Gelar Budaya Wisata Dawuhan

Haluu, Gaesss! Rasa-rasanya lama syekali aku tidak mengabarkan pariwisata di daerahku, Banjarnegara. Mungkin karena aku terlalu sering piknik ke luar daerah atau ikut famtrip, gitu. Jadi, jarang menuliskan pariwisata Banjarnegara. ~uhui…ini sombong banget~ 😆

Eeits…meski tidak mengabarkan lewat blog ini, bukan berarti aku tidak update pariwisata atau event-event di sini, lho. Sebenarnya aku selalu mengagendakan dan hadir pada acara-acara yang diselenggarakan oleh pengelola obyek wisata di sini, hanya saja aku tidak langsung menuliskannya. 😀 Saat event Gelar Budaya Wisata Dawuhan, misalnya. Sebuah event yang mengenalkan, dan mengangkat potensi desa ini digelar pada bulan Maret lalu.

Gelar Budaya Wisata Dawuhan merupakan event perdana yang diselenggarakan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tirta Panaraban, dan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kab. Banjarnegara. Event ini tidak masuk dalam kalender event Dinparbud setempat. Namun, dengan adanya dana aspirasi (bantuan dana dari komisi bla-bla bla untuk penyelenggaraan event pariwisata ini datang sebelum pemilu), Wisata Dawuhan masuk dalam daftar pariwisata yang masih membutuhkan dana aspirasi tersebut karena tergolong destinasi wisata yang masih dalam tahap rintisan.

Pada tahun 2017, aku bersama teman-teman Blogger Banyumasan pernah singgah di Desa ini untuk menjajal River Tubing di Sungai Panaraban dan mecicipi kuliner tradisional khas Dawuhan. Sayang sekali saat itu kami tidak dapat eksplorasi karena kami tidak menginap di sini. Jadi, aku tidak tahu potensi apa saja yang ada Desa Dawuhan.

Beruntungnya, aku dapat menghadiri Gelar Budaya Wisata Dawuhan, aku pun menjadi sedikit tahu potensi apa saja yang ada di desa Dawuhan. Sebelum ngomongib potensi desa, aku mau sharing gelar budayanya dulu, ya.

Gelar Budaya diikuti oleh masyarakat Dawuhan dari berbagai elemen yang jumlahnya lebih dari 1000 orang. Acara ini diawali dengan Kirab Budaya yang dimulai dari Balai Desa Dawuhan menuju obyek Wisata Dawuhan. Kirab yang diikuti oleh Perangkat Desa, Lembaga Desa, dan Masyarakat ini belum ada yang spesial. Hampir semua yang ikut kirab rata-rata berpakaian adat jawa biasa dan menurutku kurang adanya karakter budaya setempat. Namanya budaya, ya, tiap desa biasanya memiliki cerita atau sejarah yang dapat diangkat menjadi tema atau bahkan tokoh.

Berada pada barisan paling depan, terdapat dua gunungan yang dipikul oleh para pemuda berpakaian lengan pendek warna hitam. Kemudian diikuti barisan Perangkat Desa yang di belakangnya yaitu para penari Gambyong, penari Kuda Lumping, dan rombongan thek-thek. Lalu di barisan paling belakang yaitu para emak-emak menyunggi tenong yang berisi berbagai macam jajanan pasar berbahan dasar singkong yang merupakan produk unggulan Desa Dawuhan.

Grebek Gunungan Potensi Desa

KIRAB WISATA DAWUHAN WANAYASA (11)

Satu yang menyita perhatian dan unik yaitu gunungan yang berisi tempe. Kenapa ada gunungan tempe? Karena tempe menjadi salah satu produk unggulan Desa Dawuhan. Menurut Supriyanto, Ketua Panita Gelar Budaya produksi tempe mencapai 5000 buah tiap harinya. Meski hanya dua Dusun yang memproduksi tempe, Dusun Dawuhan I dan Dawuhan II, namun permintaan konsumen selalu terpenuhi.

Tempe yang diproduksinya pun tidak hanya tempe kedelai, ada tempe dages yang diproduksi secara unik yaitu menggunakan pelepah pisang dan juga bambu sepanjan 1.5 meter. Tempe dages juga ternyata banyak peminatnya di sana.

Camat Wanayasa, Yogo Pramono yang hadir dalam event tersebut memimpin acara grebeg gunungan. Dengan menghitung mundur dari angka lima hingga satu, grebeg Gunungan pun dimulai dan ramai sekali sampai tak bersisa.

Pasar Kuna (Pasar Tradisional)

Sementara masyarakat dan wisatawan sedang asyik berebut gunungan, para emak-emak yang menyunggi tenong sibuk menata tenong yang berisi dagangan. Ya, tenong yang di dalamnya berisi beragam olahan jajanan khas yang berbahan dasar singkong dijual di Pasar Kuna. Sebuah pasar bertema tradisional yang mengangkat produk unggulan ini langsung ramai diserbu para pembeli.

Jajanan tradisional non msg, pengawet, dan juga pewarna ini dijual dengan harga mulai dari Rp 500. Ada gethuk, combro, lapis, cenil, dan masih banyak jajanan lainnya. Wadah yang digunakan untuk membungkus jajan juga eco friendly yaitu menggunakan daun pisang.

Penampilan Kesenian Thek-thek

Gelar Budaya tidak hanya menyuguhkan produk unggulan atau potensi lokal, kesenian thek-thek juga turut meramaikan event yang digelar dari pagi hingga petang. Ketika alat musik thek-thek mulai dibunyikan, pengunjung terus bertambah dan Pasar Kuna pun makin ramai. Terlihat banyak transaksi di sana. Alhamdulillaah…

Obyek Wisata Dawuhan

Fakta paling mengagetkan yaitu ketika dalam sambutan Ketua Panitia, Pak Supriyanto mengatakan bahwa Desa Dawuhan merupakan desa termiskin di Kecamatan Wanayasa. Melihat suasana dan lingkungan desa yang nampaknya tumbuh subur, aku tidak percaya. Melalui event Gelar Budaya, Pak Supri mewakili seluruh masyarakat menyampaikan tekadnya untuk bangkit dari keterpurukan dan berharap pariwisata Dawuhan bisa maju sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Selain river tubing Sungai Panaraban, Pak Supri juga megenalkan obyek wisata baru berupa kolam renang alami non kaporit yang mana airnya bersumber dari belik atau air kali yang sangat jernih. Di sekitar kolam renang juga terdapat gazebo, area bermain, warung-warung yang dapat digunakan untuk ngopi-ngopi, tempat-tempat untuk swa foto dan tersedia juga lokasi khusus untuk outbound.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Dawuhan, Sakim sangat mengapresiasi Geralan Budaya ini. Dia sangat senang dan optimis dengan pengembangan pariwisata Dawuhan khususnya potensi unggulan desa taitu trmpe dan gethuk. Potensi unggulan ini telah dibuat paket wisata minat khusus. Wisatawan yang memilih paket wisata ini nantinya akan menginap di rumah waga atau homestay dan dapat belajar bagaimana cara membuat gethuk dan juga tempe.

Pemerintah Desa bersama Pokdarwis telah serius membuat paket Wisata Dawuhan. Didukung dengan akses jalan menuju Desa Dawuhan yang sudah cukup bagus, rasanya sudah menambah nila jual wisata. Hanya saja, kendaraan yang menuju Wanayasa, khususnya Desa Dawuhan belum begitu banyak dan hanya ada pada jam tertentu saja.

Ada baiknya Wisata Dawuhan dibuat paketa wisata bekelanjutan dengan wisata yang satu arah dengan Kecamatan Wanayasa. Wisata Dieng, misalnya. Tersedia banyak transportasi menuju Dieng baik transportasi umum maupun rental mobil. Ketersediaan rental mobil lebih banyak, seperti halnya Wisata Jakarta dengan rental Jakarta yang saat ini makin mudah untuk menyewanya hanya dan bisa disewa via online.

Jasa transportasi khususnya sewa mobil dalam dunia pariwisata sangat penting. Apalagi untuk generasi millennials yang saat ini lebih memilih untuk serba praktis, tidak ribet saat hendak traveling. Persiapan mulai dari transportasi sampai dengan penginapan sebagian besar dipesan melalui online. Bukan begitu, gen Millennials? 😉

Relaksasi di Wisata Pendidikan Kampung Damar

Tiap hari yang dikerjakan seputar itu-itu saja. Mengurus anak dan keluarga. Menyiapkan perlengakapan kerja untuk suami dan diri sendiri. Menyelesaikan tugas sebagai ibu rumah tangga dan juga tugas-tugas kantor yang terus bertambah tiap harinya. Hanya seputar itu, tapi aku kerap merasa butuh relaksasi untuk sekadar mengendurkan otot, otak, dan mencerahkan mata yang hampir tiap hari menghadap layar notebook.

Aku beruntung punya pasangan yang begitu pengertian. *uhuuuks. Ngga perlu nunggu diajak jalan, dia udah punya planning untuk jalan ke sana, ke sini, ke sana lagi, ke sini lagi, yang penting keluar dari rumah dan itu ngga jauh-jauh dari sekitar kota. Cinta produk dalam kota. 😀

Keterbatasan waktu, tenaga, dan tentunya lembaran rupiah di dompet, menjadi alasan utama bagi kami  untuk piknik atau sekadar relaksasi di dalam kota. Apalagi sekarang ada Yasmin. Kami harus betul-betul bisa memilih tempat yang ngga hanya nyaman bagi diri sendiri, tapi baginya juga.

Adalah Wisata Pendidikan Kampug Damar, sebuah tempat wisata yang dikelola oleh Perhutani BKPH Banjarnegara sukses menyita perhatian kami.

Saat perjalanan ke Desa Pesangkalan untuk menghadiri acara sowan ngalas, kami melihat tempat ini ramai karena hari itu akan diresmikan sebagai tempat wisata. Niatnya, sepulang dari acara, aku bersama suami dan Yasmin akan mampir. Tapi ternyata ngga kesampaian karena waktu sudah sore.

“Kapan-kapan kita ke sini, yaaaa.” Di atas sepeda motor dengan laju pelan, suami seakan membuat janji akan mengajak kami ke Kampung Damar.

Lokasinya di pinggir jalan raya, tepatnya di Desa Watubelah, Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara. Tempatnya teduh karena banyak pepohonan di dalamnya. Mirip rest area, tapi bukan. Bagi kami, tempat ini seperti punya daya tarik tersendiri meski kami ngga tahu ada apa saja di dalamnya tentunya selain pohon pinus yang terlihat jelas dari luar.

Kampung Damar Tempat Parkir
Tempat parkirnya bersih, ya.

Perjalanan dimulai…

Tempat ini kembali menyapa ingatan suami. Sayangnya dia hanya hanya ingat taman wisata, ngga menyebut nama tempat. Aku sempat terkecoh, kukira taman letnan karjono yang pernah kami kujungi. Untungnya, dia masih ingat acara sowan ngalas, aku pun langsung menyebut Kampung Damar. Dan ternyata betul!

Setelah mempersiapkan perlengkapan piknik, kami pun berangkat ke Kampung Damar jam 07.00 WIB dari rumah. Kami sengaja berangkat pagi karena berencana untuk sarapan di sana. Ini sarapan ngapain jauh amat, ya? Hahaha. Ngga usah heran, kami sering melakukan hal ini, kok. Khususnya wisata dengan nuansa alam. Makan dengan menggelar karpet, dikelilingi pepohonan, udara sejuk, nikmat pun makin terasa. Dan ini membuat kami ketagihan. 😀

Perjalanan dari tengah kota dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit. Sebenarnya dekat, akses jalan pun sudah baik, hanya saja banyak kelok dan tanjakan. Makanya, ngga bisa terus-terusan menambah kecepatan. Apalagi membawa si kecil, kami memilih untuk lebih menikmati perjalanan.

Kampung Damar Banjarnegara 6
Kawasan Kampung Damar…

Tiba di Kampung Damar…

Tiba di lokasi, kami langsung menuju tempat parkir yang berada di dalam. Di depan pintu masuk, nampak ada pos jaga. Namun saat itu ngga ada yang menjaganya padahal weekend, lho. Di sekitarnya hanya ada seorang lelaki paruh baya yang sedang menyapu halaman parkir. Pikirku, dia lah penjaga yang merangkap sebagai tukang bersih-bersih. Tapi ternyata bukan.

“Tempat ini ngga terjaga. Bebas biaya masuk, dong?” Pikirku saat itu. Berjalan kurang lebih sepuluh meter dari area parkiran, ada seorang lelaki yang memanggil kami.

“Mas, bayar tiket masuk dulu.” Kami kaget, karena hanya suara yang terdengar. Tak lama kemudian, muncul sosok laki-laki mengenakan seragam hijau perhutani dari rumah yang katanya akan dijadikan warung. Ya, tepat di kiri tempat parkir, berdiri sebuah ruang yang cukup luas. Karena ngga ada informasi tentang ticketing di sana, kami memilih untuk terus berjalan tanpa masuk ke ruang tersebut.

Kampung Damar Banjarnegara 4
Tempat ini cocok buat bermesraan halal, pepotoan sama pasangan… 😀

Ekpektasiku, tiap pengunjung yang datang ke sini akan mendapat pendampingan dari petugas. Ya, jalan-jalan dengan didampingi petugas, lalu mereka bercerita tentang Pohon Damar, mulai dari konsep, alasan pemilihan dan penanaman, pembibitan, sampai dengan manfaatnya. Namanya wisata pendidikan, ya. Kan biasanya sarat informasi. Tapi ternyata mereka melepas perjalanan kami tanpa memberi informasi suatu apa. *belajar mandiri

Setelah membayar tiket masuk Rp 3.000 per orang, kami lanjut jalan mencari tempat yang nyaman untuk duduk santai karena Yasmin masih bobok. Untungnya kami membawa karepet, jadi bisa menidurkannya.

Kampung Damar Banjarnegara 5
Bibit Pohon Damar siap tanam…

Ada empat lantai Kampung Damar. Lantai pertama ada spot berfoto yang cukup manis. Selebihnya, lahan ini dipakai untuk menaruh bibit pohon damar yang masih di dalam polyback. Lanjut lantai dua, ini kompleks tempat parkir, calon warung, gazebo, dan tanaman pohon damar yang baru ditanam. Lalu di lantai tiga, selain ada pohon damar yang audah tertanam, terdapat bak besar penampung air. Dan lantai akhir, di sini disediakan tempat khusus untuk duduk. Tempat duduk yang terbuat dari pohon ini membentuk persegi. Dengan latar belakang pohon pinus dan tentunya pohon damar, lumayan bagus buat foto-foto. Di sini dibuat selfie deck juga, lho.

Sambil menunggu Yasmin bangun, aku bersama suami menuju lantai dua. Ada beberapa pohon yang nampaknya baru ditanam. Tingginya kira-kira 50 cm, di sampingnya terdapat label yang bertuliskan nama penanam. Bupati, misalnya. Mungkin Pohon Damar itu yang menanam adalah Bapak Bupati.

Tak jauh dari pintu masuk, tepatnya di lantai satu, ada ribuab bibit Pohon Damar berjejer rapih. Dari banyaknya Pohon Damar yang menghiasi kampung ini, sebenarnya aku ngga begitu paham manfaatnya kecuali tentang pengambilan getah yang dipakai untuk membuat lilin. Hahaha. Minim banget pengetahuanku, ya. Tapi tak mengapa karena masih bisa dipelajari sepulang dari Kampung Damar.

Kampung Damar Banjarnegara 3
Getah terus menetes…

Asyiknya nih, meski konsep mereka adalah wisata pendidikan, di sini disediakan tempat khusus untuk duduk dan foto-foto. Seperti yabg sudah kusebut di atas. Ada sebuah gubug kecil lengkap dengan tempat duduk memanjang, di sini lah pengunjung bisa narsis. Mumpung Yasmin masih bobok, aku bersama suami menghabiskan pose sambil cekikikan karena benar-benar alay. Seperti pasangan yang sedang mabuk asmara, gitu. Sungguh, moment ini tak terduga. 😀

Hari mulai siang, namun si kecil belum juga bangun. Kecemutku bisa pules banget boboknya padahal di hutan. 😆 Karena ngga bisa meninggalkannya terlalu jauh, kami putuskan untuk ikut tiduran. Tiduran sambil bercerita sampai akhirnya Yasmin bangun karena mungkin brisik.

Kampung Damar Banjarnegara 1
Hyaah…abis! Hahahaha

Hayuuk bangun, makan duluu.” Matanya masih sayu, tenaganya belum terkumpul. Sembari menunggu moodnya, aku mempersiapkan makanan. Satu per satu bekal aku keluarkan, bukannya dia tertarik makan, malah minta jalan-jalan. 😀 Anak yang satu ini emang hobi banget jalan. Asli. Untung aku sempat membeli Cilok, akhirnya dia memilih untuk makan Cilok dulu. Ada yang ngemil, ada yang minum kelapa muda, ada yang memilih untuk mulai sarapan. 😆 Makan bareng, tiduran di tengah kampung damar, gini aja sukses bikin kami rileks. Uwwh…

Amunisi yang aku bawa saat itu terbilang lengkap. Sampai air untuk cuci tangan. Tapi melihat ada kran air, kami girang banget karena baru pertama kali mendapati fasilitas semacam ini di tengah hutan. 😀 Mungkin digunakan untuk menyiram bibit Pohon Damar tiap harinya kalik, ya.

Suami berusaha menjaga jarak supaya air ngga sampai kena baju Yasmin, tapi ternyata airnya hanya mengalir sebentar saja. Hahaha. Mungkin karena dari atas belum dialirkan sih, ya.

Kampung Damar Banjarnegara 2
Tempat pepotoan di sini…

Keliling kampung damar…

Usai sarapan, kami lanjut jalan-jalan keliling Kampung Damar. Jangan dibayangkan kelilingnya sampai habis tenaga, ya. Kami hanya jalan beberapa meter dowang ke tempat yang lebih asyik buat foto-foto. Hahaha. Yuup, lantai paling atas.

Di sini disediakan selfdeck, dan masih sederhana banget. Pun dengan tempat duduknya, warna kayunya masih original. Hahaha. Etapi karena konsepnya wisata pendidikan, mungkin mereka ngga memaksimalkan spot-spot untuk foto. Tempat duduk dicat warna-warni, misalnya. Kan makin ramai tuh, ya. 😀

Di sini kami ngga lama, hanya duduk-duduk dan nyobain selfdeck. Pinginnya sih meneruskan jalan ke atas sampai perkebunan warga, tapi sudah terlalu siang. Kami pun memutuskan untuk meninggalkan Kampung Damar.

Kampung Damar Wisata Banjarenagra
Ngga ada alasan untuk “menyebar” sampah…

Jalan keluar sampai di tempat parkiran, kami bertemu dengan petugas dari Perhutani yang sedang menata ulang bibit pohon damar. Pak Sam, namanya. Dari informasi yang kami dapat darinya, ternyata konsep wisata pendidikan ini berlaku bagi siapa pun yang memang ingin belajar di sini, semacam riset, gitu. Seperti teman-teman dari sekolah atau perguruan tinggi yang pernah melakukan penelitian di sini.

Tapi ya itu, karena keterbatasan tenaga, mereka ngga bisa mendampingi satu per satu pengunjung yang datang ke Kampung Damar. Jika perlu pendampingan, pengunjung bisa langsung ke basecamp Kampung Damar yang lokasinya di atas tempat parkir. Minta lah kepada petugas untuk mendampingi tiap langkah kalian. 😉

Kampung Damar 2Mumpung Yasmin bobok… 😀

Menurut Pak Sam, ke depannya di sini akan dibuat camping ground. Spot foto pun pelan-pelan akan dipercantik. Tak dipungkiri, tempat wisata tanpa spot foto memang rasanya kurang lengkap. Sekalipun itu wisata pendidikan. Tapi menunggu dana yang entah datangnya dari mana karena pemasukan dari tiket masuk wisata sudah dimanfaatkan untuk pemeliharaan dan kebersihan Kampung Damar. Butuh sentuhan dari pemerintah daerah, sepertinya.

River Tubing di Kali Panaraban, Ada Alasan Kenapa Aku Akan Kembali

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”. Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman blogger di dekatku yang ikut river tubing di Kali Panaraban. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendang karena pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing kali panaraban. 😀

Kenapa minta ditendang cobak? Karena sore itu aliran sungai ngga sederas hari biasanya. Ini menjadikan tubing kerap nyantol bebatuan. Selain itu, kami sering salah jalur juga. 😆 Meski demikian, kami masih sempat ketawa jahat saat melihat teman lain yang selalu berjodoh dengan bebatuan di kali. 😀

Eeeh, kamu bisa ngebayangin ekspresiku saat minta ditendang? Jadi nih ya, suaraku tiba-tiba sok manja, cengar-cengir tengil, sambil mencoba menggoyangkan tubuh yang tengah rileks duduk di atas tubing agar bisa lepas dari belenggu bebatuan. 😆 😀 Duuh…rasa-rasanya udah kayak puteri duyung versi Pretty Asmara, deh. Emang ada? Wkwkwk

RIVER TUBING PANARABAN WANAYASA
Enak zamanku to?

Sore itu, river tubing di Kali Panaraban tetap dilaksanakan, dan ini luar biasa!

Tepat pukul 15.00 WIB, aku, bersama teman-teman Blogger dari Banyumas dan Wonosobo, tiba di Balai Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Sebelum menuju Kedung Umpluk, tempat mulai tubing, aku beri tahu sedikit informasi tentang Kecamatan Wanayasa.

Masuk daerah Wanayasa, hawa dingin mulai terasa sampai dinding kulit. Karena kecamatan ini cukup dekat dengan dataran tinggi dieng, kira-kira empat puluh lima menit, tak heran jika suhu air dan udara pun hampir sama dengan Dieng. Makanya, para operator river tubing sempat memastikan kesediaan kami untuk tetap menikmati tubing, atau cukup melihat arus Kali Paraban. Dengan mantap, kami memilih untuk tetap tubing. Susur sungai sore hari dengan kondisi air yang tergolong dingin. Luar biasa, ya!

Iyalaah…soalnya sayang banget kalau sampai ngga jadi nge-tubing. Udah naik mobil terbuka selama enam puluh menit, udah lama menunggu para operator menyiapkan peralatan tubing, masak batal tubing. Kan ngga asyik. Lagipula, kalau bukan sore ini, sepertinya bakal ngga ada waktu lagi karena esok hari pasti tenaga udah lempoh di acara Pesta Budaya Kalilunjar.

Berbekal ketaatan pada rundown, kami memutuskan untuk memakai lifejacket, pelindung kepala, decker untuk pelindung tangan dan kaki yang telah disediakan oleh teman-teman Pokdarwis Tirta Panaraban. Omong-omong, pokdarwis ini lagi hot-hotnya, lho. Baru diresmikan bulan Maret tahun 2017 berdasarkan SK dari Bupati Banjarnegara. Mereka lagi gesit-gesitnya mempromosikan potensi Desa Dawuhan. Salah satunya yaitu Kali Panaraban yang kini dimanfaatkan untuk olahraga River Tubing.

RIVER TUBING
Semangatnya ngalahin pas mau ketemu patjar. . . Hihihi

Perjalanan menuju Kali Panaraban dimulai dari depan Balai Desa Dawuhan, kemudian lanjut jalan manja melewati perkebunan dengan waktu kurang lebih sepuluh menit. Untuk meringankan para operator, tiap peserta membawa satu tubing yang nantinya akan digunakan untuk susur kali. Supaya ngga terasa berat, angkat tubing dengan dua tangan, lalu letakkan di atas kepala. Ini lebih nyaman ketimbang dijinjing apalagi dipeluk. 😆 Anggap saja sedang nyunggi kerupuk, ya. Ini tip, lho. Hahaha.

Yes…akhirnya nyobain paket tubing Happy Fun

Mengingat waktu yang kami punya cukup terbatas, para operator tubing Delta Dantana menyarankan kepada kami untuk mencoba track river tubing yang paling dekat. Estimasi waktu kurang lebih satu jam dengan kondisi air kali yang ngga begitu deras. Kami pun mengangguk pasrah karena ternyata kami masuk kali jam 16.30 WIB. Brrr

Baca juga tentang River Tubing Kali Oyo.

Satu per satu tubing mulai digelindingkan ke kali. Sebelum tubuh menyatu dengan air, Mas Alwanto (guide air) memimpin do’a untuk keselamatan aktivitas kami. Saat itu ngga ada sesi pemanasan seperti yang biasa dilakukan di depan Balai Desa Dawuhan sebelum mulai river tubing. Lagi-lagi, karena keterbatasan waktu. Tapi aku percaya, para Operator Delta Dantana tuh tangkap, tangkas, dan trengginas, seperti moto mereka. Ini lah yang membuatku cukup tenang. Terpenting selalu ada komunikasi, baik dengan teman maupun operator. 😉

PERSIAPAN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Buuuk, gayanya biasa aja bisa, kaaan?

Satu per satu kaki masuk ke dalam air. Nyesss…celana pun mulai basah. Brrr…duiingin, asli dingin banget. Tapi melihat semangat para Operator, dingin pun berhasil tersamarkan sampai akhirnya aku bisa duduk di atas tubing dengan bahagiaaaaa! 😉

Paket tubing yang kami jajal sore itu adalah Happy Fun dengan jarak tempuh kurang lebih 1 km. Jika debit air sedang tinggi, jalur ini bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit. Menurut Pak Supri, pegiat Desa Wisata setempat, jalur ini biasanya diambil oleh anak-anak SD atau SMP. Jeramnya memang ngga begitu banyak dan pendampingannya pun mudah. Cukup aman buat anak-anak.

Arus sungai lebih sering membawa kami ke sebelah kiri di mana pepohonan itu bergelantungan. Kalau seperti ini, harus fokus ke depan supaya ngga kesambet. Yaa…meski hanya kesambet dedaunan, ternyata sukses bikin kaget, lho. Kaget plus sedikit perih, meski ngga seperih pas tahu kalau babang gebetan ternyata sudah punya tunangan. 😆  😀

ASYIKNYA RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Benerin helmet duluu…

River tubing dengan debit air rendah memang kurang asyik dan kurang menantang. Tapi pas melihat teman-teman lain pada temangsang di bebatuan, rasanya pingin ngakak-ngikiks. Apalagi yang temangsang itu cewek, kayak Eci dan Tiwi. Hanya bisa menunggu Babang-babang guide datang, lalu menggoyangkan hatinya tubingnya. 😀

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”.

Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman yang berada di dekatku. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendangku. Artinya, pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing. Jadi guidenya ngga berat-berat banget laah.

Disambut Api Unggun…

Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib dan kami masih di dalam air. Hahaha. Panik? Ngga, dong! Banyak orang di sekitar kali, banyak teman yang masih di atas tubing, dan hanya aku yang temangsang. Duuh…nasib puteri duyung, ya. 😆

API UNGGUN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Dibuatin Api Unggun…

Beruntung banget sesampainya di Rest Area, kami disambut api anggun yang memang selalu ada untuk para eserta tubing. Aaah…nikmat banget. Meski sebenarnya ada yang kurang, yaitu anget-anget yang lain. Mendoan, misalnya. 😆 Etapi sajian khas di sini bukan mendoan, melainkan tempe wudha. Itu lho, tempe goreng yang ngga dipakein tepung. Hahaha. Tempe ditambah nasi jagung dan ikan asin. Yuummii banget, ya.

Sajian khas lain setelah tubing yaitu ada aneka camilan berbahan dasar singkong. Ya, Desa Dawuhan termasuk salah satu desa penghasil singkong. Duuh…sayang banget, yaa. 😉

River tubing ini bisa dibilang dadakan karena ada miss antar penyambung komunikasi. Meski apa adanya, aku tetap bahagia. Apalagi karena obyeknya air, uuw…tambah bahagiaa.

Tentang Desa Wisata Tirta Panaraban

Desa Wisata Tirta Panaraban dan Wisata River Tubing digagas oleh H. Sakim, S.Pd, Kepala Desa setempat. Ide untuk menjadikan wisata river tubing ini muncul saat di Desanya sedang ada pelatihan rescue. Para pemuda Desa Dawuhan dilatih langsung oleh BPBD Kabupaten Banjarnegara. Nah, saat kegiatan sosial sedang senggang, BPBD mengarahkan para pemuda ke Kali Panaraban untuk belajar menjadi rescue. Dari sini, akhirnya masyarakat sepakat untuk menjadikan Kali Panaraban sebagai obyek wisata olahraga yang dikelola secara swadaya.

Sebelum dimanfaatkan untuk river tubing, Kedung Umpluk, kedung yang berada di bawah jembatan bambu, penuh dengan sampah. Ngga hanya di kedung saja, hampir sepanjang aliran sungai bertebaran sampah sampai ke pinggir sungai. Hmmm…mengerikan, ya. Bukan hanya sampah saja yang menjadikan kali ini ngga sehat, ada tingkah laku manusia juga yang membuat ekosistem di kali ini nyaris hilang. Adalah tangan-tangan jahil manusia yang suka meracuni atau setrum ikan. Hiiih…ngeselin, ya. Pingin njeweer rasanya. Weeerrr…

RIVER TUBING PANARABAN
Jeraam….

Sekarang kamu bisa lihat kondisi Kali Panaraban lewat foto-foto di sini. Lebih bersih, bukan? Aku yang menyusuri sungai saja betah mainan air di sini. Hanya saja, di beberapa titik ada pepohonan yang menjuntai sampai kali dan ini cukup mengganggu aktivitas tubing.

Saat ini, pihak Pokdarwis terus meningkatkan fasilitas untuk river tubing, khususnya. Seperti pengadaan sepatu untuk para wisatawan. Selain wisata tubing, mereka juga pelan-pelan mengenalkan potensi daerah seperti kerajinan tangan, dan camilan khas setempat.

Dan ini alasanku kenapa ingin kembali tubing di Kali Panaraban

Idih…manusia emang ngga ada puasnya, ya. Hahahaha. Ngga, kok. Aku cukup puas dengan tubing ini. Hanya saja, aku pingin nyobain yang paket Full Adrenalin. Jalurnya lebih panjang, lama, dan banyak jeramnya. Tubing dimulai dari bawah aliran Curug Panaraban dan Finish Rest Area. Sekalian main ke Curug. Jarak tempuh kurang lebih 4 km, waktu yang dibutuhkan 90 menit, dan harga untuk paket ini yaitu 140.000 per orang.

Ada satu paket lagi dengan track sedang, yaitu paket Adrenalin. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 60 menit kalau debit air lagi tinggi. Jarak tempuh 2.5 km, dimulai dari Desa Sarwodadi, dengan biaya Rp 75.000 per orang. Untuk dapat menikmati olahraga ini, minimal harus ada lima peserta baru bisa susur Kali Panaraban.

Selain nyobain paket Full Adrenalin, aku pingin juga nyobain masakan mamak-mamak Desa Dawuhan yang katanya endeeus banget. Pingin ngerasain api unggunan, sambil makan nasi jagung. Pingin nyobain aneka camilan dari singkong. Pingin ngobrol lebih lama dengan para operator Delta Dananta (Destinasi Lintas Air, Dawuhan Tangguh Bencana). Abis mereka tetap keliatan semangat nemenin kami ber-tubing, meski udah sore dan airnya dwingiiiinnn.

Kira-kira, kapan ke Dawuhan lagi, ya. Ada yang mau ikut? ^_*

River Tubing Kali Panaraban

  • Alamat: Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara
  • Kontak: +62812 1022 4432 (Pak. Supri)
  • Instagram: @tubingx_panaraban

 

Jelajah Curug Sikopel Bareng Vinslog dan Explore Babadan

Aaaak…aku mau norak dulu, yaaaaa. Jai nih, blog post ini telah publish di Majalah Candi Edisi Agustus. Majalah yang ditebitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah. Yeeeea la la la la. Eh, sebenarnya ini bukan kali pertama tulisanku terbit di sana, sih. Sebelumnya, tulisan berjudul warna-warni agrowisata lembah asri juga pernah mejeng di sana. Bedanya, objek wisata yang aku tulis kali ini adalah destinasi wisata milik kota kelahiranku, Banjarnegara. 😆 Jadi ya, tambah bungaaaah!

Yaudaaaaah, pamer noraknya cukup sekian. Lanjut baca pengalamanku jelajah curug sikopel, yuuuk! 😆

Sehari sebelum berangkat jelajah, ada sedikit drama yang bikin galw dan sedih. 😀 Aku mendapat kabar dari Mas Ofie, aktivis pokdarwis Babadan yang ada di balik akun instagram @explorebabadan. Dia mengabarkan bahwa ada pohon tumbang di Desa Clapar, dan pohon tersebut menghalangi lalu lintas jalan. Sedihnyaaaa. 🙁

Melihat besarnya pohon melalui foto yang dibagikan, sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk dapat menyingkirkannya sampai bisa dilewati kendaraan. Pasalnya, hari sudah sore, kira-kira jam 16.00 WIB. Kami pun hanya bisa pasrah menunggu kabar dari Mas Ofie.

Sekadar informasi, kontur tanah mulai dari Desa Clapar sampai Pagentan cukup labil, dan rawan longsor. Makanya, jalan menuju Desa Babadan pun tidak mudah. Ada beberapa titik jalan yang rusak meski ngga terlalu parah. Beberapa kali telah diaspal pada titik jalan tersebut, tapi ngga bertahan lama. Beruntung, bebatuan kecil yang cukup tertata sudah kuat tertanam. Jalan pun dapat dilewati kendaraan dengan aman, meski tetap harus hati-hati.

Alhamdulillaah, pagi hari ada kabar baik dari Mas Ofie yang tak lain mengabarkan bahwa lalu lintas di Desa Clapar sudah kembali normal. And yeeey, Curug Sikopel menjadi destinasi jelajah pertama bareng teman-teman @vinslog. 😆

Lapangan Desa Babadan…

Perjalanan dimulai dari The PIKAS yang merupakan titik kumpul paling strategis. Kami termasuk golongan orang beruntung karena hari itu cuaca sangat cerah. Ngga kebayang, jika hujan. Uumh…pasti perjalanan akan terasa lebih panjang, dan kenyataan pahit eksplor bisa dibatalkan. Menyedihkan.

Melewati Pasar Madukara, Desa Clapar, dan sampai pada jalan menanjak, terus menanjak. Temurun, lalu berliku. Menanjak, dan sesekali harus melewati jalan rusak. Persis perjalanan hidup, ya. Ngga melulu mulus, ada rintangannya. Hihihi. Kami pun terus menikmatinya dengan tawa alih-alih mensupport sepeda motor yang kami naiki agar tetap kuat. Sekuat kami yang mengendarainya.

Kurang lebih enam puluh menit perjalanan yang telah ditempuh, kami pun sampai pertigaan antara arah kanan menuju Kecamatan Batur, dan terus lurus menuju Curug Sikopel.

Jelajah ditemani @explorebabadan dan @nonakeripik. . .

Sekadar informasi, di sini ada dua warung makan. Ada baiknya isi perut dahulu jika sudah terasa lapar, karena trekking Curug Sikopel cukup panjang. Jalan setapak naik turun, tentunya akan menghabiskan banyak energi. Sebenarnya di tempat parkir Curug juga terdapat warung kecil, tapi baru menyediakan air mineral dan camilan. 😉

Dari pertigaan, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai area curug. Sesampainya di tempat parkir, kami membayar biaya parkir Rp 2.000 per kendaraan, dan tiket masuk Rp 3.000 per orang. Harga tiket yang sangat terjangkau untuk sebentuk wisata alam, bukan?

Mengenakan kaus oblong warna abu-abu dengan panorama Sikopel yang melekat di dadanya, Mas Ofie berjalan ke arah kami. Kami langsung bisa menebak bahwa itu Mas Ofie meski sebelumnya kami belum pernah berjumpa. Ya kan di profil whats app ada fotonya yang kece itu. Hahaha.

Luar biasa medannya, Mas.” Aku menepuk bahu Mas Ofie sebagai pengganti salam sapa. Dia hanya mengangguk, dan memberi senyum termanis yang menurutnya bisa menghilangkan lelah. Ya ampun, narsis banget, ya.

Eh, Mas Ofie tuh punya tim yang siap menemani wisatawan eksplor curug di Babadan, termasuk Curug Sikopel ini. Selain Mas Ofie, kami ditemani Mas Mahdun, ketua Pokdarwis setempat. Mantap jiwa! 😆

CURUG SIKOPEL GERBANG
Gerbang dan pepohonan albasiaaaa…

Melewati gapura bertuliskan “Curug Sikopel”, trekking pun dimulai. Beberapa gazebo yang berdiri di tengah hutan, seakan memanggilku, mengajak bercerita. Namun aku harus menemui Sikopel terlebih dahulu. Layaknya teman, aku dadah-dadah kepada si gazebo sembari berteriak: ‘heeei, nanti aku akan menemuimu.’ Teman-teman yang jalan bersamaku nampak bingung dengan tingkahku. Mirip orang sinting kalaik, ya. Hahaha.

Memandang Sikopel dari jauuuuh…

Babadan, sebentuk Desa di Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, mulai diburu wisatawan karena banyak “surga tersembunyi” di dalamnya. Keindahan alam bernama curug di Babadan memang ngga hanya satu, dua, yang dapat dieksplor. Namun ada satu yang sudah dikenal dan memang istimewa, yaitu Curug Sikopel.

Sikopel merupakan curug yang begitu menarik dan eksotis. Yang membuat curug ini istimewa, karena debit airnya lebih tinggi dibanding curug lainnya di Babadan. Ini juga menjadi salah satu alasan para wisatawan menjadikan Sikopel destinasi utama saat jelajah Babadan. Selain itu, terdapat dua curug lagi di lokasi yang sama. Yaitu Curug Silunjar dan Curug Sijurang.

Kamu baik-baik saja, Dah?” Tanya Gianti sambil membersihkan lensa kameranya yang hendak digunakan untuk merekam jejak.

Hosh…hosh…hosh…

Suara napas mulai terdengar tak beraturan. Aku yang berjalan berdampingan dengan Umi, merasa ngga enak. Padahal perjalanan baru dapat setengahnya, dan jalan terus temurun. Ngga kebayang saat pulang nanti, harus naik, dan terus naik. Beruntung, Mas Ofie dan mas Mahdun selalu di belakang kami. Mereka jalan pelan sambil bercerita, dan sharing tentang Curug Sikopel yang katanya akan mulai dipercantik dengan selfie deck dan peraga lain yang dapat menarik perhatian wisatawan.

Karena sedari awal trekking sudah mendapat view Sikopel dari atas yang sangat menggoda, aku pun terus semangat jalan dooongs. 😉

Byuuuur…duduk di depan Sikopel ini…

Dua puluh menit trekking, curug paling istimewa sudah di depan mata!

“Aaaak….segar banget!” Teriakku sambil lari menuju bibir Sikopel. Debit airnya memang tinggi, aliran airnya deras banget, dan mata airnya begitu bening. Rasa-rasanya ingin segera menyatu. Sayang banget, Mas Ofie ngga mengizinkan kami “memeluk” Sikopel. Ya, wisatawan ngga diperbolehkan mendekat, apalagi mandi tepat di bawah curug Sikopel. Wisatawan hanya diizinkan menyapanya sampai batas berupa bebatuan besar yang biasa digunakan untuk berfoto dengan background Sikopel.

“Bawah curug persis berbentuk mangkuk, dan entah berapa kedalamannya. Ngga datar seperti curug pada umumnya. Takut wisatawan ngga bisa mengendalikan diri karena derasnya air.” Jelas Mas Mahdun.

“Tapi kalian bisa main air di aliran sungai ini. Deras juga, kan.” Tambahnya.

Sumber air lainnya…

Sekadar menyegarkan kaki, aku bersama Umi dan Gianti, turun ke Sikopel sampai jarak kurang lebih sepuluh meter dari air terjun. Sementara Mas Imam, Mas Jeim, Mas Mefta, terlihat sibuk memainkan kameranya. Ada juga yang merekamnya menggunakan drone, Si Rois. 😉

Berbeda dengan mereka, aku malah ngoceh sendiri di depan kamera, membuat vlog centil. Hahaha. Seakan ngga peduli lensa kamera kena percikan air terjun, vlog centil terus berlanjut. 😆 Setelahnya, bingung kamera menjadi lambat buat ngeshoot. Wkwkwk

CURUG SIKOPEL
Jangan lupa narsis kek ginii…

Curug Sikopel cukup luas. Diambil dari sudut manapun, ia tetap terlihat gagah dengan debit airnya yang tinggi. Ia tetap terlihat eksotis dengan bebatuan tua berlumut di sekitarnya. Ia tetap indah dengan rimbunnya pepohonan di sekelilingnya. 

Sikopel, curug paling istimewa di Babadan. Sesekali, datang lah ke Babadan untuk menyapanya, menikmatinya. Dan kalau masih punya banyak waktu, sambangi juga Curug lainnya. Tinggal kontak mamas-mamas @explorebabadan, mereka pasti akan mengantar kalian ke Curug Sirongge, Curug Sicode, Curug Silumpang, dan Curug Sigopet, yang lokasinya ngga jauh dari Sikopel.

Makasih banyak buat @explorebabadan!

Keelokan Lansekap Dieng dari Bukit Scotter

“Pak, berhenti di depan BRI, ya.” Intruksi dari seorang laki-laki bertopi hitam, dan mengenakan jaket warna oranye. Lelaki yang mendampingi kami tur selama tiga hari dua malam. Pak Daryo, namanya.

BRI Dieng menjadi ancer-ancer menuju Bukit Scotter, Dieng, Banjarnegara. Teman-teman nampak semangat turun dari minibus meski sudah dipastikan tidak akan mendapat sunrise karena kami keluar dari penginapan D’Qiano jam 05.00 WIB. Sampai kaki bukit jam 05.30 WIB.

Dinginnya Dieng pagi itu sama sekali tidak menyurutkan niat untuk sampai puncak Bukit Scotter. Justru sebaliknya. Udara segar, perkampungan rapih, dan pemandangan sekitar bukit yang terlihat dari kejauhan, sukses menggerakkan kaki kami untuk melangkah cepat karena petunjuk arah ke bukit sudah terpampang jelas. Tidak perlu mikir, tanya warga, apalagi bingung pilih arah.

Satu hal yang membuatku gemas-gemas terharu pagi itu yaitu karena aku gagal mempertahankan kaki untuk tetap standby di area parkir.  Si Kecemut tidak mau berhenti jalan! 😆 Ampun, deh.

jalan-menuju-bukit-scotter
Gang ini bisa menjadi pilihan setelah turun BRI…

Niatku hanya mengantar Teman-teman sampai seperempat jalan. Itung-itung sambil olahraga pagi seperti biasa.

Berbagai usaha untuk membuatnya kembali tersenyum sudah kulakukan. Jalan-jalan di sekitar area parkir, sampai kembali turun ke perkampungan. Tapi gagal. Mbak Rian, satu-satunya peserta yang tidak ikut naik bukit menyarankan untuk diajak jalan ke atas. Ini pilihan akhir yang bisa kulakukan. Dan akhirnya, Kecemut kembali girang saat melihatku ngos-ngosan. Ampun ini bocah.

Bagiku, perjalanan menuju Bukit Scotter dengan menggendong bayi tidak begitu susah payah. Tanjakan yang didapat hanya dua kali saja, yaitu awal hiking, masih dalam perkampungan. Kemudian, saat hampir sampai Bukit Scotter. Selebihnya, jalan datar.

Langkah para petani pagi itu menemani perjalananku. Sambil ngobrol dengan mereka, tidak terasa kurang lebih lima belas menit telah sampai loket Bukit Scotter. Ini bacanya ngindonesia saja, ya. Skoter, bukan Skuter. Kalau sampai salah baca, bisa penasaran sampai ubun-ubun karena tidak akan pernah menemukan Skuter di puncak bukit. 😆

Nama Scotter atau Skoter ini diambil karena dulu di kaki bukit terdapat pemancar atau tower radio. Skoter (Seko Tower) yang dalam Bahasa Indonesia berarti Dari Tower, menurut salah satu pertani yang ngobrol denganku. Please jangan tanya hubungan darah antara Tower dan Bukit ini, ya. Kagak paham betul. 😛

gang-bukit-scotter
Setengah perjalanan, nih. . .

Beberapa petani yang hendak ke ladang dengan mengendarai sepeda motor menawarkan jasa untuk mengantarkanku sampai ladang mereka yang katanya ada di seberamg bukit. Tapi, melihat perkakas bawaan mereka yang digendong, rasanya akan menambah beban dan merepotkan.

Ya, tidak sedikit petani yang mengendarai sepeda motor untuk ke Ladang karena jalan sudah lumayan bagus. Hanya saja, karena malam harinya gerimis, beberapa titik jalan yang belum dicor semen lumayan becek. Makanya, aku tetap memilih untuk jalan kaki. Takut motor mereka kelebihan muatan, lalu BREG! 😀 😛

Omong-omong, ternyata aku dan Kecemut bukan satu-satunya peserta yang belum sampai puncak. Masih ada Tante yang terlihat santai, menikmati perjalanan. Jadi ada teman, deh! 😀

bukit-scotter
Jalannya udah enak. Cor-coran. Dari sini mulai narsise…

Aku dan Kecemut kerap berhenti. Sementara Tante, terus berjalan pelan. Sesekali motoin kami. 😉 Kami berhenti bukan karena aku loyo, atau Kecemut rewel. Melainkan, HARUS  selfie. Hahaha. Penting banget, ya. Jelas, dong.

Background Gunung Sindoro cakep banget! Apalagi, perkampungan Dieng yang telah padat. Wuuuw…selfie muluuu bawaannya. Ditambah lagi, ada Masjid di tengah perkampungan yang cuantik nian. Wuuuw…selfie lagi. 😀

Tidak terasa, 30 menit telah kami habiskan untuk jalan, dan kami telah sampai puncak Scotter. Sesampainya di bukit, Teman-teman nampak sibuk dan asyik memainkan kamera, pose, untuk mengambil gambar terbaik. Tiap sudut Bukit Scotter penuh untuk sesi foto. 😀 Gazebo mungil yang asyik banget buat duduk berdua sambil rangkulan, menjadi salah satu spot yang menarik. Rangkulan sama si Kecemut. 😛

bukit-scotter-dieng
Kawasan Candi rapih banget…

Dari puncak Bukit Scotter, lansekap perkampungan Dieng lebih indah. Berfoto dengan latar belakang Gunung Sindoro pun makin greget. Kompleks Candi Arjuna nampak jelas setelah kamera dizoom maksimal. 😆

Aku bersama Si Kecil juga minta difoto berkali-kali dengan background Gunung, Perkampungan, Bunga, Ladang, dan awwww….hasilnya kece bangett! Makasih udah motoin kami ya, Tanteee. 😀

Bukit yang awal tahun ini baru mulai dijadikan tempat wisata, punya tempat khusus untuk narsis. Asli, ini narsis sungguhan di Bukit.

 

 

A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on

 

 

Bukit Scotter menyediakan tempat khusus, sebut saja gardu pandang, yang terbuat dari bambu. Besama Mbak Lia dan Tante, aku mencoba untuk naik ke atas gardu secara bergantian. Untuk sampai ke atas, kami menggunakan tangga yang berada di samping gardu, cukup dengan enam langkah, foto narsis dimulai.

Di tangan Mas Nur, videografer dari Satelit News, hasil jepretannya membahagiakan banget!  Fotonya cakep-cakep. Modelnya juga mendadak cakep. Tidak sia-sia meninggalkan Kecemut sejenak. Hahaha. Makasih Mas Topan, sudah mau gendong Yasmine yang rewel tak terkira. 😀

bukit-scotter
Jepretan dari gardu bambu. Cakep!

Bukit Scotter bisa menjadi alternatif pilihan saat berwisata ke Dieng. Kurang lebih 20 menit dari kompleks Candi Arjuna, Bukit ini mudah dijangkau. Hiking sejauh 1 km dengan medan tergolong biasa, menawarkan keindahan lansekap Dieng yang tak biasa. Nyalakan Google Maps bila belum paham jalan di Dieng, ya. Bukit Scotter tersedia di G-Maps. 😉

Baca juga: Hiking ke Bukit Scotter Bersama Bayi! 😛

Menyambangi Wisata Unggulan Dieng, Banjarnegara

Enam destinasi wisata Dieng Plateau mejeng cantik di Peta Wisata Jawa Tengah. Bersebelahan dengan destinasi unggulan Borobudur. Artinya, Dieng menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Tengah yang recommended. Menawarkan pesona alam, seni, budaya,  yang menarik dan tiada duanya. Keren banget, kan? *jawabkeren* *segelasdawetuntukmu*

Kompleks Candi Arjuna, Bukit Scotter, Kawah Sikidang, UD. Tri Sakti sebagai pusat Oleh-oleh Khas Dieng, Bukit Sikunir, dan Telaga Warna. Itulah enam destinasi yang terpampang di peta wisata Jateng.

Dari keenam destinasi, empat diantaranya adalah milik Banjarnegara. Ini yang membuatku bangga. Tepatnya, turut bangga karena secara administratif, keempat objek tersebut berada di tempat tinggalku, Banjarnegara. Duuh…gimana lagi, ya. Sudah terlanjur demen banget sama Banjarnegara. Apalagi, potensi wisatanya begitu banyak. Gue makin bangga, dong. 😆

Di hari ketiga Blogger Trip Plesir Maring Banjarnegara, kami diajak keliling KWDT (Kawasan Wisata Dataran Tinggi)  Dieng, Banjarnegara. Sekadar informasi, pada tiap postingan tentang Dieng, aku kerap menyertakan “Banjarnegara” di belakangnya karena KWDT Dieng terbagi menjadi dua kawasan, yaitu kawasan Banjarnegara dan Wonosobo. *catatyaks*

Jika tadi melihat Peta Wisata Jateng, kini aku tercengang saat membaca pamflet Pesona Alam Dieng yang dibagikan oleh Dinbudpar Banjarnegara. Pada pengantarnya tertulis prosentase KWDT Dieng yang ternyata 80% #PesonaDieng adalah milik Banjarnegara. Catet lagi, ya. DELAPAN PULUH persen, Sist! Sebelumnya, aku kira kisaran enam puluh prosen saja. 😛 Sementara sisanya, milik Kabupaten Wonosobo.

kompleks-candi-arjuna-dieng-banjarnegara
Mendung, tapi tetap anggun…

Sekarang aku akan mengajak kalian turut menyambangi Wisata Unggulan Dieng, Banjarnegara. Cukup meluangkan waktu sepuluh menit, kalian akan sampai objek wisata unggulan Dieng (dalam tulisan) berikut ini. 😛

Kompleks Candi Arjuna

Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan kompleks Candi Arjuna. Ke Dieng tanpa mengunjungi Candi, rasanya kurang greget. Selain dikenal dengan negeri di atas awan, Dieng juga terkenal dengan warisan situs purbakala, Candi Dieng.

Candi Dieng merupakan kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa. Candi-candi ini terbagi menjadi beberapa kelompok dan lokasinya pun menyebar. Ada yang berdekata, seperti Candi Arjuna dan Candi Gatotkaca.

Saat kami berkunjung ke sini (16/11), sedang ada pemugaran candi di kompleks Candi Arjuna. Kalau tidak salah ingat, Candi Puntadewa sudah mulai dipugar. Meski demikian, kami tetap tur Candi dengan didampingi pihak Dinbudpar dan seorang pemandu wisata kompleks candi dan museum kailasa.

Untuk dapat masuk Kompleks Candi Arjuna, kalian cukup membeli tiket terusan senilai Rp 15.000 per orang. Tiket terusan ini sepaket dengan tiket masuk Kawah Sikidang. Catet, ya. Tiket terusan.

kompleks-candi-dieng

Berlokasi tidak jauh dari Kompleks Candi Arjuna, berdiri Candi Gatotkaca. Candi ini berada di dekat tempat parkir, atau pintu masuk Kompleks Candi Arjuna. Candi ini berdiri sendiri, bangunan candi terbilang masih kokoh, dan tempatnya cukup teduh kerena banyak pepohanan di sekitar candi.

A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on

 

Bagi kalian yang senang menelusuri jejak situs purbakala, bisa lanjut menyambangi Candi Bima, candi termuda, terbesar di Dieng dan sangat unik karena pada tiap tingkatan atap terdapat Arca Kudu. Kemudian, ada Kelompok Candi Setiyaki di mana lokasinya cukup dekat dengan Candi Gatotkaca. Terakhir adalah Candi Dwarawati. Candi ini lokasinya cukup jauh dari Kompleks Candi Dieng. Tepatnya di Desa Dieng Kulon, kaki Gunung Perahu.

Selanjutnya menyambangi Museum Kailasa!

Museum Kailasa

Menyambangi Museum tanpa pemandu? Apa jadinya? Mungkin bakal bengong, atau manggut-manggut sedikit paham karena terbantu dengan informasi yang tertera pada masing-masing benda. Kami, khususnya aku, merasa tertolong karena saat menyambangi Museum Kailasa, di mana lokasinya cukup tiga menit jalan kaki dari Kompleks Candi Arjuna, didampingi oleh pemandu wisata khusus bagian Museum dan Candi. Lumayan, menambah referensi dan pengetahuan.

Masuk Museum Kailasa, kami diajak nonton film terlebih dahulu. Film tentang peradaban masyarakat Dieng kala itu, sampai pembangunan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng, berdurasi 20 menit.

“Orang zaman dulu memang unik, dan kreatif.” Batinku, saat film yang diputar mulai masuk bagian detil perancangan candi.

arca-arca-di-museum-kailasa

Museum Kailasa terbagi menjadi dua, yaitu bagian khusus peninggalan peradaban masyarakat kala itu yang berada di dalam Museum Kailasa. dan koleksi purbakala seperti Arca-arca yang berada di bangunan terpisah, tepatnya di depan Museum Kailasa.

Pemandu wisata menjelskan detil asal muasal ditemukan candi, dan berbagai Arca di dataran tinggi deing. Asli, kami larut dalam dongeng Bapak pemandu wisata yang betul-betul paham seluk beluk warisan yang berada Ganesha, arca-arca para Dewa dalam agama Hindu, arca lembu yang mirip dengan Situs Watu Lembu di Banjarmangu, dan masih banyak lagi koleksi benda di museum ini.

Cukup membayar Rp 6.000 per orang, kalian dapat masuk, dan melihat bermacam koleksi yang ada di dalam Museum. Aku saranin untuk minta pendamping saat menyambangi Museum Kailasa, ya. Banyak manfaatnya, kok.

Kawah Sikidang

Usai berkeliling Museum Kailasa, kami melanjutkan tur ke Kawah Sikidang. Kami masih ditemani Pak Daryo yang setia banget mendampingi kami selama perjalanan. Dengan mengendarai minibus, tidak sampai 15 menit dari Kompleks Candi Arjuna, kami tiba di Kawah Sikidang.

Di lokasi ini, aku memilih untuk jalan-jalan di “pasar” yang berada di kanan jalan karena Si Kecil masih peka sama aroma belerang. Aku mengatakan pasar karena banyak macam yang dijual di sini. Dari camilan Kentang Goreng, Sembako, Oleh-oleh khas Dieng, Bumbu Dapur, sampai dengan Opak juga ada! Pasar Sikidang, nih. 😀 Selain pasar, tempat parkiran makin luas, bersih, ternyata sudah ada fasilitas flying fox!

A photo posted by Pungky Prayitno (@pungkyprayitno) on

Fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk mencapai Kawah. Hanya sekedipan mata, pengunjung bisa sampai bibir kawah. Seperti Mbak Lia dan Pungky. Mereka menjajal flying fox karena memang ingin mencobanya, sekaligus menghemat tenaga.

Flying fox yang dibanderol dengan tiket Rp 20.000 per orang, hanya bisa sampai kawasan Kawah Utama saja, dan tiu satu kali perjalanan. Pengunjung akan kembali berjalan kaki saat kembali.

tour-dieng-kawah-sikidang
Kepulan asap Sikidang. . .

HTM (Harga Tiket Masuk) Kawah Sikidang yaitu Rp 15.000 per orang. Ini merupakan tiket terusan  Candi Arjuna-Kawah Sikidang. HTM tiket terusan ini nampaknya kurang diindahkan oleh para pengunjung, nih. Ceritanya, saat aku sedang antre Toilet, ada beberapa pengunjung yang nampaknya kurang setuju dengan tiket terusan ini.

Kenapa ngga Candi dan Museum aja, sih. Kan lebih dekat, ya.” Ucap seorang perempuan kepada temannya yang duduk di sebelahku. Tapi, aku yakin, pihak Dinbudpar pasti punya tujuan lain atas tiket terusan ini. Ya kan, Pak Dwi? 😀

Bukit Scotter

Turun depan BRI, ya.

Aba-aba dari seorang laki-laki berkumis yang mendampingi kami tur selama tiga hari dua malam. Siapa lagi kalau bukan Pak Daryo! Ternyata, BRI Dieng menjadi ancer-ancer menuju Bukit Scotter. Ini bacanya ngindonesia saja, ya. Skoter, bukan Skuter.

Bukit ini belum lama menjadi objek wisata. Awal tahun 2016, mungkin. Sebenarnya, bukit ini tidak masuk wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Tapi, karena sudah masuk peta wisata Jateng,  aku pun -seperti- harus memasukkan bukit Scotter pada blog post ini.

Melihat lansekap Kawasan Dieng dari atas Scotter menjadi salah satu hal yang dapat kalian lakukan di sini. Tapi, apakah yakin hanya ingin melihat lansekap saja? Soalnya, bukit ini bisa dibilang instagramable banget! Asli.

A photo posted by Idah (@idahceris) on

Background Gunung Sindoro menjadi incaran kami saat itu. Yaa…abisnya hasil jepretan makin kece, siih! Kan sayang banget mengabaikan Sindoro yang gagah itu. Selain itu, berfoto dari atas gardu pandang yang terbuat dari bambu juga tak kalah menarik. Hijaunya rumput, cantiknya bunga-bunga di bawah gardu akan “mencetak” hasil foto yang bikin greget-greget pingin narsis terooos.

bukit-scotter

Untuk mencapai Bukit Scotter, kalian tidak perlu susah payah. Hanya butuh waktu 15 menit saja untuk trecking jalan utama. HTM masuk bukit ini yaitu Rp 5.000 per orang. Itupun jika ada yang menjaga loket. Hihihi Berlokasi di Desa Dieng Kulon, Bukit Scotter mudah banget dijangkau karena aksesnya sangat mudah. Kira-kira, 25 menit dari kompleks candi arjuna. Tentang Bukit Scotter, akan aku posting terpisah, ya. 😛

D’Qiano Spring HOT Waterpark

Jelas banget, ya. Kata HOT sengaja aku capslock karena waterpark ini begitu HOT! Air yang mengalir ke waterpark dengan ketinggian 2.000 m dpl ini bersumber dari Kawah Sileri, Kawah terbesar di Dieng.

A photo posted by CERIS Family (@cerisfamily) on

Sama halnya dengan bukit scotter, D’Qiano juga tidak masuk wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Tapi gimana lagiiiih…! D’Qiano telah berhasil membuat kami betah berlama-lama di kolam hangat. Cukup membayar HTM Rp 20.000 per orang, kalian bisa renang, berendam dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB, sesuai jam operasional D’Qiano.

Jarak tempuh menuju D’Qiano dari Kompleks Candi Arjuna kurang lebih 35 menit. Ada banyak fasilitas umum yang disediakan, diantaranya: ruang ganti, kamar ganti, tempat jajan, dan yang tak kalah pentingnya yaitu penginapan. Tentang penginapannya seperti apa, nanti aku tulis terpisah saja, ya. 😀

dqiano-ember-tumpah

Jika berwisata ke Dieng, kalian HARUS menyambangi D’Qiano yang berlokasi di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur. Yaa…kapan lagi bisa berenang sampai puas, tapi tidak merasa dingin! Ingat, waterpark ini di Dieng, lho. DIENG KAWASAN BANJARNEGARA. *pentingbangetcaplockini*

Pusat Oleh-oleh Khas Dieng

Piknik ke Dieng tidak mampir pusat oleh-oleh khas Dieng. Yakin? Pengen jemuran yang udah kering, kembali basah karean kehujanan. Kembali basah karena tetangga kagak dibelikan oleh-oleh khas, tapi sempat pamit. Duuh…tetangga masa gitu, sih!!! HAHAHA

UD. Tri Sakti menjadi pelabuhan terakhir Blogger Trip Ayo Plesir Maring Banjarnegara. Bapak Saroji, pemilik UD. Tri Sakti ini ternyata giat banget mempromosikan oleh-oleh khas Dieng. Sesampainya di UD. Tri Sakti, seluruh Blogger mencicipi aneka jajan, oleh-oleh khas Dieng. Dan yang paling laku yaitu Keripik Kentang dan Carica! Juara banget kalau disuruh ngemil, ya.

oleh-oleh-dieng-banjarnegara

Oleh-oleh khas Dieng lainnya yang ada di UD. Tri Sakti diataranya: Keripik Jamur, Kerupuk Carica, Sirup Carica, Jenang Carica, Jus Terong Belanda, dan tentunya Purwaceng!

Kabarnya, beliau adalah orang pertama yang budidaya tanaman purwaceng di Dieng, mengolahnya menjadi minuman dalam bentuk serbuk, lalu memasarkannya dengan harga terjangkau karena produksi sendiri atau home industri. Pak Saroji ini meski sudah usia lanjut, inovasi tentang camilan cethar banget. Salut dengan beliau yang kini tinggal di Dieng Kulon, Banjarnegara.

Omong-omong, UD. Tri Sakti ini berlokasi di seberang jalan BRI Dieng atau seberang jalan masuk Bukit Scotter. Mudah banget dicari, harga juga bikin kita menari-nari. Ramah dompet, Sist. 😆 😛

Bagi kalian yang hendak berwisata ke Dieng, silakan menyambangi wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Aku yakin, kalian kagak bakal kuciwa! Asal dari rumah membawa bekal happy, sesampainya di Dieng makin happy!:mrgreen:

Seru Haru Rafting di Sungai Serayu Banjarnegara

Rafting di Sungai Serayu Banjarnegara – Suami menjadi satu-satunya orang yang khawatir banget saat tahu bahwa aku, istrinya, hendak “terjun bebas” ke Sungai Serayu Banjarnegara. Kekhawatirannya muncul lantaran hari itu hujan deras, debit air sungai tinggi, dan aku belum begitu lihai renang! 😆 😛

Pesan melalui WhatsApp yang bernadakan kekhawatiran terpaksa aku balas dengan bercandaan. Aku mengatakan terpaksa karena sebetulnya aku juga kurang percaya diri setelah melihat derasnya aliran sungai serayu pagi itu. Ya…meski pada akhir percakapan, dia menyemangatiku. *mungkin dia juga terpaksa menyemangati* 😆

Sebelum berkumpul untuk briefing, aku sempat bertanya kepada salah satu penanggungjawab rafting tentang cuaca pada hari itu yang tidak menentu. Menurutnya, meski pagi hari turun hujan, rafting tetap bisa berlanjut. Hujan yang turun di pagi hari tidak begitu membahayakan untuk olahraga arung jeram. Meski hujan, rafting tetap aman. Bahkan, akan lebih seru karena akan mendapat jeram yang tak biasa. Kecuali, hujan turun sedari malam. Ini tim rescue harus melihat kodisi lapangan terlebih dahulu.

Berbekal informasi yang kudapat, dengan didampingi guide dan tim rescue dari Bannyu Woong Adventure, aku berhasil mengarungi Sungai Serayu Banjarnegara sejauh 10 km, dengan durasi waktu selama kurang lebih 3 jam. Menerjang tiap jeram yang ada di depan mata. Ayye, berhasil…! Tak pernah kusangka! 😉

arung-jeram-banjarnegara
Tim heboh dari kiri: Mas Abi, Hanif, Mas Dodit, Mas Halim, iNyong dan Afri

Briefing singkat, namun padat telah kami diikuti sebelum rafting dimulai. Banyak pengetahuan dan istilah yang baru aku tahu. Asli. Tapi hampir semua teori betul-betul aku praktikkan selama arung jeram berlangsung.

“Jika ada batu di depan atau samping perahu, jangan dipeluk! Gunakan dayung untuk menghindari bebatuan itu.” Sedang asyik main dayung, sempat terpikir untuk memeluk batu, gitu. Ampun, deh. 😆 😛 :mrgren: Itu salah satu teori yang dibagikan saat briefing.

Baca lagi tentang Body Rafting di Green Canyon.

Berada dalam satu perahu karet, aku bersama Afri berada di bagian tengah. Lalu, Mas Halim dan Hanif menjadi benteng depan. Sementara Mas Abi, duduk di depan Mas Dodit, pemandu terkeren versi kami. Mas Dodit ini baru SEPULUH tahun menjadi pemandu rafting di Bannyu Woong, dan menurutnya belum lama. *merendah untuk meroket ya, Mas*

“Selama rafting berlangsung, ikuti komando dari saya, ya. Kurang lebih 2,5 jam, kita akan HIDUP BERSAMA.”  Baru lima kali dayungan, Mas Dodit mulai drama. “Lucu bener ini orang, ya.

Boom! Selain kata itu, abaikan bila sepanjang perjalanan hidup  kita, saya terus cas cis cus nyerucus. Jika aba-aba Boom (baca: buuum)  terucap, berarti kalian harus siap-siap masuk perahu karet dan dayung diangkat ke atas.” Persis teori yang dipaparkan saat briefing, Mas Dodit kembali menjelaskan lebih rinci.

Tidak lama kemudian, Mas Dodit menyuarakan: “Buuuuuuuuuum!”

Keseruan Rafting di Sungai Serayu dimulai dari sini…

Spontan, kami masuk ke dalam perahu karet, dengan posisi dayung tak beraturan. Hahahaha…Salahin Mas Dodit saja, ya. Memberi aba-aba mendadak. Menurutnya, ini bukan tiba-tiba, melainkan kejutan awal dari Mas Dodit dan Jeram Welcome. Jeram selamat datang sebagai jeram pemanasan, dimana para Pemandu Rafting mulai dapat menilai kesiapan peserta, katanya.

“Woow keren! asyik, Mas. Nanti kalau ada jeram yang lebih, kabar-kabar, ya. Ini hujan makin deras, nanti kita hajar bareng-bareng.” Mas Abi mulai nakal, nih. Mulai bertingkah.

Hujan deras, ditambah dengan aliran sungai yang deras pula. Betul-betul kolaborasi seru untuk rafting, karena matahari tidak menemani perjalanan. Artinya, kulit akan tetap stabil, tidak gosyong karena terik matahari. Selain itu, kolaborasi tersebut ternyata bisa menghangatkan badan. Meski hujan terus mengguyur badan, dingin selama rafting tidak begitu parah. Jika punya rencana rafting di sungai serayu Banjarnegara, ambillah waktu yang tepat supaya terasa raftingnya. Saat musim hujan, misalnya. Tapi, hujan yang sudah mulai slow, ya.

“Dayung ke depan…dayung ke depaan. Lebih semangaat. Ayoo dayung ke depan, dan Buuuuuum!”

Beberapa detik sebelum Buum, Mas Dodit menyemangati kami untuk lebih cepat lagi dalam mendayung. Ternyataa…kami akan melewati Jeram Trinil. Siapapun yang melewati jeram ini, akan terbalik. Makanya, Mas Dodit mengajak kami mendayung ke depan supaya perahu tidak larut dalam jeram, terus maju.

Sepanjang perjalanan, Mas Dodit memberi informasi tentang nama-nama jeram yang ada di Sungai Serayu Banjarnegara. Salah satu jeram yang kuingat yaitu Jeram Bethur. Jeram ini tidak ada hubungannya dengan si kelopak mata yang bendul, ya. Jeram ini cukup menantang karena terdapat beberapa batu besar yang tertutup arus. Gila ajaa, ya. Ada batu tertutup arus, semisal sampai menyentuh batu itu, apakabar kehidupan kita? 😆 Ya…namanya Jeram, kan, harus dilewati. Usahakan ikuti aba-aba dari guide, jangan sampai kelilit jeram ya, Kak. Karena lebih membahayakan ketimbang kelilit kenangan sama mantan.

“Mas, ini jembatan mana?” Tanyaku kepada Mas Dodit saat perahu karet kami melewati jembatan yang menurutku instagenic banget.

“Ini jembatan Desa Sered.”

“Asyiiik…masih lama untuk sampai finish.” Batinku bungah banget. Secara, perjalanan sungai itu lebih lama ketimbang darat. Yaa.., kaan? Dan ternyata betul. Kami masih punya sisa waktu 30 menit untuk mencapai finish.

Mulai dari jembatan ini, kami cukup santai. Bisa berfoto dengan latar belakang jembatan, hutan, pohon bambu, air terjun alami, atau air terjun buatan yang sengaja diciptakan oleh para petani sebagai muara pengairan sawahnya. 😀

“Dayung lagi yoook. Dayung depan…dayung depaan.” Mas Dodit mulai menyemangati kami lagi.

Bersama Mas Abi, aku merasa teriakan kita paling membahana. Mas Halim, Hanif, dan Afri, teriaknya sedikit diumpet. 😆 Sedari awal, aku semangat banget mendayungnya karena memang sedang belajar mendayung dengan benar. Saat briefing dijelaskan, jika mendayungnya benar, maka beban hidup tidak akan terasa berat. Lha ini, aku masih merasa susah dan berat. Lengan pegal banget, Kaaak. 😆 Tapi, sekalinya sudah benar dan lancar mendayung, iseng banget nyipratin air sungai ke teman-teman menggunakan dayung. Sedaaaap penuh stamina!

Semangat mendayung yang diikuti terikan juga sukses membuat badan hangat. Perasaan takut akan derasnya air hujan perlahan hilang. Ternyata, teori ini berhasil. Aku begitu menikmati rafting sungai serayu Banjarnegara. Sampai tiba pada Jeram Tsunami, kami, khususnya aku, tidak merasa bahwa ada Buuum di depan! Tahu-tahu, kami sudah terpisah.

Jeram Tsunami sukses membuatku terharu…

Betapa nyawa ini sudah kupasrahkan kepada Sang Pencipta. Menerjang hujan di darat kerap kulakukan. Lha ini, menerjang hujan dan jeram di Sungai Serayu Banjarnegara yang punya tingkat jeram grade 3+. Sekali lagi, zona rafting yang kami ambil mempunyai tingkat jeram grade 3+ ini dimulai dari The Pikas dan berakhir di Surya Yudha Park.

Mas Dodit tidak memberi aba-aba Buum saat sampai Jeram Tsunami. Ini sengaja tidak berkabar, katanya. Karena sedang asyik mendengar cerita Hanif tentang game-game yang biasa dilakukan saat rafting, kami tidak memperhatikan ada jeram di depan. Hanya mempercayai Mas Dodit. Tapi yang diberi KEPERCAYAAN malah enak-enakan menjebak kami!

Apa-apaaaaan kamu, Maaaas! Aku BERHASIL MINUM AIR SUNGAI SERAYU! Satu liter, mungkin. 😀 Dan sinisnya, saat sedang berada di bawah perahu, aku mendengar teriakan Mas Dodit.

rafting-serayu-banjarnegara
Ternyata, digoyang ombak itu seruuu…!

“Tenang…tenang…jangan panik…jangan paniik.” Astaga, dikira gue kagak punya perasaan, Mas? Begh!

Beruntung, safety rafting ini oke banget! Jaket pelampung, khususnya. Ada baiknya memeriksa jaket pelampung sebelum rafting. Termasuk mengencangkan tali jaket. Mengecek pelampung antar teman termasuk yang dipraktikkan saat briefing. Berjaga-jaga untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi saat rafting. Jika pelampung melekat dengan baik, kecil kemungkinan tenggelam. Tentang pertolongan saat perahu terbalik, atau peserta tenggelam, ada berbagai macam cara. Pertolongan yang paling aku ingat yaitu menarik pelampung teman bagian atas.

Baca tentang Bannyu Wong, Operator Rafting di Banjarnegara.

Saat itu, pelampung yang pertama kudapati adalah milik Mas Abi. Ya, aku melihat Mas Abi yang sama-sama sedang berusaha naik ke perahu. Aku tarik pelampung bagian belakang atas. Aku memegang pelampung Mas Abi dengan kencang!

“Halim manaa…Hanif manaaa?” Aku yang nyawanya belum terkumpul penuh, hanya bisa geleng-geleng.

“Balik badan, Mbak. Siap-siap saya tarik, ya.” Aba-aba itu datang dari Mas Dodit. Pemandu kami yang keren banget dan menjadi satu-satunya orang yang tersisa di atas perahu karet. Asli, orang ini ngeselin dan tidak setia kawan. 😆 😛

“Bentar, Mas. Nyawaku urung balik iki.” Mas Dodit pun tertawa puas, sambil ngasih kode apa itu laah, kepada tim rescue. Jeram Tsunami bikin gila-gila sedaaaap!

Tak lama setelah aku berada di atas perahu bersama Afri dan Mas Abi, dua teman kami DIKEMBALIKAN ke asalnya. Hanif diselamatkan oleh tim rescue. Mas Halim, ternyata ada di depan perahu, namun tidak nampak, karena ternyata Mas Halim sedang mengatur napas di sana. 😀 Sementara si Go Pro milik Hanif, alhamdulillaah sudah diselamatkan terlebih dahulu oleh Mas Dodit.

“Go Pro, Mas. Go Pro punyaku.” Hanif sempat takut Go Pro kesayangannya hanyut. Sebelum menyelamatkan kami, ternyata Mas Dodit terlebih dahulu mengambil Go Pro yang nyantol di tali perahu bagian depan. Tuh kan, Mas Dodit JAHAT! Go Pro dulu, baru Manusia. 😆

rafting-di-banjarnegara
Andai Go Pro ini hanyut, ya…HAHAHA

Beberapa kali, aku memohon kepada Mas Dodit untuk tidak menceburkan tim kami dengan alasan karena aku belum lihai renang. Mas Abi pun mendukungku. Namun, Si Hanif kerap bertanya tentang game-game yang dapat dinikmati. Sesekali Mas Dodit menjawab “Nanti di sana.” Namun, tidak memberi perincian game-nya seperti apa. Mungkin, ini yang membuat Mas Dodit gemas.

“Kayaknya ini anak pada memang minta diceblungiin ke Sungai.” Begitu gumam Mas Dodit, mungkin.

Dari 19 blogger (karena minus Mbak Olipe), terpisah menjadi 5 perahu karet, hanya perahu kami yang mendapat kejutan Jeram Tsunami. LUAR BIASAAA LUAAAR BIASAA ASYIK TENAN! Rasanya…terharu bangeeet! Tidak bisa berenang, tapi diberi kesempatan untuk menjajal Jeram Tsunami. Wuwuwuw…Mas Dodit, makasih, ya. Dikau mancen hebat!

Omong-omong, permohonanku sengaja tidak dikabulkan oleh Mas Dodit lantaran timku HEBOH, menurutnya. Dari semangat dan kehebohan yang tercipta, layak diberi kejutan Jeram Tsunami.

Selalu selfie di depan Air Terjun Serayu…

Di sini aku merasa terharu (lagi). Betapa Mas Dodit begitu percaya kepada kami. Atas ini semua, ternyata Mas Dodit sudah mempersiapkan segalanya, sudah memikirkan risiko-risiko yang bakal terjadi, melakukan kontak dengan tim rescue untuk siaga.

Rafting mulai dari The Pikas sampai Surya Yudha Park, teriak sekuatnya, pacu adrenaline di jeram-jeram yang menantang, sudah include jamuan Mendoan, Sebutir Kelapa Muda (setibanya di finish), penjemputan dari SYP sampai The Pikas lagi, cukup membayar rP 205.000 per orang. Masih banyak paket yang bisa dijajal mulai dari jarak tempuh 7-26 km, dengan harga mulai Rp 150.000 – Rp 375.000 per orang.

Aku merekomendasikan Bannyu Woong Adventure sebagai pemandu rafting Sungai Serayu Banjarnegara. Pertimbangannya adalah sebagai berikut:

  1. Akses menuju base camp  Bannyu Woong yang berada di kompleks The Pikas sangat mudah.
  2. Pemandu Rafting dan rescue  sudah berpengalaman, handal, profesional, ramah dan lucu-lucuuuw.
  3. Harga terjangkau.
  4. Terdapat Penginapan The Pikas Resort, lengkap beserta Resto yang bernama Pikasto.

AAAAAAA…PINGIN RAFTING LAGI BARENG BLOGGERS DAN TERIAK-TERIAK LAGIIIII …..! KAPAN YOOOK!

Bannyu Woong Adventure

  • Alamat: Jl. Raya Madukara No. 1, Ds. Kutayasa, Kec. Madukara, Kec. Banjarnegara, Jawa Tengah 53482
    Provinsi: Jawa Tengah;
  • Jam buka: 08.00–17.00 WIB;
  • Telepon: (0286) 593000;
  • Reservasi: +628122662155 (Mas Fajar), +6281327143559 (Mas Firdaus), +6281585386575 (Mas Gundul);
  • Email: banyuwong@yahoo.com;
  • Website: http://banyuwong.com/;

Pengalaman Menginap di Cottage The PIKAS Resort

The Pikas menjadi titik kumpul bagi 20 Blogger yang mengikuti Blogger Trip bertajuk “Blogger Plesir Maring Banjarnegara.” Tema yang khas banget! Ngapak-ngapak kepenak. 😆

Sekadar informasi, tema yang diusung kali ini merupakan tagline dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Mereka yang memberi kesempatan kepada kami untuk explore wisata Banjarnegara.

Ayo Plesir Maring Banjarnegara, atau dalam bahasa Indonesia Ayo Berwisata ke Banjarnegara. Itulah tagline aslinya. Berhubung pesertanya adalah para Blogger, jadilah kami masuk frame. 😆

Membaca rundown yang dikirim oleh Dinbudpar Banjarnegara, pemilihan The Pikas Resort sebagai tempat penginapan adalah pilihan yang tepat. Kenapa? Karena, lokasi The Pikas Resort mudah dijangkau dari arah mana saja. Dekat dengan jalan raya propinsi, yang mana beberapa teman Blogger ada yang menggunakan transportasi umum. Mas Halim, Blogger dari Kota Solo, misalnya. Dia menggunakan Bus.

Selain itu, kegiatan pertama yaitu rafting di sungai serayu yang didampingi oleh Guide dan tim rescue Bannyuwoong, start from The Pikas. Jadi pagi harinya, peserta cukup kucek-kucek mata, sarapan, dilanjut memakai pelampung, helm, bawa dayung, pemanasan, kemudian masuk boat! 

Pilihan yang tepat, bukan?

penginapan-pikas-resort
Jembatan menuju Balai The Pikas

Sore itu, aku datang bersama Si Kecil, dan langsung menuju Pendopo atau Balai The Pikas untuk mencari informasi tentang keberadaan Teman-teman Blogger. Menjadi peserta dengan jarak tempuh terdekat dari The Pikas Resort, tapi terlambat. Luar biasa banget.

Tepat di depan Balai, lelaki yang mengenakan kaus oblong warna biru memberi informasi, bahwa Teman-teman sudah datang.

Teman-teman cowok yang berjumlah dua belas, menempati Cottage Lumbir 4 dan 5. Sementara, delapan Perempuan di Cottage Lumbir 2.

Nama masing-masing cottage tidak terlihat dari jalan masuk cottage, makanya aku minta tolong kepada salah satu karyawan The Pikas untuk mengantar sampai Lumbir 2. Manja banget, ya. Hahahaha

For your information, The Pikas Resort menawarkan 10 cottage yang masing-masing punya nama: Lumbir 1-5, Sabin Timur, Sabin Barat, Jawa Mini, Jabar dan Jatim. Cottage terluas yaitu Sabin Timur dan Barat dengan kapasitas 7 orang. Sedangkan yang paling kecil yaitu Jawa Mini yang dapat dihuni 2 orang.

Cottage Lumbir hampir semua berkapasitas enam orang, kecuali Lumbir 1 yang berkapasitas empat orang. Tempatku bermalam, yaitu Lumbir 2 yang biasanya berisi enam orang, malam itu dihuni tujuh orang, dan satu bayi. 😆 Betapa The Pikas Resort ramah dompet, ya. Cocok banget untuk menginap a la backpacker yang ngetripnya rombongan. 😛

Memasuki area Cottage, aku terpana dengan suguhan alam yang segarnya luar biasa. Hamparan sawah, pemandangan penuh hujau, dipadu dengan udara segar. Aku yang tinggal di desa melihat hamparan sawah saja sampai terpukau, ya. Ya maklum, sih. Ini pemandangan alamnya lain, Sist. Sawah, Pepohonan, Bunga, ada di antara Cottage. Kebayang sehatnya, kan?

Dua cottage yaitu Jawa Mini, dan Sabin, betul-betul berada di tengah sawah. Sementara kompleks Lumbir, begitu rindang dengan aneka pepohonan hijau. Kompleks ini cocok banget buat jogging pagi hari. Ya…meski bukan jogging track, tapi udara pagi sekitar Cottage sayang banget dibiarkan begitu saja. Minimal, keliling Cottage, sambil jeprat-jepret pemandangan sekitar yang begitu memikat.

Kira-kira jam 23.00 WIB, hujan turun dengan derasnya, dan aku masih terjaga. Jadi teringat beberapa jam lalu sebelum hujan, kami makan jagung bakar yang telah disediakan oleh panitia. Andai bisa menggigit jagung dikala hujan, tambah hangat, dan nikmat. 😀

penginapan-di-banjarnegara2
Kawasan Lumbir yang memikat…

Etapi, saat jagung mulai dibakar, dan ada suguhan supermoon kira-kira jam 20.00 WIB, suasana di Balai The Pikas juga tidak kalah hangat. Terlebih alunan musik, dan suara Bapak Dwi, Kepala Dinbudpar, yang serak-serak sedap terus menemani para Blogger yang tengah asyik berpesta jagung bakar.

Di luar, hujan boleh turun dengan derasnya. Tapi, bagi kami yang ada di dalam Lumbir, tidur berjejer di atas matras, merasa makin hangat. Selimut cukup tebal, suara katak saling bersahutan, aliran kali serayu makin terdengar jelas. Syahdu. Tidur di samping si kecil, memeluknya erat, menambah hangat suasana malam itu.

Awalnya, aku sempat kaget dengan hujan yang tiba-tiba turun karena sebelumnya kami telah menikmati supermoon. Selain itu, aku cukup was-was, andai Lumbir 2 sampai bocor. 😀 Kebayang, dong, ada Si Kecil di sampingku. Kasihan.

 

A photo posted by Sii Olipe (@olipe_oile) on

 

Perasaan was was itu wajar, melihat desain cottage yang unik, dengan bentuk rumah panggung. Dinding dan lantai semua berbahan kayu. Dinding kanan kiri didesain miring, kira-kira 30 derajat. Sementara, bagian atap cottage itu plong. Pemandangan ke atas langsung tertuju pada genting, beserta kayu-kayu. The Pikas Resort, desain penginapan khas pedesaan.

Pihak The Pikas Resort pasti sudah melakukan pengecekan sebelumnya. Itu pasti. Mereka akan memberi pelayanan terbaik untuk para Tetamu. Termasuk adanya lotion anti nyamuk.

Kelihatannya memang sepele, tapi mereka sadar bahwa cottage berada di sekitar Kolam, Kali Serayu, Sawah, dan Perkebunan. Makanya, mereka menyediakan lotion anti nyamuk buat persediaan. Beruntung banget yang mereka sediakan adalah lotion, bukan obat nyamuk semprot atau listrik. Jadi, Si Kecil aman karena lotion lebih ramah.

Alamat The Pikas Resort
Yang segar gini menambah semangat!

Sampai pada fasilitas penting sebuah penginapan, Cottage di The Pikas Resort menyediakan dua macam kamar mandi, yaitu kamar mandi utama dan kamar mandi bersama.

Adanya fasilitas rekreasi seperti Outbound, Rafting, The Pikas Resort seperti sengaja menyediakan kamar mandi bersama di dalam Cottage. Memang, tidak jauh dari Balai The Pikas terdapat empat toilet mandi umum, namun kamar mandi bersama dengan sekat gorden yang ada di dalam Cottage memberi kenyamanan tersendiri bagi Tetamu yang punya rencana menginap, sekaligus rafting di The Pikas. Tidak perlu antre untuk masalah mandi.

penginapan-resort-banjarnegara
Kamar mandi bersama. . .

Kamar mandi utama yang disediakan oleh The Pikas Resort cukup sederhana. Satu closet, dan satu set peralatan mandi. Perlengkapan mandi seperti: sabun, shampo, sikat gigit, pasta gigi, handuk, dll dll, belum disediakan. Ada baiknya, dimanapun akan menginap, bawalah perlengkapan mandi. Tidak ada salahnya lebih siap, kan. Okay? 😉

Omong-omong, air di The Pikas Resort hanya ada air dingin. Air hangat belum disediakan. Tapi, mengingat Banjarnegara tidak selalu dingin, air hangat tidak begitu dibutuhkan. Apalagi lokasi The Pikas Resort tidak begitu jauh dari kota. Kerap panas di sini. Semisal membutuhkan air hangat, Tetamu bisa langsung ke Pikasto. Resto milik The Pikas yang berada di sebelah kanan Balai.

penginapan-pikas-resort-2
Kamar mandi dalam, nih. . .

Ya, The Pikas mempunyai resto yang bernama Pikasto. Tetamu yang menginap di The Pikas Resort dapat memanfaatkan resto ini. Jika menginap di sini, menikmati masakan khas Desa di pagi hari sudah termasuk fasilitas. Menu masakan di Pikasto berragam. Nasi Bakar menjadi menu andalan di sini. Tetamu boleh memesan nasi bakar jika mau, dan mungkin berbayar. Karena, menu masakan include yang disediakan biasanya menu ayam rica-rica, atau nasi goreng.

Seperti sarapan, dan makan malam yang telah kami nikmati. Menu makanannya memang biasa, standard. Yang menjadi beda, dan spesial yaitu suasana. Sarapan nasi goreng di tepi kali serayu dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Atau, sarapan bisa dibawa ke Cottage, duduk di kursi yang disediakan di teras depan Cottage. Suasana serta pemandangan di depan Cottage juga tidak kalah asyik.

penginapan-pikas-resort-banjarnegara
Mbak Olip makannya sedumil banget. . .

Oiya, Wi-Fi di penginapan ini belum sampai Cottage. Provider internet yang paling bagus dipakai di sini yaitu Indosat dan Telkomsel. Tidak ada salahnya siap siaga membawa modem, atau mengisi paket data selular jika ada dateline pekerjaan.

Fasilitas penunjang lainnya yaitu ada tempat parkir yang luas di dekat pintu masuk The Pikas, mushala, kamar mandi, paket outbound, dan paket rafting.

Untuk mencapai The Pikas Resort, dari lampu merah pertigaan Desa Singamerta, Kecamatan Sigaluh, ambil arah kiri, ikuti jalan raya. The Pikas Resort ada di sebelah kiri jalan setelah jembatan yang melintasi sungai serayu.

Alternatif lain, jika menggunakan transportasi umum, dari pertigaan Singamerta, pilih angkutan umum warna biru dengan abjad “B” jurusan Madukara, atau Minibus jurusan Pagentan. Naik angkutan umum sampai depan The Pikas cukup bayar Rp 2.000.

Bagi yang suka olahraga, bisa jalan kaki. Jarak tempuh dari pertigaan Singamerta kurang lebih 700 meter. Cukup dekat, bukan?

the-pikas-resort-banjarnegara
Angetnya bobok di Cottage ini…

Ayo plesir maring Banjarnegara, dan pilih The Pikas Resort menjadi bagian dari perjalanan wisata ke Banjarnegara. Penginapan dengan konsep alam, nuansa khas pedesaan, akan membuat betah berlama-lama di sini. Asli. ^-*

The Pikas Resort Banjarnegara

  • Alamat: Jl. Raya Madukara, Desa Kutayasa, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.
  • Rate: Rp 400.000-Rp 750.000,-
  • Extra bed: Rp 100.000
  • Include: Air Mineral, Kamar Mandi Dalam, Kasur Busa, Selimut dan Makan Pagi.
  • Reservasi: (0286)593000|081585386575