Aku punya teman di Malang, tiap kali aku main ke sana dia selalu minta dibawain Dawet. Kangen Dawet Ayu Banjarnegara, katanya. Iseng banget, ya. Ngga dibawain, kasihan. Misal dibawain sudah pasti basi. Perjalanan ke Malang menggunakan akomodasi kereta api membutuhkan waktu dari 10 jam. Kecuali cuma bawa cendolnya. 😆
Memang, untuk mencicipi kuliner khas Banjarnegara ngga harus datang ke Banjarnegara karena sekarang makin banyak penjual yang menjajakan Dawet, tersebar di seluruh nusantara. Dawetnya pun makin banyak kreasinya, ya. Tapi perlu kamu tahu bahwa, Dawet yang legit dan segarnya tak ada duanya, tuh, hanya bisa dinikmati di daerah asal yaitu Banjarnegara. Asli.
Nah, melalui event Wing Craft Expo yang diselenggarakan bulan lalu, aku jadi tahu bahwa ada kreasi lain dari Dawet yaitu dalam bentuk Pie atau Pai. Pie Cassava Dawet, namanya.
Pie atau Pai adalah makanan yang terdiri dari kulit kue kering dengan isi yang beraneka ragam. Karena ini Pie Dawet, tentunya isinya ya cendol, dong. Dan kalian tahu, kan, bahan utama pie yang berupa kulit kue kering ini terbuat dari tepung.
Pakcaging desainnya luar biasa, menarik….
Tepung yang digunakan untuk membuat kulit Pie biasanya yaitu tepung terigu atau tepung dengan merk tertentu. Namun berbeda dengan Pie Cassava Dawet, kulit Pie berbahan dasar tepung mocaf. Ini salah satu yang menarik dan membedakan Pie dari Banjarnegara dengan Pie dari kota lain. Kenapa Pie dari Banjarnegara menggunakan tepung mocaf?
FYI, kapasitas produksi singkong atau ubi kayu di Kabupaten Banjarnegara lebih dari 200 ton lebih per tahun. Ini termasuk banyak banget karena hampir tiap petani di sini menanam singkong. Setidaknya ada 19 Kecamatan di Banjarnegara yang mempunyai komoditas singkong. Tapi siapa sangka, banyaknya hasil bumi berupa Singkong ternyata kurang mensejahterakan kehidupan masyarakat karena harga jual yang sama sekali ngga menjanjikan. Untuk bulan ini, mungkin Rp 500-900 per kg. Sementara untuk melakukan panen, para petani membutuhkan banyak biaya, mulai dari pemetikan sampai singkong dibawa ke pasar atau penjualan.
Miris, kan?
Beruntung saat ini di Banjarnegara makin banyak pemuda yang kreatif. Seperti Mbak Dini dan teman-teman. Mereka memanfaatkan Singkong untuk diolah menjadi tepung mocaf, tepung rendah gula.
Pai Dawet, The Next oleh-oleh khas Banjarnegara….
Tepung yang dimodifikasi dengan teknik fermentasi menggunakan mikrobia kini mulai banyak digunakan oleh masyarakat Banjarnegara. Tepung mocaf memiliki karakteristik yang cukup baik untuk mensubstitusi atau menggantikan 100% penggunaan tepung terigu. Di beberapa warung yang menyajikan gorengan pun sekarang sudah mulai menggunakan tepung mocaf. Saking lagi boomingnya tepung mocaf, di Banjarnegara dibentuk Komunitas Pecinta Mocaf, lho. 😆
Pilihan rasa lainyya, Cokelat, Strawberyy…
Nah, karena sudah ada Pie Cassava Dawet, mungkin ngga harus bawa cendol lagi ke Malang, ya. Apalagi packagingnya cantik banget, pasti si dese juga tertarik. Sehat dan enak pula, yummmii. 😀
Resto yang dari luar nampak begitu tenang, sukses membangunkan generasi menunduk, termasuk aku, yang sedang membalas chat sambil jalan. 😀 Bagaimana tidak, sepertinya hampir seluruh karyawan BuldaQ menyambut kedatangan para penikmat makanan Korea dengan cara mengucap salam sapa a la Korea. Yang bikin greget, nih, sambutan dari mereka ngga nanggung-nanggung. Dengan nada delapan oktaf, mereka kompak mengucap Annyeonghaseyo!
Ngga tau kenapa, rasanya seperti mendapat surprise, gitu. Kaget yang bikin nyengir-nyengir karena biasanya cuma dapat sapaan salam santun penuh pasrah dari para pramusaji resto. 😀 Ya kaaan?
Seorang waitress yang mengenakan kaus oblong warna hijau toska medampingi kami sedari pintu masuk resto. Dia menawarkan tempat duduk, membantu memilihkan menu makan, sampai dengan menjelaskannya secara detail menu-menu yang akan kami pesan. Ya maklum lah, ya, jiwa ngapak mana paham masakan korea. Eh, ini aku, ding. Teman-teman yang lain, mah, penikmat masakan Korea semua. 😆
Makanan enak gini, disenyumin dowang. 😀 This is Chicken Pop Corn Sauce with Strawberry Smoothies…
Apa yang kalian tahu tentang masakan Korea? Dari citarasanya, mungkin. Pastinya ada yang khas, kan. Lalu, jika ditanya makanan favoritnya (masih makanan Korea), kira-kira kamu bakal jawab apa? 😆
Aku, dong, ngga paham apa-apa tentang kuliner Korea, tapi bahagia tak kira saat diajak Mbak Olip ke BuldaQ Korean Barbeque, sebuah resto yang menawarkan makanan Korea asli, bukan KW dua apalagi lima. 😀 Perlu diingat, resto ini berlokasi di lantai 1 Rita Super Mall Purwokerto. Berada di deretan foodcourt-nya Rita Super Mal Purwokerto.
Eeeeh...jangan pada tanya dalam rangka apa kami makan-makan. Anak Banyumasan, mah, guyup. Kalau memang perlu makan ramai-ramai, ngapain harus makan sendirian di ponjokan! Apalagi kalau sistemnya gratisan, ngga bakal kenyang kalau dilahap sendiri, lho. 😛
Btw, selain Mbak Olip, saat itu aku datang ke BuldaQ Korean BBQ bareng Tante, Pungky, dan Mas Topan. Beruntung, siang itu resto belum begitu ramai. Iya, dari luar baru terlihat sepasang anak manusia yang sibuk bolak-balik lembaran buku menu.
Seperti ini, nih, dinding cakepnyaa… 😆 This Is Seafood Skewers…
Karena saat itu resto belum begitu ramai, kami bebas memilih tempat duduk. Dan perlu kamu tau, meski resto ini ngga begitu luas, tapi layout tempat duduknya bervariasi. Karena kami berlima, maka memilih tempat duduk yang memanjang. Dari pintu masuk langsung ambil kanan. Asyiknya, nih, di belakang kami adalah dinding bergambar. Lukisannya cakep pula, khas Jepang, gitu. Pokoknya jadi sok manja gitu, deh. Bawaannya ingin pepotoan terus. 😛
Masakan Korea yang ditawarkan BuldaQ Korean BBQ sangat beragam. Dan kalau ngga lihat daftar menu, aku ngga bakal bisa ngucapin nama menunya. Ngga bakal hapal pula. Sampai aku menuliskan blog post ini pun masih nyontek nama menunya. Dasar ndeso, ya. Wkwkwk
Sensasi Makan Masakan Korea di BuldaQ Korean BBQ Purwokerto
Jadi nih, ya, aku pernah makan di salah satu resto yang ada di Kuningan City, Jakarta. Aku makan di sana tentu ngga sendirian. Sepupuku yang tinggal di Jakarta mengajak aku untuk mencicipi masakan a la Korea, gitu. Katanya, mumpung aku ke Jakarta harus mencoba kuliner yang ngga biasa. Yaudah, aku memilih menu yang aku lupa namanya karena emang susah diingat dan aku asal milih, gitu. Songong banget, ya. Hahaha. Tanpa menunggu lama, pesananku datang. Dan perlu kamu tahu, para pelayan di sana, tuh, hanya mengantar menu saja. Sementara aku ngga bisa memasaknya meski semua alat dan juga bahan sudah tersedia. Kampungan banget, kan? 😆 😆 Parahnya, nih, ternyata sepupuku ini punya misi buat menertawakan aku di retso itu. Kan ngeselin banget. 😳
Kejadian seperti di atas ngga bakal kamu alami saat kulineran di BuldaQ Korean BBQ Purwokerto. Kamu akan mendapat pengalaman yang berbeda. Para waitress and waiter siap melayani penuh. Sekadar mendampingi, atau sekalian memasakan segala menu yang kamu pilih. Ini menyenangkan banget karena aku suka melihat atraksi masak-masak, gitu. 😛
Buat pemanasan, kami memesan tiga menu ringan ditawarkan oleh Mbak Dini (sebut saja Mbak Dini, biar makin akrab). Dua menu ringan yaitu sate seafood dan Ayam goreng bertabur wijen. Bhahaha. Emang ada makanan Korea macam itu? Ya ngga mungkin lah.
Seafood Skewers, Buldaq Skewers, dan Chicken Pop Corn Sauce
Seafood Skewers (isinya crab stick dan chikuwa) dan Buldaq Skewers (isinya crab ball dan sosis) adalah menu pertama yang keluar dari dapur BuldaQ. Makanan ringan ini cuma disajikan dua tusuk dalam satu porsi. Harganya ? 1.500 atau Rp 15.000 per porsi. Btw, ini pertama kali aku makan Chikuwa. Tetnyata asyik juga makan sate ini, kenyal-kenyal, gitu. Tambah nikmat lagi karena di tambah dengan mayonais.
BuldaQ BBQ
BuldaQ BBQ Purwokerto
Makanan Korea di Purwokerto
Makanan ringan selanjutnya yaitu Chicken Pop Corn Sauce yang dibanderol dengan harga ? 2.300 atau Rp 23.000. Menu ini berisi daging ayam yang digoreng dengan tepung. Mirip-mirip kentucky, tapi yang ini ngga renyah. Aku cuma nyobain satu potong dowang yang rasa manis, ternyata kurang nendang karena aku ngga begitu doyan masakan manis. 😉 Beruntung ada Kimchi, asinan a la Korea, gitu. Cocok lah buat dicocol bareng si ayam, meski ini sebenarnya gandengannya si woosamgyeob. 😀
😆 Chijeu Chicken. 😆
Chijeu Chicken, ini menu sukses bikin aku bengong. Dalam satu plate sudah tersedia bahan untuk dimasak, ada ayam goreng, potato, dan mozarela. Si Mbak Dini ini membantu kami memasakannya. Ayam dengan ukuran sedang dipotong-potong terlebih dahulu, kemudian dengan lihai dia mencampurkan keju mozarela sampai akhirnya berwujud seperti permen karet.
Kegirangan lihat Mbak Dinai masak ini…
Aku suka banget melihat atraksi saat memasak Chijeu Chicken. Pas bagian motong ayam, tuh, Mbak Dini terlihat begitu santai. Gunting dengan ukuran sedang dia pegang, menggunakan tangan kanan. Lalu di tangan kirinya mengapit daging ayam dengan alat penjepit, gitu. Dan Ayam pun siap digulung dengan permen karet mozarela. Hahaha. Gimana rasanya? Asinnya si mozarela dan pedas manis saus yang telah menempel di ayam, tuh, ternyata klop. Lebih greget karena ada mozarelanya.
Satu porsi Chijeu Chicken dibanderol dengan harga ? 8.000 atau Rp 80.000. Menu ini bisa buat ramai-ramai, ya. Soalnya bisa jadi sampai enam gulung, gitu.
😉 Woosamgyeob. 😉
Aku baru tahu bahwa, irisan daging sapi untuk menu makanan korea ternyata ada banyak pilihan. Daging murni tanpa lemak, misalnya. Kalau ngga salah ingat, daging ini ada dibagian perut Si Sapi. Beberapa pilihan BBQ Grilled antara lain; Wooseol, Galbi dan Woosamgyeob. Range harga antara Rp 60.000 sampai Rp 155.000 per porsi. Kalau mau nambah condiment atau bumbu lagi, tinggal bayar Rp 10.000 per porsi.
Bahan-bahan buat woosamgyeob <—ini dibaca apaa? 😀
Kali ini aku nyobain Woosamgyeob. Irisan daging sapi dipanggang terlebih dahulu sampai matang atau setengah matang. Jangan lupa apinya kecilan saja, ya. Biar ngga gosong. Supaya sedikit ada aroma wangi, ditambah irisan bawang bombay. Awalnya aku ngga yakin bisa nelen daging sapi yang dipanggang itu, tapi setelah aku gulung dengan selada, lha kok enak tertandingi. Hahaha. Ini tip simpel buat yang ngga bisa makan daging sapi panggang utuh. Dibalut dengan selada, beres urusannya dan kamu akan mendapat pengalaman baru. 😆
😛 Budae Jjigae 😛
Budae Jigae, nama menunya bagus, ya. Bisa dibilang ini adalah Sup. Ya, sup a la Korea. Menu ini termasuk porsi besar, harganya pun lumayan, yaitu ? 9.900 atau Rp 99.000. Namun akan menjadi terjangkau bila dinikmati sampai lima orang. Iya, kami berlima ngroyong menu ini dan ngga habis. 😆 Iyalah pasti ngga habis, lihat saja menu-menu sebelumnya. Ada berapa menu yang sudah kami makan coba? Klengers, gengs! 😀
Budae Jjigae…
Masak Budae Jjigae
Budae Jjigae Siap…
Budae Jigae ini adalah sup yang di dalamnya ada sayuran, bakso ikan, seafood, jamur, sebutir telur, dan mie. Semua bahan dimasak dengan nyala api kecil supaya lebih sedap, seperti halnya masak woosamgyeob. Kuah Budae Jigae terasa lebih gurih dan sedikit pedas saat ditambah dengan saus khas Korea. Eeemmmh…sekalinya makan-makan, ternyata ngabisin enam masakan korea. Kebayang kenyangnya, kan. Hahaha.
Abis kenyang karena makanan, kami minum green tea yang telah dipesan bareng-bareng. Minuman ini tak punya banyak rasa, tapi lumayan buat menyeimbangkan lidah yang sebelumnya telah lupa diri. 😆
Buat kamu yang punya agenda jalan-jalan ke Purwokerto, jangan lupa nyobain masakan Korea di BuldaQ Korean BBQ, ya. Buka tiap hari, lho. 😉
Domisili di Banjarnegara, mau ada acara di Jakarta dan pinginnya naik Kereta Api biar lebih cepat. Bisa banget, dong. Cukup berbekal smartphone dan paket data, pesan lah tiket Kereta Api secara online. Beli Tiket Kereta Api di Tokopedia, misalnya. Tinggal buka websitenya, atur jadwal keberangkatan atau pulang, bayar, dan jangan lupa konfirmasi pembayaran. Praktis, bukan?
Zaman sekarang yang dicari memang kepraktisan, apalagi soal pemesanan ini itu. Ketimbang harus telephone atau chat yang memerlukan banyak waktu dan juga biaya, lebih praktis mengunjungi websitenya langsung, kan. Bisa lebih leluasa dalam memilih jadwal pemberangkatan maupun pulang. Bonusnya, siapa tahu pas lagi booking tiket ada penawaran diskon. Alhamdulillaah banget, kan.
Sayangnya, nih, yang bisa dijangkau secara online baru pemesanannya saja. Belum sampai pergantian atau pembatalan jadwal karena untuk mengurus ini, pihak PT. Kereta Api Indonesia (KAI) memerlukan identitas diri dan tanda tangan si pemesan. Andai ini bisa dilakukan secara online, aaah…kenyamanan naik seratus persen, deh. 😛
Stasiun Purwokerto siang itu…
FYI, syarat wajib untuk melakukan pembatalan pemesanan tiket kereta api, kamu harus datang ke Stasiun terdekat. Ini ngga bisa ditawar karena segala bentuk transaksi ada di stasiun. Hihihi. Nah, berikut langkah-langkah mengurus pembatalan tiket kereta api yang kini lebih cepat, dan sama sekali ngga ribet.
Siapkan Semua Dokumen
Jangan berpikir kalau dokumen yang dimaksud ini memberatkan, ya. Karena yang dibutuhkan oleh PT. KAI, dalam hal ini yang menangani adalah Costumer Service (CS), adalah hanya bukti pemesanan tiket, dan kartu identitas asli. Saat itu aku ngga membawa bukti pemesanan tiket. Agaknya lupa mencetak bukti pemesanan. 😆 Tapi ngga masalah karenan aku memesan tiketnya secara online. Jadi bukti pemesanan masih tersimpan di email.
Datang ke Stasiun Terdekat
Untuk melakukan pembatalan pemesanan tiket kereta api, aku datang langsung ke stasiun terdekat yaitu Stasiun Purwokerto di mana jaraknya kurang lebih 60 km dari Banjarnegara. Perjuangan banget, ya? Betul! Ini demi apa saydara setanah air? Demi duit supaya ngga hangus. Kalau aku membiarkannya hangus, nanti PT. KAI tambah sugih, dong. Hahaha.
Ini kenapa harus datang ke stasiun? Hiih…sudah dibilang bahwa, segala transaksi terkait pembatalan tiket kerata api bertempat di Stasiun. Kalau ngga punya waktu buat ke Stasiun, kamu bisa mewakilkan transaksi ini kepada siapapun dengan syarat harus dengan Surat Kuasa. Semacam pelimpahan, gitu.
Menyerahkan Dokumen ke Costumer Service
Dua hal yang perlu diperhatikan terkait dokumen yaitu bukti pemesanan tiket yaitu ID Pemesanan, Kartu Identitas, dan Nomor Rekening Bank (jika punya). CS hanya meminta ID Pemesanan saja, tanpa bukti fisiknya. Sementara untuk kartu identitas, musti bawa yang asli. Nantinya CS akan membantu untuk menggandakan kartu identitas. Selain menggandakan, CS juga membantu mengisikan data diri, termasuk pengisian nomor rekening guna pengembalian dana. Di ruang CS yang begitu sejuk, aku hanya duduk manis dan tanda tangan. Uwwh...ngga ribet pokoknya, ya.
Berikan Dokumen ke Petugas Loket
Sampai tahap ini, aku tergolong orang yang beruntung. Setelah CS memberi informasi nomor loket khusus pembatalan dan pergantian jadwal, aku langsung bergegas menuju loket 4, sesuai instruksi Mas CS yang sampai saat ini aku lupa namanya siapa. Di loket ini tanpa sistem antrean, lho. Tapi aku merasa beruntung karena saat itu hanya ada satu orang saja yang sedang melakukan transaksi.
Jangan banyak tanya, semua sudah jelas. 😀
FYI, seluruh dokumen yang didapat dari CS diserahkan kepada petugas loket. Dokumen tersebut berupa fotokopi kartu identitas, print out tiket, dan formulir pembatalan. Setelahnya, petugas akan mengembalikan salinan formulir sebagai bukti pembatalan pemesanan tiket kereta api.
Pengembalian Akan Ditransfer Via Bank
Ini yang paling ditunggu-tunggu! 😆 Pengajuan pembatalan tiket kereta api yang dilakukan tidak lebih dari 30 menit sebelum jadwal pemberangkatan Kereta yang tertera di tiket akan mendapat pengembalian dana tiket meski ngga utuh. Terpotong 25% dari harga tiket kereta api. Masih lumayan lah, ya, bisa dipakai untuk beli Scraf Hijab.
Pengembalian dana tiket yang telah batal dilakukan setelah hari ke-30 melalui transfer atau diambil tunai di stasiun yang ditunjuk. Jika kamu akan mengambilnya di Stasiun, maka harus menunjukan salinan formulir pembatalan kepada CS.
Formulir pembatalan ini rangkap 2, ya.
Eh, ini kenapa melakukan pembatalan?
Ceritanya, awal bulan ini aku berniat menghadiri acara mubes warung blogger yang berlokasi di Jakarta. Acara ini berlangsung satu hari pada hari Sabtu. Artinya, aku harus berangkat hari Jum’at, dong. Yaudah, aku pesan tiketnya untuk hari Jum’at. Rencana semula, hari Jum’at aku akan mengajukan izin ke atasan, gitu. Tapi ternyata aku harus menghadiri undangan rapat dan itu WAJIB. Ini undangan mendadak, cuuuy. Bikin KZL!
Buat kamu yang hendak bepergian menggunakan tranportasi Kereta Api, betul-betul dipertimbangkan sebelum memesan tiket, ya. 😉
Semangatnya terus menggebu meski mereka hanya bergerak dengan beberapa orang. Ruang geraknya pun tak terbatas, mereka dapat berdiskusi, dan mengahasilkan suatu karya kapan pun, di mana pun. Karena masing-masing berangkat dari passion, mereka menjalaninya dengan bahagia, tanpa beban apalagi tekanan.Uniknya, dari passion yang mungkin terlihat sederhana, mereka dapat memanfaatkannya sebagai ladang penghasilan.
Mereka adalah anak muda yang punya segudang ide, dan kreativitas. Dan perlu kamu tahu, di Banjarnegara juga banyak anak muda kreatif. Sebagian besar dari mereka telah tergabung dalam sebuah komunitas. Setelah karya tercipta, mereka punya tekad untuk mengenalkan karyanya kepada masyarakat luas.
“Ini karya anak muda Banjarnegara”. Seperti itulah yang ada di benak mereka, mungkin. Karya yang telah menjadi sebuah produk atau potensi memang patut diekspose. Sebut saja Kopi Banjarnegara.
Di Banjarnegara ada lebih dari sepuluh kedai kopi. Dan kopi yang diunggulkan mereka adalah kopi lokal Banjarnegara yang mana salah satu produk kopi Banjarnegara pernah mendapat juara 1 dalam suatu ajang festival kopi se Nusantara. Keren, kan? Memang, aku belum begitu paham tentang seluk beluk kopi dan apa yang membuat kopi Banjarnegara bisa go nasional.
Next, Kuliner Banjarnegara!
Nah, yang aku pahami bahwa, menyeduh kopi itu ngga semudah menyeduh teh yang tinggal ditabur atau dicelupin. Ada beberapa teknik menyeduh kopi dan itu harus dipelajari, ngga semua orang bisa. Mereka harus tahu karakteristik kopi, jenis kopi, belajar menyeduh, atau bahkan belajar memodifikasinya supaya orang yang ngga begitu doyan kopi bisa turut menikmati kopi lokal.
Stand Kopi Banjarnegara…
Dan tiga hari yang lalu, dari tanggal 14-17 Februari, kreativitas para Barista dalam menyajikan kopi unjuk kebolehannya di event Wing Craft Expo. Ada lebih dari lima stand kopi di sana. Kopi Sabin,Warung Stasun, Bara Api, dll dll. Stand mereka ada di belakang panggung.
Unjuk kebolehan di panggung…
Wing Craft Expo diselenggarkan oleh Indagkop UKM Kabupaten Banjarnegara dan Banjarnegara Community University (BCU) sebagai wadah komunitas di Banjarnegara. Expo yang bertemoat di gedung kuliner banjarnegara digunakan sebagai ajang untuk mengenalkan dan juga memamerkan hasil kreativitas anak muda Banjarnegara.
Di gedung kuliner ini, model stand letter U dan dikelompokan sesuai dengan jenis kreativitasnya untuk memudahkan pengunjung dalam melihat karya atau hasil kreativitas anak muda.
Apakah di Expo hanya ada stand Kopi?
Ngga! Ada lebih dari 70 stand yang bakal bikin kamu bangga kepada anak muda Banjarnegara.
Running Text, berawal dari hobi..
Sebut saja stand Bentala Engineering. Si empunya Bentala ini memang hobi mempelajari mikro controler. Dalam aplikasinya, banyak karya yang sudah mereka hasilkan. Lighting electro dalam bentuk running text, misalnya. Hampir semua running text yang terpampang di lampu merah Banjarnegara dan beberapa dinas di Kabupaten Banjarnegara adalah hasil karya Bentala. Arvin Meiyono bersama tiga temannya terus melakukan inovasi untuk produk-produk yang berkaitan dengan Micro Controler. Kamu dapat melihat hasil produk mereka di www.bentalaengineering.co.id.
Detail banget…Tak kalah unik karyanya…
Ini baru dua kreativitas anak muda Banjarnegara, ya. Masih banyak bentuk kreativitas lainnya. Berangkat mulai dari hobi seperti lukisan kayu Siluet Art, Kuliner Bento, sampai dengan memanfaatkan hasil pertanian seperti Salak dan Ketela Rambat di mana saat ini harga jualnya di sini turun drastis. Dengan berbekal ilmu dan pengalaman, para pemuda Banjarnegara memanfaatkan hasil pertanian tersebut dalam bentk produk yang unik, menarik, dan tentunya berdaya jual lebih.
Memanfaatkan ketela…
Event Wing Craftt Expo dengan tema Banjarnegara Youth Creativity Center memiliki tujuan dan harapan yaitu segala macam bentuk kreativitas pemuda Banjarnegara nantinya dapat terakomodir dan juga difasilitasi oleh pemerintah daerah baik dari tempat, maupun alat.
Oiya, Kuliner Banjarnegara yang berlokasi di eks. Kantor Pertanian Banjarnegara atau sebelah barat pom bensin kota nantinya akan dijadikan pusat kuliner Banjarnegara. Tepatnya kapan, belum ada informasi yang pasti. Ditunggu saja, ya.
“Nak, ngga lama lagi kita akan main ke Pantai. Di sana ada banyak pasir, lho.” Puteri kecilku, Syaquita, lagi senang-senangnya mainan pasir di sebelah rumah kami. Bukan gundukan pasir utuh, sih. Hanya timbunan pasir dan tanah yang telah menyatu. Dia mengeruk pasir pelan-pelan dengan sendok, lalu dituang ke dalam gelas plastik berukuran kecil. Lalu setelah penuh, baru lah ditumpahkan di atas papan dan dibuat berjejer, gitu. Eeeh…ada yang masa kecilnya mainan suka mainan pasir seperti Syaquita? 😀
Mainan pasir nampaknya akan makin asyik jika dilakukan di tepi pantai. Bisa mengumpulkan, mencetak seberapapun karena memang ketersediaan pasir di sana, tuh, tak terbatas. Ngga seperti di samping rumah kami. Makanya saat punya rencana untuk menghadiri event ke Pantai Sodong, Cilacap, aku mencoba sounding kepada Si Kecil dengan memberi pandangan bahwa dia bisa mainan pasir degan leluasa di pantai. Sekali mendayung lah, ya.
Melihat ekspresi kebahagiaan dengan meloncat-loncat, lalu memeluk Ibunya. Ini sungguh mengejutkan. Uwwh…bikin terharu saja ini bocah. Betapa mudahnya membahagiakan anak kecil, ya. Baru dibisikin rencana saja langsung sumringah. Ditambah lagi saat packing, kami memasukan beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk mainan pasir. Dia tambah bahagia, dong. Mungkin dalam benaknya sudah ada semacam gambaran bermain pasir di pantai. Padahal, ya, dia belum pernah ke pantai. Hahaha.
Gagal ke Sodong Culture Festival…
Sayang banget, niat untuk ke Pantai Sodong bersama teman-teman GenPI Banyumasan gagal karena suatu musibah. Malam hari sebelum hari H, hujan deras mengguyur Pantai Sodong dan sekitarnya. Beberapa teman yang standby di sana mengabarkan bahwa, hujan sempat diikuti angin kencang. Hujan badai, gitu. Makanya kami gagal ke Cilacap karena segala sesuatu yang telah dipersiapkan mereka ternyata hancur, termasuk panggung yang akan digunakan untuk acara Jazz. Dengan berat hati, mereka membatalkan event bertajukSodong Culture Symphony (SCS). Pun denganku, dengan berat hati mencoba menyampaikan juga kepada Syaquita bahwa, kami gagal ke Pantai. Kali ini, dia ngga merespon apapun. Hanya menatapku dalam, lalu memegang kedua pipiku. Duuuh…jangan-jangan aku dikira PHP-in dia, nih. Eeeeh…anak kecil mana paham PHP. 😀
Ngga tahu kenapa, ada yang mengganjal dalam hati ketika aku menyampaikan kepada Syaquita kalau kami gagal ke pantai. Seperti ada rasa bersalah, gitu. Merasa tak ingin membuatnya sedih, Sabtu lalu aku mengajak dia jalan-jalan ke Purbasari Pancuran Mas bersama Tante dan Ella. Aku mengajak mereka karena pada hari itu mereka sudah terlanjur izin kerja. Ketimbang pada santai di rumah, mending jalan bareng Syaquita selagi belum pada punya gebetan. Hahaha.
Bersenang-senang di Kolam Renang Purbasari
Purbasari Pancuran Mas adalah obyek wisata buatan yang terkenal dengan Aquarium Ikan Raksasa Arapaima Gigas. Aku mengajak Syaquita ke sini bukan hanya untuk melihat koleksi ikan dan aneka satwa lainnya, tapi juga mengajaknya renang. Berbekal tiket masuk Rp 18.000 per orang, kami bisa jalan sampai gempor keliling Purbasari dan renang sampai kulit keriput.
Selain mainan pasir, Syaquita juga bahagia jika diajak renang. Pikirku, renang ini sebagai ganti mainan pasir. Sebenarnya ini nekat banget, sih, karena kondisiku saat itu sedang datang bulan hari kedua. Artinya, ngga mungkin aku ikut renang. Makanya sebelum berangkat, aku minta tolong ke Tante untuk membawa baju renang supaya Syaquita ada temannya. Aku juga sempat tanya-tanya toko yang jual baju renang anak di daerahnya,tapi nampaknya jarang.
Sesampainya di Purbasari, aku lihat Tante hanya membawa dompet saja. Ngga bawa perlengkapan renang. Yasudah, akhirnya aku putuskan untuk tetap mendampingi Syaquita renang meski hanya dipinggir. Pun dengan Tante, ikut turun ke dalam kolam renang, bergantian dengan aku. Sementara Ella, dia keprok-keprok hore aja di pinggir kolam. 😀
Uwwh…ketemu kolam renang saja bahagia banget…
Beruntung, kolam renang di Purbasari ngga mengharuskan para perenang untuk memakai baju renang. Soalnya, setelah aku buka ransel, ternyata baju renang Syaquita ngga aku bawa. Karena aku ngga melihat toko yang jual baju renang anakdi sana, terpaksa lah dia renang pakai kaus dalam dan celana pendek. Hihihi. Tapi tenang, untuk kaus dalam, pempers, perlengkapan mandi, dan baju ganti, available di ransel Ibuk. 😉
Sebelum melihat kalender tahun 2018 secara utuh, rasanya surprise saat melihat beberapa teman membagikan kalender dalam bentuk flyer lewat akun sosial media. Bisa dibilang, kalender tersebut adalah kalender traveling karena hanya menampilkan tanggal libur panjang atau long weekend yang identik dengan piknik.
Bagi seorang pekerja yang doyan piknik sepertiku, selain mengandalkan jatah cuti, moment long weekend acap kali aku manfaatkan untuk traveling. Terlebih saat Mama Karla mengirim flyer kalender piknik lewat Whats App sambil menyentil dengan pertanyaan, “kamu akan mengajak aku kemana, nih?”. Uuwh…kami pun salinh menawarkan destinasi wisata yang memungkinkan untuk kami jangkau secara finansial. Hahaha.
“Gimana kalau ke Jawa Barat? Di sana kita cari destinasi yang ramah anak juga.” Aku menawarkan Jawa Barat kepadanya dengan dilanjut destinasi-destinasi di Kota Cirebon. Tapi ternyata dia sudah pernah dan nampaknya kurang menarik. Apa iya, Bandung lagii…Bandung lagiii. 😆 😆
Sebelum merambah ke destinasi lain, dia menyampaikan bahwa, ada keinginan untuk traveling ke Dieng, Jawa Tengah. Dududu…ini mah ayo banget. Dieng tuh hanya selemparan sapu tangan dari tempat tinggalku. 😆 Namun percakapan ini berakhir tanpa keputusan. 😀
Nunggu jatah libur, sabar… 😀
Semenjak ngobrol tentang liburan dengan Mama Karla, rasa-rasanya virus traveling dalam diri ini kembali datang. Jujur, setelah punya Syaquita, aku hanya berani traveling tipis-tipis. Apalagi suami ngga punya banyak jatah libur. Mentoknya mengandalkan akhir pekan, itupun jatah liburnya hanya dua hari. Niqmat betul, ya. 😀
Bulan ini, usia Syaquita genap dua tahun. Di usia, dia sudah bisa merasakan bahagia atau sebaliknya saat diajak traveling. Ini sudah aku evaluasi dan aku coba beberapa kali. Artinya, meski jatah libur suami masih tetap, setidaknya aku bisa traveling bareng Si Kecil. Berdua, kami mampu. 😀 Duuuh maaf banget ya, Pak. Kami jalan berdua dulu, ya. 😛
Omong-omong, aku ada rencana mengajak Syaquita merasakan udara pantai sambil bermain pasir di tepi pantai. Aku rasa sudah cukup aman dan dia juga nampaknya bisa turut have fun. Dan tau ngga, perasaan makin ngga karuan ketika foto-foto Mama Minta Piknik liburan ke Lombok beredar di blognya. Tahu sendiri lah, pantai-pantai di Lombok kan cakepnya keterlaluan. Apalagi setelah tahu bahwa, untuk ke Lombok ternyata ngga harus mengeluarkan banyak uang. Budget buat dua orang hanya Rp 1.5 juta. Low budget, kan? Dududuuh…makin semangat mengajak Syaquita ke Pantai. 😀
Kece banget Bukit Malimbu, ya….
Eeeh…tadi ada Mama Karla, dan sekarang Mama Minta Minta Piknik. Dua Mama ini memang kerap menebar virus traveling. Apalagi gaya traveling mereka tipe yang ngga terlalu mewah tapi tetap mementingkan kenyamanan. Kan patut banget ditiru. Dan yang membuat makin greget pingin ke Lombok, tuh, saat menjelang akhir tahun lalu ada seorang teman, sebut saja Ibra, yang minta tolong ke aku untuk memesan tiket penerbangan ke Lombok dan sekalian minta rekomendasi destinasi wisata di sana.
Baginya, ini adalah kali pertama dia solo Traveling.  Sebelumnya, dia terbiasa ikut open trip atau trip gabungan bareng teman-temannya. Ngga terbiasa ribet seperti menyusun intinerary, memesan transportasi dan juga akomodasi karena tahunya tinggal berangkat. Ngga tau saking malasnya atau apa, tiba-tiba dia minta tolong ke aku untuk memesankan tiket pesawat beserta penginapannya.
Hish…padahal zaman now ini kan booking tiket dan akomodasi bisa lewat online, ya. Tinggal install aplikasi OTA (Online Travel Agent), pengguna bisa dengan mudah memesan keperluan traveling sesuai kebutuhan. Untuk masalah kebutuhan traveling seperti pemesanan tiket pesawat, aku selalu mengandalkan Traveloka. Makanya, saat ada teman minta tolong, aku pun langsung membuka aplikasi Traveloka.
Pesan tiket pesawat tinggal klik, isi data, bayar! 😀
Penggunaan aplikasi pun sangat mudah. Cukup memilih menu Tiket Pesawat atau Ikon Pesawat Terbang  yang ditampilkan di halaman muka, selanjutnya tinggal isi data sesuai kebutuhan seperti; tanggal berangkat, tanggal pulang, data pribadi, dan cara pembayaran. Satu hal yang perlu diperhatikan yaitu ketika kamu memesan tiket pergi-pulang. Artinya, kamu harus benar-benar yakin bahwa jam pulang akan sesuai dengan yang sudah dipesan.
Nah, karena Ibra travelingnya belum jelas sampai kapan, aku pun menyarankan untuk membeli tiket satu kali penerbangan saja. Ya…meski ada layanan reschedule, sih.
Alasan lain, kenapa harus menggunakan Traveloka, sih?
Alasan yang paling bikin gemes yaitu karena aku terlanjur nyaman dengan pelayanannya Traveloka. Apa lagi yang dicari kalau kenyamanaan sudah dalam genggaman, coba? Belum lagi, aku bisa membandingkan harga antar maskapai hanya dengan satu aplikasi. Penawaran promo pun kadang cukup membuatku gila karena betul-betul bisa jadi murah banget.
Satu hal yang menjadikan aku makin nyaman memesan tiket pesawat di Traveloka yaitu karena aku bisa melakukan reschedule. Seperti yang aku singgung di atas. Bagiku, ini seperti asuransi. Apalagi aku kerap dimintai tolong teman dan saudara untuk memesan tiket pesawat. Rasanya ada ketenangan tersendiri dengan adanya layanan reschedule.
Kuta Mandalika, Lombok. Ini cocok buat bermain sama si kecil…
Bisa dibilang, Ibra memang suka malas kalau harus mengurus pemesanan tiket dan akomodasi untuk kebutuhan travelingnya. Tapi kalau diminta menyebar virus traveling, dia jago banget! Sama halnya dengan mama Karla dan Mama Minta Piknik.
Dan pada akhirnya…
“Dengan siapa kamu bergaul, paling ngga kamu akan mendapat pesonanya. Meski dapatnya hanya tipis-tipis.” Ini bukan quotes, apalagi kata mutiara. Aku cuma lagi merasa kena sedikit pesonanya Ibra, dan Duo Mama yang pada suka traveling dengan budget tipis-tipis.
Ps: Foto-foto destinasi Pantai di Lombok aku dapat dari Mama Minta Piknik. 😉
Apa jadinya Traveling tanpa membawa camilan? Bagi kami, hambar rasanya. Apalagi kami tipe keluarga yang suka ngemil. Ngga harus menunggu dapat tempat istirahat yang mewah untuk sekadar ngemil. Terpenting kami bisa duduk dengan nyaman.
Urusan camilan bukan perkara tentang mengganjal perut saja. Saat di tengah perjalanan merasa lelah, camilan bisa menjadi pelampiasan. Eeeeh…ini gimana caranya melampiaskan rasa lelah pada camilan, ya? Hahaha. Duduklah barang lima menit, keluarkan camilan dari kantong doraemon dalam tas, lalu nikmati bersama. Tenaga pun pelan-pelan akan kembali fit. Seperti akhir pekan lalu saat piknik ke Curug Pitu, tenaga kami kayak tinggal seperempat dari tenaga baja. 😀
Yuuk ikut bayangin, ya. Bahwa Curug Pitu ini tipenya berundak di mana urutannya yaitu dari bawah yaitu Curug Pitu sampai puncaknya yaitu Curug Satu. Curug dengan debit air paling deras adalah Curug Pitu. Sebenarnya kami ngga perlu naik lagi untuk menikmati Curug dengan debit air tertinggi karena ada di paling dasar. Tapi karena Suamik meyakinkan aku bahwa, view curug-curug di atasnya ngga kalah eksotis, aku pun mengekornya.
Uluwwluuw…ternyata untuk sampai sumber air atau curug satu, kami harus melewati jalan setapak, terus menanjak dan itu jalan masih alami alias jalan dari tanah, gitu. Pokoknya mirip ular tangga. Ngga terus menanjak dan ngga ada habisnya. Lempohto de max! Asli. Beruntungnya, kami membawa camilan favorit. Tiap napas mulai ngos-ngosan, ini lah alarm bagi kami untuk menggelar tikar dan menikmati camilan. 😀
Basah-basahan di Curug Pitu…
Mungkin dari kalian ada yang nyeletuk, kalau sudah seperti ini, masuk mini market bakal beli banyak jajan, dong? Jawabannya adalah ngga mesti. Karena camilan yang kerap kami makan termasuk jenis camilan yang tahan lama. Tapi bukan tahan lama dalam jangka satu tahun, lho.
Nah, berikut 3 camilan favorit yang sering kami bawa saat traveling.
1. Buah
Apel dan Pisang. Dua buah ini andalan banget. Ngga peduli di kulkas tinggal satu, pasti aku bawa. Gimana kalau stok pas habis? Beli, dong. Tapi biasanya cuma beli tiga biji Aple dan lima biji Pisang. Entah lah, ini namanya ngirit atau apa. Terpenting kami bahagia. 😀
Kenapa milih Apel dan Pisang? Kan masih banyak jenis buah?
Emm…maksudnya Anggur, Melon, Semangka, Pepaya, atau Pir, gitu? Kebetulan yang semua doyan adalah Apel dan Pisang. Lainnya, hanya aku yang doyan. Anggur, Kecemut belum doyan. Pir, aku dowang yang doyan. Jadi yaudah, pilih yang pasti-pasti aja deh, biar cepat dikawinin. 😀 Pertimbangan lain, dua buah ini paling aman ditaroh di dalam tas. Ringan pula.
2. Keripik
Ini seperti wajib. Keripik pisang adalah favorit kami. Camilan yang paling banyak dibawa pun keripik. Kalau kira-kira bakal lama di lokasi, atau jarak tempuhnya cukup jauh, aku biasanya bawa dua toples. Hahaha. Ya gimana lagi, keripik pisang ini ampuh banget mengalihkan rasa pegal-pegal pada kaki atau napas ngos-ngosan kek dikejar pacar selingkuhan. 😛
Nglemporok buat ngemil duluu…
3. Roti
Udah bawa pisang, masih bawa roti? Oooo…jelas! Ini juga ngga kalah penting, Sist. Sebenarnya camilan ini khusus buat Kecemut, tapi karena roti yang aku bawa tuh roti kekinian, orang tuanya pun kadang ikut nyempil.
Lalu, roti apa yang dibawa?
Andalan kami yaitu Selai Olay dan Kue Nastar. Tapi jangan dikira kami bawanya pakai toples kayak bawa keripik, ya. Kami selalu bawa yang kemasan. Ringan, bukan? Apalagi yang kemasan isi paling tiga biji. Ngga bikin berat gendongan. 😀
Traveling dengan membawa camilan dari rumah sama sekali ngga membuat kami kerepotan. Apalagi itu camilan serba beli. Kalau lagi mood, kadang aku menambahi dengan camilan home made seperti Puding, Pisang Goreng, dan Mendoan.
Karena makanan termasuk kebutuhan Traveling, maka aku harus menyiapkannya meski di sekitar obyek wisata kadang ada warung yang menyediakan jajanan. Setidaknya buat jaga-jaga dikala lelah menyapa. 😛
“Waaaah…Telaga Merdada cantik banget! Tapi, kok, seperti ngga ada aktivitas di sekitar Telaga, ya?” Batinku kala itu saat berada di kompleks Candi Wisanggeni, Candi mungil yang ada di Bukit Pangonan. Dan ketika aku tanyakan kepada tukang parkir dekat Museum Kailasa, memang jarang ada aktivitas di sana. Paling hanya para Petani yang menggarap ladang, dan segelintir Pemancing di tepi telaga. Itu pun ngga tiap waktu. Tapi itu dulu, dua tahun silam.
Bertepatan dengan event Merdada Back to Nature, yaitu pada akhir bulan Oktober 2017, Telaga Merdada resmi menjadi destinasi wisata baru di dataran tinggi Dieng. Karena mengusung tema back to nature, obyek wisata ini betul-betul alami. Ya, selain digunakan untuk pengairan ladang para petani setempat, telaga terluas di Dieng dimanfaatkan untuk wisata. Dalam hal ini, Pokdarwis Desa Karangtengah membuat aktivitas di Telaga dan sekitarnya. Salah satunya yaitu Kayak atau Kano.
Kayak adalah sebuah perahu kecil bertenaga manusia. Biasanya dengan bagian depan dan belakang tertutup, sehingga hanya menyisakan lubang seukuran awak dilengkapi dengan dayung dan berkepala tunggal atau ganda. Pun di Telaga Merdada yang berlokasi di Desa Karang Tengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Kayaknya sudah modern, ngga lagi menggunakan kayu, melainkan bahan dari material lain yang entah itu dari plastik atau apalah aku ngga paham. Hahaha.
Menuju tengah telaga…
Pengalaman Pertama Kali Kayak.
Aku hampir merasakan Kayak di Situ Patenggang, Bandung. Hanya saja, kala itu di sana masih menggunakan kayu. Tapi sayang banget, keluar dari Kawah Putih hari sudah petang. Aku pun gagal ketemu mas-mas ganteng yang katanya mirip Nicholas Saputra versi instruktur Kayak. 😆 Makanya, ketika ada kesempatan untuk nyobain Kayak, aku langsung nyari teman buat duet! Hahaha.
Akhirnya…bersama teman-teman Blogger dalam acara Famtrip Banjarnegara yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, aku berhasil menikmati Kayak sampai tengah telaga dengan luas mencapai 18 hektar. Ya…meski saat itu kabut sedang tebal-tebalnya, bagiku ngga masalah. Karena pengalaman baru itu lebih penting! Uuwh…keprokin, dong. 😆
Dayung-dayung pose falsu… 😀
Dududuh…kenapa jadi sombong, ya. Padahal waktu itu aku main Kayak bareng Mas Topan. Ya, aku memilih Kayak berkepala ganda karena memang ngga punya keahlian mendayung. Mendayung di air yang tenang, tuh, ngga semudah mendayung saat di Sungai Serayu. 😛 Kataku, Kayak membutuhkan tenaga yang cukup ekstra karena hanya mengandalkan dua atau satu peserta saja. Padahal sebenarnya mendayung dengan santai pun bisa. Malah katanya lebih tenang dan bisa bermain-main sesuka hati. Tapi dasarnya emang penakut, melihat dayung tertidur di atas Kayak saja keringat sudah bercucuran. 😆
Aku merasa beruntung karena dapat partner Mas Topan yang jago main Kayak. Di atas Kayak, aku cuma sok pura-pura mendayung. Padahal, jelas-jelas kekuatan dayung ada di Mas Top. Aku hanya sesekali saja mengikuti perintah Mas Top untuk dayung samping untuk memutar balik Kayak. 😀 Sebenarnya dia pingin naik Kayak sendiri, lho. Tapi karena aku pingin ngerasain Kayak juga, terpaksa dia mau jadi partnerku. Kasihan sama Ibu satu anak ini. 😀
Single kalau udah canggih mah ngga bikin baper… 😀
Di sini juga tersedia Kayak single, lho. Jafi kamu yang masih single ngga usah beesedih, ya. Masih banyak temannya. 😆 Buat kamu yang udah lihai mendayung atau hendak mencari ketenangan, coba saja Kayak dengan kepala tunggal. Aku melihat Mas Pras dan Mas Ojo mendayung sendirian, tuh, kelihatan asyik banget. Nyamperin para Petani yang sedang istirahat di ladang, dan para pemancing yang dengan sabar menunggu umpan. Betul-betul sampai tepi banget. Asyik, bukan?
Mungkin Ini Ketakutan yang Muncul Saat Akan Kayak.
“Kayak aman ngga? Gimana kalau air pada masuk? Kira-kira tenggelam ngga?” Kayak aman, asal terus didayung. Soalnya kalau ngga didayung, kamu ngga akan merasakan asyiknya kayak. Iya, masak sudah di atas Kayak, bawa dayung, tapi cuma diam saja di tengah telaga, kan cubangets. Apalagi kalau sendirian. 😆 Terus nih, memang ada kemungkinan air masuk ke dalam Kayak. Tapi tenang karena yang masuk itu ngga berlebih. Ngga sampai menimbulkan tenggelam. 😀
“Gimana kalau nanti Kayaknya terbalik karena kesalahan sendiri?” Ini pikiran jelek yang muncul di awal-awal saat melihat luasnya Telaga. Buat kamu yang punya pikiran sama dengan aku, bisa banget minta tolong sama tim yang ada di situ untuk menjadi sopir Kayak. Seperti aku yang saat itu ngikut Mas Topan. Posisi aku di depan, tapi jarang mendayung. Dan itu ngga masalah, asal salah satu ada yang bisa mendayung. 😆
Nyelfiee… 😛
“Lalu, gimana kalau tiba-tiba di depan ketemu ular atau buaya? Kan ngeriii.” Nah ini, kamu harus tenang kalau punya pikiran semacam ini. Lagi-lagi aku menyarankan untuk mengjak tim atau teman-teman Pokdarwis Desa Karangtengah yang standby di tempat untuk menemani kamu keliling Telaga Merdada yang memesona.
FYI, di telaga ini banyak terdapat berbagai macam fauna seperti Burung Belibis dan Jalak Sungu. Di sekitar telaga juga terdapat agro Kentang, Carica dan berbagai macam sayuran. Sesuai slogannya, kan, back to nature!
“Aku ngga bisa mendayung. Ngga punya tenaga karena keburu habis buat mikirin mantan pacal yang bentar lagi nikahan.” Mungkin ini ketakutan terakhir. Tenaaaang tenaaang, ini ngga masalah karena dengan membayar Rp 50 ribu, sudah termasuk pendampingan instruktur. Pilih Kayak yang isi duaaaaaa, yaaaa. 😀
Ini Alasan Kenapa Kalian Musti Nyobain Kayak di Telaga Merdada.
Selain suguhan alam sekitar telaga yang memikat, mungkin empat alasan ini cukup menguatkan kenapa kamu harus mencoba Kayak di Telaga Merdada.
Akses Mudah. Lokasi telaga cukup dekat dengan Kompleks Candi Arjuna, yaitu kira-kira 3 km, artinya Telaga Merdada mudah dijangkau. Iya, secara wisatawan kalau Dieng sebagian besar singgah di kompleks Candi Dieng. Makanya, lokasi ini mudah ditemukan. Aksesnya pun cukup mudah, termasuk jalan menuju telaga.
Biaya Murah. Satu Kayak dibanderol Rp 50.000. Eeeh, ini bukan jualan. Maksudku, kalian cuma bayar Rp 50.000 per Kayak. Kalau lagi pingin ngirit, kalian bisa nyobain Kayak yang dua kepala, lho. Kan bayarnya jadi dibagi dua. Hahaha. Dan Rp 50 ribu ini sudah termasuk tiket masuk senilai Rp 5 ribu dan kuliner yang bakal bikin kangen.
Kulinernya bikin kangen! Jadi, dengan bayar Rp 50 ribu, tuh, udah termasuk makan. Dan paket makannya adalah Nasi Jagung, Ikan Asin, Tempe Kemul dan Urab. Uuuhw…niqmad banged, kan? Sayangnya, package nasi jagungnya dimasukin plastik. Coba kalau dibuntel menggunakan daun pisang, ya. Sepertinya tambah enak! Dan daun pisang ini bisa sekalian buat alas makan. Ennnaaaaq enaaaq terus pokoknya!
Jaminan Bisa Ngga Basah! Yes, jaminan banget, apalagi bagi kalian yang ngga bawa atau minim baju ganti. Kayak itu ngga harus basah, kok. Ngga seperti arung jeram. Sebelum naik Kayak, air yang masuk atau membasahi tepat duduk bisa dibersihkan terlebih dahulu dengan dilap menggunakan kanebo. Aku sama Mas Topan aman, lho. Celana dan baju ngga basah sama sekali karena memang berusaha untuk ngga basah. Main dayungnya pun pelan-pelan. 😉
Omong-omong, fasilitas pendukung seperti tempat makan warung kopi, di sini belum tersedia. Kamu bisa beli jajan dulu di mini market kalau perlu, ya. Halaman parkir persis di depan Telaga pun belum begitu luas, tapi sih bisa buat parkir mobil, mini bus, dan sepeda motor. Dan kalau pingin buang hajat, kamu musti jalan kurang lebih 300 meter karena letak Toilet ada di sebelah kanan telaga.
Oiya, di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, sudah terbentuk Desa Wisata dan mempunyai cukup bayak potensi wisata. Kalau kalian ke Dieng, coba mampir ke Desa Wisata Karangtengah, ya. Selain Kayak, kalian bisa nyobain Trekking keliling Telaga Merdada, Camping di Bukit Pangonan, Camping di Sekitar Telaga, Memancing, Wisata Agro, atau Melihat Batuan Andesit. Sementara untuk potensi lain, aku belum mencari tahu. Mungkin next time. 😉
Sudahkah kalian siap nyobain Kayak di Dataran Tinggi Dieng? 😉
“Tahun ini, aku betul-betul ingin kembali aktif ngeblog di blog ini, khususnya. Niatnya, sih, update seminggu dua kali. Hari lain, aku gunakan untuk update blog Kecemut dan Curhatan Kerja. Blog CERIS Wisata dan CERIS Tekno, karena sudah dibantu update sama Om Arman dan Tante, sedikit woles lah, ya. Hahaha. Doakan bisa kembali rutin ngeblog dan blogwalking ya, Temans!”
Tahun ini, 2016. Ya, petikan paragraf di atas aku ambil dari resolusi aku di tahun 2016. Sebuah keinginan atau bisa dibilang resolusi telah tertulis kala itu. Awalnya sudah kayak pejabat yang tiap harinya punya agenda kerja padat. Dari tanggal muda sampai tua, sudah tertulis jadwal buat ini itu. Dan lagi-lagi, implementasinya jauh dari apa yang sudah aku tulis. Meski tiap bulan sudah membuat jadwal untuk update blog, sampai pada waktunya eksekusi, ada saja kendala. Malas, misalnya. Atau alasan klise seperti ngga punya ide, mau nulis apa, dan capek. 😆 😆
Dan aku setuju banget dengan Mak Summayah bahwa, baiknya melakukan refleksi dulu sebelum resolusi. Ini yang menjadi tema #KEBloggingCollabkelompok Najwa Shihab.
Iya, rasa-rasanya kurang adil kalau harus terus-terusan menuliskan resolusi tiap tahun tanpa diimbangi dengan refleksi. Entah itu resolusi baru, atau resousi lanjutan dari tahun kemarin. Evaluasi, tuh, penting banget. Ya ngapain bikin resolusi muluk-muluk untuk rajin update blog atau Blogwalking, kalau pada kenyataannya masih nyaman scroll feed Instagram atau chit chat. Parahnya, aku masuk zona tersebut. Zona aman mentelengin Instagram dan terlalu asyik ngobrol sama teman lewat chat. 😀 Setelah kembali evaluasi, sebenarnya alasan punya bocah kecil, tuh, ngga begitu berpengaruh. Tapi tahun kemarin, itu aku jadikan alibi. Maafkan Ibu ya, Nak. 😉
Si Kecil asyik dengan dunianya… 😀
Alibi ngga hanya sampai pada si kecil, pekerjaan yang semakin menumpuk pun aku jadikan kambing hitam kala itu. Padahal kalau mau tahu, dalam kurun waktu satu tahun, satu pekerjaan yang aku tarjetkan bakal selesai, sama sekali ngga ada perkembangan. Aku selalu menunda-nunda untuk menyelesaikannya. Dudududuh…kalau sampai atasan tahu, aku bakal dikasih duit dua milyar. Dezeeg!
Etapi di tahun 2017, aku ngga ngenes-ngenes amat, kok. Masih rutin update blog Kecemut. Sesekali update CERIS Tekno meski sering menelantarkan blog CERIS Wisata yang sekarang berganti domain menjadi Minggatan. Selain itu, meski tarjet pekerjaan kantorku ada yang gagal, atasan tetap menambah pekerjaan untukku. Satu aplikasi dowang, sih. Tapi agaknya serius dan mungkin akan menambah jam terbang. 😆 😛 😛 #somboong
Masih di tahun 2017, ini hampir di penghujung tahun, aku kembali bisa meyakinkan Dinpar Kabupaten Banjarnegara untuk mengadakan famtrip dengan jumlah peserta dua kali lipat dari tahun lalu. Bahagia banget, kan. Apalagi dapat bonus space untuk pengukuhan GenPI Banyumasan. Kan rasanya tambah bahagiaaaaa tauuuuuk. 😆
Pengukuhan GenPI Banyumasan, sebelum Famtrip….
Sssst…btw, ada yang paling membuatku bahagia di tahun 2017. Yaitu tentang pertemanan. Iya, dari ikut acara tentang Pengembangan Pariwisata yang diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Pariwisata dan Kabupaten Banjarnegara, aku dapat banyak teman baru. Dari sini lah sekarang tiap akhir pekan, aku melakukan semacam pemetaan wisata Kabupaten Banjarnegara bersama beberapa kawan. Ada lagi yang bikin aku semangat untuk turut memajukan pariwisata Banjarnegara, yaitu tentang GenPI Banjarnegara. Ya, setelah dikukuhkan tanggal 10 Nopember lalu, sekarang sudah mulai gerak, gitu. Kan tambah semangat kalau bertemu banyak teman satu passion. 😉
Lalu, apa kabar keluargaku? Ada Bojo, Kecemut dan Orang tua! Alhamdulillaah mereka mengerti. Asal ngga Sabtu-Minggu atau hari libur kerja kepakai buat pemetaan semua, ya. Aku tetap harus menyisakan waktu untuk keluarga, khususnya untuk Yasmin. Memang, semenjak bulan Juli, aku putuskan untuk hidup dengan ART. Tapi bukan berarti aku bisa terbang bebas karena keluarga udah ada yang ngurus. Kapasitas ART, kan, membantu, ya. Jadi ngga sepenuhnya pekerjaan ditangani olehnya. Tetap gotong royong lah.
Akrab banget, ya…
Eh iya, tahun ini aku resolusiku ngga semuluk-muluk tahun lalu. Dari awal niat banget konsisten, tapi pada akhirnya ngga greget. Hahaha.
😛 Quality timedengan keluarga adalah saat sedang di rumah. Mendampingi Syaquita Yasmin tanpa pengang gadget. Menemainya bermain atau bercerita sebelum dia ke alam mimpi. Suamik? Aaaah…dia, mah, supportable apa yang aku kerjakan. Terpenting adalah kebersamaan. Berapa pun sisa waktu dalam sehari, kami berusaha untuk pacalan. #euuh #celup
😛 Update blog terus berjalan semampu aku. Apalagi sekarang Om Arman, yang ikut ngadmin CERIS Tekno, sudah kerja di sebuah Rumah Sakit Swasta. Ngga jamin bakal bisa bantu update blog secara rutin. Pun dengan Tante. Sekarang makin sibuk dengan kegiatan di Sekolah, makin banyak yang dipikiran juga. Maklum, usia terus bertambah. Hahaha. #apahubungane. Eeits, mari ngumpulin tenaga buat blogwalking lagiiiiiii! #ikatperutsekencangmungkin
😛 Pekerjaan yang sempat tertunda tahun lalu, akan segera aku eksekusi. Berhubungan lebih baik dengan atasan, atasannya lagi, atasan atasannya lagi, dan seterusnya supaya data-data yang akan aku eksekusi cepat turun! #syemangat #pantangmenyerah
😛 Mapping wisata Banjarnegara juga tetap berjalan, lho. Dan tentunya, ber-iring-an dengan kegiatan-kegiatan GenPI Banjarnegara yang insya allah juga turut mempromosikan pariwisata Banjarnegara. #gasssss
Hasil berburu…
Yasudah lah, rasanya sudah sangat lengkap harapan yang bakal aku wujudkan di tahun 2018 ini. Kalau misal masih terlihat ada yang kurang, paling kurang piknik. Belum ada rencana untuk ini, ngalir saja mau kemana. 😆 😆 Selamat tahun baru 2018 di tanggal 3 Januari, Temans! Semoga makin semangat untuk berkarya dan juga berbagi, ya. 😉 😉 Baca jugaRekam Jejak 2016. 😀
Ps. Nulis ini hasil begadang sampai jam 01.00 WIB. Asli, aku kangen begadang untuk update blog. Uuwwwh…biasanya jam 21.00 WIB udah tefaaaaar. 😆
Desclaimer: ini bukan review, hanya pemanasan saja karena aku ke sana cuma jalan-jalan dan duduk-duduk manis. 😛 😛
Ketika di kota lain memilih puncak atau dataran tinggi untuk lokasi sebuah Villa, lain halnya dengan Banjarnegara. Pemilihan lokasi yang tak jauh dari tengah kota memang anti mainstream. Hanya 1 km dari alun-alun Banjarnegara. Bisa dibilang, Villa ini sebagai pilihan alternatif penginapan yang ada di Surya Yudha Park Hotel Banjarnegara karena memang satu lokasi dengan hotel tersebut.
Villa Warna dan Villa Pelangi, namanya. Bertempat di lantai tiga, tepatnya di belakang kompleks Surya Yudha Hotel, kini telah dibangun dua Villa dengan konsep kekinian. Kalau ngomongin tentang kekinian, pasti kalian paham lah, ya. Sebuah konsep yang ngga bikin bosan, dan ramah buat foto-foto. Eeeeh…ini mau nginep atau mau narsis, sih? 😆
Pertama kali aku melihat Villa ini di akun Instagram Mbak Nining. Aku kira, dia lagi di Kampung Pelangi, Semarang. Sebuah kampung yang belakangan ini ngehits banget karena tiap ruas jalan dan rumah dicat dengan warna-warna cerah. Sama halnya dengan Villa ini yang mengusung tema warna-warni. Mumpung saat itu lagi duduk bareng Mbak Nining di Historia Cafe, aku bersama teman-teman GenPI Banjarnegara diajak jalan-jalan keliling Villa.
Villa Pelangi…
Dari Historia Cafe, kami jalan kaki kurang lebih tiga menit dan lanjut naik lift sampai lantai tiga. Sesampainya di lantai tiga Surya Yudha Hotel, kami melewati lorong untuk menuju Villa. Beeeuh…baru sampai pintu masuk saja, tembok warna-warni samping Villa sudah minta dilendotin. Aku bersama Ella, Mbak Atut dan Mbak Nining langsung pasrah berpose di depan dinding warna-warni. Padahal Mas Imam dan Rois belum niat memotret, mereka langsung menuju depan Villa, gitu. Dududuuh…cewek-cewek cantik sempat dianggurin sejenak.
Selain dinding warna-warni yang bikin naluri narsisnya keluar, tiap sudut Villa pun tak kalah fotogenic. Ada beberapa properti yang menggoda banget. Seperti kursi yang ada di pelataran villa di atas, bentuknya macam telur pecah, gitu. Lucuk, ya. Hihihi. Sekarang, aku kasih lihat kamar-kamarnya, ya.
Ada Pohon Salak juga, lho. . .
Pertama, kami masuk Villa Warna. Di sini terdapat empat kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam. Dapur yang ngga begitu besar, ruang tengah, dan teras yang cukup asyik buat ngobrol. Aku lihat, kamarnya luas. Pun dengan bednya, tipe large, gitu. Satu kamar bisa buat bobok ber tiga. Asli.
Dengan harga Rp 2 juta per malam, Villa ini cocok buat nginep bareng keluarga atau sahabat. Buat yang mau ngirit juga bisa, lho. Ngga harus menyewa satu Villa, kok. Satu kamar pun boleh disewa dengan tarif Rp 500 ribu per malam.
Bobok sendiri-sendiri bisa. . .Kruntelan di sini bareng keluarga kan asyique…
Kedua, yaitu Villa Pelangi. Villa ini dibagun setelah beberapa bulan Villa Warna selesai dibangun. Bedanya dengan Villa Warna, Teras Villa ini lebih luas dan dapurnya ada di samping Villa, bukan di dalam. Selain itu, di Villa Pelangi hanya menyediakan tiga kamar.
Untuk dapat menempati Villa ini, kalian cukup membayar Rp 1.500.000,- per malam. Fasilitas penunjang, sama halnya dengan Villa Warna. Televisi tiap kamar, lemari es, ruang santai, dll. Untuk fasilitas makan dll, aku belum tanya detail karena kemarin hanya jalan-jalan santai dowang. Next time, pingin nginep di sini bareng teman-teman. Merasakan atmosfer malam Villa Pelangi.
Dududuuh…ini kenapa jadi ngebayangin asyiknya menginap di Villa ini, ya. Ngadain acara buat teman-teman GenPI sambil staycation, sepertinya asyik. Ya, kaaaan? 😀