Hidup bergantung dengan orang, tuh, sama sekali tidak nyaman. Iya, bagiku ketergantungan ini bukan lagi masalah enak atau tidak enak karena urusan hati, tapi lebih pada ketidaknyamanan. Aku yang akan bergantung saja merasa tidak nyaman, apalagi orang lain yang akan menjadi tarjet atas ini, sudah pasti tidak nyaman. 😆
Aku kira ketergantungan yang membuat tidak nyaman ini hanya ada dalam hidup, namun ternyata tidak. Saat traveling atau saat punya agenda menginap, misalnya. Bergantung sama teman seperjalananpun kadang tidak nyaman. Apalagi perkara pinjam meminjam, ya…kalau emang udah soulmate seperti aku dan Tante, sih, tidak ada canggung. Tapi kalau bareng teman yang ketemunya bisa dihitung jari dalam satu tahun, atau bahkan baru kenal, dipastikan akan kurang leluasa dalam pinjam meminjam. Ini kalau aku, sih. Makanya saat punya agenda menginap, aku berusaha untuk prepare sebaik mungkin.
Tiap akhir pekan dalam dua minggu yang lalu, aku menginap dengan beberapa teman untuk suatu kegiatan. Sebenarnya aku bisa pulang, sih, karena kegiatan yang aku lakukan masih di Banjarnegara. Tempat kegiatan pun tidak jauh dari rumah, kurang lebih 45-60 menit perjalanan dari rumah. Namun karena sudah kesepakatan, tidak ada pilihan lain selain ikut aturan main. Hahaha.
Nah, saat menginap kemarin ini, aku merasa ada banyak barang bawaan yang pada akhirnya tidak aku pakai. Salah satunya yaitu kaus. Ya, aku terlalu banyak bawa kaus. Padahal, ketika aku menginap di luar kota biasanya tidak pernah membawa banyak kaus. Mending beli ketimbang bawa dari rumah. Dari sini, aku makin paham bahwa, ternyata beberapa barang yang aku bawa kadang memang kurang tepat guna. Kesal rasanya! Hahaha. Yasudah…akhirnya aku hanya menggaris bawahi 5 barang yang wajib aku bawa ketika hendak menginap. Kelima barang tersebut yaitu:
Charger
Ini paling penting dan tidak bisa ditinggalkan. Mending tidak membawa handphone ketimbang tidak membawa charger. *eeeh, apa apanya dong, ini. 😆 Baik charger Handphone maupun Kamera, aku selalu membawanya, selalu ada di tas. Rasanya tidak nyaman ketika harus meminjam charger padahal sedang digunakan oleh yang punya atau teman lain, sementara aku lagi butuh-butuhnya.
Charger handphone sekarang tipe c, harus bawa…
Selaincharger hanphone, untuk kebutuhan senter mini yang mana menggunakan baterai AAA, aku juga membawa charger untuk kembali melakukan pengisian ulang bila perlu. Ya, saat ini teknologi terkait dengan baterai ini telah melakukan inovasi yaitu dengan membuat baterai dengan sistem rechargeable dengan banyak keuntungan. Aku pun termasuk yang pro dengan sistem rechargeable baterai karena lebih hemat dan ramah lingkungan. Apalagi sekarang pembelian baterai AAA rechargeable makin mudah melalui marketplace Bukalapak. Yaudah, tinggal meluncur ke website Bukalapak atau melaui aplikasi.
Make up
Tak bisa keluar rumah tanpa make up yang satu ini…
Ini tidak main-main dan penampilan akan turun sampai 100 derajat jika menginap tanpa membawa bekal make up. Apa jadinya bibir ini tanpa lipstick. Hahaha. Selain itu, dalam hal satu ini memang agaknya bikin was was kalau sampai pinjam meminjam. Ya…penggunaan make up tiap pribadi kan berbeda, mulai dari warna sampai kecocokan dengan merek tertentu. Makanya, siaga banget harus dibawa sekelompok barang ini ketika henda menginap. 😀
Dompet
Dompet andalan kemana-mana…
Apaaa? Dompet isi duit? Iya, tapi secukupnya. Dompet yang aku maksud di sini yaitu bukan dompet yang digunakan sebagai alat menyimpan uang, namun lebih pada surat atau kartu penting yang harus dibawa supaya diri lebih aman. Aku sendiri hampir tidak pernah menyisakan lembaran uang di dalam dompet, lebih memanfaatkan ATM yang aku punya. Dan ATM yang aku bawa pun maksimal 2 ATM sebagai jaga-jaga.
Sandal
Entah kegiatannya satu atau bahkan sampai 3 hari lebih, aku pasti membwa sandal untuk kebutuhan pribadi. Sandal yang aku bawa pun bukan sandal yang formal, melainkan sandal japit agar multi fungsi. Bisa dipakai saat santai, bisa juga dipakai saat harus berinteraksi dengan air. Sandal ini sangat sepele, tapi juga tidak bisa semena-mena saling pinjam, apalagi buat mereka yang selalu ingin sandalnya kering. Uwuuuw banget pasti. 😛
Sandal model apapun, yang penting harus bawa…
Minyak Telon
Hayo…kamu tim salonpas, koyo cabe atau minyak telon my baby? Ini niat banget sebut brand, ya. Hahaha. Saat melakukan perjalanan jauh atau menginap, kadang ada saja penyakit ringan menghampiri. Tiba-tiba kembung, pilek, sakit pinggang, masuk angin, dll dll. Kalau sampai mengalami penyakit kekinian, aku biasanya mengoleskan minyak telon atau fresh care. Sebenarnya stok untuk penyegaran aku selalu bawa dua, sih. Tapi aku lebih suka pakai minyak telon dengan merek my baby karena aromanya itu mengingatkan aku dengan Kecemut kalau habis mandi. Seger!
Dengan membawa lengkap barang yang menjadi kebutuhan diri saat menginap, aku merasa lebih tenang dan bangga dengan diri ini karena artinya sudah siap menginap. Tidak ada lagi kata merepotkan, tidak enak hati, apalagi ketergantungan. 😀 Apa-apa sudah disiapkan dan tinggal pakai, bebas merdeka rasanya. 😛
Omong-omong, apakah kamu punya barang yang wajib dibawa saat hendak menginap? Boleh lah sharing. 😛
“Kok jam segini kita udah di sini aja ya. “ Aku nyeletuk tiba-tiba saat sedang duduk berdua bareng Tante menikmati udara pagi di Jalan Malioboro. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB, waktu di mana kami biasanya sedang siap-siap untuk pergi ke kantor atau bahkan sudah berada di kantor untuk bekerja.
Ya, akhir minggu lalu, aku dan tante bertolak ke kota Gudeg untuk sebuah liputan di sana. Liputannya, sih, sore hari jam 18.00, tapi jam 07.30 kami sudah tiba di Jogja. Hayoo….mau ngapain coba? Ini Jogja, tidak boleh sampai ada kata gabut di sini. Hahaha.
Sambil sarapan soto di sekitar kulineran Malioboro, aku bertanya kepada Tante tujuan hari itu ke mana saja. Tante malah bingung. Hahaha. Kenapa tidak direncanakan jauh-jauh hari coba? Yaa…sudah terbiasa minggat dan rusuh, ngapain pakai rencana segala, hanya ke Jogja ini, lho. 😀 Ujung-ujungnya dadakan dalam menentukan kunjungn destinasi.
Setelah melakukan diskusi penuh drama karena waktu yang kami punya tidak begitu banyak, hanya 8 jam menuju liputan, kami memutuskan untuk pergi ke Candi Prambanan. Nah, ketika hendak memesan transportasi via online untuk ke Candi Prambanan, tiba-tiba teringat sesuatu yang penting. Belum booking penginapan! Malas banget, kan, kalau harus gendong rasel berat saat jalan-jalan.
Tempat parkir cukup luas…
Saat genting seperti itu, cuma satu yang ada di benak. Airy Rooms!
Lagi-lagi Airy Rooms! Ya gimana lagi, selain ada banyak pilihan, cara untuk booking nya juga sangat mudah, dan yang paling penting adalah harganya sangat bersahabat. 😆 Karena sore hari kami akan ada acara di Sasana Amongraga, akupun mencari kamar Airy yang paling dekat dari sana, atau paling tidak mudah dijangkau. Setelah beberapa menit mencari akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Airy Eco Papringan, Ambarrukmo. Karena jarak tempuh dari Amongraga hanya 13 menit perjalanan. Tahu sendiri, Jogja sore hari kerap macet.
Selesai melakukan pemesanan yang hanya membutuhkan waktu tidak sampai lima menit, kami mencari mesin ATM untuk melakukan pembayaran. Beruntung kami masih di sekitar Malioboro, pasti banyak tersedia di sana. Apalagi ada Tante, dia kan pernah tinggal di Jogja, maka tidak perlu waktu lama untuk menemukan mesin ATM karena dia paham di mana saja letak Mesin ATM yang ada di jalan Malioboro. 😛
Legaaa banget ketika sudah beres masalah penginapan. Tinggal main sepuasnya tanpa perlu khawatir lagi. Setelah pembayaran beres, kami pun segera menuju penginapan untuk menitipkan barang bawaan. Aman deh punggung aku! 😆 Perjalanan dari Malioboro menuju Airy Eco Papringan ternyata tidak begitu jauh. Dengan mengandalkan Google Maps, kami pun akhirnya sampai penginapan.
Kenapa memilih Airy Eco Papringan Ambarrukmo?
Selain cara pemesanan dan pembayaran yang mudah dan simple, bagi yang hobi nyasar-nyasar, tidak perlu khawatir. Airy Eco Papringan sangat mudah ditemukan. Kami hanya perlu mengikuti Maps yang sudah tersedia di aplikasi Airy. Ya, di aplikasi Airy Rooms tersedia maps untuk memudahkan dalam pencarian. Jarak yang ditempuh untuk sampai di tempat acara yaitu Sasana Amongraga tidak lebih dari 15 menit. Dekat bangeeeett.
Yang kusukaaa…ada gretongan air mineral dan jajan. 😀
Alasan lain, kami meliput kegiatan sampai malam, kira-kira pukul 21.30 WIB. Artinya, kami cuma butuh tempat tidur dowang. Maksudnya, tempat buat bobok yang tidak terlalu mewah dengan banyak fasilitas. Cukup ada air hangat dan AC. Makanya, kami memilih tipe Airy Eco dan kebetulan di dekat tempat acara ada pilihan Airy Eco Parpringan. Sewaktu melihat harganya murah meriah, ditambah ada promo hingga mendapat harga IDR 166,536, gebeeet laaah! 😆
Fasilitas apa saja yang ada di Airy Eco Papringan Ambarrukmo, Yogyakarta?
Airy Eco Papringan mirip dengan tempat kos dengan kamar berjejer yang berada di lantai satu dan dua. Fasilitas yang ditawarkan untuk Airy tipe Eco ini tidak mewah, namun cukup standard sebuah penginapan untuk kelas backpacker, solo atau budget traveler. Ada WiFi, Tempat Tidur, Perlengkapan Mandi, Air Minum dan Snack, TV dan AC. Seperti yang kami tulis di atas, alasan kami memilih penginapan ini karena hanya butuh untuk sekadar istirahat saja, tidak terlalu mempedulikan fasilitas. 😀 Namun, kami cukup nyaman dengan kamar yang kami pilih karena beberapa alasan, yaitu:
Tersedia air hangat.
Suhu dan cuaca di Yogya memang panas. Mandi dengan air hangat rasanya memang kurang pas. Tapi karena acara kami sampai malam hari, ketersediaan air hangat menjadi prioritas utama. Shower yang ada di kamar kami adalah tipe hand sohwer yang sederhana, jadi tidak bingung untuk menggunakannya. Cukup memilih dengan cara memutar untuk air dingin atau panas seperti biasa.
Oiya, jika kamu sudah booking penginapan di Airy Rooms, tidak perlu membawa perlengkapan mandi karena Airy sudah menyediakan peralatan dan perlengkapan mandi, mulai dari sabun sampai handuk.
Tempat tidur double bed.
Nyaman buat bobok….
Ini menjadi pertimbangan utama ketika traveling bareng Tante. Penginapan dengan low budget, namun tempat tidurnya tipe double. Kebetulan kami mendapat kamar di lantai dua dan agak ujung. Cukup nyaman buat istirahat karena tidak terlalu bising. Didukung dengan kasur yang nyaman dan selimut yang tebal, tidur pun pulas.
Lingkungan bersih.
Menuju lorong penginapan…
Penampakan dari luar penginapan, Airy Eco Papringan terlihat kurang rapih termasuk ruang resepsionisnya. Agak was was saat mulai masuk ke dalam yang berupa lorong, gitu. Kabar baiknya, jalan menuju kamar sampai depan kamar dan bagian dalamnya, tuh, bersih. Mbak-mbak cleaning service juga rajin mengontrol kebersihan sekitar kamar.
Fasilitas pendukung yang membuat bahagia!
Selain kamar mandi dan perlengkapan mandi yang super lengkap, tempat tidur yang nyaman, lingkungan bersih, masih ada beberapa fasilitas pendukung yang membuat kami bahagia. Fasilitas tersebut yaitu AC, lemari pakaian lengkap dengan gantungan baju, meja rias, televisi dan tentunya snack khas Airy lengkap dengan air mineral. Dengan harga semula Rp 180an ribu, lalu karena pesan menggunakan aplikasi dan dapat promo menjadi Rp 160an ribu, makin ketagihan menginap di Airy Rooms. Jika pergi ke luar kota dan harus menginap, penginapan yang pertama kami tengok yaitu Airy Rooms karena berkali-kali menginap di Airy Rooms tuh tidak pernah bikin kecewa.
AC berfungsi dengan baik…
Banyak pilihan channel…
Oiya, ada kejadian yang bikin kami mikir sampai kami meninggalkan penginapan. Adalah tentang arah sholat atau kiblat. Dari malam hari kami sampai penginapan, sampai pagi hari, kami sholat dengan beda arah karena keyakinan arah kami berbeda. Hahaha. Konyol memang, tapi namanya kepercayaan, ya jalani saja. 😆 Saran nih, ya, ada baiknya petunjuk arah kiblat sholat ada di tiap kamar, khususnya untuk penginapan Airy Rooms, nih. Supaya tetamu tidak ragu dalam beribadah.
Tiga tujuan wisata yang sudah masuk travel bucket list tahun ini terpaksa aku hapus dari daftar. Negeri Jiran, Medan, dan Bali. Sesuai rencana harusnya bulan September aku sudah mulai jelajah. Ya, September, Oktober, dan November, satu bulan satu tujuan wisata. Jatah izin kerja juga sudah aku perhitungkan, namun karena pekerjaan sedang tidak bisa ditinggal, banyak deadline, akhirnya aku harus menghikhlaskan satu tiket pesawat yang sudah aku pesan. 🙁
Tiket pesawat yang sudah aku pesan yaitu tiket pesawat ke Bali untuk bulan September. Aku pesan dua tiket pesawat Garuda di tiket.com untuk aku dan Kecemut. Kebetulan saat itu sedang ada promo. Niatnya aku ingin mengajaknya jalan-jalan manjah sekaligus mengenalkan moda transportasi udara. Tapi ternyata belum rezeki jalan-jalan sama dia. 😀
Terus, kenapa memilih Bali, sih? Sebenarnya ini pilhan bersama. Ya, pilihan bersama tidak hanya aku dan Kecemut, tapi bareng beberapa teman, gitu. Aku tergiur banget, dong. Pikiriku tuh mumpun ada kesempatan ke Bali barneg teman-teman dan pasti itu ramai. Apalagi sampai saat ini, Bali masih menjadi salah satu destinasi wisata paling digemari di Indonesia. Terlepas dari eksotisme pantai yang tersebar di pulau ini, Bali juga merupakan pulau yang masih kental adat istiadat dan juga ritual keagamaannya. Hal ini lah yang mendorong daya tarik wisatawan asing dan lokal, termasuk aku, untuk mengunjungi Pulau Dewata.
Kamu tim suka borong oleh-oleh, atau kagak?
Salah satu tempat wisata di Bali yang ingin aku kunjungi adalah Pura Lempuyang Bali yang terletak di Karangasem. Pura ini memberikan pemandangan alam yang indah dan spot foto menarik berlatar belakang Gunung Agung. Sebelum mengunjungi Pura Lempuyang Bali, aku sudah mencari tahu informasi-informasi menarik dan penting mengenai Pura Lempuyang ini. Diantaranya adalah:
Tempat Suci Bagi Umat Hindu di Bali
Objek wisata yang berlokasi di Kabupaten Karangasem ini menjadi tempat suci umat Hindu di Bali yang menyajikan keindahan panorama tiada duanya. Menjadi tempat suci, tentu ada serangkaian aturan yang patut di jalankan kalau ingin berkunjung ke tempat ini.
Memiliki trek yang menanjak, memang tidak mudah untuk mencapai Pura Lempuyang dan keindahan alam Gunung Agung nya. Perlu menaiki ribuan anak tangga untuk mencapai Pura utama. Tapi aku pingin banget ke sini meski aku bersama Kecemut. Terpenting mempersiapkan fisik dan juga hati yang tulus ikhlas, seperti yang diyakini umat Hindu di Bali selama perjalanan menuju puncak. Udah kebayang ngos-ngosannya, sih, tapi kalau sudah sampai pura utama, bahagia banget pastinya.
Menyajikan Banyak Spot Foto Menarik
Setelah melalui trekking yang tidak mudah dan tentunya membuat tenaga terkuras, pasti lelah akan terbayar begitu sampai di atas Pura Lempuyang ini. Ada banyak spot foto yang sangat fotogenik di tempat ini. Hal ini juga menjadi pemicu banyaknya wisatawan berdatangan ke Pura ini, termasuk akuuuu. Hahaha.
Kalau hobi fotografi atau hobi di foto, berfoto di tengah Pura yang berlatar belakang Gunung Agung tentunya akan membuat hasil foto lebih fotogenik. Apalagi langit biru dengan awan putih yang terlihat begitu menyatu dengan latar, bisa membuat terkagum seketika begitu melihat hasil foto meski harus menaiki sekitar 1.700 anak tangga. 😀 Tantangan banget! 😛
Tiba-tiba kangen main ke Pura ini. Di Bogor…
Pantangan yang Perlu di Perhatikan
Kentalnya adat istiadat dan kepercayaan yang masih diberlakukan di Bali tentu membuat para wisatawan harus mematuhi peraturan yang dibuat untuk mengargai dan menghormati kepercayaan penduduk setempat. Karena, terdapat beberapa larangan yang ditujukan untuk para wisatawan yang akan menuju tempat wisata fotogenik ini.
Larangan tersebut diantaranya adalah:
Pikiran, perbuatan, dan perkataan harus suci, tulus, dan ikhlas;
Pantang untuk melontarkan kata-kata kasar saat dalam perjalanan menuju Pura;
Larangan membawa atau menggunakan perhiasan emas. Karena kerap kali perhiasan emas pengunjung dapat hilang secara misterius. Katanyaaaaaa;
Ada beberapa orang yang dilarang masuk ke Pura ini; wanita haid, anak yang belum tanggal gigi susunya, dan orang yang kerabatnya baru meninggal;
Terakhir, dilarang untuk membawa dan memakan daging babi.
Menurut kepercayaan masyarakat Bali, apabila larangan tersebut dilanggar, maka akan berdampak buruk bagi diri kita sendiri. Ngga tahu kenapa, kalau ada niat menyambangi destinasi yang juga merupakan tempat ibadah tuh bawaannya pingin cari tahu hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di destinasi tersebut. Malah seperti keharusan, khawatirnya bikin makruh atau malah bikin malu diri sendiri karena ngga update informasi. 😀
Semoga ada rezeki lagi lagi tahun depan atau kapan untuk ke Bali. Semoga (lagi), keinginan untuk ke Pura Lempuyang Bali dapat terwujud. Syukur-syukur pas ada keinginan, pas sedang ada promo tiket pesawat ke Bali. Rezeki nomplok, dong. 😀
Acap kali aku diminta oleh Ibu untuk menahan langkah kaki ini saat akhir pekan hampir tiba. Padahal saat weekdays, aku sudah menyusun banyak rencana untuk keluar rumah baik traveling atau sekadar jalan bareng teman. Bahkan kalau lagi selo banget, aku membuat semacam detail kunjungan, gitu. Ya…walau kadang kebahagiaan tidak bisa utuh karena perginya tanpa anak dan suami.
Aku paham bahwa, Ibuku menyarankan yang baik-baik. Karena dari Senin-Jum’at aku kerja, akhir pekan ada baiknya digunakan untuk istirahat. Beberapa kali aku pernah mencobanya. Beberapa kali juga sempat sukses dan tetap masih banyak gagalnya. Susah rasanya untuk berdiam diri di rumah saat akhor pekan. Meski ada Yasmin dan Suami, tetap saja jika ada waktu luang, kami memilih untuk keluar rumah. Hihihi
“Dasar ngga punya rasa capek!” Rekan kerjaku sering mengucap demikian. Duhh…gila aja ngga punya rasa capek, ya. Dikira aku tulangku jenis balung baja? Dikira tubuhku lemak semua? Ehtapi emang banyak lemaknya. Hahaha. Bagiku, capek karena pekerjaan tuh mudah banget diobati. Capek hati saja, sekarang obatnya mudah. Cukup memeluk Kecemut, urusan kelaaar! 😀
Kini, waktu berjalan begitu cepat. Sementara rencana-rencana terus bertambah, dan kadang ngga bisa mengimbangi antara waktu dan rencana yang telah tersusun. Misal nih, ya, hari ini punya rencana untuk menyelesaikan pekerjaan tundaan hari kemarin, ditambah pekerjaan baru yang harus segera diselesaikan. Tiba-tiba adzan duhur berkumandang.
“Busyeet, belum apa-apa sudah dzuhur.” Aku sering kaget ketika pekerjaan di depan mata belum selsesai tapi adzan sudah berkumandang. Kalau udah gini, tubuh harus bisa diajak kompromi, bisa mengerti, untuk menjadi partner yang baik.
Untuk tetap menjaga kondisi tubuh supaya terus sehat dan bugar, aku harus berjuang melawan hal-hal yang kadang sudah menjadi kebiasaanku sebagai orang pemalas. Hahaha. Kadang ada beberapa tingkah yang berseberangan dari hati memang, tapi ngga masalah untuk hidup lebih semangat.
Kira-kira, seperti apa cara untuk membuat tubuh terus sehat dan bugar?
1. Jangan bangun siang!
Dalam daftar riwayat keseharianku, aku jarang bangun pagi kecuali emang ada kegiatan penting banget. Hahaha. Terpenting udah subuhan, lanjut tidur. Tapi itu dulu, sebelum ada Kecemut dan Ayahnya. Sekarang ngga bisa ngeringkuk di balik selimut karena di pagi hari banyak rezeki. Termasuk rezeki kesehatan yang bisa didapat dari olah raga pagi. Jalan pagi badan tambah sehat dan bugar. Mata dan otak pun segar.
2. Jaga pola makan dan minum.
Naaah, ini asupan paling penting untuk tubuh setelah berpikiran positif. Hahaha. Ya gimana tubuh mau sehat jika bangun siang, ngga pernah olahraga, dan makanannya selalu junkfood. Dududuuh…makanya, selagi sehat jaga pola makan dan tentunya pola minum. Minum dengan takaran sehari 8 gelas, tidak cukup menyehatkan tubuh jika masih obral minum es. 😀
3. Rajin olahraga.
Olahraga tidak hanya lari pagi, jalan sejauh 1km pun termasuk olharaga. Angkat-angkat jemuran, mengepel, menyapu, itu merupakan bagian dari olahraga. Namun, ada bidang olahraga yang cukup andil untuk kesehatan dan kebugaran tubuh, misalnya tenis lapangan. Seluruh anggota tubuh gerak. Apalagi jika dilaksanakan secara out door, ada banyak lemak yang terpangkas. Hahaha.
4. Rajin komsumsi minuman herbal.
Dulu aku ketergantungan banget sama Pak Timin, tukang jualan jamu keliling kampung. Udah nunggu lama karena memang tiap pagi udah menjadi kebiasaan minum jamu, eh taunya ngga jualan. Sekarang, sih, udah tenang karena ada Herbadrink yang mana manfaatnya sama dengan jamu-jamu yang tiap pagi aku konsumsi.
Herbadrink adalah minuman herbal alami yang dibuat berdasarkan resep tradisional Indonesia, diproses menggunakan teknologi modern dengan mempertahankan manfaat alaminya. Dikemas secara praktis dan higienis, tinggal seduh, bersih, tanpa pengawet dan tanpa endapan dengan rasa yang enak dan segar.
Herbadrink tersedia dalam 12 varian tiga diantaranya yang merupakan favoritku yaitu Sari Jahe, Sari Temulawak, dan Lidah Buaya. Buat yang sedang mengurangi konsumsi gula karena alasan kesehatan atau sedang berdiet rendah gula, tersedia juga dengan varian Sugar Free. Asyik, kaaaan?
Minuman herbal yang pagi hari selalu aku konsumsi yaitu Sari temulawak. Sari Temulawak Herbadrink dibuat dari resep minuman tradisional, serta diproduksi tanpa pengawet. Sari temulawak sejak dulu dikenal bermanfaat untuk memelihara fungsi hati, meningkatkan daya tahan tubuh serta memperbaiki fungsi pencernaan. Di beberapa penelitian juga disebutkan manfaat untuk menjaga kadar kolesterol dalam darah.
Sari Jahe Herbadrink dibuat dari resep minuman tradisional, serta diproduksi tanpa pengawet. Jahe alami memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, selain menghangatkan serta membuat tubuh nyaman sehingga memberikan efek relaksasi. Rasa hangat dari jahe pun bermanfaat untuk meredakan masuk angin, kembung serta mengurangi rasa mual.
Kalau siang hari, Herbadrink Lidah Buaya cocok banget dikonsumsi untuk menambah kesegaran. Konsumsi herbadrink lidah buaya ini lebih segar ditegus setelah makan siang, ditambah es juga tambah segar. Selain untuk kesegaran, herbadrink lidah buaya berkhasiat membantu memelihara kesehatan fungsi pencernaan dan membantu melancarkan buang air besar tanpa efek melilit yang mengganggu.
Selain sari temulawak dan lidah buaya, satu minuman herbal yang aku seduh tiap malam yaitu Sari jahe. Lagi-lagi sekarang untuk menyeduh jahe tidak perlu repot karena ada sari jahe herbadrink!
Sari Jahe Herbadrink dibuat dari resep minuman tradisional, serta diproduksi tanpa pengawet. Jahe alami memberikan banyak manfaat bagi kesehatan, selain menghangatkan serta membuat tubuh nyaman sehingga memberikan efek relaksasi. Ada banyak manfaat dari hangatnya sari jahe, antara lain; meredakan masuk angin, kembung, menghangatkan serta membuat tubuh nyaman sehingga memberikan efek relaksasi dan serta mengurangi rasa mual. Sambil berselancar di dunia maya, minum sari jahe tuh badan tambah segar dan bugar. Bobok malam pun nyeyaak.
Menjaga tubuh supaya terus sehat dan bugar adalah tanggung jawab diri sendiri. Kadang merasa sudah maksimal menjaga kesehatan tubuh saja, tahu-tahu bisa rapuh. Apalagi yang tidak menjaganya. Eeeh…kamu punya cara atau tip lain untuk menjaga tubuh supaya terus sehat dan bugar? Sharing yuk! 😉
“Yakin, hem kotak-kotak warna hijau tua akan dipadukan dengan jilbab motif ini?” Tanya seorang teman kepadaku saat hendak kondangan. Jilbab motif yang aku kenakan, tuh, bagus. Jilbab segi empat motif bunga kecil-kecil dengan bahan dari kain sutera. Tapi untuk dijadikan mix and match dengan kemeja kotak-kotak memang rasanya kurang cocok. Sumpah, ini kostum tersongong yang hampir aku kenakan untuk ootd ke kondangan.
Aku sama sekali bukan tipe perempuan yang pandai mix and match perihal fashion. Padahal, padu padan tentang fashion sebenarnya bukan hal yang susah karena tinggal penyelarasan saja supaya lebih enak dipandang, tidak membosankan. Ya, kan? Namun pada kenyataannya aku kerap gagal dalam berkostum. Tidak hanya itu, aku juga kerap gagal dalam memilih pakaian terutama atasan. Ujung-ujungnya baju yang telah terbeli aku berikan kepada anaknya Mak Yem karena sesampainya di rumah dan kembali dicoba, tidak ada kecocokan di antara kami. 😛
Teman-teman yang sering bareng aku atau pernah main bareng, pasti paham penampilanku seperti apa. Jauh dari kata fashionable dan dekat dari kata standard. Rasa-rasanya sudah berpenampilan semenarik mungkin, tapi setelah berkaca nampak biasa banget. Parahnya, sudah dandan semaksimal mungkin pun tetap terlihat tidak ada perubahan yang dahsyat di wajah ini. Nasib banget, kan. 😀 Emmh…meski banyak yang mengatakan bahwa cantik dari dalam itu lebih penting, tapi rasa-rasanya pingin juga terlihat cantik memesona dari luar. Namanya perempuan, ya, apa-apa selalu butuh pengakuan. 😀
Mulai dari sini, aku mulai belajar. Bukan, bukan belajar dandan atau shopping terus-terusan sampai mendapat baju yang cocok, namun aku belajar bagaimana bisa percaya diri dengan penampilanku yang seadanya. Salah satunya yaitu dengan mengenakan aksesori untuk penunjang fashion. Nah, inilah aksesori yang kerap membuatku percaya diri saat keluar rumah untuk sekadar menghadiri acara, atau kerja.
Jam Tangan
Selain sebagai alat pengingat waktu, jam tangan juga menjadi aksesori penunjang fashion. Kamu pernah melihat perempuan yang saking fashionablenya, dia sampai menyesuaikan warna antara baju dan jam tangan. Pernah, kan? Senang, ya, melihat kekompakan tersebut. Meski kompaknya cuma ada di baju dan jam tangan, tapi yang melihat ikut senang. Apalagi saat dilirik tuh kelihatan bahwa yang dipakai adalah jam tangan wanita original. Geregeeet, euy! Tapi ini bukan aku, lho. 😀
Ya, pemakaian jam tangan memang menambah rasa percaya. Terlebih saat ditanya waktu oleh teman atau siapapun, ada kebanggaan tersendiri sekalipun aku sedang tidak menggunakan jam tangan wanita original. Maksudnya jam tanpa merek ternama, gitu. 😉
Jam tanganyang kerap aku pakai ke tempat kerja menjadi jam favoriteku Selain modelnya simpel dan perolehannya butuh perjuangan, jam tangan tersebut adalah satu-satunya jam tangan wanita original yang aku punya. Lainnya adalah standard dan KW 3. Hahaha. Oiya, kamu tim perempuan yang mengenakan jam tangan di pergelangan tangan kanan atau tangan kiri? 😛
Tas
Bagiku, pergi tanpa membawa tas sama saja dengan pergi sendirian, seperti orang hilang sekalipun di dalamnya hanya berisi dompet. Pergi dengan menenteng, menggendong tas membuatku makin percaya diri karena setidaknya ada satu barang yang melakat di tubuh. Artinya, ada satu obyek yang bisa dilihat selain fashion, barang yang menjadi perhatian.
Gelang
Pernah dalam suatu pertemuan, aku ditanya sama teman, “kenapa kamu suka banget pakai gelang, sih?” Aku sempat terdiam sejenak karena kemanapun pergi aksesori gelang memang jarang alpha dari pergelangan tanganku karena aku merasa makin manis pergelangan tanganku ini dengan aksesori gelang. Kan jadinya menambah rasa percaya diri. 😛
Berbeda dengan tas, aku suka banget beli gelang, semacam mengoleksi, gitu. Koleksi yang pada akhirnya sering hilang karena keteledoranku dalam meletakannya. Hahaha….tidak mengapa, harga gelang kan terjangkau, ya. Iya, gelang mainan lho, bukan gelang emas. 😀
Sepatu
Hobi piknik tidak membuatku untuk boros dalam hal sepatu. Aku hanya memiliki tidak lebih dari lima sepatu. Jika tadi ada jam tangan standard atau bahkan KW, untuk sepatu aku malas membeli barang KW. Yaa…meski tidak paham betul mana yang asli yang mana yang sekadar tempelan logo, yang jelas aku berusaha untuk membelinya tidak dengan online. Supaya lebih mantap, aku membelinya di toko offline. Bisa mencobanya, bisa melihat detail materialnya juga. Meski pastinya tidak banyak pilihan.
Sepatu, ada dibagian bawah namun bisa membuat rasa percaya diri makin besar. Terlebih jika yang dikenakan adalah merek sepatu ternama, bangga, bahagia dan percaya diri banget. Meski bukan aksesori pada umumnya, bagiku sepatubisa dijadikan “alat” untuk menambah percaya diri.
Kalau boleh tahu, aksesori apa yang dapat membuatmu percaya diri? Atau, menambah rasa percaya diri meski hanya 10%. 😛
Bertandang ke Lampung sama sekali tidak ada dalam daftar rencana piknik tahun ini. Tapi karena ada tawaran dan juga kesempatan, mengapa tidak! Pikirku saat itu, sekali jalan dan dapat pengalaman baru, tuh, seperti dapat rezeki dobel. Perjalanan untuk pertama kalinya dan sukses membuatku jatuh hati pada lampung beserta pariwisatanya.
Ya, bulan lalu aku ke Lampung dalam rangka mengikuti event Lampung Krakatau Festival (LKF) yang dilaksanakan pada tanggal 20-25 Agustus 2018. Aku kaget ketika ada sahabat baik yang mengirim invitation untuk menghadiri event yang masuk skala nasional itu. Memang tujuan utama adalah menghadiri festival, namun melihat calon peserta yang ikut adalah teman-teman dekat, aku makin berusaha untuk bisa ikut festival sekalian kopi darat (kopdar) dengan teman-teman Blogger yang sudah lama banget enggak ketemu. 😆
Btw, ini kali pertama aku ke Lampung. Ada banyak pengalaman yang aku dapat selama di sana sampai akhirnya aku jatuh hati pada Lampung. Ini bukan berlebihan karena selama perjalanan menuju lampung, trip, dan mengikuti rangkaian kegiatan LKF, banyak hal menarik yang aku jumpai di sana. Banyak yang mengesankan pula, sampai akhirnya menjadi sebuah inspirasi tersendiri. Ya, bagiku Lampung menginspirasi dari berbagai sisi. Dan tak bosan aku mengatakan, Lampung membuatku jatuh hati!
Niat banget nambah gosong… 😀
Aku bersama Rois, Mbak Lia dan Mbak Way berangkat ke Lampung menggunakan transportasi darat dan laut. Selama perjalanan, kami merasa asyik-asyik saja meski di kapal maupun di dalam bus, tuh, panasnya bikin pingin cepat-cepat ganti daster. Maklum, pakai bus bisnis, next time nyoba kelas royal ah! 😛
Perjalanan laut kami tempuh kurang lebih 3 jam, kami memilih duduk di bagian luar kapal supaya bisa bebas mau ngapain saja. Merasakan semilir angin, melihat cantiknya laut sembari berfoto ke sana ke mari padahal matahari sedang terik. Andai Yasmin jadi ikut, pasti bakal senang bisa naik kapal gini. Uwuuw…akhirnya baper di kapal. Hahaha.
Dari kejauhan, terlihat dermaga pemberhentian kapal. Akhirnya…sampai Lampung juga! Aku kira setelah turun dari kapal, akan langsung ketemu dengan kota, ternyata tidak! Hahaha. Kami masih harus menempuh perjalanan darat kurang lebih empat jam dari pelabuhan Bakauheni menuju kota. Yang bikin aku speechless nih, saat mulai masuk Lampung Selatan, tepatnya di Kalianda, aku merasa seperti sedang di daerah sendiri.
Perjalanan menuju Lampung…
Kanan kiri kebun yang ditanami beragam pepohonan. Bedanya, di Lampung dominan pohon kelapa, sementara di Banjarnegara area pesawahan dan pohon salak. Kemudian, rumah-rumah yang ada di pinggir jalan juga bangunannya tak jauh beda dengan rumah-rumah di desaku. Jika di Banjarnegara, perjalanan ini mirip jalan sepanjang Mandiraja menuju Sokaraja. 😀
Ketika mengabarkan ke Mbak Mel bahwa kami sudah sampai Kalianda, dia meminta kami untuk turun di Taman Gajah atau Lapangan Enggal yang berlokasi di Tanjung Karang karena di taman ini sedang digelar Festival Kanikan. Festival ini merupakan bagian dari LKF 2018. Bahagia rasanya dapat turut menikmati festival kuliner a la Lampung. Naaaah…mulai dari sini, aku jatuh hati kepada Lampung.
Festival Kanikan ramai bangetttt…
Tata letak stand dan kosep festival sungguh rapih. Termasuk panggung untuk pertunjukan. Festival Kanikan menawarkan beragam kuliner mulai dari kudapan kekinian, sampai pada kuliner khas Lampung. Karena festival ini diselenggarakan satu tahun sekali, tentunya sangat ditunggu oleh masyarakat dan penikmat kuliner. Tak heran jika ramai pengunjung. Apalagi tiap harinya ada live perform dari komunitas-komunitas yang ada di Lampung, makin semarak. Pingin juga lah digelar di Banjarnegara meski belum yakin antusias kulineran masyarakat sini tinggi. Hahaha.
Lampung menginspirasi dari berbagai sisi.
Karena hari sudah sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Hotel Bukit Randu, tempat menginap kami selama dua hari. Tak disangka setelah sampai depan lobby, hotel ini ternyata menawarkan view yang keren parah! Baik dari halaman hotel maupun balkon kamar, suguhan pemandangan kerlip lampu rumah warga dilihat dari atas mirip view “bukit bintang”. Selain itu, interior kamar rasanya Lampung banget! Baik di Hotel Bukit Randu tempat menginap di hari pertama, maupun di Whiz Prime Hotel, tempat menginap hari berikutnya, pada tiap kamar ada tapis dengan beragam warna baik untuk aksesoris tempat tidur, maupun hiasan dinding. Promosinya kompak banget, kalau kotaku tersayang belum, gaes! 😀 Pinginlah, pada kompak promosikan batik gumelem yang khas itu untuk penginapan-penginapan di kotaku.
Malam di street food Hotel Bukit Randu…
Berikutnya yaitu tentang Siger. Nah, ini paling menggoda. Siger yang telah menjadi simbol khas Lampung sangat mudah dijumpai di mana saja alias tidak di tempat tertentu. Uniknya, nih, hampir seluruh sekolah, instansi, tempat kuliner, toko oleh-oleh, bank, dan masih banyak tempat lain, sebagian besar menggunakan Siger di depan bangunannya.
Bagiku ini menarik karena belum aku jumpai di daerah lain. Di daerahku, misalnya. Pemakaian identitas toko atau sekolah masih menggunakan logo masing-masing. Beberapa yang aku lihat di Lampung, sih, tetap ada yang menggunakan logo brand identitas toko atau lainnya, namun Siger tetap ditampilkan di paling atas. Pingin tuh, Banjarnegara punya simbol khas daerah lalu dipasang dimana-mana. Tapi yang menggambarkan khasnya Banjarnegara. Emm…belum punyaaa, sih, beluuuum. 😀 Dari simbol daerah saja membuatku jatuh hati, ya. Jatuh cinta yang sederhana seperti ini, tuh, menambah semangat explorasi pariwisata. 😛
FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (8)
FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (7)
Itu baru Siger. Ada lagi yang menginspirasi yaitu tentang tugu penghargaan yang dikelilingi Gajah. FYI, Lampung memiliki taman nasional perlindungan gajah, dan konsep tugu ini ngena banget. Lagi-lagi aku pingin ada kayak gini di tempat lahirku karena tugu yang belum lama direnovasi ternyata biasa banget, tidak menyelipkan identitas apapun di dalamnya. Kesannya seperti asal-asalan dibuat. Hahaha. *terjulid Di sini aku sempat membuat video pendek yang aku tujukan buat Yasmin. Melihat gajah-gajah lucu itu, baper banget rasanya. Padahal lagi dalam keadaan genting karena harus cepat sampai bandara tepat waktu, lho. Hahaha. Ya gimana lagi, gemes banget melihat Gajah di sekitar tugu ini. 😛
Tugu penghargaan saja jadi spesial… 😉
Satu hal yang paling bikin baper dari Lampung adalah kekayaan pantai yang sukses bikin panas hati! Sebenarnya ini aku rasakan semenjak di Taman Gajah. Selain kuliner, di sana ada galeri foto pariwisata lampung yang isinya kebanyakan adalah pantai-pantai di Lampung. “Aku harus mencicipi pantai di Lampung barang satu pantai.” Batinku sore itu saat keliling galeri. Hamdallah…keinginan untuk mengunjungi pantai gagal karena hari ketiga di Lampung tenaga tinggal 50%. LEMAAAH! 😆
Tapi tidak mengapa, karena aku mendapat ganti yang lebih dari sekadar melihat pantai yang canteek-canteek itu. Bersama kurang lebih 100 orang, aku melakukan perjalanan ke Gunung Anak Krakatau untuk melakukan observasi, ekskursi. Ya…kapan lagi bisa sampai Anak Gunung Krakatau kalau tidak dalam rangka trip edukatif, kan.
Akhirnya sampai Pulau Sebuku…
Turun dari kapal langsung menginjakkan kaki di atas pasir pantai tanpa alas, dan air pantai pun menyambut. Di sini tiba-tiba aku kembali ingat kepada Yasmin.
Masih lekat dalam ingatan, seminggu sebelum berangkat ke Lampung, kepada Yasmin, aku sempat memperlihatkan Kapal Laut, Pesawat, Gunung Anak Krakatau, Pulau-pulau di sekitar Anak Krakatau, dan Lautan yang begitu luas. Aku bercerita sedikit tentang Lampung dengan kekayaan alam yang begitu melimpah, sampai dengan transportasi menuju ke sana. Aku juga sempat memutarkan video seputar aktivitas wisata di Taman Nasional Way Kambas, sebuah taman nasional perlindungan gajah yang juga ada di Lampung.
Aku perlihatkan semua tentang Lampung kepadanya dan dia tampak bahagia sekali. Terlebih saat aku mengutarakan niat untuk mengajaknya ke Lampung, dia bersorak ria dan memelukku erat.
Teman traveling yang menyenangkan…
“Besok kalau di Lampung kita bisa naik kapal yang geedeeee bangetttt. Bisa main-main di pantai sampai puas. Terus, bisa juga bermain dengan Gajah yang jumlahnya banyak. Dan pulangnya nanti kita naik pesawat. Katanya kamu pingin naik pesawat?” Ucapku kepada Yasmin seminggu sebelum berangkat ke Lampung.
Tapi ternyata belum berjodoh mengajaknya ke Lampung karena tiba-tiba Ibuku berubah pikiran. Aku tidak diizinkan membawa Yasmin padahal dia anak kandungku cobaaaaa. *ini lebay* Sungguh ini adalah ujian sebelum naik tingkat. Emm…tingkat kapal maksudnya. 😀 Akhirnya, segala apa yang sudah menjadi angan-angan harus aku simpan dalam-dalam.
Ngebet banget ngajak Yasmin buat naik kapal…
Tepat di pintu masuk Cagar Alam Krakatau, menghadap deretan kapal yang bersandar menunggu kami sampai selesai observasi, aku ngevlog.
“Haii…Yasmin, Ibu sudah sampai Lampung, nih. Sekarang sedang di Krakatau. Lain waktu Ibu akan mengajak kamu ke Lampung. Nanti kita jalan-jalan keliling pulau di Lampung, naik kapal gede, main di taman yang banyak Gajahnya, terus naik pesawat juga.” Kira-kira seperti itu vlog yang aku anggap juga sebagai doa sekaligus oleh-oleh buat dia. Rasa sedih, bahagia, seketika bercampur. Dan vlog ini menyempurnakan vlog yang di depan tugu muda Lampung. Hmmm…baper-bapeer! 🙁
Masih banyak tempat yang belum tereksplorasi di Lampung, khususnya pantai dan kerajinan tangannya. Aku yakin, jika kemarin ada waktu untuk singgah ke pantai dan tempat kerajinan khas Lampung, pasti juga ada banyak inspirasi di sana. Keramahan pelayanan di toko oleh-oleh khas dan tempat kuliner khasnya saja sampai sekarang masih terngiang. Apalagi bisa sampai ke lokasi pembuatan oleh-olehnya. Pantaslah tagline The treasure of Sumatera melekat di Lampung karena Lampung ini menyenangkan dan banyak kekayaan alam dan budaya yang dapat dinikmati wisatawan.
Hmmm…memang perlu ke Lampung lagi, nih! Aku yakin, masih banyak inspirasi lain yang dapat aku temukan di Lampung. Inspirasi yang nantinya menjadi bahan diskusi dengan teman-teman di sini untuk kemajuan pariwisata Banjarnegara khususnya. Semoga rencana ini dapat terwujud tahun depan ya, Nak! Ibu siap-siap mengirit jatah cuti kerja. 😛
Ayey! Ke Lampung lagi….
Ahaai…rencana traveling ke Lampung sudah aku masukan ke dalam bucketlist traveling tahun depan. Artinya, aku harus mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan. Setidaknya aku sudah belajar dari kunjungan aku ke Lampung bulan lalu. Satu hal yang menjadi catatan, traveling tahun depan ini aku berencana mengajak Yasmin. Kalau suami, sih, belum tahu bisa ikut apa tidak, sibuuk teruus! 😛
Taman yang produktif…
Tahun depan dia berusia 4 tahun, insya allah sudah cukup paham dan bisa menikmati perjalanan. Karena traveling sama anak-anak, aku pingin lebih santai, menikmati segala sudut Lampung. Ada pantai yang bisa buat snorkeling, Tempat Kerajinan khas Lampung, Kuliner Khas, Menara Siger, dan Way Kambas. Obyek wisata tersebut akan kami telusuri satu per satu, waktu sudah tidak menjadi persoalan asal duit sudah terkumpul. Hahaha. Tapi tetaplah, ya, budgeting perlu dipersiapkan. Melihat destinasi wisatanya, ini mau nyenengin anak atau diri sendiri, ya. 😆
Ini, kok, mantap betul, ya. Kembali traveling ke Lampung, menyusuri tempat-tempat yang pernah aku singgahi maupun tempat baru. Semoga bisa terwujud dan menjadi moment traveling istimewa buat aku dan Kecemut! Maaf, Pak Suami. Kami jalan berdua saja, ya.
Ada kebanggaan tersendiri ketika membaca berita tentang prestasi-prestasi anak bangsa. Apalagi jika anak dari daerah sendiri sampai turut menorehkan prestasi, rasa bangga pun menjadi berlipat. Seperti yang terjadi pada gelaran Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dengan tema Aktualisasi Potensi, Bakat dan Prestasi Siswa yang bertempat di Gedung Olahraga Sasana Among Raga, Yogyakarta.
Beberapa media cetak, online dan akun sosial media lokal Banjarnegara mengabarkan bahwa ada atlet dari Kabupaten Banjarnegara yang berhasil memperoleh medali di gelaran O2SN. Membaca berita ini, aku pingin mlipir ke Yogya untuk melihat dia bertanding. Namun apa daya, O2SN berlangsung selama hari kerja yatiu pada tanggal pada tanggal 21-27 September 2018. Yasudahlah, berarti belum beruntung. Gagal nonton perhelatan O2SN, namun aku punya kesempatan untuk menghadiri acara penutupan O2SN bersama teman-teman Blogger, termasuk Tante. Aaaah…kan asyik banget ada teman buat teriak-teriak manja tanpa harus malu. Lho, kok teriak manja?
Iya, acara yang dimulai pukul 18.30 WIB ternyata cukup banyak menyelipkan beragam pertunjukan yang tanpa terasa bahwa malam itu adalah acara penutupan O2SN. Salah satunya pertunjukan dari band lokal, Jasmine Akustik. Pemilihan lagu berjudul Kangen yang dinyanyikan oleh dewa 19 sukses membuatku teriak manja ikut nyanyi. Beberapa kali juga nampang di story Instagram teman-teman Blogger yang sama-sama suka dan hafal lagu tersebut. Kalau ingat ini, gokil rasanya. Hahahaha.
Jasmine Akustik tidak hanya menghipnotis kaum 80an dengan lagu Kangen, dia juga berhasil memecahkan suasana gedung olah raga dengan mengajak para atlet jenjang SD turut menyanyikan lagu Meraih Bintang yang sempat hits selama gelaran acara Asian Games 2018.
Pertunjukan tidak hanya dari band saja, ada juga atlet Wushu dari siswa-siswi jenjang SD-SMP di Yogyakarta yang pernah mendapat prestasi baik tingkat daerah maupun nasional. Mereka memperagakan Wushu di atas panggung dengan gagah gemulai. Ada lebih dari 10 atlet yang berpartisipasi memperagakan cabang olah raga ini. Dan aku baru tahu kalau ternyata jurus-jurus di Wushu, tuh, banyaaaaaaaak banget. Salah satunya yaitu Jurus Tombak di mana tombak dijadikan alat untuk peragaan ini. Kagak gawl banget, ya. 😀
Anak-anak naik panggung… Wkwkwk
Peragaan Wushu…
Wushu totalitas…
Sebelum akhirnya diisi dengan sambutan-sambutan, paduan suara dari siswa SD Muhammadiyah Sokanandi, Selman, mengajak seluruh tamu yang hadir untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam versi penuh. Sudah lazim tiap acara resmi lagu tersebut akan dinyanyikan. Demi apa aku tidak hafal lagunya dalam versi penuh. Hahaha…memalukan. 😛
Usai menyanyikan lagu Indonesia Raya, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah yang mewakili Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, bersama Kepala Dinas Pendidikan, Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D., bersama Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY, Drs. R. Kadarmanta Baskara Aji, memberi cindera mata khas Yogyakarta kepada 34 partisipan dari masing-masing provinsi di Indonesia. Drs. R. Kadarmanta Baskara Aji berharap, dengan penyerahan cindera mata ini seluruh kontingen yang turut acara O2SN akan terus ingat bahwa Yogyakarta dengan segala kenyamanan dan keramahannya pernah menjadi tuan rumah O2SN.
Pemberian cindera mata…
Acara dilanjut dengan laporan atas penyelenggaraan event O2SN oleh Drs. R. Kadarmanta Baskara Aji. Beliau menyampaikan bahwa, O2SN merupakan puncak prestasi anak-anak dari seluruh Indonesia. Tujuan diadakan O2SN ini supaya anak-anak dapat menampilkan potensi dan bakat untuk mendapatkan prestasi. Beliau juga memaparkan tentang cabang olahraga dan jumlah atlet yang ikut kegiatan O2SN. Ada 9 cabang olahraga yang digelar dalam O2SN. Jumlah atlet yang ikut O2SN tercatat sebanyak 1938 yang terdiri dari 408 siswa SD, 340 siswa SMP, 544 siswa SMA, 340 siswa SMK, dan 306 siswa SLB.
Acara makin seru ketika panitia memutarkan kilas balik kegiatan O2SN. Banyak hal-hal seru yang disorot, mulai dari persiapan, pertandingan, sampai dengan ekspresi wajah para penonton. 😆 Sorak bahagia berlanjut ketika MC mengumumkan juara umum O2SN. Mereka yang mendapat juara umum yaitu Proponsi Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, mendapat tropi.
Pada kesempatan yang sama, Bapak Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D., juga memberi sambutan. Beliau memberi semangat dan mengingatkan kembali pada tujuan penting diselenggarakannya O2SN. Selain menggali potensi dan bakat, tujuan utama O2SN yaitu merekatkan rasa nasionalisme kepada Bangsa indonesia. Harapan beliau kepada para Kepala Sekolah dan Guru, gairahkan pembinaan olahraga agar potensi anak-anak makin berkembang. Kepada KONI, beliau berharap agar potensi anak-anak terus dipupuk sehingga nanti akan mendapat juara nasional.
Beliau juga menyampaikan bahwa, ada satu cabang olahraga yang selalu dikirim ke luar negeri, yaitu Karate. Cabang olahraga ini selalu mendapat medali emas dan perak. Tahun ini, Indonesia akan mengirim atlet Karate ke Belgia. Dengan adanya O2SN ini, beliau berharap cabang olahraga lain juga bisa meningkat ke taraf Internasional. Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya disampaikan kepada Gubernur DIY dan Kadis Dindikpora yang sudah yang sudah mensupport, memfasilitasi, dan mengkoordinasi kegiatan O2SN sehingga acara dapat berjalan sesuai harapan.
Sambutan dari Sri Sultan Hamengkubuwana X
Gubernur DIY dalam sambutannya sekaligus sebagai penutup acara, memberi selamat kepada seluruh atlet O2SN karena telah bertanding secara sportif. Bagi yang menerima medali, beliau berharap agar terus meningkatkan prestasinya. Sementara para atlet yang belum mendapat medali, beliau berpesan agar apat menerima kekalahan dengan sportifitas, sebagai cambuk untuk bangkit ke depannya.
Tepat pukul 21.30 WIB, acara penutupan O2SN diakhiri dengan gelaran sendratari Bekakak. Tari ini sebagai upacara adat yang digelar oleh masyarakan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Persembahan tari dari Duta Seni Pelajar DIY kembali memecahkan suasana GOR malam itu. Tari ini menggambarkan kesedihan Sri Sultan Hamengkubuwana I yang kehilangan dua abdi dalemnya karena meninggal tertimpa reruntuhan batu gunung Gamping. Sebenarnya tema tarinya menyedihkan dan ada horrornya, tapi yang aku gagal sedih karena melihat totalitas para penari. Gregeeet banget!
Penampilan Tari Bekakak…
Usai penamilan…
Sukses untuk O2SN Tahun 2018, semoga tahun depan bisa nonton O2SN barang satu cabang olahraga. Kalau bisa, sih, pas Kabupaten sendiri yang tampil. Soalnya aku dapat informasi dari beberapa teman Blogger yang kemarin sempat nonton pertandingan O2SN, katanya atlet dan juga para supporter dari Kabupaten Banjarnegara, tuh, semangat-semangat pisan. Jadi pingin ikut memberi semangat juga, kaaan. 😛
Sedih itu, ketika berkaca dan melihat bintik hitam di wajah, tepatnya di bawah mata. Aku tidak paham, kapan bintik hitam itu mulai bertebaran di wajah. Perawatan wajah untuk hal yang satu ini, aku menggunakan peeling tiap pagi dan malam. Setahuku, peeling ini bermanfaat untuk membantu proses regenerasi sel-sel kulit. Pikirku, dengan rutin menggunakan peeling, bintik hitam nantinya akan tersamarkan.
“Aaah…terima saja. Memang sudah saatnya, kalik.” Ucap seorang teman saat aku CURHATI tentang bintik hitam pada wajah. Em…menerima tua karena usia yang terus bertambah, sih, pasti. Tapi, aku pingin wajah tetap bersih meski kulit gelap. Hahaha. Iya, udah kulit gelap, ditambah bintik hitam pula, sedihnya tuh dobel cyiiin. Asli. Ya secara, usia belum banyak-banyak amat, tapi wajah udah berbintik hitam. Kalah sama emak-emak kompleks, sudah masuk usia cantik, tapi kulit wajah masih mulus dan bersih.
Tidak berhenti pada satu teman, aku pun cerita-cerita tentang bintik hitam ini. “Kamu kan malas bersihin muka, kalau pulang kerja atau pulang dari piknik, langsung ngusel bantal. Gimana mau punya kulit bersih!” Emmm…eng…emm…baiklah, ini betul. Aku malas banget kalau disuruh bersihin wajah. Apalagi setelah piknik dan seharian kena terik matahari, paling aku hanya bersihin wajah menggunakan facial foam karena kulit wajahku ini tipikal kulit berminyak. Duuh…mendadak punya permasalahan yang serius, dong!
Solusi pertama untuk perwatan kulit wajah yaitu dengan facial ke salon. Widih…tumben, ya. Hahaha. Jangan berkomentar banyak dulu, ya. Aku tidak meluangkan waktu khusus untuk ke salon, kok. Hanya beberapa kali dalam setahun. 😆 Ya, karena aku ke salon, tuh, punya misi khusus yaitu berdiskusi tentang cara merawat wajah yang berminyak dan sudah berbintik-bintiiiiiik. Wkwkwk. Sekali mendayung, nih. Sambil dipijet-pijet sama Mbak salon yang bertugas, aku banyak tanya perihal wajahku yang gelap dan penuh kusam ini. 🙁 Padahal sebenarnya ada dokter kecantikan di sini, tapi ya gitu, aku malas berdiskusi yang berkepanjangan sampai akhirnya harus beli produk ini itu. Hahaha.
Solusi kedua, aku tetap istiqomah menggunakan peeling untuk menyamarkan bintik hitam. Yaa….siapa tahu bisa tersamarkan. Selain peeling, aku sekarang sudah mulai rajin menggunakan face toner dan seperangkatnya. Tidak ada kata terlambat lah, ya. Meski usia terus bertambah. Iya, jawab saja iya. 😆
Solusi ketiga, aku makin rajin menggunakan masker. Kalau kata Ibuku, sih, tidak penting. Lebih penting wudhu yang rajin ketimbang pakai masker karena pengaruhnya tidak begitu banyak ke kulit wajah. *jleb banget* Tapi kalau rajin untuk dua-duanya kan siapa tahu bisa makin bersinar, ya. 😛
Masker yang aku pakai ini masker alami. Seperti yang aku pakai beberapa waktu lalu. Masker ini aku dapat dari Tante, masker khusus untuk mengangkat komedo. Iya, komedo yang biasanya harus dibersihkan di salon dengan cara dicabut dan bikin nangis, kini bisa disiasati hanya dengan menggunakan masker. Akhirnya, tidak ada drama lagi soal bebersih komedo ini. Hahaha.
Selain masker khusus ini, aku juga lebih suka menggunakan masker alami untuk perawatan kulit wajah secara keseluruhan. Memang, sih, lebih ribet. Tapi rasanya lebih tenang karena pastinya minim efek samping dll dll. Masker alami yang kerap aku pakai seperti Masker Spirulina, masker dari madu, atau dari gula merah.
Masker spirulina merupakan salah satu masker terbaik yang bisa diandalkan untuk mencerahkan warna kulit, membantu mengangkat sel kulit mati, mengencangkan kulit, menyamarkan noda hitam, hingga membantu meningkatkan pertumbuhan sel kulit. Naah, ini memang masker alami yang paling cocok karena bisa menyamarkan noda hitam juga. Cuma nih, ya, di Banjarnegara belum ada yang jual masker ini. Makanya, aku belinya di toko online. Berbeda dengan masker dari labu atau gula merah.
Selain masker Spirulina, masker lain yang efektif untuk merawat kulit wajah dan membuatnya jauh dari tanda-tanda penuaan adalah masker labu. Labu dikenal sebagai buah yang kaya antioksidan berupa vitamin A dan vitamin C sehingga cocok digunakan sebagai masker anti penuaan. Hanya saja tidak seperti masker spirulina yang instan dan bisa langsung digunakan, masker labu perlu diracik terlebih dahulu sebelum digunakan. Tapi tidak apa, sih, karena ketersediaan labu di pasar sini cukup banyak! Aah…disaat labu itu enak banget dibuat puding, ini malah dipakai masker, ya. Hahaha.
Nah, untuk masker gula merah ini juga mujarab banget mengangkat sel kulit mati dan membuat kulit lebih halus. Perawatan ini bisa dilakukan dua kali seminggu. Cukup menyediakan setengah cangkir gula merah, kemudian tumbuk hingga terasa agak halus. Setelah itu tambahkan 3 sdm minyak zaitun jika punya. Aduk hingga rata kemudian gunakan untuk membalur wajah. Jangan lupa bersihkan dengan air hangat.
Komedo, musuh tapi mesra….
Sebenarnya ada banyak cara untuk merawat kulit wajah agar tetap sehat, terlihat bersih, dan cerah. Hanya saja faktor malas memang kadang lebih besar ketimbang faktor ingin memiliki wajah bersih. Ini aku, lho! Hiks. Tapi sekarang lebih pada kebutuhan. Ya, aku butuh wajahku ini bersih, kulitnya sehat, dan kalau bisa memancarkan sinar sampai langit ke tujuh. Hahaha.
Oiya, konsumsi makanan kaya nutrisi juga penting untuk kesehatan kulit wajah, ya. Btw, kalau kamu lebih suka masker alami atau dari produsen? Boleh dong berbagi tips tentang merawat kulit wajah agar terus bersinar. 😉
Tahun lalu, aku cukup sering berhubungan dengan rumah sakit. Mungkin seminggu sekali aku datang ke rumah sakit untuk melakukan check up rutin kesehatan Ibu. Ibuku ini tipe orang penakut dan khawatir jika salah satu organ atau tubuhnya sedang merasa tidak enak. Meski demikian, Ibu hampir tidak pernah mengeluh perihal apa yang sedang dirasa. Sebenarnya nyebelin, tapi begitu lah Ibuku.
Selain penakut dan khawatir, Ibu paling susah untuk diajak check up rutin. Nampaknya dia seperti ada trauma. Mungkin karena pernah masuk ruang ICU selama 5 hari dan perawatan di rumah sakit kurang lebih 3 minggu. Seringnya melihat pasien lain yang kondisinya lebih buruk dari Ibu, atau mendengar kabar kalau pasien lain sudah tiada, sukses membuat iman goyah.
Aku kira hanya Ibuku saja yang takut dan susah ketika diajak kontrol kesehatan ke rumah sakit, ternyata tidak. Ada banyak pasien yang enggan datang ke rumah sakit meski hanya untuk bertemu dengan dokter, kemudian kontrol kesehatan. Selain rasa takut, pasien juga kadang malas menunggu terlalu lama saking banyaknya antrean, ada rasa jenuh, gitu.Apalagi jika pemeriksaan atau konsutlasi yang didapat tidak seimbang dengan antrean, ada ketidakpuasan pastinya. Tidak hanya sampai pada konsultasi saja, pasien juga biasanya akan kesal jika terlalu lama menunggu hasil pemeriksaan. Namanya pasien ya, ingin mendapat tindakan yang serba cepat, tepat, dan akurat jika dalam hal pelayanan.
Perawatan di RS…
Sembari menunggu antrean, biasanya aku ngobrol dengan pasien lain yang juga pernah rawat inap di rumah sakit. Dari sini lah aku tahu bahwa, tidak sedikit orang yang takut untuk berobat padahal pasien paham bahwa pengobatan yang sedang dijalani adalah sebagian dari ikhtiar penyembuhan.
Membangun komunikasi yang baik antara dokter dan pasien merupakan kunci utama saat pasien melakukan check up. Dari komunikasi ini lah diharapkan pasien punya rasa percaya diri dan keinginan kuat untuk kembali sehat. Bukan sebaliknya di mana pasien justru takut karena penyakitnya sehingga makin enggan ke rumah sakit untuk check up.
Selain komunikasi, perhatian kepada pasien pun perlu ditumbuhkan supaya pasien merasa lebih nyaman saat sedang check up. Memang, dokter bukan lah motivator, dan untuk melakukan hal demikian pasti akan membutuhkan waktu lebih lama sementara banyak pasien yang antre. Tapi bukankah menciptakan suasana hati pasien lebih tenang dan nyaman juga penting?
Untuk mendapatkan semacam jaminan perawatan yang sesuai keinginan memang susah. Apalagi kinerja dokter di rumah sakit kadang dituntut untuk lebih cepat dan proporsional dalam menangani pasien sesuai standard operasional. Tapi jika ada penawaran dari medis yang bisa memberikan pelayanan lebih baik, kenyamanan untuk pasien, dan hal lain yang memudahkan pasien untuk mendapat perawatan lebih intensif, kenapa tidak dicoba, ya. Emang ada? Ada, dong!
Adalah My Medical Tourism Penang atau Wisata Medis Penang.
Website resmi Wisata Medis Penang…
Wisata Medis merupakan salah satu opsi traveling sambil berobat. Gimana, sih, lagi sakit malah diajak traveling! Oh…no worry. Jadi begini, di Penang ada banyak tujuan wisata yang asyik untuk disinggahi (http://www.mymedical-tourism.com/about-penang.php). Sri Mahamariamman Temple, misalnya. Sebuah kuil Hindu tertua di Penang menawarkan kemeriahan ornamen budaya India kuno dengan banyak patung dewa-dewi Hindu. Kuil ini terletak di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Keling. Kuil yang menstanakan lima dewa, masing-masing Dewa Shri Vinayagar, Shri Murugan, dan Dewi Shri Mariamman (Durga dalam wujud Kali) itu dikelola salah seorang keluarga pemilik perusahaan besar Texmaco, Lila Marimutu.
Sebagian besar masyarakat Indonesia juga banyak memilih traveling ke Penang karena dirasa tidak memerlukan budget terlalu banyak. Dari sini lah, Wisata Medis berinisiatif membuka wisata medis atau pariwisata kesehatan.
Wisata Medis menyediakan jasa layanan koordinator medis yang bisa membantu kamu yang berencana berobat ke Penang. Nah, berikut jasa layanan yang diberikan oleh Wisata Medis.
Membuat janji secara online.
Di sini kamu bisa membuat janji terlebih dahulu sebelum berangkat ke Penang. Kamu cukup mengisi identitas melalui formulir (http://www.mymedical-tourism.com/appointment.php) yang telah disedikan, lalu mengirimnya. Setelahnya, kamu bisa menunggu jadwal pertemuan. Nah, jika sudah mendapat jadwal, kamu bisa leluasa mendapat pelayanan yang maksimal termasuk konsultasi. Tidak ada kata menunggu lama karena semua sudah terjadwal. Hasil pemeriksaan atau konsultasi pun bisa didapat dengan cepat.
Konsultasi opini kedua.
Perbedaan pendapat para dokter dalam mengobati pasien adalah hal yang biasa terjadi. Tetapi bila hal itu menyangkut kerugian biaya yang besar dan ancaman nyawa maka harus lebih dicermati. Begitu, bukan?Maka dari itu, sangatlah penting untuk melakukan pendapat kedua (second opinion) terhadap dokter lain tentang permasalahan kesehatan tertentu.
Jangan segan dan takut mencari pendapat kedua karena merupakan hak seorang pasien dalam memperoleh jasa pelayanan kesehatannya. Dengan demikian, diharapkan pasien akan lebih percaya diri dan optimis dengan pengobatan yang akan dijalani. Di opini kedua ini, pasien akan makin yakin karena Wisata Medis memiliki ahli radiologi berpengalaman dari Jepang yang akan mengevaluasi dan meninjau kasus kamu supaya bisa lebih yakin untuk perawatan selanjutnya.
Pencarian informasi lengkap dan komprehensif.
Sebelum sampai Penang, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mencari informasi yang akurat supaya tidak kecewa jika sampai Penang. Informasi tentang pengobatan Penang bisa dicari melalui website www.mymedical-tourism.com. Di web tersebut ada rekomendasi dokter, rumah sakit, sampai membantu rujukan kasus pasien sepanjang prawatan nanti.
Forum diskusi.
Selain informasi tentang kebutuhan selama di penang, pasien dapat berkomunikasi dan terlibat dengan orang lain yang sudah memiliki pengalaman medis pengobatan di Penang. Selain berdiskusi, di forum ini kamu bisa mengajukan pertanyaan seputar penyakit atau cara pengobatan. Berdiskusi dan belajar dari orang lain yang sudah pernah berobat ke Penang supaya mendapat gambaran ketika nantinya ke Penang.
Layanan premium dari Wisara Medis…
Bagaimana? Begitu mudah untuk mendapat pelayanan dan fasilitas pengobatan yang lebih baik, bukan? Ketika di rumah sakit mungkin hanya pasien yang aktif bertanya untuk mendapat pengetahuan tentang kasus penyakitnya, di Wisata Medis kamu akan mendapat informasi dan pengetahuan lebih, apalagi ada fasilitas second opinion. Sungguh, wisata medis penang bikin hati makin tenang. Apalagi bagi kamu yang baru pertama kali berobat ke Penang, Wisata Medis akan memberi pelayanan ekstra seperti penjemputan dari Bandara, sampai dengan mencarikan penginapan.
Sampai saat ini terhitung satu tahun lebih tiga bulan, aku sudah tidak lagi berhubungan dengan rumah sakit. Alhamdulillaah Ibuku sudah sehat wal afiat. Buat kamu yang hendak berobat atau sekadar menemai check up, ada baiknya memperhatikan fasilitas Rumah Sakit yang akan dituju untuk pengobatan. Coba buka website Wisata Medis, siapa tahu pengobatan di sana sesuai dengan harapan. Untuk informasi lebih detail, kamu bisa mencoba kontak di bawah ini.
Dieng Culture Festival (DCF) tahun 2018 sudah sampai pada edisi ke 9. Event yang berlangsung selama 3 hari 2 malam dari tanggal 3-5 Agustus 2018, berpusat di Lapangan Dieng Pandawa, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Meski berlokasi di kabupaten sendiri, namun aku baru bisa datang di event yang sudah masuk dalam Calender of Event Kemenpar RI ini. Hebat, bukan? 😆
Dieng Culture Festival (DCF) 2018 diselenggarakan untuk meruat anak-anak Dieng yang berambut gembal. Anak-anak ini di percaya sebagai titisan Eyang Kolodete, pembuka daerah Dieng. Tahun ini, DCF mengusung tema “The Beauty of Cultre”. Berbeda dengan tahun sebelumnya, selain ruwat rambut gembel, ada banyak acara menarik lainnya seperti Aksi Dieng bersih, Festival Tumpeng, Festival Domba Batur, Festival Caping, sampai dengan gelaran produk UMKM dan Dewa Wisata se Kabupaten Banjarnegara.
Sebagai warga lokal yang baik, aku lebih memilih untuk memberikan kesempatan kepada para wisatawan dari luar daerah untuk menikmati event yang digelar satu tahun sekali. Secara tiket DCF kan terbatas, tuh, ya. Kasihan buat wistawan yang sudah pada nabung buat nonton DCF, tapi selalu kehabisan tiket. Aah…sok bijak banget, padahal memang baru tergerak untuk menembus DCF. 😀 Ya, tahun lalu, atau bahkan di tahun-tahun sebelumnya, aku belum tertarik menghadiri DCF. Bukan, bukan karena tidak cinta apalagi tidak sayang dengan event di ranah sendiri, ini cuma tentang jodoh saja, kok. 😉
Kenapa aku sebut jodoh? Pertama tentu tentang izin dari keluarga. Alhamdulillaah mereka support penuh. Kedua, tentang teman seperjalanan yang begitu antusias datang ke DCF sembari membuat konten. Ini membuatku semangat buat ikut nonton, dong. Ketiga, sudah punya “password” lengkap untuk nonton gelaran DCF tanpa ribet. Bahagia banget ketika semua saling mendukung, sudah seperti jalan menuju pelaminan, lancar dan penuh kebahagiaan. 😉
Karena ini pertama kalinya aku nonton event DCF, ada banyak pengalaman baru yang aku dapat. Banyak moment yang sampai sekarang masih terngiang dan sepertinya akan terus dikenang, kayak kebaikan-kebaikan barisan para mantan. Ah…mantul Pak Eko! 😆
Bentar, aku mau berbagi unforgettable moments at Dieng Culture Festival 2018 yang ternyata ada 11 moments. Hahaha. Sebagai pengingat, catatan, sekaligus curhatan, keep reading without njengking, ya. 😛
😛 Mengikuti Rangkaian Acara DCF Tanpa Ribet! 😛
Bersantai di Kompleks Dharmasala…
Berkah dalam berkomunitas kerap aku dapat. Berkenalan dengan orang-orang baru, makin banyak teman, dan mendapat kejutan-kejutan yang tak terduga dari berkomunitas. Salah satu kejutan yang aku dapat yaitu mengikuti rangkaian acara DCF tanpa ribet.
Dua minggu sebelum event DCF digelar, ada beberapa teman yang menawarkan free akses masuk DCF. Ini wajah-wajah free banget, ya. Hahaha. Biarlah yang penting aku tidak meminta. Dengan bahagia, aku menyampaikan kabar baik ini kepada teman-teman di grup kesayangan yang hobi membuat konten pariwisata Banjarnegara. Siapa lagi kalau bukan grup GenMile Banjarnegara. 😉
Alhamdulillaah…di grup tersebut ada dua teman yang tertarik ikut nonton DCF, yaitu Ella dan Rois. Teman-teman lain ada yang tidak merespon, ada juga yang mau datang namun tidak bersama kami. Yasudah…akhirnya kami bertiga sepakat nonton DCF bareng-bareng, bahagia bareng, dan susah bareng. Ya, jalan menuju dieng tidak lurus-lurus saja, Gaees. Enak saja menuju bahagia tanpa perjuangan. 😛 Dengan kekuatan password yang telah kami terima, kami pun bisa dengan tenang ke sana ke mari mengikuti rangkaian kegiatan DCF.
😆 Nyaris Bobok di Lapangan Whitlam! 😆
Seminggu sebelum mendarat di Dieng, aku sempat berkabar dengan Mas Irham, pentolan Desa Wisata Karangtengah, Dieng Kulon. Kami janjian bertemu di Lapangan Whitlam yang saat itu ada gelaran produk UMKM dan Desa Wisata se Kabupaten Banjarnegara. Puji syukur sesampainya di sana, Mas Irham tidak dapat dihubungi. Aku sampai mendatangi stand desa wista miliknya, namun beliau sedang tidak di tempat. Ini beneran ujian. Hahaha.
Karena sampai kompleks Whitlam sudah malam, kira-kira jam 19.00 WIB, kami memilih untuk mencari makan terlebih dahulu. Ini sebenarnya sedikit trik, sih. Tiap kali ada kendala apapun di tempat wisata, aku lebih nyaman duduk dan mencari informasi lewat para pelapak yang berjualan di sekitar tempat wisata. Dan yey, jodoh datang melalui mie kuah dan segelas teh hangat! 😆
Ya, Ibu Minceu, pedagang makanan di dekat pintu masuk Whitlam, ternyata punya homestay yang saat itu posisinya masih menggantung. Wisatawan yang telah memesan homestay belum memberi kepastian kapan datang. Akhirnya, kami pun mengambil homestay tersebut dengan harga standard (Rp 200.000 per malam), namun fasilitas cukup. FYI, penginapan di Dieng saat event DCF selalu penuh. Jika ada niat menginap, ada baiknya memesan homestay tidak mendadak, sebulan sebelum event, misalnya.
😛 Suhu 3 derajat Saat Jazz di Atas Awan Bikin Mengkeret! 😛
Tiga derajat bikin pingin pulang…
Gila…gila…gilaaaa! Badan setebal ini ternyata tidak mampu menetralisir dinginnya Dieng malam itu. Gelajar Jazz Atas Awan di panggung spektakuler DCF penuh dengan lautan manusia (ini mulai lebay). Namun, mereka tidak mampu menghangatkan! Makin malam, justeru semakin beku. Makin malam, makin pingin ngusel ketek si kecil sambil dipeluk suami.
Sebenarnya ada bara api yang disediakan oleh panitia, di sela-sela penonton, gitu. Namun belum juga bisa menghangatkan karena 3 derajatnya itu kebangetan! Aku yang biasanya bisa tahan dingin, ini mulai melemah. Beberapa kali pingin minta tolong ke suami untuk jemput, dan esoknya balik dieng lagi. Tapi kok rasanya tidak manusiawi banget, ya. Hahaha.
Jazz Atas Awan yang aku kira bakal ngeJazz berasama, ternyata tidak seindah yang aku bayangkan. Aku baru bisa menikmati yang beneran Jazz, tuh, saat si Gerhana tampil. Suaranya lembut, manja, dan jazz banget. Band lain yang tampil malam itu, entah lah. Tahun lalu pun sepertinya tidak begitu ngeJazz, ada Anji Drive kalau tidak salah. Kan jazznya tidak kental kentul, ya. Semoga tahun depan bisa beneran ngeJazz, deh. Mau band lokal atau artis ibu kota, yang jelas bisa sesuai teman, Jazz Atas Awan. 😉
😀 Tengah Malam Ndungsak-ndungsak di Pematang Sawah! 😀
Heboh lihat es di dedaunan…
Dieng Culture Festival (DCF) merupakan event skala nasional, bahkan internasional. Ada banyak wisatawan dari luar daerah, provinsi, negara, yang datang ke event ini. Tapi sayang banget, sayang seribu dua ribu tiga ribu sayang. Jazz Atas Awan selesai di atas jam 00.00 WIB. Meski hari berikutnya ada event yang tak kalah asyiknya, namun wisatawan memilih untuk menghabiskan acara.
Malam hari, dini hari, jalan pulang tidak dari acara Jazz Atas Awan tidak sama dengan jalan masuk yang mana melewati gerbang menuju kompleks Candi Arjuna. Setelah dikonfirmasi, ternyata gerbang tersebut telah ditutup sejak sore hari, entah tepatnya jam berapa, aku lupaaaaaaaaaa! Warga lokal macam aku, ndungsak-ndungsak alias jalan di atas semak-semak ladang, sih, tidak masalah meski dalam hati sedikit menyangkan. Tapi untuk para wisatawan, aku merasa kasihan. Apalagi bagi mereka yang tinggal di tengah kota dan jarang ke ladang. Mungkin bukan eksplorasi yang didapat, kaki sedikit lecet saja bisa jadi masalah. Hahaha.
Buat evaluasi saja untuk tahun depan, diberi petunjuk jalan supaya lebih aman dan wisatawan nyaman. Pembawa acara bisa memberi himbauan atau pengumuman terkait pemakaian ruas jalan karena saat wisatawan pulang tidak bisa menggunakan jalan yang sama. Pun dengan pihak keamanan, atau panitia yang di lapangan lebih siap lagi. Membawa senter atau alat penerang lain karena lewat semak-semak ini gelap, gaes. Seperti jodoh yang tertukar, menakutkan. 😆 Tapi ada hikmahnya, sih, ndungsak-ndungsak gini, jadi bisa melihat bekuan es di dedaunan. Hahaha.
😉 “Salju” di Dieng itu Tidak HOAX, Bung! 😉
Bukan motorku, tapi bahagia bisa lihat seperti ini….
Kamu pasti sudah tidak kaget lagi dengan salju di dieng, ya. Banyak media yang mengabarkan tentang ini. Sudah melihat dan membaca berkali-kali di media online tentang fenomena ini, tapi pas melihat bekuan es di atas sepeda motor, rasanya takjub. Apalagi saat kaus tangan aku lepas, dan aku menyapunya, rasa-rasanya tidak percaya jika di Dieng bisa ada “salju” seperti ini.
Masyarakat sekitar menyebutnya mbun upas atau embun upas. Embun ini antara berkah dan musibah. Berkah karena ternyata ada banyak wisatawan yang datang ke DCF hanya karena ingin menyaksikan langsung fenomena mbun upas. Menjadi musibah bagi warga setempat karena sayuran yang tumbuh di dataran tinggi dieng nyaris gagal panen karena hadirnya mbun upas. Layu, kering, kisyut, keriput, njiprut. 🙁
😉 Makan Enak di Pamit Ngopi Kompleks Soeharto Whitlam. 😉
Setelah beberapa kali menikmati mie, bakso, ayam goreng, yang kurang menggoyang lidah dan cukup bikin kenyang saja, akhirnya di hari kedua aku bisa menikmati masakan yang bikin kenyang dan cocok di lidah. Testimoni ini bukan hanya aku saja, lho. Ella yang pada dasarnya susah banget adaptasi dengan makanan, dia bisa menikmati masakan di sebuah warung yang dekat dengan pintu masuk Whitlam.
Meski tidak terdokumentasikan saking menikmatinya makan, aku merekomendasikan Pamit Ngopi sebagai rumah makan yang layak kamu coba ketika berwisata di Dieng, khususnya di kompleks Candi Arjuna. FYI, warung pamit ngopi yang kami coba yaitu yang lokasi di dekat gerbang Whitlam, ya. Bukan yang di tepi jalan raya karena ada dua warung pamit ngopi. 😉
😀 Joget bareng Letto, Bahagianyaaaaaaaaa! 😀
Kocak juga orangnya si Noe…
Kita semua tahu kalau jenis musik yang dipersembahkan Letto Band adalah Pop & Rock. Penggemar Letto yang datang di acara Senandung Negeri di Atas Awan pasti tidak ada yang menyesal. Penampilan Letto saat sukses bikin pengunjung bahagia. Entah bahagia bisa mendengar suaranya langsung, melihat parasnya langsung, atau bahagia karena bisa nostalgia karena lagu-lagu yang dibawakan, nostalgia atas lagu kenangan zaman semono. 😆
Selain suaranya yang bikin nyaman, aku bahagia melihat cara Mamas Noe, vocalis Letto, menyapa para penggemarnya. Dalam keadaan nafas ngos-ngosan, dia menyempatkan diri untuk mengajak fansnya untuk turut naik ke panggung dan bernyanyi bersama. Suasana malam itu makin pecah ketika Letto menyanyikan lagu berjudul Sandaran Hati dalam versi dangdut! Ulala…aku pun turut berdiri, dan joged-joged bareng. Serasa belum punya Kecemut. Hahaha.
😛 Pesta Lampion Tanpa Membeli Lampion! 😛
Pesta Lampion DCF
Berjalan dari gerbang masuk kompleks Candi Arjuna menuju venue pesta lampion, ada banyak penjual lampion. Ya, panitia tidak memasukan lampion ke dalam include tiket DCF. Wisatawan diberi kebebasan untuk membeli kepada siapapun yang berjualan, setahuku. Satu lampion dijual dengan harga mulai dari Rp 8.000 per biji. Makin malam, harga lampion pun makin mahal, ada yang menjual dengan harga Rp 20.000 per biji. Buat kamu yang akan ke DCF tahun besok, mending belinya lebih awal saja, lebih hemat. Hahaha.
Hadir di acara Senandung Negeri Atas Awan di mana ada pesta lampion juga, aku bersama ella dan rois cukup tergesa-gesa. Ada ketakutan sudah masuk karena saking banyaknya wisatawan yang hadir malam itu. Ya, mungkin bisa dua kali lipat dari acara Jazz Atas Awan. Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali mau membeli lampion, namun tidak jadi. Pikirku, di sekitar lokasi pasti banyak yang jual. Eh…sesampainya gerbang masuk, ternyata tidak ada yang berjualan. Ingin rasanya balik lagi, tapi tidak sanggup karena jalanan mulai ramai.
“Duuh…gagal bikin konten pegang lampion, dong!” Batinku malam itu. Tapi takdir berkata lain. Jodoh kembali datang, bertemu dengan pasangan-pasangan baik, menawarkan untuk jepret foto, akhirnya aku bisa dapat konten pegang lampion. HAHAHAHA. Ini terniat banget modusnya, ya. Tapi asli, kasihan banget barisan para pasangan yang datang malam itu dan pada sungkan minta tolong untuk difoto. Jauh-jauh ke Dieng, lho. 😀
😆 Ada yang Tepar Saat Perjalanan dan Aku Biasa Bae. 😆
Udah ngga macet banget…
Ini konyol banget! Tidak ada rasa was-was, aku masih bisa unggah foto dan video ke story, padahal ada anak orang yang tepar di depanku. Hahaha. Ella, kasihan banget anak satu ini. Jonesnya keterlaluan. Bukan, bukan aku tidak peduli dengan keadaan dia, lho. Ya…gila saja membawa anak orang yang saat itu kondisinyam emang belum 100% sehat, sedang dalam masa penyembuhan, gitu. Kalau ada apa-apa, pastilah aku orang pertama yang dimintai keterangan. 😀
Aku tenang karena aku merasa dia bakal baik-baik saja, dia cuma butuh istirahat. Di sepanjang perjalanan pulang menuju homestay usai acara pesta lampion, dia sudah kelihatan lelah banget. Ya…meski sebelumnya baru jingkrak-jingkrak sama Letto. Mungkin karena melihat kemacetan yang luar biasa, dia ikut macet otaknya. Liat orang dan kendaaan berlalu lalang, BLUR bokeh. 😀 Akhirnya, aku memutuskan untuk memarikirkan sepeda motor di depan Museum Kailasa, melipir ke warung-warung yang ada di sekitarnya, dan minta tempat untuk istirahat si ella.
“Aku butuh berbaring, aku cuma butuh tidur sebentar”. Katanya, sambil nangis dan minta gendong. 😛
😉 Melihat Lebih Dekat Prosesi Ruwat Rambut Gembel. 😉
Lihat ginian saja sediih…
Berkat tongfang, aku bisa melihat dari dekat prosesi ruwat rambut gembel. Sekali lagi, berkat tongfangpassword yang telah kami simpan, akhirnya bisa melihat dedek-dedek yang siang itu diruwat. Kami duduk tepat di samping panggung acara. Aku merasa beruntung ketika melihat ke belakang, ternyata banyak banget orang yang menyaksikan prosesi ini. Banyak juga yang tidak bisa masuk ke lokasi ini karena terbatasnya tempat dan mungkin harus menjadi peserta DCF. Makanya, buat kamu yang berniat hadir di event DCF, mending beli tiket, ya. Supaya bebas berkelana.
Proses ruwat rambut gembel menjadi puncak acara DCF. Acara ini diawali dengan kirab, kemudian anak berambut gembel yang telah masuk daftar ruwat, diruwat satu per satu. Ruwatan ini begitu unik, tiap anak gembel yang hendak diruwat, mereka mengajukan permintaan apapun sesuai dengan keinginannya saat itu. Permintaan murni dari si anak gembel, tidak ada paksaan, atau rekayasa. Tahun ini, ada 12 anak gembel yang diruwat dan semuanya adalah perempuan. Aku melihat ada kesedihan di wajah orang tuanya saat melihat anaknya diruwat. Entah karena apa, yang jelas seperti kehilangan. Lain halnya dengan dedek-dedek yang diruwat, mereka justeru telihat bahagia. Wajah polosnya seakan berbicara bahwa, “aku bakal punya ini itu setelah nanti diruwat”. Sepertinya, sih. 😉
😛 Take Video Bapak Gubernur dan Bapak Kadisporapar Propinsi Jawa Tengah. 😛
Emm…agak sengak nih Bapaknya! Wkwkwk….
Ini di luar dugaan banget. Tidak ada niatan untuk mengambil video Pak Ganjar dan Pak Urip, tapi diberi jalan mulus untuk mendapatkan konten video ini. Jadi nih ya, Agustus lalu GenMile Banjarnegara sedang mengadakan open recruitment anggota baru. Karena ini berkaitan dengan promosi pariwisata Banjarnegara, menurutku tidak ada ruginya minta tolong ke beliau-beliau untuk membuat potongan video yang berisi ajakan untuk bergabung dengan GenMile Banjarnegara.
Tanpa pikir lama, usai acara ruwat rambut gembel, aku bersama Ella dan Gita menjadi pengikut mereka. Nguntit di belakangnya. Hahaha. Sepanjang perjalanan menuju Whitlam, aku dan Ella berusaha kontak Rois untuk pengambilan video karena dia paling jago. Tapi karena susah dihubungi, akhirnya aku memberanikan diri untuk take video. Meski hasil videonya biasa saja, tapi ada kepuasan tersendiri.
“Kamu pinginya apa?” Ucap Pak Ganjar. Belum sempat menjelaskan detail, baru bilang dari GenPI Banjarnegara, eh…Bapake wis mulai ngendikanan bae. 😆
Btw, ini kali pertama aku ke Dieng tanpa “sopir” alias mengendari sepeda motor sendiri. Ugh…dan ini juga menjadi bagian dari moment yang tak terlupakan. Malam-malam harus menembus kemacetan, perjalanan yang biasanya ditempuh cukup dengan 10 menit, malam itu nyaris 4 jam. Hampir subuh, dan masih di perjalanan menuju Desa Wisata Karangtengah, tempat menginap kami di hari kedua. Terima kasih Mas Irham. 😉
Tahun depan jangan lupa nonton DCF, ya! Sempatkan, meski sekali dalam hidup. Ada kearifan lokal, seni, dan budaya Indonesia di Dieng, yang wajib kamu tonton! 😉