OBJEK WISATA DI GOMBONG

Susur Waduk Sempor Hingga Kedungringin

Bulan ke dua tahun ini adalah kali pertama aku masuk kawasan Waduk Sempor yang berlokasi di Gombong, Kabupaten Kebumen. Seringnya, aku hanya melewati jalan utama kawasan Waduk, kemudian duduk di tepian untuk menikmati mendoan yang lebarnya sejidatku. ๐Ÿ˜†

Dari kawasan jogging area yang berada disebelah utara waduk sempor, aku bersama Lulu dan Ambar meneruskan perjalanan lewat monumen Waduk Sempor menuju deretan perahu yang berada di pojok selatan waduk. Berhenti tepat di depan pangkalan ojek.

“Mau keliling waduk, Mbak? Duduk dahulu, ya. Rendi sedang ganti baju.” Seorang Bapak yang mengaku ketua di pangkalan ojek tersebut dengan ramahnya menawarkan jasa perahu yang berderet rapih. Tapi, kenapa harus menunggu Rendi, ya? Siapa dia?

Sebelum “terjun” ke waduk, aku teringat sebuah pesan dari Mama yang dikirim melalui pesan singkat. Ceritanya tuh, beliau was was saat tahu aku sedang berada di kawasan Waduk Sempor. Satu hal yang membuatnya cemas yaitu tentang jebolnya pengendali sedimen Kedungringin pada tahun 2014. Belum lama, kan? Oleh karenanya, Mama terlihat cemas banget. Parno banget. ๐Ÿ˜†

2 PERAHU WADUK SEMPOR

Bendung pengendali sedimen yang dibangun pada tahun 2008 jebol akibat beberapa faktor di antaranya beban sedimentasi mencapai kisaran 200.000 meter kubik, dan berkurangnya daerah resapan. Ngga kebayang pas jebol seperti apa. Sedangkan pengairan untuk pertanian dibutuhkan tiap harinya. Tak hanya itu, Waduk ini juga dimanfaatkan sebagai Pembangkot Listrik Tenaga Air (PLTA), serta pengairan untuk perikanan.

Beruntung, pemerintah daerah dan juga provinsi segera menindaklanjuti permasalahan yang terjadi saat itu. Tak menunggu lama, bendung Kedungringin pun kembali dibangun.

“Asyiiiik…ada penumpang. Aku ambil bensin dahulu ya, Mbak.” Anak kecil yang mengenakan kaos oblong dengan celana merah khas anak Sekolah Dasar (SD) begitu percaya diri kalau kami akan menyewa perahu miliknya. Emmm…bukan miliknya, sih. Seluruh perahu yang ada di Waduk adalah milik warga. Tapi, dia punya akses untuk mengendalikannya. Dia, anak SD yang cukup berani adalah Rendi.

WISATA WADUK SEMPOR GOMBONG KEBUMEN

Aku mengatakan cukup berani tentu saja ada alasannya. Dia, anak SD kelas lima, sebagai pemimpin perjalanan susur Waduk Sempor hingga Kedungringin tanpa pendamping. Ia bertanggungjawab penuh atas tiga nyawa perempuan seksi.

Rendi berani. Berani, tapi agak parah PEDEnya. Ya…saat itu kami mang berniat untuk susur Waduk Sempor. Tapi yang namanya menyewa peralatan harus bayar, kan? Uniknya, kami belum ada akad sewa, namun saat Rendi kembali, ia sudah membawa dua liter bensin. ๐Ÿ˜† *Ngga tega gue ngelihatnya*

Kami sudah tahu, sih, harus bayar berapa untuk sewa perahu beserta pemandunya. Ssst…dapat bocoran dari Pak Kantur (ketua ojek). Tarif untuk keliling Waduk Sempor sampai batas tengah waduk yaitu Rp 50.000 untuk perahu motor dengan ukuran kecil seperti di atas. Sedangkan untuk terus susur sampai Kedungringin, penumpang akan dikenakan tarif tambahan senilai Rp 20.000 pe perahu.

3 WISATA WADUK SEMPOR

Dengan pertimbangan hari yang sudah sore, kami memutuskan untuk keliling waduk sampai batas tengah dengan waktu tempuh kurang lebih dua puluh menit. Kepada Rendi, kami minta untuk jalan santai. Sembari melihat ikan-ikan yang mengiringi perjalanan kami. Begitupun dengan kejutan dari para Monkey yang muncul satu per satu di pinggiran hutan. Berkejar-kejaran, mainan di pohon pinus.

Kami agak menepi ke hutan untuk melihat si Monkey lebih dekat. Saat aku berdiri, melihat hutan yang masih “perjaka”, rasanya ingin camping di sana. Tapi, ngga tahu berani atau tidak karena banyak monyet liar. ๐Ÿ˜€

Sampai di sini kami mulai mempermainkan Rendi.ย Ternyata belumย cukup puas dan merasa penasaran dengan Kedungringin, kami pun niat banget menambah lagi perjalanan sampai Kedungringin. Melihat dari dekat bendung Kedungringin yang tahun lalu baru jebol, sekaligus menikmati hijaunya hutan, air, dan sejuknya alam di tengah Kota Kebumen yang lebih terkenal dengan wisata pantai selatan.

WADUK GOMBONG

Ternyata sampai Kedungringin tak kalah menarik dari batas tengah tadi. Kita bisa melihat aktivitas warga yang sedang memancing dari atas perahu mereka. Berpapasan dengan mereka yang pulang dengan wajah bahagia. Banyak ikan yang di dapat, karena peralatan memancingnya sangat lengkap. Tapi, sesampainya di Kedungringin, kami ngga berani berlama-lama. Rendi pun demikian.

“Sebentar saja di sini ya, Mbak. Takut Mbaknya pada berdiri, terus perahunya goyang.” ๐Ÿ˜† Ini bocah ada-ada saja. Sepanjang perjalanan, kami memang sering berdiri. Terlebih Ambar yang rajin banget action! ๐Ÿ˜›

Kurang lebih empat puluh menit kami susur Waduk Sempor sampai Kedungringin. Kami putar balik meninggalkan Waduk dengan ketinggian kurang lebih 30 meter di atas permukan air laut, bertepatan dengan para pemancing di tepi waduk juga akan pulang.

WADUK KEDUNG RINGIN

Tak sedikit dari mereka yang melambaikan tangan ke kami. Dengan berat hati, Rendi menyampaikan maksud mereka kepada kami. Arti lambaian tangan bukan karena mereka dadah-dadah kepada artes, melainkan mereka ingin naik perahu yang sudah kami sewa. Bahasa gawlnya, sih, nebeng. Hahaha

1 WADUK SEMPOR GOMBONG

Tiga perempuan yang mempunyai hati selembut, setegar Frozen ngga mungkin tingkat kepeduliaanya minim. Kami pun mengizinkan Rendi untuk menjemput mereka. Ketimbang Rendi bolak-balik nantinya.

“Rendi, makasih sudah ditemani susur Waduk Sempor, ya. Semoga tahun ini kamu bisa naik kelas dan mendapat nilai bagus.” ๐Ÿ˜‰

12 thoughts on “Susur Waduk Sempor Hingga Kedungringin

  1. bagus dan bersih ya mbakk.. di lamongan ada namnya waduk gondang tapi lebih terkenal sebagai tempat pacaran (mesum) masal :(((

  2. Coba Rendi agak gedean dikit, pastilah ketiga perempuan kece itu bakal semakim betah berlama-lama menyusuri waduk sempor, bahkan sampai gempor, haha.. ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *