PONDOK PESANTREN PENGHAFAL AL-QUR'AN

Jejaknya, Di Setiap Sudut

Bulan lalu, Ibu Ade Rahmawati mengajak saya berkeliling menggunakan mesin lorong waktu. Ajakan via The Liebster Award, sih. Hahaha Jika ada lorong waktu beneran di dunia nyata, saya memilih kembali pada satu masa, dimana saya berusia dua belas tahun. Usia dimana saya sedang senang-senangnya mengikuti ekskul PMR dan Pramuka. Atau, ketika saya mulai semangat mengaji bersama Ust. Shofwan di Majlis Ta’lim.

Ust. Shofwan? Siapa dia? Ya, saya akan memperkenalkan siapa sosok Ust. Shofwan kepada para pembaca setia blog ini. #kayak sudah banyak readernya ajah. Hahaha

Jika memanggil seseorang dengan sebutan Ustadz, maka yang muncul pertama kali dalam pikiran adalah sosok laki-laki sholeh, pintar, dimana ia memiliki kemampuan untuk berdakwah secara baik. Mempunyai ilmu agama (islam) yang cukup tinggi, bisa mengisi pengajian dan bisa berceramah. Begitulah kiranya cerminan dari seorang Ustadz. Dan tercermin pula pada sosok Ust. Shofwan.

Saya mengenal sosoknya dengan baik, karena pernah diajar olehnya. Kami juga tinggal satu desa dan sering terlibat dalam kegiatan yang sama di Desa. Terkait pendidikan, ia pernah menuntut ilmu, menjadi santri di Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcin selama sembilan tahun.

Adakah diantara kamu yang belum tahu PonPes Bambu Runcing? PonPes ini terletak di kota Temanggung, Jawa Tengah. Jika ada yang ingin tahu sedikit tentang PonPes Kyai Parak, silakan klik saja tautan PonPes Bambu Runcing.

Sesaat sebelum pengajian malam nuzulul qur’an, saya ngobrol santai bersama isteri Ust. Shofwan. Tetiba, ia bercerita kalau jadwal kegiatan Ust. Shofwan sebenarnya tidak terlalu padat. Hanya saja, ia cukup aktif dalam berbagai kegiatan. Tiap kali ada undangan, ia akan menghadirinya. Pun dengan sebuah kepercayaan. Ketika dipercaya memimpin suatu acara atau kegiatan, ia pun akan menanganinya secara amanah. Jadi, jangan heran kalau jejaknya ada di setiap sudut.

PELETAKKAN BATU PERTAMA PONDOK PESANTREN

Semangat menyanyikan mars TPQ. . .

Hampir tiap hari suaranya didengar oleh seluruh masyarakat. Dari surau masjid satu, ke masjid lainnya. Entah bertugas sebagai pembawa acara, maupun pemateri. Telinga ini pun seakan sudah hafal dengan suara lembut miliknya yang terkadang ngantuki. Hahaha

Seorang Bapak dari dua anak ini adalah sosok Ustadz yang rajin dan istiqomah. Disaat teman seperjuangannya memutuskan untuk vakum dan atau berhenti mengajar, justru dia malah terus menggali potensi diri. Ya, potensi diri yang sekiranya bisa bermanfaat. Terlebih ketika mendapat isteri sholihah, seorang khafidzoh, semangat untuk berbaginya makin menggebu.

Bisa jadi karena mereka memiliki visi dan misi yang sama dalam berbagi dan mencintai agamanya. Berbekal tanah satu petak yang dikasih oleh orangtuanya, ia berniat akan menjadikannya sebuah Pondok Pesantren khusus untuk anak-anak yang ingin belajar Kitab Kuning dan mengahafal Al-Qur’an. Menurut saya keren banget!

Jejaknya tak terhenti pada sebuah masjid atau mushalla saja. Saya makin kagum, ketika ia berani melangkah bersama isterinya untuk membangun Pondok Pesantren Kyai Parak Al-Banjari. Ya, pondok yang akan ia dirikan merupakan anak cabang dari pondok pesantren yang pernah membesarkannya. Menjadikannya orang yang kaya manfaat seperti sekarang ini.

PEJABAT YANG MENGHADIRI PERESMIAN PONDOK PESANTREN

Ketika acara peletakkan batu pertama. . .

Pembangunan ini diawali dengan peletakkan batu pertama oleh Bapak Bupati yang dibarengi dengan peringatan maulud Nabi Muhammad SAW. Mengingat hasil swadaya dari masyarakat serta sumbangan dari pemerintah daerah belum mencukupi untuk kebutuhan pembangunan secara keseluruhan, maka pembangunannya pun akan dilakukan secara bertahap. Memang, sih, zaman sekarang kalau akan membuat sebuah bangunan membutuhkan dana yang tidak sedikit karena mahalnya material.

Tapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau untuk terus bergerak mewujudkan niat baiknya. Rezeki bisa bisa datang dari pintu mana saja, dari Sang Pemberi. Apalagi untuk hal kebaikan seperti ini, pasti akan mudah dicari. Yang terpenting baginya adalah niat baik untuk berbagi ilmu yang telah ia dapat bisa tersalurkan, bermanfaat dan menjadi amal jariah nantinya. Hal tersebut sudah cukup membahagiakan hatinya.

Semangat berbaginya tak hanya fokus pada satu titik saja. Selama bulan ramadhan, ia pun merancang kegiatan ramadhan dengan membuat jadwal amaliyah ramadhan. Mulai dari kegiatan kuliah subuh, pengajian bakdal shalat ashar, Kajian Kitab Kuning, belajar tilawah untuk anak-anak, tadarus bergilir, dll.

ORANG-ORANG YANG MENGINSPIRASA

Sesaat, sebelum berangkat nuzulul qur’an. . .

Makin terlihat nyata keaktifan beliau di berbagai macam program kegiatan. Tak salah, jika banyak tokoh masyarakat banyak yang mempercayainya untuk mempimpin suatu event Desa atau acara-acara penting lainnya. Keaktifannya tidak hanya terrekam di desa saja. Ditingkat Kecamatan, bahkan tingkat Kabupaten pun ia aktif di berbagai forum. Forum Pemuda Indonesia, misalnya.

Banyak hal yang yang saya kagumi dari sosok Ust. Shofwan. Salah satunya yaitu bahwa ia bukan desainer. Maksudnya, bukan tipikal seorang yang hanya aktif dibelakang layar saja. Namun, ia juga selalu berada di garda depan. Sebagai komandan, penggerak dan penggiat kegiatan. Sosok seperti inilah yang diinginkan oleh sebagian besar orang tua. Mengharumkan nama dengan meninggalkan jejak-jejak baik di setiap sudut.

Bersama Kita Sebarkan Kebaikan dengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal 19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta.

7 thoughts on “Jejaknya, Di Setiap Sudut

  1. Assalamu’alaikum…
    Terima kasih sudah berbagi cerita inspiratif ini, ya!
    Good luck! ^_^
    Emak Gaoel

    Wa’alaikumsalaam. Sama-sama, Mak Wind.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *