CARA PEMBATALAN TIKET KERETA API

Singgah di Gedung Sate, Bandung!

Bus yang kami naiki mulai mengurangi kecepatan lajunya. Pelan-pelan aku membuka mata sebelum sampai di Terminal Cicaheum, Bandung. Aktivitas mengumpulkan tenaga pun aku lakukan supaya saat turun nanti tidak oleng.

“Jangan tidur lagi, kita sudah masuk terminal.” Teman perjalanan dari Banjarnegara-Bandung tiba-tiba membuka paksa kedua mataku. Dia nampak sedikit kesal karena sepanjang perjalan aku tidur pulas. Yaa…gimana lagi, berangkat dari Banjarnegara sudah petang, mainan handphone bingung mau chat sama siapa, orang yang biasa aku ajak ngobrol saja berada di sampingku ini. Lagi pula, aku kadang mual dan pusing kalau mainan handphone saat berkendara.

Tiba di terminal, ternyata waktu baru menunjukan pukul 04.00 WIB. Sambil menunggu adzan subuh, kami pun menuju mushola yang berada di kompleks terminal. Kami cukup lama duduk-duduk di depan Mushola, ngobrol-ngobrol yang agak penting, yaitu perihal destinasi wisata yang akan kami kunjungi nanti.

Betul, kami pergi ke Bandung tanpa rencana. Saking penatnya dengan rutinitas masing-masing, dari obrolan pagi yang awalnya hanya bercandaan, sore harinya langsung beli tiket Bus. Tanpa ribet packing dan mikirin uang saku, kami merasa asyik-asyik saja dengan traveling tanpa rencana ini.

“Kita keliling ke kawasan kota saja, yang dekat-dekat, gitu. Kalau memang mau nambah hari, esoknya baru bertualang ke wisata alam. Kawasan Bandung Barat, misalnya. Toh kita ke sini niatnya bersenang-senang, jangan capek-capek lah.”

Teman perjalananku kali ini memang cukup paham dengan Kota Kembang. Punya banyak saudara dan juga pernah menetap beberapa bulan di Bandung. Tapi bukan berarti kami memanfaatkan keadaan, dong. Apalagi masalah penginapan, banyak villa bandung di traveloka. Pokonya tidak ada alasan pingin irit meski uang saku minim. Hahaha.

Duuh…namanya sedang penat, bawaannya pingin ke tempat yang sunyi, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Aku ngeyel pingin lari ke hutan, dianya pingin santai-santai di sekitar Alun-alun dan Gedung Sate. Sungguh bertolak belakang. Karena tidak mau ribut dan ambil pusing, akhirnya dia mengikuti keinganku. Aku senang, aku bahagia, dan dia mencoba untuk ikut bergembira. Hahaha.

MUSEUM GEDUNG SATE

Setelah sekian lama, tentu dengan segala keinginanku ketika ke Bandung, kompleks perkotaan selalu aku skip. Ya, ketika ke Bandung, aku tidak punya minat untuk traveling di seputar kota, bahkan untuk sekadar singgah. Dan sekarang, aku lagi pingin ke Bandung dan singgah ke beberapa tempat yang ada di seputar kota salah satunya yaitu Gedung Sate.

Kenapa pingin ke Gedung Sate?

Alasan paling kuat untuk sekarang ini yaitu karena melihat daftar 10 Top Destinasi Wisata Bandung dan Gedung Sate masuk di dalamnya. Korban iklan banget, nih. Hahaha. Eh bukan korban iklan, melainkan pingin nostalgia. Beberapa kali lewat depan Gedung ini, tapi tidak pernah mau diajak masuk. Padahal meskipun Gedung Sate masih dipakai secara aktif untuk kegiatan pemerintahan Provinsi Jawa Barat, sekarang dapat dinikmati sebagai kawasan wisata.

Dan aku baru tahu, meski Kemenpar sudah memasukan Gedung Sate ke dalam daftar rekomendasi kunjungan wisata, untuk masuk ke gedung ini harus dengan izin. Tapi aku maklum, sih, karena gedung ini aktif digunakan sebagai gedung perkantoran, pasti pemerintah kota setempat ingin tetap menjaga keamanan khususnya dokumen-dokumen yang ada di dalamnya.

Lalu, wisatawan dapat menikmati apa saja ketika berkunjung ke Gedung Sate?

Pertama, berfoto di depan atau sekitaran Gedung Sate, sebuah gedung berarsitektur Hindia Belanda. Katanya, spot foto yang paling digemari wisatawan ini ada pada bagian depan gedung.

Kedua, ada sebuah prasasti di depan Gedung Sate. Membaca di wikipedia, di bawah prasasti tersebut pernah terkubur tujuh jenazah pemuda pejuang kemerdekaan yang gugur saat mempertahankan gedung tersebut dari serangan penjajah. Wisatawan dapat melihat prasasti tersebut.

GEDUNG SATE

Ketiga, mengunjungi museum Gedung Sate. Museum ini terletak di bagian belakang Gedung sebelah kanan. Museum yangi memiliki luas sekitar 500 meter persegi menampilkan sejarah kota bandung dan kebudayaan Jawa Barat. Informasi sejarah tentang Gedung Sate pun bisa dibaca-baca di sini. Untuk informasi lebih lanjut baik tentang HTM maupun jam kunjungan, kamu dapat membuka website resmi museum ini di www.museumgegungsate.org.

Keempat, mengunjungi teras atap. Usai melihat koleksi di Museum Gedung Sate, wisatawan dapat meneruskan kunjungannya ke bagian teras atap. Bagian ini merupakan bagian paling tinggi dari Gedung Hindia Belanda. Menariknya, di sini wisatawan dapat menikmati pemandangan lapangan Gasibu dan juga Tangkuban Perahu.

Kelima, berolahraga atau sekadar main di Gasibu. Sebuah lapangan yang dapat digunakan untuk jogging ini letaknya di luar Gedung Sate, tepatnya di seberang gedung. Lapangan ini selalu ramai dan selalu ada aktivitas di sini.

Sekali lagi, untuk dapat masuk Gedung Sate, kamu harus minta izin kepada pemerintah kota setempat atau menghubungi pengelola gedung di nomor (022)4267753. Gedung Sate buka dari Senin-Jum’at pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.

GEDUNG SATE 2

Jika diberi kesempatan untuk kembali mengunjungi Bandung, aku akan menyempatkan untuk singgah di Gedung Sate. Tentunya ke Bandung bukan dengan teman perjalanan lagi, dong. Mau ajak Kecemut saja yang sekarang udah mulai sering ngajak main.

NOTES: Seluruh foto diambil di website Museum Gedung Sate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *