Perjalanan Traveling ke Karanganyar yang Tak Terlupakan

Perjalanan traveling lima tahun yang lalu, tepatnya bulan Maret, Tahun 2014, aku bersama Ari, Yuyun, Latif, punya rencana traveling ke Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan ini penuh semangat karena masih dalam masa-masa banyak nganggurnya ketimbang kerja. Tenaga pun rasanya full charger mulu, seakan tidak punya capek. Dengan berbagai pertimbangan, kami pun memilih sepeda motor sebagai alat transportasi menuju Karanganyar.

“Ehh…mau eksplorasi apa saja, nih, di Karanganyar? Jangan bilang cuma ngemper dowang di sana”. Tanya Latif sebelum menyusun itinerary.

“Ada Candi yang uniiiiik banget, ada banyak air terjun dengan debit yang tinggi, ada kebun teh yang luas banget, dan tentunya ada banyak pilihan Villa di sekitar Tawangmangu untuk istirahat kita. Di Traveloka mah banyak pilihan Villa”.

Jawabanku cukup simpel, tidak menggambarkan detail uniknya candi seperti apa, air terjun yang mau dikunjungi ada berapa, bahkan aku belum memilih penginapan yang nantinya bakal digunakan untuk tempat istirahat kami, namun mereka nampak semangat saat aku menyebut Karanganyar sebagai tujuan traveling berikutnya setelah bulan lalu kami eksplorasi Kebumen.

“Eh, sebelum ke Karanganyar, bolehlah kulineran dulu di Solo. Kangen Serabi Solo, Selat Solo juga”. 

Di atas selembar kertas, satu per satu rencana perjalanan mulai tersusun. Aku tidak menambah destinasi karena seluruh tujuan wisata yang aku pingin sudah masuk dalam daftar kunjungan, yaitu Candi Cetho, Candi Sukuh, Agrowisata Sondokoro, dan Air Terjun Tawangmangu. Destinasi wisata lain seperti Air terjun Jumog, Kebun Teh Kemuning, masuk dalam daftar destinasi tambahan.

CANDI KARANGANYAR

Ada enam tempat wisata yang sudah masuk dalam rencana, belum termasuk kulinernya. Kami mengagendakan sehari paling tidak dapat 4 obyek wisata mengingat jarak antar obyek wisata tidak berdekatan. Memaksimalkan hari Minggu untuk eksplorasi, menuntaskan rasa penasaran dengan wisata yang telah kami buat list. Atas rencana tersebut, kami berangkat dari Banjarnegara pada hari Sabtu, kira-kira jam 14.00 WIB karena Ari dan Latif saat itu kerja setengah hari. Kemudian, kami Minggu malam kembali pulang ke Banjarnegara.

Perjalanan sore lebih asyik dan ngga kena macet. Nanti kita lewat Salatiga saja supaya lebih cepat. ” Aku dan Yuyun mengangguk saja ketika Ari mulai merencanakan perjalanan karena dia mungkin lebih paham jalan menuju Solo. Dengan segala pengalaman tentang petunjuk jalan maupun arah, kami pun mempercayakan perjalanan ini kepada Ari. Sebenarnya pingin, tuh, tiba-tiba sampai Karanganyar tanpa menempuh perjalanan yang katanya sampai 6 jam dari Banjarnegara. 😆

Menegangkan, kira-kira pukul 18.00 WIB, kami baru sampai Salatiga dan itu lewat hutan-hutan. Jalan yang kami lewati memang sudah beraspal, namun kanan kiri kami adalah kebun. Aku meyakini kalau kami salah memilih jalan. Aku kira kami bakal lewat kota, tidak melewati jalan tikus. Ari yang katanya paham jalan pun tiba-tiba minta maaf kalau lupa arah menuju Karanganyar. Ini lawak banget, tapi kenyataan. Ingin rasanya marah, tapi tidak kuasa dan juga tidak punya tenaga. Tegang, semua wajah tegang dan nampak capek. Sedihnya, ponsel kami saat itu tidak bersignal. Boro-boro muncul signal internet, ini signal provider saja tidak muncul barang satu strip! 😆 Perasaan takut sama sekali tidak ada, kami lebih merasa lemas, lunglai, dan konsentrasi turun. Aku sendiri pingin banget balik arah, terus pulang ke Banjarnegara. Hihihi Cemen banget, ya.

