Mendambakan Dokter Kandungan yang Asyik untuk USG

Mendambakan Dokter Kandungan yang Asyik untuk USG – Sebelum masuk ruang periksa, aku terlebih dahulu menimbang berat badan di ruang pendaftaran ulang. Kemudian, dilanjut dengan cek tekanan darah yang saat itu mencapai 120/90. Cukup kaget saat petugas menyampaikan bahwa tensiku yang biasanya rendah, kini telah menyentuh angka normal. Tapi kalau kata Tante, bisa dikarenakan saat tensi menggunakan tensimeter digital, bukan tensimeter manual. Berbeda alat bisa jadi menghasilkan selisih.

Aku ngga terlalu pedul dengan hal tersebut. Karena, setelah berjumpa dengan Dokter Kandungan yang amat asyik, nyaman, aku melupakan apa yang aku rasa, lihat, di sekitar Panti Nugroho. Melupakan tempat parkir yang tidak cukup luas, fasilitas umum untuk pasien yang  masih minim, dan kebersihan di sekitar RSKBD Panti Nugroho. 😀 *begitu mudahnya untuk melupakan*

Lelaki yang mengenakan kemeja kotak-kotak merah, berdiri tegap di hadapan kami dengan menampakkan wajahnya yang cukup serius. Aku lekas menunduk, tak berani memandangnya. “Bakal garing banget, nih. Sepertinya ngga bisa banyak konsultasi.” Batinku dengan perasaan yang sama sekali ngga bergairah.

Heiiii…selamat sore. Perkenalkan, nama saya Trisno.” Mendengar sapaan yang tak biasa dari seorang Dokter, seketika aku menoleh ke arah Tante yang saat itu menemaniku memeriksakan kandungan. Aku dan Tante hanya bisa saling senyum, cengar-cengir maksimal saat Dokter Trisno menyapa kami. Pak Dokter pun mengulurkan tangan kanannya, dan kami pun berjabat tangan.

USG 4 DIMENSI DI PURBALINGGA PANTI NUGROHO
Ini nih…dokter kandungan yang kumaksud. . .  😀

dr. Sutrisno, SpOG adalah Dokter spesialis kandungan satu-satunya di Rumah Sakit Khusus Bersalin Daerah (RSKBD) Panti Nugroho Purbalingga. Usai mendaftar, kemudian dilanjutkan dengan mendaftar ulang yang ternyata memerlukan banyak waktu, tibalah namaku dipanggil oleh mesin antrean untuk masuk ke dalam ruang yang bernama klinik.

Heei…kalian kakak adik, ya? Ada perlu apa ke sini? Silakan duduk.” Kami, khususnya aku, masih agak terkejut menjumpai Dokter kandungan dengan style yang unik dan begitu ramah. Tutur kata dan tiap penjelasan yang diberikan olehnya, mampu memberikan rasa nyaman bagi kami. Terlebih, saat asistennya turut senyum dan menyapa kami. Terbayar sudah antrean yang tak sebentar, kurang lebih lima jam! Yaiyalaah…lamaa, orang aku mendapat antrean nomor 035. 😀

Aku datang ke RSKBD Panti Nugroho Purbalingga hanya untuk memeriksakan kandunganku yang kini masuk usia kandungan 24 minggu. Aku memang sudah lama berniat akan melakukan USG 4 Dimensi, jika usia kandungan masuk enam bulan. Aku sengaja melesat ke Purbalingga. Sebab, di Banjarnegara belum ada satupun Rumah Bersalin atau Rumah Sakit yang menyediakan USG 4 Dimensi. Dan Alhamdulillaah niatku terlaksana.

Periksa kandungan kali ini sangat berbeda dari biasanya. Obrolan dengan Dokter Kandungan sangat aktif. Aku yang biasanya mencari dan rajin bertanya, aku tak lagi banyak tanya saat diperiksa oleh dr. Trisno. Sebab, beliau banyak menjelaskan hal penting yang berkaitan dengan tumbuh kembang bayiku sampai usia 26 minggu. Menunjukkan, sekaligus menjelaskan secara detail anggota yang tampak secara penuh melalui monitor.

RSBD PANTI NUGROHO PURBALINGGA
Antrean sudah cukup senggang. .. 

Saat tangan kiri Dedek belum kelihatan, aku cukup panik. Aku pun langsung menanyakannya, ketimbang penasaran, kan. Dan ternyata, karena keterbatasan jangkauan kamera, jadi enggak semua bisa langsung kelihatan. Tak lama kemudian, barulah beliau bisa menampilkan tangan kiri Dedek. Bahagianya…Mumumuaaah! 😀

Lihat tuh, Dedek mengangkat tangan kirinya dan bilang HORE.” Seketika, aku, Tante, dan Mbak Perawat tertawa melihat ekspresi Pak Dokter yang ikut mengangkat tangan kirinya. *Pak Dokter enggak kreatif, ikut-ikutan Dedek*

Sedari awal hamil, aku mendambakan Dokter Kandungan yang seperti ini. Ngga membuat pasien merasa canggung, apalagi sungkan bertanya. Dokter yang pandai menciptakan komunikasi dengan baik, memberi saran, serta informasi-informasi penting terkait kesehatan Ibu dan Bayi.

Baca tentang Diet Aman untuk Ibu Menyusui.

Rumah Sakit Khusus Bersalin Daerah (RSKBD) Panti Nugroho Purbalingga

Alamat: Jl. Letkol Isdiman No. 20, Purbalingga.
Telphone: (0281) 891434
E-mail: rskbdpantinugrohopurbalingga@yahoo.co.id
Biaya USG: Rp 90.000 (belum termasuk vitamin)

Sakit pada Rahang Atas, Depan Telinga

Senin (22/06), saya susah membuka dan menutup mulut. Pegal, sakit tepat pada rahang atas depan telinga. Tidak ada suara kletuk-kletuk seperti tulang geser gitu, sih. Hanya saja, untuk buka tutup mulut dan mengunyah makanan terasa sakit. Ada masalah dengan persendian rahang.

Saya menceritakan hal ini kepada Bu Umi, rekan kerja saya satu ruangan. Ternyata, anak Beliau pernah mengalami hal yang serupa. Hanya saja, dia pegal pas di belakang telinga. Menurutnya, tak perlu khawatir. Sebab, esok akan sembuh dengan sendirinya. Saya lega mendengar pernyataan Beliau.

Ibu saya juga berkata demikian. Orang desa bilang Sekelen, namanya. Posisi rahang atas sakit yang menyebabkan mulut tidak bisa mangap secara normal. Maksimal hanya setengah jari telunjuk saja. Tahukah kamu? Sakit banget kalau menguap. Nikmatnya masya Allah!

Sakitnya rahang yang saya alami ini tidak berkaitan dengan gigi. Ya, saya tidak sedang sakit gigi atau bermasalah dengan gigi.

Saya membiarkan rahang pegal selama tiga hari. Berharap akan pulih sendiri nantinya. Tapi, bertambah hari, kok rahang menjadi tambah kaku, gitu. Saya pun mencoba browsing dan menemukan artikel di Tribunnews yang membahas hal tentang sakit pada rahang.

Kini, jika sedikit saja merasa sakit, saya was was. Maklum, saya kan sedang hamil, tuh. Kasihan Ade yang ada dalam perut. Apalagi, kalau sampai harus berurusan dengan obat-obatan. Beuuh!

Pada artikel yang saya baca, sakit pada rahang atau gangguan pada sendi rahang dan otot-otot pengunyahan dikenal dengan istilah temporo-mandibular disorder. Meski penyebab sendi rahang masih belum bisa dipastikan, namun beberapa hal di bawah ini bisa jadi penyebabnya. Yaitu:

  • Trauma pada sendi rahang akibat terkena benturan.
  • Stres yang mengakibatkan otot-otot rahang tegang dan sering berkontraksi.
  • Radang pada sendi rahang.
  • Kebiasaan mengunyah hanya pada satu sisi rahang.

Bagi saya, point ke empat paling mendominasi. Sebab, saya memang lebih sering mengunyah makanan di sisi kiri. Ini masih sebatas perkiraan saya, sih. Terlebih, malam harinya, saya baru ngemil Opak dan juga Keripik Pisang. My favorite camilan. Ngemil hampir habis satu toples sangking sukanya. Mengunyah pun pada satu sisi saja. Sisi kiri, yang sekarang sedang sakit.

Ini baru perkiraan saya, sih. Ngga tahu nanti kalau periksa ke Dokter Saraf yang sampai Sabtu ini masih cuti. Masuk kembali hari Senin. Ya, setelah konsultasi ke Dokter Kandungan, saya dirujuk ke Dokter Saraf. Ini saran dari Mbak Myra juga supaya periksa ke Dokter Kandungan. Mengingat saya sedang hamil.

Saat saya menulis status di facebook perihal sakit rahang ini, saya mendapat saran dari beberapa teman Blogger. Berikut beberapa saran dari mereka:

  • Coba mengunyah permen karet pada sisi rahang yang sakit. ~Kak Riski
  • Dikerok, dipijit, atau dikompres yang anget-anget bagian yang sakit. Untuk mengendurkan kekakuan. ~Kak Ika Hardian, Kak Putu.
  • Coba berkumur daun sirih saat mau tidur. ~Kak Jarwadi, Bunda Monda.
  • Coba tempelin salonpas atau koyo. ~Om NH

Masih ada beberapa teman lain. Diantara untuk melakukan pijet refleksi. Satu per satu saya praktikkan saran dari teman-teman. Itung-itung sambil menunggu Dokter Saraf satu-satunya itu kembali praktik.

Apakah teman-teman pernah mengalami sakit rahang? Share, dong!

Menikmati Tiap Kilometer Perjalanan

Adakah diantara kamu yang jarang menikmati tiap kilometer perjalanan yang ditempuh tiap harinya? Saat menuju ke tempat kerja, misalnya. Ada banyak kilometer, kan?

Saya pribadi, tiap harinya menempuh perjalanan dari rumah sampai tempat kerja kurang lebih sepuluh kilometer yang saya tempuh dengan sepeda motor. Paling lama lima belas menit saya sampai di tempat kerja.

Memang cukup dekat jarak dari rumah ke tempat kerja. Tapi, sekarang terasa lama banget. Apalagi minggu-minggu ini. Bisa ditempuh dalam waktu setengah jam saja sudah beruntung. Jam kerja yang maju setengah jam pun seakan tak berpengaruh buat saya. Karena, sekarang saya lebih menikmati perjalanan dalam rangka bulan ramadhan. 😆 *demi apa banget bohong*

Saya berangkat dari rumah tetap pukul 07.00 WIB. Sebab, pada tiap kilometer, entah berapa kilo tepatnya, saya pasti berhenti untuk menepi jalan raya. Lebih banyak membutuhkan waktu untuk berhenti. Minimal dua menit, dan maksimal lima menit. Tetap berada di atas motor, sih. Hanya menepi saja. Karena mual banget.

Sejak berbadan dua, hampir tiap pagi hari saya mual-mual. Wajar banget, ya, masih masuk tri semester pertama usia kandungan. Saya kira tuh, mualnya cukup setelah sahur saja. Secara, makanan, buah, susu, yang sudah masuk tumpah semua, tuh.

Maunya, sih, ya. Tapi, yang namanya rejeki ngga ada yang tahu kapan datang. Sedang asyik-asyik jalan selow, tiba-tiba mual. Hanya mual saja, sih. Ngga sampai keluar suatu apa dari mulut. Tapi, namanya dalam perjalanan, naik motor pula, kan was was, ya. Maka dari itu, memilih berhenti dahulu.

Tadinya cukup menepi, tetap duduk di atas motor. Tapi, pas hari Rabu kemarin, kok rasanya ngga sanggup kalau hanya duduk di atas motor. Lemasnya minta ampun. Mau ngga mau harus turun dari motor, kemudian memilih tempat yang bisa untuk sekadar duduk. Ngga mampu nongkrong, euy.

Ada teman yang bilang, kalau saya terlalu memaksakan tetap naik motor. Hmm…bukan tentang memaksakan, sih, sebenarnya. Hanya saja, agak takut kalau saya tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai pekerja. Terlambat masuk, misalnya. Jadi, saya tetap naik motor selagi mampu.

Ada teman yang menyarankan untuk naik angkutan umum saja. Tapi, bagi saya terlalu banyak risiko. Namanya naik angkutan umum, khususnya di daerah saya, tidak bisa efisien waktu. Apalagi yang namanya angkutan desa, dimana Sopir bisa berhenti kapan saja dan dimana saja. Bisa berhenti pada tiap gang masuk Desa, pertigaan, untuk menunggu penumpang.

Selain itu, jika saya tiba-tiba mual, gimana coba? Masak mau minta berhenti, kemudian para penumpang diminta untuk menunggu di dalam angkot sampai saya agak lega. Emang saya anak sopir angkot, gitu? Serasa booking angkot, dong. 😀

Maka dari itu, saya lebih memilih tetap mengendarai sepeda motor. Menikmati tiap kilometer yang saya tempuh. Ngga mau merepotkan keluarga juga, sih. Ayang suami jelas ngga bisa mengantarkan. Secara, jam masuk kerja lebih awal dari saya. Lagipula, jalan kami berlawan arah. 😀

Ingin rasanya merepotkan Bapak ganteng. Tapi, ngga tega. :mrgreen: Selagi mampu, bisa sendiri, lakukan saja, ya. Terpenting tetap menjaga diri. Sebab, yang paling tahu baiknya seperti apa, ya hanya diri sendiri. 😉

Nyobain LoSoSa Teriosa

Ada yang sudah tau tentang LoSoSa Teriosa? Hohohoho, ini Teriosa ditambah-tambahin saja. Aselinya sih hanya LoSoSa. LoSoSa adalah singkatan dari Low Sodium Salt…

Read more