Traveling ke Yogyakarta dan Menginap di Airy Malioboro Sosrowijayan

Jogja Jogja tetap istimewa….Istimewa negerinya, istimewa orangnya. Jogja Jogja tetap istimewa…Jogja istimewa untuk Indonesia.

Petikan lagu di atas kerap dinyanyikan oleh Mbak Lista, teman bermain Yasmin. Saking seringnya mendengar dia menyanyikan lagu ini, Yasmin pun sampai hapal. Meski hanya di bait pembuka, tetap lah Mamaknya takjub. 😆 Saking girangnya waktu itu, fix aku ingin mengajak Kecemut traveling ke Yogyakarta sekaligus mengenalkan tranportasi kereta api.

“Sepertinya akan banyak momen yang tak terlupakan andai aku bisa mengajak Yasmin Traveling ke Yogya.” Batinku saat itu sambil melihat ekspresinya menyayikan lagu Yogya Istimewa dengan terbata-terbata. Uugh…gemas tauuuuk!

Ada beberapa keinginan atau bisa dibilang impian yang akan kami wujudkan bersama di kota Gudeg. Namanya traveling bareng anak-anak, pasti yang menjadi prioritas adalah kebahagiaan serta kenyamanan bagi anak. Pemilihan destinasi pun yang betul-betul destinasi yang ramah anak. Naik delman keliling Malioboro, misalnya. Karena di Banjarnegara, Yasmin senang sekali jika diajak numpak delman.

Hyaaah…naik delman, mah ngga perlu jauh-jauh ke Yogya.”

 

A post shared by idahceris.com (@idahceris) on

Euuuumhh…adakah yang berkomentar seperti itu? Banyak! Hahaha. Dan perlu kalian tahu, naik delman keliling Malioboro ini masuk dalam itinerary kami, lho. Malah ada di bagian paling atas. 😛

Traveling ke luar kota bareng Yasmin selama tiga hari dua malam tanpa suami, bagiku ini adalah tantangan. Apalagi usianya saat ini bisa dibilang usia labil; dia bisa bahagia kapan pun, tiba-tiba badmood, atau bahkan mendadak sakit saat traveling. Banyak ejutan. Makanya ada beberapa pertimbangan sebelum memilih apa yang menjadi kebutuhan saat traveling, termasuk penginapan.

Mengingat wisata kompleks Malioboro menjadi tujuan utama, kami pun memilih penginapan yang tak jauh dari Maliboro. FYI, traveling kali ini memang tanpa suami, tapi ada dua teman yang turut menyempurnakan kebahagiaan. Adalah Ella dan Mbak Olip. Nah, karena ber empat, kami pun memutuskan untuk memilih kamar tipe family. Kenapa Family Rooms? You know what lah, ngirit saat traveling itu perlu, asal jangan sampai bablas karena nanti jatuhnya pelit dan sengsara, kan menyedihkan. 😆 Dan memilih kamar tipe family pun menjadi solusi saat itu. Kami tetap dalam satu kamar, bisa bercanda tanpa batas, dan bahagia.

Airy Rooms Malioboro
Senyum penuh pesona…wkwkwk

Kalau sudah ngomongin penginapan yang ramah kantong, Airy Rooms selalu menjadi referensi penginapan. Cukup membuka aplikasi Airy Rooms yang sudah terinstall di smartphone, pengguna bisa dengan mudah menemukan penginapan yang dicari sesuai keinginan dan tentunya budget.

Saat mencari penginapan di sekitar Malioboro menggunakan aplikasi Airy Rooms, ada beberapa rekomendasi penginapan yang yang ditawarkan untuk kamar tipe family. Salah satunya yaitu Airy Malioboro Sosrowijayan. Dengan berbagai pertimbangan, termasuk fasilitas, kami pun memilih menginap di Airy Maliboro Sosrowijayan yang berada di Jl. Sosrowijayan GT I no. 195, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kenapa memilih Airy Malioboro Sosrowijayan? Berikut tiga alasan, kenapa kami memilih menginap di sana.

Tenang dan Nyaman

Berlokasi tak jauh dari Jl. Maliboro, yaitu sekitar sepuluh menit jika ditempuh dengan jalan kaki, atau lima menit jika ditempuh dengan transportasi becak (membayar Rp 5.000), bukan berarti penginapan ini berisik. Lokasi tepatnya yang agak masuk, menjadikan penginapan ini begitu tenang dan nyaman untuk bobok.

Jalan ke Airy Rooms Malioboro

Gang masuk ke Airy Malioboro Sosrowijayan…

Sepeda motor yang masuk gang ini disarankan untuk mematikan mesin. Kecuali mobil atau kendaraan para tetamu yang akan menginap di Hotel.

Tempat Tidur yang Pas

Kamar tipe family yang ditawarkan di sini adalah satu double bed, dan satunya single bed. Aku kira dua-duanya double bed semua, lho. Ternyata Airy Rooms Family Double memang tempat tidurnya hanya satu yang double. Kalau misal pingin double bed semua, tersedia juga tapi pakai PLUS, dan harganya selisih Rp 50.000.

Pengalaman Menginap di Airy Malioboro Sosrowijayan

Lengkap dengan atribut Airy Rooms….

Setelah kami diantar ke tempat tidur family double plus, ternyata memang luas dan lengkap dengan sofa. Tapi karena kami hanya berempat dan yang satu juga masih krucil, akhirnya kami tetap memilih sesuai pesanan. Aku pakai single bed, bobok bareng Kecemut. Sementara yang double bed, digunakan oleh Mbak Olip dan Ella.

Kolam Renang Ramah Anak

Saat aku memesan penginapan ini dan melihat ada fasilitas yang bakal bikin Kecemut betah, rasanya bahagia. Adalah Kolam Renang. Dengan budget Rp 291.880, kami bisa renang sepuasnya di sini. Dan aku lihat, Airy Maliboro Sosrowijayan menjadi satu-satunya penginapan rekomendasi Airy yang ada kolam renangnya. Karena si Kecemut hobi renang, ngga pakai ragu aku memilihnya.

AIRY MALIOBORO
Anak kecil diajak curhat sebelum meluncuur…

PENGINAPAN DEKAT MALIOBORO (1)

Bahagia kalau lihat aiir… 😀

Kolam renang di sini ramah anak. Maksudnya, dalam satu kolam terdapat beberapa pilihan tingkatan. Sayangnya, lantai kolam saat itu licin, dan aroma kaporit tercium jelas. Jadi ekstra banget buat jagain bocah.

Snack dan Breakfast Murah Meriah

Satu hal yang menjadi ciri khas Airy Rooms yaitu adanya snack. Ini pastinya nyengengin banget, lumayan bisa buat camilan. Apalagi snacknya berupa roti dan cokelat, kesukaan banget.

Selain snack, dalam paket menginap, Airy menyediakan paket with and without breakfast. Karena ngga mau repot cari sarapan, kami pun memilih untuk menambah fasilitas dengan breakfast. Ya, penawaran paket yang sebelumnya kami pesan, tuh, ngga termasuk breakfast. Makanya kami harus menghubungi resepsionis untuk menambah breakfas cukup dengan membayar Rp 50.000 untuk tiga orang sesuai dengan ketentuan Hotel. Emmh…Kecemut ngga dihitung tapi tetap makan, kok. 😀

Penginapan di Malioboro
Jajan khas Airy Rooms…

Tarif makan di atas, tuh, murah banget kalau dibanding dengan makan di luar. Dengan harga lima puluh ribu untuk tiga orang, paling dapatnya sate kere di pinggiran trotoar Malioboro, ya. Hahaha.

Fasilitas standard lainnya seperti Perlengkapan Mandi, Air Hangat, AC, TV, WiFi, bisa dibilang cukup. Untuk AC di kamar kami memang sudah agak kurang nyes, tapi pihak hotel menambahkan satu kipas angin yang menempel di dinding.

Airy Malioboro Sosrowijayan
Perlengkapan mandi dari Airy…bisa dibawa pulang, lho. Kalau mauuu…:D

Kamu ingin merasakan penginapan nyaman dengan budget minim juga?

Yang HARUS kalian lakukan yaitu mengunduh aplikasi Airy Rooms di playstore. Kenapa lewat aplikasi? Karena dengan memesan kamar Airy lewat aplikasi banyak untungnya dan lebih murah dibanding memesannya lewat website resmi Airy Rooms. Selain itu, pengguna Airy juga bisa memanfaatkan promo yang bertebaran. Cukup memasukan kode promo yang disediakan di aplikasi, kamu bisa mendapat potongan harga yang kadang gila-gilaan. Dinskon sampai 50%. Gilaak, kan? Pokokya banyak diskon dan promo yang mereka tawarkan lewat aplikasi.

Apakah kamu pernah menginap di Airy Rooms? Bagi pengalaman, yuk!

Pengalaman Membatalkan Pesanan Tiket Kereta Api

Domisili di Banjarnegara, mau ada acara di Jakarta dan pinginnya naik Kereta Api biar lebih cepat. Bisa banget, dong. Cukup berbekal smartphone dan paket data, pesan lah tiket Kereta Api secara online. Beli Tiket Kereta Api di Tokopedia, misalnya. Tinggal buka websitenya, atur jadwal keberangkatan atau pulang, bayar, dan jangan lupa konfirmasi pembayaran. Praktis, bukan?

Zaman sekarang yang dicari memang kepraktisan, apalagi soal pemesanan ini itu. Ketimbang harus telephone atau chat yang memerlukan banyak waktu dan juga biaya, lebih praktis mengunjungi websitenya langsung, kan. Bisa lebih leluasa dalam memilih jadwal pemberangkatan maupun pulang. Bonusnya, siapa tahu pas lagi booking tiket ada penawaran diskon. Alhamdulillaah banget, kan.

Sayangnya, nih, yang bisa dijangkau secara online baru pemesanannya saja. Belum sampai pergantian atau pembatalan jadwal karena untuk mengurus ini, pihak PT. Kereta Api Indonesia (KAI) memerlukan identitas diri dan tanda tangan si pemesan. Andai ini bisa dilakukan secara online, aaah…kenyamanan naik seratus persen, deh. 😛

CARA REFUND TIKET KERETA API
Stasiun Purwokerto siang itu…

FYI, syarat wajib untuk melakukan pembatalan pemesanan tiket kereta api, kamu harus datang ke Stasiun terdekat. Ini ngga bisa ditawar karena segala bentuk transaksi ada di stasiun. Hihihi. Nah, berikut langkah-langkah mengurus pembatalan tiket kereta api yang kini lebih cepat, dan sama sekali ngga ribet.

Siapkan Semua Dokumen

Jangan berpikir kalau dokumen yang dimaksud ini memberatkan, ya. Karena yang dibutuhkan oleh PT. KAI, dalam hal ini yang menangani adalah Costumer Service (CS), adalah hanya bukti pemesanan tiket, dan kartu identitas asli. Saat itu aku ngga membawa bukti pemesanan tiket. Agaknya lupa mencetak bukti pemesanan. 😆 Tapi ngga masalah karenan aku memesan tiketnya secara online. Jadi bukti pemesanan masih tersimpan di email.

Datang ke Stasiun Terdekat

Untuk melakukan pembatalan pemesanan tiket kereta api, aku datang langsung ke stasiun terdekat yaitu Stasiun Purwokerto di mana jaraknya kurang lebih 60 km dari Banjarnegara. Perjuangan banget, ya? Betul! Ini demi apa saydara setanah air? Demi duit supaya ngga hangus. Kalau aku membiarkannya hangus, nanti PT. KAI tambah sugih, dong. Hahaha.

Ini kenapa harus datang ke stasiun? Hiih…sudah dibilang bahwa, segala transaksi terkait pembatalan tiket kerata api bertempat di Stasiun. Kalau ngga punya waktu buat ke Stasiun, kamu bisa mewakilkan transaksi ini kepada siapapun dengan syarat harus dengan Surat Kuasa. Semacam pelimpahan, gitu.

Menyerahkan Dokumen ke Costumer Service

Dua hal yang perlu diperhatikan terkait dokumen yaitu bukti pemesanan tiket yaitu ID Pemesanan, Kartu Identitas, dan Nomor Rekening Bank (jika punya). CS hanya meminta ID Pemesanan saja, tanpa bukti fisiknya. Sementara untuk kartu identitas, musti bawa yang asli. Nantinya CS akan membantu untuk menggandakan kartu identitas. Selain menggandakan, CS juga membantu mengisikan data diri, termasuk pengisian nomor rekening guna pengembalian dana. Di ruang CS yang begitu sejuk, aku hanya duduk manis dan tanda tangan. Uwwh...ngga ribet pokoknya, ya.

Berikan Dokumen ke Petugas Loket

Sampai tahap ini, aku tergolong orang yang beruntung. Setelah CS memberi informasi nomor loket khusus pembatalan dan pergantian jadwal, aku langsung bergegas menuju loket 4, sesuai instruksi Mas CS yang sampai saat ini aku lupa namanya siapa. Di loket ini tanpa sistem antrean, lho. Tapi aku merasa beruntung karena saat itu hanya ada satu orang saja yang sedang melakukan transaksi.

CARA PEMBATALAN TIKET KERETA API
Jangan banyak tanya, semua sudah jelas. 😀

FYI, seluruh dokumen yang didapat dari CS diserahkan kepada petugas loket. Dokumen tersebut berupa fotokopi kartu identitas, print out tiket, dan formulir pembatalan. Setelahnya, petugas akan mengembalikan salinan formulir sebagai bukti pembatalan pemesanan tiket kereta api.

Pengembalian Akan Ditransfer Via Bank

Ini yang paling ditunggu-tunggu! 😆 Pengajuan pembatalan tiket kereta api yang dilakukan tidak lebih dari 30 menit sebelum jadwal pemberangkatan Kereta yang tertera di tiket akan mendapat pengembalian dana tiket meski ngga utuh. Terpotong 25% dari harga tiket kereta api. Masih lumayan lah, ya, bisa dipakai untuk beli Scraf Hijab.

Pengembalian dana tiket yang telah batal dilakukan setelah hari ke-30 melalui transfer atau diambil tunai di stasiun yang ditunjuk.  Jika kamu akan mengambilnya di Stasiun, maka harus menunjukan salinan formulir pembatalan kepada CS.

 

PEMBATALAN TIKET KERETA API
Formulir pembatalan ini rangkap 2, ya.

Eh, ini kenapa melakukan pembatalan?

Ceritanya, awal bulan ini aku berniat menghadiri acara mubes warung blogger yang berlokasi di Jakarta. Acara ini berlangsung satu hari pada hari Sabtu. Artinya, aku harus berangkat hari Jum’at, dong. Yaudah, aku pesan tiketnya untuk hari Jum’at. Rencana semula, hari Jum’at aku akan mengajukan izin ke atasan, gitu. Tapi ternyata aku harus menghadiri undangan rapat dan itu WAJIB. Ini undangan mendadak, cuuuy. Bikin KZL!

Buat kamu yang hendak bepergian menggunakan tranportasi Kereta Api, betul-betul dipertimbangkan sebelum memesan tiket, ya. 😉

Gagal ke Pantai Sodong, Bersenang-senang di Kolam Renang Purbasari

Nak, ngga lama lagi kita akan main ke Pantai. Di sana ada banyak pasir, lho.” Puteri kecilku, Syaquita, lagi senang-senangnya mainan pasir di sebelah rumah kami. Bukan gundukan pasir utuh, sih. Hanya timbunan pasir dan tanah yang telah menyatu. Dia mengeruk pasir pelan-pelan dengan sendok, lalu dituang ke dalam gelas plastik berukuran kecil. Lalu setelah penuh, baru lah ditumpahkan di atas papan dan dibuat berjejer, gitu. Eeeh…ada yang masa kecilnya mainan suka mainan pasir seperti Syaquita? 😀

Mainan pasir nampaknya akan makin asyik jika dilakukan di tepi pantai. Bisa mengumpulkan, mencetak seberapapun karena memang ketersediaan pasir di sana, tuh, tak terbatas. Ngga seperti di samping rumah kami. Makanya saat punya rencana untuk menghadiri event ke Pantai Sodong, Cilacap, aku mencoba sounding kepada Si Kecil dengan memberi pandangan bahwa dia bisa mainan pasir degan leluasa di pantai. Sekali mendayung lah, ya.

Melihat ekspresi kebahagiaan dengan meloncat-loncat, lalu memeluk Ibunya. Ini sungguh mengejutkan. Uwwh…bikin terharu saja ini bocah. Betapa mudahnya membahagiakan anak kecil, ya. Baru dibisikin rencana saja langsung sumringah. Ditambah lagi saat packing, kami memasukan beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk mainan pasir. Dia tambah bahagia, dong. Mungkin dalam benaknya sudah ada semacam gambaran bermain pasir di pantai. Padahal, ya, dia belum pernah ke pantai. Hahaha.

SODONG CULTURE FESTIVAL
Gagal ke Sodong Culture Festival…

Sayang banget, niat untuk ke Pantai Sodong bersama teman-teman GenPI Banyumasan gagal karena suatu musibah. Malam hari sebelum hari H, hujan deras mengguyur Pantai Sodong dan sekitarnya. Beberapa teman yang standby di sana mengabarkan bahwa, hujan sempat diikuti angin kencang. Hujan badai, gitu. Makanya kami gagal ke Cilacap karena segala sesuatu yang telah dipersiapkan mereka ternyata hancur, termasuk panggung yang akan digunakan untuk acara Jazz. Dengan berat hati, mereka membatalkan event bertajuk Sodong Culture Symphony (SCS). Pun denganku, dengan berat hati mencoba menyampaikan juga kepada Syaquita bahwa, kami gagal ke Pantai. Kali ini, dia ngga merespon apapun. Hanya menatapku dalam, lalu memegang kedua pipiku. Duuuh…jangan-jangan aku dikira PHP-in dia, nih. Eeeeh…anak kecil mana paham PHP. 😀

Ngga tahu kenapa, ada yang mengganjal dalam hati ketika aku menyampaikan kepada Syaquita kalau kami gagal ke pantai. Seperti ada rasa bersalah, gitu. Merasa tak ingin membuatnya sedih, Sabtu lalu aku mengajak dia jalan-jalan ke Purbasari Pancuran Mas bersama Tante dan Ella. Aku mengajak mereka karena pada hari itu mereka sudah terlanjur izin kerja. Ketimbang pada santai di rumah, mending jalan bareng Syaquita selagi belum pada punya gebetan. Hahaha.

Kolam Renang Purbasari
Bersenang-senang di Kolam Renang Purbasari

Purbasari Pancuran Mas adalah obyek wisata buatan yang terkenal dengan Aquarium Ikan Raksasa Arapaima Gigas. Aku mengajak Syaquita ke sini bukan hanya untuk melihat koleksi ikan dan aneka satwa lainnya, tapi juga mengajaknya renang. Berbekal tiket masuk Rp 18.000 per orang, kami bisa jalan sampai gempor keliling Purbasari dan renang sampai kulit keriput.

Selain mainan pasir, Syaquita juga bahagia jika diajak renang. Pikirku, renang ini sebagai ganti mainan pasir. Sebenarnya ini nekat banget, sih, karena kondisiku saat itu sedang datang bulan hari kedua. Artinya, ngga mungkin aku ikut renang. Makanya sebelum berangkat, aku minta tolong ke Tante untuk membawa baju renang supaya Syaquita ada temannya. Aku juga sempat tanya-tanya toko yang jual baju renang anak di daerahnya, tapi nampaknya jarang.

Sesampainya di Purbasari, aku lihat Tante hanya membawa dompet saja. Ngga bawa perlengkapan renang. Yasudah, akhirnya aku putuskan untuk tetap mendampingi Syaquita renang meski hanya dipinggir. Pun dengan Tante, ikut turun ke dalam kolam renang, bergantian dengan aku. Sementara Ella, dia keprok-keprok hore aja di pinggir kolam. 😀

Purbasari Pancuran Mas
Uwwh…ketemu kolam renang saja bahagia banget…

Beruntung, kolam renang di Purbasari ngga mengharuskan para perenang untuk memakai baju renang. Soalnya, setelah aku buka ransel, ternyata baju renang Syaquita ngga aku bawa. Karena aku ngga melihat toko yang jual baju renang anak di sana, terpaksa lah dia renang pakai kaus dalam dan celana pendek. Hihihi. Tapi tenang, untuk kaus dalam, pempers, perlengkapan mandi, dan baju ganti, available di ransel Ibuk. 😉

Ahay! Virus Traveling Kembali Datang

Sebelum melihat kalender tahun 2018 secara utuh, rasanya surprise saat melihat beberapa teman membagikan kalender dalam bentuk flyer lewat akun sosial media. Bisa dibilang, kalender tersebut adalah kalender traveling karena hanya menampilkan tanggal libur panjang atau long weekend yang identik dengan piknik.

Bagi seorang pekerja yang doyan piknik sepertiku, selain mengandalkan jatah cuti, moment long weekend acap kali aku manfaatkan untuk traveling. Terlebih saat Mama Karla mengirim flyer kalender piknik lewat Whats App sambil menyentil dengan pertanyaan, “kamu akan mengajak aku kemana, nih?”. Uuwh…kami pun salinh menawarkan destinasi wisata yang memungkinkan untuk kami jangkau secara finansial. Hahaha.

“Gimana kalau ke Jawa Barat? Di sana kita cari destinasi yang ramah anak juga.” Aku menawarkan Jawa Barat kepadanya dengan dilanjut destinasi-destinasi di Kota Cirebon. Tapi ternyata dia sudah pernah dan nampaknya kurang menarik. Apa iya, Bandung lagii…Bandung lagiii. 😆 😆

Sebelum merambah ke destinasi lain, dia menyampaikan bahwa, ada keinginan untuk traveling ke Dieng, Jawa Tengah. Dududu…ini mah ayo banget. Dieng tuh hanya selemparan sapu tangan dari tempat tinggalku. 😆 Namun percakapan ini berakhir tanpa keputusan. 😀

Festival Kendalisada
Nunggu jatah libur, sabar… 😀

Semenjak ngobrol tentang liburan dengan Mama Karla, rasa-rasanya virus traveling dalam diri ini kembali datang. Jujur, setelah punya Syaquita, aku hanya berani traveling tipis-tipis. Apalagi suami ngga punya banyak jatah libur. Mentoknya mengandalkan akhir pekan, itupun jatah liburnya hanya dua hari. Niqmat betul, ya. 😀

Bulan ini, usia Syaquita genap dua tahun. Di usia, dia sudah bisa merasakan bahagia atau sebaliknya saat diajak traveling. Ini sudah aku evaluasi dan aku coba beberapa kali. Artinya, meski jatah libur suami masih tetap, setidaknya aku bisa traveling bareng Si Kecil. Berdua, kami mampu. 😀 Duuuh maaf banget ya, Pak. Kami jalan berdua dulu, ya. 😛

Omong-omong, aku ada rencana mengajak Syaquita merasakan udara pantai sambil bermain pasir di tepi pantai. Aku rasa sudah cukup aman dan dia juga nampaknya bisa turut have fun. Dan tau ngga, perasaan makin ngga karuan ketika foto-foto Mama Minta Piknik liburan ke Lombok beredar di blognya. Tahu sendiri lah, pantai-pantai di Lombok kan cakepnya keterlaluan. Apalagi setelah tahu bahwa, untuk ke Lombok ternyata ngga harus mengeluarkan banyak uang. Budget buat dua orang hanya Rp 1.5 juta. Low budget, kan? Dududuuh…makin semangat mengajak Syaquita ke Pantai. 😀

Lombok Bukit Malimbu
Kece banget Bukit Malimbu, ya….

Eeeh…tadi ada Mama Karla, dan sekarang Mama Minta Minta Piknik. Dua Mama ini memang kerap menebar virus traveling. Apalagi gaya traveling mereka tipe yang ngga terlalu mewah tapi tetap mementingkan kenyamanan. Kan patut banget ditiru. Dan yang membuat makin greget pingin ke Lombok, tuh, saat menjelang akhir tahun lalu ada seorang teman, sebut saja Ibra, yang minta tolong ke aku untuk memesan tiket penerbangan ke Lombok dan sekalian minta rekomendasi destinasi wisata di sana.

Baginya, ini adalah kali pertama dia solo Traveling.  Sebelumnya, dia terbiasa ikut open trip atau trip gabungan bareng teman-temannya. Ngga terbiasa ribet seperti menyusun intinerary, memesan transportasi dan juga akomodasi karena tahunya tinggal berangkat. Ngga tau saking malasnya atau apa, tiba-tiba dia minta tolong ke aku untuk memesankan tiket pesawat beserta penginapannya.

Hish…padahal zaman now ini kan booking tiket dan akomodasi bisa lewat online, ya. Tinggal install aplikasi OTA (Online Travel Agent), pengguna bisa dengan mudah memesan keperluan traveling sesuai kebutuhan. Untuk masalah kebutuhan traveling seperti pemesanan tiket pesawat, aku selalu mengandalkan Traveloka. Makanya, saat ada teman minta tolong, aku pun langsung membuka aplikasi Traveloka.

TIKET PESAWAT KE LOMBOK MURAH
Pesan tiket pesawat tinggal klik, isi data, bayar! 😀

Penggunaan aplikasi pun sangat mudah. Cukup memilih menu Tiket Pesawat atau Ikon Pesawat Terbang  yang ditampilkan di halaman muka, selanjutnya tinggal isi data sesuai kebutuhan seperti; tanggal berangkat, tanggal pulang, data pribadi, dan cara pembayaran. Satu hal yang perlu diperhatikan yaitu ketika kamu memesan tiket pergi-pulang. Artinya, kamu harus benar-benar yakin bahwa jam pulang akan sesuai dengan yang sudah dipesan.

Nah, karena Ibra travelingnya belum jelas sampai kapan, aku pun menyarankan untuk membeli tiket satu kali penerbangan saja. Ya…meski ada layanan reschedule, sih.

Alasan lain, kenapa harus menggunakan Traveloka, sih?

Alasan yang paling bikin gemes yaitu karena aku terlanjur nyaman dengan pelayanannya Traveloka. Apa lagi yang dicari kalau kenyamanaan sudah dalam genggaman, coba? Belum lagi, aku bisa membandingkan harga antar maskapai hanya dengan satu aplikasi. Penawaran promo pun kadang cukup membuatku gila karena betul-betul bisa jadi murah banget.

Satu hal yang menjadikan aku makin nyaman memesan tiket pesawat di Traveloka yaitu karena aku bisa melakukan reschedule. Seperti yang aku singgung di atas. Bagiku, ini seperti asuransi. Apalagi aku kerap dimintai tolong teman dan saudara untuk memesan tiket pesawat. Rasanya ada ketenangan tersendiri dengan adanya layanan reschedule.

Lombok Kuta Mandalika
Kuta Mandalika, Lombok. Ini cocok buat bermain sama si kecil…

Bisa dibilang, Ibra memang suka malas kalau harus mengurus pemesanan tiket dan akomodasi untuk kebutuhan travelingnya. Tapi kalau diminta menyebar virus traveling, dia jago banget! Sama halnya dengan mama Karla dan Mama Minta Piknik.

Dan pada akhirnya…

Dengan siapa kamu bergaul, paling ngga kamu akan mendapat pesonanya. Meski dapatnya hanya tipis-tipis.” Ini bukan quotes, apalagi kata mutiara. Aku cuma lagi merasa kena sedikit pesonanya Ibra, dan Duo Mama yang pada suka traveling dengan budget tipis-tipis.

Ps: Foto-foto destinasi Pantai di Lombok aku dapat dari Mama Minta Piknik. 😉

3 Jenis Camilan Favorit yang Kami Bawa Saat Traveling

Apa jadinya Traveling tanpa membawa camilan? Bagi kami, hambar rasanya. Apalagi kami tipe keluarga yang suka ngemil. Ngga harus menunggu dapat tempat istirahat yang mewah untuk sekadar ngemil. Terpenting kami bisa duduk dengan nyaman.

Urusan camilan bukan perkara tentang mengganjal perut saja. Saat di tengah perjalanan merasa lelah, camilan bisa menjadi pelampiasan. Eeeeh…ini gimana caranya melampiaskan rasa lelah pada camilan, ya? Hahaha. Duduklah barang lima menit, keluarkan camilan dari kantong doraemon dalam tas, lalu nikmati bersama. Tenaga pun pelan-pelan akan kembali fit. Seperti akhir pekan lalu saat piknik ke Curug Pitu, tenaga kami kayak tinggal seperempat dari tenaga baja. 😀

Yuuk ikut bayangin, ya. Bahwa Curug Pitu ini tipenya berundak di mana urutannya yaitu dari bawah yaitu Curug Pitu sampai puncaknya yaitu Curug Satu. Curug dengan debit air paling deras adalah Curug Pitu. Sebenarnya kami ngga perlu naik lagi untuk menikmati Curug dengan debit air tertinggi karena ada di paling dasar. Tapi karena Suamik meyakinkan aku bahwa, view curug-curug di atasnya ngga kalah eksotis, aku pun mengekornya.

Uluwwluuw…ternyata untuk sampai sumber air atau curug satu, kami harus melewati jalan setapak, terus menanjak dan itu jalan masih alami alias jalan dari tanah, gitu. Pokoknya mirip ular tangga. Ngga terus menanjak dan ngga ada habisnya. Lempoh to de max! Asli. Beruntungnya, kami membawa camilan favorit. Tiap napas mulai ngos-ngosan, ini lah alarm bagi kami untuk menggelar tikar dan menikmati camilan. 😀

Curug Pitu Banjarnegara
Basah-basahan di Curug Pitu…

Mungkin dari kalian ada yang nyeletuk, kalau sudah seperti ini, masuk mini market bakal beli banyak jajan, dong? Jawabannya adalah ngga mesti. Karena camilan yang kerap kami makan termasuk jenis camilan yang tahan lama. Tapi bukan tahan lama dalam jangka satu tahun, lho.

Nah, berikut 3 camilan favorit yang sering kami bawa saat traveling.

1. Buah

Apel dan Pisang. Dua buah ini andalan banget. Ngga peduli di kulkas tinggal satu, pasti aku bawa. Gimana kalau stok pas habis? Beli, dong. Tapi biasanya cuma beli tiga biji Aple dan lima biji Pisang. Entah lah, ini namanya ngirit atau apa. Terpenting kami bahagia. 😀

Kenapa milih Apel dan Pisang? Kan masih banyak jenis buah?

Emm…maksudnya Anggur, Melon, Semangka, Pepaya, atau Pir, gitu? Kebetulan yang semua doyan adalah Apel dan Pisang. Lainnya, hanya aku yang doyan. Anggur, Kecemut belum doyan. Pir, aku dowang yang doyan. Jadi yaudah, pilih yang pasti-pasti aja deh, biar cepat dikawinin. 😀 Pertimbangan lain, dua buah ini paling aman ditaroh di dalam tas. Ringan pula.

2. Keripik

Ini seperti wajib. Keripik pisang adalah favorit kami. Camilan yang paling banyak dibawa pun keripik. Kalau kira-kira bakal lama di lokasi, atau jarak tempuhnya cukup jauh, aku biasanya bawa dua toples. Hahaha. Ya gimana lagi, keripik pisang ini ampuh banget mengalihkan rasa pegal-pegal pada kaki atau napas ngos-ngosan kek dikejar pacar selingkuhan. 😛

CAMILAN TRAVELING
Nglemporok buat ngemil duluu…

3. Roti

Udah bawa pisang, masih bawa roti? Oooo…jelas! Ini juga ngga kalah penting, Sist. Sebenarnya camilan ini khusus buat Kecemut, tapi karena roti yang aku bawa tuh roti kekinian, orang tuanya pun kadang ikut nyempil.

Lalu, roti apa yang dibawa?

Andalan kami yaitu Selai Olay dan Kue Nastar. Tapi jangan dikira kami bawanya pakai toples kayak bawa keripik, ya. Kami selalu bawa yang kemasan. Ringan, bukan? Apalagi yang kemasan isi paling tiga biji. Ngga bikin berat gendongan. 😀

Traveling dengan membawa camilan dari rumah sama sekali ngga membuat kami kerepotan. Apalagi itu camilan serba beli. Kalau lagi mood, kadang aku menambahi dengan camilan home made seperti Puding, Pisang Goreng, dan Mendoan.

Karena makanan termasuk kebutuhan Traveling, maka aku harus menyiapkannya meski di sekitar obyek wisata kadang ada warung yang menyediakan jajanan. Setidaknya buat jaga-jaga dikala lelah menyapa. 😛

Kayak di Telaga Merdada

“Waaaah…Telaga Merdada cantik banget! Tapi, kok, seperti ngga ada aktivitas di sekitar Telaga, ya?” Batinku kala itu saat berada di kompleks Candi Wisanggeni, Candi mungil yang ada di Bukit Pangonan. Dan ketika aku tanyakan kepada tukang parkir dekat Museum Kailasa, memang jarang ada aktivitas di sana. Paling hanya para Petani yang menggarap ladang, dan segelintir Pemancing di tepi telaga. Itu pun ngga tiap waktu. Tapi itu dulu, dua tahun silam.

Bertepatan dengan event Merdada Back to Nature, yaitu pada akhir bulan Oktober 2017, Telaga Merdada resmi menjadi destinasi wisata baru di dataran tinggi Dieng. Karena mengusung tema back to nature, obyek wisata ini betul-betul alami. Ya, selain digunakan untuk pengairan ladang para petani setempat, telaga terluas di Dieng dimanfaatkan untuk wisata. Dalam hal ini, Pokdarwis Desa Karangtengah membuat aktivitas di Telaga dan sekitarnya. Salah satunya yaitu Kayak atau Kano.

Kayak adalah sebuah perahu kecil bertenaga manusia. Biasanya dengan bagian depan dan belakang tertutup, sehingga hanya menyisakan lubang seukuran awak dilengkapi dengan dayung dan berkepala tunggal atau ganda. Pun di Telaga Merdada yang berlokasi di Desa Karang Tengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Kayaknya sudah modern, ngga lagi menggunakan kayu, melainkan bahan dari material lain yang entah itu dari plastik atau apalah aku ngga paham. Hahaha.

Telaga Merdada Dieng
Menuju tengah telaga…

Pengalaman Pertama Kali Kayak.

Aku hampir merasakan Kayak di Situ Patenggang, Bandung. Hanya saja, kala itu di sana masih menggunakan kayu. Tapi sayang banget, keluar dari Kawah Putih hari sudah petang. Aku pun gagal ketemu mas-mas ganteng yang katanya mirip Nicholas Saputra versi instruktur Kayak. 😆 Makanya, ketika ada kesempatan untuk nyobain Kayak, aku langsung nyari teman buat duet! Hahaha.

Akhirnya…bersama teman-teman Blogger dalam acara Famtrip Banjarnegara yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, aku berhasil menikmati Kayak sampai tengah telaga dengan luas mencapai 18 hektar. Ya…meski saat itu kabut sedang tebal-tebalnya, bagiku ngga masalah. Karena pengalaman baru itu lebih penting! Uuwh…keprokin, dong. 😆

Kayak Telaga Merdada
Dayung-dayung pose falsu… 😀

Dududuh…kenapa jadi sombong, ya. Padahal waktu itu aku main Kayak bareng Mas Topan. Ya, aku memilih Kayak berkepala ganda karena memang ngga punya keahlian mendayung. Mendayung di air yang tenang, tuh, ngga semudah mendayung saat di Sungai Serayu. 😛 Kataku, Kayak membutuhkan tenaga yang cukup ekstra karena hanya mengandalkan dua atau satu peserta saja. Padahal sebenarnya mendayung dengan santai pun bisa. Malah katanya lebih tenang dan bisa bermain-main sesuka hati. Tapi dasarnya emang penakut, melihat dayung tertidur di atas Kayak saja keringat sudah bercucuran. 😆

Aku merasa beruntung karena dapat partner Mas Topan yang jago main Kayak. Di atas Kayak, aku cuma sok pura-pura mendayung. Padahal, jelas-jelas kekuatan dayung ada di Mas Top. Aku hanya sesekali saja mengikuti perintah Mas Top untuk dayung samping untuk memutar balik Kayak. 😀 Sebenarnya dia pingin naik Kayak sendiri, lho. Tapi karena aku pingin ngerasain Kayak juga, terpaksa dia mau jadi partnerku. Kasihan sama Ibu satu anak ini. 😀

Destinasi Telaga di Dieng...
Single kalau udah canggih mah ngga bikin baper… 😀

Di sini juga tersedia Kayak single, lho. Jafi kamu yang masih single ngga usah beesedih, ya. Masih banyak temannya. 😆 Buat kamu yang udah lihai mendayung atau hendak mencari ketenangan, coba saja Kayak dengan kepala tunggal. Aku melihat Mas Pras dan Mas Ojo mendayung sendirian, tuh, kelihatan asyik banget. Nyamperin para Petani yang sedang istirahat di ladang, dan para pemancing yang dengan sabar menunggu umpan. Betul-betul sampai tepi banget. Asyik, bukan?

Mungkin Ini Ketakutan yang Muncul Saat Akan Kayak.

“Kayak aman ngga? Gimana kalau air pada masuk? Kira-kira tenggelam ngga?” Kayak aman, asal terus didayung. Soalnya kalau ngga didayung, kamu ngga akan merasakan asyiknya kayak. Iya, masak sudah di atas Kayak, bawa dayung, tapi cuma diam saja di tengah telaga, kan cubangets. Apalagi kalau sendirian. 😆 Terus nih, memang ada kemungkinan air masuk ke dalam Kayak. Tapi tenang karena yang masuk itu ngga berlebih. Ngga sampai menimbulkan tenggelam. 😀

“Gimana kalau nanti Kayaknya terbalik karena kesalahan sendiri?” Ini pikiran jelek yang muncul di awal-awal saat melihat luasnya Telaga. Buat kamu yang punya pikiran sama dengan aku, bisa banget minta tolong sama tim yang ada di situ untuk menjadi sopir Kayak. Seperti aku yang saat itu ngikut Mas Topan. Posisi aku di depan, tapi jarang mendayung. Dan itu ngga masalah, asal salah satu ada yang bisa mendayung. 😆

Nyelfiee… 😛

“Lalu, gimana kalau tiba-tiba di depan ketemu ular atau buaya? Kan ngeriii.” Nah ini, kamu harus tenang kalau punya pikiran semacam ini. Lagi-lagi aku menyarankan untuk mengjak tim atau teman-teman Pokdarwis Desa Karangtengah yang standby di tempat untuk menemani kamu keliling Telaga Merdada yang memesona.

FYI, di telaga ini banyak terdapat berbagai macam fauna seperti Burung Belibis dan Jalak Sungu. Di sekitar telaga juga terdapat agro Kentang, Carica dan berbagai macam sayuran. Sesuai slogannya, kan, back to nature!

“Aku ngga bisa mendayung. Ngga punya tenaga karena keburu habis buat mikirin mantan pacal yang bentar lagi nikahan.” Mungkin ini ketakutan terakhir. Tenaaaang tenaaang, ini ngga masalah karena dengan membayar Rp 50 ribu, sudah termasuk pendampingan instruktur. Pilih Kayak yang isi duaaaaaa, yaaaa. 😀

Ini Alasan Kenapa Kalian Musti Nyobain Kayak di Telaga Merdada.

Selain suguhan alam sekitar telaga yang memikat, mungkin empat alasan ini cukup menguatkan kenapa kamu harus mencoba Kayak di Telaga Merdada.

  • Akses Mudah. Lokasi telaga cukup dekat dengan Kompleks Candi Arjuna, yaitu kira-kira 3 km, artinya Telaga Merdada mudah dijangkau. Iya, secara wisatawan kalau Dieng sebagian besar singgah di kompleks Candi Dieng. Makanya, lokasi ini mudah ditemukan. Aksesnya pun cukup mudah, termasuk jalan menuju telaga.
  • Biaya Murah. Satu Kayak dibanderol Rp 50.000. Eeeh, ini bukan jualan. Maksudku, kalian cuma bayar Rp 50.000 per Kayak. Kalau lagi pingin ngirit, kalian bisa nyobain Kayak yang dua kepala, lho. Kan bayarnya jadi dibagi dua. Hahaha. Dan Rp 50 ribu ini sudah termasuk tiket masuk senilai Rp 5 ribu dan kuliner yang bakal bikin kangen.
  • Kulinernya bikin kangen! Jadi, dengan bayar Rp 50 ribu, tuh, udah termasuk makan. Dan paket makannya adalah Nasi Jagung, Ikan Asin, Tempe Kemul dan Urab. Uuuhw…niqmad banged, kan? Sayangnya, package nasi jagungnya dimasukin plastik. Coba kalau dibuntel menggunakan daun pisang, ya. Sepertinya tambah enak! Dan daun pisang ini bisa sekalian buat alas makan. Ennnaaaaq enaaaq terus pokoknya!
  • Jaminan Bisa Ngga Basah! Yes, jaminan banget, apalagi bagi kalian yang ngga bawa atau minim baju ganti. Kayak itu ngga harus basah, kok. Ngga seperti arung jeram. Sebelum naik Kayak, air yang masuk atau membasahi tepat duduk bisa dibersihkan terlebih dahulu dengan dilap menggunakan kanebo. Aku sama Mas Topan aman, lho. Celana dan baju ngga basah sama sekali karena memang berusaha untuk ngga basah. Main dayungnya pun pelan-pelan. 😉

Omong-omong, fasilitas pendukung seperti tempat makan warung kopi, di sini belum tersedia. Kamu bisa beli jajan dulu di mini market kalau perlu, ya. Halaman parkir persis di depan Telaga pun belum begitu luas, tapi sih bisa buat parkir mobil, mini bus, dan sepeda motor. Dan kalau pingin buang hajat, kamu musti jalan kurang lebih 300 meter karena letak Toilet ada di sebelah kanan telaga.

Oiya, di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, sudah terbentuk Desa Wisata dan mempunyai cukup bayak potensi wisata. Kalau kalian ke Dieng, coba mampir ke Desa Wisata Karangtengah, ya. Selain Kayak, kalian bisa nyobain Trekking keliling Telaga Merdada, Camping di Bukit Pangonan, Camping di Sekitar Telaga, Memancing, Wisata Agro, atau Melihat Batuan Andesit. Sementara untuk potensi lain, aku belum mencari tahu. Mungkin next time. 😉

Sudahkah kalian siap nyobain Kayak di Dataran Tinggi Dieng? 😉

Villa di Tengah Kota Banjarnegara

Desclaimer: ini bukan review, hanya pemanasan saja karena aku ke sana cuma jalan-jalan dan duduk-duduk manis. 😛 😛

Ketika di kota lain memilih puncak atau dataran tinggi untuk lokasi sebuah Villa, lain halnya dengan Banjarnegara. Pemilihan lokasi yang tak jauh dari tengah kota memang anti mainstream. Hanya 1 km dari alun-alun Banjarnegara. Bisa dibilang, Villa ini sebagai pilihan alternatif penginapan yang ada di Surya Yudha Park Hotel Banjarnegara karena memang satu lokasi dengan hotel tersebut.

Villa Warna dan Villa Pelangi, namanya. Bertempat di lantai tiga, tepatnya di belakang kompleks Surya Yudha Hotel, kini telah dibangun dua Villa dengan konsep kekinian. Kalau ngomongin tentang kekinian, pasti kalian paham lah, ya. Sebuah konsep yang ngga bikin bosan, dan ramah buat foto-foto. Eeeeh…ini mau nginep atau mau narsis, sih? 😆

Pertama kali aku melihat Villa ini di akun Instagram Mbak Nining. Aku kira, dia lagi di Kampung Pelangi, Semarang. Sebuah kampung yang belakangan ini ngehits banget karena tiap ruas jalan dan rumah dicat dengan warna-warna cerah. Sama halnya dengan Villa ini yang mengusung tema warna-warni. Mumpung saat itu lagi duduk bareng Mbak Nining di Historia Cafe, aku bersama teman-teman GenPI Banjarnegara diajak jalan-jalan keliling Villa.

villa di banjarnegara
Villa Pelangi…

Dari Historia Cafe, kami jalan kaki kurang lebih tiga menit dan lanjut naik lift sampai lantai tiga. Sesampainya di lantai tiga Surya Yudha Hotel, kami melewati lorong untuk menuju Villa. Beeeuh…baru sampai pintu masuk saja, tembok warna-warni samping Villa sudah minta dilendotin. Aku bersama Ella, Mbak Atut dan Mbak Nining langsung pasrah berpose di depan dinding warna-warni. Padahal Mas Imam dan Rois belum niat memotret, mereka langsung menuju depan Villa, gitu. Dududuuh…cewek-cewek cantik sempat dianggurin sejenak.  :mrgreen:

Selain dinding warna-warni yang bikin naluri narsisnya keluar, tiap sudut Villa pun tak kalah fotogenic. Ada beberapa properti yang menggoda banget. Seperti kursi yang ada di pelataran villa di atas, bentuknya macam telur pecah, gitu. Lucuk, ya. Hihihi. Sekarang, aku kasih lihat kamar-kamarnya, ya.

villa di kota banjarnegara
Ada Pohon Salak juga, lho. . .

Pertama, kami masuk Villa Warna. Di sini terdapat empat kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam. Dapur yang ngga begitu besar, ruang tengah, dan teras yang cukup asyik buat ngobrol. Aku lihat, kamarnya luas. Pun dengan bednya, tipe large, gitu. Satu kamar bisa buat bobok ber tiga. Asli.

Dengan harga Rp 2 juta per malam, Villa ini cocok buat nginep bareng keluarga atau sahabat. Buat yang mau ngirit juga bisa, lho. Ngga harus menyewa satu Villa, kok. Satu kamar pun boleh disewa dengan tarif Rp 500 ribu per malam.

villa pelangi surya yudha hotel banjarnegara 2
Bobok sendiri-sendiri bisa. . .
villa pelangi surya yudha park banjarnegara
Kruntelan di sini bareng keluarga kan asyique…

Kedua, yaitu Villa Pelangi. Villa ini dibagun setelah beberapa bulan Villa Warna selesai dibangun. Bedanya dengan Villa Warna, Teras Villa ini lebih luas dan dapurnya ada di samping Villa, bukan di dalam. Selain itu, di Villa Pelangi hanya menyediakan tiga kamar.

Untuk dapat menempati Villa ini, kalian cukup membayar Rp 1.500.000,- per malam. Fasilitas penunjang, sama halnya dengan Villa Warna. Televisi tiap kamar, lemari es, ruang santai, dll. Untuk fasilitas makan dll, aku belum tanya detail karena kemarin hanya jalan-jalan santai dowang. Next time, pingin nginep di sini bareng teman-teman. Merasakan atmosfer malam Villa Pelangi.

villa pelangi
Gimana ngga pingin foto, coba. . .Temboknya cantik amat. Hahaha

Dududuuh…ini kenapa jadi ngebayangin asyiknya menginap di Villa ini, ya. Ngadain acara buat teman-teman GenPI sambil staycation, sepertinya asyik. Ya, kaaaan? 😀

Rupa-rupa Pesta Budaya Kalilunjar

Rupa-rupa Pesta Budaya Kalilunjar – Sebuah foto yang di dalamnya melintang banner betuliskan “Gebyar Dolanan Bocah” cukup menyita perhatianku. Foto tersebut dibagikan oleh Mas Jojo, Ketua Pokdarwis Desa Kalilunjar, lewat twitter. Di dalam foto terlihat konsep dan tatanan tepat acara cukup sederhana namun ada kesan istimewa. Aku bilang istimewa karena anak zaman now yang lebih sering nongkrong di Mal, kemudian disuguhi pemandangan rumah yang terbuat dari jerami dan di depannya terdapat lesung yang makin dijumpai. Ada rasa penasaran dan ingin segera mendatangi acara tersebut.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Melalui direct message, Mas Jojo mengundang aku untuk turut menikmati atmosfer Kalilunjar saat hari jadi desa Kilunjar berlangsung. Ya, gebyar dolanan bocah merupakan salah satu acara Pesta Budaya Kalilunjar yang berlangsung pada tanggal 26-29 Agustus tiap tahunnya. Percakapan terus berlanjut samai akhirnya Mas Jojo berkeninginan untuk menghadirkan teman-teman Blogger dari kota sebelah. Ya sudah, aku colek teman-teman Mbakyu Blogger Wonosobo dan Blogger Banyumas.

Ajakan aku kali ini memang terkesan mendadak dan sedikit memaksa teman-teman. Dengan beribu minta tolong, mereka pun akhirnya bisa hadir ke Kalilunjar. 😀 Dengan segala drama sejak kedatangan kami jam 14.00 WIB, akhirnya kami bisa berdamai dengan diri ketika melihat kekompakan masyarakat Desa Kalilunjar malam itu. Inilah rupa-rupa pesta budaya Kalilunjar. 😉

Obor Ambal Warsa.

Lampu warna-warni yang berada di area BAS (Bukit Asmara Situk) dan sepanjang perjalanan menuju Pendopo Purwosari mulai dinyalakan pada sore hari. Lampu buatan remaja desa hanya digebyarkan saat hari jadi Desa Kalilunjar. Hari biasa, lampu secakep ini ngga bakal ada di pelataran BAS, apalagi di pinggir jalan raya.

BUKIT ASMARA SITUK KALILUNJAR
BAS (Bukit Asmara Situk), wisata alam di Kalilunjar

Suasana malam makin meriah ketika seluruh masyarakat berkumpul di Pendopo untuk menyaksikan acara Obor Ambal Warsa. Acara yang djadwalkan pukul 19.00 WIB, sempat molor karena menunggu persiapan dari masyarakat.

Aku kira acara ini seperti pawai obor pada umumnya. Dan ternyata, ada beberapa hal yang harus ditaati oleh masyarakat yang akan mengikutinya. Salah satu ketaatan itu adalah pemakaian baju adat. Ya, selain membawa obor yang terbuat dari bambu serta oyod genggong, seluruh masyarakat yang bertugas harus mengenakan pakaian adat setempat. Baju adat motif lurik dengan bawahan celana warna hitam dengan dibalut kain jarik.

PESTA BUDAYA KALILUNJAR OBOR AMBAL WARSA
Obor-obor dari bambu dinyalakan…

Setelah semua siap, dengan dipimpin oleh pemangku adat, masyarakat mulai berjalan kaki dari Pendopo Purwosari menuju Dukuh Genggong, dukuh yang dulunya sebagai pusat Desa.

Acara Obor Ambal Warsa menjadi tanda bahwa, esok hari akan diselenggarakan upacara adat yang bernama Boyong Oyod Genggong.

Boyong Oyod Genggong.

Pagi hari di sekitar Pendopo Purwosari cukup ramai. Nampak beberapa tamu undangan telah menempatkan diri di kursi yang telah disiapkan. Aku dan teman-teman Blogger pun turut merapat ke Pendopo.

“Ini kok yang duduk hanya tamu undangan, ya. Kemanakah masyarkat setempat?” Batinku ketika sudah berada di sekitar Pendopo.

Setelah aku cari tahu, ternyata mereka sedang melangsungkan acara sakral Boyong Oyod Genggong. Iyaaa, aku ketinggalan kereta, padahal sudah diberitahu kalau acara dimulai jam 07.00 WIB. Alasannya, sih, telat bangun karena malamnya begadamg sama si Kecemut. Hahaha. Tak mengapa, aku masih bisa menunggu mereka di Pendopo karena acara tersebut itu dimulai dari Dusun Genggong menuju Pendopo Purwosari.

PESTA BUDAYA KALILUNJAR PENDOPO PURWOSARI
Pendopo Purwosari, Kalilunjar…

Acara Boyong Oyod Genggong bisa dikatakan kebalikan dari acara Obor Ambal Warsa. Maksudnya, setelah malamnya masyarakat berbondong-bondong dari Pendopo Purwosari menuju Dusun Genggong, pagi harinya Oyod Genggong kembali diboyong atau diarak oleh warga menuju Pendopo Purwosari.

Oyod atau dalam bahasa Indonesia berarti akar. Genggong yaitu nama Dukuh pertama kali yang berpenduduk. Karena masyarakat Dukuh Genggong makin lama makin banyak, maka zaman dahulu kala, pemerintahan setempat perlu memindah tata pemerintah ke tempat yang lebih luas yaitu Dukuh Purwosari. Dan yang diboyong sebagi tanda, tuh, beneran akar yanv usianya sudah ratusan tahun itu. *ini kalau ada kesalahan informasi, siap memperbaharui*. Hahaha.

Ngga hanya Oyod Genggong saja yang diarak saat peringatan hari jadi, ada gunungan yang berisi hasil bumi juga. Uniknya nih, disepanjang jalan dari Dukuh Genggong menuju Pendopo, masyarakat ngga hanya sekadar jalan mengikuti lajur jalan. Namun ada beberapa atraksi yang dipertontonkan, semacam sendratari, gitu.

PESTA BUDAYA KALILUNJAR PESTA PALA
Tiba di lokasi Pesta Pala…

Aku sempat menyaksikan saat ada dua tokoh -yang aku ngga tahu namanya- mereka seperti berperang saat melintasi sebuah sungai kecil sebelum Pendopo. Kalau kata masyarakat, sungai tersebut bernama Kaliwewe. Entah mereka memperebutkan apa, yang jelas atraksinya menarik banget. Pun dengan pakaian yang mereka kenakan. Uuwh…penasaran dengan kostum dan penampilannya? Kalin wajib datang ke event ini tahun besok. 😛

Bisa dibilang, Boyong Oyod Genggong merupakan puncak event Parade Budaya Kalilunjar karena memang event ini diadakan untuk memperingati hari jadi Desa Kalilunjar. Ya…meski setelahnya masih ada hiburan wayang kulit semalam suntuk sebagai penutup acara.

Jajan Tradisional di Pesta Pala.

Usai prosesi Boyong Oyod Genggong, sebagian masyarakat berkumpul di Pendopo untuk menyaksikan serah terima Oyod Genggong dan berebut gunungan hasil bumi.

Nah, karena jalan tambah macet, aku pun mulai curiga, jangan-jangan Pesta Pala sudah dimulai. Uuwh…dan ternyata betul! Beberapa Buk Ibu perwakilan per RT sedang menyiapkan tempat untuk pesta. Ngga hanya tempat, sajian kuliner khas setempat pun mulai digelar di lapak yang telah mereka buat.

FESTIVAL KALILUNJAR
Kuliner tradisional khas daerah…
PESTA BUDAYA KALILUNJAR MENU PALA
Aneka jajan tradisional dari singkong…

Pesta Pala merupakan sebuah pesta rakyat yang beneran nyata. Masyarakat membuat camilan dan kuliner khas setempat, lalu ditawarkan kepada para pengunjung, baik masyarakat setempat maupun wisatawan. Dan yang membuat surprise, mengambil jajan atau kuline sebanhak apapun, bayarnya seikhlasnya. Dudududu…ada nasi jagung, peyek jui, buntil, urab, sedeep bangettt. Belum lagi jajanannya.

Kenapa dinamai Pesta Pala? Karena olahan kuliner dan jajanan khas yang disuguhkan sebagian besar dari bahan dasar Palawija, baik dari jenis Pala Pendem seperti umbi-umbian, maupun Pala Gantung seperti jagung dan buah-buahan.

PESTA BUDAYA KALILUNJAR PESTA PALA 2
Jajan hasil bumi, pala pendem dan pala gantung…

Desa Kalilunjar ini ada lenih dari 20 RT (Rukun Tetangga), kalian bisa membayangkan ramainya pesta ini, kan? Apalagi hampir tiap RT menampilkan aneka olahan. Pokoknya keguyupannya patut ditiru. Persiapannya nampak matang dari segala sisi termasuk pakaian yang dikenakan para penjual. Canteeek-canteeeek.

 Hiburan Gejog Lesung.

Kalian tahu, kan, bahwa lesung pipi sukses menjadikan perempuan makin manis? Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan. Hahaha.

Lesung yang dijadikan sebagai wadah gabah, manambah suasana Pesta Pala makin pecah. Apalagi setelah jajanan mulai ludes. Seakan perhatian tertuju pada personil gejog lesung. Mereka adalah sekumpulan mbah-mbah sing zaman semono ahli banget menumbuk padi dengan gejog atau alu di lesung. Gejog sambil geal-geol, gitu.

PESTA BUDAYA KALILUNJAR SENI GEJOG LESUNG
Kekompakan gejog lesung….

Dan saat itu juga, mereka seperti bernostalgia. Gejog yang ada di dalam genggaman, mulai mereka mainkan. Hitungan untuk menjadikan suara tabuhan yang enak didengar pun dimulai. Sampai di tengah hitungan seperti ada kesepakatan untuk sebuah nada tiap gejog, merekapun tertawa bahagia sambil goyang-goyang, gitu. Hahaha.

Selain wedang Jembawuk yang rasanya antk maenstream, ada yang musti kalian tahu lagi. Bahwa, ngga hanya para pejabat dan orangtua saja yang mengenakan baju adat, gitu. Para remaja dan anak-anak kecil pun turut mengindahkan acara ini dengan mengenakan pakaian adat atai baju khas desa, lengkap dengan penampilannya kucir dua atau gelungan. 😉

PESTA BUDAYA KALILUNJAR GEJOG LESUNG
Di sini area yang digunakan acara Gedobo

Terima kasih Mas Jojo atas pengalaman yang menarik ini. Buat Mas Ipong juga yang sudah berkenan mengantar kami ke sana ke mari, sudah mau direpotkan. Tak lupa keramahan warga yang luar biasa, terima kasih. Maaf jika ada salah kata dan tingkah selama dua hari satu malam di Desa Kalilunjar, ya.

Sampai jumpa di pesta budaya Kalilunjar Tahun 2018. Ditunggu atraksi menarik lainnya, dan kejutan pada tiap acara ya, Kaak Pokdawris Kalilunjar. :mrgreen:

Pengalaman Menginap di D’Qiano Hotel, Dieng

Pengalaman Menginap di D’Qiano Hotel, Dieng – Minggu (12/11), aku bersama tiga puluh lima Blogger kembali menyambangi Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara. Selama satu hari, explore wisata Dieng Zona Dua, yaitu kompleks candi arjuna, bukit scotter, dan telaga merdada. Selain itu, kami juga mendapatkan pengalaman baru menginap di D’Qiano Hotel, Dieng.

Sebelum mulai jelajah esok hari, malamnya kami menginap di D’Qiano. Bisa dibilang, ini termasuk salah satu hotel yang bagus di Dieng. Hotel yang cocok buat bermalam bersama keluarga maupun buat backpacker.

Iya, kalian ngga salah baca, kok. Meski bukan homestay, tapi bisa buat backpacker asal mau menyiasatinya. Apalagi nih ya, buat para traveler yang lebih sering nyari hotel budget, kadang penginapan ngga perlu istimewa. Asalkan ada tempat tidur dan kamar mandi yang layak, masih bisa bernapas lega.

Beda lagi kalau traveling barenga keluarga, apalagi mengajak anak-anak. Ini seperti harus mencari penginapan yang membuat nyaman. Orang tua bisa tidur di mana saja, sekalipun pakai extra bed. Tapi anak-anak belum tentu bisa tidur di extra bed. Kadang malah pingin tempat tidurya seperti suasana di rumah. Uuwh…

Penginapan DQiano Dieng
Pelataran penginapan D’Qiano, Dieng…

Baca: Rekomendasi Penginapan di Batu, Malang.

Berdasarkan pengalaman dua kali menginap di D’Qiano, aku berani merekomendasikan penginapan ini sebagai penginapan yang bagus, cocok untuk keluarga dan backpacker. Nah, berikut alasan aku merekomendasikan penginapan ini.

Punya 4 Kamar tipe Family.

Kamar ini seperti rumah susun. Satu kamar ada di atas dengan kapasitas normal untuk 4 orang. Sementara satunya ada di bawah dengan kapasitas 2 orang. Pada masing-masing kamar terdapat kamar mandi dalam dan satu ruang tamu. Fasilitas tambahan seperti TV hanya ada di kamar atas.

Penginapan Murah di Dieng
Kamar atas, cukup nyaman…

Semua kamar mandi di sini telah disediakan air panas. Hanya saja, ada satu shower yang kurang deras aliran airnya. Ini catatan penting buat pemilik D’Qiano supaya segera menggantinya dengan yang lebih wus-wus, ya. Tarif untuk kamar tipe ini Rp 800.000, include sarapan pagi untuk 3 orang dan free tiket masuk waterpark air hangat. Fyi, tiket masuk kolam renang biasanya dibanderol dengan tiket Rp 25.000 per orang. Ya…bayangin aja, jatuhnya ngirit 25 ribu dikali berapa orang, tuh.

Baca: Rekomendasi Penginapan di Yogyakarta.

Kamar Family bisa disulap menjadi Kamar Backpacker.

Kapasitas maksimal Family Room memang hanya untuk 6 orang. Tapi kalau datang bersama 12 orang, kamu bisa request ke petugas untuk menambah tiga bed. Tidur lah berjejer di kamar atas yang bisa diisi sampai kapasitas 6 orang dengan menambah satu bed. Kemudian minta tambahan (lagi) dua bed untuk disetting di ruang tamu dengan kapasitas 4 orang. Sementara kamar bawah, settingan tetap untuk 2 orang, ngga bisa lebih. Aah…aku pernah merasakan seperti ini saat famtrip Blogger tahun 2016. 😉

Penginapan di Dieng yang murah dan bagus
Bed tambahan dan ini bisa jadi bobok di lantai semua, lho… foto:  Mbak Dian

Apakah nantinya harganya sama dengan harga family room?

Tentu beda. Kamu harus mengeluarkan uang Rp 100.000 tiap tambahan satu bed. Untuk menjadi kamar backpacker, kamu perlu menambah 3 bed. Jadi total bayar Rp 1.100.000 bisa untuk 12 orang, include sarapan pagi untuk 3 orang dan free tiket masuk waterpark air hangat. Lumayan, kan?

Jangan khawatir untuk masalah kenyamanan tempat tidur, ya. Kamu tetap bisa tidur nyenyak di dataran tinggi Dieng yang pada musim tertentu kadang suhunya sampai minus. 😉

Ada juga 4 Kamar tipe Deluxe.

Naaah ini, buat kamu yang lagi honeymoon, cocok banget memesan kamar Deluxe. Dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp 500.000, include sarapan pagi untuk 2 orang dan free tiket masuk waterpark air hangat, kamu akan nyaman bobok di kamar ini.

Btw, tempat tidur di kamar ini ukurannya extra, semisal kamu datang bersama tiga teman, bisa lho satu kamar. Bobok ber empat, gitu. Tambah hangat, tanpa mengurangi kenyamanan karena memang tempat tidurnya luas. Double bed, gitu.

Penginapan Bagus di Dieng
Kompleks kolam renang D’Qiano…

Dimana, sih, alamat D’Qiano?

Berlokasi di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, penginapan ini cukup dekat dengan objek wisata Dieng Zona 2, seperti Kompleks Candi Dieng.

Ya, hanya membutuhkan waktu 10 menit sampai kompleks candi arjuna Dieng, Banjarnegara. Lalu, 15 menit menuju Bukit Scotter. Dan 20 menit menuju Telaga Merdada yang saat ini telah menjadi tempat wisata baru yaitu Kayak.

Penginapan D’Qiano recommended buat kamu yang esok harinya akan explore seputar Kompleks Candi, Telaga Merdada, Bukit Scotter, Bukit Pangonan, Telaga Dringo, Kawah Candra Dimuka, Kawah Sikidang, Pemandian Air Hangat Bitingan, dalam hal ini adalah Dieng Zona 2, Banjarnegara.

Penginapan di Dieng
Waterpark dengan air hangat…

Berwisata ke Dieng ngga mampir renang atau sekadar berendam air hangat di D’Qiano, pastilah kurang lengkap. Apalagi waterpak ini merupakan waterpark tertinggi di Jawa Tengah yang bersumber dari kawah sileri.

Baca : Homestay dekat Sikunir, Dieng.

Penginapan D’Qiano

Nomor HP: 085227622767
Jam Buka Waterpark: 08.00-18.00 WIB
Tiket Masuk Waterpark: Rp 25.000 per orang

Relaksasi di Wisata Pendidikan Kampung Damar

Tiap hari yang dikerjakan seputar itu-itu saja. Mengurus anak dan keluarga. Menyiapkan perlengakapan kerja untuk suami dan diri sendiri. Menyelesaikan tugas sebagai ibu rumah tangga dan juga tugas-tugas kantor yang terus bertambah tiap harinya. Hanya seputar itu, tapi aku kerap merasa butuh relaksasi untuk sekadar mengendurkan otot, otak, dan mencerahkan mata yang hampir tiap hari menghadap layar notebook.

Aku beruntung punya pasangan yang begitu pengertian. *uhuuuks. Ngga perlu nunggu diajak jalan, dia udah punya planning untuk jalan ke sana, ke sini, ke sana lagi, ke sini lagi, yang penting keluar dari rumah dan itu ngga jauh-jauh dari sekitar kota. Cinta produk dalam kota. 😀

Keterbatasan waktu, tenaga, dan tentunya lembaran rupiah di dompet, menjadi alasan utama bagi kami  untuk piknik atau sekadar relaksasi di dalam kota. Apalagi sekarang ada Yasmin. Kami harus betul-betul bisa memilih tempat yang ngga hanya nyaman bagi diri sendiri, tapi baginya juga.

Adalah Wisata Pendidikan Kampug Damar, sebuah tempat wisata yang dikelola oleh Perhutani BKPH Banjarnegara sukses menyita perhatian kami.

Saat perjalanan ke Desa Pesangkalan untuk menghadiri acara sowan ngalas, kami melihat tempat ini ramai karena hari itu akan diresmikan sebagai tempat wisata. Niatnya, sepulang dari acara, aku bersama suami dan Yasmin akan mampir. Tapi ternyata ngga kesampaian karena waktu sudah sore.

“Kapan-kapan kita ke sini, yaaaa.” Di atas sepeda motor dengan laju pelan, suami seakan membuat janji akan mengajak kami ke Kampung Damar.

Lokasinya di pinggir jalan raya, tepatnya di Desa Watubelah, Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara. Tempatnya teduh karena banyak pepohonan di dalamnya. Mirip rest area, tapi bukan. Bagi kami, tempat ini seperti punya daya tarik tersendiri meski kami ngga tahu ada apa saja di dalamnya tentunya selain pohon pinus yang terlihat jelas dari luar.

Kampung Damar Tempat Parkir
Tempat parkirnya bersih, ya.

Perjalanan dimulai…

Tempat ini kembali menyapa ingatan suami. Sayangnya dia hanya hanya ingat taman wisata, ngga menyebut nama tempat. Aku sempat terkecoh, kukira taman letnan karjono yang pernah kami kujungi. Untungnya, dia masih ingat acara sowan ngalas, aku pun langsung menyebut Kampung Damar. Dan ternyata betul!

Setelah mempersiapkan perlengkapan piknik, kami pun berangkat ke Kampung Damar jam 07.00 WIB dari rumah. Kami sengaja berangkat pagi karena berencana untuk sarapan di sana. Ini sarapan ngapain jauh amat, ya? Hahaha. Ngga usah heran, kami sering melakukan hal ini, kok. Khususnya wisata dengan nuansa alam. Makan dengan menggelar karpet, dikelilingi pepohonan, udara sejuk, nikmat pun makin terasa. Dan ini membuat kami ketagihan. 😀

Perjalanan dari tengah kota dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit. Sebenarnya dekat, akses jalan pun sudah baik, hanya saja banyak kelok dan tanjakan. Makanya, ngga bisa terus-terusan menambah kecepatan. Apalagi membawa si kecil, kami memilih untuk lebih menikmati perjalanan.

Kampung Damar Banjarnegara 6
Kawasan Kampung Damar…

Tiba di Kampung Damar…

Tiba di lokasi, kami langsung menuju tempat parkir yang berada di dalam. Di depan pintu masuk, nampak ada pos jaga. Namun saat itu ngga ada yang menjaganya padahal weekend, lho. Di sekitarnya hanya ada seorang lelaki paruh baya yang sedang menyapu halaman parkir. Pikirku, dia lah penjaga yang merangkap sebagai tukang bersih-bersih. Tapi ternyata bukan.

“Tempat ini ngga terjaga. Bebas biaya masuk, dong?” Pikirku saat itu. Berjalan kurang lebih sepuluh meter dari area parkiran, ada seorang lelaki yang memanggil kami.

“Mas, bayar tiket masuk dulu.” Kami kaget, karena hanya suara yang terdengar. Tak lama kemudian, muncul sosok laki-laki mengenakan seragam hijau perhutani dari rumah yang katanya akan dijadikan warung. Ya, tepat di kiri tempat parkir, berdiri sebuah ruang yang cukup luas. Karena ngga ada informasi tentang ticketing di sana, kami memilih untuk terus berjalan tanpa masuk ke ruang tersebut.

Kampung Damar Banjarnegara 4
Tempat ini cocok buat bermesraan halal, pepotoan sama pasangan… 😀

Ekpektasiku, tiap pengunjung yang datang ke sini akan mendapat pendampingan dari petugas. Ya, jalan-jalan dengan didampingi petugas, lalu mereka bercerita tentang Pohon Damar, mulai dari konsep, alasan pemilihan dan penanaman, pembibitan, sampai dengan manfaatnya. Namanya wisata pendidikan, ya. Kan biasanya sarat informasi. Tapi ternyata mereka melepas perjalanan kami tanpa memberi informasi suatu apa. *belajar mandiri

Setelah membayar tiket masuk Rp 3.000 per orang, kami lanjut jalan mencari tempat yang nyaman untuk duduk santai karena Yasmin masih bobok. Untungnya kami membawa karepet, jadi bisa menidurkannya.

Kampung Damar Banjarnegara 5
Bibit Pohon Damar siap tanam…

Ada empat lantai Kampung Damar. Lantai pertama ada spot berfoto yang cukup manis. Selebihnya, lahan ini dipakai untuk menaruh bibit pohon damar yang masih di dalam polyback. Lanjut lantai dua, ini kompleks tempat parkir, calon warung, gazebo, dan tanaman pohon damar yang baru ditanam. Lalu di lantai tiga, selain ada pohon damar yang audah tertanam, terdapat bak besar penampung air. Dan lantai akhir, di sini disediakan tempat khusus untuk duduk. Tempat duduk yang terbuat dari pohon ini membentuk persegi. Dengan latar belakang pohon pinus dan tentunya pohon damar, lumayan bagus buat foto-foto. Di sini dibuat selfie deck juga, lho.

Sambil menunggu Yasmin bangun, aku bersama suami menuju lantai dua. Ada beberapa pohon yang nampaknya baru ditanam. Tingginya kira-kira 50 cm, di sampingnya terdapat label yang bertuliskan nama penanam. Bupati, misalnya. Mungkin Pohon Damar itu yang menanam adalah Bapak Bupati.

Tak jauh dari pintu masuk, tepatnya di lantai satu, ada ribuab bibit Pohon Damar berjejer rapih. Dari banyaknya Pohon Damar yang menghiasi kampung ini, sebenarnya aku ngga begitu paham manfaatnya kecuali tentang pengambilan getah yang dipakai untuk membuat lilin. Hahaha. Minim banget pengetahuanku, ya. Tapi tak mengapa karena masih bisa dipelajari sepulang dari Kampung Damar.

Kampung Damar Banjarnegara 3
Getah terus menetes…

Asyiknya nih, meski konsep mereka adalah wisata pendidikan, di sini disediakan tempat khusus untuk duduk dan foto-foto. Seperti yabg sudah kusebut di atas. Ada sebuah gubug kecil lengkap dengan tempat duduk memanjang, di sini lah pengunjung bisa narsis. Mumpung Yasmin masih bobok, aku bersama suami menghabiskan pose sambil cekikikan karena benar-benar alay. Seperti pasangan yang sedang mabuk asmara, gitu. Sungguh, moment ini tak terduga. 😀

Hari mulai siang, namun si kecil belum juga bangun. Kecemutku bisa pules banget boboknya padahal di hutan. 😆 Karena ngga bisa meninggalkannya terlalu jauh, kami putuskan untuk ikut tiduran. Tiduran sambil bercerita sampai akhirnya Yasmin bangun karena mungkin brisik.

Kampung Damar Banjarnegara 1
Hyaah…abis! Hahahaha

Hayuuk bangun, makan duluu.” Matanya masih sayu, tenaganya belum terkumpul. Sembari menunggu moodnya, aku mempersiapkan makanan. Satu per satu bekal aku keluarkan, bukannya dia tertarik makan, malah minta jalan-jalan. 😀 Anak yang satu ini emang hobi banget jalan. Asli. Untung aku sempat membeli Cilok, akhirnya dia memilih untuk makan Cilok dulu. Ada yang ngemil, ada yang minum kelapa muda, ada yang memilih untuk mulai sarapan. 😆 Makan bareng, tiduran di tengah kampung damar, gini aja sukses bikin kami rileks. Uwwh…

Amunisi yang aku bawa saat itu terbilang lengkap. Sampai air untuk cuci tangan. Tapi melihat ada kran air, kami girang banget karena baru pertama kali mendapati fasilitas semacam ini di tengah hutan. 😀 Mungkin digunakan untuk menyiram bibit Pohon Damar tiap harinya kalik, ya.

Suami berusaha menjaga jarak supaya air ngga sampai kena baju Yasmin, tapi ternyata airnya hanya mengalir sebentar saja. Hahaha. Mungkin karena dari atas belum dialirkan sih, ya.

Kampung Damar Banjarnegara 2
Tempat pepotoan di sini…

Keliling kampung damar…

Usai sarapan, kami lanjut jalan-jalan keliling Kampung Damar. Jangan dibayangkan kelilingnya sampai habis tenaga, ya. Kami hanya jalan beberapa meter dowang ke tempat yang lebih asyik buat foto-foto. Hahaha. Yuup, lantai paling atas.

Di sini disediakan selfdeck, dan masih sederhana banget. Pun dengan tempat duduknya, warna kayunya masih original. Hahaha. Etapi karena konsepnya wisata pendidikan, mungkin mereka ngga memaksimalkan spot-spot untuk foto. Tempat duduk dicat warna-warni, misalnya. Kan makin ramai tuh, ya. 😀

Di sini kami ngga lama, hanya duduk-duduk dan nyobain selfdeck. Pinginnya sih meneruskan jalan ke atas sampai perkebunan warga, tapi sudah terlalu siang. Kami pun memutuskan untuk meninggalkan Kampung Damar.

Kampung Damar Wisata Banjarenagra
Ngga ada alasan untuk “menyebar” sampah…

Jalan keluar sampai di tempat parkiran, kami bertemu dengan petugas dari Perhutani yang sedang menata ulang bibit pohon damar. Pak Sam, namanya. Dari informasi yang kami dapat darinya, ternyata konsep wisata pendidikan ini berlaku bagi siapa pun yang memang ingin belajar di sini, semacam riset, gitu. Seperti teman-teman dari sekolah atau perguruan tinggi yang pernah melakukan penelitian di sini.

Tapi ya itu, karena keterbatasan tenaga, mereka ngga bisa mendampingi satu per satu pengunjung yang datang ke Kampung Damar. Jika perlu pendampingan, pengunjung bisa langsung ke basecamp Kampung Damar yang lokasinya di atas tempat parkir. Minta lah kepada petugas untuk mendampingi tiap langkah kalian. 😉

Kampung Damar 2Mumpung Yasmin bobok… 😀

Menurut Pak Sam, ke depannya di sini akan dibuat camping ground. Spot foto pun pelan-pelan akan dipercantik. Tak dipungkiri, tempat wisata tanpa spot foto memang rasanya kurang lengkap. Sekalipun itu wisata pendidikan. Tapi menunggu dana yang entah datangnya dari mana karena pemasukan dari tiket masuk wisata sudah dimanfaatkan untuk pemeliharaan dan kebersihan Kampung Damar. Butuh sentuhan dari pemerintah daerah, sepertinya.