Pengalaman Menginap di D’Qiano Hotel, Dieng

Pengalaman Menginap di D’Qiano Hotel, Dieng – Minggu (12/11), aku bersama tiga puluh lima Blogger kembali menyambangi Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara. Selama satu hari, explore wisata Dieng Zona Dua, yaitu kompleks candi arjuna, bukit scotter, dan telaga merdada. Selain itu, kami juga mendapatkan pengalaman baru menginap di D’Qiano Hotel, Dieng.

Sebelum mulai jelajah esok hari, malamnya kami menginap di D’Qiano. Bisa dibilang, ini termasuk salah satu hotel yang bagus di Dieng. Hotel yang cocok buat bermalam bersama keluarga maupun buat backpacker.

Iya, kalian ngga salah baca, kok. Meski bukan homestay, tapi bisa buat backpacker asal mau menyiasatinya. Apalagi nih ya, buat para traveler yang lebih sering nyari hotel budget, kadang penginapan ngga perlu istimewa. Asalkan ada tempat tidur dan kamar mandi yang layak, masih bisa bernapas lega.

Beda lagi kalau traveling barenga keluarga, apalagi mengajak anak-anak. Ini seperti harus mencari penginapan yang membuat nyaman. Orang tua bisa tidur di mana saja, sekalipun pakai extra bed. Tapi anak-anak belum tentu bisa tidur di extra bed. Kadang malah pingin tempat tidurya seperti suasana di rumah. Uuwh…

Penginapan DQiano Dieng
Pelataran penginapan D’Qiano, Dieng…

Baca: Rekomendasi Penginapan di Batu, Malang.

Berdasarkan pengalaman dua kali menginap di D’Qiano, aku berani merekomendasikan penginapan ini sebagai penginapan yang bagus, cocok untuk keluarga dan backpacker.Β Nah, berikut alasan aku merekomendasikan penginapan ini.

Punya 4 Kamar tipe Family.

Kamar ini seperti rumah susun. Satu kamar ada di atas dengan kapasitas normal untuk 4 orang. Sementara satunya ada di bawah dengan kapasitas 2 orang. Pada masing-masing kamar terdapat kamar mandi dalam dan satu ruang tamu. Fasilitas tambahan seperti TV hanya ada di kamar atas.

Penginapan Murah di Dieng
Kamar atas, cukup nyaman…

Semua kamar mandi di sini telah disediakan air panas. Hanya saja, ada satuΒ shower yang kurang deras aliran airnya. Ini catatan penting buat pemilik D’Qiano supaya segera menggantinya dengan yang lebih wus-wus, ya. Tarif untuk kamar tipe ini Rp 800.000, include sarapan pagi untuk 3 orang dan free tiket masuk waterpark air hangat. Fyi, tiket masuk kolam renang biasanya dibanderol dengan tiket Rp 25.000 per orang. Ya…bayangin aja, jatuhnya ngirit 25 ribu dikali berapa orang, tuh.

Baca: Rekomendasi Penginapan di Yogyakarta.

Kamar Family bisa disulap menjadi Kamar Backpacker.

Kapasitas maksimal Family Room memang hanya untuk 6 orang. Tapi kalau datang bersama 12 orang, kamu bisa requestΒ ke petugas untuk menambah tiga bed. Tidur lah berjejer di kamar atas yang bisa diisi sampai kapasitas 6 orang dengan menambah satu bed. Kemudian minta tambahan (lagi) dua bed untuk disetting di ruang tamu dengan kapasitas 4 orang. Sementara kamar bawah, settingan tetap untuk 2 orang, ngga bisa lebih. Aah…aku pernah merasakan seperti ini saat famtrip Blogger tahun 2016. πŸ˜‰

Penginapan di Dieng yang murah dan bagus
Bed tambahan dan ini bisa jadi bobok di lantai semua, lho… foto:Β  Mbak Dian

Apakah nantinya harganya sama dengan harga family room?

Tentu beda. Kamu harus mengeluarkan uang Rp 100.000 tiap tambahan satu bed. Untuk menjadi kamar backpacker, kamu perlu menambah 3 bed. Jadi total bayar Rp 1.100.000 bisa untuk 12 orang, include sarapan pagi untuk 3 orang dan free tiket masuk waterpark air hangat. Lumayan, kan?

Jangan khawatir untuk masalah kenyamanan tempat tidur, ya. Kamu tetap bisa tidur nyenyak di dataran tinggi Dieng yang pada musim tertentu kadang suhunya sampai minus. πŸ˜‰

Ada juga 4 Kamar tipe Deluxe.

Naaah ini, buat kamu yang lagi honeymoon, cocok banget memesan kamar Deluxe. Dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp 500.000, include sarapan pagi untuk 2 orang dan free tiket masuk waterpark air hangat, kamu akan nyaman bobok di kamar ini.

Btw, tempat tidur di kamar ini ukurannya extra, semisal kamu datang bersama tiga teman, bisa lho satu kamar. Bobok ber empat, gitu. Tambah hangat, tanpa mengurangi kenyamanan karena memang tempat tidurnya luas. Double bed, gitu.

Penginapan Bagus di Dieng
Kompleks kolam renang D’Qiano…

Dimana, sih, alamat D’Qiano?

Berlokasi di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, penginapan ini cukup dekat dengan objek wisata Dieng Zona 2, seperti Kompleks Candi Dieng.

Ya, hanya membutuhkan waktu 10 menit sampai kompleks candi arjuna Dieng, Banjarnegara. Lalu, 15 menit menuju Bukit Scotter. Dan 20 menit menuju Telaga Merdada yang saat ini telah menjadi tempat wisata baru yaitu Kayak.

Penginapan D’Qiano recommended buat kamu yang esok harinya akan explore seputar Kompleks Candi, Telaga Merdada, Bukit Scotter, Bukit Pangonan, Telaga Dringo, Kawah Candra Dimuka, Kawah Sikidang, Pemandian Air Hangat Bitingan, dalam hal ini adalah Dieng Zona 2, Banjarnegara.

Penginapan di Dieng
Waterpark dengan air hangat…

Berwisata ke Dieng ngga mampir renang atau sekadar berendam air hangat di D’Qiano, pastilah kurang lengkap. Apalagi waterpak ini merupakan waterpark tertinggi di Jawa Tengah yang bersumber dari kawah sileri.

Baca : Homestay dekat Sikunir, Dieng.

Penginapan D’Qiano

Nomor HP: 085227622767
Jam Buka Waterpark: 08.00-18.00 WIB
Tiket Masuk Waterpark: Rp 25.000 per orang

Tips Sukses Berburu Diskon Akhir Tahun Melalui Toko Online

Siapa yang tidak tergiur dengan kata-kata diskon ataupun potongan harga pada setiap label produk yang ada diberbagai toko konvensional maupun toko online. Hal itu akan menjadi pandangan umum setiap tahun, seperti halnya diskon akhir tahun 2017 yang baru akan dimulai ini. Jadi bagi Anda yang gemar berbelanja, mulai dari sekarang bisa siapkan catatan barang dan juga anggaran yang dibutuhkan. Karena penghujung tahun merupakan salah satu moment diskon besar-besaran jadi sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.

Tetapi seiring perkembangan jaman antusias masyarakat dalam menyambut kemeriahan diskon akhir tahun disetiap mall sudah semakin berkurang. Apalagi saat ini banyak bermunculan berbagai toko online yang menyediakan berbagai barang dan juga promo lebih menarik.

Orang lebih tertarik untuk melakukan belanja melalui gadget dari pada harus susah-susah ke mall. Tapi dibalik banyaknya kelebihan tentu berbelanja online juga mempunyai kekurangan. Bahkan kekurangan tersebut dapat menjadikan Anda tidak bisa sukses menikmati diskon akhir tahun pada sebuah toko online.

Namun, berikut ini ada beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk tetap dapat memeriahkan keseruan berburu diskon pada situs jual beli online dengan cara:

1. Gadget yang mendukung.

Pertama yang perlu Anda perhatikan adalah kemampuan gadget yang stabil untuk mendukung kegiatan berburu diskon pada penghujung tahun. Sekarang ini banyak smartphone canggih yang menawarkan berbagai kelebihan masing-masing. Dalam hal ini Anda harus mempunyai salah satu kelebihan pada ponsel pintar supaya lebih lancar dan tidak ketinggalan promo ataupun diskon yang berlangsung gara-gara handphone yang jadul.

2. Internet stabil.

Yang kedua adalah adanya internet yang stabil, ini merupakan salah satu hal yang terpenting. Sekarang bisa Anda bayangkan sendiri jika ada sebuah smartphone canggih tetapi internet tidak stabil tentu kegiatan berburu diskon akhir tahun 2017,Β yang gila-gilaan akan tertinggal jauh. Padahal seperti yang diketahui jaringan internet yang luas akan menjadikan barang promo banyak peminatnya dan cepat habis.

Gadget yang mumpuni, yaa…

Jika hal tersebut dilakukan dengan internet yang tidak stabil tentunya barang yang Anda impikan gagal untuk didapatkan.

3. Paket data cukup.

Pastikan kuota Anda dapat digunakan untuk berburu diskon dari awal sampai dengan akhir, sayangkan jika baru setengah perjalanan pemesanan tiba-tiba kuota sudah habis. Makanya dari itu sangat disarankan untuk membeli atau memenuhi kuota internet dari awal dari pada kehabisan ditengah jalan.

4. Pastikan pilihan.

Sebelum Anda berburu diskon lebih baik pastikan terlebih dahulu barang apa yang Anda incar. Dalam hal ini Anda harus mencari informasinya terlebih dahulu sebelum diskon harbolnas berlangsung. Cara ini untuk mengantisipasi adanya keterlambatan atau pertimbangan yang banyak memakan waktu.

5. Gerak cepat.

Kemudian saat datang waktunya diskon Anda sudah siap dengan segala perlengkapan dan juga barang yang dituju. Dengan begitu Anda bisa langsung gerak cepat dengan gadget yang sudah disiapkan sebelumnya. Jangan sampai produk yang Anda inginkan soldout sebelum Anda mendapatkannya.

Harbolnas Buka Lapak
Nyari apa di Buka Lapak?

Dari beberapa tips di atas dapat Anda gunakan untuk melakukan pemburuan jenis promo pada toko online lainnya. Jadi semua yang bersifat terbatas itu perlu adanya strategi untuk mendapatkannya, seperti halnya diskon harbolnas yang hanya ada pada beberapa hari dalam satu tahun. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan rasa puas akan keseruan berburu diskon akhir tahun 2017 terbayar sudah. Mendapatkan barang impian, kualitas yang bagus pastinya dengan harga yang istimewa.

Kafe Serabine dan Diskon

Pernah ngga, kalian berantem sama pasangan karena hal remeh banget? Cuma dibilang pemburu diskon, terus berantem. Remeh banget, kan? Karena saking kesalnya, berantemnya cuma bisa main peluk, main dekap, main cium, unyel-unyel perut, sampai tabok-tabok punggung. Ini berantem apa kangenan? πŸ˜†

Ceritanya Sabtu lalu, suami izin main sama the gengs. Harusnya aku biasa aja, ya. Tinggal mengizinkan, gitu. Kan beres. Tapi ngga tahu kenapa, rasanya lagi pingin nyari musuh dalam selimut. Padahal hari itu juga, aku ada janji sama the gengskuw, vinslog, buat jajan bareng. Sepertinya menjelang pe-em-es, deh. πŸ˜€

Kami lagi sama-sama main gadget, terus dia nyeletuk. “Oooh…ada diskon. Pantesaaaan.”

“Maksud kamu?”

“Kamu mau jajan ke Serabine, kan? Pantesan mau ke sana. Lha wong lagi ada diskonan. Aku barusan lihat di akun instagram @serabine.co. Hahahaha.”

Jahaaat banget, kan. Isteri sendiri distempel basah pemburu diskon. Bukan membela diri, tapi aku datang ke Kafe Serabine bukan untuk berburu diskon. Asli. Memang sih, @serabine.co sedang bagi diskon nyampe 50% buat para pelanggannya. Tapi aku ngga kepikiran sampai berburu diskon di sana. Hahaha.

serabine (2)
Kafe Serabine…

Kafe Serabine buka dari hari Selasa-Minggu, mulai jam 11.00-22.00 WIB. Bersama teman-teman, aku datang ke sana jam 13.00 WIB. Hujan yang turun siang itu, sama sekali ngga menggoyahkan niatku untuk datang ke sana. Pun dengan teman-teman, meski beberapa dari mereka ada yang terlambat datang.

Sesampainya di halaman Kafe Serabine, aku langsung masuk lewat koridor depan tempat parkir. Padahal sebenarnya ini bukan pintu masuk. Ada tangga di sebelah kanan tempat parkir. Ini lah yang dijadikan jalan utama menuju lantai dua yaitu tempat Kafe Serabine berada.

Kafe ini dibagi menjadi dua ruang. Pertama yaitu ruang tertutup yang begitu asyik buat pepotoan, buat baca buku karena terdapat banyak koleksi buku si pemilik Kafe. Ruang ini juga sebenarnya area no smoking, tapi belum banyak yang tahu tentang ini. Makanya, ngga sedikit orang yang masih menikmati rokok di ruang ini.

kafe di banjarnegara
ruang utama kafe serabine…

Kedua yaitu ruang tebuka dengan view pemandangan lepas sungai serayu. Ada area no smoking, tersedia juga ruang khusus buat yang ingin merokok di ruang terbuka ini.

Eeh…FYI, kami datang ke sini karena diundang pihak Serabine buat nyicipin menu Serabi, bukan berburu diskon, ya. Hahaha. Kafe Serabine meawarkan menu utama yaitu jajanan tradisional yang berbahan dasar santan dan tepung, yaitu Serabi. Ada labih dari tujuh puluh pilihan menu Serabi yang sudah dikombinasi oleh Mbak Sarah, pencetus ide, cheff, sekaligus owner serabine. Dari tujuh puluh varian menu Serabine, kami memesan sembilan dowang. Yakali, mau pesan tujuh puluh, gitu. Hahaha.

pemandangan lepas
ruang terbuka, view lepas ke sungai serayu…

Tujuh puluh variasi menu serabi ini hanya berbeda toppingnya saja. Serabi topping Nutella, misalnya. Ada beberapa topping di sini, Nutella Keju, Nutella Keju Kacang, Nutella Oreo Es Krim dll dll. Kami memilih topping yang paling lengkap dari tiap varian. Nutella Keju Kacang, misalnya. Biar bisa merasakan semua dan mumpung lah, ya. Hahaha.

Serabi a la Kafe Serabine bentuknya seperti Martabak Mini. Sedikit cekung, lebih garing, dan berkerak. Menurut Mbak Sarah, sengaja dibuat sedikit berkerak agar toppingnya lebih rapih, ngga mudah mbleber. Dan betul, saat ada yang pesan Serabi Greentea Kacang Keju toppingnya utuh cantik.

kuliner di banjarnegara
serabi varian keju kacang cokelat…uwh
serabine
serabi sosis telur mozarella
serabine 2
serabine greentea kacang keju…

Kafe Serabine belum lama berdiri, kira-kira dua bulan yang lalu. Namun pelanggannya udah banyak. Selain dari sisi tempat yang bersih, rapih, dan tata ruang yang cakep, harga menu di sini sangat terjangkau. Menu serabi dibanderol dengan harga mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 7.500. Tergolong murah kan, ya? Sedangkan minuman, paling mahal Rp 14.500. Sementara makanan berat seperti Nasi goreng, harganya Rp 12.000 per porsi.

Kebayang ngga, kalau misal dapat diskon 50% dari pembelian. Tambah murah kan, ya. Sementara ini, diskon yang diberikan baru diskon on the spot, belum berupa voucher diskon seperti saat promo restaurant, gitu. Kalau ngga salah, pemberian voucher ini termasuk salah satu strategi promosi juga. Dan menurutku, meski menu utama adalah Serabi, produknya layak untuk dipromosikan secara online. Apalagi, sudah melayani delivery order, makin ramai nantinya. Ngga ada salahnya juga produk Serabine dipromosikan di website daily deals macam BambiDeal yang menawarkan produk dan jasa dari sebuah toko dengan harga spesial.

serabine.co
sini nongkrong siniiii…

Kafe Serabine dapat memberi diskon seperti voucher diskon BambiDeal yang menggiurkan pelanggan. Promosi makanan dengan cara pemberian diskon ini katanya jauh lebih menarik ketimbang beli satu dapat dua. Eeeh…ini ujung-ujungnya ngomongin diskon juga. Heylow, Suamik. πŸ˜† πŸ˜†

Relaksasi di Wisata Pendidikan Kampung Damar

Tiap hari yang dikerjakan seputar itu-itu saja. Mengurus anak dan keluarga. Menyiapkan perlengakapan kerja untuk suami dan diri sendiri. Menyelesaikan tugas sebagai ibu rumah tangga dan juga tugas-tugas kantor yang terus bertambah tiap harinya. Hanya seputar itu, tapi aku kerap merasa butuh relaksasi untuk sekadar mengendurkan otot, otak, dan mencerahkan mata yang hampir tiap hari menghadap layar notebook.

Aku beruntung punya pasangan yang begitu pengertian. *uhuuuks. Ngga perlu nunggu diajak jalan, dia udah punya planning untuk jalan ke sana, ke sini, ke sana lagi, ke sini lagi, yang penting keluar dari rumah dan itu ngga jauh-jauh dari sekitar kota. Cinta produk dalam kota. πŸ˜€

Keterbatasan waktu, tenaga, dan tentunya lembaran rupiah di dompet, menjadi alasan utama bagi kamiΒ  untuk piknik atau sekadar relaksasi di dalam kota. Apalagi sekarang ada Yasmin. Kami harus betul-betul bisa memilih tempat yang ngga hanya nyaman bagi diri sendiri, tapi baginya juga.

Adalah Wisata Pendidikan Kampug Damar, sebuah tempat wisata yang dikelola oleh Perhutani BKPH Banjarnegara sukses menyita perhatian kami.

Saat perjalanan ke Desa Pesangkalan untuk menghadiri acara sowan ngalas, kami melihat tempat ini ramai karena hari itu akan diresmikan sebagai tempat wisata. Niatnya, sepulang dari acara, aku bersama suami dan Yasmin akan mampir. Tapi ternyata ngga kesampaian karena waktu sudah sore.

“Kapan-kapan kita ke sini, yaaaa.” Di atas sepeda motor dengan laju pelan, suami seakan membuat janji akan mengajak kami ke Kampung Damar.

Lokasinya di pinggir jalan raya, tepatnya di Desa Watubelah, Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara. Tempatnya teduh karena banyak pepohonan di dalamnya. MiripΒ rest area,Β tapi bukan. Bagi kami, tempat ini seperti punya daya tarik tersendiri meski kami ngga tahu ada apa saja di dalamnya tentunya selain pohon pinus yang terlihat jelas dari luar.

Kampung Damar Tempat Parkir
Tempat parkirnya bersih, ya.

Perjalanan dimulai…

Tempat ini kembali menyapa ingatan suami. Sayangnya dia hanya hanya ingat taman wisata, ngga menyebut nama tempat. Aku sempat terkecoh, kukira taman letnan karjono yang pernah kami kujungi. Untungnya, dia masih ingat acara sowan ngalas, aku pun langsung menyebut Kampung Damar. Dan ternyata betul!

Setelah mempersiapkan perlengkapan piknik, kami pun berangkat ke Kampung Damar jam 07.00 WIB dari rumah. Kami sengaja berangkat pagi karena berencana untuk sarapan di sana. Ini sarapan ngapain jauh amat, ya? Hahaha. Ngga usah heran, kami sering melakukan hal ini, kok. Khususnya wisata dengan nuansa alam. Makan dengan menggelar karpet, dikelilingi pepohonan, udara sejuk, nikmat pun makin terasa. Dan ini membuat kami ketagihan. πŸ˜€

Perjalanan dari tengah kota dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit. Sebenarnya dekat, akses jalan pun sudah baik, hanya saja banyak kelok dan tanjakan. Makanya, ngga bisa terus-terusan menambah kecepatan. Apalagi membawa si kecil, kami memilih untuk lebih menikmati perjalanan.

Kampung Damar Banjarnegara 6
Kawasan Kampung Damar…

Tiba di Kampung Damar…

Tiba di lokasi, kami langsung menuju tempat parkir yang berada di dalam. Di depan pintu masuk, nampak ada pos jaga. Namun saat itu ngga ada yang menjaganya padahal weekend, lho.Β Di sekitarnya hanya ada seorang lelaki paruh baya yang sedang menyapu halaman parkir. Pikirku, dia lah penjaga yang merangkap sebagai tukang bersih-bersih. Tapi ternyata bukan.

“Tempat ini ngga terjaga. Bebas biaya masuk, dong?” Pikirku saat itu. Berjalan kurang lebih sepuluh meter dari area parkiran, ada seorang lelaki yang memanggil kami.

“Mas, bayar tiket masuk dulu.”Β Kami kaget, karena hanya suara yang terdengar. Tak lama kemudian, muncul sosok laki-laki mengenakan seragam hijau perhutani dari rumah yang katanya akan dijadikan warung. Ya, tepat di kiri tempat parkir, berdiri sebuah ruang yang cukup luas. Karena ngga ada informasi tentang ticketing di sana,Β kami memilih untuk terus berjalan tanpa masuk ke ruang tersebut.

Kampung Damar Banjarnegara 4
Tempat ini cocok buat bermesraan halal, pepotoan sama pasangan… πŸ˜€

Ekpektasiku, tiap pengunjung yang datang ke sini akan mendapat pendampingan dari petugas. Ya, jalan-jalan dengan didampingi petugas, lalu mereka bercerita tentang Pohon Damar, mulai dari konsep, alasan pemilihan dan penanaman, pembibitan, sampai dengan manfaatnya. Namanya wisata pendidikan, ya. Kan biasanya sarat informasi. Tapi ternyata mereka melepas perjalanan kami tanpa memberi informasi suatu apa. *belajar mandiri

Setelah membayar tiket masuk Rp 3.000 per orang, kami lanjut jalan mencari tempat yang nyaman untuk duduk santai karena Yasmin masih bobok. Untungnya kami membawa karepet, jadi bisa menidurkannya.

Kampung Damar Banjarnegara 5
Bibit Pohon Damar siap tanam…

Ada empat lantai Kampung Damar. Lantai pertama ada spot berfoto yang cukup manis. Selebihnya, lahan ini dipakai untuk menaruh bibit pohon damar yang masih di dalam polyback. Lanjut lantai dua, ini kompleks tempat parkir, calon warung, gazebo, dan tanaman pohon damar yang baru ditanam. Lalu di lantai tiga, selain ada pohon damar yang audah tertanam, terdapat bak besar penampung air. Dan lantai akhir, di sini disediakan tempat khusus untuk duduk. Tempat duduk yang terbuat dari pohon ini membentuk persegi. Dengan latar belakang pohon pinus dan tentunya pohon damar, lumayan bagus buat foto-foto. Di sini dibuat selfie deck juga, lho.

Sambil menunggu Yasmin bangun, aku bersama suami menuju lantai dua. Ada beberapa pohon yang nampaknya baru ditanam. Tingginya kira-kira 50 cm, di sampingnya terdapat label yang bertuliskan nama penanam. Bupati, misalnya. Mungkin Pohon Damar itu yang menanam adalah Bapak Bupati.

Tak jauh dari pintu masuk, tepatnya di lantai satu, ada ribuab bibit Pohon Damar berjejer rapih. Dari banyaknya Pohon Damar yang menghiasi kampung ini, sebenarnya aku ngga begitu paham manfaatnya kecuali tentang pengambilan getah yang dipakai untuk membuat lilin. Hahaha. Minim banget pengetahuanku, ya. Tapi tak mengapa karena masih bisa dipelajari sepulang dari Kampung Damar.

Kampung Damar Banjarnegara 3
Getah terus menetes…

Asyiknya nih, meski konsep mereka adalah wisata pendidikan, di sini disediakan tempat khusus untuk duduk dan foto-foto. Seperti yabg sudah kusebut di atas. Ada sebuah gubug kecil lengkap dengan tempat duduk memanjang, di sini lah pengunjung bisa narsis. Mumpung Yasmin masih bobok, aku bersama suami menghabiskan pose sambil cekikikan karena benar-benar alay. Seperti pasangan yang sedang mabuk asmara,Β gitu.Β Sungguh, moment ini tak terduga. πŸ˜€

Hari mulai siang, namun si kecil belum juga bangun. Kecemutku bisa pules banget boboknya padahal di hutan. πŸ˜† Karena ngga bisa meninggalkannya terlalu jauh, kami putuskan untuk ikut tiduran. Tiduran sambil bercerita sampai akhirnya Yasmin bangun karena mungkin brisik.

Kampung Damar Banjarnegara 1
Hyaah…abis! Hahahaha

“Hayuuk bangun, makan duluu.” Matanya masih sayu, tenaganya belum terkumpul. Sembari menunggu moodnya, aku mempersiapkan makanan.Β Satu per satu bekal aku keluarkan, bukannya dia tertarik makan, malah minta jalan-jalan. πŸ˜€ Anak yang satu ini emang hobi banget jalan. Asli. Untung aku sempat membeli Cilok, akhirnya dia memilih untuk makan Cilok dulu. Ada yang ngemil, ada yang minum kelapa muda, ada yang memilih untuk mulai sarapan. πŸ˜† Makan bareng, tiduran di tengah kampung damar, gini aja sukses bikin kami rileks. Uwwh…

Amunisi yang aku bawa saat itu terbilang lengkap. Sampai air untuk cuci tangan. Tapi melihat ada kran air, kami girang banget karena baru pertama kali mendapati fasilitas semacam ini di tengah hutan. πŸ˜€ Mungkin digunakan untuk menyiram bibit Pohon Damar tiap harinya kalik, ya.

Suami berusaha menjaga jarak supaya air ngga sampai kena baju Yasmin, tapi ternyata airnya hanya mengalir sebentar saja. Hahaha. Mungkin karena dari atas belum dialirkan sih, ya.

Kampung Damar Banjarnegara 2
Tempat pepotoan di sini…

Keliling kampung damar…

Usai sarapan, kami lanjut jalan-jalan keliling Kampung Damar. Jangan dibayangkan kelilingnya sampai habis tenaga, ya. Kami hanya jalan beberapa meter dowang ke tempat yang lebih asyik buat foto-foto. Hahaha. Yuup, lantai paling atas.

Di sini disediakan selfdeck, dan masih sederhana banget. Pun dengan tempat duduknya, warna kayunya masih original.Β Hahaha. Etapi karena konsepnya wisata pendidikan, mungkin mereka ngga memaksimalkan spot-spot untuk foto. Tempat duduk dicat warna-warni, misalnya. Kan makin ramai tuh, ya. πŸ˜€

Di sini kami ngga lama, hanya duduk-duduk dan nyobain selfdeck. Pinginnya sih meneruskan jalan ke atas sampai perkebunan warga, tapi sudah terlalu siang. Kami pun memutuskan untuk meninggalkan Kampung Damar.

Kampung Damar Wisata Banjarenagra
Ngga ada alasan untuk “menyebar” sampah…

Jalan keluar sampai di tempat parkiran, kami bertemu dengan petugas dari Perhutani yang sedang menata ulang bibit pohon damar. Pak Sam, namanya. Dari informasi yang kami dapat darinya, ternyata konsep wisata pendidikan ini berlaku bagi siapa pun yang memang ingin belajar di sini, semacam riset, gitu. Seperti teman-teman dari sekolah atau perguruan tinggi yang pernah melakukan penelitian di sini.

Tapi ya itu, karena keterbatasan tenaga, mereka ngga bisa mendampingi satu per satu pengunjung yang datang ke Kampung Damar. Jika perlu pendampingan, pengunjung bisa langsung ke basecamp Kampung Damar yang lokasinya di atas tempat parkir. Minta lah kepada petugas untuk mendampingi tiap langkah kalian. πŸ˜‰

Kampung Damar 2Mumpung Yasmin bobok… πŸ˜€

Menurut Pak Sam, ke depannya di sini akan dibuatΒ camping ground. Spot foto pun pelan-pelan akan dipercantik. Tak dipungkiri, tempat wisata tanpa spot foto memang rasanya kurang lengkap. Sekalipun itu wisata pendidikan. Tapi menunggu dana yang entah datangnya dari mana karena pemasukan dari tiket masuk wisata sudah dimanfaatkan untuk pemeliharaan dan kebersihan Kampung Damar. Butuh sentuhan dari pemerintah daerah, sepertinya.

Nyoba Masak Mie yang Pernah Kontroversial

Aku, tuh, termasuk penggemar mie instant. Rasa-rasanya, mie instant menjadi salah satu makanan yang cukup disukai oleh orang dewasa. Pasalnya, makanan yang biasanya dikonsumsi saat kondisi darurat ini, bisa diperoleh dengan mudah di warung, supermarket, minimarket atau bahkan di toko online. Selain mudah didapat, cara masaknya pun gampang.

Nah, mie instant yang belum lama ini aku cobain adalah Mie Samyang. Mie instant yang berasal dari Korea Selatan pernah menjadi kontroversi. Kalian pernah dengar, belum? Iyaa, aku udah tahu kalau mie ini pernah menjadi bahan perbincangan kelas dunia karena meragukan bagi kaum muslim. Halal atau Haram? Tapi tetap saja pingin nyobain masak. Apalagi tahu, kalau tersedia rasa extra pedas. Wuuuuw…ngga sabar!

Ramyun, sebutan mie instant di Korea Selatan, ini memiliki porsi yang lebih besar jika dibandingkan dengan mie instant asal Indonesia pada umumnya. Dalam Samyang Challenge, mie yang digunakan adalah mie instant rasa ayam pedas atau buldalk bokkeummyeon yang menurut seorang blogger dan reviewer ramen yaitu The Ramen Rater mengemukakan jika mie ini adalah mie instant terpedas ketiga yang ada di dunia. Tuuh, kaaan? Siapa yang ngge tergoda cobak. πŸ˜†

Ada 2 jenis rasa dari mie Instant Samyang ini yaitu spicy hot chicken ramen serta hot chicken ramen cheese. Untuk rasanya, jenis hot chicken ramen cheese masih jarang di temui di Indonesia. Alhamdulillaah pas kemarin belanja bulanan, ada rasa ini di etalase toko. Yaudah, gebet ajaa!

mie samyang
spicy hot, realy hot…

Eeeh, kalian harus tahu, mana Mie Samyang yang Halal dan Ngga, ya. Soalnya asli, ada yang ngga halal, gitu. Iya, walaupun mie dari Korea Selatan ini ada yang dilabeli dengan sertifikat halal, namun BPOM lewat surat edarannya pada tanggal 15 Juni 2017 mengemukakan, jika ditemukan mie merek Samyang yang mengandung babi.

Mie instant tersebut jenisnya adalah mie instant U-Dong dan Mie Instant Rasa KimchiΒ yang keduanya di import oleh PT. Koin Bumi. Karena hal tersebut, beberapa ramyun tersebut di tarik dari pasaran dan tidak sedikit orang yang lebih teliti untuk membedakan yang mana mie yang halal dan yang mengandung babi mengingat masyarakat di Indonesia mayoritas adalah Islam. Harus betul-betul teliti sebelum membeli, ya.

Nah, berikut ada beberapa cara yang dapat membedakan mana mie Samyang yang halal dan yang ngga, mengandung babi.

Pertama adalah dengan membaca kemasannya. Jika mie tersebut halal, maka akan ada sertifikasi halal yang diberikan oleh MUI. Dengan sertifikasi tersebut menunjukkan jika mie asal Korea Selatan tersebut sebelum dijual dipasaran sudah di tes atau dicek terlebih dahulu apakah ada kandungan babi atau kandungan lainnya yang dilarang untuk dikonsumsi atau tidak.

Mie rasa cheese hot chichen ramen dan spicyΒ hot chicken ramen bahkan sudah mengantongi halal dari KMF atau Korea Muslim Federation, sehingga halal untuk dikonsumsi.

Ada beberapa jenis mie dari Samyang yang melabeli kemasan mie instant tersebut dengan sertifikasi halal dari MUI. Namun ada juga yang tidak menggunakan sertifikasi tersebut atau tidak menemukan sertifikasi tersebut namun ada cap atau stempel dari KMF dan biasanya mie tersebut dijual di Malaysia ataupun Singapura. Jadi nih ya, jika ada yang menggunakan lambang KMF berarti importirnya dari Singapura atau Malaysia. Jangan panik duluu.

mie samyang halal
Pedesnya gilaak…

Kedua adalah lihat perusahaan yang mengeluarkan atau dari mana mie tersebut. Perusahaan yang menjadi importir mie instant samyang adalah PT Koin Bumi. Sedangkan perusahaan PT Korinus yang juga merupakan importir tersebut, mengeluarkan mie dari Samyang yang halal. Mudahnya, kamu cari tahu lebih dahulu mie dari perusahaan mana yang ditarik produknya sesuai dengan surat peredaran dari BPOM dan hindari jenis mie yang dilarang tersebut.

Ketiga adalah baca komposisi atau ingredient-nya. Mie SamyangΒ yang mengandung babi pada umumnya menggunakan bahasa Korea untuk menuliskan komposisi atau yang lainnya. Sedangkan yang halal adalah yang menggunakan bahasa Indonesia untuk tulisan pada kemasannya. Catet nih, jangan lupa.

Terakhir nih, hindari mie yang mengandung kata β€˜Dwaejigogi’ yang artinya adalah daging babi. Jadi, kata tersebut yang biasanya tertulis pada kemasan, sebaiknya hindari. Kecuali jika kamu merasa tidak masalah untuk mengkonsumsi mie yang mengandung daging babi. No problem.

Dan tahu ngga, pas aku mencicipi Mie Samyang yang spicy hot chicken, rasa pedasnya benar-benar nampol! Aku ngga yang pada dasarnya suka pedas, ngga berani menghabiskannya. Jangankan menghabiskan, ambil seperempatnya saja ngga berani. Cuma dua sendok saja nyaliku. πŸ˜€

Evaluasi Sebagai Ibu Menyusui yang Juga Bekerja

Salah satu hal yang menjadi perhatianku saat hamil adalah tentang ASI (Air Susu Ibu) Sebagai calon Ibu baru, aku terus belajar tentang bagaimana cara yang benar memberikan ASI kepada si kecil. Bagaimana caranya agar ASI yang keluar dapat memenuhi kebutuhan harian si kecil. Ini mulai aku perhatikan semenjak hamil lima bulan, hingga akhirnya saya mengadakan evaluasi sebagai Ibu menyusui yang juga bekerja.

ASI dapat keluar setelah bayi lahir. Makanya, aku ngga bisa memastikan ASI-ku akan berlimpah atau ngga nantinya. Sebenarnya agak was was. Apalagi aku seorang pekerja yang berangkat pagi, pulang sore. Apakah aku bisa memberi ASI penuh untuk si kecil? Agaknya ragu. Beruntung, keluargaku berhasil meyakinku untuk hal ini. Mereka terus menyemangatiku, dan memintaku untuk berpikir positif. Alhamdulillaah…sampai blog post ini terbit, aku masih memberi ASI untuk Yasmin.

Sebagai Ibu pekerja yang ingin memberikan ASI full kepada si kecil, ternyata ada babak baru sebagai harus dilalui. Adalah memerah ASIP (Air Susu Ibu-Perah) dan menyajikannya untuk si kecil. Inilah yang menjadi evaluasi pertamaku.

Aku ingin memberikan ASI sampai si kecil usia dua tahun, sementara aku seorang ibu pekerja. Bagaimana agar keinginanku dapat terwujud? Jawabannya tak lain adalah stok ASIP. Mulai dari sini, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi.

Pertama adalah Pompa ASI

Pemilihan pompa ASI menjadi prioritas utama. Sebulan menjelang persalinan, aku masih galau memilih pompa ASI. Antara pompa ASI manual atau Elektrik. Aku ngga mungkin beli keduanya karena masih banyak perlengkapan bayi yang musti dibeli. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli pompa ASI manual.

Seminggu berjalan, ternyata hasil perahanku belum memuaskan. Bertanya kepada teman-teman yang pernah menjadi Ibu perah, ternyata memang kurun waktu seminggu hasil perah belum begitu banyak.

“Makin sering memerah, makin banyak hasil yang didapat.” Begitu kata temanku yang saat itu sedang punya baby juga. Cuma bedanya, dia anak ke dua, sementara aku anak pertama. Dia lebih banyak pengalaman. Aku pun mengikuti sarannya, makin rajin memerah.

Baca tentang: Ketika Ibu Menyusui Makan Mie Instan

Saat masih cuti, aku bisa memerah sampai lima kali. Namun setelah jatah cuti habis dan masuk kerja, cukup banyak pekerjaan yang musti diselesaikan tepat waktu, belum lagi jika ada teman kantor minta tolong ini itu, aku harus segera membantunya. Pada akhirnya, waktu untuk memerah berkurang.

Ternyata menyisihkan waktu lima belas menit untuk memerah ASI itu cukup susah. Dan karena aku menggunakan pompa ASI manual, rasa-rasanya belum memerah sudah capek. Untuk kedepannya, memilih pompa ASI elektrik mungkin menjadi pilihan terbaik. Nabung duluuuu. πŸ˜†

Kedua adalah Botol ASIP

Sedar awal, aku lebih mantap memilih botol ASIP kaca. Aku membeli botol ASIP ini secaraΒ onlineΒ dibantu Mbak Noe. Saat itu, aku membeli botol ASIP dengan kapasitas 100 ml. Ternyata kebutuhan ASI saat Yasmin usia 3 bulan, tuh, cukup 50 ml sekali minum dan ini sampai usianya 4 bulan.

Ibu Menyusui yang Juga Bekerja
Beli yang 50 ml….

Aku rasanya eman-eman kalau botol ukuran 100 ml hanya diisi setengahnya saja. Sementara Mbah Utinya kurang telaten kalau harus menghangatkan ASIP hanya setengah botol. Adanya 100 ml, ya dihangatkan semuanya. Kadang mubadzir. Untuk kedepannya, perlu membeli botol ASIP kapasitas 50 ml. Aku sudah membelinya, sih, tapi saat itu hanya beli 12 biji dowang dan itu kurang.

Ketiga adalah Penghangat ASIP dan Sterilizer

Sejauh ini, aku masih menggunakan penghangat ASIP manual. Yaitu gelas dan air hangat. Ternyata menghangatkan ASIP dengan cara ini kadang bikin gugup. Apalagi kalau si kecil mintanya dadakan. Kadang Mbah Kakung harus turun tangan ikut menenangkan cucunya karena Mbah Uti harus menghangatkan ASIP. πŸ˜†

Kedepannya, mungkin aku membutuhkan penghangat ASIP sekaligus sterilizer. Selain meringankan tugas, alat ini ada pengatur suhunya. Jadi lebih aman lagi untuk kualitas ASIPnya. Maunya, nanti beli yang sekaligus bisa untuk sterilisasi botolnya. Harganya memang lumayan mahal, makanya perlu nabung dulu. πŸ˜†

Tiga hal di atas adalah sebagian evasluasi aku sebagai Ibu menyusui sekaligus Ibu pekerja yang ingin memberikan ASI penuh kepada si kecil. Niata awal yang ingin aku kerjakan secara manual, seperti menghangatkan ASIP atau membersihkan botol ASIP memang sudah terlaksana. Tapi ternyata kadang tenaga ngga sampai. Sok banyak yang diurus. πŸ˜€

Baca lagi tentang The Power Of ASI.

Eh btw, perlengkapan ASIP yang kusebut di atas sekarang mudah didapatkan. Apalagi sekarang ada tokoΒ onlineΒ yang menyediakan perlengkapan bayi. Seperti perlengkapan yang kubutuhkan tadi, sekarangΒ readyΒ dan dapatΒ beli di sini. Tinggal klik, langsung ketemu barang yang dibutuhkan. πŸ˜‰

Gunung Bromo dan Alasan Kenapa Aku Ingin Kembali Mengunjunginya

Bromo termasuk salah satu destinasi wisata yang ingin kembali aku kunjungi. Ngga ada ribet-ribetnya naik Gunung Bromo. Tinggal jalan beberapa meter dari kaki Gunung Batok, naik ratusan anak tangga, elap keringat yang bercucuran sampai leher, pegang boyok berkali-kali, minum air putih yang cukup, sampai lah di puncak yang mana ada kawah aktif di sana.

Semudah itu untuk mencapai Bromo, ya. Mudah banget, apalagi kalau bisa menikmati perjanalan menuju puncak. Tangga untuk naik dan turun disediakan secara terpisah, sisi kanan dan kiri. Memang, tangganya ngga terlalu lebar, namun wisatawan masih tetap bisa istirahat di anak tangga meski dengan cara berdiri. Iya, berdiri sambil menikmati hamparan pasir yang begitu luas.

Sayangnya saat itu, aku mengurungkan niat untuk melihat kawah Bromo dari dekat. Aku merasa sudah cukup dengan berburu sunrise dan bermain pasir di kaki Gunung Batok tanpa naik keΒ Gunung BromoΒ yang telah menjadi landmark Kota Malang, Jawa Timur. Memang keputusan yang cemen, tapi aku biasa saja. Ngga ada rasa menyesal sekalipun.

 

Traveling kali ini, aku mendapat keluarga baru serta pelayanan spesial dari seorang teman Blogger Malang, yaitu Pakde Misbach. Dicarikan tempat untuk menginap semalam yaitu di rumah Mbak Aan, teman Pakde Misbach. Disewain Jeep merah yang begitu nyaman, sampai diajak kulineran khas Malang. Nikmat yang luar biasa, bukan? Pokoknya lain waktu mau kayak gini lagi. πŸ˜†

Deru mobil jeep di depan rumah Mbak Aan terdengar jelas. Masih dini hari dan mataku masih terjaga karena ngga nyenyak tidur. Ini salah satu kebiasaan jelekku jika hendak bepergian dini hari, ngga bisa bobok. Padahal sudah tahu ada agenda ke Bromo, bukannya istirahat cukup, malah mata enggan terpejam. Beuuuh…

Berangkat dari Tumpang pukul 02.00 WIB, bersama Mbak Yun, Keluarga Mbak Aan, dan Pakde Misbach. Wajah lelah masih nampak jelas meski sudah dipoles bedak. Tenaga pun rasanya belum terisi penuh, padahal sudah sarapan. Ini karena sebelumnya aku dan Mbak Yun jalan-jalan di kawasan wisata Kota Batu seharian penuh. Tapi karena tarjetnya adalah sunrise Bromo, aku pun harus melawan kantuk dengan cerdas. Eh, emang bisa, gitu? πŸ˜† Bisa banget, dengan cara bobok lagi di sepanjang perjalanan Tumpang sampai Bromo. Dan tahu ngga? Di dalam Jeep, aku bisa tidur pules padahal jalan menuju Bromo, tuh, penuh liku dan tanjakan. Harap maklum, aku sudah terbiasa dengan rute jalan seperti itu. Hampir samaan dengan jalan menuju Dieng lewat Banjarnegara.

“Udah sampai Bromo, nih. Banguuun…banguun.” Β Suara Pakde Misbach ngga ada manja-manjanya. Ngga ada istilah bangunin pakai bisik-bisik, gitu. Hahaha. Aku pun langsung melek dan kaget karena melihat banyaknya Jeep yang sudah berderet di area parkir. Sepagi ini, sudah banyak orang berkeliaran di Gunung. Aah…ngga heran, namanya saja tempat wisata. Qiqiqi.

“Waaah…ini sudah di Bromo. Gunungnya gede amat. Cakep pula.” Batinku sambil memandang Gunung Batok yang saat itu kukira Gung Bromo. Ini otak kenapa ngga ada cerdas-cerdasnya, ya. Hahaha. Akhirnya…setelah menempuh perjalanan kurang lebih sembilan puluh menit, sampai juga di Bromo. πŸ˜€

Pasar Pagi Penanjakan, Bromo…

Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Sebagai sebuahΒ obyek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif, memiliki lautan pasir yang luas dan termasuk dalam kawasanΒ Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Sesampainya di kawasan Bromo, kami langsung menuju Penanjakan, salah satu tempat khusus untuk menyaksikan matahari terbit, yang saat itu ramainya udah seperti pasar pagi. Ada yang nawarin naik ojek, ada yang ngajakin jalan kaki, ada yang minta digandeng karena kedinginan, ada juga yang colek-colek punggung karena pingin cepat menikmati sunrise. Ramai gedumbreng pokoknya.

Ada yang bilang, berburu sunrise di Penanjakan, kurang maksimal. Apalagi pas akhir pekan, ramaine pool. Dan ternyata memang betul. Banyaknya orang yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu melihat sunrise, membuatku agak deg-degan. Apalagi, hampir semua orang ingin mengabadikan moment sunrise dengan lensanya. Beruntung, wisatawan bisa kalem, ngga dorong mendorong seperti sedang nonton dangdutan di kampung. πŸ˜€

Asli, aku sudah sampai Penanjakan…Hahaha

Kami di sini ngga begitu lama karena mataharinya saat itu ngga nampak penuh. Hanya semburat jingga saja. Tetap cantik, sih, cuma kurang gereget saja. Lagipula, masih ada beberapa destinasi yang akan kami datangi. Makanya, setelahnya langsung kembali ke area parkir Bromo dengan mengendarai Jeep kesayangan.

Aku baru merasakan asyiknya jalan di atas pasir dengan naik jeep. Jadi ingat iklan rokok apa, gitu. Saking pinginnya lihat pemandangan lepas, aku sama Mbak Yun minta duduk di atas Jeep. Norak banget, ya. Hahaha. Melihat panorama padang pasir dengan jelas, di sini lah aku merasa lemah, lalu memutuskan untuk dadah-dadah dengan Bromo dan lebih memilih mainan pasir.

Melihat ratusan anak tangga dan panasnya cuaca saat itu, dengan berat hati aku melambaikan tangan kepada Bromo. Padahal teman-teman nampak semangat untuk mencapai Bromo. Tapi sayang banget, semangatnya ngga nular ke aku. Hahaha. Yaudah, akhirnya mereka ngga naik dan kami duduk di sekitar Gunung Batok dan jalan-jalan di sekitar Pura Luhur Poten yang masih berada di kawasan Bromo. Andai aku putuskan untuk naik sampai Kawah Bromo, mungkin bisa sampai, sih. Tapi ngga tahu kenapa, mainan pasir lebih menggoda. Aku mainan pasir, sementara teman-teman yang lain pada pepotoan. Sama-sama menikmati. πŸ˜‰

GUNUNG BROMO 3
Butuh aquwa…hawus banget!

Cuaca makin panas, bola mataku bergerak pelan melihat arah Bromo. Saat itu juga aku meyakinkan diri. Tepat di samping Pura, aku berikrar bahwa aku pasti bisa sampai Bromo lagi. Entah kapan, yang jelas pingin ke Bromo bersama keluarga. Selain untuk menuntaskan mimpi, yaitu naik ke Bromo, aku ingin kembali ke Bukit Teletubbies. Rerumputan yang harusnya asyik banget buat indiahe-indiahe, saat itu sama sekali ngga bernyawa. Kata Pakde Misbach, kalau ke Bromo baiknya jangan di musim kemarau. Aku ke sini kalau ngga salah pas bulan September, lagi hot-hotnya. πŸ˜†

River Tubing di Kali Panaraban, Ada Alasan Kenapa Aku Akan Kembali

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”. Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman blogger di dekatku yang ikut river tubing di Kali Panaraban. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendang karena pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing kali panaraban. πŸ˜€

Kenapa minta ditendang cobak? Karena sore itu aliran sungai ngga sederas hari biasanya. Ini menjadikan tubing kerap nyantol bebatuan. Selain itu, kami sering salah jalur juga. πŸ˜† Meski demikian, kami masih sempat ketawa jahat saat melihat teman lain yang selalu berjodoh dengan bebatuan di kali. πŸ˜€

Eeeh, kamu bisa ngebayangin ekspresiku saat minta ditendang? Jadi nih ya, suaraku tiba-tiba sok manja, cengar-cengir tengil, sambil mencoba menggoyangkan tubuh yang tengah rileks duduk di atas tubing agar bisa lepas dari belenggu bebatuan. πŸ˜† πŸ˜€ Duuh…rasa-rasanya udah kayak puteri duyung versi Pretty Asmara, deh. Emang ada? Wkwkwk

RIVER TUBING PANARABAN WANAYASA
Enak zamanku to?

Sore itu, river tubing di Kali Panaraban tetap dilaksanakan, dan ini luar biasa!

Tepat pukul 15.00 WIB, aku, bersama teman-teman Blogger dari Banyumas dan Wonosobo, tiba di Balai Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Sebelum menuju Kedung Umpluk, tempat mulaiΒ tubing, aku beri tahu sedikit informasi tentang Kecamatan Wanayasa.

Masuk daerah Wanayasa, hawa dingin mulai terasa sampai dinding kulit. Karena kecamatan ini cukup dekat dengan dataran tinggi dieng, kira-kira empat puluh lima menit, tak heran jika suhu air dan udara pun hampir sama dengan Dieng. Makanya, para operator river tubing sempat memastikan kesediaan kami untuk tetap menikmati tubing, atau cukup melihat arus Kali Paraban. Dengan mantap, kami memilih untuk tetap tubing. Susur sungai sore hari dengan kondisi air yang tergolong dingin. Luar biasa, ya!

Iyalaah…soalnya sayang banget kalau sampai ngga jadi nge-tubing. Udah naik mobil terbuka selama enam puluh menit, udah lama menunggu para operator menyiapkan peralatan tubing, masak batal tubing. KanΒ ngga asyik.Β Lagipula, kalau bukan sore ini, sepertinya bakal ngga ada waktu lagi karena esok hari pasti tenaga udah lempohΒ di acara Pesta Budaya Kalilunjar.

Berbekal ketaatan padaΒ rundown, kami memutuskan untuk memakai lifejacket, pelindung kepala, decker untuk pelindung tangan dan kaki yang telah disediakan oleh teman-teman Pokdarwis Tirta Panaraban. Omong-omong, pokdarwis ini lagi hot-hotnya, lho. Baru diresmikan bulan Maret tahun 2017 berdasarkan SK dari Bupati Banjarnegara. Mereka lagi gesit-gesitnya mempromosikan potensi Desa Dawuhan. Salah satunya yaitu Kali Panaraban yang kini dimanfaatkan untuk olahraga River Tubing.

RIVER TUBING
Semangatnya ngalahin pas mau ketemu patjar. . . Hihihi

Perjalanan menuju Kali Panaraban dimulai dari depan Balai Desa Dawuhan, kemudian lanjut jalan manja melewati perkebunan dengan waktu kurang lebih sepuluh menit. Untuk meringankan para operator, tiap peserta membawa satu tubing yang nantinya akan digunakan untuk susur kali. Supaya ngga terasa berat, angkat tubing dengan dua tangan, lalu letakkan di atas kepala. Ini lebih nyaman ketimbang dijinjing apalagi dipeluk. πŸ˜† Anggap saja sedang nyunggi kerupuk, ya. Ini tip, lho. Hahaha.

Yes…akhirnya nyobain paket tubing Happy Fun

Mengingat waktu yang kami punya cukup terbatas, para operator tubing Delta Dantana menyarankan kepada kami untuk mencoba track river tubing yang paling dekat. Estimasi waktu kurang lebih satu jam dengan kondisi air kali yang ngga begitu deras. Kami pun mengangguk pasrah karena ternyata kami masuk kali jam 16.30 WIB. Brrr…

Baca juga tentang River Tubing Kali Oyo.

Satu per satu tubing mulai digelindingkan ke kali. Sebelum tubuh menyatu dengan air, Mas Alwanto (guide air) memimpin do’a untuk keselamatan aktivitas kami. Saat itu ngga ada sesi pemanasan seperti yang biasa dilakukan di depan Balai Desa Dawuhan sebelum mulai river tubing. Lagi-lagi, karena keterbatasan waktu. Tapi aku percaya, para Operator Delta Dantana tuh tangkap, tangkas, dan trengginas, seperti moto mereka. Ini lah yang membuatku cukup tenang. Terpenting selalu ada komunikasi, baik dengan teman maupun operator. πŸ˜‰

PERSIAPAN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Buuuk, gayanya biasa aja bisa, kaaan?

Satu per satu kaki masuk ke dalam air. Nyesss…celana pun mulai basah.Β Brrr…duiingin, asli dingin banget. Tapi melihat semangat para Operator, dingin pun berhasil tersamarkan sampai akhirnya aku bisa duduk di atas tubing dengan bahagiaaaaa! πŸ˜‰

Paket tubing yang kami jajal sore itu adalah Happy FunΒ dengan jarak tempuh kurang lebih 1 km. Jika debit air sedang tinggi, jalur ini bisa ditempuh dengan waktu lima belas menit. Menurut Pak Supri, pegiat Desa Wisata setempat, jalur ini biasanya diambil oleh anak-anak SD atau SMP. Jeramnya memang ngga begitu banyak dan pendampingannya pun mudah. Cukup aman buat anak-anak.

Arus sungai lebih sering membawa kami ke sebelah kiri di mana pepohonan itu bergelantungan. Kalau seperti ini, harus fokus ke depan supaya ngga kesambet. Yaa…meski hanya kesambet dedaunan, ternyata sukses bikin kaget, lho. Kaget plus sedikit perih, meski ngga seperih pas tahu kalau babang gebetan ternyata sudah punya tunangan. πŸ˜† Β πŸ˜€

ASYIKNYA RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Benerin helmet duluu…

River tubing dengan debit air rendah memang kurang asyik dan kurang menantang. Tapi pas melihat teman-teman lain pada temangsang di bebatuan, rasanya pingin ngakak-ngikiks. Apalagi yang temangsang itu cewek, kayak Eci dan Tiwi. Hanya bisa menunggu Babang-babang guide datang, lalu menggoyangkanΒ hatinyaΒ tubingnya. πŸ˜€

“Tendang akuuu, ayo tendang akuuuu! Aku rela ditendang!”.

Ngga sekali, dua kali, aku minta ditendang oleh teman-teman yang berada di dekatku. Jahat? Ngga, aku justeru bahagia jika ada yang menendangku. Artinya, pelan-pelan tubing yang aku naiki akan bergeser melanjutkan arus river tubing. Jadi guidenya ngga berat-berat banget laah.

Disambut Api Unggun…

Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib dan kami masih di dalam air. Hahaha. Panik? Ngga, dong! Banyak orang di sekitar kali, banyak teman yang masih di atas tubing, dan hanya aku yang temangsang. Duuh…nasib puteri duyung, ya. πŸ˜†

API UNGGUN RIVER TUBING PANARABAN BANJARNEGARA
Dibuatin Api Unggun…

Beruntung banget sesampainya di Rest Area, kami disambut api anggun yang memang selalu ada untuk para eserta tubing. Aaah…nikmat banget. Meski sebenarnya ada yang kurang, yaitu anget-anget yang lain. Mendoan, misalnya. πŸ˜† Etapi sajian khas di sini bukan mendoan, melainkan tempe wudha. Itu lho, tempe goreng yang ngga dipakein tepung. Hahaha. Tempe ditambah nasi jagung dan ikan asin. Yuummii banget, ya.

Sajian khas lain setelah tubing yaitu ada aneka camilan berbahan dasar singkong. Ya, Desa Dawuhan termasuk salah satu desa penghasil singkong. Duuh…sayang banget, yaa. πŸ˜‰

River tubing ini bisa dibilang dadakan karena ada miss antar penyambung komunikasi. Meski apa adanya, aku tetap bahagia. Apalagi karena obyeknya air, uuw…tambah bahagiaa.

Tentang Desa Wisata Tirta Panaraban

Desa Wisata Tirta Panaraban dan Wisata River TubingΒ digagas oleh H. Sakim, S.Pd, Kepala Desa setempat. Ide untuk menjadikan wisata river tubing ini muncul saat di Desanya sedang ada pelatihan rescue. Para pemuda Desa Dawuhan dilatih langsung oleh BPBD Kabupaten Banjarnegara. Nah, saat kegiatan sosial sedang senggang, BPBD mengarahkan para pemuda ke Kali Panaraban untuk belajar menjadi rescue. Dari sini, akhirnya masyarakat sepakat untuk menjadikan Kali Panaraban sebagai obyek wisata olahraga yang dikelola secara swadaya.

Sebelum dimanfaatkan untuk river tubing, Kedung Umpluk, kedung yang berada di bawah jembatan bambu, penuh dengan sampah. Ngga hanya di kedung saja, hampir sepanjang aliran sungai bertebaran sampah sampai ke pinggir sungai. Hmmm…mengerikan, ya. Bukan hanya sampah saja yang menjadikan kali ini ngga sehat, ada tingkah laku manusia juga yang membuat ekosistem di kali ini nyaris hilang. Adalah tangan-tangan jahil manusia yang suka meracuni atau setrum ikan. Hiiih…ngeselin, ya. Pingin njeweer rasanya. Weeerrr…

RIVER TUBING PANARABAN
Jeraam….

Sekarang kamu bisa lihat kondisi Kali Panaraban lewat foto-foto di sini. Lebih bersih, bukan? Aku yang menyusuri sungai saja betah mainan air di sini. Hanya saja, di beberapa titik ada pepohonan yang menjuntai sampai kali dan ini cukup mengganggu aktivitas tubing.

Saat ini, pihak Pokdarwis terus meningkatkan fasilitas untuk river tubing, khususnya. Seperti pengadaan sepatu untuk para wisatawan. Selain wisata tubing, mereka juga pelan-pelan mengenalkan potensi daerah seperti kerajinan tangan, dan camilan khas setempat.

Dan ini alasanku kenapa ingin kembali tubing di Kali Panaraban

Idih…manusia emang ngga ada puasnya, ya. Hahahaha. Ngga, kok. Aku cukup puas dengan tubing ini. Hanya saja, aku pingin nyobain yang paket Full Adrenalin.Β Jalurnya lebih panjang, lama, dan banyak jeramnya. Tubing dimulai dari bawah aliran Curug Panaraban dan Finish Rest Area. Sekalian main ke Curug. Jarak tempuh kurang lebih 4 km, waktu yang dibutuhkan 90 menit, dan harga untuk paket ini yaitu 140.000 per orang.

Ada satu paket lagi dengan track sedang, yaitu paketΒ Adrenalin.Β Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 60 menit kalau debit air lagi tinggi. Jarak tempuh 2.5 km, dimulai dari Desa Sarwodadi, dengan biaya Rp 75.000 per orang. Untuk dapat menikmati olahraga ini, minimal harus ada lima peserta baru bisa susur Kali Panaraban.

Selain nyobain paket Full Adrenalin, aku pingin juga nyobain masakan mamak-mamak Desa Dawuhan yang katanya endeeus banget. Pingin ngerasain api unggunan, sambil makan nasi jagung. Pingin nyobain aneka camilan dari singkong. Pingin ngobrol lebih lama dengan para operator Delta Dananta (Destinasi Lintas Air, Dawuhan Tangguh Bencana). Abis mereka tetap keliatan semangat nemenin kami ber-tubing, meski udah sore dan airnya dwingiiiinnn.

Kira-kira, kapan ke Dawuhan lagi, ya. Ada yang mau ikut? ^_*

River Tubing Kali Panaraban

  • Alamat: Desa Dawuhan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara
  • Kontak: +62812 1022 4432 (Pak. Supri)
  • Instagram: @tubingx_panaraban

 

Sowan Ngalas 2017, Menyambangi Kesederhanaan Hutan

Pakaian yang dikenakan mereka didominasi dengan warna hijau. Tiap hari, tiap waktu, nyaris tak pernah ganti. Mereka hidup namun hanya bisa pasrah, pakaian akan semakin hijau, atau berganti cokelat, pekat.

Mereka bernapas namun hidupnya bergantung pada makhluk hidup, manusia khususnya. Mereka, pepohonan di hutan. Akan menjadi lebih baik atau sebaliknya, betul-betul bergantung pada tingkah laku kita sebagai manusia. Ya, sesederhana ini mereka dapat “hidup bahagia”. Hutan makin bahagia, apalagi dengan ekosistem yang ada di sekitarnya. Akan bahagia juga, bukan? Seperti yang kurasakan saat menghadiri event Sowan Ngalas 2017 yang berlokasi di Desa Pesangkalan, Kecamatan Pagegongan, Banjarnegara. Bahagia melihat hutan yang dijaga, dirawat oleh masyarakat Pesangkalan.

Sowan ngalas diambil dari bahasa jawa yang berarti berkunjung ke hutan. Bagi masyarakat Pesangkalan, hutan yang mereka miliki termasuk rezeki yang patut disyukuri. Ya, selain tanahnya subur, hutan di sini begitu rimbun. Tak heran jika masyarakat memanfaatkan kekayaan hutan untuk wana wisata.

SOWAN NGALAS
Jalan sudah beraspal. Pepohonan ada di kiri kanan jalan…

Bersama keluarga, dan teman-teman @vinslog, kami turut menyaksikan sebuah gelaran unik dan menarik yang diselenggarakan oleh Desa Pesangkalan. Ya, event ini begitu nyentrik. Terlebih jika dilihat dari rangkaian acara yang ada di event: Kirab Budaya, Jamasan Pusaka, Sadranan, Jazz Hutan dan Grebek Rakan. Menarik banget, ya.

Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 45 menit dari titik kumpul yaitu alun-alun Banjarnegara.Β FYI,Β rute bersama untuk sampai Desa Pesangkalan sudah aku tulis, ya. Penting baget buat ditulis karena ada obyek wisata alami di sana, yaitu Wana Wisata Curug Pletuk. Siapa tahu kalian pingin singgah ke curug saat sampai di Banjarnegara, kelak. Kan tinggal klik blog postku. πŸ˜†

SOWAN NGALAS 2
Terpampang dalam bingkai wajah-wajah Kepala Desa Pesangkalan dari waktu ke waktu…

Acara sowan ngalas yang dimulai dari Kirab Budaya dijadwalkan mulai jam 09.00 WIB. Kami sampai di Lapangan Desa Pesangkalan jam 10.00 WIB dan acara belum dimulai. Antara alahamdulillaah dan innalillaahi. Hahaha. Asyik sih ngaret, jadi aku masih bisa menyaksikan prosesi kirab dari awal. Tapi ya innalillaahi juga, ngaret sampai 1 jam. Hihihi.

Sesampainya lapangan desa, ternyata masih sepi. Kami pun memutuskan untuk kembali menyalakan sepeda motor dan melanjutkan perjalanan sampai parkiran bawah curug.

Btw, beberapa titik jalan menuju parkiran masih berupa bebatuan yang belum tertata. Tapi masih aman, kok. Terpenting kondisi sepeda motormu fit, termasuk rem dan ban.

SOWAN NGALAS PAGEDONGAN
Usai jamasan pusaka…

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberi sambutan sekaligus membuka acara Sowan Ngalas. Dipimpin oleh sesepuh Desa Pesangkalan, Kirab Budaya dimulai dari lapangan desa Pesangkalan.

Rama Salim, namanya. Beliau berada di barisan paling depan dan membawa benda-benda pusaka. Beliau ngga sendirian, tiap baris terdapat tiga orang. Ada juga sesepuh desa yang mengenakan baju adat juga turut mengawal prosesi kirab. Mereka ada yang membawa foto kepala desa dari waktu ke waktu, ada juga prajurit-prajurit yang bertugas membawa tumpeng.

SOWAN NGALAS KIRAB BUDAYA
Merawat benda-benda pusaka penggalan…

Wana Wisata Curug Pletuk menjadi tujuan akhir Kirab Budaya. Di sini dilakukan ritual jamas pusaka tepat di bawah gemricik air terjun Pletuk. Sebenarnya aku cukup penasaran dengan prosesi ini karena hanya beberapa orang saja yang melaksanakannya. Ada Rama Salim didampingi beberapa prajurit, dan juga media untuk keperluan dokumentasi. Tadinya aku pingin lihat detail prosesinya, tapi melihat pusaka yang dibawa Rama Salim, kok deg-degan, ya. Hahaha. Yaudah, akhirnya aku menunggu di bawah.

“Pusaka apa, sih, yang dibawa Rama Salim dan Prajurit ngalas?” Batinku saat itu saking penasarannya. Setalah kutanyakan melada sesepuh Desa, ternyata ada beberapa benda pusaka yang dipercaya sebagai pelantar penerang hujan. Tombak Ronggo Jati, namanya.

Aku baru pernah melihat pusaka tersebut. Kalau cerota-verita, entah itu mitos atau fakta sih pernah mendengar ada pusaka yang bisa digunakan sebagai pelantar penerang atau bahasa Banjarnegara yaitu penangkal hujan. Eeeeh…kalau kalian ngga percaya akan hal ini, jangan diambil hati, ya. Karena ini termasuk tradisi atau kepercayaan masyarakat Pesangkalan. Jadi, hargai saja. πŸ˜‰

SOWAN NGALAS BANJARNEGARA
Tumpeng dan aneka jajan pasar. . .

Acara Jamas Pusaka ngga sampai satu jam. Usai dibasahi menggunakan air yang dalam kendil, pusaka kembali ke tangan Rama Salim untuk disimpan kembali.

Omong-omong, pada acara jamas pusaka, tuh, ngga ada sambutan, tutur kata, baik dari Dinas maupun Sesepuh. Dari awal sampai akhir, ritual berjalan dengan tertib dan hening. Selain prosesi jamas pusaka, ada satu hal lagi yang membuatku penasaran, yaitu tumpeng.

Ya, kenapa tumpeng yang telah diarak dari Lapangan Desa Pesangkalan sampai Curug dengan jarak tempuh kurang lebih 3 km ngga dinikmati di kawasan curug? Bukankah lebih nikmat jika dimakan bersama di area wana wisata curug pletuk? Hahaha. Mungkin memang harus dibawa kembali karena setelahnya akan lanjut acara sadranan kalik, ya. πŸ˜†

SOWAN NGALAS 2017 copy
Anak-anak menikmati padusan…

Hampir seluruh masyarakat, wisatawan, kembali ke lapangan Pasangkalan untuk turut menikmati tumpeng yang telah disiapkan oleh ibu-ibu dasa wisama setempat. Saking ramainya pengunjung yang turun, aku bersama teman-teman memilih untuk melihat anak-anak yang sedang asyik padusan sampai lupa kalau di bawah akan ada acara.

Padusan atau mandi di sungai aliran air dari curug ini termasuk bagian dari rangkaian acara sowan ngalas. Tradisi ini bertujuan untuk mensucikan diri. Tepat sekali, sowan ngalas digelar menjelang bulan suci ramadhan. Sebagai salah satu wujud syukur masyarakat Desa Pesangkalan.

SOWAN NGALAS PESANGKALANKembali dibawa ke Lapangan Desa Pesangkalan. . .

Aku bersama teman-teman memilih untuk tetap di kawasan curug. Ngga bergabung dengan masyarakat untuk ikut sadranan. Padahal sebenarnya sudah lapar. πŸ˜† Naik sampai bibir curug, mainan air di bawah aliran curug, dan duduk-duduk di gazebo. Itu yang kami lakukan di curug. Asyik banget Β curug pletuk!

BtwΒ usai sadranan, masih ada beberapa acara yang akan digelar yaitu jazz hutan pada malam harinya, dan ada grebek rakan esok harinya. Sayang banget, saat itu kami ngga bisa nonton jazz hutan karena suatu sebab. Padahal sih udah penasaran banget dengan acara ini. Secara ada jazz di tengah hutan, suasanannya pasti syahdu banget, ya. Perpaduan suara musik alam dan alunan jazz. Wuuh…

Tahun depan datang lagi ke acara ini, dong. Karena kata Pak Kadinpar, sowan ngalas akan dimasukan menjadi event tahunan. Dan 2017 menjadi tahun pertama, dan bisa dibilang ramai. πŸ˜‰

Jelajah Curug Sikopel Bareng Vinslog dan Explore Babadan

Aaaak…aku mau norak dulu, yaaaaa. Jai nih, blog post ini telah publish di Majalah Candi Edisi Agustus. Majalah yang ditebitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah. Yeeeea la la la la. Eh, sebenarnya ini bukan kali pertama tulisanku terbit di sana, sih. Sebelumnya, tulisan berjudul warna-warni agrowisata lembah asri juga pernah mejeng di sana. Bedanya, objek wisata yang aku tulis kali ini adalah destinasi wisata milik kota kelahiranku, Banjarnegara. πŸ˜† Jadi ya, tambah bungaaaah!

Yaudaaaaah, pamer noraknya cukup sekian. Lanjut baca pengalamanku jelajah curug sikopel, yuuuk! πŸ˜†

Sehari sebelum berangkat jelajah, ada sedikit drama yang bikin galw dan sedih. πŸ˜€ Aku mendapat kabar dari Mas Ofie, aktivis pokdarwis Babadan yang ada di balik akun instagram @explorebabadan. Dia mengabarkan bahwa ada pohon tumbang di Desa Clapar, dan pohon tersebut menghalangi lalu lintas jalan. Sedihnyaaaa. πŸ™

Melihat besarnya pohon melalui foto yang dibagikan, sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk dapat menyingkirkannya sampai bisa dilewati kendaraan. Pasalnya, hari sudah sore, kira-kira jam 16.00 WIB. Kami pun hanya bisa pasrah menunggu kabar dari Mas Ofie.

Sekadar informasi, kontur tanah mulai dari Desa Clapar sampai Pagentan cukup labil, dan rawan longsor. Makanya, jalan menuju Desa Babadan pun tidak mudah. Ada beberapa titik jalan yang rusak meski ngga terlalu parah. Beberapa kali telah diaspal pada titik jalan tersebut, tapi ngga bertahan lama. Beruntung, bebatuan kecil yang cukup tertata sudah kuat tertanam. Jalan pun dapat dilewati kendaraan dengan aman, meski tetap harus hati-hati.

Alhamdulillaah, pagi hari ada kabar baik dari Mas Ofie yang tak lain mengabarkan bahwa lalu lintas di Desa Clapar sudah kembali normal. And yeeey, Curug Sikopel menjadi destinasi jelajah pertama bareng teman-teman @vinslog. πŸ˜†

Lapangan Desa Babadan…

Perjalanan dimulai dari The PIKAS yang merupakan titik kumpul paling strategis. Kami termasuk golongan orang beruntung karena hari itu cuaca sangat cerah. Ngga kebayang, jika hujan. Uumh…pasti perjalanan akan terasa lebih panjang, dan kenyataan pahit eksplor bisa dibatalkan. Menyedihkan.

Melewati Pasar Madukara, Desa Clapar, dan sampai pada jalan menanjak, terus menanjak. Temurun, lalu berliku. Menanjak, dan sesekali harus melewati jalan rusak. Persis perjalanan hidup, ya. Ngga melulu mulus, ada rintangannya. Hihihi. Kami pun terus menikmatinya dengan tawa alih-alih mensupport sepeda motor yang kami naiki agar tetap kuat. Sekuat kami yang mengendarainya.

Kurang lebih enam puluh menit perjalanan yang telah ditempuh, kami pun sampai pertigaan antara arah kanan menuju Kecamatan Batur, dan terus lurus menuju Curug Sikopel.

Jelajah ditemani @explorebabadan dan @nonakeripik. . .

Sekadar informasi, di sini ada dua warung makan. Ada baiknya isi perut dahulu jika sudah terasa lapar, karena trekking Curug Sikopel cukup panjang. Jalan setapak naik turun, tentunya akan menghabiskan banyak energi. Sebenarnya di tempat parkir Curug juga terdapat warung kecil, tapi baru menyediakan air mineral dan camilan. πŸ˜‰

Dari pertigaan, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai area curug. Sesampainya di tempat parkir, kami membayar biaya parkir Rp 2.000 per kendaraan, dan tiket masuk Rp 3.000 per orang. Harga tiket yang sangat terjangkau untuk sebentuk wisata alam, bukan?

Mengenakan kaus oblong warna abu-abu dengan panorama Sikopel yang melekat di dadanya, Mas Ofie berjalan ke arah kami. Kami langsung bisa menebak bahwa itu Mas Ofie meski sebelumnya kami belum pernah berjumpa. Ya kan di profil whats app ada fotonya yang kece itu. Hahaha.

“Luar biasa medannya, Mas.” Aku menepuk bahu Mas Ofie sebagai pengganti salam sapa. Dia hanya mengangguk, dan memberi senyum termanis yang menurutnya bisa menghilangkan lelah. Ya ampun, narsis banget, ya.

Eh, Mas Ofie tuh punya tim yang siap menemani wisatawan eksplor curug di Babadan, termasuk Curug Sikopel ini. Selain Mas Ofie, kami ditemani Mas Mahdun, ketua Pokdarwis setempat. Mantap jiwa! πŸ˜†

CURUG SIKOPEL GERBANG
Gerbang dan pepohonan albasiaaaa…

Melewati gapura bertuliskan “Curug Sikopel”, trekking pun dimulai. Beberapa gazebo yang berdiri di tengah hutan, seakan memanggilku, mengajak bercerita. Namun aku harus menemui Sikopel terlebih dahulu. Layaknya teman, aku dadah-dadah kepada si gazebo sembari berteriak: ‘heeei, nanti aku akan menemuimu.’ Teman-teman yang jalan bersamaku nampak bingung dengan tingkahku. Mirip orang sinting kalaik, ya. Hahaha.

Memandang Sikopel dari jauuuuh…

Babadan, sebentuk Desa di Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, mulai diburu wisatawan karena banyak “surga tersembunyi” di dalamnya. Keindahan alam bernama curug di Babadan memang ngga hanya satu, dua, yang dapat dieksplor. Namun ada satu yang sudah dikenal dan memang istimewa, yaitu Curug Sikopel.

Sikopel merupakan curug yang begitu menarik dan eksotis. Yang membuat curug ini istimewa, karena debit airnya lebih tinggi dibanding curug lainnya di Babadan. Ini juga menjadi salah satu alasan para wisatawan menjadikan Sikopel destinasi utama saat jelajah Babadan. Selain itu, terdapat dua curug lagi di lokasi yang sama. Yaitu Curug Silunjar dan Curug Sijurang.

“Kamu baik-baik saja, Dah?” Tanya Gianti sambil membersihkan lensa kameranya yang hendak digunakan untuk merekam jejak.

Hosh…hosh…hosh…

Suara napas mulai terdengar tak beraturan. Aku yang berjalan berdampingan dengan Umi, merasa ngga enak. Padahal perjalanan baru dapat setengahnya, dan jalan terus temurun. Ngga kebayang saat pulang nanti, harus naik, dan terus naik. Beruntung, Mas Ofie dan mas Mahdun selalu di belakang kami. Mereka jalan pelan sambil bercerita, dan sharing tentang Curug Sikopel yang katanya akan mulai dipercantik dengan selfie deck dan peraga lain yang dapat menarik perhatian wisatawan.

Karena sedari awal trekking sudah mendapat view Sikopel dari atas yang sangat menggoda, aku pun terus semangat jalan dooongs. πŸ˜‰

Byuuuur…duduk di depan Sikopel ini…

Dua puluh menit trekking, curug paling istimewa sudah di depan mata!

“Aaaak….segar banget!” Teriakku sambil lari menuju bibir Sikopel. Debit airnya memang tinggi, aliran airnya deras banget, dan mata airnya begitu bening. Rasa-rasanya ingin segera menyatu. Sayang banget, Mas Ofie ngga mengizinkan kami “memeluk” Sikopel. Ya, wisatawan ngga diperbolehkan mendekat, apalagi mandi tepat di bawah curug Sikopel. Wisatawan hanya diizinkan menyapanya sampai batas berupa bebatuan besar yang biasa digunakan untuk berfoto dengan background Sikopel.

“Bawah curug persis berbentuk mangkuk, dan entah berapa kedalamannya. Ngga datar seperti curug pada umumnya. Takut wisatawan ngga bisa mengendalikan diri karena derasnya air.” Jelas Mas Mahdun.

“Tapi kalian bisa main air di aliran sungai ini. Deras juga, kan.” Tambahnya.

Sumber air lainnya…

Sekadar menyegarkan kaki, aku bersama Umi dan Gianti, turun ke Sikopel sampai jarak kurang lebih sepuluh meter dari air terjun. Sementara Mas Imam, Mas Jeim, Mas Mefta, terlihat sibuk memainkan kameranya. Ada juga yang merekamnya menggunakan drone, Si Rois. πŸ˜‰

Berbeda dengan mereka, aku malah ngoceh sendiri di depan kamera, membuat vlog centil. Hahaha. Seakan ngga peduli lensa kamera kena percikan air terjun, vlog centil terus berlanjut. πŸ˜† Setelahnya, bingung kamera menjadi lambat buat ngeshoot. Wkwkwk

CURUG SIKOPEL
Jangan lupa narsis kek ginii…

Curug Sikopel cukup luas. Diambil dari sudut manapun, ia tetap terlihat gagah dengan debit airnya yang tinggi. Ia tetap terlihat eksotis dengan bebatuan tua berlumut di sekitarnya. Ia tetap indah dengan rimbunnya pepohonan di sekelilingnya. 

Sikopel, curug paling istimewa di Babadan. Sesekali, datang lah ke Babadan untuk menyapanya, menikmatinya. Dan kalau masih punya banyak waktu, sambangi juga Curug lainnya. Tinggal kontak mamas-mamas @explorebabadan, mereka pasti akan mengantar kalian ke Curug Sirongge, Curug Sicode, Curug Silumpang, dan Curug Sigopet, yang lokasinya ngga jauh dari Sikopel.

Makasih banyak buat @explorebabadan!