DIENG-CULTURE-FESTIVAL-2018

Unforgettable Moments at Dieng Culture Festival 2018

Dieng Culture Festival (DCF) tahun 2018 sudah sampai pada edisi ke 9. Event yang berlangsung selama 3 hari 2 malam dari tanggal 3-5 Agustus 2018, berpusat di Lapangan Dieng Pandawa, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Meski berlokasi di kabupaten sendiri, namun aku baru bisa datang di event yang sudah masuk dalam Calender of Event Kemenpar RI ini. Hebat, bukan? 😆

Dieng Culture Festival (DCF) 2018 diselenggarakan untuk meruat anak-anak Dieng yang berambut gembal. Anak-anak ini di percaya sebagai titisan Eyang Kolodete, pembuka daerah Dieng. Tahun ini, DCF mengusung tema “The Beauty of Cultre”. Berbeda dengan tahun sebelumnya, selain ruwat rambut gembel, ada banyak acara menarik lainnya seperti Aksi Dieng bersih, Festival Tumpeng, Festival Domba Batur, Festival Caping, sampai dengan gelaran produk UMKM dan Dewa Wisata se Kabupaten Banjarnegara.

Sebagai warga lokal yang baik, aku lebih memilih untuk memberikan kesempatan kepada para wisatawan dari luar daerah untuk menikmati event yang digelar satu tahun sekali. Secara tiket DCF kan terbatas, tuh, ya. Kasihan buat wistawan yang sudah pada nabung buat nonton DCF, tapi selalu kehabisan tiket. Aah…sok bijak banget, padahal memang baru tergerak untuk menembus DCF. 😀 Ya, tahun lalu, atau bahkan di tahun-tahun sebelumnya, aku belum tertarik menghadiri DCF. Bukan, bukan karena tidak cinta apalagi tidak sayang dengan event di ranah sendiri, ini cuma tentang jodoh saja, kok. 😉

Kenapa aku sebut jodoh? Pertama tentu tentang izin dari keluarga. Alhamdulillaah mereka support penuh. Kedua, tentang teman seperjalanan yang begitu antusias datang ke DCF sembari membuat konten. Ini membuatku semangat buat ikut nonton, dong. Ketiga, sudah punya “password” lengkap untuk nonton gelaran DCF tanpa ribet. Bahagia banget ketika semua saling mendukung, sudah seperti jalan menuju pelaminan, lancar dan penuh kebahagiaan. 😉

Karena ini pertama kalinya aku nonton event DCF, ada banyak pengalaman baru yang aku dapat. Banyak moment yang sampai sekarang masih terngiang dan sepertinya akan terus dikenang, kayak kebaikan-kebaikan barisan para mantan. Ah…mantul Pak Eko! 😆

Bentar, aku mau berbagi unforgettable moments at Dieng Culture Festival 2018 yang ternyata ada 11 moments. Hahaha. Sebagai pengingat, catatan, sekaligus curhatan, keep reading without njengking, ya. 😛

😛 Mengikuti Rangkaian Acara DCF Tanpa Ribet! 😛

Dieng Culture Festival 2018 (12)

Bersantai di Kompleks Dharmasala…

Berkah dalam berkomunitas kerap aku dapat. Berkenalan dengan orang-orang baru, makin banyak teman, dan mendapat kejutan-kejutan yang tak terduga dari berkomunitas. Salah satu kejutan yang aku dapat yaitu mengikuti rangkaian acara DCF tanpa ribet.

Dua minggu sebelum event DCF digelar, ada beberapa teman yang menawarkan free akses masuk DCF. Ini wajah-wajah free banget, ya. Hahaha. Biarlah yang penting aku tidak meminta. Dengan bahagia, aku menyampaikan kabar baik ini kepada teman-teman di grup kesayangan yang hobi membuat konten pariwisata Banjarnegara. Siapa lagi kalau bukan grup GenMile Banjarnegara. 😉

Alhamdulillaah…di grup tersebut ada dua teman yang tertarik ikut nonton DCF, yaitu Ella dan Rois. Teman-teman lain ada yang tidak merespon, ada juga yang mau datang namun tidak bersama kami. Yasudah…akhirnya kami bertiga sepakat nonton DCF bareng-bareng, bahagia bareng, dan susah bareng. Ya, jalan menuju dieng tidak lurus-lurus saja, Gaees. Enak saja menuju bahagia tanpa perjuangan. 😛 Dengan kekuatan password yang telah kami terima, kami pun bisa dengan tenang ke sana ke mari mengikuti rangkaian kegiatan DCF.

😆 Nyaris Bobok di Lapangan Whitlam! 😆

Seminggu sebelum mendarat di Dieng, aku sempat berkabar dengan Mas Irham, pentolan Desa Wisata Karangtengah, Dieng Kulon. Kami janjian bertemu di Lapangan Whitlam yang saat itu ada gelaran produk UMKM dan Desa Wisata se Kabupaten Banjarnegara. Puji syukur sesampainya di sana, Mas Irham tidak dapat dihubungi. Aku sampai mendatangi stand desa wista miliknya, namun beliau sedang tidak di tempat. Ini beneran ujian. Hahaha.

Karena sampai kompleks Whitlam sudah malam, kira-kira jam 19.00 WIB, kami memilih untuk mencari makan terlebih dahulu. Ini sebenarnya sedikit trik, sih. Tiap kali ada kendala apapun di tempat wisata, aku lebih nyaman duduk dan mencari informasi lewat para pelapak yang berjualan di sekitar tempat wisata. Dan yey, jodoh datang melalui mie kuah dan segelas teh hangat! 😆

Ya, Ibu Minceu, pedagang makanan di dekat pintu masuk Whitlam, ternyata punya homestay yang saat itu posisinya masih menggantung. Wisatawan yang telah memesan homestay belum memberi kepastian kapan datang. Akhirnya, kami pun mengambil homestay tersebut dengan harga standard (Rp 200.000 per malam), namun fasilitas cukup. FYI, penginapan di Dieng saat event DCF selalu penuh. Jika ada niat menginap, ada baiknya memesan homestay tidak mendadak, sebulan sebelum event, misalnya.

😛 Suhu 3 derajat Saat Jazz di Atas Awan Bikin Mengkeret! 😛

senandung di atas awan

Tiga derajat bikin pingin pulang…

Gila…gila…gilaaaa! Badan setebal ini ternyata tidak mampu menetralisir dinginnya Dieng malam itu. Gelajar Jazz Atas Awan di panggung spektakuler DCF penuh dengan lautan manusia (ini mulai lebay). Namun, mereka tidak mampu menghangatkan! Makin malam, justeru semakin beku. Makin malam, makin pingin ngusel ketek si kecil sambil dipeluk suami.

Sebenarnya ada bara api yang disediakan oleh panitia, di sela-sela penonton, gitu. Namun belum juga bisa menghangatkan karena 3 derajatnya itu kebangetan! Aku yang biasanya bisa tahan dingin, ini mulai melemah. Beberapa kali pingin minta tolong ke suami untuk jemput, dan esoknya balik dieng lagi. Tapi kok rasanya tidak manusiawi banget, ya. Hahaha.

Jazz Atas Awan yang aku kira bakal ngeJazz berasama, ternyata tidak seindah yang aku bayangkan. Aku baru bisa menikmati yang beneran Jazz, tuh, saat si Gerhana tampil. Suaranya lembut, manja, dan jazz banget. Band lain yang tampil malam itu, entah lah. Tahun lalu pun sepertinya tidak begitu ngeJazz, ada Anji Drive kalau tidak salah. Kan jazznya tidak kental kentul, ya. Semoga tahun depan bisa beneran ngeJazz, deh. Mau band lokal atau artis ibu kota, yang jelas bisa sesuai teman, Jazz Atas Awan. 😉

😀 Tengah Malam Ndungsak-ndungsak di Pematang Sawah! 😀

Dieng Culture Festival 2018 (5)

Heboh lihat es di dedaunan…

Dieng Culture Festival (DCF) merupakan event skala nasional, bahkan internasional. Ada banyak wisatawan dari luar daerah, provinsi, negara, yang datang ke event ini. Tapi sayang banget, sayang seribu dua ribu tiga ribu sayang. Jazz Atas Awan selesai di atas jam 00.00 WIB. Meski hari berikutnya ada event yang tak kalah asyiknya, namun wisatawan memilih untuk menghabiskan acara.

Malam hari, dini hari, jalan pulang tidak dari acara Jazz Atas Awan tidak sama dengan jalan masuk yang mana melewati gerbang menuju kompleks Candi Arjuna. Setelah dikonfirmasi, ternyata gerbang tersebut telah ditutup sejak sore hari, entah tepatnya jam berapa, aku lupaaaaaaaaaa! Warga lokal macam aku, ndungsak-ndungsak alias jalan di atas semak-semak ladang, sih, tidak masalah meski dalam hati sedikit menyangkan. Tapi untuk para wisatawan, aku merasa kasihan. Apalagi bagi mereka yang tinggal di tengah kota dan jarang ke ladang. Mungkin bukan eksplorasi yang didapat, kaki sedikit lecet saja bisa jadi masalah. Hahaha.

Buat evaluasi saja untuk tahun depan, diberi petunjuk jalan supaya lebih aman dan wisatawan nyaman. Pembawa acara bisa memberi himbauan atau pengumuman terkait pemakaian ruas jalan karena saat wisatawan pulang tidak bisa menggunakan jalan yang sama. Pun dengan pihak keamanan, atau panitia yang di lapangan lebih siap lagi. Membawa senter atau alat penerang lain karena lewat semak-semak ini gelap, gaes. Seperti jodoh yang tertukar, menakutkan. 😆 Tapi ada hikmahnya, sih, ndungsak-ndungsak gini, jadi bisa melihat bekuan es di dedaunan. Hahaha.

😉 “Salju” di Dieng itu Tidak HOAX, Bung! 😉

Dieng Culture Festival 2018 (4)

Bukan motorku, tapi bahagia bisa lihat seperti ini….

Kamu pasti sudah tidak kaget lagi dengan salju di dieng, ya. Banyak media yang mengabarkan tentang ini. Sudah melihat dan membaca berkali-kali di media online tentang fenomena ini, tapi pas melihat bekuan es di atas sepeda motor, rasanya takjub. Apalagi saat kaus tangan aku lepas, dan aku menyapunya, rasa-rasanya tidak percaya jika di Dieng bisa ada “salju” seperti ini.

Masyarakat sekitar menyebutnya mbun upas atau embun upas. Embun ini antara berkah dan musibah. Berkah karena ternyata ada banyak wisatawan yang datang ke DCF hanya karena ingin menyaksikan langsung fenomena mbun upas. Menjadi musibah bagi warga setempat karena sayuran yang tumbuh di dataran tinggi dieng nyaris gagal panen karena hadirnya mbun upas. Layu, kering, kisyut, keriput, njiprut. 🙁

😉 Makan Enak di Pamit Ngopi Kompleks Soeharto Whitlam. 😉

Setelah beberapa kali menikmati mie, bakso, ayam goreng, yang kurang menggoyang lidah dan cukup bikin kenyang saja, akhirnya di hari kedua aku bisa menikmati masakan yang bikin kenyang dan cocok di lidah. Testimoni ini bukan hanya aku saja, lho. Ella yang pada dasarnya susah banget adaptasi dengan makanan, dia bisa menikmati masakan di sebuah warung yang dekat dengan pintu masuk Whitlam.

