Kafe Serabine dan Diskon

Pernah ngga, kalian berantem sama pasangan karena hal remeh banget? Cuma dibilang pemburu diskon, terus berantem. Remeh banget, kan? Karena saking kesalnya, berantemnya cuma bisa main peluk, main dekap, main cium, unyel-unyel perut, sampai tabok-tabok punggung. Ini berantem apa kangenan? 😆

Ceritanya Sabtu lalu, suami izin main sama the gengs. Harusnya aku biasa aja, ya. Tinggal mengizinkan, gitu. Kan beres. Tapi ngga tahu kenapa, rasanya lagi pingin nyari musuh dalam selimut. Padahal hari itu juga, aku ada janji sama the gengskuw, vinslog, buat jajan bareng. Sepertinya menjelang pe-em-es, deh. 😀

Kami lagi sama-sama main gadget, terus dia nyeletuk. “Oooh…ada diskon. Pantesaaaan.”

“Maksud kamu?”

“Kamu mau jajan ke Serabine, kan? Pantesan mau ke sana. Lha wong lagi ada diskonan. Aku barusan lihat di akun instagram @serabine.co. Hahahaha.”

Jahaaat banget, kan. Isteri sendiri distempel basah pemburu diskon. Bukan membela diri, tapi aku datang ke Kafe Serabine bukan untuk berburu diskon. Asli. Memang sih, @serabine.co sedang bagi diskon nyampe 50% buat para pelanggannya. Tapi aku ngga kepikiran sampai berburu diskon di sana. Hahaha.

serabine (2)
Kafe Serabine…

Kafe Serabine buka dari hari Selasa-Minggu, mulai jam 11.00-22.00 WIB. Bersama teman-teman, aku datang ke sana jam 13.00 WIB. Hujan yang turun siang itu, sama sekali ngga menggoyahkan niatku untuk datang ke sana. Pun dengan teman-teman, meski beberapa dari mereka ada yang terlambat datang.

Sesampainya di halaman Kafe Serabine, aku langsung masuk lewat koridor depan tempat parkir. Padahal sebenarnya ini bukan pintu masuk. Ada tangga di sebelah kanan tempat parkir. Ini lah yang dijadikan jalan utama menuju lantai dua yaitu tempat Kafe Serabine berada.

Kafe ini dibagi menjadi dua ruang. Pertama yaitu ruang tertutup yang begitu asyik buat pepotoan, buat baca buku karena terdapat banyak koleksi buku si pemilik Kafe. Ruang ini juga sebenarnya area no smoking, tapi belum banyak yang tahu tentang ini. Makanya, ngga sedikit orang yang masih menikmati rokok di ruang ini.

kafe di banjarnegara
ruang utama kafe serabine…

Kedua yaitu ruang tebuka dengan view pemandangan lepas sungai serayu. Ada area no smoking, tersedia juga ruang khusus buat yang ingin merokok di ruang terbuka ini.

Eeh…FYI, kami datang ke sini karena diundang pihak Serabine buat nyicipin menu Serabi, bukan berburu diskon, ya. Hahaha. Kafe Serabine meawarkan menu utama yaitu jajanan tradisional yang berbahan dasar santan dan tepung, yaitu Serabi. Ada labih dari tujuh puluh pilihan menu Serabi yang sudah dikombinasi oleh Mbak Sarah, pencetus ide, cheff, sekaligus owner serabine. Dari tujuh puluh varian menu Serabine, kami memesan sembilan dowang. Yakali, mau pesan tujuh puluh, gitu. Hahaha.

pemandangan lepas
ruang terbuka, view lepas ke sungai serayu…

Tujuh puluh variasi menu serabi ini hanya berbeda toppingnya saja. Serabi topping Nutella, misalnya. Ada beberapa topping di sini, Nutella Keju, Nutella Keju Kacang, Nutella Oreo Es Krim dll dll. Kami memilih topping yang paling lengkap dari tiap varian. Nutella Keju Kacang, misalnya. Biar bisa merasakan semua dan mumpung lah, ya. Hahaha.

Serabi a la Kafe Serabine bentuknya seperti Martabak Mini. Sedikit cekung, lebih garing, dan berkerak. Menurut Mbak Sarah, sengaja dibuat sedikit berkerak agar toppingnya lebih rapih, ngga mudah mbleber. Dan betul, saat ada yang pesan Serabi Greentea Kacang Keju toppingnya utuh cantik.

kuliner di banjarnegara
serabi varian keju kacang cokelat…uwh
serabine
serabi sosis telur mozarella
serabine 2
serabine greentea kacang keju…

Kafe Serabine belum lama berdiri, kira-kira dua bulan yang lalu. Namun pelanggannya udah banyak. Selain dari sisi tempat yang bersih, rapih, dan tata ruang yang cakep, harga menu di sini sangat terjangkau. Menu serabi dibanderol dengan harga mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 7.500. Tergolong murah kan, ya? Sedangkan minuman, paling mahal Rp 14.500. Sementara makanan berat seperti Nasi goreng, harganya Rp 12.000 per porsi.

Kebayang ngga, kalau misal dapat diskon 50% dari pembelian. Tambah murah kan, ya. Sementara ini, diskon yang diberikan baru diskon on the spot, belum berupa voucher diskon seperti saat promo restaurant, gitu. Kalau ngga salah, pemberian voucher ini termasuk salah satu strategi promosi juga. Dan menurutku, meski menu utama adalah Serabi, produknya layak untuk dipromosikan secara online. Apalagi, sudah melayani delivery order, makin ramai nantinya. Ngga ada salahnya juga produk Serabine dipromosikan di website daily deals macam BambiDeal yang menawarkan produk dan jasa dari sebuah toko dengan harga spesial.

serabine.co
sini nongkrong siniiii…

Kafe Serabine dapat memberi diskon seperti voucher diskon BambiDeal yang menggiurkan pelanggan. Promosi makanan dengan cara pemberian diskon ini katanya jauh lebih menarik ketimbang beli satu dapat dua. Eeeh…ini ujung-ujungnya ngomongin diskon juga. Heylow, Suamik. 😆 😆

Relaksasi di Wisata Pendidikan Kampung Damar

Tiap hari yang dikerjakan seputar itu-itu saja. Mengurus anak dan keluarga. Menyiapkan perlengakapan kerja untuk suami dan diri sendiri. Menyelesaikan tugas sebagai ibu rumah tangga dan juga tugas-tugas kantor yang terus bertambah tiap harinya. Hanya seputar itu, tapi aku kerap merasa butuh relaksasi untuk sekadar mengendurkan otot, otak, dan mencerahkan mata yang hampir tiap hari menghadap layar notebook.

Aku beruntung punya pasangan yang begitu pengertian. *uhuuuks. Ngga perlu nunggu diajak jalan, dia udah punya planning untuk jalan ke sana, ke sini, ke sana lagi, ke sini lagi, yang penting keluar dari rumah dan itu ngga jauh-jauh dari sekitar kota. Cinta produk dalam kota. 😀

Keterbatasan waktu, tenaga, dan tentunya lembaran rupiah di dompet, menjadi alasan utama bagi kami  untuk piknik atau sekadar relaksasi di dalam kota. Apalagi sekarang ada Yasmin. Kami harus betul-betul bisa memilih tempat yang ngga hanya nyaman bagi diri sendiri, tapi baginya juga.

Adalah Wisata Pendidikan Kampug Damar, sebuah tempat wisata yang dikelola oleh Perhutani BKPH Banjarnegara sukses menyita perhatian kami.

Saat perjalanan ke Desa Pesangkalan untuk menghadiri acara sowan ngalas, kami melihat tempat ini ramai karena hari itu akan diresmikan sebagai tempat wisata. Niatnya, sepulang dari acara, aku bersama suami dan Yasmin akan mampir. Tapi ternyata ngga kesampaian karena waktu sudah sore.

“Kapan-kapan kita ke sini, yaaaa.” Di atas sepeda motor dengan laju pelan, suami seakan membuat janji akan mengajak kami ke Kampung Damar.

Lokasinya di pinggir jalan raya, tepatnya di Desa Watubelah, Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara. Tempatnya teduh karena banyak pepohonan di dalamnya. Mirip rest area, tapi bukan. Bagi kami, tempat ini seperti punya daya tarik tersendiri meski kami ngga tahu ada apa saja di dalamnya tentunya selain pohon pinus yang terlihat jelas dari luar.

Kampung Damar Tempat Parkir
Tempat parkirnya bersih, ya.

Perjalanan dimulai…

Tempat ini kembali menyapa ingatan suami. Sayangnya dia hanya hanya ingat taman wisata, ngga menyebut nama tempat. Aku sempat terkecoh, kukira taman letnan karjono yang pernah kami kujungi. Untungnya, dia masih ingat acara sowan ngalas, aku pun langsung menyebut Kampung Damar. Dan ternyata betul!

Setelah mempersiapkan perlengkapan piknik, kami pun berangkat ke Kampung Damar jam 07.00 WIB dari rumah. Kami sengaja berangkat pagi karena berencana untuk sarapan di sana. Ini sarapan ngapain jauh amat, ya? Hahaha. Ngga usah heran, kami sering melakukan hal ini, kok. Khususnya wisata dengan nuansa alam. Makan dengan menggelar karpet, dikelilingi pepohonan, udara sejuk, nikmat pun makin terasa. Dan ini membuat kami ketagihan. 😀

Perjalanan dari tengah kota dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit. Sebenarnya dekat, akses jalan pun sudah baik, hanya saja banyak kelok dan tanjakan. Makanya, ngga bisa terus-terusan menambah kecepatan. Apalagi membawa si kecil, kami memilih untuk lebih menikmati perjalanan.

Kampung Damar Banjarnegara 6
Kawasan Kampung Damar…

Tiba di Kampung Damar…

Tiba di lokasi, kami langsung menuju tempat parkir yang berada di dalam. Di depan pintu masuk, nampak ada pos jaga. Namun saat itu ngga ada yang menjaganya padahal weekend, lho. Di sekitarnya hanya ada seorang lelaki paruh baya yang sedang menyapu halaman parkir. Pikirku, dia lah penjaga yang merangkap sebagai tukang bersih-bersih. Tapi ternyata bukan.

“Tempat ini ngga terjaga. Bebas biaya masuk, dong?” Pikirku saat itu. Berjalan kurang lebih sepuluh meter dari area parkiran, ada seorang lelaki yang memanggil kami.

“Mas, bayar tiket masuk dulu.” Kami kaget, karena hanya suara yang terdengar. Tak lama kemudian, muncul sosok laki-laki mengenakan seragam hijau perhutani dari rumah yang katanya akan dijadikan warung. Ya, tepat di kiri tempat parkir, berdiri sebuah ruang yang cukup luas. Karena ngga ada informasi tentang ticketing di sana, kami memilih untuk terus berjalan tanpa masuk ke ruang tersebut.

Kampung Damar Banjarnegara 4
Tempat ini cocok buat bermesraan halal, pepotoan sama pasangan… 😀

Ekpektasiku, tiap pengunjung yang datang ke sini akan mendapat pendampingan dari petugas. Ya, jalan-jalan dengan didampingi petugas, lalu mereka bercerita tentang Pohon Damar, mulai dari konsep, alasan pemilihan dan penanaman, pembibitan, sampai dengan manfaatnya. Namanya wisata pendidikan, ya. Kan biasanya sarat informasi. Tapi ternyata mereka melepas perjalanan kami tanpa memberi informasi suatu apa. *belajar mandiri

Setelah membayar tiket masuk Rp 3.000 per orang, kami lanjut jalan mencari tempat yang nyaman untuk duduk santai karena Yasmin masih bobok. Untungnya kami membawa karepet, jadi bisa menidurkannya.

Kampung Damar Banjarnegara 5
Bibit Pohon Damar siap tanam…

Ada empat lantai Kampung Damar. Lantai pertama ada spot berfoto yang cukup manis. Selebihnya, lahan ini dipakai untuk menaruh bibit pohon damar yang masih di dalam polyback. Lanjut lantai dua, ini kompleks tempat parkir, calon warung, gazebo, dan tanaman pohon damar yang baru ditanam. Lalu di lantai tiga, selain ada pohon damar yang audah tertanam, terdapat bak besar penampung air. Dan lantai akhir, di sini disediakan tempat khusus untuk duduk. Tempat duduk yang terbuat dari pohon ini membentuk persegi. Dengan latar belakang pohon pinus dan tentunya pohon damar, lumayan bagus buat foto-foto. Di sini dibuat selfie deck juga, lho.

Sambil menunggu Yasmin bangun, aku bersama suami menuju lantai dua. Ada beberapa pohon yang nampaknya baru ditanam. Tingginya kira-kira 50 cm, di sampingnya terdapat label yang bertuliskan nama penanam. Bupati, misalnya. Mungkin Pohon Damar itu yang menanam adalah Bapak Bupati.

Tak jauh dari pintu masuk, tepatnya di lantai satu, ada ribuab bibit Pohon Damar berjejer rapih. Dari banyaknya Pohon Damar yang menghiasi kampung ini, sebenarnya aku ngga begitu paham manfaatnya kecuali tentang pengambilan getah yang dipakai untuk membuat lilin. Hahaha. Minim banget pengetahuanku, ya. Tapi tak mengapa karena masih bisa dipelajari sepulang dari Kampung Damar.

Kampung Damar Banjarnegara 3
Getah terus menetes…

Asyiknya nih, meski konsep mereka adalah wisata pendidikan, di sini disediakan tempat khusus untuk duduk dan foto-foto. Seperti yabg sudah kusebut di atas. Ada sebuah gubug kecil lengkap dengan tempat duduk memanjang, di sini lah pengunjung bisa narsis. Mumpung Yasmin masih bobok, aku bersama suami menghabiskan pose sambil cekikikan karena benar-benar alay. Seperti pasangan yang sedang mabuk asmara, gitu. Sungguh, moment ini tak terduga. 😀

Hari mulai siang, namun si kecil belum juga bangun. Kecemutku bisa pules banget boboknya padahal di hutan. 😆 Karena ngga bisa meninggalkannya terlalu jauh, kami putuskan untuk ikut tiduran. Tiduran sambil bercerita sampai akhirnya Yasmin bangun karena mungkin brisik.

Kampung Damar Banjarnegara 1
Hyaah…abis! Hahahaha

Hayuuk bangun, makan duluu.” Matanya masih sayu, tenaganya belum terkumpul. Sembari menunggu moodnya, aku mempersiapkan makanan. Satu per satu bekal aku keluarkan, bukannya dia tertarik makan, malah minta jalan-jalan. 😀 Anak yang satu ini emang hobi banget jalan. Asli. Untung aku sempat membeli Cilok, akhirnya dia memilih untuk makan Cilok dulu. Ada yang ngemil, ada yang minum kelapa muda, ada yang memilih untuk mulai sarapan. 😆 Makan bareng, tiduran di tengah kampung damar, gini aja sukses bikin kami rileks. Uwwh…

Amunisi yang aku bawa saat itu terbilang lengkap. Sampai air untuk cuci tangan. Tapi melihat ada kran air, kami girang banget karena baru pertama kali mendapati fasilitas semacam ini di tengah hutan. 😀 Mungkin digunakan untuk menyiram bibit Pohon Damar tiap harinya kalik, ya.

Suami berusaha menjaga jarak supaya air ngga sampai kena baju Yasmin, tapi ternyata airnya hanya mengalir sebentar saja. Hahaha. Mungkin karena dari atas belum dialirkan sih, ya.

Kampung Damar Banjarnegara 2
Tempat pepotoan di sini…

Keliling kampung damar…

Usai sarapan, kami lanjut jalan-jalan keliling Kampung Damar. Jangan dibayangkan kelilingnya sampai habis tenaga, ya. Kami hanya jalan beberapa meter dowang ke tempat yang lebih asyik buat foto-foto. Hahaha. Yuup, lantai paling atas.

Di sini disediakan selfdeck, dan masih sederhana banget. Pun dengan tempat duduknya, warna kayunya masih original. Hahaha. Etapi karena konsepnya wisata pendidikan, mungkin mereka ngga memaksimalkan spot-spot untuk foto. Tempat duduk dicat warna-warni, misalnya. Kan makin ramai tuh, ya. 😀

Di sini kami ngga lama, hanya duduk-duduk dan nyobain selfdeck. Pinginnya sih meneruskan jalan ke atas sampai perkebunan warga, tapi sudah terlalu siang. Kami pun memutuskan untuk meninggalkan Kampung Damar.

Kampung Damar Wisata Banjarenagra
Ngga ada alasan untuk “menyebar” sampah…

Jalan keluar sampai di tempat parkiran, kami bertemu dengan petugas dari Perhutani yang sedang menata ulang bibit pohon damar. Pak Sam, namanya. Dari informasi yang kami dapat darinya, ternyata konsep wisata pendidikan ini berlaku bagi siapa pun yang memang ingin belajar di sini, semacam riset, gitu. Seperti teman-teman dari sekolah atau perguruan tinggi yang pernah melakukan penelitian di sini.

Tapi ya itu, karena keterbatasan tenaga, mereka ngga bisa mendampingi satu per satu pengunjung yang datang ke Kampung Damar. Jika perlu pendampingan, pengunjung bisa langsung ke basecamp Kampung Damar yang lokasinya di atas tempat parkir. Minta lah kepada petugas untuk mendampingi tiap langkah kalian. 😉

Kampung Damar 2Mumpung Yasmin bobok… 😀

Menurut Pak Sam, ke depannya di sini akan dibuat camping ground. Spot foto pun pelan-pelan akan dipercantik. Tak dipungkiri, tempat wisata tanpa spot foto memang rasanya kurang lengkap. Sekalipun itu wisata pendidikan. Tapi menunggu dana yang entah datangnya dari mana karena pemasukan dari tiket masuk wisata sudah dimanfaatkan untuk pemeliharaan dan kebersihan Kampung Damar. Butuh sentuhan dari pemerintah daerah, sepertinya.

River Tubing di Kali Panaraban, Ada Alasan Kenapa Aku Akan Kembali

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”. Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman blogger di dekatku yang ikut river tubing di Kali Panaraban. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendang karena pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing kali panaraban. 😀

Kenapa minta ditendang cobak? Karena sore itu aliran sungai ngga sederas hari biasanya. Ini menjadikan tubing kerap nyantol bebatuan. Selain itu, kami sering salah jalur juga. 😆 Meski demikian, kami masih sempat ketawa jahat saat melihat teman lain yang selalu berjodoh dengan bebatuan di kali. 😀

Eeeh, kamu bisa ngebayangin ekspresiku saat minta ditendang? Jadi nih ya, suaraku tiba-tiba sok manja, cengar-cengir tengil, sambil mencoba menggoyangkan tubuh yang tengah rileks duduk di atas tubing agar bisa lepas dari belenggu bebatuan. 😆 😀 Duuh…rasa-rasanya udah kayak puteri duyung versi Pretty Asmara, deh. Emang ada? Wkwkwk

RIVER TUBING PANARABAN WANAYASA
Enak zamanku to?

Sore itu, river tubing di Kali Panaraban tetap dilaksanakan, dan ini luar biasa!

Tepat pukul 15.00 WIB, aku, bersama teman-teman Blogger dari Banyumas dan Wonosobo, tiba di Balai Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Sebelum menuju Kedung Umpluk, tempat mulai tubing, aku beri tahu sedikit informasi tentang Kecamatan Wanayasa.

Masuk daerah Wanayasa, hawa dingin mulai terasa sampai dinding kulit. Karena kecamatan ini cukup dekat dengan dataran tinggi dieng, kira-kira empat puluh lima menit, tak heran jika suhu air dan udara pun hampir sama dengan Dieng. Makanya, para operator river tubing sempat memastikan kesediaan kami untuk tetap menikmati tubing, atau cukup melihat arus Kali Paraban. Dengan mantap, kami memilih untuk tetap tubing. Susur sungai sore hari dengan kondisi air yang tergolong dingin. Luar biasa, ya!

Iyalaah…soalnya sayang banget kalau sampai ngga jadi nge-tubing. Udah naik mobil terbuka selama enam puluh menit, udah lama menunggu para operator menyiapkan peralatan tubing, masak batal tubing. Kan ngga asyik. Lagipula, kalau bukan sore ini, sepertinya bakal ngga ada waktu lagi karena esok hari pasti tenaga udah lempoh di acara Pesta Budaya Kalilunjar.

Berbekal ketaatan pada rundown, kami memutuskan untuk memakai lifejacket, pelindung kepala, decker untuk pelindung tangan dan kaki yang telah disediakan oleh teman-teman Pokdarwis Tirta Panaraban. Omong-omong, pokdarwis ini lagi hot-hotnya, lho. Baru diresmikan bulan Maret tahun 2017 berdasarkan SK dari Bupati Banjarnegara. Mereka lagi gesit-gesitnya mempromosikan potensi Desa Dawuhan. Salah satunya yaitu Kali Panaraban yang kini dimanfaatkan untuk olahraga River Tubing.

RIVER TUBING
Semangatnya ngalahin pas mau ketemu patjar. . . Hihihi

Perjalanan menuju Kali Panaraban dimulai dari depan Balai Desa Dawuhan, kemudian lanjut jalan manja melewati perkebunan dengan waktu kurang lebih sepuluh menit. Untuk meringankan para operator, tiap peserta membawa satu tubing yang nantinya akan digunakan untuk susur kali. Supaya ngga terasa berat, angkat tubing dengan dua tangan, lalu letakkan di atas kepala. Ini lebih nyaman ketimbang dijinjing apalagi dipeluk. 😆 Anggap saja sedang nyunggi kerupuk, ya. Ini tip, lho. Hahaha.

Yes…akhirnya nyobain paket tubing Happy Fun

Mengingat waktu yang kami punya cukup terbatas, para operator tubing Delta Dantana menyarankan kepada kami untuk mencoba track river tubing yang paling dekat. Estimasi waktu kurang lebih satu jam dengan kondisi air kali yang ngga begitu deras. Kami pun mengangguk pasrah karena ternyata kami masuk kali jam 16.30 WIB. Brrr

Baca juga tentang River Tubing Kali Oyo.

Satu per satu tubing mulai digelindingkan ke kali. Sebelum tubuh menyatu dengan air, Mas Alwanto (guide air) memimpin do’a untuk keselamatan aktivitas kami. Saat itu ngga ada sesi pemanasan seperti yang biasa dilakukan di depan Balai Desa Dawuhan sebelum mulai river tubing. Lagi-lagi, karena keterbatasan waktu. Tapi aku percaya, para Operator Delta Dantana tuh tangkap, tangkas, dan trengginas, seperti moto mereka. Ini lah yang membuatku cukup tenang. Terpenting selalu ada komunikasi, baik dengan teman maupun operator. 😉

PERSIAPAN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Buuuk, gayanya biasa aja bisa, kaaan?

Satu per satu kaki masuk ke dalam air. Nyesss…celana pun mulai basah. Brrr…duiingin, asli dingin banget. Tapi melihat semangat para Operator, dingin pun berhasil tersamarkan sampai akhirnya aku bisa duduk di atas tubing dengan bahagiaaaaa! 😉

Paket tubing yang kami jajal sore itu adalah Happy Fun dengan jarak tempuh kurang lebih 1 km. Jika debit air sedang tinggi, jalur ini bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit. Menurut Pak Supri, pegiat Desa Wisata setempat, jalur ini biasanya diambil oleh anak-anak SD atau SMP. Jeramnya memang ngga begitu banyak dan pendampingannya pun mudah. Cukup aman buat anak-anak.

Arus sungai lebih sering membawa kami ke sebelah kiri di mana pepohonan itu bergelantungan. Kalau seperti ini, harus fokus ke depan supaya ngga kesambet. Yaa…meski hanya kesambet dedaunan, ternyata sukses bikin kaget, lho. Kaget plus sedikit perih, meski ngga seperih pas tahu kalau babang gebetan ternyata sudah punya tunangan. 😆  😀

ASYIKNYA RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Benerin helmet duluu…

River tubing dengan debit air rendah memang kurang asyik dan kurang menantang. Tapi pas melihat teman-teman lain pada temangsang di bebatuan, rasanya pingin ngakak-ngikiks. Apalagi yang temangsang itu cewek, kayak Eci dan Tiwi. Hanya bisa menunggu Babang-babang guide datang, lalu menggoyangkan hatinya tubingnya. 😀

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”.

Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman yang berada di dekatku. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendangku. Artinya, pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing. Jadi guidenya ngga berat-berat banget laah.

Disambut Api Unggun…

Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib dan kami masih di dalam air. Hahaha. Panik? Ngga, dong! Banyak orang di sekitar kali, banyak teman yang masih di atas tubing, dan hanya aku yang temangsang. Duuh…nasib puteri duyung, ya. 😆

API UNGGUN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Dibuatin Api Unggun…

Beruntung banget sesampainya di Rest Area, kami disambut api anggun yang memang selalu ada untuk para eserta tubing. Aaah…nikmat banget. Meski sebenarnya ada yang kurang, yaitu anget-anget yang lain. Mendoan, misalnya. 😆 Etapi sajian khas di sini bukan mendoan, melainkan tempe wudha. Itu lho, tempe goreng yang ngga dipakein tepung. Hahaha. Tempe ditambah nasi jagung dan ikan asin. Yuummii banget, ya.

Sajian khas lain setelah tubing yaitu ada aneka camilan berbahan dasar singkong. Ya, Desa Dawuhan termasuk salah satu desa penghasil singkong. Duuh…sayang banget, yaa. 😉

River tubing ini bisa dibilang dadakan karena ada miss antar penyambung komunikasi. Meski apa adanya, aku tetap bahagia. Apalagi karena obyeknya air, uuw…tambah bahagiaa.

Tentang Desa Wisata Tirta Panaraban

Desa Wisata Tirta Panaraban dan Wisata River Tubing digagas oleh H. Sakim, S.Pd, Kepala Desa setempat. Ide untuk menjadikan wisata river tubing ini muncul saat di Desanya sedang ada pelatihan rescue. Para pemuda Desa Dawuhan dilatih langsung oleh BPBD Kabupaten Banjarnegara. Nah, saat kegiatan sosial sedang senggang, BPBD mengarahkan para pemuda ke Kali Panaraban untuk belajar menjadi rescue. Dari sini, akhirnya masyarakat sepakat untuk menjadikan Kali Panaraban sebagai obyek wisata olahraga yang dikelola secara swadaya.

Sebelum dimanfaatkan untuk river tubing, Kedung Umpluk, kedung yang berada di bawah jembatan bambu, penuh dengan sampah. Ngga hanya di kedung saja, hampir sepanjang aliran sungai bertebaran sampah sampai ke pinggir sungai. Hmmm…mengerikan, ya. Bukan hanya sampah saja yang menjadikan kali ini ngga sehat, ada tingkah laku manusia juga yang membuat ekosistem di kali ini nyaris hilang. Adalah tangan-tangan jahil manusia yang suka meracuni atau setrum ikan. Hiiih…ngeselin, ya. Pingin njeweer rasanya. Weeerrr…

RIVER TUBING PANARABAN
Jeraam….

Sekarang kamu bisa lihat kondisi Kali Panaraban lewat foto-foto di sini. Lebih bersih, bukan? Aku yang menyusuri sungai saja betah mainan air di sini. Hanya saja, di beberapa titik ada pepohonan yang menjuntai sampai kali dan ini cukup mengganggu aktivitas tubing.

Saat ini, pihak Pokdarwis terus meningkatkan fasilitas untuk river tubing, khususnya. Seperti pengadaan sepatu untuk para wisatawan. Selain wisata tubing, mereka juga pelan-pelan mengenalkan potensi daerah seperti kerajinan tangan, dan camilan khas setempat.

Dan ini alasanku kenapa ingin kembali tubing di Kali Panaraban

Idih…manusia emang ngga ada puasnya, ya. Hahahaha. Ngga, kok. Aku cukup puas dengan tubing ini. Hanya saja, aku pingin nyobain yang paket Full Adrenalin. Jalurnya lebih panjang, lama, dan banyak jeramnya. Tubing dimulai dari bawah aliran Curug Panaraban dan Finish Rest Area. Sekalian main ke Curug. Jarak tempuh kurang lebih 4 km, waktu yang dibutuhkan 90 menit, dan harga untuk paket ini yaitu 140.000 per orang.

Ada satu paket lagi dengan track sedang, yaitu paket Adrenalin. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 60 menit kalau debit air lagi tinggi. Jarak tempuh 2.5 km, dimulai dari Desa Sarwodadi, dengan biaya Rp 75.000 per orang. Untuk dapat menikmati olahraga ini, minimal harus ada lima peserta baru bisa susur Kali Panaraban.

Selain nyobain paket Full Adrenalin, aku pingin juga nyobain masakan mamak-mamak Desa Dawuhan yang katanya endeeus banget. Pingin ngerasain api unggunan, sambil makan nasi jagung. Pingin nyobain aneka camilan dari singkong. Pingin ngobrol lebih lama dengan para operator Delta Dananta (Destinasi Lintas Air, Dawuhan Tangguh Bencana). Abis mereka tetap keliatan semangat nemenin kami ber-tubing, meski udah sore dan airnya dwingiiiinnn.

Kira-kira, kapan ke Dawuhan lagi, ya. Ada yang mau ikut? ^_*

River Tubing Kali Panaraban

  • Alamat: Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara
  • Kontak: +62812 1022 4432 (Pak. Supri)
  • Instagram: @tubingx_panaraban

 

Sowan Ngalas 2017, Menyambangi Kesederhanaan Hutan

Pakaian yang dikenakan mereka didominasi dengan warna hijau. Tiap hari, tiap waktu, nyaris tak pernah ganti. Mereka hidup namun hanya bisa pasrah, pakaian akan semakin hijau, atau berganti cokelat, pekat.

Mereka bernapas namun hidupnya bergantung pada makhluk hidup, manusia khususnya. Mereka, pepohonan di hutan. Akan menjadi lebih baik atau sebaliknya, betul-betul bergantung pada tingkah laku kita sebagai manusia. Ya, sesederhana ini mereka dapat “hidup bahagia”. Hutan makin bahagia, apalagi dengan ekosistem yang ada di sekitarnya. Akan bahagia juga, bukan? Seperti yang kurasakan saat menghadiri event Sowan Ngalas 2017 yang berlokasi di Desa Pesangkalan, Kecamatan Pagegongan, Banjarnegara. Bahagia melihat hutan yang dijaga, dirawat oleh masyarakat Pesangkalan.

Sowan ngalas diambil dari bahasa jawa yang berarti berkunjung ke hutan. Bagi masyarakat Pesangkalan, hutan yang mereka miliki termasuk rezeki yang patut disyukuri. Ya, selain tanahnya subur, hutan di sini begitu rimbun. Tak heran jika masyarakat memanfaatkan kekayaan hutan untuk wana wisata.

SOWAN NGALAS
Jalan sudah beraspal. Pepohonan ada di kiri kanan jalan…

Bersama keluarga, dan teman-teman @vinslog, kami turut menyaksikan sebuah gelaran unik dan menarik yang diselenggarakan oleh Desa Pesangkalan. Ya, event ini begitu nyentrik. Terlebih jika dilihat dari rangkaian acara yang ada di event: Kirab Budaya, Jamasan Pusaka, Sadranan, Jazz Hutan dan Grebek Rakan. Menarik banget, ya.

Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 45 menit dari titik kumpul yaitu alun-alun Banjarnegara. FYI, rute bersama untuk sampai Desa Pesangkalan sudah aku tulis, ya. Penting baget buat ditulis karena ada obyek wisata alami di sana, yaitu Wana Wisata Curug Pletuk. Siapa tahu kalian pingin singgah ke curug saat sampai di Banjarnegara, kelak. Kan tinggal klik blog postku. 😆

SOWAN NGALAS 2
Terpampang dalam bingkai wajah-wajah Kepala Desa Pesangkalan dari waktu ke waktu…

Acara sowan ngalas yang dimulai dari Kirab Budaya dijadwalkan mulai jam 09.00 WIB. Kami sampai di Lapangan Desa Pesangkalan jam 10.00 WIB dan acara belum dimulai. Antara alahamdulillaah dan innalillaahi. Hahaha. Asyik sih ngaret, jadi aku masih bisa menyaksikan prosesi kirab dari awal. Tapi ya innalillaahi juga, ngaret sampai 1 jam. Hihihi.

Sesampainya lapangan desa, ternyata masih sepi. Kami pun memutuskan untuk kembali menyalakan sepeda motor dan melanjutkan perjalanan sampai parkiran bawah curug.

Btw, beberapa titik jalan menuju parkiran masih berupa bebatuan yang belum tertata. Tapi masih aman, kok. Terpenting kondisi sepeda motormu fit, termasuk rem dan ban.

SOWAN NGALAS PAGEDONGAN
Usai jamasan pusaka…

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberi sambutan sekaligus membuka acara Sowan Ngalas. Dipimpin oleh sesepuh Desa Pesangkalan, Kirab Budaya dimulai dari lapangan desa Pesangkalan.

Rama Salim, namanya. Beliau berada di barisan paling depan dan membawa benda-benda pusaka. Beliau ngga sendirian, tiap baris terdapat tiga orang. Ada juga sesepuh desa yang mengenakan baju adat juga turut mengawal prosesi kirab. Mereka ada yang membawa foto kepala desa dari waktu ke waktu, ada juga prajurit-prajurit yang bertugas membawa tumpeng.

SOWAN NGALAS KIRAB BUDAYA
Merawat benda-benda pusaka penggalan…

Wana Wisata Curug Pletuk menjadi tujuan akhir Kirab Budaya. Di sini dilakukan ritual jamas pusaka tepat di bawah gemricik air terjun Pletuk. Sebenarnya aku cukup penasaran dengan prosesi ini karena hanya beberapa orang saja yang melaksanakannya. Ada Rama Salim didampingi beberapa prajurit, dan juga media untuk keperluan dokumentasi. Tadinya aku pingin lihat detail prosesinya, tapi melihat pusaka yang dibawa Rama Salim, kok deg-degan, ya. Hahaha. Yaudah, akhirnya aku menunggu di bawah.

“Pusaka apa, sih, yang dibawa Rama Salim dan Prajurit ngalas?” Batinku saat itu saking penasarannya. Setalah kutanyakan melada sesepuh Desa, ternyata ada beberapa benda pusaka yang dipercaya sebagai pelantar penerang hujan. Tombak Ronggo Jati, namanya.

Aku baru pernah melihat pusaka tersebut. Kalau cerota-verita, entah itu mitos atau fakta sih pernah mendengar ada pusaka yang bisa digunakan sebagai pelantar penerang atau bahasa Banjarnegara yaitu penangkal hujan. Eeeeh…kalau kalian ngga percaya akan hal ini, jangan diambil hati, ya. Karena ini termasuk tradisi atau kepercayaan masyarakat Pesangkalan. Jadi, hargai saja. 😉

SOWAN NGALAS BANJARNEGARA
Tumpeng dan aneka jajan pasar. . .

Acara Jamas Pusaka ngga sampai satu jam. Usai dibasahi menggunakan air yang dalam kendil, pusaka kembali ke tangan Rama Salim untuk disimpan kembali.

Omong-omong, pada acara jamas pusaka, tuh, ngga ada sambutan, tutur kata, baik dari Dinas maupun Sesepuh. Dari awal sampai akhir, ritual berjalan dengan tertib dan hening. Selain prosesi jamas pusaka, ada satu hal lagi yang membuatku penasaran, yaitu tumpeng.

Ya, kenapa tumpeng yang telah diarak dari Lapangan Desa Pesangkalan sampai Curug dengan jarak tempuh kurang lebih 3 km ngga dinikmati di kawasan curug? Bukankah lebih nikmat jika dimakan bersama di area wana wisata curug pletuk? Hahaha. Mungkin memang harus dibawa kembali karena setelahnya akan lanjut acara sadranan kalik, ya. 😆

SOWAN NGALAS 2017 copy
Anak-anak menikmati padusan…

Hampir seluruh masyarakat, wisatawan, kembali ke lapangan Pasangkalan untuk turut menikmati tumpeng yang telah disiapkan oleh ibu-ibu dasa wisama setempat. Saking ramainya pengunjung yang turun, aku bersama teman-teman memilih untuk melihat anak-anak yang sedang asyik padusan sampai lupa kalau di bawah akan ada acara.

Padusan atau mandi di sungai aliran air dari curug ini termasuk bagian dari rangkaian acara sowan ngalas. Tradisi ini bertujuan untuk mensucikan diri. Tepat sekali, sowan ngalas digelar menjelang bulan suci ramadhan. Sebagai salah satu wujud syukur masyarakat Desa Pesangkalan.

SOWAN NGALAS PESANGKALANKembali dibawa ke Lapangan Desa Pesangkalan. . .

Aku bersama teman-teman memilih untuk tetap di kawasan curug. Ngga bergabung dengan masyarakat untuk ikut sadranan. Padahal sebenarnya sudah lapar. 😆 Naik sampai bibir curug, mainan air di bawah aliran curug, dan duduk-duduk di gazebo. Itu yang kami lakukan di curug. Asyik banget  curug pletuk!

Btw usai sadranan, masih ada beberapa acara yang akan digelar yaitu jazz hutan pada malam harinya, dan ada grebek rakan esok harinya. Sayang banget, saat itu kami ngga bisa nonton jazz hutan karena suatu sebab. Padahal sih udah penasaran banget dengan acara ini. Secara ada jazz di tengah hutan, suasanannya pasti syahdu banget, ya. Perpaduan suara musik alam dan alunan jazz. Wuuh…

Tahun depan datang lagi ke acara ini, dong. Karena kata Pak Kadinpar, sowan ngalas akan dimasukan menjadi event tahunan. Dan 2017 menjadi tahun pertama, dan bisa dibilang ramai. 😉

Jelajah Curug Sikopel Bareng Vinslog dan Explore Babadan

Aaaak…aku mau norak dulu, yaaaaa. Jai nih, blog post ini telah publish di Majalah Candi Edisi Agustus. Majalah yang ditebitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah. Yeeeea la la la la. Eh, sebenarnya ini bukan kali pertama tulisanku terbit di sana, sih. Sebelumnya, tulisan berjudul warna-warni agrowisata lembah asri juga pernah mejeng di sana. Bedanya, objek wisata yang aku tulis kali ini adalah destinasi wisata milik kota kelahiranku, Banjarnegara. 😆 Jadi ya, tambah bungaaaah!

Yaudaaaaah, pamer noraknya cukup sekian. Lanjut baca pengalamanku jelajah curug sikopel, yuuuk! 😆

Sehari sebelum berangkat jelajah, ada sedikit drama yang bikin galw dan sedih. 😀 Aku mendapat kabar dari Mas Ofie, aktivis pokdarwis Babadan yang ada di balik akun instagram @explorebabadan. Dia mengabarkan bahwa ada pohon tumbang di Desa Clapar, dan pohon tersebut menghalangi lalu lintas jalan. Sedihnyaaaa. 🙁

Melihat besarnya pohon melalui foto yang dibagikan, sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk dapat menyingkirkannya sampai bisa dilewati kendaraan. Pasalnya, hari sudah sore, kira-kira jam 16.00 WIB. Kami pun hanya bisa pasrah menunggu kabar dari Mas Ofie.

Sekadar informasi, kontur tanah mulai dari Desa Clapar sampai Pagentan cukup labil, dan rawan longsor. Makanya, jalan menuju Desa Babadan pun tidak mudah. Ada beberapa titik jalan yang rusak meski ngga terlalu parah. Beberapa kali telah diaspal pada titik jalan tersebut, tapi ngga bertahan lama. Beruntung, bebatuan kecil yang cukup tertata sudah kuat tertanam. Jalan pun dapat dilewati kendaraan dengan aman, meski tetap harus hati-hati.

Alhamdulillaah, pagi hari ada kabar baik dari Mas Ofie yang tak lain mengabarkan bahwa lalu lintas di Desa Clapar sudah kembali normal. And yeeey, Curug Sikopel menjadi destinasi jelajah pertama bareng teman-teman @vinslog. 😆

Lapangan Desa Babadan…

Perjalanan dimulai dari The PIKAS yang merupakan titik kumpul paling strategis. Kami termasuk golongan orang beruntung karena hari itu cuaca sangat cerah. Ngga kebayang, jika hujan. Uumh…pasti perjalanan akan terasa lebih panjang, dan kenyataan pahit eksplor bisa dibatalkan. Menyedihkan.

Melewati Pasar Madukara, Desa Clapar, dan sampai pada jalan menanjak, terus menanjak. Temurun, lalu berliku. Menanjak, dan sesekali harus melewati jalan rusak. Persis perjalanan hidup, ya. Ngga melulu mulus, ada rintangannya. Hihihi. Kami pun terus menikmatinya dengan tawa alih-alih mensupport sepeda motor yang kami naiki agar tetap kuat. Sekuat kami yang mengendarainya.

Kurang lebih enam puluh menit perjalanan yang telah ditempuh, kami pun sampai pertigaan antara arah kanan menuju Kecamatan Batur, dan terus lurus menuju Curug Sikopel.

Jelajah ditemani @explorebabadan dan @nonakeripik. . .

Sekadar informasi, di sini ada dua warung makan. Ada baiknya isi perut dahulu jika sudah terasa lapar, karena trekking Curug Sikopel cukup panjang. Jalan setapak naik turun, tentunya akan menghabiskan banyak energi. Sebenarnya di tempat parkir Curug juga terdapat warung kecil, tapi baru menyediakan air mineral dan camilan. 😉

Dari pertigaan, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai area curug. Sesampainya di tempat parkir, kami membayar biaya parkir Rp 2.000 per kendaraan, dan tiket masuk Rp 3.000 per orang. Harga tiket yang sangat terjangkau untuk sebentuk wisata alam, bukan?

Mengenakan kaus oblong warna abu-abu dengan panorama Sikopel yang melekat di dadanya, Mas Ofie berjalan ke arah kami. Kami langsung bisa menebak bahwa itu Mas Ofie meski sebelumnya kami belum pernah berjumpa. Ya kan di profil whats app ada fotonya yang kece itu. Hahaha.

Luar biasa medannya, Mas.” Aku menepuk bahu Mas Ofie sebagai pengganti salam sapa. Dia hanya mengangguk, dan memberi senyum termanis yang menurutnya bisa menghilangkan lelah. Ya ampun, narsis banget, ya.

Eh, Mas Ofie tuh punya tim yang siap menemani wisatawan eksplor curug di Babadan, termasuk Curug Sikopel ini. Selain Mas Ofie, kami ditemani Mas Mahdun, ketua Pokdarwis setempat. Mantap jiwa! 😆

CURUG SIKOPEL GERBANG
Gerbang dan pepohonan albasiaaaa…

Melewati gapura bertuliskan “Curug Sikopel”, trekking pun dimulai. Beberapa gazebo yang berdiri di tengah hutan, seakan memanggilku, mengajak bercerita. Namun aku harus menemui Sikopel terlebih dahulu. Layaknya teman, aku dadah-dadah kepada si gazebo sembari berteriak: ‘heeei, nanti aku akan menemuimu.’ Teman-teman yang jalan bersamaku nampak bingung dengan tingkahku. Mirip orang sinting kalaik, ya. Hahaha.

Memandang Sikopel dari jauuuuh…

Babadan, sebentuk Desa di Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, mulai diburu wisatawan karena banyak “surga tersembunyi” di dalamnya. Keindahan alam bernama curug di Babadan memang ngga hanya satu, dua, yang dapat dieksplor. Namun ada satu yang sudah dikenal dan memang istimewa, yaitu Curug Sikopel.

Sikopel merupakan curug yang begitu menarik dan eksotis. Yang membuat curug ini istimewa, karena debit airnya lebih tinggi dibanding curug lainnya di Babadan. Ini juga menjadi salah satu alasan para wisatawan menjadikan Sikopel destinasi utama saat jelajah Babadan. Selain itu, terdapat dua curug lagi di lokasi yang sama. Yaitu Curug Silunjar dan Curug Sijurang.

Kamu baik-baik saja, Dah?” Tanya Gianti sambil membersihkan lensa kameranya yang hendak digunakan untuk merekam jejak.

Hosh…hosh…hosh…

Suara napas mulai terdengar tak beraturan. Aku yang berjalan berdampingan dengan Umi, merasa ngga enak. Padahal perjalanan baru dapat setengahnya, dan jalan terus temurun. Ngga kebayang saat pulang nanti, harus naik, dan terus naik. Beruntung, Mas Ofie dan mas Mahdun selalu di belakang kami. Mereka jalan pelan sambil bercerita, dan sharing tentang Curug Sikopel yang katanya akan mulai dipercantik dengan selfie deck dan peraga lain yang dapat menarik perhatian wisatawan.

Karena sedari awal trekking sudah mendapat view Sikopel dari atas yang sangat menggoda, aku pun terus semangat jalan dooongs. 😉

Byuuuur…duduk di depan Sikopel ini…

Dua puluh menit trekking, curug paling istimewa sudah di depan mata!

“Aaaak….segar banget!” Teriakku sambil lari menuju bibir Sikopel. Debit airnya memang tinggi, aliran airnya deras banget, dan mata airnya begitu bening. Rasa-rasanya ingin segera menyatu. Sayang banget, Mas Ofie ngga mengizinkan kami “memeluk” Sikopel. Ya, wisatawan ngga diperbolehkan mendekat, apalagi mandi tepat di bawah curug Sikopel. Wisatawan hanya diizinkan menyapanya sampai batas berupa bebatuan besar yang biasa digunakan untuk berfoto dengan background Sikopel.

“Bawah curug persis berbentuk mangkuk, dan entah berapa kedalamannya. Ngga datar seperti curug pada umumnya. Takut wisatawan ngga bisa mengendalikan diri karena derasnya air.” Jelas Mas Mahdun.

“Tapi kalian bisa main air di aliran sungai ini. Deras juga, kan.” Tambahnya.

Sumber air lainnya…

Sekadar menyegarkan kaki, aku bersama Umi dan Gianti, turun ke Sikopel sampai jarak kurang lebih sepuluh meter dari air terjun. Sementara Mas Imam, Mas Jeim, Mas Mefta, terlihat sibuk memainkan kameranya. Ada juga yang merekamnya menggunakan drone, Si Rois. 😉

Berbeda dengan mereka, aku malah ngoceh sendiri di depan kamera, membuat vlog centil. Hahaha. Seakan ngga peduli lensa kamera kena percikan air terjun, vlog centil terus berlanjut. 😆 Setelahnya, bingung kamera menjadi lambat buat ngeshoot. Wkwkwk

CURUG SIKOPEL
Jangan lupa narsis kek ginii…

Curug Sikopel cukup luas. Diambil dari sudut manapun, ia tetap terlihat gagah dengan debit airnya yang tinggi. Ia tetap terlihat eksotis dengan bebatuan tua berlumut di sekitarnya. Ia tetap indah dengan rimbunnya pepohonan di sekelilingnya. 

Sikopel, curug paling istimewa di Babadan. Sesekali, datang lah ke Babadan untuk menyapanya, menikmatinya. Dan kalau masih punya banyak waktu, sambangi juga Curug lainnya. Tinggal kontak mamas-mamas @explorebabadan, mereka pasti akan mengantar kalian ke Curug Sirongge, Curug Sicode, Curug Silumpang, dan Curug Sigopet, yang lokasinya ngga jauh dari Sikopel.

Makasih banyak buat @explorebabadan!

Nyadran Gede di Pemakaman Ki Ageng Giring, Gumelem

Beragam tradisi untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan di beberapa daerah, Jawa Tengah khususnya, terus dilestarikan. Mulai dari Padusan, Keramas Masal, Dugderan, sampai pada Nyadran. Tentang tradisi ini, aku baru mengenal nyadran, itupun di desa sendiri. Makanya ketika mendengar ada acara nyadran gede, aku penasaran dan tertarik untuk mengikutinya.

Kamis (25/5), aku bersama suami, dan juga Yasmin mengikuti acara Nyadran Gede di Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Tradisi ini dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis, seminggu sebelum ramadhan. Dipilih hari terdekat diantara dua hari tersebut.

Ini bukan kali pertama kami ke Desa Gumelem. Namun, menjadi pengalaman pertama kami mengikuti Nyadran Gede. Selain tradisi, Nyadran Gede merupakan acara tahunan yang telah masuk kalender event Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Tak heran, jika yang turut Nyadran bukan hanya masyarakat Gumelem, namun para kerabat Keraton Surakarta, dan Sekda Banjarnegara pun turut.

Sesampainya di Gapura masuk Desa Gumelem, kami berhenti di pos ojek untuk mencari informasi tentang lokasi Nyadran Gede.

“Lurus terus, sampai balai desa ambil kanan. Nanti sampai Pemakaman Ki Ageng Giring” Petunjuk yang aku dapat dari babang ojek cukup jelas. Kami pun permisi untuk melanjutkan perjalanan.

Menuju Pemakaman Ki Ageng Giring

Sepeda motor yang kami naiki melaju cepat karena ada rasa was was akan ketinggalan nyadran. Sampai di depan Balai Desa Gumelem Wetan, pertunjukan kuda kepang sudah dimulai.

“Duuh…bisa jadi, nyadran sudah dimulai.” Batinku pesimis karena di sekitar Balai Desa sepi. Hanya ada sekelompok anak muda yang sedang bermain kuda lumping. Kemungkinan besar aku tidak bisa ikut nyadran dari awal. Dan firasatku betul saudara-saudaraaaa!

Melewati jalan masuk pesarean Ki Ageng Giring, beberapa mobil ber plat merah sudah berjejer rapih. Atas saran dari hansip desa yang menjaga tempat parkir, kami pun melanjutkan perjalanan sampai kompleks Pemakaman. Luar biasa! Di kompleks pemakaman ini sudah ramai. Terlihat para tamu undangan duduk di sekitar Paseban Gumelem, tepatnya di pelataran pemakaman Ki Ageng Gumelem. Para pedagang yang berjualan di sekitar kompleks pemakaman juga ramai.

NYADRAN GEDE GUMELEM BANJARNEGARA
Kompleks Pemakaman Ki Ageng Gumelem, Paseban Gumelem. . .

“Mari aku antar naik, Mbak. Nyadran baru saja dimulai.” Sebabang ojek yang mengenakan kaus biru menghampiriku, dan mengajakku naik. Aku pun kaget karena masih bingung melihat keramaian sekitar pemakaman.

“Baaang, memangnya mau naik kemana?” Tanyaku penuh penasaran, dan juga takut. Ya, takut diajak naik pelaminan. 😀

Setelah ngobrol bentar, ternyata kami akan diantar ke Pemakaman Ki Ageng Giring yang mana berlokasi di Bukit Girilangan. Ternyata kompleks pemakaman yang sudah ramai orang bukan Pemakaman Ki Ageng Giring, melainkan Ki Ageng Gumelem. 🙂

Ke Bukit Girilangan Bareng Babang Ojek

Babang ojek ini baik banget. Melihat aku bawa ransel merah, mungkin dia tahu kalau aku bukan warga Gumelem. Usut punya usut, setelah ketemu dengan Pak Udin, Kasi Umum Dinbudpar, ternyata semua babang ojek yang mengenakan seragam biru ini memang sudah ditugaskan untuk mengantar siapapun yang akan ke makam Ki Ageng Giring.

Jalan menuju makam Ki Ageng Giring merupakan jalan bebatuan, dan belum diaspal. Bebatuan kecil yang sudah tidak tertata, dan tanjakan yang cukup terjal membuatku cukup merinding karena aku membawa Yasmin. Akhirnya kupercayakan perjalanan ini kepada Babang Ojek. Kalau kata suami, mending lambaikan tangan, atau jalan kaki ketimbang dia harus nyetir motor sendiri. 😆 😛

NYADRAN GEDE 2
Di depan Pemakaman Ki Ageng Giring

Babang ojek berhenti di bawah tanjakan menuju pemakaman. Kami pun turun, dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ngos-ngosan sudah barang pasti karena pemakaman Ki Ageng Giring berada di bukit. Berjalan kurang lebih lima menit, kami sampai Bukit Giringlangan, tempat keranda Ki Ageng Giring dimakamkan.

Kenapa yang dimakamkan hanya kerandanya saja? Nanti aku tulis terpisah, ya. 😛

Nyadran di Pemakaman Ki Ageng Giring

Enam laki-laki yang mengenakan pakaian adat jawa berjaga di pintu utama pemakaman. Di sini ternyata tidak kalah ramainya. Banyak masyarakat yang membawa ancak (talam dibuat dari anyaman), pejabat daerah, dan anak-anak sekolah pun turut menghormati acara ini.

NYADRAN RAMADHAN

Sayup-sayup terdengar suara tahlil dari cungkub atau makam Ki Ageng Giring. Aku betul-betul terlambat karena menurut Mbah Darisan, wakil juru kunci sekaligus tukang sapu pemakaman ini, nyadran atau ziarah sudah berlangsung, dan tidak lama lagi selesai. Kami pun turut bergabung di pelataran cangkub, dan membaca lanjutan tahlil yang dipimpin oleh juru kunci makam.

Usai mendoakan Ki Ageng Giring, satu per satu pejabat daerah keluar dari cungkub. Beberapa dari mereka ada yang kembali turun menuju kompleks pemakaman Ki Ageng Gumelem. Selebihnya, menunggu di bukit girilangan untuk menyantap hasil bumi yang telah disediakan.

NYADRAN GEDE 4
Kompleks Pemakaman Ki Ageng Giring

Aku kira nyadran telah usai, tapi ternyata belum. Sebelum adzan dzuhur berkumandang, juru kunci masih mempersilakan pengunjung untuk mendoakan Ki Ageng Giring. Setelahnya, barulah dimulai ritual adat nyadran, dan kenduri atau makan bersama di kompleks bukit girilangan. Merasa masih ada kesempatan, kami pun turut bergabung, tahlil, dan doa bersama di makam.

Sedihnya, Kami Gagal ikut Kirab

Kirab Babad Dalan Giling, dan Kirab Adat Sadran Gede. Dua kirab ini terlewati karena kami telat datang. Padahal, dua kirab ini sangat aku nantikan. Menyedihkan, bukan. 🙁

Menyaksikan puluhan perempuan menggendong ancak, seperti melihat perjuangan pada dahulu kala. Apalagi ini digendong dari Balai Desa Gumelem menuju Bukit Girilangan dengan jarak tempuh kira-kira 1 km. Betul-betul taat, dan penuh pengabdian, ya.

NYADRAN GUMELEM 58
Di sini acara kenduri untuk masyarakat Gumelem…

Belum lagi iring-iringan kirab yang diikuti para sesepuh Desa, juru kunci makam, dan pejabat daerah yang mengenakan baju kebesarannya, baju adat khas Jawa. Rasa-rasanya seperti kilas balik enam abad yang lalu, di mana para pengikut, dan para santri Ki Ageng Giring dengan setia menemani perjalanan Ki Ageng Giring kemanapun.

Sayang banget saat itu kami tidak menyaksikan moment tersebut. Semoga diberi umur panjang, tahun depan bisa datang lebih awal untuk turut kirab, dan tentunya dengan jalan kaki tanpa babang ojek supaya bisa menikmati tradisi nyadran gede. Bisa lebih khidmat mengikuti tradisi Nyadran Gede.

Kenduri, atau Makan Bersama di Bukit Girilangan

Adzan dzuhur berkumandang. Seluruh masyarakat bersiap-siap untuk makan bersama. Mempersiapkan nasi giling beserta lauk tradisional yang sudah dibawa oleh masyarakat Gumelem Wetan.

Siap makan bersama…

Di Bukit Girilangan terdapat semacam pendapa khusus untuk acara. Makanan pun ditata, berjejer memenuhi bukit untuk dikepung bersama. Sementara para tamu undangan yang nyadran di pemakaman Ki Ageng Gumelem turut bersiap-siap untuk acara Pisowanan di Paseban Gumelem. Pisowanan di sini merupakan acara puncak Nyadran Gede. Acara ini diisi dengan sambutan-sambutan, santap ancak, dan tenong.

Masyarakat Gumelem santap ancak di Bukit Girilangan. Sementara para tamu undangan di Paseban Gumelem. Karena pukul 14.00 WIB Ayah Yasmin ada keperluan, kami pun tidak ikut bergabung menikmati ancak. Berdoa lagi, semoga tahun depan bisa mengikuti nyadaran dari awal sampai akhir. 😉

Welcome Blogger Serayu!

Berita tentang Banjarnegara pernah beberapa kali tayang di televisi. Lebih sering berita sedih, sih. Tanah longsor, misalnya. Pada saat tertentu, aku kerap terharu ketika mendapat colekan dari teman-teman Blogger di media sosial. Ini bukan sekadar colekan biasa, karena kurasa lebih ke perhatian.

Teman-teman Blogger yang kukenal mention aku di jejaring sosial, menanyakan kabarku beserta keluarga, dan tentunya tanah Banjarnegara. Apakah kami baik-baik saja? Dekat atau jauh dari TKP? Deeegh! Siapa yang ngga bahagia punya teman-teman Blogger yang care? Belum pernah berjumpa sekalipun, mereka memiliki rasa khawatir yang begitu dalam. Rasa-rasanya sudah seperti keluarga.

Saat itu, mungkin blogger dari Banjarnegara yang mereka kenal baru aku, Idah. Mereka belum kenal dengan blogger lain yang berdomisili di Banjarnegara. Jangankan mereka, aku pun merasa belum punya teman di sini. Sampai akhirnya, aku tekadkan untuk mengikuti acara Pesta Blogger kala itu, tahun 2013.

Saking pinginnya punya teman Blogger dari daerahnya sendiri, rasa malu betul-betul kusingkirkan. Kupikir, dengan punya teman yang sama-sama punya hobi ngeblog akan menambah semangat. Akupun mendaftar secara online. Sesampainya di acara, ternyata hanya ada satu orang yang kukenal, itupun tetangga, dan dia menjadi MC sekaligus moderator acara. 😀

Pesta Blogger Banjarnegara adalah acara yang diselenggarakan oleh Ruang Belajar Masyarakat (RBM). Aku ngga paham siapa yang ada di balik RBM, dan dimana “tempat nongkrongnya”. 😀 Maklum, aku belum begitu gawl saat itu. Hahaha.

Baca jugaRBM dan Pesta Blogger Banjarnegara.

Inti acara pesta blogger, RBM mengajak Blogger Banjarnegara untuk turut mempromosikan produk unggulan dan potensi daerah. Ajakan yang menyenangkan, bukan? Apalagi bagiku, Blogger yang begitu sayang dengan tanah kelahiran. Jangankan potensi daerah, Pak Bupati minta dibuatkan Blog aja akan kubuatkan, kok. 😆 😛 😛

Btw, apa kabar RBM? Masih ada atau sudah ganti nama, ya? Mungkin hanya para pengurus dan anggota yang tahu, karena setelah Pesta Blogger yang meriah banget, aku ngga pernah mendengar ada pertemuan lagi.

Tidak hanya Pesta Blogger, aku juga pernah ikut lomba blog dengan tema wisata Banjarnegara. Lomba ini diikuti kurang lebih 15 Blogger Banjarnegara. Lagi-lagi acaranya meriah, pun dengan hadiahnya. Bertempat di The Pikas, teman Blogger mulai bertambah, meski kami ngga sampai membuat forum.

Baca jugaLomba Blog di The Pikas.

Beruntunglah, Dinas Pariwisata Banjarnegara pernah mengadakan acara Blog Competition. Jadi sedikit tahu blogger-blogger yang berdomisili di Banjarnegara. Berbekal dari pengumuman lomba, akupun mulai kepoh cantik, yang kemudian memberanikan diri untuk japri mereka satu per satu melalui Twitter.

Malu? Nggaaaaa laaah! Jangankan cuma DM, ngajak ketemuan saja aku jabaniiiin. 😛

Aku, Hendi, Mas Ganjar, Mas Jujun (yang saat itu berhalangan hadir), memutuskan untuk meet up. Dalam hal blogging, aku merasa tujuanku dengan mereka hampir sama, yaitu ingin membagikan isu positif di Banjarnegara lewat media Blog, dan jejaring sosial. Semoga sama. Semoga. 😀

CULINARY IWAK BANJARNEGARA

Pertemuan yang cukup singkat memberanikan kami untuk mengumpulkan lebih banyak lagi blogger-blogger di Banjarnegara dengan membuat pertemuan di Culinary “Iwak”.

Baca juga: Review Culinary “Iwak” Gemuruh.

Pertemuan perdana cukup membuatku (khususnya) optimis untuk bersama berbagi tentang Banjarnegara karena yang datang lebih dari tarjet, yaitu 14 Blogger. Meet up ini juga dihadiri oleh teman-teman media, ada Mas Acil dan Mas Nur. Terasa makin lengkap, dan gereget.

Sesuai kesepakatan, meet up perdana kami manfaatkan untuk perkenalan, berdiskusi ringan perihal nama, pembuatan akun official, dan tata laksana rumah tangga. 😀 😆 Nama Blogger Banjarnegara ngga kami gunakan karena berbagai pertimbangan. Kami justeru memilih nama Blogger Serayu. Meski nama tersebut pernah dipakai oleh Pangeran Antah (bukan nama sebenarnya), namun untuk seluruh akun socmed masih available.

Permisi melalui Pangeran Antah, nama Blogger Serayu akhirnya fix kami gunakan untuk nama komunitas kami. TOK…TOK…TOK…!

Dan inilah yang kemarin turut meet up Blogger Serayu:

  • Mas Jujun ( http://eventbanjarnegara.com)
  • Mas Ganjar (http://www.banjarnegaraku.com/)
  • Mas Doni (http://komikselonjor.com/)
  • Mas Ipong (http://www.indiegigsmedia.com)
  • Hendi (https://ndayeng.wordpress.com)
  • Lutfi (https://fahrezy.wordpress.com/)
  • Havid (http://www.northbackpacker.com)
  • Razin (http://www.blogx.id/)
  • Faiz (http://www.niguradev.id/)
  • Mad Solihin (http://www.madsolihin.com)
  • Mei (http://blekkedet.blogspot.com)
  • Ella (https://ellafitria.blogspot.co.id)
  • Ira (https://pandanwangi156.wordpress.com)
BLOGGER SERAYU
Alhamdulillaah, udah punya banyak teman bloger di Kota kelahiran. ^_*

Alasan memilih nama Blogger Serayu tentunya bukan asal. Sungai Serayu yang melintasi lima kabupaten, termasuk Banjarnegara, bagi kami merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Terlebih, Banjarnegara kerap menggunakan kata “Serayu” untuk berbagai acara. Festival Serayu Banjarnegara, misalnya. Selain itu, arus sungai serayu Banjarnegara juga cukup potensial untuk olahraga Arung Jeram, dan Tubing. Makanya, kami memilih Serayu untuk nama komunitas Blogger.

Baca juga: Festival Serayu Banjarnegara

Aku (khususnya) punya banyak harapan bersama Blogger Serayu. Salah satunya, dapat bersama membagikan informasi positif tentang Banjarnegara di berbagai bidang, karena Banjarnegara adalah Kabupaten yang -insya allah- kaya. Asli. Meski sampai sekarang masih pelan-pelan beradaptasi, aku (khususnya) yakin teman-teman Blogger Serayu akan berusaha membagikan yang terbaik untuk Kabupaten yang memiliki banyak potensi lewat media digital. Doakan kami, teman-teman. ^-*

Akun Official Blogger Serayu

website | instagram |twitter | fan page

Culinary Iwak Gemuruh, Spesialis Kuliner Serba Ikan 

Culinary Iwak Gemuruh, Spesialis Kuliner Serba Ikan – Setidaknya, aku punya seorang teman perempuam yang ngga doyan daging; ayam, sapi, dan kambing. Sama sekali enggak doyan. Mau diolah seenak apa pun enggak bakal doyan.

Selain daging, dia juga agak susah kalau diajak makan seafood. Ngga bakal habis satu porsi. Bisa dibilang hanya ambil dua sampai tiga ekor udang, cumi, atau seafood lainnya yang udah dipesan. Selebihnya, aku yang menghabiskan. Asyik ya, punya teman macam ini. Hahaha. Milzana, namanya.

Sebagai teman baik, tiap kali kami ngedate, aku lebih sering mengajaknya kulineran ke warung yang menyediakan ikan. Biasanya sih di Saung Bu Mansur karena di sana menyediakan menu ikan Gurameh yang endeus. Ya…meski dia jarang memesan ikan, tapi setidaknya aku telah memberi pilihan terbaik untuknya. Qiqiqi.

Selain Saung Bu Mansur, ternyata sekarang ada Culinary “Iwak” yang juga menawarkan menu. Kabar baiknya, di sini banyak menu iwak atau ikan. Tidak terbatas pada Gurameh. Bisa dibilang, Culinary “Iwak” ini spesialis kuliner serba ikan. Kubilang spesialis karena di sini lebih dominan menyediakan kuliner ikan seperti: Iwak Kali, Betutu, Lele, Bawal, Gurameh, Mujahir, Nila, dll.

CULINARY IWAK GEMURUH BANJARNGARA 2

FYI, iwak dalam tanda kutip bukan berarti punya maksud lain. Arti nama warung yang terdiri dari dua kata, dan dua bahasa yaitu culinary yang berarti kuliner, sedangkan “iwak” diambil dari bahasa jawa yang berarti ikan air tawar. Menggunakan tanda kutip karena bukan dari bahasa nasional, melainkan bahasa daerah. Lidah mbanjar mbanget pokoke. *asli, ini penting banget dibahas* *padahal masih mungkin* *belum tanya pemiliknya* 😆

Ihh…tiba-tiba ngomongin Culinary “Iwak” Gemuruh

Sebelum mengajak Milzana ke sini, aku dan suami terlebih dahulu nyobain kulineran di sini. Bukan tanpa sebab, kami datang ke tempat makan yang lokasinya cukup jauh dari tengah kota, kurang lebih 2 km. Akhir bulan Maret, ada acara meet up bareng Blogger Banjarnegara yang bertempat di Culinary “Iwak”.

Kami, tuh, belum pernah singgah di sini. Tapi, karena tahu lokasi tepatnya, yaitu kurang lebuh 50 meter sebelum Perumahan Gemuruh Griya Indah, kami pun mudah mencarinya. Apalagi aku tahu, sebelum Culinary “Iwak” berdiri, tempat ini dimanfaatkan sebagai pasar ikan Gemuruh.

CULINARY IWAK GEMURUH

“Pokoknya kanan jalan dari arah timur, setelah SMA Bawang, eks. pasar ikan Gemuruh.” Kataku kepada suami yang saat itu mengantarkanku, sekaligus hendak turut acara. Kurasa sudah cukup detail, tapi Suami masih belum paham, dong. Maklumin saja, ya, karena sampai sekarang dia masih belum hafal rute jalan di Banjarnegara. Jadi, kalau punya rencana main seputar Banjarnegara, aku ada di belakang, tapi sebagai sopir. “Nggemesin” banget, kan. Hahaha.

Kenapa Memilih Culinary Iwak Gemuruh?

Alasan utama karena tempatnya cocok banget buat kumpul bersama empat belas orang Blogger. Ini bukan tentang luasnya, tapi karena ruang terbuka, gitu. Ngumpul Blogger di ruang terbuka terasa lebih santai, dan segar. Terlebih, ditambah suguhan hamparan persawahan yang baru banget ditanami padi. Segeer, padhang njembrang!

Tempat seperti ini ternyata mempengaruhi semangat juga berdiskusi, ya. Jauh dari kata bosan, dan malah makin seru. Apalagi setelah menikmati ikan bakar, cocol sambal pedas, lengkap dengan urab daun ketela. Lidah dan perut betul-betul dimanjakan.

Alasan berikutnya, karena harga menu makanan cukup terjangkau. Kulihat di daftar menu, harga termahal untuk seporsi menu ikan yaitu Rp 20.000 per porsi. Kecuali Ikan Gurameh yang dihitung dengan harga beli per ons. Camilan seperti nugget ikan, harganya Rp 15.000 per porsi, dan ini camilan paling mahal di Culinary “Iwak”. Ngga bikin dompet kosong banget lah, ya.

Kemudian, yang menarik dari Culinary “Iwak”, selain makan-makan, pengunjung bisa santai di Kedai Kopi yang menawarkan berbagai macam kopi lokal, kopi yang dipanen dari berbagai penjuru Desa di Banjarnegara. Kedai Kopi Sabin, namanya. Pengunjung tinggal pilih; cukup menikmati kopi, perlu makan-makan, atau makan dan setelahnya ngopi-ngopi. 😀 Jarang, kan, tempat makan yang sekaligus ada kedai kopinya.

Lalu, Gimana dengan Fasilitasnya?

Memang, tempat ini eks. Pasar Ikan Gemuruh, namun fasilitas penting a la warung makan termasuk cukup, meski masih sederhana, dan seadanya. Mushola, misalnya. Mungkin pengunjung cukup susah menemukan Mushala di sini. Selain ngga ada tanda semacam kubah, pemilik Culinary “Iwak” belum membuat papan sign board yang dapat digunakan sebagai petunjuk menuju Mushola.

Aku juga awalnya cukup meraba buat mencarai Mushala karena diskusi waktu itu ternyata sampai sore. Tapi setelah bertemu dengan seorang Ibu yang sedang membakar ikan di sebelah Kedai, aku jadi tahu letak Mushala. Dan ternyata, fasilitas lain seperti: tempat wudhu, tempat cuci tangan, toilet, ada di di belakang Mushola. 😆 😀

CULINARY IWAK GEMURUH BANJARNGARA

Terlepas dari fasilitas yang masih seadanya, luasnya tempat parkir dan mudahnya akses menuju tempat makan ini menjadi kelebihan dari Culinary Iwak. Kendaraan dapat parkir di samping atau di depan warung. Jangan lupa helm di bawa masuk, dan ditaruh pada tempatnya yang terletak di pintu masuk supaya lebih tenang, dan aman. 🙂

Btw nih, ya. Kabupaten Banjarnegara masih terus mengembangkan sistem pengelolaan budi daya ikan air tawar di lahan sawah pertanian padi atau biasa dikenal dengan istilah minapadi. Ini betul-betul program bagus karena area persawahan di Kabupaten Banjarnegara masih tergolong luas. Selain hasilnya nanti dapat dijual, setidaknya pemerintah juga turut menyemangati program yang telah dicanangkan pemerintah yaitu Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARI).

Warung makan seperti Culinary Iwak ini rekomendasi bagi kalian yang ingin mencicipi beragam menu ikan yang merupakan bahan pangan sehat yang bergizi tinggi. Tersedia juga aneka menu khas Desa seperti Nasi Jagung, lengkap dengan urab. Di sini juga menyediakan menu Ayam, kok. Cocok lah buat ngajak Milzana ngedate. 😛 😛

Culinary Iwak Gemuruh, Banjarnegara.

  • Alamat: Jl. Raya Gemuruh (50 meter sebelum Perumahan Gemuruh Griya Indah)
  • Pemesanan: 0853 2727 0707 atau 0822 2635 5594 (Elly)
  • Jam buka: 09.00-22.00 WIB
  • Instagram: @culinary_iwak

Pengalaman Menginap di Cottage The PIKAS Resort

The Pikas menjadi titik kumpul bagi 20 Blogger yang mengikuti Blogger Trip bertajuk “Blogger Plesir Maring Banjarnegara.” Tema yang khas banget! Ngapak-ngapak kepenak. 😆

Sekadar informasi, tema yang diusung kali ini merupakan tagline dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Mereka yang memberi kesempatan kepada kami untuk explore wisata Banjarnegara.

Ayo Plesir Maring Banjarnegara, atau dalam bahasa Indonesia Ayo Berwisata ke Banjarnegara. Itulah tagline aslinya. Berhubung pesertanya adalah para Blogger, jadilah kami masuk frame. 😆

Membaca rundown yang dikirim oleh Dinbudpar Banjarnegara, pemilihan The Pikas Resort sebagai tempat penginapan adalah pilihan yang tepat. Kenapa? Karena, lokasi The Pikas Resort mudah dijangkau dari arah mana saja. Dekat dengan jalan raya propinsi, yang mana beberapa teman Blogger ada yang menggunakan transportasi umum. Mas Halim, Blogger dari Kota Solo, misalnya. Dia menggunakan Bus.

Selain itu, kegiatan pertama yaitu rafting di sungai serayu yang didampingi oleh Guide dan tim rescue Bannyuwoong, start from The Pikas. Jadi pagi harinya, peserta cukup kucek-kucek mata, sarapan, dilanjut memakai pelampung, helm, bawa dayung, pemanasan, kemudian masuk boat! 

Pilihan yang tepat, bukan?

penginapan-pikas-resort
Jembatan menuju Balai The Pikas

Sore itu, aku datang bersama Si Kecil, dan langsung menuju Pendopo atau Balai The Pikas untuk mencari informasi tentang keberadaan Teman-teman Blogger. Menjadi peserta dengan jarak tempuh terdekat dari The Pikas Resort, tapi terlambat. Luar biasa banget.

Tepat di depan Balai, lelaki yang mengenakan kaus oblong warna biru memberi informasi, bahwa Teman-teman sudah datang.

Teman-teman cowok yang berjumlah dua belas, menempati Cottage Lumbir 4 dan 5. Sementara, delapan Perempuan di Cottage Lumbir 2.

Nama masing-masing cottage tidak terlihat dari jalan masuk cottage, makanya aku minta tolong kepada salah satu karyawan The Pikas untuk mengantar sampai Lumbir 2. Manja banget, ya. Hahahaha

For your information, The Pikas Resort menawarkan 10 cottage yang masing-masing punya nama: Lumbir 1-5, Sabin Timur, Sabin Barat, Jawa Mini, Jabar dan Jatim. Cottage terluas yaitu Sabin Timur dan Barat dengan kapasitas 7 orang. Sedangkan yang paling kecil yaitu Jawa Mini yang dapat dihuni 2 orang.

Cottage Lumbir hampir semua berkapasitas enam orang, kecuali Lumbir 1 yang berkapasitas empat orang. Tempatku bermalam, yaitu Lumbir 2 yang biasanya berisi enam orang, malam itu dihuni tujuh orang, dan satu bayi. 😆 Betapa The Pikas Resort ramah dompet, ya. Cocok banget untuk menginap a la backpacker yang ngetripnya rombongan. 😛

Memasuki area Cottage, aku terpana dengan suguhan alam yang segarnya luar biasa. Hamparan sawah, pemandangan penuh hujau, dipadu dengan udara segar. Aku yang tinggal di desa melihat hamparan sawah saja sampai terpukau, ya. Ya maklum, sih. Ini pemandangan alamnya lain, Sist. Sawah, Pepohonan, Bunga, ada di antara Cottage. Kebayang sehatnya, kan?

Dua cottage yaitu Jawa Mini, dan Sabin, betul-betul berada di tengah sawah. Sementara kompleks Lumbir, begitu rindang dengan aneka pepohonan hijau. Kompleks ini cocok banget buat jogging pagi hari. Ya…meski bukan jogging track, tapi udara pagi sekitar Cottage sayang banget dibiarkan begitu saja. Minimal, keliling Cottage, sambil jeprat-jepret pemandangan sekitar yang begitu memikat.

Kira-kira jam 23.00 WIB, hujan turun dengan derasnya, dan aku masih terjaga. Jadi teringat beberapa jam lalu sebelum hujan, kami makan jagung bakar yang telah disediakan oleh panitia. Andai bisa menggigit jagung dikala hujan, tambah hangat, dan nikmat. 😀

penginapan-di-banjarnegara2
Kawasan Lumbir yang memikat…

Etapi, saat jagung mulai dibakar, dan ada suguhan supermoon kira-kira jam 20.00 WIB, suasana di Balai The Pikas juga tidak kalah hangat. Terlebih alunan musik, dan suara Bapak Dwi, Kepala Dinbudpar, yang serak-serak sedap terus menemani para Blogger yang tengah asyik berpesta jagung bakar.

Di luar, hujan boleh turun dengan derasnya. Tapi, bagi kami yang ada di dalam Lumbir, tidur berjejer di atas matras, merasa makin hangat. Selimut cukup tebal, suara katak saling bersahutan, aliran kali serayu makin terdengar jelas. Syahdu. Tidur di samping si kecil, memeluknya erat, menambah hangat suasana malam itu.

Awalnya, aku sempat kaget dengan hujan yang tiba-tiba turun karena sebelumnya kami telah menikmati supermoon. Selain itu, aku cukup was-was, andai Lumbir 2 sampai bocor. 😀 Kebayang, dong, ada Si Kecil di sampingku. Kasihan.

 

A photo posted by Sii Olipe (@olipe_oile) on

 

Perasaan was was itu wajar, melihat desain cottage yang unik, dengan bentuk rumah panggung. Dinding dan lantai semua berbahan kayu. Dinding kanan kiri didesain miring, kira-kira 30 derajat. Sementara, bagian atap cottage itu plong. Pemandangan ke atas langsung tertuju pada genting, beserta kayu-kayu. The Pikas Resort, desain penginapan khas pedesaan.

Pihak The Pikas Resort pasti sudah melakukan pengecekan sebelumnya. Itu pasti. Mereka akan memberi pelayanan terbaik untuk para Tetamu. Termasuk adanya lotion anti nyamuk.

Kelihatannya memang sepele, tapi mereka sadar bahwa cottage berada di sekitar Kolam, Kali Serayu, Sawah, dan Perkebunan. Makanya, mereka menyediakan lotion anti nyamuk buat persediaan. Beruntung banget yang mereka sediakan adalah lotion, bukan obat nyamuk semprot atau listrik. Jadi, Si Kecil aman karena lotion lebih ramah.

Alamat The Pikas Resort
Yang segar gini menambah semangat!

Sampai pada fasilitas penting sebuah penginapan, Cottage di The Pikas Resort menyediakan dua macam kamar mandi, yaitu kamar mandi utama dan kamar mandi bersama.

Adanya fasilitas rekreasi seperti Outbound, Rafting, The Pikas Resort seperti sengaja menyediakan kamar mandi bersama di dalam Cottage. Memang, tidak jauh dari Balai The Pikas terdapat empat toilet mandi umum, namun kamar mandi bersama dengan sekat gorden yang ada di dalam Cottage memberi kenyamanan tersendiri bagi Tetamu yang punya rencana menginap, sekaligus rafting di The Pikas. Tidak perlu antre untuk masalah mandi.

penginapan-resort-banjarnegara
Kamar mandi bersama. . .

Kamar mandi utama yang disediakan oleh The Pikas Resort cukup sederhana. Satu closet, dan satu set peralatan mandi. Perlengkapan mandi seperti: sabun, shampo, sikat gigit, pasta gigi, handuk, dll dll, belum disediakan. Ada baiknya, dimanapun akan menginap, bawalah perlengkapan mandi. Tidak ada salahnya lebih siap, kan. Okay? 😉

Omong-omong, air di The Pikas Resort hanya ada air dingin. Air hangat belum disediakan. Tapi, mengingat Banjarnegara tidak selalu dingin, air hangat tidak begitu dibutuhkan. Apalagi lokasi The Pikas Resort tidak begitu jauh dari kota. Kerap panas di sini. Semisal membutuhkan air hangat, Tetamu bisa langsung ke Pikasto. Resto milik The Pikas yang berada di sebelah kanan Balai.

penginapan-pikas-resort-2
Kamar mandi dalam, nih. . .

Ya, The Pikas mempunyai resto yang bernama Pikasto. Tetamu yang menginap di The Pikas Resort dapat memanfaatkan resto ini. Jika menginap di sini, menikmati masakan khas Desa di pagi hari sudah termasuk fasilitas. Menu masakan di Pikasto berragam. Nasi Bakar menjadi menu andalan di sini. Tetamu boleh memesan nasi bakar jika mau, dan mungkin berbayar. Karena, menu masakan include yang disediakan biasanya menu ayam rica-rica, atau nasi goreng.

Seperti sarapan, dan makan malam yang telah kami nikmati. Menu makanannya memang biasa, standard. Yang menjadi beda, dan spesial yaitu suasana. Sarapan nasi goreng di tepi kali serayu dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Atau, sarapan bisa dibawa ke Cottage, duduk di kursi yang disediakan di teras depan Cottage. Suasana serta pemandangan di depan Cottage juga tidak kalah asyik.

penginapan-pikas-resort-banjarnegara
Mbak Olip makannya sedumil banget. . .

Oiya, Wi-Fi di penginapan ini belum sampai Cottage. Provider internet yang paling bagus dipakai di sini yaitu Indosat dan Telkomsel. Tidak ada salahnya siap siaga membawa modem, atau mengisi paket data selular jika ada dateline pekerjaan.

Fasilitas penunjang lainnya yaitu ada tempat parkir yang luas di dekat pintu masuk The Pikas, mushala, kamar mandi, paket outbound, dan paket rafting.

Untuk mencapai The Pikas Resort, dari lampu merah pertigaan Desa Singamerta, Kecamatan Sigaluh, ambil arah kiri, ikuti jalan raya. The Pikas Resort ada di sebelah kiri jalan setelah jembatan yang melintasi sungai serayu.

Alternatif lain, jika menggunakan transportasi umum, dari pertigaan Singamerta, pilih angkutan umum warna biru dengan abjad “B” jurusan Madukara, atau Minibus jurusan Pagentan. Naik angkutan umum sampai depan The Pikas cukup bayar Rp 2.000.

Bagi yang suka olahraga, bisa jalan kaki. Jarak tempuh dari pertigaan Singamerta kurang lebih 700 meter. Cukup dekat, bukan?

the-pikas-resort-banjarnegara
Angetnya bobok di Cottage ini…

Ayo plesir maring Banjarnegara, dan pilih The Pikas Resort menjadi bagian dari perjalanan wisata ke Banjarnegara. Penginapan dengan konsep alam, nuansa khas pedesaan, akan membuat betah berlama-lama di sini. Asli. ^-*

The Pikas Resort Banjarnegara

  • Alamat: Jl. Raya Madukara, Desa Kutayasa, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.
  • Rate: Rp 400.000-Rp 750.000,-
  • Extra bed: Rp 100.000
  • Include: Air Mineral, Kamar Mandi Dalam, Kasur Busa, Selimut dan Makan Pagi.
  • Reservasi: (0286)593000|081585386575

Cara Asyik Menikmati Telaga Paling Memesona di Jawa Tengah

Jawa Tengah, sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa mempunyai segudang destinasi wisata menarik. Asli. Tidak sedikit kota di Jawa Tengah mempunyai warisan Budaya yang tmasih terrekam sampai sekarang. Wisata Sejarah, Kuliner dan objek wisata yang saat ini makin banyak dicari, dikunjungi wisatawan. Adalah Wisata Alam.

Sebutlah Banjarnegara, salah satu Kabupaten di Jawa Tengah dimana destinasai Wisata Alamnya makin banyak. Tidak sedikit objek wisata alam yang baru-baru ini bermunculan di Banjarnegara, Jawa Tengah. Curug-curug tersembunyi di Desa-desa bagian atas, misalnya. Menambah daftar deretan wisata alam yang layak dikunjungi ketika singgah di Banjarnegara. Pun termasuk telaga yang paling memesona di Jawa Tengah. Memang, telaga ini bukan telaga baru, hanya saja gaungnya mulai terdengar.

Sore itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur jalan Selomerto, Wonosobo. Kami yang tengah asyik menambah kecepatan laju sepeda motor, tanpa kompromi, menepi ke deretan Rumah Toko yang berada di pingir jalan raya.

Pakai mantel, dan amankan barang bawaan, ya. Kita akan menerjang hujan sampai lokasi.” Mas Ganjar, lelaki yang memimpin perjalanan menuju Telaga, mengambil keputusan yang luar biasa. Nampak tidak ada rasa was was , atau takut, sedikitpun.

Ya…gimana lagi, menuju telaga paling indah di Jawa Tengah adalah salah satu napsu yang sempat memuncak dari zaman jahiliyah. Kebanyang lah, ya. Makanya jangan heran, Mas Ganjar sampai mengeluarkan jurus kuda lumping.

Tidak sampai sepuluh menit persiapan, kami kembali melaju. Alhamdulillaah… hujan deras hanya sampai Dieng Wetan, Wonosobo. Ya, untuk mencapai Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah, kami memilih jalur Wonosobo dengan waktu tempuh kira-kira 90 menit dari tengah kota Banjarnegara. Alasan memilih akses ini tak lain karena jalan menuju Dringo lebih mudah dijangkau. Akses lainnya yaitu lewat jalur Banjarnegara kira-kira selisih 15 menit perjalanan. Memang lebih cepat, tapi kondisi jalan kurang bagus. Sejauh ini, akses menuju Telaga Dringo lebih nyaman melalui jalan Wonosobo-Dieng.

1 TELAGA DRINGO BANJARNEGARA
View dari depan tenda…

Melihat suguhan Telaga Dringo yang tidak hanya sekadar memesona, sekaligus perjalanan yang bisa dibilang cukup nekat ini menjadi moment yang susah dilupakan.

Mengendarai sepeda motor matic di jalan yang belum beraspal. Naik, temurun, dan beberapa kali sempat tidak percaya diri ketika menjumpai kelokan yang mana membuat gerogi. Nanjak, berkelok, dengan medan masih berupa tanah, dan bebatuan yang kurang tersusun.

Satu motor sempat terselip, motor matic yang dikendarai Mas Eko dan Lulu. Sementara motor satunya yang dikendarai Mas Ivan dan Winda sempat ngetril heboh karena KELEBIHAN MUATAN. HAHAHAHAHA *ngelirik Winda* Sedangkan motor Mas Ganjar aman, karena aku lebih memilih jalan kaki sampai lokasi meski bikin betis makin mlentis, tungkak pegal, dan si pahe makin kuat. Ini moment banget! Asli. Makanya, ke Telaga Dringo sampai tidak bermalam itu rugiiiii. Asli, rugiii banget. Kareba ada banyak cara asyik untuk menikmati keindahan alam Dringo.

Berikut cara asyik menikmati Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah. Cara asyik yang pernah kami lakukan bersama.

Jogging

Udara Dringo di pagi hari khas banget. Belum banyak Petani berlalu lalang di sekitar Telaga. Pemandangan alam nan hijau, perbukitan kanan-kiri, hamparan rumput, serta banyaknya pohon di antara perbukitan, menggugah semangat pagi hari untuk jogging. Cukup satu putaran, sukses membuat napas ngos-ngosan, baju basah karena keringat. Memori kamera juga ikut fresh kareana full dengan lanskap pemandangan alam.

2 SISI LAIN TELAGA DRINGO
Sayap kanan Dringo…

Ya…bagaimana tidak. Baru mau start jogging, sudah dihadapkan dengan pesona bukit Dringo yang segarnya melebihi Kang Al Ghazali abis mandi. Gunung yang berada di seberang, seakan berbisik: “jepret aku, jepret aku, dong. Jepret aku yang gagah, maskulin. Please.”

Telaga yang berada di perbatasan antara Kabupaten Batang dan Banjarnegara, dan lebih dikenal milik Banjarnegara ini asyik banget buat jogging. Jalan setapak yang kerap digunakan Petani sebagai akses menuju ladang, cukup membantu untuk olahraga Jogging. Sambil mencari embun, atau menanti Sunset. Jogging disekitar Dringo begitu mengasyikkan. Apalagi, teman seperjalanan pada semangat jogging. Nular, deh.

Camping

Telaga yang berada di ketinggian 2.222 m dpl merupakan telaga tertinggi di Pulau Jawa. Kebayang asyiknya camping di Dringo, kan? Camping di kawasan hutan yang -semoga- seterusnya akan terjaga kelesatariannya (aamiin), hutan heterogen, hutan yang membuat kami betah karena banyak pohon yang asyik banget buat pepotoan. Lha, ini pepotoan lagiii. 😆

“Cukup dengan tiga sampai empat jam di Dringo tanpa menginap!”

1 TELAGA DRINGO CAMPING

telaga-paling-memesona-di-jawa-tengah

Duuh…serius? Camping laah…CAMPING! Meski Telaga ini belum ada yang “ngejagain”, tapi camping di sini aman. Panggil saja Mas Ivan via udara, jika ingin merasa lebih aman jiwa, raga dan juga perut. Dia akan siap menjaga kalian dengan syarat dan ketentuan berlaku. Qiqiqiqi

Penduduk setempat yaitu penduduk Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara, sepertinya belum tergugah untuk andil mengelola Telaga sebagai objek wisata. Telaga ini sepenuhnya dikelola oleh Dinas Kehutaanan dan sampai sekarang belum dijadikan objek wisata. Hanya menitip jejak, atau camping sepuasnya di sini, tidak dikenakan biaya.

Naik Bukit!

Sist, kalau sudah sampai Telaga Dringo dan camping, please jangan cuma boboan di tenda, ya. Jangan hanya numpang makan dan minum di tenda. Naiklah ke Bukit. Ada kado spesial di atas sana.

Perjalanan menuju Telaga saja sudah penuh perjuangan, ya. Dari kompleks Candi Dieng, kurang lebih 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Belum lagi, treckkingnya yang membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dari jalan masuk, sesampainya kawasan hutan. Sayang banget kalau hanya menikmati dengan cara duduk di tepi Telaga.

Duuuh…galau ya, Sist? Qiqiqiqi

telaga-dringo-3-dieng
Bukit Dringo sebelah selatan. . .

Dringo cukup dekat dengan obyek wisata Kawah Candradimuka dan Sumur Jalatunda. Pernah mendengar dua objek wisata tersebut, kan? Kalau belum pernah, browsing dulu, deh. Atau, langsung ke sini aja, merasakan sensasi medan off-road untuk melihat Kawah Candradimuka dan tentunya Telaga yang paling memesona di Pula Jawa. *serius, paling memesona di Pulau Jawa* *tidak hanya di Jawa Tengah* *tidak percaya* *makanya ke Dringo*

Salah satu objek wisata yang kusebut, yaitu Sumur Jalatunda, dapat dilihat diameternya dari bukit Dringo, dan itu nampak unik syekali. Lihat, tuh, foto di atas. Nampak ada lubang dekat kepalaku, kan? Itu Sumur Jalatunda yang dipercaya bisa membuatmu berhasil keliling dunia jika bisa melempar batu sampai seberang Sumur.

Hah? Ini serius? 

Ya…coba saja tanya kepada penjaga objek wisata Sumur Jalatunda, ya. HAAAAAAP!

Di dekat bukit sebelah selatan, banyak tanaman Kentang yang mana perairannya mengambil dari Telaga Dringo. Bukit paling unik, dan sempat membuatku berpikir keras yaitu bukit yang berada di sebelah kanan, atau utara Telaga. Selain banyak pohon yang instagenic, di atas bukit ada pemakaman yang sama sekali tidak horror. 😆 😛

telaga-dringo-2-jawa-tengah
Kalau malam-malam, mana bisa deketan gini, ya. Hahahaha

Uwoooo…semalam tenda kita, tempat bobok kita, ternyata dekat dengan pemakaman, ya! Sedaap benar!😛

Tidak usah menghayal, atau berpikir macam-macam, ya. Pemakaman ini bukan pemakaman pada umumnya, kok. Menurut penduduk setempat, beberapa tahun silam pernah ditemukan tulang-tulang di sekitar Bukit. Wara memilih untuk menguburnya. Tulang-tulang tersebut entah tulang manusia atau hewan, aku tidak ingat. Padahal, Lulu dan Winda sempat menanyakannya kepada salah seorang Petani yang sedan memanen Kentang di Ladang dekat bukit. Tapiii…aku lupa. 😆

Pepotoan!

Ini wajib banget dilakukan. Apalagi sebagai Blogger, tidak cukup dengan lima puluh jepretan. Meski hasil jepretaku biasa-biasa saja, tapi setidaknya punya dokumentasi di Dringo yang akan menjadi kenangan sepanjang masa. Dan yang paling penting, foto-foto yang diambil bisa dijadikan blog post, sekalipun itu foto narsiiiis. 😛

TELAGA DRINGO BANJARNEGARA
Anak Pohon pasti betah di sini!

Ada banyak spot menarik di Telaga Dringo. Makanya, saat piknik ke Dieng, sempatkan untuk datang ke Telaga Dringo, telaga paling memesona di Pulau Jawa! 😉

Eiya…di kawasan Dringo ini masih bersih, dan akan terus bersih dari yang namanya sampah. Makanya, perlu banget menyiapkan wadah untuk membawa pulang sampah-sampah yang telah diciptakan manusia. Atau, korek api juga bisa. Siapa tahu ada plastik-plastik yang tertinggal di Dringo. Kita sama-sama menjaga Dringo supaya terus dan makin memesona.

telaga-dringo-1-banjarnegara
Berkabut, dan tetap memesona. Dringo!

Sekali lagi, jika sudah sampai kawasan Dataran Tinggi Dieng, atau Kawasan Candi Arjuna, Banjarnegara, singgah lah di Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah. Jangan lupa, ceritakan pengalaman terbaikmu. Ceritakan kepada Dunia melalu media blog, instagram, twitter, facebook, atau media sosial lainnya. Ya ya ya…

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah