CAMPING TELAGA CEBONG WONOSOBO

Memasak itu Tugas Laki-Laki

Iyes, bahwa laki-laki itu tugasnya memasak. Sedang ngga bercanda, ini serius banget. Tapi, memasaknya bukan di dapur. 😛 Jangan buru-buru mengatakan kalau gue durhaka, ya!

Teman-teman sering, kan, melihat koki laki-laki? Seringkali saya menjumpai pada acara kompetisi memasak di televisi. Master Chef, misalnya. Sedikit banget finalis perempuan, kan? Sebagian besar koki profesional yang di restoran terkemuka pun demikian. Didominasi oleh para lelaki.

Ngga paham kenapa, koki laki-laki jumlahnya lebih banyak ketimbang koki perempuan. Ada yang bilang, terkait dengan mood atau perasaan. Iya, katanya seorang koki ngga boleh bermain dengan perasaan. Yaiyalah, rasa kok buat mainan, ya. Nanti yang ada malah “rasa yang tertukar”, bukan “citarasa selezat masakan mama”. 😆

Saya setuju banget kalau laki-laki tugasnya memasak, menjadi koki! Tapi, saat sedang Camping saja. Sesekali bolehlah ikut nimbrung di dapur. 😉

CAMPING DI TELAGA DRINGO

Kelebihan Camping bersama laki-laki. . . Hahaha

Nikmatnya perempuan saat Camping ya, gitu. Tidak perlu menyiapkan masakan. Cukup tidur manis di dalam tenda. Semisal ngga enak sama para lelaki yang sedang ngeracik bahan masakan, ya ikutlah bantu-bantu nyeduh kopi. 😛 Tapi, itu hanya terjadi jika Campingnya bersama anak yang hobi camping, pecinta alam, lelaki soleh yang pengertiannya masya allah.

Mereka sudah menyiapkan segala peralatan masak. Seandainya peralatan ternyata tidak lengkap, mereka bisa meminjam peralatan tetangga. Tapi, jarang banget, sih, meminjam. Mereka mending memaksimalkan barang bawaan.

Jika memang yang dibutuhkan ngga ada, ya bisa memanfaatkan barang lain. Talenan, misalnya. Barang ini jarang banget terlihat saat Camping. Padahal, dari rumah sudah membawa kobis dan cabai. Untuk menyiasatinya, mereka bisa memanfaatkan smartphone untuk talenan. Yaa…kan layarnya udah anti gores, gorilla glass berapa tuh! 😆

Nah, selain perasaan, laki-laki juga pandai banget memanfaatkan barang. Pemikiran laki-laki lebih simpel ketimbang perempuan. Ya…coba saja kalau itu smartphone milik si perempuan, akankah bisa rela berkorban? 😆

Jadi, laki-laki memang sudah dikodratkan untuk memasak, ya. *kemudian ditimpuk pembaca laki-laki* Selain jarang banget bawa perasaan, mereka mampu memanfaatkan barang yang ada. Mungkin, termasuk mengirit bumbu-bumbu dapur kalik, ya. 😉

Berambang satu ons, bisa buat satu bulan. Kalau laki-laki kamu (baca: suami) bisa sampai irit bumbu dapur, itu pertanda ada jiwa koki kekinian pada suami kamu. :mrgreen:

16 thoughts on “Memasak itu Tugas Laki-Laki

  1. yampunn…talenannya smartphone ?
    etapi beneran lho mba idah, di bali kalo ada upacara keagamaan bapak2nya yg masak.sementara ibu2nya bikin janur n merangkai sesajen.

  2. waduuh mbakk, gak rela aku kalo suamiku masuk dapur, bisa jadi kerjaanku makin banyakk.. bikin mie instan aja yg diberesin jadi berlipat lipat hahahah

  3. Kontradiktif kalau di Indonesia, katanya dapur urusan perempuan, giliran chef & pakar kuliner laki2 semua. Kalau di negara barat udah nggak dipermasalahin.

  4. Eh iya, beberapa kali ketemu laki-laki yang jago masak.
    Makanannya enak-enak :3

    Oiya Mak, sekalian info, lagi ada #GiveAwayLebaran nih, ikut ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *