Berkeliling Rumah Dome Teletubbies di New Nglepen, Yogyakarta

Saat memutuskan untuk mengajak Yasmin traveling ke Yogyakarta, berarti aku harus menyusun itinerary wisata ramah anak. Iya, ngga hanya nyenengin diri sendiri, tapi juga nyenengin anak.

Banyak referensi wisata ramah anak di Yogyakarta. Beberapa destinasi wisata yang sudah aku tahu, rata-rata berlokasi di tengah kota Yogyakarta. Salah satunya adalah Kids Fun. Sebenarnya di sini cukup komplit karena tak jauh dari kompleks kids fun juga masih ada beberapa obyek wisata ramah anak. Namun aku belum ingin mengajaknya ke Kids Fun karena usia Yasmin masih terlalu dini untuk menikmati segala permaianan edukatif di Kids Fun. Maka dari itu, aku browsing untuk mencari referensi.

Dan ketika browsing wisata ramah anak di Yogyakarta, Rumah Dome Teletubbies muncul dalam deretan daftar pencarian di laman google. Setelah aku cari tahu lebih lanjut, ternyata dome teletubbies memang sudah lama dijadikan destinasi wisata, bahkan sudah menjadi Desa Wisata bernama The New Nglepen.

Mushola Dome dan lukisan karakter Teletubbies….

Rumah Dome Teletubbies awalnya murni dibangun sebagai tempat tinggal bagi warga yang kehilangan rumah pasca gempa Yogyakarta pada tahun 2006. Tapi ngga disangka, ketika dome ini dipercantik dengan cat warna cerah dan juga gambar karakter kartun serial yang hits pada masanya yaitu teletubbies, desa ini menjadi ramai. Dari sini, aku ingin juga melihat rumah dome, dong. Terlebih menurut laman situs The Dome For The World Foundation, rumah dome hanya ada di 5 negara sasaran penerima bantuan, yaitu Indonesia, India, Belize, Haiti, dan Etiopia. Makin pingin melihat secara langsung.

Seharian di traveling di Yogyakarta, kami sengaja sewa mobil untuk keliling supaya lebih hemat waktu. Mobil yang kami sewa dengan harga Rp 450.000 ini adalah mobil mungil Karimun. Mobil ini dengan gesit mengantar kami traveling sampai ke atas bukit. Setelah singgah di beberapa obyek wisata, berbekal GPS, akhirnya kami sampai di Desa Wisata New Nglepen yang ternyata masuk banget. Bukan pelosok, sih, cuma dari jalan raya utama cukup jauh.

Sekretariat Desa Wisata New Nglepen… Kompleks Rumah Dome Teletubbies…

Sesampainya di New Ngelepen, Mas Anwar, sopir yang super sabar menunggu kami berwisata, memarkirkan kendaraan di samping kiri masjid. Entah tempat parkir atau bukan, yang jelas lahan ini mwnjadi satu-satunya lahan kosong yang bisa digunakan untuk parkir kendaraan.

Hanya beberapa jengkal dari tempat parkir, terdapat dome yang pada bagian dinding depan tertulis Sekretariat. Karena siang itu cuaca sangat HOT, dan wajah si kecil sudah nampak lelah, aku memilih untuk menjaga mood si kecil dengan mengajakanya bermain ayunan. Ya, masih di area tempat parkir, terdapat ayunan dan juga beberapa sepeda yang mungkin termasuk fasilitas yang bisa digunakan untuk keliling desa, melihat dome-dome yang lucu.

Beruntung ada Najwa, perempuan kecil yang tinggal di sini, juga sedang main ayunan. Yasmin pun merasa ada teman. Bahagia banget, dong, bisa ayunan berdua, gitu. 😉

RUMAH TELETUBBIES
Membangun mood Kecemut…

FYI, rumah dome teletubbies menjadi satu-satunya bantuan relokasi karena tanah warga yang ambles saat itu ngga bisa dibuat bangunan permanen lagi. Informasi ini aku dapat dari Mas Jon (sebut saja Jon), yang saat itu sedang menjaga sekretariat.

Karena The New Nglepen adalah desa wisata, pikirku ketika sampai sini, aku akan diajak keliling melihat dome yang berjumlah 80 dome sudah termasuk fasilitas seperti Mushola, Puskesmas, dll. Dengan membayar Rp 5.000 per orang, yang saat itu dibayarkan di sekretariat, ngga ada penawaran apapun dari Mas Jon. Mungkin karena kami tiba di lokasi pas banget jam istirahat yaitu jam 12.00 WIB, Mas Jon sudah lelah.

Bagi wisatawan, Pokdarwis menetapkan tarif masuk yang berbeda sejak awal 2008 hingga tarif terbaru saat ini, yang dipatok sebesar Rp5.000 per orang. Padahal di beberapa artikel yang aku baca, di sana terdapat gerobak tradisional yang ditarik dengan sapi dengan membayar Rp 20.000 per orang. Duuuh…udah kebayang bahagianya si kecil naik karapan sapi. Hahaha.

Bangunan tambahan di belakan dan samping rumah dome…

Tak hanya gerobak sapi, desa wisata ini juga terkenal dengan bukit teletubbiesnya. Wisatawan dapat camping juga untuk melihat sunrise atau sunset yang katanya cakep. Menurut Mas Jon, yang paling ramai, tuh, out bound. Hasil kunjungan wisatawan dari 2008 sampai sekarang yang direkap dalam white board, angkanya begitu melejit. Mulai dari 300 orang sampai sekarang kisaran 38.000 orang tiap tahunnya. Amazing, ya. Bisa dibilang ramai.

Pendapatan wisata ini, selain digunaan untuk membayar pokdarwis yang aktif mengelola desa wisata, juga digunakan untuk membayar Pajak tanah senilai Rp 15 juta yang dibebankan kepada warga. Ini sungguh istimewa. Ngga kebayang jika ngga dibuat desa wisata, ya. Kasihan warga sini.

Sayangnya, di sana kami hanya duduk-duduk manis di dalam dome sekretariat sambil tanya ini itu seputar dome, melihat dalamnya dome, dan dokumentasi yang menempel di dinding dome sekretariat. Tapi tak mengapa, setidaknya aku dan Yasmin sudah berkeliling desa Nglepen yang isinya rumah dome, rumah yang tak pernah kami jumpai di desa lain.

DESA WISATA TELETUBBIES
Keliling Desa Nglepen…

Kami hanya bisa bertahan sepuluh menit di dalam rumah dome. HOT banget, euy. Hanya ada satu fentilasi dowang dalam rumah dome ini. Duuh…ngga kebayang yang tiap hari menghuni dome, belum lagi jika di luar matahari sedang terik.

Oiya, meski konsep dome ini dibuat warna-warni dan beberapa gambar pada tiap dinding dome mengacu pada serial anak teletubbies, namun desa wisata nglepen ngga begitu rekomen untuk wisata ramah anak. Selain panas banget, ngga ada kegiatan khusus buat anak-anak kecuali out bound. Wahana permainan anak pun masih minim. Ekspektasiku, tuh, kami di sini akan disuguhi gelaran permainan atau pertunjukan yang cocok untuk anak-anak karena ikon Teletubbies begitu kuat di desa wisata ini. Badut Teletubbies, misalnya. Mungkin karena kami hanya bertiga, dan lagi ngga beruntung, jadi ngga menjumpai pertunjukan-pertunjukan meski weekend.

Rumah dome ini hanya digunakan untuk ruang tamu, tempat tidur, dan dapur dengan satu kompor kecil. Sementara untuk kamr mandi, warga masih menggunakan kamar mandi umum atau kamar mandi yang dibangun untuk bersama. Satu kompleks disediakan satu sampai dua kamar mandi. Namun bagi warga yang punya rezeki labih, mereka mulai menambah bangunan di samping dome untuk kamar mandi dan juga dapur. Memang, kelihatan merusak pemandangan, tapi karena kebutuhan, ngga bisa menyalahkan juga.

Semoga dengan makin banyaknya minat wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Nglepen, Pokdarwis bisa memperbaharui atau membuat konsep yang sesuai dengan karakter Desa Wisata tersebut. 🙂

Desa Wisata The New Nglepen

Traveling ke Yogyakarta dan Menginap di Airy Malioboro Sosrowijayan

Jogja Jogja tetap istimewa….Istimewa negerinya, istimewa orangnya. Jogja Jogja tetap istimewa…Jogja istimewa untuk Indonesia.

Petikan lagu di atas kerap dinyanyikan oleh Mbak Lista, teman bermain Yasmin. Saking seringnya mendengar dia menyanyikan lagu ini, Yasmin pun sampai hapal. Meski hanya di bait pembuka, tetap lah Mamaknya takjub. 😆 Saking girangnya waktu itu, fix aku ingin mengajak Kecemut traveling ke Yogyakarta sekaligus mengenalkan tranportasi kereta api.

“Sepertinya akan banyak momen yang tak terlupakan andai aku bisa mengajak Yasmin Traveling ke Yogya.” Batinku saat itu sambil melihat ekspresinya menyayikan lagu Yogya Istimewa dengan terbata-terbata. Uugh…gemas tauuuuk!

Ada beberapa keinginan atau bisa dibilang impian yang akan kami wujudkan bersama di kota Gudeg. Namanya traveling bareng anak-anak, pasti yang menjadi prioritas adalah kebahagiaan serta kenyamanan bagi anak. Pemilihan destinasi pun yang betul-betul destinasi yang ramah anak. Naik delman keliling Malioboro, misalnya. Karena di Banjarnegara, Yasmin senang sekali jika diajak numpak delman.

Hyaaah…naik delman, mah ngga perlu jauh-jauh ke Yogya.”

 

A post shared by idahceris.com (@idahceris) on

Euuuumhh…adakah yang berkomentar seperti itu? Banyak! Hahaha. Dan perlu kalian tahu, naik delman keliling Malioboro ini masuk dalam itinerary kami, lho. Malah ada di bagian paling atas. 😛

Traveling ke luar kota bareng Yasmin selama tiga hari dua malam tanpa suami, bagiku ini adalah tantangan. Apalagi usianya saat ini bisa dibilang usia labil; dia bisa bahagia kapan pun, tiba-tiba badmood, atau bahkan mendadak sakit saat traveling. Banyak ejutan. Makanya ada beberapa pertimbangan sebelum memilih apa yang menjadi kebutuhan saat traveling, termasuk penginapan.

Mengingat wisata kompleks Malioboro menjadi tujuan utama, kami pun memilih penginapan yang tak jauh dari Maliboro. FYI, traveling kali ini memang tanpa suami, tapi ada dua teman yang turut menyempurnakan kebahagiaan. Adalah Ella dan Mbak Olip. Nah, karena ber empat, kami pun memutuskan untuk memilih kamar tipe family. Kenapa Family Rooms? You know what lah, ngirit saat traveling itu perlu, asal jangan sampai bablas karena nanti jatuhnya pelit dan sengsara, kan menyedihkan. 😆 Dan memilih kamar tipe family pun menjadi solusi saat itu. Kami tetap dalam satu kamar, bisa bercanda tanpa batas, dan bahagia.

Airy Rooms Malioboro
Senyum penuh pesona…wkwkwk

Kalau sudah ngomongin penginapan yang ramah kantong, Airy Rooms selalu menjadi referensi penginapan. Cukup membuka aplikasi Airy Rooms yang sudah terinstall di smartphone, pengguna bisa dengan mudah menemukan penginapan yang dicari sesuai keinginan dan tentunya budget.

Saat mencari penginapan di sekitar Malioboro menggunakan aplikasi Airy Rooms, ada beberapa rekomendasi penginapan yang yang ditawarkan untuk kamar tipe family. Salah satunya yaitu Airy Malioboro Sosrowijayan. Dengan berbagai pertimbangan, termasuk fasilitas, kami pun memilih menginap di Airy Maliboro Sosrowijayan yang berada di Jl. Sosrowijayan GT I no. 195, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kenapa memilih Airy Malioboro Sosrowijayan? Berikut tiga alasan, kenapa kami memilih menginap di sana.

Tenang dan Nyaman

Berlokasi tak jauh dari Jl. Maliboro, yaitu sekitar sepuluh menit jika ditempuh dengan jalan kaki, atau lima menit jika ditempuh dengan transportasi becak (membayar Rp 5.000), bukan berarti penginapan ini berisik. Lokasi tepatnya yang agak masuk, menjadikan penginapan ini begitu tenang dan nyaman untuk bobok.

Jalan ke Airy Rooms Malioboro

Gang masuk ke Airy Malioboro Sosrowijayan…

Sepeda motor yang masuk gang ini disarankan untuk mematikan mesin. Kecuali mobil atau kendaraan para tetamu yang akan menginap di Hotel.

Tempat Tidur yang Pas

Kamar tipe family yang ditawarkan di sini adalah satu double bed, dan satunya single bed. Aku kira dua-duanya double bed semua, lho. Ternyata Airy Rooms Family Double memang tempat tidurnya hanya satu yang double. Kalau misal pingin double bed semua, tersedia juga tapi pakai PLUS, dan harganya selisih Rp 50.000.

Pengalaman Menginap di Airy Malioboro Sosrowijayan

Lengkap dengan atribut Airy Rooms….

Setelah kami diantar ke tempat tidur family double plus, ternyata memang luas dan lengkap dengan sofa. Tapi karena kami hanya berempat dan yang satu juga masih krucil, akhirnya kami tetap memilih sesuai pesanan. Aku pakai single bed, bobok bareng Kecemut. Sementara yang double bed, digunakan oleh Mbak Olip dan Ella.

Kolam Renang Ramah Anak

Saat aku memesan penginapan ini dan melihat ada fasilitas yang bakal bikin Kecemut betah, rasanya bahagia. Adalah Kolam Renang. Dengan budget Rp 291.880, kami bisa renang sepuasnya di sini. Dan aku lihat, Airy Maliboro Sosrowijayan menjadi satu-satunya penginapan rekomendasi Airy yang ada kolam renangnya. Karena si Kecemut hobi renang, ngga pakai ragu aku memilihnya.

AIRY MALIOBORO
Anak kecil diajak curhat sebelum meluncuur…

PENGINAPAN DEKAT MALIOBORO (1)

Bahagia kalau lihat aiir… 😀

Kolam renang di sini ramah anak. Maksudnya, dalam satu kolam terdapat beberapa pilihan tingkatan. Sayangnya, lantai kolam saat itu licin, dan aroma kaporit tercium jelas. Jadi ekstra banget buat jagain bocah.

Snack dan Breakfast Murah Meriah

Satu hal yang menjadi ciri khas Airy Rooms yaitu adanya snack. Ini pastinya nyengengin banget, lumayan bisa buat camilan. Apalagi snacknya berupa roti dan cokelat, kesukaan banget.

Selain snack, dalam paket menginap, Airy menyediakan paket with and without breakfast. Karena ngga mau repot cari sarapan, kami pun memilih untuk menambah fasilitas dengan breakfast. Ya, penawaran paket yang sebelumnya kami pesan, tuh, ngga termasuk breakfast. Makanya kami harus menghubungi resepsionis untuk menambah breakfas cukup dengan membayar Rp 50.000 untuk tiga orang sesuai dengan ketentuan Hotel. Emmh…Kecemut ngga dihitung tapi tetap makan, kok. 😀

Penginapan di Malioboro
Jajan khas Airy Rooms…

Tarif makan di atas, tuh, murah banget kalau dibanding dengan makan di luar. Dengan harga lima puluh ribu untuk tiga orang, paling dapatnya sate kere di pinggiran trotoar Malioboro, ya. Hahaha.

Fasilitas standard lainnya seperti Perlengkapan Mandi, Air Hangat, AC, TV, WiFi, bisa dibilang cukup. Untuk AC di kamar kami memang sudah agak kurang nyes, tapi pihak hotel menambahkan satu kipas angin yang menempel di dinding.

Airy Malioboro Sosrowijayan
Perlengkapan mandi dari Airy…bisa dibawa pulang, lho. Kalau mauuu…:D

Kamu ingin merasakan penginapan nyaman dengan budget minim juga?

Yang HARUS kalian lakukan yaitu mengunduh aplikasi Airy Rooms di playstore. Kenapa lewat aplikasi? Karena dengan memesan kamar Airy lewat aplikasi banyak untungnya dan lebih murah dibanding memesannya lewat website resmi Airy Rooms. Selain itu, pengguna Airy juga bisa memanfaatkan promo yang bertebaran. Cukup memasukan kode promo yang disediakan di aplikasi, kamu bisa mendapat potongan harga yang kadang gila-gilaan. Dinskon sampai 50%. Gilaak, kan? Pokokya banyak diskon dan promo yang mereka tawarkan lewat aplikasi.

Apakah kamu pernah menginap di Airy Rooms? Bagi pengalaman, yuk!

Nyobain Sukinya X.O Suki Signature Purwokerto

X.O Suki Signature Purwokerto – Beberapa penyebab yang kadang membuatku malas makan yaitu karena ngga ada kuah dan sambal. Ini serius, badan segede ini kalau makan terus kering kerontang, rasanya kurang greget. Duuuh…apalah artinya makan tanpa kuah, kurang nikmat. Pun makan tanpa pedas-pedas alias cabai atau sambal, kurang greget juga.

Bagiku, masakan berkuah, dan pedas manjadi penambah napsu makan setelah nasi yang pulen. Makanya saat ke Rita Supermall Purwokerto, aku memilih X.O Suki Signature sebagai tempat kulineran malam itu. Kalian pasti sudah paham makanan khas Jepang yang satu ini lah, ya. Makanan segar di mana penyajiannya dengan panci yang di dalamnya terdapat menu-menu Suki seperti seafood, sayuran, pangsit, lalu dimasak dengan cara direbus. Maknyus banget!

Aku datang ke sini pas banget malam Minggu, kebayang ramainya, kan. Hari biasa saja Suki selalu ramai, apalagi malam Minggu. Banyak penikmat Suki yang berdatangan, mulai dari remaja sampai orang tua beserta keluarga. Gawl, ya. 😛

Kenapa X.O Suki Signature Purwokerto?

Tentunya bukan tanpa sebab aku memilih makan Suki di sini. Selain tempat yang strategis yaitu berada di sebelah kanan pintu masuk Rita Supermall, resto ini selalu diserbu pengunjung. Ramainya tempat kulineran kalau bukan karena diskon, sudah pasti karena kualitasnya bagus, masakannya endeeus. Ya, kan. Ditambah lagi, aku dapat rekomendasi dari seorang teman yang tinggal di Purwokerto, doyan jajan, tapi tetap saja cungkring. Siapa lagi kalau bukan Mbak Olip. 😀

KULINER PURWOKERTO SUKI
Kuliner juga butuh pendampingan…wkwkwk

“Mari, Mbak. Silakan pilih menunya.” Waitress yang mengenakan seragam warna hitam dengan logo X.O Suki di saku kirinya langsung menghampiriku. Karena saat itu datang bareng Mbak Olip, akhirnya Waitress memilih untuk sekadar memperhatikan kami dari jauh. Mungkin kami sudah terlihat mahir buat pilih menu kalik, ya. Padahal aku sok tahu banget. Ya gimana ngga sok tahu, banyak banget wadah yang tersusun rapih di dalam frezeer, dan aku ngga tahu mana-mana saja yang layak dicoba. Pokoknya asal berdiri di depan freezer, lalu sok milih-milih.

Pinginnya, sih, milih semua. Apalagi X.O Suki Signature Purwokerto, tuh, ngga membatasi sampai berapa menu. Asal punya duit buat bayar, ya pilih lah sesuka hati. Menu selalu fresh, karena tiap hari selalu melakukan order di pusat Resto yaitu Surabaya.

Ada berapa wadah di dalamnya? Ratusan! 😆 Lalu, ada berapa wadah yang aku pilih? Lebih dari lima! 😛

Memilih Suki Sesuka Hati

“Mas, kok, wadahnya warna-warni nggemesin, sih. Kan jadi pingin bawa pulang wadah beserta isinya.” Candaku kepada Mas Dodo, sodara jauh Mbak Olip yang tiba-tiba datang di tengah-tengah kami. 😀

“Ini wadahnya memang sengaja dibuat warna-warni. Selain lebih menarik, juga sebagai pembeda harga.”

Aku manggut-manggut tanpa tanya harga karena bagiku ngga penting. *padahal, sih, lupa tanya* Yaudah, harga menunya aku copas dari blog Mbak Olip saja biar aman, ya. Hahaha. Kalau wadah warna putih Rp 15.800, hijau Rp 18.800, kuning Rp 19.800, dan keranjang sayur Rp 13.800.” Penjelasan yang detail, bukan? Iyalaaah, nyonteeek. 😀

Menu Suki yang aku pilih yaitu Smoke Beef Enoki, Jamur Es, Bakso Ikan, Sayuran, dan Mie Ikan. Kemudian ada Pangsit Kucai, dan Tsukune. Untuk minumnya, kami mencoba minuman baru yaitu X.O King Mango, dan X.O Queen Chery.

Masak Sendiri vs Masak Bareng

“Masak Suki mah cipiil, gampiiil. Tinggal dimasukan semua menu ke dalam panci, Suki siap dimasak.”

Ya betul. Bahan-bahan yang sudah diambil tinggal dimasukin ke dalam panci yang sebelumnya sudah diisi kuah kaldu, tapi karena di X.O Suki Signature Purwokerto juga menawarkan pendampingan buat masak Suki, yaudah manfaatin aja kan. 😀

Secara tempat, X.O Suki Signature Purwokerto tergolong luas. Satu meja bisa digunakan sampai empat orang. Tempat duduknya juga nyaman. Bersih pula. Karena tiap sudutnya instagramable, rasanya masak sendiri maupun bareng-bareng tetap saja terlihat instagenik kalau difoto. 😆

sumpit suki
Sendiok dibikin sumpit… 😀

Perlu kalian tahu, adanya interaksi dengan para waiter atau waitress di sini, aku jadi tahu kalau sendok itu bisa difungsikan sebagai penjepit. Semacam capit, gitu. Kan norak banget, meski sudah berkali-kali menjajal ngga bisa juga. Hahaha.

Tomyam atau Sup Seafood

Eeeeh…ini apa-apaan, kok ada sup seafood segala? Hahaha. Jadi gini, panci yang buat masak, tuh, disekat menjadi dua, gitu. Satunya buat kuah dengan rasa asam, pedas, segar, yaitu tomyam. Ingat, Tomyam, bukan sayur asem. Tapi Tomyam ini kelewat asem menurutku. Duuh…dasarnya ngga begitu doyan rasa asam, sih, ya. Kalau boleh request, khusus untuk Tomyam bumbunya bisa dikonfirmasikan dulu kepada pembeli. Asamnya sedang, atau lebih. Pedasnya sedang, atau pedas banget. 😉 Lalu kuah satunya lagi adalah kuah kaldu yang rasa asin-asin segar. Ini yang aku katakan Sup Seafood. 😀

Karena aku orangnya fleksibel, pasti lah dua-duanya dicoba. Dan ternyata, ya, yang namanya Mie Ikan dimana komposisi Ikannya dari Ikan Tuna, itu gurih banget. Terus, Jamur Es dan juga Si Enoki, kenyalnya ngga abis-abis. Belum lagi bakso ikan. Bakso yang aku kira bakal biasa saja rasanya, ternyata dengan tingkat kekenyalan yang melebihi Mie Ikan, menambah selera ngemil bakso bertambah. Iya, ini Bakso buat dicocol sama saus sepertinya juga tambah gurih. Hahaha.

Belum lagi Tsukune, mirip sate buntel, gitu. Cuma dipanggang terus ditambah bumbu saus, gurih banget. Tsukune merupakan salah satu jenis Yakitori (olahan sate) yang ada di X.O Suki Purwokerto. Masih banyak macam Yakitori lainnya yang layak dicoba, lho.

Suki di X.O Suki Purwokerto, Harga Bersahabat

FYI, ada lebih dari 50 Resto X.O Suki di Indonesia. Tercatat Suki di X.O Suki Purwokerto harganya paling ekonomis dibanding dengan X.O Suki di daerah lain. Yogyakarta, misalnya. Jadi kalau kamu main ke Purwokerto, ngga ada salahnya nyobain Suki di sini, ya. X.O Suki Purwokerto berada di lantai dasar Rita Super Mall. Jangan ragu untuk mencicipinya. 😉

X.O Suki Signature Purwokerto

Rita Supermall Purwokerto GF No.01

Instagram: @xosuki_purwokerto

Buka tiap hari dari jam 10.00-21.30 WIB

Telpon (0281) 7771398

Pie Cassava Dawet, Alternatif Oleh-oleh Khas Banjarnegara

Aku punya teman di Malang, tiap kali aku main ke sana dia selalu minta dibawain Dawet. Kangen Dawet Ayu Banjarnegara, katanya. Iseng banget, ya. Ngga dibawain, kasihan. Misal dibawain sudah pasti basi. Perjalanan ke Malang menggunakan akomodasi kereta api membutuhkan waktu dari 10 jam. Kecuali cuma bawa cendolnya. 😆

Memang, untuk mencicipi kuliner khas Banjarnegara ngga harus datang ke Banjarnegara karena sekarang makin banyak penjual yang menjajakan Dawet, tersebar di seluruh nusantara. Dawetnya pun makin banyak kreasinya, ya. Tapi perlu kamu tahu bahwa, Dawet yang legit dan segarnya tak ada duanya, tuh, hanya bisa dinikmati di daerah asal yaitu Banjarnegara. Asli.

Nah, melalui event Wing Craft Expo yang diselenggarakan bulan lalu, aku jadi tahu bahwa ada kreasi lain dari Dawet yaitu dalam bentuk Pie atau Pai. Pie Cassava Dawet, namanya.

Pie atau Pai adalah makanan yang terdiri dari kulit kue kering dengan isi yang beraneka ragam. Karena ini Pie Dawet, tentunya isinya ya cendol, dong. Dan kalian tahu, kan, bahan utama pie yang berupa kulit kue kering ini terbuat dari tepung.

OLEH-OLEH BANJARNEGARA ONLINE
Pakcaging desainnya luar biasa, menarik….

Tepung yang digunakan untuk membuat kulit Pie biasanya yaitu tepung terigu atau tepung dengan merk tertentu. Namun berbeda dengan Pie Cassava Dawet, kulit Pie berbahan dasar tepung mocaf. Ini salah satu yang menarik dan membedakan Pie dari Banjarnegara dengan Pie dari kota lain. Kenapa Pie dari Banjarnegara menggunakan tepung mocaf?

FYI, kapasitas produksi singkong atau ubi kayu di Kabupaten Banjarnegara lebih dari 200 ton lebih per tahun. Ini termasuk banyak banget karena hampir tiap petani di sini menanam singkong. Setidaknya ada 19 Kecamatan di Banjarnegara yang mempunyai komoditas singkong. Tapi siapa sangka, banyaknya hasil bumi berupa Singkong ternyata kurang mensejahterakan kehidupan masyarakat karena harga jual yang sama sekali ngga menjanjikan. Untuk bulan ini, mungkin Rp 500-900 per kg. Sementara untuk melakukan panen, para petani membutuhkan banyak biaya, mulai dari pemetikan sampai singkong dibawa ke pasar atau penjualan.

Miris, kan?

Beruntung saat ini di Banjarnegara makin banyak pemuda yang kreatif. Seperti Mbak Dini dan teman-teman. Mereka memanfaatkan Singkong untuk diolah menjadi tepung mocaf, tepung rendah gula.

OLEH-OLEH KHAS BANJARNEGARA
Pai Dawet, The Next oleh-oleh khas Banjarnegara….

Tepung yang dimodifikasi dengan teknik fermentasi menggunakan mikrobia kini mulai banyak digunakan oleh masyarakat Banjarnegara. Tepung mocaf memiliki karakteristik yang cukup baik untuk mensubstitusi atau menggantikan 100% penggunaan tepung terigu. Di beberapa warung yang menyajikan gorengan pun sekarang sudah mulai menggunakan tepung mocaf. Saking lagi boomingnya tepung mocaf, di Banjarnegara dibentuk Komunitas Pecinta Mocaf, lho. 😆

PIE DAWET
Pilihan rasa lainyya, Cokelat, Strawberyy…

Nah, karena sudah ada Pie Cassava Dawet, mungkin ngga harus bawa cendol lagi ke Malang, ya. Apalagi packagingnya cantik banget, pasti si dese juga tertarik. Sehat dan enak pula, yummmii. 😀

Sensasi Makan Masakan Korea di BuldaQ Korean BBQ Purwokerto

😆 😆 😆 😆 Annyeonghaseyo…AnnyeonghaseyoAnnyeonghaseyoAnnyeonghaseyo😆 😆 😆 😆

Resto yang dari luar nampak begitu tenang, sukses membangunkan generasi menunduk, termasuk aku, yang sedang membalas chat sambil jalan. 😀 Bagaimana tidak, sepertinya hampir seluruh karyawan BuldaQ menyambut kedatangan para penikmat makanan Korea dengan cara mengucap salam sapa a la Korea. Yang bikin greget, nih, sambutan dari mereka ngga nanggung-nanggung. Dengan nada delapan oktaf, mereka kompak mengucap Annyeonghaseyo!

Ngga tau kenapa, rasanya seperti mendapat surprise, gitu. Kaget yang bikin nyengir-nyengir karena biasanya cuma dapat sapaan salam santun penuh pasrah dari para pramusaji resto. 😀 Ya kaaan?

Seorang waitress yang mengenakan kaus oblong warna hijau toska medampingi kami sedari pintu masuk resto. Dia menawarkan tempat duduk, membantu memilihkan menu makan, sampai dengan menjelaskannya secara detail menu-menu yang akan kami pesan. Ya maklum lah, ya, jiwa ngapak mana paham masakan korea. Eh, ini aku, ding. Teman-teman yang lain, mah, penikmat masakan Korea semua. 😆

Resto Makanan Korea
Makanan enak gini, disenyumin dowang. 😀 This is Chicken Pop Corn Sauce with Strawberry Smoothies…

Apa yang kalian tahu tentang masakan Korea? Dari citarasanya, mungkin. Pastinya ada yang khas, kan. Lalu, jika ditanya makanan favoritnya (masih makanan Korea), kira-kira kamu bakal jawab apa? 😆

Aku, dong, ngga paham apa-apa tentang kuliner Korea, tapi bahagia tak kira saat diajak Mbak Olip ke BuldaQ Korean Barbeque, sebuah resto yang menawarkan makanan Korea asli, bukan KW dua apalagi lima. 😀 Perlu diingat, resto ini berlokasi di lantai 1 Rita Super Mall Purwokerto. Berada di deretan foodcourt-nya Rita Super Mal Purwokerto.

Eeeeh...jangan pada tanya dalam rangka apa kami makan-makan. Anak Banyumasan, mah, guyup. Kalau memang perlu makan ramai-ramai, ngapain harus makan sendirian di ponjokan! Apalagi kalau sistemnya gratisan, ngga bakal kenyang kalau dilahap sendiri, lho. 😛

Btw, selain Mbak Olip, saat itu aku datang ke BuldaQ Korean BBQ bareng Tante, Pungky, dan Mas Topan. Beruntung, siang itu resto belum begitu ramai. Iya, dari luar baru terlihat sepasang anak manusia yang sibuk bolak-balik lembaran buku menu.

BuldaQ Rita Supermall

Seperti ini, nih, dinding cakepnyaa… 😆 This Is Seafood Skewers

Karena saat itu resto belum begitu ramai, kami bebas memilih tempat duduk. Dan perlu kamu tau, meski resto ini ngga begitu luas, tapi layout tempat duduknya bervariasi. Karena kami berlima, maka memilih tempat duduk yang memanjang. Dari pintu masuk langsung ambil kanan. Asyiknya, nih, di belakang kami adalah dinding bergambar. Lukisannya cakep pula, khas Jepang, gitu. Pokoknya jadi sok manja gitu, deh. Bawaannya ingin pepotoan terus. 😛

Masakan Korea yang ditawarkan BuldaQ Korean BBQ sangat beragam. Dan kalau ngga lihat daftar menu, aku ngga bakal bisa ngucapin nama menunya. Ngga bakal hapal pula. Sampai aku menuliskan blog post ini pun masih nyontek nama menunya. Dasar ndeso, ya. Wkwkwk

Sensasi Makan Masakan Korea di BuldaQ Korean BBQ Purwokerto

Jadi nih, ya, aku pernah makan di salah satu resto yang ada di Kuningan City, Jakarta. Aku makan di sana tentu ngga sendirian. Sepupuku yang tinggal di Jakarta mengajak aku untuk mencicipi masakan a la Korea, gitu. Katanya, mumpung aku ke Jakarta harus mencoba kuliner yang ngga biasa. Yaudah, aku memilih menu yang aku lupa namanya karena emang susah diingat dan aku asal milih, gitu. Songong banget, ya. Hahaha. Tanpa menunggu lama, pesananku datang. Dan perlu kamu tahu, para pelayan di sana, tuh, hanya mengantar menu saja. Sementara aku ngga bisa memasaknya meski semua alat dan juga bahan sudah tersedia. Kampungan banget, kan? 😆 😆 Parahnya, nih, ternyata sepupuku ini punya misi buat menertawakan aku di retso itu. Kan ngeselin banget. 😳

Kejadian seperti di atas ngga bakal kamu alami saat kulineran di BuldaQ Korean BBQ Purwokerto. Kamu akan mendapat pengalaman yang berbeda. Para waitress and waiter siap melayani penuh. Sekadar mendampingi, atau sekalian memasakan segala menu yang kamu pilih. Ini menyenangkan banget karena aku suka melihat atraksi masak-masak, gitu. 😛

Buat pemanasan, kami memesan tiga menu ringan ditawarkan oleh Mbak Dini (sebut saja Mbak Dini, biar makin akrab). Dua menu ringan yaitu sate seafood dan Ayam goreng bertabur wijen. Bhahaha. Emang ada makanan Korea macam itu? Ya ngga mungkin lah.

Seafood Skewers, Buldaq Skewers, dan Chicken Pop Corn Sauce

Seafood Skewers (isinya crab stick dan chikuwa) dan Buldaq Skewers (isinya crab ball dan sosis) adalah menu pertama yang keluar dari dapur BuldaQ. Makanan ringan ini cuma disajikan dua tusuk dalam satu porsi. Harganya ? 1.500 atau Rp 15.000 per porsi. Btw, ini pertama kali aku makan Chikuwa. Tetnyata asyik juga makan sate ini, kenyal-kenyal, gitu. Tambah nikmat lagi karena di tambah dengan mayonais.

Makanan ringan selanjutnya yaitu Chicken Pop Corn Sauce yang dibanderol dengan harga ? 2.300 atau Rp 23.000. Menu ini berisi daging ayam yang digoreng dengan tepung. Mirip-mirip kentucky, tapi yang ini ngga renyah. Aku cuma nyobain satu potong dowang yang rasa manis, ternyata kurang nendang karena aku ngga begitu doyan masakan manis. 😉 Beruntung ada Kimchi, asinan a la Korea, gitu. Cocok lah buat dicocol bareng si ayam, meski ini sebenarnya gandengannya si woosamgyeob. 😀

😆 Chijeu Chicken. 😆

Chijeu Chicken, ini menu sukses bikin aku bengong. Dalam satu plate sudah tersedia bahan untuk dimasak, ada ayam goreng, potato, dan mozarela. Si Mbak Dini ini membantu kami memasakannya. Ayam dengan ukuran sedang dipotong-potong terlebih dahulu, kemudian dengan lihai dia mencampurkan keju mozarela sampai akhirnya berwujud seperti permen karet.

Masakan Korea di Purwokerto

Kegirangan lihat Mbak Dinai masak ini…

Aku suka banget melihat atraksi saat memasak Chijeu Chicken. Pas bagian motong ayam, tuh, Mbak Dini terlihat begitu santai. Gunting dengan ukuran sedang dia pegang, menggunakan tangan kanan. Lalu di tangan kirinya mengapit daging ayam dengan alat penjepit, gitu. Dan Ayam pun siap digulung dengan permen karet mozarela. Hahaha. Gimana rasanya? Asinnya si mozarela dan pedas manis saus yang telah menempel di ayam, tuh, ternyata klop. Lebih greget karena ada mozarelanya.

Satu porsi Chijeu Chicken dibanderol dengan harga ? 8.000 atau Rp 80.000. Menu ini bisa buat ramai-ramai, ya. Soalnya bisa jadi sampai enam gulung, gitu.

😉 Woosamgyeob. 😉

Aku baru tahu bahwa, irisan daging sapi untuk menu makanan korea ternyata ada banyak pilihan. Daging murni tanpa lemak, misalnya. Kalau ngga salah ingat, daging ini ada dibagian perut Si Sapi. Beberapa pilihan BBQ Grilled antara lain; Wooseol, Galbi dan Woosamgyeob. Range harga antara Rp 60.000 sampai Rp 155.000 per porsi. Kalau mau nambah condiment atau bumbu lagi, tinggal bayar Rp 10.000 per porsi.

Makanan Korea di Purwokerto
Bahan-bahan buat woosamgyeob <—ini dibaca apaa? 😀

Kali ini aku nyobain Woosamgyeob. Irisan daging sapi dipanggang terlebih dahulu sampai matang atau setengah matang. Jangan lupa apinya kecilan saja, ya. Biar ngga gosong. Supaya sedikit ada aroma wangi, ditambah irisan bawang bombay. Awalnya aku ngga yakin bisa nelen daging sapi yang dipanggang itu, tapi setelah aku gulung dengan selada, lha kok enak tertandingi. Hahaha. Ini tip simpel buat yang ngga bisa makan daging sapi panggang utuh. Dibalut dengan selada, beres urusannya dan kamu akan mendapat pengalaman baru. 😆

😛 Budae Jjigae 😛

Budae Jigae, nama menunya bagus, ya. Bisa dibilang ini adalah Sup. Ya, sup a la Korea. Menu ini termasuk porsi besar, harganya pun lumayan, yaitu ? 9.900 atau Rp 99.000. Namun akan menjadi terjangkau bila dinikmati sampai lima orang. Iya, kami berlima ngroyong menu ini dan ngga habis. 😆 Iyalah pasti ngga habis, lihat saja menu-menu sebelumnya. Ada berapa menu yang sudah kami makan coba? Klengers, gengs! 😀

Budae Jigae ini adalah sup yang di dalamnya ada sayuran, bakso ikan, seafood, jamur, sebutir telur, dan mie. Semua bahan dimasak dengan nyala api kecil supaya lebih sedap, seperti halnya masak woosamgyeob. Kuah Budae Jigae terasa lebih gurih dan sedikit pedas saat ditambah dengan saus khas Korea. Eeemmmh…sekalinya makan-makan, ternyata ngabisin enam masakan korea. Kebayang kenyangnya, kan. Hahaha.

Abis kenyang karena makanan, kami minum green tea yang telah dipesan bareng-bareng. Minuman ini tak punya banyak rasa, tapi lumayan buat menyeimbangkan lidah yang sebelumnya telah lupa diri. 😆

Buat kamu yang punya agenda jalan-jalan ke Purwokerto, jangan lupa nyobain masakan Korea di BuldaQ Korean BBQ, ya. Buka tiap hari, lho. 😉

BuldaQ Korean BBQ

Lantai 1, Rita Supermall Purwokerto; Telp. (0281) 7773574.

Web: www.buldaq.com, Instagram: @buldaqq.bbq

Harga Makanan: Rp 15.000-155.000, Harga Minuman: Rp 14.000-Rp 46.000

Jam Operasional: setiap hari pukul 10.00-22.00

Pengalaman Membatalkan Pesanan Tiket Kereta Api

Domisili di Banjarnegara, mau ada acara di Jakarta dan pinginnya naik Kereta Api biar lebih cepat. Bisa banget, dong. Cukup berbekal smartphone dan paket data, pesan lah tiket Kereta Api secara online. Beli Tiket Kereta Api di Tokopedia, misalnya. Tinggal buka websitenya, atur jadwal keberangkatan atau pulang, bayar, dan jangan lupa konfirmasi pembayaran. Praktis, bukan?

Zaman sekarang yang dicari memang kepraktisan, apalagi soal pemesanan ini itu. Ketimbang harus telephone atau chat yang memerlukan banyak waktu dan juga biaya, lebih praktis mengunjungi websitenya langsung, kan. Bisa lebih leluasa dalam memilih jadwal pemberangkatan maupun pulang. Bonusnya, siapa tahu pas lagi booking tiket ada penawaran diskon. Alhamdulillaah banget, kan.

Sayangnya, nih, yang bisa dijangkau secara online baru pemesanannya saja. Belum sampai pergantian atau pembatalan jadwal karena untuk mengurus ini, pihak PT. Kereta Api Indonesia (KAI) memerlukan identitas diri dan tanda tangan si pemesan. Andai ini bisa dilakukan secara online, aaah…kenyamanan naik seratus persen, deh. 😛

CARA REFUND TIKET KERETA API
Stasiun Purwokerto siang itu…

FYI, syarat wajib untuk melakukan pembatalan pemesanan tiket kereta api, kamu harus datang ke Stasiun terdekat. Ini ngga bisa ditawar karena segala bentuk transaksi ada di stasiun. Hihihi. Nah, berikut langkah-langkah mengurus pembatalan tiket kereta api yang kini lebih cepat, dan sama sekali ngga ribet.

Siapkan Semua Dokumen

Jangan berpikir kalau dokumen yang dimaksud ini memberatkan, ya. Karena yang dibutuhkan oleh PT. KAI, dalam hal ini yang menangani adalah Costumer Service (CS), adalah hanya bukti pemesanan tiket, dan kartu identitas asli. Saat itu aku ngga membawa bukti pemesanan tiket. Agaknya lupa mencetak bukti pemesanan. 😆 Tapi ngga masalah karenan aku memesan tiketnya secara online. Jadi bukti pemesanan masih tersimpan di email.

Datang ke Stasiun Terdekat

Untuk melakukan pembatalan pemesanan tiket kereta api, aku datang langsung ke stasiun terdekat yaitu Stasiun Purwokerto di mana jaraknya kurang lebih 60 km dari Banjarnegara. Perjuangan banget, ya? Betul! Ini demi apa saydara setanah air? Demi duit supaya ngga hangus. Kalau aku membiarkannya hangus, nanti PT. KAI tambah sugih, dong. Hahaha.

Ini kenapa harus datang ke stasiun? Hiih…sudah dibilang bahwa, segala transaksi terkait pembatalan tiket kerata api bertempat di Stasiun. Kalau ngga punya waktu buat ke Stasiun, kamu bisa mewakilkan transaksi ini kepada siapapun dengan syarat harus dengan Surat Kuasa. Semacam pelimpahan, gitu.

Menyerahkan Dokumen ke Costumer Service

Dua hal yang perlu diperhatikan terkait dokumen yaitu bukti pemesanan tiket yaitu ID PemesananKartu Identitas, dan Nomor Rekening Bank (jika punya). CS hanya meminta ID Pemesanan saja, tanpa bukti fisiknya. Sementara untuk kartu identitas, musti bawa yang asli. Nantinya CS akan membantu untuk menggandakan kartu identitas. Selain menggandakan, CS juga membantu mengisikan data diri, termasuk pengisian nomor rekening guna pengembalian dana. Di ruang CS yang begitu sejuk, aku hanya duduk manis dan tanda tangan. Uwwh...ngga ribet pokoknya, ya.

Berikan Dokumen ke Petugas Loket

Sampai tahap ini, aku tergolong orang yang beruntung. Setelah CS memberi informasi nomor loket khusus pembatalan dan pergantian jadwal, aku langsung bergegas menuju loket 4, sesuai instruksi Mas CS yang sampai saat ini aku lupa namanya siapa. Di loket ini tanpa sistem antrean, lho. Tapi aku merasa beruntung karena saat itu hanya ada satu orang saja yang sedang melakukan transaksi.

CARA PEMBATALAN TIKET KERETA API
Jangan banyak tanya, semua sudah jelas. 😀

FYI, seluruh dokumen yang didapat dari CS diserahkan kepada petugas loket. Dokumen tersebut berupa fotokopi kartu identitas, print out tiket, dan formulir pembatalan. Setelahnya, petugas akan mengembalikan salinan formulir sebagai bukti pembatalan pemesanan tiket kereta api.

Pengembalian Akan Ditransfer Via Bank

Ini yang paling ditunggu-tunggu! 😆 Pengajuan pembatalan tiket kereta api yang dilakukan tidak lebih dari 30 menit sebelum jadwal pemberangkatan Kereta yang tertera di tiket akan mendapat pengembalian dana tiket meski ngga utuh. Terpotong 25% dari harga tiket kereta api. Masih lumayan lah, ya, bisa dipakai untuk beli Scraf Hijab.

Pengembalian dana tiket yang telah batal dilakukan setelah hari ke-30 melalui transfer atau diambil tunai di stasiun yang ditunjuk.  Jika kamu akan mengambilnya di Stasiun, maka harus menunjukan salinan formulir pembatalan kepada CS.

 

PEMBATALAN TIKET KERETA API
Formulir pembatalan ini rangkap 2, ya.

Eh, ini kenapa melakukan pembatalan?

Ceritanya, awal bulan ini aku berniat menghadiri acara mubes warung blogger yang berlokasi di Jakarta. Acara ini berlangsung satu hari pada hari Sabtu. Artinya, aku harus berangkat hari Jum’at, dong. Yaudah, aku pesan tiketnya untuk hari Jum’at. Rencana semula, hari Jum’at aku akan mengajukan izin ke atasan, gitu. Tapi ternyata aku harus menghadiri undangan rapat dan itu WAJIB. Ini undangan mendadak, cuuuy. Bikin KZL!

Buat kamu yang hendak bepergian menggunakan tranportasi Kereta Api, betul-betul dipertimbangkan sebelum memesan tiket, ya. 😉

Pameran Kreativitas Anak Muda Banjarnegara di Wing Craft Expo

Semangatnya terus menggebu meski mereka hanya bergerak dengan beberapa orang. Ruang geraknya pun tak terbatas, mereka dapat berdiskusi, dan mengahasilkan suatu karya kapan pun, di mana pun. Karena masing-masing berangkat dari passion, mereka menjalaninya dengan bahagia, tanpa beban apalagi tekanan. Uniknya, dari passion yang mungkin terlihat sederhana, mereka dapat memanfaatkannya sebagai ladang penghasilan.

Mereka adalah anak muda yang punya segudang ide, dan kreativitas. Dan perlu kamu tahu, di Banjarnegara juga banyak anak muda kreatif. Sebagian besar dari mereka telah tergabung dalam sebuah komunitas. Setelah karya tercipta, mereka punya tekad untuk mengenalkan karyanya kepada masyarakat luas.

“Ini karya anak muda Banjarnegara”. Seperti itulah yang ada di benak mereka, mungkin. Karya yang telah menjadi sebuah produk atau potensi memang patut diekspose. Sebut saja Kopi Banjarnegara.

Di Banjarnegara ada lebih dari sepuluh kedai kopi. Dan kopi yang diunggulkan mereka adalah kopi lokal Banjarnegara yang mana salah satu produk kopi Banjarnegara pernah mendapat juara 1 dalam suatu ajang festival kopi se Nusantara. Keren, kan? Memang, aku belum begitu paham tentang seluk beluk kopi dan apa yang membuat kopi Banjarnegara bisa go nasional.

Kuliner Banjarnegara
Next, Kuliner Banjarnegara!

Nah, yang aku pahami bahwa, menyeduh kopi itu ngga semudah menyeduh teh yang tinggal ditabur atau dicelupin. Ada beberapa teknik menyeduh kopi dan itu harus dipelajari, ngga semua orang bisa. Mereka harus tahu karakteristik kopi, jenis kopi, belajar menyeduh, atau bahkan belajar memodifikasinya supaya orang yang ngga begitu doyan kopi bisa turut menikmati kopi lokal.

Kopi Banjarnegara
Stand Kopi Banjarnegara…

Dan tiga hari yang lalu, dari tanggal 14-17 Februari, kreativitas para Barista dalam menyajikan kopi unjuk kebolehannya di event Wing Craft Expo. Ada lebih dari lima stand kopi di sana. Kopi Sabin,Warung Stasun, Bara Api, dll dll. Stand mereka ada di belakang panggung.

Kreativitas di panggung...
Unjuk kebolehan di panggung…

Wing Craft Expo diselenggarkan oleh Indagkop UKM Kabupaten Banjarnegara dan Banjarnegara Community University (BCU) sebagai wadah komunitas di Banjarnegara. Expo yang bertemoat di gedung kuliner banjarnegara digunakan sebagai ajang untuk mengenalkan dan juga memamerkan hasil kreativitas anak muda Banjarnegara.

Di gedung kuliner ini, model stand letter U dan dikelompokan sesuai dengan jenis kreativitasnya untuk memudahkan pengunjung dalam melihat karya atau hasil kreativitas anak muda.

Apakah di Expo hanya ada stand Kopi?

Ngga! Ada lebih dari 70 stand yang bakal bikin kamu bangga kepada anak muda Banjarnegara.

Running Text Banjarnegara
Running Text, berawal dari hobi..

Sebut saja stand Bentala Engineering. Si empunya Bentala ini memang hobi mempelajari mikro controler. Dalam aplikasinya, banyak karya yang sudah mereka hasilkan. Lighting electro dalam bentuk running text, misalnya. Hampir semua running text yang terpampang di lampu merah Banjarnegara dan beberapa dinas di Kabupaten Banjarnegara adalah hasil karya Bentala. Arvin Meiyono bersama tiga temannya terus melakukan inovasi untuk produk-produk yang berkaitan dengan Micro Controler. Kamu dapat melihat hasil produk mereka di www.bentalaengineering.co.id.

Sikuet art
Detail banget…
Tak kalah unik karyanya…

Ini baru dua kreativitas anak muda Banjarnegara, ya. Masih banyak bentuk kreativitas lainnya. Berangkat mulai dari hobi seperti lukisan kayu Siluet Art, Kuliner Bento, sampai dengan memanfaatkan hasil pertanian seperti Salak dan Ketela Rambat di mana saat ini harga jualnya di sini turun drastis. Dengan berbekal ilmu dan pengalaman, para pemuda Banjarnegara memanfaatkan hasil pertanian tersebut dalam bentk produk yang unik, menarik, dan tentunya berdaya jual lebih.

Pie Dawet dari Mocaf
Memanfaatkan ketela…

Event Wing Craftt Expo dengan tema Banjarnegara Youth Creativity Center memiliki tujuan dan harapan yaitu segala macam bentuk kreativitas pemuda Banjarnegara nantinya dapat terakomodir dan juga difasilitasi oleh pemerintah daerah baik dari tempat, maupun alat.

Oiya, Kuliner Banjarnegara yang berlokasi di eks. Kantor Pertanian Banjarnegara atau sebelah barat pom bensin kota nantinya akan dijadikan pusat kuliner Banjarnegara. Tepatnya kapan, belum ada informasi yang pasti. Ditunggu saja, ya.

Gagal ke Pantai Sodong, Bersenang-senang di Kolam Renang Purbasari

Nak, ngga lama lagi kita akan main ke Pantai. Di sana ada banyak pasir, lho.” Puteri kecilku, Syaquita, lagi senang-senangnya mainan pasir di sebelah rumah kami. Bukan gundukan pasir utuh, sih. Hanya timbunan pasir dan tanah yang telah menyatu. Dia mengeruk pasir pelan-pelan dengan sendok, lalu dituang ke dalam gelas plastik berukuran kecil. Lalu setelah penuh, baru lah ditumpahkan di atas papan dan dibuat berjejer, gitu. Eeeh…ada yang masa kecilnya mainan suka mainan pasir seperti Syaquita? 😀

Mainan pasir nampaknya akan makin asyik jika dilakukan di tepi pantai. Bisa mengumpulkan, mencetak seberapapun karena memang ketersediaan pasir di sana, tuh, tak terbatas. Ngga seperti di samping rumah kami. Makanya saat punya rencana untuk menghadiri event ke Pantai Sodong, Cilacap, aku mencoba sounding kepada Si Kecil dengan memberi pandangan bahwa dia bisa mainan pasir degan leluasa di pantai. Sekali mendayung lah, ya.

Melihat ekspresi kebahagiaan dengan meloncat-loncat, lalu memeluk Ibunya. Ini sungguh mengejutkan. Uwwh…bikin terharu saja ini bocah. Betapa mudahnya membahagiakan anak kecil, ya. Baru dibisikin rencana saja langsung sumringah. Ditambah lagi saat packing, kami memasukan beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk mainan pasir. Dia tambah bahagia, dong. Mungkin dalam benaknya sudah ada semacam gambaran bermain pasir di pantai. Padahal, ya, dia belum pernah ke pantai. Hahaha.

SODONG CULTURE FESTIVAL
Gagal ke Sodong Culture Festival…

Sayang banget, niat untuk ke Pantai Sodong bersama teman-teman GenPI Banyumasan gagal karena suatu musibah. Malam hari sebelum hari H, hujan deras mengguyur Pantai Sodong dan sekitarnya. Beberapa teman yang standby di sana mengabarkan bahwa, hujan sempat diikuti angin kencang. Hujan badai, gitu. Makanya kami gagal ke Cilacap karena segala sesuatu yang telah dipersiapkan mereka ternyata hancur, termasuk panggung yang akan digunakan untuk acara Jazz. Dengan berat hati, mereka membatalkan event bertajuk Sodong Culture Symphony (SCS). Pun denganku, dengan berat hati mencoba menyampaikan juga kepada Syaquita bahwa, kami gagal ke Pantai. Kali ini, dia ngga merespon apapun. Hanya menatapku dalam, lalu memegang kedua pipiku. Duuuh…jangan-jangan aku dikira PHP-in dia, nih. Eeeeh…anak kecil mana paham PHP. 😀

Ngga tahu kenapa, ada yang mengganjal dalam hati ketika aku menyampaikan kepada Syaquita kalau kami gagal ke pantai. Seperti ada rasa bersalah, gitu. Merasa tak ingin membuatnya sedih, Sabtu lalu aku mengajak dia jalan-jalan ke Purbasari Pancuran Mas bersama Tante dan Ella. Aku mengajak mereka karena pada hari itu mereka sudah terlanjur izin kerja. Ketimbang pada santai di rumah, mending jalan bareng Syaquita selagi belum pada punya gebetan. Hahaha.

Kolam Renang Purbasari
Bersenang-senang di Kolam Renang Purbasari

Purbasari Pancuran Mas adalah obyek wisata buatan yang terkenal dengan Aquarium Ikan Raksasa Arapaima Gigas. Aku mengajak Syaquita ke sini bukan hanya untuk melihat koleksi ikan dan aneka satwa lainnya, tapi juga mengajaknya renang. Berbekal tiket masuk Rp 18.000 per orang, kami bisa jalan sampai gempor keliling Purbasari dan renang sampai kulit keriput.

Selain mainan pasir, Syaquita juga bahagia jika diajak renang. Pikirku, renang ini sebagai ganti mainan pasir. Sebenarnya ini nekat banget, sih, karena kondisiku saat itu sedang datang bulan hari kedua. Artinya, ngga mungkin aku ikut renang. Makanya sebelum berangkat, aku minta tolong ke Tante untuk membawa baju renang supaya Syaquita ada temannya. Aku juga sempat tanya-tanya toko yang jual baju renang anak di daerahnya, tapi nampaknya jarang.

Sesampainya di Purbasari, aku lihat Tante hanya membawa dompet saja. Ngga bawa perlengkapan renang. Yasudah, akhirnya aku putuskan untuk tetap mendampingi Syaquita renang meski hanya dipinggir. Pun dengan Tante, ikut turun ke dalam kolam renang, bergantian dengan aku. Sementara Ella, dia keprok-keprok hore aja di pinggir kolam. 😀

Purbasari Pancuran Mas
Uwwh…ketemu kolam renang saja bahagia banget…

Beruntung, kolam renang di Purbasari ngga mengharuskan para perenang untuk memakai baju renang. Soalnya, setelah aku buka ransel, ternyata baju renang Syaquita ngga aku bawa. Karena aku ngga melihat toko yang jual baju renang anak di sana, terpaksa lah dia renang pakai kaus dalam dan celana pendek. Hihihi. Tapi tenang, untuk kaus dalam, pempers, perlengkapan mandi, dan baju ganti, available di ransel Ibuk. 😉

Ahay! Virus Traveling Kembali Datang

Sebelum melihat kalender tahun 2018 secara utuh, rasanya surprise saat melihat beberapa teman membagikan kalender dalam bentuk flyer lewat akun sosial media. Bisa dibilang, kalender tersebut adalah kalender traveling karena hanya menampilkan tanggal libur panjang atau long weekend yang identik dengan piknik.

Bagi seorang pekerja yang doyan piknik sepertiku, selain mengandalkan jatah cuti, moment long weekend acap kali aku manfaatkan untuk traveling. Terlebih saat Mama Karla mengirim flyer kalender piknik lewat Whats App sambil menyentil dengan pertanyaan, “kamu akan mengajak aku kemana, nih?”. Uuwh…kami pun salinh menawarkan destinasi wisata yang memungkinkan untuk kami jangkau secara finansial. Hahaha.

“Gimana kalau ke Jawa Barat? Di sana kita cari destinasi yang ramah anak juga.” Aku menawarkan Jawa Barat kepadanya dengan dilanjut destinasi-destinasi di Kota Cirebon. Tapi ternyata dia sudah pernah dan nampaknya kurang menarik. Apa iya, Bandung lagii…Bandung lagiii. 😆 😆

Sebelum merambah ke destinasi lain, dia menyampaikan bahwa, ada keinginan untuk traveling ke Dieng, Jawa Tengah. Dududu…ini mah ayo banget. Dieng tuh hanya selemparan sapu tangan dari tempat tinggalku. 😆 Namun percakapan ini berakhir tanpa keputusan. 😀

Festival Kendalisada
Nunggu jatah libur, sabar… 😀

Semenjak ngobrol tentang liburan dengan Mama Karla, rasa-rasanya virus traveling dalam diri ini kembali datang. Jujur, setelah punya Syaquita, aku hanya berani traveling tipis-tipis. Apalagi suami ngga punya banyak jatah libur. Mentoknya mengandalkan akhir pekan, itupun jatah liburnya hanya dua hari. Niqmat betul, ya. 😀

Bulan ini, usia Syaquita genap dua tahun. Di usia, dia sudah bisa merasakan bahagia atau sebaliknya saat diajak traveling. Ini sudah aku evaluasi dan aku coba beberapa kali. Artinya, meski jatah libur suami masih tetap, setidaknya aku bisa traveling bareng Si Kecil. Berdua, kami mampu. 😀 Duuuh maaf banget ya, Pak. Kami jalan berdua dulu, ya. 😛

Omong-omong, aku ada rencana mengajak Syaquita merasakan udara pantai sambil bermain pasir di tepi pantai. Aku rasa sudah cukup aman dan dia juga nampaknya bisa turut have fun. Dan tau ngga, perasaan makin ngga karuan ketika foto-foto Mama Minta Piknik liburan ke Lombok beredar di blognya. Tahu sendiri lah, pantai-pantai di Lombok kan cakepnya keterlaluan. Apalagi setelah tahu bahwa, untuk ke Lombok ternyata ngga harus mengeluarkan banyak uang. Budget buat dua orang hanya Rp 1.5 juta. Low budget, kan? Dududuuh…makin semangat mengajak Syaquita ke Pantai. 😀

Lombok Bukit Malimbu
Kece banget Bukit Malimbu, ya….

Eeeh…tadi ada Mama Karla, dan sekarang Mama Minta Minta Piknik. Dua Mama ini memang kerap menebar virus traveling. Apalagi gaya traveling mereka tipe yang ngga terlalu mewah tapi tetap mementingkan kenyamanan. Kan patut banget ditiru. Dan yang membuat makin greget pingin ke Lombok, tuh, saat menjelang akhir tahun lalu ada seorang teman, sebut saja Ibra, yang minta tolong ke aku untuk memesan tiket penerbangan ke Lombok dan sekalian minta rekomendasi destinasi wisata di sana.

Baginya, ini adalah kali pertama dia solo Traveling.  Sebelumnya, dia terbiasa ikut open trip atau trip gabungan bareng teman-temannya. Ngga terbiasa ribet seperti menyusun intinerary, memesan transportasi dan juga akomodasi karena tahunya tinggal berangkat. Ngga tau saking malasnya atau apa, tiba-tiba dia minta tolong ke aku untuk memesankan tiket pesawat beserta penginapannya.

Hish…padahal zaman now ini kan booking tiket dan akomodasi bisa lewat online, ya. Tinggal install aplikasi OTA (Online Travel Agent), pengguna bisa dengan mudah memesan keperluan traveling sesuai kebutuhan. Untuk masalah kebutuhan traveling seperti pemesanan tiket pesawat, aku selalu mengandalkan Traveloka. Makanya, saat ada teman minta tolong, aku pun langsung membuka aplikasi Traveloka.

TIKET PESAWAT KE LOMBOK MURAH
Pesan tiket pesawat tinggal klik, isi data, bayar! 😀

Penggunaan aplikasi pun sangat mudah. Cukup memilih menu Tiket Pesawat atau Ikon Pesawat Terbang  yang ditampilkan di halaman muka, selanjutnya tinggal isi data sesuai kebutuhan seperti; tanggal berangkat, tanggal pulang, data pribadi, dan cara pembayaran. Satu hal yang perlu diperhatikan yaitu ketika kamu memesan tiket pergi-pulang. Artinya, kamu harus benar-benar yakin bahwa jam pulang akan sesuai dengan yang sudah dipesan.

Nah, karena Ibra travelingnya belum jelas sampai kapan, aku pun menyarankan untuk membeli tiket satu kali penerbangan saja. Ya…meski ada layanan reschedule, sih.

Alasan lain, kenapa harus menggunakan Traveloka, sih?

Alasan yang paling bikin gemes yaitu karena aku terlanjur nyaman dengan pelayanannya Traveloka. Apa lagi yang dicari kalau kenyamanaan sudah dalam genggaman, coba? Belum lagi, aku bisa membandingkan harga antar maskapai hanya dengan satu aplikasi. Penawaran promo pun kadang cukup membuatku gila karena betul-betul bisa jadi murah banget.

Satu hal yang menjadikan aku makin nyaman memesan tiket pesawat di Traveloka yaitu karena aku bisa melakukan reschedule. Seperti yang aku singgung di atas. Bagiku, ini seperti asuransi. Apalagi aku kerap dimintai tolong teman dan saudara untuk memesan tiket pesawat. Rasanya ada ketenangan tersendiri dengan adanya layanan reschedule.

Lombok Kuta Mandalika
Kuta Mandalika, Lombok. Ini cocok buat bermain sama si kecil…

Bisa dibilang, Ibra memang suka malas kalau harus mengurus pemesanan tiket dan akomodasi untuk kebutuhan travelingnya. Tapi kalau diminta menyebar virus traveling, dia jago banget! Sama halnya dengan mama Karla dan Mama Minta Piknik.

Dan pada akhirnya…

Dengan siapa kamu bergaul, paling ngga kamu akan mendapat pesonanya. Meski dapatnya hanya tipis-tipis.” Ini bukan quotes, apalagi kata mutiara. Aku cuma lagi merasa kena sedikit pesonanya Ibra, dan Duo Mama yang pada suka traveling dengan budget tipis-tipis.

Ps: Foto-foto destinasi Pantai di Lombok aku dapat dari Mama Minta Piknik. 😉

3 Jenis Camilan Favorit yang Kami Bawa Saat Traveling

Apa jadinya Traveling tanpa membawa camilan? Bagi kami, hambar rasanya. Apalagi kami tipe keluarga yang suka ngemil. Ngga harus menunggu dapat tempat istirahat yang mewah untuk sekadar ngemil. Terpenting kami bisa duduk dengan nyaman.

Urusan camilan bukan perkara tentang mengganjal perut saja. Saat di tengah perjalanan merasa lelah, camilan bisa menjadi pelampiasan. Eeeeh…ini gimana caranya melampiaskan rasa lelah pada camilan, ya? Hahaha. Duduklah barang lima menit, keluarkan camilan dari kantong doraemon dalam tas, lalu nikmati bersama. Tenaga pun pelan-pelan akan kembali fit. Seperti akhir pekan lalu saat piknik ke Curug Pitu, tenaga kami kayak tinggal seperempat dari tenaga baja. 😀

Yuuk ikut bayangin, ya. Bahwa Curug Pitu ini tipenya berundak di mana urutannya yaitu dari bawah yaitu Curug Pitu sampai puncaknya yaitu Curug Satu. Curug dengan debit air paling deras adalah Curug Pitu. Sebenarnya kami ngga perlu naik lagi untuk menikmati Curug dengan debit air tertinggi karena ada di paling dasar. Tapi karena Suamik meyakinkan aku bahwa, view curug-curug di atasnya ngga kalah eksotis, aku pun mengekornya.

Uluwwluuw…ternyata untuk sampai sumber air atau curug satu, kami harus melewati jalan setapak, terus menanjak dan itu jalan masih alami alias jalan dari tanah, gitu. Pokoknya mirip ular tangga. Ngga terus menanjak dan ngga ada habisnya. Lempoh to de max! Asli. Beruntungnya, kami membawa camilan favorit. Tiap napas mulai ngos-ngosan, ini lah alarm bagi kami untuk menggelar tikar dan menikmati camilan. 😀

Curug Pitu Banjarnegara
Basah-basahan di Curug Pitu…

Mungkin dari kalian ada yang nyeletuk, kalau sudah seperti ini, masuk mini market bakal beli banyak jajan, dong? Jawabannya adalah ngga mesti. Karena camilan yang kerap kami makan termasuk jenis camilan yang tahan lama. Tapi bukan tahan lama dalam jangka satu tahun, lho.

Nah, berikut 3 camilan favorit yang sering kami bawa saat traveling.

1. Buah

Apel dan Pisang. Dua buah ini andalan banget. Ngga peduli di kulkas tinggal satu, pasti aku bawa. Gimana kalau stok pas habis? Beli, dong. Tapi biasanya cuma beli tiga biji Aple dan lima biji Pisang. Entah lah, ini namanya ngirit atau apa. Terpenting kami bahagia. 😀

Kenapa milih Apel dan Pisang? Kan masih banyak jenis buah?

Emm…maksudnya Anggur, Melon, Semangka, Pepaya, atau Pir, gitu? Kebetulan yang semua doyan adalah Apel dan Pisang. Lainnya, hanya aku yang doyan. Anggur, Kecemut belum doyan. Pir, aku dowang yang doyan. Jadi yaudah, pilih yang pasti-pasti aja deh, biar cepat dikawinin. 😀 Pertimbangan lain, dua buah ini paling aman ditaroh di dalam tas. Ringan pula.

2. Keripik

Ini seperti wajib. Keripik pisang adalah favorit kami. Camilan yang paling banyak dibawa pun keripik. Kalau kira-kira bakal lama di lokasi, atau jarak tempuhnya cukup jauh, aku biasanya bawa dua toples. Hahaha. Ya gimana lagi, keripik pisang ini ampuh banget mengalihkan rasa pegal-pegal pada kaki atau napas ngos-ngosan kek dikejar pacar selingkuhan. 😛

CAMILAN TRAVELING
Nglemporok buat ngemil duluu…

3. Roti

Udah bawa pisang, masih bawa roti? Oooo…jelas! Ini juga ngga kalah penting, Sist. Sebenarnya camilan ini khusus buat Kecemut, tapi karena roti yang aku bawa tuh roti kekinian, orang tuanya pun kadang ikut nyempil.

Lalu, roti apa yang dibawa?

Andalan kami yaitu Selai Olay dan Kue Nastar. Tapi jangan dikira kami bawanya pakai toples kayak bawa keripik, ya. Kami selalu bawa yang kemasan. Ringan, bukan? Apalagi yang kemasan isi paling tiga biji. Ngga bikin berat gendongan. 😀

Traveling dengan membawa camilan dari rumah sama sekali ngga membuat kami kerepotan. Apalagi itu camilan serba beli. Kalau lagi mood, kadang aku menambahi dengan camilan home made seperti Puding, Pisang Goreng, dan Mendoan.

Karena makanan termasuk kebutuhan Traveling, maka aku harus menyiapkannya meski di sekitar obyek wisata kadang ada warung yang menyediakan jajanan. Setidaknya buat jaga-jaga dikala lelah menyapa. 😛