ALAT TRANSPORTASI UMUM

Sudah Sampai di Lebak Bulus, Mas Arifin

Seorang laki-laki yang menjadi teman duduk sepanjang perjalanan dari Banjarnegara menuju Ibu Kota membangunkanku. “Mbak-mbak, udah hampir sampai terminal lebak bulus. Bangun dulu, ya. Nanti pusing lho”. Betapa perhatiannya dia, ya. Seorang lelaki yang belum aku kenal sebelumnya, tapi dengan penuh percaya diri, Bapakku menitipkan anak gadisnya yang paling manis se Banjarnegara padanya. Luar biasa teganya, bukan? 😆

Aku berangkat dari terminal Banjarnegara pukul 17.00 WIB. Tepat sepuluh jam tiga puluh menit, pukul 03.30 WIB aku sampai di terminal lebak bulus.

Leher masih terasa kaku. Tapi aku harus segera turun. Sebab, Bus yang aku naiki akan segera meneruskan perjalanannya menuju terminal kampung rambutan. Tas ransel…aku langsung mengendongnya. Dua kardusku…semua di bagasi bus. Aku tidak boleh santai dan harus segera mengambilnya.

“Mbak, kardusnya sudah aku ambilkan ini”. Seorang laki-laki menenteng dua kardus milikku. Siapa dia? Tak lain ia adalah teman dudukku. Mas Arifin namanya. Anak Banjarnegara yang bekerja di Jakarta. Serius ini anak baik banget!

Aku terharu, dong. Bagaimana ia bisa tahu kardus bawaanku, ya. Kok yang diambil bisa pas. :mrgreen: Bukan karena feeling atau apa. Kebetulan saja yang di bagasi hanya terdapat dua dus, dan keduanya milikku. Yang lainnya koper euy!

Aku agak was was dengan kardus bawaanku, soalnya kardus itu titipan dari Budhe untuk sepupuku dan isinya yang bikin cemas. Takut remuk seperti badanku pagi ini. 😆

Cukup menegangkan suasana lebak bulus di pagi hari. Banyak tukang ojek yang mendekati para calon penumpang. Itu wajar, sih. Namanya jemput bola. Tapi, kalau mendekatinya dengan cara membawa motornya langsung, kan, menakutkan. Apalagi ada beberapa ojek yang menawarknnya tepat di pintu keluar Bus. Membahayakan dan juga menegangkan, bukan? Tapi, kembali pada sistem jemput bola. :mrgreen:

Mas Arifin langsung membawa kardusku ke trotoar. Sedangkan aku mulai mencari taksi yang sekiranya siap mengantarkanku sampai ke rumah sepupuku yang berlokasi di perumahan Polri Ampera. Galau, sopir taksinya nggak tahu sedang pada kemana. Adanya ojek.

“Mbak, nggak usah nyari kendaraan. Nanti ikut aku saja, kan satu arah. Nunggu temenku sebentar, ya. Sedang dalam perjalanan”. Aku kaget. Aku merasa Mas Arifin seperti malaikat. Berlebihan memang, tapi ini sungguh diluar dugaan. Apalagi dia mengantarkanku sampai depan rumah sepupuku! Keren banget kamu, Mas. :mrgreen:

Aku bersyukur dan berterima kasih mendapat teman duduk yang baik seperti Mas Arifin. Tuhan yang akan membalasnya, ya, Mas. 😳

20 thoughts on “Sudah Sampai di Lebak Bulus, Mas Arifin

  1. uhuuuk, emang gitu ya kalau orang merantau yang baik-ya baik..berarti dia menjaga amanah dari bapakmu, Nduk. Haisyaaah…btw, Terminal Lebak Bulus masih ada y…kupikir dah dipindahin

    Katanya gitu, sih. Tapi teteep turunnya masih di sana. 😀

  2. Allhamdulillah ada yang bantu ya Idah. Disini juga gitu loh idah turun bis gak bisa turun soalnya di kerubuti ojeg

    Sereem sumpah, Mbak. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *