Pengalaman Body Rafting di Green Canyon, Pangandaran

Body Rafting di Green Canyon – Tidak lama lagi, sosial media akan ramai dengan update-an seputar mudik dan lebaran. Momen ini biasanya juga digunakan untuk liburan. Istilah dalam bahasa jawanya itu “ngiras-ngurus“, sekali mendayung, atau aji mumpung. Ya, merencanakan liburan bersama keluarga saat mudik atau lebaran, tuh, sepertinya menjadi hal yang wajib. Apalagi bagi para pekerja di perantauan, pasti tidak akan melewatinya.

Nah, kali ini aku memberi rekomendasi destinasi wisata di Jawa Baarat, tepatnya Pangandaran yang masuk dalam 10 Top Destinasi Wisata di Pangandaran, yaitu Green Canyon.

Kamu suka basah-basahan yang menantang? Aku saranin buat nyobain body rafting di Green Canyon Pangandaran. Kenapa? Selain olahraga, selama menyusuri Sungai Cijulang kamu akan disuguhi pemandangan sungai dan juga alam yang subhanallah banget. Dongeng-dongeng sampai mitos juga akan kamu dapat dari para pemandu wisata.

Btw, Body rafting ini aktivitas yang dilakukan di air, hampir sama seperti arung jeram. Bedanya kalau Arung Jeram menggunakan perahu karet, body rafting hanya bisa mengandalkan tubuh sendiri dilengkapi dengan pelampung. Tapi tenang, kamu bakal merasa aman dan nyaman karena body rafting di sini akan ditemani pemandu yang profesional. Mereka akan mendampingi, bahkan menjaga para wisatawan selama body rafting.

Pengalaman Body Rafting di Green Canyon, Pangandaran.

Kegiatan menyusuri aliran sungai tanpa perahu, hanya mengandalkan pelampung dan tubuh sendiri. Kedengarannya seram, ya? Apalagi buat kamu yang tidak bisa renang, pasti udah parno duluan kayak aku. Hahaha. Sekali lagi, kamu tidak perlu khawatir, karena selain didampingi guide arus sungainya juga cukup sedang. Hanya saja, para wisatawan harus mematuhi segala aturan yang dibilang oleh pemandu, terutama dalam mengenakan perlengkapan seperti helm, pelampung, pelindung lutut dan sepatu karang.

GREEN CANYON PANGANDARAN JAWA BARAT 4
Pintu Masuk~~

Jadi nih, aku ke Green Canyon bareng seorang teman Bloger dari Cilacap, kami cuma berdua saja. Awalnya ragu mau ambil paket body rafting karena cuma berdua. Bayangan kami, pasti nanti jatuhnya akan lebih mahal karena wisata ini bentuknya paketan. Yaudah, kami pun melihat penawaran wisata lain yaitu naik perahu.

“Waduuh…sayang banget sudah sampai sini masa cuma naik perahu dowang. Tidak seimbang dengan perjalanan yang sudah ditempuh dari Banjarnegara.” Batinku saat melihat foto-foto para wisatawan yang ditempel pada media dinding dekat sekretariat. Panorama dalam bingkaian foto nampak indah. Padahal ini hanya sampai “mulut” sungai saja. Bagaimana jika body rafting? Sudah pasti akan mendapat pemandangan yang lebih indah dari yang ada di foto tersebut.

“Ayo nyobain body rafting, Neng. Seru banget, lho!” Suara seorang pria yang muncul dari belakangku cukup mengagetkan. Tidak hanya bersuara, dia juga menepuk bahuku. Aku hanya senyum-senyum sambil mengambil beberapa foto untuk dokumentasi perjalananku.

“Neng, body rafting, yuk. Kelompok aku kurang 2 orang, nih.” PUCUK DICINTA, ULAM PUN TIBA! Tanpa basa-basi dan banyak kata, aku langsung mengiyakan ajakan orang yang tidak aku kenal. Hahaha. Inilah salah satu kejutan saat traveling, tidak perlu kenalan, tapi mau diajak kemana-mana. #eeeh! *dasar perempuan macam apa* Dipandu oleh para guide yang handal, kami diminta untuk menggunakan perlengkapan body rafting. Setelahnya, kami bersama-sama melakukan pemanasan sebelum nyemplung ke sungai.

Perjalanan dimulai dari basecamp JANGGALA, salah satu operator body rafting di green canyon Pangandaran. Kemudian naik mobil bak terbuka dan pada akhirnya sampai di hutan. Pelan-pelan kami berjalan menuju sungai yang akan menjadi titik awal atau start body rafting. Dari sini lah, kami mulai bergerak, bersenang-senang mengikuti arus sungai yang begitu jernih.

Panorama air di Green Canyon Pangandaran bisa jadi latar belakang menarik berfoto-foto. Kami pun sesekali mengabadikan momen di beberapa tempat yang unik. Di beberapa titik, air sungai Cijulang ini warnanya bagus banget, hijau tosca, gitu. Sayang banget, kamera hape gue saat itu belum bagus-bagus banget, jadi gradasi warna dalam foto pun tertangkapnya biasa saja. Hahaha.

Konon, air Sungai CIjulang di Green Canyon ini selalu hijau sejak dulu. Kecuali musim hujan, warnanya akan sedikit berubah. Perjalanan body rafting ini sebenarnya lumayan lama, kira-kira 1.5 jam. Namun saking asyiknya, body rafting ini terasa lebih cepat dari perkiraan waktu karena tahu-tahu kami sudah sampai pintu masuk dermaga green canyon. Nah, sesampainya pintu masuk ini, kami dijemput pemandu menggunakan perahu motor. Sepanjang perjalanan di atas perahu ini bisa kita gunakan untuk berfoto. Ternyata banyak juga yang sangaja datang khusus untuk berfoto dan mengabadikan keindahan panorama Green Canyon Pangandaran ini. Selain hijau dan jernihnya air sungai, tebing yang dipenuhi pepohonan hijau yang masih asri dan terjaga dengan baik. Semuanya bisa diabadikan sebagai latar belakang ataupun langsung sebagai objek foto.

Mengambil referensi dari harapanrakyat.com, konon nama Cukang Taneuh atau Jembatan Tanah dijuluki Green Canyon disematkan oleh traveler asal Perancis bernama Bill Jhon. Dia sangat terpesona dengan jembatan tanah yang sering dilewati warga untuk pergi ke kebun dan ladang ini. Pemandangan yang ada di bawah jembatan yang dihiasi dengan stalakmit dan stalaktit begitu menawan. Bukan hanya itu, ada juga tumbuhan hijau yang menutupi kawasan Green Canyon pada sisi kanan dan kirinya. Dan yang kadang bikin deg-degan itu kalau melihat akar-akar pohon yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Merinding tapi pingin menggenggamnya. Hahaha

Kalau dilihat dari kejauhan, jembatan tanah ini persis seperti mulut gua. Tempat inilah yang dijadikan lokasi pemberhentian kapan wisawatan yang berkunjung. Dari sana bisa terlihat keindahan Green Canyon Pangandaran. Keindahan tersebut rupanya menginsipiari Bill Jhon untuk menamai kawasan tersebut dengan nama Green Canyon. Ia menghubungkan keindahannya dengan objek wisata yang bernama sama di Colorado, Amerika.

Lokasi Green Canyon

Warga di sekitar lokasi wisata ini menyebutnya dengan Cukang Taneuh. Dalam Bahasa Indonesia ini berarti jembatan dari tanah. Objek Wisata ini ada di Jalan Raya Cijulang, RT 02, RW 10, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Dari pusat kota Pangandaran, jaraknya kira-kira 30 kilometer.

Tiket Masuk Green Canyon

Tiket untuk masuk ke kawasan objek wisata Green Canyon Rp. 100.000 per orang. Bagi sebagian orang mungkin terkesan mahal. Tapi kamu harus tahu kalau tiket ini sudah termasuk sewa perahu yang akan mengantar kita sampai ke lokasi Green Canyon yang ada di Sungai Cijulang. Green Canyon Pangandaran dibuka mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Namun, pada waktu tertentu yaitu ketika debit airnya tinggi, destinasi ini tutup.

Bagaimana dengan referensi destinasi wisata Green Canyon Pangandaran ini? Berani body rafting di sini? Baca dulu beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk body rafting di Green Canyon, ya! 😉

Jateng On The Spot 2019, An Enjoyed and A Fun The Trip!

Jateng On The Spot 2019 – Eeeeh….judulnya udah keminggris, belum? 😛 😛 :P. Ini efek habis ngetrip bareng teman-teman buleeeee dan sering glagapan karena sana pingin ngobrol menggunakan Bahasa Inggris, tapi aku ah oh ah oh dowang. Hahaha. Tenang, ini sok gaya di judul saja, isi postingan tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan sedikit baik dan benar. 😆 😆 😆

Kembali packing menyiapkan baju ganti dan kebutuhan pribadi lainnya untuk persediaan selama tiga hari dua malam dan berangkat dari rumah dini hari, ini seperti mimpi. Terlebih aku harus meninggalkan Kecemut untuk beberapa waktu, ini bukan hal yang mudah. Namun, ketika sampai di tempat tujuan dengan selamat, bertemu dengan orang-orang baru yang belum aku kenal, kemudian melakukan trip bareng mereka, aku rasa ini adalah jawaban dari sebuah doa.

Ya, ketika melihat kembali dokumentasi familiarization trip (famtrip) ke Lampung pada pertengahan tahun 2018, aku berdoa tahun 2019 bisa kembali mengikuti kegiatan famtrip. Ya….gimana lagi, famtrip itu sungguh menyenangkan. Selain teman, selalu ada banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang aku dapat dari kegiatan ini. Alhamdulillaah nih, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah tahun ini mengadakan kegiatan famtrip yang bertajuk Jateng On The Spot 2019.

Melalui Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah, aku mengikuti kegiatan ini dengan profil sebagai Bloger. Eh….sebenarnya kuota Bloger ini sudah ditiadakan dan diganti dengan kuota Videographer atau Youtuber, tapi aku kekeuh ingin mengabarkan Jawa Tengah On The Spot melalui tulisan meski aku juga sudah take video di beberapa tempat wisata yang kami kunjungi. 😆

JATENG ON THE SPOT 2019 GENPI JATENG

Famtrip yang diselenggarakan oleh Disporapar Jawa Tengah melibatkan temen-teman dari media cetak dan elektronik, student exchage dari UNNES dan UNDIP, GenPI Jawa Tengah, Videographer atau Youtubers, dan Blogers (ini Blogernya aku dowang).  😆 Total ada 20 peserta ikut eksplorasi tiga Kabupaten yaitu Rembang, Pati, dan Kudus.

Ini merupakan pengalaman pertamaku famtrip bareng teman-teman dari luar negeri yang sedang melanjutkan study di Indonesia. Jangan ditanya bahagia atau tidak. Mereka ramah dan lucu. Apalagi tingkahnya, penuh dengan misteri. Hahaha. Meski masih banyak yang masih belajar Bahasa Indonesia, tapi sebagian besar dari mereka sudah paham dan bisa bercakap dengan Bahasa Indonesia. Malah ada satu orang yang lihai banget bahasa Jawanya, yaitu Mas Nuryono. Ini bukan nama asli, hanya saja karena ejaan namanya susah dilafalkan, yaudah di-Jawa-in saja. Hahaha.

Kegiatan ini bersamaan dengan peringatan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April dan Rembang pun menjadi tujuan hari pertama famtrip. Selama di Rembang, ada beberapa kegiatan yang kami ikuti, yaitu turut memperingati Kirab Pataka RA Kartini yang bertempat di Pendopo Museum RA Kartini. Kemudian pagi harinya, kami eksplorasi pariwisata Rembang mulai dari wisata budaya, sejarah, alam, hingga kuliner khas Rembang.

JATENG ON THE SPOT FUN TRIP

Hari kedua, kami eksplorasi Kabupaten Pati. Di sini tidak banyak yang kami eksplor, tapi perjalanan wisata ke Desa Jollong ini cukup bikin aku bahagia. Desa Jollong ini menawarkan agrowisata yang tidak hanya petik buah saja, tapi ada edukasinya. Kebun kopi, misalnya. Di sini kami diajak jelajah Agrowisata menggunakan transportasi mobil terbuka. Asyiknya nih, kanan-kiri jalan adalah perbukitan dan juga kebun. Adem rasanya. Kontras dengan kunjungan di hari pertama yang mana di Rembang itu panas banget.

Selain ke Agrowisata, kami juga factory tour PT. Dua Kelinci. Namanya kunjungan, ya, di sini kami jalan melihat pabrik yang selama ini menyediakan snack ringan dengan brand Dua Kelinci. Kami juga diajak keliling pabrik untuk melihat proses pembuatan beberapa produk Dua Kelinci yang telah mendunia.

JATENG ON THE SPOT 2019

Ternyata Kudus itu menyimpan banyak potensi pariwisata. Terbukti, kunjungan wisata ke Kudus ini padat banget. Tidak hanya wisata religi menara kudus atau ziarah di makam Sunan Kudus, namun banyak tempat wisata yang asyik banget dan juga produk yang telah mendunia. Jenang Kudus, misalnya. Atau, produk dari Djarum. Coba, siapa yang tidak tahu dengan dua produk dari Kabupaten Kudus ini? Keterlaluan kalau belum tahu, sih, soalnya sampai saat ini Jenang Kudus dan Djarum terus menambah produksi karena banyaknya permintaan yang sampai ke Luar Negeri.

Famtrip ke Rembang, Pati, dan Kudus, eksplorasi habis-habisan dengan factory tour, aku merasa bangga karena Jawa Tengah punya banyak produk yang telah mendunia. Aku akan menulis lengkap tentang rangkaian kunjungan famtrip Jateng On The Spot 2019 di blog ini. Nanti tayang terjadwal di bulan Mei, ya.

Terima kasih buat Disporapar Jawa Tengah yang sudah mengajak aku famtrip, ada Masa Arul, Mbak Sindy, dan Mbak Myta dengan keramahannya. Kemudian, ada Bu Nane yang udah sabar menjadi tour leader. Teman-teman student exchange yang sudah mau direpoti untuk take video. Serta teman-teman GenPI Jateng, dan media yang baik-baik banget! Semoga kita bisa ketemu lagi di kegiatan berikutnya, ya! *doa lagi* 😆

Perjalanan Traveling ke Karanganyar yang Tak Terlupakan

Perjalanan Traveling ke Karanganyar – Perjalanan traveling lima tahun yang lalu, tepatnya bulan Maret, Tahun 2014, aku bersama Ari, Yuyun, Latif, punya rencana traveling ke Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan ini penuh semangat karena masih dalam masa-masa banyak nganggurnya ketimbang kerja. Tenaga pun rasanya full charger mulu, seakan tidak punya capek. Dengan berbagai pertimbangan, kami pun memilih sepeda motor sebagai alat transportasi menuju Karanganyar.

“Ehh…mau eksplorasi apa saja, nih, di Karanganyar? Jangan bilang cuma ngemper dowang di sana”. Tanya Latif sebelum menyusun itinerary.

“Ada Candi yang uniiiiik banget, ada banyak air terjun dengan debit yang tinggi, ada kebun teh yang luas banget, dan tentunya ada banyak pilihan Villa di sekitar Tawangmangu untuk istirahat kita. Di Traveloka mah banyak pilihan Villa”.

Jawabanku cukup simpel, tidak menggambarkan detail uniknya candi seperti apa, air terjun yang mau dikunjungi ada berapa, bahkan aku belum memilih penginapan yang nantinya bakal digunakan untuk tempat istirahat kami, namun mereka nampak semangat saat aku menyebut Karanganyar sebagai tujuan traveling berikutnya setelah bulan lalu kami eksplorasi Kebumen.

“Eh, sebelum ke Karanganyar, bolehlah kulineran dulu di Solo. Kangen Serabi Solo, Selat Solo juga”. 

Di atas selembar kertas, satu per satu rencana perjalanan mulai tersusun. Aku tidak menambah destinasi karena seluruh tujuan wisata yang aku pingin sudah masuk dalam daftar kunjungan, yaitu Candi Cetho, Candi Sukuh, Agrowisata Sondokoro, dan Air Terjun Tawangmangu. Destinasi wisata lain seperti Air terjun Jumog, Kebun Teh Kemuning, masuk dalam daftar destinasi tambahan.

CANDI KARANGANYAR

Ada enam tempat wisata yang sudah masuk dalam rencana, belum termasuk kulinernya. Kami mengagendakan sehari paling tidak dapat 4 obyek wisata mengingat jarak antar obyek wisata tidak berdekatan. Memaksimalkan hari Minggu untuk eksplorasi, menuntaskan rasa penasaran dengan wisata yang telah kami buat list. Atas rencana tersebut, kami berangkat dari Banjarnegara pada hari Sabtu, kira-kira jam 14.00 WIB karena Ari dan Latif saat itu kerja setengah hari. Kemudian, kami Minggu malam kembali pulang ke Banjarnegara.

Perjalanan sore lebih asyik dan ngga kena macet. Nanti kita lewat Salatiga saja supaya lebih cepat. ” Aku dan Yuyun mengangguk saja ketika Ari mulai merencanakan perjalanan karena dia mungkin lebih paham jalan menuju Solo. Dengan segala pengalaman tentang petunjuk jalan maupun arah, kami pun mempercayakan perjalanan ini kepada Ari. Sebenarnya pingin, tuh, tiba-tiba sampai Karanganyar tanpa menempuh perjalanan yang katanya sampai 6 jam dari Banjarnegara. 😆

Menegangkan, kira-kira pukul 18.00 WIB, kami baru sampai Salatiga dan itu lewat hutan-hutan. Jalan yang kami lewati memang sudah beraspal, namun kanan kiri kami adalah kebun. Aku meyakini kalau kami salah memilih jalan. Aku kira kami bakal lewat kota, tidak melewati jalan tikus. Ari yang katanya paham jalan pun tiba-tiba minta maaf kalau lupa arah menuju Karanganyar. Ini lawak banget, tapi kenyataan. Ingin rasanya marah, tapi tidak kuasa dan juga tidak punya tenaga. Tegang, semua wajah tegang dan nampak capek. Sedihnya, ponsel kami saat itu tidak bersignal. Boro-boro muncul signal internet, ini signal provider saja tidak muncul barang satu strip! 😆 Perasaan takut sama sekali tidak ada, kami lebih merasa lemas, lunglai, dan konsentrasi turun. Aku sendiri pingin banget balik arah, terus pulang ke Banjarnegara. Hihihi Cemen banget, ya.

CANDI-CETO

Tidak ada satu orang pun yang bisa kami minta informasi karena betul-betul berada di tengah hutan dan minim cahaya. Tidak ada kendaraan satu pun yang lewat jalan ini. Papan petunjuk pun tidak kami temui, entah tidak terlihat karena sudah gelap, atau memang tidak tersedia di sepanjang jalan tersebut. Ini fix salah arah! 🙁 Ketimbang berdiri terus di tengah hutan, kami memilih untuk kembali menyusuri jalan tanpa belok alias memilih jalan lurus. Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan, akhirnya ada titik terang. Mulai terlihat lampu di kanan-kiri jalan,  cahaya lampu itu menjadikan hati ini lebih tenang meski setelahnya turun hujan dan sangat lebat.

Terus berjalan, kami pun menepi karena melihat seorang laki-laki yang sedang mengenakan jas hujan. Ini bakal ada titik terang lagi, pikirku malam itu.

“Pak, ini Karanganyar masih jauh, ya? Kami mau ke Candi Cetho”. Tanyaku to the point banget karena hujan makin tak kenal kompromi, takut Bapaknya juga buru-buru.

“Masih, Mbak. Masih satu jam lagi”. Jawabnya cepat.

What?? Masih satu jam lagi. Meski hujan semakin lebat, kami tidak peduli terus menerjang hujan karena kami ingin cepat sampai Karanganyar lanjut mencari penginapan di sana, dan makan! Ya, sesungguhnya kami juga kelaparan, gaees! Tapi dengan kondisi hujan lebat seperti ini rasanya ngga memungkinkan buat kami untuk singgah di rumah makan. Badan rasanya sudah pegal-pegal, leseh, capeknya udah kebangetan, pingin mandi, kemudian selonjoran.

“Stop…stop! Kita berhenti di SPBU ini, ya. Sudah terlalu malam dan hujan makin deras.” Aku meminta ke pada Ari untuk berhenti di SPBU barang sepuluh menit. Istirahat sebentar sambil menunggu hujan reda dan makan menyempatkan makan malam yang sangat tertunda. Tidak ada rumah makan dekat SPBU ini. Kami sudah tidak lagi berada di Kota. Beruntung malam itu ada satu angkringan yang masih buka, lokasinya 500 meter dari SPBU, kata seorang petugas SPBU. Akhirnya, Ari dan Latif mencari angkringan tersebut dan kembali ke depan Mushola SPBU dengan membawa dua bungkus nasi.

“Nasinya sudah habis. Kita makan bareng-bareng saja ini, ya.” Ari membagikan satu bungkus nasi khas angkringan atau yang biasa disebut nasi kucing. Aku dan Yuyun merasa lebih tenang karena akhirnya bisa makan. Nasi kucing yang kami makan ini porsinya tidak pada umumnya, lebih banyak dan tambahan sayurnya juga lebih banyak. Lebih mirip nasi rames malah, tapi ini dijualnya kan di angkriangan, ya. Hahaha.

Karena hujan tak kunjung reda, perut sudah kenyang, dan perjalanan menuju daerah Candi Cetho masih membutuhkan waktu 45 menit lagi, akhirnya kami selonjoran di Mushola SPBU atas izin para operator SPBU. Tangan megang handphone, mata pingin merem, tapi hati tidak tenang karena selonjoran di tempat umum, malam-malam pula.

“Mbak-mbak, bangun. Sudah subuh.” Yuyun membangunkanku dan ternyata kami semua bisa tidur lelap di emperan Mushola. 😆 Alhamdulillaah, ya. Masih mendengar adzan subuh, bisa istirahat bentar, dan yang paling penting yaitu semangat untuk eksplorasi Karanganyar masih terjaga. 😉

Perjalanan traveling lima tahun yang lalu, tapi masih lekat dalam ingatan karena menjadi salah satu catatan perjalanan banyak perjuangannya. Btw, ternyata bukan hanya cinta yang butuh perjuangan, ya. 😆 Oiya, baca juga potingan tentang Jateng On The Spot yang sudah aku tulis!

Tempat Wisata di Semarang yang Dekat dengan Kota

Tempat Wisata di Semarang yang Dekat dengan Kota – Menghadiri acara di Semarang dengan durasi waktu tidak sampai dua jam rasanya tidak sebanding dengan perjalanan dari rumah, Banjarnegara, yang telah menghabiskan waktu 4 jam. Berdiri dengan prinsip tidak mau rugi, usai acara aku bersama Tante lanjut piknik manja keliling kota yang menjadi Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah.

Destinasi wisata yang kami kunjungi kali ini adalah wisata yang Semarang banget alias landmarknya Kota Semarang yaitu Lawang Sewu, Sam Poo Kong dan mencicipi kuliner legendaris Mie Kopyok “Pak Dhuwur”. Yups, cuma tiga tujuan wisata dan jarak antar destinasi pun tidak terlalu jauh.

Meski wisata ikonik, pada kenyataannya Tante belum pernah mengunjunginya. Keliatan banget jarang minggat, nih. 😀 Sementara aku, baru sembilan tahun yang lalu berkunjung ke Lawang Sewu dan Sam Poo Kong. Ya, sembilan tahun silam. Hahaha. Udah lama banget, ya. Yaaa…ketimbang gabut cuma gegoleran di hotel nungguin travel, mending piknik tipis nan manja lah, ya.

Saat raga sudah siap dengan segala “alat tempur”, begitu keluar hotel yang kami cari adalah transpotasi umum. Yups, karena dari Banjarnegara menuju Semarang kami menggunakan transportasi umum berupa Travel, piknik pun lanjut dengan moda transportasi umum. Nah, karena waktu yang kami punya tidak banyak, kami memilih menggunakan transportasi online yang selalu ada setiap saat.

DEPAN-HOTEL-PURI-GARDEN-SEMARANG

Kami memesan transportasi online lewat aplikasi yang sudah terinstall di smartphone. Zaman sekarang, tuh, apa-apa dimudahkan dengan gadget dan koneksi jaringan internet, ya. Cukup dengan menentukan titik penjemputan dan titik tujuan, sekali klik dan tanpa menunggu lama transportasi pun bisa didapat.

Tujuan pertama piknik kali ini yaitu Lawang Sewu. Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan wisata yang satu ini lah, ya. Bangunan kuno bersejarah dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT. Kereta Api Indonesia. Bangunan ini juga terkenal menjadi salah satu wisata yang ramah untuk foto-foto. Iya, selain membaca sejarah beberapa stasiun di Indonesia lewat media yang ditempel di beberapa papan, banyak wisatawan yang ke sini cuma foto-foto dowang. Meski bangunan kuno, Lawang Sewu ini bersih, nyaman, dan memang ramah buat berfoto. Instagramable, gitu.

Salah satu tempat yang dari dulu ingin aku jelajahi di Lawang Sewu yaitu menyusuri bagian bawah tanah. Dulu, kira-kira tahun 2011, aku ke sini pas malam hari. Malam itu susur bagian bawah tanah masih dibuka, aku melihat beberapa orang sedang siap-siap mengenakan sepatu boot karena di bawah tanah ini ada genangan air. Sayang banget waktu itu aku tidak punya nyali. Hahaha.

LAWANG-SEWU

Kebetulan kunjungan kali ini kan siang hari, tuh, jadi aku berniat menyusuri bawah tanah, gitu. Setelah cari tahu di bagian informasi, ternyata kegiatan tersebut sudah tidak ada lagi. Wisatawan tidak diperbolehkan masuk ke area bawah tanah. Genangan air di bagian bawah pun sudah tidak ada. Yasudah, dengan membayar tiket masuk Rp 10.000 per orang, kami hanya foto-foto saja di Lawang Sewu. 😀

Kira-kira 60 menit kami di Lawang Sewu. Setelah merasa puas dan mengantongi konten, kami melanjutkan perjalanan menuju Sam Poo Kong. Oiya, kami tidak hanya berdua, ada Mas Sitam yang juga hari sebelumnya menghadiri acara yang sama. Mas Sitam ini dengan sabar hati menjadi teman jalan sekaligus tukang jepret. Asyik banget minggat kali ini pokoknya. 😆

Jarak tempuh dari Lawang Sewu sampai Sam Poo Kong tidak sampai 20 menit karena lalu lintas saat itu tidak begitu padat. Apalagi kami menggunakan transportasi online, lebih cepat ketimbang transportasi umum lainnya.

SAM POO KONG

Sesampainya di lokasi, kami malah tidak minat masuk. Hahaha. Melihat loket tiket masuk yang begitu senggang, akhirnya Mas Sitam membeli tiket. Intinya, ke Sam Poo Kong itu cuma numpang sholat duhur dan minum Es Dawet. 😆 Ini sungguh piknik yang manja, santai banget! Niat mau masuk bagian dalam Sam Poo Kong pun terpaksa kami cancel karena lebih tertarik duduk-duduk di area kuliner. Padahal dari awal aku pingin banget melihat dan tahu relief-relief yang ada di bagian dalam Sam Poo Kong itu.

Aku tidak paham bagian dalam itu namanya apa, yang jelas kalau masuk bagian dalam itu, wisawatan harus membayar tiket masuk lagi senilai Rp 25.000 per orang. Yups, dari tiket awal masuk yaitu Rp 20.000 per orang, di dalam ada loket tiket lagi. Lain waktu lagi kalau ke sini beli tiket terusan! 😉 Pada akhirnya, lagi-lagi ke Sam Poo Kong dan tidak foto dengan kostum a la China padahal juga sudah diniatin dari awal mau ke sini. Hahaha.

Ini sepertinya karena sudah kekenyangan dengan kuliner Mie Kopyok “Pak Dhuwur”. Ya, sebelum ke Sam Poo Kong, kami mampir makan siang di Mie Kopyok dan kekanyangan! 😀 Beruntung saat itu kami menggunakan moda transportasi online, jadi tinggal pesan, jalan, sampai dan pesan, jalan, sampai!

MIE KOPYOK PAK DHUWUR

Ngomongin tentang transportasi online, beberapa waktu lalu sempat ada keresahan perihal penggunaan moda transportasi ini, ya. Contohnya yang pernah santer diberitakan di media yaitu tentang begal. Aku yakin kalian pasti tahu dan sering dengar berita ini. Tidak hanya lewat media elektronik saja, kejadian begal sempat terjadi di sekitar tempat tinggalku. Para orang tua pun makin posesif kepada anak-anaknya yang tiap hari pulang kegiatan sampai sore.

Kasus tersebut berimbas sampai pada transportasi online yang mana banyak kawula muda memanfaatkan moda tersebut. Apakah kalian pernah diwanti-wanti orang tua, suami, isteri, untuk lebih hati-hati jika menggunakan transportasi online terutama ojek online? Aku sering banget! Apalagi kalau sedang keluar kota untuk piknik karena aku pasti lebih sering menggunakan jasa transportasi online.

Wajar banget jika orang terdekat khawatir ketika kita pergi atau jalan tanpa mereka. Harus memaklumi juga kalau sering kontak. Tapi mulai sekarang, pengguna transportasi online tidak perlu khawatir, #UninstallKhawatir kalau kamu menggunakan transportasi online GOJEK dengan versi terbaru.

Kenapa #UninstallKhawatir?

Pertama, sudah tersedia fitur Emergency Button atau Tombol Darurat.

 

GJ-LB-1-EDITT

Fitur Tombol Darurat adalah layanan yang memungkinkan pengguna mendapatkan rasa aman karena GOJEK kini telah menyediakan tombol yang dapat digunakan untuk keadaan atau situasi darurat. Fitur tersebut akan langsung terhubung pada Unit Darurat GOJEK yang siap melayani 24/7 Sehingga pengguna dapat merasakan keamanan karena GOJEK sudah menyiapkan pertolongan untuk kondisi terburuk.

Kabar baik, nih, Tombol Darurat sudah bisa diakses customer GO-CAR seIndonesia. Semoga bisa segera diakses di GO-RIDE juga ya. Dan semoga kita selalu aman di perjalanan dan enggak akan pakai fitur ini ya.

Kedua, Share Trip atau Bagikan Perjalanan.

Buat jaga-jaga dan supaya yang di rumah juga merasa tenang karena bisa memantau, aku sering banget menggunakan layanan ini. Sebuah layanan yang memungkinkan pengguna membagikan tautan kepada keluarga atau kerabat melalui Whatsapp, LINE, SMS, atau aplikasi bertukar pesan lainnya.

GJ-LB-2 EDIT

Tautan yang dikirim berisi informasi Titik Pickup dan Drop off, Informasi pengendara secara detail (Nama, nomor & jenis kendaraan dan nomor pemesanan), Status perjalanan ( status perjalanan (menunggu driver, dalam perjalanan, sudah tiba), dan Live location. Fitur ini betul-betul membantu pengguna lebih merasa aman saat dalam perjalanan.

Ketiga, Passenger Insurance atau Asuransi GO-RIDE.

Asuransi penumpang merupakan bentuk nyata GOJEK dalam memberikan rasa keamanan, kenyamanan, hingga memastikan bahwa penumpang telah terlindungi dari kecelakaan dan pencurian selama dalam perjalanannya. GOJEK memberikan Asuransi GO-RIDE, mulai dari penjemputan hingga tiba di lokasi tujuan. Layanan ini sudah berlaku diseluruh area di Indonesia untuk GO-RIDE.

Terakhir nih, GOJEK selalu mempersiapkan para driver dengan berbagai cara terbaik. GOJEK melakukan proses rekrutmen yang ketat untuk menyeleksi driver-driver pilihan serta GOJEK juga menyediakan modul pelatihan pada setiap driver, yang berisikan informasi mengenai cara menggunakan aplikasi pengarah jalan, cara merawat kondisi kendaraan, patuh pada peraturan lalu lintas, dan cara memberikan pelayanan yang baik. Drivernya GOJEK betul-betul Driver Jempolan.

Keempat, Driver Jempolan!

Driver merupakan mitra yang dapat mencerminkan GOJEK. Tak heran, GOJEK selalu berusaha mempersiapkan para driver dengan berbagai cara terbaik. GOJEK juga melakukan proses rekrutmen yang ketat untuk menyeleksi driver-driver pilihan sekaligus menyediakan modul pelatihan pada setiap driver, yang berisikan informasi mengenai cara menggunakan aplikasi pengarah jalan, cara merawat kondisi kendaraan, patuh pada peraturan lalu lintas, dan cara memberikan pelayanan yang baik.

GJ-LB-3 EDIT

GOJEK bekerja sama dengan Rifat Drive Labs (RDL) dalam penyelenggaraan pelatihan bagi para driver.  Program pelatihan tersebut dinisiasi Duta Keselamatan Berkendara, Rifat Sungkar. Selain itu, GOJEK memberikan edukasi kepada mitra driver melalui #Trikngetrip, sebuah program edukasi yang menyampaikan pesan, dengan cara yang menyenangkan, untuk para mitra driver dalam memberikan pelayanan terbaik dan tips dalam berkendara serta perjalanan.

Tak hanya itu, GOJEK juga menyelenggarakan serangkaian workshop dalam upaya meningkatkan keterampilan mitra driver melalui Bengkel Belajar Mitra. Program ini rutin diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia dengan menggandeng para profesional di bidangnya masing-masing untuk membahas topik yang relevan dengan keselamatan berkendara sebagai driver GOJEK.

Nah, para mitra driver yang telah memberikan pelayanan terbaiknya dan memberikan kontribusi positif dalam masyarakat, GOJEK turut mengapresiasi dengan memberikan sebuah penghargaan, bernama Driver Jempolan. Penghargaan ini diberikan GOJEK untuk memotivasi para mitra driver untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan mereka. Penghargaan ini disematkan pada driver berupa pin pada jaket GOJEK mereka.

Nah, untuk dapat menggunakan fitur-fitur di atas, kamu cukup klik ikon checklist yang berada di pojok kanan bawah. Cukup satu kali klik nanti akan keluar pilihan fitur terbatu GOJEK yang pasti akan membantu dan membuat aman serta nyaman para pengguna transportasi online, khususnya ojek online.

LAWANG SEWU SEMARANG

Ada satu alasan kenapa aku lebih memilih GOJEK karena titik penjemputan via aplikasi GOJEK ini selalu tepat, sesuai titik dan drivernya tidak banyak Tanya untuk titik penjemputan karena titik koordinat di aplikasi sudah sesuai dan sangat jelas. Kalau sudah begini, rasa khawatir pakai transportasi online atau ojek online hilang ditelan fitur! 😆

Yuk, #UninstallKhawatir dan segera update aplikasi GOJEK ke versi terbaru supaya kalian bisa menggunakan fitur terbarunya sehingga perjalanan bersama GOJEK menjadi aman dan nyaman. Seperti perjalanan wisata kami saat di Semarang. Begitu dimudahkan, merasa aman dan nyaman saat perjalanan.

Baca juga Jateng on The Spot: Rekomendasi Wisata Jawa Tengah.

Festival Imlek di Java Heritage Hotel, Purwokerto

Festival Imlek di Java Heritage Hotel – Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting bagi orang Tionghoa. Sejauh ini, aku hanya dapat nonton acara perayaan Imlek lewat media televisi atau melihat keseruannya lewat sosial media dan juga channel youtube. Atraksi Barongsai dan Liongsai yang menjadi ikon khas Imlek ini pernah aku tonton di salah satu destinasi wisata di Semarang yaitu Sampookong.

Minggu (3/2/2019), akhirnya aku bisa turut menikmati rangkaian acara Imlek yang diselenggarakan oleh Java Heritage Purwokerto. Ya, Java Heritage Purwokerto menggelar Festival Imlek 2019. Festival ini berlokasi di halaman parkir hotel yang begitu luas.

Festival ini menawarkan berbagai acara seperti atraksi Barongsai, Liongsai, Tongsai, Mentalist Show, Zorro Acrobatic, Wayang Potehie dan masih banyak lagi kegiatan menarik lainnya. Lebih seru lagi nih, Festival yang dimulai pukul 16.00-22.00 WIB juga menawarkan bazar kuliner. Yup, tidak hanya nonton atraksi, games, dan rumah hantu, namun pengunjung dapat menikmati kuliner sambil menonton rangkaian acara Festival Imlek 2019.

Festival Imlek Java Heritage
Welcoming Imlek di Lobi Hotel Java Heritage Purwokerto

Bersama Sovi, Rois, Mbak Olip dan Mas Pradna, aku masuk lokasi festival tepat pukul 19.00 WIB. Karena panggung masih belum mulai acara, kami menuju Wayang Potehie.

Wayang Potehie di Festival Imlek.

Wayang Potehie adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Kesenian yang berasal dari Tiongkok ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun. Banyak pengunjung yang antre menonton pertunjukan wayang ini karena memang jarang-jarang mainnya. Emm…sebenarnya ngga antre, sih. Hanya saja tempat duduk untuk pengunjunh sangat terbatas. Dan ngga enak banget kalau nonton wayang sambil berdiri, selain capek, ngga konsen. Hahaha. Di sini aku ngga lama, nonton sambil melihat koleksi boneka yang dapat dibeli oleh pengunjung. Bonekanya lucu-lucu, buat pajangan di dinding atau ditaruh di atas meja cakep banget. 😉

Festival Imlek Java Heritage 4
Pertama kali nonton Wayang Potehie…

Dari arah panggung sudah mulai terdengar musik gonjreng khas Barongsari. Sebelum mendekat ke panggung, aku jajan dulu, dong. Nah, di sini uang Rupiah ngga berlaku. Pengunjung harus menukarkan uang rupiah menjadi uang Kepeng di stand penukaran uang. Kepeng ini terdiri dari dua jenis yaitu logam dan kayu. 1 Kepeng dari logam bernilai Rp 10.000. Sementara 1 Kepeng dari kayu bernilai Rp 5.000. Karena kami sudah dibekali Kepeng oleh Java Heritage Purwokerto, yaudah tinggal jajan sepuasnya. Hahaha.

Ragam Kuliner Memeriah Festival Imlek.

Kuliner di sini enggak hanya menawarkan jajanan atau makanan chinese saja, tapi makanan khas Purwokerto juga masuk. Tak hanya kuliner lokal seperti Mendoan, kuliner dari kota sebelah seperti Sate Wonosobo pun turut meramaikan stand Bazar Kuliner. Sayangnya ngga ada Dawet khas Banjarnegara di sini, ya. Padahal segar, tuh. 😀

Festival Imlek Java Heritage (1)4

Setelah memesan Es Teler dan Mie Kopyok, aku menempatkan diri di kursi paling depan untuk nonton atraksi Imlek. Ada Barongsai, Liongsai yang dimainkan oleh tim dari Unsoed, Tongsai atau kolaborasi Kentongan dan Barongsai.

Menonton Atraksi Imlek yang Khas Banget!

Tak hanya itu, ada pertunjukan yang lain yang lebih seru lagi yaitu Mentalist Show dan Zorro Acrobatic. Mentalist Show saat itu tarjet yang diajak kolaborasi adalah anak-anak. Mentalist mengajak anak-anak untuk maju dan ikut pertunjukan. Hanya anak-anak pemberani saja yang maju, nih. Soalnya, kan dilihat banyak penonton, tuh.

Pertunjukan dari pesulap ini beneran surprise, ya. Contoh saja anak yang maju, naik ke atas kursi, ternyata mau diambil celana dalamnya. Hahaha. Si anak ini ngga tahu kalau celana dalamnya bakal diambil menggunakan kain, gitu. Dia hanya diminta menghadap depan, fokus, dan tau-tau semua penonton ketawa karena celana dalamnya udah berhasil diambil oleh mentalis. Eumhh…kasihan, tapi lucu. 😀

Festival makin malam makin ramai dan makin seru. Bagiku, ini merupakan pengalaman pertama menghadiri Festival Imlek. Ternyata seru juga bisa hadir dan melihat langsung kebahagiaan mereka, orang-orang yang merayakan Imlek. Padahal ini baru di Purwokerto, ya. Bagaimana jika turut melihat langsung perayaan Imlek di China. Ughh…pasti tambah seru!

Festival Imlek Java Heritage 6

Btw, makasih buat Java Heritage sudah mengundang aku untuk menikmati rangkaian acara festival ini. Makasih juga sudah memberi pengalaman nyaman menginap di cottage Java Heritage Purwokerto. Selamat Imlek buat kamu yang merayakan, ya. Semoga makin bahagia, sejahtera, dan beruntung.

Yuk…ramaikan Festival Imlek 2019 di Java Heritage Purwokerto. Hanya sampai tanggal 5 Februari 2019, lho. 😉

5 Tempat Wisata di Desa Wisata Malahayu, Brebes

Desa Wisata Malahayu, Brebes – Traveling ke suatu daerah rasanya kurang lengkap jika tidak menyambangi Desa Wisata. Ya, bagiku destinasi wisata yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sangat menarik dikunjungi karena selalu ada pengalaman baru yang aku dapat tiap kali singgah di Desa Wisata. Makanya, saat traveling ke Brebes pada minggu kedua bulan Januari, aku bersama beberapa teman menyempatkan untuk eksplorasi ke salah satu Desa Wisata di Kabupaten Brebes.

FYI, Desa Wisata yang aktif di Brebes cukup banyak. Malah ada beberapa yang menjadi andalan pariwisata Brebes. Salah satunya yaitu Desa Wisata Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Brebes.

Desa wisata ini dikelola oleh Pokdarwis Geger Halang Malahayu. Pokdarwis yang hebat dengan segudang kreativitas dan pernah menjadi juara umum Lomba Jambore Pokdarwis tingkat Kabupaten Brebes, saat ini sedang gencar-gencarnya mempromosikan segala potensi yang ada desanya.

Jarak tempuh dari tengah kota Brebes menuju Malahayu kira-kira 1.5 Jam. Sementara dari tempat tinggalku, Kabupaten Banjarnegara, kurang lebih 5 Jam. Lumayan jauh memang, namun karena ingin tahu pariwisata Malahayu, dan ingin tahu atraksinya juga, rasanya tidak ada kata jauh. Gassss…laaah!

Berbekal gadget dan aplikasi google maps, tepat pukul 10.00 WIB kami sampai Desa Malahayu. Ughh…melihat tulisan berjejer “Welcome To Desa Wisata Malahayu” rasanya udah bahagia banget. Tak sabar radanya untuk segera eksplorasi dan interaksi dengan pengelola Desa Wisata tersebut.

Sepuluh menit dari gerbang masuk Desa, akhirnya kami sampai tujuan yaitu kompleks wisata Malahayu. Yeeey….!

Rombongan dari mana, dedek-dedek gemeees?” Para petugas pintu masuk obyek wisata Malahayu menyapa kami dengan wajah riang.

Ini mau rekreasi ke Malahayu, Bapak-bapak ganteeng!” Jawab kami kompak tanpa salah kata. Petugas pun langsung menyodorkan tiket masuk sebanyak 5 lembar sesuai dengan jumlah personil di dalam mobil.

Tidak tahu kenapa, melewati gerbang kompleks desa wisata Malahayu rasanya ada yang janggal. Disini terkesan doble ticketing. Soalnya, setelah membayar Rp 3.000 sebagai HTM Desa Wisata, tiap masuk kawasan wisata masih ditarik HTM lagi. Agaknya mikir keras, sih, masuk Desa Wisata dan belum sampai pada obyeknya tapi sudah diminta untuk membayar tiket. 🙁

Entah kenapa aku seperti masuk ke tempat wisata yang dikelola swasta atau pemerintah. Padahal ini dikelola oleh pokdarwis yang sebagaimana kita tahu visi misinya. Yasudah…ketimbang terlalu banyak merenungi tiket, kami pun langsung parkir di depan kompleks BBM Fantasi Land untuk kemudian lanjut jalan menuju Waduk Malahayu.

Waduk Malahayu

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (16)

Woy! Serius, panas-panas gini naik ke Waduk?” Tanya salah satu teman. Sayangnya, tidak ada satupun yang menanggapi pertanyaanya. Yasudah…akhirnya semua menuju waduk. 😀

Obyek wisata andalan Malahayu adalah Waduk Malahayu. Kenapa andalan? Karena ketika kamu berkunjung ke Malahayu, pasti yang direkomendasikan pertama adalah Waduknya. Uniknya nih, pintu masuk untuk menuju waduk ini berada di Desa Malahayu. Pun dengan pintu keluarnya air. Makanya, waduk ini menjadi ikonik Malahayu.

Waduk dengan luas ±944 Ha mulai dibangun pada tahun 1930-an oleh Kolonial Belanda. Ternyata waduk ini berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Aaah…traveling kali ini nyaris lintas provinsi, nih. Bangga baenar ini. 😀

Kami sampai waduk kira-kira pukul 11.00 WIB, ketika matahari sedang di atas kepala. Hot banget! Niat mau naik perahu pun kami batalkan karena panasnya keterlaluan, sungguh. Sebagai gantinya, kami jalan keliling dan duduk-duduk santai di sebelah kiri waduk. Dari sini, nampak di seberang sana hutan jati yang begitu rimbun dan teduh.

Pemanfaatan waduk ini disamping sebagai  temoar rekreasi dan sarana irigasi lahan pertanian untuk beberapa kecamatan termasuk Banjarharjo, dimanfaatkan juga sebagai tempat mata pencaharian para nelayan. Ekonomi masyarakat sekitar pun menjadi lebih baik karena banyak berdiri warung-warung di sekitar tempat parkir yang menawarkan kuliner khas Malahayu. Terasa lengkap, bukan?

Eh, kamu tahu kuliner khas Malahayu? Ada Ikan Mujaher dan Ikan Mindo yang nikmatnya tak terkira ketika disantap di tempat. 😉 Oiya, aku saranin kalau mau ke Waduk Malahayu mending di atas pukul 15.00 WIB di mana matahari sudah turun. Jadi bisa lebih menikmati suasana waduk sambil menunggu matahari terbenam. Syahduuuu euy!

BBM Fantasi Land

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (14)

Usai eksplorasi di Waduk Malahayu, kami lanjut rekreasi ke beberapa obyek wisata penunjang Desa Wisata Malahayu. Kali ini ada BBM Fantasi Land.

Bareng-Bareng Maju (BBM) Fantasi Land, namanya cukup menarik, ya. Jawa dan kebarat-barataaaaan. 😀 Kenapa BBM-nya itu bukan Bibit Bunga Matahari, ya. Sepertinya lebih cocok karena Bunga Matahari menjadi ikon obyek wisata ini.

BBM Fantasi Land ini merupakan obyek wisata buatan yang belum lama “dihidupkan” oleh Pokdarwis Desa Wisata Malahayu. Nampak sekilas, sebelum menjadi obyek wisata, tempat ini dulunya adalah hutan kota. Banyak pepohonan, begitu teduh, dan tenang. Tapi ternyata bukan! 😀

Menurut Pak Kumis, lokasi ini dulunya adalah tempat sampah. Aku cukup kaget karena tempat yang dulunya kumuh sampah sekarang sudah menjadi obyek wisata yang ramai. Banyak wisatawan yang berdatangan bersama teman, pasangan, dan keluarga, karena tempat ini memang cocok untuk rekreasi sekadar melepas penat karena aktivitas harian.

Untuk masuk ke BBM Fantasi Land, wisatawan cukup membayar tiket masuk senilai Rp 5.000 per orang. Dengan tiket masuk lima ribu rupiah, kamu bisa menyusuri Bukit Cinta yang dipenuhi dengan ikonik BBM Fantasi Land yaitu Bunga Matahari.

Di sini kamu bebas foto-foto, ikut panen biji bunga matahari, atau jalan-jalan ke kompleks belakang melihat kumpulan Monyet yang manis-manis banget. Kamu juga bisa beli bibit Bunga Matahari seharga Rp 5.000 atau membeli bunga matahari seharga Rp 20.000 per pot.

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (4)

Selain senang-senang di kompleks Bukit Cinta, masih banyak obyek yang perlu kamu eksplor. Seperti kolam yang digunakan untuk beberapa aktivitas. Ada terapi ikan, bebek air, balon air, dan flying bike. Untuk menikmati wisata ini, kamu harus membayar lagi. Kecuali terapi ikan, gratis. Tapi kalau mau ikut ngasih makan ikan, bisa beli pakannya di warung-warung dekat kolam. 😉

Menurutku, rekreasi di BBM Fantasi Land kurang ramah kantong. Sebut saja bebek air. Di sini tiket main bebek air Rp 30.000 saat akhir pekan dan Rp 25.000 di hari biasa. Tiket ini sama dengan tiket permainan bebek air di tempat wisata lain. Lagi-lagi ini Desa Wisata di mana biasanya pengelola tidak berani memasang tarif tinggi karena yang terpenting bagi Desa Wisata adalah sustainable. Aaah…mungkin biaya operasional mereka juga tinggi kalik, ya. 😉

Oiya, wahana lain seperti Flying Bike Rp 20.000 dan Balon Air Rp 15.000 juga tergolong mahal, harga tidak ada yang beda dengan wahana di obyek wisata yang bukan dikelola Pokdarwis. Belum lagi perihal fasilitas umum. Toilet, misalnya. Ini masih menjadi PR penting bagi pengelola.

Situs Benteng Dinamit

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (11)

Rekreasi lanjut ke wana wisata. Masih di kompleks Waduk Malahayu terdapat bukit yang menawarkan lansekap Waduk Malahayu dari atas bukit Geger Halang. Namun, bukan bukit yang disorot dalam obyek satu ini, melainkan peninggalan sejarah yang berada di puncak bukit.

Adalah Situs Benteng Dinamit.

Situs Benteng Dinamit merupakan situs peninggalan zaman Belanda berbentuk benteng batu bata kuno. Di sini terdapat dua situs, yang satu masih asli, yang satunya sedang dalam tahap renovasi karena bangunan sempat retak.

Konon bangunan benteng dinamit ini digunakan untuk pembuatan waduk Malahayu pada tahun 1930an. Katanya, Jenderal Sudirman juga pernah menempati benteng dinamit ini untuk menyusun strategi perang.

Memasuki situs ini, nampak hutan yang sudah tidak perawan lagi. Hahahaha. Maksudku, kesan alam dan hijaunya hutan hilang seketika karena di sepanjang jalan menuju Benteng terdapat warna-warni kehidupan. *eh* Ya, jalan menuju bukit selain berupa tangga, ada ban bekas yang dicat warna-warni.

Ini bukan kali pertama aku menjumpai konsep wisata alam yang seperti ini karena hampir semua pengelola wisata mengusung tema kekinian dengan warna-warni dan mungkin tanpa melihat situasi dan tempat. Tapi tidak mengapa, pengelola pasti punya alasan kenapa menggunakan konsep warna-warni ini.

Berada di bukit Geger Halang, terdapat gardu pandang yang bisa digunakan untuk melihat lansekap Waduk Malahayu dari atas bukit. Situs Benteng Dinamit menjadi obyek wisata penunjang yang tiap akhir pekan selalu ramai pengunjung. Sayangnya di sini tidak ada pemandunya, jadi tidak tahu detail sejarah situs ini. Kabar baiknya, bukit ini nyaman dan banyak gazebo yang dapat digunakan untuk bersantai atau sekadar makan minum dengan membelinya di warung-warung yang berada di kaki bukit.

Kampung Pelangi

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (18)

Sama halnya dengan BBM Fantasi Land, kampung ini dulunya kumuh. Namun karena sebelah kanan-kiri terdapat obyek wisata, akhirnya Pokdarwis mengemas kampung ini menjadi kampung pelangi. Kampung pelangi ini nyaris sama dengan kampung pelangi pada umumnya. Namun seyelah menyusuri gang-gang kampung sampai habis, ternyata Kampung Pelangi Malahayu lebih cantik! 😉

Selain dicat warna-warni, kebanyakan rumah di kampung ini digambari bunga dan karakter kartun. Ini pas banget buat kamu yang suka berswafoto. Ada 178 rumah yang berada di Blok 1 Desa Malahayu yang dicat warna-warni. Uniknya nih, biaya untuk cat dinding ini ditanggung okeh masyarakat dan pokdarwis alias swadaya. Ini kompak pisan, ya.

Kampung pelangi ini sebagai destinasi tambahan dan penunjang destinatasi wisata Malahayu lainnya. Destinasi ini juga belum lama dibuat, kira-kira tahun 2017. Tidak hanya rumah yang dicat warna-warni, sekolah yang berada di kampung ini pun turut dicat warna-warni.

Aaah, Malahayu Pancen Ayu!

Sentra Gerabah

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (4)

Naaah…ini perjalanan terakhir kami di Desa Wisata Malahayu. Setelah keliling kampung pelangi, kami keluar dari kompleks Waduk Malahayu dan melanjutkan perjalanan ke sentra Gerabah di mana lokasinya tidak jauh dari gerbang masuk waduk Malahayu.

Kerajinan gerabah ini merupakan salah satu penunjang utama untuk ekonomi warga sekitar. Saat kami singgah di pabrik gerabah ini, karyawan sedang sibuk beraktivitas. Namun jika wisatawan ingin belajar membuat keramik, meraka mau mendampingi karena memang di sini boleh untuk belajar membuat keramik. Sesjai konsep Desa Wisata Malahayu menjadi Edupark atau Taman Belajar bagi siapa saja yang mau.

Di Desa Wisata Malahayu, terdapat dua jenis gerabah, yaitu Gerabah dr tanah liat lokal dan gerabah dari jenis Porselin. Melihat para pekerja keramik yang masih muda-muda, aku jadi ingat kalau di Banjarnegara juga punya keramik. Hanya saja, tenaga atau karyawannya sudah lanjut usia. Beda dengan di Malahayu, karyawannya masih muda dan nampak teliti dan rapih dalam membuat keramik.

Gerabah ini umumya dipasarkan dengan cara dititipkan ke kios-kios atau dijual secara berkeliling. Saat aku tanya untuk pemasaran online, mereka belum merambah ke dunia online. Mungkin dari Pokdarwis bisa menggandeng karyawan atau bahkan pemilik gerbah untuk belajar mempromosikan produk keramik Malahayu secara online supaya makin banyak yang tahu dan transaksi penjualan juga makin meningkat.

Rekreasi di Malahayu tidak ada capeknya meski sudah naik ke situs benteng dinamit yang tidak terlalu tinggi, atau berkeliling kampung pelangi. Kenapa coba? Karena menurutku jarak antar destinasi cukup dekat. Ini sseperti pariwisata terintegritas, gitu. Sayangnya karena waktuku cukup terbatas,  eksplorasinya pun kurang maksimal. Padahal masih pingin tahu potensi lain di Malahayu. Seperti usaha rumahan opak ketan khas Malahayu, tape ketan, atau homestay yang ada di sana.

Tak mengapa, karena di sini aku dapat banyak ilmu dan pengalaman dari Pokdarwis atau Bu dan Pak yang jaga loket masuk. Aku banyak interaksi dengan mereka, ngobrol-ngobrol tentang perjuangan dan perkembangan Desa Wisata Malahayu. Salut dengan Pokdarwis Desa Wisata Malahayu yang solid dan SDMnya jempol-jempol pisan, euy! Terima kasih atas keramahannya. 😉

Kapan-kapan musti eksplorasi ke Brebes lagi, nih. Menginap di homestay Desa Wisata Malahayu kayaknya seru. Sepertinya perlu diadain famtrip di Brebes, ya. 😀

Baca lagi tentang Rekomendasi Tempat Wisata di Lasem, Rembang.

Kuliner Seafood Murah di Pantai Jetis, Cilacap

Kuliner Seafood di Pantai Jetis, Cilacap – Antara kaget dan penasaran, kenapa Cilacap bisa sepi wisatawan sementara tujuan wisata di sana menurutku banyak banget dan sangat beragam. Terlebih kulinernya, di sana terkenal dengan kuliner seafoodnya yang murah meriah karena banyak laut di sana. Apalagi jika belinya langsung di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang ada di beberapa pantai, dijamin tidak ada kata mahal. Eh, tapi ini katanya, sih. Karena aku juga belum pernah kulineran di TPI sana. 😆

Jangankan extend, menjadi tujuan wisata saja sepertinya tidak masuk dalam benak wisatawan. Meski ada banyak destinasi wisata seperti pantai, kuliner, bangunan bersejarah, dan pariwisata lainnya yang bagiku sangat menarik untuk dikunjungi, Cilacap tetap sepi wisatawan.” Mas Pras mengungkapkan keprihatinannya atas minimnya antusias wisatawan untuk berkunjung ke Kotanya.

Untuk sedikit menghilangkan rasa penasaran akan apa yang telah diceritakan Mas Pras, akhir bulan Juni, aku dan tante sepakat untuk mengunjungi Kabupaten yang jarak tempuhnya tidak begitu jauh dari tempat tinggal kami, kira-kira 60km dari Banjarnegara atau 2 jam. Karena kami tidak ada rencana menginap, tempat wisata yang kami kunjungi pun tidak terlalu jauh dari kota. Bisa dibilang piknik ke Cilacap kali ini sebagai uji coba, merasakan atmosfer Cilacap yang tipis-tipis dulu. 😛

kuliner di pantai jetis (1)

Tujuan kami ke Cilacap hanya ingin ke pantai yang paling dekat dan paling mudah diakses, kemudian menikmati seafood on the spot sampai beneran kenyang. Pilihan destinasi wisata tersebut jatuh pada Pantai Jetis yang beralamat di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Yaps! Kuliner Seafood di Pantai Jetis.

Motoran ke Cilacap. Let’s go!

Jauh dari rencana yang seharusnya berangkat pukul 07.00 WIB, kami baru bisa berangkat pukul 09.00 WIB dengan mengendarai sepeda motor. 😆 Ini pertama kali aku naik motor ke Cilacap. Sebagai penikmat transportasi umum, sebenarnya aku ingin sekali naik bus atau kereta api menuju Cilacap. Namun, bus menuju Cilacap ini katanya sangat terbatas. Tidak setiap jam ada. Pun dengan Kereta Api dari Purwokerto menuju Cilacap. Ya…meski perjalanan menggunakan Kereta Api hanya 1 jam, tapi setidaknya bisa untuk melepas kangen naik kereta. 😀

Aku kira saat perjalanan menuju Cilacap bakal ada sesi istirahat di rest area karena capek berkendara, eeeh…belum merasa lelah kok tahu-tahu sudah mulai terlihat tambak udang. Alhamdulillaah merasa dekat ke Cilacap hanya berbekal petunjuk online yaitu google maps. Hahaha. Meski sudah tersedia petunjuk jalan, didukung dengan kondisi jalan raya yang bagus tetap saja kurang percaya diri. Mohon dimaklumi kalau tidak paham dengsn rute jalan, ya. 😛

Inginnya kami lewat jalan raya utama, tapi aplikasi dari google maps ini membawa kami melewati jalan alternatif. Tidak masalah, sih, karena pada akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. 😀

Sampai di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pantai Jetis, Cilacap.

Eh, ternyata Pantai Jetis ini dikelola oleh Desa Wisata Karangbanar. Aku tahu informasi ini dari karcis parkir yang di dalamnya mencantumkan pengelola obyek wisata dan juga tempat parkir. Ingin rasanya ngobrol-ngobrol dengan pemuda yang menjaga tempat parkiran, namun karena tidak ada keberanian untuk menyapa mereka, aku memilih untuk menuju TPI. Ya, setelah membayar retribusi parkir senilai Rp 5 ribu, mereka mengizinkan wisatawan mengendarai sepeda motor sampai kompleks TPI, bahkan keliling pesisir pantai.

Sesampainya depan TPI, rasa ingin segera menikmati olahan seafood makin tinggi. Tanpa pikir lama dan saking nafsunya, aku keliling pasar untuk membeli udang dan cumi-cumi. Dari kejauhan, lobster dan cumi nampak menggairahkan sekali. Aku langsung menyampaikan niat ke tante kalau aku mau beli 1 kilo untuk dimasak nanti. Bringassssss! 😆 😛 😛

Duh…kenapa udangnya pucat kayak aku, ya?” Aku membatin sambil melirik kiri-kanan kios di mana semuanya menawarkan udang, cumi, dan ikan laut. Karena merasa kurang gereget, aku pindah lapak dengan harapan dapat menemukan yang segar-segar kayak Kecemutku kalau habis mandi. Hasilnya? Sama saja, semua nampak layu tidak menggairahkan. Hahaha.

Mbak, para Nelayan tidak lama lagi mendarat. Belinya di TPI sana saja, lebih segar dan murah.” Seorang laki-laki yang sedang membeli udang bersama isterinya menunjukan tempat pesta seafood alisa TPI yang lokasinya bersebelahan dengan pasar ikan. Yaa….aku kira kami tidak boleh masuk TPI yang lokasinya tidak begitu luas, makanya menyusuri pasar untuk jajan seafood. 

Masakan seafood Bu Masiyah

kuliner dipantai jetis (1)

Menunggu para nelayan lumayan lama, ada 20 menit mungkin, akhirnya kami mendapat udang dan cumi segar! Satu per satu para nelayan membawa hasil tangkapannya. Dan di depan pintu masuk TPI, sudah antre para pelanggan, dong. Ketimbang menunggu lagi, kami masuk lewat pintu samping dan langsung memesan udang dan cumi berukuran sedang untuk dimasak. 😀 Btw, harga udang ukuran sedang di sini yaitu Rp 20 ribu per kilo. Sementara di tempatku biasanya Rp 35 ribu. Hanya selisih Rp 15 ribu. 😆

FYI, di Pantai Jetis ada beberapa warung yang membuka jasa memasak. Salah satunya yaitu warung Bu Masiyah. Warung yang cukup luas dan nyaman ini menawarkan beragam menu masakan seafood. Di sini, antara pedagang dan pemilik warung saling kontak. Pedagang ikan laut menawarkan beberapa warung yang buka pada hari itu dan melayani jasa memasak, kemudian wisatawan boleh memilih.

Kami memilih warung Bu Masiyah ini karena lokasinya paling dekat dengan TPI. Selain itu, warung ini sedang sepi pengunjung. Artinya, kami bisa lebih cepat makan siang! Hahaha. Ya, sudah saatnya makan siang dan perut sudah tidak bisa dikompromi.

Udang saus pedas, cumi goreng dan tumis kangkung menjadi menu makan siang kami. Rencana mau beli udang dan cumi satu kilo untuk dimasak, realisasinya beli setengah kilo saja sudah kenyang banget dan cuminya cuma seperempat kilo. Kenyang makan seafood di pantai rasanya beda banget dengan kenyang makan seafood di resto. Ini betul-betul nikmat kenyang yang tak terkira. Belum lagi ditambah view pantai dengan birunya laut dan langit yang cerah, senang-senang kenyang.

Cita rasa masakan seafood Bu Masiyah tergolong enak. Harumnya jahe di saus udang begitu terasa. Harga jasa memasaknya juga tidak mahal, hanya Rp 15 ribu per menu. Harga jasa memasak tentunya disesuaikan dengan banyaknya olahan. Harga jasa memasak satu kilo udang tentu berbeda dengan dua kilo udang, dong. 😉

PANTAI JETIS

FYI (lagi)aku ke Pantai Jetis pas hari Minggu, hari libur kerja. Namun tempat ini sama sekali sepi wisatawan. Warung-warung yang berada di kompleks pantai juga hampir semua tutup. Sepertinya hanya kompleks warung Bu Masiyah dan sekitarnya yang buka. Itupun hanya beberapa. Aku penasaran, dong, kenapa pantai ini bisa sepi banget padahal hari Minggu.

Usai makan siang, kami menuju pangkalan perahu Maliando Putra. Di sini wisatawan bisa sewa perahu dengan membayar Rp 50 ribu untuk satu perahu. Jika ingin lebih murah, wisatawan harus menunggu penumpang lain. Namun tidak dapat dipastikan juga akan ada penumpang lagi atau tidak. Menurut Pak Mul, salah satu sopir perahu motor, Pantai Jetis memang tergolong sepi. Pantai akan ramai jika musim libur sekolah dan lebaran, itu pun ramainya standard. Duh…ini beneran kunjungan wisatawan ke Cilacap begitu minim? Ini kenapa coba? Masih mencari tahu, tapi tentu bukan karena aksesibilitas karena banyak pilihan transportasi menuju Cilacap, dari pesawat sampai kereta api. Jadi, transpotasi bukan kendala utama, apalagi untuk moda kereta api ini banyak pilihan stasiun tujuan di Cilacap. Stasiun Sidareja, misalnya.

pantai jetis cilacap (2)

Jadi, tinggal menyiapkan waktu untuk kembali ke Cilacap dan mencoba menginap beberapa hari di sana. Traveling sambil cari tahu, kenapa Cilacap dengan ratusan destinasi wisata, wisawatan tetap sepi. Sabar ya, Mas Pras. Nanti akan indah pada waktunya. Sabar duluuuu. 😀

Baca juga artikel tentang Pengalaman ke Pantai Jetis Saat Pandemi.

Wisata Tampomas dan Danaunya yang Hits

Gunung Tampomas yang sekarang sudah menjadi obyek wisata tampomas, tahun ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Banjarnegara setelah kawasan dataran tinggi Dieng. Aku tidak melakukan survey untuk ini, sih. Hanya saja melihat banyaknya wisatawan yang terus berdatangan baik weekday maupun weekend.

Pemerintah desa Gentansari yang baru melakukan pengembangan tahun ini bisa dikatakan sukses menarik perhatian wisatawan. Apalagi setelah banyak berbenah mulai dari penataan obyek wisata sampai dengan pengadaan fasilitas umum, banyak wisatawan terlihat sangat menikmatinya.

Flashback Wisata Tampomas.

Obyek wisata yang menyuguhkan pemandangan alam berupa pepohonan, tebing bekas galian batu dan wisata perahu di danau, dulunya dimanfaatkan oleh wisatawan untuk sakadar swafoto dan prewedding. Meski sudah menjadi obyek wisata, masyarakat sekitar masih aktif menggali dan memecah batu di sekitar lokasi. Namun kini, aktivitas tersebut sudah tidak ada karena pemerintah desa telah menata ulang, melakukan pengembangan, dan menjadikannya sebagai destinasi wisata secara utuh.

Tampomas masa kini.

Aku terkesima saat melihat sepeda motor berderet memanjang ke belakang mulai dari jalan utama masuk obyek sampai depan pintu masuk. “Gilaa…ramai banget, Tampomas!” Aku berbisik kepada suami yang sama-sama sedang memperhatikan deretan motor tersebut. Dia pun ikut terkagum-kagum.

Sepeda motor yang memanjang itu ternyata sedang antre tiket masuk. Antrean dibuat dua baris untuk sepeda motor. Sementara masih sisa separo jalan digunakan untuk lalu lintas. Pemuda-pemudi desa setempat yang bertugas terlihat kompak melayani wisatawan dan mengatur  jalannya antrean. Ada yang bertugas menghentikan laju sepeda motor, ada yang memberikan tiket masuk, dan ada juga yang mempersilakan wisatawan menuju tempat parkir.

Akhir pekan itu, tepatnya seminggu setelah lebaran tahun ini, obyek wisata yang berlokasi di Kecamatan Pagedongan, tepatnya di Dusun Mendingin, Desa Gentansari, betul-betul banjir wisatawan. Mulai dari anak-anak sampai orang tua, raut wajahnya nampak bahagia. Terlebih anak-anak karena ada banyak pilihan permainan di sini. Odong-odong, misalnya. Di sini ada lebih dari satu odong-odong yang standby di area wisata. Belum lagi permainan lainnya yang sukses menjadi magnet obyek wisata ini. 😀

Tiket Masuk Wisata Tampomas.

Dengan membayar tiket masuk Rp 3.000 per orang, anak-anak sampai usia 5 tahun masih free tiket masuk dan parkir Rp 2.000 per motor, aku yang saat itu datang bersama Kecemut, Suami dan keluarganya dedek Al, sepakat untuk membahagiakan anak-anak ke istana balon. Hahaha. Ya gimana lagi, mereka langsung teriak heboh melihat permaianan tersebut.

Melihat deretan permainan anak di kompleks Tampomas, sungguh ini diluar ekspektasi. Memang, ini bukan kali pertama aku datang ke Tampomas. Namun ini menjadi kali pertama aku melihat obyek wisata alam yang mana di dalamnya terdapat aneka permainan anak. Saat itu aku melihatnya dari tempat media informasi yang berada di atas atau bukit. Sudah seperti di pasar malam.

Ada apa saja di Tampomas?

Asli, permainan anak ini ada di dalam kompleks wisata, menyatu dengan obyek wisata. Menurut salah satu pelapak, permainan anak baru mulai masuk saat pekan lebaran. Hari-hari biasa, mereka tidak ada di sini. Meski hanya ada saat pekan lebaran dan bisa dibilang karena memanfaatkan momen, tetap saja yang seperti ini bikin geregetan. Kenapa tidak dikumpulkan di luar obyek wisata supaya lebih fokus pada suguhan alam Tampomas, gitu. Ugh! 😆

Setelah puas bermain di istana balon, aku mengajak Syaquita dan Al untuk naik kuda. Aku kira Syaquita bakal tertarik dengan naik kuda ini, ternyata dia masih takut. Hahaha. Jadi, hanya Alkarim saja yang naik kuda. Oiya, Kuda yang disewakan di sini ada dua ekor. Untuk dapat naik kuda ini, wisatawan dikenakan biaya Rp 10.000 per sekali putaran. Pemandunya baik-baik dan ramah juga sama anak. Sambil keliling, pemandu kuda tunggang ini terus mengajak si kecil berkomunukasi. Anak pun betah jadinya. 🙂

Setelah anak-anak puas bermain, kami mengajak mereka untuk naik perahu mengelilingi danau. Untuk menuju danau, kami harus melewati beberapa anak tangga lalu kembali antre menunggu perahu. Di sini tersedia tiga perahu dan satu perahu maksimal berisi 10 orang dewasa. Tarif naik perahu Rp 5.000 per orang, anak-anak tetap dikenakan tarif sama seperti orang dewasa. Tarif tersebut sudah termasuk sewa life jacket.

Lagi-lagi aku merasa geregetan karena perahu yang beroperasi di danau ini ternyata menggunakan mesin motor. Apalagi saat melihat bunga teratai tumbuh di tengah dan pinggiran danau. Belum lagi habitat-habitat di dalam danau itu, apa kabar mereka? Sedih rasanya. 🙁

Seketika aku teringat Telaga Merdada, sebuah obyek wisata alam di Desa Karang Tengah, Kecamatan Batur. Telaga Merdada telah menjadi destinasi wisata yang terkenal dengan Kayaknya. Pengelola Telaga memilih menggunakan Kayak untuk eksplorasi Telaga karena pertimbangan makhluk hidup yang tumbuh di sekitar Telaga. Mereka ingin spesies di dalam Telaga tetap utuh, dapat berkembang, dan juga melestarikannya sesuai dengan konsep yaitu wisata alam.

Melestarikan Ekosistem di Tampomas.

Aku kira di Tampomas akan berlaku hal demikian. Menggunakan perahu dayung atau jenis perahu lain tanpa mesin. Namun ternyata tidak.

Pengelola pasti punya alasan kenapa lebih memilih perahu motor ketimbang menggunakan perahu dayung. Seperti zona aman, misalnya. Karena menurut keterangan nahkoda kami, ada beberapa bagian danau yang tidak boleh dilewati karena kedalamannya tidak diketahui -mungkin dalam banget-. Tapi kembali lagi untuk masa depan danau dan ekosistem yang ada di dalamnya, aku sedih. Rasanya lebih ramah menggunakan perahu dayung atau kalau tidak bebek kayuh.

Selain perahu motor dan permainan anak, ada satu lagi yang bikin aku geregetan. Adalah spot selfie. Obyek wisata dengan tema alam yang kemudian menawarkan tempat swafoto dari bunga plastik, tuh, rasanya bikin panas-panas gimana, gitu! 😆 Tapi entah lah, wisatawan merasa geregetan juga atau nyaman-nyaman saja. 😀

Terlepas dari pengembangan yang beberapa keluar dari tema alam, aku happy di Kabupaten Banjarnegara kembali muncul wisata hits yaitu Tampomas. Semoga Banjarnegara makin ramai dengan pariwisatanya yang terus tumbuh.

Wisata Tampomas, Banjarnegara

PayLater Traveloka, Bikin Liburan Hemat dan Menyenangkan

PayLater Traveloka, Bikin Liburan Hemat – Kemudahan dalam traveling kini makin menjadi-jadi. Tidak hanya dari sisi transportasi yang dapat dipesan hanya dengan sekali klik, lalu bayar. Tetapi juga dapat mendapat fasilitas “piknik dulu, bayar kemudian”. Siapapun bisa traveling dengan biaya dibayar belakangan. Racun banget, kan!

Racun ini datang dariTraveloka yang saat ini memberikan fitur PayLater.  Ada yang pernah dengar tentang PayLater dari Traveloka?

PayLater adalah pembiayaan dari Traveloka bekerjasama dengan Danamas yang merupakan startup lending P2P sebagai mitra penyalur pinjaman dana. Dengan fitur yang tersedia di aplikasi Traveloka ini, kamu bisa liburan sekarang, bayar kemudian. Gimana, tuh? Nyenenging banget, sih? Atau, ada yang belum paham?

Emm…gini deh! Kamu pernah punya kartu kredit? Adakalanya kartu kredit itu sangat membantu ketika seseorang sedang butuh banget, tapi tidak punya uang tunai. PayLater ini juga membantu buat yang hobi traveling namun belum mempunyai cukup uang. Ya, fitur PayLater dari Traveloka memungkinkan para pengguna Traveloka untuk berlibur dahulu dan biaya liburan baru dibayar kemudian dengan cicilan sangat ringan. Alternatif banget jika bagi aku, kamu, dia, dan mantan yang pingin traveling tapi lagi dompet lagi cekak alias bokek karena sekarang bisa memanfaatkan PayLater Traveloka untuk membiayai liburan. Ini gila, sungguh. 😆

Nah, sebelum bertransaksi menggunakan PayLater, aku beri informasi penting tentang PayLater Traveloka, ya. Bacanya pelan-pelan saja, jangan napsu dulu dengan fitur Traveloka yang satu ini sebelum baca blog post ini sampai akhir. 😛

Cicilan Online Tanpa Kartu Kredit

Informasi paling utama yang harus aku sampaikan yaitu bahwa setelah menggunakan PayLater Traveloka, kamu bisa mengangsur tanpa kartu kredit. Ya, dengan PayLater Traveloka, pelanggan setia Traveloka bisa mencicil biaya liburan tanpa perlu menggunakan kartu kredit antara 1 -12 bulan dengan cicilan. Cara membayar pun bisa secara online.

Semua transaksi di Traveloka, bisa dicicil dengan PayLater. Mulai dari pembelian tiket kereta api, tiket pesawat terbang, hotel hingga tiket masuk wahana hiburan. Dengan nominal pinjaman antara Rp 2 – Rp 10 juta, PayLater bisa digunakan untuk semua transaksi yang kamu perlukan selama liburan bersama Traveloka.

TRAVELOKA-PAY-LATTER

Syarat Daftar PayLater Traveloka

Cara mendaftar PayLater di Traveloka cukup mudah. Hanya memerlukan kartu identitas berupa KTP (Kartu Penduduk), kemudian melengkapi syarat pendukung seperti KK, NPWP, atau kartu BPJS dan nomor telepon keluarga yang tidak tinggal serumah. Data ini penting untuk disiapkan sebelum melakukan transaksi agar prosesnya lebih lancar. Syarat pelanggan yang dapat menikmati PayLater adalah kamu yang sudah berusia 21 tahun dan maksimal berusia 55 tahun. Ini usia sudah mateng, ya. Sudah berpenghasilan juga karena untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan buruk terkait dengan cicilan.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (4)
Mau lah, liburan ramai-ramai gini….nyicil! hahahaa

Hanya perlu waktu kurang lebih satu jam untuk proses verifikasi PayLater. Selama proses ini, pastikan nomor telepon kamu dan juga keluarga yang didaftarkan dalam kondisi aktif agar proses pendaftaran lebih lancar. Dengan rentang waktu cicilan yang bisa dipilih, nominal pembayaran bisa kamu sesuaikan dengan kemampuan. Jika selama satu periode PayLater kamu lancar, maka transaksi berikutnya dengan PayLater akan lebih mudah.

Warning banget buat kamu yang suka telat bayar-bayar atau pelupa kayak aku. Lupa punya hutang? What? Oh….no! Hahahaha

Beli Tiket Pesawat Murah Dengan PayLater

PayLater Traveloka juga membuat transaksi pemesanan tiket pesawat jadi lebih mudah. Tidak hanya bisa menanggung biaya pribadi, dengan limit yang cukup besar dari PayLater, kamu bisa membeli tiket pesawat untuk seluruh keluarga. Artinya, liburan bersama keluarga atau momen mudik pun tidak lagi bikin kepala pening, karena kamu bisa kredit tanpa kartu kredit yaitu cukup dengan menggunakan PayLater Traveloka. Tentukan tujuan kunjungan sekarang juga, kapan akan berangkat, serahkan urusan biaya ke PayLater Traveloka yang mudah digunakan. Ehhh…sudah dibantu seperti ini, jangan lupa ciciliannya, yaaa. 😛

TRAVELOKA-PAY-LATTER-2

Transaksi di Jam Kerja

Untuk mendapatkan manfaat lebih dari Traveloka ini, pastikan untuk melakukan transaksi di hari dan jam kerja. Karena proses verifikasi memang akan dilakukan pada waktu ini. Sisihkan waktu sebentar di antara kesibukanmu pada waktu weekdays untuk memproses transaksi menggunakan PayLater. Selain lebih lancar, transaksi ketika weekdays juga memperbesar kemungkinan kamu mendapatkan tiket pesawat dan hotel dengan harga lebih murah daripada ketika akhir pekan. Ini sudah rumus banget, ya. Memesan jauh-jauh hari atau hindari pemesanan pada weekend.

FYI, hanya dalam waktu satu jam setelah pengajuan dilakukan, dana akan cair dan membayar semua transaksi kamu di Traveloka. Menyenangkan sekali, bukan?

Jadi nih ya, semisal sudah punya rencana tujuan wisata atau travel bucket list dan ternyata tabungan belum mencukupi, PayLater bisa menjadi solusi. Tapi tetap harus ingat, punya hutang harus dibayar lho, ya. Buat cicilan sesuai kemampuan supaya liburannya juga nyaman dan happy! 😉

Hai, PayLater! Aku pingin ke Ende sama ke Samosir, tak berhitung dulu cicilannya, ya. Hahaha.

Punya Rencana Menginap, 5 Barang ini Wajib Aku Bawa

Hidup bergantung dengan orang, tuh, sama sekali tidak nyaman. Iya, bagiku ketergantungan ini bukan lagi masalah enak atau tidak enak karena urusan hati, tapi lebih pada ketidaknyamanan. Aku yang akan bergantung saja merasa tidak nyaman, apalagi orang lain yang akan menjadi tarjet atas ini, sudah pasti tidak nyaman. 😆

Aku kira ketergantungan yang membuat tidak nyaman ini hanya ada dalam hidup, namun ternyata tidak. Saat traveling atau saat punya agenda menginap, misalnya. Bergantung sama teman seperjalananpun kadang tidak nyaman. Apalagi perkara pinjam meminjam, ya…kalau emang udah soulmate seperti aku dan Tante, sih, tidak ada canggung. Tapi kalau bareng teman yang ketemunya bisa dihitung jari dalam satu tahun, atau bahkan baru kenal, dipastikan akan kurang leluasa dalam pinjam meminjam. Ini kalau aku, sih. Makanya saat punya agenda menginap, aku berusaha untuk prepare sebaik mungkin.

Tiap akhir pekan dalam dua minggu yang lalu, aku menginap dengan beberapa teman untuk suatu kegiatan. Sebenarnya aku bisa pulang, sih, karena kegiatan yang aku lakukan masih di Banjarnegara. Tempat kegiatan pun tidak jauh dari rumah, kurang lebih 45-60 menit perjalanan dari rumah. Namun karena sudah kesepakatan, tidak ada pilihan lain selain ikut aturan main. Hahaha.

Nah, saat menginap kemarin ini, aku merasa ada banyak barang bawaan yang pada akhirnya tidak aku pakai. Salah satunya yaitu kaus. Ya, aku terlalu banyak bawa kaus. Padahal, ketika aku menginap di luar kota biasanya tidak pernah membawa banyak kaus. Mending beli ketimbang bawa dari rumah. Dari sini, aku makin paham bahwa, ternyata beberapa barang yang aku bawa kadang memang kurang tepat guna.  Kesal rasanya! Hahaha. Yasudah…akhirnya aku hanya menggaris bawahi 5 barang yang wajib aku bawa ketika hendak menginap. Kelima barang tersebut yaitu:

Charger

Ini paling penting dan tidak bisa ditinggalkan. Mending tidak membawa handphone ketimbang tidak membawa charger. *eeeh, apa apanya dong, ini. 😆 Baik charger Handphone maupun Kamera, aku selalu membawanya, selalu ada di tas. Rasanya tidak nyaman ketika harus meminjam charger padahal sedang digunakan oleh yang punya atau teman lain, sementara aku lagi butuh-butuhnya.

Selaincharger hanphone,  untuk kebutuhan senter mini  yang mana menggunakan baterai AAA, aku juga membawa charger untuk kembali melakukan pengisian ulang bila perlu. Ya, saat ini teknologi terkait dengan baterai ini telah melakukan inovasi yaitu dengan membuat baterai dengan sistem rechargeable dengan banyak keuntungan. Aku pun termasuk yang pro dengan sistem rechargeable baterai karena lebih hemat dan ramah lingkungan. Apalagi sekarang pembelian baterai AAA rechargeable makin mudah melalui marketplace Bukalapak. Yaudah, tinggal meluncur ke website Bukalapak atau melaui aplikasi.

 Make up

PERLENGKAPAN MENGINAP (3)
Tak bisa keluar rumah tanpa make up yang satu ini…

Ini tidak main-main dan penampilan akan turun sampai 100 derajat jika menginap tanpa membawa bekal make up. Apa jadinya bibir ini tanpa lipstick. Hahaha. Selain itu, dalam hal satu ini memang agaknya bikin was was kalau sampai pinjam meminjam. Ya…penggunaan make up tiap pribadi kan berbeda, mulai dari warna sampai kecocokan dengan merek tertentu. Makanya, siaga banget harus dibawa sekelompok barang ini ketika henda menginap. 😀

Dompet

PERLENGKAPAN MENGINAP (3)
Dompet andalan kemana-mana…

Apaaa? Dompet isi duit? Iya, tapi secukupnya. Dompet yang aku maksud di sini yaitu bukan dompet yang digunakan sebagai alat menyimpan uang, namun lebih pada surat atau kartu penting yang harus dibawa supaya diri lebih aman. Aku sendiri hampir tidak pernah menyisakan lembaran uang di dalam dompet, lebih memanfaatkan ATM yang aku punya. Dan ATM yang aku bawa pun maksimal 2 ATM sebagai jaga-jaga.

Sandal

Entah kegiatannya satu atau bahkan sampai 3 hari lebih, aku pasti membwa sandal untuk kebutuhan pribadi.  Sandal yang aku bawa pun bukan sandal yang formal, melainkan sandal japit agar multi fungsi. Bisa dipakai saat santai, bisa juga dipakai saat harus berinteraksi dengan air. Sandal ini sangat sepele, tapi juga tidak bisa semena-mena saling pinjam, apalagi buat mereka yang selalu ingin sandalnya kering. Uwuuuw banget pasti. 😛

PERLENGKAPAN MENGINAP (3)
Sandal model apapun, yang penting harus bawa…

Minyak Telon

Hayo…kamu tim salonpas, koyo cabe atau minyak telon my baby? Ini niat banget sebut brand, ya. Hahaha. Saat melakukan perjalanan jauh atau menginap, kadang ada saja penyakit ringan menghampiri. Tiba-tiba kembung, pilek, sakit pinggang, masuk angin, dll dll. Kalau sampai mengalami penyakit kekinian, aku biasanya mengoleskan minyak telon atau fresh care. Sebenarnya stok untuk penyegaran aku selalu bawa dua, sih. Tapi aku lebih suka pakai minyak telon dengan merek my baby karena aromanya itu mengingatkan aku dengan Kecemut kalau habis mandi. Seger!

Dengan membawa lengkap barang yang menjadi kebutuhan diri saat menginap, aku merasa lebih tenang dan bangga dengan diri ini karena artinya sudah siap menginap. Tidak ada lagi kata merepotkan, tidak enak hati, apalagi ketergantungan. 😀 Apa-apa sudah disiapkan dan tinggal pakai, bebas merdeka rasanya. 😛

Omong-omong, apakah kamu punya barang yang wajib dibawa saat hendak menginap? Boleh lah sharing. 😛