Kartu Elektronik Commuter Line Bikin Gemes!

Sesampainya di Stasiun, kamu bisa melakukan deposit pada kartu Commuter Line yang akan dipakai selama kamu berada di Jakarta . Murah kok, hanya Rp 10.000,- sudah termasuk deposit senilai Rp 5.000,- sebagai jaminan kartu, yang mana nantinya bisa kamu ambil kembali. Kartu bisa diisi ulang lagi kalau memang masih membutuhkan.” Aku hanya mengangguk, asal mengangguk mendengar penjelasan dari temanku yang hampir tiap hari langganan naik Commuter Line.

Aku juga asal menjawab “ya ya ya ya“. Karena, aku kira dia akan deposit juga bareng aku. Tapi, prediksi meleset. Dia sudah punya kartu langganan. Yaaa…maklumlah, warga Jakarta! Untuk aku, yang tidak tercatat sebagai penduduk Jakarta, wajib mempunyai kartu elektronik Kereta Rel Listrik (KRL) sekali jalan, jika memang ingin menggunakan KRL kemanapun.

Dua hari di Jakarta, benda berbentuk pipih, persis model ATM, sukses membuatku ngga enak sama petugas loket dan juga penjaga pintu masuk Stasiun. Benda pipih, yang tak lain adalah kartu elekronik KRL.

Aku hanya bisa memberi senyum termanisku untuk mereka, para penjaga gate, sembari menebar mantra supaya ngga dapat “guyuran”. Was was, tapi lebih dominan malu, sih. 😆

COMMUTER LINE JAKARTA copy
Kayak wong ilang. . .

Jujur dari lubuk hati yang terdangkal, saat itu aku masih cukup asing dengan kartu milik PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Commuter Jabodetabek. Secara, di Banjarnegara belum ada alat transportasi macam KRL. Hyaa…jangankan KRL, stasiunnya saja ngga ada karena sudah beralih fungsi. 😀

Beruntung, seorang teman yang saat itu jalan bersamaku, menemani aku dolan, bisa memahami kondisiku yang bisa dibilang memprihatinkan, sampai ngeselin parah. Ya….mau gimana lagi. Dari wajahku saja sudah nampak melas, kan?

Namanya benda baru; baru menjumpai, megang, menggunakan, ngga heran kalau akan menghadirkan kisah baru, kan. Pengalaman baru, seru, dan juga haru. 😀

Pak…Pak…ini temanku salah nempelin kartu, nih.” Terkirim sebuah pengaduan langsung kepada petugas yang berjaga.

Jiahaha…ada pengaduan mini. Entah untuk yang keberapa kalinya salah tempel itu terjadi. Etapi ngga banyak, ding. Kalau ngga dua, ya tiga kali salah. Aku ngga bisa masuk, tanpa bantuan kunci dari petugas! 😀

Kartu Elektronik Commuter Line
Gue gigit, lapaar. . .

Aku selalu memastikan, kartu yang akan aku tempel dalam posisi yang benar. Orang tinggal nempel dowang, kok. Tapi, ngga tahu kenapa beberapa kali, pintu tetap terkunci. 😀 *sensi banget sama gue*

Kesal? Ngga juga, sih. Cuma malunya pakai banget. Apalagi saat perjalanan ke Bogor. Stasiun sedang ramai pengunjung, dan insiden itu terulang kembali. Tidak berhasil nempel kartu elektronik! Sungguh mengenaskan hidupku ini. 😀

Aku menangkap wajah temanku udah gemez abiz melihat ke-ndesoanku yang amat akut. 😆 Gemeznya bukan gemez kayak lihat baby imut. Tapi, seperti gemeznya anak kecil yang minta permen ngga dibelikan sama orangtua. 😀 *murka*

STASIUN DEPOK
Norak, ya? Biarin. . .

Aku pikir-pikir, ini hanya tentang kebiasaan dan pengalaman saja. Mencoba meninjau kembali, ternyata aku hanya belum terbiasa menggunakan kartu elektronik KRL dan memang menjadi pengalaman pertama. *apa-apaaaaan coba* :mrgreen:

Pada akhirnya, aku memang sepertinya ditakdirkan untuk tidak hidup di Jakarta. Bukan hanya karena kartu KRL, sih. Tapi, kisah Kartu Elektronik KRL ini telah berakhir dramatis. Tapi……aku tetap suka naik KRL. Ada gerbong khusus wanita, terasa nyaman, lebih aman, dan tarifnya itu, lho. Murah banget! Abaikan kalau ngga dapat kursi empuk. Masih bisa berelantungan. 😉

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *