Pakai Airy Rooms Berkali-kali, Ngga Pernah Kecewa – Review Hotel Jogja

“Kok jam segini kita udah di sini aja ya. “ Aku nyeletuk tiba-tiba saat sedang duduk berdua bareng Tante menikmati udara pagi di Jalan Malioboro. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB, waktu di mana kami biasanya sedang siap-siap untuk pergi ke kantor atau bahkan sudah berada di kantor untuk bekerja.

Ya, akhir minggu lalu, aku dan tante bertolak ke kota Gudeg untuk sebuah liputan di sana. Liputannya, sih, sore hari jam 18.00, tapi jam 07.30 kami sudah tiba di Jogja. Hayoo….mau ngapain coba? Ini Jogja, tidak boleh sampai ada kata gabut di sini. Hahaha.

Sambil sarapan soto di sekitar kulineran Malioboro, aku bertanya kepada Tante tujuan hari itu ke mana saja. Tante malah bingung. Hahaha. Kenapa tidak direncanakan jauh-jauh hari coba? Yaa…sudah terbiasa minggat dan rusuh, ngapain pakai rencana segala, hanya ke Jogja ini, lho. 😀 Ujung-ujungnya dadakan dalam menentukan kunjungn destinasi.

Setelah melakukan diskusi penuh drama karena waktu yang kami punya tidak begitu banyak, hanya 8 jam menuju liputan, kami memutuskan untuk pergi ke Candi Prambanan. Nah, ketika hendak memesan transportasi via online untuk ke Candi Prambanan, tiba-tiba teringat sesuatu yang penting.  Belum booking penginapan! Malas banget, kan, kalau harus gendong rasel berat saat jalan-jalan.

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN (8)
Tempat parkir cukup luas…

Saat genting seperti itu, cuma satu yang ada di benak. Airy Rooms!

Lagi-lagi Airy Rooms! Ya gimana lagi, selain ada banyak pilihan, cara untuk booking nya juga sangat mudah, dan yang paling penting adalah harganya sangat bersahabat. 😆 Karena sore hari kami akan ada acara di Sasana Amongraga, akupun mencari kamar Airy yang paling dekat dari sana, atau paling tidak mudah dijangkau. Setelah beberapa menit mencari akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Airy Eco Papringan, Ambarrukmo. Karena jarak tempuh dari Amongraga hanya 13 menit perjalanan. Tahu sendiri, Jogja sore hari kerap macet.

Selesai melakukan pemesanan yang hanya membutuhkan waktu tidak sampai lima menit, kami mencari mesin ATM untuk melakukan pembayaran. Beruntung kami masih di sekitar Malioboro, pasti banyak tersedia di sana. Apalagi ada  Tante, dia kan pernah tinggal di Jogja, maka tidak perlu waktu lama untuk menemukan mesin ATM karena dia paham di mana saja letak Mesin ATM yang ada di jalan Malioboro. 😛

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN (7)

Legaaa banget ketika sudah beres masalah penginapan. Tinggal main sepuasnya tanpa perlu khawatir lagi. Setelah pembayaran beres, kami pun segera menuju penginapan untuk menitipkan barang bawaan. Aman deh punggung aku! 😆 Perjalanan dari Malioboro menuju Airy Eco Papringan ternyata tidak begitu jauh. Dengan mengandalkan Google Maps, kami pun akhirnya sampai penginapan.

Kenapa memilih Airy Eco Papringan Ambarrukmo?

Selain cara pemesanan dan pembayaran yang mudah dan simple, bagi yang hobi nyasar-nyasar, tidak perlu khawatir. Airy Eco Papringan sangat mudah ditemukan. Kami hanya perlu mengikuti Maps yang sudah tersedia di aplikasi Airy. Ya, di aplikasi Airy Rooms tersedia maps untuk memudahkan dalam pencarian. Jarak yang ditempuh untuk sampai di tempat acara yaitu Sasana Amongraga tidak lebih dari 15 menit. Dekat bangeeeett.

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN YOGYAKARTA
Yang kusukaaa…ada gretongan air mineral dan jajan. 😀

Alasan lain, kami meliput kegiatan sampai malam, kira-kira pukul 21.30 WIB. Artinya, kami cuma butuh tempat tidur dowang. Maksudnya, tempat buat bobok yang tidak terlalu mewah dengan banyak fasilitas. Cukup ada air hangat dan AC. Makanya, kami memilih tipe Airy Eco dan kebetulan di dekat tempat acara ada pilihan Airy Eco Parpringan. Sewaktu melihat harganya murah meriah, ditambah ada promo hingga mendapat harga IDR 166,536, gebeeet laaah! 😆

Fasilitas apa saja yang ada di Airy Eco Papringan Ambarrukmo, Yogyakarta?

Airy Eco Papringan mirip dengan tempat kos dengan kamar berjejer yang berada di lantai satu dan dua. Fasilitas yang ditawarkan untuk Airy tipe Eco ini tidak mewah, namun cukup standard sebuah penginapan untuk kelas backpacker, solo atau budget traveler.  Ada WiFi, Tempat Tidur, Perlengkapan Mandi, Air Minum dan Snack, TV dan AC. Seperti yang kami tulis di atas, alasan kami memilih penginapan ini karena hanya butuh untuk sekadar istirahat saja, tidak terlalu mempedulikan fasilitas. 😀 Namun, kami cukup nyaman dengan kamar yang kami pilih karena beberapa alasan, yaitu:

Tersedia air hangat.

Suhu dan cuaca di Yogya memang panas. Mandi dengan air hangat rasanya memang kurang pas. Tapi karena acara kami sampai malam hari, ketersediaan air hangat menjadi prioritas utama. Shower yang ada di kamar kami adalah tipe hand sohwer yang sederhana, jadi tidak bingung untuk menggunakannya. Cukup memilih dengan cara memutar untuk air dingin atau panas seperti biasa.

Oiya, jika kamu sudah booking penginapan di Airy Rooms, tidak perlu membawa perlengkapan mandi karena Airy sudah menyediakan peralatan dan perlengkapan mandi, mulai dari sabun sampai handuk.

Tempat tidur double bed.

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN YOGYAKARTA
Nyaman buat bobok….

Ini menjadi pertimbangan utama ketika traveling bareng Tante. Penginapan dengan low budget, namun tempat tidurnya tipe double. Kebetulan kami mendapat kamar di lantai dua dan agak ujung. Cukup nyaman buat istirahat karena tidak terlalu bising. Didukung dengan kasur yang nyaman dan selimut yang tebal, tidur pun pulas.

Lingkungan bersih.

Penampakan dari luar penginapan, Airy Eco Papringan terlihat kurang rapih termasuk ruang resepsionisnya. Agak was was saat mulai masuk ke dalam yang berupa lorong, gitu. Kabar baiknya, jalan menuju kamar sampai depan kamar dan bagian dalamnya, tuh, bersih. Mbak-mbak cleaning service juga rajin mengontrol kebersihan sekitar kamar.

Fasilitas pendukung yang membuat bahagia!

Selain kamar mandi dan perlengkapan mandi yang super lengkap, tempat tidur yang nyaman, lingkungan bersih, masih ada beberapa fasilitas pendukung yang membuat kami bahagia. Fasilitas tersebut yaitu  AC, lemari pakaian lengkap dengan gantungan baju, meja rias, televisi dan tentunya snack khas Airy lengkap dengan air mineral. Dengan harga semula Rp 180an ribu, lalu karena pesan menggunakan aplikasi dan dapat promo menjadi Rp 160an ribu, makin ketagihan menginap di Airy Rooms. Jika pergi ke luar kota dan harus menginap, penginapan yang pertama kami tengok yaitu Airy Rooms karena berkali-kali menginap di Airy Rooms tuh tidak pernah bikin kecewa.

Oiya, ada kejadian yang bikin kami mikir sampai kami meninggalkan penginapan. Adalah tentang arah sholat atau kiblat. Dari malam hari kami sampai penginapan, sampai pagi hari, kami sholat dengan beda arah karena keyakinan arah kami berbeda. Hahaha. Konyol memang, tapi namanya kepercayaan, ya jalani saja. 😆 Saran nih, ya, ada baiknya petunjuk arah kiblat sholat ada di tiap kamar, khususnya untuk penginapan Airy Rooms, nih. Supaya tetamu tidak ragu dalam beribadah.

Traveling ke Bali, Pura Lempuyang Bali Menjadi Tujuan Wisata

Tiga tujuan wisata yang sudah masuk travel bucket list tahun ini terpaksa aku hapus dari daftar. Negeri Jiran, Medan, dan Bali. Sesuai rencana harusnya bulan September aku sudah mulai jelajah. Ya, September, Oktober, dan November, satu bulan satu tujuan wisata. Jatah izin kerja juga sudah aku perhitungkan, namun karena pekerjaan sedang tidak bisa ditinggal, banyak deadline, akhirnya aku harus menghikhlaskan satu tiket pesawat yang sudah aku pesan. 🙁

Tiket pesawat yang sudah aku pesan yaitu tiket pesawat ke Bali untuk bulan September. Aku pesan dua tiket pesawat Garuda di tiket.com untuk aku dan Kecemut. Kebetulan saat itu sedang ada promo. Niatnya aku ingin mengajaknya jalan-jalan manjah sekaligus mengenalkan moda transportasi udara. Tapi  ternyata belum rezeki jalan-jalan sama dia. 😀

Terus, kenapa memilih Bali, sih? Sebenarnya ini pilhan bersama. Ya, pilihan bersama tidak hanya aku dan Kecemut, tapi bareng beberapa teman, gitu. Aku tergiur banget, dong. Pikiriku tuh mumpun ada kesempatan ke Bali barneg teman-teman dan pasti itu ramai. Apalagi sampai saat ini, Bali masih menjadi salah satu destinasi wisata paling digemari di Indonesia. Terlepas dari eksotisme pantai yang tersebar di pulau ini, Bali juga merupakan pulau yang masih kental adat istiadat dan juga ritual keagamaannya. Hal ini lah yang mendorong daya tarik wisatawan asing dan lokal, termasuk aku, untuk mengunjungi Pulau Dewata.

TEMPAT WISATA PURA BALI (1)

Kamu tim suka borong oleh-oleh, atau kagak?

Salah satu tempat wisata di Bali yang ingin aku kunjungi adalah Pura Lempuyang Bali yang terletak di Karangasem. Pura ini memberikan pemandangan alam yang indah dan spot foto menarik berlatar belakang Gunung Agung. Sebelum mengunjungi Pura Lempuyang Bali, aku sudah mencari tahu informasi-informasi menarik dan penting mengenai Pura Lempuyang ini. Diantaranya adalah:

Tempat Suci Bagi Umat Hindu di Bali

Objek wisata yang berlokasi di Kabupaten Karangasem ini menjadi tempat suci umat Hindu di Bali yang menyajikan keindahan panorama tiada duanya. Menjadi tempat suci, tentu ada serangkaian aturan yang patut di jalankan kalau ingin berkunjung ke tempat ini.

Memiliki trek yang menanjak, memang tidak mudah untuk mencapai Pura Lempuyang dan keindahan alam Gunung Agung nya. Perlu menaiki ribuan anak tangga untuk mencapai Pura utama. Tapi aku pingin banget ke sini meski aku bersama Kecemut. Terpenting mempersiapkan fisik dan juga hati yang tulus ikhlas, seperti yang diyakini umat Hindu di Bali selama perjalanan menuju puncak. Udah kebayang ngos-ngosannya, sih, tapi kalau sudah sampai pura utama, bahagia banget pastinya.

pura lempuyang bali

Menyajikan Banyak Spot Foto Menarik

Setelah melalui trekking yang tidak mudah dan tentunya membuat tenaga terkuras, pasti lelah akan terbayar begitu sampai di atas Pura Lempuyang ini. Ada banyak spot foto yang sangat fotogenik di tempat ini. Hal ini juga menjadi pemicu banyaknya wisatawan berdatangan ke Pura ini, termasuk akuuuu. Hahaha.

Kalau hobi fotografi atau hobi di foto, berfoto di tengah Pura yang berlatar belakang Gunung Agung tentunya akan membuat hasil foto lebih fotogenik. Apalagi langit biru dengan awan putih yang terlihat begitu menyatu dengan latar, bisa membuat terkagum seketika begitu melihat hasil foto meski harus menaiki sekitar 1.700 anak tangga. 😀 Tantangan banget! 😛

TEMPAT WISATA PURA BALI (2)

Tiba-tiba kangen main ke Pura ini. Di Bogor…

Pantangan yang Perlu di Perhatikan

Kentalnya adat istiadat dan kepercayaan yang masih diberlakukan di Bali tentu membuat para wisatawan harus mematuhi peraturan yang dibuat untuk mengargai dan menghormati kepercayaan penduduk setempat. Karena, terdapat beberapa larangan yang ditujukan untuk para wisatawan yang akan menuju tempat wisata fotogenik ini.

Larangan tersebut diantaranya adalah:

  • Pikiran, perbuatan, dan perkataan harus suci, tulus, dan ikhlas;
  • Pantang untuk melontarkan kata-kata kasar saat dalam perjalanan menuju Pura;
  • Larangan membawa atau menggunakan perhiasan emas. Karena kerap kali perhiasan emas pengunjung dapat hilang secara misterius. Katanyaaaaaa;
  • Ada beberapa orang yang dilarang masuk ke Pura ini; wanita haid, anak yang belum tanggal gigi susunya, dan orang yang kerabatnya baru meninggal;
  • Terakhir, dilarang untuk membawa dan memakan daging babi.

Menurut kepercayaan masyarakat Bali, apabila larangan tersebut dilanggar, maka akan berdampak buruk bagi diri kita sendiri. Ngga tahu kenapa, kalau ada niat menyambangi destinasi yang juga merupakan tempat ibadah tuh bawaannya pingin cari tahu hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di destinasi tersebut. Malah seperti keharusan, khawatirnya bikin makruh atau malah bikin malu diri sendiri karena ngga update informasi. 😀

Semoga ada rezeki lagi lagi tahun depan atau kapan untuk ke Bali. Semoga (lagi), keinginan untuk ke Pura Lempuyang Bali dapat terwujud. Syukur-syukur pas ada keinginan, pas sedang ada promo tiket pesawat ke Bali. Rezeki nomplok, dong. 😀

Jatuh Hati Pada Lampung yang Menginspirasi

Bertandang ke Lampung sama sekali tidak ada dalam daftar rencana piknik tahun ini. Tapi karena ada tawaran dan juga kesempatan, mengapa tidak! Pikirku saat itu, sekali jalan dan dapat pengalaman baru, tuh, seperti dapat rezeki dobel. Perjalanan untuk pertama kalinya dan sukses membuatku jatuh hati pada lampung beserta pariwisatanya.

Ya, bulan lalu aku ke Lampung dalam rangka mengikuti event Lampung Krakatau Festival (LKF) yang dilaksanakan pada tanggal 20-25 Agustus 2018. Aku kaget ketika ada sahabat baik yang mengirim invitation untuk menghadiri event yang masuk skala nasional itu. Memang tujuan utama adalah menghadiri festival, namun melihat calon peserta yang ikut adalah teman-teman dekat, aku makin berusaha untuk bisa ikut festival sekalian kopi darat (kopdar) dengan teman-teman Blogger yang sudah lama banget enggak ketemu. 😆

Btw, ini kali pertama aku ke Lampung. Ada banyak pengalaman yang aku dapat selama di sana sampai akhirnya aku jatuh hati pada Lampung. Ini bukan berlebihan karena selama perjalanan menuju lampung, trip, dan mengikuti rangkaian kegiatan LKF, banyak hal menarik yang aku jumpai di sana. Banyak yang mengesankan pula, sampai akhirnya menjadi sebuah inspirasi tersendiri. Ya, bagiku Lampung menginspirasi dari berbagai sisi. Dan tak bosan aku mengatakan, Lampung membuatku jatuh hati!

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (6)
Niat banget nambah gosong… 😀

Aku bersama Rois, Mbak Lia dan Mbak Way berangkat ke Lampung menggunakan transportasi darat dan laut. Selama perjalanan, kami merasa asyik-asyik saja meski di kapal maupun di dalam bus, tuh, panasnya bikin pingin cepat-cepat ganti daster. Maklum, pakai bus bisnis, next time nyoba kelas royal ah! 😛

Perjalanan laut kami tempuh kurang lebih 3 jam, kami memilih duduk di bagian luar kapal supaya bisa bebas mau ngapain saja. Merasakan semilir angin, melihat cantiknya laut sembari berfoto ke sana ke mari padahal matahari sedang terik. Andai Yasmin jadi ikut, pasti bakal senang bisa naik kapal gini. Uwuuw…akhirnya baper di kapal. Hahaha.

Dari kejauhan, terlihat dermaga pemberhentian kapal. Akhirnya…sampai Lampung juga! Aku kira setelah turun dari kapal, akan langsung ketemu dengan kota, ternyata tidak! Hahaha. Kami masih harus menempuh perjalanan darat kurang lebih empat jam dari pelabuhan Bakauheni menuju kota. Yang bikin aku speechless nih, saat mulai masuk Lampung Selatan, tepatnya di Kalianda, aku merasa seperti sedang di daerah sendiri.

Perjalanan menuju Lampung
Perjalanan menuju Lampung…

Kanan kiri kebun yang ditanami beragam pepohonan. Bedanya, di Lampung dominan pohon kelapa, sementara di Banjarnegara area pesawahan dan pohon salak. Kemudian, rumah-rumah yang ada di pinggir jalan juga bangunannya tak jauh beda dengan rumah-rumah di desaku. Jika di Banjarnegara, perjalanan ini mirip jalan sepanjang Mandiraja menuju Sokaraja. 😀

Ketika mengabarkan ke Mbak Mel bahwa kami sudah sampai Kalianda, dia meminta kami untuk turun di Taman Gajah atau Lapangan Enggal yang berlokasi di Tanjung Karang karena di taman ini sedang digelar Festival Kanikan. Festival ini merupakan bagian dari LKF 2018. Bahagia rasanya dapat turut menikmati festival kuliner a la Lampung. Naaaah…mulai dari sini, aku jatuh hati kepada Lampung.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (3)
Festival Kanikan ramai bangetttt…

Tata letak stand dan kosep festival sungguh rapih. Termasuk panggung untuk pertunjukan. Festival Kanikan menawarkan beragam kuliner mulai dari kudapan kekinian, sampai pada kuliner khas Lampung. Karena festival ini diselenggarakan satu tahun sekali, tentunya sangat ditunggu oleh masyarakat dan penikmat kuliner. Tak heran jika ramai pengunjung. Apalagi tiap harinya ada live perform dari komunitas-komunitas  yang ada di Lampung, makin semarak. Pingin juga lah digelar di Banjarnegara meski belum yakin antusias kulineran masyarakat sini tinggi. Hahaha.

Lampung menginspirasi dari berbagai sisi.

Karena hari sudah sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Hotel Bukit Randu, tempat menginap kami selama dua hari. Tak disangka setelah sampai depan lobby, hotel ini ternyata menawarkan view yang keren parah! Baik dari halaman hotel maupun balkon kamar, suguhan pemandangan kerlip lampu rumah warga dilihat dari atas mirip view “bukit bintang”. Selain itu, interior kamar rasanya Lampung banget! Baik di Hotel Bukit Randu tempat menginap di hari pertama, maupun di Whiz Prime Hotel, tempat menginap hari berikutnya, pada tiap kamar ada tapis dengan beragam warna baik untuk aksesoris tempat tidur, maupun hiasan dinding. Promosinya kompak banget, kalau kotaku tersayang belum, gaes! 😀 Pinginlah, pada kompak promosikan batik gumelem yang khas itu untuk penginapan-penginapan di kotaku.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (4)
Malam di street food Hotel Bukit Randu…

Berikutnya yaitu tentang Siger. Nah, ini paling menggoda. Siger yang telah menjadi simbol khas Lampung sangat mudah dijumpai di mana saja alias tidak di tempat tertentu. Uniknya, nih, hampir seluruh sekolah, instansi, tempat kuliner, toko oleh-oleh, bank, dan masih banyak tempat lain, sebagian besar menggunakan Siger di depan bangunannya.

Bagiku ini menarik karena belum aku jumpai di daerah lain. Di daerahku, misalnya. Pemakaian identitas toko atau sekolah masih menggunakan logo masing-masing. Beberapa yang aku lihat di Lampung, sih, tetap ada yang menggunakan logo brand  identitas toko atau lainnya, namun  Siger tetap ditampilkan di paling atas. Pingin tuh, Banjarnegara punya simbol khas daerah lalu dipasang dimana-mana. Tapi yang menggambarkan khasnya Banjarnegara. Emm…belum punyaaa, sih, beluuuum. 😀 Dari simbol daerah saja membuatku jatuh hati, ya. Jatuh cinta yang sederhana seperti ini, tuh, menambah semangat explorasi pariwisata. 😛

Itu baru Siger. Ada lagi yang menginspirasi yaitu tentang tugu penghargaan yang dikelilingi Gajah. FYI, Lampung memiliki taman nasional perlindungan gajah, dan konsep tugu ini ngena banget. Lagi-lagi aku pingin ada kayak gini di tempat lahirku karena tugu yang belum lama direnovasi ternyata biasa banget, tidak menyelipkan identitas apapun di dalamnya. Kesannya seperti asal-asalan dibuat. Hahaha. *terjulid Di sini aku sempat membuat video pendek yang aku tujukan buat Yasmin. Melihat gajah-gajah lucu itu, baper banget rasanya. Padahal lagi dalam keadaan genting karena harus cepat sampai bandara tepat waktu, lho. Hahaha. Ya gimana lagi, gemes banget melihat Gajah di sekitar tugu ini. 😛

Ikon Lampung 4
Tugu penghargaan saja jadi spesial… 😉

Satu hal yang paling bikin baper dari Lampung adalah kekayaan pantai yang sukses bikin panas hati! Sebenarnya ini aku rasakan semenjak di Taman Gajah. Selain kuliner, di sana ada galeri foto pariwisata lampung yang isinya kebanyakan adalah pantai-pantai di Lampung. “Aku harus mencicipi pantai di Lampung barang satu pantai.” Batinku sore itu saat keliling galeri. Hamdallah…keinginan untuk mengunjungi pantai gagal karena hari ketiga di Lampung tenaga tinggal 50%. LEMAAAH! 😆

Tapi tidak mengapa, karena aku mendapat ganti yang lebih dari sekadar melihat pantai yang canteek-canteek itu. Bersama kurang lebih 100 orang, aku melakukan perjalanan ke Gunung Anak Krakatau untuk melakukan observasi, ekskursi. Ya…kapan lagi bisa sampai Anak Gunung Krakatau kalau tidak dalam rangka trip edukatif, kan.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (1)
Akhirnya sampai Pulau Sebuku…

Turun dari kapal langsung menginjakkan kaki di atas pasir pantai tanpa alas, dan air pantai pun menyambut. Di sini tiba-tiba aku kembali ingat kepada Yasmin.

Masih lekat dalam ingatan, seminggu sebelum berangkat ke Lampung, kepada Yasmin, aku sempat memperlihatkan Kapal Laut, Pesawat, Gunung Anak Krakatau, Pulau-pulau di sekitar Anak Krakatau, dan Lautan yang begitu luas. Aku bercerita sedikit tentang Lampung dengan kekayaan alam yang begitu melimpah, sampai dengan transportasi menuju ke sana. Aku juga sempat memutarkan video seputar aktivitas wisata di Taman Nasional Way Kambas, sebuah taman nasional perlindungan gajah yang juga ada di Lampung.

Aku perlihatkan semua tentang Lampung kepadanya dan dia tampak bahagia sekali. Terlebih saat aku mengutarakan niat untuk mengajaknya ke Lampung, dia bersorak ria dan memelukku erat.

TELAGA SUNYI BATURRADEN
Teman traveling yang menyenangkan…

“Besok kalau di Lampung kita bisa naik kapal yang geedeeee bangetttt. Bisa main-main di pantai sampai puas. Terus, bisa juga bermain dengan Gajah yang jumlahnya banyak. Dan pulangnya nanti kita naik pesawat. Katanya kamu pingin naik pesawat?” Ucapku kepada Yasmin seminggu sebelum berangkat ke Lampung.

Tapi ternyata belum berjodoh mengajaknya ke Lampung karena tiba-tiba Ibuku berubah pikiran. Aku tidak diizinkan membawa Yasmin padahal dia anak kandungku cobaaaaa. *ini lebay* Sungguh ini adalah ujian sebelum naik tingkat. Emm…tingkat kapal maksudnya. 😀 Akhirnya, segala apa yang sudah menjadi angan-angan harus aku simpan dalam-dalam.

KAPAL MENUJU LAMPUNG
Ngebet banget ngajak Yasmin buat naik kapal…

Tepat di pintu masuk Cagar Alam Krakatau, menghadap deretan kapal yang bersandar menunggu kami sampai selesai observasi, aku ngevlog.

“Haii…Yasmin, Ibu sudah sampai Lampung, nih. Sekarang sedang di Krakatau. Lain waktu Ibu akan mengajak kamu ke Lampung. Nanti kita jalan-jalan keliling pulau di Lampung, naik kapal gede, main di taman yang banyak Gajahnya, terus naik pesawat juga.” Kira-kira seperti itu vlog yang aku anggap juga sebagai doa sekaligus oleh-oleh buat dia. Rasa sedih, bahagia, seketika bercampur. Dan vlog ini menyempurnakan vlog yang di depan tugu muda Lampung. Hmmm…baper-bapeer! 🙁

Masih banyak tempat yang belum tereksplorasi di Lampung, khususnya pantai dan kerajinan tangannya. Aku yakin, jika kemarin ada waktu untuk singgah ke pantai dan tempat kerajinan khas Lampung, pasti juga ada banyak inspirasi di sana. Keramahan pelayanan di toko oleh-oleh khas dan tempat kuliner khasnya saja sampai sekarang masih terngiang. Apalagi bisa sampai ke lokasi pembuatan oleh-olehnya. Pantaslah tagline The treasure of Sumatera melekat di Lampung karena Lampung ini menyenangkan dan banyak kekayaan alam dan budaya yang dapat dinikmati wisatawan.

Hmmm…memang perlu ke Lampung lagi, nih! Aku yakin, masih banyak inspirasi lain yang dapat aku temukan di Lampung. Inspirasi yang nantinya menjadi bahan diskusi dengan teman-teman di sini untuk kemajuan pariwisata Banjarnegara khususnya. Semoga rencana ini dapat terwujud tahun depan ya, Nak! Ibu siap-siap mengirit jatah cuti kerja. 😛

Ayey! Ke Lampung lagi….

Ahaai…rencana traveling ke Lampung sudah aku masukan ke dalam bucket list traveling tahun depan. Artinya, aku harus mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan. Setidaknya aku sudah belajar dari kunjungan aku ke Lampung bulan lalu. Satu hal yang menjadi catatan, traveling tahun depan ini aku berencana mengajak Yasmin. Kalau suami, sih, belum tahu bisa ikut apa tidak, sibuuk teruus! 😛

Ikon Lampung 2
Taman yang produktif…

Tahun depan dia berusia 4 tahun, insya allah sudah cukup paham dan bisa menikmati perjalanan. Karena traveling sama anak-anak, aku pingin lebih santai, menikmati segala sudut Lampung. Ada pantai yang bisa buat snorkeling, Tempat Kerajinan khas Lampung, Kuliner Khas, Menara Siger, dan Way Kambas. Obyek wisata tersebut akan kami telusuri satu per satu, waktu sudah tidak menjadi persoalan asal duit sudah terkumpul. Hahaha. Tapi tetaplah, ya, budgeting perlu dipersiapkan. Melihat destinasi wisatanya, ini mau nyenengin anak atau diri sendiri, ya. 😆

Ini, kok, mantap betul, ya. Kembali traveling ke Lampung, menyusuri tempat-tempat yang pernah aku singgahi maupun tempat baru. Semoga bisa terwujud dan menjadi moment traveling istimewa buat aku dan Kecemut! Maaf, Pak Suami. Kami jalan berdua saja, ya. 

Baca juga perjalanan Familiarization Trip di Event Lampung Krakatau Festival 2021.

Unforgettable Moments at Dieng Culture Festival 2018

Dieng Culture Festival (DCF) tahun 2018 sudah sampai pada edisi ke 9. Event yang berlangsung selama 3 hari 2 malam dari tanggal 3-5 Agustus 2018, berpusat di Lapangan Dieng Pandawa, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Meski berlokasi di kabupaten sendiri, namun aku baru bisa datang di event yang sudah masuk dalam Calender of Event Kemenpar RI ini. Hebat, bukan? 😆

Dieng Culture Festival (DCF) 2018 diselenggarakan untuk meruat anak-anak Dieng yang berambut gembal. Anak-anak ini di percaya sebagai titisan Eyang Kolodete, pembuka daerah Dieng. Tahun ini, DCF mengusung tema “The Beauty of Cultre”. Berbeda dengan tahun sebelumnya, selain ruwat rambut gembel, ada banyak acara menarik lainnya seperti Aksi Dieng bersih, Festival Tumpeng, Festival Domba Batur, Festival Caping, sampai dengan gelaran produk UMKM dan Dewa Wisata se Kabupaten Banjarnegara.

Sebagai warga lokal yang baik, aku lebih memilih untuk memberikan kesempatan kepada para wisatawan dari luar daerah untuk menikmati event yang digelar satu tahun sekali. Secara tiket DCF kan terbatas, tuh, ya. Kasihan buat wistawan yang sudah pada nabung buat nonton DCF, tapi selalu kehabisan tiket. Aah…sok bijak banget, padahal memang baru tergerak untuk menembus DCF. 😀 Ya, tahun lalu, atau bahkan di tahun-tahun sebelumnya, aku belum tertarik menghadiri DCF. Bukan, bukan karena tidak cinta apalagi tidak sayang dengan event di ranah sendiri, ini cuma tentang jodoh saja, kok. 😉

Kenapa aku sebut jodoh? Pertama tentu tentang izin dari keluarga. Alhamdulillaah mereka support penuh. Kedua, tentang teman seperjalanan yang begitu antusias datang ke DCF sembari membuat konten. Ini membuatku semangat buat ikut nonton, dong. Ketiga, sudah punya “password” lengkap untuk nonton gelaran DCF tanpa ribet. Bahagia banget ketika semua saling mendukung, sudah seperti jalan menuju pelaminan, lancar dan penuh kebahagiaan. 😉

Karena ini pertama kalinya aku nonton event DCF, ada banyak pengalaman baru yang aku dapat. Banyak moment yang sampai sekarang masih terngiang dan sepertinya akan terus dikenang, kayak kebaikan-kebaikan barisan para mantan. Ah…mantul Pak Eko! 😆

Bentar, aku mau berbagi unforgettable moments at Dieng Culture Festival 2018 yang ternyata ada 11 moments. Hahaha. Sebagai pengingat, catatan, sekaligus curhatan, keep reading without njengking, ya. 😛

😛 Mengikuti Rangkaian Acara DCF Tanpa Ribet! 😛

Dieng Culture Festival 2018 (12)
Bersantai di Kompleks Dharmasala…

Berkah dalam berkomunitas kerap aku dapat. Berkenalan dengan orang-orang baru, makin banyak teman, dan mendapat kejutan-kejutan yang tak terduga dari berkomunitas. Salah satu kejutan yang aku dapat yaitu mengikuti rangkaian acara DCF tanpa ribet.

Dua minggu sebelum event DCF digelar, ada beberapa teman yang menawarkan free akses masuk DCF. Ini wajah-wajah free banget, ya. Hahaha. Biarlah yang penting aku tidak meminta. Dengan bahagia, aku menyampaikan kabar baik ini kepada teman-teman di grup kesayangan yang hobi membuat konten pariwisata Banjarnegara. Siapa lagi kalau bukan grup GenMile Banjarnegara. 😉

Alhamdulillaah…di grup tersebut ada dua teman yang tertarik ikut nonton DCF, yaitu Ella dan Rois. Teman-teman lain ada yang tidak merespon, ada juga yang mau datang namun tidak bersama kami. Yasudah…akhirnya kami bertiga sepakat nonton DCF bareng-bareng, bahagia bareng, dan susah bareng. Ya, jalan menuju dieng tidak lurus-lurus saja, Gaees. Enak saja menuju bahagia tanpa perjuangan. 😛 Dengan kekuatan password yang telah kami terima, kami pun bisa dengan tenang ke sana ke mari mengikuti rangkaian kegiatan DCF.

😆 Nyaris Bobok di Lapangan Whitlam! 😆

Seminggu sebelum mendarat di Dieng, aku sempat berkabar dengan Mas Irham, pentolan Desa Wisata Karangtengah, Dieng Kulon. Kami janjian bertemu di Lapangan Whitlam yang saat itu ada gelaran produk UMKM dan Desa Wisata se Kabupaten Banjarnegara. Puji syukur sesampainya di sana, Mas Irham tidak dapat dihubungi. Aku sampai mendatangi stand desa wista miliknya, namun beliau sedang tidak di tempat. Ini beneran ujian. Hahaha.

Karena sampai kompleks Whitlam sudah malam, kira-kira jam 19.00 WIB, kami memilih untuk mencari makan terlebih dahulu. Ini sebenarnya sedikit trik, sih. Tiap kali ada kendala apapun di tempat wisata, aku lebih nyaman duduk dan mencari informasi lewat para pelapak yang berjualan di sekitar tempat wisata. Dan yey, jodoh datang melalui mie kuah dan segelas teh hangat! 😆

Ya, Ibu Minceu, pedagang makanan di dekat pintu masuk Whitlam, ternyata punya homestay yang saat itu posisinya masih menggantung. Wisatawan yang telah memesan homestay belum memberi kepastian kapan datang. Akhirnya, kami pun mengambil homestay tersebut dengan harga standard (Rp 200.000 per malam), namun fasilitas cukup. FYI, penginapan di Dieng saat event DCF selalu penuh. Jika ada niat menginap, ada baiknya memesan homestay tidak mendadak, sebulan sebelum event, misalnya.

😛 Suhu 3 derajat Saat Jazz di Atas Awan Bikin Mengkeret! 😛

senandung di atas awan
Tiga derajat bikin pingin pulang…

Gila…gila…gilaaaa! Badan setebal ini ternyata tidak mampu menetralisir dinginnya Dieng malam itu. Gelajar Jazz Atas Awan di panggung spektakuler DCF penuh dengan lautan manusia (ini mulai lebay). Namun, mereka tidak mampu menghangatkan! Makin malam, justeru semakin beku. Makin malam, makin pingin ngusel ketek si kecil sambil dipeluk suami.

Sebenarnya ada bara api yang disediakan oleh panitia, di sela-sela penonton, gitu. Namun belum juga bisa menghangatkan karena 3 derajatnya itu kebangetan! Aku yang biasanya bisa tahan dingin, ini mulai melemah. Beberapa kali pingin minta tolong ke suami untuk jemput, dan esoknya balik dieng lagi. Tapi kok rasanya tidak manusiawi banget, ya. Hahaha.

Jazz Atas Awan yang aku kira bakal ngeJazz berasama, ternyata tidak seindah yang aku bayangkan. Aku baru bisa menikmati yang beneran Jazz, tuh, saat si Gerhana tampil. Suaranya lembut, manja, dan jazz banget. Band lain yang tampil malam itu, entah lah. Tahun lalu pun sepertinya tidak begitu ngeJazz, ada Anji Drive kalau tidak salah. Kan jazznya tidak kental kentul, ya. Semoga tahun depan bisa beneran ngeJazz, deh. Mau band lokal atau artis ibu kota, yang jelas bisa sesuai teman, Jazz Atas Awan. 😉

😀 Tengah Malam Ndungsak-ndungsak di Pematang Sawah! 😀

Dieng Culture Festival 2018 (5)
Heboh lihat es di dedaunan…

Dieng Culture Festival (DCF) merupakan event skala nasional, bahkan internasional. Ada banyak wisatawan dari luar daerah, provinsi, negara, yang datang ke event ini. Tapi sayang banget, sayang seribu dua ribu tiga ribu sayang. Jazz Atas Awan selesai di atas jam 00.00 WIB. Meski hari berikutnya ada event yang tak kalah asyiknya, namun wisatawan memilih untuk menghabiskan acara.

Malam hari, dini hari, jalan pulang tidak dari acara Jazz Atas Awan tidak sama dengan jalan masuk yang mana melewati gerbang menuju kompleks Candi Arjuna. Setelah dikonfirmasi, ternyata gerbang tersebut telah ditutup sejak sore hari, entah tepatnya jam berapa, aku lupaaaaaaaaaa! Warga lokal macam aku, ndungsak-ndungsak alias jalan di atas semak-semak ladang, sih, tidak masalah meski dalam hati sedikit menyangkan. Tapi untuk para wisatawan, aku merasa kasihan. Apalagi bagi mereka yang tinggal di tengah kota dan jarang ke ladang. Mungkin bukan eksplorasi yang didapat, kaki sedikit lecet saja bisa jadi masalah. Hahaha.

Buat evaluasi saja untuk tahun depan, diberi petunjuk jalan supaya lebih aman dan wisatawan nyaman. Pembawa acara bisa memberi himbauan atau pengumuman terkait pemakaian ruas jalan karena saat wisatawan pulang tidak bisa menggunakan jalan yang sama. Pun dengan pihak keamanan, atau panitia yang di lapangan lebih siap lagi. Membawa senter atau alat penerang lain karena lewat semak-semak ini gelap, gaes. Seperti jodoh yang tertukar, menakutkan. 😆 Tapi ada hikmahnya, sih, ndungsak-ndungsak gini, jadi bisa melihat bekuan es di dedaunan. Hahaha.

😉 “Salju” di Dieng itu Tidak HOAX, Bung! 😉

Dieng Culture Festival 2018 (4)
Bukan motorku, tapi bahagia bisa lihat seperti ini….

Kamu pasti sudah tidak kaget lagi dengan salju di dieng, ya. Banyak media yang mengabarkan tentang ini. Sudah melihat dan membaca berkali-kali di media online tentang fenomena ini, tapi pas melihat bekuan es di atas sepeda motor, rasanya takjub. Apalagi saat kaus tangan aku lepas, dan aku menyapunya, rasa-rasanya tidak percaya jika di Dieng bisa ada “salju” seperti ini.

Masyarakat sekitar menyebutnya mbun upas atau embun upas. Embun ini antara berkah dan musibah. Berkah karena ternyata ada banyak wisatawan yang datang ke DCF hanya karena ingin menyaksikan langsung fenomena mbun upas. Menjadi musibah bagi warga setempat karena sayuran yang tumbuh di dataran tinggi dieng nyaris gagal panen karena hadirnya mbun upas. Layu, kering, kisyut, keriput, njiprut. 🙁

😉 Makan Enak di Pamit Ngopi Kompleks Soeharto Whitlam. 😉

Setelah beberapa kali menikmati mie, bakso, ayam goreng, yang kurang menggoyang lidah dan cukup bikin kenyang saja, akhirnya di hari kedua aku bisa menikmati masakan yang bikin kenyang dan cocok di lidah. Testimoni ini bukan hanya aku saja, lho. Ella yang pada dasarnya susah banget adaptasi dengan makanan, dia bisa menikmati masakan di sebuah warung yang dekat dengan pintu masuk Whitlam.

Meski tidak terdokumentasikan saking menikmatinya makan, aku merekomendasikan Pamit Ngopi sebagai rumah makan yang layak kamu coba ketika berwisata di Dieng, khususnya di kompleks Candi Arjuna. FYI, warung pamit ngopi yang kami coba yaitu yang lokasi di dekat gerbang Whitlam, ya. Bukan yang di tepi jalan raya karena ada dua warung pamit ngopi. 😉

😀 Joget bareng Letto, Bahagianyaaaaaaaaa! 😀

Jazz Atas Awan Letto

Kocak juga orangnya si Noe…

Kita semua tahu kalau jenis musik yang dipersembahkan Letto Band adalah Pop & Rock. Penggemar Letto yang datang di acara Senandung Negeri di Atas Awan pasti tidak ada yang menyesal. Penampilan Letto saat sukses bikin pengunjung bahagia. Entah bahagia bisa mendengar suaranya langsung, melihat parasnya langsung, atau bahagia karena bisa nostalgia karena lagu-lagu yang dibawakan, nostalgia atas lagu kenangan zaman semono. 😆

Selain suaranya yang bikin nyaman, aku bahagia melihat cara Mamas Noe, vocalis Letto, menyapa para penggemarnya. Dalam keadaan nafas ngos-ngosan, dia menyempatkan diri untuk mengajak fansnya untuk turut naik ke panggung dan bernyanyi bersama. Suasana malam itu makin pecah ketika Letto menyanyikan lagu berjudul Sandaran Hati dalam versi dangdut! Ulala…aku pun turut berdiri, dan joged-joged bareng. Serasa belum punya Kecemut. Hahaha.

😛 Pesta Lampion Tanpa Membeli Lampion! 😛

Berjalan dari gerbang masuk kompleks Candi Arjuna menuju venue pesta lampion, ada banyak penjual lampion. Ya, panitia tidak memasukan lampion ke dalam include tiket DCF.  Wisatawan diberi kebebasan untuk membeli kepada siapapun yang berjualan, setahuku. Satu lampion dijual dengan harga mulai dari Rp 8.000 per biji. Makin malam, harga lampion pun makin mahal, ada yang menjual dengan harga Rp 20.000 per biji. Buat kamu yang akan ke DCF tahun besok, mending belinya lebih awal saja, lebih hemat. Hahaha.

Hadir di acara Senandung Negeri Atas Awan di mana ada pesta lampion juga, aku bersama ella dan rois cukup tergesa-gesa. Ada ketakutan sudah masuk karena saking banyaknya wisatawan yang hadir malam itu. Ya, mungkin bisa dua kali lipat dari acara Jazz Atas Awan. Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali mau membeli lampion, namun tidak jadi. Pikirku, di sekitar lokasi pasti banyak yang jual. Eh…sesampainya gerbang masuk, ternyata tidak ada yang berjualan. Ingin rasanya balik lagi, tapi tidak sanggup karena jalanan mulai ramai.

“Duuh…gagal bikin konten pegang lampion, dong!” Batinku malam itu. Tapi takdir berkata lain. Jodoh kembali datang, bertemu dengan pasangan-pasangan baik, menawarkan untuk jepret foto, akhirnya aku bisa dapat konten pegang lampion. HAHAHAHA. Ini terniat banget modusnya, ya. Tapi asli, kasihan banget barisan para pasangan yang datang malam itu dan pada sungkan minta tolong untuk difoto. Jauh-jauh ke Dieng, lho. 😀

😆 Ada yang Tepar Saat Perjalanan dan Aku Biasa Bae. 😆

Dieng Culture Festival 2018 (9)
Udah ngga macet banget…

Ini konyol banget! Tidak ada rasa was-was, aku masih bisa unggah foto dan video ke story, padahal ada anak orang yang tepar di depanku. Hahaha. Ella, kasihan banget anak satu ini. Jonesnya keterlaluan. Bukan, bukan aku tidak peduli dengan keadaan dia, lho. Ya…gila saja membawa anak orang yang saat itu kondisinyam emang belum 100% sehat, sedang dalam masa penyembuhan, gitu. Kalau ada apa-apa, pastilah aku orang pertama yang dimintai keterangan. 😀

Aku tenang karena aku merasa dia bakal baik-baik saja, dia cuma butuh istirahat. Di sepanjang perjalanan pulang menuju homestay usai acara pesta lampion, dia sudah kelihatan lelah banget. Ya…meski sebelumnya baru jingkrak-jingkrak sama Letto. Mungkin karena melihat kemacetan yang luar biasa, dia ikut macet otaknya. Liat orang dan kendaaan berlalu lalang, BLUR bokeh. 😀 Akhirnya, aku memutuskan untuk memarikirkan sepeda motor di depan Museum Kailasa, melipir ke warung-warung yang ada di sekitarnya, dan minta tempat untuk istirahat si ella.

“Aku butuh berbaring, aku cuma butuh tidur sebentar”. Katanya, sambil nangis dan minta gendong. 😛

😉 Melihat Lebih Dekat Prosesi Ruwat Rambut Gembel. 😉

Dieng Culture Festival 2018 (8)
Lihat ginian saja sediih…

Berkat tongfang, aku bisa melihat dari dekat prosesi ruwat rambut gembel. Sekali lagi, berkat tongfang password yang telah kami simpan, akhirnya bisa melihat dedek-dedek yang siang itu diruwat. Kami duduk tepat di samping panggung acara. Aku merasa beruntung ketika melihat ke belakang, ternyata banyak banget orang yang menyaksikan prosesi ini. Banyak juga yang tidak bisa masuk ke lokasi ini karena terbatasnya tempat dan mungkin harus menjadi peserta DCF. Makanya, buat kamu yang berniat hadir di event DCF, mending beli tiket, ya. Supaya bebas berkelana.

Proses ruwat rambut gembel menjadi puncak acara DCF. Acara ini diawali dengan kirab, kemudian anak berambut gembel yang telah masuk daftar ruwat, diruwat satu per satu. Ruwatan ini begitu unik, tiap anak gembel yang hendak diruwat, mereka mengajukan permintaan apapun sesuai dengan keinginannya saat itu. Permintaan murni dari si anak gembel, tidak ada paksaan, atau rekayasa. Tahun ini, ada 12 anak gembel yang diruwat dan semuanya adalah perempuan. Aku melihat ada kesedihan di wajah orang tuanya saat melihat anaknya diruwat. Entah karena apa, yang jelas seperti kehilangan. Lain halnya dengan dedek-dedek yang diruwat, mereka justeru telihat bahagia. Wajah polosnya seakan berbicara bahwa, “aku bakal punya ini itu setelah nanti diruwat”. Sepertinya, sih. 😉

😛 Take Video Bapak Gubernur dan Bapak Kadisporapar Propinsi Jawa Tengah. 😛

Konten GenPI
Emm…agak sengak nih Bapaknya! Wkwkwk….

Ini di luar dugaan banget. Tidak ada niatan untuk mengambil video Pak Ganjar dan Pak Urip, tapi diberi jalan mulus untuk mendapatkan konten video ini. Jadi nih ya, Agustus lalu GenMile Banjarnegara sedang mengadakan open recruitment anggota baru. Karena ini berkaitan dengan promosi pariwisata Banjarnegara, menurutku tidak ada ruginya minta tolong ke beliau-beliau untuk membuat potongan video yang berisi ajakan untuk bergabung dengan GenMile Banjarnegara.

Tanpa pikir lama, usai acara ruwat rambut gembel, aku bersama Ella dan Gita menjadi pengikut mereka. Nguntit di belakangnya. Hahaha. Sepanjang perjalanan menuju Whitlam, aku dan Ella berusaha kontak Rois untuk pengambilan video karena dia paling jago. Tapi karena susah dihubungi, akhirnya aku memberanikan diri untuk take video. Meski hasil videonya biasa saja, tapi ada kepuasan tersendiri.

“Kamu pinginya apa?” Ucap Pak Ganjar. Belum sempat menjelaskan detail, baru bilang dari GenPI Banjarnegara, eh…Bapake wis mulai ngendikanan bae. 😆

Btw, ini kali pertama aku ke Dieng tanpa “sopir” alias mengendari sepeda motor sendiri. Ugh…dan ini juga menjadi bagian dari moment yang tak terlupakan. Malam-malam harus menembus kemacetan, perjalanan yang biasanya ditempuh cukup dengan 10 menit, malam itu nyaris 4 jam. Hampir subuh, dan masih di perjalanan menuju Desa Wisata Karangtengah, tempat menginap kami di hari kedua. Terima kasih Mas Irham. 😉

Tahun depan jangan lupa nonton DCF, ya! Sempatkan, meski sekali dalam hidup. Ada kearifan lokal, seni, dan budaya Indonesia di Dieng, yang wajib kamu tonton! 😉

Bertamasya ke Lembah Gunung Madu, Boyolali

Bertandang ke Boyolali sama sekali tidak ada niat untuk tamasnya. Aku bersama keluarga dari suami murni silaturahim ke rumah Budhe Ida, Mbaknya Ayah. Saat hendak pulang, ponakan yang jumlahnya tidak sedikit minta mampir ke Lembah Gunung Madu (LGM). 😆 Aku sih oke-oke saja, tapi sayang banget waktu kami sudah mepet banget. Ya, kami hanya punya waktu satu jam jika memang ingin bertamasya karena Mbah Kakung menjadwalkan jam 13.00 WIB sudah harus perjalanan pulang.

Awalnya hanya aku yang diminta untuk menemani mereka main karena mungkin Mbak-mbak sudah terlalu lelah. Tapi kebayang rempongnya karena Ayah saat itu tidak turut, maklum pekerja baja yang nyaris tidak punya libur. Hahaha. Jalan bersama Yasmin saja kadang suka ribet kalau mood dia lagi kurang baik, sepertinya tidak sanggup kalau harus mengawal krucils. Hahaha. Karena ada rasa penasaran juga, akhirnya Mbak-mbak ikut ke LGM, dong. Uhuuy…

Tidak ada persiapan apapun menuju LGM termasuk mencari tahu obyek wisatanya seperti apa. Kalau kata ponkanku, Ufi, tempatnya bagus buat foto-foto. “Ouw…wisata selfie ternyata.” Batinku saat itu. Dari nama obyeknya ada Lembah Gunung, berarti selfie di perbukitan, gitu. Lalu, mungkin Madu terbaik ada di daerah tersebut. Sekadar menerka-nerka, sih. Akibat tidak bisa searching karena di rumah paket data sama sekali tidak jalan. Dan hasilnya, aku baru tahu kalau di LGM ternyata ada beberapa goa setelah sampai rumah Banjarnegara dan mau menulis blog post ini. Secara kan baca-baca tulisan yang sudah publish duluan, ya. Fufufufu

LEMBAH GUNUNG MADU BOYOLALI (7)
Melewati tugu ini….

Perjalanan dari rumah Budhe menuju LGM membutuhkan waktu 20 menit. Agak tenang karena tidak begitu jauh. Sepanjang perjalanan di mobil ada yang datar-datar saja, ada juga yang ribet. Asli, nano-nano banget, tapi seru. Kebayang kalau punya banyak anak seperti Gen Halilintar pas masih pada kecil, pasti kuat segala-gala orang tua mereka. 😆

Dari jarak 50 meter menuju lokasi, terlihat jelas rangkaian huruf membentuk kata Lembah Gunung Madu. Tulisan ini berada di depan bebatuan yang sudah tersusun rapih dan tepat di samping pintu masuk. Karena tulisan dengan warna merah itu nampak begitu memesona, rasanya ingin turun di gerbang ini untuk mengambil dokumentasi. Tapi karena menuju parkiran katanya lumayan jauh, aku pun mengurungkan niat itu. 😀

Mobil yang kami naiki langsung menuju tempar parkir. Dengan arahan tukang parkir, mobil pun dapat parkir dengan tepat.

“Bayar parkirnya nanti saja saat keluar dari sini, Mbak.” Ucap tukang parkir sambil mengulurkan karcis parkir.

“Ohhh. Terus tiket masuk bisa dibeli di mana, Mas?” Aku melontarkan tanya karena di sekitar tempat parkir belum terdapat petunjuk arah untuk memudahkan kunjungan wisatawan.

“Tidak ada tiket masuk, Mbak. Cuma bayar tempat parkir saja. Rp 5 ribu untuk mobil.”

Siang itu matahari begitu terik, kami memulai perjalanan dari pintu masuk lokasi yang berada di kanan tempat parkir. Di sini belum dibangun gapura atau gerbang masuk lokasi, harus jeli mencari pintu masuk yang berada di kanan tempat parkir. Kami pun sempat salah memilih pintu masuk yang ternyata sudah tidak digunakan, namun tidak ada keterangan bahwa pintu sudah tidak digunakan.

Lembah Gunung Madu atau LGM ternyata bukan hanya taman wisata selfie. Fasilitas pendukung yang didapat lebih dari lengkap. Di sini terdapat tempat makan yang representatif dengan menu makanan yang lengkap. Ada beberapa gazebo yang bikin pengunjung nyaman. Tak hanya itu, pengelola menyiapkan semacam pendopo yang bisa digunakan untuk acara. Ya, pendopo dapat digunakan untuk acara dengan catatan makanan harus di pesan di tempat. Pun dengan pengunjung yang hanya berwisata, mereka tidak boleh membawa jajan atau makanan dari luar.

LEMBAH GUNUNG MADU BOYOLALI (5)

Anak gue narsisnya kepoleen…. 😀

Mendengar jawaban Mas Anton (sebut saja dengan nama, biar nyaman :D), aku sempat kaget karena di Boyolali sudah mulai memberlakukan wisata tanpa batas dimana pengunjung tidak dikenai tiket masuk. Aku tidak menanyakan detail apakah pemberlakuan semacam ini karena masih promo atau memang tanpa HTM. Rasanya bersyukur banget, lho. Lha gimana tidak, kami kan membawa rombongan, bukan hanya satu atau dua raga saja. Hahaha.

Taman ini terbagi menjadi dua tempat yaitu bagian atas yang berisi tempat makan, gazebo, beberapa spot selfie, dan pendaftaran untuk flying fox. Lalu, bagian bawah full spot selfie dengan background bangunan modern dan juga perbukitan. Untuk spot selfie, lebih ramah untuk remaja. Buat anak-anak, paling duduk di kolam ikan atau bangku-bangku yang di sediakan di pinggir bukit. Atau buat suka hewan, di sini terdapat aneka macam unggas. Seperti halnya di kebun binatang, unggas tersebut ada di dalam kandang. Cukup menarik untuk dilihat karena banyak jenis burung dan juga ayam. Tak hanya unggas, ada juga kambing yang berada di bagian bawah.

Kami tidak lama di sini, hanya numpang jalan dan foto-foto saja. Selain panas banget, kami juga kurang menikmati karena terburu-buru mau pulang. Mungkin satu tahun ke depan wisata ini bakal teduh karena di sekeliling ada banyak pohon yang baru ditanam dan adem banget kalau dilihat. Kami juga tidak sempat mencicipi kuliner yang dijual di warung setempat. Dalam perjalanan pulang, Budhe Wiwik dan Budhe Nunung bercerita bahwa, ponakan sempat minta beli es jeruk, tapi karena harganya Rp 10 ribu per gelas, mereka memilih membelikan mereka jajan di luar sana. Hahaha. Aku jadi penasaran seberapa nikmat es jeruk di LGM. 😀

Harga makanan yang kurang ramah kantong biasanya memang berlaku di wisata tanpa batas, wisata yang tidak memberlakukan HTM. Jadi tidak usah heran atau kaget, ya. 😉 Oiya, aku sarankan kalau mau ke LGM, tuh, di atas jam 14.00 WIB. Soalnya di bagian bawah yang sangat lapang, tuh, panas menyengat. Mau selfie pun kurang nyaman.

Nah, karena saat itu rada rempong, aku tidak begitu fokus buat ambil gambar. Sebagai gantinya, ini ada cuplikan video suasana Lembah Gunung Madu, Boyolai. Selama menonton! 😉

How To Get Lembah Gunung Madu, Boyolali?

Amrina Gallery, Destinasi Wisata Instagramable yang Menyenangkan

Tahun ini banyak bermunculan destinasi wisata baru di Banjarnegara. Mulai dari wisata alam yang dikembangkan menjadi wisata berbasis petualang seperti Igir atau Bukit, sampai dengan wisata belanja. Pertumbuhan dan perkembangannya pun makin pesat seakan tak ingin ketinggalan dengan pariwisata dari Kabupaten lain yang terus berinovasi.

Merasa mempunyai karakter yang unik, Bu Ina, sapaan akrab pemilik Amrina Gallery, turut membuka dan mewarnai ragam pariwisata di Banjarnegara. Amrina Gallery bisa dibilang destinasi wisata kekinian dengan konsep hampir 80% menawarkan spot foto instagramable yang saat ini sedang digandrungi para generasi millenial.

Berangkat dari hobi mengkoleksi barang-barang antik dan juga pakaian, mantan pramugari tersebut membuat galeri dan butik di rumahnya yang beralamat di Jl. Sunan Gripit No. 7, tepatnya 50 meter utara pertigaan Gayam. Ancer-ancernya yaitu dari pertigaan gayam atau lampu merah, ke utara.

Tak hanya itu, Bu Ina juga membuat cafe dengan konsep kekinian, baik dari sisi tempat maupun penyajian menu. Cafe ini masih berada dalam satu lokasi, hanya saja konsepnya out door dan didukung dengan beberapa spot foto menarik.

Nah, berikut tampilan Amrina Gallery dari berbagai sisi dan pasti akan menggugah jiwa narsis kamu.

AMRINA GALLERY

Daya tarik utama wisata Amrinya Gallery tentunya ada pada galerinya. Ya, galeri yang berisi koleksi benda-benda antik ini akan menjadi pusat perhatian saat kamu masuk kompleks Amrina Gallery. Seluruh koleksi tersebut berada di dalam sebuah joglo yang berada di belakang rumah owner.

Seperti bangunan Joglo pada umumnya, dinding-dinding rumah yang terbuat dari kayu jati ini terlihat sangat menarik. Terlebih desainnya nampak elegan dan kekinian. Dari depan joglo, galeri ini bisa dijadikan latar belakang foto yang tak ada duanya. Pun dengan samping kiri galeri, penambahan bunga dan pepohonan hijau membuat kamu bakal betah mencari konten foto di sini.

Saat masuk ke galeri, kamu akan menjumpai benda-benda antik hasil koleksi dari owner Amrina Gallery. Ada lesung, pawon yang lengkap dengan perabotan masak zaman dulu, sepeda onthel, tokoh pewayangan dan masih banyak koleksi lainnya. Di sini kamu dapat foto dengan benda koleksi yang ada sebagai properti foto, dengan catatan tetap menjaga utuh benda-benda tersebut.

FYI, galeri ini merupakan satu-satunya galeri di Banjarnegara yang menampilkan koleksi benda atik milik pribadi. Untuk masuk sini, kamu akan dikenai biaya Rp 3.000 per orang. Kamu juga bisa sewa baju lawas untuk berfoto di sekitar gallery dengab biaya sewa baju Rp 15.000 per orang.

AMRINA BUTIK

Berawal dari hobinya yang suka belanja -ini beneran horang kaya-, kadang ada beberapa baju yang dibeli tapi ngga terpakai. Ketimbang cuma jadi pajangan, Bu Ina pun membuka butik sebagai pelengkap wisata Amrina. Tak hanya baju dan kain batik koleksinya, Amrina Butik juga selalu update stok baju.

Ketika mendengar kata butik, pasti kamu akan berpikir tentang mahalnya harga baju. Ya, kan? Mungkin itu butik sebelah, berbeda dengan Amrina Butik yang menawarkan koleksi baju mulai dari harga Rp 50.000. Haaah…emang ada baju 50 ribu di butik? Eeng…ngga usah kaget, gitu. Butik ini bisa dibilang untuk semua kalangan. Pun dengan modelnya, mulai untuk remaja, sampai tante-tante yang girang shoping. Lengkap!

Berada di ruang depan, kamu dapat melihat beragam koleksi baju dan kain dengan harga terjangkau dan kualitas premium.

AMRINA CAFE

Di Banjarnegara, konsep cafe dengan tempat yang instagramable dan penyajian makanan yang unik hanya bisa kamu temui di Amrina Cafe. Penyajian Mie Kuah, misalnya. Di sini kamu ngga akan menjumpai mie kuah dalam mangkuk karena penyajiannya menggunakan Batok.

Penggunana Batok sebagai tempat saji ini ngga serta merta sebagai pembeda dalam penyajian menu makanan, namun sekaligus memperkenalkan produk UKM Kabupaten Banjarnegara tepatnya dari Desa Berta, Kecamatan Susukan yang memproduksi aneka macam kerajinan berbahan dasar batok.

Tak hanya Mie Kuah dalam Batok, Sphagetti Carbonara yang biasanya disajikan dengan plating yang elegan, di sini penyajiannya justeru lebih sederhana yaitu menggunakan piring seng motif daun khas zaman dulu. Unik, bukan? 😉

Selain penyajian, konsep tempat duduk yang disediakan, tuh, ramah banget buat foto-foto. Di sebelah selatan, misalnya. Terdapat satu set tempat duduk lengkap dengan koleksi payung dari Bali. Jika bisa mengambil angle foto, kesannya sedang makan di Pulau Dewata, lho. 😀 Lalu, di sebelah barat juga masih ada tempat duduk yang lucu banget buat foto-foto. 😉

Oiya, menu utama Amrina Cafe adalah Spaghetti. Kamu ngga usah ragu untuk memesan menu di sini karena harga yang ditawarkan sangat terjangkau, mulai Rp 10.000 per porsi. Selain Spaghetti dan Mie Kuah, kamu juga HARUS BANGET nyobain ayam petis, ya. Selain jenis ayamnya adalah ayam kampung dengan daging yang empuk, petisnya gurih banget dan bikin kangen!

CAMILAN

Buat kamu yang kurang suka makanan berat karena sudah kenyang atau berat badan sudah beraaat, kamu bisa memesan camilan di sini. Iya, ke Amrina Cafe cuma pesan camilan, tuh, ngga apa-apa karena di sini juga menyediakan aneka camilan.

Biasanya kalau ngedate, gitu, kan suka malas makan, ya. Pinginnya ngemil saja, tapi yang banyaaaaak. 😀 Kamu bisa pesan pisang goreng bertabur keju, mendoan, atau camilan lain yang tersedia di daftar menu. Harga camilan di Amrina Cafe mulai dari Rp 5.000 per porsi. Murah meriah banget!

SPOT FOTO

Ini, nih, yang lagi digandrungi kaum millenial. Adalah wisata yang menawarkan spot selfie. Selain Cafe, Butik, dan Galeri, Amrina juga menawarkan spot selfie yang ngga bakal kamu dapat di tempat lain.

Dengan konsep wisata yang kekinian, sebenarnya tiap sudut Amrina Gallery mengandung KONTEN. Iya, dari kamu masuk kompleks Amrina Gallery, di depan butik terdapat dinding yang diisi dengan berbagai jenis bunga tempel. Kemudian lanjut menuju bagian tengah terdapat mural yang didesain oleh Mas Ade, seniman muda berbakat dari Mandiraja, Banjarnegara.

Mural di sini terbagi menjadi beberapa obyek dalam satu dinding, yaitu suasana cafe, jalanan yang dilengkapi gerobak sapi, angkringan dan kucing, tugu yogyakarta, gerobak dawet ayu dan candi arjuna.

Obyek ini masing-masing memiliki filosofi, selain turut mengenalkan obyek wisata dan kuliner khas Banjarnegara, Bu Ina juga tetap menyisipkan tugu Yogya sebagai ikon Kota Yogyakarta yang mana kota tersebut turut memberi andil bagi keluarganya. Semacam ada kenangan yang susah dilupakan di kota tersebut. Pun dengan kucing yang di angkringan karena keluarga Bu Ina adalah pecinta hewan manis berkumis. 😀

FASILITAS

Kurang lengkap rasanya jika sudah mengumbar mesra hubungan, tapi ngga membeberkan tanggal akad. Iyaa…takut cuma mesra-mesraan dowang, tapi ngga dikawinin, syakiiitnyaaaaa. 😀

Ulangi lagi!

MUSHOLA AMRINA
Mushola….

Kurang lengkap rasanya jika sudah membeberkan segala obyek wisata dengan bombastis, namun ternyata fasilitas umumnya NOL! Ini kadang bikin geleng-geleng kepala. Kabar baiknya, nih, fasilitas umum seperti toilet, mushola, dan Wi-Fi yang super kenceng bisa kamu dapat di sini. Hanya saja, tempat parkirnya masih terbatas. Untuk kedepannya, semoga owner Amrina dapat memperluas halaman parkir, ya.

Disaat banyak obyek wisata mengusung tema vintage dan atau minimalis untuk bangunannya, Amrina Gallery justeru menawarkan bangunan dengan konsep lawas namun tetap kekinian. Berani menjadi pembeda, bukan?

Things to do in Banjarnegara? Lets go to Amrina Gallery!

Notes: sebagian foto di atas hasil jepretan @jeimifa dan @roisardian

AMRINA GALLERY, BOUTIQUE, AND CAFE

Jl. Sunan Gripit No. 7 (50 meter utara pertigaan gayam)

Jam Buka: 09.00-21.00 WIB

Reservasi: +62 813-3848-1633

Petualangan di Wana Wisata Baturraden

Petualangan di Wana Wisata Baturraden – “Kamu beneran mau ikut trekking dengan gendong Yasmin? Jauh, lho.” Pungky beberapa kali meyakinkan aku perihal trekking. Dia memang lebih paham medan yang akan dilewati karena cukup sering main ke obyek wisata di sekitar Baturraden. Aku pun menjadi ragu, galau, bingung, dan sejenisnya. Apalagi Suami yang harusnya sudah datang sejak jam 05.00 WIB, belum juga berkabar.

Eh bentar, ini ada drama sebelum ikut tour

Beberapa kali aku sempat berkomunikasi dengan Suami, namun setengah-setengah karena signal di Villa ngga stabil. Antara tetap stay di Villa bareng Pungky dan Jiwo, atau ikut tour. Sungguh pilihan yang sungguh berat. Terlebih Mas Topan sempat bilang bahwa, untuk sampai ke beberapa obyek harus melewati anak tangga yang jumlahnya tak sedikit. Ugh…ini bikin deg-degan makin kencang, dan lutut lunglai seketika. Hahaha.

Dengan clue terakhir yang aku sampaikan ke Suami yaitu Bumi Perkemahan Baturraden, akhirnya dia sampai Villa jam 06.00 WIB dengan segala perjuangannya. Alhamdulillaah…satu-satunya harapan datang juga di hari kedua acara Bloggers Goes To Palawi.

Petualangan di Wana Wisata Baturraden.

Telaga Sunyi

Keseruan hari pertama aku rasakan bersama teman-teman blogger saat diajak tim Palawi menuju obyek wisata yang tak jauh dari penginapan kami yaitu Villa Agathis atau kompleks Bumi Perkemahan Baturraden. Adalah Telaga Sunyi.

Perjalanan kami tempuh menggunakan mobil dan membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit dari penginapan. Dari tempat parkir, kami hanya berjalan kurang lebih 500 meter untuk sampai Telaga. Legaaa rasanya, tanpa suami mah aku bisaaaaa. Wkwkwk

Telaga dengan air yang sangat jernih ini rekomended banget buat kamu yang suka diving dan cliff jumping. Beberapa teman Blogger yang jago renang juga pada terjun merasakan dunginnya air telaga yang punya kedalaman kurang lebih 2 meter. Brrr… 😆

Telaga yang cukup luas ini juga menyediakan ban dalam. Jadi jangan takut jika kamu ngga bisa renang. Dengan membayar tiket masuk Rp 15 ribu, kamu bisa renang sepuasnya sampai kulit keripuut. 😀

Hari kedua kegiatan Bloggers Goes To Palawi yaitu jelajah obyek wisata yang dikelola oleh PT. Palawi Risorsis Unit Wana Wisata Baturraden. Sesuai rundown, jam 5.30 WIB seluruh Blogger harus sudah menyiapkan diri untuk tour. Mbak Sista dan crew Palawi sengaja mengagendakan waktu sebelum matahari terik karena rencananya tour akan dimulai dari Villa dengan trekking melalu hutan-hutan, gitu. Namun pada kenyataannya, kami baru siap jam 06.30 WIB.

Trekking dimulai dari Villa Agathis menyusuri hutan dan nyeberang kali yang airnya surut. Beruntung Baturraden ngga hujan, akses jalan pun mudah karena tanah ngga becek. Kebayang kalau becek, ya, pacet bakal berkeliaran dimana-mana. 😀

HUTAN TREKKING
Trekking lewat hutan gini…

Trekking kali ini aku memilih jalan santai dan selalu berada di belakang bareng Tante, Ella dan Rois. Beneran sebagai kaum tertinggal karena dikit-dikit capek. Hahaha. Salut sama dua crew pendamping kami yang dengan sabar mendampingi. Yaa…meski sebenarnya ada rasa gemas pastinya. Hahaha.

Dan berikut tujuan wisata yang bikin aku lupa medan trekking saking senangnya mendapati obyek wisata yang tak biasa.

Pancuran 3 (Telu)

Ternyata untuk sampai Pancuran 3, tuh, butuh perjuangan banget. Harus susur hutan yang jauhnya serasa 3km, ini ngga berlebihan, lho. Atau malah lebih, ya. Hahaha. Selain itu, harus melewati anak tangga yang jumlahnya ngga sedikit dan terus menanjak. Ngos-ngosan banget, sampai ditawari mendoan sama Mbak Dev saja ngga bisa menerima. Padahal kan kesukaan banget. 😀

Aku baru tahu, ternyata Pancuran 3 masih satu lokasi dengan Lokawisata Baturraden, tepatnya ada di atas lokawisata. Hanya saja beda pengelola, jadi harus kembali membayar tiketing lagi untuk bisa masuk Pancuran 3. Buat kalian yang ngga demen trekking atau susur hutan, mending naik kendaraan saja menuju lokawisata Baturraden, baru lah melanjutkan perjalanan ke Pancuran 3. Dari lokawisata ini jalannya ngga sampai 1km, kok. Dekeeet bangettt!

Aliran air berbentuk pancuran yang berjumlah tiga berada di kanan kolam pemandian. Aku cukup melihat dari kejauhan karena ngga ada niat mandi di sini. Lalu, aku naik ke area kolam pemandian dan ada beberapa orang yang sedang berendam. Ini agak menggoda, apalagi di samping kolam ada Bapak-bapak yang menawarkan pijat belerang. Kan jadi pingin. 🙁

Sambil menunggu Tante yang lagi beli Pisang Goreng di warung sekitar Pancuran 3, aku mendekat ke petilasan Mbah Tapa Angin. Konon katanya, di sini salah satu tempat pertapaannya. dia seorang penyebar agama Islam yang berasal dari Turki bernama Syeh Maulana Magribi.

Tak lama kemudian, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Pancuran 7 yang katanya masih jauh banget sambil ngemil gorengan. Eeeh…kali ini udah punya napsu makan, ngga seperti tadi. Sampai minta mendoan yang saat itu ada di tangan Mbak Olip. ?

Pancuran 7 (Pitu)

Aku kira tanjakan menuju Pancuran 3, tuh, sudah termasuk ekstream. Tapi ternyata belum ada apa-apanya jika dibanding dengan tanjakan menuju Pancuran 7. Hahaha. Iyaaa…setelah susur hutan, kami kembali melewati anak tangga yang jumlahnya puluhan. Ngga langsung banyak, sih. Bertahap, gitu. Tapi tetap saja bikin ngos-ngosan. 😛

Kali ini petualangannya lebih greget karena sempat ada pacet menyerang punggung kaki, tapi aku ngga kerasa. Pas ketahuan itu beneran pacet, aku minta tolong kepada Mas pemandu untuk melepasnya. Beruntung aku ngga pakai kacamata, jadi ngga lihat pacet yang nempel di kaki. Geli banget kalau sampai lihat. 😀 Dan bekas isapan pacet langsung aku tutup dengan tisu yang aku beli di warung sebelum Pancuran 7. Iya, selain jajan dan minuman, di tengah hutan ada warung yang menjual tisue. Penjualnya berpengalaman, ya.

Pengalaman perjalanan paling mengesankan yaitu ketika sampai hutan yang bisa dibilang rest area. Di sini kami beristirahat dengan disambut sajian Badèg atau air nira dan juga serabi yang menul-menul. Setelah trekking jauh, meneguk segelas nira, dan makan serabi sungguh nikmat. Ngga hanya itu, Mbak Sista juga sudah menyiapkan Nasi yang dibungkus dengan daun jati (Nabuti) untuk sarapan kami. Mengasyikan.

Usai bersantai, sarapan, dan gegoleran di atas tikar, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pancuran 7. Ya, ternyata masih harus berjalan lagi. Bedanya kali ini treking sedikit dimanjakan. Kami dijemput mobil dari Palawi.

Untuk sampai Pancuran 7 hanya membuthhkan waktu 5 menit dari rest area tadi. Namun setelahnya kami kembali trekking dengan jalur yang lumayan. Tak masalah, sih, karena trekking kali ini juga terbayar dengan suguhan obyek wisata yang mewah. Yaitu pancuran 7 yang begitu eksotis. Aliran air hangat di obyek wisata ini membuat kami betah. Apalagi ada pijat belerang, kuliner pecel dan sate di lokasi ini. Dengan membayar HTM Rp 15 ribu, beneran dimanjakan dengan fasilitas pendukung. 😉

Sky Bike dan Hamparan Bunga Panca Warna

Eksplorasi wana wisata Baturraden hari kedua selain ke Pancuran 3 dan 7, kami juga diajak merasakan sensasi naik sepeda melayang atau sky bike dengan ketinggian kurang lebih 2 meter. Ini pengalaman pertamaku naik sepeda di atas ketinggian dan tanpa genjot. 😆

Jarak dari titik awal sepeda sampai pemberhentian kira-kira 2 meter, sungguh jarak ini terasa 1km karena di atas sepeda hanya bisa tegang dan tegang banget. Padahal operator sudah memintaku untuk rileks, tapi tetap saja susah. Teman-teman yang berada di bawah atau yang sedang mengambil dokumentasi terus bersorak ketika sedang ada yang naik sky bike. Ini bersorak bukan untuk menyemangati, melainkan menggoda. Selain deg-degan saking ngga bisa tenang, keringat dingin juga keluar. Pun operator yang mendampingi, mengantar kami sampai finish, dari bawah ngos-ngosan dan keringat gobyos!

Buat kamu yang sudah sampai kawasan wisata Palawi musti nyobain naik sky bike, supaya pengalaman wisatanya lengkap. Cuma bayar Rp 20 ribu per orang. 🙂 Setelahnya kamu bisa berfoto-foto di taman bunga yang berada dalam satu lokasi.

Taman Labirin

TAMAN LABIRIN BATURRADEN
Taman Labirin Baturraden…

Sebelum acara Blogger Goes To Palawi berakhir, kami juga menjajal obyek wisata yang lagi banyak diserbu pengunjung, khususnya mereka yang mengambil paket outbound di sini. Ya, selain Villa, dan Obyek Wisata, Palawi juga menawarkan paket olah raga outbound.

Pada sesi ini, kami terbagi menjadi beberapa tim. Games kali ini memperebutkan hadiah rahasia dari Palawi, makanya jangan heran kalau suamiku serius banget tanpa melihat isterinya yang lari ke sana sini sambil gendong si kecil. Wkwkwk Pokoknya komitmen, dan persaingan ketat. Rute taman labirin ini ngga begitu membingungkan karena sebelumnya kami sudah mencoba untuk menghafalnya. #ups Tapi cukup bikin ngos-ngosan saking luasnya taman.

Kamu bisa juga bertualang di taman labirin tanpa mengambil paket outbound. Hanya dengan membayar tiket masuk Rp 10 ribu per orang, kamu bisa kejar-kejaran dengan selingkuhan sampai puaaaas! #eh

Makan Malam dan Api Unggun

Malam hari di Baturraden, jangan ditanya dinginnya seperti apa. Villa tempat kami menginap pun ngga memberi fasilitas AC karena di sini sudah terlalu sejuk. Makanya aktivitas api unggun ini sangat cocok dilakukan di sini, apalagi ditambah suguhan jagung bakar, mendoan, dan makan malam dengan menu khas Palawi.

Selain Nabuti, Palawi juga menawarkan menu makan malam dengan lauk yang tak biasa. Ada berbagai macam menu yang ditawarkan dan malam itu kami makan dengan lauk ikan mujahir, pecak jantung, oseng dage kuncar, dan sambel terasi. Sungguh ini pengalaman pertamaku makan oseng dage kuncar dan baru tahu kalau kuncar itu sedap juga dioseng. 😀 Jyaan…orang desa tapi tetap kagum dengan menu a la desa. 😉

Makan malam berbalut api unggun ini ngga sekadar makan dan hore-hore dowang. Pihak Palawi memanfaatkan moment ini untuk berbagi informasi seputar PT. Palawi Risorsis dan Wana Wisata Baturraden. Tak hanya itu, mereka juga mengadakan sesi perkenalan sesama Blogger dan juga crew Palawi. Yaa…meski beberapa sudah saling kenal, tapi di sini perkenalannya lebih personal lagi. 😉

Oiya, paket makan malam dan api unggun bisa kamu dapat bila menginap di Villa milik Palawi. Namun dengan catatan, kamu harus request terlebih dahulu karena paket ini ngga termasuk include penginapan.

Bertualang selama dua hari satu malam di Baturraden kali ini memberi kesan yang berbeda. Banyak pengalaman baru yang aku dapat. Setidaknya aku tahu bahwa, Baturraden ngga hanya punya Lokawisata saja, tapi banyak obyek wisata yang lebih menarik dan bikin betah. Semua ini dilengkapi dengan Villa, Camping ground, MICE, dan Outbound area.

Terima kasih atas sambutan yang baik, pelayanan yang luar biasa, dan pengalaman yang berharga. Terima kasih, Palawi. Terima kasih Mbak Sista, Pak Arif, dan Mas Fajar. Terima kasih juga buat para guide atau operator yang dengan sabar mendampingi perjalanan kami. 😉

Baca juga tentang Villa Agathis Baturraden.

Notes: sebagian besar foto-foto di atas hasil jepretan Mbak Wening, Rizki, Mas Pradna, Mbak Dian dan Mas Yugo. Makasih atas foto-foto kecenya. Hug hug hug!

Berendam di Kolam Pemandian Air Hangat Kalianget, Wonosobo

Melintasi gapura masuk kolam dan pemandian air hangat yang berlokasi di Desa Kalianget, Wonosobo, seorang petugas loket menghampiri kami yang mengendarai sepeda motor. Laju sepeda motor kami sengaja pelan karena ini kali pertama kami mengunjunginya.

“Kolam air dingin untuk dewasa sedang dalam perbaikan, Mas. Ini tiket masuknya Rp 3.000 per orang, ya. Rp 2.000 tiket masuk Taman Rekreasi, dan Rp 1.000 tiket parkir.” Sambil memberi informasi, petugas loket menyodorkan dua lembar tiket masuk kepada suami. Artinya, Yasmin yang saat ini berusia 2.5 tahun belum berkewajiban membayar HTM. Balita masih free.

“Ngga apa, Pak. Yang penting kami masih bisa berendam di kolam air hangat.” Jawab suami yang dari awal excited ingin berendam air hangat. Menuntaskan rasa penasaranku kepada kalianget.

Akhirnya, setelah sekian purnama hanya bisa mendengar keseruan para kerabat dan teman yang sudah nyobain kolam pemandian air hangat, akhirnya weekend lalu aku bersama Yasmin dan juga Ayahnya dapat merasakan nikmatnya berendam di air hangat sampai puas hanya dengan membayar Rp 3.000 per orang.

HTM Pemandian Kolam Renang Air Hangat, Kalianget.

Ya, kami kembali membayar tiket masuk kolam Rp 3.000 per orang di loket masuk pemandian. Ini betul-betul tiket masuk wisata yang amat ramah. Ya…meski hanya berendam atau renang, HTM di bawah lima ribu rupiah sungguh bersahabat. Namun aku ingat kalau sebelumnya sudah ditarik HTM di loket pintu masuk. Double tiket. Meski pemanfaatan HTMnya berbeda, tapi kenapa ngga satu kali penarikan saja, ya? Parkir dan HTM dijadikan satu, atau menyediakan karcis parkiran tersendiri.

PEMANDIAN KALIANGET

Tujuan sebagian besar orang yang datang ke kolam pemandian air hangat pasti ingin renang dan berendam. Ya kalik, masuk area ini hanya mau pacalan dowang, sih. 😀 Lagipula, taman rekreasi yang di dalamnya ada hutan kota, sepertinya belum dimanfaatkan secara maksimal. Hanya saja pendukung lain seperti ayunan, beberapa masih berfungsi dengan baik. Oiya, lagi-lagi balita masih free, bisa berendam sampai puas.

Di sini terdapat dua pintu masuk menuju kolam renang. Satu pintu berada di depan area parkir, satunya berada di samping kiri area parkir atau dekat hutan kota. Masuk ke dalam terowongan Badak, gitu. Cuma pintu bagian samping ini hanya dibuka pas hari Minggu dan ramai karena pintu utama ngga terlalu luas, pengunjung yang berpapasan harus mengalah salah satunya.

Kalau aku, sih, lebih memilih masuk lewat pintu utama karena di samping terdapat lukisan panorama obyek wisata Kabupaten Wonosobo. Gubung dan Telaga Warna, misalnya. Cakep banget buat foto-foto!

Sumber Air Panas ada di Beberapa Titik

FYI, di Kabupaten Wonosobo ada lebih dari satu sumber air panas karena Kabupaten ini tak jauh dari Dieng yang merupakan wilayah vulkanik aktif. Di daerah Manggisan yang tak jauh dari Kalianget, misalnya. Di sana juga terdapat pemandian air hangat. Sementara di daerah Dieng sendiri berada di kolam air hangat D’Qiano. Cuma bedanya, kolam pemandian air hangat Kalianget dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Wonosobo, sementara kolam air hangat lainnya dikelola oleh masyarakat setempat dan atau swasta.

Bermain di Kolam Renang Air Dingin 

Lokasi antara kolam air dingin dan air hangat terpisah. Kolam air dingin berada di bagian atas, lengkap dengan fasilitas kamar ganti, kamar mandi, locker atau penitipan barang, dan penyewaan ban. Di sini juga terdapat warung yang menjajakan makanan kecil, minuman, dan tentunya makanan khas yang dapat dinikmati setelah renang. Apalagi kalau bukan Mie Instant yang bikin ketagihan. 😆 Harga makanan di sini tergolong masih wajar, ramah kantong.

Oiya, penyewaan ban dalam Rp 3.000 per buah sampai puas. Karena ngga membawa pelampung buat Yasmin, kami pun menyewa satu ban. Dengan tiket masuk tiga ribu rupiah, fasilitas kolam anak sudah termasuk memuaskan. Ember tumpah, dan beberapa permainan di tengah kolam membuat anak-anak betah berlama-lama main di kolam. Di sekitar kolam juga kolam renang anak juga terdapat area bermain. Ngga banyak, sih, tapi cukup bikin anak-anak bahagia.

 

Tak hanya tempat bermain, di samping kolam renang dewasa juga terdapat lukisan 3D. Bagi kalian para pemburu feed instagram musti foto di sini! 😀

Berendam di Kolam Renang Air Hangat.

Kolam yang kami tuju pertama kali yaitu kolam air hangat. Memasuki area kolam air hangat, aku sempat shock. “Duuuh…ini tempat wisata bukan, sih?” Batinku seketika melihat sampah berserakan dimana-mana. Padahal nih ya, sudah disediakan tempat sampah di tiap sudut. Ini siapa yang ngeselin? Pengunjung yang ngga bisa turut menjaga kebersihan dan keindahan, dong. Huh…Tapi aku lihat pengunjung lain tetap nyaman menemani anak-anak renang, menunggu anak-anak, sambil ngemil, gitu.

Karena Yasmin ngga sabar untuk renang, aku melepas bajunya ngga di ruang ganti. 😆 Beruntung di pelataran kolam terdapat beberapa bangku. Kami yang ngga menyewa locker cukup terbantu dengan adanya bangku ini karena bisa dimanfaatkan untuk menaruh barang-barang bawaan. Alasan kami ngga menyewa locker, tuh, karena barang bawaan kami ngga ada yang penting. Iya, kami cuma bawa baju ganti dan beberapa lembar uang saja. Lagipula, kami berencana lebih lama di kolam air hangat, sementara locker berada di bagian atas, kolam air dingin. 😆

Kami cukup lama berendam air hangat di sini. Meski suasana sangat ramai, karena pas weekend, kami tetap menikmati dengan suka cita. Apalagi di atas kami sudah diberi semacam atap dari jaring (apa sih namanya), jadi ngga panas dan memang bikin betah berendam di air hangat. Mungkin kalau ngga ada agenda lain, kami bakal larut di sini. Masuk jam 10.00 WIB, keluar kolam jam 13.00 WIB. Bayarnya TIGA RIBU euy. NAIKIN laaah!

Bilas atau Mandi di Pancuran 3

Dan yang paling parah nih, genangan air di depan kamar mandi di area Kolam Air Hangat, bikin merinding. Ngga kebayang kalau sampai ada yang kepeleset di situ. Ya, selain genangan air, lantai di sini licin. Agak was was juga. Buat yang bawa anak, betul-betul harus didampingi karena di beberapa lokasi cukup licin, termasuk di area pemandian air pancuran. Di situ licin karena lantai sudah berlumut.

 

Saat itu, aku ngga melihat petugas yang berjaga di sekitar kolam. Iya, jangankan petugas kebersihan, petugas yang biasanya mengawasi pengunjung di area kolam pun tak nampak. Sepertinya minim petugas, nih.

Pemandian Kalianget Di Masa Mendatang.

Dilihat dari beberapa sisi, obyek pariwisata yang dikelola oleh Dinas Pariwisata, khususnya Kolam Renang, terbilang standar. Aku ngga paham karena apa, mungkin anggaran dari pemerintah sangat terbatas. Termasuk anggaran untuk membiayai para pekerja, pengembangan sarana prasana, dll dll. Fasilitas penunjang untuk kolam renang pun terbilang mahal. Tak heran, jika Kolam Renang Serulingmas Banjarnegara, yang tadinya dikelola oleh Dinpar setempat, sekarang sudah menjadi BUMD dengan harapan pengelolaan dan pelayanan lebih baik sehingga berdampak pada pendapatan daerah.

PEMANDIAN AIR HANGAT DI WONOSOBO
Ikan paus di tepi kolam…wkwkwk

Kedepannya, untuk memaksimalkan obyek wisata, mungkin pemerintah daerah Wonosobo bisa mendatangkan investor atau melakukan cara lain supaya obyek wisata ini makin berkembang. Melihat perkembangan dunia pariwisata saat ini, menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas dan memelihara obyek wisata. Terlebih Kolam Pemandian Air di Kalianget ini juga sudah menjadi ikon Kabupaten Wonosobo. Sayang banget kalau sampai ngga dirawat dengan maksimal.

Pengalaman Menginap di Villa Agathis Baturraden

Villa Agathis Baturraden – “Ugh…yang mau enak-enak di Villa Baturraden. Bikin dedek buat Yasmin jauh amat!” Beberapa reply dari teman di status insta story membuatku geli. Dasar teman baik, bikin aku mikir keras untuk belajar rendah hati. 😛

Dan tau ngga, status yang aku tulis, tuh, biasa banget. “Yuhuuui…malam ini kami mau menginap di Villa sekitar Baturraden. Asyiiik.” Status gitu dowang, tapi ramai dengan prasangka-prasangka buruk. Paling menggelitik nih, ada yang do’ain kalau sampai belok ke lembah sadar, aku bakal pikun seketika. Astaghfirulloh. Padahal teman sekamarku malam itu bukan pak suami lho, tapi Tante. 😆 😛 😛

Baturraden menjadi tujuan wisata kali ini. Bersama 14 Blogger, pada tanggal 5-6 Mei 2018 aku diberi kesempatan untuk menginap di Villa Agathis dan eksplorasi beberapa destinasi wisata yang dikelola oleh Perhutani Alam Wisata (Palawi) Unit Wana Wsiata Baturraden. Ini kali pertama aku main ke Baturraden dan menginap di Villa, biasanya hanya main saja. Jika bukan karena undangan dari Palawi, sepertinya entah kapan aku bisa menginap di Villa yang lengkap dengan ragam wisata di sekitarnya. FYI, PT. Palawi Risorsis adalah anak perusahaan dari Perhutani. Destinasi Wisata yang dikelola oleh Palawi kini makin berkembang, diantaranya yaitu Wana Wisata Coban Rondo yang berada di Malang, dan Wana Wisata Baturraden yang berlokasi di Banyumas.

Bumi Perkemahan Baturraden
Kompleks Bumi Perkemahan Baturraden…

Melewati gerbang masuk Palawi, mobil yang kami naiki berbelok ke arah kanan. Pemandangan khas alam yaitu pepohonan tinggi menjulang menemani sepanjang perjalanan menuju Villa. Aku kira perjalanan dari gerbang masuk bakal lama, tapi ternyata ngga sampai tiga menit kami sampai di Villa Agathis. Aaaak…akhirnya setelah melalui penjemputan yang eksklusif oleh Palawi, akhirnya seluruh Blogger bisa berkumpul di Villa Agathis. Yeeeey! Mobil pun langsung parkir tepat di depan Villa karena halaman cukup luas bisa buat parkir sampai empat mobil. 🙂

Sejuknya udara di sekitar Villa membuatku ingin segera eksplor obyek wana wisata yang berada tak jauh dari Villa. Ada sky bike, taman labirin, dan hamparan bunga panca warna. Namun aku ingat, sesuai rundown obyek wisata yang pertama akan kami eksplor adalah Telaga Sunyi. Duduuuh…sabarr, ya. 😉 Nah, sebelum eksplorasi wisata, aku mau review satu per satu fasilitas Villa Agathis!

Villa Agathis Palawi Baturraden
Adem, yaa….

Pengalaman Menginap di Villa Agathis Baturraden.

Ruang Santai

Pertama kali melihat ruang yang berada di depan kamar, rasanya pingin langsung duduk dan bercerita dengan teman-teman Blogger yang sudah cukup lama tak bersua. Blogger dari Yogya, Mbak Dian dan Mas Yugo, misalnya. Kami terakhir bertemu saat famtrip di Banjarnegara. Pasti akan banyak obrolan jika duduk bersama di atas sofa yang sangat nyaman dan empuk. Ugh. 😛 😛

Setting sofa di ruang ini saling berhadapan, cocok juga buat meeting a la-a la, nih. Iya, ngga hanya buat acara keluarga, Villa ini cocok buat acara bareng komunitas yang mengharuskan menginap dan butuh space untuk diskusi, apalagi sudah dilengkapi dengan dapur. Lagi-lagi karena harus taat pada rundown, aku pun mengabaikan sofa dan langsung masuk ke kamar untuk bersiap-siap kegiatan. 😉

Kamar

Di Villa Agathis terdapat 6 kamar membentuk letter U dengan ruang santai berada di tengah-tengah. Aku bersama Yasmin dan Tante menempati kamar nomor 5, dekat dengan dapur. Kamar dengan desain minimalis ini memiliki luas 7 meter persegi dengan satu kamar tidur ukuran queen size. Masih cukup nyaman lah untuk bobok kami bertiga. Apalagi selimutnya wangi dan tebal, tambah nyenyak tidurnya. 😀

Televisi, lemari pakaian, dan meja rias melangkapi fasilitas kamar. Tak hanya itu, kain batik dengan perpaduan warna cokelat putih yang menempel di papan bagian atas kamar tidur menambah kesan elegan desain kamar ini. Satu lagi, meja yang tak begitu lebar lengkap dengan kursi yang terletak di pojok kiri kamar menghadap luar jendela kaca bisa dimanfaatkan sebagai meja kerja, lho. Ya…meski di atasnya terdapat teko untuk menghangatkan air, masih ada space.

Kamar Mandi

Baturraden terkenal dengan udara dinginnya, makanya saat masuk kamar mandi dan mendapati air hangat, lega rasanya. Pastinya ngga akan ada drama malas mandi buat Yasmin. Perlengkapan mandi seperti sabun dan shampo juga tersedia di dalam wadah yang menempel di dinding dekat shower.

Handuk besar, tisu, sikat gigi lengkap dengan pasta gigi juga tersedia. Closet duduk, washtafel dan kaca di dalam kamar mandi juga bersih. Nyaman lah, sampai Yasmin betah banget berlama-lama di kamar mandi. 😀

Makanan

Villa Agathis menyediakan dapur lengkap dengan alat masak dan juga peralatan makan, namun bukan berarti kami dibiarkan masak sendiri. Eh tapi kalau dari rumah bawa bahan masakan, boleh juga, tuh. Tiap tamu yang menginap di sini berhak mendapat fasilitas satu kali makan untuk breakfast. Ada banyak pilihan menu yang bikin kangen kembali menginap di Villa ini. Salah satunya yaitu menu nasi bancakan saat makan siang.

Menu ini sungguh menggugah selera makan. Nasi, aneka sayur, lauk, sambal, tertata rapih di atas daun pisang. Aku suka banget dengan lauk ayam yang empuk, urab, dan tentunya sambal yang saat itu ludes karena cocok banget di lidah ini. Ehiya, sambal dari lombok rawit Baturraden yang endeus gandeus ini sempat menjadi topik hangat disela-sela makan siang hingga kami meninggalkan Villa. Mamahnya Kinan malah sampai minta resepnya sama Mbak Sista, Marketing Palawi yang dengan sabar melayani dan mendampingi kami tour.

Palawi juga menawarkan menu lain dengah harga mulai Rp 35.000 per porsi. Ada juga tipe prasmanan seperti menu yang disajikan untuk makan malam. Menu prasmanan ini juga anti mainstream lho, ada oseng dage kuncar dan pecak jantung. Jauh dari kesan menu mewah, tapi menambah napsu makan. Sungguh ini kali pertama aku nyobain menu seperti ini. 😀

Free HTM Obyek Wisata yang Dikelola Palawi

Ini fasilitas yang tak ada duanya, menginap di Villa dan mendapat free HTM obyek wisata yang dikelola oleh Palawi kan asyik banget. Udah gitu, ngga hanya satu obyek pula. Total ada 4 obyek wisata: Pancuran 7 (13k), Telaga Sunyi (13k), Taman Labirin (10k), dan Hamparan Bunga Panca Warna. Lumayan banget kalau dikalikan 10 orang, tuh. 😀

Untuk menikmati Villa Agathis dengan fasilitas yang sudah aku sebut di atas, cukup membayar Rp 3.400.000. Kalau dihitung terperinci jatuhnya kira-kira Rp 570.000 per kamar, tapi sudah plus free HTM obyek wisata. Cukup terjangkau, bukan? Ehya, selain Villa Agathis, masih ada 2 Villa yang ditawarkan oleh Palawi Baturraden. Yaitu Villa Accacia dengan 4 kamar harga Rp 3.400.000 dan Villa Ebony dengan 14 kamar harga Rp 9.400.000.

Blogger Goes To Palawi

Terima kasih Mbak Sista, Mas Fajar, Pak Arief, dan all crew Palawi yang telah memberi kenangan dan pengalaman baru pada kegiatan Bloggers Goes To Palawi, 5-6 Mei 2018. Sukses terus buat Palawi, ya.

Baca juga tentang Wisata Wana Wisata Baturraden.

Notes: Beberapa foto di atas adalah karya @rizkichuk, Kak @pradna, dan @bajalananblog.

Berkeliling Rumah Dome Teletubbies di New Nglepen, Yogyakarta

Saat memutuskan untuk mengajak Yasmin traveling ke Yogyakarta, berarti aku harus menyusun itinerary wisata ramah anak. Iya, ngga hanya nyenengin diri sendiri, tapi juga nyenengin anak.

Banyak referensi wisata ramah anak di Yogyakarta. Beberapa destinasi wisata yang sudah aku tahu, rata-rata berlokasi di tengah kota Yogyakarta. Salah satunya adalah Kids Fun. Sebenarnya di sini cukup komplit karena tak jauh dari kompleks kids fun juga masih ada beberapa obyek wisata ramah anak. Namun aku belum ingin mengajaknya ke Kids Fun karena usia Yasmin masih terlalu dini untuk menikmati segala permaianan edukatif di Kids Fun. Maka dari itu, aku browsing untuk mencari referensi.

Dan ketika browsing wisata ramah anak di Yogyakarta, Rumah Dome Teletubbies muncul dalam deretan daftar pencarian di laman google. Setelah aku cari tahu lebih lanjut, ternyata dome teletubbies memang sudah lama dijadikan destinasi wisata, bahkan sudah menjadi Desa Wisata bernama The New Nglepen.

Mushola Dome dan lukisan karakter Teletubbies….

Rumah Dome Teletubbies awalnya murni dibangun sebagai tempat tinggal bagi warga yang kehilangan rumah pasca gempa Yogyakarta pada tahun 2006. Tapi ngga disangka, ketika dome ini dipercantik dengan cat warna cerah dan juga gambar karakter kartun serial yang hits pada masanya yaitu teletubbies, desa ini menjadi ramai. Dari sini, aku ingin juga melihat rumah dome, dong. Terlebih menurut laman situs The Dome For The World Foundation, rumah dome hanya ada di 5 negara sasaran penerima bantuan, yaitu Indonesia, India, Belize, Haiti, dan Etiopia. Makin pingin melihat secara langsung.

Seharian di traveling di Yogyakarta, kami sengaja sewa mobil untuk keliling supaya lebih hemat waktu. Mobil yang kami sewa dengan harga Rp 450.000 ini adalah mobil mungil Karimun. Mobil ini dengan gesit mengantar kami traveling sampai ke atas bukit. Setelah singgah di beberapa obyek wisata, berbekal GPS, akhirnya kami sampai di Desa Wisata New Nglepen yang ternyata masuk banget. Bukan pelosok, sih, cuma dari jalan raya utama cukup jauh.

Sekretariat Desa Wisata New Nglepen… Kompleks Rumah Dome Teletubbies…

Sesampainya di New Ngelepen, Mas Anwar, sopir yang super sabar menunggu kami berwisata, memarkirkan kendaraan di samping kiri masjid. Entah tempat parkir atau bukan, yang jelas lahan ini mwnjadi satu-satunya lahan kosong yang bisa digunakan untuk parkir kendaraan.

Hanya beberapa jengkal dari tempat parkir, terdapat dome yang pada bagian dinding depan tertulis Sekretariat. Karena siang itu cuaca sangat HOT, dan wajah si kecil sudah nampak lelah, aku memilih untuk menjaga mood si kecil dengan mengajakanya bermain ayunan. Ya, masih di area tempat parkir, terdapat ayunan dan juga beberapa sepeda yang mungkin termasuk fasilitas yang bisa digunakan untuk keliling desa, melihat dome-dome yang lucu.

Beruntung ada Najwa, perempuan kecil yang tinggal di sini, juga sedang main ayunan. Yasmin pun merasa ada teman. Bahagia banget, dong, bisa ayunan berdua, gitu. 😉

RUMAH TELETUBBIES
Membangun mood Kecemut…

FYI, rumah dome teletubbies menjadi satu-satunya bantuan relokasi karena tanah warga yang ambles saat itu ngga bisa dibuat bangunan permanen lagi. Informasi ini aku dapat dari Mas Jon (sebut saja Jon), yang saat itu sedang menjaga sekretariat.

Karena The New Nglepen adalah desa wisata, pikirku ketika sampai sini, aku akan diajak keliling melihat dome yang berjumlah 80 dome sudah termasuk fasilitas seperti Mushola, Puskesmas, dll. Dengan membayar Rp 5.000 per orang, yang saat itu dibayarkan di sekretariat, ngga ada penawaran apapun dari Mas Jon. Mungkin karena kami tiba di lokasi pas banget jam istirahat yaitu jam 12.00 WIB, Mas Jon sudah lelah.

Bagi wisatawan, Pokdarwis menetapkan tarif masuk yang berbeda sejak awal 2008 hingga tarif terbaru saat ini, yang dipatok sebesar Rp5.000 per orang. Padahal di beberapa artikel yang aku baca, di sana terdapat gerobak tradisional yang ditarik dengan sapi dengan membayar Rp 20.000 per orang. Duuuh…udah kebayang bahagianya si kecil naik karapan sapi. Hahaha.

Bangunan tambahan di belakan dan samping rumah dome…

Tak hanya gerobak sapi, desa wisata ini juga terkenal dengan bukit teletubbiesnya. Wisatawan dapat camping juga untuk melihat sunrise atau sunset yang katanya cakep. Menurut Mas Jon, yang paling ramai, tuh, out bound. Hasil kunjungan wisatawan dari 2008 sampai sekarang yang direkap dalam white board, angkanya begitu melejit. Mulai dari 300 orang sampai sekarang kisaran 38.000 orang tiap tahunnya. Amazing, ya. Bisa dibilang ramai.

Pendapatan wisata ini, selain digunaan untuk membayar pokdarwis yang aktif mengelola desa wisata, juga digunakan untuk membayar Pajak tanah senilai Rp 15 juta yang dibebankan kepada warga. Ini sungguh istimewa. Ngga kebayang jika ngga dibuat desa wisata, ya. Kasihan warga sini.

Sayangnya, di sana kami hanya duduk-duduk manis di dalam dome sekretariat sambil tanya ini itu seputar dome, melihat dalamnya dome, dan dokumentasi yang menempel di dinding dome sekretariat. Tapi tak mengapa, setidaknya aku dan Yasmin sudah berkeliling desa Nglepen yang isinya rumah dome, rumah yang tak pernah kami jumpai di desa lain.

DESA WISATA TELETUBBIES
Keliling Desa Nglepen…

Kami hanya bisa bertahan sepuluh menit di dalam rumah dome. HOT banget, euy. Hanya ada satu fentilasi dowang dalam rumah dome ini. Duuh…ngga kebayang yang tiap hari menghuni dome, belum lagi jika di luar matahari sedang terik.

Oiya, meski konsep dome ini dibuat warna-warni dan beberapa gambar pada tiap dinding dome mengacu pada serial anak teletubbies, namun desa wisata nglepen ngga begitu rekomen untuk wisata ramah anak. Selain panas banget, ngga ada kegiatan khusus buat anak-anak kecuali out bound. Wahana permainan anak pun masih minim. Ekspektasiku, tuh, kami di sini akan disuguhi gelaran permainan atau pertunjukan yang cocok untuk anak-anak karena ikon Teletubbies begitu kuat di desa wisata ini. Badut Teletubbies, misalnya. Mungkin karena kami hanya bertiga, dan lagi ngga beruntung, jadi ngga menjumpai pertunjukan-pertunjukan meski weekend.

Rumah dome ini hanya digunakan untuk ruang tamu, tempat tidur, dan dapur dengan satu kompor kecil. Sementara untuk kamr mandi, warga masih menggunakan kamar mandi umum atau kamar mandi yang dibangun untuk bersama. Satu kompleks disediakan satu sampai dua kamar mandi. Namun bagi warga yang punya rezeki labih, mereka mulai menambah bangunan di samping dome untuk kamar mandi dan juga dapur. Memang, kelihatan merusak pemandangan, tapi karena kebutuhan, ngga bisa menyalahkan juga.

Semoga dengan makin banyaknya minat wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Nglepen, Pokdarwis bisa memperbaharui atau membuat konsep yang sesuai dengan karakter Desa Wisata tersebut. 🙂

Desa Wisata The New Nglepen