Meski tidak terdokumentasikan saking menikmatinya makan, aku merekomendasikan Pamit Ngopi sebagai rumah makan yang layak kamu coba ketika berwisata di Dieng, khususnya di kompleks Candi Arjuna. FYI, warung pamit ngopi yang kami coba yaitu yang lokasi di dekat gerbang Whitlam, ya. Bukan yang di tepi jalan raya karena ada dua warung pamit ngopi. 😉

😀 Joget bareng Letto, Bahagianyaaaaaaaaa! 😀

Jazz Atas Awan Letto

Kocak juga orangnya si Noe…

Kita semua tahu kalau jenis musik yang dipersembahkan Letto Band adalah Pop & Rock. Penggemar Letto yang datang di acara Senandung Negeri di Atas Awan pasti tidak ada yang menyesal. Penampilan Letto saat sukses bikin pengunjung bahagia. Entah bahagia bisa mendengar suaranya langsung, melihat parasnya langsung, atau bahagia karena bisa nostalgia karena lagu-lagu yang dibawakan, nostalgia atas lagu kenangan zaman semono. 😆

Selain suaranya yang bikin nyaman, aku bahagia melihat cara Mamas Noe, vocalis Letto, menyapa para penggemarnya. Dalam keadaan nafas ngos-ngosan, dia menyempatkan diri untuk mengajak fansnya untuk turut naik ke panggung dan bernyanyi bersama. Suasana malam itu makin pecah ketika Letto menyanyikan lagu berjudul Sandaran Hati dalam versi dangdut! Ulala…aku pun turut berdiri, dan joged-joged bareng. Serasa belum punya Kecemut. Hahaha.

😛 Pesta Lampion Tanpa Membeli Lampion! 😛

Berjalan dari gerbang masuk kompleks Candi Arjuna menuju venue pesta lampion, ada banyak penjual lampion. Ya, panitia tidak memasukan lampion ke dalam include tiket DCF.  Wisatawan diberi kebebasan untuk membeli kepada siapapun yang berjualan, setahuku. Satu lampion dijual dengan harga mulai dari Rp 8.000 per biji. Makin malam, harga lampion pun makin mahal, ada yang menjual dengan harga Rp 20.000 per biji. Buat kamu yang akan ke DCF tahun besok, mending belinya lebih awal saja, lebih hemat. Hahaha.

Hadir di acara Senandung Negeri Atas Awan di mana ada pesta lampion juga, aku bersama ella dan rois cukup tergesa-gesa. Ada ketakutan sudah masuk karena saking banyaknya wisatawan yang hadir malam itu. Ya, mungkin bisa dua kali lipat dari acara Jazz Atas Awan. Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali mau membeli lampion, namun tidak jadi. Pikirku, di sekitar lokasi pasti banyak yang jual. Eh…sesampainya gerbang masuk, ternyata tidak ada yang berjualan. Ingin rasanya balik lagi, tapi tidak sanggup karena jalanan mulai ramai.

“Duuh…gagal bikin konten pegang lampion, dong!” Batinku malam itu. Tapi takdir berkata lain. Jodoh kembali datang, bertemu dengan pasangan-pasangan baik, menawarkan untuk jepret foto, akhirnya aku bisa dapat konten pegang lampion. HAHAHAHA. Ini terniat banget modusnya, ya. Tapi asli, kasihan banget barisan para pasangan yang datang malam itu dan pada sungkan minta tolong untuk difoto. Jauh-jauh ke Dieng, lho. 😀

😆 Ada yang Tepar Saat Perjalanan dan Aku Biasa Bae. 😆

Dieng Culture Festival 2018 (9)

Udah ngga macet banget…

Ini konyol banget! Tidak ada rasa was-was, aku masih bisa unggah foto dan video ke story, padahal ada anak orang yang tepar di depanku. Hahaha. Ella, kasihan banget anak satu ini. Jonesnya keterlaluan. Bukan, bukan aku tidak peduli dengan keadaan dia, lho. Ya…gila saja membawa anak orang yang saat itu kondisinyam emang belum 100% sehat, sedang dalam masa penyembuhan, gitu. Kalau ada apa-apa, pastilah aku orang pertama yang dimintai keterangan. 😀

Aku tenang karena aku merasa dia bakal baik-baik saja, dia cuma butuh istirahat. Di sepanjang perjalanan pulang menuju homestay usai acara pesta lampion, dia sudah kelihatan lelah banget. Ya…meski sebelumnya baru jingkrak-jingkrak sama Letto. Mungkin karena melihat kemacetan yang luar biasa, dia ikut macet otaknya. Liat orang dan kendaaan berlalu lalang, BLUR bokeh. 😀 Akhirnya, aku memutuskan untuk memarikirkan sepeda motor di depan Museum Kailasa, melipir ke warung-warung yang ada di sekitarnya, dan minta tempat untuk istirahat si ella.

“Aku butuh berbaring, aku cuma butuh tidur sebentar”. Katanya, sambil nangis dan minta gendong. 😛

😉 Melihat Lebih Dekat Prosesi Ruwat Rambut Gembel. 😉

Dieng Culture Festival 2018 (8)

Lihat ginian saja sediih…

Berkat tongfang, aku bisa melihat dari dekat prosesi ruwat rambut gembel. Sekali lagi, berkat tongfang password yang telah kami simpan, akhirnya bisa melihat dedek-dedek yang siang itu diruwat. Kami duduk tepat di samping panggung acara. Aku merasa beruntung ketika melihat ke belakang, ternyata banyak banget orang yang menyaksikan prosesi ini. Banyak juga yang tidak bisa masuk ke lokasi ini karena terbatasnya tempat dan mungkin harus menjadi peserta DCF. Makanya, buat kamu yang berniat hadir di event DCF, mending beli tiket, ya. Supaya bebas berkelana.

Proses ruwat rambut gembel menjadi puncak acara DCF. Acara ini diawali dengan kirab, kemudian anak berambut gembel yang telah masuk daftar ruwat, diruwat satu per satu. Ruwatan ini begitu unik, tiap anak gembel yang hendak diruwat, mereka mengajukan permintaan apapun sesuai dengan keinginannya saat itu. Permintaan murni dari si anak gembel, tidak ada paksaan, atau rekayasa. Tahun ini, ada 12 anak gembel yang diruwat dan semuanya adalah perempuan. Aku melihat ada kesedihan di wajah orang tuanya saat melihat anaknya diruwat. Entah karena apa, yang jelas seperti kehilangan. Lain halnya dengan dedek-dedek yang diruwat, mereka justeru telihat bahagia. Wajah polosnya seakan berbicara bahwa, “aku bakal punya ini itu setelah nanti diruwat”. Sepertinya, sih. 😉

😛 Take Video Bapak Gubernur dan Bapak Kadisporapar Propinsi Jawa Tengah. 😛

Konten GenPI

Emm…agak sengak nih Bapaknya! Wkwkwk….

Ini di luar dugaan banget. Tidak ada niatan untuk mengambil video Pak Ganjar dan Pak Urip, tapi diberi jalan mulus untuk mendapatkan konten video ini. Jadi nih ya, Agustus lalu GenMile Banjarnegara sedang mengadakan open recruitment anggota baru. Karena ini berkaitan dengan promosi pariwisata Banjarnegara, menurutku tidak ada ruginya minta tolong ke beliau-beliau untuk membuat potongan video yang berisi ajakan untuk bergabung dengan GenMile Banjarnegara.

Tanpa pikir lama, usai acara ruwat rambut gembel, aku bersama Ella dan Gita menjadi pengikut mereka. Nguntit di belakangnya. Hahaha. Sepanjang perjalanan menuju Whitlam, aku dan Ella berusaha kontak Rois untuk pengambilan video karena dia paling jago. Tapi karena susah dihubungi, akhirnya aku memberanikan diri untuk take video. Meski hasil videonya biasa saja, tapi ada kepuasan tersendiri.

“Kamu pinginya apa?” Ucap Pak Ganjar. Belum sempat menjelaskan detail, baru bilang dari GenPI Banjarnegara, eh…Bapake wis mulai ngendikanan bae. 😆

Btw, ini kali pertama aku ke Dieng tanpa “sopir” alias mengendari sepeda motor sendiri. Ugh…dan ini juga menjadi bagian dari moment yang tak terlupakan. Malam-malam harus menembus kemacetan, perjalanan yang biasanya ditempuh cukup dengan 10 menit, malam itu nyaris 4 jam. Hampir subuh, dan masih di perjalanan menuju Desa Wisata Karangtengah, tempat menginap kami di hari kedua. Terima kasih Mas Irham. 😉

Tahun depan jangan lupa nonton DCF, ya! Sempatkan, meski sekali dalam hidup. Ada kearifan lokal, seni, dan budaya Indonesia di Dieng, yang wajib kamu tonton! 😉

27 thoughts on “Unforgettable Moments at Dieng Culture Festival 2018

  1. Demi apaaaa akyu ngilerrrrrr membaca pos ini. Tapi dinginnya itu 3 derajat! Maaaak, tidak bakal sanggup! Sudah diopname mungkin saya kalau nekat dengan dingin seperti itu hehehe (sampai bersalju!). Btw tentang anak-anak yang diruwat, semoga harapan yang mereka ucapkan terwujud.

  2. Tahun depan kesana lagi? Mau? Ati2 ndungsak2nya ya, aku aja hampir kepleset, untung ada mas2 di belakang yg nyalain senter.. Bahagia banget pas letto naik panggung, ajaib seketika bisa bikin lupa mantan. ???

  3. Mungkin aku sudah tefar mbk dengan kondisi suhu begitu, keren dirimu. Apalagi bisa ngikutin kegiatan dfc sampai puncaknya. Lihat upacara adat seperti itu, rasanya, bikin tambah bangga karena negeri ini juga kaya akan adat budaya. Matur tengkiu share ceritanya mbk

  4. Halo mbaa. Pengalaman yang sangat menyenangkan sekali , mba. Nggak kebayang berada dingin gitu hingga 3 derajat celsius ya mba. Tapi karena pengalaman seru ini jadinya ya tetap aja menyenangkan. Suatu saat aku berharap bisa ke Dieng dan mengikuti langsung acaranya

  5. ‘ngendikanan’ itu apa Mba? Hihi
    Ternyata mmg Dieng dingin banget ya palagi malam.
    Akhir taun kmrn keluarga besar pada ke sana semua abis ada nikahan sepupu suami di Semarang, lanjut trip ke beberapa tempat di Jawa gitu
    Tp suami ga bisa cuti hiks

  6. Idaaah 3 derajat kek masuk frezzer gak sih? jd ndak perlu ke negara bersalju buat pakaii coat yak. Wajib nih Dieng jadi salah satu destinasi buat liburan, tp jangam pas macet macetan lah, emoh, nanti gak bisa menikmati wisata lain di Dieng kalau macet

  7. Fenomena salju di dieng benar adanya tho mba sampai beku dan ada butiran es gitu yahh.. dieng katanya memang dingin, aku pernah ke daerah sebelum dieng (lupa namanya) dingin nya sampai berembun

  8. Aku mengenal Dieng pas baca-baca blognya para travel blogger, udah lama sih. Kece banget daerahnya. Trus pengen suatu saat bisa ke sana juga. Nih keknya DCF bisa menambah daya tarik pengunjung untuk mengenal lebih dekat Dieng ya, Mba 🙂

  9. Terakhir ke Dieng waktu masih kuliah di Jogja dulu..tapi dulu belum ada festival Jazz. Kalau dinginnya mah bbrrr, beruntung mbk bisa ngerasain salju di Dieng..

  10. festival ruwat gembel itu dimaksudkan untuk apa mbak? memang sudah ada ya bertahun tahun acara ruwat begitu? kok saya penasaran hihihi apalagi wajah ortunya sedih, kenapa ya mbak? kali mbaknya tau kenapa begitu?

  11. Wow ini ya cerita tentang Dieng biasanya baca di cerpen aja. Ada budaya beginian. Pasti seru ya ikut nonton kalau dekat Mbk. Itu Gubernur juga datang ya jadi seruuu… tapi kalau dingin 3 derajat uhuy nyerah deh….. brrrr…

  12. Demi apaaaa yaampun 3derajat dan embun es. Uwwww bikin pengen kesanaaaa hikss. Makasih ya mbaa postinganya sangat berrrrhasilll mengundang aku yg d ujung sumatera ini pengen kemana mana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *