Bukan Sekadar Tahu Omzet, Ini Cara Membaca Laporan Penjualan
Cara Membaca Laporan Penjualan – Sekecil apa pun usaha yang kita jalankan, transaksi tetap perlu dicatat dengan rapi dan transparan. Karena dari pencatatan transaksi itulah kita bukan hanya bisa memberikan pengalaman yang lebih baik kepada pelanggan, tetapi juga mendapatkan data untuk memahami dan mengembangkan bisnis, bahkan membuat strategi bisnis.
Belakangan ini, saya lihat semakin banyak usaha kecil bermunculan khususnya di lingkungan sekitar. Ada yang mulai berjualan aneka keripik, snack rumahan, makanan, minuman, frozen food, pakaian, kerajinan, produk kecantikan, laundry, sampai menawarkan berbagai macam jasa.
Menariknya, banyak usaha tersebut dimulai dari pemikiran yang sangat sederhana.
“Coba jualan dulu.”
Promosi pun mulai dilakukan melalui WhatsApp atau media sosial. Ketika ada yang tertarik, calon pembeli menghubungi penjual melalui chat. Pesanan dicatat, total pembayaran dihitung, pembeli membayar, lalu barang dikirim atau diambil.
Selesai, deh!
Untuk usaha yang baru dimulai, management seperti ini terasa sudah cukup. Jumlah pelanggan belum banyak. Produk yang dijual juga mungkin hanya beberapa jenis. Transaksi masih bisa diingat atau dicatat secara manual. Namun, bagaimana jika ternyata usaha tersebut semakin ramai? Pesanan mulai datang setiap hari. Produk bertambah. Pelanggan semakin banyak. Ada yang membeli beberapa jenis barang sekaligus. Mulai ada pelanggan yang meminta nota di awal. Stok juga harus diperhatikan.
“Tidak harus menunggu usaha menjadi besar untuk mulai mengelolanya dengan serius.”
Pada titik tertentu, mungkin kita akan menyadari bahwa aktivitas yang awalnya hanya terasa seperti “jualan” ternyata sudah berkembang menjadi sebuah bisnis yang perlu dikelola.
Dari “Sekadar Jualan” Menjadi Mulai Membangun Bisnis.
Menurut saya, ini adalah perubahan cara pandang yang cukup penting. Tidak semua orang yang berjualan ingin membangun perusahaan besar. Tidak semua usaha kecil juga harus memiliki toko fisik atau karyawan yang banyak.
- Ada yang memang nyaman menjalankan bisnis dari rumah.
- Ada yang menjadikannya sebagai penghasilan tambahan.
- Ada yang awalnya hanya mencoba menjual produk buatan sendiri.
- Ada juga yang hanya menjual produk orang lain atau sistem konsinyasi.
“Ketika kita mulai membaca data, kita tidak lagi sekadar mencatat apa yang sudah terjadi. Kita mulai merencanakan apa yang akan terjadi.”
Tetapi sekecil apa pun skala bisnisnya, ketika sudah ada produk yang dibeli dan dijual kembali, sebenarnya sudah ada aktivitas bisnis di sana. Artinya, kita mulai perlu mengetahui hal-hal sederhana seperti harga modal, harga jual, jumlah barang yang terjual, omzet, keuntungan, dan stok.
Misalnya kita membeli satu produk dengan harga Rp10.000 dan menjualnya Rp15.000.
Kelihatannya sederhana, ya. Tetapi ketika transaksi sudah mencapai puluhan atau bahkan ratusan, tentu akan lebih sulit jika semua hanya mengandalkan ingatan atau catatan yang tersebar di berbagai tempat. Kita tidak hanya ingin tahu berapa uang yang masuk. Tapi kita juga perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada bisnis kita.
Harga Modal Penting: Ini Bukan untuk Sekadar Menentukan Harga Jual.
Salah satu hal yang menurut saya sering luput ketika seseorang baru mulai berjualan adalah harga modal. Ketika melihat produk bisa dijual Rp20.000, misalnya, kita perlu tahu berapa modalnya secara terperinci.
Kalau harga modalnya Rp12.000, berarti ada selisih Rp8.000 sebelum memperhitungkan komponen biaya lain yang mungkin ada. Iya, selisih tersebut bisa jadi laba tapi belum sepenuhnya menjadi laba bersih. Kadang biaya listrik masih diikutkan pengeluaran listrik rumah atau anggaran listrik bulanan buat rumah. Ini untuk usaha rumahan.
Menjadi catatan khusus, kita bisa saja hafal harga jual, tetapi belum tentu selalu ingat harga modal masing-masing produk. Ini bisa terjadi ketika usaha mulai memiliki banyak produk. Karena itu, pencatatan produk yang memuat harga modal dan harga jual menjadi salah satu hal yang cukup membantu dalam pengelolaan usaha. Dengan begitu, kita tidak sekadar tahu bahwa barang kita laku. Tetapi juga memiliki gambaran mengenai hasil yang diperoleh dari penjualan tersebut.
Sebagai Pembeli, Saya Juga Ingin Tahu Harga Barang yang Sudah Saya Beli.
Ada satu hal lain yang menurut saya menarik ketika membicarakan pencatatan transaksi yaitu pengalaman dari sisi pelanggan. Kalau saya sedang berbelanja, saya tentu ingin tahu harga produk yang saya beli.
Bukan hanya diberi tahu:
“Totalnya Rp75.000.”
Saya kadang ingin tahu produk A harganya berapa, produk B berapa, jumlahnya berapa, lalu total akhirnya berapa. Sebagai pembeli, informasi seperti itu membuat transaksi terasa lebih jelas dan transparan. Karena itu, ketika pelanggan mendapatkan nota yang berisi rincian barang, jumlah, harga, dan total pembayaran, menurut saya ada nilai tambah tersendiri.
Untuk usaha kecil, banyak yang memilih menggunakan nota manual yang dicatat sendiri menggunakan pulpen. Apalagi jika transaksi harian belum terlalu banyak. Namun, ketika pelanggan mulai bertambah dan transaksi semakin sering, ada cara yang lebih praktis untuk membuat proses tersebut menjadi lebih rapi.
“Nota bukan sekadar bukti bahwa pelanggan sudah membayar. Nota juga menjadi bentuk informasi dan transparansi dalam sebuah transaksi.”
Dan dari sinilah aplikasi kasir atau Point of Sale (POS) mulai dibutuhkan.
POS Bukan Hanya untuk Toko Besar!
Dulu, ketika mendengar istilah POS atau Point of Sale, mungkin yang terbayang adalah meja kasir di supermarket atau toko besar dengan komputer, barcode scanner, dan berbagai perangkat lainnya. Padahal sekarang konsepnya jauh lebih sederhana. POS pada dasarnya membantu kita mencatat transaksi penjualan secara digital dan menghubungkannya dengan data bisnis lainnya. Jadi, usaha snack skala rumahan pun bisa memanfaatkannya. Bahkan usaha yang menjual jasa atau layanan pun dapat memanfaatkan sistem digital untuk mencatat transaksi.
Menurut saya, tidak perlu menunggu usaha menjadi besar. Kalau saat ini kita baru menjual beberapa produk dan transaksi masih sedikit, mungkin pencatatan manual masih terasa cukup.
Tetapi ketika kita mulai merasa:
- sering lupa harga modal,
- kesulitan mengetahui keuntungan,
- stok mulai sulit dipantau,
- pelanggan mulai meminta nota,
- transaksi semakin banyak,
- atau ingin mengetahui produk mana yang paling laris,
Mungkin itu adalah tanda bahwa kita sudah membutuhkan sistem pencatatan yang lebih rapi. POS tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang rumit. Justru, semakin cepat kita membangun kebiasaan mencatat, semakin mudah ketika usaha berkembang.
Ketika usaha mulai bertumbuh, pencatatan seperti ini tentu semakin terasa manfaatnya. Sebab, setiap transaksi yang kita masukkan bukan hanya menghasilkan sebuah nota.Transaksi tersebut juga menghasilkan data dan data inilah yang kemudian bisa membantu kita memahami bisnis.
Pencatatan Transaksi yang Rapi dan Transparan.
Bagi saya, titik temunya ada di sini: pencatatan transaksi yang rapi dan transparan. Dari sisi pelanggan, transaksi menjadi lebih jelas karena mereka dapat mengetahui apa saja yang dibeli dan berapa harga masing-masing produk. Dari sisi pemilik usaha, transaksi tersimpan sebagai data yang nantinya dapat digunakan untuk melihat perkembangan bisnis.
Jadi, satu aktivitas sederhana yaitu mencatat transaksi dapat memberikan manfaat yang lebih panjang. Kita bisa mulai mengetahui produk apa yang sering dibeli, bisa melihat jumlah penjualan, bisa memantau stok, dan juga bisa mulai membaca pola penjualan dari waktu ke waktu.
Dan ketika data sudah tersedia, kita bisa mulai bertanya:
“Setelah melihat angka-angka ini, apa yang harus saya lakukan berikutnya?”
Jangan Berhenti di Omzet!
Misalnya hari ini kita melihat penjualan mencapai Rp500.000.
Senang? Tentu.
Tetapi kalau kita sedang serius menjalankan usaha, angka tersebut seharusnya bukan menjadi akhir dari pencatatan. Justru bisa menjadi awal dari beberapa pertanyaan.
- Produk apa yang paling banyak terjual hari ini?
- Berapa jumlah masing-masing produk?
- Apakah ada produk yang stoknya mulai menipis?
- Apakah omzet tersebut menghasilkan keuntungan yang sesuai?
- Apakah ada produk yang penjualannya justru menurun?
- Apakah promosi yang dilakukan memberikan dampak?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita melihat bahwa laporan penjualan bukan sekadar kumpulan angka. Laporan penjualan adalah cara untuk membaca apa yang sedang terjadi di dalam bisnis kita.
Cara Membaca Laporan Penjualan untuk Menentukan Langkah Berikutnya.
Lalu bagaimana cara membaca laporan penjualan? Kita tidak perlu langsung menjadi ahli analisis bisnis. Mulailah dari beberapa hal sederhana.
1. Lihat Total Penjualan
Pertama, lihat berapa total penjualan dalam periode tertentu. Bisa dilihat dari laporan penjualan harian, mingguan, atau bulanan. Tujuannya bukan sekadar mengetahui berapa uang yang masuk, tetapi melihat perkembangan penjualan.
- Apakah penjualan hari ini lebih baik dibandingkan hari sebelumnya?
- Apakah ada kenaikan pada akhir pekan?
- Apakah penjualan cenderung stabil?
- Dari sini kita mulai mengenali pola.
2. Lihat Produk yang Paling Banyak Terjual
Selanjutnya, perhatikan produk yang paling sering dibeli. Produk terlaris bisa menjadi informasi penting untuk menentukan stok. Kalau produk tertentu terus-menerus menjadi pilihan pelanggan, jangan sampai justru kehabisan ketika permintaannya sedang tinggi.
Sebaliknya, produk yang jarang terjual juga perlu diperhatikan. Bukan berarti langsung dihentikan, tetapi kita bisa mengevaluasi apakah harga, promosi, tampilan produk, atau hal lainnya perlu diperbaiki.
3. Bandingkan Penjualan dengan Harga Modal
Omzet besar belum tentu berarti keuntungan juga besar. Karena itu, mengetahui harga modal menjadi penting. Dengan membandingkan harga jual dan harga modal, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih masuk akal mengenai keuntungan dari produk yang terjual.
Ini juga membantu ketika kita ingin mengevaluasi produk mana yang memberikan kontribusi lebih baik bagi bisnis.
4. Perhatikan Stok
Penjualan juga berkaitan erat dengan stok. Ketika sebuah produk banyak terjual, stok tentu berkurang. Kalau pencatatan dilakukan dengan baik, kita tidak perlu menunggu sampai barang benar-benar habis untuk menyadarinya. Kita bisa lebih cepat mengambil keputusan untuk melakukan restock.
5. Gunakan Data untuk Menentukan Tindakan
Inilah bagian yang menurut saya paling penting. Jangan hanya membaca laporan. Gunakan laporan tersebut untuk mengambil tindakan.
- Kalau produk A laris, mungkin stok perlu ditambah.
- Kalau produk B mulai sepi, mungkin promosi perlu diperbaiki.
- Kalau penjualan meningkat pada waktu tertentu, mungkin kita bisa menyiapkan stok atau strategi promosi lebih awal.
Dengan demikian, laporan penjualan bukan hanya menceritakan masa lalu. Laporan tersebut bisa membantu kita mempersiapkan langkah berikutnya. Hal seperti inilah yang kemudian saya rasakan ketika membantu suami dalam mengelola bisnisnya.
Btw, saya menggunakan Labamu sebagai aplikasi kasir untuk membantu aktivitas penjualan lampu LED “Omah Ceris” dan Reparasi Elektronik “Ceris Electronic Care”. Jadi, melalui artikel ini, selain berbagi pengalaman bisnis, saya juga akan berbagi tentang aplikasi kasir Labamu yang saya gunakan untuk transaksi harian.
Yuk, Kenalan dengan Aplikasi POS Labamu!
Sebelum lanjut berbagi pengalaman menggunakan aplikasi Labamu, teman-teman saya kenalkan terlebih dahulu dengan Labamu, ya.
Labamu adalah solusi bisnis yang membantu kita mengatur dan mengontrol operasional, mulai dari penjualan, stok, hingga produksi. Semua data tercatat dalam satu sistem sehingga kita dapat mengambil keputusan yang lebih terukur dan terarah.
Labamu dirancang untuk UKM yang ingin naik kelas, meskipun pada praktiknya masih banyak digunakan oleh pelaku UMKM. Tidak hanya itu, Labamu juga bisa digunakan ketika kamu punya bisnis dengan banyak cabang yang membutuhkan kontrol dalam satu sistem. Bisnis produksi atau pabrik yang ingin memantau bahan baku dan proses secara lebih terukur dan terarah.
Labamu menyediakan solusi untuk membantu kita dalam mengelola penjualan, stok, dan proses produksi dalam satu sistem. Semua fitur dirancang untuk mendukung operasional yang lebih rapi serta pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Sebagai pengguna setia Labamu, salah satu hal yang saya sukai adalah bagaimana informasi produk dapat dicatat dengan lebih terstruktur. Saya bisa memiliki katalog produk, mencatat harga modal dan harga jual, serta mengetahui informasi keuntungan dari produk yang dijual.
Bagi saya, ini penting sekali karena ketika jumlah produk semakin banyak, mengandalkan ingatan tentu bukan pilihan yang ideal.
Berikut Alasan OMAH CERIS Memilih Labamu untuk Menumbuhkan Bisnis.
Memilih aplikasi POS buat menjalankan bisnis memang tidak mudah. Saya pernah mengulik sampai tujuh aplikasi POS, mencoba, membandingkan, sampai dengan evaluasi. Pusing sekali pala Berbie. Tetapi memang harus mencoba terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menggunakannya untuk keberlanjutan bisnis. Setelah mencobanya selama tiga bulan, akhirnya saya sampaikan ke suami, kalau Labamu bisa menjadi partner kami untuk menumbuhkan bisnis. Berikut ini adalah alasan kami memilih Labamu:
Labamu Bukan Cuma untuk Mencatat Transaksi
Kalau hanya digunakan sebagai kasir, mungkin kita akan melihat Labamu sebatas alat untuk mencatat penjualan. Padahal, dari pengalaman saya, manfaatnya terasa lebih luas. Labamu menyediakan fitur POS kasir, katalog produk, stok barang, database pelanggan, laporan, dan berbagai fitur lain yang saling berkaitan. Labamu juga menyediakan berbagai solusi untuk jenis usaha yang berbeda, termasuk ritel, toko elektronik, makanan dan minuman, serta layanan.
Ini menjadi menarik karena tidak semua orang yang berjualan menjual barang. Ada yang menjual jasa. Ada yang memberikan layanan. Dan sistem pencatatan bisnis seperti Labamu ini tidak dibatasi hanya untuk toko yang menjual produk fisik.
Yang Paling Saya Suka: Data Penjualan Bisa Dibaca Kembali.
Setelah transaksi berjalan, bagian yang menurut saya tidak kalah menarik adalah laporan. Melalui fitur Analisis Laporan, Labamu menyediakan laporan yang mencakup berbagai informasi usaha. Detail laporan dapat disesuaikan, termasuk untuk melihat laba rugi, produk yang paling laris, pelanggan paling banyak beli, stok, hingga opsi pembayaran. Laporan juga dapat diunduh dalam format Excel.
Yang saya suka dari konsep seperti ini adalah kita tidak harus melakukan rekap dari awal setiap kali ingin mengetahui kondisi penjualan. Data transaksi yang sudah masuk dapat menjadi dasar untuk melihat performa usaha. Labamu juga dapat menyajikan laporan yang mana datanya diperbarui otomatis setiap kali ada transaksi, sehingga data yang digunakan untuk mengambil keputusan selalu diperbarui.
Bagi usaha kecil, menurut saya ini cukup membantu. Kita mungkin belum membutuhkan analisis bisnis yang rumit. Tetapi kita membutuhkan informasi yang mudah dipahami untuk menjawab pertanyaan sederhana: “Hari ini bisnis saya bagaimana?”
Struk Pembelian Membuat Transaksi Terasa Lebih Profesional.
Salah satu pengalaman sederhana yang menurut saya cukup terasa adalah ketika pesanan sudah tercatat dan pelanggan membutuhkan informasi pembayarannya. Daripada menghitung ulang secara manual atau menuliskan nota satu per satu, transaksi yang sudah tercatat menggunakan Labamu dapat menghasilkan rincian yang lebih rapi.
Bagi pelanggan, hal ini memberikan pengalaman yang berbeda. Mereka dapat melihat apa saja yang dibeli dan berapa harganya. Bagi penjual, kita juga memiliki catatan transaksi yang lebih terstruktur.
“Transaksi yang transparan membuat penjual lebih tertib dan pembeli lebih nyaman.”
Adanya struk pembelian menjadi salah satu contoh bahwa profesionalitas usaha tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, profesionalitas dimulai dari hal sederhana seperti bagaimana kita memberikan informasi transaksi kepada pelanggan.
Satu lagi, kalau kita belum mempunyai printer, kita masih bisa memberikan nota kepada pelanggan dalam bentuk capture atau nota digital yang kemudian dikirim melalui WhatsApp. Menurut saya, ini terlihat lebih profesional dan keren! Apalagi kalau nota sudah tercetak, lebih keren lagi!
Review Setelah Menggunakan Labamu.
Saya sudah memberikan penilaian dan ulasan untuk aplikasi ini melalui Google Play Store dengan bintang lima. Berdasarkan pengalaman penggunaan saya untuk Omah Ceris dan Ceris Electronic Care. Satu hal yang paling saya rasakan dari Labamu adalah kemudahan mengubah aktivitas jualan sehari-hari menjadi pencatatan yang lebih terstruktur.
Saya tidak lagi melihat transaksi hanya sebagai:
barang keluar ? uang masuk.
Tetapi mulai melihatnya sebagai:
barang keluar ? transaksi tercatat ? stok berubah ? data penjualan bertambah ? laporan terbentuk ? keputusan bisa dibuat.
Perubahan cara berpikir inilah yang menurut saya justru menjadi manfaat terbesar. Fitur seperti katalog, harga modal, menu produk dalam bentuk barcode, harga jual, stok, transaksi, dan laporan menjadi lebih berarti ketika semuanya digunakan sebagai satu kesatuan. Lebih dari itu, yang membuat saya setia menggunakan Labamu karena Labamu tidak berhenti pada bisnis barang. Platform ini juga mencakup berbagai kategori layanan, sehingga konsep pencatatan digitalnya bisa diterapkan pada lebih banyak jenis usaha seperti layanan jasa.
Selain produsen lampu LED dengan merek OMAH CERIS, kami juga punya usaha bidang Jasa yaitu Reparasi Elektronik. Dalam hal ini, labamu sangat membantu kami salah satunya dalam mengontrol stok sparepart. Sungguh satu aplikasi yang sangat bermanfaat bagi kami yang usahanya bertumbuh.
Tentu saja, setiap aplikasi memiliki proses adaptasi. Ketika baru mulai menggunakan POS, kita perlu membiasakan diri memasukkan data produk dengan benar dan disiplin mencatat setiap transaksi. Karena kalau data awalnya tidak rapi atau transaksi tidak dicatat, laporan yang dihasilkan tentu tidak akan menggambarkan kondisi usaha secara optimal.
Jadi, menurut saya, teknologi bukan pengganti kedisiplinan. Teknologi adalah alat untuk membuat kedisiplinan tersebut lebih mudah dijalankan.
Yuk, Mulai Kelola Bisnis dengan Lebih Rapi dengan Labamu!
Kalau kamu sedang mulai membangun usaha atau bisnis kecil-kecilan, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai membiasakan diri mencatat transaksi dengan lebih rapi. Tidak perlu menunggu usaha menjadi besar. Tidak perlu menunggu punya toko fisik. Tidak perlu menunggu transaksi mencapai ratusan setiap hari. Mulai saja dari transaksi yang ada hari ini. Labamu bisa menjadi salah satu pilihan untuk membantu proses tersebut. Dengan fitur POS, katalog produk, scan menu produk, pengelolaan stok, pencatatan transaksi, hingga analisis laporan, berbagai aktivitas bisnis dapat dikelola dalam satu platform.
Karena pada akhirnya, menggunakan aplikasi POS bukan hanya tentang membuat bisnis terlihat lebih modern. Lebih dari itu, kita sedang membangun kebiasaan untuk lebih mengenal bisnis yang kita jalankan sendiri.
Dari satu transaksi.
Dari satu nota.
Dari satu laporan.
Kemudian perlahan, dari sana kita belajar menentukan langkah berikutnya. Bukan lagi sekadar jualan. Tetapi mulai membangun bisnis. Teman-teman bisa mengunduh aplikasi Labamu melalui Google Play Store maupun App Store, ya!






Leave a Reply