Mie Aceh Jali-Jali Sebagai Pamungkas
Mie Aceh Jali-Jali Sebagai Pamungkas – Sembilan puluh menit sebelum travel datang, saya mengajak Sitti untuk menikmati Mie Aceh. Sebenarnya lumayan was-was, sih.…
Mie Aceh Jali-Jali Sebagai Pamungkas – Sembilan puluh menit sebelum travel datang, saya mengajak Sitti untuk menikmati Mie Aceh. Sebenarnya lumayan was-was, sih.…
Rencana Pendaftaran Online Perkara – Bulan lalu, ada pemberitahuan dari PTA Semarang, bahwa tiap satker diminta untuk menambah dua sistem pelayanan publik yang…
Sanggaluri Park Purbalingga – “Tante masih di rumah, gak?. Dolan ke Taman Reptil, yuk!. Percakapan tahun lalu, saya mengajak Tante dolan ke Taman…
VIETOPIA, Resto Masakan Vietnam – Setelah menghabiskan sore di Galeri Nasional Indonesia, kami langsung cap cus mencari makan. Ternyata, jalan-jalan bisa menyebabkan lapar…
Ada Apa di Galeri Nasional Indonesia? – Galeri Nasional Indonesia, tempat yang saya kunjungi setelah merasa kenyang santap kerak telor di Monas. Ini…
Bisa bayangin Jalan Bebas Hambatan, kan?. Kalau orang kota, tak mampu untuk membayangkan, ya. Apa justeru sering membayangkan?. Ahahaha. Nyaman banget pastinya. Pernafasan…
Saldo Rekening Bank Bertambah Otomatis?. Baru-baru ini saya mengaktifkan layanan notifikasi transaksi Bank. Sebelumnya, saya menggunakan fasilitas e-banking untuk tiap kali mengadakan transaksi…
Santap Kerak Telor Betawi Di Monas – Sebelum berangkat ke Jekardah, saya bilang sama Sitti, bahwa saya pingin makan enak-enak kalau sudah sampai Jekardah, nantinya. Dia bingung dong, makan enak yang seperti apa?. Saya jawab saja seperti Kerak Telor. Ahahahaha. Ndeso mode on.
Entah kenapa, saya langsung nyeplos Kerak Telor (KT). Padahal, saya belum pernah nyicip kerak telor. Mana tahu, Kerak Telor itu enak apa enggak. Lebih pada rasa penasaran dengan penganan khas Betawi ini, meski pernah melihat penampakannnya di acara laptop si unyil.
Sitti bilang, katanya Kerak Telor Betawi atau yang aseli tuh sudah jarang di Jakarta. Tapi, nanti bisa dicari asal ke Jakarta dulu. Nah, ketika sampai Monas, saya melihat satu Bapak penjual Kerak Telor yang sepertinya terburu-buru pindah tempat jualan. Mau langsung beli, tapi ingat ada satu teman yang keberadaannya belum diketahui, padahal dia sudah masuk area Monas. Whahaha. Yasudahlah, kami mencari dia dulu, barulah kami cari Bapak kerak Telor di sekitar Monas.
Lanjut jalan, kami menjumpai Mas-Mas penjual Kerak Telor. Langsung pesan dua, karena Sitti maunya barengan saja. Jadi, dua porsi buat saya sama Mas Vai (orang yang kami cari tadi).

Saya menyaksikan pembuatan Kerak Telor Betawi. Jongkok tepat di depan Mas KT, niat banget merekam pembuatannya.
Proses pembuatan kerak telor dimulai dari, pengambilan satu sendok beras ketan dicampur sedikit air. Taruh di wajan untuk diolah, lalu diamkan sebentar. Setelah itu, satu per satu bumbu dimasukkan. Barulah yang terakhir telor dimasukkan wajan, diorak-arik bersama bumbu.

Setelah berbentuk dadar, wajan dibalik. Meski dibalik, kaki dikepala-kepala di kaki. Tapi, Kerak Telor enggak jatuh. Ahahaha.
Menunggu beberapa menit, barulah kami santap kerak telor di monas. Masih anget dan rasanya lumayan enak, garing, cuma kurang asin dikit. Saya suka banget sama taburan serundengnya. Tapi, entah kenapa, baru makan sedikit koq rasanya eneg. Langsung merasa kenyang gitu. Mungkin, karena pas di Museum Nasional saya udah makan dua kali. Jadi, udah kenyang. Whahahaha


Yuk! Ikut Membangun Indonesia Hebat – Adalah ajakan yang saya tujukan untuk Anda semua yang membaca postingan ini. Sekedar informasi, saat ini sedang…
Pas ditanya Ibu, “kalau sudah sampai jakarta, mau kemana saja nanti?”. Saya langsung jawab, mau mampir Monas!. Ya, sebelum berangkat ke Jekardah untuk…