Penutupan O2SN 2018 di GOR Sasana Among Raga, Yogyakarta

Ada kebanggaan tersendiri ketika membaca berita tentang prestasi-prestasi anak bangsa. Apalagi jika anak dari daerah sendiri sampai turut menorehkan prestasi, rasa bangga pun menjadi berlipat. Seperti yang terjadi pada gelaran Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dengan tema Aktualisasi Potensi, Bakat dan Prestasi Siswa yang bertempat di Gedung Olahraga Sasana Among Raga, Yogyakarta.

Beberapa media cetak, online dan akun sosial media lokal Banjarnegara mengabarkan bahwa ada atlet dari Kabupaten Banjarnegara yang berhasil memperoleh medali di gelaran O2SN. Membaca berita ini, aku pingin mlipir ke Yogya untuk melihat dia bertanding. Namun apa daya, O2SN berlangsung selama hari kerja yatiu pada tanggal pada tanggal 21-27 September 2018. Yasudahlah, berarti belum beruntung. Gagal nonton perhelatan O2SN, namun aku punya kesempatan untuk menghadiri acara penutupan O2SN bersama teman-teman Blogger, termasuk Tante. Aaaah…kan asyik banget ada teman buat teriak-teriak manja tanpa harus malu. Lho, kok teriak manja?

Iya, acara yang dimulai pukul 18.30 WIB ternyata cukup banyak menyelipkan beragam pertunjukan yang tanpa terasa bahwa malam itu adalah acara penutupan O2SN. Salah satunya pertunjukan dari band lokal, Jasmine Akustik. Pemilihan lagu berjudul Kangen yang dinyanyikan oleh dewa 19 sukses membuatku teriak manja ikut nyanyi. Beberapa kali juga nampang di story Instagram teman-teman Blogger yang sama-sama suka dan hafal lagu tersebut. Kalau ingat ini, gokil rasanya. Hahahaha.

PENUTUPAN O2SN YOGYAKARTA (7)

Jasmine Akustik tidak hanya menghipnotis kaum 80an dengan lagu Kangen, dia juga berhasil memecahkan suasana gedung olah raga dengan mengajak para atlet jenjang SD turut menyanyikan lagu Meraih Bintang yang sempat hits selama gelaran acara Asian Games 2018.

Pertunjukan tidak hanya dari band saja, ada juga atlet Wushu dari siswa-siswi jenjang SD-SMP di Yogyakarta yang pernah mendapat prestasi baik tingkat daerah maupun nasional. Mereka memperagakan Wushu di atas panggung dengan gagah gemulai. Ada lebih dari 10 atlet yang berpartisipasi memperagakan cabang olah raga ini. Dan aku baru tahu kalau ternyata jurus-jurus di Wushu, tuh, banyaaaaaaaak banget. Salah satunya yaitu Jurus Tombak di mana tombak dijadikan alat untuk peragaan ini. Kagak gawl banget, ya. 😀

PENUTUPAN O2SN YOGYAKARTA (8)
Anak-anak naik panggung… Wkwkwk

Sebelum akhirnya diisi dengan sambutan-sambutan, paduan suara dari siswa SD Muhammadiyah Sokanandi, Selman, mengajak seluruh tamu yang hadir untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam versi penuh. Sudah lazim tiap acara resmi lagu tersebut akan dinyanyikan. Demi apa aku tidak hafal lagunya dalam versi penuh. Hahaha…memalukan. 😛

Usai menyanyikan lagu Indonesia Raya,  Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah yang mewakili Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, bersama Kepala Dinas Pendidikan, Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D., bersama Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY, Drs. R. Kadarmanta Baskara Aji, memberi cindera mata khas Yogyakarta kepada 34 partisipan dari masing-masing provinsi di Indonesia. Drs. R. Kadarmanta Baskara Aji berharap, dengan penyerahan cindera mata ini seluruh kontingen yang turut acara O2SN akan terus ingat bahwa Yogyakarta dengan segala kenyamanan dan keramahannya pernah menjadi tuan rumah O2SN.

PENUTUPAN O2SN YOGYAKARTA (5)
Pemberian cindera mata…

Acara dilanjut dengan laporan atas penyelenggaraan event O2SN oleh Drs. R. Kadarmanta Baskara Aji. Beliau menyampaikan bahwa, O2SN merupakan puncak prestasi anak-anak dari seluruh Indonesia. Tujuan diadakan O2SN ini supaya anak-anak dapat menampilkan potensi dan bakat untuk mendapatkan prestasi. Beliau juga memaparkan tentang cabang olahraga dan jumlah atlet yang ikut kegiatan O2SN. Ada 9 cabang olahraga yang digelar dalam O2SN. Jumlah atlet yang ikut O2SN tercatat sebanyak 1938  yang terdiri dari 408 siswa SD, 340 siswa SMP, 544 siswa SMA, 340 siswa SMK, dan 306 siswa SLB.

Acara makin seru ketika panitia memutarkan kilas balik kegiatan O2SN. Banyak hal-hal seru yang disorot, mulai dari persiapan, pertandingan, sampai dengan ekspresi wajah para penonton. 😆 Sorak bahagia berlanjut ketika MC mengumumkan juara umum O2SN. Mereka yang mendapat juara umum yaitu Proponsi Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, mendapat tropi.

PENUTUPAN O2SN YOGYAKARTA (9)

Pada kesempatan yang sama, Bapak Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D., juga memberi sambutan. Beliau memberi semangat dan mengingatkan kembali pada tujuan penting diselenggarakannya O2SN. Selain menggali potensi dan bakat, tujuan utama O2SN yaitu merekatkan rasa nasionalisme kepada Bangsa indonesia. Harapan beliau kepada para Kepala Sekolah dan Guru, gairahkan pembinaan olahraga agar potensi anak-anak makin berkembang. Kepada KONI, beliau berharap agar potensi anak-anak terus dipupuk sehingga nanti akan mendapat juara nasional.

Beliau juga menyampaikan bahwa, ada satu cabang olahraga yang selalu dikirim ke luar negeri, yaitu Karate. Cabang olahraga ini selalu mendapat medali emas dan perak. Tahun ini, Indonesia akan mengirim atlet Karate ke Belgia. Dengan adanya O2SN ini, beliau berharap cabang olahraga lain juga bisa meningkat ke taraf Internasional. Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya disampaikan kepada Gubernur DIY dan Kadis Dindikpora yang sudah  yang sudah mensupport, memfasilitasi, dan mengkoordinasi kegiatan O2SN sehingga acara dapat berjalan sesuai harapan.

PENUTUPAN O2SN YOGYAKARTA (5)
Sambutan dari Sri Sultan Hamengkubuwana X

Gubernur DIY dalam sambutannya sekaligus sebagai penutup acara, memberi selamat kepada seluruh atlet O2SN karena telah bertanding secara sportif. Bagi yang menerima medali, beliau berharap agar terus meningkatkan prestasinya. Sementara para atlet yang belum mendapat medali, beliau berpesan agar apat menerima kekalahan dengan sportifitas, sebagai cambuk untuk bangkit ke depannya.

Tepat pukul 21.30 WIB, acara penutupan O2SN diakhiri dengan gelaran sendratari Bekakak. Tari ini sebagai upacara adat yang digelar oleh masyarakan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Persembahan tari dari Duta Seni Pelajar DIY kembali memecahkan suasana GOR malam itu. Tari ini menggambarkan kesedihan Sri Sultan Hamengkubuwana I yang kehilangan dua abdi dalemnya karena meninggal tertimpa reruntuhan batu gunung Gamping. Sebenarnya tema tarinya menyedihkan dan ada horrornya, tapi yang aku gagal sedih karena melihat totalitas para penari. Gregeeet banget!

Sukses untuk O2SN Tahun 2018, semoga tahun depan bisa nonton O2SN barang satu cabang olahraga. Kalau bisa, sih, pas Kabupaten sendiri yang tampil. Soalnya aku dapat informasi dari beberapa teman Blogger yang kemarin sempat nonton pertandingan O2SN, katanya atlet dan juga para supporter dari Kabupaten Banjarnegara, tuh, semangat-semangat pisan. Jadi pingin ikut memberi semangat juga, kaaan. 😛

Tentang Masker Alami dan Merawat Kulit Wajah

Sedih itu, ketika berkaca dan melihat bintik hitam di wajah, tepatnya di bawah mata. Aku tidak paham, kapan bintik hitam itu mulai bertebaran di wajah. Perawatan wajah untuk hal yang satu ini, aku menggunakan peeling tiap pagi dan malam. Setahuku, peeling ini bermanfaat untuk membantu proses regenerasi sel-sel kulit. Pikirku, dengan rutin menggunakan peeling, bintik hitam nantinya akan tersamarkan.

“Aaah…terima saja. Memang sudah saatnya, kalik.” Ucap seorang teman saat aku CURHATI tentang bintik hitam pada wajah. Em…menerima tua karena usia yang terus bertambah, sih, pasti. Tapi, aku pingin wajah tetap bersih meski kulit gelap. Hahaha. Iya, udah kulit gelap, ditambah bintik hitam pula, sedihnya tuh dobel cyiiin. Asli. Ya secara, usia belum banyak-banyak amat, tapi wajah udah berbintik hitam. Kalah sama emak-emak kompleks, sudah masuk usia cantik, tapi kulit wajah masih mulus dan bersih.

Tidak berhenti pada satu teman, aku pun cerita-cerita tentang bintik hitam ini. “Kamu kan malas bersihin muka, kalau pulang kerja atau pulang dari piknik, langsung ngusel bantal. Gimana mau punya kulit bersih!” Emmm…eng…emm…baiklah, ini betul. Aku malas banget kalau disuruh bersihin wajah. Apalagi setelah piknik dan seharian kena terik matahari, paling aku hanya bersihin wajah menggunakan facial foam karena kulit wajahku ini tipikal kulit berminyak. Duuh…mendadak punya permasalahan yang serius, dong!

ASUS Vivobook Flip 14 (3)

Solusi pertama untuk perwatan kulit wajah yaitu dengan facial ke salon. Widih…tumben, ya. Hahaha. Jangan berkomentar banyak dulu, ya. Aku tidak meluangkan waktu khusus untuk ke salon, kok. Hanya beberapa kali dalam setahun. 😆 Ya, karena aku ke salon, tuh, punya misi khusus yaitu berdiskusi tentang cara merawat wajah yang berminyak dan sudah berbintik-bintiiiiiik. Wkwkwk. Sekali mendayung, nih. Sambil dipijet-pijet sama Mbak salon yang bertugas, aku banyak tanya perihal wajahku yang gelap dan penuh kusam ini. 🙁 Padahal sebenarnya ada dokter kecantikan di sini, tapi ya gitu, aku malas berdiskusi yang berkepanjangan sampai akhirnya harus beli produk ini itu. Hahaha.

 

Solusi kedua, aku tetap istiqomah menggunakan peeling untuk menyamarkan bintik hitam. Yaa….siapa tahu bisa tersamarkan. Selain peeling, aku sekarang sudah mulai rajin menggunakan face toner dan seperangkatnya. Tidak ada kata terlambat lah, ya. Meski usia terus bertambah. Iya, jawab saja iya. 😆

Solusi ketiga, aku makin rajin menggunakan masker. Kalau kata Ibuku, sih, tidak penting. Lebih penting wudhu yang rajin ketimbang pakai masker karena pengaruhnya tidak begitu banyak ke kulit wajah. *jleb banget* Tapi kalau rajin untuk dua-duanya kan siapa tahu bisa makin bersinar, ya. 😛

Masker yang aku pakai ini masker alami. Seperti yang aku pakai beberapa waktu lalu. Masker ini aku dapat dari Tante, masker khusus untuk mengangkat komedo. Iya, komedo yang biasanya harus dibersihkan di salon dengan cara dicabut dan bikin nangis, kini bisa disiasati hanya dengan menggunakan masker. Akhirnya, tidak ada drama lagi soal bebersih komedo ini. Hahaha.

MASKER ALAMI (1)

Selain masker khusus ini, aku juga lebih suka menggunakan masker alami untuk perawatan kulit wajah secara keseluruhan. Memang, sih, lebih ribet. Tapi rasanya lebih tenang karena pastinya minim efek samping dll dll. Masker alami yang kerap aku pakai seperti Masker Spirulina, masker dari madu, atau dari gula merah.

Masker spirulina merupakan salah satu masker terbaik yang bisa diandalkan untuk mencerahkan warna kulit, membantu mengangkat sel kulit mati, mengencangkan kulit, menyamarkan noda hitam, hingga membantu meningkatkan pertumbuhan sel kulit. Naah, ini memang masker alami yang paling cocok karena bisa menyamarkan noda hitam juga. Cuma nih, ya, di Banjarnegara belum ada yang jual masker ini. Makanya, aku belinya di toko online. Berbeda dengan masker dari labu atau gula merah.

Selain masker Spirulina, masker lain yang efektif untuk merawat kulit wajah dan membuatnya jauh dari tanda-tanda penuaan adalah masker labu. Labu dikenal sebagai buah yang kaya antioksidan berupa vitamin A dan vitamin C sehingga cocok digunakan sebagai masker anti penuaan. Hanya saja tidak seperti masker spirulina yang instan dan bisa langsung digunakan, masker labu perlu diracik terlebih dahulu sebelum digunakan. Tapi tidak apa, sih, karena ketersediaan labu di pasar sini cukup banyak! Aah…disaat labu itu enak banget dibuat puding, ini malah dipakai masker, ya. Hahaha.

Nah, untuk masker gula merah ini juga mujarab banget mengangkat sel kulit mati dan membuat kulit lebih halus.  Perawatan ini bisa dilakukan dua kali seminggu. Cukup menyediakan setengah cangkir gula merah, kemudian tumbuk hingga terasa agak halus. Setelah itu tambahkan 3 sdm minyak zaitun jika punya. Aduk hingga rata kemudian gunakan untuk membalur wajah. Jangan lupa bersihkan dengan air hangat.

 

MASKER ALAMI (2)

Komedo, musuh tapi mesra….

Sebenarnya ada banyak cara untuk merawat kulit wajah agar tetap sehat, terlihat bersih, dan cerah. Hanya saja faktor malas memang kadang lebih besar ketimbang faktor ingin memiliki wajah bersih. Ini aku, lho! Hiks. Tapi sekarang lebih pada kebutuhan. Ya, aku butuh wajahku ini bersih, kulitnya sehat, dan kalau bisa memancarkan sinar sampai langit ke tujuh. Hahaha.

Oiya, konsumsi makanan kaya nutrisi juga penting untuk kesehatan kulit wajah, ya. Btw, kalau kamu lebih suka masker alami atau dari produsen? Boleh dong berbagi tips tentang merawat kulit wajah agar terus bersinar. 😉

Wisata Medis Penang Bikin Hati Makin Tenang

Tahun lalu, aku cukup sering berhubungan dengan rumah sakit. Mungkin seminggu sekali aku datang ke rumah sakit untuk melakukan check up rutin kesehatan Ibu. Ibuku ini tipe orang penakut dan khawatir jika salah satu organ atau tubuhnya sedang merasa tidak enak. Meski demikian, Ibu hampir tidak pernah mengeluh perihal apa yang sedang dirasa. Sebenarnya nyebelin, tapi begitu lah Ibuku.

Selain penakut dan khawatir, Ibu paling susah untuk diajak check up rutin. Nampaknya dia seperti ada trauma. Mungkin karena pernah masuk ruang ICU selama 5 hari dan perawatan di rumah sakit kurang lebih 3 minggu. Seringnya melihat pasien lain yang kondisinya lebih buruk dari Ibu, atau mendengar kabar kalau pasien lain sudah tiada, sukses membuat iman goyah.

Aku kira hanya Ibuku saja yang takut dan susah ketika diajak kontrol kesehatan ke rumah sakit, ternyata tidak. Ada banyak pasien yang enggan datang ke rumah sakit meski hanya untuk bertemu dengan dokter, kemudian kontrol kesehatan. Selain rasa takut, pasien juga kadang malas menunggu terlalu lama saking banyaknya antrean, ada rasa jenuh, gitu.Apalagi jika pemeriksaan atau konsutlasi yang didapat tidak seimbang dengan antrean, ada ketidakpuasan pastinya. Tidak hanya sampai pada konsultasi saja, pasien juga biasanya akan kesal jika terlalu lama menunggu hasil pemeriksaan. Namanya pasien ya, ingin mendapat tindakan yang serba cepat, tepat, dan akurat jika dalam hal pelayanan.

Wisata Medis Penang
Perawatan di RS…

Sembari menunggu antrean, biasanya aku ngobrol dengan pasien lain yang juga pernah rawat inap di rumah sakit. Dari sini lah aku tahu bahwa, tidak sedikit orang yang takut untuk berobat padahal pasien paham bahwa pengobatan yang sedang dijalani adalah sebagian dari ikhtiar penyembuhan.

Membangun komunikasi yang baik antara dokter dan pasien merupakan kunci utama saat pasien melakukan check up. Dari komunikasi ini lah diharapkan pasien punya rasa percaya diri dan keinginan kuat untuk kembali sehat. Bukan sebaliknya di mana pasien justru takut karena penyakitnya sehingga makin enggan ke rumah sakit untuk check up.

Selain komunikasi, perhatian kepada pasien pun perlu ditumbuhkan supaya pasien merasa lebih nyaman saat sedang check up. Memang, dokter bukan lah motivator, dan untuk melakukan hal demikian pasti akan membutuhkan waktu lebih lama sementara banyak pasien yang antre. Tapi bukankah menciptakan suasana hati pasien lebih tenang dan nyaman juga penting?

Untuk mendapatkan semacam jaminan perawatan yang sesuai keinginan memang susah. Apalagi kinerja dokter di rumah sakit kadang dituntut untuk lebih cepat dan proporsional dalam menangani pasien sesuai standard operasional. Tapi jika ada penawaran dari medis yang bisa memberikan pelayanan lebih baik, kenyamanan untuk pasien, dan hal lain yang memudahkan pasien untuk mendapat perawatan lebih intensif, kenapa tidak dicoba, ya. Emang ada? Ada, dong!

Adalah My Medical Tourism Penang atau Wisata Medis Penang.

My Medical Tourism
Website resmi Wisata Medis Penang…

Wisata Medis merupakan salah satu opsi traveling sambil berobat. Gimana, sih, lagi sakit malah diajak traveling! Oh…no worry. Jadi begini, di Penang ada banyak tujuan wisata yang asyik untuk disinggahi (http://www.mymedical-tourism.com/about-penang.php). Sri Mahamariamman Temple, misalnya. Sebuah kuil Hindu tertua di Penang menawarkan kemeriahan ornamen budaya India kuno dengan banyak patung dewa-dewi Hindu. Kuil ini terletak di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Keling. Kuil yang menstanakan lima dewa, masing-masing Dewa Shri Vinayagar, Shri Murugan, dan Dewi Shri Mariamman (Durga dalam wujud Kali) itu dikelola salah seorang keluarga pemilik perusahaan besar Texmaco, Lila Marimutu.

Sebagian besar masyarakat Indonesia juga banyak memilih traveling ke Penang karena dirasa tidak memerlukan budget terlalu banyak. Dari sini lah, Wisata Medis berinisiatif membuka wisata medis atau pariwisata kesehatan.

Wisata Medis menyediakan jasa layanan koordinator medis yang bisa membantu kamu yang berencana berobat ke Penang. Nah, berikut jasa layanan yang diberikan oleh Wisata Medis.

Membuat janji secara online.

Di sini kamu bisa membuat janji terlebih dahulu sebelum berangkat ke Penang. Kamu cukup mengisi identitas melalui formulir (http://www.mymedical-tourism.com/appointment.php) yang telah disedikan, lalu mengirimnya. Setelahnya, kamu bisa menunggu jadwal pertemuan. Nah, jika sudah mendapat jadwal, kamu bisa leluasa mendapat pelayanan yang maksimal termasuk konsultasi. Tidak ada kata menunggu lama karena semua sudah terjadwal. Hasil pemeriksaan atau konsultasi pun bisa didapat dengan cepat.

Konsultasi opini kedua.

Perbedaan pendapat para dokter dalam mengobati pasien adalah hal yang biasa terjadi. Tetapi bila hal itu menyangkut kerugian biaya yang besar dan ancaman nyawa maka harus lebih dicermati. Begitu, bukan?Maka dari itu, sangatlah penting untuk melakukan pendapat kedua (second opinion) terhadap dokter lain tentang permasalahan kesehatan tertentu.

Jangan segan dan takut mencari pendapat kedua karena merupakan hak seorang pasien dalam memperoleh jasa pelayanan kesehatannya. Dengan demikian, diharapkan pasien akan lebih percaya diri dan optimis dengan pengobatan yang akan dijalani. Di opini kedua ini, pasien akan makin yakin karena Wisata Medis memiliki ahli radiologi berpengalaman dari Jepang yang akan mengevaluasi dan meninjau kasus kamu supaya bisa lebih yakin untuk perawatan selanjutnya.

Pencarian informasi lengkap dan komprehensif.

Sebelum sampai Penang, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mencari informasi yang akurat supaya tidak kecewa jika sampai Penang. Informasi tentang pengobatan Penang bisa dicari melalui website www.mymedical-tourism.com. Di web tersebut ada rekomendasi dokter, rumah sakit, sampai membantu rujukan kasus pasien sepanjang prawatan nanti.

Forum diskusi.

Selain informasi tentang kebutuhan selama di penang, pasien dapat berkomunikasi dan terlibat dengan orang lain yang sudah memiliki pengalaman medis pengobatan di Penang. Selain berdiskusi, di forum ini kamu bisa mengajukan pertanyaan seputar penyakit atau cara pengobatan. Berdiskusi dan belajar dari orang lain yang sudah pernah berobat ke Penang supaya mendapat gambaran ketika nantinya ke Penang.

Wisata Medis
Layanan premium dari Wisara Medis…

Bagaimana? Begitu mudah untuk mendapat pelayanan dan fasilitas pengobatan yang lebih baik, bukan? Ketika di rumah sakit mungkin hanya pasien yang aktif bertanya untuk mendapat pengetahuan tentang kasus penyakitnya, di Wisata Medis kamu akan mendapat informasi dan pengetahuan lebih, apalagi ada fasilitas second opinion. Sungguh, wisata medis penang bikin hati makin tenang. Apalagi bagi kamu yang baru pertama kali berobat ke Penang, Wisata Medis akan memberi pelayanan ekstra seperti penjemputan dari Bandara, sampai dengan mencarikan penginapan.

Sampai saat ini terhitung satu tahun lebih tiga bulan, aku sudah tidak lagi berhubungan dengan rumah sakit. Alhamdulillaah Ibuku sudah sehat wal afiat. Buat kamu yang hendak berobat atau sekadar menemai check up, ada baiknya memperhatikan fasilitas Rumah Sakit yang akan dituju untuk pengobatan. Coba buka website Wisata Medis,  siapa tahu pengobatan di sana sesuai dengan harapan. Untuk informasi lebih detail, kamu bisa mencoba kontak di bawah ini.

Wisata Medis

Telefon/WhatsApp: http://www.wasap.my/+60176685123/Halo
Facebook: www.facebook.com/wisatamedispenang
Instagram: https://www.instagram.com/wisatamedis/

Unforgettable Moments at Dieng Culture Festival 2018

Dieng Culture Festival (DCF) tahun 2018 sudah sampai pada edisi ke 9. Event yang berlangsung selama 3 hari 2 malam dari tanggal 3-5 Agustus 2018, berpusat di Lapangan Dieng Pandawa, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Meski berlokasi di kabupaten sendiri, namun aku baru bisa datang di event yang sudah masuk dalam Calender of Event Kemenpar RI ini. Hebat, bukan? 😆

Dieng Culture Festival (DCF) 2018 diselenggarakan untuk meruat anak-anak Dieng yang berambut gembal. Anak-anak ini di percaya sebagai titisan Eyang Kolodete, pembuka daerah Dieng. Tahun ini, DCF mengusung tema “The Beauty of Cultre”. Berbeda dengan tahun sebelumnya, selain ruwat rambut gembel, ada banyak acara menarik lainnya seperti Aksi Dieng bersih, Festival Tumpeng, Festival Domba Batur, Festival Caping, sampai dengan gelaran produk UMKM dan Dewa Wisata se Kabupaten Banjarnegara.

Sebagai warga lokal yang baik, aku lebih memilih untuk memberikan kesempatan kepada para wisatawan dari luar daerah untuk menikmati event yang digelar satu tahun sekali. Secara tiket DCF kan terbatas, tuh, ya. Kasihan buat wistawan yang sudah pada nabung buat nonton DCF, tapi selalu kehabisan tiket. Aah…sok bijak banget, padahal memang baru tergerak untuk menembus DCF. 😀 Ya, tahun lalu, atau bahkan di tahun-tahun sebelumnya, aku belum tertarik menghadiri DCF. Bukan, bukan karena tidak cinta apalagi tidak sayang dengan event di ranah sendiri, ini cuma tentang jodoh saja, kok. 😉

Kenapa aku sebut jodoh? Pertama tentu tentang izin dari keluarga. Alhamdulillaah mereka support penuh. Kedua, tentang teman seperjalanan yang begitu antusias datang ke DCF sembari membuat konten. Ini membuatku semangat buat ikut nonton, dong. Ketiga, sudah punya “password” lengkap untuk nonton gelaran DCF tanpa ribet. Bahagia banget ketika semua saling mendukung, sudah seperti jalan menuju pelaminan, lancar dan penuh kebahagiaan. 😉

Karena ini pertama kalinya aku nonton event DCF, ada banyak pengalaman baru yang aku dapat. Banyak moment yang sampai sekarang masih terngiang dan sepertinya akan terus dikenang, kayak kebaikan-kebaikan barisan para mantan. Ah…mantul Pak Eko! 😆

Bentar, aku mau berbagi unforgettable moments at Dieng Culture Festival 2018 yang ternyata ada 11 moments. Hahaha. Sebagai pengingat, catatan, sekaligus curhatan, keep reading without njengking, ya. 😛

😛 Mengikuti Rangkaian Acara DCF Tanpa Ribet! 😛

Dieng Culture Festival 2018 (12)
Bersantai di Kompleks Dharmasala…

Berkah dalam berkomunitas kerap aku dapat. Berkenalan dengan orang-orang baru, makin banyak teman, dan mendapat kejutan-kejutan yang tak terduga dari berkomunitas. Salah satu kejutan yang aku dapat yaitu mengikuti rangkaian acara DCF tanpa ribet.

Dua minggu sebelum event DCF digelar, ada beberapa teman yang menawarkan free akses masuk DCF. Ini wajah-wajah free banget, ya. Hahaha. Biarlah yang penting aku tidak meminta. Dengan bahagia, aku menyampaikan kabar baik ini kepada teman-teman di grup kesayangan yang hobi membuat konten pariwisata Banjarnegara. Siapa lagi kalau bukan grup GenMile Banjarnegara. 😉

Alhamdulillaah…di grup tersebut ada dua teman yang tertarik ikut nonton DCF, yaitu Ella dan Rois. Teman-teman lain ada yang tidak merespon, ada juga yang mau datang namun tidak bersama kami. Yasudah…akhirnya kami bertiga sepakat nonton DCF bareng-bareng, bahagia bareng, dan susah bareng. Ya, jalan menuju dieng tidak lurus-lurus saja, Gaees. Enak saja menuju bahagia tanpa perjuangan. 😛 Dengan kekuatan password yang telah kami terima, kami pun bisa dengan tenang ke sana ke mari mengikuti rangkaian kegiatan DCF.

😆 Nyaris Bobok di Lapangan Whitlam! 😆

Seminggu sebelum mendarat di Dieng, aku sempat berkabar dengan Mas Irham, pentolan Desa Wisata Karangtengah, Dieng Kulon. Kami janjian bertemu di Lapangan Whitlam yang saat itu ada gelaran produk UMKM dan Desa Wisata se Kabupaten Banjarnegara. Puji syukur sesampainya di sana, Mas Irham tidak dapat dihubungi. Aku sampai mendatangi stand desa wista miliknya, namun beliau sedang tidak di tempat. Ini beneran ujian. Hahaha.

Karena sampai kompleks Whitlam sudah malam, kira-kira jam 19.00 WIB, kami memilih untuk mencari makan terlebih dahulu. Ini sebenarnya sedikit trik, sih. Tiap kali ada kendala apapun di tempat wisata, aku lebih nyaman duduk dan mencari informasi lewat para pelapak yang berjualan di sekitar tempat wisata. Dan yey, jodoh datang melalui mie kuah dan segelas teh hangat! 😆

Ya, Ibu Minceu, pedagang makanan di dekat pintu masuk Whitlam, ternyata punya homestay yang saat itu posisinya masih menggantung. Wisatawan yang telah memesan homestay belum memberi kepastian kapan datang. Akhirnya, kami pun mengambil homestay tersebut dengan harga standard (Rp 200.000 per malam), namun fasilitas cukup. FYI, penginapan di Dieng saat event DCF selalu penuh. Jika ada niat menginap, ada baiknya memesan homestay tidak mendadak, sebulan sebelum event, misalnya.

😛 Suhu 3 derajat Saat Jazz di Atas Awan Bikin Mengkeret! 😛

senandung di atas awan
Tiga derajat bikin pingin pulang…

Gila…gila…gilaaaa! Badan setebal ini ternyata tidak mampu menetralisir dinginnya Dieng malam itu. Gelajar Jazz Atas Awan di panggung spektakuler DCF penuh dengan lautan manusia (ini mulai lebay). Namun, mereka tidak mampu menghangatkan! Makin malam, justeru semakin beku. Makin malam, makin pingin ngusel ketek si kecil sambil dipeluk suami.

Sebenarnya ada bara api yang disediakan oleh panitia, di sela-sela penonton, gitu. Namun belum juga bisa menghangatkan karena 3 derajatnya itu kebangetan! Aku yang biasanya bisa tahan dingin, ini mulai melemah. Beberapa kali pingin minta tolong ke suami untuk jemput, dan esoknya balik dieng lagi. Tapi kok rasanya tidak manusiawi banget, ya. Hahaha.

Jazz Atas Awan yang aku kira bakal ngeJazz berasama, ternyata tidak seindah yang aku bayangkan. Aku baru bisa menikmati yang beneran Jazz, tuh, saat si Gerhana tampil. Suaranya lembut, manja, dan jazz banget. Band lain yang tampil malam itu, entah lah. Tahun lalu pun sepertinya tidak begitu ngeJazz, ada Anji Drive kalau tidak salah. Kan jazznya tidak kental kentul, ya. Semoga tahun depan bisa beneran ngeJazz, deh. Mau band lokal atau artis ibu kota, yang jelas bisa sesuai teman, Jazz Atas Awan. 😉

😀 Tengah Malam Ndungsak-ndungsak di Pematang Sawah! 😀

Dieng Culture Festival 2018 (5)
Heboh lihat es di dedaunan…

Dieng Culture Festival (DCF) merupakan event skala nasional, bahkan internasional. Ada banyak wisatawan dari luar daerah, provinsi, negara, yang datang ke event ini. Tapi sayang banget, sayang seribu dua ribu tiga ribu sayang. Jazz Atas Awan selesai di atas jam 00.00 WIB. Meski hari berikutnya ada event yang tak kalah asyiknya, namun wisatawan memilih untuk menghabiskan acara.

Malam hari, dini hari, jalan pulang tidak dari acara Jazz Atas Awan tidak sama dengan jalan masuk yang mana melewati gerbang menuju kompleks Candi Arjuna. Setelah dikonfirmasi, ternyata gerbang tersebut telah ditutup sejak sore hari, entah tepatnya jam berapa, aku lupaaaaaaaaaa! Warga lokal macam aku, ndungsak-ndungsak alias jalan di atas semak-semak ladang, sih, tidak masalah meski dalam hati sedikit menyangkan. Tapi untuk para wisatawan, aku merasa kasihan. Apalagi bagi mereka yang tinggal di tengah kota dan jarang ke ladang. Mungkin bukan eksplorasi yang didapat, kaki sedikit lecet saja bisa jadi masalah. Hahaha.

Buat evaluasi saja untuk tahun depan, diberi petunjuk jalan supaya lebih aman dan wisatawan nyaman. Pembawa acara bisa memberi himbauan atau pengumuman terkait pemakaian ruas jalan karena saat wisatawan pulang tidak bisa menggunakan jalan yang sama. Pun dengan pihak keamanan, atau panitia yang di lapangan lebih siap lagi. Membawa senter atau alat penerang lain karena lewat semak-semak ini gelap, gaes. Seperti jodoh yang tertukar, menakutkan. 😆 Tapi ada hikmahnya, sih, ndungsak-ndungsak gini, jadi bisa melihat bekuan es di dedaunan. Hahaha.

😉 “Salju” di Dieng itu Tidak HOAX, Bung! 😉

Dieng Culture Festival 2018 (4)
Bukan motorku, tapi bahagia bisa lihat seperti ini….

Kamu pasti sudah tidak kaget lagi dengan salju di dieng, ya. Banyak media yang mengabarkan tentang ini. Sudah melihat dan membaca berkali-kali di media online tentang fenomena ini, tapi pas melihat bekuan es di atas sepeda motor, rasanya takjub. Apalagi saat kaus tangan aku lepas, dan aku menyapunya, rasa-rasanya tidak percaya jika di Dieng bisa ada “salju” seperti ini.

Masyarakat sekitar menyebutnya mbun upas atau embun upas. Embun ini antara berkah dan musibah. Berkah karena ternyata ada banyak wisatawan yang datang ke DCF hanya karena ingin menyaksikan langsung fenomena mbun upas. Menjadi musibah bagi warga setempat karena sayuran yang tumbuh di dataran tinggi dieng nyaris gagal panen karena hadirnya mbun upas. Layu, kering, kisyut, keriput, njiprut. 🙁

😉 Makan Enak di Pamit Ngopi Kompleks Soeharto Whitlam. 😉

Setelah beberapa kali menikmati mie, bakso, ayam goreng, yang kurang menggoyang lidah dan cukup bikin kenyang saja, akhirnya di hari kedua aku bisa menikmati masakan yang bikin kenyang dan cocok di lidah. Testimoni ini bukan hanya aku saja, lho. Ella yang pada dasarnya susah banget adaptasi dengan makanan, dia bisa menikmati masakan di sebuah warung yang dekat dengan pintu masuk Whitlam.

Meski tidak terdokumentasikan saking menikmatinya makan, aku merekomendasikan Pamit Ngopi sebagai rumah makan yang layak kamu coba ketika berwisata di Dieng, khususnya di kompleks Candi Arjuna. FYI, warung pamit ngopi yang kami coba yaitu yang lokasi di dekat gerbang Whitlam, ya. Bukan yang di tepi jalan raya karena ada dua warung pamit ngopi. 😉

😀 Joget bareng Letto, Bahagianyaaaaaaaaa! 😀

Jazz Atas Awan Letto

Kocak juga orangnya si Noe…

Kita semua tahu kalau jenis musik yang dipersembahkan Letto Band adalah Pop & Rock. Penggemar Letto yang datang di acara Senandung Negeri di Atas Awan pasti tidak ada yang menyesal. Penampilan Letto saat sukses bikin pengunjung bahagia. Entah bahagia bisa mendengar suaranya langsung, melihat parasnya langsung, atau bahagia karena bisa nostalgia karena lagu-lagu yang dibawakan, nostalgia atas lagu kenangan zaman semono. 😆

Selain suaranya yang bikin nyaman, aku bahagia melihat cara Mamas Noe, vocalis Letto, menyapa para penggemarnya. Dalam keadaan nafas ngos-ngosan, dia menyempatkan diri untuk mengajak fansnya untuk turut naik ke panggung dan bernyanyi bersama. Suasana malam itu makin pecah ketika Letto menyanyikan lagu berjudul Sandaran Hati dalam versi dangdut! Ulala…aku pun turut berdiri, dan joged-joged bareng. Serasa belum punya Kecemut. Hahaha.

😛 Pesta Lampion Tanpa Membeli Lampion! 😛

Berjalan dari gerbang masuk kompleks Candi Arjuna menuju venue pesta lampion, ada banyak penjual lampion. Ya, panitia tidak memasukan lampion ke dalam include tiket DCF.  Wisatawan diberi kebebasan untuk membeli kepada siapapun yang berjualan, setahuku. Satu lampion dijual dengan harga mulai dari Rp 8.000 per biji. Makin malam, harga lampion pun makin mahal, ada yang menjual dengan harga Rp 20.000 per biji. Buat kamu yang akan ke DCF tahun besok, mending belinya lebih awal saja, lebih hemat. Hahaha.

Hadir di acara Senandung Negeri Atas Awan di mana ada pesta lampion juga, aku bersama ella dan rois cukup tergesa-gesa. Ada ketakutan sudah masuk karena saking banyaknya wisatawan yang hadir malam itu. Ya, mungkin bisa dua kali lipat dari acara Jazz Atas Awan. Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali mau membeli lampion, namun tidak jadi. Pikirku, di sekitar lokasi pasti banyak yang jual. Eh…sesampainya gerbang masuk, ternyata tidak ada yang berjualan. Ingin rasanya balik lagi, tapi tidak sanggup karena jalanan mulai ramai.

“Duuh…gagal bikin konten pegang lampion, dong!” Batinku malam itu. Tapi takdir berkata lain. Jodoh kembali datang, bertemu dengan pasangan-pasangan baik, menawarkan untuk jepret foto, akhirnya aku bisa dapat konten pegang lampion. HAHAHAHA. Ini terniat banget modusnya, ya. Tapi asli, kasihan banget barisan para pasangan yang datang malam itu dan pada sungkan minta tolong untuk difoto. Jauh-jauh ke Dieng, lho. 😀

😆 Ada yang Tepar Saat Perjalanan dan Aku Biasa Bae. 😆

Dieng Culture Festival 2018 (9)
Udah ngga macet banget…

Ini konyol banget! Tidak ada rasa was-was, aku masih bisa unggah foto dan video ke story, padahal ada anak orang yang tepar di depanku. Hahaha. Ella, kasihan banget anak satu ini. Jonesnya keterlaluan. Bukan, bukan aku tidak peduli dengan keadaan dia, lho. Ya…gila saja membawa anak orang yang saat itu kondisinyam emang belum 100% sehat, sedang dalam masa penyembuhan, gitu. Kalau ada apa-apa, pastilah aku orang pertama yang dimintai keterangan. 😀

Aku tenang karena aku merasa dia bakal baik-baik saja, dia cuma butuh istirahat. Di sepanjang perjalanan pulang menuju homestay usai acara pesta lampion, dia sudah kelihatan lelah banget. Ya…meski sebelumnya baru jingkrak-jingkrak sama Letto. Mungkin karena melihat kemacetan yang luar biasa, dia ikut macet otaknya. Liat orang dan kendaaan berlalu lalang, BLUR bokeh. 😀 Akhirnya, aku memutuskan untuk memarikirkan sepeda motor di depan Museum Kailasa, melipir ke warung-warung yang ada di sekitarnya, dan minta tempat untuk istirahat si ella.

“Aku butuh berbaring, aku cuma butuh tidur sebentar”. Katanya, sambil nangis dan minta gendong. 😛

😉 Melihat Lebih Dekat Prosesi Ruwat Rambut Gembel. 😉

Dieng Culture Festival 2018 (8)
Lihat ginian saja sediih…

Berkat tongfang, aku bisa melihat dari dekat prosesi ruwat rambut gembel. Sekali lagi, berkat tongfang password yang telah kami simpan, akhirnya bisa melihat dedek-dedek yang siang itu diruwat. Kami duduk tepat di samping panggung acara. Aku merasa beruntung ketika melihat ke belakang, ternyata banyak banget orang yang menyaksikan prosesi ini. Banyak juga yang tidak bisa masuk ke lokasi ini karena terbatasnya tempat dan mungkin harus menjadi peserta DCF. Makanya, buat kamu yang berniat hadir di event DCF, mending beli tiket, ya. Supaya bebas berkelana.

Proses ruwat rambut gembel menjadi puncak acara DCF. Acara ini diawali dengan kirab, kemudian anak berambut gembel yang telah masuk daftar ruwat, diruwat satu per satu. Ruwatan ini begitu unik, tiap anak gembel yang hendak diruwat, mereka mengajukan permintaan apapun sesuai dengan keinginannya saat itu. Permintaan murni dari si anak gembel, tidak ada paksaan, atau rekayasa. Tahun ini, ada 12 anak gembel yang diruwat dan semuanya adalah perempuan. Aku melihat ada kesedihan di wajah orang tuanya saat melihat anaknya diruwat. Entah karena apa, yang jelas seperti kehilangan. Lain halnya dengan dedek-dedek yang diruwat, mereka justeru telihat bahagia. Wajah polosnya seakan berbicara bahwa, “aku bakal punya ini itu setelah nanti diruwat”. Sepertinya, sih. 😉

😛 Take Video Bapak Gubernur dan Bapak Kadisporapar Propinsi Jawa Tengah. 😛

Konten GenPI
Emm…agak sengak nih Bapaknya! Wkwkwk….

Ini di luar dugaan banget. Tidak ada niatan untuk mengambil video Pak Ganjar dan Pak Urip, tapi diberi jalan mulus untuk mendapatkan konten video ini. Jadi nih ya, Agustus lalu GenMile Banjarnegara sedang mengadakan open recruitment anggota baru. Karena ini berkaitan dengan promosi pariwisata Banjarnegara, menurutku tidak ada ruginya minta tolong ke beliau-beliau untuk membuat potongan video yang berisi ajakan untuk bergabung dengan GenMile Banjarnegara.

Tanpa pikir lama, usai acara ruwat rambut gembel, aku bersama Ella dan Gita menjadi pengikut mereka. Nguntit di belakangnya. Hahaha. Sepanjang perjalanan menuju Whitlam, aku dan Ella berusaha kontak Rois untuk pengambilan video karena dia paling jago. Tapi karena susah dihubungi, akhirnya aku memberanikan diri untuk take video. Meski hasil videonya biasa saja, tapi ada kepuasan tersendiri.

“Kamu pinginya apa?” Ucap Pak Ganjar. Belum sempat menjelaskan detail, baru bilang dari GenPI Banjarnegara, eh…Bapake wis mulai ngendikanan bae. 😆

Btw, ini kali pertama aku ke Dieng tanpa “sopir” alias mengendari sepeda motor sendiri. Ugh…dan ini juga menjadi bagian dari moment yang tak terlupakan. Malam-malam harus menembus kemacetan, perjalanan yang biasanya ditempuh cukup dengan 10 menit, malam itu nyaris 4 jam. Hampir subuh, dan masih di perjalanan menuju Desa Wisata Karangtengah, tempat menginap kami di hari kedua. Terima kasih Mas Irham. 😉

Tahun depan jangan lupa nonton DCF, ya! Sempatkan, meski sekali dalam hidup. Ada kearifan lokal, seni, dan budaya Indonesia di Dieng, yang wajib kamu tonton! 😉

Demi Apa Ketagihan Shopping Blouse!

Di antara ratusan postingan di blog ini, ternyata aku belum pernah menulis tentang fashion dan beauty yang kini makin banyak ditulis oleh teman-teman Blogger dalam bentuk review atau ulasan. Padahal aku perempuan yang mana kesehariannya pastinya sangat dekat dengan dua topik tersebut. Kenapa coba? 😉 Tidak lain karena aku perempuan yang tidak mau ribet hanya karena pakaian dan make up. 😀

Dalam keseharian pun demikian. Tidak ada yang spesial dalam fashion dan make up. Kemana saja perginya, kaus oblong, celana jeans, dan snakers, setia menemani. Make up minimalis yang penting pakai gincu dan bedak biar keliatan udah mandi. Lalala…jaga jarak, ya. 😛

Kesan tomboy telah melekat dalam diri sejak masih belia imut-imut. Selain dalam tingkah laku yang sok gagah gentlemen, penampilan pun tidak kalah simpel dari cowok pengabdi kaus oblong sandal jepit. Sama sekali jauh dari kesan modis. 😀

Meski saat ini makin banyak bertebaran cewek modis, Ibu muda dengan satu anak ini tetap memilih untuk berpenampilan simpel. Qiqiqi. Duh…tidak takut kalah saing tuh, Bund? Hahaha. Kalau dengan hal yang satu ini, tudak terlalu takut, cuma minder saja kalau misal harus dijejerkan. Tapi gimana lagi, aku sudah merasa nyaman dengan penampilan yang super simpel tanpa ribet harus mencari perpaduannya dan juga model hijab meski sudah disajikan dalam bentuk tutorial di youtube. 😀 Ini tomboy murni atau tomboy dan juga pemalas, sih? Hahaha.

 

blouse wanita simpel
nampak lebih kalem, ya. Wkwkwk

Namun melihat tumpukan kaus di lemari, lama-lama agak bosan. Beli kaus oblong, baik di online shop maupun toko pakaian, lama-lama bosan juga. Pada akhirnya aku mulai tertarik berbelanja blouse wanita model terbaru, tepatnya mulai awal tahun ini.

Tentu bukan tanpa sebab aku mulai tertarik mengenakan blouse. Pakaian atau baju bermodel longgar yang kini juga lazim disebut dengan kemeja wanita ini memberi kesan feminim bagi perempuan yang mengenakannya. Dalam hal ini, aku sama sekali tidak ingin menjadi orang lain, atau menjadi terlihat fenimin. Aku sekarang lebih suka shopping blouse karena dengan mengenakannya ada kesan lebih rapih dan sopan. Blouse wanita model terbaru yang aku beli ini modelnya juga biasa, tidak yang harus ditambah dengan aksesori ini itu. Simpel, namun luwes.

Mengenakan blouse juga bukan berarti aku mengubah penampilan dan gaya berpakaian. Bukan itu, lho. Namun lebih pada sayang kepada diri sendiri, dan menghargai diri sendiri. Emm…ini agak dalam seperti galian sumur (lagi). 😀 Berarti dulu tidak sayang sama diri sendiri, gitu? Emmm…dulu sayang, dan kini makin sayang.

Sekarang aku merasa lebih nyaman dan percaya diri dengan mengenakan blouse dengan perpaduan celana jeans. Terkesan lebih sopan, dan ramah di tubuh. Bertemu dengan siapapun tidak perlu menghindar karena malu dengan pakaian yang sedang menempel di tubuh. Ya…meski tetap menggunakan celana jeans, tapi setidaknya kelihatan lebih santun. 😆

Jadi, buat yang mau memberi kado atau hadiah, cukup kirim blouse saja, ya. Kalau bingung model atau ukuran, bisa dilihat dulu di online shop, ada banyak pilihan blouse wanita model terbaru. Kamu bisa kirim linknya terlebih dahulu supaya aku bisa pilih-pilih model. 😀

Btw, jadi pingin ootd-an, nih. Ngumpulin nyali dulu aaah! 😛

Asian Games 2018 dan Teknologi yang Memudahkan Transportasi di Jakarta

“….Dan Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah!” Dengan bangga, dan semangat aku mengucap sepenggal kata tersebut di depan kamera yang dipegang oleh Rois, Videographer andalan aku dan teman-teman GenPI Banjarnegara.

Ah…rasa-rasanya baru kemarin aku bersama teman-teman GenPI Banjarnegara membuat kolase video sebagai bentuk dukungan atas penyelenggaraan Asian Games 2018. Tak terasa, kini hampir di penghujung Juli. Artinya, Asian Games sudah di depan mata.

FYI, Pesta olahraga Asia ke-18 akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang pada tanggal 18 Agustus-2 September. Tak heran jika dua kota tersebut terus berbenah bersiap menyambut event olahraga terbesar di benua Asia. Nah, karena aku belum pernah sampai Palembang, rasanya tidak mungkin menceritakan tentang kota yang terkenal dengan kuliner Pempek itu. Makanya, aku mau ngomongin tentang DKI Jakarta saja di mana aku dulu cukup sering main ke Ibu Kota. 😀 #nyombong

Eh…masih pada sering nonton berita di teve? Jakarta sekarang ramainya makin menjadi, ya. Pada hari biasa saja, banyak orang berlalu-lalang, atau pergi pagi pulang petang baik untuk kerja, belajar, maupun sekadar main. Makanya, tak heran jika lalulintas sering macet karena banyak orang di luar, bejibun. Kebayang saat Asian Games digelar nanti, keriuhan dukungan para suporter, fans, maupun transportasi yang memadati jalan saat jam-jam tertentu.

Untuk kelancaran dan kesuksesan kegiatan, lalu lintas di Jakarta mau tidak mau harus direkayasa. Salah satunya yaitu memperluas dan memperpanjang sistem ganjil genap. Sebagai informasi, hampir seluruh negara yang menghelat event-event internasional khususnya olahraga melakukan rekayasa lalu lintas. Salah satunya yaitu Olympiade Beijing 2012 lalu.

Jika di Jakarta pengaturan hanya sebatas plat ganjil genap, Beijing lebih ekstrim karena pengaturan benar-benar berdasarkan nomer plat mobil. Misal angka 1 dan 2 hanya bisa melintas di Senin dan Rabu, angka 3 dan 4 hanya bisa Kamis dan Jumat, dan seterusnya. Tidak main-main, pelajaran dari Olympiade ini diimplementasikan bahkan setelah pekan olahraga dunia tersebut berakhir. Luar biasa usahanya dalam memperlancar lalu lintas, ya.

Lalu, kenapa Jakarta juga perlu rekayasa lalu lintas saat Asian Games 2018 ini?

asian games Jakarta Palembang
Asian Games Jakarta Palembang

Pertama, kemacetan masih menjadi masalah krusial di Ibukota dan sekitarnya. Meskipun segala upaya menguranginya terus dilakukan oleh Pemerintah, namun sejatinya ini masalah klasik yang dialami hampir semua kota-kota besar negara berkembang di dunia. Apalagi, Jakarta tengah gencar membangun infrastruktur di hampir setiap sudutnya, yang mempengaruhi arus lalu lintas.

Kedua, ada standar internasional pihak OCA (Olympic Council of Asia) yang menerapkan syarat waktu tempuh atlet ke venue sekitar 30 menit dan kualitas udara yang baik, setidaknya  mengikuti baku mutu harian menurut PP Nomor 41 Tahun 1999 adalah 65 mikrogram per meter kubik atau  baku mutu  menurut WHO adalah 25 mikrogram per meter kubik. Pasti ada pro kontra, tapi kita hampir tidak punya pilihan lain selain mengatur ulang lalu lintas. Tentu saja dibarengi penyediaan angkutan umum yang lebih memadai.

Kebijakan meliburkan kegiatan ekonomi, pastilah bukan pilihan yang bijak. Bagi yang setiap hari berkendaraan umum, rekayasa lalu lintas ini bukan sebuah masalah besar. Jika diamati, di dunia maya, netizen yang tidak mendukung berasal dari mereka yang sudah nyaman dengan kendaraan pribadinya dan terlihat tidak mengenal transportasi publik di Jakarta. Citra kendaraan umum yang kumuh, berdesak-desakan, tidak aman dan jauh dari kata nyaman, terlanjur melekat di Jakarta seperti tahun 1990an dan awal 2000an.

Transportasi publik di Jakarta memang belum sempurna, namun kita tidak bisa menutup mata, bahwa makin hari semuanya makin baik. Tentu saja perlu dilakukan penyediaan angkutan umum untuk menunjang mobilitas masyarakat akibat dari kebijakan peraturan penggunaan pribadi serta mendukung kebutuhan penonton dan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke event Asian Games.

Kebijakan ini meliputi penambahan armada bus Transjakarta ke venue sebanyak 76 unit dari kondisi existing 294 unit, penyediaan 57 unit bus dari Hotel/Mall ke Venue, penyediaan 204 bus khusus untuk wilayah-wilayah yang terdampak perluasan kebijakan ganjil-genap, serta penyediaan 10 unit bus guna keperluan non pertandingan (wisata). Menariknya, semua bus dengan trayek menuju venue akan digratiskan untuk masyarakat umum. Ini kabar bahagia banget, kaaan!

Selain rekayasa lalu lintas ganjil genap, pemerintah juga akan berusaha membuat nyaman para wisatawan hanya dengan memanfaatkan teknologi. Ya, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan menyarankan para pengguna transportasi publik untuk menggunakan Moovit.

Moovit adalah aplikasi transportasi publik yang bisa diakses dengan gratis. Untuk dapat menggunakannya, kalian dapat mengunduh aplikasi moovit gratis di google play, atau menggunakan moovit versi mobile. Dengan menggunakan aplikasi ini, kita bisa melihat jadwal kereta dan bis, serta angkutan kota. Fitur lain yang didapat yaitu kalian bisa cek waktu kedatangan, notifikasi tujuan dan rute detail di dalam maps, sehingga bisa dengan mudah menemukan rute di jakarta dengan cara paling efisien dan efektif.

Selain menyediakan menu pemilihan moda transportasi paling cepat ke suatu tujuan, moovit juga memiliki beberapa feature keren:

  • Ada notifikasi jika telah sampai di suatu halte, tujuan atau ketika harus berpindah moda, sehingga tidak perlu khawatir dan terus menerus mengecek kita sudah sampai halte mana saat berkendara.
  • Terdapat informasi jarak total yg ditempuh, jarak antar halte, maupun jarak antara satu moda dengan moda yang lain jika perjalanan harus menggunakan beberapa moda transportasi yang berbeda.
  • Terdapat informasi berapa lama kita harus menunggu suatu moda transportasi sampai moda tersebut sampai

Bagi yang tetap akan berkendaraan pribadi, BPTJ pun memfasilitasi  melalui kerja sama dengan Google Indonesia dimana Google Map telah disinkronkan dengan kebijakan ganjil genap. Aplikasi  ini akan memberikan informasi mengenai rute mana yang harus dilalui jika menggunakan kendaraan pribadi agar tidak melanggar jalur ganjil genap. Pengguna juga akan mendapatkan informasi waktu tempuh yang dibutuhkan jika melalui jalur alternatif. Jika mendapatkan hambatan, pengguna dapat berganti menggunakan kendaraan umum dan cari tahu rutenya melalui Moovit.

Kepala BPTJ, Bambang Prihartono menjelaskan tersedianya fitur tersebut bermanfaat bagi masyarakat untuk cepat mengenal perluasan kebijakan ganjil genap dengan cara yang praktis, serta mendorong mereka untuk lebih cepat beradaptasi.

Apakah kamu sudah menyiapkan diri untuk hadir dan turut memeriahkan Asian Games 2018? 

Notes: foto dan grafis di atas didapat dari Humas BPTJ, Kemenhub RI, dan Kamadigital.

Bertamasya ke Lembah Gunung Madu, Boyolali

Bertandang ke Boyolali sama sekali tidak ada niat untuk tamasnya. Aku bersama keluarga dari suami murni silaturahim ke rumah Budhe Ida, Mbaknya Ayah. Saat hendak pulang, ponakan yang jumlahnya tidak sedikit minta mampir ke Lembah Gunung Madu (LGM). 😆 Aku sih oke-oke saja, tapi sayang banget waktu kami sudah mepet banget. Ya, kami hanya punya waktu satu jam jika memang ingin bertamasya karena Mbah Kakung menjadwalkan jam 13.00 WIB sudah harus perjalanan pulang.

Awalnya hanya aku yang diminta untuk menemani mereka main karena mungkin Mbak-mbak sudah terlalu lelah. Tapi kebayang rempongnya karena Ayah saat itu tidak turut, maklum pekerja baja yang nyaris tidak punya libur. Hahaha. Jalan bersama Yasmin saja kadang suka ribet kalau mood dia lagi kurang baik, sepertinya tidak sanggup kalau harus mengawal krucils. Hahaha. Karena ada rasa penasaran juga, akhirnya Mbak-mbak ikut ke LGM, dong. Uhuuy…

Tidak ada persiapan apapun menuju LGM termasuk mencari tahu obyek wisatanya seperti apa. Kalau kata ponkanku, Ufi, tempatnya bagus buat foto-foto. “Ouw…wisata selfie ternyata.” Batinku saat itu. Dari nama obyeknya ada Lembah Gunung, berarti selfie di perbukitan, gitu. Lalu, mungkin Madu terbaik ada di daerah tersebut. Sekadar menerka-nerka, sih. Akibat tidak bisa searching karena di rumah paket data sama sekali tidak jalan. Dan hasilnya, aku baru tahu kalau di LGM ternyata ada beberapa goa setelah sampai rumah Banjarnegara dan mau menulis blog post ini. Secara kan baca-baca tulisan yang sudah publish duluan, ya. Fufufufu

LEMBAH GUNUNG MADU BOYOLALI (7)
Melewati tugu ini….

Perjalanan dari rumah Budhe menuju LGM membutuhkan waktu 20 menit. Agak tenang karena tidak begitu jauh. Sepanjang perjalanan di mobil ada yang datar-datar saja, ada juga yang ribet. Asli, nano-nano banget, tapi seru. Kebayang kalau punya banyak anak seperti Gen Halilintar pas masih pada kecil, pasti kuat segala-gala orang tua mereka. 😆

Dari jarak 50 meter menuju lokasi, terlihat jelas rangkaian huruf membentuk kata Lembah Gunung Madu. Tulisan ini berada di depan bebatuan yang sudah tersusun rapih dan tepat di samping pintu masuk. Karena tulisan dengan warna merah itu nampak begitu memesona, rasanya ingin turun di gerbang ini untuk mengambil dokumentasi. Tapi karena menuju parkiran katanya lumayan jauh, aku pun mengurungkan niat itu. 😀

Mobil yang kami naiki langsung menuju tempar parkir. Dengan arahan tukang parkir, mobil pun dapat parkir dengan tepat.

“Bayar parkirnya nanti saja saat keluar dari sini, Mbak.” Ucap tukang parkir sambil mengulurkan karcis parkir.

“Ohhh. Terus tiket masuk bisa dibeli di mana, Mas?” Aku melontarkan tanya karena di sekitar tempat parkir belum terdapat petunjuk arah untuk memudahkan kunjungan wisatawan.

“Tidak ada tiket masuk, Mbak. Cuma bayar tempat parkir saja. Rp 5 ribu untuk mobil.”

Siang itu matahari begitu terik, kami memulai perjalanan dari pintu masuk lokasi yang berada di kanan tempat parkir. Di sini belum dibangun gapura atau gerbang masuk lokasi, harus jeli mencari pintu masuk yang berada di kanan tempat parkir. Kami pun sempat salah memilih pintu masuk yang ternyata sudah tidak digunakan, namun tidak ada keterangan bahwa pintu sudah tidak digunakan.

Lembah Gunung Madu atau LGM ternyata bukan hanya taman wisata selfie. Fasilitas pendukung yang didapat lebih dari lengkap. Di sini terdapat tempat makan yang representatif dengan menu makanan yang lengkap. Ada beberapa gazebo yang bikin pengunjung nyaman. Tak hanya itu, pengelola menyiapkan semacam pendopo yang bisa digunakan untuk acara. Ya, pendopo dapat digunakan untuk acara dengan catatan makanan harus di pesan di tempat. Pun dengan pengunjung yang hanya berwisata, mereka tidak boleh membawa jajan atau makanan dari luar.

LEMBAH GUNUNG MADU BOYOLALI (5)

Anak gue narsisnya kepoleen…. 😀

Mendengar jawaban Mas Anton (sebut saja dengan nama, biar nyaman :D), aku sempat kaget karena di Boyolali sudah mulai memberlakukan wisata tanpa batas dimana pengunjung tidak dikenai tiket masuk. Aku tidak menanyakan detail apakah pemberlakuan semacam ini karena masih promo atau memang tanpa HTM. Rasanya bersyukur banget, lho. Lha gimana tidak, kami kan membawa rombongan, bukan hanya satu atau dua raga saja. Hahaha.

Taman ini terbagi menjadi dua tempat yaitu bagian atas yang berisi tempat makan, gazebo, beberapa spot selfie, dan pendaftaran untuk flying fox. Lalu, bagian bawah full spot selfie dengan background bangunan modern dan juga perbukitan. Untuk spot selfie, lebih ramah untuk remaja. Buat anak-anak, paling duduk di kolam ikan atau bangku-bangku yang di sediakan di pinggir bukit. Atau buat suka hewan, di sini terdapat aneka macam unggas. Seperti halnya di kebun binatang, unggas tersebut ada di dalam kandang. Cukup menarik untuk dilihat karena banyak jenis burung dan juga ayam. Tak hanya unggas, ada juga kambing yang berada di bagian bawah.

Kami tidak lama di sini, hanya numpang jalan dan foto-foto saja. Selain panas banget, kami juga kurang menikmati karena terburu-buru mau pulang. Mungkin satu tahun ke depan wisata ini bakal teduh karena di sekeliling ada banyak pohon yang baru ditanam dan adem banget kalau dilihat. Kami juga tidak sempat mencicipi kuliner yang dijual di warung setempat. Dalam perjalanan pulang, Budhe Wiwik dan Budhe Nunung bercerita bahwa, ponakan sempat minta beli es jeruk, tapi karena harganya Rp 10 ribu per gelas, mereka memilih membelikan mereka jajan di luar sana. Hahaha. Aku jadi penasaran seberapa nikmat es jeruk di LGM. 😀

Harga makanan yang kurang ramah kantong biasanya memang berlaku di wisata tanpa batas, wisata yang tidak memberlakukan HTM. Jadi tidak usah heran atau kaget, ya. 😉 Oiya, aku sarankan kalau mau ke LGM, tuh, di atas jam 14.00 WIB. Soalnya di bagian bawah yang sangat lapang, tuh, panas menyengat. Mau selfie pun kurang nyaman.

Nah, karena saat itu rada rempong, aku tidak begitu fokus buat ambil gambar. Sebagai gantinya, ini ada cuplikan video suasana Lembah Gunung Madu, Boyolai. Selama menonton! 😉

How To Get Lembah Gunung Madu, Boyolali?

Pindah Tidur Karena Piala Dunia, Duh!

“Wahai para perempuan di dunia, kuatkan mental kalian. Tak lama lagi piala dunia bakal dimulai. Siapkan stok sabar sebanyak-banyaknya.” Ciutan yang aku baca di timeline sukses membuatku ketawa. Ini beneran nostalgia zaman SMA, ya. *eh* Dan itu ada benarnya, kalau sampai ngga sabar dan kuat mental hanya karena piala dunia, tiap hari bakal ribut terus sama pacar, tuh. Apalagi buat tipe cewek yang tiap jam harus ditelpon, tiap ngirim chat harus segera dibalas, bakal gempar euy!

Rasa-rasanya baru kemarin di Twitter ramai ciutan tentang kesiapan para perempuan yang tak lama lagi akan sering “ditinggal” pasangannya karena Piala Dunia. Eeh…tau-tau sekarang sudah masuk delapan besar. Padahal aku belum ikut ngetawain mereka yang statusnya masih pacaran tapi ikut drama, dan keliatan lebih drama dari yang sudah bersuami. 😀

Bagi perempuan yang ngga begitu suka dengan olahraga sepak bola seperti aku, hadirnya event yang digelar empat tahun sekali ini kadang menjadi moment yang menyebalkan. Tau sendiri lah, laki kalau sudah nonton bola biasanya bakal betah duduk berlama-lama di depan televisi. Belum mulai saja sudah siap banget di depan teve. Kalau lagi semangat, belum mulai pertandingan biasanya nyiapin camilan, atau kopi buat teman nonton. Giliran selesai pertandingan, mereka masih nyempetin banget membahas hasil pertandingan bareng teman-temannya. Asli, ini pengalaman gue yang paling mengenaskan. 😀

Tentang piala dunia, aku jadi ingat sama cowok yang dulu suka minta ditemani nonton bola sampai selesai pertandingan. Grrr…ini cowok hadir sebelum Ayahnya Yasmin lahir. *sekarang udah kakek-kakek, dong.* Hahaha. Sumprit, dari sore sampai malam yang dibahas adalah pertandingan sepak bola. Paginya juga masih ngomongin para pemain yang katanya staminanya menurun lah, tendangannya ngga bagus, kurang latihan, dll dlll. Seolah-olah dia jago banget nendang bola sampai gawang, padahal ya memang jago, sih. 😛

Aku kira obrolan tentang piala dunia yang dibahas saban jam sudah menjadi hal yang paling menyebalkan. Tapi ternyata ada yang lebih menyebalkan, yaitu nonton bola di rumah teman atau tetangga yang pada akhirnya sampai menginap karena saking asyiknya nonton bareng. 😆 Ini ngeselin banget karena akhirnya gue sering ditelantarin. Banyak banget alasan yang mengharuskan dia nonton bareng. Entah saluran televisi diacak, berebut acara teve, atau alasan lain yang lebih kuat.

Eh, tapi itu dulu, zaman belum banyak ponsel pintar dan paket data. Kalau sekarang, tuh, sepertinya jarang pada nonton bareng di rumah tetangga atau teman. Para pecinta sepak bola lebih memilih nonton di rumah sendiri meski ngga seramai nobar. Kendala yang mungkin terjadi, saluran televisi diacak.

Saat ini, ada banyak cara untuk menonton piala dunia. Semisal channel televisi diacak sampai menyebabkan acara pertandingan piala dunia ngga muncul, kamu bisa membeli paket nonton piala dunia. Paket yang aku maksud yaitu paket data untuk nonton piala dunia secara sreaming. Paket data yang dijual juga terjangkau, mulai dari Rp 89 ribu langsung bisa menikmati seluruh pertandingan piala dunia tanpa batas dan ngga ada lagi cerita cowok pindah tidur hanya karena piala dunia, duuuuuuh!

Amrina Gallery, Destinasi Wisata Instagramable yang Menyenangkan

Tahun ini banyak bermunculan destinasi wisata baru di Banjarnegara. Mulai dari wisata alam yang dikembangkan menjadi wisata berbasis petualang seperti Igir atau Bukit, sampai dengan wisata belanja. Pertumbuhan dan perkembangannya pun makin pesat seakan tak ingin ketinggalan dengan pariwisata dari Kabupaten lain yang terus berinovasi.

Merasa mempunyai karakter yang unik, Bu Ina, sapaan akrab pemilik Amrina Gallery, turut membuka dan mewarnai ragam pariwisata di Banjarnegara. Amrina Gallery bisa dibilang destinasi wisata kekinian dengan konsep hampir 80% menawarkan spot foto instagramable yang saat ini sedang digandrungi para generasi millenial.

Berangkat dari hobi mengkoleksi barang-barang antik dan juga pakaian, mantan pramugari tersebut membuat galeri dan butik di rumahnya yang beralamat di Jl. Sunan Gripit No. 7, tepatnya 50 meter utara pertigaan Gayam. Ancer-ancernya yaitu dari pertigaan gayam atau lampu merah, ke utara.

Tak hanya itu, Bu Ina juga membuat cafe dengan konsep kekinian, baik dari sisi tempat maupun penyajian menu. Cafe ini masih berada dalam satu lokasi, hanya saja konsepnya out door dan didukung dengan beberapa spot foto menarik.

Nah, berikut tampilan Amrina Gallery dari berbagai sisi dan pasti akan menggugah jiwa narsis kamu.

AMRINA GALLERY

Daya tarik utama wisata Amrinya Gallery tentunya ada pada galerinya. Ya, galeri yang berisi koleksi benda-benda antik ini akan menjadi pusat perhatian saat kamu masuk kompleks Amrina Gallery. Seluruh koleksi tersebut berada di dalam sebuah joglo yang berada di belakang rumah owner.

Seperti bangunan Joglo pada umumnya, dinding-dinding rumah yang terbuat dari kayu jati ini terlihat sangat menarik. Terlebih desainnya nampak elegan dan kekinian. Dari depan joglo, galeri ini bisa dijadikan latar belakang foto yang tak ada duanya. Pun dengan samping kiri galeri, penambahan bunga dan pepohonan hijau membuat kamu bakal betah mencari konten foto di sini.

Saat masuk ke galeri, kamu akan menjumpai benda-benda antik hasil koleksi dari owner Amrina Gallery. Ada lesung, pawon yang lengkap dengan perabotan masak zaman dulu, sepeda onthel, tokoh pewayangan dan masih banyak koleksi lainnya. Di sini kamu dapat foto dengan benda koleksi yang ada sebagai properti foto, dengan catatan tetap menjaga utuh benda-benda tersebut.

FYI, galeri ini merupakan satu-satunya galeri di Banjarnegara yang menampilkan koleksi benda atik milik pribadi. Untuk masuk sini, kamu akan dikenai biaya Rp 3.000 per orang. Kamu juga bisa sewa baju lawas untuk berfoto di sekitar gallery dengab biaya sewa baju Rp 15.000 per orang.

AMRINA BUTIK

Berawal dari hobinya yang suka belanja -ini beneran horang kaya-, kadang ada beberapa baju yang dibeli tapi ngga terpakai. Ketimbang cuma jadi pajangan, Bu Ina pun membuka butik sebagai pelengkap wisata Amrina. Tak hanya baju dan kain batik koleksinya, Amrina Butik juga selalu update stok baju.

Ketika mendengar kata butik, pasti kamu akan berpikir tentang mahalnya harga baju. Ya, kan? Mungkin itu butik sebelah, berbeda dengan Amrina Butik yang menawarkan koleksi baju mulai dari harga Rp 50.000. Haaah…emang ada baju 50 ribu di butik? Eeng…ngga usah kaget, gitu. Butik ini bisa dibilang untuk semua kalangan. Pun dengan modelnya, mulai untuk remaja, sampai tante-tante yang girang shoping. Lengkap!

Berada di ruang depan, kamu dapat melihat beragam koleksi baju dan kain dengan harga terjangkau dan kualitas premium.

AMRINA CAFE

Di Banjarnegara, konsep cafe dengan tempat yang instagramable dan penyajian makanan yang unik hanya bisa kamu temui di Amrina Cafe. Penyajian Mie Kuah, misalnya. Di sini kamu ngga akan menjumpai mie kuah dalam mangkuk karena penyajiannya menggunakan Batok.

Penggunana Batok sebagai tempat saji ini ngga serta merta sebagai pembeda dalam penyajian menu makanan, namun sekaligus memperkenalkan produk UKM Kabupaten Banjarnegara tepatnya dari Desa Berta, Kecamatan Susukan yang memproduksi aneka macam kerajinan berbahan dasar batok.

Tak hanya Mie Kuah dalam Batok, Sphagetti Carbonara yang biasanya disajikan dengan plating yang elegan, di sini penyajiannya justeru lebih sederhana yaitu menggunakan piring seng motif daun khas zaman dulu. Unik, bukan? 😉

Selain penyajian, konsep tempat duduk yang disediakan, tuh, ramah banget buat foto-foto. Di sebelah selatan, misalnya. Terdapat satu set tempat duduk lengkap dengan koleksi payung dari Bali. Jika bisa mengambil angle foto, kesannya sedang makan di Pulau Dewata, lho. 😀 Lalu, di sebelah barat juga masih ada tempat duduk yang lucu banget buat foto-foto. 😉

Oiya, menu utama Amrina Cafe adalah Spaghetti. Kamu ngga usah ragu untuk memesan menu di sini karena harga yang ditawarkan sangat terjangkau, mulai Rp 10.000 per porsi. Selain Spaghetti dan Mie Kuah, kamu juga HARUS BANGET nyobain ayam petis, ya. Selain jenis ayamnya adalah ayam kampung dengan daging yang empuk, petisnya gurih banget dan bikin kangen!

CAMILAN

Buat kamu yang kurang suka makanan berat karena sudah kenyang atau berat badan sudah beraaat, kamu bisa memesan camilan di sini. Iya, ke Amrina Cafe cuma pesan camilan, tuh, ngga apa-apa karena di sini juga menyediakan aneka camilan.

Biasanya kalau ngedate, gitu, kan suka malas makan, ya. Pinginnya ngemil saja, tapi yang banyaaaaak. 😀 Kamu bisa pesan pisang goreng bertabur keju, mendoan, atau camilan lain yang tersedia di daftar menu. Harga camilan di Amrina Cafe mulai dari Rp 5.000 per porsi. Murah meriah banget!

SPOT FOTO

Ini, nih, yang lagi digandrungi kaum millenial. Adalah wisata yang menawarkan spot selfie. Selain Cafe, Butik, dan Galeri, Amrina juga menawarkan spot selfie yang ngga bakal kamu dapat di tempat lain.

Dengan konsep wisata yang kekinian, sebenarnya tiap sudut Amrina Gallery mengandung KONTEN. Iya, dari kamu masuk kompleks Amrina Gallery, di depan butik terdapat dinding yang diisi dengan berbagai jenis bunga tempel. Kemudian lanjut menuju bagian tengah terdapat mural yang didesain oleh Mas Ade, seniman muda berbakat dari Mandiraja, Banjarnegara.

Mural di sini terbagi menjadi beberapa obyek dalam satu dinding, yaitu suasana cafe, jalanan yang dilengkapi gerobak sapi, angkringan dan kucing, tugu yogyakarta, gerobak dawet ayu dan candi arjuna.

Obyek ini masing-masing memiliki filosofi, selain turut mengenalkan obyek wisata dan kuliner khas Banjarnegara, Bu Ina juga tetap menyisipkan tugu Yogya sebagai ikon Kota Yogyakarta yang mana kota tersebut turut memberi andil bagi keluarganya. Semacam ada kenangan yang susah dilupakan di kota tersebut. Pun dengan kucing yang di angkringan karena keluarga Bu Ina adalah pecinta hewan manis berkumis. 😀

FASILITAS

Kurang lengkap rasanya jika sudah mengumbar mesra hubungan, tapi ngga membeberkan tanggal akad. Iyaa…takut cuma mesra-mesraan dowang, tapi ngga dikawinin, syakiiitnyaaaaa. 😀

Ulangi lagi!

MUSHOLA AMRINA
Mushola….

Kurang lengkap rasanya jika sudah membeberkan segala obyek wisata dengan bombastis, namun ternyata fasilitas umumnya NOL! Ini kadang bikin geleng-geleng kepala. Kabar baiknya, nih, fasilitas umum seperti toilet, mushola, dan Wi-Fi yang super kenceng bisa kamu dapat di sini. Hanya saja, tempat parkirnya masih terbatas. Untuk kedepannya, semoga owner Amrina dapat memperluas halaman parkir, ya.

Disaat banyak obyek wisata mengusung tema vintage dan atau minimalis untuk bangunannya, Amrina Gallery justeru menawarkan bangunan dengan konsep lawas namun tetap kekinian. Berani menjadi pembeda, bukan?

Things to do in Banjarnegara? Lets go to Amrina Gallery!

Notes: sebagian foto di atas hasil jepretan @jeimifa dan @roisardian

AMRINA GALLERY, BOUTIQUE, AND CAFE

Jl. Sunan Gripit No. 7 (50 meter utara pertigaan gayam)

Jam Buka: 09.00-21.00 WIB

Reservasi: +62 813-3848-1633

Petualangan di Wana Wisata Baturraden

Petualangan di Wana Wisata Baturraden – “Kamu beneran mau ikut trekking dengan gendong Yasmin? Jauh, lho.” Pungky beberapa kali meyakinkan aku perihal trekking. Dia memang lebih paham medan yang akan dilewati karena cukup sering main ke obyek wisata di sekitar Baturraden. Aku pun menjadi ragu, galau, bingung, dan sejenisnya. Apalagi Suami yang harusnya sudah datang sejak jam 05.00 WIB, belum juga berkabar.

Eh bentar, ini ada drama sebelum ikut tour…

Beberapa kali aku sempat berkomunikasi dengan Suami, namun setengah-setengah karena signal di Villa ngga stabil. Antara tetap stay di Villa bareng Pungky dan Jiwo, atau ikut tour. Sungguh pilihan yang sungguh berat. Terlebih Mas Topan sempat bilang bahwa, untuk sampai ke beberapa obyek harus melewati anak tangga yang jumlahnya tak sedikit. Ugh…ini bikin deg-degan makin kencang, dan lutut lunglai seketika. Hahaha.

Dengan clue terakhir yang aku sampaikan ke Suami yaitu Bumi Perkemahan Baturraden, akhirnya dia sampai Villa jam 06.00 WIB dengan segala perjuangannya. Alhamdulillaah…satu-satunya harapan datang juga di hari kedua acara Bloggers Goes To Palawi.

Petualangan di Wana Wisata Baturraden.

Telaga Sunyi

Keseruan hari pertama aku rasakan bersama teman-teman blogger saat diajak tim Palawi menuju obyek wisata yang tak jauh dari penginapan kami yaitu Villa Agathis atau kompleks Bumi Perkemahan Baturraden. Adalah Telaga Sunyi.

Perjalanan kami tempuh menggunakan mobil dan membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit dari penginapan. Dari tempat parkir, kami hanya berjalan kurang lebih 500 meter untuk sampai Telaga. Legaaa rasanya, tanpa suami mah aku bisaaaaa. Wkwkwk

Telaga dengan air yang sangat jernih ini rekomended banget buat kamu yang suka diving dan cliff jumping. Beberapa teman Blogger yang jago renang juga pada terjun merasakan dunginnya air telaga yang punya kedalaman kurang lebih 2 meter. Brrr… 😆

Telaga yang cukup luas ini juga menyediakan ban dalam. Jadi jangan takut jika kamu ngga bisa renang. Dengan membayar tiket masuk Rp 15 ribu, kamu bisa renang sepuasnya sampai kulit keripuut. 😀

Hari kedua kegiatan Bloggers Goes To Palawi yaitu jelajah obyek wisata yang dikelola oleh PT. Palawi Risorsis Unit Wana Wisata Baturraden. Sesuai rundown, jam 5.30 WIB seluruh Blogger harus sudah menyiapkan diri untuk tour. Mbak Sista dan crew Palawi sengaja mengagendakan waktu sebelum matahari terik karena rencananya tour akan dimulai dari Villa dengan trekking melalu hutan-hutan, gitu. Namun pada kenyataannya, kami baru siap jam 06.30 WIB.

Trekking dimulai dari Villa Agathis menyusuri hutan dan nyeberang kali yang airnya surut. Beruntung Baturraden ngga hujan, akses jalan pun mudah karena tanah ngga becek. Kebayang kalau becek, ya, pacet bakal berkeliaran dimana-mana. 😀

HUTAN TREKKING
Trekking lewat hutan gini…

Trekking kali ini aku memilih jalan santai dan selalu berada di belakang bareng Tante, Ella dan Rois. Beneran sebagai kaum tertinggal karena dikit-dikit capek. Hahaha. Salut sama dua crew pendamping kami yang dengan sabar mendampingi. Yaa…meski sebenarnya ada rasa gemas pastinya. Hahaha.

Dan berikut tujuan wisata yang bikin aku lupa medan trekking saking senangnya mendapati obyek wisata yang tak biasa.

Pancuran 3 (Telu)

Ternyata untuk sampai Pancuran 3, tuh, butuh perjuangan banget. Harus susur hutan yang jauhnya serasa 3km, ini ngga berlebihan, lho. Atau malah lebih, ya. Hahaha. Selain itu, harus melewati anak tangga yang jumlahnya ngga sedikit dan terus menanjak. Ngos-ngosan banget, sampai ditawari mendoan sama Mbak Dev saja ngga bisa menerima. Padahal kan kesukaan banget. 😀

Aku baru tahu, ternyata Pancuran 3 masih satu lokasi dengan Lokawisata Baturraden, tepatnya ada di atas lokawisata. Hanya saja beda pengelola, jadi harus kembali membayar tiketing lagi untuk bisa masuk Pancuran 3. Buat kalian yang ngga demen trekking atau susur hutan, mending naik kendaraan saja menuju lokawisata Baturraden, baru lah melanjutkan perjalanan ke Pancuran 3. Dari lokawisata ini jalannya ngga sampai 1km, kok. Dekeeet bangettt!

Aliran air berbentuk pancuran yang berjumlah tiga berada di kanan kolam pemandian. Aku cukup melihat dari kejauhan karena ngga ada niat mandi di sini. Lalu, aku naik ke area kolam pemandian dan ada beberapa orang yang sedang berendam. Ini agak menggoda, apalagi di samping kolam ada Bapak-bapak yang menawarkan pijat belerang. Kan jadi pingin. 🙁

Sambil menunggu Tante yang lagi beli Pisang Goreng di warung sekitar Pancuran 3, aku mendekat ke petilasan Mbah Tapa Angin. Konon katanya, di sini salah satu tempat pertapaannya. dia seorang penyebar agama Islam yang berasal dari Turki bernama Syeh Maulana Magribi.

Tak lama kemudian, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Pancuran 7 yang katanya masih jauh banget sambil ngemil gorengan. Eeeh…kali ini udah punya napsu makan, ngga seperti tadi. Sampai minta mendoan yang saat itu ada di tangan Mbak Olip. ?

Pancuran 7 (Pitu)

Aku kira tanjakan menuju Pancuran 3, tuh, sudah termasuk ekstream. Tapi ternyata belum ada apa-apanya jika dibanding dengan tanjakan menuju Pancuran 7. Hahaha. Iyaaa…setelah susur hutan, kami kembali melewati anak tangga yang jumlahnya puluhan. Ngga langsung banyak, sih. Bertahap, gitu. Tapi tetap saja bikin ngos-ngosan. 😛

Kali ini petualangannya lebih greget karena sempat ada pacet menyerang punggung kaki, tapi aku ngga kerasa. Pas ketahuan itu beneran pacet, aku minta tolong kepada Mas pemandu untuk melepasnya. Beruntung aku ngga pakai kacamata, jadi ngga lihat pacet yang nempel di kaki. Geli banget kalau sampai lihat. 😀 Dan bekas isapan pacet langsung aku tutup dengan tisu yang aku beli di warung sebelum Pancuran 7. Iya, selain jajan dan minuman, di tengah hutan ada warung yang menjual tisue. Penjualnya berpengalaman, ya.

Pengalaman perjalanan paling mengesankan yaitu ketika sampai hutan yang bisa dibilang rest area. Di sini kami beristirahat dengan disambut sajian Badèg atau air nira dan juga serabi yang menul-menul. Setelah trekking jauh, meneguk segelas nira, dan makan serabi sungguh nikmat. Ngga hanya itu, Mbak Sista juga sudah menyiapkan Nasi yang dibungkus dengan daun jati (Nabuti) untuk sarapan kami. Mengasyikan.

Usai bersantai, sarapan, dan gegoleran di atas tikar, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pancuran 7. Ya, ternyata masih harus berjalan lagi. Bedanya kali ini treking sedikit dimanjakan. Kami dijemput mobil dari Palawi.

Untuk sampai Pancuran 7 hanya membuthhkan waktu 5 menit dari rest area tadi. Namun setelahnya kami kembali trekking dengan jalur yang lumayan. Tak masalah, sih, karena trekking kali ini juga terbayar dengan suguhan obyek wisata yang mewah. Yaitu pancuran 7 yang begitu eksotis. Aliran air hangat di obyek wisata ini membuat kami betah. Apalagi ada pijat belerang, kuliner pecel dan sate di lokasi ini. Dengan membayar HTM Rp 15 ribu, beneran dimanjakan dengan fasilitas pendukung. 😉

Sky Bike dan Hamparan Bunga Panca Warna

Eksplorasi wana wisata Baturraden hari kedua selain ke Pancuran 3 dan 7, kami juga diajak merasakan sensasi naik sepeda melayang atau sky bike dengan ketinggian kurang lebih 2 meter. Ini pengalaman pertamaku naik sepeda di atas ketinggian dan tanpa genjot. 😆

Jarak dari titik awal sepeda sampai pemberhentian kira-kira 2 meter, sungguh jarak ini terasa 1km karena di atas sepeda hanya bisa tegang dan tegang banget. Padahal operator sudah memintaku untuk rileks, tapi tetap saja susah. Teman-teman yang berada di bawah atau yang sedang mengambil dokumentasi terus bersorak ketika sedang ada yang naik sky bike. Ini bersorak bukan untuk menyemangati, melainkan menggoda. Selain deg-degan saking ngga bisa tenang, keringat dingin juga keluar. Pun operator yang mendampingi, mengantar kami sampai finish, dari bawah ngos-ngosan dan keringat gobyos!

Buat kamu yang sudah sampai kawasan wisata Palawi musti nyobain naik sky bike, supaya pengalaman wisatanya lengkap. Cuma bayar Rp 20 ribu per orang. 🙂 Setelahnya kamu bisa berfoto-foto di taman bunga yang berada dalam satu lokasi.

Taman Labirin

TAMAN LABIRIN BATURRADEN
Taman Labirin Baturraden…

Sebelum acara Blogger Goes To Palawi berakhir, kami juga menjajal obyek wisata yang lagi banyak diserbu pengunjung, khususnya mereka yang mengambil paket outbound di sini. Ya, selain Villa, dan Obyek Wisata, Palawi juga menawarkan paket olah raga outbound.

Pada sesi ini, kami terbagi menjadi beberapa tim. Games kali ini memperebutkan hadiah rahasia dari Palawi, makanya jangan heran kalau suamiku serius banget tanpa melihat isterinya yang lari ke sana sini sambil gendong si kecil. Wkwkwk Pokoknya komitmen, dan persaingan ketat. Rute taman labirin ini ngga begitu membingungkan karena sebelumnya kami sudah mencoba untuk menghafalnya. #ups Tapi cukup bikin ngos-ngosan saking luasnya taman.

Kamu bisa juga bertualang di taman labirin tanpa mengambil paket outbound. Hanya dengan membayar tiket masuk Rp 10 ribu per orang, kamu bisa kejar-kejaran dengan selingkuhan sampai puaaaas! #eh

Makan Malam dan Api Unggun

Malam hari di Baturraden, jangan ditanya dinginnya seperti apa. Villa tempat kami menginap pun ngga memberi fasilitas AC karena di sini sudah terlalu sejuk. Makanya aktivitas api unggun ini sangat cocok dilakukan di sini, apalagi ditambah suguhan jagung bakar, mendoan, dan makan malam dengan menu khas Palawi.

Selain Nabuti, Palawi juga menawarkan menu makan malam dengan lauk yang tak biasa. Ada berbagai macam menu yang ditawarkan dan malam itu kami makan dengan lauk ikan mujahir, pecak jantung, oseng dage kuncar, dan sambel terasi. Sungguh ini pengalaman pertamaku makan oseng dage kuncar dan baru tahu kalau kuncar itu sedap juga dioseng. 😀 Jyaan…orang desa tapi tetap kagum dengan menu a la desa. 😉

Makan malam berbalut api unggun ini ngga sekadar makan dan hore-hore dowang. Pihak Palawi memanfaatkan moment ini untuk berbagi informasi seputar PT. Palawi Risorsis dan Wana Wisata Baturraden. Tak hanya itu, mereka juga mengadakan sesi perkenalan sesama Blogger dan juga crew Palawi. Yaa…meski beberapa sudah saling kenal, tapi di sini perkenalannya lebih personal lagi. 😉

Oiya, paket makan malam dan api unggun bisa kamu dapat bila menginap di Villa milik Palawi. Namun dengan catatan, kamu harus request terlebih dahulu karena paket ini ngga termasuk include penginapan.

Bertualang selama dua hari satu malam di Baturraden kali ini memberi kesan yang berbeda. Banyak pengalaman baru yang aku dapat. Setidaknya aku tahu bahwa, Baturraden ngga hanya punya Lokawisata saja, tapi banyak obyek wisata yang lebih menarik dan bikin betah. Semua ini dilengkapi dengan Villa, Camping ground, MICE, dan Outbound area.

Terima kasih atas sambutan yang baik, pelayanan yang luar biasa, dan pengalaman yang berharga. Terima kasih, Palawi. Terima kasih Mbak Sista, Pak Arif, dan Mas Fajar. Terima kasih juga buat para guide atau operator yang dengan sabar mendampingi perjalanan kami. 😉

Baca juga tentang Villa Agathis Baturraden.

Notes: sebagian besar foto-foto di atas hasil jepretan Mbak Wening, Rizki, Mas Pradna, Mbak Dian dan Mas Yugo. Makasih atas foto-foto kecenya. Hug hug hug!