Yuk, Menjadi Bagian dari Komunitas GenPI Wilayah Jawa Tengah

Komunitas GenPI Jawa Tengah – Sebelum tulisan ini sampai tiga ribu kata, aku mau norak dulu, yaaa. 😀 😛 😆 Jum’at (10/03), aku dapat telepon dari Mas Artadi, salah satu Staff Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI. Ngga tahu kenapa, setelah menutup telepon, aku giraaang banget karena aku diundang untuk suatu event.

Norak berkelanjutan saat menerima undangan perihal pembentukan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah yang direncanakan pada hari Senin (13/03). Ini nih event yang kumaksud. Membaca daftar nama yang bakal hadir di acara GenPI Jateng. Soalnya sedulur Banyumasan: Mas Pradna, Pungky, Tante Neli, dan Afri, juga tercantum sebagai peserta. Qiqiqi. Mereka adalah Blogger wilayah Banyumas yang sudah kukenal lama, dan cukup sering berkomunikasi. Ya…meski pada akhirnya Mas Pradna dan Pungky ngga bisa hadir karena suatu hal. Fufufu.

Makin tinggi level noraknya ketika acara sudah dimulai. Kenapa? Karena Banjarnegara dimention oleh Pak Urip Sihabudin, Kadis Porpar Provinsi Jawa Tengah. Kemudian lanjut dimention oleh Bapak Don Kardono, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Komunikasi. Secara, peserta yang datang kan ngga hanya dari Banjarnegara saja, ya. Qiqiqi. Gini aja dinorakin, ya. 😆

Memang sih, aku menghadiri undangan ini atas nama Blogger. Namun karena GenPI dibentuk per wilayah, dalam hal ini adalah wilayah Jawa Tengah, maka aku dan Banjarnegara akan terus berdampingan untuk GenPI. 😀 😀 Yaudah Pamernyaaaa. 😛

GenPI Wilayah Jawa Tengah merupakan tindak lanjut dari pembentukan komunitas GenPI yang sudah dilaksanakan di lima wilayah yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Barat dan Maluku yang dimaksudkan untuk mengembangkan promosi wisata nusantara dengan melibatkan generasi muda khususnya penggiat sosial media.

Disaat GenPI Lombok Sumbawa telah berhasil mencapai kesuksesan dalam mempromosikan wisata secara digital, aku justeru baru tahu ada sebentuk komunitas yang didukung oleh Kemenpar untuk fokus mempromosikan pariwisata Indonesia. Hellow…kemana aja, Sist. Qiqiqi

Mbak Jhe adalah koordinator GenPI Lombok Sumbawa yang saat itu turut menghadiri acara Focus Group Discussion Pembentukan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Wilayah Jawa Tengah yang bertempat di Hotel Aston Semarang. Dia berbagi pengalaman perihal kegiatan GenPI yang membuat kami, para peserta FGD, makin gereget dan semangat menjadi relawan GenPI.

Selain Mbak Jhe, hadir pula perwakilan dari GenPI yang telah terbentuk sebelumnya: Bang Esmat (GenPI Mentawai), Bang Glen (GenPI Maluku), Bang Aswi (GenPI Jabar), dan Bang Siapa Bang (GenPI Sumbar) yang ternyata kami belum sempat berkenalan. 😆 Keren, ya!

Tentunya bukan tanpa sebab Kemenpar memilih Jawa Tengah menjadi chapter berikutnya. Dari banyaknya objek pariwisata di Jawa Tengah, ternyata jumlah kunjungan wisatawan, macanegara khususnya, masih tergolong rendah. Kalah saing dengan Jawa Barat. Padahal, Jawa Tengah mempunyai objek pariwisata yang sudah mendunia. Candi Borobudur, misalnya. Makanya, Kemenpar menggandeng para netizen yang berdomisili di Jawa Tengah untuk turut mempromosikan pariwisata Jawa Tengah dengan harapan

Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) merupakan generasi muda yang mempunyai kemampuan lebih dalam dunia internet berbasis komunitas yang memiliki aktivitas rutin dan aktif dalam mempromosikan pariwisata Indonesia baik melalui blog, media sosial, dan media digital lainnya kepada masyarakat luas.

Namanya komunitas di bawah payung Kementerian, punya niat sebaik apapun, biasanya timbul pro dan kontra, ya.

“Halaaaaaaaah…kalian mau-maunya dimanfaatin Kementerian Pariwisata untuk ikutan promosi pariwisata Indonesia. Kayak ngga punya kerjaan aja.”

Kira-kira ada yang berkomentar seperti itu, ngga? Semisal ada, berarti sifat gotong royong dalam diri telah luntur, mungkin. 😛 😛 Untuk mensukseskan pemasaran pariwisata Go Digital, Kemenpar ngga mungkin bisa bekerja sendiri. Menggandeng generasi Millennial: para Blogger dan pegiat sosial media, untuk turut mempromosikan pariwisata Indonesia yang sangat beragam menjadi solusi baik bagi kemajuan wisata Indonesia.

Yakali, pihak Kementerian mampu membagikan kekayaan pariwisata Nusantara yang jumlahnya seabreeeeg. Kemampuan mereka pasti terbatas lah, ya. Apalagi, saat ini banyak anak muda yang memanfaatkan sosial media untuk share kekayaan pariwisata Indonesia. Yaudah, anggap aja ini keuntungan bagi Kemenpar, kan.

Kenapa Generasi Milenial?

Karena generasi yang lahir pada tahun 80-an ke atas dianggap siap dan sanggup berlama-lama online, dan pegang gadget. Generasi ini juga dekat dengan teknologi, perangkat digital dalam gaya hidup, dan kesehariannya.

Adanya wadah bernama GenPI ini pas banget digunakan untuk menyatukan para relawan yang punya tujuan sama untuk Go Digital pariwisata Indonesia.

Lalu, kenapa harus ada GenPI?

Memang, tiap daerah kini sudah terbentuk komunitas: blogger, dan Instagram, khususnya. Namun, dalam komunitas tersebut masih gado-gado. Blogger Banjarnegara, misalnya.

Tulisan dari anggota  komunitas tersebut sangat beragam: pendidikan, budaya, ekonomi, politik, wisata, dan masih banyak kategori sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.  Makanya, Kementerian Pariwisata membuat wadah atau komunitas  bernama GenPI. Tujuannya, agar para netizen, Blogger, dan pegiat media sosial, yang telah bergabung dengan GenPI dapat fokus membagikan informasi Pariwisata Indonesia.

Generasi Pesona Indonesia
Pak Don Kardono ngomongin M-17. Qiqiqiqi

Dalam acara ini, hadir juga Kadisporapar Provinsi Jawa Tengah, Bapak Urip, dan tiga pemateri dari Kementerian Pariwisata:  Taufik Rahzen (Budayawan dan Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Budaya), Don Kardono (Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Media dan Komunikasi), dan Taufan Rahmadi (Anggota Tim Percepatan Wisata Halal dan Tim Percepatan 10 Destinasi Wisata Prioritas).

Pematerinya keren-keren, ya. Materi yang disampaikan pun betul-betul berbobot kek yang nulis blog post ini. Wkwkwk. Pak Taufik Rahzen, misalnya. Beliau menyampaikan, bahwa rempah-rempah Indonesia bisa menjadi kekuatan global karena kekayaan ini ngga dimiliki bangsa lain. Perjalanan rempah di Indonesia pun sangat potensial untuk diangkat sebagai wisata tematik karena mempunyai potensi wisata budaya, alam, bahari, dan kuliner khas nusantara. 

Dengan jalur ini, diharapkan wisatawan dapat menemukan dan memahami sejarah proses perjalanan menikmati keindahan alam, kelezatan kuliner, dan kehangatan dari beragam budaya Indonesia. Topiknya pas banget dengan tema dari GenPI yaitu “Peran Strategis Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Dalam Rangka Penyusunan Strategi Pemasaran Wisata Tematik Jalur Rempah.”

GenPI Jawa Tengah
Semangatnya Pak Taufan luar biasaa!

“Netizen berusaha untuk berbagi gambar, tulisan, informasi yang bermanfaat, dan tidak menjatuhkan reputasi.” Seperti itu pesan dari Pak Don Kardono. Perihal dunia pariwisata, sebagai Blogger dan pegiat sosial media, ada baiknya menyampaikan informasi baik, dan juga menarik tentang pariwisata Indonesia. Ngga memposting informasi HOAX, apalagi sampai menjatuhkan reputasi pariwisata Indonesia. Semisal ada kekurangan, atau bahkan kejelekan tentang obyek wisata di Indonesia, ada baiknya menyampaikan dengan bahasa halus. Saling menjaga reputasi kalau ini, ya.

“Netizen pariwisata indonesia bersatu, bersama-sama menjadikan Indonesia pusat epicentrum pariwisata dunia.” Ini mimpi Pak Taufan. Apakah bisa  terwujud? Bisa banget kalau kamu, para generasi milenial, turut menyukseskan program GenPI. 😉

Acara ini ditutup dengan pemilihan Ketua Koordinator untuk wilayah Jawa Tengah. Mas Safigh Pahlevi Lontoh, pegiat pariwisata Jawa Tengah terpilih menjadi ketua GenPI Wilayah Jawa Tengah. Selamat ya, Kaaak. Semoga Komunitas GenPI Jateng bisa mewujudkan harapan Kemenpar untuk menaikkan jumlah Wisatawan Nusantara dan juga Wisatawan Mancanegara.

Btw, saat ini GenPI Wilayah Jawa Tengah masih dalam tahap pembentukan kepengurusan. Buat kamu yang tinggal di Jawa Tengah, nanti ikut gabung dan menjadi bagian dari GenPI Jateng, ya. Menjadi relawan untuk Pariwisata Indonesia. Tunggu saja rekruitmennya. 🙂 Buat yang di luar Jateng, gabung aja dengan GenPI yang sudah terbentuk. Kalau belum terbentuk di Provinsimu, tunggu saja. Siapa tahu menjadi generasi berikutnya. ^_*

Oleh-oleh Menarik dari Perkebunan Teh Tambi, Wonosobo

Membuatkan teh untuk keluarga telah menjadi rutinasku tiap pagi hari. Satu gelas minuman teh tanpa gula atau teh tawar untuk Ayah Jasmine. Empat gelas minuman teh dengan gula sepucuk sendok makan untuk aku, adik, dan orang tua.

Untuk kebutuhan teh tiap harinya, kami memilih teh celup supaya lebih praktis. Tinggal celup, angkat. Celup lagi, angkat lagi. Celup terus, angkat bentar. Celup celup, angkat angkat. Eh, ini ngapain celup angkaat muluuuk? 😆 😆

“Kalau kalian nyeduh teh celup, jangan terlalu lama membiarkan teh tersebut di dalam gelas, ya.”

Tiap kali mencelupkan teh ke dalam gelas, kata-kata Pak Puji, tour guide dari PT. Perkebunan Teh Tambi, seperti sudah nempel banget di jidat.

Kenapa?

Pak Puji memberi informasi, bahwa bungkus dari teh celup yang berupa kertas putih kurang menyehatkan. Ada semacam zat apa gitu, aku lupa. Jadi, aku nyelupin tehnya cukup bentar, ngga lebih dari tiga detik. Terpenting airnya panas supaya teh mudah larut. Ya, kaaan?

Ini salah satu oleh-oleh yang kudapat setelah dua jam keliling Perkebunan Teh Tambi yang luasnya kurang lebih 2 hektare.

agrowisata-tambi

Tea walk di perkebunan Teh Tambi lebih asyik dan menarik jika dilakukan di bawah jam 10.00 WIB. Selain karena terik matahari yang kadang begitu menantang, pengunjung dapat berkomunikasi dengan Ibu-ibu pemetik teh. Jadwal mereka petik teh itu mulai pukul 06.00-10.00 WIB. Setelahnya, istirahat. Kemudian dilanjut lagi siang hari habis dzuhur.

Melihat, sekaligus belajar memetik teh baik secara manual, menggunakan gunting, maupun mesin, langsung dari para Ibu-ibu tangguh. Ini yang aku idamkan. Ngrecokin para pemetik Teh ngga apa-apa, lho. Asal ngga kelamaan, soalnya mereka punya tarjet memetik teh tiap harinya. 😉

Perkebunan teh yang terletak di lereng sebelah barat daya Gunung Sindoro memang menyediakan paket wisata tea walk. Kamu ngga harus menyambangi seluruh hamparan pohon teh yang terbagi menjadi tiga area. Ada pilihan rute yang ditawarkan: rute pendek (1-2 km), rute menengah (2-3 km), dan rute jauh (3-9 km).

Mengambil rute terpendek, yaitu dari pintu masuk yang terletak di samping kanan front office Tambi, sampai pintu keluar yang cukup dekat dengan Pabrik Teh Tambi, sudah cukup mengeluarkan banyak energi. Apalagi, sambil mendengarkan penjelasan dari Pak Puji tentang dunia dalam sepucuk teh yang ternyata ada banyak cerita yang pada akhirnya menambah pengetahuan seputar perjalanan daun teh sampai teh tersebut siap saji.

Familirization Trip Jawa Tengah
Famtrip bareng Blogger dan Dinpar Jateng…

“Jalannya pelan-pelan, ya.” Pak Puji seperti menuntun langkahku bersama teman-teman blogger yang mengikuti famtrip. Memang, hujan sempat mengguyur Tambi semalaman, namun jalan ngga begitu licin. Kami pun bebas berjalan tanpa takut terpleset. Tapi tetap sih, hati-hati itu perlu.

Melihat hamparan perkebunan teh yang begitu rapih, rasa-rasanya ingin segera pepotoan. Menghabiskan baterai kamera, atau menghabiskan space memory card. Hihihi. Sayangnya, tea walk di Tambi tuh betul-betul terarah. Ada saatnya jalan-jalan sambil narsis, menyapa para pemetik daun teh, ada juga sesi serius seperti sedang menimba ilmu di bangku sekolah.

Sebelum menyapa Ibu-ibu yang tengah sibuk dengan peralatan petik teh, kami diajak Pak Puji ke bagian tengah perkebunan. Kami santai sejenak sembari melihat, dan menyentuh dedaunan teh segar.

Berdiri di antara pepohonan teh ternyata dapat menambah energi. Masih dalam bentuk daun saja sudah menyegarkan, ya. Pantas saja, tubuh pun menjadi lebih segar ketika menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari.

“Tiga pucuk ter atas adalah daun teh terbaik. Pucuk Peko, namanya.”

Di sini, Pak Puji mulai berbagi pengetahuan sekaligus praktik cara memetik teh dengan benar. Kali ini, Pak Puji mengambil sampel pucuk peko. Bahwa tiga daun ter atas atau ujung pucuk daun dengan kuncup tunas aktif yang berbentuk runcing adalah pucuk peko yang nantinya akan menghasilkan teh berkualitas baik.

TEH PUCUK PEKO
Pucuk Peko, nih. . .

Kenapa pucuk peko berkualitas baik? Karena di dalam pucuk peko mengandung banyak senyawa katekin yang belum mengalami degradasi. Pucuk Peko akan mengalami dormansi setelah menghasilkan 4-7 pucuk. Makanya, saat menjumpai Pucuk Peko, para pemetik akan lebih berhati-hati memetiknya supaya dapat tumbuh lagi dengan cepat.

Ini oleh-oleh kedua. Bahwa pucuk teh yang bagus itu yang runcing. Terlihat jelas, bahwa yang masih runcing itu daunnya masih muda banget. Jika diolah, hasilnya pun ngga pekat. Bening, tapi tetap lah mengarah pada beningnya teh, bukat nening putih. Hihihi. Dan ini lah teh yang bagus, dan memiliki harga jual lebih tinggi ketimbang jenis daun teh lainnya.

tour-guide-tambi
Famtrip bareng Mbakyu Blogger Wonosobo…

Selain Pucuk Peko yang mempunyai kualitas teh bagus, ada juga pucuk teh yang menghasilkan kualitas buruk. Yaitu Pucuk Burung. Untuk mendapat sampelnya, Pak Puji mengajak kami ke area atas. Ini oleh-oleh ketiga.

Pucuk burung adalah tunas tidak aktif yang berbentuk titik yang terletak pada ujung pucuk. Pada periode ini pucuk in-aktif mereduksi atau memperlambat pertumbuhan.

Pucuk burung sering terbentuk jika pemupukan tanaman kurang dan ketersediaan air yang kurang. Kalau tidak segera ditangani, bisa-bisa cepat diremajakan.

Memangnya ada peremajaan pada pohon teh, gitu?

peremajaan-teh-tambi
Usianya sudah ratusan tahun. . .

Adaaaa banget! Peremajaan pohon teh dilakukan secara berkala. Pohon yang usianya puluhan tahun, atau puluhan tahun, bila dirasa sudah tidak produktif, maka segera dilakukan peremajaan.

Sebelum sampai peremajaan, ternyata ada aktifitas unik yang dilakukan oleh para karyawan perkebunan Teh Tambi. Adalah membersihkan lumut yang menempel pada batang pohon teh. Membersihkannya tanpa menggunakan porselen lho, ya. Hahaha. Cukup mengerok menggunakan alat khusus sampai si ijo lumut habis. Kegiatan ini juga dilakukan secara berkala, tiap empat tahun sekali.

TEH TAMBI PEMETIKAN
Pakai gunting petik daun Teh…

Btw nih, ya. Dalam pemilihan teh, aku lebih suka teh dengan warna hitam pekat. Rasa-rasanya lebih mantap. Tapi oleh-oleh terakhir yang kudapat dari Pak Puji, makin pekat warna teh, berarti kulitasnya ngga semakin bagus. Justeru sebaliknya. Dan itu sudah aku buktikan saat kunjungan Pabrik Teh Tambi.

Saat filterisasi -semoga bahasanya betul-, daun teh akan memilih muara sendiri-sendiri. Berjalan di atas mesin, lalu masing-masing daun akan terpisah sesuai kualitasnya. Dan daun teh dengan kualitas yang kurang bagus rata-rata daunnya ngga muda. Makanya, jika diolah akan menghasilkan warna yang pekat. 🙂

Semenjak tahu kenyataan tersebut, aku dapat menerima teh yang yang ngga begitu pekat. Sudah ngga pernah beli teh corbang, teh yang saat dicor langsung abang (begitu dituang, langsung merah pekat).

Nah, supaya secangkir teh yang tiap hari diseduh memberi manfaat bagi tubuh:

  • Hindari minum teh dicampur dengan Es, atau yang lazim disebut Es Teh. Kalau udah seperti ini, teh sama sekali ngga ada manfaatnya bagi tubuh.
  • Campur dengan gula secukupnya. Ini dapat menambah tenaga, dan ngga menambah kada gula dalam darah.
  • Teguk lah saat teh masih dalam keadaan hangat agar tubuh mendapat reaksi. Karena teh hangat memang dipercaya dapat mengjangatkan tubuh.
  • Jangan diminum jika sudah lebih dari satu jam, atau sudah dalam keadaan dingin karena teh ngga akan memberi manfaat apapun. Teh sudah tergolong basi jika sudah dingin.
tambi-tea-walk
Sama Kecemut pas masih di dalam perut. . . 😛

Selain aktivitas tea walk, Tambi juga menawarkan paket outbound, tour Dieng, paket arung jeram, dll. Ada juga penginapan yang cukup recommended. Penginapan di Tambi ini semacam homestay, satu rumah bisa digunakan untuk beberapa orang. Cocok banget untuk wisata keluarga.;)

Makasih buat Mbakyu Blogger, dan juga Dinpar Jateng yang udah ngajakin jalan-jalan ke Perkebunan teh Tambi. Udah ngajak nginep di penginapan Tambi yang masih satu lokasi dengan Perkebunan Teh Tambi, dan juga jalan-jalam di Pabrik Teh Tambi. Makasih untuk pengalaman yang penuh manfaat, Pak Puji. 🙂

PT. Perkebunan Teh Tambi

Alamat: Desa Tambi, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo
Reservasi: (0286) 321077, 081 548 564 988

Gunakan Smartphone, Cara Mudah Promosi Kuliner Nusantara

ultah-gandjelrel-2th

Tiga laki-laki duduk berjejer di sebelah kananku. Mas Nur, Mas Uje, dan Mas Castro, mereka adalah teman  baikku yang kini makin asyik dengan pekerjaannya sebagai Jurnalis.

Tak ada hujan, apalagi pelangi, mereka tiba-tiba datang ke tempat kerjaku saat jam istirahat tiba. Artinya, aku harus prihatin dulu. Ngga kulineran sejenak. 😉

Ah…tak mengapa, karena saat itu belum ada rencana mau hunting kuliner apa, dan dimana. Tau sendiri, segala apa yang sudah direncanakan, dan ngga terlaksana, biasanya bikin batin perih. Apalagi kalau menyangkut kebahagiaan perut. Hayati bakal guling-guling tak berkesudahan. 😀

Bercerita, ngobrol asyik ngetan ngulon, ujung-ujungnya yang dibahas adalah kuliner. 😆 Ini memang pada doyan makan, ya. Alhamdulillaah dong, masih semangat makan tandanya sehat. 😉 Cuma bedanya, aku doyan makan, lalu dipamerin hasil buruan kuliner di media sosial, dan juga blog. Sementara mereka, ngga begitu doyan makan tapi hampir tiap hari mencari informasi kuliner untuk dijadikan bahan tulisan di koran. 😆 😆 Jadi, ngobrolnya memang punya tujuan, ya. Bermanfaat, ngga gosipin pilkada muluu. Wkwkwk

Disela-sela obrolan…

Kamu masih setia pakai Smartphone ASUS untuk motret, Dah?”  Tanya Mas Nur dengan ekspresi wajah tengil setengah meledek.

~Perjalanan ke Boyolali dan Soto Sedeep~ . Ada alasan-alasan pasti untuk kembali singgah ke Soto Sedeep. Yang pasti menu, rasa, harga, dan fasilitas umum menjadikan rumah makan ini salah satu langganan saat menuju timur , atau kembali ke barat lewat Jl. Jambu. . ? Soto Ayam Kampung ? Rp 9.500 per porsi ? Jl. Magelang Km. 5-Jl. Raya Jambu-Ambarawa . #RumahMakan #SotoSedeep #SotoGurih #KulinerSoto #SotoWAR #KulinerAmbarawa #Culinary #Icip2Cerdas #IdahnJajan

A post shared by Idah (@idahceris) on

Oooooo tentuuuuuuuu…” Jawabku tanpa ragu. Beuuh…mentang-mentang kameranya  level sepuluh *emangmakicih*, dia selalu saja punya cara untuk meledekku. Maaph bangeeeet, aku sudah terlanjur nyaman motret pakai smartphone ASUS baik saat piknik, maupun  wisata kuliner. Aku lebih mengandalkan kamera smartphone.

Ooo…ternyata pakai smartphone ASUS. Bening juga hasil jepretannya, ya. Kirain pakai kamera model gini. Tambah Mas Castro sembari menyodorkan kamera SLR yang nyaris tak pernah lepas dari lehernya. Berasa kalung seberat satu kilo ya, Mas. 😛

Hari gini mau kulineran harus membawa kamera gede, gitu? Kelamaan. Iyaa kelamaan, soalnya aku belum punya. Hahaha. Lagipula, jepret kuliner pakai smartphone hasilnya ngga kalah bagus dengan kamera SLR, kok. Apalagi kalau smartphonenya ASUS ZenFone series. Kulineran terasa lengkap. Selesai jepret, tinggal nyalain paket data selular, langsung unggah makanan di Instagram.

Share hasil foto kuliner disertai caption yang informatif. Ini aku banget, deh. Coba follow instagramku @idahceris. Asli, itu hobiku banget. *promoterselubung* Hihihi

Saat melihat satu persatu hasil jepret kuliner di akun instagramku, Mas Uje pun mengomentarinya. Menurutnya, ada beberapa foto yang angle-nya kurang greget. Duuh, mana kupaham tentang angle, ya. Seketika, aku pun ingin belajar angle-angle syalalala kepada para Jurnalis itu. Qiqiqi

Belum mulai minta diajarin angle, mereka ingin melihat hasil jepretan kuliner secara langsung di smartphone ASUS. Woyoooooh! Yaudah, aku kasih lihat hasil jepretan kuliner menggunakan ASUS ZenFone 6 dengan menginformasikan mode-mode yang kupakai untuk motret kuliner.

Dari total 18 mode pada settingan kamera belakang ASUS ZenFone, aku lebih sering mengandalkan tiga mode ini untuk foto kuliner.

Mode Auto 

Ini andalan banget. Mode yang kerap kupakai untuk foto kuliner. Tinggal jepret tanpa perlu nahan napas berdetik-detik, hasil sudah cukup bagus. Sekali kedip, hasilnya langsung dapat diunggah di sosial media, atau blog. Mudah banget, ya.

kamera-asus
Pempek, kuliner khas Palembang favorit banget. . .

Kelebihan Mode Auto, pengguna tidak perlu mengatur pencahayaan, fokus, dan lain sebagainya karena semua pengaturan sudah dilakukan secara otomatis oleh kamera smartphone ASUS ZenFone.

Btw, potret di atas adalah Pempek, kuliner khas Palembang yang kini bisa juga dinikmati di Banjarnegara. Inu Pempek paling hits se Banjarnegara, lho. Memang, rasa tengiri kurang nampol, tapi gurihnya Pempek bikin aku kerap balik ke gerobak Mbah Badari. Hihihi

Mode Miniature

mode-miniatur-asus-zenfone
Mode Miniature dengan bentuk fokus memanjang…

Ini mode andalan kedua. Jika ada beberapa objek di meja, dan aku hanya ingin fokus pada kulinernya saja, aku cukup menggunakan Mode Miniature. Pengguna bisa dengan mudah mengatur luas area objek kuliner yang akan dibuat fokus. Coba perhatikan titik garis yang ada pada layar kamera.

Ada dua model fokus yang disediakan yaitu bentuk lingkaran dan bentuk memanjang. Keduanya bisa digeser menyesuaikan objek yang akan difokuskan. Selain fokus objek, terdapat juga pengaturan untuk ketajaman objek, dan pencahayaan.

contoh-mode-miniatur-asus-zenfone
Mie Aceh ada di Banjarnegara! 🙂

Omong-omong, mode miniature ini kerap bikin aku bahagia karena hasil jepretan dengan mode ini, tuh, seakan-akan udah jago jepret foto kuliner. Padahal cukup gonta-ganti mode saja. 😀

FYI, ini kuliner Nusantara khas Aceh. Mie Aceh, namanya. Dulu, pertama makan Mie Aceh tuh di Tebet. Mie Aceh Jali-Jali. Sekarang kalau lidah kangen Mie Aceh, cukup mampir ke warung Bang Alba yang standby di depan Masjid Agung An-Nur Banjarnegara.

Mode Depth Of Field

Waainiii…Mode Depth Of Field (DOF) kamera smartphone ASUS ZenFone yang nyenengin. Tanpa pengaturan rumit, pengguna bisa menciptakan efek latar belakang blur.

mode-depth-of-field-asus-zenfone
Perlu nahan napah kalau pakai mode ini. . .wkwkwk

Yang perlu diperhatikan ketika menggunakan mode ini, saat memotret sedapat mungkin tenang, karena kamera akan mengambil gambar sebanyak dua kali jepretan. Kenapa dua kali? Karena cara kerjanya juga dua kali. Jepretan pertama yaitu untuk menangkap objek dengan fokus, dan jepretan kedua untuk membuat latar belakang blur.

A post shared by Idah (@idahceris) on

Selain tenang, selama proses pemotretan, usahakan tangan jangan bergerak, tetap stabil agar hasil foto maksimal. Jika Mode Auto tetap bisa berjalan tanpa menahan napas, maka pada mode aku kerap menahan napas beberapa detik sampai kamera kembali pada posisi semula alias standby. Ngga lama kok, hanya 3-4 detik.

Kenapa harus menyematkan foto saat promosi kuliner?

Jawabannya simpel banget! Karena pastinya akan terasa hambar, kurang informatif, jika mengunggah informasi kuliner tanpa ada visualisasi. Kurang greget, dan kurang meyakinkan juga, kan.

Kalian mau ngomong Mie Aceh Bang Alba enak banget, tapi ngga memperlihatkan foto kulinernya, yang lihat ngga bisa turut menikmati, dong. 😛 Lagipula ASUS sudah mendesain smartphone canggih, kenapa ngga memanfaatkannya?

Selain itu, sekarang kuliner Nusantara dapat dijumpai hampir di tiap kota. Di Banjarnegara, misalnya. Cukup banyak kuliner khas Nusantara bertebaran di kota kelahiranku ini. Tapi, belum banyak orang tahu tempat atau lokasi yang menjual kuliner enak, baik kuliner khas Banjarnegara, maupun khas Nusantara. Padahal, sekarang makin beragam kuliner di sini, lho. Asli.

Nah, dengan menyematkan atau mengupload foto, baik di akun media sosial, blog, atau media online lainnya, kuliner khas Nusantara bisa lebih dikenal banyak orang. Ini salah satu cara mudah memperkenalkan kuliner Nusantara lewat dunia online.

Gimana? Ternyata semudah ini mempromosikan kuliner Nusantara, ya. Semudah ini juga cara pamer, sekaligus memperkenalkan kuliner ke khalayak followers khususnya, dan pengguna internet umumnya.

Kalau kuliner Nusantara makin banyak dikenal orang, turut bangga, kan? Apalagi ngehitsnya sampai kancah dunia. Uwwwh…;)

Lalu, kenapa pakai ASUS ZenFone Series?

Jawabannya juga gampang banget! Karena mode kamera pada ASUS ZenFone ngga bikin ribet pengguna. By the way, ASUS menyematkan teknologi yang sama di semua seri Zenfone, yaitu ASUS PixelMaster Camera.

PixelMaster adalah sebentuk teknologi yang dikembangkan ASUS untuk kamera smartphone dengan menggabungkan tiga unsur, yakni software, hardware, dan desain lensa. Nah, karena teknologi ini lah hasil foto dan video yang diambil menggunakan smartphone ASUS bisa dibilang memuaskan. Ngga pandang siang, maupun malam.

DELAPAN BELAS Mode Kamera milik ASUS ZenFone. KECEEE!

Selain tiga mode yang sudah kutulis di atas, 15 mode lainnya juga sering kupakai. Wefie bersama keluarga, dan atau teman, misalnya. Tentu hasilnya makcling banget dengan mode kamera beautification, dong. Mode lain juga bersahabat banget jika digunakan pas piknik. Buat pepotoan objek wisata dengan mode panorama juga cantik banget karena dapat menghasilkan foto seluas 360 derajat. *njerit*

Motret pas malam hari juga hasilnya tetap bagus dengan mode night dan low light. Pokokya, ngga bakal bingung motret kalau pakai kamera smartphone ASUS.

Ternyata promosi kuliner itu gampang banget, ya!

Betuuullll. Cukup berbekal smartphone yang mumpuni seperti ASUS ZenFone dan Internet, promosi kuliner makin mudah. Mengenalkan kuliner Nusantara lewat media online semudah minta uang kepada suami. 😛 Iyaaa kan, Ayaah? Awal bulan, lho. 😆 😆

contoh-mode-dof-asus-zenfone
Sate Gombong di Banjarnegara pake mode Depth Of Field. Ngeblur bekgrooon. . .

Btw, apakah aku juga cuap-cuap sepanjang ini di depan para Jurnalis? Kagak laaah! Bisa-bisa aku ngga makan siang, ngga kulineran. 😀 Aku ngasih tahu hasil foto-fotonya, sama penggunaan mode yang pas. Kalau tulisan panjang ini ya buat bacaan kalian yang mau pada baca. Hahaha. 😛 😛

Makasih atas sharingnya, Mas Castro, Mas Uje, dan Mas Nur. Kapan-kapan, hunting kuliner bareng seru kalik, ya. Sambil belajar jepret kuliner dengan angel syalala, gitu. 🙂

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel

Kota Tua Jakarta dengan Kawasan Wisatanya yang Menarik

Sebelum tahu tentang Kota Tua Jakarta, aku terlebih dahulu dikenalkan dengan sosok pangeran yang berhasil mengusir bangsa Portugis dari pelabuhan perdagangan Sunda Kelapa. Adalah Pangeran Fatahillah.

Guru mata pelajaran IPS semasa MTs, Bu Kustantinah, beliaulah yang mengenalkan. Tidak, kami tidak berkenalan langsung dengan pangeran yang gagah berjambang itu, ya. Yaa…lu kira gue hidup sebelum Doraemon, gitu. 😀

Melalui sebentuk buku materi pegangan guru dan juga siswa, ada satu pembahasan yang menceritakan tentang Pengeran Fatahillah. Beruntung, pada salah satu halaman terdapat foto berukuran seperempat folio yang menampilkan wajah Pangeran Fatahillah. Cukup ada gambaran dan tidak menghayal terlalu dalam. 😀

Di buku tersebut, pembahasan tentang sosoknya tidak begitu detail. Aku cukup tahu, bahwa Pangeran Fatahillah adalah pemimpin tertinggi gabungan pasukan tiga kesultanan yaitu Demak, Cirebon dan Banten. Selanjutnya, ada  Sunda Kelapa, Batavia dan Kota Tua Jakarta yang kini telah dimanfaatkan sebagai kawasan wisata juga menggerakan bolpoinku  untuk sekadar mencatat harapan.

“Kota Tua Jakarta, besok aku ke sana.”

Iya, besok yang kumaksud itu entah kapan, waktu itu. Qiqiqi. Kalau ngebayangin zaman cupu-cupu gemas, bikin ketawa sendiri. Asli. Ya…seperti saat menulis postingan ini.

kota-tua-jakarta-2
Kompleks ini ngangenin…

Dulu, aku membayangkan Kota Tua Jakarta tuh sereeeem. Namanya kota tua, pasti identik dengan bangunan kuno, tidak banyak penghuni, sepi, angker, pokoknya bayangan yang sama sekali tidak indah. Semisal tiba-tiba ramai suara hentakan kaki, mungkin Pangeran Fatahillah beserta prajuritnya sedang nostalgia. 😆 Khayalan macam apa ini, ya. 😛

Namun, bayangan itu sirna seketika saat aku sudah mulai sedikit lihai memainkan Google dan Portal Wisata. *okegoogle* *marimainkan*  Bersama Sitti, Blogger di www.sittirasuna.com yang kini mulai sibuk nyari pasangan ganteng berkacamata, kami jalan-jalan ke kawasan wisata kota tua. Sebentuk kawasan yang sarat akan nilai sejarah.

Tempat pertama yang kami singgahi adalah Cafe Batavia.

batavia-cafe-kota-tua-jakarta
Dindingnya rapih-rapih ramai, euy….

“Acara si Mister bertempat di Cafe Batavia. Aku belum pernah ke sana. Dengar-dengar sih bagus. Penasaran dalamnya.” 

Si anak kota saja penasaran, tuh. Kembang desa pun ikut-ikutan penasaran lah, ya. Yaudah, menghadiri undangan sembari menikmati Cafe Batavia yang nyentrik artistik. Cafe ini nampak sederhana dari luar. Namun saat masuk Cafe, tuh, tiba-tiba adem ngelihat desain interior yang elegan.

full-bar-cafe-batavia

Full bar yang berada di lantai dasar cukup ramai pengunjung. Ya, banyak orang di dalam, tapi suasana hening. Aku sih maklum, yang ngobrol kan orang dewasa, tidak perlu teriak-teriak yang penting pesan tersampaikan. 😉 Tapi suasana akan beda saat weekend karena ditemani alunan musik dari band lokal. Berlama-lama di Cafe Batavia tidak akan bosan, ya. Apalagi, didukung dengan pencahayaan lampu yang tidak terlalu terang, bikin saturday night di cafe ini makin nyaman.

Ini di Toilet, lho. . .

Nah, kalau di lantai dua, biasa dipakai buat acara, gitu. Kami terlalu narsis di sini. Tidak hanya kami, sih. Teman-teman lain yang ikut acara si Mister juga tak kalah narsis. Dari lorong timur yang viewnya kota tua  banget, pemandangan kota tua dari atas yang oke banget, sampai dengan Toilet unik yang bikin kami keranjingan pepotoan di mari. Yaaa gimana lagi, tempatnya asyik, menarik, rapih, bersih pula.

Lalu, gimana dengan makanan Cafe Batavia?

Karena kedatangan kami dengan sebentuk undangan, makanan pun prasmanan, dong. Agak menyesal karena tidak mencicipi menu khas Cafe Batavia. Eh..Yah…Ayaah, ini kode buat kamu, ya. Kembali ke Kota Tua lagiiih! :mrgreen:

Selesai acara si Mister, kami mulai keliling kawasan Kota Tua Jakarta. Tentunya pelataran Museum Fatahillah menjadi tempat pertama yang kami tuju.

kota-tua-jakarta-3

lapangan-fatahillah

Waaaini….Pelataran Museum Fatahillah!

Lapangan Fatahillah yang penuh sejarah ini sepertinya ramai dengan orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Apalagi kalau weekend. Hampir tidak ada interaksi dengan pengunjung lain karena -mugkin- ada yang lebih mengasyikan. Yaitu gadget. Tidak beda dengan kami yang juga sibuk dengan kamera. 😀

sepdaan-di-kota-tua-jakarta

Di depan Museum Fatahillah atau Museum Kesejarahan Jakarta, banyak obyek yang menarik untuk difoto. Selain itu, obyeknya bisa juga dijadikan background yang Kota Tua banget! Lihatlah sepeda di atas. Kota Tua banget, kan? Sayangnya kami tidak mencoba untuk sewa sepeda, nih. Soalnya, malas mengayuh. Maunya mbonceng semua. 😀

Berjalan di sekitar museum ini ternyata membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Aku terlalu asyik melihat apa saja yang ada di pelataran museum sampai tidak sempat masuk museumnya kaena waktu berkunjung yang terbatas. 😛 Ehm…ini kode lagi lho, Yah. Kecemut pasti mau kalau diajak masuk ke Museum Fatahillah. Nanti, kita ngajak Sitti lagi buat nemenin jalan. 😀

kota-tua-jakarta-1

Yang seperti ini juga menarik…

Jalan-jalan di Kota Tua Jakarta tidak hanya sampai di Cafe Batavia dan Kompleks Museum Fatahillah saja. Kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Kota Intan yang lokasinya masih di Kota Tua Jakarta. Btw, malam hari di jembatan ini asyik juga, lho. Kapan-kapan kuposting foto-fotonya di insstagramku, ya. 😀

Keelokan Lansekap Dieng dari Bukit Scotter

“Pak, berhenti di depan BRI, ya.” Intruksi dari seorang laki-laki bertopi hitam, dan mengenakan jaket warna oranye. Lelaki yang mendampingi kami tur selama tiga hari dua malam. Pak Daryo, namanya.

BRI Dieng menjadi ancer-ancer menuju Bukit Scotter, Dieng, Banjarnegara. Teman-teman nampak semangat turun dari minibus meski sudah dipastikan tidak akan mendapat sunrise karena kami keluar dari penginapan D’Qiano jam 05.00 WIB. Sampai kaki bukit jam 05.30 WIB.

Dinginnya Dieng pagi itu sama sekali tidak menyurutkan niat untuk sampai puncak Bukit Scotter. Justru sebaliknya. Udara segar, perkampungan rapih, dan pemandangan sekitar bukit yang terlihat dari kejauhan, sukses menggerakkan kaki kami untuk melangkah cepat karena petunjuk arah ke bukit sudah terpampang jelas. Tidak perlu mikir, tanya warga, apalagi bingung pilih arah.

Satu hal yang membuatku gemas-gemas terharu pagi itu yaitu karena aku gagal mempertahankan kaki untuk tetap standby di area parkir.  Si Kecemut tidak mau berhenti jalan! 😆 Ampun, deh.

jalan-menuju-bukit-scotter
Gang ini bisa menjadi pilihan setelah turun BRI…

Niatku hanya mengantar Teman-teman sampai seperempat jalan. Itung-itung sambil olahraga pagi seperti biasa.

Berbagai usaha untuk membuatnya kembali tersenyum sudah kulakukan. Jalan-jalan di sekitar area parkir, sampai kembali turun ke perkampungan. Tapi gagal. Mbak Rian, satu-satunya peserta yang tidak ikut naik bukit menyarankan untuk diajak jalan ke atas. Ini pilihan akhir yang bisa kulakukan. Dan akhirnya, Kecemut kembali girang saat melihatku ngos-ngosan. Ampun ini bocah.

Bagiku, perjalanan menuju Bukit Scotter dengan menggendong bayi tidak begitu susah payah. Tanjakan yang didapat hanya dua kali saja, yaitu awal hiking, masih dalam perkampungan. Kemudian, saat hampir sampai Bukit Scotter. Selebihnya, jalan datar.

Langkah para petani pagi itu menemani perjalananku. Sambil ngobrol dengan mereka, tidak terasa kurang lebih lima belas menit telah sampai loket Bukit Scotter. Ini bacanya ngindonesia saja, ya. Skoter, bukan Skuter. Kalau sampai salah baca, bisa penasaran sampai ubun-ubun karena tidak akan pernah menemukan Skuter di puncak bukit. 😆

Nama Scotter atau Skoter ini diambil karena dulu di kaki bukit terdapat pemancar atau tower radio. Skoter (Seko Tower) yang dalam Bahasa Indonesia berarti Dari Tower, menurut salah satu pertani yang ngobrol denganku. Please jangan tanya hubungan darah antara Tower dan Bukit ini, ya. Kagak paham betul. 😛

gang-bukit-scotter
Setengah perjalanan, nih. . .

Beberapa petani yang hendak ke ladang dengan mengendarai sepeda motor menawarkan jasa untuk mengantarkanku sampai ladang mereka yang katanya ada di seberamg bukit. Tapi, melihat perkakas bawaan mereka yang digendong, rasanya akan menambah beban dan merepotkan.

Ya, tidak sedikit petani yang mengendarai sepeda motor untuk ke Ladang karena jalan sudah lumayan bagus. Hanya saja, karena malam harinya gerimis, beberapa titik jalan yang belum dicor semen lumayan becek. Makanya, aku tetap memilih untuk jalan kaki. Takut motor mereka kelebihan muatan, lalu BREG! 😀 😛

Omong-omong, ternyata aku dan Kecemut bukan satu-satunya peserta yang belum sampai puncak. Masih ada Tante yang terlihat santai, menikmati perjalanan. Jadi ada teman, deh! 😀

bukit-scotter
Jalannya udah enak. Cor-coran. Dari sini mulai narsise…

Aku dan Kecemut kerap berhenti. Sementara Tante, terus berjalan pelan. Sesekali motoin kami. 😉 Kami berhenti bukan karena aku loyo, atau Kecemut rewel. Melainkan, HARUS  selfie. Hahaha. Penting banget, ya. Jelas, dong.

Background Gunung Sindoro cakep banget! Apalagi, perkampungan Dieng yang telah padat. Wuuuw…selfie muluuu bawaannya. Ditambah lagi, ada Masjid di tengah perkampungan yang cuantik nian. Wuuuw…selfie lagi. 😀

Tidak terasa, 30 menit telah kami habiskan untuk jalan, dan kami telah sampai puncak Scotter. Sesampainya di bukit, Teman-teman nampak sibuk dan asyik memainkan kamera, pose, untuk mengambil gambar terbaik. Tiap sudut Bukit Scotter penuh untuk sesi foto. 😀 Gazebo mungil yang asyik banget buat duduk berdua sambil rangkulan, menjadi salah satu spot yang menarik. Rangkulan sama si Kecemut. 😛

bukit-scotter-dieng
Kawasan Candi rapih banget…

Dari puncak Bukit Scotter, lansekap perkampungan Dieng lebih indah. Berfoto dengan latar belakang Gunung Sindoro pun makin greget. Kompleks Candi Arjuna nampak jelas setelah kamera dizoom maksimal. 😆

Aku bersama Si Kecil juga minta difoto berkali-kali dengan background Gunung, Perkampungan, Bunga, Ladang, dan awwww….hasilnya kece bangett! Makasih udah motoin kami ya, Tanteee. 😀

Bukit yang awal tahun ini baru mulai dijadikan tempat wisata, punya tempat khusus untuk narsis. Asli, ini narsis sungguhan di Bukit.

 

 

A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on

 

 

Bukit Scotter menyediakan tempat khusus, sebut saja gardu pandang, yang terbuat dari bambu. Besama Mbak Lia dan Tante, aku mencoba untuk naik ke atas gardu secara bergantian. Untuk sampai ke atas, kami menggunakan tangga yang berada di samping gardu, cukup dengan enam langkah, foto narsis dimulai.

Di tangan Mas Nur, videografer dari Satelit News, hasil jepretannya membahagiakan banget!  Fotonya cakep-cakep. Modelnya juga mendadak cakep. Tidak sia-sia meninggalkan Kecemut sejenak. Hahaha. Makasih Mas Topan, sudah mau gendong Yasmine yang rewel tak terkira. 😀

bukit-scotter
Jepretan dari gardu bambu. Cakep!

Bukit Scotter bisa menjadi alternatif pilihan saat berwisata ke Dieng. Kurang lebih 20 menit dari kompleks Candi Arjuna, Bukit ini mudah dijangkau. Hiking sejauh 1 km dengan medan tergolong biasa, menawarkan keindahan lansekap Dieng yang tak biasa. Nyalakan Google Maps bila belum paham jalan di Dieng, ya. Bukit Scotter tersedia di G-Maps. 😉

Baca juga: Hiking ke Bukit Scotter Bersama Bayi! 😛

Menyambangi Wisata Unggulan Dieng, Banjarnegara

Enam destinasi wisata Dieng Plateau mejeng cantik di Peta Wisata Jawa Tengah. Bersebelahan dengan destinasi unggulan Borobudur. Artinya, Dieng menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Tengah yang recommended. Menawarkan pesona alam, seni, budaya,  yang menarik dan tiada duanya. Keren banget, kan? *jawabkeren* *segelasdawetuntukmu*

Kompleks Candi Arjuna, Bukit Scotter, Kawah Sikidang, UD. Tri Sakti sebagai pusat Oleh-oleh Khas Dieng, Bukit Sikunir, dan Telaga Warna. Itulah enam destinasi yang terpampang di peta wisata Jateng.

Dari keenam destinasi, empat diantaranya adalah milik Banjarnegara. Ini yang membuatku bangga. Tepatnya, turut bangga karena secara administratif, keempat objek tersebut berada di tempat tinggalku, Banjarnegara. Duuh…gimana lagi, ya. Sudah terlanjur demen banget sama Banjarnegara. Apalagi, potensi wisatanya begitu banyak. Gue makin bangga, dong. 😆

Di hari ketiga Blogger Trip Plesir Maring Banjarnegara, kami diajak keliling KWDT (Kawasan Wisata Dataran Tinggi)  Dieng, Banjarnegara. Sekadar informasi, pada tiap postingan tentang Dieng, aku kerap menyertakan “Banjarnegara” di belakangnya karena KWDT Dieng terbagi menjadi dua kawasan, yaitu kawasan Banjarnegara dan Wonosobo. *catatyaks*

Jika tadi melihat Peta Wisata Jateng, kini aku tercengang saat membaca pamflet Pesona Alam Dieng yang dibagikan oleh Dinbudpar Banjarnegara. Pada pengantarnya tertulis prosentase KWDT Dieng yang ternyata 80% #PesonaDieng adalah milik Banjarnegara. Catet lagi, ya. DELAPAN PULUH persen, Sist! Sebelumnya, aku kira kisaran enam puluh prosen saja. 😛 Sementara sisanya, milik Kabupaten Wonosobo.

kompleks-candi-arjuna-dieng-banjarnegara
Mendung, tapi tetap anggun…

Sekarang aku akan mengajak kalian turut menyambangi Wisata Unggulan Dieng, Banjarnegara. Cukup meluangkan waktu sepuluh menit, kalian akan sampai objek wisata unggulan Dieng (dalam tulisan) berikut ini. 😛

Kompleks Candi Arjuna

Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan kompleks Candi Arjuna. Ke Dieng tanpa mengunjungi Candi, rasanya kurang greget. Selain dikenal dengan negeri di atas awan, Dieng juga terkenal dengan warisan situs purbakala, Candi Dieng.

Candi Dieng merupakan kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa. Candi-candi ini terbagi menjadi beberapa kelompok dan lokasinya pun menyebar. Ada yang berdekata, seperti Candi Arjuna dan Candi Gatotkaca.

Saat kami berkunjung ke sini (16/11), sedang ada pemugaran candi di kompleks Candi Arjuna. Kalau tidak salah ingat, Candi Puntadewa sudah mulai dipugar. Meski demikian, kami tetap tur Candi dengan didampingi pihak Dinbudpar dan seorang pemandu wisata kompleks candi dan museum kailasa.

Untuk dapat masuk Kompleks Candi Arjuna, kalian cukup membeli tiket terusan senilai Rp 15.000 per orang. Tiket terusan ini sepaket dengan tiket masuk Kawah Sikidang. Catet, ya. Tiket terusan.

kompleks-candi-dieng

Berlokasi tidak jauh dari Kompleks Candi Arjuna, berdiri Candi Gatotkaca. Candi ini berada di dekat tempat parkir, atau pintu masuk Kompleks Candi Arjuna. Candi ini berdiri sendiri, bangunan candi terbilang masih kokoh, dan tempatnya cukup teduh kerena banyak pepohanan di sekitar candi.

A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on

 

Bagi kalian yang senang menelusuri jejak situs purbakala, bisa lanjut menyambangi Candi Bima, candi termuda, terbesar di Dieng dan sangat unik karena pada tiap tingkatan atap terdapat Arca Kudu. Kemudian, ada Kelompok Candi Setiyaki di mana lokasinya cukup dekat dengan Candi Gatotkaca. Terakhir adalah Candi Dwarawati. Candi ini lokasinya cukup jauh dari Kompleks Candi Dieng. Tepatnya di Desa Dieng Kulon, kaki Gunung Perahu.

Selanjutnya menyambangi Museum Kailasa!

Museum Kailasa

Menyambangi Museum tanpa pemandu? Apa jadinya? Mungkin bakal bengong, atau manggut-manggut sedikit paham karena terbantu dengan informasi yang tertera pada masing-masing benda. Kami, khususnya aku, merasa tertolong karena saat menyambangi Museum Kailasa, di mana lokasinya cukup tiga menit jalan kaki dari Kompleks Candi Arjuna, didampingi oleh pemandu wisata khusus bagian Museum dan Candi. Lumayan, menambah referensi dan pengetahuan.

Masuk Museum Kailasa, kami diajak nonton film terlebih dahulu. Film tentang peradaban masyarakat Dieng kala itu, sampai pembangunan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng, berdurasi 20 menit.

“Orang zaman dulu memang unik, dan kreatif.” Batinku, saat film yang diputar mulai masuk bagian detil perancangan candi.

arca-arca-di-museum-kailasa

Museum Kailasa terbagi menjadi dua, yaitu bagian khusus peninggalan peradaban masyarakat kala itu yang berada di dalam Museum Kailasa. dan koleksi purbakala seperti Arca-arca yang berada di bangunan terpisah, tepatnya di depan Museum Kailasa.

Pemandu wisata menjelskan detil asal muasal ditemukan candi, dan berbagai Arca di dataran tinggi deing. Asli, kami larut dalam dongeng Bapak pemandu wisata yang betul-betul paham seluk beluk warisan yang berada Ganesha, arca-arca para Dewa dalam agama Hindu, arca lembu yang mirip dengan Situs Watu Lembu di Banjarmangu, dan masih banyak lagi koleksi benda di museum ini.

Cukup membayar Rp 6.000 per orang, kalian dapat masuk, dan melihat bermacam koleksi yang ada di dalam Museum. Aku saranin untuk minta pendamping saat menyambangi Museum Kailasa, ya. Banyak manfaatnya, kok.

Kawah Sikidang

Usai berkeliling Museum Kailasa, kami melanjutkan tur ke Kawah Sikidang. Kami masih ditemani Pak Daryo yang setia banget mendampingi kami selama perjalanan. Dengan mengendarai minibus, tidak sampai 15 menit dari Kompleks Candi Arjuna, kami tiba di Kawah Sikidang.

Di lokasi ini, aku memilih untuk jalan-jalan di “pasar” yang berada di kanan jalan karena Si Kecil masih peka sama aroma belerang. Aku mengatakan pasar karena banyak macam yang dijual di sini. Dari camilan Kentang Goreng, Sembako, Oleh-oleh khas Dieng, Bumbu Dapur, sampai dengan Opak juga ada! Pasar Sikidang, nih. 😀 Selain pasar, tempat parkiran makin luas, bersih, ternyata sudah ada fasilitas flying fox!

A photo posted by Pungky Prayitno (@pungkyprayitno) on

Fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk mencapai Kawah. Hanya sekedipan mata, pengunjung bisa sampai bibir kawah. Seperti Mbak Lia dan Pungky. Mereka menjajal flying fox karena memang ingin mencobanya, sekaligus menghemat tenaga.

Flying fox yang dibanderol dengan tiket Rp 20.000 per orang, hanya bisa sampai kawasan Kawah Utama saja, dan tiu satu kali perjalanan. Pengunjung akan kembali berjalan kaki saat kembali.

tour-dieng-kawah-sikidang
Kepulan asap Sikidang. . .

HTM (Harga Tiket Masuk) Kawah Sikidang yaitu Rp 15.000 per orang. Ini merupakan tiket terusan  Candi Arjuna-Kawah Sikidang. HTM tiket terusan ini nampaknya kurang diindahkan oleh para pengunjung, nih. Ceritanya, saat aku sedang antre Toilet, ada beberapa pengunjung yang nampaknya kurang setuju dengan tiket terusan ini.

Kenapa ngga Candi dan Museum aja, sih. Kan lebih dekat, ya.” Ucap seorang perempuan kepada temannya yang duduk di sebelahku. Tapi, aku yakin, pihak Dinbudpar pasti punya tujuan lain atas tiket terusan ini. Ya kan, Pak Dwi? 😀

Bukit Scotter

Turun depan BRI, ya.

Aba-aba dari seorang laki-laki berkumis yang mendampingi kami tur selama tiga hari dua malam. Siapa lagi kalau bukan Pak Daryo! Ternyata, BRI Dieng menjadi ancer-ancer menuju Bukit Scotter. Ini bacanya ngindonesia saja, ya. Skoter, bukan Skuter.

Bukit ini belum lama menjadi objek wisata. Awal tahun 2016, mungkin. Sebenarnya, bukit ini tidak masuk wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Tapi, karena sudah masuk peta wisata Jateng,  aku pun -seperti- harus memasukkan bukit Scotter pada blog post ini.

Melihat lansekap Kawasan Dieng dari atas Scotter menjadi salah satu hal yang dapat kalian lakukan di sini. Tapi, apakah yakin hanya ingin melihat lansekap saja? Soalnya, bukit ini bisa dibilang instagramable banget! Asli.

A photo posted by Idah (@idahceris) on

Background Gunung Sindoro menjadi incaran kami saat itu. Yaa…abisnya hasil jepretan makin kece, siih! Kan sayang banget mengabaikan Sindoro yang gagah itu. Selain itu, berfoto dari atas gardu pandang yang terbuat dari bambu juga tak kalah menarik. Hijaunya rumput, cantiknya bunga-bunga di bawah gardu akan “mencetak” hasil foto yang bikin greget-greget pingin narsis terooos.

bukit-scotter

Untuk mencapai Bukit Scotter, kalian tidak perlu susah payah. Hanya butuh waktu 15 menit saja untuk trecking jalan utama. HTM masuk bukit ini yaitu Rp 5.000 per orang. Itupun jika ada yang menjaga loket. Hihihi Berlokasi di Desa Dieng Kulon, Bukit Scotter mudah banget dijangkau karena aksesnya sangat mudah. Kira-kira, 25 menit dari kompleks candi arjuna. Tentang Bukit Scotter, akan aku posting terpisah, ya. 😛

D’Qiano Spring HOT Waterpark

Jelas banget, ya. Kata HOT sengaja aku capslock karena waterpark ini begitu HOT! Air yang mengalir ke waterpark dengan ketinggian 2.000 m dpl ini bersumber dari Kawah Sileri, Kawah terbesar di Dieng.

A photo posted by CERIS Family (@cerisfamily) on

Sama halnya dengan bukit scotter, D’Qiano juga tidak masuk wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Tapi gimana lagiiiih…! D’Qiano telah berhasil membuat kami betah berlama-lama di kolam hangat. Cukup membayar HTM Rp 20.000 per orang, kalian bisa renang, berendam dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB, sesuai jam operasional D’Qiano.

Jarak tempuh menuju D’Qiano dari Kompleks Candi Arjuna kurang lebih 35 menit. Ada banyak fasilitas umum yang disediakan, diantaranya: ruang ganti, kamar ganti, tempat jajan, dan yang tak kalah pentingnya yaitu penginapan. Tentang penginapannya seperti apa, nanti aku tulis terpisah saja, ya. 😀

dqiano-ember-tumpah

Jika berwisata ke Dieng, kalian HARUS menyambangi D’Qiano yang berlokasi di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur. Yaa…kapan lagi bisa berenang sampai puas, tapi tidak merasa dingin! Ingat, waterpark ini di Dieng, lho. DIENG KAWASAN BANJARNEGARA. *pentingbangetcaplockini*

Pusat Oleh-oleh Khas Dieng

Piknik ke Dieng tidak mampir pusat oleh-oleh khas Dieng. Yakin? Pengen jemuran yang udah kering, kembali basah karean kehujanan. Kembali basah karena tetangga kagak dibelikan oleh-oleh khas, tapi sempat pamit. Duuh…tetangga masa gitu, sih!!! HAHAHA

UD. Tri Sakti menjadi pelabuhan terakhir Blogger Trip Ayo Plesir Maring Banjarnegara. Bapak Saroji, pemilik UD. Tri Sakti ini ternyata giat banget mempromosikan oleh-oleh khas Dieng. Sesampainya di UD. Tri Sakti, seluruh Blogger mencicipi aneka jajan, oleh-oleh khas Dieng. Dan yang paling laku yaitu Keripik Kentang dan Carica! Juara banget kalau disuruh ngemil, ya.

oleh-oleh-dieng-banjarnegara

Oleh-oleh khas Dieng lainnya yang ada di UD. Tri Sakti diataranya: Keripik Jamur, Kerupuk Carica, Sirup Carica, Jenang Carica, Jus Terong Belanda, dan tentunya Purwaceng!

Kabarnya, beliau adalah orang pertama yang budidaya tanaman purwaceng di Dieng, mengolahnya menjadi minuman dalam bentuk serbuk, lalu memasarkannya dengan harga terjangkau karena produksi sendiri atau home industri. Pak Saroji ini meski sudah usia lanjut, inovasi tentang camilan cethar banget. Salut dengan beliau yang kini tinggal di Dieng Kulon, Banjarnegara.

Omong-omong, UD. Tri Sakti ini berlokasi di seberang jalan BRI Dieng atau seberang jalan masuk Bukit Scotter. Mudah banget dicari, harga juga bikin kita menari-nari. Ramah dompet, Sist. 😆 😛

Bagi kalian yang hendak berwisata ke Dieng, silakan menyambangi wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Aku yakin, kalian kagak bakal kuciwa! Asal dari rumah membawa bekal happy, sesampainya di Dieng makin happy!:mrgreen:

Seru Haru Rafting di Sungai Serayu Banjarnegara

Rafting di Sungai Serayu Banjarnegara – Suami menjadi satu-satunya orang yang khawatir banget saat tahu bahwa aku, istrinya, hendak “terjun bebas” ke Sungai Serayu Banjarnegara. Kekhawatirannya muncul lantaran hari itu hujan deras, debit air sungai tinggi, dan aku belum begitu lihai renang! 😆 😛

Pesan melalui WhatsApp yang bernadakan kekhawatiran terpaksa aku balas dengan bercandaan. Aku mengatakan terpaksa karena sebetulnya aku juga kurang percaya diri setelah melihat derasnya aliran sungai serayu pagi itu. Ya…meski pada akhir percakapan, dia menyemangatiku. *mungkin dia juga terpaksa menyemangati* 😆

Sebelum berkumpul untuk briefing, aku sempat bertanya kepada salah satu penanggungjawab rafting tentang cuaca pada hari itu yang tidak menentu. Menurutnya, meski pagi hari turun hujan, rafting tetap bisa berlanjut. Hujan yang turun di pagi hari tidak begitu membahayakan untuk olahraga arung jeram. Meski hujan, rafting tetap aman. Bahkan, akan lebih seru karena akan mendapat jeram yang tak biasa. Kecuali, hujan turun sedari malam. Ini tim rescue harus melihat kodisi lapangan terlebih dahulu.

Berbekal informasi yang kudapat, dengan didampingi guide dan tim rescue dari Bannyu Woong Adventure, aku berhasil mengarungi Sungai Serayu Banjarnegara sejauh 10 km, dengan durasi waktu selama kurang lebih 3 jam. Menerjang tiap jeram yang ada di depan mata. Ayye, berhasil…! Tak pernah kusangka! 😉

arung-jeram-banjarnegara
Tim heboh dari kiri: Mas Abi, Hanif, Mas Dodit, Mas Halim, iNyong dan Afri

Briefing singkat, namun padat telah kami diikuti sebelum rafting dimulai. Banyak pengetahuan dan istilah yang baru aku tahu. Asli. Tapi hampir semua teori betul-betul aku praktikkan selama arung jeram berlangsung.

“Jika ada batu di depan atau samping perahu, jangan dipeluk! Gunakan dayung untuk menghindari bebatuan itu.” Sedang asyik main dayung, sempat terpikir untuk memeluk batu, gitu. Ampun, deh. 😆 😛 :mrgren: Itu salah satu teori yang dibagikan saat briefing.

Baca lagi tentang Body Rafting di Green Canyon.

Berada dalam satu perahu karet, aku bersama Afri berada di bagian tengah. Lalu, Mas Halim dan Hanif menjadi benteng depan. Sementara Mas Abi, duduk di depan Mas Dodit, pemandu terkeren versi kami. Mas Dodit ini baru SEPULUH tahun menjadi pemandu rafting di Bannyu Woong, dan menurutnya belum lama. *merendah untuk meroket ya, Mas*

“Selama rafting berlangsung, ikuti komando dari saya, ya. Kurang lebih 2,5 jam, kita akan HIDUP BERSAMA.”  Baru lima kali dayungan, Mas Dodit mulai drama. “Lucu bener ini orang, ya.

Boom! Selain kata itu, abaikan bila sepanjang perjalanan hidup  kita, saya terus cas cis cus nyerucus. Jika aba-aba Boom (baca: buuum)  terucap, berarti kalian harus siap-siap masuk perahu karet dan dayung diangkat ke atas.” Persis teori yang dipaparkan saat briefing, Mas Dodit kembali menjelaskan lebih rinci.

Tidak lama kemudian, Mas Dodit menyuarakan: “Buuuuuuuuuum!”

Keseruan Rafting di Sungai Serayu dimulai dari sini…

Spontan, kami masuk ke dalam perahu karet, dengan posisi dayung tak beraturan. Hahahaha…Salahin Mas Dodit saja, ya. Memberi aba-aba mendadak. Menurutnya, ini bukan tiba-tiba, melainkan kejutan awal dari Mas Dodit dan Jeram Welcome. Jeram selamat datang sebagai jeram pemanasan, dimana para Pemandu Rafting mulai dapat menilai kesiapan peserta, katanya.

“Woow keren! asyik, Mas. Nanti kalau ada jeram yang lebih, kabar-kabar, ya. Ini hujan makin deras, nanti kita hajar bareng-bareng.” Mas Abi mulai nakal, nih. Mulai bertingkah.

Hujan deras, ditambah dengan aliran sungai yang deras pula. Betul-betul kolaborasi seru untuk rafting, karena matahari tidak menemani perjalanan. Artinya, kulit akan tetap stabil, tidak gosyong karena terik matahari. Selain itu, kolaborasi tersebut ternyata bisa menghangatkan badan. Meski hujan terus mengguyur badan, dingin selama rafting tidak begitu parah. Jika punya rencana rafting di sungai serayu Banjarnegara, ambillah waktu yang tepat supaya terasa raftingnya. Saat musim hujan, misalnya. Tapi, hujan yang sudah mulai slow, ya.

“Dayung ke depan…dayung ke depaan. Lebih semangaat. Ayoo dayung ke depan, dan Buuuuuum!”

Beberapa detik sebelum Buum, Mas Dodit menyemangati kami untuk lebih cepat lagi dalam mendayung. Ternyataa…kami akan melewati Jeram Trinil. Siapapun yang melewati jeram ini, akan terbalik. Makanya, Mas Dodit mengajak kami mendayung ke depan supaya perahu tidak larut dalam jeram, terus maju.

Sepanjang perjalanan, Mas Dodit memberi informasi tentang nama-nama jeram yang ada di Sungai Serayu Banjarnegara. Salah satu jeram yang kuingat yaitu Jeram Bethur. Jeram ini tidak ada hubungannya dengan si kelopak mata yang bendul, ya. Jeram ini cukup menantang karena terdapat beberapa batu besar yang tertutup arus. Gila ajaa, ya. Ada batu tertutup arus, semisal sampai menyentuh batu itu, apakabar kehidupan kita? 😆 Ya…namanya Jeram, kan, harus dilewati. Usahakan ikuti aba-aba dari guide, jangan sampai kelilit jeram ya, Kak. Karena lebih membahayakan ketimbang kelilit kenangan sama mantan.

“Mas, ini jembatan mana?” Tanyaku kepada Mas Dodit saat perahu karet kami melewati jembatan yang menurutku instagenic banget.

“Ini jembatan Desa Sered.”

“Asyiiik…masih lama untuk sampai finish.” Batinku bungah banget. Secara, perjalanan sungai itu lebih lama ketimbang darat. Yaa.., kaan? Dan ternyata betul. Kami masih punya sisa waktu 30 menit untuk mencapai finish.

Mulai dari jembatan ini, kami cukup santai. Bisa berfoto dengan latar belakang jembatan, hutan, pohon bambu, air terjun alami, atau air terjun buatan yang sengaja diciptakan oleh para petani sebagai muara pengairan sawahnya. 😀

“Dayung lagi yoook. Dayung depan…dayung depaan.” Mas Dodit mulai menyemangati kami lagi.

Bersama Mas Abi, aku merasa teriakan kita paling membahana. Mas Halim, Hanif, dan Afri, teriaknya sedikit diumpet. 😆 Sedari awal, aku semangat banget mendayungnya karena memang sedang belajar mendayung dengan benar. Saat briefing dijelaskan, jika mendayungnya benar, maka beban hidup tidak akan terasa berat. Lha ini, aku masih merasa susah dan berat. Lengan pegal banget, Kaaak. 😆 Tapi, sekalinya sudah benar dan lancar mendayung, iseng banget nyipratin air sungai ke teman-teman menggunakan dayung. Sedaaaap penuh stamina!

Semangat mendayung yang diikuti terikan juga sukses membuat badan hangat. Perasaan takut akan derasnya air hujan perlahan hilang. Ternyata, teori ini berhasil. Aku begitu menikmati rafting sungai serayu Banjarnegara. Sampai tiba pada Jeram Tsunami, kami, khususnya aku, tidak merasa bahwa ada Buuum di depan! Tahu-tahu, kami sudah terpisah.

Jeram Tsunami sukses membuatku terharu…

Betapa nyawa ini sudah kupasrahkan kepada Sang Pencipta. Menerjang hujan di darat kerap kulakukan. Lha ini, menerjang hujan dan jeram di Sungai Serayu Banjarnegara yang punya tingkat jeram grade 3+. Sekali lagi, zona rafting yang kami ambil mempunyai tingkat jeram grade 3+ ini dimulai dari The Pikas dan berakhir di Surya Yudha Park.

Mas Dodit tidak memberi aba-aba Buum saat sampai Jeram Tsunami. Ini sengaja tidak berkabar, katanya. Karena sedang asyik mendengar cerita Hanif tentang game-game yang biasa dilakukan saat rafting, kami tidak memperhatikan ada jeram di depan. Hanya mempercayai Mas Dodit. Tapi yang diberi KEPERCAYAAN malah enak-enakan menjebak kami!

Apa-apaaaaan kamu, Maaaas! Aku BERHASIL MINUM AIR SUNGAI SERAYU! Satu liter, mungkin. 😀 Dan sinisnya, saat sedang berada di bawah perahu, aku mendengar teriakan Mas Dodit.

rafting-serayu-banjarnegara
Ternyata, digoyang ombak itu seruuu…!

“Tenang…tenang…jangan panik…jangan paniik.” Astaga, dikira gue kagak punya perasaan, Mas? Begh!

Beruntung, safety rafting ini oke banget! Jaket pelampung, khususnya. Ada baiknya memeriksa jaket pelampung sebelum rafting. Termasuk mengencangkan tali jaket. Mengecek pelampung antar teman termasuk yang dipraktikkan saat briefing. Berjaga-jaga untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi saat rafting. Jika pelampung melekat dengan baik, kecil kemungkinan tenggelam. Tentang pertolongan saat perahu terbalik, atau peserta tenggelam, ada berbagai macam cara. Pertolongan yang paling aku ingat yaitu menarik pelampung teman bagian atas.

Baca tentang Bannyu Wong, Operator Rafting di Banjarnegara.

Saat itu, pelampung yang pertama kudapati adalah milik Mas Abi. Ya, aku melihat Mas Abi yang sama-sama sedang berusaha naik ke perahu. Aku tarik pelampung bagian belakang atas. Aku memegang pelampung Mas Abi dengan kencang!

“Halim manaa…Hanif manaaa?” Aku yang nyawanya belum terkumpul penuh, hanya bisa geleng-geleng.

“Balik badan, Mbak. Siap-siap saya tarik, ya.” Aba-aba itu datang dari Mas Dodit. Pemandu kami yang keren banget dan menjadi satu-satunya orang yang tersisa di atas perahu karet. Asli, orang ini ngeselin dan tidak setia kawan. 😆 😛

“Bentar, Mas. Nyawaku urung balik iki.” Mas Dodit pun tertawa puas, sambil ngasih kode apa itu laah, kepada tim rescue. Jeram Tsunami bikin gila-gila sedaaaap!

Tak lama setelah aku berada di atas perahu bersama Afri dan Mas Abi, dua teman kami DIKEMBALIKAN ke asalnya. Hanif diselamatkan oleh tim rescue. Mas Halim, ternyata ada di depan perahu, namun tidak nampak, karena ternyata Mas Halim sedang mengatur napas di sana. 😀 Sementara si Go Pro milik Hanif, alhamdulillaah sudah diselamatkan terlebih dahulu oleh Mas Dodit.

“Go Pro, Mas. Go Pro punyaku.” Hanif sempat takut Go Pro kesayangannya hanyut. Sebelum menyelamatkan kami, ternyata Mas Dodit terlebih dahulu mengambil Go Pro yang nyantol di tali perahu bagian depan. Tuh kan, Mas Dodit JAHAT! Go Pro dulu, baru Manusia. 😆

rafting-di-banjarnegara
Andai Go Pro ini hanyut, ya…HAHAHA

Beberapa kali, aku memohon kepada Mas Dodit untuk tidak menceburkan tim kami dengan alasan karena aku belum lihai renang. Mas Abi pun mendukungku. Namun, Si Hanif kerap bertanya tentang game-game yang dapat dinikmati. Sesekali Mas Dodit menjawab “Nanti di sana.” Namun, tidak memberi perincian game-nya seperti apa. Mungkin, ini yang membuat Mas Dodit gemas.

“Kayaknya ini anak pada memang minta diceblungiin ke Sungai.” Begitu gumam Mas Dodit, mungkin.

Dari 19 blogger (karena minus Mbak Olipe), terpisah menjadi 5 perahu karet, hanya perahu kami yang mendapat kejutan Jeram Tsunami. LUAR BIASAAA LUAAAR BIASAA ASYIK TENAN! Rasanya…terharu bangeeet! Tidak bisa berenang, tapi diberi kesempatan untuk menjajal Jeram Tsunami. Wuwuwuw…Mas Dodit, makasih, ya. Dikau mancen hebat!

Omong-omong, permohonanku sengaja tidak dikabulkan oleh Mas Dodit lantaran timku HEBOH, menurutnya. Dari semangat dan kehebohan yang tercipta, layak diberi kejutan Jeram Tsunami.

Selalu selfie di depan Air Terjun Serayu…

Di sini aku merasa terharu (lagi). Betapa Mas Dodit begitu percaya kepada kami. Atas ini semua, ternyata Mas Dodit sudah mempersiapkan segalanya, sudah memikirkan risiko-risiko yang bakal terjadi, melakukan kontak dengan tim rescue untuk siaga.

Rafting mulai dari The Pikas sampai Surya Yudha Park, teriak sekuatnya, pacu adrenaline di jeram-jeram yang menantang, sudah include jamuan Mendoan, Sebutir Kelapa Muda (setibanya di finish), penjemputan dari SYP sampai The Pikas lagi, cukup membayar rP 205.000 per orang. Masih banyak paket yang bisa dijajal mulai dari jarak tempuh 7-26 km, dengan harga mulai Rp 150.000 – Rp 375.000 per orang.

Aku merekomendasikan Bannyu Woong Adventure sebagai pemandu rafting Sungai Serayu Banjarnegara. Pertimbangannya adalah sebagai berikut:

  1. Akses menuju base camp  Bannyu Woong yang berada di kompleks The Pikas sangat mudah.
  2. Pemandu Rafting dan rescue  sudah berpengalaman, handal, profesional, ramah dan lucu-lucuuuw.
  3. Harga terjangkau.
  4. Terdapat Penginapan The Pikas Resort, lengkap beserta Resto yang bernama Pikasto.

AAAAAAA…PINGIN RAFTING LAGI BARENG BLOGGERS DAN TERIAK-TERIAK LAGIIIII …..! KAPAN YOOOK!

Bannyu Woong Adventure

  • Alamat: Jl. Raya Madukara No. 1, Ds. Kutayasa, Kec. Madukara, Kec. Banjarnegara, Jawa Tengah 53482
    Provinsi: Jawa Tengah;
  • Jam buka: 08.00–17.00 WIB;
  • Telepon: (0286) 593000;
  • Reservasi: +628122662155 (Mas Fajar), +6281327143559 (Mas Firdaus), +6281585386575 (Mas Gundul);
  • Email: banyuwong@yahoo.com;
  • Website: http://banyuwong.com/;

Pengalaman Menginap di Cottage The PIKAS Resort

The Pikas menjadi titik kumpul bagi 20 Blogger yang mengikuti Blogger Trip bertajuk “Blogger Plesir Maring Banjarnegara.” Tema yang khas banget! Ngapak-ngapak kepenak. 😆

Sekadar informasi, tema yang diusung kali ini merupakan tagline dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Mereka yang memberi kesempatan kepada kami untuk explore wisata Banjarnegara.

Ayo Plesir Maring Banjarnegara, atau dalam bahasa Indonesia Ayo Berwisata ke Banjarnegara. Itulah tagline aslinya. Berhubung pesertanya adalah para Blogger, jadilah kami masuk frame. 😆

Membaca rundown yang dikirim oleh Dinbudpar Banjarnegara, pemilihan The Pikas Resort sebagai tempat penginapan adalah pilihan yang tepat. Kenapa? Karena, lokasi The Pikas Resort mudah dijangkau dari arah mana saja. Dekat dengan jalan raya propinsi, yang mana beberapa teman Blogger ada yang menggunakan transportasi umum. Mas Halim, Blogger dari Kota Solo, misalnya. Dia menggunakan Bus.

Selain itu, kegiatan pertama yaitu rafting di sungai serayu yang didampingi oleh Guide dan tim rescue Bannyuwoong, start from The Pikas. Jadi pagi harinya, peserta cukup kucek-kucek mata, sarapan, dilanjut memakai pelampung, helm, bawa dayung, pemanasan, kemudian masuk boat! 

Pilihan yang tepat, bukan?

penginapan-pikas-resort
Jembatan menuju Balai The Pikas

Sore itu, aku datang bersama Si Kecil, dan langsung menuju Pendopo atau Balai The Pikas untuk mencari informasi tentang keberadaan Teman-teman Blogger. Menjadi peserta dengan jarak tempuh terdekat dari The Pikas Resort, tapi terlambat. Luar biasa banget.

Tepat di depan Balai, lelaki yang mengenakan kaus oblong warna biru memberi informasi, bahwa Teman-teman sudah datang.

Teman-teman cowok yang berjumlah dua belas, menempati Cottage Lumbir 4 dan 5. Sementara, delapan Perempuan di Cottage Lumbir 2.

Nama masing-masing cottage tidak terlihat dari jalan masuk cottage, makanya aku minta tolong kepada salah satu karyawan The Pikas untuk mengantar sampai Lumbir 2. Manja banget, ya. Hahahaha

For your information, The Pikas Resort menawarkan 10 cottage yang masing-masing punya nama: Lumbir 1-5, Sabin Timur, Sabin Barat, Jawa Mini, Jabar dan Jatim. Cottage terluas yaitu Sabin Timur dan Barat dengan kapasitas 7 orang. Sedangkan yang paling kecil yaitu Jawa Mini yang dapat dihuni 2 orang.

Cottage Lumbir hampir semua berkapasitas enam orang, kecuali Lumbir 1 yang berkapasitas empat orang. Tempatku bermalam, yaitu Lumbir 2 yang biasanya berisi enam orang, malam itu dihuni tujuh orang, dan satu bayi. 😆 Betapa The Pikas Resort ramah dompet, ya. Cocok banget untuk menginap a la backpacker yang ngetripnya rombongan. 😛

Memasuki area Cottage, aku terpana dengan suguhan alam yang segarnya luar biasa. Hamparan sawah, pemandangan penuh hujau, dipadu dengan udara segar. Aku yang tinggal di desa melihat hamparan sawah saja sampai terpukau, ya. Ya maklum, sih. Ini pemandangan alamnya lain, Sist. Sawah, Pepohonan, Bunga, ada di antara Cottage. Kebayang sehatnya, kan?

Dua cottage yaitu Jawa Mini, dan Sabin, betul-betul berada di tengah sawah. Sementara kompleks Lumbir, begitu rindang dengan aneka pepohonan hijau. Kompleks ini cocok banget buat jogging pagi hari. Ya…meski bukan jogging track, tapi udara pagi sekitar Cottage sayang banget dibiarkan begitu saja. Minimal, keliling Cottage, sambil jeprat-jepret pemandangan sekitar yang begitu memikat.

Kira-kira jam 23.00 WIB, hujan turun dengan derasnya, dan aku masih terjaga. Jadi teringat beberapa jam lalu sebelum hujan, kami makan jagung bakar yang telah disediakan oleh panitia. Andai bisa menggigit jagung dikala hujan, tambah hangat, dan nikmat. 😀

penginapan-di-banjarnegara2
Kawasan Lumbir yang memikat…

Etapi, saat jagung mulai dibakar, dan ada suguhan supermoon kira-kira jam 20.00 WIB, suasana di Balai The Pikas juga tidak kalah hangat. Terlebih alunan musik, dan suara Bapak Dwi, Kepala Dinbudpar, yang serak-serak sedap terus menemani para Blogger yang tengah asyik berpesta jagung bakar.

Di luar, hujan boleh turun dengan derasnya. Tapi, bagi kami yang ada di dalam Lumbir, tidur berjejer di atas matras, merasa makin hangat. Selimut cukup tebal, suara katak saling bersahutan, aliran kali serayu makin terdengar jelas. Syahdu. Tidur di samping si kecil, memeluknya erat, menambah hangat suasana malam itu.

Awalnya, aku sempat kaget dengan hujan yang tiba-tiba turun karena sebelumnya kami telah menikmati supermoon. Selain itu, aku cukup was-was, andai Lumbir 2 sampai bocor. 😀 Kebayang, dong, ada Si Kecil di sampingku. Kasihan.

 

A photo posted by Sii Olipe (@olipe_oile) on

 

Perasaan was was itu wajar, melihat desain cottage yang unik, dengan bentuk rumah panggung. Dinding dan lantai semua berbahan kayu. Dinding kanan kiri didesain miring, kira-kira 30 derajat. Sementara, bagian atap cottage itu plong. Pemandangan ke atas langsung tertuju pada genting, beserta kayu-kayu. The Pikas Resort, desain penginapan khas pedesaan.

Pihak The Pikas Resort pasti sudah melakukan pengecekan sebelumnya. Itu pasti. Mereka akan memberi pelayanan terbaik untuk para Tetamu. Termasuk adanya lotion anti nyamuk.

Kelihatannya memang sepele, tapi mereka sadar bahwa cottage berada di sekitar Kolam, Kali Serayu, Sawah, dan Perkebunan. Makanya, mereka menyediakan lotion anti nyamuk buat persediaan. Beruntung banget yang mereka sediakan adalah lotion, bukan obat nyamuk semprot atau listrik. Jadi, Si Kecil aman karena lotion lebih ramah.

Alamat The Pikas Resort
Yang segar gini menambah semangat!

Sampai pada fasilitas penting sebuah penginapan, Cottage di The Pikas Resort menyediakan dua macam kamar mandi, yaitu kamar mandi utama dan kamar mandi bersama.

Adanya fasilitas rekreasi seperti Outbound, Rafting, The Pikas Resort seperti sengaja menyediakan kamar mandi bersama di dalam Cottage. Memang, tidak jauh dari Balai The Pikas terdapat empat toilet mandi umum, namun kamar mandi bersama dengan sekat gorden yang ada di dalam Cottage memberi kenyamanan tersendiri bagi Tetamu yang punya rencana menginap, sekaligus rafting di The Pikas. Tidak perlu antre untuk masalah mandi.

penginapan-resort-banjarnegara
Kamar mandi bersama. . .

Kamar mandi utama yang disediakan oleh The Pikas Resort cukup sederhana. Satu closet, dan satu set peralatan mandi. Perlengkapan mandi seperti: sabun, shampo, sikat gigit, pasta gigi, handuk, dll dll, belum disediakan. Ada baiknya, dimanapun akan menginap, bawalah perlengkapan mandi. Tidak ada salahnya lebih siap, kan. Okay? 😉

Omong-omong, air di The Pikas Resort hanya ada air dingin. Air hangat belum disediakan. Tapi, mengingat Banjarnegara tidak selalu dingin, air hangat tidak begitu dibutuhkan. Apalagi lokasi The Pikas Resort tidak begitu jauh dari kota. Kerap panas di sini. Semisal membutuhkan air hangat, Tetamu bisa langsung ke Pikasto. Resto milik The Pikas yang berada di sebelah kanan Balai.

penginapan-pikas-resort-2
Kamar mandi dalam, nih. . .

Ya, The Pikas mempunyai resto yang bernama Pikasto. Tetamu yang menginap di The Pikas Resort dapat memanfaatkan resto ini. Jika menginap di sini, menikmati masakan khas Desa di pagi hari sudah termasuk fasilitas. Menu masakan di Pikasto berragam. Nasi Bakar menjadi menu andalan di sini. Tetamu boleh memesan nasi bakar jika mau, dan mungkin berbayar. Karena, menu masakan include yang disediakan biasanya menu ayam rica-rica, atau nasi goreng.

Seperti sarapan, dan makan malam yang telah kami nikmati. Menu makanannya memang biasa, standard. Yang menjadi beda, dan spesial yaitu suasana. Sarapan nasi goreng di tepi kali serayu dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Atau, sarapan bisa dibawa ke Cottage, duduk di kursi yang disediakan di teras depan Cottage. Suasana serta pemandangan di depan Cottage juga tidak kalah asyik.

penginapan-pikas-resort-banjarnegara
Mbak Olip makannya sedumil banget. . .

Oiya, Wi-Fi di penginapan ini belum sampai Cottage. Provider internet yang paling bagus dipakai di sini yaitu Indosat dan Telkomsel. Tidak ada salahnya siap siaga membawa modem, atau mengisi paket data selular jika ada dateline pekerjaan.

Fasilitas penunjang lainnya yaitu ada tempat parkir yang luas di dekat pintu masuk The Pikas, mushala, kamar mandi, paket outbound, dan paket rafting.

Untuk mencapai The Pikas Resort, dari lampu merah pertigaan Desa Singamerta, Kecamatan Sigaluh, ambil arah kiri, ikuti jalan raya. The Pikas Resort ada di sebelah kiri jalan setelah jembatan yang melintasi sungai serayu.

Alternatif lain, jika menggunakan transportasi umum, dari pertigaan Singamerta, pilih angkutan umum warna biru dengan abjad “B” jurusan Madukara, atau Minibus jurusan Pagentan. Naik angkutan umum sampai depan The Pikas cukup bayar Rp 2.000.

Bagi yang suka olahraga, bisa jalan kaki. Jarak tempuh dari pertigaan Singamerta kurang lebih 700 meter. Cukup dekat, bukan?

the-pikas-resort-banjarnegara
Angetnya bobok di Cottage ini…

Ayo plesir maring Banjarnegara, dan pilih The Pikas Resort menjadi bagian dari perjalanan wisata ke Banjarnegara. Penginapan dengan konsep alam, nuansa khas pedesaan, akan membuat betah berlama-lama di sini. Asli. ^-*

The Pikas Resort Banjarnegara

  • Alamat: Jl. Raya Madukara, Desa Kutayasa, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.
  • Rate: Rp 400.000-Rp 750.000,-
  • Extra bed: Rp 100.000
  • Include: Air Mineral, Kamar Mandi Dalam, Kasur Busa, Selimut dan Makan Pagi.
  • Reservasi: (0286)593000|081585386575

20 Blogger Ini #PlesirMaringBanjarnegara

Hari Blogger Nasional hampir sebulan berlalu. Namun, keinginan para alumni Ketenger untuk merayakan hari spesial bagi para Blogger justeru tambah memanas, ganas. Harapan untuk bersilaturrahim juga makin menggebu.

Beberapa Blogger Ketenger memang punya hobi jelajah wisata. Mengingat beberapa member berdomisili di Banjarnegara, dan daya tarik objek wisata di Banjarnegara luar biasa banyaknya, kami pun memutuskan untuk mengexplore rindu di sini, di kota yang adem, ayem, tenang, aman dan damai. 😛 Ini gimana ceritanya bisa sampai explore rindu? 😆

Prosedur untuk kembali explore wisata kota tertentu, dalam hal ini yaitu Banjarnegara, ternyata tidak sesulit memecah telor dalam botol. Hahahaha Sekali datang ke Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara bersama teman-teman Blogger Banjarnegara, mereka welcome dengan niat kami untuk jelajah objek wisata unggulan Banjarnegara. Tentunya syarat dan ketentuan akan berlaku, dong.

Permisi, Bu Widhi. Kami mau ini itu di Banjarnegara. Niatnya, kami akan meryakan Hari Blogger Nasional, meski nanti waktunya tidak tepat pada tanggal 27 Oktober 2016. Kami datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pasti bisa ya, Bu. Pasti bisaaa!

Ya, kami langsung menemui Bu Widhi, Kasi Pemasaran Dinbudpar Banjarnegara. Penuh harap, langkah yang kami ambil tidak salah.

“Pertengahan Nopember, rencananya kami akan mengadakan Famtrip………….”

Deeegh!

Baru sampai kata rencananya, aku bahagia banget mendengarnya. Ini semacam ada kesempatan buat kami unjuk gigi untuk BANJARNEGARA, tanah kelahiranku yang banyak potensi wisatanya. Asli, aku tidak membohongi kalean.

Alhamdulillaah, rencana Famtrip TERWUJUD! Selama tiga hari dua malam, kami explore rindu wisata Banjarnegara, tanpa drama. Rintik hujan yang membasahi bumi The Pikas kami terima dengan hati riang. Rafting tetap berlanjut dengan seru. Pun dengan wisata tur wisata Dieng. Blogger Trip berjalan cantik, nggemesyin, dan sukses menyisakan rindu (lagi). 😛

Untuk mengeksiskan wisata Banjarnegara melalui media sosial, kami sepakat menggunakan tagar atau hastag #AyoPlesirBanjarnegara dan #PesonaBanjarnegara. 20 Blogger ini #PlesirMaringBanjarnegara,  dan explore #PesonaBanjarnegara yang sempat menjadi trending topic di twitter. *Peluuk Martin*

1. NYONG dan Si Kecemut | www.idahceris.com

A photo posted by Idah (@idahceris) on

 

2. Nelitanzila | www.ceriswisata.com

A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on

3. Mas Halim | https://jejakbocahilang.wordpress.com

A photo posted by Halim San (@halimsantoso) on

4. Mbak Lidya | www.fitrian.net

A photo posted by @fitrian on

5. Mas Jujun | www.eventbanjarnegara.com

A photo posted by Jujun Afiat (@jujun_afiat) on

6. Mbak Olip | www.olipeoile.com

A photo posted by Sii Olipe (@olipe_oile) on

7. Pungky | www.pungkyprayitno.com

A photo posted by Pungky Prayitno (@pungkyprayitno) on

8. Mbak Rian | www.kulinerwisata.com

A photo posted by Atanasia Rian (@atanasia_rian) on

9. Mas Ganjar | www.banjarnegaraku.com

A photo posted by Ganjar Swasono Gumilar (@gsgumilar) on

10. Pakde Topan | www.surgakecil.com

A photo posted by PURWOKERTO, INDONESIA (@surgakecil) on

11. Agil | www.agilyanuar.com

A photo posted by Agil Yanuar (@agil_yanuar) on

12. Mas Pradna | www.bloggerbanyumas.or.id

A photo posted by Pradna Paramita (@pradna) on

13. Vandy | www.sastraananta.com

A photo posted by Fandhy Achmad Romadhon (@vandy_ar) on

14. Afri | www.afriantipratiwi.com

A photo posted by Afrianti Eka Pratiwi (@afriantipratiwi) on

15. Lutfi | https://fahrezy.wordpress.com

A photo posted by Lutfie Achmad Fahrezy (@lutfiachmadfahrezy) on

16. Mbak Tika | www.otwblog.com

A photo posted by Kartika Dwi Yuliastuti (@tikaskus) on

17. Hanif | www.insanwisata.com

A photo posted by insanwisata (@insanwisata) on

 

18. Mas Erwin | www.erwinabdillah.com

A photo posted by Erwin Abdillah (@erwinabcd) on

19. Mas Abi | www.kompasiana.com/abihasantoso

A photo posted by Abi Hasantoso (@abi_hasantoso) on

20. Mas Imam | www.acarakita.net

A photo posted by Lij Imam Nurrokhman (@lijimam) on

 

Terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang sudah memfasilitasi, dan mendampingi Famtrip ini. Makasih juga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah atas supportnya. Kepada pelaku usaha: RM. Sari Rahayu, @thepikasresort, Bannyuwoong Rafting, D’Qiano Waterpark, UPT Dieng, dan Oleh-oleh Tri Sakti. Makasiiih semuanyaa. Love you all, and Miss you all. #TerMasAbi

Btw, Ada yang belum kenal dengan Blogger di atas? Ada yang belum follow akun Instagram mereka? Kenalan dulu dengan cara follow mereka. Temukan hastag #PesonaBanjarnegara di Instagram dan jangan lupa #AyoPlesirBanjarnegara! Banyak bahagianya, ketimbang dramanya. Asli. 😉

Cara Asyik Menikmati Telaga Paling Memesona di Jawa Tengah

Jawa Tengah, sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa mempunyai segudang destinasi wisata menarik. Asli. Tidak sedikit kota di Jawa Tengah mempunyai warisan Budaya yang tmasih terrekam sampai sekarang. Wisata Sejarah, Kuliner dan objek wisata yang saat ini makin banyak dicari, dikunjungi wisatawan. Adalah Wisata Alam.

Sebutlah Banjarnegara, salah satu Kabupaten di Jawa Tengah dimana destinasai Wisata Alamnya makin banyak. Tidak sedikit objek wisata alam yang baru-baru ini bermunculan di Banjarnegara, Jawa Tengah. Curug-curug tersembunyi di Desa-desa bagian atas, misalnya. Menambah daftar deretan wisata alam yang layak dikunjungi ketika singgah di Banjarnegara. Pun termasuk telaga yang paling memesona di Jawa Tengah. Memang, telaga ini bukan telaga baru, hanya saja gaungnya mulai terdengar.

Sore itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur jalan Selomerto, Wonosobo. Kami yang tengah asyik menambah kecepatan laju sepeda motor, tanpa kompromi, menepi ke deretan Rumah Toko yang berada di pingir jalan raya.

Pakai mantel, dan amankan barang bawaan, ya. Kita akan menerjang hujan sampai lokasi.” Mas Ganjar, lelaki yang memimpin perjalanan menuju Telaga, mengambil keputusan yang luar biasa. Nampak tidak ada rasa was was , atau takut, sedikitpun.

Ya…gimana lagi, menuju telaga paling indah di Jawa Tengah adalah salah satu napsu yang sempat memuncak dari zaman jahiliyah. Kebanyang lah, ya. Makanya jangan heran, Mas Ganjar sampai mengeluarkan jurus kuda lumping.

Tidak sampai sepuluh menit persiapan, kami kembali melaju. Alhamdulillaah… hujan deras hanya sampai Dieng Wetan, Wonosobo. Ya, untuk mencapai Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah, kami memilih jalur Wonosobo dengan waktu tempuh kira-kira 90 menit dari tengah kota Banjarnegara. Alasan memilih akses ini tak lain karena jalan menuju Dringo lebih mudah dijangkau. Akses lainnya yaitu lewat jalur Banjarnegara kira-kira selisih 15 menit perjalanan. Memang lebih cepat, tapi kondisi jalan kurang bagus. Sejauh ini, akses menuju Telaga Dringo lebih nyaman melalui jalan Wonosobo-Dieng.

1 TELAGA DRINGO BANJARNEGARA
View dari depan tenda…

Melihat suguhan Telaga Dringo yang tidak hanya sekadar memesona, sekaligus perjalanan yang bisa dibilang cukup nekat ini menjadi moment yang susah dilupakan.

Mengendarai sepeda motor matic di jalan yang belum beraspal. Naik, temurun, dan beberapa kali sempat tidak percaya diri ketika menjumpai kelokan yang mana membuat gerogi. Nanjak, berkelok, dengan medan masih berupa tanah, dan bebatuan yang kurang tersusun.

Satu motor sempat terselip, motor matic yang dikendarai Mas Eko dan Lulu. Sementara motor satunya yang dikendarai Mas Ivan dan Winda sempat ngetril heboh karena KELEBIHAN MUATAN. HAHAHAHAHA *ngelirik Winda* Sedangkan motor Mas Ganjar aman, karena aku lebih memilih jalan kaki sampai lokasi meski bikin betis makin mlentis, tungkak pegal, dan si pahe makin kuat. Ini moment banget! Asli. Makanya, ke Telaga Dringo sampai tidak bermalam itu rugiiiii. Asli, rugiii banget. Kareba ada banyak cara asyik untuk menikmati keindahan alam Dringo.

Berikut cara asyik menikmati Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah. Cara asyik yang pernah kami lakukan bersama.

Jogging

Udara Dringo di pagi hari khas banget. Belum banyak Petani berlalu lalang di sekitar Telaga. Pemandangan alam nan hijau, perbukitan kanan-kiri, hamparan rumput, serta banyaknya pohon di antara perbukitan, menggugah semangat pagi hari untuk jogging. Cukup satu putaran, sukses membuat napas ngos-ngosan, baju basah karena keringat. Memori kamera juga ikut fresh kareana full dengan lanskap pemandangan alam.

2 SISI LAIN TELAGA DRINGO
Sayap kanan Dringo…

Ya…bagaimana tidak. Baru mau start jogging, sudah dihadapkan dengan pesona bukit Dringo yang segarnya melebihi Kang Al Ghazali abis mandi. Gunung yang berada di seberang, seakan berbisik: “jepret aku, jepret aku, dong. Jepret aku yang gagah, maskulin. Please.”

Telaga yang berada di perbatasan antara Kabupaten Batang dan Banjarnegara, dan lebih dikenal milik Banjarnegara ini asyik banget buat jogging. Jalan setapak yang kerap digunakan Petani sebagai akses menuju ladang, cukup membantu untuk olahraga Jogging. Sambil mencari embun, atau menanti Sunset. Jogging disekitar Dringo begitu mengasyikkan. Apalagi, teman seperjalanan pada semangat jogging. Nular, deh.

Camping

Telaga yang berada di ketinggian 2.222 m dpl merupakan telaga tertinggi di Pulau Jawa. Kebayang asyiknya camping di Dringo, kan? Camping di kawasan hutan yang -semoga- seterusnya akan terjaga kelesatariannya (aamiin), hutan heterogen, hutan yang membuat kami betah karena banyak pohon yang asyik banget buat pepotoan. Lha, ini pepotoan lagiii. 😆

“Cukup dengan tiga sampai empat jam di Dringo tanpa menginap!”

1 TELAGA DRINGO CAMPING

telaga-paling-memesona-di-jawa-tengah

Duuh…serius? Camping laah…CAMPING! Meski Telaga ini belum ada yang “ngejagain”, tapi camping di sini aman. Panggil saja Mas Ivan via udara, jika ingin merasa lebih aman jiwa, raga dan juga perut. Dia akan siap menjaga kalian dengan syarat dan ketentuan berlaku. Qiqiqiqi

Penduduk setempat yaitu penduduk Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara, sepertinya belum tergugah untuk andil mengelola Telaga sebagai objek wisata. Telaga ini sepenuhnya dikelola oleh Dinas Kehutaanan dan sampai sekarang belum dijadikan objek wisata. Hanya menitip jejak, atau camping sepuasnya di sini, tidak dikenakan biaya.

Naik Bukit!

Sist, kalau sudah sampai Telaga Dringo dan camping, please jangan cuma boboan di tenda, ya. Jangan hanya numpang makan dan minum di tenda. Naiklah ke Bukit. Ada kado spesial di atas sana.

Perjalanan menuju Telaga saja sudah penuh perjuangan, ya. Dari kompleks Candi Dieng, kurang lebih 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Belum lagi, treckkingnya yang membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dari jalan masuk, sesampainya kawasan hutan. Sayang banget kalau hanya menikmati dengan cara duduk di tepi Telaga.

Duuuh…galau ya, Sist? Qiqiqiqi

telaga-dringo-3-dieng
Bukit Dringo sebelah selatan. . .

Dringo cukup dekat dengan obyek wisata Kawah Candradimuka dan Sumur Jalatunda. Pernah mendengar dua objek wisata tersebut, kan? Kalau belum pernah, browsing dulu, deh. Atau, langsung ke sini aja, merasakan sensasi medan off-road untuk melihat Kawah Candradimuka dan tentunya Telaga yang paling memesona di Pula Jawa. *serius, paling memesona di Pulau Jawa* *tidak hanya di Jawa Tengah* *tidak percaya* *makanya ke Dringo*

Salah satu objek wisata yang kusebut, yaitu Sumur Jalatunda, dapat dilihat diameternya dari bukit Dringo, dan itu nampak unik syekali. Lihat, tuh, foto di atas. Nampak ada lubang dekat kepalaku, kan? Itu Sumur Jalatunda yang dipercaya bisa membuatmu berhasil keliling dunia jika bisa melempar batu sampai seberang Sumur.

Hah? Ini serius? 

Ya…coba saja tanya kepada penjaga objek wisata Sumur Jalatunda, ya. HAAAAAAP!

Di dekat bukit sebelah selatan, banyak tanaman Kentang yang mana perairannya mengambil dari Telaga Dringo. Bukit paling unik, dan sempat membuatku berpikir keras yaitu bukit yang berada di sebelah kanan, atau utara Telaga. Selain banyak pohon yang instagenic, di atas bukit ada pemakaman yang sama sekali tidak horror. 😆 😛

telaga-dringo-2-jawa-tengah
Kalau malam-malam, mana bisa deketan gini, ya. Hahahaha

Uwoooo…semalam tenda kita, tempat bobok kita, ternyata dekat dengan pemakaman, ya! Sedaap benar!😛

Tidak usah menghayal, atau berpikir macam-macam, ya. Pemakaman ini bukan pemakaman pada umumnya, kok. Menurut penduduk setempat, beberapa tahun silam pernah ditemukan tulang-tulang di sekitar Bukit. Wara memilih untuk menguburnya. Tulang-tulang tersebut entah tulang manusia atau hewan, aku tidak ingat. Padahal, Lulu dan Winda sempat menanyakannya kepada salah seorang Petani yang sedan memanen Kentang di Ladang dekat bukit. Tapiii…aku lupa. 😆

Pepotoan!

Ini wajib banget dilakukan. Apalagi sebagai Blogger, tidak cukup dengan lima puluh jepretan. Meski hasil jepretaku biasa-biasa saja, tapi setidaknya punya dokumentasi di Dringo yang akan menjadi kenangan sepanjang masa. Dan yang paling penting, foto-foto yang diambil bisa dijadikan blog post, sekalipun itu foto narsiiiis. 😛

TELAGA DRINGO BANJARNEGARA
Anak Pohon pasti betah di sini!

Ada banyak spot menarik di Telaga Dringo. Makanya, saat piknik ke Dieng, sempatkan untuk datang ke Telaga Dringo, telaga paling memesona di Pulau Jawa! 😉

Eiya…di kawasan Dringo ini masih bersih, dan akan terus bersih dari yang namanya sampah. Makanya, perlu banget menyiapkan wadah untuk membawa pulang sampah-sampah yang telah diciptakan manusia. Atau, korek api juga bisa. Siapa tahu ada plastik-plastik yang tertinggal di Dringo. Kita sama-sama menjaga Dringo supaya terus dan makin memesona.

telaga-dringo-1-banjarnegara
Berkabut, dan tetap memesona. Dringo!

Sekali lagi, jika sudah sampai kawasan Dataran Tinggi Dieng, atau Kawasan Candi Arjuna, Banjarnegara, singgah lah di Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah. Jangan lupa, ceritakan pengalaman terbaikmu. Ceritakan kepada Dunia melalu media blog, instagram, twitter, facebook, atau media sosial lainnya. Ya ya ya…

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah