5 Tempat Wisata di Desa Wisata Malahayu, Brebes

Desa Wisata Malahayu, Brebes – Traveling ke suatu daerah rasanya kurang lengkap jika tidak menyambangi Desa Wisata. Ya, bagiku destinasi wisata yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sangat menarik dikunjungi karena selalu ada pengalaman baru yang aku dapat tiap kali singgah di Desa Wisata. Makanya, saat traveling ke Brebes pada minggu kedua bulan Januari, aku bersama beberapa teman menyempatkan untuk eksplorasi ke salah satu Desa Wisata di Kabupaten Brebes.

FYI, Desa Wisata yang aktif di Brebes cukup banyak. Malah ada beberapa yang menjadi andalan pariwisata Brebes. Salah satunya yaitu Desa Wisata Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Brebes.

Desa wisata ini dikelola oleh Pokdarwis Geger Halang Malahayu. Pokdarwis yang hebat dengan segudang kreativitas dan pernah menjadi juara umum Lomba Jambore Pokdarwis tingkat Kabupaten Brebes, saat ini sedang gencar-gencarnya mempromosikan segala potensi yang ada desanya.

Jarak tempuh dari tengah kota Brebes menuju Malahayu kira-kira 1.5 Jam. Sementara dari tempat tinggalku, Kabupaten Banjarnegara, kurang lebih 5 Jam. Lumayan jauh memang, namun karena ingin tahu pariwisata Malahayu, dan ingin tahu atraksinya juga, rasanya tidak ada kata jauh. Gassss…laaah!

Berbekal gadget dan aplikasi google maps, tepat pukul 10.00 WIB kami sampai Desa Malahayu. Ughh…melihat tulisan berjejer “Welcome To Desa Wisata Malahayu” rasanya udah bahagia banget. Tak sabar radanya untuk segera eksplorasi dan interaksi dengan pengelola Desa Wisata tersebut.

Sepuluh menit dari gerbang masuk Desa, akhirnya kami sampai tujuan yaitu kompleks wisata Malahayu. Yeeey….!

Rombongan dari mana, dedek-dedek gemeees?” Para petugas pintu masuk obyek wisata Malahayu menyapa kami dengan wajah riang.

Ini mau rekreasi ke Malahayu, Bapak-bapak ganteeng!” Jawab kami kompak tanpa salah kata. Petugas pun langsung menyodorkan tiket masuk sebanyak 5 lembar sesuai dengan jumlah personil di dalam mobil.

Tidak tahu kenapa, melewati gerbang kompleks desa wisata Malahayu rasanya ada yang janggal. Disini terkesan doble ticketing. Soalnya, setelah membayar Rp 3.000 sebagai HTM Desa Wisata, tiap masuk kawasan wisata masih ditarik HTM lagi. Agaknya mikir keras, sih, masuk Desa Wisata dan belum sampai pada obyeknya tapi sudah diminta untuk membayar tiket. 🙁

Entah kenapa aku seperti masuk ke tempat wisata yang dikelola swasta atau pemerintah. Padahal ini dikelola oleh pokdarwis yang sebagaimana kita tahu visi misinya. Yasudah…ketimbang terlalu banyak merenungi tiket, kami pun langsung parkir di depan kompleks BBM Fantasi Land untuk kemudian lanjut jalan menuju Waduk Malahayu.

Waduk Malahayu

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (16)

Woy! Serius, panas-panas gini naik ke Waduk?” Tanya salah satu teman. Sayangnya, tidak ada satupun yang menanggapi pertanyaanya. Yasudah…akhirnya semua menuju waduk. 😀

Obyek wisata andalan Malahayu adalah Waduk Malahayu. Kenapa andalan? Karena ketika kamu berkunjung ke Malahayu, pasti yang direkomendasikan pertama adalah Waduknya. Uniknya nih, pintu masuk untuk menuju waduk ini berada di Desa Malahayu. Pun dengan pintu keluarnya air. Makanya, waduk ini menjadi ikonik Malahayu.

Waduk dengan luas ±944 Ha mulai dibangun pada tahun 1930-an oleh Kolonial Belanda. Ternyata waduk ini berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Aaah…traveling kali ini nyaris lintas provinsi, nih. Bangga baenar ini. 😀

Kami sampai waduk kira-kira pukul 11.00 WIB, ketika matahari sedang di atas kepala. Hot banget! Niat mau naik perahu pun kami batalkan karena panasnya keterlaluan, sungguh. Sebagai gantinya, kami jalan keliling dan duduk-duduk santai di sebelah kiri waduk. Dari sini, nampak di seberang sana hutan jati yang begitu rimbun dan teduh.

Pemanfaatan waduk ini disamping sebagai  temoar rekreasi dan sarana irigasi lahan pertanian untuk beberapa kecamatan termasuk Banjarharjo, dimanfaatkan juga sebagai tempat mata pencaharian para nelayan. Ekonomi masyarakat sekitar pun menjadi lebih baik karena banyak berdiri warung-warung di sekitar tempat parkir yang menawarkan kuliner khas Malahayu. Terasa lengkap, bukan?

Eh, kamu tahu kuliner khas Malahayu? Ada Ikan Mujaher dan Ikan Mindo yang nikmatnya tak terkira ketika disantap di tempat. 😉 Oiya, aku saranin kalau mau ke Waduk Malahayu mending di atas pukul 15.00 WIB di mana matahari sudah turun. Jadi bisa lebih menikmati suasana waduk sambil menunggu matahari terbenam. Syahduuuu euy!

BBM Fantasi Land

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (14)

Usai eksplorasi di Waduk Malahayu, kami lanjut rekreasi ke beberapa obyek wisata penunjang Desa Wisata Malahayu. Kali ini ada BBM Fantasi Land.

Bareng-Bareng Maju (BBM) Fantasi Land, namanya cukup menarik, ya. Jawa dan kebarat-barataaaaan. 😀 Kenapa BBM-nya itu bukan Bibit Bunga Matahari, ya. Sepertinya lebih cocok karena Bunga Matahari menjadi ikon obyek wisata ini.

BBM Fantasi Land ini merupakan obyek wisata buatan yang belum lama “dihidupkan” oleh Pokdarwis Desa Wisata Malahayu. Nampak sekilas, sebelum menjadi obyek wisata, tempat ini dulunya adalah hutan kota. Banyak pepohonan, begitu teduh, dan tenang. Tapi ternyata bukan! 😀

Menurut Pak Kumis, lokasi ini dulunya adalah tempat sampah. Aku cukup kaget karena tempat yang dulunya kumuh sampah sekarang sudah menjadi obyek wisata yang ramai. Banyak wisatawan yang berdatangan bersama teman, pasangan, dan keluarga, karena tempat ini memang cocok untuk rekreasi sekadar melepas penat karena aktivitas harian.

Untuk masuk ke BBM Fantasi Land, wisatawan cukup membayar tiket masuk senilai Rp 5.000 per orang. Dengan tiket masuk lima ribu rupiah, kamu bisa menyusuri Bukit Cinta yang dipenuhi dengan ikonik BBM Fantasi Land yaitu Bunga Matahari.

Di sini kamu bebas foto-foto, ikut panen biji bunga matahari, atau jalan-jalan ke kompleks belakang melihat kumpulan Monyet yang manis-manis banget. Kamu juga bisa beli bibit Bunga Matahari seharga Rp 5.000 atau membeli bunga matahari seharga Rp 20.000 per pot.

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (4)

Selain senang-senang di kompleks Bukit Cinta, masih banyak obyek yang perlu kamu eksplor. Seperti kolam yang digunakan untuk beberapa aktivitas. Ada terapi ikan, bebek air, balon air, dan flying bike. Untuk menikmati wisata ini, kamu harus membayar lagi. Kecuali terapi ikan, gratis. Tapi kalau mau ikut ngasih makan ikan, bisa beli pakannya di warung-warung dekat kolam. 😉

Menurutku, rekreasi di BBM Fantasi Land kurang ramah kantong. Sebut saja bebek air. Di sini tiket main bebek air Rp 30.000 saat akhir pekan dan Rp 25.000 di hari biasa. Tiket ini sama dengan tiket permainan bebek air di tempat wisata lain. Lagi-lagi ini Desa Wisata di mana biasanya pengelola tidak berani memasang tarif tinggi karena yang terpenting bagi Desa Wisata adalah sustainable. Aaah…mungkin biaya operasional mereka juga tinggi kalik, ya. 😉

Oiya, wahana lain seperti Flying Bike Rp 20.000 dan Balon Air Rp 15.000 juga tergolong mahal, harga tidak ada yang beda dengan wahana di obyek wisata yang bukan dikelola Pokdarwis. Belum lagi perihal fasilitas umum. Toilet, misalnya. Ini masih menjadi PR penting bagi pengelola.

Situs Benteng Dinamit

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (11)

Rekreasi lanjut ke wana wisata. Masih di kompleks Waduk Malahayu terdapat bukit yang menawarkan lansekap Waduk Malahayu dari atas bukit Geger Halang. Namun, bukan bukit yang disorot dalam obyek satu ini, melainkan peninggalan sejarah yang berada di puncak bukit.

Adalah Situs Benteng Dinamit.

Situs Benteng Dinamit merupakan situs peninggalan zaman Belanda berbentuk benteng batu bata kuno. Di sini terdapat dua situs, yang satu masih asli, yang satunya sedang dalam tahap renovasi karena bangunan sempat retak.

Konon bangunan benteng dinamit ini digunakan untuk pembuatan waduk Malahayu pada tahun 1930an. Katanya, Jenderal Sudirman juga pernah menempati benteng dinamit ini untuk menyusun strategi perang.

Memasuki situs ini, nampak hutan yang sudah tidak perawan lagi. Hahahaha. Maksudku, kesan alam dan hijaunya hutan hilang seketika karena di sepanjang jalan menuju Benteng terdapat warna-warni kehidupan. *eh* Ya, jalan menuju bukit selain berupa tangga, ada ban bekas yang dicat warna-warni.

Ini bukan kali pertama aku menjumpai konsep wisata alam yang seperti ini karena hampir semua pengelola wisata mengusung tema kekinian dengan warna-warni dan mungkin tanpa melihat situasi dan tempat. Tapi tidak mengapa, pengelola pasti punya alasan kenapa menggunakan konsep warna-warni ini.

Berada di bukit Geger Halang, terdapat gardu pandang yang bisa digunakan untuk melihat lansekap Waduk Malahayu dari atas bukit. Situs Benteng Dinamit menjadi obyek wisata penunjang yang tiap akhir pekan selalu ramai pengunjung. Sayangnya di sini tidak ada pemandunya, jadi tidak tahu detail sejarah situs ini. Kabar baiknya, bukit ini nyaman dan banyak gazebo yang dapat digunakan untuk bersantai atau sekadar makan minum dengan membelinya di warung-warung yang berada di kaki bukit.

Kampung Pelangi

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (18)

Sama halnya dengan BBM Fantasi Land, kampung ini dulunya kumuh. Namun karena sebelah kanan-kiri terdapat obyek wisata, akhirnya Pokdarwis mengemas kampung ini menjadi kampung pelangi. Kampung pelangi ini nyaris sama dengan kampung pelangi pada umumnya. Namun seyelah menyusuri gang-gang kampung sampai habis, ternyata Kampung Pelangi Malahayu lebih cantik! 😉

Selain dicat warna-warni, kebanyakan rumah di kampung ini digambari bunga dan karakter kartun. Ini pas banget buat kamu yang suka berswafoto. Ada 178 rumah yang berada di Blok 1 Desa Malahayu yang dicat warna-warni. Uniknya nih, biaya untuk cat dinding ini ditanggung okeh masyarakat dan pokdarwis alias swadaya. Ini kompak pisan, ya.

Kampung pelangi ini sebagai destinasi tambahan dan penunjang destinatasi wisata Malahayu lainnya. Destinasi ini juga belum lama dibuat, kira-kira tahun 2017. Tidak hanya rumah yang dicat warna-warni, sekolah yang berada di kampung ini pun turut dicat warna-warni.

Aaah, Malahayu Pancen Ayu!

Sentra Gerabah

DESA WISATA MALAHAYU BREBES (4)

Naaah…ini perjalanan terakhir kami di Desa Wisata Malahayu. Setelah keliling kampung pelangi, kami keluar dari kompleks Waduk Malahayu dan melanjutkan perjalanan ke sentra Gerabah di mana lokasinya tidak jauh dari gerbang masuk waduk Malahayu.

Kerajinan gerabah ini merupakan salah satu penunjang utama untuk ekonomi warga sekitar. Saat kami singgah di pabrik gerabah ini, karyawan sedang sibuk beraktivitas. Namun jika wisatawan ingin belajar membuat keramik, meraka mau mendampingi karena memang di sini boleh untuk belajar membuat keramik. Sesjai konsep Desa Wisata Malahayu menjadi Edupark atau Taman Belajar bagi siapa saja yang mau.

Di Desa Wisata Malahayu, terdapat dua jenis gerabah, yaitu Gerabah dr tanah liat lokal dan gerabah dari jenis Porselin. Melihat para pekerja keramik yang masih muda-muda, aku jadi ingat kalau di Banjarnegara juga punya keramik. Hanya saja, tenaga atau karyawannya sudah lanjut usia. Beda dengan di Malahayu, karyawannya masih muda dan nampak teliti dan rapih dalam membuat keramik.

Gerabah ini umumya dipasarkan dengan cara dititipkan ke kios-kios atau dijual secara berkeliling. Saat aku tanya untuk pemasaran online, mereka belum merambah ke dunia online. Mungkin dari Pokdarwis bisa menggandeng karyawan atau bahkan pemilik gerbah untuk belajar mempromosikan produk keramik Malahayu secara online supaya makin banyak yang tahu dan transaksi penjualan juga makin meningkat.

Rekreasi di Malahayu tidak ada capeknya meski sudah naik ke situs benteng dinamit yang tidak terlalu tinggi, atau berkeliling kampung pelangi. Kenapa coba? Karena menurutku jarak antar destinasi cukup dekat. Ini sseperti pariwisata terintegritas, gitu. Sayangnya karena waktuku cukup terbatas,  eksplorasinya pun kurang maksimal. Padahal masih pingin tahu potensi lain di Malahayu. Seperti usaha rumahan opak ketan khas Malahayu, tape ketan, atau homestay yang ada di sana.

Tak mengapa, karena di sini aku dapat banyak ilmu dan pengalaman dari Pokdarwis atau Bu dan Pak yang jaga loket masuk. Aku banyak interaksi dengan mereka, ngobrol-ngobrol tentang perjuangan dan perkembangan Desa Wisata Malahayu. Salut dengan Pokdarwis Desa Wisata Malahayu yang solid dan SDMnya jempol-jempol pisan, euy! Terima kasih atas keramahannya. 😉

Kapan-kapan musti eksplorasi ke Brebes lagi, nih. Menginap di homestay Desa Wisata Malahayu kayaknya seru. Sepertinya perlu diadain famtrip di Brebes, ya. 😀

Baca lagi tentang Rekomendasi Tempat Wisata di Lasem, Rembang.

Yuk, Menjadi Bagian dari Netizen MPR RI

Yuk, Menjadi Bagian dari Netizen MPR RI – Akhir tahun 2018, aku mendapat kejutan dari teman-teman satu komunitas (ngga mau sebut nama, takut dapat logam mulia) untuk ikut menghadiri undangan dari MPR RI perihal Deklarasi Warganet MPR RI. Bersama Mas Ambar, Mas Hyude dan Tina yang sebelumnya pernah mengikuti acara sosialisai Empat Pilar MPR RI di Semarang, pada hari Jum’at (7/12/2018), kami berangkat dari Bandara Ahmad Yani Semarang menuju Jakarta.

Ini kali kedua aku mengikuti deklarasi setelah dua tahun yang lalu resmi menjadi bagian dari GenPI Jawa Tengah yang mana saat itu juga ada sesi deklarasi oleh Kementerian Pariwisata RI.  Meski sama-sama deklarasi, namun kali ini acaranya lebih rapih meski pada akhirnya aku bingung harus mulai dari mana pasca menandatangani dekalarasi warganet Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI. Hahaha.

Warganet atau netizen adalah seseorang yang aktif terlibat dalam komunitas maya atau internet pada umumnya. Bisa dibilang, hampir setengah kehidupan mereka ada di dunia maya. Ngeri ngga, sih? Emm…ya ngga, dong. Karena saat ini internet telah menjadi gaya hidup. Ya, sadar atau ngga, internet telah mengubah gaya hidup. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, ngga ada yang ingin ketinggalan. Semua ingin menjadi yang pertama tahu akan suatu momen atau peristiwa. Dan mirisnya, Indonesia melewati satu era penting sebelum era digital yaitu era membaca. Ya…sebut saja era membaca. 😀

Miris, banget kan?

netizen mpr ri
Jawa Tengah Squad… 😉

Budaya membaca belum sempat singgah di Indonesia, namun sudah keduluan masuk di era digital yang makin ke sini makin “keras”. Seperti yang kita tahu, setiap pemberitaan atau informasi yang beredar lewat media online atau timeline media sosial, ada yang benar dan ada juga yang kurang tepat atau bahkan tidak benar. Release berita atau informasi hendaknya dibaca dengan cermat dan teliti. Jika ragu akan isi informasi tersebut, ada baiknya mencari sumber atau menggali informasi supaya tidak simpang siur yang berujung fitnah atau pertengkaran di ranah dunia maya. Maka dari itu, sebagai warganet yang bijak harus dapat menyaring berita supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman atau masalah.

Tidak ingin muncul permasalahan tentang konten tidak baik di ranah dunia maya, MPR RI menggandeng warganet untuk turut mensosialisasi empat pilar MPR RI. Ada yang belum tahu tentang empat pilar MPR RI? Sini, baca pelan-pelan paragraf ini! Ya, empat pilar tersebut yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Roadshow sosialisasi ini telah dimulai sejak tahun 2015. Kemudian akhir tahun 2018, total 44 netizen perwakilan dari 11 Provinsi di Indonesia diminta untuk menyusun draft deklarasi warganet Indonesia yang pada akhirnya akan dipilih poin-point penting untuk dideklarasikan esok harinya.

Menyusun Konsep Deklarasi Warganet (Netizen) MPR RI

Bertempat di Merapi Ballroom Hotel Sultan Jakarta, kami dibagi menjadi 5 kelompok untuk menyusun konsep deklarasi netizen MPR-RI. Sesuai arahan dari Mbak Mira dan Mbak Liya yang saat itu menjadi moderator acara, tiap-tiap kelompok menyusun minimal 5 poin terkait netizen yang dikolaborasikan dengan empat pilar MPR RI.

Penyusunan konsep ini dilakukan pada malam hari usai sesi gala dinner dan acara pembukaan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat MPR RI Siti Fauziah. Kebayang tidak, habis makan-makan enak, lalu otak harus berputar dengan durasi waktu tidak lebih dari 20 menit. Hahahaha. Meski dalam keadaan kenyang, tapi tidak ada yang ngantuk karena malam itu juga konsep harus selesai.

netizen day-1 (459)

Tepat pukul 22.00 WIB, konsep dari masing-masing kelompok telah terkumpul. Kemudian, moderator bersama para Netizen memilih dan memilah poin-poin yang telah dibuat. Pada akhirnya, terpilih empat poin yang akan dideklarasikan esok hari. Namun sebelum dideklarasikan, keempat poin tersebut diberikan kepada Bu Siti Fauziah dan Pak Andrianto Madjid, Kepala Bagian Pengolahan Data dan Sistem Informasi, untuk dikaji sebelum dideklarasikan esok hari di Gedung Nusantara V MPR RI.

Tujuan dari deklarasi ini untuk mengajak para netizen mensosialisasikan 4 pilar kebangsaan melalui dunia maya atau media sosial. Di era digital, sosial media menjadi platform yang paling efektif menjadi media informasi. Melalui media sosial, sosialisasi 4 pilar kebangsaan akan efektif karena bisa menjangkau seluruh kalangan, terutama kaum milenial.

Gladi Bersih Deklarasi Netizen MPR RI

Satu hal yang melekat dalam ingatan, Pak Andri sempat menyampaikan saat kegiatan ramah tamah di Merapi Ballroom bahwa para netizen akan mendapat tempat yang istimewa untuk kegiatan deklarasi yaitu di Gedung Nusantara V MPR RI. Menurut Pak Andri, gedung ini hanya digunakan untuk menerima tamu-tamu penting delegasi. Dan para Netizen ditempatkan di gedung ini karena termasuk tamu-tamu penting. Dari sini aku merasa istimewa banget dan jantung mulai berdebar norak. 😆

Alhamdulillaah…Sabtu (8/12/2018), kami pun sampai di Gedung Nusantara V MPR RI. Sebelum gladi bersih dimulai, Pak Andri sharing tentang peran netizen dalam membantu mensosialisasikan empat pilar MPR RI. Sementara Bu Siti Fauziah atau yang akrab disapa Bu Titi, meminta kepada para netizen untuk aktif memberi konten positif melalui internet dan tidak menyebarluaskan konten-konten yang tidak mendidik.

deklarasi netizen mpr ri

Memasuki Gedung Nusantara V MPR RI, sama sekali tidak ada kesan mewah. Namun gendung ini begitu bersih, rapih, dan bikin betah. Nah, pas masuk dalam ruang pertemuan, di sana sudah berjejer x banner yang berisi kalimat-kalimat menarik seperti; Berhenti berseteru, mulailah bersatu. Kalimat yang sederhana, namun sarat makna.

Gladi bersih untuk deklarasi netizen berlangsung kurang lebih 20 menit. Setelahnya, kami diajak melipir sejenak mengunjungi Museum Macan, menyusuri Kota Tua  Jakarta, dinner di Jimbaran Resto Jakarta. Betul-betul hari yang menyenangkan!

Deklarasi Warganet (Netizen) MPR RI

Akhirnya, momen yang ditunggu-tungu datang juga. Minggu (9/12/2018), kami mendeklarasikan empat poin yang telah dibuat. Disaksikan oleh Sekretaris Jenderal MPR RI, Ma’ruf Cahyono, Bu Siti Fauziah, Pak Andrianto, dengan penuh semangat para Netizen mengucap janji yang dilafalkan secara bersama-sama dnegan dipimpin oleh Uda Surya (Netizen dari Sumatera Barat) dan Mbak Dila (Netizen dari Manado).

Kami Netizen Indonesia berjanji untuk:

  1. Tidak menyebarkan konten hoax dan SARA;
  2. Bijak bermedia social sesuai dengan Pancasila;
  3. Menerapkan empat pilar MPR RI dalam literasi digital;
  4. Bersatu membuat keren Indonesia dengan konten yang positif.

netizen day-2 (251)

Seketika aku bingung setelah berdeklarasi. Aku membaca ulang empat pilar MPR RI dan itu sangat sederhana. Namun setelah disinergikan dengan netizen, kenapa rasanya seperti ada kecemasan dan ketakutan dalam diri. Empat poin di atas sangatlah singkat, dan tepat guna. Namun untuk implementasinya, rasanya akan berat. Apalagi setelah menandatangani di lembar deklarasi, ugh…rasanya ada cekot-cekot di tahi ini. 😀 Mungkin aku terlalu berlebihan, namun ini yang aku rasakan. Entah karena aku baru turun menjadi bagian dari warganet MPR-RI, atau karena aku masih bingung cara sosialisasi kepada khalayak. Ini tantangan tersendiri meski bagiku butuh perjuangan ekstra. Mulai dari diri sediri untuk mengimplementasikan empat poin deklarasi MPR RI.

“Sungguh empat poin ini sangat keren. Jika sampai bisa diterapkan oleh seluruh netizen di Indonesia, maka Tanah Air akan tentram dan damai.” Kata Pak Ma’ruf Cahyono sebelum menutup acara Deklarasi Netizen MPR RI. Beliau juga membacakan puisi dengan judul Manifesto Ini Baru Indonesia yang panjangnya minta ampun tapi beliau hafal. 😀

deklarasi mpr ri

Tidak ada yang tidak bisa, terpenting ada usaha. Meski sampai sekarang belum bisa berkontribusi banyak sebagai netizen MPR RI, setidaknya aku belajar dan berusaha untuk tidak menyebar berita bohong atau hoax dan SARA. Pada akhirnya, aku mengajak teman-teman yang kesehariannya aktif di sosial media atau dunia maya untuk bersama menyebar berita atau informasi yang baik-baik dan turut mensosialisaikan empat pilar MPR RI dan juga mengimplementasikan deklarasi MPR RI. 😉

Terima kasih MPR RI. Terima kasih teman-teman Netizen dari 11 Provinsi di Indonesia. Semoga kita semua amanah untuk menjadi netizen MPR RI, ya.

Terima Kasih Atas Kejutan Blogging di Tahun 2018

Kejutan Blogging 2018 – Profesi sebagai Bloger nampaknya nyaris sama dengan Guru. Bukan tentang jasanya, sih, melainkan profesi yang terus melekat pada diri. Tidak ada istilah mantan Guru, bukan? Pun dengan Bloger. Sudah lama tidak melakukan kegiatan Blogging, identitas sebagai Bloger tetap saja melakat pada diri. Uniknya, sekalipun sudah pensiun dari kegiatan blogging karena suatu sebab, tetap tidak ada mantan Bloger. Hahaha.

Aku sudah lama merasa demikian. Mungkin sejak tahun 2016 di mana aktivitas Bloggingku mulai menurun. Padahal mulai ngeblog saja tahun 2013, baru tiga tahun produksi konten menurun. Apakabar Bloger senior seperti Pakdhe Cholik, Om NH, dan Bloger senior lainnya yang sampai saat ini masih aktif menulis di blog. Duuh…istiqomah memang butuh perjuangan yang tidak biasa, ya. 😀

Pertengahan tahun 2017, aku sempat cerita sama tante kalau aku ingin berhenti ngeblog dengan berbagai alasan. Tapi nyatanya tidak bisa berhenti begitu saja. Banyak pertanggungjawaban atas sebuah profesi sebagai Bloger. Eh…lebih tepatnya soal sayang, sih. Ya, aku sudah terlanjur sayang sama dunia yang satu ini. Kerap sedih karena tidak bisa konsisten menerbitkan artikel sesuai tarjet, namun tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Apalagi kalau sudah ngomongin “label”, Idah Bloger. Ugh…sungguh seperti ada tanggungjawab di sini. *nunjuk perut*

Tahun lalu, aku membuat banyak harapan untuk kegiatan blogging di tahun 2018. Salah satunya yaitu tentang tarjet publikasi tulisan. Iya, aku menarjetkan sebulan minimal menerbitkan empat artikel di blog ini. Artinya, seminggu sekali minimal ada artikel yang terbit. Nyatanya? Sebulan paling banter menerbitkan dua artikel. Kalau misal lebih dari dua artikel, berarti itu bukan artikel dari hati alias partnership. 😆

Kejutan Blogging di Tahun 2018. Thank You!

Minimnya artikel yang terbit tiap bulannya membuatku makin tidak percaya diri menyandang profesi sebagai Bloger. Tahun ini saja, aku menerbitkan tidak lebih dari 30 artikel. Artinya, konsistensi akan menulis makin menurun. Banyak moment-moment penting yang belum atau tidak aku tulis di blog. Sementara baru terekam di Instagram. Entah sementara, atau akan dilanjut ke blog, tapi belum tahu kapan akan mulai  mengeksekusi. 😀

PANTAI JETIS

Sejalan dengan kegiatan blogging di online yang menurun, aku kira tahun tahun ini kegiatan blogging di offline bakal turun juga. Yaaa…biasanya kan, gitu. Karena sudah jarang menulis, jarang interaksi dengan sesama Bloger, ya komunikasi atau networking makin sempit. Tidak banyak berharap untuk mendapat kesempatan mengikuti kegiatan offline yang masih berhubungan dengan blogging. Namun alhamdulillaah kesempatan untuk mengikuti event atau bahkan menghadiri undangan masih kerap berdatang lewat e-mail. Alhamdulillaah…alhamdulillaah…alhamdulillaah. 😉

Kesempatan-kesempatan atau tawaran yang datang, bagiku ini adalah kejutan. Nah, berikut ini adalah kejutan-kejutan atas Blogging di Tahun 2018 dengan foto-foto sedikit pamer. -astaghfirullahaladzim- 😆

Bloger Goes To Palawi (on May)

SKY BIKE DI BATURRADEN

Undangan famtrip datang dari PT. Palawi Baturraden, Bayumas, melalui Mbak Olip. Perusahaan yang mengelola beberapa wana wisata Baturraden ini mengajak aku dan keluarga kecilku serta beberapa teman-teman Bloger dari kabupaten tetangga untuk menginap di Villa, diajak jalan-jalan, dan berkuliner khas Banyumas.

Mendapat pengalaman seru menginap di Vila Aghatis, treking bareng keluarga, sampai menjajal wahana baru di sekitar Villa, sungguh menjadi moment yang membahagiakan. Selengkapnya tentang kegiatan famtrip Bliger Goes To Palawi bisa dibaca di blog post Petualangan di Wana Wisata Baturraden dan Pengalaman Menginap di Villa Agathis Baturraden.

Borobudur International Art and Performance Festival (on July)

Borobudur International Art and Performance Festival

Emm…undangan ini sebenarnya bukan by person, sih. Namun untuk komunitas yang konsen mempromosikan pariwisata di Indonesia. Sebut saja Gempita, yaaa. Melaui Gempita, aku kerap menerima undangan gretongan. Ya, undangan yang datang tidak hanya untuk satu orang, melainkan beberapa orang sesuai kebutuhan. Seperti undangan event BIAPF (Borobudur International Art and Performance Festival) ini eks karesidenanku dapat 8 undangan untuk melihat pembukaan event tersebut.

Mulai sore sampai malam hari, kami melihat suguhan atau perfrormance tarian khas daerah di Indonesia dan beberapa tarian mancanegara. Ini pertama kalinya aku menyaksikan tarian yang mengagumkan dan performernya totalitas banget. Btw, event ini masuk dalam daftar Calender of Event Kemenpar, lho. Karena tahun lalu aku gagal ke sini, maka tahun ini aku niat banget untuk hadir menyaksikan langsung gelaran BIAPF.

Oiya, event ini belum aku tulis di blog. Hahaha. *masih ngaku bloger? kan songong banget sebenernya, ya.*

Dieng Culture Festival (on August)

Dieng Culture Festival

Nah…kali ini aku mendatangi event di “rumah sendiri” yaitu di Dieng, Banjarnegara. Ya…apalagi kalau bukan event tahunan yaitu DCF (Dieng Culture Festival). Meski event ini sudah terlaksana beberapa kali, namun ini adalah kali pertama aku datang ke DCF. 😆

Aku mendapat undangan dari dinparbud setempat. Gelaran acara di daerah sendiri tapi untuk mengikuti acara tersebut harus menunjukan undagan. Gila, ya? Ngga lah! Sama halnya BIAPF, gelaran DCF ini juga masuk dalam Calender of Event milik Kemenpar. FYI, untuk dapat menikmati event dari awal hingga akhir selama 3 hari, wisatawan harus membayar sekian ratus ribu rupiah. Nah, dinparbud memberi kesempatan kepada aku dan dua temanku untuk meliput, membuat konten.

Sebagai pertanggungjawaban, seluruh konten video dan foto DCF sudah aku unggah di akun instagram @idahceris dan pengalaman mengikuti event pun sudah aku tulis dengan judul Unforgettable Moments at Dieng Culture Festival 2018.

Lampung Krakatau Festival (on August)

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (1)

Perjalanan tanpa diduga dan tanpa direncana yaitu menghadiri event FKL (Festival Krakatau Lampung) 2018. Bisa dibilang, ini perjalanan terberat yang pernah aku lewati selama menjadi seorang Ibu, sejauh ini. Kenapa? Gue harus ninggalin bocah yang super duper ngangenin selama hampir seminggu! Wooooyyyy…woy woooy! Beraaat rasanyaaaa.

Udah tahu berat, tapi tetap dijalani? Curhatan tentang ini belum sempat aku tulis. Mungkin akan membutuhkan waktu sehari semalam untuk menuliskannya. Terlalu banyak drama. 😆

Oiya, LKF ini juga masuk dalam Calender of Event Kemenpar RI. Event ini layak masuk COE karena “harta”, budaya, dan kearifan lokal Lampung, tuh, luar biasa. Banyak destinasi menarik di sana. Kalau diturutin, aku pingin nambah izin kerja untuk eksplorasi destinasi Lampung yang tak ada habisnya. Eh tapi, aku sudah menuliskan sedikit curahan hati untuk Lampung di blog post Jatuh Hati Kepada Lampung yang Menginspirasi. Untuk rangkaian event, belum aku tulis, ya. *masih ngaku bloger? kan songong banget sebenernya, ya.*

Deklarasi Netizen MPR-RI (on December)

Deklarai Netizen MPR RI.jpg

Kejutan Blogging kembali datang di penghujung tahun. Undangan deklarasi Netizen MPR-RI yang bertempat di Gedung MPR-RI. Undangan ini datang tiba-tiba banget dari teman-teman di Jawa Tengah. Ada Tina, Mas Hyudee, dan Mas Ambar. Aku bersama mereka datang ke Jakarta untuk melakukan deklarasi yang diselenggarakan langsung oleh MPR-RI bersama 44 netizen dari 11 Provinsi di Indonesia.

Pingin berbangga, tapi belum bisa karena sampai saat aku menulis blog post ini aku masih bertanya-tanya “apa yang bisa aku lakukan sebagai bloger, netizen, setelah mendeklarasikan empat point yang berhubungan dengan 4 pilar MPR-RI?”. Ah…ternyata sampai sekarang masih bingung. Eh…bukan bingung, tepatnya masih belum menemukan titik terang gerakan-gerakan setelah ada deklarasi. Hahaha. Bismillaah dulu, karena katanya harus mulai dari diri sendiri untuk mengaplikasikan hasil deklarasi netizen MPR-RI.

Btw, tentang Deklarasi Netizen MPR-RI belum juga aku terbitkan artikelnya di Blog, lho. Insya allah bulan ini. *masih ngaku bloger? kan songong banget sebenernya, ya.*

Destinasi Digital Pasar Lodra Jaya (On November)

DESTINASI DIGITAL PASAR LODRA JAYA

Boleh agak menyimpang sedikit dari aktivitas blogging, yaaaaa. 😆 Jadi begini, aku bersama 23 member yang tergabung dalam sebuah komunitas pariwisata yang dibentuk oleh Kemenpar RI, tahun 2018, tepatnya bulan November, turut mensukseskan salah satu program Kemenpar RI yaitu tentang Destina Digital.

Emm…kali ini aku berbangga, bahagia, meski pada akhirnya harus rela dan ikhlas tiap akhir pekan khususnya hari Minggu, quality time bersama keluarga menjadi berkurang. Belajar dari pengalaman nih, ternyata menciptakan destinasi baru ternyata cukup mudah asal sudah ada konsep yang matang. Apalagi sudah disediakan dana oleh Kemenpar RI. Komitmen untuk terus maju berkembang, dan saling menguatkan sesama member untuk meng-eksis-kan destinasi, ini bukan perkara mudah. Sudah tergabung dalam satu wadah, satu passion, tetap saja butuh perjuangan yang teramat. *haiyaahh…curhat ini, curhat banget.*

Yaa…terlepas dari masalah-masalah karena orang masih hidup selalu saja ada masalah, aku bangga bisa kenal, bergabung, bekerjasama dengan teman-teman yang telah berjuang keras, memilih untuk bertahan di Destinasi Digital Pasar Lodra Jaya, terus mengembangkan destinasi digital disela-sela rutinitas harian yang nyaris tidak ada jeda.

2018, terima kasih atas kejutan-kejutan dari Blogging. Aku tidak akan membuat resolusi Blogging untuk tahun ini. Bukan karena pasrah atau makin lemah, biarkan blogging berjalan semaunya saja, yang jelas Menulislah karena menyehatkan. 😉

Kuliner Seafood Murah di Pantai Jetis, Cilacap

Kuliner Seafood di Pantai Jetis, Cilacap – Antara kaget dan penasaran, kenapa Cilacap bisa sepi wisatawan sementara tujuan wisata di sana menurutku banyak banget dan sangat beragam. Terlebih kulinernya, di sana terkenal dengan kuliner seafoodnya yang murah meriah karena banyak laut di sana. Apalagi jika belinya langsung di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang ada di beberapa pantai, dijamin tidak ada kata mahal. Eh, tapi ini katanya, sih. Karena aku juga belum pernah kulineran di TPI sana. 😆

Jangankan extend, menjadi tujuan wisata saja sepertinya tidak masuk dalam benak wisatawan. Meski ada banyak destinasi wisata seperti pantai, kuliner, bangunan bersejarah, dan pariwisata lainnya yang bagiku sangat menarik untuk dikunjungi, Cilacap tetap sepi wisatawan.” Mas Pras mengungkapkan keprihatinannya atas minimnya antusias wisatawan untuk berkunjung ke Kotanya.

Untuk sedikit menghilangkan rasa penasaran akan apa yang telah diceritakan Mas Pras, akhir bulan Juni, aku dan tante sepakat untuk mengunjungi Kabupaten yang jarak tempuhnya tidak begitu jauh dari tempat tinggal kami, kira-kira 60km dari Banjarnegara atau 2 jam. Karena kami tidak ada rencana menginap, tempat wisata yang kami kunjungi pun tidak terlalu jauh dari kota. Bisa dibilang piknik ke Cilacap kali ini sebagai uji coba, merasakan atmosfer Cilacap yang tipis-tipis dulu. 😛

kuliner di pantai jetis (1)

Tujuan kami ke Cilacap hanya ingin ke pantai yang paling dekat dan paling mudah diakses, kemudian menikmati seafood on the spot sampai beneran kenyang. Pilihan destinasi wisata tersebut jatuh pada Pantai Jetis yang beralamat di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Yaps! Kuliner Seafood di Pantai Jetis.

Motoran ke Cilacap. Let’s go!

Jauh dari rencana yang seharusnya berangkat pukul 07.00 WIB, kami baru bisa berangkat pukul 09.00 WIB dengan mengendarai sepeda motor. 😆 Ini pertama kali aku naik motor ke Cilacap. Sebagai penikmat transportasi umum, sebenarnya aku ingin sekali naik bus atau kereta api menuju Cilacap. Namun, bus menuju Cilacap ini katanya sangat terbatas. Tidak setiap jam ada. Pun dengan Kereta Api dari Purwokerto menuju Cilacap. Ya…meski perjalanan menggunakan Kereta Api hanya 1 jam, tapi setidaknya bisa untuk melepas kangen naik kereta. 😀

Aku kira saat perjalanan menuju Cilacap bakal ada sesi istirahat di rest area karena capek berkendara, eeeh…belum merasa lelah kok tahu-tahu sudah mulai terlihat tambak udang. Alhamdulillaah merasa dekat ke Cilacap hanya berbekal petunjuk online yaitu google maps. Hahaha. Meski sudah tersedia petunjuk jalan, didukung dengan kondisi jalan raya yang bagus tetap saja kurang percaya diri. Mohon dimaklumi kalau tidak paham dengsn rute jalan, ya. 😛

Inginnya kami lewat jalan raya utama, tapi aplikasi dari google maps ini membawa kami melewati jalan alternatif. Tidak masalah, sih, karena pada akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan. 😀

Sampai di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pantai Jetis, Cilacap.

Eh, ternyata Pantai Jetis ini dikelola oleh Desa Wisata Karangbanar. Aku tahu informasi ini dari karcis parkir yang di dalamnya mencantumkan pengelola obyek wisata dan juga tempat parkir. Ingin rasanya ngobrol-ngobrol dengan pemuda yang menjaga tempat parkiran, namun karena tidak ada keberanian untuk menyapa mereka, aku memilih untuk menuju TPI. Ya, setelah membayar retribusi parkir senilai Rp 5 ribu, mereka mengizinkan wisatawan mengendarai sepeda motor sampai kompleks TPI, bahkan keliling pesisir pantai.

Sesampainya depan TPI, rasa ingin segera menikmati olahan seafood makin tinggi. Tanpa pikir lama dan saking nafsunya, aku keliling pasar untuk membeli udang dan cumi-cumi. Dari kejauhan, lobster dan cumi nampak menggairahkan sekali. Aku langsung menyampaikan niat ke tante kalau aku mau beli 1 kilo untuk dimasak nanti. Bringassssss! 😆 😛 😛

Duh…kenapa udangnya pucat kayak aku, ya?” Aku membatin sambil melirik kiri-kanan kios di mana semuanya menawarkan udang, cumi, dan ikan laut. Karena merasa kurang gereget, aku pindah lapak dengan harapan dapat menemukan yang segar-segar kayak Kecemutku kalau habis mandi. Hasilnya? Sama saja, semua nampak layu tidak menggairahkan. Hahaha.

Mbak, para Nelayan tidak lama lagi mendarat. Belinya di TPI sana saja, lebih segar dan murah.” Seorang laki-laki yang sedang membeli udang bersama isterinya menunjukan tempat pesta seafood alisa TPI yang lokasinya bersebelahan dengan pasar ikan. Yaa….aku kira kami tidak boleh masuk TPI yang lokasinya tidak begitu luas, makanya menyusuri pasar untuk jajan seafood. 

Masakan seafood Bu Masiyah

kuliner dipantai jetis (1)

Menunggu para nelayan lumayan lama, ada 20 menit mungkin, akhirnya kami mendapat udang dan cumi segar! Satu per satu para nelayan membawa hasil tangkapannya. Dan di depan pintu masuk TPI, sudah antre para pelanggan, dong. Ketimbang menunggu lagi, kami masuk lewat pintu samping dan langsung memesan udang dan cumi berukuran sedang untuk dimasak. 😀 Btw, harga udang ukuran sedang di sini yaitu Rp 20 ribu per kilo. Sementara di tempatku biasanya Rp 35 ribu. Hanya selisih Rp 15 ribu. 😆

FYI, di Pantai Jetis ada beberapa warung yang membuka jasa memasak. Salah satunya yaitu warung Bu Masiyah. Warung yang cukup luas dan nyaman ini menawarkan beragam menu masakan seafood. Di sini, antara pedagang dan pemilik warung saling kontak. Pedagang ikan laut menawarkan beberapa warung yang buka pada hari itu dan melayani jasa memasak, kemudian wisatawan boleh memilih.

Kami memilih warung Bu Masiyah ini karena lokasinya paling dekat dengan TPI. Selain itu, warung ini sedang sepi pengunjung. Artinya, kami bisa lebih cepat makan siang! Hahaha. Ya, sudah saatnya makan siang dan perut sudah tidak bisa dikompromi.

Udang saus pedas, cumi goreng dan tumis kangkung menjadi menu makan siang kami. Rencana mau beli udang dan cumi satu kilo untuk dimasak, realisasinya beli setengah kilo saja sudah kenyang banget dan cuminya cuma seperempat kilo. Kenyang makan seafood di pantai rasanya beda banget dengan kenyang makan seafood di resto. Ini betul-betul nikmat kenyang yang tak terkira. Belum lagi ditambah view pantai dengan birunya laut dan langit yang cerah, senang-senang kenyang.

Cita rasa masakan seafood Bu Masiyah tergolong enak. Harumnya jahe di saus udang begitu terasa. Harga jasa memasaknya juga tidak mahal, hanya Rp 15 ribu per menu. Harga jasa memasak tentunya disesuaikan dengan banyaknya olahan. Harga jasa memasak satu kilo udang tentu berbeda dengan dua kilo udang, dong. 😉

PANTAI JETIS

FYI (lagi)aku ke Pantai Jetis pas hari Minggu, hari libur kerja. Namun tempat ini sama sekali sepi wisatawan. Warung-warung yang berada di kompleks pantai juga hampir semua tutup. Sepertinya hanya kompleks warung Bu Masiyah dan sekitarnya yang buka. Itupun hanya beberapa. Aku penasaran, dong, kenapa pantai ini bisa sepi banget padahal hari Minggu.

Usai makan siang, kami menuju pangkalan perahu Maliando Putra. Di sini wisatawan bisa sewa perahu dengan membayar Rp 50 ribu untuk satu perahu. Jika ingin lebih murah, wisatawan harus menunggu penumpang lain. Namun tidak dapat dipastikan juga akan ada penumpang lagi atau tidak. Menurut Pak Mul, salah satu sopir perahu motor, Pantai Jetis memang tergolong sepi. Pantai akan ramai jika musim libur sekolah dan lebaran, itu pun ramainya standard. Duh…ini beneran kunjungan wisatawan ke Cilacap begitu minim? Ini kenapa coba? Masih mencari tahu, tapi tentu bukan karena aksesibilitas karena banyak pilihan transportasi menuju Cilacap, dari pesawat sampai kereta api. Jadi, transpotasi bukan kendala utama, apalagi untuk moda kereta api ini banyak pilihan stasiun tujuan di Cilacap. Stasiun Sidareja, misalnya.

pantai jetis cilacap (2)

Jadi, tinggal menyiapkan waktu untuk kembali ke Cilacap dan mencoba menginap beberapa hari di sana. Traveling sambil cari tahu, kenapa Cilacap dengan ratusan destinasi wisata, wisawatan tetap sepi. Sabar ya, Mas Pras. Nanti akan indah pada waktunya. Sabar duluuuu. 😀

Baca juga artikel tentang Pengalaman ke Pantai Jetis Saat Pandemi.

Wisata Tampomas dan Danaunya yang Hits

Gunung Tampomas yang sekarang sudah menjadi obyek wisata tampomas, tahun ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Banjarnegara setelah kawasan dataran tinggi Dieng. Aku tidak melakukan survey untuk ini, sih. Hanya saja melihat banyaknya wisatawan yang terus berdatangan baik weekday maupun weekend.

Pemerintah desa Gentansari yang baru melakukan pengembangan tahun ini bisa dikatakan sukses menarik perhatian wisatawan. Apalagi setelah banyak berbenah mulai dari penataan obyek wisata sampai dengan pengadaan fasilitas umum, banyak wisatawan terlihat sangat menikmatinya.

Flashback Wisata Tampomas.

Obyek wisata yang menyuguhkan pemandangan alam berupa pepohonan, tebing bekas galian batu dan wisata perahu di danau, dulunya dimanfaatkan oleh wisatawan untuk sakadar swafoto dan prewedding. Meski sudah menjadi obyek wisata, masyarakat sekitar masih aktif menggali dan memecah batu di sekitar lokasi. Namun kini, aktivitas tersebut sudah tidak ada karena pemerintah desa telah menata ulang, melakukan pengembangan, dan menjadikannya sebagai destinasi wisata secara utuh.

Tampomas masa kini.

Aku terkesima saat melihat sepeda motor berderet memanjang ke belakang mulai dari jalan utama masuk obyek sampai depan pintu masuk. “Gilaa…ramai banget, Tampomas!” Aku berbisik kepada suami yang sama-sama sedang memperhatikan deretan motor tersebut. Dia pun ikut terkagum-kagum.

Sepeda motor yang memanjang itu ternyata sedang antre tiket masuk. Antrean dibuat dua baris untuk sepeda motor. Sementara masih sisa separo jalan digunakan untuk lalu lintas. Pemuda-pemudi desa setempat yang bertugas terlihat kompak melayani wisatawan dan mengatur  jalannya antrean. Ada yang bertugas menghentikan laju sepeda motor, ada yang memberikan tiket masuk, dan ada juga yang mempersilakan wisatawan menuju tempat parkir.

Akhir pekan itu, tepatnya seminggu setelah lebaran tahun ini, obyek wisata yang berlokasi di Kecamatan Pagedongan, tepatnya di Dusun Mendingin, Desa Gentansari, betul-betul banjir wisatawan. Mulai dari anak-anak sampai orang tua, raut wajahnya nampak bahagia. Terlebih anak-anak karena ada banyak pilihan permainan di sini. Odong-odong, misalnya. Di sini ada lebih dari satu odong-odong yang standby di area wisata. Belum lagi permainan lainnya yang sukses menjadi magnet obyek wisata ini. 😀

Tiket Masuk Wisata Tampomas.

Dengan membayar tiket masuk Rp 3.000 per orang, anak-anak sampai usia 5 tahun masih free tiket masuk dan parkir Rp 2.000 per motor, aku yang saat itu datang bersama Kecemut, Suami dan keluarganya dedek Al, sepakat untuk membahagiakan anak-anak ke istana balon. Hahaha. Ya gimana lagi, mereka langsung teriak heboh melihat permaianan tersebut.

Melihat deretan permainan anak di kompleks Tampomas, sungguh ini diluar ekspektasi. Memang, ini bukan kali pertama aku datang ke Tampomas. Namun ini menjadi kali pertama aku melihat obyek wisata alam yang mana di dalamnya terdapat aneka permainan anak. Saat itu aku melihatnya dari tempat media informasi yang berada di atas atau bukit. Sudah seperti di pasar malam.

Ada apa saja di Tampomas?

Asli, permainan anak ini ada di dalam kompleks wisata, menyatu dengan obyek wisata. Menurut salah satu pelapak, permainan anak baru mulai masuk saat pekan lebaran. Hari-hari biasa, mereka tidak ada di sini. Meski hanya ada saat pekan lebaran dan bisa dibilang karena memanfaatkan momen, tetap saja yang seperti ini bikin geregetan. Kenapa tidak dikumpulkan di luar obyek wisata supaya lebih fokus pada suguhan alam Tampomas, gitu. Ugh! 😆

Setelah puas bermain di istana balon, aku mengajak Syaquita dan Al untuk naik kuda. Aku kira Syaquita bakal tertarik dengan naik kuda ini, ternyata dia masih takut. Hahaha. Jadi, hanya Alkarim saja yang naik kuda. Oiya, Kuda yang disewakan di sini ada dua ekor. Untuk dapat naik kuda ini, wisatawan dikenakan biaya Rp 10.000 per sekali putaran. Pemandunya baik-baik dan ramah juga sama anak. Sambil keliling, pemandu kuda tunggang ini terus mengajak si kecil berkomunukasi. Anak pun betah jadinya. 🙂

Setelah anak-anak puas bermain, kami mengajak mereka untuk naik perahu mengelilingi danau. Untuk menuju danau, kami harus melewati beberapa anak tangga lalu kembali antre menunggu perahu. Di sini tersedia tiga perahu dan satu perahu maksimal berisi 10 orang dewasa. Tarif naik perahu Rp 5.000 per orang, anak-anak tetap dikenakan tarif sama seperti orang dewasa. Tarif tersebut sudah termasuk sewa life jacket.

Lagi-lagi aku merasa geregetan karena perahu yang beroperasi di danau ini ternyata menggunakan mesin motor. Apalagi saat melihat bunga teratai tumbuh di tengah dan pinggiran danau. Belum lagi habitat-habitat di dalam danau itu, apa kabar mereka? Sedih rasanya. 🙁

Seketika aku teringat Telaga Merdada, sebuah obyek wisata alam di Desa Karang Tengah, Kecamatan Batur. Telaga Merdada telah menjadi destinasi wisata yang terkenal dengan Kayaknya. Pengelola Telaga memilih menggunakan Kayak untuk eksplorasi Telaga karena pertimbangan makhluk hidup yang tumbuh di sekitar Telaga. Mereka ingin spesies di dalam Telaga tetap utuh, dapat berkembang, dan juga melestarikannya sesuai dengan konsep yaitu wisata alam.

Melestarikan Ekosistem di Tampomas.

Aku kira di Tampomas akan berlaku hal demikian. Menggunakan perahu dayung atau jenis perahu lain tanpa mesin. Namun ternyata tidak.

Pengelola pasti punya alasan kenapa lebih memilih perahu motor ketimbang menggunakan perahu dayung. Seperti zona aman, misalnya. Karena menurut keterangan nahkoda kami, ada beberapa bagian danau yang tidak boleh dilewati karena kedalamannya tidak diketahui -mungkin dalam banget-. Tapi kembali lagi untuk masa depan danau dan ekosistem yang ada di dalamnya, aku sedih. Rasanya lebih ramah menggunakan perahu dayung atau kalau tidak bebek kayuh.

Selain perahu motor dan permainan anak, ada satu lagi yang bikin aku geregetan. Adalah spot selfie. Obyek wisata dengan tema alam yang kemudian menawarkan tempat swafoto dari bunga plastik, tuh, rasanya bikin panas-panas gimana, gitu! 😆 Tapi entah lah, wisatawan merasa geregetan juga atau nyaman-nyaman saja. 😀

Terlepas dari pengembangan yang beberapa keluar dari tema alam, aku happy di Kabupaten Banjarnegara kembali muncul wisata hits yaitu Tampomas. Semoga Banjarnegara makin ramai dengan pariwisatanya yang terus tumbuh.

Wisata Tampomas, Banjarnegara

GyudaQ Japanese BBQ: Makan Sepuasnya dengan Harga Minimalis

GyudaQ Japanese BBQ – Berkuliner atau makan diluar saat ini sepertinya sudah menjadi kebutuhan. Minimal sebulan sekali atau bahkan seminggu sekali, banyak yang mengagendakan untuk makan diluar. Alasannya? Ingin mencoba menu baru di suatu resto, atau kangen masakan di resto langganan. Nah, kalau aku sendiri? Emm… 😉

Tentu karena doyan makan! 😆 Bagiku, berkuliner ngga harus di rumah makan mewah, resto mahal, tapi jika ada tempat makan yang menyajikan banyak menu, bervariasi, murah, dan enak banget, ya samperiin lah. 😉 Seperti GyudaQ Japanese BBQ yang berlokasi di Purwokerto.

Jarak tempuh dari Banjarnegara menuju Purwokerto hanya membutuhkan waktu 2 jam menggunakan transpotasi umum Bus. Ngga dibela-belain banget ke sana, sih. Cuma kalau sudah sampai Purwokerto, ya musti mampir dan nyobain Japanese foodnya GyudaQ. 😀

gyudaq bbq - auce

ngabisin ini semua di gyudaq bbq…

GyudaQ Japanese BBQ adalah restoran All You Can Eat pertama di Purwokerto. Restoran ini pertama kali dibuka pada pertengahan tahun 2018. Restoran yang mengusung Japanese Food sebagai spesialisasi hidangannya berlokasi tak jauh dari pusat Kota Purwokerto. Berbagai menu buffet siap memanjakan lidah para penggemar masakan Jepang, termasuk lidah aku yang suka mencoba masakan baru.

GyudaQ Japanese BBQ sebagai restoran All You Can Eat memiliki tiga pilihan paket yang dapat dipilih. Pilihan paket tersebut adalah  standard buffet, regular buffet dan premium buffet. Jika memilih menu standard buffet, kamu dapat menikmati pilihan sajian berupa short plate, chicken fillet, chicken wings, all vegetables, all additional, sushi standard, all appetizer, all furay, all dessert dan all beverages. Paket standard buffet dibanderol dengan harga Rp.101.000,-.

Sementara jika memilih paket regular buffet, kamu dapat menikmati semua item yang ada di standard buffet ditambah sirloin, all seafood, sushi regular, ramen,  chawan musi dan gyudon. Untuk dapat menikmati seluruh varian menu tersebut, kamu cukup membayar Rp. 149.000,-. Gilaaa…langsung ngiler pingin chawan musi. 😀

Nah, jika ingin yang lebih lengkap, maka paket premium adalah pilihan yang tepat. Dengan harga Rp.179.000,- konsumen bebas memilih semua item pada paket regular buffet ditambah premium beef platter, udon, beef sushi, salmon sushi, chicken ramen, dan salmon ramen. Duileeeh…yang lengkap gini lebih menggoda, ya. Hahaha.

Btw, seluruh item di buffet GyudaQ Japanese BBQ bisa diambil sepuasnya untuk kemudian diolah sendiri. Kamu bebas mengolahnya dengan 2 cara yang tersedia, yakni grill dan shabu. Ada banyak dipping sauce yang bisa dipilih untuk melengkapi pilihan menu grill. Sementara untuk shabu disediakan 2 varian kuah, yakni kuah kaldu dan kuah tomyam.

Ughhh…ini sungguh tidak bisa didiamkan begitu saja. Secara, aku hobi banget makan Shabu. Fufufu. Kebayang Shabu dengan kuah Tomyam, pastinya seger banget karena aku lebih suka kuah Tomyam dengan harumnya bumbu yang khas.

gyudaq bbq purwokerto
tempatnya gyudaq bbq purwokerto adem…

Sebelum memesan all yu can eat, kamu harus memahami peraturan yang berlaku di GyudaQ Japanese BBQ, diantaranya yaitu:

  • Waktu meniikmati hidangan selama 90 menit.
  • Jika melampaui batas waktu maka akan dikenakan denda sebesar Rp.50.000,- per 30 menit.
  • Hidangan yang tersisa di meja akan dikenai denda sebesar Rp.50.000,- per 100 gram.
  • Hidangan tidak dapat dibawa pulang, hanya dapat dinikmati di Restoran GyudaQ.

Selain menyajikan hidangan buffet All You Can Eat a la Jepang yang lezat, suasana Jepang juga cukup kental terasa di resto GyudaQ. Pilihan ornamen kayu yang dominan, mural bertema Jepang di dinding, hiasan pohon bunga sakura dan sambutan hangat para pelayan menggunakan Bahasa Jepang membuat nuansa kejepang-jepang-an terasa semakin hidup.

Selama 90 menit bersantap di Restoran GyudaQ Japanese BBQ kamu akan dimanjakan oleh ruangan yang full AC dan wifi. Restoran GyudaQ Japanese BBQ juga menyediakan smooking area dan meeting area. Mau ada acara kantor, bareng taman-teman, keluarga, atau komunitas, tidak perlu bingung lagi. Menu masakan Jepang siap menemani!

Area parkir yang tersedia untuk mobil dan motor juga cukup luas sehingga kamu tak perlu mengkhawatirkan kemanan kendaraannya. Fasilitas umumnya nyaris sempurna, ya.

Kalau udah lihat menu-menu masakan Jepang, rasa-rasanya tidak peduli dengan body yang makin bulet gini. Seperti harus mencicipi masakan Jepang dalam porsi besar, namun harga minimalis. 😀

GyudaQ Japanese BBQ:

Jl. Kongsen no. 24, Karangbawang, Purwokerto Selatan, Banyumas.

Telepon: (0281) 643135.

Jam operasional: 11.00-23.00 WIB.

PayLater Traveloka, Bikin Liburan Hemat dan Menyenangkan

PayLater Traveloka, Bikin Liburan Hemat – Kemudahan dalam traveling kini makin menjadi-jadi. Tidak hanya dari sisi transportasi yang dapat dipesan hanya dengan sekali klik, lalu bayar. Tetapi juga dapat mendapat fasilitas “piknik dulu, bayar kemudian”. Siapapun bisa traveling dengan biaya dibayar belakangan. Racun banget, kan!

Racun ini datang dariTraveloka yang saat ini memberikan fitur PayLater.  Ada yang pernah dengar tentang PayLater dari Traveloka?

PayLater adalah pembiayaan dari Traveloka bekerjasama dengan Danamas yang merupakan startup lending P2P sebagai mitra penyalur pinjaman dana. Dengan fitur yang tersedia di aplikasi Traveloka ini, kamu bisa liburan sekarang, bayar kemudian. Gimana, tuh? Nyenenging banget, sih? Atau, ada yang belum paham?

Emm…gini deh! Kamu pernah punya kartu kredit? Adakalanya kartu kredit itu sangat membantu ketika seseorang sedang butuh banget, tapi tidak punya uang tunai. PayLater ini juga membantu buat yang hobi traveling namun belum mempunyai cukup uang. Ya, fitur PayLater dari Traveloka memungkinkan para pengguna Traveloka untuk berlibur dahulu dan biaya liburan baru dibayar kemudian dengan cicilan sangat ringan. Alternatif banget jika bagi aku, kamu, dia, dan mantan yang pingin traveling tapi lagi dompet lagi cekak alias bokek karena sekarang bisa memanfaatkan PayLater Traveloka untuk membiayai liburan. Ini gila, sungguh. 😆

Nah, sebelum bertransaksi menggunakan PayLater, aku beri informasi penting tentang PayLater Traveloka, ya. Bacanya pelan-pelan saja, jangan napsu dulu dengan fitur Traveloka yang satu ini sebelum baca blog post ini sampai akhir. 😛

Cicilan Online Tanpa Kartu Kredit

Informasi paling utama yang harus aku sampaikan yaitu bahwa setelah menggunakan PayLater Traveloka, kamu bisa mengangsur tanpa kartu kredit. Ya, dengan PayLater Traveloka, pelanggan setia Traveloka bisa mencicil biaya liburan tanpa perlu menggunakan kartu kredit antara 1 -12 bulan dengan cicilan. Cara membayar pun bisa secara online.

Semua transaksi di Traveloka, bisa dicicil dengan PayLater. Mulai dari pembelian tiket kereta api, tiket pesawat terbang, hotel hingga tiket masuk wahana hiburan. Dengan nominal pinjaman antara Rp 2 – Rp 10 juta, PayLater bisa digunakan untuk semua transaksi yang kamu perlukan selama liburan bersama Traveloka.

TRAVELOKA-PAY-LATTER

Syarat Daftar PayLater Traveloka

Cara mendaftar PayLater di Traveloka cukup mudah. Hanya memerlukan kartu identitas berupa KTP (Kartu Penduduk), kemudian melengkapi syarat pendukung seperti KK, NPWP, atau kartu BPJS dan nomor telepon keluarga yang tidak tinggal serumah. Data ini penting untuk disiapkan sebelum melakukan transaksi agar prosesnya lebih lancar. Syarat pelanggan yang dapat menikmati PayLater adalah kamu yang sudah berusia 21 tahun dan maksimal berusia 55 tahun. Ini usia sudah mateng, ya. Sudah berpenghasilan juga karena untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan buruk terkait dengan cicilan.

FESTIVAL KRAKATAU LAMPUNG (4)
Mau lah, liburan ramai-ramai gini….nyicil! hahahaa

Hanya perlu waktu kurang lebih satu jam untuk proses verifikasi PayLater. Selama proses ini, pastikan nomor telepon kamu dan juga keluarga yang didaftarkan dalam kondisi aktif agar proses pendaftaran lebih lancar. Dengan rentang waktu cicilan yang bisa dipilih, nominal pembayaran bisa kamu sesuaikan dengan kemampuan. Jika selama satu periode PayLater kamu lancar, maka transaksi berikutnya dengan PayLater akan lebih mudah.

Warning banget buat kamu yang suka telat bayar-bayar atau pelupa kayak aku. Lupa punya hutang? What? Oh….no! Hahahaha

Beli Tiket Pesawat Murah Dengan PayLater

PayLater Traveloka juga membuat transaksi pemesanan tiket pesawat jadi lebih mudah. Tidak hanya bisa menanggung biaya pribadi, dengan limit yang cukup besar dari PayLater, kamu bisa membeli tiket pesawat untuk seluruh keluarga. Artinya, liburan bersama keluarga atau momen mudik pun tidak lagi bikin kepala pening, karena kamu bisa kredit tanpa kartu kredit yaitu cukup dengan menggunakan PayLater Traveloka. Tentukan tujuan kunjungan sekarang juga, kapan akan berangkat, serahkan urusan biaya ke PayLater Traveloka yang mudah digunakan. Ehhh…sudah dibantu seperti ini, jangan lupa ciciliannya, yaaa. 😛

TRAVELOKA-PAY-LATTER-2

Transaksi di Jam Kerja

Untuk mendapatkan manfaat lebih dari Traveloka ini, pastikan untuk melakukan transaksi di hari dan jam kerja. Karena proses verifikasi memang akan dilakukan pada waktu ini. Sisihkan waktu sebentar di antara kesibukanmu pada waktu weekdays untuk memproses transaksi menggunakan PayLater. Selain lebih lancar, transaksi ketika weekdays juga memperbesar kemungkinan kamu mendapatkan tiket pesawat dan hotel dengan harga lebih murah daripada ketika akhir pekan. Ini sudah rumus banget, ya. Memesan jauh-jauh hari atau hindari pemesanan pada weekend.

FYI, hanya dalam waktu satu jam setelah pengajuan dilakukan, dana akan cair dan membayar semua transaksi kamu di Traveloka. Menyenangkan sekali, bukan?

Jadi nih ya, semisal sudah punya rencana tujuan wisata atau travel bucket list dan ternyata tabungan belum mencukupi, PayLater bisa menjadi solusi. Tapi tetap harus ingat, punya hutang harus dibayar lho, ya. Buat cicilan sesuai kemampuan supaya liburannya juga nyaman dan happy! 😉

Hai, PayLater! Aku pingin ke Ende sama ke Samosir, tak berhitung dulu cicilannya, ya. Hahaha.

Punya Rencana Menginap, 5 Barang ini Wajib Aku Bawa

Hidup bergantung dengan orang, tuh, sama sekali tidak nyaman. Iya, bagiku ketergantungan ini bukan lagi masalah enak atau tidak enak karena urusan hati, tapi lebih pada ketidaknyamanan. Aku yang akan bergantung saja merasa tidak nyaman, apalagi orang lain yang akan menjadi tarjet atas ini, sudah pasti tidak nyaman. 😆

Aku kira ketergantungan yang membuat tidak nyaman ini hanya ada dalam hidup, namun ternyata tidak. Saat traveling atau saat punya agenda menginap, misalnya. Bergantung sama teman seperjalananpun kadang tidak nyaman. Apalagi perkara pinjam meminjam, ya…kalau emang udah soulmate seperti aku dan Tante, sih, tidak ada canggung. Tapi kalau bareng teman yang ketemunya bisa dihitung jari dalam satu tahun, atau bahkan baru kenal, dipastikan akan kurang leluasa dalam pinjam meminjam. Ini kalau aku, sih. Makanya saat punya agenda menginap, aku berusaha untuk prepare sebaik mungkin.

Tiap akhir pekan dalam dua minggu yang lalu, aku menginap dengan beberapa teman untuk suatu kegiatan. Sebenarnya aku bisa pulang, sih, karena kegiatan yang aku lakukan masih di Banjarnegara. Tempat kegiatan pun tidak jauh dari rumah, kurang lebih 45-60 menit perjalanan dari rumah. Namun karena sudah kesepakatan, tidak ada pilihan lain selain ikut aturan main. Hahaha.

Nah, saat menginap kemarin ini, aku merasa ada banyak barang bawaan yang pada akhirnya tidak aku pakai. Salah satunya yaitu kaus. Ya, aku terlalu banyak bawa kaus. Padahal, ketika aku menginap di luar kota biasanya tidak pernah membawa banyak kaus. Mending beli ketimbang bawa dari rumah. Dari sini, aku makin paham bahwa, ternyata beberapa barang yang aku bawa kadang memang kurang tepat guna.  Kesal rasanya! Hahaha. Yasudah…akhirnya aku hanya menggaris bawahi 5 barang yang wajib aku bawa ketika hendak menginap. Kelima barang tersebut yaitu:

Charger

Ini paling penting dan tidak bisa ditinggalkan. Mending tidak membawa handphone ketimbang tidak membawa charger. *eeeh, apa apanya dong, ini. 😆 Baik charger Handphone maupun Kamera, aku selalu membawanya, selalu ada di tas. Rasanya tidak nyaman ketika harus meminjam charger padahal sedang digunakan oleh yang punya atau teman lain, sementara aku lagi butuh-butuhnya.

Selaincharger hanphone,  untuk kebutuhan senter mini  yang mana menggunakan baterai AAA, aku juga membawa charger untuk kembali melakukan pengisian ulang bila perlu. Ya, saat ini teknologi terkait dengan baterai ini telah melakukan inovasi yaitu dengan membuat baterai dengan sistem rechargeable dengan banyak keuntungan. Aku pun termasuk yang pro dengan sistem rechargeable baterai karena lebih hemat dan ramah lingkungan. Apalagi sekarang pembelian baterai AAA rechargeable makin mudah melalui marketplace Bukalapak. Yaudah, tinggal meluncur ke website Bukalapak atau melaui aplikasi.

 Make up

PERLENGKAPAN MENGINAP (3)
Tak bisa keluar rumah tanpa make up yang satu ini…

Ini tidak main-main dan penampilan akan turun sampai 100 derajat jika menginap tanpa membawa bekal make up. Apa jadinya bibir ini tanpa lipstick. Hahaha. Selain itu, dalam hal satu ini memang agaknya bikin was was kalau sampai pinjam meminjam. Ya…penggunaan make up tiap pribadi kan berbeda, mulai dari warna sampai kecocokan dengan merek tertentu. Makanya, siaga banget harus dibawa sekelompok barang ini ketika henda menginap. 😀

Dompet

PERLENGKAPAN MENGINAP (3)
Dompet andalan kemana-mana…

Apaaa? Dompet isi duit? Iya, tapi secukupnya. Dompet yang aku maksud di sini yaitu bukan dompet yang digunakan sebagai alat menyimpan uang, namun lebih pada surat atau kartu penting yang harus dibawa supaya diri lebih aman. Aku sendiri hampir tidak pernah menyisakan lembaran uang di dalam dompet, lebih memanfaatkan ATM yang aku punya. Dan ATM yang aku bawa pun maksimal 2 ATM sebagai jaga-jaga.

Sandal

Entah kegiatannya satu atau bahkan sampai 3 hari lebih, aku pasti membwa sandal untuk kebutuhan pribadi.  Sandal yang aku bawa pun bukan sandal yang formal, melainkan sandal japit agar multi fungsi. Bisa dipakai saat santai, bisa juga dipakai saat harus berinteraksi dengan air. Sandal ini sangat sepele, tapi juga tidak bisa semena-mena saling pinjam, apalagi buat mereka yang selalu ingin sandalnya kering. Uwuuuw banget pasti. 😛

PERLENGKAPAN MENGINAP (3)
Sandal model apapun, yang penting harus bawa…

Minyak Telon

Hayo…kamu tim salonpas, koyo cabe atau minyak telon my baby? Ini niat banget sebut brand, ya. Hahaha. Saat melakukan perjalanan jauh atau menginap, kadang ada saja penyakit ringan menghampiri. Tiba-tiba kembung, pilek, sakit pinggang, masuk angin, dll dll. Kalau sampai mengalami penyakit kekinian, aku biasanya mengoleskan minyak telon atau fresh care. Sebenarnya stok untuk penyegaran aku selalu bawa dua, sih. Tapi aku lebih suka pakai minyak telon dengan merek my baby karena aromanya itu mengingatkan aku dengan Kecemut kalau habis mandi. Seger!

Dengan membawa lengkap barang yang menjadi kebutuhan diri saat menginap, aku merasa lebih tenang dan bangga dengan diri ini karena artinya sudah siap menginap. Tidak ada lagi kata merepotkan, tidak enak hati, apalagi ketergantungan. 😀 Apa-apa sudah disiapkan dan tinggal pakai, bebas merdeka rasanya. 😛

Omong-omong, apakah kamu punya barang yang wajib dibawa saat hendak menginap? Boleh lah sharing. 😛

Pakai Airy Rooms Berkali-kali, Ngga Pernah Kecewa – Review Hotel Jogja

“Kok jam segini kita udah di sini aja ya. “ Aku nyeletuk tiba-tiba saat sedang duduk berdua bareng Tante menikmati udara pagi di Jalan Malioboro. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB, waktu di mana kami biasanya sedang siap-siap untuk pergi ke kantor atau bahkan sudah berada di kantor untuk bekerja.

Ya, akhir minggu lalu, aku dan tante bertolak ke kota Gudeg untuk sebuah liputan di sana. Liputannya, sih, sore hari jam 18.00, tapi jam 07.30 kami sudah tiba di Jogja. Hayoo….mau ngapain coba? Ini Jogja, tidak boleh sampai ada kata gabut di sini. Hahaha.

Sambil sarapan soto di sekitar kulineran Malioboro, aku bertanya kepada Tante tujuan hari itu ke mana saja. Tante malah bingung. Hahaha. Kenapa tidak direncanakan jauh-jauh hari coba? Yaa…sudah terbiasa minggat dan rusuh, ngapain pakai rencana segala, hanya ke Jogja ini, lho. 😀 Ujung-ujungnya dadakan dalam menentukan kunjungn destinasi.

Setelah melakukan diskusi penuh drama karena waktu yang kami punya tidak begitu banyak, hanya 8 jam menuju liputan, kami memutuskan untuk pergi ke Candi Prambanan. Nah, ketika hendak memesan transportasi via online untuk ke Candi Prambanan, tiba-tiba teringat sesuatu yang penting.  Belum booking penginapan! Malas banget, kan, kalau harus gendong rasel berat saat jalan-jalan.

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN (8)
Tempat parkir cukup luas…

Saat genting seperti itu, cuma satu yang ada di benak. Airy Rooms!

Lagi-lagi Airy Rooms! Ya gimana lagi, selain ada banyak pilihan, cara untuk booking nya juga sangat mudah, dan yang paling penting adalah harganya sangat bersahabat. 😆 Karena sore hari kami akan ada acara di Sasana Amongraga, akupun mencari kamar Airy yang paling dekat dari sana, atau paling tidak mudah dijangkau. Setelah beberapa menit mencari akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Airy Eco Papringan, Ambarrukmo. Karena jarak tempuh dari Amongraga hanya 13 menit perjalanan. Tahu sendiri, Jogja sore hari kerap macet.

Selesai melakukan pemesanan yang hanya membutuhkan waktu tidak sampai lima menit, kami mencari mesin ATM untuk melakukan pembayaran. Beruntung kami masih di sekitar Malioboro, pasti banyak tersedia di sana. Apalagi ada  Tante, dia kan pernah tinggal di Jogja, maka tidak perlu waktu lama untuk menemukan mesin ATM karena dia paham di mana saja letak Mesin ATM yang ada di jalan Malioboro. 😛

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN (7)

Legaaa banget ketika sudah beres masalah penginapan. Tinggal main sepuasnya tanpa perlu khawatir lagi. Setelah pembayaran beres, kami pun segera menuju penginapan untuk menitipkan barang bawaan. Aman deh punggung aku! 😆 Perjalanan dari Malioboro menuju Airy Eco Papringan ternyata tidak begitu jauh. Dengan mengandalkan Google Maps, kami pun akhirnya sampai penginapan.

Kenapa memilih Airy Eco Papringan Ambarrukmo?

Selain cara pemesanan dan pembayaran yang mudah dan simple, bagi yang hobi nyasar-nyasar, tidak perlu khawatir. Airy Eco Papringan sangat mudah ditemukan. Kami hanya perlu mengikuti Maps yang sudah tersedia di aplikasi Airy. Ya, di aplikasi Airy Rooms tersedia maps untuk memudahkan dalam pencarian. Jarak yang ditempuh untuk sampai di tempat acara yaitu Sasana Amongraga tidak lebih dari 15 menit. Dekat bangeeeett.

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN YOGYAKARTA
Yang kusukaaa…ada gretongan air mineral dan jajan. 😀

Alasan lain, kami meliput kegiatan sampai malam, kira-kira pukul 21.30 WIB. Artinya, kami cuma butuh tempat tidur dowang. Maksudnya, tempat buat bobok yang tidak terlalu mewah dengan banyak fasilitas. Cukup ada air hangat dan AC. Makanya, kami memilih tipe Airy Eco dan kebetulan di dekat tempat acara ada pilihan Airy Eco Parpringan. Sewaktu melihat harganya murah meriah, ditambah ada promo hingga mendapat harga IDR 166,536, gebeeet laaah! 😆

Fasilitas apa saja yang ada di Airy Eco Papringan Ambarrukmo, Yogyakarta?

Airy Eco Papringan mirip dengan tempat kos dengan kamar berjejer yang berada di lantai satu dan dua. Fasilitas yang ditawarkan untuk Airy tipe Eco ini tidak mewah, namun cukup standard sebuah penginapan untuk kelas backpacker, solo atau budget traveler.  Ada WiFi, Tempat Tidur, Perlengkapan Mandi, Air Minum dan Snack, TV dan AC. Seperti yang kami tulis di atas, alasan kami memilih penginapan ini karena hanya butuh untuk sekadar istirahat saja, tidak terlalu mempedulikan fasilitas. 😀 Namun, kami cukup nyaman dengan kamar yang kami pilih karena beberapa alasan, yaitu:

Tersedia air hangat.

Suhu dan cuaca di Yogya memang panas. Mandi dengan air hangat rasanya memang kurang pas. Tapi karena acara kami sampai malam hari, ketersediaan air hangat menjadi prioritas utama. Shower yang ada di kamar kami adalah tipe hand sohwer yang sederhana, jadi tidak bingung untuk menggunakannya. Cukup memilih dengan cara memutar untuk air dingin atau panas seperti biasa.

Oiya, jika kamu sudah booking penginapan di Airy Rooms, tidak perlu membawa perlengkapan mandi karena Airy sudah menyediakan peralatan dan perlengkapan mandi, mulai dari sabun sampai handuk.

Tempat tidur double bed.

AIRY ROOMS ECO PRAPRINGAN YOGYAKARTA
Nyaman buat bobok….

Ini menjadi pertimbangan utama ketika traveling bareng Tante. Penginapan dengan low budget, namun tempat tidurnya tipe double. Kebetulan kami mendapat kamar di lantai dua dan agak ujung. Cukup nyaman buat istirahat karena tidak terlalu bising. Didukung dengan kasur yang nyaman dan selimut yang tebal, tidur pun pulas.

Lingkungan bersih.

Penampakan dari luar penginapan, Airy Eco Papringan terlihat kurang rapih termasuk ruang resepsionisnya. Agak was was saat mulai masuk ke dalam yang berupa lorong, gitu. Kabar baiknya, jalan menuju kamar sampai depan kamar dan bagian dalamnya, tuh, bersih. Mbak-mbak cleaning service juga rajin mengontrol kebersihan sekitar kamar.

Fasilitas pendukung yang membuat bahagia!

Selain kamar mandi dan perlengkapan mandi yang super lengkap, tempat tidur yang nyaman, lingkungan bersih, masih ada beberapa fasilitas pendukung yang membuat kami bahagia. Fasilitas tersebut yaitu  AC, lemari pakaian lengkap dengan gantungan baju, meja rias, televisi dan tentunya snack khas Airy lengkap dengan air mineral. Dengan harga semula Rp 180an ribu, lalu karena pesan menggunakan aplikasi dan dapat promo menjadi Rp 160an ribu, makin ketagihan menginap di Airy Rooms. Jika pergi ke luar kota dan harus menginap, penginapan yang pertama kami tengok yaitu Airy Rooms karena berkali-kali menginap di Airy Rooms tuh tidak pernah bikin kecewa.

Oiya, ada kejadian yang bikin kami mikir sampai kami meninggalkan penginapan. Adalah tentang arah sholat atau kiblat. Dari malam hari kami sampai penginapan, sampai pagi hari, kami sholat dengan beda arah karena keyakinan arah kami berbeda. Hahaha. Konyol memang, tapi namanya kepercayaan, ya jalani saja. 😆 Saran nih, ya, ada baiknya petunjuk arah kiblat sholat ada di tiap kamar, khususnya untuk penginapan Airy Rooms, nih. Supaya tetamu tidak ragu dalam beribadah.

Traveling ke Bali, Pura Lempuyang Bali Menjadi Tujuan Wisata

Tiga tujuan wisata yang sudah masuk travel bucket list tahun ini terpaksa aku hapus dari daftar. Negeri Jiran, Medan, dan Bali. Sesuai rencana harusnya bulan September aku sudah mulai jelajah. Ya, September, Oktober, dan November, satu bulan satu tujuan wisata. Jatah izin kerja juga sudah aku perhitungkan, namun karena pekerjaan sedang tidak bisa ditinggal, banyak deadline, akhirnya aku harus menghikhlaskan satu tiket pesawat yang sudah aku pesan. 🙁

Tiket pesawat yang sudah aku pesan yaitu tiket pesawat ke Bali untuk bulan September. Aku pesan dua tiket pesawat Garuda di tiket.com untuk aku dan Kecemut. Kebetulan saat itu sedang ada promo. Niatnya aku ingin mengajaknya jalan-jalan manjah sekaligus mengenalkan moda transportasi udara. Tapi  ternyata belum rezeki jalan-jalan sama dia. 😀

Terus, kenapa memilih Bali, sih? Sebenarnya ini pilhan bersama. Ya, pilihan bersama tidak hanya aku dan Kecemut, tapi bareng beberapa teman, gitu. Aku tergiur banget, dong. Pikiriku tuh mumpun ada kesempatan ke Bali barneg teman-teman dan pasti itu ramai. Apalagi sampai saat ini, Bali masih menjadi salah satu destinasi wisata paling digemari di Indonesia. Terlepas dari eksotisme pantai yang tersebar di pulau ini, Bali juga merupakan pulau yang masih kental adat istiadat dan juga ritual keagamaannya. Hal ini lah yang mendorong daya tarik wisatawan asing dan lokal, termasuk aku, untuk mengunjungi Pulau Dewata.

TEMPAT WISATA PURA BALI (1)

Kamu tim suka borong oleh-oleh, atau kagak?

Salah satu tempat wisata di Bali yang ingin aku kunjungi adalah Pura Lempuyang Bali yang terletak di Karangasem. Pura ini memberikan pemandangan alam yang indah dan spot foto menarik berlatar belakang Gunung Agung. Sebelum mengunjungi Pura Lempuyang Bali, aku sudah mencari tahu informasi-informasi menarik dan penting mengenai Pura Lempuyang ini. Diantaranya adalah:

Tempat Suci Bagi Umat Hindu di Bali

Objek wisata yang berlokasi di Kabupaten Karangasem ini menjadi tempat suci umat Hindu di Bali yang menyajikan keindahan panorama tiada duanya. Menjadi tempat suci, tentu ada serangkaian aturan yang patut di jalankan kalau ingin berkunjung ke tempat ini.

Memiliki trek yang menanjak, memang tidak mudah untuk mencapai Pura Lempuyang dan keindahan alam Gunung Agung nya. Perlu menaiki ribuan anak tangga untuk mencapai Pura utama. Tapi aku pingin banget ke sini meski aku bersama Kecemut. Terpenting mempersiapkan fisik dan juga hati yang tulus ikhlas, seperti yang diyakini umat Hindu di Bali selama perjalanan menuju puncak. Udah kebayang ngos-ngosannya, sih, tapi kalau sudah sampai pura utama, bahagia banget pastinya.

pura lempuyang bali

Menyajikan Banyak Spot Foto Menarik

Setelah melalui trekking yang tidak mudah dan tentunya membuat tenaga terkuras, pasti lelah akan terbayar begitu sampai di atas Pura Lempuyang ini. Ada banyak spot foto yang sangat fotogenik di tempat ini. Hal ini juga menjadi pemicu banyaknya wisatawan berdatangan ke Pura ini, termasuk akuuuu. Hahaha.

Kalau hobi fotografi atau hobi di foto, berfoto di tengah Pura yang berlatar belakang Gunung Agung tentunya akan membuat hasil foto lebih fotogenik. Apalagi langit biru dengan awan putih yang terlihat begitu menyatu dengan latar, bisa membuat terkagum seketika begitu melihat hasil foto meski harus menaiki sekitar 1.700 anak tangga. 😀 Tantangan banget! 😛

TEMPAT WISATA PURA BALI (2)

Tiba-tiba kangen main ke Pura ini. Di Bogor…

Pantangan yang Perlu di Perhatikan

Kentalnya adat istiadat dan kepercayaan yang masih diberlakukan di Bali tentu membuat para wisatawan harus mematuhi peraturan yang dibuat untuk mengargai dan menghormati kepercayaan penduduk setempat. Karena, terdapat beberapa larangan yang ditujukan untuk para wisatawan yang akan menuju tempat wisata fotogenik ini.

Larangan tersebut diantaranya adalah:

  • Pikiran, perbuatan, dan perkataan harus suci, tulus, dan ikhlas;
  • Pantang untuk melontarkan kata-kata kasar saat dalam perjalanan menuju Pura;
  • Larangan membawa atau menggunakan perhiasan emas. Karena kerap kali perhiasan emas pengunjung dapat hilang secara misterius. Katanyaaaaaa;
  • Ada beberapa orang yang dilarang masuk ke Pura ini; wanita haid, anak yang belum tanggal gigi susunya, dan orang yang kerabatnya baru meninggal;
  • Terakhir, dilarang untuk membawa dan memakan daging babi.

Menurut kepercayaan masyarakat Bali, apabila larangan tersebut dilanggar, maka akan berdampak buruk bagi diri kita sendiri. Ngga tahu kenapa, kalau ada niat menyambangi destinasi yang juga merupakan tempat ibadah tuh bawaannya pingin cari tahu hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di destinasi tersebut. Malah seperti keharusan, khawatirnya bikin makruh atau malah bikin malu diri sendiri karena ngga update informasi. 😀

Semoga ada rezeki lagi lagi tahun depan atau kapan untuk ke Bali. Semoga (lagi), keinginan untuk ke Pura Lempuyang Bali dapat terwujud. Syukur-syukur pas ada keinginan, pas sedang ada promo tiket pesawat ke Bali. Rezeki nomplok, dong. 😀