Gedung Lembaga Kursus

Kebahagiaan Bagi Para Mediator

Mendengar kata Mediator yang beberapa hari ini menjadi trending topic di tempat kerja, memoriku kembali berputar menuju belasan tahun silam. Tepatnya saat aku masih mengenakan seragam Sekolah Dasar (SD). Flashbacknya terlalu jauh, ya. Tapi, saat itulah moment paling kuingat tentang sebuah proses mendamaikan.

Saat masih SD, aku ngga terlalu pandai bercanda. Sama halnya dengan sekarang. Sama sekali ngga ada perbedaan. Masih kalem, dan akan selalu menjadi perempuan yang ngga banyak tingkah. *weks*

Aku menyadari, bahwa semasa kecil, aku termasuk anak yang cukup istimewa. Istimewa bukan karena hal yang bisa membuat orang lain kagum, melainkan sebaliknya. Disentuh dikit saja, bakal luber. Mudah sekali meneteskan air mata. Hihihihi Itulah alasannya, kenapa aku lebih memilih ngga terlalu banyak tingkah. 😀

“Aduuuh…yang akur, jangan berkelahi. Jabat tangan, dong.” Apakah teman-teman sering mengatakan demikian? Aku cukup sering meminta kepada mereka, teman-temanku yang “cukup aktif tangannya” untuk berjabat tangan. Ya, beberapa teman ada yang lebih rajin towel sana-sini yang mengakibatkan teman lainnya marah. Bergurau yang kadang belebihan.

Ngga cukup hanya dengan pertemuan dua tangan. Usai berjabat tangan, masih ada ritual lain yang tak kalah penting sebagai tanda perdamaian. Adalah senyum. :mrgreen: Teman-teman pernah merasakan the power of smile? Banyak banget keajaiban yang datang hanya dengan senyum. Banyak makna dari sebuah senyuman. Dalam kondisi masih jengkel, kadang hati bisa luluh hanya dengan satu senyum.

Batin baru saja berselisih, hati bisa jadi masih kaku. Tapi, jika ada teman yang mengajak untuk senyum, tetap ada rasa ingin menyatu dengan melebarkan bibir barang dua centi meter. Meski sebatas pura-pura, ya. 😆 Namanya saja perasaan, jarang ada yang paham, apalagi tahu. Terpenting berusaha senyum bahagia, damai.

Kisah mendamaikan semasa kecil bisa menjadi kebanggaan, atau bahkan sebuah prestasi. Ada rasa bahagia, bangga, manakala aku, teman-teman, bisa menyatukan dua hati yang berselisih. Iya, kan?

Lalu, apakah proses menuju damai yang terjadi pada orang dewasa semudah proses mendamaikan perkelahian yang terjadi apada anak kecil?

Bisa jadi lebih mudah, mudah banget! Karena tergantung pada persoalan yang dihadapi. 😆

Omku pernah bilang, makin dewasa seseorang, adakalanya semakin banyak godaan yang bisa menimbulkan perselisihan. Baik dengan teman, keluarga, maupun pasangan. Seperti halnya perselisihan yang terjadi pada rumah tangga, hingga akhirnya bermuara pada perpisahan. *merinding*

Proses menyatukan kembali dua manusia yang sudah berkeluarga, kemudian pernah berselisih, bukan perkara mudah. Terlebih, jika mereka sudah berorientasi pada sebuah perpisahan. Membutuhkan banyak energi, pikiran positif agar tiap kata yang terucap adalah yang terbaik. *mulai serius*

Tidak sembarang orang bisa memandu proses penyelesaian permasalahan melalui perundingan untuk mufakat. Proses semacam ini dibantu oleh Mediator, di mana dia harus bersikap netral. Segala sesuatu harus memperoleh persetujuan dari para pihak dalam upaya damai. Ngga seperti proses mendamaikan sperti cerita masa kecilku, cukup dengan jabat tangan dan senyum.

Saat masih kecil, mendamaikan dua teman yang berselisih adalah suatu kebanggaan. Apalagi saat Mediator sudah menjadi suatu pekerjaan, kemudian membuahkan hasil yang maksimal. Perdamaian yang menjadi puncak dari perselisihan adalah kebahagiaan, kepuasan bagi tiap Mediator. Bukan perpisahan yang menjadi puncak.

Melihat sepasang suami isteri, atau saudara, yang datang membawa permasalahan. Tak lama kemudian, bisa bersatu kembali menjadi keluarga yang utuh. Tanpa suatu paksaan dari pihak manapun. Bersama-sama untuk berniat, berikhtiar untuk kembali utuh. Menjadi keluarga utuh, dan bahagia.

4 thoughts on “Kebahagiaan Bagi Para Mediator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *