Festival Serayu Banjarnegara: Parade Budaya

Seluruh rangkaian event Festival Serayu Banjarnegara yang digelar bulan lalu menurutku unik dan menarik banyak mencuri perhatian masyarakat. Beberapa hari ke depan, mungkin aku akan menulis tentang rangkaian event Festival Serayu Banjarnegara. Tentunya event yang aku lihat, ya. Karena ada beberapa event yang  ngga aku ikuti.  Jika ada yang bosan nantinya, maafkan. :mrgreen:

Parade Budaya baru pertama kali diselenggarakan di Banjarnegara. Parade Budaya juga  masuk pada agenda inti Festival Serayu Banjarnegara (FSB). Kabupaten Banjarnegara menyelenggarakan Parade Budaya secara akbar (besar-besaran). Biasanya Parade Budaya ditampilkan oleh pelajar SMA dan Umum pada kegiatan Karnaval, itupun hanya sedikit budaya yang ditampilkan. Tahun ini, hanya pelajar PAUD, TK dan SD saja yang mengisi karnaval. Pelajar SMA dan kategori Umum mengisi agenda Festival Serayu pada event inti Parade Budaya.

Aku niat bangun pagi (24/8) untuk menyaksian Parade Budaya yang juga merupakan event Pembukaan Festival Serayu. Niat banget, ya. Hahaha. Parade Budaya atau konvoi budaya dimulai dari depan gedung DPRD Banjarnegara (Jl. Pemuda). Saat itu, aku mengambil tempat duduk ternyaman di depan gedung DPRD. Selain banyak pepohonan rindang, tempatnya juga adem silir-silir. Kemudian, dari garis startlah aku bisa menikmati peserta Parade Budaya yang masih fresh from salon. :mrgreen:

Parade Budaya yang semula dijadwalkan pukul 09.00 WIB, ternyata baru dilepas pukul 10.30 WIB. Karena harus menunggu seluruh peserta siap (datang). Parade Budaya dilepas oleh Sekda Banjarnegara, Bapak Fahrudin. Sementara, Bapak Bupati dan Bapak Wakil masih menyambut para tamu istimewa di Pendopo Dipayuda Adigraha. Diantaranya; Para Duta Besar, Anggota DPR RI dan Gubernur Jawa Tengah.

Parade Budaya menampilkan aneka ragam seni, budaya yang ada atau pernah ada, serta potensi atau produk unggulan daerah Banjarnegara.  Jumlah keseluruhan yang mengikuti Parade Budaya ada 22 peserta, sesuai tanggal hari jadi Banjarnegara. Peserta Parade Budaya masing-masing dari kalangan Pemerintah Daerah, Anak Sekolah dan BUMD.

Ragam Seni Budaya Banjarnegara

Barisan atau konvoi Parade Budaya dipimpin oleh barisan Anoman Obong yang berjumlah 9 orang. Anoman Obong ini ngga hanya berkostum putih, ada warna hijau dan merah. Anoman itu suka dengan ketertiban. Jika ada mengganggu perjalanan konvoi, maka dia akan segera menertibkan jalan. Ya, tugas mereka di sini mengamankan “jalan utama” selama prosesi Parade Budaya berlangsung. Berharap juga Banjarnegara tertib dalam hal apapun.

1 ANOMAN PARADE BUDAYA
Anoman gagah, ya. . .

Disepanjang jalan Anoman memperlihatkan aksinya juga, menari. Kemudian, diikuti oleh pasukan pembawa bendera, panji lambang daerah, logo FSB, pembawa janur kuning dan drumband. Kesemua peserta pada barisan ini adalah siswa-siswi SMA N 1 Banjarnegara. Mengenai peserta yang membawa janur kuning, ini juga masih termasuk budaya Banjarnegara yang masih dipelihara sampai sekarang. Budaya janur kuning yang dipakai sebagai tanda menggelar hajatan. Ngga hanya untuk hajatan pernikahan dan sunatan, namun untuk kesenian juga sebagai tanda sedang digelar kesenian. Seperti kuda kepang dan lengger.

PASUKAN BIMA FESTIVAL SERAYU BANJARNEGARA
BIMAnya lemu-lemu mbangetss. . .

Dilanjutkan dengan pasukan Bima. Bapak Guru yang tergabung pada forum PGRI semerntara waktu menjelma menjadi Bima. Kali ini, Bima ngga ditemani sang isteri, Dewi Arimbi. :mrgreen: Cara jalan Bima yang selalu menghentakkan kakinya semakin terlihat bahwa Bima itu kuat dan gagah. Bima memiliki senjata andalan berupa kuku jempol yang melengkung kebawah. Kuku pancanaka namanya.

Kuku ini terlihat panjang dan tajam. Dulunya kuku ini digunakan sebagai senjata. Untuk memotong leher saja Bima cukup menggunakan kuku pancanakanya. Pada event-event besar Bima selalu dimunculkan, seperti pada acara Dieng Culture Festival. Harapannya, dengan adanya Bima masyarakat Banjarnegara dijauhkan dari perbuatan mungkar, selalu aman, ayem dan tentram. Aamiin. . .

RAMPAK YAKSA
Gak ada yang ganteng Rampak Yaksanya. ..  :mrgreen:

Barisan selanjutnya ada rombongan Rampak Yaksa dari kecamatan Batur, Banjarnegara. Ada yang pernah lihat Rampak Yaksa secara dekat? Sungguh mengerikan. Wajahnya sengak, matanya besar, mempunyai gigi taring dan rambutnya ngga pernah disisir. :mrgreen: Rampak Yaksa Pringgodani merupakan tarian khas Datran Tinggi Dieng. Tarian ini menggambarkan tentang kelahiran salah satu Ksatria Pandawa dari tanah Pringgondani yaitu Gatutkaca. Kini tarian Rampak Yaksa bisa dijumpai pada acara adat seperti ruwatan rambut gimbal, sedekah bumi.

Kesenian Brenong Begalan
Si Bapak manis juga, ya. .. 😆

Selama tercatat sebagai warga Banjarnegara, aku baru tahu tentang kesenian yang satu ini. serius. Tari Brenong Kepang dari Kecamatan Purwanegara. Budaya ini pernah ada di Banjarnegara. Brenong Kepang disebut juga sebagai Seni Begalan.

Tahu Begalan, kan? Sama arti dengan dipastikan terlebih dahulu. Emmm, mungkin ditanya-tanya keseriusannya pada calon pengantin. Peserta tari yang berjumlah 35 orang ini digunakan ketika ada acara pernikahan. Setelah sudah pasti hari pernikahannya, para penari ini akan membawa peralatan dan kebutuhan dapur (rumah tangga) dalam bentuk pikulan. Penari adalah laki-laki dan perembuan, diiringi gendingan. Berharap sang pengantin kelak menjadi keluarga sakinah, mawadah wa rahmah. Sejahtera dan berkecukupan.

Budaya Sunatan Medayu
Enak banget yang sunat, ya. .. 🙂

Jika kecamatan Purwanegara mempunyai adat seni begalan, maka Desa Medayu mempunyai tradisi sunatan tempo doeloe. Sunatan yang dimaksud di sini sama dengan sunatan pada umumnya, hanya saja adat yang digunakan berbeda. Budaya sunatan ini dulu pernah ada di Desa Medayu. Adatnya yaitu sebelum sunat, kemauan anak harus dipenuhi dahulu (sesuai dengan kemampuan). Setelah anak di sunat, mengenakan baju adat dan sarung, kemudian dimasuk ke dalam tandu janur kuning dan diarak mengelilingi desa sampai ke kali yang ada di Desa.

Arak-arakan diiringi oleh pasukan yang membawa jajan pasar, tumpeng khitan, tabuhan rebana dan para sesepuh meramiakan arak-arakan ini mengenakan kostum putih, bersabuk merah dan melakukan gerakan-gerakan khusus seprti silat gitu. Setelah sampai ke kali, anak harus berendam. Berendam? Woww, apa gak perih tuh, ya. .. :mrgreen:

Masih ada budaya dan kesenian lain. Seperti, Baju adat kebesaran, kesenian Brendung dan Tari Lengger.

Baju Adat Kebesaran Banjarnegara
Baju Adat Kebesaran Banjarnegara. . .
Kesenian Brendungan2
Seperti sudah loyo, ya. . .

Jika tari lengger ini masih eksis dan banyak yang sudah tahu. Namun, kalau kesenian Brendungan ini masih jarang yang tahu, termasuk aku. Kesenian Brendung ini dari Kecamatan Kalibening. Katanya, sebelum kesenian ini berlangsung atau akan pentas (dimanapun), para peserta brendungan harus puasa terlebih dahulu. Barisan ini diisi oleh perempuan, Nyai Blendung. Sedangkan yang laki-laki hanya mengiringi saja. Tentunya dengan membawa Brendung dan Begud. Budaya ini masih ada sampai sekarang. Biasanya seni ini diperagakan sebagai lantaran meminta hujan.

Potensi Daerah dan Produk Unggulan Banjarnegara

Mengenai potensi daerah, Banjarnegara memiliki beberapa potensi daerah yang mungkin belum tersentuh oleh pemerintah. Baik pemerintah daerah, maupun pemerintah pusat. Seperti potensi galian C yang sudah dieksploitasi, meski kepemilikannya masih perseorangan. Potensi lain yaitu pada sektor Pertanian. Sebagian besar masyarakat Banjarnegara bermata pencaharian sebagai Petani. Beberapa hasil pertanian dari Banjarnegara sudah merambah ke pasar nasional dan internasional.

Sektor Pertanian Banjarnegara Maju
Salak’e maniiis. . . 😆

Tiap kecamatan mempunyai postensi atau hasil unggulan masing-masing. Misalnya, Kec. Sigaluh yang terkenal dengan Durian Petok, Kec. Madukara terkenal dengan salaknya yang besar-besar, Kec. Mandiraja dengan hasil palawija, Kec. Batur dengan hasil sayur mayur. Dahulu pas masa raja hayam wuruk, ketika panen menggunakan gerobak sapi. Mengandalkan tenaga sapi. Hasil bumi di atas juga diarak menggunakan gerobak sapi.

Pernah dengar juga, gerobak sapi sering dijadikan sebagai angkut senjata ketika akan perang. Multifungsi, ya. Makmur makmur, semoga masyarakat Banjarnegara tambah sejahtera dan makmur, mampu mengolah hasil bumi.

Masih ada beberapa produk unggulan Banjarnegara yang ditampilkan pada saat Parade Budaya, seperti minuman nyesss Dawet Ayu, Batik Gumelem (Susukan), Batik Wardah (Panerusan, Susukan), Pengrajin Gula Kepala (Mandiraja) dan Pengrajin Keramik (Klampok).

DAWET RAKSASA
Dawet Jumbo, Raksasa. . .
Batik Gumelem Banjarnegara
Batik Gumelem. Batiknya manis, ya. . .

Di Kecamatan Susukan ada dua Desa pengrajin batik. Desa Gumelem dan Panerusan. Desa Gumelem menciptakan batik tulis dengan motif khas dan warna yang cenderung kalem, terkenal dengan “Batik Gumelem“. Sedangkan di Desa Panerusan menciptakan batik tulis dengan warna menyala, “Batik Wardah“.

Parade Budaya yang dimulai dari Jl. Pemuda yang merupakan jalan utama ini berlangsung dengan tertib. Pasalnya, aksesbilitas sudah diatur jauh hari sebelumnya. Seluruh transportasi yang biasanya melewati jalan utama atau jalan propinsi ini, pada hari tersebut dialihkan ke jalan satu arah stasiun lama.

Ganjar Pranowo Menari Bersama Rampak Yasa
Pak Ganjar narinya lemes juga. . . (dok: FSB)

Oiya, seluruh peserta Parade Budaya melewati karpet merah. Karpet merah terletak di depan gapura masuk Pendopo Banjarnegara. Pada karpet merah itulah, seluruh peserta diberi kesempatan untuk display. Memperagakan seni budaya masing-masing. Sebagai contoh Tari Rampak Yaksa. Bapak Ganjar yang mengenakan kostum Gatotkaca dan beberapa pejabat daerah lainnya saat itu ikut menari. Seruuu. Sayangnya, pergaan tersebut sebagian bersar di depan para pejabat. Jadi yang nontonnya ngga di sekitar karpet merah ya wasalaaam. 😀

Secara keseluruhan, event ini sukses membuat para penonton bersorak gembira. Meski yang nonton aku lihat rata-rata orang Banjarnegara. Wisatawan atau orang luar kota belum banyak aku temui. Semoga tahun berikutnya makin meriah, ramai, dan dapat mengundang perhatian para penonton dari luar kota, dan juga  para netizen.

27 Comments

  1. Banjarnegara keren .. top abis. Suka banget membaca kalau beberapa daerah mengadakan seperti ini.
    Wajib ditiru neh sama daerah lain yang belum ..

    Terima Kasih, Kang. Di Surabaya ada, kan? ^_*

  2. wah postingan tulisan yg kereen dan bermanfaat. tulisan budaya yang kereen 🙂
    salam kenal yach…

    Terima Kasih sudah berkunjung, Pak. Salam kenal kembali dari Idah. ^_*

  3. iihh itu bimanya kok gagah2 toh yaa perutnya gede2 gitu yaa, hihihi 😀
    disidoarjo kok gag ada yaa yang beginian yaa 😀

    Iya, Niar. Kalau kecil2 namanya Bimi dongs?. Ayoo, Sidoarjo bergerak dongs. . . ^_*

  4. Gila yaw ‘cuma’ Banjarnegara aja punya banyak macem-macem, gimana se-Indonesia yak @.@ Kayaknya gueh pernah denger Gumelem deh akhir-akhir ini…

    TDengarnya bukan dari saya, kan? ^_*

  5. selamat banjarnegara jawa tengah jaya, semoga makin banyak event wisata di sana 😀

    Terima Kasih atas doanya, ya. Begitu juga dengan Jogja. ^_*

  6. Wah ramai banget parade budaya festival serayu 🙂 Sayang, jauh banget ada di Banjarnegara. Jadi nggak bisa ikutan nonton dech 😀

    Kalau dari rumah saya dekat koq, Mba. #eh. 😆 ^_*

  7. Wah ramai banget parade budaya festival serayu 🙂 Sayang, jauh banget ya mbak, ada di Banjarnegara. Jadi nggak bisa ikutan nonton dech 😀
    Coba aja kalau di dekat daerah saya, pasti saya akan nonton hehehe 😀

    tahun besok nonton ya, Mba. Ke Banjarnegara. ^_*

  8. kereeen sekali non, betapa setiap daerah kaya budaya. Festival Serayu berbagi keelokan budaya Banjarnegara. Trim ya Idah. Salam

    Benar, kalau dikumpulkan se Jateng pasti lebih banyak ya, Bu. ;). . .^_*

  9. WOW keren. Foto2nya juga keren. Bagus bila anak muda mash tertarik datang ke acara seperti ini ya ^__^

    Melestariakan budaya ya, Mba. . .^_*

  10. Yang pink2 itu asa2 gak nyambung budaya ya? (eh, salah ya) ^^ ., aku udah kapan tau gak pernah lihat kirap budaya… jadi kangen masa2 kecil yang pernah ikutan jadi model jalanan pakai konde 😀

    Emm, yang mengenakan baju batik, bukan? Kalau iya, itu termasuk budaya dong. Batik kan merupakan warisan Budaya. 🙂 . . .^_*

  11. Keren,,,saya sebagai keturunan orang banjarnegara sangat bangga dengan adanya acara tsbt, maju terusssss,,,,

    Yeees! 😆

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *