapal maupun di dalam bus, tuh, panasnya bikin pingin pingin cepat-cepat ganti daster. Maklum, pakai bus bisnis, next time nyoba kelas royal ah! 😛

Perjalanan laut kami tempuh kurang lebih 3 jam, kami memilih duduk di bagian luar kapal supaya bisa bebas mau ngapain saja. Merasakan semilir angin, melihat cantiknya laut sembari berfoto ke sana ke mari padahal matahari sedang terik. Andai Yasmin jadi ikut, pasti bakal senang bisa naik kapal gini. Uwuuw…akhirnya baper di kapal. Hahaha.

Dari kejauhan, terlihat dermaga pemberhentian kapal. Akhirnya…sampai Lampung juga! Aku kira setelah turun dari kapal, akan langsung ketemu dengan kota, ternyata tidak! Hahaha. Kami masih harus menempuh perjalanan darat kurang lebih empat jam dari pelabuhan Bakauheni menuju kota. Yang bikin aku speechless nih, saat mulai masuk Lampung Selatan, tepatnya di Kalianda, aku merasa seperti sedang di daerah sendiri.

Perjalanan menuju Lampung

Perjalanan menuju Lampung…

Kanan kiri kebun yang ditanami beragam pepohonan. Bedanya, di Lampung dominan pohon kelapa, sementara di Banjarnegara area pesawahan dan pohon salak. Kemudian, rumah-rumah yang ada di pinggir jalan juga bangunannya tak jauh beda dengan rumah-rumah di desaku. Jika di Banjarnegara, perjalanan ini mirip jalan sepanjang Mandiraja menuju Sokaraja. 😀

Ketika mengabarkan ke Mbak Mel bahwa kami sudah sampai Kalianda, dia meminta kami untuk turun di Taman Gajah atau Lapangan Enggal yang berlokasi di Tanjung Karang karena di taman ini sedang digelar Festival Kanikan. Festival ini merupakan bagian dari LKF 2018. Bahagia rasanya dapat turut menikmati festival kuliner a la Lampung. Naaaah…mulai dari sini, aku jatuh hati kepada Lampung.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (3)

Festival Kanikan ramai bangetttt…

Tata letak stand dan kosep festival sungguh rapih. Termasuk panggung untuk pertunjukan. Festival Kanikan menawarkan beragam kuliner mulai dari kudapan kekinian, sampai pada kuliner khas Lampung. Karena festival ini diselenggarakan satu tahun sekali, tentunya sangat ditunggu oleh masyarakat dan penikmat kuliner. Tak heran jika ramai pengunjung. Apalagi tiap harinya ada live perform dari komunitas-komunitas  yang ada di Lampung, makin semarak. Pingin juga lah digelar di Banjarnegara meski belum yakin antusias kulineran masyarakat sini tinggi. Hahaha.

Lampung menginspirasi dari berbagai sisi.

Karena hari sudah sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Hotel Bukit Randu, tempat menginap kami selama dua hari. Tak disangka setelah sampai depan lobby, hotel ini ternyata menawarkan view yang keren parah! Baik dari halaman hotel maupun balkon kamar, suguhan pemandangan kerlip lampu rumah warga dilihat dari atas mirip view “bukit bintang”. Selain itu, interior kamar rasanya Lampung banget! Baik di Hotel Bukit Randu tempat menginap di hari pertama, maupun di Whiz Prime Hotel, tempat menginap hari berikutnya, pada tiap kamar ada tapis dengan beragam warna baik untuk aksesoris tempat tidur, maupun hiasan dinding. Promosinya kompak banget, kalau kotaku tersayang belum, gaes! 😀 Pinginlah, pada kompak promosikan batik gumelem yang khas itu untuk penginapan-penginapan di kotaku.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (4)

Malam di street food Hotel Bukit Randu…

Berikutnya yaitu tentang Siger. Nah, ini paling menggoda. Siger yang telah menjadi simbol khas Lampung sangat mudah dijumpai di mana saja alias tidak di tempat tertentu. Uniknya, nih, hampir seluruh sekolah, instansi, tempat kuliner, toko oleh-oleh, bank, dan masih banyak tempat lain, sebagian besar menggunakan Siger di depan bangunannya.

Bagiku ini menarik karena belum aku jumpai di daerah lain. Di daerahku, misalnya. Pemakaian identitas toko atau sekolah masih menggunakan logo masing-masing. Beberapa yang aku lihat di Lampung, sih, tetap ada yang menggunakan logo brand  identitas toko atau lainnya, namun  Siger tetap ditampilkan di paling atas. Pingin tuh, Banjarnegara punya simbol khas daerah lalu dipasang dimana-mana. Tapi yang menggambarkan khasnya Banjarnegara. Emm…belum punyaaa, sih, beluuuum. 😀 Dari simbol daerah saja membuatku jatuh hati, ya. Jatuh cinta yang sederhana seperti ini, tuh, menambah semangat explorasi pariwisata. 😛

Itu baru Siger. Ada lagi yang menginspirasi yaitu tentang tugu penghargaan yang dikelilingi Gajah. FYI, Lampung memiliki taman nasional perlindungan gajah, dan konsep tugu ini ngena banget. Lagi-lagi aku pingin ada kayak gini di tempat lahirku karena tugu yang belum lama direnovasi ternyata biasa banget, tidak menyelipkan identitas apapun di dalamnya. Kesannya seperti asal-asalan dibuat. Hahaha. *terjulid Di sini aku sempat membuat video pendek yang aku tujukan buat Yasmin. Melihat gajah-gajah lucu itu, baper banget rasanya. Padahal lagi dalam keadaan genting karena harus cepat sampai bandara tepat waktu, lho. Hahaha. Ya gimana lagi, gemes banget melihat Gajah di sekitar tugu ini. 😛

Ikon Lampung 4

Tugu penghargaan saja jadi spesial… 😉

Satu hal yang paling bikin baper dari Lampung adalah kekayaan pantai yang sukses bikin panas hati! Sebenarnya ini aku rasakan semenjak di Taman Gajah. Selain kuliner, di sana ada galeri foto pariwisata lampung yang isinya kebanyakan adalah pantai-pantai di Lampung. “Aku harus mencicipi pantai di Lampung barang satu pantai.” Batinku sore itu saat keliling galeri. Hamdallah…keinginan untuk mengunjungi pantai gagal karena hari ketiga di Lampung tenaga tinggal 50%. LEMAAAH! 😆

Tapi tidak mengapa, karena aku mendapat ganti yang lebih dari sekadar melihat pantai yang canteek-canteek itu. Bersama kurang lebih 100 orang, aku melakukan perjalanan ke Gunung Anak Krakatau untuk melakukan observasi, ekskursi. Ya…kapan lagi bisa sampai Anak Gunung Krakatau kalau tidak dalam rangka trip edukatif, kan.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (1)

Akhirnya sampai Pulau Sebuku…

Turun dari kapal langsung menginjakan kaki di atas pasir pantai tanpa alas, dan air pantai pun menyambut. Di sini tiba-tiba aku kembali ingat kepada Yasmin.

Masih lekat dalam ingatan, seminggu sebelum berangkat ke Lampung, kepada Yasmin, aku sempat memperlihatkan Kapal Laut, Pesawat, Gunung Anak Krakatau, Pulau-pulau di sekitar Anak Krakatau, dan Lautan yang begitu luas. Aku bercerita sedikit tentang Lampung dengan kekayaan alam yang begitu melimpah, sampai dengan transportasi menuju ke sana. Aku juga sempat memutarkan video seputar aktivitas wisata di Taman Nasional Way Kambas, sebuah taman nasional perlindungan gajah yang juga ada di Lampung.

Aku perlihatkan semua tentang Lampung kepadanya dan dia nampak bahagia sekali. Terlebih saat aku mengutarakan niat untuk mengajaknya ke Lampung, dia bersorak ria dan memelukku erat.

TELAGA SUNYI BATURRADEN

Teman traveling yang menyenangkan…

“Besok kalau di Lampung kita bisa naik kapal yang geedeeee bangetttt. Bisa main-main di pantai sampai puas. Terus, bisa juga bermain dengan Gajah yang jumlahnya banyak. Dan pulangnya nanti kita naik pesawat. Katanya kamu pingin naik pesawat?” Ucapku kepada Yasmin seminggu sebelum berangkat ke Lampung.

Tapi ternyata belum berjodoh mengajaknya ke Lampung karena tiba-tiba Ibuku berubah pikiran. Aku tidak diizinkan membawa Yasmin padahal dia anak kandungku cobaaaaa. *ini lebay* Sungguh ini adalah ujian sebelum naik tingkat. Emm…tingkat kapal maksudnya. 😀 Akhirnya, segala apa yang sudah menjadi angan-angan harus aku simpan dalam-dalam.

KAPAL MENUJU LAMPUNG

Ngebet banget ngajak Yasmin buat naik kapal…

Tepat di pintu masuk Cagar Alam Krakatau, menghadap deretan kapal yang bersandar menunggu kami sampai selesai observasi, aku ngevlog.

“Haii…Yasmin, Ibu sudah sampai Lampung, nih. Sekarang sedang di Krakatau. Lain waktu Ibu akan mengajak kamu ke Lampung. Nanti kita jalan-jalan keliling pulau di Lampung, naik kapal gede, main di taman yang banyak Gajahnya, terus naik pesawat juga.” Kira-kira seperti itu vlog yang aku anggap juga sebagai doa sekaligus oleh-oleh buat dia. Rasa sedih, bahagia, seketika bercampur. Dan vlog ini menyempurnakan vlog yang di depan tugu muda Lampung. Hmmm…baper-bapeer! 🙁

Masih banyak tempat yang belum tereksplor di Lampung, khususnya pantai dan kerajinan tangannya. Aku yakin, jika kemarin ada waktu untuk singgah ke pantai dan tempat kerajinan khas Lampung, pasti juga ada banyak inspirasi di sana. Keramahan pelayanan di toko oleh-oleh khas dan tempat kuliner khasnya saja sampai sekarang masih terngiang. Apalagi bisa sampai ke lokasi pembuatan oleh-olehnya khas itu. Pantaslah tagline The treasure of Sumatera melekat di Lampung karena memang kekayaannya, tuh, luar biasa. Hmmm…memang perlu ke Lampung lagi, nih!

Ayyey! Ke Lampung lagi….

Ahaai…rencana traveling ke Lampung sudah aku masukan ke dalam bucket list traveling tahun depan. Artinya, aku harus mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan. Setidaknya aku sudah belajar dari kunjungan aku ke Lampung bulan lalu. Satu hal yang menjadi catatan, traveling tahun depan ini aku berencana mengajak Yasmin. Kalau suami, sih, belum tahu bisa ikut apa tidak, sibuuk teruus! 😛

Ikon Lampung 2

Taman yang produktif…

Tahun depan dia berusia 4 tahun, insya allah sudah cukup paham dengan traveling ini. Karena traveling sama anak-anak, aku pingin lebih santai, menikmati segala sudut Lampung. Pantai yang bisa buat snorkeling, Tempat Kerajinan khas Lampung, Kuliner Khas, Menara Siger, dan Way Kambas.

Tempat-tempat itu akan kami telusuri satu per satu, waktu sudah tidak menjadi persoalan asal kan duit sudah terkumpul. Hahaha. Tapi tetaplah, ya, budgeting perlu dipersiapkan. Satu yang menjadi keharusan adalah alat untuk menunjang EKSISTENSI. Traveling ini kadang perlu pengakuan khusus supaya tidak dikatakan hoax. Ya…apa lagi kalau bukan kamera. 😀

Butuh smartphone yang handal.

Kebutuhan kamera saat traveling sudah menjadi keharusan. Dokumentasi moment-moment, apalagi tavelingnya bareng anak, tidak punya kamera pun pasti berusaha untuk pinjam tetangga atau rental. Namun aku tidak mau terlalu ribet perihal ini karena sekarang sudah banyak smartphone dengan kamera yang canggih dan hasilnya pun tidak jauh dengan kualitas foto atau video yang diambil menggunakan mirrorless atau DSLR. Sebut saja kamera dari smartphone HUAWEI yang kini sudah dibekali AI (Artificial Inelegence) yaitu Nova 3i.

Kenapa Huawei Nova 3i?

Kalau disuruh milih, sih, maunya, Huawei P20. Hahaha. Tapi seri Nova 3i juga cukup banget sebagai alat dokumentasi saat traveling karena sudah dibekali Quad AI Camera. Ya, kamera Huawei, khususnya seri Nova 3i, memiliki 4 kamera berteknologi AI. Teknologi ini mampu menghasilkan foto dengan kualitas nyaris sempurna karena AI ini memiliki kemampuan algoritma dalam proses capture dan editing foto. Empat kamera itu masing-masing dua kamera depan dengan kombinasi sensor utama 24MP dan sebuah sensor 2MP. Mantep banget buat selfie, ya. Apalagi pakai mode beautification, bakal makin istimewa bersinarnya. 😀

huawei seri nova 3i

Kemudian dua kamera belakang mengkombinasikan sensor utama 16MP dan sensor kedua 2MP. Kombinasi ini dapat memotret foto sampai menciptakan efek bokeh, dan take video yang cerah! Meski dengan teknologi AI, hasil foto tetap tampak alami.

Nah, karena aku belum jago fotografi, apalagi sampai mengatur settingan yang disediakan kamera, smartphone Huawei Nova 3i bakal menjadi teman traveling yang tidak ada duanya karena aku tidak perlu repot-repot memikirkan mode kamera, atau setting kamera karena menggunakan mode auto saja si kamera dengan teknologi AI sudah bisa mengatur komposisi dengan cerdas. Cukup menggunakan kamera bawaan Huawei 3i, pengguna bisa kelihatan seperti fotografer prosfesional. 😛 Ahhh…kebayang pas foto-foto di pantai nanti, gradasi air pasti tertangkap sempurna. Pun dengan panorama sekitar pantai, atau latar belakang pantai, Aaak…Kecemutku bakal kece abiiisss.

Ikon Lampung 1

Mau kulineran ini lagi…

Tiap destinasi aku yakin pasti akan menghasilkan foto dan video yang tidak sedikit. Hitung saja kalau sampai ada 5 destinasi, kira-kira akan ada berapa foto selfie dan foto panorama? Pasti banyak bangetttttt. Ini sih kalau aku, ya. 😀 Tapi dengan memoy 128GB milik Nova 3i, aku tidak akan bingung lagi terkait storage. Iyalaaah…masih banyak hal yang perlu didokumentasikan, tiba-tiba ada warning kalau memori penyimpanan tidak mencukup. Duuhh…sedih pastinya.

FYI, Huawei Nova 3i dengan internal memory 128GB ini merupakan smartphone termurah di jajaran handphone kelas menengah. Sungguh ini menjadi pertimbangan penting saat teknologi kamera yang disematkan dalam smartphone kini terus berlomba-lomba memberikan yang terbaik. Jika tidak diimbangi dengan internal memory yang besar, pasti ngeselin!

Selain kamera dan internal memory, Nova 3i juga support buat nge-game. Traveling memang lebih identik dengan moment perjalanan, interaksi dan reaksi, namun di sela-sela waktu istirahat, tidak menutup kemungkinan nge-game menjadi pilihan. Dengan GPU Turbo, Nova 3i akan menjadi teman baik saat traveling.

Satu lagi yang membuat Nova 3i tampil makin sempurna yaitu karena desain bodinya premium. Huawei membungkus bagian belakang seri ini dengan lapisan tipis bertekstur khusus di bawah lapisan kaca yang menghasilkan gradasi dan penampilannya makin elegan. Ada warna Irish Purple yang menampilkan gradasi warna ungu neon dan biru yang menawan. Ditambah dengan layar  full view display dengan ukuran 6,3 inci dan menggunakan layaur FHD+ generasi terbaru, Nova 3i dapat menampilkan gambar lebih tajam.

Ikon Lampung 3

Ada Tapis di tiap kamar Hotel, maulah main ke pengrajinnya…

Ini, kok, mantab betul, ya. Kembali traveling ke Lampung, menyusuri tempat-tempat yang pernah aku singgahi maupun tempat baru dengan didukung alat dokumentasi yang cangggih. Tentu ini akan menjadi moment traveling istimewa buat aku dan Kecemut!

Aku yakin, masih banyak inspirasi lain yang dapat aku temukan di Lampung. Inspirasi yang nantinya menjadi bahan diskusi dengan teman-teman di sini untuk kemajuan pariwisata Banjarnegara khususnya. Pada akhirnya aku kembali berikrar bahwa, aku jatuh hati pada Lampung. Semoga rencana ini dapat terwujud tahun depan ya, Nak! Ibu siap-siap mengirit jatah izin kerja. 😛

Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com

4 thoughts on “Lampung Menginspirasi dan Membuatku Jatuh Hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *