Gunung Bromo dan Alasan Kenapa Aku Ingin Kembali Mengunjunginya

Bromo termasuk salah satu destinasi wisata yang ingin kembali aku kunjungi. Ngga ada ribet-ribetnya naik Gunung Bromo. Tinggal jalan beberapa meter dari kaki Gunung Batok, naik ratusan anak tangga, elap keringat yang bercucuran sampai leher, pegang boyok berkali-kali, minum air putih yang cukup, sampai lah di puncak yang mana ada kawah aktif di sana.

Semudah itu untuk mencapai Bromo, ya. Mudah banget, apalagi kalau bisa menikmati perjanalan menuju puncak. Tangga untuk naik dan turun disediakan secara terpisah, sisi kanan dan kiri. Memang, tangganya ngga terlalu lebar, namun wisatawan masih tetap bisa istirahat di anak tangga meski dengan cara berdiri. Iya, berdiri sambil menikmati hamparan pasir yang begitu luas.

Sayangnya saat itu, aku mengurungkan niat untuk melihat kawah Bromo dari dekat. Aku merasa sudah cukup dengan berburu sunrise dan bermain pasir di kaki Gunung Batok tanpa naik ke Gunung Bromo yang telah menjadi landmark Kota Malang, Jawa Timur. Memang keputusan yang cemen, tapi aku biasa saja. Ngga ada rasa menyesal sekalipun.

 

Traveling kali ini, aku mendapat keluarga baru serta pelayanan spesial dari seorang teman Blogger Malang, yaitu Pakde Misbach. Dicarikan tempat untuk menginap semalam yaitu di rumah Mbak Aan, teman Pakde Misbach. Disewain Jeep merah yang begitu nyaman, sampai diajak kulineran khas Malang. Nikmat yang luar biasa, bukan? Pokoknya lain waktu mau kayak gini lagi. 😆

Deru mobil jeep di depan rumah Mbak Aan terdengar jelas. Masih dini hari dan mataku masih terjaga karena ngga nyenyak tidur. Ini salah satu kebiasaan jelekku jika hendak bepergian dini hari, ngga bisa bobok. Padahal sudah tahu ada agenda ke Bromo, bukannya istirahat cukup, malah mata enggan terpejam. Beuuuh…

Berangkat dari Tumpang pukul 02.00 WIB, bersama Mbak Yun, Keluarga Mbak Aan, dan Pakde Misbach. Wajah lelah masih nampak jelas meski sudah dipoles bedak. Tenaga pun rasanya belum terisi penuh, padahal sudah sarapan. Ini karena sebelumnya aku dan Mbak Yun jalan-jalan di kawasan wisata Kota Batu seharian penuh. Tapi karena tarjetnya adalah sunrise Bromo, aku pun harus melawan kantuk dengan cerdas. Eh, emang bisa, gitu? 😆 Bisa banget, dengan cara bobok lagi di sepanjang perjalanan Tumpang sampai Bromo. Dan tahu ngga? Di dalam Jeep, aku bisa tidur pules padahal jalan menuju Bromo, tuh, penuh liku dan tanjakan. Harap maklum, aku sudah terbiasa dengan rute jalan seperti itu. Hampir samaan dengan jalan menuju Dieng lewat Banjarnegara.

“Udah sampai Bromo, nih. Banguuun…banguun.”  Suara Pakde Misbach ngga ada manja-manjanya. Ngga ada istilah bangunin pakai bisik-bisik, gitu. Hahaha. Aku pun langsung melek dan kaget karena melihat banyaknya Jeep yang sudah berderet di area parkir. Sepagi ini, sudah banyak orang berkeliaran di Gunung. Aah…ngga heran, namanya saja tempat wisata. Qiqiqi.

“Waaah…ini sudah di Bromo. Gunungnya gede amat. Cakep pula.” Batinku sambil memandang Gunung Batok yang saat itu kukira Gung Bromo. Ini otak kenapa ngga ada cerdas-cerdasnya, ya. Hahaha. Akhirnya…setelah menempuh perjalanan kurang lebih sembilan puluh menit, sampai juga di Bromo. 😀

Pasar Pagi Penanjakan, Bromo…

Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Sebagai sebuah obyek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif, memiliki lautan pasir yang luas dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Sesampainya di kawasan Bromo, kami langsung menuju Penanjakan, salah satu tempat khusus untuk menyaksikan matahari terbit, yang saat itu ramainya udah seperti pasar pagi. Ada yang nawarin naik ojek, ada yang ngajakin jalan kaki, ada yang minta digandeng karena kedinginan, ada juga yang colek-colek punggung karena pingin cepat menikmati sunrise. Ramai gedumbreng pokoknya.

Ada yang bilang, berburu sunrise di Penanjakan, kurang maksimal. Apalagi pas akhir pekan, ramaine pool. Dan ternyata memang betul. Banyaknya orang yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu melihat sunrise, membuatku agak deg-degan. Apalagi, hampir semua orang ingin mengabadikan moment sunrise dengan lensanya. Beruntung, wisatawan bisa kalem, ngga dorong mendorong seperti sedang nonton dangdutan di kampung. 😀

Asli, aku sudah sampai Penanjakan…Hahaha

Kami di sini ngga begitu lama karena mataharinya saat itu ngga nampak penuh. Hanya semburat jingga saja. Tetap cantik, sih, cuma kurang gereget saja. Lagipula, masih ada beberapa destinasi yang akan kami datangi. Makanya, setelahnya langsung kembali ke area parkir Bromo dengan mengendarai Jeep kesayangan.

Aku baru merasakan asyiknya jalan di atas pasir dengan naik jeep. Jadi ingat iklan rokok apa, gitu. Saking pinginnya lihat pemandangan lepas, aku sama Mbak Yun minta duduk di atas Jeep. Norak banget, ya. Hahaha. Melihat panorama padang pasir dengan jelas, di sini lah aku merasa lemah, lalu memutuskan untuk dadah-dadah dengan Bromo dan lebih memilih mainan pasir.

Melihat ratusan anak tangga dan panasnya cuaca saat itu, dengan berat hati aku melambaikan tangan kepada Bromo. Padahal teman-teman nampak semangat untuk mencapai Bromo. Tapi sayang banget, semangatnya ngga nular ke aku. Hahaha. Yaudah, akhirnya mereka ngga naik dan kami duduk di sekitar Gunung Batok dan jalan-jalan di sekitar Pura Luhur Poten yang masih berada di kawasan Bromo. Andai aku putuskan untuk naik sampai Kawah Bromo, mungkin bisa sampai, sih. Tapi ngga tahu kenapa, mainan pasir lebih menggoda. Aku mainan pasir, sementara teman-teman yang lain pada pepotoan. Sama-sama menikmati. 😉

GUNUNG BROMO 3
Butuh aquwa…hawus banget!

Cuaca makin panas, bola mataku bergerak pelan melihat arah Bromo. Saat itu juga aku meyakinkan diri. Tepat di samping Pura, aku berikrar bahwa aku pasti bisa sampai Bromo lagi. Entah kapan, yang jelas pingin ke Bromo bersama keluarga. Selain untuk menuntaskan mimpi, yaitu naik ke Bromo, aku ingin kembali ke Bukit Teletubbies. Rerumputan yang harusnya asyik banget buat indiahe-indiahe, saat itu sama sekali ngga bernyawa. Kata Pakde Misbach, kalau ke Bromo baiknya jangan di musim kemarau. Aku ke sini kalau ngga salah pas bulan September, lagi hot-hotnya. 😆

River Tubing di Kali Panaraban, Ada Alasan Kenapa Aku Akan Kembali

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”. Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman blogger di dekatku yang ikut river tubing di Kali Panaraban. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendang karena pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing kali panaraban. 😀

Kenapa minta ditendang cobak? Karena sore itu aliran sungai ngga sederas hari biasanya. Ini menjadikan tubing kerap nyantol bebatuan. Selain itu, kami sering salah jalur juga. 😆 Meski demikian, kami masih sempat ketawa jahat saat melihat teman lain yang selalu berjodoh dengan bebatuan di kali. 😀

Eeeh, kamu bisa ngebayangin ekspresiku saat minta ditendang? Jadi nih ya, suaraku tiba-tiba sok manja, cengar-cengir tengil, sambil mencoba menggoyangkan tubuh yang tengah rileks duduk di atas tubing agar bisa lepas dari belenggu bebatuan. 😆 😀 Duuh…rasa-rasanya udah kayak puteri duyung versi Pretty Asmara, deh. Emang ada? Wkwkwk

RIVER TUBING PANARABAN WANAYASA
Enak zamanku to?

Sore itu, river tubing di Kali Panaraban tetap dilaksanakan, dan ini luar biasa!

Tepat pukul 15.00 WIB, aku, bersama teman-teman Blogger dari Banyumas dan Wonosobo, tiba di Balai Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Sebelum menuju Kedung Umpluk, tempat mulai tubing, aku beri tahu sedikit informasi tentang Kecamatan Wanayasa.

Masuk daerah Wanayasa, hawa dingin mulai terasa sampai dinding kulit. Karena kecamatan ini cukup dekat dengan dataran tinggi dieng, kira-kira empat puluh lima menit, tak heran jika suhu air dan udara pun hampir sama dengan Dieng. Makanya, para operator river tubing sempat memastikan kesediaan kami untuk tetap menikmati tubing, atau cukup melihat arus Kali Paraban. Dengan mantap, kami memilih untuk tetap tubing. Susur sungai sore hari dengan kondisi air yang tergolong dingin. Luar biasa, ya!

Iyalaah…soalnya sayang banget kalau sampai ngga jadi nge-tubing. Udah naik mobil terbuka selama enam puluh menit, udah lama menunggu para operator menyiapkan peralatan tubing, masak batal tubing. Kan ngga asyik. Lagipula, kalau bukan sore ini, sepertinya bakal ngga ada waktu lagi karena esok hari pasti tenaga udah lempoh di acara Pesta Budaya Kalilunjar.

Berbekal ketaatan pada rundown, kami memutuskan untuk memakai lifejacket, pelindung kepala, decker untuk pelindung tangan dan kaki yang telah disediakan oleh teman-teman Pokdarwis Tirta Panaraban. Omong-omong, pokdarwis ini lagi hot-hotnya, lho. Baru diresmikan bulan Maret tahun 2017 berdasarkan SK dari Bupati Banjarnegara. Mereka lagi gesit-gesitnya mempromosikan potensi Desa Dawuhan. Salah satunya yaitu Kali Panaraban yang kini dimanfaatkan untuk olahraga River Tubing.

RIVER TUBING
Semangatnya ngalahin pas mau ketemu patjar. . . Hihihi

Perjalanan menuju Kali Panaraban dimulai dari depan Balai Desa Dawuhan, kemudian lanjut jalan manja melewati perkebunan dengan waktu kurang lebih sepuluh menit. Untuk meringankan para operator, tiap peserta membawa satu tubing yang nantinya akan digunakan untuk susur kali. Supaya ngga terasa berat, angkat tubing dengan dua tangan, lalu letakkan di atas kepala. Ini lebih nyaman ketimbang dijinjing apalagi dipeluk. 😆 Anggap saja sedang nyunggi kerupuk, ya. Ini tip, lho. Hahaha.

Yes…akhirnya nyobain paket tubing Happy Fun

Mengingat waktu yang kami punya cukup terbatas, para operator tubing Delta Dantana menyarankan kepada kami untuk mencoba track river tubing yang paling dekat. Estimasi waktu kurang lebih satu jam dengan kondisi air kali yang ngga begitu deras. Kami pun mengangguk pasrah karena ternyata kami masuk kali jam 16.30 WIB. Brrr

Baca juga tentang River Tubing Kali Oyo.

Satu per satu tubing mulai digelindingkan ke kali. Sebelum tubuh menyatu dengan air, Mas Alwanto (guide air) memimpin do’a untuk keselamatan aktivitas kami. Saat itu ngga ada sesi pemanasan seperti yang biasa dilakukan di depan Balai Desa Dawuhan sebelum mulai river tubing. Lagi-lagi, karena keterbatasan waktu. Tapi aku percaya, para Operator Delta Dantana tuh tangkap, tangkas, dan trengginas, seperti moto mereka. Ini lah yang membuatku cukup tenang. Terpenting selalu ada komunikasi, baik dengan teman maupun operator. 😉

PERSIAPAN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Buuuk, gayanya biasa aja bisa, kaaan?

Satu per satu kaki masuk ke dalam air. Nyesss…celana pun mulai basah. Brrr…duiingin, asli dingin banget. Tapi melihat semangat para Operator, dingin pun berhasil tersamarkan sampai akhirnya aku bisa duduk di atas tubing dengan bahagiaaaaa! 😉

Paket tubing yang kami jajal sore itu adalah Happy Fun dengan jarak tempuh kurang lebih 1 km. Jika debit air sedang tinggi, jalur ini bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit. Menurut Pak Supri, pegiat Desa Wisata setempat, jalur ini biasanya diambil oleh anak-anak SD atau SMP. Jeramnya memang ngga begitu banyak dan pendampingannya pun mudah. Cukup aman buat anak-anak.

Arus sungai lebih sering membawa kami ke sebelah kiri di mana pepohonan itu bergelantungan. Kalau seperti ini, harus fokus ke depan supaya ngga kesambet. Yaa…meski hanya kesambet dedaunan, ternyata sukses bikin kaget, lho. Kaget plus sedikit perih, meski ngga seperih pas tahu kalau babang gebetan ternyata sudah punya tunangan. 😆  😀

ASYIKNYA RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Benerin helmet duluu…

River tubing dengan debit air rendah memang kurang asyik dan kurang menantang. Tapi pas melihat teman-teman lain pada temangsang di bebatuan, rasanya pingin ngakak-ngikiks. Apalagi yang temangsang itu cewek, kayak Eci dan Tiwi. Hanya bisa menunggu Babang-babang guide datang, lalu menggoyangkan hatinya tubingnya. 😀

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”.

Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman yang berada di dekatku. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendangku. Artinya, pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing. Jadi guidenya ngga berat-berat banget laah.

Disambut Api Unggun…

Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib dan kami masih di dalam air. Hahaha. Panik? Ngga, dong! Banyak orang di sekitar kali, banyak teman yang masih di atas tubing, dan hanya aku yang temangsang. Duuh…nasib puteri duyung, ya. 😆

API UNGGUN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Dibuatin Api Unggun…

Beruntung banget sesampainya di Rest Area, kami disambut api anggun yang memang selalu ada untuk para eserta tubing. Aaah…nikmat banget. Meski sebenarnya ada yang kurang, yaitu anget-anget yang lain. Mendoan, misalnya. 😆 Etapi sajian khas di sini bukan mendoan, melainkan tempe wudha. Itu lho, tempe goreng yang ngga dipakein tepung. Hahaha. Tempe ditambah nasi jagung dan ikan asin. Yuummii banget, ya.

Sajian khas lain setelah tubing yaitu ada aneka camilan berbahan dasar singkong. Ya, Desa Dawuhan termasuk salah satu desa penghasil singkong. Duuh…sayang banget, yaa. 😉

River tubing ini bisa dibilang dadakan karena ada miss antar penyambung komunikasi. Meski apa adanya, aku tetap bahagia. Apalagi karena obyeknya air, uuw…tambah bahagiaa.

Tentang Desa Wisata Tirta Panaraban

Desa Wisata Tirta Panaraban dan Wisata River Tubing digagas oleh H. Sakim, S.Pd, Kepala Desa setempat. Ide untuk menjadikan wisata river tubing ini muncul saat di Desanya sedang ada pelatihan rescue. Para pemuda Desa Dawuhan dilatih langsung oleh BPBD Kabupaten Banjarnegara. Nah, saat kegiatan sosial sedang senggang, BPBD mengarahkan para pemuda ke Kali Panaraban untuk belajar menjadi rescue. Dari sini, akhirnya masyarakat sepakat untuk menjadikan Kali Panaraban sebagai obyek wisata olahraga yang dikelola secara swadaya.

Sebelum dimanfaatkan untuk river tubing, Kedung Umpluk, kedung yang berada di bawah jembatan bambu, penuh dengan sampah. Ngga hanya di kedung saja, hampir sepanjang aliran sungai bertebaran sampah sampai ke pinggir sungai. Hmmm…mengerikan, ya. Bukan hanya sampah saja yang menjadikan kali ini ngga sehat, ada tingkah laku manusia juga yang membuat ekosistem di kali ini nyaris hilang. Adalah tangan-tangan jahil manusia yang suka meracuni atau setrum ikan. Hiiih…ngeselin, ya. Pingin njeweer rasanya. Weeerrr…

RIVER TUBING PANARABAN
Jeraam….

Sekarang kamu bisa lihat kondisi Kali Panaraban lewat foto-foto di sini. Lebih bersih, bukan? Aku yang menyusuri sungai saja betah mainan air di sini. Hanya saja, di beberapa titik ada pepohonan yang menjuntai sampai kali dan ini cukup mengganggu aktivitas tubing.

Saat ini, pihak Pokdarwis terus meningkatkan fasilitas untuk river tubing, khususnya. Seperti pengadaan sepatu untuk para wisatawan. Selain wisata tubing, mereka juga pelan-pelan mengenalkan potensi daerah seperti kerajinan tangan, dan camilan khas setempat.

Dan ini alasanku kenapa ingin kembali tubing di Kali Panaraban

Idih…manusia emang ngga ada puasnya, ya. Hahahaha. Ngga, kok. Aku cukup puas dengan tubing ini. Hanya saja, aku pingin nyobain yang paket Full Adrenalin. Jalurnya lebih panjang, lama, dan banyak jeramnya. Tubing dimulai dari bawah aliran Curug Panaraban dan Finish Rest Area. Sekalian main ke Curug. Jarak tempuh kurang lebih 4 km, waktu yang dibutuhkan 90 menit, dan harga untuk paket ini yaitu 140.000 per orang.

Ada satu paket lagi dengan track sedang, yaitu paket Adrenalin. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 60 menit kalau debit air lagi tinggi. Jarak tempuh 2.5 km, dimulai dari Desa Sarwodadi, dengan biaya Rp 75.000 per orang. Untuk dapat menikmati olahraga ini, minimal harus ada lima peserta baru bisa susur Kali Panaraban.

Selain nyobain paket Full Adrenalin, aku pingin juga nyobain masakan mamak-mamak Desa Dawuhan yang katanya endeeus banget. Pingin ngerasain api unggunan, sambil makan nasi jagung. Pingin nyobain aneka camilan dari singkong. Pingin ngobrol lebih lama dengan para operator Delta Dananta (Destinasi Lintas Air, Dawuhan Tangguh Bencana). Abis mereka tetap keliatan semangat nemenin kami ber-tubing, meski udah sore dan airnya dwingiiiinnn.

Kira-kira, kapan ke Dawuhan lagi, ya. Ada yang mau ikut? ^_*

River Tubing Kali Panaraban

  • Alamat: Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara
  • Kontak: +62812 1022 4432 (Pak. Supri)
  • Instagram: @tubingx_panaraban

 

Sowan Ngalas 2017, Menyambangi Kesederhanaan Hutan

Pakaian yang dikenakan mereka didominasi dengan warna hijau. Tiap hari, tiap waktu, nyaris tak pernah ganti. Mereka hidup namun hanya bisa pasrah, pakaian akan semakin hijau, atau berganti cokelat, pekat.

Mereka bernapas namun hidupnya bergantung pada makhluk hidup, manusia khususnya. Mereka, pepohonan di hutan. Akan menjadi lebih baik atau sebaliknya, betul-betul bergantung pada tingkah laku kita sebagai manusia. Ya, sesederhana ini mereka dapat “hidup bahagia”. Hutan makin bahagia, apalagi dengan ekosistem yang ada di sekitarnya. Akan bahagia juga, bukan? Seperti yang kurasakan saat menghadiri event Sowan Ngalas 2017 yang berlokasi di Desa Pesangkalan, Kecamatan Pagegongan, Banjarnegara. Bahagia melihat hutan yang dijaga, dirawat oleh masyarakat Pesangkalan.

Sowan ngalas diambil dari bahasa jawa yang berarti berkunjung ke hutan. Bagi masyarakat Pesangkalan, hutan yang mereka miliki termasuk rezeki yang patut disyukuri. Ya, selain tanahnya subur, hutan di sini begitu rimbun. Tak heran jika masyarakat memanfaatkan kekayaan hutan untuk wana wisata.

SOWAN NGALAS
Jalan sudah beraspal. Pepohonan ada di kiri kanan jalan…

Bersama keluarga, dan teman-teman @vinslog, kami turut menyaksikan sebuah gelaran unik dan menarik yang diselenggarakan oleh Desa Pesangkalan. Ya, event ini begitu nyentrik. Terlebih jika dilihat dari rangkaian acara yang ada di event: Kirab Budaya, Jamasan Pusaka, Sadranan, Jazz Hutan dan Grebek Rakan. Menarik banget, ya.

Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 45 menit dari titik kumpul yaitu alun-alun Banjarnegara. FYI, rute bersama untuk sampai Desa Pesangkalan sudah aku tulis, ya. Penting baget buat ditulis karena ada obyek wisata alami di sana, yaitu Wana Wisata Curug Pletuk. Siapa tahu kalian pingin singgah ke curug saat sampai di Banjarnegara, kelak. Kan tinggal klik blog postku. 😆

SOWAN NGALAS 2
Terpampang dalam bingkai wajah-wajah Kepala Desa Pesangkalan dari waktu ke waktu…

Acara sowan ngalas yang dimulai dari Kirab Budaya dijadwalkan mulai jam 09.00 WIB. Kami sampai di Lapangan Desa Pesangkalan jam 10.00 WIB dan acara belum dimulai. Antara alahamdulillaah dan innalillaahi. Hahaha. Asyik sih ngaret, jadi aku masih bisa menyaksikan prosesi kirab dari awal. Tapi ya innalillaahi juga, ngaret sampai 1 jam. Hihihi.

Sesampainya lapangan desa, ternyata masih sepi. Kami pun memutuskan untuk kembali menyalakan sepeda motor dan melanjutkan perjalanan sampai parkiran bawah curug.

Btw, beberapa titik jalan menuju parkiran masih berupa bebatuan yang belum tertata. Tapi masih aman, kok. Terpenting kondisi sepeda motormu fit, termasuk rem dan ban.

SOWAN NGALAS PAGEDONGAN
Usai jamasan pusaka…

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberi sambutan sekaligus membuka acara Sowan Ngalas. Dipimpin oleh sesepuh Desa Pesangkalan, Kirab Budaya dimulai dari lapangan desa Pesangkalan.

Rama Salim, namanya. Beliau berada di barisan paling depan dan membawa benda-benda pusaka. Beliau ngga sendirian, tiap baris terdapat tiga orang. Ada juga sesepuh desa yang mengenakan baju adat juga turut mengawal prosesi kirab. Mereka ada yang membawa foto kepala desa dari waktu ke waktu, ada juga prajurit-prajurit yang bertugas membawa tumpeng.

SOWAN NGALAS KIRAB BUDAYA
Merawat benda-benda pusaka penggalan…

Wana Wisata Curug Pletuk menjadi tujuan akhir Kirab Budaya. Di sini dilakukan ritual jamas pusaka tepat di bawah gemricik air terjun Pletuk. Sebenarnya aku cukup penasaran dengan prosesi ini karena hanya beberapa orang saja yang melaksanakannya. Ada Rama Salim didampingi beberapa prajurit, dan juga media untuk keperluan dokumentasi. Tadinya aku pingin lihat detail prosesinya, tapi melihat pusaka yang dibawa Rama Salim, kok deg-degan, ya. Hahaha. Yaudah, akhirnya aku menunggu di bawah.

“Pusaka apa, sih, yang dibawa Rama Salim dan Prajurit ngalas?” Batinku saat itu saking penasarannya. Setalah kutanyakan melada sesepuh Desa, ternyata ada beberapa benda pusaka yang dipercaya sebagai pelantar penerang hujan. Tombak Ronggo Jati, namanya.

Aku baru pernah melihat pusaka tersebut. Kalau cerota-verita, entah itu mitos atau fakta sih pernah mendengar ada pusaka yang bisa digunakan sebagai pelantar penerang atau bahasa Banjarnegara yaitu penangkal hujan. Eeeeh…kalau kalian ngga percaya akan hal ini, jangan diambil hati, ya. Karena ini termasuk tradisi atau kepercayaan masyarakat Pesangkalan. Jadi, hargai saja. 😉

SOWAN NGALAS BANJARNEGARA
Tumpeng dan aneka jajan pasar. . .

Acara Jamas Pusaka ngga sampai satu jam. Usai dibasahi menggunakan air yang dalam kendil, pusaka kembali ke tangan Rama Salim untuk disimpan kembali.

Omong-omong, pada acara jamas pusaka, tuh, ngga ada sambutan, tutur kata, baik dari Dinas maupun Sesepuh. Dari awal sampai akhir, ritual berjalan dengan tertib dan hening. Selain prosesi jamas pusaka, ada satu hal lagi yang membuatku penasaran, yaitu tumpeng.

Ya, kenapa tumpeng yang telah diarak dari Lapangan Desa Pesangkalan sampai Curug dengan jarak tempuh kurang lebih 3 km ngga dinikmati di kawasan curug? Bukankah lebih nikmat jika dimakan bersama di area wana wisata curug pletuk? Hahaha. Mungkin memang harus dibawa kembali karena setelahnya akan lanjut acara sadranan kalik, ya. 😆

SOWAN NGALAS 2017 copy
Anak-anak menikmati padusan…

Hampir seluruh masyarakat, wisatawan, kembali ke lapangan Pasangkalan untuk turut menikmati tumpeng yang telah disiapkan oleh ibu-ibu dasa wisama setempat. Saking ramainya pengunjung yang turun, aku bersama teman-teman memilih untuk melihat anak-anak yang sedang asyik padusan sampai lupa kalau di bawah akan ada acara.

Padusan atau mandi di sungai aliran air dari curug ini termasuk bagian dari rangkaian acara sowan ngalas. Tradisi ini bertujuan untuk mensucikan diri. Tepat sekali, sowan ngalas digelar menjelang bulan suci ramadhan. Sebagai salah satu wujud syukur masyarakat Desa Pesangkalan.

SOWAN NGALAS PESANGKALANKembali dibawa ke Lapangan Desa Pesangkalan. . .

Aku bersama teman-teman memilih untuk tetap di kawasan curug. Ngga bergabung dengan masyarakat untuk ikut sadranan. Padahal sebenarnya sudah lapar. 😆 Naik sampai bibir curug, mainan air di bawah aliran curug, dan duduk-duduk di gazebo. Itu yang kami lakukan di curug. Asyik banget  curug pletuk!

Btw usai sadranan, masih ada beberapa acara yang akan digelar yaitu jazz hutan pada malam harinya, dan ada grebek rakan esok harinya. Sayang banget, saat itu kami ngga bisa nonton jazz hutan karena suatu sebab. Padahal sih udah penasaran banget dengan acara ini. Secara ada jazz di tengah hutan, suasanannya pasti syahdu banget, ya. Perpaduan suara musik alam dan alunan jazz. Wuuh…

Tahun depan datang lagi ke acara ini, dong. Karena kata Pak Kadinpar, sowan ngalas akan dimasukan menjadi event tahunan. Dan 2017 menjadi tahun pertama, dan bisa dibilang ramai. 😉

Jelajah Curug Sikopel Bareng Vinslog dan Explore Babadan

Aaaak…aku mau norak dulu, yaaaaa. Jai nih, blog post ini telah publish di Majalah Candi Edisi Agustus. Majalah yang ditebitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah. Yeeeea la la la la. Eh, sebenarnya ini bukan kali pertama tulisanku terbit di sana, sih. Sebelumnya, tulisan berjudul warna-warni agrowisata lembah asri juga pernah mejeng di sana. Bedanya, objek wisata yang aku tulis kali ini adalah destinasi wisata milik kota kelahiranku, Banjarnegara. 😆 Jadi ya, tambah bungaaaah!

Yaudaaaaah, pamer noraknya cukup sekian. Lanjut baca pengalamanku jelajah curug sikopel, yuuuk! 😆

Sehari sebelum berangkat jelajah, ada sedikit drama yang bikin galw dan sedih. 😀 Aku mendapat kabar dari Mas Ofie, aktivis pokdarwis Babadan yang ada di balik akun instagram @explorebabadan. Dia mengabarkan bahwa ada pohon tumbang di Desa Clapar, dan pohon tersebut menghalangi lalu lintas jalan. Sedihnyaaaa. 🙁

Melihat besarnya pohon melalui foto yang dibagikan, sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk dapat menyingkirkannya sampai bisa dilewati kendaraan. Pasalnya, hari sudah sore, kira-kira jam 16.00 WIB. Kami pun hanya bisa pasrah menunggu kabar dari Mas Ofie.

Sekadar informasi, kontur tanah mulai dari Desa Clapar sampai Pagentan cukup labil, dan rawan longsor. Makanya, jalan menuju Desa Babadan pun tidak mudah. Ada beberapa titik jalan yang rusak meski ngga terlalu parah. Beberapa kali telah diaspal pada titik jalan tersebut, tapi ngga bertahan lama. Beruntung, bebatuan kecil yang cukup tertata sudah kuat tertanam. Jalan pun dapat dilewati kendaraan dengan aman, meski tetap harus hati-hati.

Alhamdulillaah, pagi hari ada kabar baik dari Mas Ofie yang tak lain mengabarkan bahwa lalu lintas di Desa Clapar sudah kembali normal. And yeeey, Curug Sikopel menjadi destinasi jelajah pertama bareng teman-teman @vinslog. 😆

Lapangan Desa Babadan…

Perjalanan dimulai dari The PIKAS yang merupakan titik kumpul paling strategis. Kami termasuk golongan orang beruntung karena hari itu cuaca sangat cerah. Ngga kebayang, jika hujan. Uumh…pasti perjalanan akan terasa lebih panjang, dan kenyataan pahit eksplor bisa dibatalkan. Menyedihkan.

Melewati Pasar Madukara, Desa Clapar, dan sampai pada jalan menanjak, terus menanjak. Temurun, lalu berliku. Menanjak, dan sesekali harus melewati jalan rusak. Persis perjalanan hidup, ya. Ngga melulu mulus, ada rintangannya. Hihihi. Kami pun terus menikmatinya dengan tawa alih-alih mensupport sepeda motor yang kami naiki agar tetap kuat. Sekuat kami yang mengendarainya.

Kurang lebih enam puluh menit perjalanan yang telah ditempuh, kami pun sampai pertigaan antara arah kanan menuju Kecamatan Batur, dan terus lurus menuju Curug Sikopel.

Jelajah ditemani @explorebabadan dan @nonakeripik. . .

Sekadar informasi, di sini ada dua warung makan. Ada baiknya isi perut dahulu jika sudah terasa lapar, karena trekking Curug Sikopel cukup panjang. Jalan setapak naik turun, tentunya akan menghabiskan banyak energi. Sebenarnya di tempat parkir Curug juga terdapat warung kecil, tapi baru menyediakan air mineral dan camilan. 😉

Dari pertigaan, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai area curug. Sesampainya di tempat parkir, kami membayar biaya parkir Rp 2.000 per kendaraan, dan tiket masuk Rp 3.000 per orang. Harga tiket yang sangat terjangkau untuk sebentuk wisata alam, bukan?

Mengenakan kaus oblong warna abu-abu dengan panorama Sikopel yang melekat di dadanya, Mas Ofie berjalan ke arah kami. Kami langsung bisa menebak bahwa itu Mas Ofie meski sebelumnya kami belum pernah berjumpa. Ya kan di profil whats app ada fotonya yang kece itu. Hahaha.

Luar biasa medannya, Mas.” Aku menepuk bahu Mas Ofie sebagai pengganti salam sapa. Dia hanya mengangguk, dan memberi senyum termanis yang menurutnya bisa menghilangkan lelah. Ya ampun, narsis banget, ya.

Eh, Mas Ofie tuh punya tim yang siap menemani wisatawan eksplor curug di Babadan, termasuk Curug Sikopel ini. Selain Mas Ofie, kami ditemani Mas Mahdun, ketua Pokdarwis setempat. Mantap jiwa! 😆

CURUG SIKOPEL GERBANG
Gerbang dan pepohonan albasiaaaa…

Melewati gapura bertuliskan “Curug Sikopel”, trekking pun dimulai. Beberapa gazebo yang berdiri di tengah hutan, seakan memanggilku, mengajak bercerita. Namun aku harus menemui Sikopel terlebih dahulu. Layaknya teman, aku dadah-dadah kepada si gazebo sembari berteriak: ‘heeei, nanti aku akan menemuimu.’ Teman-teman yang jalan bersamaku nampak bingung dengan tingkahku. Mirip orang sinting kalaik, ya. Hahaha.

Memandang Sikopel dari jauuuuh…

Babadan, sebentuk Desa di Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, mulai diburu wisatawan karena banyak “surga tersembunyi” di dalamnya. Keindahan alam bernama curug di Babadan memang ngga hanya satu, dua, yang dapat dieksplor. Namun ada satu yang sudah dikenal dan memang istimewa, yaitu Curug Sikopel.

Sikopel merupakan curug yang begitu menarik dan eksotis. Yang membuat curug ini istimewa, karena debit airnya lebih tinggi dibanding curug lainnya di Babadan. Ini juga menjadi salah satu alasan para wisatawan menjadikan Sikopel destinasi utama saat jelajah Babadan. Selain itu, terdapat dua curug lagi di lokasi yang sama. Yaitu Curug Silunjar dan Curug Sijurang.

Kamu baik-baik saja, Dah?” Tanya Gianti sambil membersihkan lensa kameranya yang hendak digunakan untuk merekam jejak.

Hosh…hosh…hosh…

Suara napas mulai terdengar tak beraturan. Aku yang berjalan berdampingan dengan Umi, merasa ngga enak. Padahal perjalanan baru dapat setengahnya, dan jalan terus temurun. Ngga kebayang saat pulang nanti, harus naik, dan terus naik. Beruntung, Mas Ofie dan mas Mahdun selalu di belakang kami. Mereka jalan pelan sambil bercerita, dan sharing tentang Curug Sikopel yang katanya akan mulai dipercantik dengan selfie deck dan peraga lain yang dapat menarik perhatian wisatawan.

Karena sedari awal trekking sudah mendapat view Sikopel dari atas yang sangat menggoda, aku pun terus semangat jalan dooongs. 😉

Byuuuur…duduk di depan Sikopel ini…

Dua puluh menit trekking, curug paling istimewa sudah di depan mata!

“Aaaak….segar banget!” Teriakku sambil lari menuju bibir Sikopel. Debit airnya memang tinggi, aliran airnya deras banget, dan mata airnya begitu bening. Rasa-rasanya ingin segera menyatu. Sayang banget, Mas Ofie ngga mengizinkan kami “memeluk” Sikopel. Ya, wisatawan ngga diperbolehkan mendekat, apalagi mandi tepat di bawah curug Sikopel. Wisatawan hanya diizinkan menyapanya sampai batas berupa bebatuan besar yang biasa digunakan untuk berfoto dengan background Sikopel.

“Bawah curug persis berbentuk mangkuk, dan entah berapa kedalamannya. Ngga datar seperti curug pada umumnya. Takut wisatawan ngga bisa mengendalikan diri karena derasnya air.” Jelas Mas Mahdun.

“Tapi kalian bisa main air di aliran sungai ini. Deras juga, kan.” Tambahnya.

Sumber air lainnya…

Sekadar menyegarkan kaki, aku bersama Umi dan Gianti, turun ke Sikopel sampai jarak kurang lebih sepuluh meter dari air terjun. Sementara Mas Imam, Mas Jeim, Mas Mefta, terlihat sibuk memainkan kameranya. Ada juga yang merekamnya menggunakan drone, Si Rois. 😉

Berbeda dengan mereka, aku malah ngoceh sendiri di depan kamera, membuat vlog centil. Hahaha. Seakan ngga peduli lensa kamera kena percikan air terjun, vlog centil terus berlanjut. 😆 Setelahnya, bingung kamera menjadi lambat buat ngeshoot. Wkwkwk

CURUG SIKOPEL
Jangan lupa narsis kek ginii…

Curug Sikopel cukup luas. Diambil dari sudut manapun, ia tetap terlihat gagah dengan debit airnya yang tinggi. Ia tetap terlihat eksotis dengan bebatuan tua berlumut di sekitarnya. Ia tetap indah dengan rimbunnya pepohonan di sekelilingnya. 

Sikopel, curug paling istimewa di Babadan. Sesekali, datang lah ke Babadan untuk menyapanya, menikmatinya. Dan kalau masih punya banyak waktu, sambangi juga Curug lainnya. Tinggal kontak mamas-mamas @explorebabadan, mereka pasti akan mengantar kalian ke Curug Sirongge, Curug Sicode, Curug Silumpang, dan Curug Sigopet, yang lokasinya ngga jauh dari Sikopel.

Makasih banyak buat @explorebabadan!

Menilik Pembuatan Nopia di Dapur Pak Narwan

Kalian pernah mendengar orang jualan es krim keliling kampung? Es krim enak, dua ribu rupiah. Rasa tobeli, vanila, moca, melon. 😆 😛 😛 Ngga tahu kenapa, saat diajak ke rumah produksi Nopia, tiba-tiba aku pingin banget teriak gini: “Nopia…enaak…rasa cokelat, rasa durian, rasa brambang, rasa gula merah. Gulanya asli. Aman buat Si Kecil” 😆 😀 Ini datang-datang songong amat, ya. Bisa-bisa kualat dan kena marah Pak Narwan beserta jajaran warga Banyumas kalau teriak-teriak di depan rumahnya. 😀

Acara #JuguranBloggerIndonesia yang diselenggarakan di Kabupaten Banyumas sukses menambah pengetahuanku. Salah satunya yaitu tentang Nopia yang ternyata adalah penganan favoritku. 😆

Ya, aku baru tahu saat itu juga kalau nama penganan yang aku sukai sejak kecil bernama Nopia. Bahkan saat Tante kelinci memastikan ketidaktahuanku tentang Nopia, dia nampak heran karena Nopia ini termasuk deretan jajanan hits di Banyumas dan juga masuk daftar oleh-oleh khas Banyumas.

“Serius? Masak ngga tahu Nopia, sih!” Geregeet pun sampai muncul. 😆

KEMASAN NOPIA BANYUMAS
Kemasannya menarik, ya…

Masuk dapur Nopia Pak Narwan yang telah berdiri semenjak Tahun 1987, Yasmin langsung nyelonong menuju ruang tengah. Anak itu memang lagi gesit-gesitnya. Aku pun mengejarnya, lalu menangkapnya. Takut bikin onaar. Hahaha. Di sini lah Nopia mulai diproses oleh tangan-tangan yang handal, penuh ketelatenan. Dari tangan terampil mereka, tiap hari dapat memproduksi 2.000 lebih Mino tiap pekerja. Saat itu, di ruang ini ada empat pekerja. Banyak juga produksi tiap harinya, ya.

Aku mulai terheran-heran saat melihat penganan ini ternyata berbentuk bulat kecil persis bakpia Yogya. Sampai sini, aku memastikan kepada Tante kelinci bahwa yang sedang aku lihat adalah bakpia versi Banyumas.

NOPIA BANYUMAS
Mirip Bakpia banget, kaaan?

“Kalau yang ini aku tahu. Ini kan Bakpia, ih.” Aku mencoba konfirmasi kepadanya yang mulai sibuk dengan IG Stories.

“Bukaaaan! Ini bukan bakpia, cuma mirip dowang pas belum mateng.” Pembantahan dari Blogger yang punya jimat warna merah itu, sontak membuatku makin penasaran dengan Nopia. Padahal sudah di rumah produksi, tapi masih penasaran. Hahaha. Aku pun lanjut keliling untuk tahu lebih detil proses pembuatan Nopia.

Dapur Pak Narwan atau rumah produksi Nopia ngga terlalu luas. Terbagi menjadi tiga ruang, dan ruang kedua yaitu ruang produksi awal dimana para karyawan memasukan isi ke dalam Nopia. Ya, proses pembuatan Nopia dimulai dari sebuah adonan yang dibentuk bulat. Pembentukannya dibedakan menjadi dua, yaitu bulat kecil yang memiliki nama Mino (Mini Nopia) dan bulat besar dengan nama Nopia.

PEMBUATAN MINI NOPIA
Ini lagi diisi rasa, biar hidup makin istimewa… 😀

Setelah dibentuk, bulatan tersebut dibiarkan selama satu malam supaya kalis, punel, menul-menul kayak pipi Yasmin. Paginya, barulah diberi isi seperti gula merah, durian, cokelat, atau brambang (abon). Empat isian ini menjadikan Nopia kaya akan rasa dan membuat penggemarnya bisa gonta-ganti memilih rasa. Ngga melulu rasa nyeri di hati, atau rasa pilu karena rindu. 😀

Dari sini aku mulai pingin lihat hasilnya. Bertanya kepada Mas Yono yang sedang memasukan isi Nopia rasa gula jawa, ternyata Nopia dan Mino yang siap makan ada di ruang depan. Yaudah permisi, aku langsung menuju ruang depan dan izin kepada si empunya untuk mengambil satu Mino yang masih digelar di atas tampah (wadah).

“Yasalaam…ini mah Ndog Dinosaurus, namanya.” Batinku saat itu. Aku tahu banget penganan ini laaaah. Secara termasuk penganan favoritku semenjak semenjak kecil. *diperjalas lagi* hahaha Jadi emang beneran, awal adonan masih bulat agak pipih memang mirip bakpia. Tapi setelah dipanggang, ternyata si Nopia ini punya punggung mirip kura-kura, gitu. 😆

DITEMPEL DI GENTONG
Ini ovennya…Eh, Gentong yang very HOT!

Udah melihat hasilnya, mencicipinya juga, sekarang giliran penasaran dengan oven yang buat manggang si Mino. Gimana ngga penasaran, bulatan yang tadinya rata, berubah menjadi punya punggung kura-kura. 😆 😆 Belum lagi, jumlah produksinya kan banyak, penasaran juga segede apa ovennya. Melunasi rasa penasaran, aku menuju ruang paling belakang, ruang khusus untuk barbeque. *eh

Oven, alat canggih untuk memanggang. Nopia dan Mino ngga keluar dari alat canggih tersebut. Sebuah gentong yang menurutku mirip kurungan ayam karena luarnya terbuat dari bambu, di sini lah si manis Nopia dipanggang. Sederet berisi kira-kira sepuluh Mino, lalu ditempel di dalam gentong yang dalamnya terbuat dari tanah liat. Lalu kenapa Mino bisa punya punggung? Ternyata karena nempelnya ngga satu per satu, Cyiint. Langsung sederet, dan agak ditekan supaya nempel kuat di dinding gentong. Makanya bagian depan lebih tinggi, ngga datar lagi.

GENTONG NOPIA BANYUMAS
Nempelnya telaten banget…

Btw, ruangan ini panas banget. VERY VERY HOT! Jangan coba-coba berdiri lama-lama di ruang ini kalau bukan ahlinya. Soalnya keringat bakal gobyos! Di sini aku hanya bertahan beberapa detik dowang. Selanjutnya duduk-duduk cantik di ruang utama atau tempat untuk mengemas Nopia.

Bagi kalian yang sedang di Banyumas dan temannya suka minta oleh-oleh, beliin aja Nopia atau Mino yang punya label Pak Narwan. Harga untuk 300 gram Mino Rp 13.000 rupiah. Sedangkan untuk Nopia, Rp 20.000 rupiah per 300 gram. Pemesanan bisa langsung lewat telepon (0281) 796412. Kalian bisa juga datang langsung ke Rumah Produksi Nopia Pak Narwan yang beralamat di jalan Jaya Serayu No. 88, Banyumas, sekalian melihat proses pembuatannya.

Oleholeh khas banyumas
Hayoook…pilih Nopia, Mino, atau KAMI? Bungkuuuus! 😛

Eeeh…ini sudah terpecahkan, kenapa Nopia dan Mino punya punggung. Karena cara meletakkannya bukan pada sisi bulatan yang datar, melainkan samping kanan atau kiri bulatan. Jadilah si Nopia dan Mino melendung. Hahaha…sumpah, paragraf ini penting banget. 😀

🙂 Catatan Perjalanan “Juguran Blogger Indonesia 2017” kerjasama antara Komunitas Blogger Banyumas dengan Bappeda Litbang Banyumas dan didukung oleh  Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto. Makasih buat PANDI, @fourteen_adv, @lojadecafe, dan Hotel Santika Purwokerto yang turut mendukung acara ini. 🙂

Credit photos: Om Indra.

 

Warna Warni Agrowisata Lembah Asri, Serang

Mobil semi terbuka berkapasitas 13 orang telah siap di depan LA Homestay, sebuah penginapan milik warga Desa Serang yang telah kami tempati semalam. Mobil ini lah yang mengantar aku bersama beberapa Blogger dari berbagai daerah menuju Agrowisata Lembah Asri, sebuah obyek wisata yang berlokasi di lereng timur Gunung Slamet. Tepatnya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Terlihat dari desainnya, mobil yang khusus digunakan untuk mengantar wisatawan keliling Lembah Asri nampak nyaman dan menyenangkan. Bagaimana tidak, wisatawan dapat menikmati suguhan pemandangan lansekap Gunung Slamet, beragam jenis sayuran yang tumbuh segar di ladang warga secara lepas karena mobilnya tanpa pembatas berupa kaca. Menyenangkan, bukan? Belum lagi udara segar, hawa sejuk khas pegunungan yang menyehatkan.

Cukup membayar Rp 3.000 per orang, wisatawan akan diantar ke beberapa obyek yang berdiri di atas tanah bengkok seluas 1.3 hektar tanpa harus jalan kaki. Mengirit tenaga, malas berjalan, entah apa alasannya, yang jelas Agrowisata yang dikelola oleh BUMDes Serang telah memaksimalkan fasilitas untuk wisatawan.

Lembah Asri Dulunya…

Sebelum resmi menjadi obyek wisata, tempat ini dulunya adalah rest area yang telah dilengkapi dengan warung-warung berjejer milik warga desa. Namun, dengan berkembangnya pengetahuan dan pengalaman masyarakat Serang, warga Serang sepakat mengemas rest area menjadi Agrowisata menarik yang kini lebih dikenal dengan nama LA (baca: EL E).

Ini menjadikan Desa Wisata Serang makin ramai. Ya, di Desa Serang terdapat Desa Wisata yang menawarkan banyak potensi di dalamnya. Salah satunya yaitu agrowisata petik buah strawberry. Kalian pasti tak asing, kan?

Perjalanan dari LA Homestay menuju Agrowisata LA tidak membutuhkan waktu lama. Kira-kira sepuluh menit, kami sampai di gerbang utama Agrowisata LA.

lansekap_lembah_asri[1]

Wisata kali ini terasa istimewa karena kami ditemani Bapak Sugito, Kepala Desa Serang, dimana beliau mudah membaur dengan anak muda, dan sangat bersahabat. Sepanjang perjalanan, Pak Gito berbagi cerita tentang perjuangannya merangkul masyarakat untuk turut memanfaatkan potensi alam yang dimiliki Desa Serang. Lingkungan yang mendukung, tanah subur, dan iklim yang sejuk, misalnya.

Sesampainya di LA, mobil langsung parkir di depan Pendopo, sebuah ruang terbuka serbaguna. Pendopo ini biasanya digunakan untuk kegiatan masyarakat, pentas seni, dan tempat lomba, baik yang diselenggarakan oleh Desa maupun Sekolah yang berada di kompleks Desa Serang. Dari titik ini, Pak Gito mengajak kami menyusuri Agrowisata Lembah Asri.

 Outbound di Lembah Asri

Area outbound nampak jelas dari pertama masuk kawasan LA. Ya, area ini berada di atas atau dekat pintu masuk LA.

Cukup banyak wahana yang ditawarkan. Untuk dapat outbound di sini, kalian bisa mengambil paket outbound yang telah disediakan. Omong-omong, paket ini terpisah karena LA belum membuat paket terusan. Kedepannya, mungkin pihak LA akan membuat paket wisata bila seluruh wahana sudah siap.

lembah_asri_serang[1]

Sebelum ke obyek wisata yang masih dalam pengembangan, Teman-teman akan saya ajak ke Lorong Cinta yang menjadi salah satu spot menarik untuk berfoto.” Ujar Pak Gito sembari mengarahkan pandangan kami ke Lorong Cinta.

Anak muda zaman sekarang, menyebut Lorong Cinta ini sebagai obyek yang instagramable.” Tambahnya.

Spot Menarik untuk Berfoto di Lembah Asri

Seperti halnya wisata lain, agrowisata LA setidaknya mempunyai tiga spot menarik dan ikonik untuk narsis.

Pertama adalah Lorong Cinta. Lorong ini bukan lorong utuh melainkan semacam gapura yang terbuat dari besi, dan membentuk simbol LOVE. Yang menarik dari lorong ini yaitu adanya rangkaian bunga plastik warna warni yang tersusun rapih, dan membentuk simbol love. Makanya dinamai lorong cinta. Penggunaan bunga plastik ini hanya sementara, sembari menunggu bunga hidup yang telah ditanam “merangkai cinta” dengan sendirinya. 😉

lorong_cinta_lembah_asri_purbalingga[1]

Saking menariknya lorong ini, kami pun betah berfoto dengan berbagai pose secara bergantian. Luar biasa narsisnya. Blogger emang gitu, ya. Hahaha

Kedua yaitu replika strawberry raksasa. 😀 Kira-kira, kenapa buah strawberry dibangun sebesar raksasa dan menjadi ikon tempat wisata ini? Yaaaa…tak lain karena strawberry menjadi buah kebanggan Desa Serang.

strawberry_serang[2]

Pada waktu tertentu, buah merah menyala yang rasanya penuh kejutan ini menjadi salah satu penghasilan yang tergolong tinggi bagi masyarakat Desa Serang. Memang tidak semua masyarakat mempunyai kebun strawberry. Namun sebagian besar yang merawat kebun strawberry adalah masyarakat Serang. Jadi ya sama saja mendapat rezeki, ya.

warna_warni_lembah_asri_purbalingga[1]

Ketiga yaitu taman bunga yang lengkap dengan gazebo di sekelilingnya.

Melihat bunga warna warni seperti di atas, siapa yang kameranya rela dibiarkan istirahat di dalam saku atau tas? Duuh…sayang banget kalau kamera sampai diumpetin, ya. 😆 Di sini mau berfoto dari sudut mana saja akan mendapat hasil yang bagus. Kalau aku lebih suka dengan warna warni bunga yang melingkar. Segar banget.

Di sini kami berpencar seolah-olah sedang berlomba-lomba mendapat hasil foto terbaik. Hahaha. Lagi-lagi, jiwa narsis kembali muncul. Namanya Blogger, lihat taman yang lengkap dengan tatanan bunga warna-warni, pasti tidak bisa menahan hasrat untuk narsis. Terlebih aku yang saat itu mengajak Si Kecil. Please, jangan tanya berapa banyak jepretan yang dihasilkan. Hihihi

blogger_trip_lembah_asri[1]

Perjalanan dilanjut menuju beberapa obyek. Kami tidak menggunakan mobil menuju obyek karena ingin lebih santai, dan menikmati tiap obyek yang masih dalam tahap pembangunan. Obyek pertama yang sudah siap digunakan yaitu camping ground.

Segala perlengkapan, dan area untuk camping telah disediakan oleh LA. Pohon pinus yang nampak kokoh, serta kawasan yang bersih, dan asri, seakan mengajak kami untuk camping barang sehari. Uhh…sementara hanya bisa berandai-andai.

Selain camping ground, Agro Kids juga telah berjalan. Cukup banyak anak-anak sekolah yang berminat petik sayur sendiri. Nah, supaya bisa petik sayur dengan puas, dua bulan sebelumnya harus ada komunikasi dengan pihak LA agar ada kesiapan. Begitu juga dengan petik buah Stroberi. Telah disediakan lahan khusus.

Makin jauh kaki melangkah, makin banyak lahan yang masih dalam pengembangan. Taman Labirin, misalnya. Saat itu, pepohonan yang akan dijadikan Labirin sudah mulai tumbuh tinggi. Ada tiga petak yang siap dijadikan Taman Labirin. Kebayang serunya main di taman ini.

camping_ground[1]

Pak Gito mencukupkan perjalanan sampai di Labirin karena lahan setelahnya sudah milik warga. Menurutnya, lahan-lahan yang dekat dengan kawasan wisata LA ada kemungkinan akan dijadikan obyek wisata sembari menunggu ide-ide kreatif dari masyarakat, atau wisatawan itu sendiri. Pokdarwis Desa Serang, dan BUMDes terbuka menerima saran dan kritik.

Sayang banget, waktu untuk mengunjungi LA sangat terbatas. Karena, jam 10.00 WIB, kami sudah harus berkumpul di Lapangan Desa Kutabawa untuk menghadiri Undangan Kongres Gunung. Padahal, sebenarnya aku ingin mencoba outbound dan merasakan wahana High Rope, Flying Fox, dan Naik Kuda tunggang juga.

ikon_lembah_asri[1]

Hayuk…piknik ke Agrowisata Lembah Asri. Cukup membayar tiket masuk Rp 1.000 per orang, wisatawan dapat bersenang-senang sampai puas di sini. Selain itu, transportasi dari pusat Kota sudah tersedia sampai lokasi. Pun dengan akomodasinya. Ada banyak homestay di sekitar Desa Serang dengan harga terjangkau, nyaman, dan aman.

Soal makanan, kalian tidak usah khawatir karena di agrowisata ini telah tersedia beberapa warung yang menyediakan aneka makanan, minuman dan camilan khas desa setempat. ^_^

Intramuros, dan Liburan Singkat ke Manila

Bagiku, tahun ini betul-betul menjadi tahun terdisiplin di dunia kerja. Hampir setengah tahun berjalan, izin ngga masuk kerja bisa dihitung jari. Berbeda dengan tahun lalu, hampir tiap dua minggu izin untuk ini itu. 😀

Jatah cuti pun belum diambil karena aku terlalu banyak angan-angan dan rencana untuk liburan. Salah satunya menjelajah Intramuros, Manila. Duuh…belum apa-apa sudah pamer, ya. 😀 😆 Semoga beneran bisa ke sana. *doain sajaa, doakaaan* Sementara, aku berandai-andai dulu liburan ke Manila. Halal kan, ya. 😛

Perjalanan berawal dari Banjanegara pukul 16.00 WIB menuju Jakarta dengan naik Bus. Kira-kira empat belas jam perjalanan sampai terminal terminal Lebak Bulus. Kami memilih terminal ini karena di sekitar sini ada saudara dan berniat untuk silaturahim dan jalan-jalan dulu.

Penerbangan ke Manila rencana pukul 22.00 WIB. Sehari di Jakarta, kami udah cukup puas main ke TMII atau Dufan. Ya…ketimbang ngga ada kegiatan, ya. 😀

Tepat pukul 4.35, kami tiba di Ninoy Aquino International Airport setelah menempuh kurang lebih tujuh jam perjalanan dari Jakarta menuju Manila, dengan satu kali transit di Singapore. Capek? Ngga. Karena kami hanya transit dua jam di Singapore, dan hanya di bandara saja karena sudah larut malam.

Ternyata bandara Ninoy Aquino lokasinya di tengah kota Manila. Hanya butuh waktu tiga puluh menit ke pusat kota. Ini sangat memudahkan kami untuk memulai liburan singkat di Manila, dua hari satu malam.

Mungkin ini akan menjadi pengalaman pertama kali liburan ke luar negeri. Belum banyak pengalaman, namun kami memilih untuk jelajah Manila tanpa guide. Nekat, ya. Untuk mengawali memang sebaiknya begitu, supaya ngga ketergantungan, dan ngga manja. Kata suami, sih. Terlebih sekarang udah jarang orang tersesat atau bingung. Hanya berbekal gadget dan internet, informasi apapun bisa dapat. Ya, kan?

Destinasi yang menjadi tujuan kami yaitu Intramuros, sebuah distrik yang menyimpan jejak sejarah terbesar di Manila. Ya, berlibur ke Manila kurang lengkap tanpa menyusuri jejak sejarah yang lengkap dengan peninggalan berupa bangunan-bangunan kuno. Kawasan ini merupakan kawasan kota tua yang dikelilingi bangunan bergaya Spanyol peninggalan zaman penjajahan.

intramuros manila

Untuk menuju Intramuros, kami menggunakan Jeepney, angkutan umum legendaris di Manila. Angkutan ini nenyerupai jeep dengan bagian belakang memanjang. Dulunya digunakan sebagai transportasi untuk mengangkut tentara Amerika pada masa perang dunia kedua. Transportasi ini dibiarkan begitu saja setelah perang berakhir. Dan sampai saat ini, Jeepney terus dirawat sebagai moda transportasi umum.

Selain ingin lebih asyik, kami memilih transportasi ini untuk meminimalisir penipuan. Hahaha. Iya, beberapa teman yang sudah sampai Manila berbagi cerita, kalau transportasi Taxi dari Bandara menuju kota kerap nakal. Awalnya udah deal bayar sekian, tiba di tujuan berubah, menjadi lebih mahal. Duuh…

Sesampainya di Intramuros, kami berjalan kaki menyusuri kota tua, menghirup udara pagi yang belum terkontaminasi dengan asap kendaraan, dan singgah di beberapa bangunan dengan arsitektur budaya barat, peninggalan zaman penjajahan Spanyol selama tiga abad silam.

Ternyata menyusuri kota tua manila membutuhkan waktu yang ngga sedikit. Kota yang dikelilingi dengan dinding artistik ini memiliki bangunan-bangunan menarik yang sayang banget kalau hanya dilewati begitu saja. Dan kalian tahu? Tiap melihat dinding tebal dan kuno, dikit-dikit jepret, dikit-dikit ngoceh di depan kamera. Hahaha. Norak abis, ya. Emaang tujuannya gitu. 😛

Fort Santiago menjadi bangunan pertama di Intramuros yang kami kunjungi. Benteng Santiago dibangun sebagai pertahanan awal dari serangan laut. Beberapa orang tewas di penjara Benteng ini selama periode kolonial Spanyol dan Perang Dunia II. Salah satunya yaitu Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina yang dipenjara disini sebelum menjalani pada tahun 1896. Sebagai penghormatan, sebuah patung dan museum didedikasikan untuknya.

Fort Santiago

Terletak di sisi timur Intramuros, di sini terdapat The Rizal Shrine Museum yang menampilkan memorabilia dari pahlawan Jose Rizal yang memperlihatkan beberapa koleksi peninggalannya serta jejak terakhirnya dari sel menuju lokasi eksekusi. Di halaman dalam, ada patung-patung yang bercerita. Asyik juga masuk ke dalam benteng yang sampai saat ini terawat baik.

Aku dan suami suka banget dengan bangunan kuno, beserta sejarahnya. Kami pun minta ditemani guide karena ingin tahu lebih banyak tentang bangunan ini secara langsung.

Destinasi berikutnya yaitu Katedral Manila. Katedral ini di sepanjang sejarahnya pernah hancur tujuh kali baik karena gempa bumi, angin topan, saat perang, maupun kebakaran.

Manila Cathedral

Katedral Manila didirikan oleh seorang pendeta yang ditugaskan untuk mendukung kolonialisme Spanyol di Filipina bernama Juan de Vivero. Lokasinya tidak jauh dari Fort Santiago.

Dari Katredal Manila, kami langsung menuju Manila Bay karena hari sudah sore. Kami sengaja memilih Manila Bay sebagai tujuan akhir pada hari itu karena saat memesan tiket pesawat, kami memilih penginapan di sekitar Manila Bay.

Alasan kami memilih penginapan di Manila Bay karena ingin makan malam sekaligus menikmati sunset di sini yang katanya menggoda banget.

Bagi kami, booking tiket sekaligus penginapan adalah pilihan tepat karena bisa hemat waktu, dan juga biaya. Apalagi pesannya lewat traveloka yang kini menyediakan paket wisata manila.

Pencarian tiket dan hotel melalui menu Pesawat & Hotel sangat mudah. Tinggal klik menu tersebut, kami bisa cek jadwal pemberangkatan pesawat lengkap dengan maskapai dan penawaran harga paket.

Kemudahan akses melalui website atau aplikasi booking tiket online masih berlanjut ketika akan booking hotel. Cukup ketik kota yang menjadi tujuan penginapan, lalu klik search. Traveloka akan memberi banyak rekomendasi hotel yang tentunya dapat disesuaikan dengan budget. Saat hendak membayar pun mudah karena tersedia banyak metode pembayaran. Ngga bingung.

Sebelum memilih paket, kami sempat cek harga tiket dan hotel secara terpisah buat pembanding. Ternyata selain hemat waktu, dengan memilih paket pesawat & hotel jauh lebih murah. Artinya, bisa berhemat dan bisa buat tambahan untuk keperluan lain. Makan, atau ikut tour calesa esok hari.

Ya, setelah bermalam di Manila Bay, kami tour calesa mengelilingi Binondo, Pecinan Manila. Binondo salah satu tempat bersejarah bagi masyarakat Filipina dikarenakan pada tahun 1603 di kota tersebut terjadi pemberontakan yang telah menewaskan kurang lebih 20.000 jiwa warga Tiongkok. Setelah kejadian tersebut, Pemerintah Filipina resmi menjadikan Binondo sebagai pusat tempat tinggal warga Tiongkok.

calesa manila

Btw, Calesa itu kereta kuda. Kebayang, dong, bahagianya Yasmin naik tutak dan Emaknya milih-milih pernak-pernik, oleh-oleh. Sementara Ayah bisa jadi galw takut Emak kalap belanja. 😀

Usai jalan-jalan di Pecinan, rencananya ingin kami melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Lihat paket hemat lagi di Traveloka, dong. 😉

Eeeh…kalian juga suka jalan-jalan melihat bangunan tua, kan? Yuuk…jalan bareng. Open trip atau gimana, gitu. Hahaha.

Notes: seluruh foto di atas diambil dari blog: https://theincoherentellipsis.wordpress.com/

Nyadran Gede di Pemakaman Ki Ageng Giring, Gumelem

Beragam tradisi untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan di beberapa daerah, Jawa Tengah khususnya, terus dilestarikan. Mulai dari Padusan, Keramas Masal, Dugderan, sampai pada Nyadran. Tentang tradisi ini, aku baru mengenal nyadran, itupun di desa sendiri. Makanya ketika mendengar ada acara nyadran gede, aku penasaran dan tertarik untuk mengikutinya.

Kamis (25/5), aku bersama suami, dan juga Yasmin mengikuti acara Nyadran Gede di Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Tradisi ini dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis, seminggu sebelum ramadhan. Dipilih hari terdekat diantara dua hari tersebut.

Ini bukan kali pertama kami ke Desa Gumelem. Namun, menjadi pengalaman pertama kami mengikuti Nyadran Gede. Selain tradisi, Nyadran Gede merupakan acara tahunan yang telah masuk kalender event Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Tak heran, jika yang turut Nyadran bukan hanya masyarakat Gumelem, namun para kerabat Keraton Surakarta, dan Sekda Banjarnegara pun turut.

Sesampainya di Gapura masuk Desa Gumelem, kami berhenti di pos ojek untuk mencari informasi tentang lokasi Nyadran Gede.

“Lurus terus, sampai balai desa ambil kanan. Nanti sampai Pemakaman Ki Ageng Giring” Petunjuk yang aku dapat dari babang ojek cukup jelas. Kami pun permisi untuk melanjutkan perjalanan.

Menuju Pemakaman Ki Ageng Giring

Sepeda motor yang kami naiki melaju cepat karena ada rasa was was akan ketinggalan nyadran. Sampai di depan Balai Desa Gumelem Wetan, pertunjukan kuda kepang sudah dimulai.

“Duuh…bisa jadi, nyadran sudah dimulai.” Batinku pesimis karena di sekitar Balai Desa sepi. Hanya ada sekelompok anak muda yang sedang bermain kuda lumping. Kemungkinan besar aku tidak bisa ikut nyadran dari awal. Dan firasatku betul saudara-saudaraaaa!

Melewati jalan masuk pesarean Ki Ageng Giring, beberapa mobil ber plat merah sudah berjejer rapih. Atas saran dari hansip desa yang menjaga tempat parkir, kami pun melanjutkan perjalanan sampai kompleks Pemakaman. Luar biasa! Di kompleks pemakaman ini sudah ramai. Terlihat para tamu undangan duduk di sekitar Paseban Gumelem, tepatnya di pelataran pemakaman Ki Ageng Gumelem. Para pedagang yang berjualan di sekitar kompleks pemakaman juga ramai.

NYADRAN GEDE GUMELEM BANJARNEGARA
Kompleks Pemakaman Ki Ageng Gumelem, Paseban Gumelem. . .

“Mari aku antar naik, Mbak. Nyadran baru saja dimulai.” Sebabang ojek yang mengenakan kaus biru menghampiriku, dan mengajakku naik. Aku pun kaget karena masih bingung melihat keramaian sekitar pemakaman.

“Baaang, memangnya mau naik kemana?” Tanyaku penuh penasaran, dan juga takut. Ya, takut diajak naik pelaminan. 😀

Setelah ngobrol bentar, ternyata kami akan diantar ke Pemakaman Ki Ageng Giring yang mana berlokasi di Bukit Girilangan. Ternyata kompleks pemakaman yang sudah ramai orang bukan Pemakaman Ki Ageng Giring, melainkan Ki Ageng Gumelem. 🙂

Ke Bukit Girilangan Bareng Babang Ojek

Babang ojek ini baik banget. Melihat aku bawa ransel merah, mungkin dia tahu kalau aku bukan warga Gumelem. Usut punya usut, setelah ketemu dengan Pak Udin, Kasi Umum Dinbudpar, ternyata semua babang ojek yang mengenakan seragam biru ini memang sudah ditugaskan untuk mengantar siapapun yang akan ke makam Ki Ageng Giring.

Jalan menuju makam Ki Ageng Giring merupakan jalan bebatuan, dan belum diaspal. Bebatuan kecil yang sudah tidak tertata, dan tanjakan yang cukup terjal membuatku cukup merinding karena aku membawa Yasmin. Akhirnya kupercayakan perjalanan ini kepada Babang Ojek. Kalau kata suami, mending lambaikan tangan, atau jalan kaki ketimbang dia harus nyetir motor sendiri. 😆 😛

NYADRAN GEDE 2
Di depan Pemakaman Ki Ageng Giring

Babang ojek berhenti di bawah tanjakan menuju pemakaman. Kami pun turun, dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ngos-ngosan sudah barang pasti karena pemakaman Ki Ageng Giring berada di bukit. Berjalan kurang lebih lima menit, kami sampai Bukit Giringlangan, tempat keranda Ki Ageng Giring dimakamkan.

Kenapa yang dimakamkan hanya kerandanya saja? Nanti aku tulis terpisah, ya. 😛

Nyadran di Pemakaman Ki Ageng Giring

Enam laki-laki yang mengenakan pakaian adat jawa berjaga di pintu utama pemakaman. Di sini ternyata tidak kalah ramainya. Banyak masyarakat yang membawa ancak (talam dibuat dari anyaman), pejabat daerah, dan anak-anak sekolah pun turut menghormati acara ini.

NYADRAN RAMADHAN

Sayup-sayup terdengar suara tahlil dari cungkub atau makam Ki Ageng Giring. Aku betul-betul terlambat karena menurut Mbah Darisan, wakil juru kunci sekaligus tukang sapu pemakaman ini, nyadran atau ziarah sudah berlangsung, dan tidak lama lagi selesai. Kami pun turut bergabung di pelataran cangkub, dan membaca lanjutan tahlil yang dipimpin oleh juru kunci makam.

Usai mendoakan Ki Ageng Giring, satu per satu pejabat daerah keluar dari cungkub. Beberapa dari mereka ada yang kembali turun menuju kompleks pemakaman Ki Ageng Gumelem. Selebihnya, menunggu di bukit girilangan untuk menyantap hasil bumi yang telah disediakan.

NYADRAN GEDE 4
Kompleks Pemakaman Ki Ageng Giring

Aku kira nyadran telah usai, tapi ternyata belum. Sebelum adzan dzuhur berkumandang, juru kunci masih mempersilakan pengunjung untuk mendoakan Ki Ageng Giring. Setelahnya, barulah dimulai ritual adat nyadran, dan kenduri atau makan bersama di kompleks bukit girilangan. Merasa masih ada kesempatan, kami pun turut bergabung, tahlil, dan doa bersama di makam.

Sedihnya, Kami Gagal ikut Kirab

Kirab Babad Dalan Giling, dan Kirab Adat Sadran Gede. Dua kirab ini terlewati karena kami telat datang. Padahal, dua kirab ini sangat aku nantikan. Menyedihkan, bukan. 🙁

Menyaksikan puluhan perempuan menggendong ancak, seperti melihat perjuangan pada dahulu kala. Apalagi ini digendong dari Balai Desa Gumelem menuju Bukit Girilangan dengan jarak tempuh kira-kira 1 km. Betul-betul taat, dan penuh pengabdian, ya.

NYADRAN GUMELEM 58
Di sini acara kenduri untuk masyarakat Gumelem…

Belum lagi iring-iringan kirab yang diikuti para sesepuh Desa, juru kunci makam, dan pejabat daerah yang mengenakan baju kebesarannya, baju adat khas Jawa. Rasa-rasanya seperti kilas balik enam abad yang lalu, di mana para pengikut, dan para santri Ki Ageng Giring dengan setia menemani perjalanan Ki Ageng Giring kemanapun.

Sayang banget saat itu kami tidak menyaksikan moment tersebut. Semoga diberi umur panjang, tahun depan bisa datang lebih awal untuk turut kirab, dan tentunya dengan jalan kaki tanpa babang ojek supaya bisa menikmati tradisi nyadran gede. Bisa lebih khidmat mengikuti tradisi Nyadran Gede.

Kenduri, atau Makan Bersama di Bukit Girilangan

Adzan dzuhur berkumandang. Seluruh masyarakat bersiap-siap untuk makan bersama. Mempersiapkan nasi giling beserta lauk tradisional yang sudah dibawa oleh masyarakat Gumelem Wetan.

Siap makan bersama…

Di Bukit Girilangan terdapat semacam pendapa khusus untuk acara. Makanan pun ditata, berjejer memenuhi bukit untuk dikepung bersama. Sementara para tamu undangan yang nyadran di pemakaman Ki Ageng Gumelem turut bersiap-siap untuk acara Pisowanan di Paseban Gumelem. Pisowanan di sini merupakan acara puncak Nyadran Gede. Acara ini diisi dengan sambutan-sambutan, santap ancak, dan tenong.

Masyarakat Gumelem santap ancak di Bukit Girilangan. Sementara para tamu undangan di Paseban Gumelem. Karena pukul 14.00 WIB Ayah Yasmin ada keperluan, kami pun tidak ikut bergabung menikmati ancak. Berdoa lagi, semoga tahun depan bisa mengikuti nyadaran dari awal sampai akhir. 😉

Bangkok, dan 5 Destinasi Impian yang Manja

Punya teman yang perhatian, dan baik adalah berkah. Terlebih, saat mereka terus ingat, bahwa punya teman baik (juga). Tak peduli dengan jarak, apalagi status. Bahagia banget, euy!

“Idah sudah pernah naik pesawat?”

“Sudah.”

“Idah sudah pernah traveling keluar negeri?”

“Belum.”

“Tapi sudah punya paspor, kan?”

“Belum.”

“Juni traveling ke Jepang, ya. Bikin paspor dulu, aku tunggu di sini.”

Satu bulan lagi menuju Juni. Sayangnya, percakapan di atas terjadi dua tahun yang lalu. Teman baik yang aku kenal semenjak SMA, saat itu sedang tugas belajar di Jepang. Saking baiknya, dia ingin mentraktirku. Namun aku belum bisa menerima traktirannya karena aku baru masuk kerja di sebuah Instansi. Tergolong pegawai baru, gitu.

“Ini anak baru mulai kerja, kok, udah berani izin. Ngga benar, ini.”

Aku betul-betul ngga memiliki keberanian untuk izin, apalagi mengajukan cuti. Takut mendapat anggapan, atau pendapat buruk dari teman-teman kantor yang bikin sakit hati. Traveling ke luar negeri dengan jaminan traktiran pun gagal. 😛

Tawaran serupa kembali datang. Kali ini dari saudara yang saat ini sedang melanjutkan study di sana. Dia ingin, aku bersama keluarga kecilku menyambanginya selagi dia di Jepang.

“Yakin ke Jepang?” Tanya adikku setengah memastikan.

“Kenapa ngga yakin? Ada saudara di sana, kok.”

“Emangnya kalau ada keluarga di sana, kelar hidup loe?” 😆

Eiiiits…busyet, deh. Bikin goyah.”

“Asean dulu, lah. Traveling yang dekat-dekat dulu. Pelan-pelan merasakan atmosfer negara tetangga. Lagipula ngga harus ada saudara, kan? Tanpa saudara, teman justeru makin bertambah.”

Asli. Ini bikin rencana buyar, dan iman menjadi goyah. Niat ingin memesan tiket pesawat lebih awal pun, terpaksa aku urungkan. Memang jika ada saudara yang welcome, rasanya lebih tenang. Apalagi kalau sudah jelas sedang menetap di negara yang hendak dikunjungi. Pasti akan sangat terbantu nantinya. Uunch

Karena iman sudah terlanjur goyah, dengan beberapa pertimbangan, aku memilih trip ke asean terlebih dahulu sebagai perkenalan, dan Ibukota Negara Thailand menjadi destinasi impian pertama yang ingin aku kunjungi.

Thailand dikenal sebagai negara yang cantik dengan berbagai adat budaya, dan keindahan alamnya. Selain banyak pantai cantik yang tersebar di seluruh penjuru negeri, Thailand juga punya Bangkok yang tak hanya menjadi Ibukota Negara tapi juga memiliki destinasi wisata andalan Negeri Gajah Putih itu.

Pantai bukan destinasi utama yang ingin aku kunjungi, karena aku ingin piknik manja, gitu. Traveling yang ngga membutuhkan banyak tenaga. Jalan beberapa menit, dapat tempat wisata yang asyik. Naik transportasi umum ngga sampai satu jam, bisa melihat objek yang memikat. Uuuh…manjaaa!

Rencananya, sih, aku akan menghabiskan waktu dua hari di Bangkok. Dan berikut 5 destinasi impian di Bangkok yang ingin aku kunjungi:

Siam Ocean World

Begitu sampai Bangkok, aku ingin menyenangkan Yasmin terlebih dahulu dengan destinasi yang satu ini. SEA LIFE Bangkok Ocean World. Salah satu akuarium terbesar di Asia Tenggara.

Ya, Bangkok punya taman bawah laut yang begitu megah. Uniknya, akuarium ini menempati ada di basement mal Siam Paragon. Di sini kamk bisa melihat berbagai ikan dari bawah akuarium raksasa, termasuk penguin dan hiu berukuran besar.

Sensasinya, tentu seru dan menyenangkan serta memberikan pengetahuan baru tentang kehidupan bawah laut yang dipertunjukan setiap 30 menit sekali.

siam ocean world1

Siam Ocean World memiliki koleksi satwa laut yang cukup lengkap. Pengalaman membawa Yasmin ke purbasari pancuran mas, dia tertarik banget melihat biota-biota laut yang lucu itu. Makanya, aku rasa Yasmin pasti senang menyambangi Ocean World ini.

Grand Palace

Usai melihat biota laut, kami meneruskan perjalan ke Grand Palace. Ke Bangkok, tapi ngga menyambangi wisata yang satu ini sepertinya hambar. Karena Grand Palace ini masuk rekomendasi wisata yang musti dikunjungi saat ke Bangkok.

Istana Kerajaan Thailand ini berdiri tegak di pusat kota, dengan bangunan megah berlapis emas. Istana ini juga menjadi tempat tinggal Raja dan keluarganya. Selain menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan, Grand Palace juga menjadi museum yang menyimpan banyak sejarah Thailand yang selalu update.

Dan yang membuatku penasaran, ternyata di sini juga terdapat Kantor Pemerintahan. Penasarannya, seperti apa suasana kantor yang berada di kompleks wisata. 😀

credit: nurulnoe.com

Terlepas dari kegunaannya, bangunan istana ini sangat menarik, karena dibuat dengan arsitektur khas Thailand yang memiliki detail rumit, dan cantik.

Terus, di sini mau ngapain?

Foto-foto! Hahaha. Penting banget narsis di sini, ya. Iyalaah, soalnya ngga tahan melihat kilau emas di tiap sudut Grand Palace. 😀 Duuuh…kebayang hebohnya Yasmin di sini.

Wat Pho

Setelah melihat bangunan megah yang menyilaukan mata, kami memilih Wat Pho sebagai kunjungan destinasi berikutnya.

Wat Pho ini dikenal dengan Kuil Budha Berbaring. Sebenarnya patung seperti ini, tuh, ada di Indonesia. Tepatnya di Mojokerto. Aku oernah melihat beberapa teman share foto mereka di depan patung budha yang sedang berbaring. Tapi karena Wat Pho ini lokasinya berdekatan dengan Grand Palace, ngga ada salahnya mampir lah, ya.

Kalau tadi habis melihat bangunan megah, kali ini di Wat Pho melihat patung budha dengan lapisan emas yang tak kalah megah.

Kuil Pho merupakan kuil yang terbesar, dan salah satu kuil tertua di Bangkok. Cukup jalan kaki dari Grand Palace untuk sampai Golden Buddha.

Btw, di sini katanya bisa belajar mijit tradisional, gitu. Aaah…suami bisa belajar, nih. Atau, aku boleh mlipir cari tukang pijit selesai main. 😀

Wat Arun

Yuhuuui…ke kuil lagi, tapi beda arsitekturnya, dong. Wat Arun berdiri megah di tepi sungai yang bersih, dan katanya memiliki pemandangan sangat indah ketika subuh tiba. Namun demikian, Wat Arun lebih terkenal dengan sunsenya yang menawan.

Letaknya ada di tepi barat sungai Chao Phraya. Jika matahari mulai terbenam, objek yang memiliki menara yang puncaknya setinggi 70 meter, akan terefleksi di permukaan sungai Chao Phraya. Katanya, makan di restauran sekitar sini, tuh, syahdu banget.

Untuk sampai sini, perlu banget naik feri. Kebayang foto di atas kapal, dengan background Wat Run. Euuuuh…emang bisa? 😀

 MBK Center

Jalan ke Bangkok tapi nggak belanja rugi, katanya. Barang-barang di sana harganya sangat terjangkau, bahkan ketika dirupiahkan sekalipun harganya bisa jauh lebih murah daripada Blok M di Jakarta. Katanyaaaaa!

Jadi, ngga heran kalau pusat perbelanjaan seperti MBK Center di Bangkok ini selalu menjadi tujuan utama para pedagang untuk mengambil barang. Kulakan. Hahaha.

mbk bangkok

Kalau masih punya waktu, dan ngga terasa capek, aku pingi mampir sini. Entah mau belanja, atau kulakan. 😀 Bangkok, tunggu Yasmin agak gede dikit, ya. Sehari buat piknik manjah, dan satu hari buat ke pantaaaaaai. Yuhuuuui…doakan impian kami terwujud ya, Kawans! 😉

Sindu Kusuma Edupark, Alternatif Wisata Keluarga di Yogyakarta

Mencari rekomendasi wisata di Yogyakarta sangatlah mudah karena Daerah Istimewa yang satu ini memang banyak menawarkan objek wisata. Termasuk untuk wisata keluarga, dan masih ada Si Kecil yang musti turut menikmati wisata. Ada Taman Pintar, atau Kids Fun, yang sudah lama berdiri.

Selain keduanya, ada alternatif wisata keluarga yang recommended. Adalah Sindu Kusuma Edupark (SKE) yang berlokasi di Jl. Magelang Km.3, Jambon, Sleman, Yogyakarta. Berdiri di atas lahan seluas 7 hektar, objek wisata ini mengandalkan konsep edukasi dan mengusung nilai-nilai Adiluhung Budaya Jawa sebagai tata laku utama.

Surprise banget saat tahu bahwa suami ngga dapat jatah libur tahun baru lalu. Artinya, kami gagal menjemput Sunrise di kawasan Borobudur yang lama telah kami idamkan. Bisa dibilang, ini piknik keluar kota terkilat. Ngga masalah, sih. Terpenting orang tua dan Jasmine dapat menikmati liburan.

Nah, supaya semua bahagia, kami memilih wisata keluarga dengan konsep wahana wisata. Beruntung banget…saat itu kami mendapat gratis liburan ke Sindu Kusuma Edupark, menjajal seluruh wahana di SKE. Yasalaam…Ibu solehah yang satu ini girang banget, dong. 😀

Pasti bahagia, karena bisa dibilang SKE masuk objek wisata sesuai kebutuhan kami. Jasmine dapat bermain di playground ditemani Mbah, aku dan suami bisa pacaran, menghabiskan waktu berdua menjajal wahana wisata SKE. Btw, sebelumnya kami dolan ke Candi Borobudur untuk melunasi keinginan orang tua. Setelahnya, barulah kami menujut SKE untuk bersenang-senang.

CANDI BOROBUDUR MAGELANG

Awalnya, aku ngga yakin dapat menikmati seluruh wahana permainan di SKE karena sampai lokasi sudah sore. Tapi setelah bertemu dengan Mbak Syifa dan Mas Ucup, karyawan SKE, aku kembali semangat karena mereka dapat membawa kami ke masa-masa ABG. 😀 Mereka juga menyambut kami dengan baik, tutur katanya lembut, sopan, dan ramah.

“Di sini ada 19 wahana permainan yang bisa banget dicoba semua. Mbak Idah, dan suami boleh memulainya dari Cakra Manggilingan yang merupakan ikon SKE. Sementara adeknya boleh main sepuasnya di Dino Park.”

EDUPARK YOGYAKARTA INDONESIA
Sedeep banget malam-malam naik ini…

Widiih…Mbak Syifa tahu banget kalau Jasmine udah pingin mainan. 😆 😛 😀 Secara ngga langsung, Mbak Syifa mempersilakan Mbah dan Jasmine menuju tempat permainan, ya. 😆 😆 Betapa bahagianya aku, bisa bebas lepas dan main sampai puas. Pun dengan Jamsine, dan mungkin tidak buat Mbah karena sudah terlalu capek keliling Candi. Qiqiqi. *maafken*

Sesuai arahan Mbak Syifa, kami pun menuju wahana Cakra Manggilingan atau Ferris Whell. Wahana ini merupakan ferris whell tertinggi di Indonesia, dan menduduki peringkat 6 besar di Asia.

WISATA KELUARGA DI YOGYAKARTA SINDU KUSUMA
Mirip mobil-mobilan, ya… 😀

Saat kami naik wahana yang memiliki 28 kabin dengan ketinggian 50 meter, mobil yang ada si parkiran tuh nampak seperti mobil-mobilan. Saat posisi kabin kami pas banget di paling atas, viewnya sedap banget. Di atas kabin, kami sibuk banget foto-foto, dong. Wefie dengan berbagai pose, dan asli rusuh banget. Beruntungnya, kabin yang biasanya terisi empat orang, hanya diisi aku dan suami dowang. Lepaaaas! 😆

Btw, wahana ini geraknya lambat. Insya allah aman buat si kecil. Tadinya aku mau mengajak Jasmine naik wahana paling hits di SKE ini, tapi keburu dibawa Mbah Uti dan Mbah Kung. Yaudah, pan kapan lagi.

Wahana selanjutnya yang kami coba yaitu Sepeda Mabur. Malam-malam mengayuh seped ternyata asyik. Apalagi ini sepedanya berada di ketinggian 3 meter di udara.

Sepeda Mabur Sindu Kusuma Edupark

Wahana yang berkapasitas dua orang ini mengharuskan kami untuk kompak mengayuh. Misal salah satu berhenti mengayuh, pejalanannya akan lambat. Kasihan yang di belakang, dong. Santai saja sih mengayuhnya, sembari menikmati pemandangan sekitar wahana. Saking fokusnya melihat Mas Ucup membantu suami mengenakan sabuk pengaman, cerita-cerita sembari mengayuh, kami sampai lupa ngga foto-foto di sini. Hahaha. Pinjamlah foto https://letswalk18.blogspot.co.id.

Next, ada Kursi Mabur. Ini mirip-mirip wahana yang di pasar malam. Hanya saja, kursi ini bisa terbang setinggi 4 meter di udara dengan durasi putar selama lima menit. Merinding ngga? Banget!

SINDU EDUPARK
Lumayan merinding… 😀

Basicnya ngga punya keberanian untuk terbang sih, ya. 😀 Tapi aku sempat kesal dengan suami dan dua anak kira-kira usia 10 tahun. Kesal karena mereka menertawakanku. Saat kursi mulai terbang, aku teriak-teriak manja, gitu. 😀 Kukira dengan teriak dapat sedikit tenang, ternyata ngga. Perut tetap saja mak syeeer. Padaha tenggorokan sampai kering, lho. Rugi banget teriak-teriak, ya. 😀 Detak jantung kembali normal saat mainan Pit Egrang. 

PIT EGRANG

Btw, aku baru merasakan kalau mainan Pit Egrang itu ternyata seru. Awalnya aku takut karena mainan ini kan hanya stang dowang. Ngga ada remnya, gitu. Tapi, setelah dapat edukasi dari Mas Ucup, aku jadi tahu cara mainnya. Intinya, tarik ke belakang kalau mau ngerem, sih. Namun, tetap hati-hati. Semisal ragu, bisa minta didampingi petugas. 😀

Kalau sudah sampai SKE ngga nyobain Pit Egrang, kurang mantap lah. Meski pengunjung harus bayar lagi Rp 40.000 per orang, karena permainan ini ngga masuk tiket terusan seharga Rp 70.000 per orang, tapi puas keliling sirkuit Pit Egrang selama 30 menit.

SINDU KUSUMA EDUPARK

Ini nih salah satu sudut taman SKE. Di sini cukup ramai karena ada wahana Panggon Lunjak. Seharusnya aku teriak-teriaknya tuh kalau main di panngon lunjak, bukan kursi mabur. 😀 Salah tempat. Sayangnya, baik aku maupun suami ngga ada yang berani main wahana yang dapat memacu adrenalin karena akan dibawa kabur terbang sampai ketinggian 10 meter di udara.

Ketimbang Panggon Lunjak, mending temenin kami ke Rumah Teror saja, Mbak Syifa. Pacu adrenalin di sana.” Ucap suami kepada Mbak Syifa usai main Pit Egrang. Grrr…

WAHANA SINDU KUSUMA EDUPARK

Sebenarnya aku ogahan masuk rumah yang ngga ada mendoannya ini. Tapi gimana lagi, suami ngebet pingin masuk. Untungnya sih kami ngga berdua dowang. Ada beberapa orang, jadi bisa njerit ramai-ramai sambil manja-manja meluk suami. 😀

Dengan menggunakan kereta elektrik, perjalanan keliling rumah teror hanya membutuhkan waktu kurang lebih 4 menit. Di sini pas lagi sebel-sebelnya dengar suara kuntilanak, mas bojo sempet-sempetnya tanya tentang sensor yang digunakan untuk wahana ini. Yasalaam…pingin tak gujeees.

PERMAINAN ANAK DI YOGYAKARTA

Sebelum melanjutkan permainan, kami menyempatkan untuk menengok Jasmine di Dino Park di mana lokasinya cukup dekat dengan House Of Terror. Ternyata Jasmine betah banget mainan di sini. Dia menclok dari satu permainan ke permainan lain. Terus, Mbah Uti sama Mbah Kung tambah capek, dong. Hahaha. Ngga apa-apa, yang penting cucu senang, damai hiduuup inii. 😀

Wahana yang cocok buat anak-anak, pengunjung harus mengeluarkan uang lagi untuk dapat bermain. Paling mahal Rp 15.000 sih, untuk wahana mandi bola. Kata Mbah Uti, hampir semua permainan dicoba. Lalu, aku tanya sudah habis berapa duit, katanya ngga bayar. 😀 Rejeki lagi, nih. Kami kira gratisnya di orang dewasa dowang. 😛

BUMPER CAR SINDU KUSUMA EDUPARK

Setelah dadah-dadah dengan Jasmine, kami keluar Dino Park dan menuju wahana berikutnya yaitu Montor Tumbur atau Bumper Car. Ini pertama kali aku naik Bumper Car, dan ternyata sama asyiknya dengan naik Sepeda Mabur. Hihihi SKE menyediakan Bumper Car dengan seat single dan double. Bertabrakan di atas arena seluas 200 meter, sebenarnya lebih asyik milih yang single seat. Tapi apa daya aku ngga berani tumbur dengan suami di ruang tebuka. Alasan banget, sih. Karena aslinya, aku ngga berani mainan Bumper Car. 😀

Eeeeh, ini sudah berapa wahana, ya. Panjang banget tulisannya. Hahaha. Maaph lagi doyan ngetik, nih. Total dari 15 wahana wisata, yang ngga kami coba yaitu Montor Listrik dan Panggon Lunjak (Trampoline). Selain wahana di atas, wahana  lain seperti: Roti Puter, Sepur Cilik, Cangkir Puter, Komidi Puter, Sepur Kluthuk, dan Cinema 7D, telah kami coba.

Btw, nama wahananya unik, ya. Menggunakan bahasa jawa, gitu. Seperti yang sudah kutulis di awal, bahwa konsep wisata Sindu Kusuma Edupark tuh mengusung nilai-nilai Adiluhung Budaya Jawa. Nguri-nguri basa jawa, melestarikan bahasa jawa. Makanya, nama wahana pun menggunakan bahasa jawa yang mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat yang tentunya bukan dari Jawa.

SINDU KUSUMA EDUPARK

Nilai edukasi di wahana ini memang belum maksimal, baru terdapat Oemah Batik dan replika-replika objek wisata, gitu. Replika Candi Prambanan, misalnya. Kata Mbak Syifa, masih dalam tahap pengembangan, dan tiap tahunnya juga menambah wahana baru. Seperti tahun ini, ada Waterpark dan Grass Slide.

Objek wisata keluarga semenarik, semurah, dan seramah Sindu Kusuma Edupark ini ternyata belum begitu memasyarakat, banyak orang yang belum tahu. Yuuuk ah, ajak keluarga untuk liburan ke Yogyakarta dan ramaikan SKE. Fasilitas umum seperti tempat parkir, mushala, dan toilet, memadai. Ada juga tempat makan dan pusat oleh-oleh khas Yogyakarta di sini.

Sindu Kusuma Edupark, Yogyakarta

  • Jam buka: Weekdays: 13.00-22.00 WIB. Weekend: 10.00-22.00 WIB
  • Lokasi: JL. Magelang KM 2, Jl. Jambon, Sinduadi, Mlati, Kab. Sleman, Yogyakarta.
  • Nomor Telpon : (0274) 6429660.
  • HTM: Rp 70.000 (tiket terusan)