CANDI-CETO

Tidak ada satu orang pun yang bisa kami minta informasi karena betul-betul berada di tengah hutan dan minim cahaya. Tidak ada kendaraan satu pun yang lewat jalan ini. Papan petunjuk pun tidak kami temui, entah tidak terlihat karena sudah gelap, atau memang tidak tersedia di sepanjang jalan tersebut. Ini fix salah arah! 🙁 Ketimbang berdiri terus di tengah hutan, kami memilih untuk kembali menyusuri jalan tanpa belok alias memilih jalan lurus. Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan, akhirnya ada titik terang. Mulai terlihat lampu di kanan-kiri jalan,  cahaya lampu itu menjadikan hati ini lebih tenang meski setelahnya turun hujan dan sangat lebat.

Terus berjalan, kami pun menepi karena melihat seorang laki-laki yang sedang mengenakan jas hujan. Ini bakal ada titik terang lagi, pikirku malam itu.

“Pak, ini Karanganyar masih jauh, ya? Kami mau ke Candi Cetho”. Tanyaku to the point banget karena hujan makin tak kenal kompromi, takut Bapaknya juga buru-buru.

“Masih, Mbak. Masih satu jam lagi”. Jawabnya cepat.

What?? Masih satu jam lagi. Meski hujan semakin lebat, kami tidak peduli terus menerjang hujan karena kami ingin cepat sampai Karanganyar lanjut mencari penginapan di sana, dan makan! Ya, sesungguhnya kami juga kelaparan, gaees! Tapi dengan kondisi hujan lebat seperti ini rasanya ngga memungkinkan buat kami untuk singgah di rumah makan. Badan rasanya sudah pegal-pegal, leseh, capeknya udah kebangetan, pingin mandi, kemudian selonjoran.

“Stop…stop! Kita berhenti di SPBU ini, ya. Sudah terlalu malam dan hujan makin deras.” Aku meminta ke pada Ari untuk berhenti di SPBU barang sepuluh menit. Istirahat sebentar sambil menunggu hujan reda dan makan menyempatkan makan malam yang sangat tertunda. Tidak ada rumah makan dekat SPBU ini. Kami sudah tidak lagi berada di Kota. Beruntung malam itu ada satu angkringan yang masih buka, lokasinya 500 meter dari SPBU, kata seorang petugas SPBU. Akhirnya, Ari dan Latif mencari angkringan tersebut dan kembali ke depan Mushola SPBU dengan membawa dua bungkus nasi.

“Nasinya sudah habis. Kita makan bareng-bareng saja ini, ya.” Ari membagikan satu bungkus nasi khas angkringan atau yang biasa disebut nasi kucing. Aku dan Yuyun merasa lebih tenang karena akhirnya bisa makan. Nasi kucing yang kami makan ini porsinya tidak pada umumnya, lebih banyak dan tambahan sayurnya juga lebih banyak. Lebih mirip nasi rames malah, tapi ini dijualnya kan di angkriangan, ya. Hahaha.

Karena hujan tak kunjung reda, perut sudah kenyang, dan perjalanan menuju daerah Candi Cetho masih membutuhkan waktu 45 menit lagi, akhirnya kami selonjoran di Mushola SPBU atas izin para operator SPBU. Tangan megang handphone, mata pingin merem, tapi hati tidak tenang karena selonjoran di tempat umum, malam-malam pula.

“Mbak-mbak, bangun. Sudah subuh.” Yuyun membangunkanku dan ternyata kami semua bisa tidur lelap di emperan Mushola. 😆 Alhamdulillaah, ya. Masih mendengar adzan subuh, bisa istirahat bentar, dan yang paling penting yaitu semangat untuk eksplorasi Karanganyar masih terjaga. 😉

Perjalanan traveling lima tahun yang lalu, tapi masih lekat dalam ingatan karena menjadi salah satu catatan perjalanan banyak perjuangannya. Ternyata bukan hanya cinta yang butuh perjuangan, ya. 😆

5 thoughts on “Perjalanan Traveling ke Karanganyar yang Tak Terlupakan

  1. Pengalamannya itu memang luar biasa meskipun sudah lama berlalu hehehe. Makan nasi kucing bareng-bareng, tidur di emper mushola … kapan lagi bisa melakukannya?

  2. wah suasana nya masih alami ya kak, dan banyak juga pengunjung nya yang pada datang wisata kesana, jadi pengen juga nih main ke karanganyar 🙂

Leave a Reply to tatakata Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *