Kuliner Seafood Murah di Pantai Jetis, Cilacap

Kuliner Seafood di Pantai Jetis, Cilacap – Antara kaget dan penasaran, kenapa Cilacap bisa sepi wisatawan sementara tujuan wisata di sana menurutku banyak banget dan sangat beragam. Terlebih kulinernya, di sana terkenal dengan kuliner seafoodnya yang murah meriah karena banyak laut di sana. Apalagi jika belinya langsung di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang ada di beberapa pantai, dijamin tidak ada kata mahal. Eh, tapi ini katanya, sih. Karena aku juga belum pernah kulineran di TPI sana. 😆

“Jangankan extend, menjadi tujuan wisata saja sepertinya tidak masuk dalam benak wisatawan. Meski ada banyak destinasi wisata seperti pantai, kuliner, bangunan bersejarah, dan pariwisata lainnya yang bagiku sangat menarik untuk dikunjungi, Cilacap tetap sepi wisatawan.” Mas Pras mengungkapkan keprihatinannya atas minimnya antusias wisatawan untuk berkunjung ke Kotanya.

Untuk sedikit menghilangkan rasa penasaran akan apa yang telah diceritakan Mas Pras, akhir bulan Juni, aku dan tante sepakat untuk mengunjungi Kabupaten yang jarak tempuhnya tidak begitu jauh dari tempat tinggal kami, kira-kira 60km dari Banjarnegara atau 2 jam. Karena kami tidak ada rencana menginap, tempat wisata yang kami kunjungi pun tidak terlalu jauh dari kota. Bisa dibilang piknik ke Cilacap kali ini sebagai uji coba, merasakan atmosfer Cilacap yang tipis-tipis dulu. 😛

kuliner di pantai jetis (1)

Tujuan kami ke Cilacap hanya ingin ke pantai yang paling dekat dan paling mudah diakses, kemudian menikmati seafood on the spot sampai beneran kenyang. Pilihan destinasi wisata tersebut jatuh pada Pantai Jetis yang beralamat di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Yaps! Kuliner Seafood di Pantai Jetis.

Motoran ke Cilacap. Let’s go!

Jauh dari rencana yang seharusnya berangkat pukul 07.00 WIB, kami baru bisa berangkat pukul 09.00 WIB dengan mengendarai sepeda motor. 😆 Ini pertama kali aku naik motor ke Cilacap. Sebagai penikmat transportasi umum, sebenarnya aku ingin sekali naik bus atau kereta api menuju Cilacap. Namun, bus menuju Cilacap ini katanya sangat terbatas. Tidak setiap jam ada. Pun dengan Kereta Api dari Purwokerto menuju Cilacap. Ya…meski perjalanan menggunakan Kereta Api hanya 1 jam, tapi setidaknya bisa untuk melepas kangen naik kereta. 😀

Aku kira saat perjalanan menuju Cilacap bakal ada sesi istirahat di rest area karena capek berkendara, eeeh…belum merasa lelah kok tahu-tahu sudah mulai terlihat tambak udang. Alhamdulillaah merasa dekat ke Cilacap hanya berbekal petunjuk online yaitu google maps. Hahaha. Meski sudah tersedia petunjuk jalan, didukung dengan kondisi jalan raya yang bagus tetap saja kurang percaya diri. Mohon dimaklumi kalau tidak paham dengsn rute jalan, ya. 😛

Inginnya kami lewat jalan raya utama, tapi aplikasi dari google maps ini membawa kami melewati jalan alternatif. Tidak masalah, sih, karena pada akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. 😀

Sampai di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pantai Jetis, Cilacap.

Eh, ternyata Pantai Jetis ini dikelola oleh Desa Wisata Karangbanar. Aku tahu informasi ini dari karcis parkir yang di dalamnya mencantumkan pengelola obyek wisata dan juga tempat parkir. Ingin rasanya ngobrol-ngobrol dengan pemuda yang menjaga tempat parkiran, namun karena tidak ada keberanian untuk menyapa mereka, aku memilih untuk menuju TPI. Ya, setelah membayar retribusi parkir senilai Rp 5 ribu, mereka mengizinkan wisatawan mengendarai sepeda motor sampai kompleks TPI, bahkan keliling pesisir pantai.

Sesampainya depan TPI, rasa ingin segera menikmati olahan seafood makin tinggi. Tanpa pikir lama dan saking nafsunya, aku keliling pasar untuk membeli udang dan cumi-cumi. Dari kejauhan, lobster dan cumi nampak menggairahkan sekali. Aku langsung menyampaikan niat ke tante kalau aku mau beli 1 kilo untuk dimasak nanti. Bringassssss! 😆 😛 😛

“Duh…kenapa udangnya pucat kayak aku, ya?” Aku membatin sambil melirik kiri-kanan kios di mana semuanya menawarkan udang, cumi, dan ikan laut. Karena merasa kurang gereget, aku pindah lapak dengan harapan dapat menemukan yang segar-segar kayak Kecemutku kalau habis mandi. Hasilnya? Sama saja, semua nampak layu tidak menggairahkan. Hahaha.

“Mbak, para Nelayan tidak lama lagi mendarat. Belinya di TPI sana saja, lebih segar dan murah.” Seorang laki-laki yang sedang membeli udang bersama isterinya menunjukan tempat pesta seafood alisa TPI yang lokasinya bersebelahan dengan pasar ikan. Yaa….aku kira kami tidak boleh masuk TPI yang lokasinya tidak begitu luas, makanya menyusuri pasar untuk jajan seafood. 

Masakan seafood Bu Masiyah

kuliner dipantai jetis (1)

Menunggu para nelayan lumayan lama, ada 20 menit mungkin, akhirnya kami mendapat udang dan cumi segar! Satu per satu para nelayan membawa hasil tangkapannya. Dan di depan pintu masuk TPI, sudah antre para pelanggan, dong. Ketimbang menunggu lagi, kami masuk lewat pintu samping dan langsung memesan udang dan cumi berukuran sedang untuk dimasak. 😀 Btw, harga udang ukuran sedang di sini yaitu Rp 20 ribu per kilo. Sementara di tempatku biasanya Rp 35 ribu. Hanya selisih Rp 15 ribu. 😆

FYI, di Pantai Jetis ada beberapa warung yang membuka jasa memasak. Salah satunya yaitu warung Bu Masiyah. Warung yang cukup luas dan nyaman ini menawarkan beragam menu masakan seafood. Di sini, antara pedagang dan pemilik warung saling kontak. Pedagang ikan laut menawarkan beberapa warung yang buka pada hari itu dan melayani jasa memasak, kemudian wisatawan boleh memilih.

Kami memilih warung Bu Masiyah ini karena lokasinya paling dekat dengan TPI. Selain itu, warung ini sedang sepi pengunjung. Artinya, kami bisa lebih cepat makan siang! Hahaha. Ya, sudah saatnya makan siang dan perut sudah tidak bisa dikompromi.

Udang saus pedas, cumi goreng dan tumis kangkung menjadi menu makan siang kami. Rencana mau beli udang dan cumi satu kilo untuk dimasak, realisasinya beli setengah kilo saja sudah kenyang banget dan cuminya cuma seperempat kilo. Kenyang makan seafood di pantai rasanya beda banget dengan kenyang makan seafood di resto. Ini betul-betul nikmat kenyang yang tak terkira. Belum lagi ditambah view pantai dengan birunya laut dan langit yang cerah, senang-senang kenyang.

Cita rasa masakan seafood Bu Masiyah tergolong enak. Harumnya jahe di saus udang begitu terasa. Harga jasa memasaknya juga tidak mahal, hanya Rp 15 ribu per menu. Harga jasa memasak tentunya disesuaikan dengan banyaknya olahan. Harga jasa memasak satu kilo udang tentu berbeda dengan dua kilo udang, dong. 😉

PANTAI JETIS

FYI (lagi), aku ke Pantai Jetis pas hari Minggu, hari libur kerja. Namun tempat ini sama sekali sepi wisatawan. Warung-warung yang berada di kompleks pantai juga hampir semua tutup. Sepertinya hanya kompleks warung Bu Masiyah dan sekitarnya yang buka. Itupun hanya beberapa. Aku penasaran, dong, kenapa pantai ini bisa sepi banget padahal hari Minggu.

Usai makan siang, kami menuju pangkalan perahu Maliando Putra. Di sini wisatawan bisa sewa perahu dengan membayar Rp 50 ribu untuk satu perahu. Jika ingin lebih murah, wisatawan harus menunggu penumpang lain. Namun tidak dapat dipastikan juga akan ada penumpang lagi atau tidak. Menurut Pak Mul, salah satu sopir perahu motor, Pantai Jetis memang tergolong sepi. Pantai akan ramai jika musim libur sekolah dan lebaran, itu pun ramainya standard. Duh…ini beneran kunjungan wisatawan ke Cilacap begitu minim? Ini kenapa coba? Masih mencari tahu, tapi tentu bukan karena aksesibilitas karena banyak pilihan transportasi menuju Cilacap, dari pesawat sampai kereta api. Jadi, transpotasi bukan kendala utama, apalagi untuk moda kereta api ini banyak pilihan stasiun tujuan di Cilacap. Stasiun Sidareja, misalnya.

pantai jetis cilacap (2)

Jadi, tinggal menyiapkan waktu untuk kembali ke Cilacap dan mencoba menginap beberapa hari di sana. Traveling sambil cari tahu, kenapa Cilacap dengan ratusan destinasi wisata, wisawatan tetap sepi. Sabar ya, Mas Pras. Nanti akan indah pada waktunya. Sabar duluuuu. 😀

Baca juga artikel tentang Pengalaman ke Pantai Jetis Saat Pandemi.

Wisata Tampomas dan Danaunya yang Hits

Gunung Tampomas yang sekarang sudah menjadi obyek wisata tampomas, tahun ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Banjarnegara setelah kawasan dataran tinggi Dieng. Aku tidak melakukan survey untuk ini, sih. Hanya saja melihat banyaknya wisatawan yang terus berdatangan baik weekday maupun weekend.

Pemerintah desa Gentansari yang baru melakukan pengembangan tahun ini bisa dikatakan sukses menarik perhatian wisatawan. Apalagi setelah banyak berbenah mulai dari penataan obyek wisata sampai dengan pengadaan fasilitas umum, banyak wisatawan terlihat sangat menikmatinya.

Flashback Wisata Tampomas.

Obyek wisata yang menyuguhkan pemandangan alam berupa pepohonan, tebing bekas galian batu dan wisata perahu di danau, dulunya dimanfaatkan oleh wisatawan untuk sakadar swafoto dan prewedding. Meski sudah menjadi obyek wisata, masyarakat sekitar masih aktif menggali dan memecah batu di sekitar lokasi. Namun kini, aktivitas tersebut sudah tidak ada karena pemerintah desa telah menata ulang, melakukan pengembangan, dan menjadikannya sebagai destinasi wisata secara utuh.

Tampomas masa kini.

Aku terkesima saat melihat sepeda motor berderet memanjang ke belakang mulai dari jalan utama masuk obyek sampai depan pintu masuk. “Gilaa…ramai banget, Tampomas!” Aku berbisik kepada suami yang sama-sama sedang memperhatikan deretan motor tersebut. Dia pun ikut terkagum-kagum.

Sepeda motor yang memanjang itu ternyata sedang antre tiket masuk. Antrean dibuat dua baris untuk sepeda motor. Sementara masih sisa separo jalan digunakan untuk lalu lintas. Pemuda-pemudi desa setempat yang bertugas terlihat kompak melayani wisatawan dan mengatur  jalannya antrean. Ada yang bertugas menghentikan laju sepeda motor, ada yang memberikan tiket masuk, dan ada juga yang mempersilakan wisatawan menuju tempat parkir.

Akhir pekan itu, tepatnya seminggu setelah lebaran tahun ini, obyek wisata yang berlokasi di Kecamatan Pagedongan, tepatnya di Dusun Mendingin, Desa Gentansari, betul-betul banjir wisatawan. Mulai dari anak-anak sampai orang tua, raut wajahnya nampak bahagia. Terlebih anak-anak karena ada banyak pilihan permainan di sini. Odong-odong, misalnya. Di sini ada lebih dari satu odong-odong yang standby di area wisata. Belum lagi permainan lainnya yang sukses menjadi magnet obyek wisata ini. 😀

Tiket Masuk Wisata Tampomas.

Dengan membayar tiket masuk Rp 3.000 per orang, anak-anak sampai usia 5 tahun masih free tiket masuk dan parkir Rp 2.000 per motor, aku yang saat itu datang bersama Kecemut, Suami dan keluarganya dedek Al, sepakat untuk membahagiakan anak-anak ke istana balon. Hahaha. Ya gimana lagi, mereka langsung teriak heboh melihat permaianan tersebut.

Melihat deretan permainan anak di kompleks Tampomas, sungguh ini diluar ekspektasi. Memang, ini bukan kali pertama aku datang ke Tampomas. Namun ini menjadi kali pertama aku melihat obyek wisata alam yang mana di dalamnya terdapat aneka permainan anak. Saat itu aku melihatnya dari tempat media informasi yang berada di atas atau bukit. Sudah seperti di pasar malam.

Ada apa saja di Tampomas?

Asli, permainan anak ini ada di dalam kompleks wisata, menyatu dengan obyek wisata. Menurut salah satu pelapak, permainan anak baru mulai masuk saat pekan lebaran. Hari-hari biasa, mereka tidak ada di sini. Meski hanya ada saat pekan lebaran dan bisa dibilang karena memanfaatkan momen, tetap saja yang seperti ini bikin geregetan. Kenapa tidak dikumpulkan di luar obyek wisata supaya lebih fokus pada suguhan alam Tampomas, gitu. Ugh! 😆

Setelah puas bermain di istana balon, aku mengajak Syaquita dan Al untuk naik kuda. Aku kira Syaquita bakal tertarik dengan naik kuda ini, ternyata dia masih takut. Hahaha. Jadi, hanya Alkarim saja yang naik kuda. Oiya, Kuda yang disewakan di sini ada dua ekor. Untuk dapat naik kuda ini, wisatawan dikenakan biaya Rp 10.000 per sekali putaran. Pemandunya baik-baik dan ramah juga sama anak. Sambil keliling, pemandu kuda tunggang ini terus mengajak si kecil berkomunukasi. Anak pun betah jadinya. 🙂

Setelah anak-anak puas bermain, kami mengajak mereka untuk naik perahu mengelilingi danau. Untuk menuju danau, kami harus melewati beberapa anak tangga lalu kembali antre menunggu perahu. Di sini tersedia tiga perahu dan satu perahu maksimal berisi 10 orang dewasa. Tarif naik perahu Rp 5.000 per orang, anak-anak tetap dikenakan tarif sama seperti orang dewasa. Tarif tersebut sudah termasuk sewa life jacket.

Lagi-lagi aku merasa geregetan karena perahu yang beroperasi di danau ini ternyata menggunakan mesin motor. Apalagi saat melihat bunga teratai tumbuh di tengah dan pinggiran danau. Belum lagi habitat-habitat di dalam danau itu, apa kabar mereka? Sedih rasanya. 🙁

Seketika aku teringat Telaga Merdada, sebuah obyek wisata alam di Desa Karang Tengah, Kecamatan Batur. Telaga Merdada telah menjadi destinasi wisata yang terkenal dengan Kayaknya. Pengelola Telaga memilih menggunakan Kayak untuk eksplorasi Telaga karena pertimbangan makhluk hidup yang tumbuh di sekitar Telaga. Mereka ingin spesies di dalam Telaga tetap utuh, dapat berkembang, dan juga melestarikannya sesuai dengan konsep yaitu wisata alam.

Melestarikan Ekosistem di Tampomas.

Aku kira di Tampomas akan berlaku hal demikian. Menggunakan perahu dayung atau jenis perahu lain tanpa mesin. Namun ternyata tidak.

Pengelola pasti punya alasan kenapa lebih memilih perahu motor ketimbang menggunakan perahu dayung. Seperti zona aman, misalnya. Karena menurut keterangan nahkoda kami, ada beberapa bagian danau yang tidak boleh dilewati karena kedalamannya tidak diketahui -mungkin dalam banget-. Tapi kembali lagi untuk masa depan danau dan ekosistem yang ada di dalamnya, aku sedih. Rasanya lebih ramah menggunakan perahu dayung atau kalau tidak bebek kayuh.

Selain perahu motor dan permainan anak, ada satu lagi yang bikin aku geregetan. Adalah spot selfie. Obyek wisata dengan tema alam yang kemudian menawarkan tempat swafoto dari bunga plastik, tuh, rasanya bikin panas-panas gimana, gitu! 😆 Tapi entah lah, wisatawan merasa geregetan juga atau nyaman-nyaman saja. 😀

Terlepas dari pengembangan yang beberapa keluar dari tema alam, aku happy di Kabupaten Banjarnegara kembali muncul wisata hits yaitu Tampomas. Semoga Banjarnegara makin ramai dengan pariwisatanya yang terus tumbuh.

Wisata Tampomas, Banjarnegara

GyudaQ Japanese BBQ: Makan Sepuasnya dengan Harga Minimalis

GyudaQ Japanese BBQ – Berkuliner atau makan diluar saat ini sepertinya sudah menjadi kebutuhan. Minimal sebulan sekali atau bahkan seminggu sekali, banyak yang mengagendakan untuk makan diluar. Alasannya? Ingin mencoba menu baru di suatu resto, atau kangen masakan di resto langganan. Nah, kalau aku sendiri? Emm… 😉

Tentu karena doyan makan! 😆 Bagiku, berkuliner ngga harus di rumah makan mewah, resto mahal, tapi jika ada tempat makan yang menyajikan banyak menu, bervariasi, murah, dan enak banget, ya samperiin lah. 😉 Seperti GyudaQ Japanese BBQ yang berlokasi di Purwokerto.

Jarak tempuh dari Banjarnegara menuju Purwokerto hanya membutuhkan waktu 2 jam menggunakan transpotasi umum Bus. Ngga dibela-belain banget ke sana, sih. Cuma kalau sudah sampai Purwokerto, ya musti mampir dan nyobain Japanese foodnya GyudaQ. 😀

gyudaq bbq - auce

ngabisin ini semua di gyudaq bbq…

GyudaQ Japanese BBQ adalah restoran All You Can Eat pertama di Purwokerto. Restoran ini pertama kali dibuka pada pertengahan tahun 2018. Restoran yang mengusung Japanese Food sebagai spesialisasi hidangannya berlokasi tak jauh dari pusat Kota Purwokerto. Berbagai menu buffet siap memanjakan lidah para penggemar masakan Jepang, termasuk lidah aku yang suka mencoba masakan baru.

GyudaQ Japanese BBQ sebagai restoran All You Can Eat memiliki tiga pilihan paket yang dapat dipilih. Pilihan paket tersebut adalah  standard buffet, regular buffet dan premium buffet. Jika memilih menu standard buffet, kamu dapat menikmati pilihan sajian berupa short plate, chicken fillet, chicken wings, all vegetables, all additional, sushi standard, all appetizer, all furay, all dessert dan all beverages. Paket standard buffet dibanderol dengan harga Rp.101.000,-.

Sementara jika memilih paket regular buffet, kamu dapat menikmati semua item yang ada di standard buffet ditambah sirloin, all seafood, sushi regular, ramen,  chawan musi dan gyudon. Untuk dapat menikmati seluruh varian menu tersebut, kamu cukup membayar Rp. 149.000,-. Gilaaa…langsung ngiler pingin chawan musi. 😀

Nah, jika ingin yang lebih lengkap, maka paket premium adalah pilihan yang tepat. Dengan harga Rp.179.000,- konsumen bebas memilih semua item pada paket regular buffet ditambah premium beef platter, udon, beef sushi, salmon sushi, chicken ramen, dan salmon ramen. Duileeeh…yang lengkap gini lebih menggoda, ya. Hahaha.

Btw, seluruh item di buffet GyudaQ Japanese BBQ bisa diambil sepuasnya untuk kemudian diolah sendiri. Kamu bebas mengolahnya dengan 2 cara yang tersedia, yakni grill dan shabu. Ada banyak dipping sauce yang bisa dipilih untuk melengkapi pilihan menu grill. Sementara untuk shabu disediakan 2 varian kuah, yakni kuah kaldu dan kuah tomyam.

Ughhh…ini sungguh tidak bisa didiamkan begitu saja. Secara, aku hobi banget makan Shabu. Fufufu. Kebayang Shabu dengan kuah Tomyam, pastinya seger banget karena aku lebih suka kuah Tomyam dengan harumnya bumbu yang khas.

gyudaq bbq purwokerto
tempatnya gyudaq bbq purwokerto adem…

Sebelum memesan all yu can eat, kamu harus memahami peraturan yang berlaku di GyudaQ Japanese BBQ, diantaranya yaitu:

  • Waktu meniikmati hidangan selama 90 menit.
  • Jika melampaui batas waktu maka akan dikenakan denda sebesar Rp.50.000,- per 30 menit.
  • Hidangan yang tersisa di meja akan dikenai denda sebesar Rp.50.000,- per 100 gram.
  • Hidangan tidak dapat dibawa pulang, hanya dapat dinikmati di Restoran GyudaQ.

Selain menyajikan hidangan buffet All You Can Eat a la Jepang yang lezat, suasana Jepang juga cukup kental terasa di resto GyudaQ. Pilihan ornamen kayu yang dominan, mural bertema Jepang di dinding, hiasan pohon bunga sakura dan sambutan hangat para pelayan menggunakan Bahasa Jepang membuat nuansa kejepang-jepang-an terasa semakin hidup.

Selama 90 menit bersantap di Restoran GyudaQ Japanese BBQ kamu akan dimanjakan oleh ruangan yang full AC dan wifi. Restoran GyudaQ Japanese BBQ juga menyediakan smooking area dan meeting area. Mau ada acara kantor, bareng taman-teman, keluarga, atau komunitas, tidak perlu bingung lagi. Menu masakan Jepang siap menemani!

Area parkir yang tersedia untuk mobil dan motor juga cukup luas sehingga kamu tak perlu mengkhawatirkan kemanan kendaraannya. Fasilitas umumnya nyaris sempurna, ya.

Kalau udah lihat menu-menu masakan Jepang, rasa-rasanya tidak peduli dengan body yang makin bulet gini. Seperti harus mencicipi masakan Jepang dalam porsi besar, namun harga minimalis. 😀

GyudaQ Japanese BBQ:

Jl. Kongsen no. 24, Karangbawang, Purwokerto Selatan, Banyumas.

Telepon: (0281) 643135.

Jam operasional: 11.00-23.00 WIB.

PayLater Traveloka, Bikin Liburan Hemat dan Menyenangkan

PayLater Traveloka, Bikin Liburan Hemat – Kemudahan dalam traveling kini makin menjadi-jadi. Tidak hanya dari sisi transportasi yang dapat dipesan hanya dengan sekali klik, lalu bayar. Tetapi juga dapat mendapat fasilitas “piknik dulu, bayar kemudian”. Siapapun bisa traveling dengan biaya dibayar belakangan. Racun banget, kan!

Racun ini datang dariTraveloka yang saat ini memberikan fitur PayLater.  Ada yang pernah dengar tentang PayLater dari Traveloka?

PayLater adalah pembiayaan dari Traveloka bekerjasama dengan Danamas yang merupakan startup lending P2P sebagai mitra penyalur pinjaman dana. Dengan fitur yang tersedia di aplikasi Traveloka ini, kamu bisa liburan sekarang, bayar kemudian. Gimana, tuh? Nyenenging banget, sih? Atau, ada yang belum paham?

Emm…gini deh! Kamu pernah punya kartu kredit? Adakalanya kartu kredit itu sangat membantu ketika seseorang sedang butuh banget, tapi tidak punya uang tunai. PayLater ini juga membantu buat yang hobi traveling namun belum mempunyai cukup uang. Ya, fitur PayLater dari Traveloka memungkinkan para pengguna Traveloka untuk berlibur dahulu dan biaya liburan baru dibayar kemudian dengan cicilan sangat ringan. Alternatif banget jika bagi aku, kamu, dia, dan mantan yang pingin traveling tapi lagi dompet lagi cekak alias bokek karena sekarang bisa memanfaatkan PayLater Traveloka untuk membiayai liburan. Ini gila, sungguh. 😆

Nah, sebelum bertransaksi menggunakan PayLater, aku beri informasi penting tentang PayLater Traveloka, ya. Bacanya pelan-pelan saja, jangan napsu dulu dengan fitur Traveloka yang satu ini sebelum baca blog post ini sampai akhir. 😛

Cicilan Online Tanpa Kartu Kredit

Informasi paling utama yang harus aku sampaikan yaitu bahwa setelah menggunakan PayLater Traveloka, kamu bisa mengangsur tanpa kartu kredit. Ya, dengan PayLater Traveloka, pelanggan setia Traveloka bisa mencicil biaya liburan tanpa perlu menggunakan kartu kredit antara 1 -12 bulan dengan cicilan. Cara membayar pun bisa secara online.

Semua transaksi di Traveloka, bisa dicicil dengan PayLater. Mulai dari pembelian tiket kereta api, tiket pesawat terbang, hotel hingga tiket masuk wahana hiburan. Dengan nominal pinjaman antara Rp 2 – Rp 10 juta, PayLater bisa digunakan untuk semua transaksi yang kamu perlukan selama liburan bersama Traveloka.

TRAVELOKA-PAY-LATTER

Syarat Daftar PayLater Traveloka

Cara mendaftar PayLater di Traveloka cukup mudah. Hanya memerlukan kartu identitas berupa KTP (Kartu Penduduk), kemudian melengkapi syarat pendukung seperti KK, NPWP, atau kartu BPJS dan nomor telepon keluarga yang tidak tinggal serumah. Data ini penting untuk disiapkan sebelum melakukan transaksi agar prosesnya lebih lancar. Syarat pelanggan yang dapat menikmati PayLater adalah kamu yang sudah berusia 21 tahun dan maksimal berusia 55 tahun. Ini usia sudah mateng, ya. Sudah berpenghasilan juga karena untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan buruk terkait dengan cicilan.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (4)
Mau lah, liburan ramai-ramai gini….nyicil! hahahaa

Hanya perlu waktu kurang lebih satu jam untuk proses verifikasi PayLater. Selama proses ini, pastikan nomor telepon kamu dan juga keluarga yang didaftarkan dalam kondisi aktif agar proses pendaftaran lebih lancar. Dengan rentang waktu cicilan yang bisa dipilih, nominal pembayaran bisa kamu sesuaikan dengan kemampuan. Jika selama satu periode PayLater kamu lancar, maka transaksi berikutnya dengan PayLater akan lebih mudah.

Warning banget buat kamu yang suka telat bayar-bayar atau pelupa kayak aku. Lupa punya hutang? What? Oh….no! Hahahaha

Beli Tiket Pesawat Murah Dengan PayLater

PayLater Traveloka juga membuat transaksi pemesanan tiket pesawat jadi lebih mudah. Tidak hanya bisa menanggung biaya pribadi, dengan limit yang cukup besar dari PayLater, kamu bisa membeli tiket pesawat untuk seluruh keluarga. Artinya, liburan bersama keluarga atau momen mudik pun tidak lagi bikin kepala pening, karena kamu bisa kredit tanpa kartu kredit yaitu cukup dengan menggunakan PayLater Traveloka. Tentukan tujuan kunjungan sekarang juga, kapan akan berangkat, serahkan urusan biaya ke PayLater Traveloka yang mudah digunakan. Ehhh…sudah dibantu seperti ini, jangan lupa ciciliannya, yaaa. 😛

TRAVELOKA-PAY-LATTER-2

Transaksi di Jam Kerja

Untuk mendapatkan manfaat lebih dari Traveloka ini, pastikan untuk melakukan transaksi di hari dan jam kerja. Karena proses verifikasi memang akan dilakukan pada waktu ini. Sisihkan waktu sebentar di antara kesibukanmu pada waktu weekdays untuk memproses transaksi menggunakan PayLater. Selain lebih lancar, transaksi ketika weekdays juga memperbesar kemungkinan kamu mendapatkan tiket pesawat dan hotel dengan harga lebih murah daripada ketika akhir pekan. Ini sudah rumus banget, ya. Memesan jauh-jauh hari atau hindari pemesanan pada weekend.

FYI, hanya dalam waktu satu jam setelah pengajuan dilakukan, dana akan cair dan membayar semua transaksi kamu di Traveloka. Menyenangkan sekali, bukan?

Jadi nih ya, semisal sudah punya rencana tujuan wisata atau travel bucket list dan ternyata tabungan belum mencukupi, PayLater bisa menjadi solusi. Tapi tetap harus ingat, punya hutang harus dibayar lho, ya. Buat cicilan sesuai kemampuan supaya liburannya juga nyaman dan happy! 😉

Hai, PayLater! Aku pingin ke Ende sama ke Samosir, tak berhitung dulu cicilannya, ya. Hahaha.

Punya Rencana Menginap, 5 Barang ini Wajib Aku Bawa

Hidup bergantung dengan orang, tuh, sama sekali tidak nyaman. Iya, bagiku ketergantungan ini bukan lagi masalah enak atau tidak enak karena urusan hati, tapi lebih pada ketidaknyamanan. Aku yang akan bergantung saja merasa tidak nyaman, apalagi orang lain yang akan menjadi tarjet atas ini, sudah pasti tidak nyaman. 😆

Aku kira ketergantungan yang membuat tidak nyaman ini hanya ada dalam hidup, namun ternyata tidak. Saat traveling atau saat punya agenda menginap, misalnya. Bergantung sama teman seperjalananpun kadang tidak nyaman. Apalagi perkara pinjam meminjam, ya…kalau emang udah soulmate seperti aku dan Tante, sih, tidak ada canggung. Tapi kalau bareng teman yang ketemunya bisa dihitung jari dalam satu tahun, atau bahkan baru kenal, dipastikan akan kurang leluasa dalam pinjam meminjam. Ini kalau aku, sih. Makanya saat punya agenda menginap, aku berusaha untuk prepare sebaik mungkin.

Tiap akhir pekan dalam dua minggu yang lalu, aku menginap dengan beberapa teman untuk suatu kegiatan. Sebenarnya aku bisa pulang, sih, karena kegiatan yang aku lakukan masih di Banjarnegara. Tempat kegiatan pun tidak jauh dari rumah, kurang lebih 45-60 menit perjalanan dari rumah. Namun karena sudah kesepakatan, tidak ada pilihan lain selain ikut aturan main. Hahaha.

Nah, saat menginap kemarin ini, aku merasa ada banyak barang bawaan yang pada akhirnya tidak aku pakai. Salah satunya yaitu kaus. Ya, aku terlalu banyak bawa kaus. Padahal, ketika aku menginap di luar kota biasanya tidak pernah membawa banyak kaus. Mending beli ketimbang bawa dari rumah. Dari sini, aku makin paham bahwa, ternyata beberapa barang yang aku bawa kadang memang kurang tepat guna.  Kesal rasanya! Hahaha. Yasudah…akhirnya aku hanya menggaris bawahi 5 barang yang wajib aku bawa ketika hendak menginap. Kelima barang tersebut yaitu:

Charger

Ini paling penting dan tidak bisa ditinggalkan. Mending tidak membawa handphone ketimbang tidak membawa charger. *eeeh, apa apanya dong, ini. 😆 Baik charger Handphone maupun Kamera, aku selalu membawanya, selalu ada di tas. Rasanya tidak nyaman ketika harus meminjam charger padahal sedang digunakan oleh yang punya atau teman lain, sementara aku lagi butuh-butuhnya.

Selaincharger hanphone,  untuk kebutuhan senter mini  yang mana menggunakan baterai AAA, aku juga membawa charger untuk kembali melakukan pengisian ulang bila perlu. Ya, saat ini teknologi terkait dengan baterai ini telah melakukan inovasi yaitu dengan membuat baterai dengan sistem rechargeable dengan banyak keuntungan. Aku pun termasuk yang pro dengan sistem rechargeable baterai karena lebih hemat dan ramah lingkungan. Apalagi sekarang pembelian baterai AAA rechargeable makin mudah melalui marketplace Bukalapak. Yaudah, tinggal meluncur ke website Bukalapak atau melaui aplikasi.

 Make up

PERLENGKAPAN MENGINAP (3)
Tak bisa keluar rumah tanpa make up yang satu ini…

Ini tidak main-main dan penampilan akan turun sampai 100 derajat jika menginap tanpa membawa bekal make up. Apa jadinya bibir ini tanpa lipstick. Hahaha. Selain itu, dalam hal satu ini memang agaknya bikin was was kalau sampai pinjam meminjam. Ya…penggunaan make up tiap pribadi kan berbeda, mulai dari warna sampai kecocokan dengan merek tertentu. Makanya, siaga banget harus dibawa sekelompok barang ini ketika henda menginap. 😀

Dompet

PERLENGKAPAN MENGINAP (3)
Dompet andalan kemana-mana…

Apaaa? Dompet isi duit? Iya, tapi secukupnya. Dompet yang aku maksud di sini yaitu bukan dompet yang digunakan sebagai alat menyimpan uang, namun lebih pada surat atau kartu penting yang harus dibawa supaya diri lebih aman. Aku sendiri hampir tidak pernah menyisakan lembaran uang di dalam dompet, lebih memanfaatkan ATM yang aku punya. Dan ATM yang aku bawa pun maksimal 2 ATM sebagai jaga-jaga.

Sandal

Entah kegiatannya satu atau bahkan sampai 3 hari lebih, aku pasti membwa sandal untuk kebutuhan pribadi.  Sandal yang aku bawa pun bukan sandal yang formal, melainkan sandal japit agar multi fungsi. Bisa dipakai saat santai, bisa juga dipakai saat harus berinteraksi dengan air. Sandal ini sangat sepele, tapi juga tidak bisa semena-mena saling pinjam, apalagi buat mereka yang selalu ingin sandalnya kering. Uwuuuw banget pasti. 😛

PERLENGKAPAN MENGINAP (3)
Sandal model apapun, yang penting harus bawa…

Minyak Telon

Hayo…kamu tim salonpas, koyo cabe atau minyak telon my baby? Ini niat banget sebut brand, ya. Hahaha. Saat melakukan perjalanan jauh atau menginap, kadang ada saja penyakit ringan menghampiri. Tiba-tiba kembung, pilek, sakit pinggang, masuk angin, dll dll. Kalau sampai mengalami penyakit kekinian, aku biasanya mengoleskan minyak telon atau fresh care. Sebenarnya stok untuk penyegaran aku selalu bawa dua, sih. Tapi aku lebih suka pakai minyak telon dengan merek my baby karena aromanya itu mengingatkan aku dengan Kecemut kalau habis mandi. Seger!

Dengan membawa lengkap barang yang menjadi kebutuhan diri saat menginap, aku merasa lebih tenang dan bangga dengan diri ini karena artinya sudah siap menginap. Tidak ada lagi kata merepotkan, tidak enak hati, apalagi ketergantungan. 😀 Apa-apa sudah disiapkan dan tinggal pakai, bebas merdeka rasanya. 😛

Omong-omong, apakah kamu punya barang yang wajib dibawa saat hendak menginap? Boleh lah sharing. 😛

Pakai Airy Rooms Berkali-kali, Ngga Pernah Kecewa – Review Hotel Jogja

“Kok jam segini kita udah di sini aja ya. “ Aku nyeletuk tiba-tiba saat sedang duduk berdua bareng Tante menikmati udara pagi di Jalan Malioboro. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB, waktu di mana kami biasanya sedang siap-siap untuk pergi ke kantor atau bahkan sudah berada di kantor untuk bekerja.

Ya, akhir minggu lalu, aku dan tante bertolak ke kota Gudeg untuk sebuah liputan di sana. Liputannya, sih, sore hari jam 18.00, tapi jam 07.30 kami sudah tiba di Jogja. Hayoo….mau ngapain coba? Ini Jogja, tidak boleh sampai ada kata gabut di sini. Hahaha.

Sambil sarapan soto di sekitar kulineran Malioboro, aku bertanya kepada Tante tujuan hari itu ke mana saja. Tante malah bingung. Hahaha. Kenapa tidak direncanakan jauh-jauh hari coba? Yaa…sudah terbiasa minggat dan rusuh, ngapain pakai rencana segala, hanya ke Jogja ini, lho. 😀 Ujung-ujungnya dadakan dalam menentukan kunjungn destinasi.

Setelah melakukan diskusi penuh drama karena waktu yang kami punya tidak begitu banyak, hanya 8 jam menuju liputan, kami memutuskan untuk pergi ke Candi Prambanan. Nah, ketika hendak memesan transportasi via online untuk ke Candi Prambanan, tiba-tiba teringat sesuatu yang penting.  Belum booking penginapan! Malas banget, kan, kalau harus gendong rasel berat saat jalan-jalan.

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN (8)
Tempat parkir cukup luas…

Saat genting seperti itu, cuma satu yang ada di benak. Airy Rooms!

Lagi-lagi Airy Rooms! Ya gimana lagi, selain ada banyak pilihan, cara untuk booking nya juga sangat mudah, dan yang paling penting adalah harganya sangat bersahabat. 😆 Karena sore hari kami akan ada acara di Sasana Amongraga, akupun mencari kamar Airy yang paling dekat dari sana, atau paling tidak mudah dijangkau. Setelah beberapa menit mencari akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Airy Eco Papringan, Ambarrukmo. Karena jarak tempuh dari Amongraga hanya 13 menit perjalanan. Tahu sendiri, Jogja sore hari kerap macet.

Selesai melakukan pemesanan yang hanya membutuhkan waktu tidak sampai lima menit, kami mencari mesin ATM untuk melakukan pembayaran. Beruntung kami masih di sekitar Malioboro, pasti banyak tersedia di sana. Apalagi ada  Tante, dia kan pernah tinggal di Jogja, maka tidak perlu waktu lama untuk menemukan mesin ATM karena dia paham di mana saja letak Mesin ATM yang ada di jalan Malioboro. 😛

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN (7)

Legaaa banget ketika sudah beres masalah penginapan. Tinggal main sepuasnya tanpa perlu khawatir lagi. Setelah pembayaran beres, kami pun segera menuju penginapan untuk menitipkan barang bawaan. Aman deh punggung aku! 😆 Perjalanan dari Malioboro menuju Airy Eco Papringan ternyata tidak begitu jauh. Dengan mengandalkan Google Maps, kami pun akhirnya sampai penginapan.

Kenapa memilih Airy Eco Papringan Ambarrukmo?

Selain cara pemesanan dan pembayaran yang mudah dan simple, bagi yang hobi nyasar-nyasar, tidak perlu khawatir. Airy Eco Papringan sangat mudah ditemukan. Kami hanya perlu mengikuti Maps yang sudah tersedia di aplikasi Airy. Ya, di aplikasi Airy Rooms tersedia maps untuk memudahkan dalam pencarian. Jarak yang ditempuh untuk sampai di tempat acara yaitu Sasana Amongraga tidak lebih dari 15 menit. Dekat bangeeeett.

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN YOGYAKARTA
Yang kusukaaa…ada gretongan air mineral dan jajan. 😀

Alasan lain, kami meliput kegiatan sampai malam, kira-kira pukul 21.30 WIB. Artinya, kami cuma butuh tempat tidur dowang. Maksudnya, tempat buat bobok yang tidak terlalu mewah dengan banyak fasilitas. Cukup ada air hangat dan AC. Makanya, kami memilih tipe Airy Eco dan kebetulan di dekat tempat acara ada pilihan Airy Eco Parpringan. Sewaktu melihat harganya murah meriah, ditambah ada promo hingga mendapat harga IDR 166,536, gebeeet laaah! 😆

Fasilitas apa saja yang ada di Airy Eco Papringan Ambarrukmo, Yogyakarta?

Airy Eco Papringan mirip dengan tempat kos dengan kamar berjejer yang berada di lantai satu dan dua. Fasilitas yang ditawarkan untuk Airy tipe Eco ini tidak mewah, namun cukup standard sebuah penginapan untuk kelas backpacker, solo atau budget traveler.  Ada WiFi, Tempat Tidur, Perlengkapan Mandi, Air Minum dan Snack, TV dan AC. Seperti yang kami tulis di atas, alasan kami memilih penginapan ini karena hanya butuh untuk sekadar istirahat saja, tidak terlalu mempedulikan fasilitas. 😀 Namun, kami cukup nyaman dengan kamar yang kami pilih karena beberapa alasan, yaitu:

Tersedia air hangat.

Suhu dan cuaca di Yogya memang panas. Mandi dengan air hangat rasanya memang kurang pas. Tapi karena acara kami sampai malam hari, ketersediaan air hangat menjadi prioritas utama. Shower yang ada di kamar kami adalah tipe hand sohwer yang sederhana, jadi tidak bingung untuk menggunakannya. Cukup memilih dengan cara memutar untuk air dingin atau panas seperti biasa.

Oiya, jika kamu sudah booking penginapan di Airy Rooms, tidak perlu membawa perlengkapan mandi karena Airy sudah menyediakan peralatan dan perlengkapan mandi, mulai dari sabun sampai handuk.

Tempat tidur double bed.

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN YOGYAKARTA
Nyaman buat bobok….

Ini menjadi pertimbangan utama ketika traveling bareng Tante. Penginapan dengan low budget, namun tempat tidurnya tipe double. Kebetulan kami mendapat kamar di lantai dua dan agak ujung. Cukup nyaman buat istirahat karena tidak terlalu bising. Didukung dengan kasur yang nyaman dan selimut yang tebal, tidur pun pulas.

Lingkungan bersih.

Penampakan dari luar penginapan, Airy Eco Papringan terlihat kurang rapih termasuk ruang resepsionisnya. Agak was was saat mulai masuk ke dalam yang berupa lorong, gitu. Kabar baiknya, jalan menuju kamar sampai depan kamar dan bagian dalamnya, tuh, bersih. Mbak-mbak cleaning service juga rajin mengontrol kebersihan sekitar kamar.

Fasilitas pendukung yang membuat bahagia!

Selain kamar mandi dan perlengkapan mandi yang super lengkap, tempat tidur yang nyaman, lingkungan bersih, masih ada beberapa fasilitas pendukung yang membuat kami bahagia. Fasilitas tersebut yaitu  AC, lemari pakaian lengkap dengan gantungan baju, meja rias, televisi dan tentunya snack khas Airy lengkap dengan air mineral. Dengan harga semula Rp 180an ribu, lalu karena pesan menggunakan aplikasi dan dapat promo menjadi Rp 160an ribu, makin ketagihan menginap di Airy Rooms. Jika pergi ke luar kota dan harus menginap, penginapan yang pertama kami tengok yaitu Airy Rooms karena berkali-kali menginap di Airy Rooms tuh tidak pernah bikin kecewa.

Oiya, ada kejadian yang bikin kami mikir sampai kami meninggalkan penginapan. Adalah tentang arah sholat atau kiblat. Dari malam hari kami sampai penginapan, sampai pagi hari, kami sholat dengan beda arah karena keyakinan arah kami berbeda. Hahaha. Konyol memang, tapi namanya kepercayaan, ya jalani saja. 😆 Saran nih, ya, ada baiknya petunjuk arah kiblat sholat ada di tiap kamar, khususnya untuk penginapan Airy Rooms, nih. Supaya tetamu tidak ragu dalam beribadah.

Traveling ke Bali, Pura Lempuyang Bali Menjadi Tujuan Wisata

Tiga tujuan wisata yang sudah masuk travel bucket list tahun ini terpaksa aku hapus dari daftar. Negeri Jiran, Medan, dan Bali. Sesuai rencana harusnya bulan September aku sudah mulai jelajah. Ya, September, Oktober, dan November, satu bulan satu tujuan wisata. Jatah izin kerja juga sudah aku perhitungkan, namun karena pekerjaan sedang tidak bisa ditinggal, banyak deadline, akhirnya aku harus menghikhlaskan satu tiket pesawat yang sudah aku pesan. 🙁

Tiket pesawat yang sudah aku pesan yaitu tiket pesawat ke Bali untuk bulan September. Aku pesan dua tiket pesawat Garuda di tiket.com untuk aku dan Kecemut. Kebetulan saat itu sedang ada promo. Niatnya aku ingin mengajaknya jalan-jalan manjah sekaligus mengenalkan moda transportasi udara. Tapi  ternyata belum rezeki jalan-jalan sama dia. 😀

Terus, kenapa memilih Bali, sih? Sebenarnya ini pilhan bersama. Ya, pilihan bersama tidak hanya aku dan Kecemut, tapi bareng beberapa teman, gitu. Aku tergiur banget, dong. Pikiriku tuh mumpun ada kesempatan ke Bali barneg teman-teman dan pasti itu ramai. Apalagi sampai saat ini, Bali masih menjadi salah satu destinasi wisata paling digemari di Indonesia. Terlepas dari eksotisme pantai yang tersebar di pulau ini, Bali juga merupakan pulau yang masih kental adat istiadat dan juga ritual keagamaannya. Hal ini lah yang mendorong daya tarik wisatawan asing dan lokal, termasuk aku, untuk mengunjungi Pulau Dewata.

TEMPAT WISATA PURA BALI (1)

Kamu tim suka borong oleh-oleh, atau kagak?

Salah satu tempat wisata di Bali yang ingin aku kunjungi adalah Pura Lempuyang Bali yang terletak di Karangasem. Pura ini memberikan pemandangan alam yang indah dan spot foto menarik berlatar belakang Gunung Agung. Sebelum mengunjungi Pura Lempuyang Bali, aku sudah mencari tahu informasi-informasi menarik dan penting mengenai Pura Lempuyang ini. Diantaranya adalah:

Tempat Suci Bagi Umat Hindu di Bali

Objek wisata yang berlokasi di Kabupaten Karangasem ini menjadi tempat suci umat Hindu di Bali yang menyajikan keindahan panorama tiada duanya. Menjadi tempat suci, tentu ada serangkaian aturan yang patut di jalankan kalau ingin berkunjung ke tempat ini.

Memiliki trek yang menanjak, memang tidak mudah untuk mencapai Pura Lempuyang dan keindahan alam Gunung Agung nya. Perlu menaiki ribuan anak tangga untuk mencapai Pura utama. Tapi aku pingin banget ke sini meski aku bersama Kecemut. Terpenting mempersiapkan fisik dan juga hati yang tulus ikhlas, seperti yang diyakini umat Hindu di Bali selama perjalanan menuju puncak. Udah kebayang ngos-ngosannya, sih, tapi kalau sudah sampai pura utama, bahagia banget pastinya.

pura lempuyang bali

Menyajikan Banyak Spot Foto Menarik

Setelah melalui trekking yang tidak mudah dan tentunya membuat tenaga terkuras, pasti lelah akan terbayar begitu sampai di atas Pura Lempuyang ini. Ada banyak spot foto yang sangat fotogenik di tempat ini. Hal ini juga menjadi pemicu banyaknya wisatawan berdatangan ke Pura ini, termasuk akuuuu. Hahaha.

Kalau hobi fotografi atau hobi di foto, berfoto di tengah Pura yang berlatar belakang Gunung Agung tentunya akan membuat hasil foto lebih fotogenik. Apalagi langit biru dengan awan putih yang terlihat begitu menyatu dengan latar, bisa membuat terkagum seketika begitu melihat hasil foto meski harus menaiki sekitar 1.700 anak tangga. 😀 Tantangan banget! 😛

TEMPAT WISATA PURA BALI (2)

Tiba-tiba kangen main ke Pura ini. Di Bogor…

Pantangan yang Perlu di Perhatikan

Kentalnya adat istiadat dan kepercayaan yang masih diberlakukan di Bali tentu membuat para wisatawan harus mematuhi peraturan yang dibuat untuk mengargai dan menghormati kepercayaan penduduk setempat. Karena, terdapat beberapa larangan yang ditujukan untuk para wisatawan yang akan menuju tempat wisata fotogenik ini.

Larangan tersebut diantaranya adalah:

  • Pikiran, perbuatan, dan perkataan harus suci, tulus, dan ikhlas;
  • Pantang untuk melontarkan kata-kata kasar saat dalam perjalanan menuju Pura;
  • Larangan membawa atau menggunakan perhiasan emas. Karena kerap kali perhiasan emas pengunjung dapat hilang secara misterius. Katanyaaaaaa;
  • Ada beberapa orang yang dilarang masuk ke Pura ini; wanita haid, anak yang belum tanggal gigi susunya, dan orang yang kerabatnya baru meninggal;
  • Terakhir, dilarang untuk membawa dan memakan daging babi.

Menurut kepercayaan masyarakat Bali, apabila larangan tersebut dilanggar, maka akan berdampak buruk bagi diri kita sendiri. Ngga tahu kenapa, kalau ada niat menyambangi destinasi yang juga merupakan tempat ibadah tuh bawaannya pingin cari tahu hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di destinasi tersebut. Malah seperti keharusan, khawatirnya bikin makruh atau malah bikin malu diri sendiri karena ngga update informasi. 😀

Semoga ada rezeki lagi lagi tahun depan atau kapan untuk ke Bali. Semoga (lagi), keinginan untuk ke Pura Lempuyang Bali dapat terwujud. Syukur-syukur pas ada keinginan, pas sedang ada promo tiket pesawat ke Bali. Rezeki nomplok, dong. 😀

Menjaga Tubuh Supaya Terus Sehat

Acap kali aku diminta oleh Ibu untuk menahan langkah kaki ini saat akhir pekan hampir tiba. Padahal saat weekdays, aku sudah menyusun banyak rencana untuk keluar rumah baik traveling atau sekadar jalan bareng teman. Bahkan kalau lagi selo banget, aku membuat semacam detail kunjungan, gitu. Ya…walau kadang kebahagiaan tidak bisa utuh karena perginya tanpa anak dan suami.

Aku paham bahwa, Ibuku menyarankan yang baik-baik. Karena dari Senin-Jum’at aku kerja, akhir pekan ada baiknya digunakan untuk istirahat. Beberapa kali aku pernah mencobanya. Beberapa kali juga sempat sukses dan tetap masih banyak gagalnya. Susah rasanya untuk berdiam diri di rumah saat akhor pekan. Meski ada Yasmin dan Suami, tetap saja jika ada waktu luang, kami memilih untuk keluar rumah. Hihihi

“Dasar ngga punya rasa capek!” Rekan kerjaku sering mengucap demikian. Duhh…gila aja ngga punya rasa capek, ya. Dikira aku tulangku jenis balung baja? Dikira tubuhku lemak semua? Ehtapi emang banyak lemaknya. Hahaha. Bagiku, capek karena pekerjaan tuh mudah banget diobati. Capek hati saja, sekarang obatnya mudah. Cukup memeluk Kecemut, urusan kelaaar! 😀

Kini, waktu berjalan begitu cepat. Sementara rencana-rencana terus bertambah, dan kadang ngga bisa mengimbangi antara waktu dan rencana yang telah tersusun. Misal nih, ya, hari ini punya rencana untuk menyelesaikan pekerjaan tundaan hari kemarin, ditambah pekerjaan baru yang harus segera diselesaikan. Tiba-tiba adzan duhur berkumandang.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (1)

“Busyeet, belum apa-apa sudah dzuhur.” Aku sering kaget ketika pekerjaan di depan mata belum selsesai tapi adzan sudah berkumandang. Kalau udah gini, tubuh harus bisa diajak kompromi, bisa mengerti, untuk menjadi partner yang baik.

Untuk tetap menjaga kondisi tubuh supaya terus sehat dan bugar, aku harus berjuang melawan hal-hal yang kadang sudah menjadi kebiasaanku sebagai orang pemalas. Hahaha. Kadang ada beberapa tingkah yang berseberangan dari hati memang, tapi ngga masalah untuk hidup lebih semangat.

Kira-kira, seperti apa cara untuk membuat tubuh terus sehat dan bugar?

1. Jangan bangun siang!

Dalam daftar riwayat keseharianku, aku jarang bangun pagi kecuali emang ada kegiatan penting banget. Hahaha. Terpenting udah subuhan, lanjut tidur. Tapi itu dulu, sebelum ada Kecemut dan Ayahnya. Sekarang ngga bisa ngeringkuk di balik selimut karena di pagi hari banyak rezeki. Termasuk rezeki kesehatan yang bisa didapat dari olah raga pagi. Jalan pagi badan tambah sehat dan bugar. Mata dan otak pun segar.

2. Jaga pola makan dan minum.

Naaah, ini asupan paling penting untuk tubuh setelah berpikiran positif. Hahaha. Ya gimana tubuh mau sehat jika bangun siang, ngga pernah olahraga, dan makanannya selalu junkfood. Dududuuh…makanya, selagi sehat jaga pola makan dan tentunya pola minum. Minum dengan takaran sehari 8 gelas, tidak cukup menyehatkan tubuh jika masih obral minum es. 😀

AMRINA GALLERY (10)

3. Rajin olahraga.

Olahraga tidak hanya lari pagi, jalan sejauh 1km pun termasuk olharaga. Angkat-angkat jemuran, mengepel, menyapu, itu merupakan bagian dari olahraga. Namun, ada bidang olahraga yang cukup andil untuk kesehatan dan kebugaran tubuh, misalnya tenis lapangan. Seluruh anggota tubuh gerak. Apalagi jika dilaksanakan secara out door, ada banyak lemak yang terpangkas. Hahaha.

PENUNJANG FASHION (1)

4. Rajin komsumsi minuman herbal.

Dulu aku ketergantungan banget sama Pak Timin, tukang jualan jamu keliling kampung. Udah nunggu lama karena memang tiap pagi udah menjadi kebiasaan minum jamu, eh taunya ngga jualan. Sekarang, sih, udah tenang karena ada Herbadrink yang mana manfaatnya sama dengan jamu-jamu yang tiap pagi aku konsumsi.

Herbadrink adalah minuman herbal alami yang dibuat berdasarkan resep tradisional Indonesia, diproses menggunakan teknologi modern dengan mempertahankan manfaat alaminya. Dikemas secara praktis dan higienis, tinggal seduh, bersih, tanpa pengawet dan tanpa endapan dengan rasa yang enak dan segar.

Herbadrink tersedia dalam 12 varian tiga diantaranya yang merupakan favoritku yaitu Sari Jahe, Sari Temulawak, dan Lidah Buaya. Buat yang sedang mengurangi konsumsi gula karena alasan kesehatan atau sedang berdiet rendah gula, tersedia juga dengan varian Sugar Free. Asyik, kaaaan?

Minuman herbal yang pagi hari selalu aku konsumsi yaitu Sari temulawak. Sari Temulawak Herbadrink dibuat dari resep minuman tradisional, serta diproduksi tanpa pengawet. Sari temulawak sejak dulu dikenal bermanfaat untuk memelihara fungsi hati, meningkatkan daya tahan tubuh serta memperbaiki fungsi pencernaan. Di beberapa penelitian juga disebutkan manfaat untuk menjaga kadar kolesterol dalam darah.

Sari Jahe Herbadrink dibuat dari resep minuman tradisional, serta diproduksi tanpa pengawet. Jahe alami memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, selain menghangatkan serta membuat tubuh nyaman sehingga memberikan efek relaksasi. Rasa hangat dari jahe pun bermanfaat untuk meredakan masuk angin, kembung serta mengurangi rasa mual.

Kalau siang hari, Herbadrink Lidah Buaya cocok banget dikonsumsi untuk menambah kesegaran. Konsumsi herbadrink lidah buaya ini lebih segar ditegus setelah makan siang, ditambah es juga tambah segar. Selain untuk kesegaran, herbadrink lidah buaya berkhasiat membantu memelihara kesehatan fungsi pencernaan dan membantu melancarkan buang air besar tanpa efek melilit yang mengganggu.

Selain sari temulawak dan lidah buaya, satu minuman herbal yang aku seduh tiap malam yaitu Sari jahe. Lagi-lagi sekarang untuk menyeduh jahe tidak perlu repot karena ada sari jahe herbadrink!

Sari Jahe Herbadrink dibuat dari resep minuman tradisional, serta diproduksi tanpa pengawet. Jahe alami memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, selain menghangatkan serta membuat tubuh nyaman sehingga memberikan efek relaksasi. Ada banyak manfaat dari hangatnya sari jahe, antara lain; meredakan masuk angin, kembung, menghangatkan serta membuat tubuh nyaman sehingga memberikan efek relaksasi dan serta mengurangi rasa mual. Sambil berselancar di dunia maya, minum sari jahe tuh badan tambah segar dan bugar. Bobok malam pun nyeyaak.

Menjaga tubuh supaya terus sehat dan bugar adalah tanggung jawab diri sendiri. Kadang merasa sudah maksimal menjaga kesehatan tubuh saja, tahu-tahu bisa rapuh. Apalagi yang tidak menjaganya. Eeeh…kamu punya cara atau tip lain untuk menjaga tubuh supaya terus sehat dan bugar? Sharing yuk! 😉

Penunjang Fashion untuk Tampil Makin Percaya Diri

“Yakin, hem kotak-kotak warna hijau tua akan dipadukan dengan jilbab motif ini?” Tanya seorang teman kepadaku saat hendak kondangan. Jilbab motif yang aku kenakan, tuh, bagus. Jilbab segi empat motif bunga kecil-kecil dengan bahan dari kain sutera. Tapi untuk dijadikan mix and match dengan kemeja kotak-kotak memang rasanya kurang cocok. Sumpah, ini kostum tersongong yang hampir aku kenakan untuk ootd ke kondangan.

Aku sama sekali bukan tipe perempuan yang pandai mix and match perihal fashion. Padahal, padu padan tentang fashion sebenarnya bukan hal yang susah karena tinggal penyelarasan saja supaya lebih enak dipandang, tidak membosankan. Ya, kan? Namun pada kenyataannya aku kerap gagal dalam berkostum. Tidak hanya itu, aku juga kerap gagal dalam memilih pakaian terutama atasan. Ujung-ujungnya baju yang telah terbeli aku berikan kepada anaknya Mak Yem karena sesampainya di rumah dan kembali dicoba, tidak ada kecocokan di antara kami. 😛

Teman-teman yang sering bareng aku atau pernah main bareng, pasti paham penampilanku seperti apa. Jauh dari kata fashionable dan dekat dari kata standard. Rasa-rasanya sudah berpenampilan semenarik mungkin, tapi setelah berkaca nampak biasa banget. Parahnya, sudah dandan semaksimal mungkin pun tetap terlihat tidak ada perubahan yang dahsyat di wajah ini.  Nasib banget, kan. 😀 Emmh…meski banyak yang mengatakan bahwa cantik dari dalam itu lebih penting, tapi rasa-rasanya pingin juga terlihat cantik memesona dari luar. Namanya perempuan, ya, apa-apa selalu butuh pengakuan. 😀

Mulai dari sini, aku mulai belajar. Bukan, bukan belajar dandan atau shopping terus-terusan sampai mendapat baju yang cocok, namun aku belajar bagaimana bisa percaya diri dengan penampilanku yang seadanya. Salah satunya yaitu dengan mengenakan aksesori untuk penunjang fashion. Nah, inilah aksesori yang kerap membuatku percaya diri saat keluar rumah untuk sekadar menghadiri acara, atau kerja.

Jam Tangan

PENUNJANG FASHION (2)

Selain sebagai alat pengingat waktu, jam tangan juga menjadi aksesori penunjang fashion. Kamu pernah melihat perempuan yang saking fashionablenya, dia sampai menyesuaikan warna antara baju dan jam tangan. Pernah, kan? Senang, ya, melihat kekompakan tersebut. Meski kompaknya cuma ada di baju dan jam tangan, tapi yang melihat ikut senang. Apalagi saat dilirik tuh kelihatan bahwa yang dipakai adalah jam tangan wanita original. Geregeeet, euy! Tapi ini bukan aku, lho. 😀

Ya, pemakaian jam tangan memang menambah rasa percaya. Terlebih saat ditanya waktu oleh teman atau siapapun, ada kebanggaan tersendiri sekalipun aku sedang tidak menggunakan jam tangan wanita original. Maksudnya jam tanpa merek ternama, gitu. 😉

Jam tangan yang kerap aku pakai ke tempat kerja menjadi jam favoriteku Selain modelnya simpel dan perolehannya butuh perjuangan, jam tangan tersebut adalah satu-satunya jam tangan wanita original yang aku punya. Lainnya adalah standard dan KW 3. Hahaha. Oiya, kamu tim perempuan yang mengenakan jam tangan di pergelangan tangan kanan atau tangan kiri? 😛

 Tas

Bagiku, pergi tanpa membawa tas sama saja dengan pergi sendirian, seperti orang hilang sekalipun di dalamnya hanya berisi dompet. Pergi dengan menenteng, menggendong tas membuatku makin percaya diri karena setidaknya ada satu barang yang melakat di tubuh. Artinya, ada satu obyek yang bisa dilihat selain fashion, barang yang menjadi perhatian.

Gelang

Pernah dalam suatu pertemuan, aku ditanya sama teman, “kenapa kamu suka banget pakai gelang, sih?” Aku sempat terdiam sejenak karena kemanapun pergi aksesori gelang memang jarang alpha dari pergelangan tanganku karena aku merasa makin manis pergelangan tanganku ini  dengan aksesori gelang. Kan jadinya menambah rasa percaya diri. 😛

ASUS Vivobook Flip 14 (3)

Berbeda dengan tas, aku suka banget beli gelang, semacam mengoleksi, gitu. Koleksi yang pada akhirnya sering hilang karena keteledoranku dalam meletakannya. Hahaha….tidak mengapa, harga gelang kan terjangkau, ya. Iya, gelang mainan lho, bukan gelang emas. 😀

Sepatu

Hobi piknik tidak membuatku untuk boros dalam hal sepatu. Aku hanya memiliki tidak lebih dari lima sepatu. Jika tadi ada jam tangan standard atau bahkan KW, untuk sepatu aku malas membeli barang KW. Yaa…meski tidak paham betul mana yang asli yang mana yang sekadar tempelan logo, yang jelas aku berusaha untuk membelinya tidak dengan online. Supaya lebih mantap, aku membelinya di toko offline. Bisa mencobanya, bisa melihat detail materialnya juga. Meski pastinya tidak banyak pilihan.

PENUNJANG FASHION (1)

Sepatu, ada dibagian bawah namun bisa membuat rasa percaya diri makin besar. Terlebih jika yang dikenakan adalah merek sepatu ternama, bangga, bahagia dan percaya diri banget. Meski bukan aksesori pada umumnya, bagiku sepatubisa dijadikan “alat” untuk menambah percaya diri.

Kalau boleh tahu, aksesori apa yang dapat membuatmu percaya diri? Atau, menambah rasa percaya diri meski hanya 10%. 😛

Jatuh Hati Pada Lampung yang Menginspirasi

Bertandang ke Lampung sama sekali tidak ada dalam daftar rencana piknik tahun ini. Tapi karena ada tawaran dan juga kesempatan, mengapa tidak! Pikirku saat itu, sekali jalan dan dapat pengalaman baru, tuh, seperti dapat rezeki dobel. Perjalanan untuk pertama kalinya dan sukses membuatku jatuh hati pada lampung beserta pariwisatanya.

Ya, bulan lalu aku ke Lampung dalam rangka mengikuti event Lampung Krakatau Festival (LKF) yang dilaksanakan pada tanggal 20-25 Agustus 2018. Aku kaget ketika ada sahabat baik yang mengirim invitation untuk menghadiri event yang masuk skala nasional itu. Memang tujuan utama adalah menghadiri festival, namun melihat calon peserta yang ikut adalah teman-teman dekat, aku makin berusaha untuk bisa ikut festival sekalian kopi darat (kopdar) dengan teman-teman Blogger yang sudah lama banget enggak ketemu. 😆

Btw, ini kali pertama aku ke Lampung. Ada banyak pengalaman yang aku dapat selama di sana sampai akhirnya aku jatuh hati pada Lampung. Ini bukan berlebihan karena selama perjalanan menuju lampung, trip, dan mengikuti rangkaian kegiatan LKF, banyak hal menarik yang aku jumpai di sana. Banyak yang mengesankan pula, sampai akhirnya menjadi sebuah inspirasi tersendiri. Ya, bagiku Lampung menginspirasi dari berbagai sisi. Dan tak bosan aku mengatakan, Lampung membuatku jatuh hati!

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (6)
Niat banget nambah gosong… 😀

Aku bersama Rois, Mbak Lia dan Mbak Way berangkat ke Lampung menggunakan transportasi darat dan laut. Selama perjalanan, kami merasa asyik-asyik saja meski di kapal maupun di dalam bus, tuh, panasnya bikin pingin cepat-cepat ganti daster. Maklum, pakai bus bisnis, next time nyoba kelas royal ah! 😛

Perjalanan laut kami tempuh kurang lebih 3 jam, kami memilih duduk di bagian luar kapal supaya bisa bebas mau ngapain saja. Merasakan semilir angin, melihat cantiknya laut sembari berfoto ke sana ke mari padahal matahari sedang terik. Andai Yasmin jadi ikut, pasti bakal senang bisa naik kapal gini. Uwuuw…akhirnya baper di kapal. Hahaha.

Dari kejauhan, terlihat dermaga pemberhentian kapal. Akhirnya…sampai Lampung juga! Aku kira setelah turun dari kapal, akan langsung ketemu dengan kota, ternyata tidak! Hahaha. Kami masih harus menempuh perjalanan darat kurang lebih empat jam dari pelabuhan Bakauheni menuju kota. Yang bikin aku speechless nih, saat mulai masuk Lampung Selatan, tepatnya di Kalianda, aku merasa seperti sedang di daerah sendiri.

Perjalanan menuju Lampung
Perjalanan menuju Lampung…

Kanan kiri kebun yang ditanami beragam pepohonan. Bedanya, di Lampung dominan pohon kelapa, sementara di Banjarnegara area pesawahan dan pohon salak. Kemudian, rumah-rumah yang ada di pinggir jalan juga bangunannya tak jauh beda dengan rumah-rumah di desaku. Jika di Banjarnegara, perjalanan ini mirip jalan sepanjang Mandiraja menuju Sokaraja. 😀

Ketika mengabarkan ke Mbak Mel bahwa kami sudah sampai Kalianda, dia meminta kami untuk turun di Taman Gajah atau Lapangan Enggal yang berlokasi di Tanjung Karang karena di taman ini sedang digelar Festival Kanikan. Festival ini merupakan bagian dari LKF 2018. Bahagia rasanya dapat turut menikmati festival kuliner a la Lampung. Naaaah…mulai dari sini, aku jatuh hati kepada Lampung.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (3)
Festival Kanikan ramai bangetttt…

Tata letak stand dan kosep festival sungguh rapih. Termasuk panggung untuk pertunjukan. Festival Kanikan menawarkan beragam kuliner mulai dari kudapan kekinian, sampai pada kuliner khas Lampung. Karena festival ini diselenggarakan satu tahun sekali, tentunya sangat ditunggu oleh masyarakat dan penikmat kuliner. Tak heran jika ramai pengunjung. Apalagi tiap harinya ada live perform dari komunitas-komunitas  yang ada di Lampung, makin semarak. Pingin juga lah digelar di Banjarnegara meski belum yakin antusias kulineran masyarakat sini tinggi. Hahaha.

Lampung menginspirasi dari berbagai sisi.

Karena hari sudah sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Hotel Bukit Randu, tempat menginap kami selama dua hari. Tak disangka setelah sampai depan lobby, hotel ini ternyata menawarkan view yang keren parah! Baik dari halaman hotel maupun balkon kamar, suguhan pemandangan kerlip lampu rumah warga dilihat dari atas mirip view “bukit bintang”. Selain itu, interior kamar rasanya Lampung banget! Baik di Hotel Bukit Randu tempat menginap di hari pertama, maupun di Whiz Prime Hotel, tempat menginap hari berikutnya, pada tiap kamar ada tapis dengan beragam warna baik untuk aksesoris tempat tidur, maupun hiasan dinding. Promosinya kompak banget, kalau kotaku tersayang belum, gaes! 😀 Pinginlah, pada kompak promosikan batik gumelem yang khas itu untuk penginapan-penginapan di kotaku.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (4)
Malam di street food Hotel Bukit Randu…

Berikutnya yaitu tentang Siger. Nah, ini paling menggoda. Siger yang telah menjadi simbol khas Lampung sangat mudah dijumpai di mana saja alias tidak di tempat tertentu. Uniknya, nih, hampir seluruh sekolah, instansi, tempat kuliner, toko oleh-oleh, bank, dan masih banyak tempat lain, sebagian besar menggunakan Siger di depan bangunannya.

Bagiku ini menarik karena belum aku jumpai di daerah lain. Di daerahku, misalnya. Pemakaian identitas toko atau sekolah masih menggunakan logo masing-masing. Beberapa yang aku lihat di Lampung, sih, tetap ada yang menggunakan logo brand  identitas toko atau lainnya, namun  Siger tetap ditampilkan di paling atas. Pingin tuh, Banjarnegara punya simbol khas daerah lalu dipasang dimana-mana. Tapi yang menggambarkan khasnya Banjarnegara. Emm…belum punyaaa, sih, beluuuum. 😀 Dari simbol daerah saja membuatku jatuh hati, ya. Jatuh cinta yang sederhana seperti ini, tuh, menambah semangat explorasi pariwisata. 😛

Itu baru Siger. Ada lagi yang menginspirasi yaitu tentang tugu penghargaan yang dikelilingi Gajah. FYI, Lampung memiliki taman nasional perlindungan gajah, dan konsep tugu ini ngena banget. Lagi-lagi aku pingin ada kayak gini di tempat lahirku karena tugu yang belum lama direnovasi ternyata biasa banget, tidak menyelipkan identitas apapun di dalamnya. Kesannya seperti asal-asalan dibuat. Hahaha. *terjulid Di sini aku sempat membuat video pendek yang aku tujukan buat Yasmin. Melihat gajah-gajah lucu itu, baper banget rasanya. Padahal lagi dalam keadaan genting karena harus cepat sampai bandara tepat waktu, lho. Hahaha. Ya gimana lagi, gemes banget melihat Gajah di sekitar tugu ini. 😛

Ikon Lampung 4
Tugu penghargaan saja jadi spesial… 😉

Satu hal yang paling bikin baper dari Lampung adalah kekayaan pantai yang sukses bikin panas hati! Sebenarnya ini aku rasakan semenjak di Taman Gajah. Selain kuliner, di sana ada galeri foto pariwisata lampung yang isinya kebanyakan adalah pantai-pantai di Lampung. “Aku harus mencicipi pantai di Lampung barang satu pantai.” Batinku sore itu saat keliling galeri. Hamdallah…keinginan untuk mengunjungi pantai gagal karena hari ketiga di Lampung tenaga tinggal 50%. LEMAAAH! 😆

Tapi tidak mengapa, karena aku mendapat ganti yang lebih dari sekadar melihat pantai yang canteek-canteek itu. Bersama kurang lebih 100 orang, aku melakukan perjalanan ke Gunung Anak Krakatau untuk melakukan observasi, ekskursi. Ya…kapan lagi bisa sampai Anak Gunung Krakatau kalau tidak dalam rangka trip edukatif, kan.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (1)
Akhirnya sampai Pulau Sebuku…

Turun dari kapal langsung menginjakkan kaki di atas pasir pantai tanpa alas, dan air pantai pun menyambut. Di sini tiba-tiba aku kembali ingat kepada Yasmin.

Masih lekat dalam ingatan, seminggu sebelum berangkat ke Lampung, kepada Yasmin, aku sempat memperlihatkan Kapal Laut, Pesawat, Gunung Anak Krakatau, Pulau-pulau di sekitar Anak Krakatau, dan Lautan yang begitu luas. Aku bercerita sedikit tentang Lampung dengan kekayaan alam yang begitu melimpah, sampai dengan transportasi menuju ke sana. Aku juga sempat memutarkan video seputar aktivitas wisata di Taman Nasional Way Kambas, sebuah taman nasional perlindungan gajah yang juga ada di Lampung.

Aku perlihatkan semua tentang Lampung kepadanya dan dia tampak bahagia sekali. Terlebih saat aku mengutarakan niat untuk mengajaknya ke Lampung, dia bersorak ria dan memelukku erat.

TELAGA SUNYI BATURRADEN
Teman traveling yang menyenangkan…

“Besok kalau di Lampung kita bisa naik kapal yang geedeeee bangetttt. Bisa main-main di pantai sampai puas. Terus, bisa juga bermain dengan Gajah yang jumlahnya banyak. Dan pulangnya nanti kita naik pesawat. Katanya kamu pingin naik pesawat?” Ucapku kepada Yasmin seminggu sebelum berangkat ke Lampung.

Tapi ternyata belum berjodoh mengajaknya ke Lampung karena tiba-tiba Ibuku berubah pikiran. Aku tidak diizinkan membawa Yasmin padahal dia anak kandungku cobaaaaa. *ini lebay* Sungguh ini adalah ujian sebelum naik tingkat. Emm…tingkat kapal maksudnya. 😀 Akhirnya, segala apa yang sudah menjadi angan-angan harus aku simpan dalam-dalam.

KAPAL MENUJU LAMPUNG
Ngebet banget ngajak Yasmin buat naik kapal…

Tepat di pintu masuk Cagar Alam Krakatau, menghadap deretan kapal yang bersandar menunggu kami sampai selesai observasi, aku ngevlog.

“Haii…Yasmin, Ibu sudah sampai Lampung, nih. Sekarang sedang di Krakatau. Lain waktu Ibu akan mengajak kamu ke Lampung. Nanti kita jalan-jalan keliling pulau di Lampung, naik kapal gede, main di taman yang banyak Gajahnya, terus naik pesawat juga.” Kira-kira seperti itu vlog yang aku anggap juga sebagai doa sekaligus oleh-oleh buat dia. Rasa sedih, bahagia, seketika bercampur. Dan vlog ini menyempurnakan vlog yang di depan tugu muda Lampung. Hmmm…baper-bapeer! 🙁

Masih banyak tempat yang belum tereksplorasi di Lampung, khususnya pantai dan kerajinan tangannya. Aku yakin, jika kemarin ada waktu untuk singgah ke pantai dan tempat kerajinan khas Lampung, pasti juga ada banyak inspirasi di sana. Keramahan pelayanan di toko oleh-oleh khas dan tempat kuliner khasnya saja sampai sekarang masih terngiang. Apalagi bisa sampai ke lokasi pembuatan oleh-olehnya. Pantaslah tagline The treasure of Sumatera melekat di Lampung karena Lampung ini menyenangkan dan banyak kekayaan alam dan budaya yang dapat dinikmati wisatawan.

Hmmm…memang perlu ke Lampung lagi, nih! Aku yakin, masih banyak inspirasi lain yang dapat aku temukan di Lampung. Inspirasi yang nantinya menjadi bahan diskusi dengan teman-teman di sini untuk kemajuan pariwisata Banjarnegara khususnya. Semoga rencana ini dapat terwujud tahun depan ya, Nak! Ibu siap-siap mengirit jatah cuti kerja. 😛

Ayey! Ke Lampung lagi….

Ahaai…rencana traveling ke Lampung sudah aku masukan ke dalam bucket list traveling tahun depan. Artinya, aku harus mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan. Setidaknya aku sudah belajar dari kunjungan aku ke Lampung bulan lalu. Satu hal yang menjadi catatan, traveling tahun depan ini aku berencana mengajak Yasmin. Kalau suami, sih, belum tahu bisa ikut apa tidak, sibuuk teruus! 😛

Ikon Lampung 2
Taman yang produktif…

Tahun depan dia berusia 4 tahun, insya allah sudah cukup paham dan bisa menikmati perjalanan. Karena traveling sama anak-anak, aku pingin lebih santai, menikmati segala sudut Lampung. Ada pantai yang bisa buat snorkeling, Tempat Kerajinan khas Lampung, Kuliner Khas, Menara Siger, dan Way Kambas. Obyek wisata tersebut akan kami telusuri satu per satu, waktu sudah tidak menjadi persoalan asal duit sudah terkumpul. Hahaha. Tapi tetaplah, ya, budgeting perlu dipersiapkan. Melihat destinasi wisatanya, ini mau nyenengin anak atau diri sendiri, ya. 😆

Ini, kok, mantap betul, ya. Kembali traveling ke Lampung, menyusuri tempat-tempat yang pernah aku singgahi maupun tempat baru. Semoga bisa terwujud dan menjadi moment traveling istimewa buat aku dan Kecemut! Maaf, Pak Suami. Kami jalan berdua saja, ya. 

Baca juga perjalanan Familiarization Trip di Event Lampung Krakatau Festival 2021.