Menunggu Untuk Menyatu #FamTripJateng
Matahari masih malu menampakkan sinarnya pada Kamis pagi (4/12). Mendung. Aku pun yang saat itu akan mengikuti kegiatan Familiarization Tour (Fam Trip) ke…
Menulis Objek Wisata yang Telah Dikunjungi
Matahari masih malu menampakkan sinarnya pada Kamis pagi (4/12). Mendung. Aku pun yang saat itu akan mengikuti kegiatan Familiarization Tour (Fam Trip) ke…
Sebulan yang lalu, aku silaturrahim ke rumah salah satu teman Blogger yang tinggal Desa Karangsari, Pemalang. Enggak mau tebak-tebakkan ah. Sebut saja namanya…
Sekira pukul 16.45 WIB, kami sampai di Pos III pendakian Gunung Prau, Dieng. Tidak disangka, sesampainya di Pos tersebut, gerimis mulai turun. Aku…
Kecanduan Me Time di Waterpark Owabong – Weekend (18/10), adik perempuan yang biasa saya panggil Tante, mengajak ke Owabong yang merupakan waterpark yang paling tersohor di Kota Perwira, Purbalingga. Perjalanan ke Owabong dari rumah Tante, Kembangan, membutuhkan waktu empat puluh lima menit, karena kami saat itu belum paham rutenya. Sesampainya di sana, kami langsung membeli tiket masuk seharga Rp 23.000.
Tante cukup sering ke Owabong, jadi sudah hafal dimana tempat untuk menitipkan barang, untuk sewa ban, dan tempat yang bisa buat kami betah.
Berjalan kurang lebih tiga menit dari pintu masuk, kami langsung menuju tempat penitipan barang dan kemudian ganti baju. Sebelum nyemplung, saya melihat ada Flying Fox di dekat kolam anak. Jadilah kami bermain flying fox terlebih dahulu.
Bersiap-siap…kami request landingnya minta basah sebagai pemanasan. 😆 Kaki, tubuh masuk kolam sesat. Dan….byuurr…kami sampai di kolam arus. Di kolam arus ini banyak orang yang menikmati air menggunakan ban. Saya pun tertarik untuk ikut menyewa ban!
Sampai se dewasa ini, saya baru pertama kali sewa ban di waterpark. 😆 Dan ternyata asyik juga duduk di atas ban, kemudian berputar mengelilingi kolam arus. Apalagi kalau dapat bonus guyuran ember tumpah! Byuuur again!

Tepat di bawah ember tumpah, kami bertemu dua perempuan yang nampaknya juga sedang menikmati weekend. Kami cukup lama bermain bersama mereka. Sampai akhirnya kami keluar dari kolam arus, menepi sebentar untuk makan lutisan yang aku beli di Bus, kembali bertemu dengan dua perempuan itu lagi. Namanya Mbak Lia dan Mbak Desi.
Mereka berbagi cerita kalau sudah nyobain prosotan dua kali. Saya jadi ingat, sebelum berangkat Tante sempat bilang ingin main prosotan. Sebenarnya saya agak was was, khawatir dengan Tante yang belum bisa cipak-cipuk di kolam. Tapi karena ada bantuan si BAN, saya berani main prosotan.
Usai bermain prosotan, Tante mengajak aku untuk berrendam di Kolam Ari Hangat. Judulnya, sih, kolam air panas. Tapi, airnya anget kok. #songong. Baik di kolam utama, maupun kolam anget ini, kami banyak banget berceloteh. Apa saja dibicarakan, dan kesemuanya adalah cerita tidak penting.

Saya baru merasakan betapa nyamannya berbagi cerita sambil berrendam. Betah rasanya. Terlebih didukung dengan suasana yang cukup tenang. Saat hujan turun pun kami masih berrendam, masih bercerita, dan masih bermain-main. Sampai kami tidak ingat dengan lapar. Padahal, Si Bandeng, Si Oyong, dan Si Mendoan sudah menunggu. 
Pokoknya, saya enggak mau hanya sekali ke Owabong. Tante sudah bilang, kalau lain waktu akan mengajak saya ke Owabong lagi. Pokoknya (lagi), kalau kelamaan ngajaknya, saya samperin saja ke rumah. Saya tarik paksa ke Owabong. Dekat ini dari rumah Tante. Enggak sampai 30 menit kalau sudah tahu jalan. 😛
Betewe, kok ini pakai hastag #MeTime, ya? Bagusan #OurTime padahal, ya! Soal, saya kan tidak sendirian menikmati weekend minggu lalu yang bertepatan dengan hari lahir saya. 😳

Buat Tante, makasih, ya. Dua hari udah nemenin dolan. Sudah mempersiapkan semuanya, mentraktir, bawain bekal, dll. Jadi tambah eman lho…. 😆
Entah berapa banyak artikel terpublish di media online yang telah mengupas tentang keindahan Negeri di Atas Awan. Tidak berlebihan, jika saya mengatakan kalau…
Berpikir keras hanya untuk sekedar mengingat “kapan saya terakhir naik ojek”. Semakin mengingat, lha kok makin tidak terdeteksi dalam memori yang kapasitasnya tingal…
Setelah kemarin posting jalan-jalan dengan uang saku Rp 100.000 ke Kota Perwira, sekarang saatnya share wisata yang ada di kandang sendiri. Wisata ini…
Sabtu lalu, saya cukup banyak mendapat informasi dan pengetahuan baru dari aktivitas Blogwalking. Diantaranya yaitu; informasi mengenai Giveway (GA) tentang jalan-jalan dengan bekal uang saku Rp 100.000. GA ini diselenggarakan oleh Blog jalan-jalan. Salah satu situs yang menyajikan informasi seputar wisata. Saya pun mengambil topik jalan-jalan ke Purbalingga dengan budget 100k. Iya, travelling murah 100k!
Emang bisa, traveling dengan biaya murah segitu, Dah?
Bisa banget! Tapi dengan catatan, jalan-jalannya harus kalem. Tidak boleh berlebihan dalam hal apapun! Destinasinya pun jangan terlalu jauh dari rumah. Seperti jalan-jalannya Kak Hana dan Kak Dwie, bersama pasangannya. Irit banget. Sampai masih ada sisa sekian ribu rupiah. 
Kali ini, saya akan mengajak teman-teman untuk jalan-jalan keluar kandang (Banjarnegara). Berbekal budget Rp 100.000, saya bisa traveling ke luar kota. Ini tidak memaksa, karena luar kotanya enggak jauh. Alias masih tetangga. 😆 Yuk mari, teman-teman bisa ikut saya jalan-jalan ke Kota Perwira!
Sebelum berangkat, saya mengajak seorang teman, Nunu, yang berdomisili di Purbalingga untuk bertamasya bersama. Dan kami sepakat bertemu di alun-alun Purbalingga. Sekedar informasi, di sana ada beberapa objek wisata yang letaknya cukup dekat dengan kota. Kurang lebih tiga puluh menit dari pusat kota.

Berangkat dari rumah, saya naik angkutan umum berlabel huruf “B”. Kemudian turun di terminal Banjarnegara dengan membayar Rp 2.000 untuk sekali jalan. Sesampainya di terminal, saya mencari Bus jurusan Banjarnegara-Purwokerto. Dan Bus Teguh menjadi pilihan transportasi menuju Purbalingga. Jalan-jalan menggunakan transportasi umum ini terkadang memang tidak hemat waktu, dan juga biaya. Tapi, setidaknya bisa mengirit tenaga.
Jarak yang saya tempuh sampai alun-alun Purbalingga kurang lebih 45 menit. Tak lupa saya membayar kewajiban sebagai penumpang sebesar Rp 8.000 kepada Bapak Kondektur. Sesuai tarif untuk satu kali jalan. Membayar dengan uang pas sangat dianjurkan ketika naik transportasi umum. Terlebih ketika sedang menerapkan konsep irit. :lil:
*****
Setelah bertemu Nunu, kami terus melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata yang menjadi tujuan. Adalah Sanggaluri Park. Perjalanan menuju objek cukup efisien, karena menggunakan sepeda motor milik Nunu. Tiga puluh menit, sudah plus antre di SPBU mengisi bensin full Rp 16.000 untuk si Revo, akhirnya kami sampai Taman Wisata.

Terlalu detil bagian transportasinya, ya?
Sekarang, saatnya kamu harus tahu jalan-jalan berbekal uang saku Rp 100.000 itu bisa mendapat apa saja. Berikut detil sebelum masuk tempat wisata:
1. Pertama, Tentu saja mencari tempat parkir untuk menitipkan kendaraan motor. Berbahagialah para wisatawan, karena halaman parkir di sana cukup luas. Selain itu, biaya parkirnya standard sini, yaitu Rp 2.000 per motor.
2. Kedua, membeli tiket masuk yang berada disebelah kanan pintu masuk. Harga Tiket Masuk (HTM) Sebesar Rp 12.000. Dan saya membeli dua tiket sekalian untuk Ita.
3. Ketiga, Berbekal tiket dua belas ribu rupiah, kamu akan menikmati banyak objek di sana. Dan berikut objek, serta fasilitas yang bisa kamu dapati di sana:
Tiket masuk dua belas ribu rupiah sudah include untuk menikmati objek di atas. Murah meriah, bukan?
Taman Wisata ini banyak diminati oleh anak-anak, PAUD, SD, dan SMP, sebagai bahan untuk menambah referensi, pengetahuan. Sesekali mereka mengadakan kunjungan wisata ke Sanggaluri terkait dengan materi pelajaran. Semacam perkenalan langsung, tidak hanya belajar menggunakan media buku saja. Namun, tak jarang orang dewasa, bahkan orang tua juga turut menikmati wisata ini.
Setelah semua objek terjamah, kami mampir ke kedai untuk membeli jus di Kedai. Sekedar untuk menyegarkan tenggorokan, dan juga tubuh. Sampai akhirnya kami melewati pintu keluar Sanggaluri Park. Istirahat sejenak, dan duduk tepat di belakang Abang Bakso.

Ternyata disebuah pelataran pintu keluar terdapat aneka macam camilan, makanan, dan minuman. Tepat disebelah kiri pintu keluar.
Uang saku Rp 100.000 bisa banget untuk Travelling, kan? Bukan sekedar teori belaka. Malah tidak sekedar untuk jalan-jalan, atau traveling murah saja. Tapi, bisa dimanfaatkan untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan.
Intinya, kalau sudah tahu bugdet minim, tidak usah berpolah. Terpenting, bisa menikmati liburan, bertamasya, tanpa mengabaikan kesehatan.
Nah, berikut rekapitulasi keuangan jalan-jalan ke Kota Perwira. 
| PENGELUARAN | RINCIAN | JUMLAH |
| Angkot Rumah-Kota (PP) | Rp 2.000 x 2 | Rp 4.000 |
| BUS Banjar-PBG (PP) | Rp 8.000 x 2 | Rp 16.000 |
| Bahan Bakar Minyak (PP) | Rp 20.000 | Rp 20.000 |
| Parkir Roda Dua | Rp. 2.000 | Rp 2.000 |
| Hargat Tiket Masuk | Rp 12.000 x 2 Orang | Rp 24.000 |
| Makan Siang Bakso | Rp 8.000 x 2 Orang | Rp 16.000 |
| Jus Mangga | Rp 7.000 x 2 Gelas | Rp 14.000 |
| JUMLAH TOTAL PENGELUARAN Rp 96.000. Sisa Rp 4.000,- (masuk saku) |
||
“Artikel ini diikutkan dalam giveaway JALAN JALAN MODAL 100 RIBU“
Nb. Postingan detail tentang Sanggaluri Park bisa dibaca di:

Long weekend pada bulan April lalu, saya bersama seorang teman berwisata ke Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Kabupaten ini cukup banyak menyajikan wisata alam: Pantai, Air Terjun, Danau, dan juga Taman Wisata. Dari kesemuanya, pantai lah yang paling mendominasi sebagai objek wisata.
Indonesia memang kaya akan wisata. Tak heran, Wisata Alam berupa Pantai sering dijadikan destinasi utama oleh para wisatawan. Keindahan yang disuguhkan oleh masing-masing pantai juga sangat berragam. Seperti halnya suku bangsa kita, Indonesia. Oleh karenanya, kamu tidak akan merasa bosan berwisata ke Pantai.
Ini hari pertama saya di Pangandaran. Tidak terasa dalam sehari saya telah singgah di dua pantai: Karapyak dan Karang Nini. Tak heran, hari sudah gelap ketika kami sampai di Pantai Batu Hiu yang terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi.
Singgah dan memesan teh hangat di warung sekitar pantai adalah cara tepat untuk mendapat informasi yang akurat. Saat itu, kami bermaksud mencari tahu lokasi penginapan yang cukup dekat dengan pantai. Dan ternyata ada banyak penginapan yang dikolala warga dengan harga cukup terjangkau. Mulai dari Rp 75.000-Rp. 300.000 per kamar. Sudah bisa ditebak, kan, kami memilih angka berapa? Aaah…yang penting bisa terlelap. 

Adzan subuh terdengar merdu dari surau yang cukup dekat dengan penginapan. Tak terasa sudah pukul setengah lima, alarm handphone saya pun berdering.
“Kok dingin, ya. Sepuluh menit lagi saya akan bangun”.
Ketika mata masih naik-turun, tiba-tiba seorang teman mengetok pintu kamar saya. Ia mengajak saya untuk menikmati matahari terbit di tepi pantai.
“Aaah…sunrise pantai!”. Bergegas saya bangun, dan segera melaksanakan kewajiban.
Ternyata masih sepi. Tapi, beberapa pintu kamar lain sudah terbuka. Saat itu juga, kami menuju bibir pantai ditemani udara pagi yang cukup dingin.
Hiiih…tiba-tiba merinding saat melihat Ikan Hiu yang begitu besar, dan mulutnya terbuka lebar. Andai Hiu itu bergerak, mendekat, dan memangsa saya. Hiih…ini kenapa berpikir yang aneh-aneh, ya. Berlebihan sekali, padahal itu hanya sebentuk patung yang menyerupai Ikan Hiu. 

Kami terus berjalan menuju tepi pantai sebelah kiri bukit. Ya, di Pantai Hiu terdapat bukit yang begitu menawan. Bukit yang ditanami pohon Pandan Wong menjadikan pantai ini berbeda dengan pantai lainnya yang berada di Jawa Barat.
Matahari telah naik beberapa jengkal. Memandang lepas ke arah Samudera Hindia, Pantai Batu Hiu seperti telah disulap.

Langit yang tadinya berwarna jingga, telah berubah menjadi biru. Suasana yang tadinya agak horor, telah berbalik 180 derajat. Pemandangan air laut nan jernih menghasilkan beragam warna: biru muda, hijau, hingga biru tua.
Akar Pohon Pandan yang berjejer di atas bukit, seakan menarik kami. Tidak lama kemudian, kami memutuskan untuk naik ke bukit dengan menapaki tangga kayu yang terletak di sebelah kiri bukit.

Saya merasa tidak berada di kawasan Pantai ketika melihat jalan, dimana kanan-kirinya terdapat pemandangan hijau. Ini sebentuk bonus yang hanya bisa didapat oleh pengunjung ketika berwisata ke Pantai Batu Hiu.
Namanya banci foto, pasti akan mendapat kepuasan tersendiri jika bisa mengabadikan momen tiap perjalanan.

Satu per satu objek mulai terrekam oleh kamera. Gazebo-gazebo mungil menambah pemandangan bukit, serta pantai menjadi lebih manis. Pengunjung memang harus naik bukit untuk mendapat pemandangan pantai secara maksimal.
Wisatawan diperbolehkan duduk di Gazebo, atau menggelar tikar di sekitar bukit. Beristirahat, menikmati camilan atau penganan, sembari memandang keindahan Pantai Batu Hiu dari atas bukit.

Saat melihat air laut yang begitu jernih, tentu saja ada keinginan untuk berenang, kan? Di Pantai ini, para wisatawan tidak diperbolehkan untuk berenang. Sebab, deburan Ombak yang langsung dari Samudera sangat membahayakan keselamatan pengunjung.
Tapi itu tidak menjadi masalah. Karena, Pantai Batu Hiu yang sekilas mirip dengan Pantai Tanah Lot memiliki magnet kuat, dan menjanjikan tempat persinggahan menyenangkan dan menentramkan jiwa.
Merasa terus diintai oleh waktu, kami pun turun dari bukit. Terowongan yang berbentuk mulut Ikan Hiu saya lewati sebagai pintu keluar. Biasanya, terowongan yang terletak di sebelah kanan bukit digunakan sebagai pintu masuk ke Bukit. Entah kenapa, saat melewati terowongan ini tetap saja merinding. 😆 😆
Namun, keramaian di depan terowongan ini telah menepis rasa itu. Ya, suasana di depan terowongan cukup ramai. Sebab, di depannya terdapat tempat parkir dan warung-warung yang menjual baju, aksesoris, makanan, dan juga oleh-oleh khas daerah setempat.

Ada keinginan untuk menikmati senja di pantai ini. Warna-warni yang ada di Pantai Batu Hiu membuat saya enggan berpindah ke objek wisata lain. Tapi, waktu tidak bisa ditawar. Sampai akhirnya kami kembali ke penginapan, dan melanjutkan perjalanan.
Jika kamu ingin berkunjung ke Pantai Batu Hiu, jadikanlah pantai ini sebagai pelabuhan. Maksudnya, setelah merasa lelah jalan-jalan atau bermain ombak di Pantai lain, singgahlah ke Pantai Batu Hiu yang letaknya kurang lebih 14 km dari Pantai Pengandaran. Saya yakin, kamu akan mendapat suatu yang berbeda di Pantai ini.
Nb. Biaya masuk dan parkir di Pantai Batu Hiu menyesuaikan kendaraan yang dinaiki. Mulai dari Rp 3.000 untuk pejalan kaki, sampai dengan Rp 172.000 per Bus Besar.

Semakin sore udara di Girtirta makin menyehatkan tubuh, segar. Berjalan, melewati gundukan batu hasil galian milik warga membuat kami terus mengucap kata permisi…