Cara Asyik Menikmati Telaga Paling Memesona di Jawa Tengah

Jawa Tengah, sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa mempunyai segudang destinasi wisata menarik. Asli. Tidak sedikit kota di Jawa Tengah mempunyai warisan Budaya yang tmasih terrekam sampai sekarang. Wisata Sejarah, Kuliner dan objek wisata yang saat ini makin banyak dicari, dikunjungi wisatawan. Adalah Wisata Alam.

Sebutlah Banjarnegara, salah satu Kabupaten di Jawa Tengah dimana destinasai Wisata Alamnya makin banyak. Tidak sedikit objek wisata alam yang baru-baru ini bermunculan di Banjarnegara, Jawa Tengah. Curug-curug tersembunyi di Desa-desa bagian atas, misalnya. Menambah daftar deretan wisata alam yang layak dikunjungi ketika singgah di Banjarnegara. Pun termasuk telaga yang paling memesona di Jawa Tengah. Memang, telaga ini bukan telaga baru, hanya saja gaungnya mulai terdengar.

Sore itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur jalan Selomerto, Wonosobo. Kami yang tengah asyik menambah kecepatan laju sepeda motor, tanpa kompromi, menepi ke deretan Rumah Toko yang berada di pingir jalan raya.

Pakai mantel, dan amankan barang bawaan, ya. Kita akan menerjang hujan sampai lokasi.” Mas Ganjar, lelaki yang memimpin perjalanan menuju Telaga, mengambil keputusan yang luar biasa. Nampak tidak ada rasa was was , atau takut, sedikitpun.

Ya…gimana lagi, menuju telaga paling indah di Jawa Tengah adalah salah satu napsu yang sempat memuncak dari zaman jahiliyah. Kebanyang lah, ya. Makanya jangan heran, Mas Ganjar sampai mengeluarkan jurus kuda lumping.

Tidak sampai sepuluh menit persiapan, kami kembali melaju. Alhamdulillaah… hujan deras hanya sampai Dieng Wetan, Wonosobo. Ya, untuk mencapai Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah, kami memilih jalur Wonosobo dengan waktu tempuh kira-kira 90 menit dari tengah kota Banjarnegara. Alasan memilih akses ini tak lain karena jalan menuju Dringo lebih mudah dijangkau. Akses lainnya yaitu lewat jalur Banjarnegara kira-kira selisih 15 menit perjalanan. Memang lebih cepat, tapi kondisi jalan kurang bagus. Sejauh ini, akses menuju Telaga Dringo lebih nyaman melalui jalan Wonosobo-Dieng.

1 TELAGA DRINGO BANJARNEGARA
View dari depan tenda…

Melihat suguhan Telaga Dringo yang tidak hanya sekadar memesona, sekaligus perjalanan yang bisa dibilang cukup nekat ini menjadi moment yang susah dilupakan.

Mengendarai sepeda motor matic di jalan yang belum beraspal. Naik, temurun, dan beberapa kali sempat tidak percaya diri ketika menjumpai kelokan yang mana membuat gerogi. Nanjak, berkelok, dengan medan masih berupa tanah, dan bebatuan yang kurang tersusun.

Satu motor sempat terselip, motor matic yang dikendarai Mas Eko dan Lulu. Sementara motor satunya yang dikendarai Mas Ivan dan Winda sempat ngetril heboh karena KELEBIHAN MUATAN. HAHAHAHAHA *ngelirik Winda* Sedangkan motor Mas Ganjar aman, karena aku lebih memilih jalan kaki sampai lokasi meski bikin betis makin mlentis, tungkak pegal, dan si pahe makin kuat. Ini moment banget! Asli. Makanya, ke Telaga Dringo sampai tidak bermalam itu rugiiiii. Asli, rugiii banget. Kareba ada banyak cara asyik untuk menikmati keindahan alam Dringo.

Berikut cara asyik menikmati Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah. Cara asyik yang pernah kami lakukan bersama.

Jogging

Udara Dringo di pagi hari khas banget. Belum banyak Petani berlalu lalang di sekitar Telaga. Pemandangan alam nan hijau, perbukitan kanan-kiri, hamparan rumput, serta banyaknya pohon di antara perbukitan, menggugah semangat pagi hari untuk jogging. Cukup satu putaran, sukses membuat napas ngos-ngosan, baju basah karena keringat. Memori kamera juga ikut fresh kareana full dengan lanskap pemandangan alam.

2 SISI LAIN TELAGA DRINGO
Sayap kanan Dringo…

Ya…bagaimana tidak. Baru mau start jogging, sudah dihadapkan dengan pesona bukit Dringo yang segarnya melebihi Kang Al Ghazali abis mandi. Gunung yang berada di seberang, seakan berbisik: “jepret aku, jepret aku, dong. Jepret aku yang gagah, maskulin. Please.”

Telaga yang berada di perbatasan antara Kabupaten Batang dan Banjarnegara, dan lebih dikenal milik Banjarnegara ini asyik banget buat jogging. Jalan setapak yang kerap digunakan Petani sebagai akses menuju ladang, cukup membantu untuk olahraga Jogging. Sambil mencari embun, atau menanti Sunset. Jogging disekitar Dringo begitu mengasyikkan. Apalagi, teman seperjalanan pada semangat jogging. Nular, deh.

Camping

Telaga yang berada di ketinggian 2.222 m dpl merupakan telaga tertinggi di Pulau Jawa. Kebayang asyiknya camping di Dringo, kan? Camping di kawasan hutan yang -semoga- seterusnya akan terjaga kelesatariannya (aamiin), hutan heterogen, hutan yang membuat kami betah karena banyak pohon yang asyik banget buat pepotoan. Lha, ini pepotoan lagiii. 😆

“Cukup dengan tiga sampai empat jam di Dringo tanpa menginap!”

1 TELAGA DRINGO CAMPING

telaga-paling-memesona-di-jawa-tengah

Duuh…serius? Camping laah…CAMPING! Meski Telaga ini belum ada yang “ngejagain”, tapi camping di sini aman. Panggil saja Mas Ivan via udara, jika ingin merasa lebih aman jiwa, raga dan juga perut. Dia akan siap menjaga kalian dengan syarat dan ketentuan berlaku. Qiqiqiqi

Penduduk setempat yaitu penduduk Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara, sepertinya belum tergugah untuk andil mengelola Telaga sebagai objek wisata. Telaga ini sepenuhnya dikelola oleh Dinas Kehutaanan dan sampai sekarang belum dijadikan objek wisata. Hanya menitip jejak, atau camping sepuasnya di sini, tidak dikenakan biaya.

Naik Bukit!

Sist, kalau sudah sampai Telaga Dringo dan camping, please jangan cuma boboan di tenda, ya. Jangan hanya numpang makan dan minum di tenda. Naiklah ke Bukit. Ada kado spesial di atas sana.

Perjalanan menuju Telaga saja sudah penuh perjuangan, ya. Dari kompleks Candi Dieng, kurang lebih 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Belum lagi, treckkingnya yang membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dari jalan masuk, sesampainya kawasan hutan. Sayang banget kalau hanya menikmati dengan cara duduk di tepi Telaga.

Duuuh…galau ya, Sist? Qiqiqiqi

telaga-dringo-3-dieng
Bukit Dringo sebelah selatan. . .

Dringo cukup dekat dengan obyek wisata Kawah Candradimuka dan Sumur Jalatunda. Pernah mendengar dua objek wisata tersebut, kan? Kalau belum pernah, browsing dulu, deh. Atau, langsung ke sini aja, merasakan sensasi medan off-road untuk melihat Kawah Candradimuka dan tentunya Telaga yang paling memesona di Pula Jawa. *serius, paling memesona di Pulau Jawa* *tidak hanya di Jawa Tengah* *tidak percaya* *makanya ke Dringo*

Salah satu objek wisata yang kusebut, yaitu Sumur Jalatunda, dapat dilihat diameternya dari bukit Dringo, dan itu nampak unik syekali. Lihat, tuh, foto di atas. Nampak ada lubang dekat kepalaku, kan? Itu Sumur Jalatunda yang dipercaya bisa membuatmu berhasil keliling dunia jika bisa melempar batu sampai seberang Sumur.

Hah? Ini serius? 

Ya…coba saja tanya kepada penjaga objek wisata Sumur Jalatunda, ya. HAAAAAAP!

Di dekat bukit sebelah selatan, banyak tanaman Kentang yang mana perairannya mengambil dari Telaga Dringo. Bukit paling unik, dan sempat membuatku berpikir keras yaitu bukit yang berada di sebelah kanan, atau utara Telaga. Selain banyak pohon yang instagenic, di atas bukit ada pemakaman yang sama sekali tidak horror. 😆 😛

telaga-dringo-2-jawa-tengah
Kalau malam-malam, mana bisa deketan gini, ya. Hahahaha

Uwoooo…semalam tenda kita, tempat bobok kita, ternyata dekat dengan pemakaman, ya! Sedaap benar!😛

Tidak usah menghayal, atau berpikir macam-macam, ya. Pemakaman ini bukan pemakaman pada umumnya, kok. Menurut penduduk setempat, beberapa tahun silam pernah ditemukan tulang-tulang di sekitar Bukit. Wara memilih untuk menguburnya. Tulang-tulang tersebut entah tulang manusia atau hewan, aku tidak ingat. Padahal, Lulu dan Winda sempat menanyakannya kepada salah seorang Petani yang sedan memanen Kentang di Ladang dekat bukit. Tapiii…aku lupa. 😆

Pepotoan!

Ini wajib banget dilakukan. Apalagi sebagai Blogger, tidak cukup dengan lima puluh jepretan. Meski hasil jepretaku biasa-biasa saja, tapi setidaknya punya dokumentasi di Dringo yang akan menjadi kenangan sepanjang masa. Dan yang paling penting, foto-foto yang diambil bisa dijadikan blog post, sekalipun itu foto narsiiiis. 😛

TELAGA DRINGO BANJARNEGARA
Anak Pohon pasti betah di sini!

Ada banyak spot menarik di Telaga Dringo. Makanya, saat piknik ke Dieng, sempatkan untuk datang ke Telaga Dringo, telaga paling memesona di Pulau Jawa! 😉

Eiya…di kawasan Dringo ini masih bersih, dan akan terus bersih dari yang namanya sampah. Makanya, perlu banget menyiapkan wadah untuk membawa pulang sampah-sampah yang telah diciptakan manusia. Atau, korek api juga bisa. Siapa tahu ada plastik-plastik yang tertinggal di Dringo. Kita sama-sama menjaga Dringo supaya terus dan makin memesona.

telaga-dringo-1-banjarnegara
Berkabut, dan tetap memesona. Dringo!

Sekali lagi, jika sudah sampai kawasan Dataran Tinggi Dieng, atau Kawasan Candi Arjuna, Banjarnegara, singgah lah di Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah. Jangan lupa, ceritakan pengalaman terbaikmu. Ceritakan kepada Dunia melalu media blog, instagram, twitter, facebook, atau media sosial lainnya. Ya ya ya…

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

Rekomendasi Waterpark yang Asyik di Banjarnegara

Semenjak masih berdua, aku dan suami kerap mengisi akhir pekan yang tidak cukup panjang dengan kegiatan renang. Salah satu olahraga menyenangkan yang dapat kami lakukan bersama. Menyenangkan karena dapat menyehatkan badan, dompet dan yang tak kalah asyik tuh karena Banjarnegara mempunyai waterpark lebih dari satu.

Ini lah yang membuat kami tidak pernah bosan untuk renang. Terlebih saat ini ada si kecil, renang makin menyenangkan dan menjadi salah satu kegiatan yang ditunggu-tunggu. Cuma bedanya, dulu hampir tiap akhir pekan, sekarang satu bulan cukup sekali. Ini kalau mood kami lagi normal. Kalau mood sedang terjun, bisa sampai lupa rasanya main perosotan di kolam renang. 😛

Memang, waterpark di Banjarnegara belum setenar Owabong, waterpark di Purbalingga. Tapi, waterpark yang ada di Banjarnegara tidak kalah KEREN! Asli. Serius. Yakin.

Kagak percaya? Mari buktikan sekarang juga! 😆 😛 :mrgreen:

1. Surya Yudha Park

Sedari masih sendiri, aku memilih waterpark ini karena lebih mudah dijangkau dengan transportasi umum dan dekat dengan rumah, yaitu di Jl. Raya Karang Kobar KM. 1, Desa Rejasa, Madukara, Banjarnegara. Meski bukan waterpark favoritku, aku merekomendasikan SYP (Surya Yudha Park) sebagai pilihan pertama karena di sini tersedia berbagai jenis kolam untuk usia anak-anak sampai dewasa.

SYP ini waterpark favorit suami. Menurutnya, dia merasa nyaman dan betah renang di sini karena banyaknya wahana dan fasilitas yang disediakan. Seramai apapun, dia bisa menikmati. Lebih puas, katanya.

surya-yudha-park-banjarnegara

Fasilitas pendukung yang ada di SYP diantaranya yaitu Hotel bintang tiga, Cafe, Bioskop, Tempat fines, Berbagai spot menarik untuk berfoto, dan fasilitas lainnya seperti family karoke. Btw, si kecil juga suka banget kalau diajak ke sini. Soalnya banyak visualiasi yang membuatnya gemas. Seperti Onta yang ada di taman, atau patung merlion.

Meski HTM (Harga Tiket Masuk) cukup terjangkau, yaitu Rp 25.000 per orang, tapi waterpark ini kurang ramah untuk bayi sampai usia satu tahun. Kenapa? Karena SYP belum menyediakan air hangat yang dibutuhkan oleh bayi. Ya, supaya tubuh lebih fit dan nyaman, si kecil biasanya kumandikan dengan air hangat setelah renang.

2. D’Qiano Hot Spring Waterpark

Renang di Dataran Tinggi Dieng yang mana udara di sana dingiiiiiine pwoool. Pernah kebayang?

Ini kolam renang favoritku! Meski tidak begitu luas, tapi puas banget renang sekaligus berrendam di dalam air hangat alami. Iya, hangatnya kolam renang di D’Qiano ini alami dari aliran Sileri Dieng.

Kebayang nikmatnya, kan? Renang di waterpark tertinggi se Indonesia raya.

dqiano-dieng-banjarnegara

Seramai apapun D’Qiano, aku tetap betah berlama-lama di sini. Selain suguhan alamnya yang cakep abis, ada dua kolam dengan suhu lebih hangat dari kolam renang utama yang dapat digunakan untuk terapi. Kolam terapi ini airnya agak samar-samar aroma belerang, gitu.

Btw, di sekitar D’Qiano juga terdapat penginapan. Ya, menginap di sekitar D’Qiano, lalu paginya berrendam di kolam hangat. Asyik banget! Fasilitas penunjang seperti tempat makan, kamar ganti, toilet, dan mushala, telah disediakan.

HTM D’Qiano ini sangat terjangkau. Cukup membayar Rp 30.000, pengunjung bisa mulai renang dari jam 09.00 sampai jam 17.00 WIB. Renang sampai kulit keriput. Hahaha

Kami belum pernah mengajak si kecil ke sini karena lokasinya cukup jauh dari rumah. Tepatnya di Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara. Kurang lebih 90 menit dari rumahku. Padahal kalau dekat, tidak perlu repot-repot memesan air hangat untuk mandi si kecil karena air kolam sudah hangat, ya. 😛

3. Kolam Renang Serulingmas

Ini belum masuk waterpark. Masih sebatas kolam renang biasa. Kolam renang paling sederhana versi kami, tapi menjadi kolam renang andalan keluarga. Memang, tidak banyak mainan dan tipe kolam di sini, tapi kami nyaman di Kolam Renang Serulingmas.

Kolam renang ini satu lokasi dengan TRMS (Taman Rekreasi Marga Satwa) Serulingmas yaitu di Jalan Selamanik No. 35, Kutabanjarnegara. Ini salah satu alasan, mengapa kolam tersebut menjadi kolam favorit keluarga. Jika sedang punya banyak waktu, kami memilih untuk  keliling taman terlebih dahulu, melihat koleksi satwa TRMS.

seerulingmas-banjarnegara

Fasilitas yang disedakan sebanding dengan HTM yang murah meriah yaitu Rp 5.000 per orang, dan anak sampai usia 1 tahun gratis. Di sini serba sederhana, termasuk tempat ganti, toilet dan beberapa warung kecil yang menjajakan minuman dan makanan ringan. Sederhana, tapi pelayanan cukup memuaskan, baik dari bagian loket sampai warung-warung.

Selain satu lokasi dengan TRMS, alasan lain kenapa waterpark ini menjadi favorit kami yaitu karena ada satu warung yang menyediakan air hangat untuk mandi. Tidak hanya untuk bayi saja, orang dewasa juga boleh membeli air panas di warung.

Ya, air panas dijual dengan harga Rp 1.000 per gayung. Nyenengin banget pokoknya. Cukup beli tiga gayung, badan si kecil nampak lebih fit. Bapake sama Mamake cukup pakai air segar di kamar mandi. 😛

4. Serayu Park

Baik weekday maupun weekend, waterboom ini serasa milik pribadi. Suasananya tidak terlalu ramai. Meski banyak anak-anak yang menikmati kolam ini, tapi suasana SP (Serayu Park) tetap saja adem. Sebenarnya, aku suka banget renang di sini, di waterpark yang lokasinya cukup dekat dengan Kolam Renang Serulingmas. Namun, suami agak malas-malasan kalau diajak ke sini, nih.

Kira-kira karena apa malasnya? Padahal, kolamnya sama bersih dengan ke tiga kolam di atas.

serayu-park-banjarnegaraBagi suami, kolam renang dewasa di SP kurang greget. Padahal, aku suka banget dengan kolam arusnya. Tapi, suami suka alasan banget, nih. Padahal, pelayanannya okejos. Pengalaman, aku pernah minta air hangat untuk mandi si kecil, tapi karena tidak ada fasilitas tersebut, karyawan SP yang berada di sekitar kolam menawarkan satu liter air mineral untuk dimasak. Baik banget kan, ya. Peduli.

Air hangat tersebut tentunya tidak gratis. Maklum, sih, air mineral saja beli. Masa mau gratis muluuuu, ih. Cukup membayar Rp 5.000 tanpa tips, si kecil bisa mandi dengan air hangat, yey!

Eh, pingin tahu alasan lain, kenapa Ayahnya Jasmine malas-malasan kalau diajak renang di SP?

“HTMnya sih murce, Rp 15.000 per orang. Tapi, makanan di restonya mihil-mihil. Males ah!”

Hihihi…biasanya yang malas masalah duit itu perempuan, ya. Tapi ini laki-laki punya rasa malas juga. Uhuy…yaiyalaaah, orang yang bayarin untuk renang beserta embel-embelnya kan Ayaaaaah! HAHAHAHA…Suami juga paham banget dengan kebiasaanku setelah renang di sini. Yaitu mampir ke Resto Bumbu Alam yang berada di dalam satu lokasi, gitu. Dan aku selalu memesan makanan dan camilan dobel dobel dobel yang harganya memang lumayan. 😆 😛 😛

Dasar susah ngirit kalau pergi sama suami. Apalagi kalau tahu dibayarin. Ambiil…ambiill..pesaan…pesaan! 😆 Oiya, di sini juga ada tempat karokenya. Cukup ramai karokenya. Dulu pas masih suka jeng-jeng sama Sekawan, tempat karoke di SP ini merupakan tempat karoke favorit! Duuh…jadi kangen karokean bareng kalian, Kawan. 😛

Kalau disuruh milih, kamu lebih suka waterpark yang mana dari keempat waterpark di atas. Pilih saja, gratis. Kagak bayar. Tenang, aku tidak akan mengajakmu renang kok. 😛

Menyegarkan Pikiran Cukup dengan Piknik Dalam Kota 

Bertempat tinggal di Bumi Banjarnegara sama sekali tidak menghentikan salah satu hobi yang selalu sukses bikin bahagia. Adalah Jalan Jajan. Meski tergolong kota yang tidak terlalu besar, Banjarnegara punya banyak tempat wisata, Kawan! Pokoknya tidak akan terucap kata “bingung mau ke mana”.

Apakabar otak yang tiap hari terus berputar, tanpa diberi penghargaan? Diputar terus-terusan, sampai kepala nyut-nyutan, migran, mata jireng, tangan pegal karena nyaris tiap hari menekan tuts keyboard. *tukang ketik* Beeeuh…usia berapa saat ini? Qiqiqi

Etapi asli, bukan karena usia. Melainkan kebutuhan. Sesekali piknik itu perlu diagendakan. Pikiran kita perlu banget banget untuk direfresh. Tidak harus tiap akhir pekan, minimal sebulan sekali sebagai pemulihan jiwa. 😀 😆

Menurutku, piknik tuh bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu piknik online dan offline. 

Sebagai Blogger tentunya paham, apa itu piknik online? Yaitu jalan-jalan ke situs yang memberi informasi seputar wisata. Atau, sebagai perempuan bisa memilih LARI ke situs online shop. MAPEMALL.COM, misalnya.

Salah satu situs tujuan gaya hidup premier di Indonesia dengan berbagai kategori produk yang tidak cukup hanya dengan satu klik, lalu puas.

mapemall
Hayook ke LONDON! Kapan?

😉

Banyak kategori produk tentunya banyak pilihan, dong. Diantaranya yaitu; perlengkapan make up, kebutuhan pakaian Dewasa, Anak, sampai kebutuhan Ttraveling ada di MAPEMALL.COM.

Sadar se sadar-sadarnya, sekarang aku punya baby yang belum bisa menikmati sensasi saat naik Kora-kora. Asyiknya menerjang jeram arus Sungai Serayu. Atau, perjalanan jauh ke luar kota, dua belas jam berada di dalam mobil.

Piknik dalam kota menjadi pilihan cerdas! Tidak terlalu berrisiko dan pastinya happy ending. Yakin itu!

Pertama kali kami piknik yang benar-benar terasa yaitu ke TRMS Serulingmas. Taman Rekreasi yang memang telah lama direncanakan jauh hari sebagai taman pertama untuk kami singgahi.

Yoyoi…sampai usia si kecil dua puluh bulan, Taman menjadi pilihan untuk menyegarkan pikiran bersama Ayah dan juga Si Kecil.

perlengkapan-traveling
Perlengkapan yang tidak ketinggalan!

Yoyoi…sampai usia si kecil dua puluh bulan, Taman menjadi pilihan untuk menyegarkan pikiran bersama Ayah dan juga Si Kecil.

Menyegarkan pikiran dengan cara piknik di dalam kota kami lakukan sebagai bekal, semacam belajar mempersiapkan segala kebutuhan untuk traveling ke liar kota, atau bahkan Luar Negeri. *ini doa* *aamiin aamin ya Rabb*

Review saat piknik ke TRMS Serulingmas, ternyata cukup banyak perlengkapan yang harus kami bawa. Terutama milik si kecil yang memang harus dibawa. Tidak bisa dibeli saat itu juga dengan pertimbangan efisiensi. Hahaha Yaa…kalau di rumah ada, kenapa harus beli lagi dan lagi, ya. 😆 😆 😆

taman-copy

Biarlah ransel manisku terisi penuh, asal itu isi perlengkapan penting traveling. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke Kalimantan Timur. Cukup dengan piknik dalam kota untuk sekadar menyegarkan pikiran, melepas penat.

Pssst…untuk saat ini dan sejauh ini memang cukup piknik di dalam kota. Karena bulan depan kami ada acara family trip bersama Sekawan. Qiqiqiqi *tuuh…tidak konsisten* *maafkan ya* *bercanda* *misi utana tetap dalam kota* *serius*

Saung Bu Mansur, Tempat Asyik Untuk Ngedate Sekaligus Makan-makan

Belum lama ini, aku bersama Kecemut, mengajak Tante dan Milzana ngedate. Nikmatnya orang mengajak, tuh, harus mau remfong. Tanggungjawab utama yaitu menentukan waktu, kemudian tempat, dilanjutkan dengan meeting point. Tanggungjawab gini dowang cipiiil, euy. *sombong*

Ngedate identik dengan jalan berdua bersama pasangan. Hanya berdua, tanpa tambahan orang. Tapi, itu tidak berlaku bagiku. *maaf, efek kagak pernah ada yang ngajakin gue ngedate* *tjurhat*

Sudah lama aku menggunakan istilah tersebut untuk mengajak Teman-teman berkumpul. Selain keluarga, saudara, berkumpul dengan Teman-teman begitu asyik dan selalu sukses membuatku bahagia.

Bertemu, bekumpul, bercerita, dan endingnya akan selalu ada hikmah setelah pertemuan. Sharing pengalaman, misalnya.

Membahagiakan orang lain saat ngedate, tuh, sederhana. Cukup dengan datang tepat waktu, memilih tempat yang teduh serta sajian yang santai. Ketiganya bisa didapat dengan mudah dan terjangkau. Apalagi, aku mengajak mereka ngedate di Saung Bu Mansur. Nyaam…asyiknya bahagia bersama dalam kehematan. 😀

Nah, berikut 7 hal yang membuat ngedate sekaligus makan-makan di Saung Bu Mansur makin asyik:

SAUNG BU MANSUR

1. Suasana Sekitar Saung

Sesampainya di pelataran Saung Bu Mansur, satu per satu Saung nampak syantieq dari area parkir yang lapang. Teduh yang kurasa. Makanya, tak sabar untuk segera menempatinya.

Terlepas dari udara yang bebas masuk-keluar, pemandangan di sekitar Saung bikin maknyes. Tidak hanya membuat batin adem, mata pun turut menikmati pepohonan hijau dan saung-saung mungil yang berdiri kokoh di atas kolam ikan.

SAUNG BU MANSUR BANJARNEGARA PELAYAN

Saat itu, di aula yang berada di lantai atas sedang berlangsung suatu acara. Alunan musik dan volume suara mereka berisik teratur karena -mungkin- yang punya hajat adalah orang tua. Musik dan lagu yang diputar adalah tembang lawas. Jadi, tidak begitu mengganggu. Suasana pun makin syahdu menggebu.

Notes: Aula Saung Bu Mansur cocok untuk acara yang kalem. Temu kangen, Reuni, Seminar, Workshop, dan lain sejenisnya. Tenang tapi tidak menghanyutkan. 😛

Aku pernah mengadakan acara buka bersama di Saung ini saat bulan Ramadhan. Beeuh…ramai banget, Bebies! Namun, karena pada dasarnya suasana Saung teduh, tenang, Tetamu tidak gaduh, apalagi SUMUK! Outdoor, gitcyu. 😉

2. Pramusaji Cepat Tanggap dan Paham Detail Menu 

Berapa banyak Pramusaji di Saung Bu Mansur? PULUHAN!

Tidak sedikit Pramusaji yang selalu standby di ruang kasir. Mereka berseragam, sehingga nampak rapih. Setiap Tetamu datang, satu Pramusaji akan mengantar sekelompok atau bahkan satu tamu menuju Saung yang masih kosong.

Sebelum menuju Saung, Pramusaji akan memberi pilihan Saung yang kosong, lengkap beserta lokasi tepatnya. Berada di ujung atau bagian atas, misalnya.

SAUNG BU MANSUR BANJARNEGARA CAMILAN

Aku kerap mendapat Pramusaji yang cekatan. Selalu mendapat yang terbaik menurutku. Bisa karena beruntung, atau memang seluruh waiters cepat tanggap. Yang jelas, aku salut dengan mereka yang  memberi referensi menu, menjelaskan detail menu yang tertera pada daftar menu.

Mas Ary, namanya. Terakhir ke Saung Bu Mansur, aku beserta Tante-tantenya Jasmine dilayani oleh Mas Ary.

Awalnya aku ingin memesan minuman tanpa Es. Tapi, tidak tahunya aku memilih minuman yang menurutnya harus menggunakan Es saat membuatnya. Mas Ary juga memberi perincian bahan yang digunakan untuk satu gelas minuman yang kupesan.

SAUNG BU MANSUR BANJARNEGARA MENU MANAKAN

Yaudah, aku memilih cokelat panas saja, Mas.” Pilihan akhir selalu jatuh pada cokelat. Minuman paling aman untuk Ibu menyusui. Hahaha…

Menu selanjutnya yang kupesan, yaitu telor dadar. Saat Pramusaji mencatat pesanan, dia menawarkan untuk menu telor.

Telornya pakai sambal ngga, Mbak? Pedas atau sedang?” 

Aku kira telor dadarnya standard rumahan, ternyata hampir mirip telor penyet. Aku mau banget ditawari telor selai cabai. 😀

3. Bebas, Tanpa Batas Waktu

“Maaf Mbak, mejanya saya bersihkan, ya. Maaf Buk, makannya sudah selesai? Mau saya bersihkan.”

Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba waiters yang permisi untuk bebersih. Duuh…itu sama dengan mengusir secara halus! *TerBaper*

Tenang, kamu tidak akan menjumpai hal demikian di Saung Bu Mansur. Sejaih ini, aku belum pernah menjumpai waiters yang suka permisi akan bebersih, sementara Tetamu masih serius berbincang tentang resuffle Menteri. 😀

Menikmati pesanan sampai habis, pesan ulang, Saung tetangga sudah berganti tamu beberapa kali, tapi kami masih asyik selonjoran manja. Untung Saunh yang kami tempati cukup jauh dari kasir dan pantauan para Waiters. Aman!

Emm….tapi kalau hanya memesan dua cangkir cokelat dan teteap nyaman duduk berdua dari pagi sampai sore di Saung, sih, KETERLALUAN. Wkwkwk

4. Memesan Menu Lebih Praktis dan Cepat

Setelah mengantar Tetamu sampai Saung, Pramusaji segera memberi daftar menu.

Saung yang terkenal dengan menu ayam gorengnya memberi kemudahan bagi Tetamu dalam memesan menu makanan. Dengan sabar, Pramusaji menunggu Tetamu untuk order makanan.

Pramusaji harus menunggu, sebab pemesanan menu tidak lagi menggunakan ballpoint dan kertas, melainkan Tablet. Asyik banget, tulisan jeyekku tidak ketahuan. 😛 Nah, karena pemesanan menu telah dibantu sistem, maka pesanan pun cepat datang.

Selain itu, yang menjadikan pesanan lebih cepat yaitu karena antara Waiters yang mencatat pesanan dengan yang mengantar makanan berbeda. Ada bagian atau petugas tersendiri. Makanya, tanpa menunggu lama, pesanan tersaji di meja.

Syarat dan ketentuan berlaku, lho. Tidak berlaku saat bulan ramadhan di mana banyak remaja dan keluarga yang tumplek buka bersana di Saung Bu Mansur.

5. Fasilitas yang Ada Membuat Tetamu Lebih Tenang

Bagiku, mencuci tangan sebelum makan itu harus. Terlebih, jika menu makannya adalah daging dan juga sayur. Kurang greget kalau tidak menyentuhnya secara langsung. *menduakan sendok*

Hampir tiap Saung disediakan tempat mencuci tangan. Minimal, satu kompleks ada dua tempat cuci tangan plus dengan sabunnya.

Memang terlihat sepele. Tapi, bagiku penting. Cubanget kalau harus lari ke hutan untuk mencari air. 😛 Maksudnya, lari ke Toilet hanya untuk mencuci tagan.

Fasilitas lain yang penting dan sukses membuatku tenang tiap kali ngedate di sini yaitu Mushala, tempat wudhu dan toilet ada dalam satu deret. Semacam paket komplit ini. 😆 Tempatnya pun cukup bersih. Termasuk alat untuk ibadah. Cuma di sini, belum disediakan sarung. Baru mukena dengan jumlah yang tidak banyak.

Lalu, apakabar fasilitas penunjang, tapi penting. WiFi, misalnya. 😀

Kecepatan akses internet di sini cukup bikin bahagia. Aku tidak melakukan download dan tidak mencoba cek kecepatannya. Tapi, untuk PAMER di sosial media, tuh, wuuuuush banget!

Yaiyalaaa…username dan password masing-masing saung saja berbeda. Jadi, tidak rebutan signal. 😛

Oiya, di saung ini disediakan tempat bermain, gitu. Jadi, yang merasa asyik bukan hanya orang dewasa, anak-anak juga.

Sekadar informasi, di sini belum tersedia tempat khusus bagi para anak berkebutuhan khusus. Jadi, harus ada pendampingan lebih jika ada Tetamu ABK.

6. Ikan-ikan di Sekitar Saung Begitu Menggoda

Bagaimana rasanya bisa berbagi sesama makhluk ciptaaNya? Pastinya bahagia! Berbagi dengan sesama saja bahagia bangedd, ya. Apalagi ini berbagi dengan ikan-ikan seksi yang tak kenal mabok.

 

Jangan sampai jatuh ke tangan lain, selagi tangan kita mampu membahagiakannya. ??? #Moment #Saung #PakanIkan #IkanBawal #TanganSeksi @nelitanzila_

A photo posted by Idah (@idahceris) on

 

Aku, kamu, Pak Presiden, Ibu Sri Mulyani, bisa berbagi sisa makanan dengan ikan-ikan yang berada di kolam. Tidak ada kata mubadzir untuk makanan yang tidak habis. Tiap makanan yang tidak habis bisa banget dibagikan kepada ikan-ikan seksi. 😉

Salah satu kelebihan bisa memilih Saung yang berdiri di atas kolam, ya, bisa berbagi dengan ikan bawal. Lain suasana jika kamu meilih saung yang berada di lantai atas dan tidak ada kolamnya. Kurang “basah”. 😛

Saung yang berdiri di atas kolam ikan menjadikan ngedate sekaligus makan-makan di Saung Bu Mansur terasa lebih asyik dan menyenangkan.

7. Lokasi Mudah Dijangkau dengan atau Tanpa Transportasi

Keberadaanya memang tidak di tengah kota. Berlokasi cukup jauh dari jalan raya utama, tidak berpengaruh pada keinginan para penikmat kuliner untuk singgah di Saung Bu Mansur.

Kurang lebih 5 km dari Alun-alun Banjarnegara, 1 km dari Dieng Swalayan, atau 800 meter dari Terminal Induk Banjarnegara.

Jika menggunakan transportasi, kamu bisa lewat pertigaan Dieng Swalayan. Kurang lebih 5 menit menuju Saung Bu Mansur.

Alternatif lain, bisa mengambil dari arah pertigaan Gayam. Melewati jembatan baru yang menghubungkan kelurahan Krandegan dan Parakancanggah. Melalui jembatan ini, kamu akan sampai di Saung Bu Mansur dengan lebih mudah. Termasuk akses jalannya, lebih mudah. 🙂

Nah, kalau kamu singgah di Banjarnegara, kontak aku, ya. Bisa jadi aku ajak ngedate di Saung Bu Mansur. Tapi kamu yang bayar, ya. Seperti saat aku bersama Tante dan Milzana ke sini, mereka yang bayar. Wkwkwk 😛 *tipu banget*

Saung Bu Mansur Banjarnegara

  • Alamat: Jl. Kedasih No. 55, Tretek, Parakancanggah, Banjarnegara.
  • Jam Buka: 09.00-23.00 WIB.
  • Nomor Telephone: (0286) 595055
  • Menu Andalan: Ayam dan Gurameh.
  • Harga: Medium

 

 

Depo Pelita Menjadi Alternatif Tempat Wisata Baru

Weekend terakhir menjelang Bulan Ramadhan, Ayah mengajak kami jalan jajan ke Kota. Selama dua hari, Sabtu-Minggu, ada enam objek yang kami kunjungi bersama si kecil.

Depo Pelita, pusat perbelanjaan yang saat ini sedang hits banget di Banjarnegara menjadi tujuan kami yang pertama. Ini, sih, untuk memenuhi kebutuhan Ayah. Mau beli kipas angin dan desk comp.

Suprise siang itu diawali dengan melihat tempat parkir Depo Pelita Banjarnegara (yang selanjutnya akan kutulis DPB) penuh dengan sepeda motor. Jika disuruh menghitung, aku memilih untuk mendekati seorang lelaki yang sedari awal memberi jalan kepada kami untuk menuju tempat parkir sepeda motor.

Mas, sudah nyobek berapa karcis sampai detik ini?” Kira-kira begitu lah cara untuk mendapat informasi pengunjung DPB saat itu. Tapi, siapa yang mau tanya, ya. Hahaha Tidak lah penting. 😛

Tanpa banyak tanya, berbekal karcis yang digunakan sebagai tanda bukti masuk sepeda motor, kami menuju tempat parkir. Khusus kendaraan roda dua, termpat parkir berada di sisi kanan DPB. Tersedia tiga lokasi untuk parkir motor. Sedangkan untuk roda empat, disediakan tempat parkir di depan Depo yang mempunyai halaman cukup luas.

DEPO PELITA BANJARNEGARA BAGIAN DEPAN

Niat awal datang ke DPB memang untuk memenuhi kebutuhan Ayah. Tapi…tapi..dan tapi…melihat banyaknya orang yang memenuhi lantai dasar, di mana di sini lah tempat peralatan rumah tangga berada, kami mengurungkan niat untuk ikut berdesak-desakkan.

“Alhamdulillaah…orang Banjarnegara sugih-sugih. Batinku saat itu. Padahal, aku tidak tahu mereka hanya melihat, atau juga membeli perabotan rumah tangga. Televisi, Kulkas, Mesin Cuci, banyak orang yang berlalu lalang di sekitar barang tersebut. Tajir banget mereka, ya. 😆

DEPO PELITA BANJARNEGARA INFORMASI

Ketimbang bengong, kami jalan-jalan ke lantai atas. FYI, baru ada dua lantai yang dibangun oleh Depo Pelita Banjarnegara. Entah baru, atau memang hanya akan ada dua lantai saja. Untuk menuju lantai dua, pengunjung bisa memanfaatkan eskalator yang telah disediakan. Yeeey…Eskalator sudah masuk Banjarnegara! *norak-norak cantik*

Duuh…racun banget di lantai dua. Banyak baju anak-anak yang cute abeeesssss. Niat tidak berbelanja akhirnya gagal. Meski tidak banyak barang yang kami beli untuk Jasmine, tetap saja dompet Ayah kebobolan. Skor sementara 1-0 untuk Jasmine. :mrgreen:

“Kacamata Kuda” agaknya berhasil kupakai. Aku tidak tergiur dengan aneka model baju. Hanya membeli jilbab buat Jasmine. Tadinya ingin membelikan legging juga buatnya, tapi stok tidak ada. Alhamdulillaah. 😆

DEPO PELITA BANJARNEGARA AREA BERMAIN

Dirasa cukup, karena kaki udah gempor, kami kembali meluruskan niat, yaitu ke lantai dasar untuk membeli kebutuhan Ayah. Alhamdulillaah…kawasan Elektronik sudah sepi. Ayah pun segera membeli Kipas Angin yang bisa ditempel di dinding. Dan ternyata, kipas angin tempel itu belum tersedia. Kipas angin berdiri, dan duduk paling mendominasi. 😆

Yasudah, kami melipir cantik ke toko yang jualan Komputer. Di etalase toko tersebut belum banyak barang yang siap jual. Nyebelinnya, mereka belum menyediakan desk comp. Adanya baru PC Unit, Notebook dan beberapa asesoris komputer.

Aku memaklumi, sih, karena Depo ini belum lama dibuka. Kalau tidak salah ingat, baru beroperasi sejak awal bulan lalu. Ketimbang nihil, kami pun iseng mampir tempat bermain anak. 😉 Seusia Jasmine yang kini genap lima bulan, belum paham tempat mainan. Tapi, Jasmine bahagia jika berada di keramaian. Makanya, kami mengajaknya ke tempat bermain anak. Dan yes, dia rusuh. Tidak nyaman digendong, seperti minta turun.

DEPO PELITA BANJARNEGARA FOODCOURT

Bahagia yang berujung pada rewel. Jasmine berusaha untuk keluar dari zona gendongan. 😆 Daripada rewel di dalam, kami memilih untuk keluar dari Depo yang saat itu hot banget. Kebayang lah, di lantai dua saja AC mati, dan di lantai dasar banyak orang berlalu-lalang. Jadi, mending keluar untuk jajan!

Baca post Jasmine mencari posisi nyaman.

Di luar ruang, terdapat beberapa stand yang menjual aneka jajan, camilan. Belum ada makanan berat seperti nasi. Karena perut kami begitu lapar, camilan pun tidak jadi dibeli. Kami memilih makan di luar. 😛

Maybe, jika barang, fasilitas dan aneka makanan sudah lengkap, Depo Pelita bisa menjadi alternatif tempat wisata baru. Wisata belanja, dan kuliner, khususnya. Berbelanja sekaligus mengajak anak bermain cukup dalam satu tempat. ^-*

Pabrik Keramik Mustika Klampok, Banjarnegara

Pabrik Keramik Mustika Klampok – Melewati gapura kokoh, dimana teko keramik dengan warna cokelat yang berada samping lengkungan gapura menjadi simbol telah memasuki kawasan Sentra Industri Keramik Klampok Banjarnegara. Sekira lima ratus meter dari gapura tersebut, terdapat rumah toko (ruko) keramik yang berderet di kanan-kiri Jalan Raya Klampok.

Empat ruko dengan nama yang sama, yaitu Keramik Mustika, adalah deretan ruko pertama yang bisa disinggahi jika kamu datang dari arah timur. Keramik Mustika, sebuah industri kerajinan keramik milik keluarga; orangtua beserta anaknya. FYI, Purwareja Klampok atau yang lebih sering disebut Klampok adalah nama Desa sekaligus Kecamatan di Kabupaten Banjarnegara. Sebuah desa yang cukup maju dengan hasil karya para warganya berupa Keramik.

Untuk membedakan masing-masing dari ruko Keramik Mustika, pemilik memberi urutan berdasarkan nomor. Keramik Mustika 2, misalnya. Adalah keramik ke dua yang didirikan dan merupakan toko keramik milik anak. Sedangkan, Keramik Mustika yang pertama berdiri adalah milik Ibu Djoerijah yang letaknya paling ujung barat, tanpa urutan nomor, hanya tertulis Keramik Mustika saja di dinding atas depan ruko.

PEMBUATAN KERAMIK KLAMPOK BANJARNEGARA

Aah…cantik banget. . .

Selain menawarkan cenderamata, Keramik Mustika yang sudah lama berdiri ini menjadi pabrik yang tiap harinya tidak pernah sepi dari para pengrajin keramik yang giat menyelesaikan pesanan. Hampir tiap hari ada kegiatan produksi untuk memenuhi pesanan dari kota tetangga. Kota Tegal, misalnya. Kota yang rutin memesan teko poci lengkap dengan tatakan dan gelas. Atau, lambar kecil yang bisa digunakan untuk menaruh sambal atau gelas.

Kesempatan singgah di dapoer atau pabrik keramik mustika saya dspat ketika menemani rekan kerja untuk membeli asbak keramik dengan ukuran besar. Karena sudah beberapa kali singgah ke sentra industri keramik klampok, saya sudah cukup paham toko mana yang sekiranya menyediakan asbak besar. Tanpa pertimbangan lama, saya pun mengajaknya ke Keramik Mustika yang ada pabriknya.

Sesampainya di depan ruko, mobil yang kami naiki segera parkir tepat di depan ruko Keramik Mustika Klampok. Beruntung, halaman ruko cukup luas, mudah untuk parkir.

Ibu Siti Supiah menyambut kedatangan kami saat baru melangkah beberapa jengkal dari mobil. Begitu sopan dan ramah Ibu paruh baya ini.

“Buuk, di dalam sedang produksi tidak?”. Saya seperti menodong Ibu Supiah ketika beliau sedang mencarikan asbak permintaan kami. Ah…memang buru-buru banget ingin segera masuk dapoer keramik!

CONTOH HASIL KERAMIK KELAMPOK
Sentuhan ukirannya tajem banget, ya. . .

Memilih asbak pasti membutuhkan waktu yang lama. Sebab, harus konfirmasi terlebih dahulu kepada atasan untuk jenis, motif dan juga harga. Maka dari itu, saya memilih masuk dapoer keramik mustika untuk melihat produksi keramik yang memang tidak semudah membuat mie instant. 😆

Bangunan yang digunakan untuk produksi keramik cukup luas. Tampak seperti bangunan kuno, kentara dari dinding dan lantainya. Bangunan yang terdiri dari empat ruang ini cukup bersih. Ruang utama yang mana dimanfaatkan sebagai toko jelas sangat diperhatikan kebersihannya. Hanya saja, keramik yang mungkin sudah lama berada di toko kurang mendapat perhatian. Seperti debu ya g menempel atau keramat yang berada di dalam keramik.

PEMBUATAN CUP POCI UNTUK TEGAL
Pesanan Poci!

Ada beberapa tahapan dalam memproduksi keramik. Prosenya cukup lama, namun secara detailnya saya kurang paham. Sejauh mata melihat, beberapa tahapan dimulai dari membuat bahan, semacam adonan dari tanah liat yang didatangkan langsung dari Ajibarang, membentuk keramik menggunakan alat yang sederhana, membuat pola ukiran untuk mempercantik keramik, menghaluskan keramik dengan amplas, mengecat keramik jika ingin menjadikan keramik berwarna, memasukkan keramik ke oven besar untuk dibakar, kemudian tahap akhir yaitu finishing dengan cara membersihkan keramik, dilap menggunakan kain.

Pembuatan keramik pada tahap cetak awal atau desain yang berada di ruang tiga, difokuskan. Semisal, Pak Hadi yang tiap harinya membuat gelas, maka seterusnya membuat gelas. Semacam spesialis, gitu. Lain halnya dengan para nyonya cantik yang bertugas menata, mengamplas dan atau mengecat keramik. Mereka bekerja acak. Keramik yang sekiranya sudah siap dicat, diamplas, ya, langsung dikerjakan.

PEKERJA KERAMIK KELAMPOK BANJARNEGARA
Para Nyonya cantik pakai masker saat mengamplas keramik. . .

Setelah selesai diamplas untuk menghasilkan keramik menjadi halus, merata, keramik dicelupkan ke air supaya tampak bagian mana yang sekiranya belum rata dengan sisi lainnya. Jika sekiranya sudah halus, keramik siap untuk dibakar. Amplas ulang jika ada bagian yang belum rata.

Masuk ruang paling ujung, yaitu dapoer keramik, ruang khusus yang digunakan untuk membakar keramik. Saat itu, ruang ini dijaga oleh satu anak muda dan dua orang tua.

PEMBAKARAN SENTRA KERAMIK KLAMPOK
Dapoernya, nih. Oven keramik! 

Mereka tampak santai menjaga oven yang berisi banyak keramik di dalamnya. Santai hanya beberapa jam, kemudian sibuk mengambil, memindahkan keramik dari oven ke dalam rak yang ada pada ruang tersebut.

Selain proses produksi yang amat detil, hal lain yang saya kagumi dari produksi Keramik yaitu ada pada para pekerja. Hampir seluruh pekerja yang ada di Keramik Mustika adalah orang tua. Hanya di bagian pengecatan dan pembakaran keramik ada beberapa pekerja muda. Ini semacam bukti, bahwa memanfaatkan pekerja usia lanjut tidak selamanya buruk. Sebab, saya melihat mereka bekerja sangat serius. Fokus dengan pekerjaan yang ada di depan mata.

TAHAPAN PEMBUATAN KERAMIK KLAMPOK
Finishing, nih!

Keramik Mustika yang berlokasi kurang lebih dua puluh lima kilo meter dari pusat kota Banjarnegara atau tujuh ratus meter dari pertigaan Klampok-Purbalingga, bukanlah sentra industri keramik satu-satunya di Banjarnegara. Sebab, kurang lebih tiga ratus meter dari Keramik Mustika, masih cukup banyak deretan ruko keramik. Hanya saja, ruko Keramik Mustika milik Ibu Djoerijah lebih fokus menjual aneka macam kerajinan Keramik. Sedangkan ruko lainnya sudah banyak tambahan pilihan produk, diantaranya; aksesoris wanita, tudung saji dan aneka macam kerajinan anyaman bambu yang sebagian mereka datangkan dari Yogyakarta.

Jika punya kesempatan main ke Banjarnegara, silakan singgah ke Sentra Industri Keramik Klampok. Serius, asyik banget ngobrol dengan para pengrajin keramik di sini. Harga keramiknya juga cukup ramah. Insya allah tidak mengecewakan. 😉 Oiya, buat pemesanan kerajinan dari keramik klampok mustika bisa hubungi nomor telephone 085227622767.