WISATA GUA DI INDONESIA

Kisah di Balik Panjat Rumah Pohon

Bukan seperti panjat pinang dengan ketinghian yang bikin merinding. Bukan pula rumah seperti pada umumnya; berdinding, mempunyai atap, lengkap dengan segala perabotannya. Tapi, cukup banyak orang yang ingin bersantai di rumah pohon untuk sekadar leyeh-leyeh, menikmati camilan, minuman, atau bahkan masak di atas awan. #eh

Awal masuk lokasi wisata Gua Lawa, aku ngga melihat ada Rumah Pohon yang bertengger di sebelah barat taman bermain. Baru tahu ada rumah pohon, saat kami jalan pulang. Jarum jam telah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Artinya, tiga jam lagi matahari perlahan mulai tenggelam. Tapi, suasana ramai di sekitar lokasi wisata masih tercipta.

Aku bersama dua perempuan geulis memutuskan untuk berhenti sejenak, beristirahat di area taman. Duduk lesehan tanpa alas suatu apa, kemudian membayangkan betapa sejuknya duduk santai di rumah pohon dengam ditemani rujak, mendoan, es cream, dan opak. Ayye banget!

Cukup lama aku bersama Tante, dan Mikha duduk di bawah rumah pohon. Kala itu, ngga ada obrolan yang bikin greget. Mungkin kami lelah usai susur Gua Lawa. :mrgreen: Andai ada penjual makanan ringan, pasti aku akan menghampirinya. Tapi sayang banget, di Gua Lawa tidak banyak orang berjualan camilan. Camilan yang kriuk gitu, lho. Bukan siomay, atau bakso. 😛

Ketimbang nganggur banget, aku mengeluarkan tumbler warna pink yang kubawa dari rumah. Aku teguk pelan air yang ada dalam tumbler sampai habis, tanpa membagikan ke siapapun. 😆 Bukan karena apa, tapi mereka sudah membeli air mineral di pintu keluar Gua Kereta.

“Tante, mereka nampak bahagia, ya. Betah banget mainan sama isteri dan anak di rumah pohon. Jangan-jangan, mereka akan berlama-lama di sana. Kapan giliran kita naik?” Melihat ada keluarga yang bahagia, tapi ada sedikit perasaan cemas. 😆 Takut ngga kebagian kebahagiaan! 😛

“Pak, ayo kita pulang. Sebentar lagi anak-anak berangkat ngaji.” Aaah…perempuan yang pengertian. Tahu saja kalau sedari tadi ada yang menantimu turun dari rumah pohon. Hahaha

RUMAH POHON

Ngerujak tambah nikmat!

“Tariiik, Beib! Kita naik secara bergantian, ya!” Pintaku kepada dua perempuan feminin, yang satu mengenakam gamis, satunya lagi mengenakan rok panjang. Aku meminta Mikha untuk naik tangga terlebih dahulu, tapi dia ngga mau. Sedari awal aku mengajak untuk naik rumah pohon dia memang no comment.

Begitu juga dengan Tante. Terlihat ngga berminat. Hahaha Ini bukan karena unsur paksaan, lho. Serius. Mikha tanpa komentar dan ngga mau naik terlebih dahulu, karena ternyata dia takut ketinggian. 😉 Spontan aku tertawa, dong. Sering jalan bareng, tapi baru tahu ada teman yang takut ketinggian.

Mikha ingin sekali sampai atas pohon. Niat untuk sampai pun sangat menggebu. Ketimbang aku dan Tante melihat orang yang pucet karena takut ketinggian, kita bekerjasama untuk memberi keyakinan kepada Mikha. 😆

Aku naik tangga pelan, dan tangan kanan meraih tangan Mikha. Sedangkan tugas Tante di bawah yaitu menjaga, mengawasi, memberi support. Hihihihi Ini bukan pemaksaan, hanya saja aku melihat Mikha punya keinginan besar untuk sampai Rumah Pohon. Tidak menutup kemungkinan, dia akan sampai alamat!

Teman-teman tahu apa yang terjadi? Mikha sukses menapaki anak tangga, tanpa alas kaki. Sukses pucet sampai atas, dan sukses lapar di atas pohon ingin segera turun, tapi aku dan Tante belum mau. Dia ngga berani mengengok kanan, kiri, dan belakang. Hanya menatap ke depan, melihat aku dan Tante menertawakan phobianya. 😀

Ada banyak hal yang bisa ditaklukkan jika ada niat, dan keinginan yang besar? Terpenting, singkirkan rasa ragu, lanjut menatap ke depan, atas, belakang, dan samping. Jangan lupa berdoa, ya. 😛

23 thoughts on “Kisah di Balik Panjat Rumah Pohon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *