Peran Wisatawan untuk Mengatasi Perubahan Iklim

Perubahan Iklim Pada Kepariwisataan Alam

Peran Wisatawan untuk Mengatasi Perubahan Iklim – Tidak disangka pandemi Covid-19 masih terus berlanjut sampai sekarang. Meskipun aku sudah tidak pernah update kasus Covid di tanah air atau bahkan dunia, tapi dampak akibat wabah corona virus masih sangat terasa, khususnya di dunia kepariwisataan.

Tercatat sampai Tahun 2018, sektor Pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar di Indonesia. Betul, pendapatan negara dari sektor pariwisata pernah menjadi salah satu kebanggaan negeri sebelum pandemi. Bagaimana dengan sekarang? Kita semua dapat melihat, dengan datangnya virus yang menginfeksi sistem pernapasan betul-betul meluluhlantakkan sektor ini. Seluruh masyarakat yang sebelumnya bergerak di bidang kepariwisataan pun tiarap, tidak berpenghasilan, dan beberapa sampai ada yang bingung harus melakukan apa supaya bisnis pariwisata yang selama ini menjadi tumpuan bisa berlanjut.

Para pelaku pariwisata boleh bersedih, tapi kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi harus dimiliki untuk pariwisata Indonesia bangkit. Beragam cara yang dilakukan pemerintah untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata sampai akhirnya muncul tren pariwisata di era normal baru sampai prediksi tren pariwisata pasca pandemi.

Perubahan Iklim Pada Kepariwisataan Alam

Membaca beberapa artikel di media online, keinginan traveling tanpa bertemu banyak orang atau traveling ke tempat wisata yang tidak terlalu ramai menjadi salah satu tren. Iya, dulu kalau ada tempat wisata yang viral, pasti wisatawan langsung berbondong-bondong menyerbu obyek wisata tersebut supaya terlihat update dan eksis. Sekarang, wisatawan bakal pikir panjang untuk berdesak-desakan hanya untuk mengabadikan momen. Ya gila saja, setelah prihatin dua tahun lebih, tiba-tiba masuk ke dalam kerumunan padahal sementara pandemi belum berakhir.

Atas tren ini yang satu ini, para pelaku industri pariwisata pun tidak kehabisan akal. Mereka membuat inovasi paket wisata eksklusif atau private, bukan lagi rombongan karena yang diharapkan oleh para wisatawan selain pengalaman berwisata yaitu keamanan dan kenyamanan saat berwisata.

Inovasi ini mungkin terlihat sangat biasa namun sangat dibutuhkan di masa pandemi. Iya, minat wisatawan untuk private traveling  lebih tinggi ketimbang mengikuti open trip  yang mana pesertanya biasanya dari berbagai daerah. Nah, untuk menarik minat wisatawan, paket wisata yang dibuat harus beda, lebih unik seperti bersepeda keliling obyek wisata. Tantangan banget buat para penyedia jasa perjalanan wisata, ya.

Nostalgia dengan Berwisata ke Alam Bebas.

“Idih…malas amat traveling ke alam bebas. Skincare mahal, cuy!” Hahaha.

Saat ini aku hidup di lingkungan yang wajah berminyak dikit, touch up. Lipstik mbleber dikit, touch up. Keluar pakai motor, enggak mau. Panas, euy! Hahaha. Aku merasa beruntung belum lama berada di lingkungan dikit-dikit touch up. Coba kalau dari dulu aku berada di lingkungan tersebut. Bakal banyak diam di rumah dan tidak punya banyak pengalaman berwisata di alam bebas. Tau sendiri, wisata di alam bebas, tuh, identik dengan paparan sinar matahari. Sekalipun suka berdandan, enggak mungkin dikit-dikit touch up, dong. Bakal ribet banget dan pastinya enggak menikmati perjalanan wisata.

Berwisata di alam bebas yang paling mengesankan bagi aku yaitu saat jalan-jalan ke Dago Pakar, Bandung. Masuk ke Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, aku merasakan kebahagiaan tersendiri. Pada dasarnya aku suka “mengukur jalan”, dan di Tahura ini aku nyaris full jalan kaki dari pintu masuk, keliling obyek wisata yang ada di dalam Tahura yaitu ada Gua Jepang, Gua Belanda, dan Curug yang dapat membuat rileks, pikiran dan hati tenang.

TAMAN HUTAN RAYA BANDUNG
kangen “ngukur” jalan…

Berwisata ke alam bebas pun saat ini enggak aku nikmati sendiri karena suami dan anak-anak alhamdulillaah juga suka jalan-jalan di alam terbuka. Apalagi Wildan, jagoan kami hobi banget jalan kaki. Hobi aku berasa makin sempurna karena didukung keluarga yang juga suka traveling ke alam bebas.

Turut Bergerak untuk Mitigasi Perubahan Iklim pada Kepariwisataan Alam.

Pada tahun 2005, UNWTO memprediksi jika bisnis pariwisata dijalankan seperti biasa, tidak ada program-program adaptasi, maka diperkirakan pada tahun 2035 emisi yang dihasilkan sektor pariwisata akan meningkat 161% lebih banyak dari sekarang.

Seperti yang kita semua tahu, iklim dapat mempengaruhi kualitas dan macam aktivitas wisata yang dapat dikembangkan dalam suatu wilayah. Sumber daya pariwisata alam sangat rentan atas dampak langsung dan tidak langsung dari ancaman perubahan iklim. Kenaikan suhu yang ekstrem dan perubahan panjang musim dingin dan atau musim panas dapat mempengaruhi rencana tinggal wisatawan. Pada sisi lain pariwisata juga turut berkontribusi terhadap pemanasan global melalui emisi gas buang dari sarana transportasi, akomodasi dan aktivitas wisata lainnya.

UNWTO mengajak seluruh stakeholders pariwisata dunia untuk merespons fenomena perubahan iklim dengan melakukan program adaptasi yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor pariwisata guna menghambat laju ancaman pemanasan global.

HUTAN PALAWI (2)
menikmati alam, banyak jalan membantu mitigasi perubahan iklim…

Ketika ditanya hal sederhana apa yang dapat dilakukan untuk mitigasi perubahan iklim, sebagai Ibu muda yang kebetulan hobi traveling, maka aku akan menjawab bahwa langkah kecil seperti lebih banyak jalan kaki ketimbang naik kendaraan dan tidak membuang sampah di tempat wisata menjadi dua gerakan untuk turut menyukseskan mitigasi perubahan iklim. Simpelnya seperti itu dan saya juga bersumpah akan melakukannya tiap kali Traveling.

Lalu, apakah hanya itu saja? Tentu tidak. Masih banyak hal yang dapat dilakukan seperti memilih paket wisata private. Iya, jika ada paket wisata maka aku lebih memilih paket wisata private karena pastinya aku bisa lebih menikmati perjalanan. Apalagi jika ada flora dan fauna yang harus dilindungi, supaya tidak bising dan membuat gaduh, pembatasan kunjungan juga harus dilakukan demi menjaga dan melindungi sumber daya pariwisata di dalamnya.

Omong-omong, kalian punya program atau aksi untuk mitigasi perubahan iklim, kan? #MudaMudiBumi, pasti banyak aksi untuk ini. Boleh dong sharing!

You Might Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: