Benteng Vredeburg Jogjakarta

Cerita Tentang Jogja: Si Tampan Di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta

:mrgreen:Β INI ADALAH POSTINGAN TERPANJANG DI DUNIA, HATI-HATI MEMBACANYA :mrgreen:

Si Tampan Di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Super wagu mbanget, setelah berkali-kali berkunjung ke Jogja, tetapi belum pernah singgah di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Terus, selama ini kalau ke Jogja singgahnya kemana? Jawabannya adalah ke Pantai. πŸ˜†

Malu pastinya, karena terlihat β€œtidak peduli” dengan tempat bersejarah ini. Selain itu, mengapa saya mengatakan wagu? Karena Museum Benteng Vredeburg terletak di depan Istana Negara yang berada di Yogyakarta, tepatnya di Jl. A.Yani No. 6 Yogyakarta. Dengan kata lain, museum ini teletak di tengah kota, tapi saya belum pernah menghampirinya. Waguuuu mbanget. . .

Pintu Masuk Benteng Vredeburg

Saat itu dengan sisa waktu yang lumayan sedikit, saya menyempatkan untuk masuk Museum Benteng Vredeburg bersama beberapa sahabat kampus dan Una. Museum ini buka setiap hari selasa-sabtu, dengan harga tiket masuk (HTM) Rp. 2.500,-. Kata salah satu sahabat saya, HTMnya ada kenaikan, karena dia dulu pas masuk Β HTMnya Rp. 500,-. Berarti ada kenaikan Rp. 2.000,-, kan? Mungkin dia masuk ke museum ini pas masih TK ya? πŸ˜†

Setelah mendapatkan tiket, kita bisa bebas jalan mengelilingi museum. Karena saya baru kali ini masuk museum ini, jadi sedikit bingung untuk masuk ruangan. Padahal sudah ada petunjuk arah lho, tetapi ya masih bingung. #dasarnya memang bingungan.

Diluar Ruangan Vredeburg

Dari pintu masuk, sahabat bisa melihat patung besar Jend. Sudirman dan Urip Sumohardjo. Tinggi patung hampir sama dengan tinggi badan saya, jika tidak percaya silakan diamati dan diukur. Museum ini tampak indah, bersih dan rumput hijaunya membuat segar penglihatan.

Di museum ini terdapat dua ruangan besar yang berisi diorama sejarah. Sebenarnya Ruang Diorama (RD) in bertingkat, terapi saya lupa ada berapa tingkatan, jadi saya menyebutnya ruang diorama kanan dan ruang diorama kiri saja ya. πŸ™‚ Ruang Diorama adalah ruang yang berisi gambaran atau miniatur dua dimensi yang bercerita mengenai peristiwa sejarah di Indonesia, kususnya peristiwa sejarah yang terjadi di Yogjakarta. Kami memulainya dari RD Kanan.

Diorama Budi Utomo dan Perempuan Indonesia

Diorama Budi Utomo dan Perempuan Indonesia

Saat itu di RD Kanan lumayan ramai. Ada beberapa pengunjung yang tampaknya sedang mencari suatu informasi dari sebuah diorama. Di RD Utama ini berisikan berbagai cerita tentang sejarah perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Mulai dari kongres Budi Utomo di Yogyakarta, Kongres Perempuan Indonesia dan masih banyak lagi gambaran peristiwa sejarah lainnya yang ada diruangΒ  ini. Menurut sahabat, bagaimana diorama di atas? Saya paling suka melihat diorama Kongres Perempuan Indonesia, karena tampak seperti nyata. Semua perempuan berkonde dan memakai rok jarit. Perempuanya cantik-cantik lho. πŸ˜†

Jendela Vredeburg

Ngintip dari luar

Pertama kali, berada di dalam RD hawane dingin, serem. Mungkin karena semua jendela tertutup dan tempatnya tampak keramat gitu. Suasananya pun mendukung kita untuk tetap waspada. Takut, kalau tiba-tiba dioramanya pada bergerak.

Replika Proklamasi

Replika Proklamasi

Setelah melihat diorama diruang utama, kami belok kanan untuk melihat ruang diorama selanjutnya. Nah, di ruang ini berisikan diorama-diorama tentang sejarah kemerdekaan Indonesia. Diantaranya; Replika upacara kemerdekaan RI yang menempel di dinding. Warnanya kuning keemasan. Ada patung Pak Soekarno yang sedang membaca teks proklamasi yang di dampingi oleh Pak Hatta. Tertulis juga di dinding teks proklamasi yang berwarna keemasan.

Diorama Tentara Terbunuh

Selain Teks proklamasi, ada juga diorama tentara. Penjelasan tentang diorama tersebut menerangkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Perjuangan tentara-tentara Indonesia saat perang.Β  Diorama tentara ini merupakan diorama favorit saya, tentara yang terbunuh itu terasa nyata. Terus, yang memakai seragam ABRI juga terlihat ganteng dan gagah. #lho, koq jadi diorama favorit semua ya. πŸ˜†

 Si Tampan Di Vredeburg

Di RD ini lah saya berjumpa dengan diorama si tampan. Bagaimana menurut sahabat, tampan, kan? Sebenarnya saat mau foto dengan si tampan, saya takut. Karena, dilihat dari jauh koq kayak mau nantang gelut gitu. Tapi, akhirnya saya memberanikan diri untuk berfoto bersamanya, sambil membersihkan hidungnya. Lihat dibelakang saya, ada alat pemadam kebakaran, kan? Hampir disetiap sudut saya melihat si merah. Tandanya pihak pengelola Museum ini benar-benar sangat memperhatikan keamanan untuk para pengunjung.

Diorama Tiga Vredeburg

Ruang Diorama kanan sudah selesai dinikmati. Sekarang langsung ke Ruang Diorama kiri. Di sini terdapat tulisan tingkatan Diorama Tiga. Saat saya minta difoto di Diorama tiga ini, sebenarnya Una tidak mau, karena dari tadi sudah saya paksa untuk mengambil beberapa foto. Tapi, saya tetap memaksa minta tolong dia untuk mengambil gambar. πŸ˜†

Β Gelas Antik

Melihat gambaran RD Kanan, tentunya RD kiri ini tidak berbeda jauh isinya dari RD sebelumnya. Ruang ini berisi tentang gambar-gambar pahlawan bangsa beserta keterangan dari masing-masing gambar. Selain gambar, di sini juga terdapat beberapa beberapa barang sejarah nan antik, seperti, Gelas, Kendi, Mesin Cetak Kedaulatan Rakyat dan masih banyak benda antik lainnya.

Mesin Cetak Kedaulatan Rakyat

Gambar di atas adalah gambar sebuah Mesin Cetak kuno. Mesin cetak ini merupakan salah satu barang perninggalan yang masih dirawat. Mesin ini sedikit berkarat, tetapi terlihat masih kokoh. Diketerangan tertulis, mesin cetak kuno ini berfungsi untuk mencetak surat kabar. Β Surat kabar yang dimaksud adalah surat kabar Kedaulatan Rakyat. Sebernarnya ada sejarahnya juga lho, sebelum menjadi Kedaulatan Rakyat, tapi saya tidak akan menulisnya, karena saya lupa banyak tulisan di sana.

 Ruang Multimedia

Setelah bermain mesin cetak, kami langsung ke ruang selanjutanya untuk melihat beberapa mainan berbasis multimedia. Ruang ini khusus untuk belajar sejarah berbasis multimedia. Untuk fasilitas multimedia berupa layar sentuh ini ada yang ditempel di dinding ada yang tidak.

Untuk layar sentuh yang berisi permainan tertempel di dinding. Saya dan Una mencoba untuk ikut memainkannya, tetapi kami gagal karena kami tidak paham cara mainnya. Gamenya sebenarnya tidak terlalu susah, kita diminta untuk mencocokkan atribut saja, sudah kami coba tapi atribut yang diminta tidak mau geser. Sepertinya Una paham, tapi pura-pura tidak paham gitu. #menyebalkan

Sedangkan layar sentuh yang berdiri, berisi tentang keberadaan kota Yogyakarta. Mulai dari sejarah, peta kota Yogyakarta, Oleh-Oleh Khas Jogja, tempat wisata, hotel, Rumah Makan, Tempat Nongkrong dan dan masih banyak inforamasi yang bisa didapat dari fasilitas multimedia tersebut.

Baju Benteng Vrederburg

Ini baju siapa?

Dengan waktu yang tidak banyak akhirnya bisa menamatkan jeng-jeng ke Meseum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Saya merasa senang dan puas berkunjung ke Museum ini. Oiya, ada bebapa keterangan atau informasi yang terletak di depan diorama kurang jelas. Mungkin karena sudah terlalu lama, jadi tulisannya sedikit buyar. #semoga hanya penglihatan saya saja.

Ah, tapi saya tetap merasa senang melihat diorama yang disajikan. Seluruh dioramanya benar-benar sangat menarik, pencahayaannya lembut dan pas dimata. Selain bisa menggambarkan peristiwa sejarah secara lebih detail, diorama juga mampu membuat pengunjung turut merasakan peristiwa sejarah tersebut. Seakan-akan kita flashback pada jaman sebelum dan sesudah kemerdekaan. Semoga dengan adanya wisata sejarah Museum Benteng Vredeburg, bisa menambah kecintaan kita pada negara dan bangsa, serta membangkitkan rasa nasionalisme dalam diri. Berwisata sekaligus belajar mengenang sejarah di Museum Benteng Vredeburg tidaklah merugi, terlebih jika sahabat bisa bertemu dengan si tampan. 😳 Terima Kasih Una, sudah mau membantu jeprat-jepret. 😳

Apakah sahabat pernah berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta? Diorama yang mana yang paling sahabat suka? :mrgreen:

bigbanner-giveaway_ctj

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Cerita tentang Jogja

60 thoughts on “Cerita Tentang Jogja: Si Tampan Di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta

  1. ciyee ikutan mbak una neh jalan2 ke tempat bersejarahnya, aku lho belum pernah kesitu, kalau pas ke jogja lagi aku mau yoo mbak ke situ πŸ˜€

  2. waaahh kontes baru lagi inih…
    baru aja ikutan yang kemareen
    Idaaah..ko ga ngajak2 ke situh πŸ˜›

    selalu ngakak liat poto Una kalo di buremin..
    Woow ada jendelaa..mau juga di poto di sanah πŸ˜€

    • Ini sudah lama, tapi baru sempat nulis, Teh. πŸ˜€
      Besok2 kalau ke jogja call Una aja, dia siap jadi pemandu. wkwkwkwk

      Kalau gak diblur, namanya bukan UNA DORA. πŸ˜€

      • Kalau ke jogja lagi, pada jalan2 deh.
        Dipuas2in, Teh. πŸ˜€

        Iya, panjang niaaaaan. Sampai gak tidur 7 hari 8 malam. . πŸ˜†

  3. wah, saya belum pernah berkunjung ke museum ini…. dicatat dulu ah, ntar kalo ke Yogya lagi, akan berkunjung kesana. Kereeen!
    Makasih ya Idah cantik! Sukses ngontesnya yaaa… πŸ™‚

  4. Aku blom pernah ke Yogya..huhu… Tapi sudah kubulatkan dalam hatiku yang paling dalam, aku akan kesana suatu hari nanti, Insya Allah πŸ™‚

  5. wew, dua gelas kopi belom kelar juga baca neh post, terang aja bacanya sambil nahan ngantuk, hehehehe … πŸ˜›

    itu idungnya kenapa jeng, kok di bersihin pake korek korek segala jeh … ???

  6. Ga baca sampe kelar, udah ga nahan pengen maen ke sana, hahaha… Kemaren kenapa cuma lewat depannya aja ya πŸ™

    Salam kenal mbak, postingnya lengkap banget. πŸ™‚

    • Hohooh. .
      Tapi saya sudah memberikan peringatan lho, Pak. πŸ™‚
      Wagu itu pa ya?
      Emmmm. . .
      Apa ya? πŸ˜†

  7. Puyeng mbak bacanya, wkwkwk .
    Tapi tetep aja ya mbak banyak narsisnya , ?????????? .

    Btw, saya belum pernah ke jogja :/

  8. Sejak pertama kali komentar di sini, ada yang menggelitik saya di kolom komentar ini. Gambar smiley pada mepet di kiri semuanya. Sedikit mengurangi nilai komentar menurut saya.

    Mungkin tidak penting juga sih, tapi kalau mau membuatnya jadi bisa dimana – mana (tengah atau kanan) seperti dalam artikel caranya mudah mbak.

    1. Masuk edit tema, sunting style.css, dan temukan script berikut pada baris ke 81:

    .post-block img {
    border: 1px solid #E5E5E5;
    float: left;
    margin-right: 10px;
    padding: 4px;
    }

    2. Hapus baris float:left; itu mbak.

    Sekian semoga membantu πŸ™‚

    • Haloo. .
      Sudah diganti lho, Mas.
      Makasiih ya. .. πŸ˜€

      Tapi tampilan awal (postingan), koq gambarnya jadi diatas ya?
      Padahal sebelumnya disamping. . .

      Gimana tuh, Mas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *