Semangatnya terus menggebu meski mereka hanya bergerak dengan beberapa orang. Ruang geraknya pun tak terbatas, mereka dapat berdiskusi, dan mengahasilkan suatu karya kapan pun, di mana pun. Karena masing-masing berangkat dari passion, mereka menjalaninya dengan bahagia, tanpa beban apalagi tekanan.Uniknya, dari passion yang mungkin terlihat sederhana, mereka dapat memanfaatkannya sebagai ladang penghasilan.
Mereka adalah anak muda yang punya segudang ide, dan kreativitas. Dan perlu kamu tahu, di Banjarnegara juga banyak anak muda kreatif. Sebagian besar dari mereka telah tergabung dalam sebuah komunitas. Setelah karya tercipta, mereka punya tekad untuk mengenalkan karyanya kepada masyarakat luas.
“Ini karya anak muda Banjarnegara”. Seperti itulah yang ada di benak mereka, mungkin. Karya yang telah menjadi sebuah produk atau potensi memang patut diekspose. Sebut saja Kopi Banjarnegara.
Di Banjarnegara ada lebih dari sepuluh kedai kopi. Dan kopi yang diunggulkan mereka adalah kopi lokal Banjarnegara yang mana salah satu produk kopi Banjarnegara pernah mendapat juara 1 dalam suatu ajang festival kopi se Nusantara. Keren, kan? Memang, aku belum begitu paham tentang seluk beluk kopi dan apa yang membuat kopi Banjarnegara bisa go nasional.
Next, Kuliner Banjarnegara!
Nah, yang aku pahami bahwa, menyeduh kopi itu ngga semudah menyeduh teh yang tinggal ditabur atau dicelupin. Ada beberapa teknik menyeduh kopi dan itu harus dipelajari, ngga semua orang bisa. Mereka harus tahu karakteristik kopi, jenis kopi, belajar menyeduh, atau bahkan belajar memodifikasinya supaya orang yang ngga begitu doyan kopi bisa turut menikmati kopi lokal.
Stand Kopi Banjarnegara…
Dan tiga hari yang lalu, dari tanggal 14-17 Februari, kreativitas para Barista dalam menyajikan kopi unjuk kebolehannya di event Wing Craft Expo. Ada lebih dari lima stand kopi di sana. Kopi Sabin,Warung Stasun, Bara Api, dll dll. Stand mereka ada di belakang panggung.
Unjuk kebolehan di panggung…
Wing Craft Expo diselenggarkan oleh Indagkop UKM Kabupaten Banjarnegara dan Banjarnegara Community University (BCU) sebagai wadah komunitas di Banjarnegara. Expo yang bertemoat di gedung kuliner banjarnegara digunakan sebagai ajang untuk mengenalkan dan juga memamerkan hasil kreativitas anak muda Banjarnegara.
Di gedung kuliner ini, model stand letter U dan dikelompokan sesuai dengan jenis kreativitasnya untuk memudahkan pengunjung dalam melihat karya atau hasil kreativitas anak muda.
Apakah di Expo hanya ada stand Kopi?
Ngga! Ada lebih dari 70 stand yang bakal bikin kamu bangga kepada anak muda Banjarnegara.
Running Text, berawal dari hobi..
Sebut saja stand Bentala Engineering. Si empunya Bentala ini memang hobi mempelajari mikro controler. Dalam aplikasinya, banyak karya yang sudah mereka hasilkan. Lighting electro dalam bentuk running text, misalnya. Hampir semua running text yang terpampang di lampu merah Banjarnegara dan beberapa dinas di Kabupaten Banjarnegara adalah hasil karya Bentala. Arvin Meiyono bersama tiga temannya terus melakukan inovasi untuk produk-produk yang berkaitan dengan Micro Controler. Kamu dapat melihat hasil produk mereka di www.bentalaengineering.co.id.
Detail banget…Tak kalah unik karyanya…
Ini baru dua kreativitas anak muda Banjarnegara, ya. Masih banyak bentuk kreativitas lainnya. Berangkat mulai dari hobi seperti lukisan kayu Siluet Art, Kuliner Bento, sampai dengan memanfaatkan hasil pertanian seperti Salak dan Ketela Rambat di mana saat ini harga jualnya di sini turun drastis. Dengan berbekal ilmu dan pengalaman, para pemuda Banjarnegara memanfaatkan hasil pertanian tersebut dalam bentk produk yang unik, menarik, dan tentunya berdaya jual lebih.
Memanfaatkan ketela…
Event Wing Craftt Expo dengan tema Banjarnegara Youth Creativity Center memiliki tujuan dan harapan yaitu segala macam bentuk kreativitas pemuda Banjarnegara nantinya dapat terakomodir dan juga difasilitasi oleh pemerintah daerah baik dari tempat, maupun alat.
Oiya, Kuliner Banjarnegara yang berlokasi di eks. Kantor Pertanian Banjarnegara atau sebelah barat pom bensin kota nantinya akan dijadikan pusat kuliner Banjarnegara. Tepatnya kapan, belum ada informasi yang pasti. Ditunggu saja, ya.
“Nak, ngga lama lagi kita akan main ke Pantai. Di sana ada banyak pasir, lho.” Puteri kecilku, Syaquita, lagi senang-senangnya mainan pasir di sebelah rumah kami. Bukan gundukan pasir utuh, sih. Hanya timbunan pasir dan tanah yang telah menyatu. Dia mengeruk pasir pelan-pelan dengan sendok, lalu dituang ke dalam gelas plastik berukuran kecil. Lalu setelah penuh, baru lah ditumpahkan di atas papan dan dibuat berjejer, gitu. Eeeh…ada yang masa kecilnya mainan suka mainan pasir seperti Syaquita? ๐
Mainan pasir nampaknya akan makin asyik jika dilakukan di tepi pantai. Bisa mengumpulkan, mencetak seberapapun karena memang ketersediaan pasir di sana, tuh, tak terbatas. Ngga seperti di samping rumah kami. Makanya saat punya rencana untuk menghadiri event ke Pantai Sodong, Cilacap, aku mencoba sounding kepada Si Kecil dengan memberi pandangan bahwa dia bisa mainan pasir degan leluasa di pantai. Sekali mendayung lah, ya.
Melihat ekspresi kebahagiaan dengan meloncat-loncat, lalu memeluk Ibunya. Ini sungguh mengejutkan. Uwwh…bikin terharu saja ini bocah. Betapa mudahnya membahagiakan anak kecil, ya. Baru dibisikin rencana saja langsung sumringah. Ditambah lagi saat packing, kami memasukan beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk mainan pasir. Dia tambah bahagia, dong. Mungkin dalam benaknya sudah ada semacam gambaran bermain pasir di pantai. Padahal, ya, dia belum pernah ke pantai. Hahaha.
Gagal ke Sodong Culture Festival…
Sayang banget, niat untuk ke Pantai Sodong bersama teman-teman GenPI Banyumasan gagal karena suatu musibah. Malam hari sebelum hari H, hujan deras mengguyur Pantai Sodong dan sekitarnya. Beberapa teman yang standby di sana mengabarkan bahwa, hujan sempat diikuti angin kencang. Hujan badai, gitu. Makanya kami gagal ke Cilacap karena segala sesuatu yang telah dipersiapkan mereka ternyata hancur, termasuk panggung yang akan digunakan untuk acara Jazz. Dengan berat hati, mereka membatalkan event bertajukSodong Culture Symphony (SCS). Pun denganku, dengan berat hati mencoba menyampaikan juga kepada Syaquita bahwa, kami gagal ke Pantai. Kali ini, dia ngga merespon apapun. Hanya menatapku dalam, lalu memegang kedua pipiku. Duuuh…jangan-jangan aku dikira PHP-in dia, nih. Eeeeh…anak kecil mana paham PHP. ๐
Ngga tahu kenapa, ada yang mengganjal dalam hati ketika aku menyampaikan kepada Syaquita kalau kami gagal ke pantai. Seperti ada rasa bersalah, gitu. Merasa tak ingin membuatnya sedih, Sabtu lalu aku mengajak dia jalan-jalan ke Purbasari Pancuran Mas bersama Tante dan Ella. Aku mengajak mereka karena pada hari itu mereka sudah terlanjur izin kerja. Ketimbang pada santai di rumah, mending jalan bareng Syaquita selagi belum pada punya gebetan. Hahaha.
Bersenang-senang di Kolam Renang Purbasari
Purbasari Pancuran Mas adalah obyek wisata buatan yang terkenal dengan Aquarium Ikan Raksasa Arapaima Gigas. Aku mengajak Syaquita ke sini bukan hanya untuk melihat koleksi ikan dan aneka satwa lainnya, tapi juga mengajaknya renang. Berbekal tiket masuk Rp 18.000 per orang, kami bisa jalan sampai gempor keliling Purbasari dan renang sampai kulit keriput.
Selain mainan pasir, Syaquita juga bahagia jika diajak renang. Pikirku, renang ini sebagai ganti mainan pasir. Sebenarnya ini nekat banget, sih, karena kondisiku saat itu sedang datang bulan hari kedua. Artinya, ngga mungkin aku ikut renang. Makanya sebelum berangkat, aku minta tolong ke Tante untuk membawa baju renang supaya Syaquita ada temannya. Aku juga sempat tanya-tanya toko yang jual baju renang anak di daerahnya,tapi nampaknya jarang.
Sesampainya di Purbasari, aku lihat Tante hanya membawa dompet saja. Ngga bawa perlengkapan renang. Yasudah, akhirnya aku putuskan untuk tetap mendampingi Syaquita renang meski hanya dipinggir. Pun dengan Tante, ikut turun ke dalam kolam renang, bergantian dengan aku. Sementara Ella, dia keprok-keprok hore aja di pinggir kolam. ๐
Uwwh…ketemu kolam renang saja bahagia banget…
Beruntung, kolam renang di Purbasari ngga mengharuskan para perenang untuk memakai baju renang. Soalnya, setelah aku buka ransel, ternyata baju renang Syaquita ngga aku bawa. Karena aku ngga melihat toko yang jual baju renang anakdi sana, terpaksa lah dia renang pakai kaus dalam dan celana pendek. Hihihi. Tapi tenang, untuk kaus dalam, pempers, perlengkapan mandi, dan baju ganti, available di ransel Ibuk. ๐
Sebelum melihat kalender tahun 2018 secara utuh, rasanya surpriseย saat melihat beberapa teman membagikan kalender dalam bentuk flyer lewat akun sosial media. Bisa dibilang, kalender tersebut adalah kalender traveling karena hanya menampilkan tanggal libur panjang atauย long weekend yang identik dengan piknik.
Bagi seorang pekerja yang doyan piknik sepertiku, selain mengandalkan jatah cuti,ย moment long weekend acap kali aku manfaatkan untuk traveling. Terlebih saat Mama Karla mengirim flyer kalender piknik lewat Whats App sambil menyentil dengan pertanyaan, “kamu akan mengajak aku kemana, nih?”. Uuwh…kami pun salinh menawarkan destinasi wisata yang memungkinkan untuk kami jangkau secara finansial. Hahaha.
“Gimana kalau ke Jawa Barat? Di sana kita cari destinasi yang ramah anak juga.” Aku menawarkan Jawa Barat kepadanya dengan dilanjut destinasi-destinasi di Kota Cirebon. Tapi ternyata dia sudah pernah dan nampaknya kurang menarik. Apa iya, Bandung lagii…Bandung lagiii. ๐ ๐
Sebelum merambah ke destinasi lain, dia menyampaikan bahwa, ada keinginan untuk traveling ke Dieng, Jawa Tengah. Dududu…ini mah ayo banget. Dieng tuh hanya selemparan sapu tangan dari tempat tinggalku. ๐ Namun percakapan ini berakhir tanpa keputusan. ๐
Nunggu jatah libur, sabar… ๐
Semenjak ngobrol tentang liburan dengan Mama Karla, rasa-rasanya virus traveling dalam diri ini kembali datang. Jujur, setelah punya Syaquita, aku hanya berani traveling tipis-tipis. Apalagi suami ngga punya banyak jatah libur. Mentoknya mengandalkan akhir pekan, itupun jatah liburnya hanya dua hari. Niqmat betul, ya. ๐
Bulan ini, usia Syaquita genap dua tahun. Di usia, dia sudah bisa merasakan bahagia atau sebaliknya saat diajak traveling. Ini sudah aku evaluasi dan aku coba beberapa kali. Artinya, meski jatah libur suami masih tetap, setidaknya aku bisa traveling bareng Si Kecil. Berdua, kami mampu. ๐ Duuuh maaf banget ya, Pak. Kami jalan berdua dulu, ya. ๐
Omong-omong, aku ada rencana mengajak Syaquita merasakan udara pantai sambil bermain pasir di tepi pantai. Aku rasa sudah cukup aman dan dia juga nampaknya bisa turutย have fun. Dan tau ngga, perasaan makin ngga karuan ketika foto-foto Mama Minta Piknik liburan ke Lombok beredar di blognya. Tahu sendiri lah, pantai-pantai di Lombok kan cakepnya keterlaluan. Apalagi setelah tahu bahwa, untuk ke Lombok ternyata ngga harus mengeluarkan banyak uang. Budget buat dua orang hanya Rp 1.5 juta. Low budget, kan?ย Dududuuh…makin semangat mengajak Syaquita ke Pantai. ๐
Kece banget Bukit Malimbu, ya….
Eeeh…tadi ada Mama Karla, dan sekarang Mama Minta Minta Piknik. Dua Mama ini memang kerap menebar virus traveling. Apalagi gaya traveling mereka tipe yang ngga terlalu mewah tapi tetap mementingkan kenyamanan. Kan patut banget ditiru. Dan yang membuat makin greget pingin ke Lombok, tuh, saat menjelang akhir tahun lalu ada seorang teman, sebut saja Ibra, yang minta tolong ke aku untuk memesan tiket penerbangan ke Lombok dan sekalian minta rekomendasi destinasi wisata di sana.
Baginya, ini adalah kali pertama dia solo Traveling. ย Sebelumnya, dia terbiasa ikutย open tripย atau trip gabungan bareng teman-temannya. Ngga terbiasa ribet seperti menyusunย intinerary,ย memesanย transportasiย dan juga akomodasi karena tahunya tinggal berangkat. Ngga tau saking malasnya atau apa, tiba-tiba dia minta tolong ke aku untuk memesankan tiket pesawat beserta penginapannya.
Hish…padahal zaman now ini kan bookingย tiket dan akomodasi bisa lewat online, ya. Tinggal install aplikasi OTA (Online Travel Agent), pengguna bisa dengan mudah memesan keperluan traveling sesuai kebutuhan.ย Untuk masalah kebutuhanย traveling seperti pemesanan tiket pesawat, aku selalu mengandalkan Traveloka. Makanya, saat ada teman minta tolong, aku pun langsung membuka aplikasi Traveloka.
Pesan tiket pesawat tinggal klik, isi data, bayar! ๐
Penggunaan aplikasi pun sangat mudah. Cukup memilihย menu Tiket Pesawat atau Ikon Pesawat Terbangย ย yang ditampilkan di halaman muka, selanjutnya tinggal isi data sesuai kebutuhan seperti; tanggal berangkat, tanggal pulang, data pribadi, dan cara pembayaran. Satu hal yang perlu diperhatikan yaitu ketika kamu memesan tiket pergi-pulang. Artinya, kamu harus benar-benar yakin bahwa jam pulang akan sesuai dengan yang sudah dipesan.
Nah, karena Ibra travelingnya belum jelas sampai kapan, aku pun menyarankan untuk membeli tiket satu kali penerbangan saja. Ya…meski ada layanan reschedule, sih.
Alasan lain, kenapa harus menggunakan Traveloka, sih?
Alasan yang paling bikin gemes yaitu karena aku terlanjur nyaman dengan pelayanannya Traveloka. Apa lagi yang dicari kalau kenyamanaan sudah dalam genggaman, coba? Belum lagi, aku bisa membandingkan harga antar maskapai hanya dengan satu aplikasi. Penawaran promo pun kadang cukup membuatku gila karena betul-betul bisa jadi murah banget.
Satu hal yang menjadikan aku makin nyaman memesan tiket pesawat di Traveloka yaitu karena aku bisa melakukanย reschedule. Seperti yang aku singgung di atas. Bagiku, ini seperti asuransi. Apalagi aku kerap dimintai tolong teman dan saudara untuk memesan tiket pesawat. Rasanya ada ketenangan tersendiri dengan adanya layanan reschedule.
Kuta Mandalika, Lombok. Ini cocok buat bermain sama si kecil…
Bisa dibilang, Ibra memang suka malas kalau harus mengurus pemesanan tiket dan akomodasi untuk kebutuhan travelingnya. Tapi kalau diminta menyebar virus traveling, dia jago banget! Sama halnya dengan mama Karla dan Mama Minta Piknik.
Dan pada akhirnya…
“Dengan siapa kamu bergaul, paling ngga kamu akan mendapat pesonanya. Meski dapatnya hanya tipis-tipis.” Ini bukanย quotes,ย apalagi kata mutiara. Aku cuma lagi merasa kena sedikit pesonanya Ibra, dan Duo Mama yang pada suka traveling denganย budget tipis-tipis.
Ps: Foto-foto destinasi Pantai di Lombok aku dapat dari Mama Minta Piknik. ๐
Apa jadinya Traveling tanpa membawa camilan? Bagi kami, hambar rasanya. Apalagi kami tipe keluarga yang suka ngemil. Ngga harus menunggu dapat tempat istirahat yang mewah untuk sekadar ngemil. Terpenting kami bisa duduk dengan nyaman.
Urusan camilan bukan perkara tentang mengganjal perut saja. Saat di tengah perjalanan merasa lelah, camilan bisa menjadi pelampiasan. Eeeeh…ini gimana caranya melampiaskan rasa lelah pada camilan, ya? Hahaha. Duduklah barang lima menit, keluarkan camilan dari kantong doraemon dalam tas, lalu nikmati bersama. Tenaga pun pelan-pelan akan kembali fit. Seperti akhir pekan lalu saat piknik ke Curug Pitu, tenaga kami kayak tinggal seperempat dari tenaga baja. ๐
Yuuk ikut bayangin, ya. Bahwa Curug Pitu ini tipenya berundak di mana urutannya yaitu dari bawah yaitu Curug Pitu sampai puncaknya yaitu Curug Satu. Curug dengan debit air paling deras adalah Curug Pitu. Sebenarnya kami ngga perlu naik lagi untuk menikmati Curug dengan debit air tertinggi karena ada di paling dasar. Tapi karena Suamik meyakinkan aku bahwa, view curug-curug di atasnya ngga kalah eksotis, aku pun mengekornya.
Uluwwluuw…ternyata untuk sampai sumber air atau curug satu, kami harus melewati jalan setapak, terus menanjak dan itu jalan masih alami alias jalan dari tanah, gitu. Pokoknya mirip ular tangga. Ngga terus menanjak dan ngga ada habisnya. Lempohto de max! Asli. Beruntungnya, kami membawa camilan favorit. Tiap napas mulai ngos-ngosan, ini lah alarmย bagi kami untuk menggelar tikar dan menikmati camilan. ๐
Basah-basahan di Curug Pitu…
Mungkin dari kalian ada yang nyeletuk, kalau sudah seperti ini, masuk mini market bakal beli banyak jajan, dong? Jawabannya adalah ngga mesti. Karena camilan yang kerap kami makan termasuk jenis camilan yang tahan lama. Tapi bukan tahan lama dalam jangka satu tahun, lho.
Nah, berikut 3 camilan favorit yang sering kami bawa saat traveling.
1. Buah
Apel dan Pisang. Dua buah ini andalan banget. Ngga peduli di kulkas tinggal satu, pasti aku bawa. Gimana kalau stok pas habis? Beli, dong. Tapi biasanya cuma beli tiga biji Aple dan lima biji Pisang. Entah lah, ini namanya ngirit atau apa. Terpenting kami bahagia. ๐
Kenapa milih Apel dan Pisang? Kan masih banyak jenis buah?
Emm…maksudnya Anggur, Melon, Semangka, Pepaya, atau Pir, gitu? Kebetulan yang semua doyan adalah Apel dan Pisang. Lainnya, hanya aku yang doyan. Anggur, Kecemut belum doyan. Pir, aku dowang yang doyan. Jadi yaudah, pilih yang pasti-pasti aja deh, biar cepat dikawinin. ๐ Pertimbangan lain, dua buah ini paling aman ditaroh di dalam tas. Ringan pula.
2. Keripik
Iniย seperti wajib. Keripik pisang adalah favorit kami. Camilan yang paling banyak dibawa pun keripik. Kalau kira-kira bakal lama di lokasi, atau jarak tempuhnya cukup jauh, aku biasanya bawa dua toples. Hahaha. Ya gimana lagi, keripik pisang ini ampuh banget mengalihkan rasa pegal-pegal pada kaki atau napas ngos-ngosan kek dikejar pacar selingkuhan. ๐
Nglemporok buat ngemil duluu…
3. Roti
Udah bawa pisang, masih bawa roti? Oooo…jelas! Ini juga ngga kalah penting, Sist. Sebenarnya camilan ini khusus buat Kecemut, tapi karena roti yang aku bawa tuh roti kekinian, orang tuanya pun kadang ikut nyempil.
Lalu, roti apa yang dibawa?
Andalan kami yaitu Selai Olay danย Kue Nastar. Tapi jangan dikira kami bawanya pakai toples kayak bawa keripik, ya. Kami selalu bawa yang kemasan. Ringan, bukan? Apalagi yang kemasan isi paling tiga biji. Ngga bikin berat gendongan. ๐
Traveling dengan membawa camilan dari rumah sama sekali ngga membuat kami kerepotan. Apalagi itu camilan serba beli. Kalau lagi mood, kadang aku menambahi dengan camilan home made seperti Puding, Pisang Goreng, dan Mendoan.
Karena makanan termasuk kebutuhan Traveling, maka aku harus menyiapkannya meski di sekitar obyek wisata kadang ada warung yang menyediakan jajanan. Setidaknya buat jaga-jaga dikala lelah menyapa. ๐
“Waaaah…Telaga Merdada cantik banget! Tapi, kok, seperti ngga ada aktivitas di sekitar Telaga, ya?” Batinku kala itu saat berada di kompleksย Candi Wisanggeni, Candi mungil yang ada diย Bukit Pangonan. Dan ketika aku tanyakan kepada tukang parkir dekat Museum Kailasa, memang jarang ada aktivitas di sana. Paling hanya para Petani yang menggarap ladang, dan segelintir Pemancing di tepi telaga. Itu pun ngga tiap waktu. Tapi itu dulu, dua tahun silam.
Bertepatan dengan event Merdada Back to Nature, yaitu pada akhir bulan Oktober 2017, Telaga Merdada resmi menjadi destinasi wisata baru di dataran tinggi Dieng. Karena mengusung temaย back to nature, obyek wisata ini betul-betul alami. Ya, selain digunakan untuk pengairan ladang para petani setempat, telaga terluas di Dieng dimanfaatkan untuk wisata. Dalam hal ini, Pokdarwis Desa Karangtengah membuat aktivitas di Telaga dan sekitarnya. Salah satunya yaitu Kayak atau Kano.
Kayakย adalah sebuah perahu kecil bertenaga manusia. Biasanya dengan bagian depan dan belakang tertutup, sehingga hanya menyisakan lubang seukuran awak dilengkapi dengan dayung dan berkepala tunggal atau ganda. Pun di Telaga Merdada yang berlokasi di Desa Karang Tengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Kayaknya sudah modern, ngga lagi menggunakan kayu, melainkan bahan dari material lain yang entah itu dari plastik atau apalah aku ngga paham. Hahaha.
Menuju tengah telaga…
Pengalaman Pertama Kali Kayak.
Aku hampir merasakan Kayak di Situ Patenggang, Bandung. Hanya saja, kala itu di sana masih menggunakan kayu. Tapi sayang banget, keluar dari Kawah Putih hari sudah petang. Aku pun gagal ketemu mas-mas ganteng yang katanya mirip Nicholas Saputra versi instruktur Kayak. ๐ Makanya, ketika ada kesempatan untuk nyobain Kayak, aku langsung nyari teman buat duet! Hahaha.
Akhirnya…bersama teman-teman Blogger dalam acara Famtrip Banjarnegara yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, aku berhasil menikmati Kayak sampai tengah telaga dengan luas mencapai 18 hektar. Ya…meski saat itu kabut sedang tebal-tebalnya, bagiku ngga masalah. Karena pengalaman baru itu lebih penting! Uuwh…keprokin, dong. ๐
Dayung-dayung pose falsu… ๐
Dududuh…kenapa jadi sombong, ya. Padahal waktu itu aku main Kayak bareng Mas Topan. Ya, aku memilih Kayak berkepala ganda karena memang ngga punya keahlian mendayung. Mendayung di air yang tenang, tuh, ngga semudah mendayung saat di Sungai Serayu. ๐ Kataku, Kayak membutuhkan tenaga yang cukup ekstra karena hanya mengandalkan dua atau satu peserta saja. Padahal sebenarnya mendayung dengan santai pun bisa. Malah katanya lebih tenang dan bisa bermain-main sesuka hati. Tapi dasarnya emang penakut, melihat dayung tertidur di atas Kayak saja keringat sudah bercucuran. ๐
Aku merasa beruntung karena dapat partner Mas Topan yang jago main Kayak. Di atas Kayak, aku cuma sok pura-pura mendayung. Padahal, jelas-jelas kekuatan dayung ada di Mas Top. Aku hanya sesekali saja mengikuti perintah Mas Top untuk dayung samping untuk memutar balik Kayak. ๐ Sebenarnya dia pingin naik Kayak sendiri, lho. Tapi karena aku pingin ngerasain Kayak juga, terpaksa dia mau jadi partnerku. Kasihan sama Ibu satu anak ini. ๐
Single kalau udah canggih mah ngga bikin baper… ๐
Di sini juga tersedia Kayak single, lho. Jafi kamu yang masih single ngga usah beesedih, ya. Masih banyak temannya. ๐ Buat kamu yang udah lihai mendayung atau hendak mencari ketenangan, coba saja Kayak dengan kepala tunggal. Aku melihat Mas Pras dan Mas Ojo mendayung sendirian, tuh, kelihatan asyik banget. Nyamperin para Petani yang sedang istirahat di ladang, dan para pemancing yang dengan sabar menunggu umpan. Betul-betul sampai tepi banget. Asyik, bukan?
Mungkin Ini Ketakutan yang Muncul Saat Akan Kayak.
“Kayak aman ngga? Gimana kalau air pada masuk? Kira-kira tenggelam ngga?” Kayak aman, asal terus didayung. Soalnya kalau ngga didayung, kamu ngga akan merasakan asyiknya kayak. Iya, masak sudah di atas Kayak, bawa dayung, tapi cuma diam saja di tengah telaga, kan cubangets. Apalagi kalau sendirian. ๐ Terus nih, memang ada kemungkinan air masuk ke dalam Kayak. Tapi tenang karena yang masuk itu ngga berlebih. Ngga sampai menimbulkan tenggelam. ๐
“Gimana kalau nanti Kayaknya terbalik karena kesalahan sendiri?” Ini pikiran jelek yang muncul di awal-awal saat melihat luasnya Telaga. Buat kamu yang punya pikiran sama dengan aku, bisa banget minta tolong sama tim yang ada di situ untuk menjadi sopir Kayak. Seperti aku yang saat itu ngikut Mas Topan. Posisi aku di depan, tapi jarang mendayung. Dan itu ngga masalah, asal salah satu ada yang bisa mendayung. ๐
Nyelfiee… ๐
“Lalu, gimana kalau tiba-tiba di depan ketemu ular atau buaya? Kan ngeriii.” Nah ini, kamu harus tenang kalau punya pikiran semacam ini. Lagi-lagi aku menyarankan untuk mengjak tim atau teman-teman Pokdarwis Desa Karangtengah yang standby di tempat untuk menemani kamu keliling Telaga Merdada yang memesona.
FYI, di telaga ini banyak terdapat berbagai macam fauna seperti Burung Belibis dan Jalak Sungu. Di sekitar telaga juga terdapat agro Kentang, Carica dan berbagai macam sayuran. Sesuai slogannya, kan, back to nature!
“Aku ngga bisa mendayung. Ngga punya tenaga karena keburu habis buat mikirin mantan pacal yang bentar lagi nikahan.” Mungkin ini ketakutan terakhir. Tenaaaang tenaaang, ini ngga masalah karena dengan membayar Rp 50 ribu, sudah termasuk pendampingan instruktur. Pilih Kayak yang isi duaaaaaa, yaaaa. ๐
Ini Alasan Kenapa Kalian Musti Nyobain Kayak di Telaga Merdada.
Selain suguhan alam sekitar telaga yang memikat, mungkin empat alasan ini cukup menguatkan kenapa kamu harus mencoba Kayak di Telaga Merdada.
Akses Mudah. Lokasi telaga cukup dekat dengan Kompleks Candi Arjuna, yaitu kira-kira 3 km, artinya Telaga Merdada mudah dijangkau. Iya, secara wisatawan kalau Dieng sebagian besar singgah di kompleks Candi Dieng. Makanya, lokasi ini mudah ditemukan. Aksesnya pun cukup mudah, termasuk jalan menuju telaga.
Biaya Murah. Satu Kayak dibanderol Rp 50.000. Eeeh, ini bukan jualan. Maksudku, kalian cuma bayar Rp 50.000 per Kayak. Kalau lagi pingin ngirit, kalian bisa nyobain Kayak yang dua kepala, lho. Kan bayarnya jadi dibagi dua. Hahaha. Dan Rp 50 ribu ini sudah termasuk tiket masuk senilai Rp 5 ribu dan kuliner yang bakal bikin kangen.
Kulinernya bikin kangen! Jadi, dengan bayar Rp 50 ribu, tuh, udah termasuk makan. Dan paket makannya adalah Nasi Jagung, Ikan Asin, Tempe Kemul dan Urab. Uuuhw…niqmad banged, kan? Sayangnya, package nasi jagungnya dimasukin plastik. Coba kalau dibuntelย menggunakan daun pisang, ya. Sepertinya tambah enak! Dan daun pisang ini bisa sekalian buat alas makan. Ennnaaaaq enaaaq terus pokoknya!
Jaminan Bisa Ngga Basah! Yes, jaminan banget, apalagi bagi kalian yang ngga bawa atau minim baju ganti. Kayak itu ngga harus basah, kok. Ngga seperti arung jeram. Sebelum naik Kayak, air yang masuk atau membasahi tepat duduk bisa dibersihkan terlebih dahulu dengan dilap menggunakan kanebo. Aku sama Mas Topan aman, lho. Celana dan baju ngga basah sama sekali karena memang berusaha untuk ngga basah. Main dayungnya pun pelan-pelan. ๐
Omong-omong, fasilitas pendukung seperti tempat makan warung kopi, di sini belum tersedia. Kamu bisa beli jajan dulu di mini market kalau perlu, ya. Halaman parkir persis di depan Telaga pun belum begitu luas, tapi sih bisa buat parkir mobil, mini bus, dan sepeda motor. Dan kalau pingin buang hajat, kamu musti jalan kurang lebih 300 meter karena letak Toilet ada di sebelah kanan telaga.
Oiya, di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, sudah terbentuk Desa Wisata dan mempunyai cukup bayak potensi wisata. Kalau kalian ke Dieng, coba mampir ke Desa Wisata Karangtengah, ya. Selain Kayak, kalian bisa nyobain Trekking keliling Telaga Merdada, Camping di Bukit Pangonan, Camping di Sekitar Telaga, Memancing, Wisata Agro, atau Melihat Batuan Andesit. Sementara untuk potensi lain, aku belum mencari tahu. Mungkinย next time. ๐
Sudahkah kalian siap nyobain Kayak di Dataran Tinggi Dieng? ๐
“Tahun ini, aku betul-betul ingin kembali aktifย ngeblogย di blog ini, khususnya. Niatnya, sih,ย updateย seminggu dua kali. Hari lain, aku gunakan untukย updateย blog Kecemut dan Curhatan Kerja. Blog CERIS Wisata dan CERIS Tekno, karena sudah dibantuย update sama Om Arman dan Tante,ย sedikit woles lah, ya. Hahaha. Doakan bisa kembali rutinย ngeblogย danย blogwalkingย ya, Temans!”
Tahun ini, 2016. Ya, petikan paragraf di atas aku ambil dari resolusi aku di tahun 2016. Sebuah keinginan atau bisa dibilang resolusi telah tertulis kala itu. Awalnya sudah kayak pejabat yang tiap harinya punya agenda kerja padat. Dari tanggal muda sampai tua, sudah tertulis jadwal buat ini itu. Dan lagi-lagi, implementasinya jauh dari apa yang sudah aku tulis. Meski tiap bulan sudah membuat jadwal untuk update blog, sampai pada waktunya eksekusi, ada saja kendala. Malas, misalnya. Atau alasan klise seperti ngga punya ide, mau nulis apa, dan capek. ๐ ๐
Dan aku setuju banget dengan Mak Summayah bahwa, baiknya melakukanย refleksi dulu sebelum resolusi. Ini yang menjadi tema #KEBloggingCollabkelompok Najwa Shihab.
Iya, rasa-rasanya kurang adil kalau harus terus-terusan menuliskan resolusi tiap tahun tanpa diimbangi dengan refleksi. Entah itu resolusi baru, atau resousi lanjutan dari tahun kemarin. Evaluasi, tuh, penting banget. Ya ngapain bikin resolusi muluk-muluk untuk rajin update blog atau Blogwalking, kalau pada kenyataannya masih nyaman scroll feed Instagram atau chit chat. Parahnya, aku masuk zona tersebut. Zona aman mentelengin Instagram dan terlalu asyik ngobrol sama teman lewat chat. ๐ Setelah kembali evaluasi, sebenarnya alasan punya bocah kecil, tuh, ngga begitu berpengaruh. Tapi tahun kemarin, itu aku jadikan alibi. Maafkan Ibu ya, Nak. ๐
Si Kecil asyik dengan dunianya… ๐
Alibi ngga hanya sampai pada si kecil, pekerjaan yang semakin menumpuk pun aku jadikan kambing hitam kala itu. Padahal kalau mau tahu, dalam kurun waktu satu tahun, satu pekerjaan yang aku tarjetkan bakal selesai, sama sekali ngga ada perkembangan. Aku selalu menunda-nunda untuk menyelesaikannya. Dudududuh…kalau sampai atasan tahu, aku bakal dikasih duit dua milyar. Dezeeg!
Etapi di tahun 2017, aku ngga ngenes-ngenes amat, kok. Masih rutin update blog Kecemut. Sesekali update CERIS Tekno meski seringย menelantarkan blog CERIS Wisata yang sekarang berganti domain menjadi Minggatan. Selain itu, meski tarjet pekerjaan kantorku ada yang gagal, atasan tetap menambah pekerjaan untukku. Satu aplikasi dowang, sih. Tapi agaknya serius dan mungkin akan menambah jam terbang. ๐ ๐ ๐ #somboong
Masih di tahun 2017, ini hampir di penghujung tahun, aku kembali bisa meyakinkan Dinpar Kabupaten Banjarnegara untuk mengadakan famtrip dengan jumlah peserta dua kali lipat dari tahun lalu. Bahagia banget, kan. Apalagi dapat bonus space untuk pengukuhan GenPI Banyumasan. Kan rasanya tambah bahagiaaaaa tauuuuuk. ๐
Pengukuhan GenPI Banyumasan, sebelum Famtrip….
Sssst…btw,ย ada yang paling membuatku bahagia di tahun 2017. Yaitu tentang pertemanan. Iya, dari ikut acara tentang Pengembangan Pariwisata yang diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Pariwisata dan Kabupaten Banjarnegara, aku dapat banyak teman baru. Dari sini lah sekarang tiap akhir pekan, aku melakukanย semacamย pemetaan wisata Kabupaten Banjarnegara bersama beberapa kawan. Ada lagi yang bikin aku semangat untuk turut memajukan pariwisata Banjarnegara, yaitu tentang GenPI Banjarnegara. Ya, setelah dikukuhkan tanggal 10 Nopember lalu, sekarang sudah mulai gerak, gitu. Kan tambah semangat kalau bertemu banyak teman satuย passion. ๐
Lalu, apa kabar keluargaku? Ada Bojo, Kecemut dan Orang tua! Alhamdulillaah mereka mengerti. Asal ngga Sabtu-Minggu atau hari libur kerja kepakai buat pemetaan semua, ya. Aku tetap harus menyisakan waktu untuk keluarga, khususnya untuk Yasmin. Memang, semenjak bulan Juli, aku putuskan untuk hidup dengan ART. Tapi bukan berarti aku bisa terbang bebas karena keluarga udah ada yang ngurus. Kapasitas ART, kan, membantu, ya. Jadi ngga sepenuhnya pekerjaan ditangani olehnya. Tetap gotong royong lah.
Akrab banget, ya…
Eh iya, tahun ini aku resolusiku ngga semuluk-muluk tahun lalu. Dari awal niat banget konsisten, tapi pada akhirnya ngga greget. Hahaha.
๐ Quality timedengan keluargaย adalah saat sedang di rumah. Mendampingi Syaquita Yasmin tanpa pengang gadget. Menemainya bermain atau bercerita sebelum dia ke alam mimpi. Suamik? Aaaah…dia, mah, supportable apa yang aku kerjakan. Terpenting adalah kebersamaan. Berapa pun sisa waktu dalam sehari, kami berusaha untuk pacalan. #euuh #celup
๐ Update blog terus berjalan semampu aku. Apalagi sekarang Om Arman, yang ikut ngadmin CERIS Tekno, sudah kerja di sebuah Rumah Sakit Swasta. Ngga jamin bakal bisa bantu update blog secara rutin. Pun dengan Tante. Sekarang makin sibuk dengan kegiatan di Sekolah, makin banyak yang dipikiran juga. Maklum, usia terus bertambah. Hahaha. #apahubungane. Eeits, mari ngumpulin tenaga buat blogwalking lagiiiiiii! #ikatperutsekencangmungkin
๐ Pekerjaan yang sempat tertunda tahun lalu, akan segera aku eksekusi. Berhubungan lebih baik dengan atasan, atasannya lagi, atasan atasannya lagi, dan seterusnya supaya data-data yang akan aku eksekusi cepat turun! #syemangat #pantangmenyerah
๐ Mapping wisata Banjarnegara juga tetap berjalan, lho. Dan tentunya, ber-iring-an dengan kegiatan-kegiatan GenPI Banjarnegara yang insya allah juga turut mempromosikan pariwisata Banjarnegara. #gasssss
Hasil berburu…
Yasudah lah, rasanya sudah sangat lengkap harapan yang bakal aku wujudkan di tahun 2018 ini. Kalau misal masih terlihat ada yang kurang, paling kurang piknik. Belum ada rencana untuk ini, ngalir saja mau kemana. ๐ ๐ย Selamat tahun baru 2018 di tanggal 3 Januari, Temans! Semoga makin semangat untuk berkarya dan juga berbagi, ya. ๐ ๐ Baca jugaRekam Jejak 2016. ๐
Ps. Nulis ini hasil begadang sampai jam 01.00 WIB. Asli, aku kangen begadang untuk update blog. Uuwwwh…biasanya jam 21.00 WIB udah tefaaaaar. ๐
Desclaimer: ini bukan review, hanya pemanasan saja karena aku ke sana cuma jalan-jalan dan duduk-duduk manis. ๐ ๐
Ketika di kota lain memilih puncak atau dataran tinggi untuk lokasi sebuah Villa, lain halnya dengan Banjarnegara. Pemilihan lokasi yang tak jauh dari tengah kota memang anti mainstream. Hanya 1 km dari alun-alun Banjarnegara. Bisa dibilang, Villa ini sebagai pilihan alternatif penginapan yang ada di Surya Yudha Park Hotel Banjarnegara karena memang satu lokasi dengan hotel tersebut.
Villa Warna dan Villa Pelangi, namanya. Bertempat di lantai tiga, tepatnya di belakang kompleks Surya Yudha Hotel, kini telah dibangun dua Villa dengan konsep kekinian. Kalau ngomongin tentang kekinian, pasti kalian paham lah, ya. Sebuah konsep yang ngga bikin bosan, dan ramah buat foto-foto. Eeeeh…ini mau nginep atau mau narsis, sih? ๐
Pertama kali aku melihat Villa ini di akun Instagram Mbak Nining. Aku kira, dia lagi di Kampung Pelangi, Semarang. Sebuah kampung yang belakangan ini ngehits banget karena tiap ruas jalan dan rumah dicat dengan warna-warna cerah. Sama halnya dengan Villa ini yang mengusung tema warna-warni. Mumpung saat itu lagi duduk bareng Mbak Nining di Historia Cafe, aku bersama teman-teman GenPI Banjarnegara diajak jalan-jalan keliling Villa.
Villa Pelangi…
Dari Historia Cafe, kami jalan kaki kurang lebih tiga menit dan lanjut naik lift sampai lantai tiga. Sesampainya di lantai tiga Surya Yudha Hotel, kami melewati lorong untuk menuju Villa. Beeeuh…baru sampai pintu masuk saja, tembok warna-warni samping Villa sudah minta dilendotin. Aku bersama Ella, Mbak Atut dan Mbak Nining langsung pasrah berpose di depan dinding warna-warni. Padahal Mas Imam dan Rois belum niat memotret, mereka langsung menuju depan Villa, gitu. Dududuuh…cewek-cewek cantik sempat dianggurin sejenak.
Selain dinding warna-warni yang bikin naluri narsisnya keluar, tiap sudut Villa pun tak kalah fotogenic. Ada beberapa properti yang menggoda banget. Seperti kursi yang ada di pelataran villa di atas, bentuknya macam telur pecah, gitu. Lucuk, ya. Hihihi. Sekarang, aku kasih lihat kamar-kamarnya, ya.
Ada Pohon Salak juga, lho. . .
Pertama, kami masuk Villa Warna. Di sini terdapat empat kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam. Dapur yang ngga begitu besar, ruang tengah, dan teras yang cukup asyik buat ngobrol. Aku lihat, kamarnya luas. Pun dengan bednya, tipe large, gitu. Satu kamar bisa buat bobok ber tiga. Asli.
Dengan harga Rp 2 juta per malam, Villa ini cocok buat nginep bareng keluarga atau sahabat. Buat yang mau ngirit juga bisa, lho. Ngga harus menyewa satu Villa, kok. Satu kamar pun boleh disewa dengan tarif Rp 500 ribu per malam.
Bobok sendiri-sendiri bisa. . .Kruntelan di sini bareng keluarga kan asyique…
Kedua, yaitu Villa Pelangi. Villa ini dibagun setelah beberapa bulan Villa Warna selesai dibangun. Bedanya dengan Villa Warna, Teras Villa ini lebih luas dan dapurnya ada di samping Villa, bukan di dalam. Selain itu, di Villa Pelangi hanya menyediakan tiga kamar.
Untuk dapat menempati Villa ini, kalian cukup membayar Rp 1.500.000,- per malam. Fasilitas penunjang, sama halnya dengan Villa Warna. Televisi tiap kamar, lemari es, ruang santai, dll. Untuk fasilitas makan dll, aku belum tanya detail karena kemarin hanya jalan-jalan santai dowang. Next time, pingin nginep di sini bareng teman-teman. Merasakan atmosfer malam Villa Pelangi.
Dududuuh…ini kenapa jadi ngebayangin asyiknya menginap di Villa ini, ya. Ngadain acara buat teman-teman GenPI sambil staycation, sepertinya asyik. Ya, kaaaan? ๐
Rupa-rupa Pesta Budaya Kalilunjar – Sebuah foto yang di dalamnya melintang banner betuliskan “Gebyar Dolanan Bocah” cukup menyita perhatianku. Foto tersebut dibagikan oleh Mas Jojo, Ketua Pokdarwis Desa Kalilunjar, lewat twitter. Di dalam foto terlihat konsep dan tatanan tepat acara cukup sederhana namun ada kesan istimewa. Aku bilang istimewa karena anak zaman now yang lebih sering nongkrong di Mal, kemudian disuguhi pemandangan rumah yang terbuat dari jerami dan di depannya terdapat lesung yang makin dijumpai. Ada rasa penasaran dan ingin segera mendatangi acara tersebut.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Melalui direct message, Mas Jojo mengundang aku untuk turut menikmati atmosfer Kalilunjar saat hari jadi desa Kilunjar berlangsung. Ya, gebyar dolanan bocah merupakan salah satu acara Pesta Budaya Kalilunjar yang berlangsung pada tanggal 26-29ย Agustus tiap tahunnya. Percakapan terus berlanjut samai akhirnya Mas Jojo berkeninginan untuk menghadirkan teman-teman Blogger dari kota sebelah. Ya sudah, aku colek teman-teman Mbakyu Blogger Wonosobo dan BloggerBanyumas.
Ajakan aku kali ini memang terkesan mendadak dan sedikit memaksa teman-teman. Dengan beribu minta tolong, mereka pun akhirnya bisa hadir ke Kalilunjar. ๐ Dengan segala drama sejak kedatangan kami jam 14.00 WIB, akhirnya kami bisa berdamai dengan diri ketika melihat kekompakan masyarakat Desa Kalilunjar malam itu. Inilah rupa-rupa pesta budaya Kalilunjar. ๐
Obor Ambal Warsa.
Lampu warna-warni yang berada di area BAS (Bukit Asmara Situk) dan sepanjang perjalanan menuju Pendopo Purwosari mulai dinyalakan pada sore hari. Lampu buatan remaja desa hanya digebyarkan saat hari jadi Desa Kalilunjar. Hari biasa, lampu secakep ini ngga bakal ada di pelataran BAS, apalagi di pinggir jalan raya.
BAS (Bukit Asmara Situk), wisata alam di Kalilunjar
Suasana malam makin meriah ketika seluruh masyarakat berkumpul di Pendopo untuk menyaksikan acara Obor Ambal Warsa. Acara yang djadwalkan pukul 19.00 WIB, sempat molor karena menunggu persiapan dari masyarakat.
Aku kira acara ini seperti pawai obor pada umumnya. Dan ternyata, ada beberapa hal yang harus ditaati oleh masyarakat yang akan mengikutinya.ย Salah satu ketaatan itu adalah pemakaian baju adat. Ya, selain membawa obor yang terbuat dari bambu serta oyod genggong, seluruh masyarakat yang bertugas harus mengenakan pakaian adat setempat. Baju adat motif lurik dengan bawahan celana warna hitam dengan dibalut kain jarik.
Obor-obor dari bambu dinyalakan…
Setelah semua siap, dengan dipimpin oleh pemangku adat, masyarakat mulai berjalan kaki dari Pendopo Purwosari menuju Dukuh Genggong, dukuh yang dulunya sebagai pusat Desa.
Acara Obor Ambal Warsa menjadi tanda bahwa, esok hari akan diselenggarakan upacara adat yang bernama Boyong Oyod Genggong.
Boyong Oyod Genggong.
Pagi hari di sekitar Pendopo Purwosari cukup ramai. Nampak beberapa tamu undangan telah menempatkan diri di kursi yang telah disiapkan. Aku dan teman-teman Blogger pun turut merapat ke Pendopo.
“Ini kok yang duduk hanya tamu undangan, ya. Kemanakah masyarkat setempat?” Batinku ketika sudah berada di sekitar Pendopo.
Setelah aku cari tahu, ternyata mereka sedang melangsungkan acara sakralย Boyong Oyod Genggong. Iyaaa, aku ketinggalan kereta, padahal sudah diberitahu kalau acara dimulai jam 07.00 WIB. Alasannya, sih, telat bangun karena malamnya begadamg sama si Kecemut. Hahaha. Tak mengapa, aku masih bisa menunggu mereka di Pendopo karena acara tersebut itu dimulai dari Dusun Genggong menuju Pendopo Purwosari.
Pendopo Purwosari, Kalilunjar…
Acara Boyong Oyod Genggong bisa dikatakan kebalikan dari acara Obor Ambal Warsa. Maksudnya, setelah malamnya masyarakat berbondong-bondong dari Pendopo Purwosari menuju Dusun Genggong, pagi harinya Oyod Genggong kembali diboyong atau diarak oleh warga menuju Pendopo Purwosari.
Oyod atau dalam bahasa Indonesia berarti akar.ย Genggong yaitu nama Dukuh pertama kali yang berpenduduk. Karena masyarakat Dukuh Genggong makin lama makin banyak, maka zaman dahulu kala, pemerintahan setempat perlu memindah tata pemerintah ke tempat yang lebih luas yaitu Dukuh Purwosari. Dan yang diboyong sebagi tanda, tuh, beneran akar yanv usianya sudah ratusan tahun itu. *ini kalau ada kesalahan informasi, siap memperbaharui*. Hahaha.
Ngga hanya Oyod Genggong saja yang diarak saat peringatan hari jadi, ada gunungan yang berisi hasil bumi juga. Uniknya nih, disepanjang jalan dari Dukuh Genggong menuju Pendopo, masyarakat ngga hanya sekadar jalan mengikuti lajur jalan. Namun ada beberapa atraksi yang dipertontonkan, semacam sendratari, gitu.
Tiba di lokasi Pesta Pala…
Aku sempat menyaksikan saat ada dua tokoh -yang aku ngga tahu namanya- mereka seperti berperang saat melintasi sebuah sungai kecil sebelum Pendopo. Kalau kata masyarakat, sungai tersebut bernama Kaliwewe. Entah mereka memperebutkan apa, yang jelas atraksinya menarik banget. Pun dengan pakaian yang mereka kenakan. Uuwh…penasaran dengan kostum dan penampilannya? Kalin wajib datang ke event ini tahun besok. ๐
Bisa dibilang,ย Boyongย Oyod Genggongย merupakan puncak event Parade Budaya Kalilunjar karena memang event ini diadakan untuk memperingati hari jadi Desa Kalilunjar. Ya…meski setelahnya masih ada hiburan wayang kulit semalam suntuk sebagai penutup acara.
Jajan Tradisional di Pesta Pala.
Usai prosesi Boyong Oyod Genggong, sebagian masyarakat berkumpul di Pendopo untuk menyaksikan serah terima Oyod Genggong dan berebut gunungan hasil bumi.
Nah, karena jalan tambah macet, aku pun mulai curiga, jangan-jangan Pesta Pala sudah dimulai.ย Uuwh…dan ternyata betul! Beberapa Buk Ibu perwakilan per RT sedang menyiapkan tempat untuk pesta. Ngga hanya tempat, sajian kuliner khas setempat pun mulai digelar di lapak yang telah mereka buat.
Kuliner tradisional khas daerah…Aneka jajan tradisional dari singkong…
Pesta Pala merupakan sebuah pesta rakyat yang beneran nyata. Masyarakat membuat camilan dan kuliner khas setempat, lalu ditawarkan kepada para pengunjung, baik masyarakat setempat maupun wisatawan. Dan yang membuat surprise, mengambil jajan atau kuline sebanhak apapun, bayarnya seikhlasnya. Dudududu…ada nasi jagung, peyek jui, buntil, urab, sedeep bangettt. Belum lagi jajanannya.
Kenapa dinamai Pesta Pala? Karena olahan kuliner dan jajanan khas yang disuguhkan sebagian besar dari bahan dasar Palawija, baik dari jenis Pala Pendem seperti umbi-umbian, maupun Pala Gantung seperti jagung dan buah-buahan.
Jajan hasil bumi, pala pendem dan pala gantung…
Desa Kalilunjar ini ada lenih dari 20 RT (Rukun Tetangga), kalian bisa membayangkan ramainya pesta ini, kan? Apalagi hampir tiap RT menampilkan aneka olahan. Pokoknya keguyupannya patut ditiru. Persiapannya nampak matang dari segala sisi termasuk pakaian yang dikenakan para penjual. Canteeek-canteeeek.
ย Hiburan Gejog Lesung.
Kalian tahu, kan, bahwa lesung pipi sukses menjadikan perempuan makin manis? Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan. Hahaha.
Lesung yang dijadikan sebagai wadah gabah, manambah suasana Pesta Pala makin pecah. Apalagi setelah jajanan mulai ludes. Seakan perhatian tertuju pada personil gejog lesung. Mereka adalah sekumpulan mbah-mbah sing zaman semono ahli banget menumbuk padi dengan gejog atau alu di lesung. Gejog sambil geal-geol, gitu.
Kekompakan gejog lesung….
Dan saat itu juga, mereka seperti bernostalgia. Gejog yang ada di dalam genggaman, mulai mereka mainkan. Hitungan untuk menjadikan suara tabuhan yang enak didengar pun dimulai. Sampai di tengah hitungan seperti ada kesepakatan untuk sebuah nada tiap gejog, merekapun tertawa bahagia sambil goyang-goyang, gitu. Hahaha.
Selain wedang Jembawuk yang rasanya antk maenstream, ada yang musti kalian tahu lagi. Bahwa, ngga hanya para pejabat dan orangtua saja yang mengenakan baju adat, gitu. Para remaja dan anak-anak kecil pun turut mengindahkan acara ini dengan mengenakan pakaian adat atai baju khas desa, lengkap dengan penampilannya kucir dua atau gelungan. ๐
Di sini area yang digunakan acara Gedobo
Terima kasih Mas Jojo atas pengalaman yang menarik ini. Buat Mas Ipong juga yang sudah berkenan mengantar kami ke sana ke mari, sudah mau direpotkan. Tak lupa keramahan warga yang luar biasa, terima kasih. Maaf jika ada salah kata dan tingkah selama dua hari satu malam di Desa Kalilunjar, ya.
Sampai jumpa di pesta budaya Kalilunjar Tahun 2018. Ditunggu atraksi menarik lainnya, dan kejutan pada tiap acara ya, Kaak Pokdawris Kalilunjar.
Kecantol Grab di Semarang – Aku pernah punya pengalaman yang tak mengenakan tentang pemesanan travel jurusan Semarang-Banjarnegara. Saat itu, aku sedang ada tugas dinas ke Semarang. Dalam kurun waktu dua jam, aku memesan travel sampai tiga kali di agen yang sama. Dududu…
Pertama, karena prediksiku bakal pulang lebih awal kira-kira jam 13.00 WIB, aku menelpon agen travel jam 12.00 WIB. Alhamdulillah masih tersisa dua kursi. Ada rasa takut akan kehabisan tiket, ย aku pun langsung memesannya. Dan benar, jam 12.00 aku dapat menyajikan laporan yang sudah kubuat. Setelah diteliti oleh pihak korwil, ternyata ada kesalahan input data untuk beberapa akun. Sungguh di luar dugaan. Tanpa berpikir lama, aku menggeser jadwal pemberangkatan travel. Dari yang tadinya berangkat jam 13.00, menjadi jam 14.00 WIB. Hanya selisih satu jam dari pemesanan sebelumnya.
Setelah aku pikir ulang, estimasi yang kubuat asal banget karena aku ngga memperhitungkan waktu ishoma. Sampai jam istirahat selesai, penyajian laporan pun tak kunjung selesai. Duuuh…
Tempat untuk mengenyangkan perut… ๐
Sepuluh menit lagi menuju jam dua. Ketimbang gugup sendiri, aku kembali memutuskan untuk menggeser jam pemberangkatan travel. Betul-betul ngga enak hati sama cs-nya, takut dikatain plin-plan. Tapi mau gimana lagi, risiko dinas luar tanpa diantar mobil dinas ya seperti ini. Dan perlu kalian tahu, aku menggeser pemberangkatan ini sampai tiga kali. Pada akhirnya, dengan berat hati aku membatalkan pemesanan tiket dan pasrah akan sampai rumah jam berapa. Dududuuh…rasanya ngga enak banget. Meski pihak travel ngga mempermasalahkan, tapi rasanya memalukan. Hiks.
Baca cerita tentang Traveling di Semarang.
Waktu itu otak memang lagi ngga fokus kerja. Selain kondisiku sedang kurang fit, Kecemut pun sedang sakit. Makanya saat mengerjakan ulang di sebuah hotel, kerap salah. Beruntung, teman-teman operator satu karesidenan juga ada beberapa yang harus perbaikan. Rasa-rasanya seperti tertolong, antara ada teman seperjuangan dan ada teman bareng saat pulang nanti.
Ya, mereka semua cowok dan sudah sepakat akan pulang malam. Dudududuh…kembali putar otak, ya. Kali ini aku memilih alternatif lain yaitu memesan shuttle. Meski nanti ngga diantar sampai rumah, yang penting bisa sampai Banjarnegara dengan selamat dan lebih cepat.
“Pak, masih ada sisa kursi untuk pemberangkatan jam 18.00 WIB? Turunnya di Banjarnegara.” Lewat telepon, aku kembali memesan transportasi untuk pulang. Kali ini aku optimis kalau pekerjaan akan terselesaikan tepat waktu. Semangat menyelesaikan pekerjaan bisa dibilang menggebu-gebu karena ingin cepat pulang dan ketemu Kecemut lagi.
Akhirnya berguna juga aplikasi ini…
“Ikut shuttle Sindoro mau? Masih sisa dua kursi.” Mendengar masih ada kuota kursi, rasanya ingin segera terbang sampai agen shuttle. Ngga sabar banget, ya. Hahaha.
Yuhuui…karena shuttle, mereka ngga bisa jemput di tempat. Aku harus ke Terminal Sukun Banyumanik (kalau ngga salah), tempat agen shuttle Sindoro. Ngga masalah karena di Semarang banyak transportasi yang bisa dipesan melalui aplikasi. Dan satu-satunya aplikasi transportasi online yang aku punya saat itu adalah Grab.
Aku download aplikasi ini seperti buat pajangan dowang di handphone. Belum pernah aku pakai sama sekali karena di Banjarnegara belum ada Grab. Navigasinya mudah dipahami, menggunakannya pun mudah. Berasa langsung klik seperti ketemu jodoh, gitu. Apalagi pas lagi butuh, kebetulan ada Grab Car yang sedang jalan menuju hotel tempat acara. Ya sudah, aku langsung gebet mobil Honda Brio warna hitam yang dikemudikan oleh Mas Heri. Saking ngga sabarnya, aku sempat telpon dan beberapa kali chatย lewat aplikasi Grab. Idiih…penumpangnya lebih agresif, ya.
Biaya tambahan akan dimasukan nota juga, bila perlu….ย
Pelayanan transportasi dari Mas Heri ini terbilang memuaskan. Soalnya dia bisa mengkondisikan dan paham betul kebutuhan penumpang. Sebelumnya aku sampaikan bahwa, shuttle yang telah kupesan akan berangkat jam 18.00 WIB. Tahu waktunya cukup mepet, dia menambah kecepatan berkendara, tanpa meresahkan anak gadis yang ada di dalam mobilnya. Udah gitu, dia memilih lewat tol supaya ngga ketemu dengan yang namanya macet.
“Betul,ย lewat tol saja, Pak. Nanti aku yang bayar e-tol.” Aku mencoba meyakinkan Mas Heri supaya lebih cepat sampai shuttle. Hati ini udah rada panik, Brey.
“Iya, pasti mbak yang bayar, kok. Tapi nanti kalau perlu tak tambahin di nota biar Mbak ngga nombok buat laporan ke kantor.” Aaah..tahu banget kebutuhan laporan buat kantor, ya. Padahal lewat tol cukup membayar 5 ribu saja, tapi Mas Heri tetap menambahkannya di tagihan pembayaran. Gimana ngga kecantol sama Grab, coba? Pengalaman pertama pakai Grab dan mendapat sopir yang pengertian. ๐
Aplikasi yang suka ngasih cash back… ๐
Bisa jadi aplikasi dari jasa transportasi online ini akan menjadi andalanku jika pergi keluar kota karena aku lebih sering memanfaatkan transportasi umum. Terlebih kalau ngga dapat pendampingan dari sopir kantor. Kabar baiknya, di Harbolnas tahun ini, ShopBack nawarin Voucher Grab.ย Tiap pembelian voucher Grab, kamu akan mendapat cashback, potongan harga dan atau diskon sesuai penawaran yang tercantum dalam website. Asyik, kaaaan?
Udah kecantol Grab di Semarang, kira-kira bakal kecantol di mana lagi, yaaaa? ๐
Kampung Durian. Mendengar namanya, para penikmat durian pasti tidak sabar ingin tahu dimana lokasinya. Ingin segera berburu atau memilih durian yang paling enak dan unggul. Daging buah dengan warna kuning dan tebal, serta biji buah cenderung kecil, mungkin ini menjadi salah satu kriteria durian yang akan dicari nantinya.
Berlokasi di Kabupaten Banjarnegara, ada kampung durian yang menawarkan 49 varietas durian. Tepatnya di Dusun Dirun, Desa Singamerta, Kecamatan Sigaluh, sentra durian kini makin terkenal. Terlebih buah dengan aroma harum yang khas ini, pernah menjadi juara 1 pada event DFI (Durian Fair Indonesia) di Jakarta pada tahun 2015. Prestasi ini sukses mengangkat potensi durian lokal, sekaligus ekonomi masyarakat nDirun.
Berangkat dari potensi lokal, seluruh petani durian nDirun sepakat mengadakan Festival Durian nDirun sebagai event tahunan. Tahun ini festival digelar pada tanggal 02 Juli 2017. Bertempat di Desa Dirun, festival yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara makin ramai karena promosinya cukup maksimal baik melaui media online, maupun offline seperti baliho.
Gapura masuk…
Festival dimulai dengan acara kirab durian yang diikuti oleh Bupati Banjarnegara beserta Isteri, para anggota Forkopimda, Kakang Mbekayu Banjarnegara, Para Pengusaha, dan pemuda-pemudi setempat yang membawa durian. Selain itu, kesenian musik thek-thek “Singo Laras” turut mengawal kirab ini.
Pecah dan meriah. Kesenian thek-thek sukses memecah suasana perjalanan kirab yang dimulai dari gudang Pusri Singamerta, jalan utama provinsi, sampai lokasi Festival yaitu di atas SD N 1 Singamerta. Saking ramainya kirab ini, banyak kendaraan yang tiba-tiba membelokan arah, melewati gerbang durian raksasa. Tak salah lagi, mereka hendak turut meramaikan Festival Durian nDirun.
Parade Durian…
Wisatawan dan para tamu undangan pun siap menyambut kirab di depan panggung acara. Sesampainya di lokasi, durian yang telah dikirab diletakkan di depan panggung sebagai simbolis. Sementara para peserta kirab turut bergabung dengan tamu undangan, terkecuali Pak Bupati karena beliau langsung naik ke panggung acara.
Acara dibuka oleh Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono, ditandai dengan pemotongan tumpeng di atas panggung. Didampingi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pak Bupati memberi tumpengnya kepada Pak Trisno Winoto, selaku ketua panitia festival durian nDirun. Gong pun ditabuh sebagai tanda bahwa festival resmi dibuka.
Panggung Festival…
Berebut Gunungan Durian
Siang itu cuaca begitu panas, wisatawan yang datang pun makin banyak, memenuhi lokasi festival. Rasa-rasanya makin panas saat pembawa acara mengumumkan bahwa tak lama lagi akan ada kenduri durian atau makan durian bersama dan gratis!
“Pengunjung dan tamu undangan harap tenang.” Pak Udin dan Bu Widhi yang bertindak sebagai pembawa acara nampak was was karena pengunjung mulai berdesakan. Suasana yang tadinya meriah karena kesenian thek-thek kembali tampil, tiba-tiba menjadi sedikit gaduh. Terlebih setelah dipersilakan untuk mulai menikmati durian, pengunjung langsung berebut gunungan durian.
Salah satu Gunungan Durian yang dipajang…
Ratusan durian ludes tak tersisa dalam sekejap. Meski durian masih diikat tali dalam gunungan, namun tidak menyurutkan pengunjung untuk berebut, mengambilnya tanpa alat. Padahal, panitia telah menyediakan pisau. Tapi nampaknya ini seperti sensasi dari kenduri durian. Senggol sana-sini, dapat satu butir, alhamdulillaah. Akhirnya bisa makan durian gratis, sambil mendengarkan lagu lawas yang didendangkan Kaos Plas. Nikmat sekali bagi mereka yang mendapat durian, ya.
nDirun Panen Rezeki
Gunungan durian habis dalam hitungan detik dan ternyata tidak semua pengunjung kebagian. Pak Rasno, misalnya. Wisatawan dari Cilacap yang sengaja datang pun hanya bisa ikut desak-desakan karena tangannya tidak sampai pada gunungan. Namun demikian, dia tidak merasa kecewa karena niat dari awal akan ikut lelang durian.
Meski petani nDirun gagal panen durian tepat waktu, tetap saja mereka banjir rezeki saat festival. Ada bazar durian dan lelang durian on the spot.
Lelang untuk yang pertama dibuka oleh Bapak Bupati Banjarnegara. Durian yang dilelang yaitu Durian Dampit milik Pak Hadi Suprapto. Durian ini memiliki ciri khas, buahnya oval, dagingnya kuning dan tebal, rasanya pahit, manis, dan banyak isinya. Lelang dibuka dengan harga Rp 50,- untuk satu paket yang berisi 4 butir.
Lelang Durian oleh Wakil Bupati…
Nama Duriannya unik, ya. ๐
Melihat isi durian, banyak yang tertarik untuk membelinya. Menawar dari harga Rp 400.000, sampai akhirnya lelang pertama dimenangkan oleh Direktur Bank BRI Cabang Banjarnegara dengan harga Rp 750.000,-.
Lelang durian ini luar biasa. Petani durian nDirun betul-betul panen rezeki karena harga deal saat lelang minimal Rp 600.000,-. Sedangkan harga normal durian nDirun, kisaran Rp 70.000-Rp 100.000 per butir. Sesekali dalam setahun, para pengusaha, para pejabat daerah, wisatawan, berbagi rezeki sekaligus menghargai petani durian ndirun.
Stand Serba Durian
Tak cukup pada buah yang utuh, panitia menyediakan stand khusus buat para inovator kuliner durian. Selain digunakan untuk bazar, ada banyak stand yang menawarkan olahan camilan dari durian. Kerupuk durian, pancake durian, kopi durian, dan masih banyak lagi jajanan yang beraromakan durian.
Sayang banget, lokasi festival terlalu sempit, dan jalan pun kurang lebar. Untuk dapat membeli pancake pun terpaksa harus berdesak-desakan karena jarak antar stand terlalu dekat. Belum lagi kopi durian, banyak yang antre ingin mencicipinya.
Pancake Durian…
Festival Durian nDirun ditutup dengan penampilan terakhir dari band indi Kaos Plas. Penuh harap, semoga penyelenggaraan Festival Durian nDirun untuk tahun depan lebih baik lagi. Baik dari segi tempat, maupun pengamanan.
Ps. Artikel ini telah terbit di Majalah Candi, Edisi 68.