Nyadran Gede di Pemakaman Ki Ageng Giring, Gumelem

Beragam tradisi untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan di beberapa daerah, Jawa Tengah khususnya, terus dilestarikan. Mulai dari Padusan, Keramas Masal, Dugderan, sampai pada Nyadran. Tentang tradisi ini, aku baru mengenal nyadran, itupun di desa sendiri. Makanya ketika mendengar ada acara nyadran gede, aku penasaran dan tertarik untuk mengikutinya.

Kamis (25/5), aku bersama suami, dan juga Yasmin mengikuti acara Nyadran Gede di Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Tradisi ini dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis, seminggu sebelum ramadhan. Dipilih hari terdekat diantara dua hari tersebut.

Ini bukan kali pertama kami ke Desa Gumelem. Namun, menjadi pengalaman pertama kami mengikuti Nyadran Gede. Selain tradisi, Nyadran Gede merupakan acara tahunan yang telah masuk kalender event Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Tak heran, jika yang turut Nyadran bukan hanya masyarakat Gumelem, namun para kerabat Keraton Surakarta, dan Sekda Banjarnegara pun turut.

Sesampainya di Gapura masuk Desa Gumelem, kami berhenti di pos ojek untuk mencari informasi tentang lokasi Nyadran Gede.

“Lurus terus, sampai balai desa ambil kanan. Nanti sampai Pemakaman Ki Ageng Giring” Petunjuk yang aku dapat dari babang ojek cukup jelas. Kami pun permisi untuk melanjutkan perjalanan.

Menuju Pemakaman Ki Ageng Giring

Sepeda motor yang kami naiki melaju cepat karena ada rasa was was akan ketinggalan nyadran. Sampai di depan Balai Desa Gumelem Wetan, pertunjukan kuda kepang sudah dimulai.

“Duuh…bisa jadi, nyadran sudah dimulai.” Batinku pesimis karena di sekitar Balai Desa sepi. Hanya ada sekelompok anak muda yang sedang bermain kuda lumping. Kemungkinan besar aku tidak bisa ikut nyadran dari awal. Dan firasatku betul saudara-saudaraaaa!

Melewati jalan masuk pesarean Ki Ageng Giring, beberapa mobil ber plat merah sudah berjejer rapih. Atas saran dari hansip desa yang menjaga tempat parkir, kami pun melanjutkan perjalanan sampai kompleks Pemakaman. Luar biasa! Di kompleks pemakaman ini sudah ramai. Terlihat para tamu undangan duduk di sekitar Paseban Gumelem, tepatnya di pelataran pemakaman Ki Ageng Gumelem. Para pedagang yang berjualan di sekitar kompleks pemakaman juga ramai.

NYADRAN GEDE GUMELEM BANJARNEGARA
Kompleks Pemakaman Ki Ageng Gumelem, Paseban Gumelem. . .

“Mari aku antar naik, Mbak. Nyadran baru saja dimulai.” Sebabang ojek yang mengenakan kaus biru menghampiriku, dan mengajakku naik. Aku pun kaget karena masih bingung melihat keramaian sekitar pemakaman.

“Baaang, memangnya mau naik kemana?” Tanyaku penuh penasaran, dan juga takut. Ya, takut diajak naik pelaminan. 😀

Setelah ngobrol bentar, ternyata kami akan diantar ke Pemakaman Ki Ageng Giring yang mana berlokasi di Bukit Girilangan. Ternyata kompleks pemakaman yang sudah ramai orang bukan Pemakaman Ki Ageng Giring, melainkan Ki Ageng Gumelem. 🙂

Ke Bukit Girilangan Bareng Babang Ojek

Babang ojek ini baik banget. Melihat aku bawa ransel merah, mungkin dia tahu kalau aku bukan warga Gumelem. Usut punya usut, setelah ketemu dengan Pak Udin, Kasi Umum Dinbudpar, ternyata semua babang ojek yang mengenakan seragam biru ini memang sudah ditugaskan untuk mengantar siapapun yang akan ke makam Ki Ageng Giring.

Jalan menuju makam Ki Ageng Giring merupakan jalan bebatuan, dan belum diaspal. Bebatuan kecil yang sudah tidak tertata, dan tanjakan yang cukup terjal membuatku cukup merinding karena aku membawa Yasmin. Akhirnya kupercayakan perjalanan ini kepada Babang Ojek. Kalau kata suami, mending lambaikan tangan, atau jalan kaki ketimbang dia harus nyetir motor sendiri. 😆 😛

NYADRAN GEDE 2
Di depan Pemakaman Ki Ageng Giring

Babang ojek berhenti di bawah tanjakan menuju pemakaman. Kami pun turun, dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ngos-ngosan sudah barang pasti karena pemakaman Ki Ageng Giring berada di bukit. Berjalan kurang lebih lima menit, kami sampai Bukit Giringlangan, tempat keranda Ki Ageng Giring dimakamkan.

Kenapa yang dimakamkan hanya kerandanya saja? Nanti aku tulis terpisah, ya. 😛

Nyadran di Pemakaman Ki Ageng Giring

Enam laki-laki yang mengenakan pakaian adat jawa berjaga di pintu utama pemakaman. Di sini ternyata tidak kalah ramainya. Banyak masyarakat yang membawa ancak (talam dibuat dari anyaman), pejabat daerah, dan anak-anak sekolah pun turut menghormati acara ini.

NYADRAN RAMADHAN

Sayup-sayup terdengar suara tahlil dari cungkub atau makam Ki Ageng Giring. Aku betul-betul terlambat karena menurut Mbah Darisan, wakil juru kunci sekaligus tukang sapu pemakaman ini, nyadran atau ziarah sudah berlangsung, dan tidak lama lagi selesai. Kami pun turut bergabung di pelataran cangkub, dan membaca lanjutan tahlil yang dipimpin oleh juru kunci makam.

Usai mendoakan Ki Ageng Giring, satu per satu pejabat daerah keluar dari cungkub. Beberapa dari mereka ada yang kembali turun menuju kompleks pemakaman Ki Ageng Gumelem. Selebihnya, menunggu di bukit girilangan untuk menyantap hasil bumi yang telah disediakan.

NYADRAN GEDE 4
Kompleks Pemakaman Ki Ageng Giring

Aku kira nyadran telah usai, tapi ternyata belum. Sebelum adzan dzuhur berkumandang, juru kunci masih mempersilakan pengunjung untuk mendoakan Ki Ageng Giring. Setelahnya, barulah dimulai ritual adat nyadran, dan kenduri atau makan bersama di kompleks bukit girilangan. Merasa masih ada kesempatan, kami pun turut bergabung, tahlil, dan doa bersama di makam.

Sedihnya, Kami Gagal ikut Kirab

Kirab Babad Dalan Giling, dan Kirab Adat Sadran Gede. Dua kirab ini terlewati karena kami telat datang. Padahal, dua kirab ini sangat aku nantikan. Menyedihkan, bukan. 🙁

Menyaksikan puluhan perempuan menggendong ancak, seperti melihat perjuangan pada dahulu kala. Apalagi ini digendong dari Balai Desa Gumelem menuju Bukit Girilangan dengan jarak tempuh kira-kira 1 km. Betul-betul taat, dan penuh pengabdian, ya.

NYADRAN GUMELEM 58
Di sini acara kenduri untuk masyarakat Gumelem…

Belum lagi iring-iringan kirab yang diikuti para sesepuh Desa, juru kunci makam, dan pejabat daerah yang mengenakan baju kebesarannya, baju adat khas Jawa. Rasa-rasanya seperti kilas balik enam abad yang lalu, di mana para pengikut, dan para santri Ki Ageng Giring dengan setia menemani perjalanan Ki Ageng Giring kemanapun.

Sayang banget saat itu kami tidak menyaksikan moment tersebut. Semoga diberi umur panjang, tahun depan bisa datang lebih awal untuk turut kirab, dan tentunya dengan jalan kaki tanpa babang ojek supaya bisa menikmati tradisi nyadran gede. Bisa lebih khidmat mengikuti tradisi Nyadran Gede.

Kenduri, atau Makan Bersama di Bukit Girilangan

Adzan dzuhur berkumandang. Seluruh masyarakat bersiap-siap untuk makan bersama. Mempersiapkan nasi giling beserta lauk tradisional yang sudah dibawa oleh masyarakat Gumelem Wetan.

Siap makan bersama…

Di Bukit Girilangan terdapat semacam pendapa khusus untuk acara. Makanan pun ditata, berjejer memenuhi bukit untuk dikepung bersama. Sementara para tamu undangan yang nyadran di pemakaman Ki Ageng Gumelem turut bersiap-siap untuk acara Pisowanan di Paseban Gumelem. Pisowanan di sini merupakan acara puncak Nyadran Gede. Acara ini diisi dengan sambutan-sambutan, santap ancak, dan tenong.

Masyarakat Gumelem santap ancak di Bukit Girilangan. Sementara para tamu undangan di Paseban Gumelem. Karena pukul 14.00 WIB Ayah Yasmin ada keperluan, kami pun tidak ikut bergabung menikmati ancak. Berdoa lagi, semoga tahun depan bisa mengikuti nyadaran dari awal sampai akhir. 😉

Bangkok, dan 5 Destinasi Impian yang Manja

Punya teman yang perhatian, dan baik adalah berkah. Terlebih, saat mereka terus ingat, bahwa punya teman baik (juga). Tak peduli dengan jarak, apalagi status. Bahagia banget, euy!

“Idah sudah pernah naik pesawat?”

“Sudah.”

“Idah sudah pernah traveling keluar negeri?”

“Belum.”

“Tapi sudah punya paspor, kan?”

“Belum.”

“Juni traveling ke Jepang, ya. Bikin paspor dulu, aku tunggu di sini.”

Satu bulan lagi menuju Juni. Sayangnya, percakapan di atas terjadi dua tahun yang lalu. Teman baik yang aku kenal semenjak SMA, saat itu sedang tugas belajar di Jepang. Saking baiknya, dia ingin mentraktirku. Namun aku belum bisa menerima traktirannya karena aku baru masuk kerja di sebuah Instansi. Tergolong pegawai baru, gitu.

“Ini anak baru mulai kerja, kok, udah berani izin. Ngga benar, ini.”

Aku betul-betul ngga memiliki keberanian untuk izin, apalagi mengajukan cuti. Takut mendapat anggapan, atau pendapat buruk dari teman-teman kantor yang bikin sakit hati. Traveling ke luar negeri dengan jaminan traktiran pun gagal. 😛

Tawaran serupa kembali datang. Kali ini dari saudara yang saat ini sedang melanjutkan study di sana. Dia ingin, aku bersama keluarga kecilku menyambanginya selagi dia di Jepang.

“Yakin ke Jepang?” Tanya adikku setengah memastikan.

“Kenapa ngga yakin? Ada saudara di sana, kok.”

“Emangnya kalau ada keluarga di sana, kelar hidup loe?” 😆

Eiiiits…busyet, deh. Bikin goyah.”

“Asean dulu, lah. Traveling yang dekat-dekat dulu. Pelan-pelan merasakan atmosfer negara tetangga. Lagipula ngga harus ada saudara, kan? Tanpa saudara, teman justeru makin bertambah.”

Asli. Ini bikin rencana buyar, dan iman menjadi goyah. Niat ingin memesan tiket pesawat lebih awal pun, terpaksa aku urungkan. Memang jika ada saudara yang welcome, rasanya lebih tenang. Apalagi kalau sudah jelas sedang menetap di negara yang hendak dikunjungi. Pasti akan sangat terbantu nantinya. Uunch

Karena iman sudah terlanjur goyah, dengan beberapa pertimbangan, aku memilih trip ke asean terlebih dahulu sebagai perkenalan, dan Ibukota Negara Thailand menjadi destinasi impian pertama yang ingin aku kunjungi.

Thailand dikenal sebagai negara yang cantik dengan berbagai adat budaya, dan keindahan alamnya. Selain banyak pantai cantik yang tersebar di seluruh penjuru negeri, Thailand juga punya Bangkok yang tak hanya menjadi Ibukota Negara tapi juga memiliki destinasi wisata andalan Negeri Gajah Putih itu.

Pantai bukan destinasi utama yang ingin aku kunjungi, karena aku ingin piknik manja, gitu. Traveling yang ngga membutuhkan banyak tenaga. Jalan beberapa menit, dapat tempat wisata yang asyik. Naik transportasi umum ngga sampai satu jam, bisa melihat objek yang memikat. Uuuh…manjaaa!

Rencananya, sih, aku akan menghabiskan waktu dua hari di Bangkok. Dan berikut 5 destinasi impian di Bangkok yang ingin aku kunjungi:

Siam Ocean World

Begitu sampai Bangkok, aku ingin menyenangkan Yasmin terlebih dahulu dengan destinasi yang satu ini. SEA LIFE Bangkok Ocean World. Salah satu akuarium terbesar di Asia Tenggara.

Ya, Bangkok punya taman bawah laut yang begitu megah. Uniknya, akuarium ini menempati ada di basement mal Siam Paragon. Di sini kamk bisa melihat berbagai ikan dari bawah akuarium raksasa, termasuk penguin dan hiu berukuran besar.

Sensasinya, tentu seru dan menyenangkan serta memberikan pengetahuan baru tentang kehidupan bawah laut yang dipertunjukan setiap 30 menit sekali.

siam ocean world1

Siam Ocean World memiliki koleksi satwa laut yang cukup lengkap. Pengalaman membawa Yasmin ke purbasari pancuran mas, dia tertarik banget melihat biota-biota laut yang lucu itu. Makanya, aku rasa Yasmin pasti senang menyambangi Ocean World ini.

Grand Palace

Usai melihat biota laut, kami meneruskan perjalan ke Grand Palace. Ke Bangkok, tapi ngga menyambangi wisata yang satu ini sepertinya hambar. Karena Grand Palace ini masuk rekomendasi wisata yang musti dikunjungi saat ke Bangkok.

Istana Kerajaan Thailand ini berdiri tegak di pusat kota, dengan bangunan megah berlapis emas. Istana ini juga menjadi tempat tinggal Raja dan keluarganya. Selain menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan, Grand Palace juga menjadi museum yang menyimpan banyak sejarah Thailand yang selalu update.

Dan yang membuatku penasaran, ternyata di sini juga terdapat Kantor Pemerintahan. Penasarannya, seperti apa suasana kantor yang berada di kompleks wisata. 😀

credit: nurulnoe.com

Terlepas dari kegunaannya, bangunan istana ini sangat menarik, karena dibuat dengan arsitektur khas Thailand yang memiliki detail rumit, dan cantik.

Terus, di sini mau ngapain?

Foto-foto! Hahaha. Penting banget narsis di sini, ya. Iyalaah, soalnya ngga tahan melihat kilau emas di tiap sudut Grand Palace. 😀 Duuuh…kebayang hebohnya Yasmin di sini.

Wat Pho

Setelah melihat bangunan megah yang menyilaukan mata, kami memilih Wat Pho sebagai kunjungan destinasi berikutnya.

Wat Pho ini dikenal dengan Kuil Budha Berbaring. Sebenarnya patung seperti ini, tuh, ada di Indonesia. Tepatnya di Mojokerto. Aku oernah melihat beberapa teman share foto mereka di depan patung budha yang sedang berbaring. Tapi karena Wat Pho ini lokasinya berdekatan dengan Grand Palace, ngga ada salahnya mampir lah, ya.

Kalau tadi habis melihat bangunan megah, kali ini di Wat Pho melihat patung budha dengan lapisan emas yang tak kalah megah.

Kuil Pho merupakan kuil yang terbesar, dan salah satu kuil tertua di Bangkok. Cukup jalan kaki dari Grand Palace untuk sampai Golden Buddha.

Btw, di sini katanya bisa belajar mijit tradisional, gitu. Aaah…suami bisa belajar, nih. Atau, aku boleh mlipir cari tukang pijit selesai main. 😀

Wat Arun

Yuhuuui…ke kuil lagi, tapi beda arsitekturnya, dong. Wat Arun berdiri megah di tepi sungai yang bersih, dan katanya memiliki pemandangan sangat indah ketika subuh tiba. Namun demikian, Wat Arun lebih terkenal dengan sunsenya yang menawan.

Letaknya ada di tepi barat sungai Chao Phraya. Jika matahari mulai terbenam, objek yang memiliki menara yang puncaknya setinggi 70 meter, akan terefleksi di permukaan sungai Chao Phraya. Katanya, makan di restauran sekitar sini, tuh, syahdu banget.

Untuk sampai sini, perlu banget naik feri. Kebayang foto di atas kapal, dengan background Wat Run. Euuuuh…emang bisa? 😀

 MBK Center

Jalan ke Bangkok tapi nggak belanja rugi, katanya. Barang-barang di sana harganya sangat terjangkau, bahkan ketika dirupiahkan sekalipun harganya bisa jauh lebih murah daripada Blok M di Jakarta. Katanyaaaaa!

Jadi, ngga heran kalau pusat perbelanjaan seperti MBK Center di Bangkok ini selalu menjadi tujuan utama para pedagang untuk mengambil barang. Kulakan. Hahaha.

mbk bangkok

Kalau masih punya waktu, dan ngga terasa capek, aku pingi mampir sini. Entah mau belanja, atau kulakan. 😀 Bangkok, tunggu Yasmin agak gede dikit, ya. Sehari buat piknik manjah, dan satu hari buat ke pantaaaaaai. Yuhuuuui…doakan impian kami terwujud ya, Kawans! 😉

Kurma, Daging dan Bijinya Sama-sama Bermanfaat

“Waaah…udah mulai banyak Kurma, Bu. Beragam merek, dengan harga yang berbeda pula. Bedanya apa, sih?”

Nampak penasaran, suami melihat satu per satu Kurma yang sudah di kemas. Kurma yang berderet di atas etalase mini market langganan kami memang ngga hanya satu merek. Kalau ditanya perbedaanya, yang jelas beda merek, kemasan, dan berat netto. Hahaha.

“Kurma makin empuk, semakin enak lho, Mbak. Pilih yang besar, bijinya kecil, dan warnanya lebih gelap.”

Mbak Mawar (bukan nama sebenarnya), kasir mini market, kelihatannya cukup paham dengan buah yang memiliki nama ilmiah Phoenik dactylifera. Dia pun merekomendasikan kurma dengan merek tertentu kepada kami. Etapi, gimana bisa tau kalau kurma yang udah dikemas ini empuk-empuuuuk. Kan ngga megang. Hahaha.

Kalau suami, sih, terpenting dibeliin. Ngga mandang empuk, apalagi merek. Karena pada dasarnya, dia memang doyan kurma yang merupakan salah satu tanaman buah dari timur tengah ini.

Buah dengan warna coklat dan memiliki rasa yang manis ini mengandung karbohidrat sederhana yang dapat dengan mudah dicerna tubuh untuk diolah menjadi energi. Kurma biasanya dijadikan sebagai buah wajib untuk orang berpuasa karena dapat menjadi sumber energi serta membuat tidak mudah lapar.

Umumnya, yang sering dikonsumsi dari buah kurma adalah dagingnya atau diambil sarinya. Namun, ternyata biji kurma juga bermanfaat. Iya, ngga hanya daging, dan sarinya saja. Berikut beberapa manfaat biji kurma yang diambil dari beberapa sumber artikel.

Pertama adalah dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan kopi. Khasiat dari kopi biji buah timur tengah tersebut yaitu:

  • Menyembuhkan diabetes.
  • Menjaga stamina dan menghilangkan lesu dan capek.
  • Menghangatkan badan.
  • Merilekskan tubuh.
  • Mengobatimasuk angin, gatal-gatal, keputihan dan kembung.
  • Melancarkan peredaran darah.

Untuk membuat kopi dari biji Phoenik dactylifera, caranya yaitu:

  • Siapkan biji kurma, lalu cuci bersih dengan cara di gosok dengan sikat gigi dan air.
  • Jemur biji hingga kering di tempat yang jauh dari debu dan gangguan semut. Jika panas matahari cukup terik maka hanya membutuhkan waktu selama 2 hari agar benar-benar kering.
  • Sangrai hingga warnanya kehitaman dan mengeluarkan aroma yang sedap agar bakteri pada biji yang masih menempel dapat terbunuh.
  • Tumbuk hingga halus seperti kopi.
  • Seduh 1 sdm kopi Phoenik dactylifera dengan 1 sdm gula pasir dan Anda dapat mengkonsumsinya hingga 3x sehari.

Kedua adalah membantu untuk menguatkan tulang dan gigi.

Kurma memiliki kalsium yang cukup tinggi sehingga dapat membantu untuk menjaga agar tulang dan gigi menjadi lebih kuat. Membantu untuk mencegah osteoporosis atau pengeroposan tulang sejak masih muda.

Ketiga yaitu membantu untuk memperlancar pencernaan dan mengatasi sembelit.

Phoenik dactylifera memiliki kandungan serat yang tinggi dan manfaatnya sama seperti mengkonsumsi oatmeal. Untuk mengatasi sembelit, cara yang dapat dilakukan adalah dengan merendam buah yang rasanya manis tersebut selama satu malam di dalam air matang. Konsumsi air rendaman tersebut keesokan harinya.

Keempat adalah membantu untuk merawat kesehatan mata karena adanya kandungan vitamin A.

Biji buah yang berasal dari timur tengah tersebut dapat dikombinasikan dengan mengkonsumsi daging buahnya untuk menjaga agar mata tetap sehat terutama bagi kamu yang sering duduk di depan komputer. Ini cukup membantu.

Kelima adalah bagus untuk penderita anemia.

Tiap butir buah kurma ternyata juga mengandung zat besi. Artinya, ini bagus untuk memproduksi sel darah merah sehingga tidak mudah lemah.

BUAH KURMA YANG ENAK

Manfaat lainnya dari kurma yaitu untuk membantu menjaga kesehatan tubuh diantaranya:

  • Mengurangi adanya risiko jantung koroner karena dalam Phoenik dactylifera terdapat kandungan kalium yang bagus untuk mengendalikan denyut jantung.
  • Membantu mempercepat pembekuan darah sehingga meminimalkan risiko kehilangan darah yang terlalu banyak. Terutama saat kamu mengalami kecelakaan atau mendapatkan luka.
  • Meningkatkan responsivitas karena kandungan kalium untuk membantu menyehatkan sistem syaraf.
  • Membantu untuk mencerdaskan dan mengoptimalkan pertumbuhan otak pada bayi saat masih dalam kandungan. Nah ini, mengingatkanku saat hamil, dulu. Hampir tiap hari konsumsi sari kurma.

Ternyata banyak banget manfaat buah Kurma, ya. Terlebih untuk bijinya yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Sejauh ini, kalau melihat biji kurma, sih, pasti aku buang. Setelah tahu manfaatnya, tiba-tiba pingin buat kopi dari biji kurma. Hahaha. Tantangan, nih. 😛

Makasih buat rekomendasi Kurma yang empuk ya, Mbak Kasiiiiiir. 😉

Welcome Blogger Serayu!

Berita tentang Banjarnegara pernah beberapa kali tayang di televisi. Lebih sering berita sedih, sih. Tanah longsor, misalnya. Pada saat tertentu, aku kerap terharu ketika mendapat colekan dari teman-teman Blogger di media sosial. Ini bukan sekadar colekan biasa, karena kurasa lebih ke perhatian.

Teman-teman Blogger yang kukenal mention aku di jejaring sosial, menanyakan kabarku beserta keluarga, dan tentunya tanah Banjarnegara. Apakah kami baik-baik saja? Dekat atau jauh dari TKP? Deeegh! Siapa yang ngga bahagia punya teman-teman Blogger yang care? Belum pernah berjumpa sekalipun, mereka memiliki rasa khawatir yang begitu dalam. Rasa-rasanya sudah seperti keluarga.

Saat itu, mungkin blogger dari Banjarnegara yang mereka kenal baru aku, Idah. Mereka belum kenal dengan blogger lain yang berdomisili di Banjarnegara. Jangankan mereka, aku pun merasa belum punya teman di sini. Sampai akhirnya, aku tekadkan untuk mengikuti acara Pesta Blogger kala itu, tahun 2013.

Saking pinginnya punya teman Blogger dari daerahnya sendiri, rasa malu betul-betul kusingkirkan. Kupikir, dengan punya teman yang sama-sama punya hobi ngeblog akan menambah semangat. Akupun mendaftar secara online. Sesampainya di acara, ternyata hanya ada satu orang yang kukenal, itupun tetangga, dan dia menjadi MC sekaligus moderator acara. 😀

Pesta Blogger Banjarnegara adalah acara yang diselenggarakan oleh Ruang Belajar Masyarakat (RBM). Aku ngga paham siapa yang ada di balik RBM, dan dimana “tempat nongkrongnya”. 😀 Maklum, aku belum begitu gawl saat itu. Hahaha.

Baca jugaRBM dan Pesta Blogger Banjarnegara.

Inti acara pesta blogger, RBM mengajak Blogger Banjarnegara untuk turut mempromosikan produk unggulan dan potensi daerah. Ajakan yang menyenangkan, bukan? Apalagi bagiku, Blogger yang begitu sayang dengan tanah kelahiran. Jangankan potensi daerah, Pak Bupati minta dibuatkan Blog aja akan kubuatkan, kok. 😆 😛 😛

Btw, apa kabar RBM? Masih ada atau sudah ganti nama, ya? Mungkin hanya para pengurus dan anggota yang tahu, karena setelah Pesta Blogger yang meriah banget, aku ngga pernah mendengar ada pertemuan lagi.

Tidak hanya Pesta Blogger, aku juga pernah ikut lomba blog dengan tema wisata Banjarnegara. Lomba ini diikuti kurang lebih 15 Blogger Banjarnegara. Lagi-lagi acaranya meriah, pun dengan hadiahnya. Bertempat di The Pikas, teman Blogger mulai bertambah, meski kami ngga sampai membuat forum.

Baca jugaLomba Blog di The Pikas.

Beruntunglah, Dinas Pariwisata Banjarnegara pernah mengadakan acara Blog Competition. Jadi sedikit tahu blogger-blogger yang berdomisili di Banjarnegara. Berbekal dari pengumuman lomba, akupun mulai kepoh cantik, yang kemudian memberanikan diri untuk japri mereka satu per satu melalui Twitter.

Malu? Nggaaaaa laaah! Jangankan cuma DM, ngajak ketemuan saja aku jabaniiiin. 😛

Aku, Hendi, Mas Ganjar, Mas Jujun (yang saat itu berhalangan hadir), memutuskan untuk meet up. Dalam hal blogging, aku merasa tujuanku dengan mereka hampir sama, yaitu ingin membagikan isu positif di Banjarnegara lewat media Blog, dan jejaring sosial. Semoga sama. Semoga. 😀

CULINARY IWAK BANJARNEGARA

Pertemuan yang cukup singkat memberanikan kami untuk mengumpulkan lebih banyak lagi blogger-blogger di Banjarnegara dengan membuat pertemuan di Culinary “Iwak”.

Baca juga: Review Culinary “Iwak” Gemuruh.

Pertemuan perdana cukup membuatku (khususnya) optimis untuk bersama berbagi tentang Banjarnegara karena yang datang lebih dari tarjet, yaitu 14 Blogger. Meet up ini juga dihadiri oleh teman-teman media, ada Mas Acil dan Mas Nur. Terasa makin lengkap, dan gereget.

Sesuai kesepakatan, meet up perdana kami manfaatkan untuk perkenalan, berdiskusi ringan perihal nama, pembuatan akun official, dan tata laksana rumah tangga. 😀 😆 Nama Blogger Banjarnegara ngga kami gunakan karena berbagai pertimbangan. Kami justeru memilih nama Blogger Serayu. Meski nama tersebut pernah dipakai oleh Pangeran Antah (bukan nama sebenarnya), namun untuk seluruh akun socmed masih available.

Permisi melalui Pangeran Antah, nama Blogger Serayu akhirnya fix kami gunakan untuk nama komunitas kami. TOK…TOK…TOK…!

Dan inilah yang kemarin turut meet up Blogger Serayu:

  • Mas Jujun ( http://eventbanjarnegara.com)
  • Mas Ganjar (http://www.banjarnegaraku.com/)
  • Mas Doni (http://komikselonjor.com/)
  • Mas Ipong (http://www.indiegigsmedia.com)
  • Hendi (https://ndayeng.wordpress.com)
  • Lutfi (https://fahrezy.wordpress.com/)
  • Havid (http://www.northbackpacker.com)
  • Razin (http://www.blogx.id/)
  • Faiz (http://www.niguradev.id/)
  • Mad Solihin (http://www.madsolihin.com)
  • Mei (http://blekkedet.blogspot.com)
  • Ella (https://ellafitria.blogspot.co.id)
  • Ira (https://pandanwangi156.wordpress.com)
BLOGGER SERAYU
Alhamdulillaah, udah punya banyak teman bloger di Kota kelahiran. ^_*

Alasan memilih nama Blogger Serayu tentunya bukan asal. Sungai Serayu yang melintasi lima kabupaten, termasuk Banjarnegara, bagi kami merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Terlebih, Banjarnegara kerap menggunakan kata “Serayu” untuk berbagai acara. Festival Serayu Banjarnegara, misalnya. Selain itu, arus sungai serayu Banjarnegara juga cukup potensial untuk olahraga Arung Jeram, dan Tubing. Makanya, kami memilih Serayu untuk nama komunitas Blogger.

Baca juga: Festival Serayu Banjarnegara

Aku (khususnya) punya banyak harapan bersama Blogger Serayu. Salah satunya, dapat bersama membagikan informasi positif tentang Banjarnegara di berbagai bidang, karena Banjarnegara adalah Kabupaten yang -insya allah- kaya. Asli. Meski sampai sekarang masih pelan-pelan beradaptasi, aku (khususnya) yakin teman-teman Blogger Serayu akan berusaha membagikan yang terbaik untuk Kabupaten yang memiliki banyak potensi lewat media digital. Doakan kami, teman-teman. ^-*

Akun Official Blogger Serayu

website | instagram |twitter | fan page

Sindu Kusuma Edupark, Alternatif Wisata Keluarga di Yogyakarta

Mencari rekomendasi wisata di Yogyakarta sangatlah mudah karena Daerah Istimewa yang satu ini memang banyak menawarkan objek wisata. Termasuk untuk wisata keluarga, dan masih ada Si Kecil yang musti turut menikmati wisata. Ada Taman Pintar, atau Kids Fun, yang sudah lama berdiri.

Selain keduanya, ada alternatif wisata keluarga yang recommended. Adalah Sindu Kusuma Edupark (SKE) yang berlokasi di Jl. Magelang Km.3, Jambon, Sleman, Yogyakarta. Berdiri di atas lahan seluas 7 hektar, objek wisata ini mengandalkan konsep edukasi dan mengusung nilai-nilai Adiluhung Budaya Jawa sebagai tata laku utama.

Surprise banget saat tahu bahwa suami ngga dapat jatah libur tahun baru lalu. Artinya, kami gagal menjemput Sunrise di kawasan Borobudur yang lama telah kami idamkan. Bisa dibilang, ini piknik keluar kota terkilat. Ngga masalah, sih. Terpenting orang tua dan Jasmine dapat menikmati liburan.

Nah, supaya semua bahagia, kami memilih wisata keluarga dengan konsep wahana wisata. Beruntung banget…saat itu kami mendapat gratis liburan ke Sindu Kusuma Edupark, menjajal seluruh wahana di SKE. Yasalaam…Ibu solehah yang satu ini girang banget, dong. 😀

Pasti bahagia, karena bisa dibilang SKE masuk objek wisata sesuai kebutuhan kami. Jasmine dapat bermain di playground ditemani Mbah, aku dan suami bisa pacaran, menghabiskan waktu berdua menjajal wahana wisata SKE. Btw, sebelumnya kami dolan ke Candi Borobudur untuk melunasi keinginan orang tua. Setelahnya, barulah kami menujut SKE untuk bersenang-senang.

CANDI BOROBUDUR MAGELANG

Awalnya, aku ngga yakin dapat menikmati seluruh wahana permainan di SKE karena sampai lokasi sudah sore. Tapi setelah bertemu dengan Mbak Syifa dan Mas Ucup, karyawan SKE, aku kembali semangat karena mereka dapat membawa kami ke masa-masa ABG. 😀 Mereka juga menyambut kami dengan baik, tutur katanya lembut, sopan, dan ramah.

“Di sini ada 19 wahana permainan yang bisa banget dicoba semua. Mbak Idah, dan suami boleh memulainya dari Cakra Manggilingan yang merupakan ikon SKE. Sementara adeknya boleh main sepuasnya di Dino Park.”

EDUPARK YOGYAKARTA INDONESIA
Sedeep banget malam-malam naik ini…

Widiih…Mbak Syifa tahu banget kalau Jasmine udah pingin mainan. 😆 😛 😀 Secara ngga langsung, Mbak Syifa mempersilakan Mbah dan Jasmine menuju tempat permainan, ya. 😆 😆 Betapa bahagianya aku, bisa bebas lepas dan main sampai puas. Pun dengan Jamsine, dan mungkin tidak buat Mbah karena sudah terlalu capek keliling Candi. Qiqiqi. *maafken*

Sesuai arahan Mbak Syifa, kami pun menuju wahana Cakra Manggilingan atau Ferris Whell. Wahana ini merupakan ferris whell tertinggi di Indonesia, dan menduduki peringkat 6 besar di Asia.

WISATA KELUARGA DI YOGYAKARTA SINDU KUSUMA
Mirip mobil-mobilan, ya… 😀

Saat kami naik wahana yang memiliki 28 kabin dengan ketinggian 50 meter, mobil yang ada si parkiran tuh nampak seperti mobil-mobilan. Saat posisi kabin kami pas banget di paling atas, viewnya sedap banget. Di atas kabin, kami sibuk banget foto-foto, dong. Wefie dengan berbagai pose, dan asli rusuh banget. Beruntungnya, kabin yang biasanya terisi empat orang, hanya diisi aku dan suami dowang. Lepaaaas! 😆

Btw, wahana ini geraknya lambat. Insya allah aman buat si kecil. Tadinya aku mau mengajak Jasmine naik wahana paling hits di SKE ini, tapi keburu dibawa Mbah Uti dan Mbah Kung. Yaudah, pan kapan lagi.

Wahana selanjutnya yang kami coba yaitu Sepeda Mabur. Malam-malam mengayuh seped ternyata asyik. Apalagi ini sepedanya berada di ketinggian 3 meter di udara.

Sepeda Mabur Sindu Kusuma Edupark

Wahana yang berkapasitas dua orang ini mengharuskan kami untuk kompak mengayuh. Misal salah satu berhenti mengayuh, pejalanannya akan lambat. Kasihan yang di belakang, dong. Santai saja sih mengayuhnya, sembari menikmati pemandangan sekitar wahana. Saking fokusnya melihat Mas Ucup membantu suami mengenakan sabuk pengaman, cerita-cerita sembari mengayuh, kami sampai lupa ngga foto-foto di sini. Hahaha. Pinjamlah foto https://letswalk18.blogspot.co.id.

Next, ada Kursi Mabur. Ini mirip-mirip wahana yang di pasar malam. Hanya saja, kursi ini bisa terbang setinggi 4 meter di udara dengan durasi putar selama lima menit. Merinding ngga? Banget!

SINDU EDUPARK
Lumayan merinding… 😀

Basicnya ngga punya keberanian untuk terbang sih, ya. 😀 Tapi aku sempat kesal dengan suami dan dua anak kira-kira usia 10 tahun. Kesal karena mereka menertawakanku. Saat kursi mulai terbang, aku teriak-teriak manja, gitu. 😀 Kukira dengan teriak dapat sedikit tenang, ternyata ngga. Perut tetap saja mak syeeer. Padaha tenggorokan sampai kering, lho. Rugi banget teriak-teriak, ya. 😀 Detak jantung kembali normal saat mainan Pit Egrang. 

PIT EGRANG

Btw, aku baru merasakan kalau mainan Pit Egrang itu ternyata seru. Awalnya aku takut karena mainan ini kan hanya stang dowang. Ngga ada remnya, gitu. Tapi, setelah dapat edukasi dari Mas Ucup, aku jadi tahu cara mainnya. Intinya, tarik ke belakang kalau mau ngerem, sih. Namun, tetap hati-hati. Semisal ragu, bisa minta didampingi petugas. 😀

Kalau sudah sampai SKE ngga nyobain Pit Egrang, kurang mantap lah. Meski pengunjung harus bayar lagi Rp 40.000 per orang, karena permainan ini ngga masuk tiket terusan seharga Rp 70.000 per orang, tapi puas keliling sirkuit Pit Egrang selama 30 menit.

SINDU KUSUMA EDUPARK

Ini nih salah satu sudut taman SKE. Di sini cukup ramai karena ada wahana Panggon Lunjak. Seharusnya aku teriak-teriaknya tuh kalau main di panngon lunjak, bukan kursi mabur. 😀 Salah tempat. Sayangnya, baik aku maupun suami ngga ada yang berani main wahana yang dapat memacu adrenalin karena akan dibawa kabur terbang sampai ketinggian 10 meter di udara.

Ketimbang Panggon Lunjak, mending temenin kami ke Rumah Teror saja, Mbak Syifa. Pacu adrenalin di sana.” Ucap suami kepada Mbak Syifa usai main Pit Egrang. Grrr…

WAHANA SINDU KUSUMA EDUPARK

Sebenarnya aku ogahan masuk rumah yang ngga ada mendoannya ini. Tapi gimana lagi, suami ngebet pingin masuk. Untungnya sih kami ngga berdua dowang. Ada beberapa orang, jadi bisa njerit ramai-ramai sambil manja-manja meluk suami. 😀

Dengan menggunakan kereta elektrik, perjalanan keliling rumah teror hanya membutuhkan waktu kurang lebih 4 menit. Di sini pas lagi sebel-sebelnya dengar suara kuntilanak, mas bojo sempet-sempetnya tanya tentang sensor yang digunakan untuk wahana ini. Yasalaam…pingin tak gujeees.

PERMAINAN ANAK DI YOGYAKARTA

Sebelum melanjutkan permainan, kami menyempatkan untuk menengok Jasmine di Dino Park di mana lokasinya cukup dekat dengan House Of Terror. Ternyata Jasmine betah banget mainan di sini. Dia menclok dari satu permainan ke permainan lain. Terus, Mbah Uti sama Mbah Kung tambah capek, dong. Hahaha. Ngga apa-apa, yang penting cucu senang, damai hiduuup inii. 😀

Wahana yang cocok buat anak-anak, pengunjung harus mengeluarkan uang lagi untuk dapat bermain. Paling mahal Rp 15.000 sih, untuk wahana mandi bola. Kata Mbah Uti, hampir semua permainan dicoba. Lalu, aku tanya sudah habis berapa duit, katanya ngga bayar. 😀 Rejeki lagi, nih. Kami kira gratisnya di orang dewasa dowang. 😛

BUMPER CAR SINDU KUSUMA EDUPARK

Setelah dadah-dadah dengan Jasmine, kami keluar Dino Park dan menuju wahana berikutnya yaitu Montor Tumbur atau Bumper Car. Ini pertama kali aku naik Bumper Car, dan ternyata sama asyiknya dengan naik Sepeda Mabur. Hihihi SKE menyediakan Bumper Car dengan seat single dan double. Bertabrakan di atas arena seluas 200 meter, sebenarnya lebih asyik milih yang single seat. Tapi apa daya aku ngga berani tumbur dengan suami di ruang tebuka. Alasan banget, sih. Karena aslinya, aku ngga berani mainan Bumper Car. 😀

Eeeeh, ini sudah berapa wahana, ya. Panjang banget tulisannya. Hahaha. Maaph lagi doyan ngetik, nih. Total dari 15 wahana wisata, yang ngga kami coba yaitu Montor Listrik dan Panggon Lunjak (Trampoline). Selain wahana di atas, wahana  lain seperti: Roti Puter, Sepur Cilik, Cangkir Puter, Komidi Puter, Sepur Kluthuk, dan Cinema 7D, telah kami coba.

Btw, nama wahananya unik, ya. Menggunakan bahasa jawa, gitu. Seperti yang sudah kutulis di awal, bahwa konsep wisata Sindu Kusuma Edupark tuh mengusung nilai-nilai Adiluhung Budaya Jawa. Nguri-nguri basa jawa, melestarikan bahasa jawa. Makanya, nama wahana pun menggunakan bahasa jawa yang mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat yang tentunya bukan dari Jawa.

SINDU KUSUMA EDUPARK

Nilai edukasi di wahana ini memang belum maksimal, baru terdapat Oemah Batik dan replika-replika objek wisata, gitu. Replika Candi Prambanan, misalnya. Kata Mbak Syifa, masih dalam tahap pengembangan, dan tiap tahunnya juga menambah wahana baru. Seperti tahun ini, ada Waterpark dan Grass Slide.

Objek wisata keluarga semenarik, semurah, dan seramah Sindu Kusuma Edupark ini ternyata belum begitu memasyarakat, banyak orang yang belum tahu. Yuuuk ah, ajak keluarga untuk liburan ke Yogyakarta dan ramaikan SKE. Fasilitas umum seperti tempat parkir, mushala, dan toilet, memadai. Ada juga tempat makan dan pusat oleh-oleh khas Yogyakarta di sini.

Sindu Kusuma Edupark, Yogyakarta

  • Jam buka: Weekdays: 13.00-22.00 WIB. Weekend: 10.00-22.00 WIB
  • Lokasi: JL. Magelang KM 2, Jl. Jambon, Sinduadi, Mlati, Kab. Sleman, Yogyakarta.
  • Nomor Telpon : (0274) 6429660.
  • HTM: Rp 70.000 (tiket terusan)

Culinary Iwak Gemuruh, Spesialis Kuliner Serba Ikan 

Culinary Iwak Gemuruh, Spesialis Kuliner Serba Ikan – Setidaknya, aku punya seorang teman perempuam yang ngga doyan daging; ayam, sapi, dan kambing. Sama sekali enggak doyan. Mau diolah seenak apa pun enggak bakal doyan.

Selain daging, dia juga agak susah kalau diajak makan seafood. Ngga bakal habis satu porsi. Bisa dibilang hanya ambil dua sampai tiga ekor udang, cumi, atau seafood lainnya yang udah dipesan. Selebihnya, aku yang menghabiskan. Asyik ya, punya teman macam ini. Hahaha. Milzana, namanya.

Sebagai teman baik, tiap kali kami ngedate, aku lebih sering mengajaknya kulineran ke warung yang menyediakan ikan. Biasanya sih di Saung Bu Mansur karena di sana menyediakan menu ikan Gurameh yang endeus. Ya…meski dia jarang memesan ikan, tapi setidaknya aku telah memberi pilihan terbaik untuknya. Qiqiqi.

Selain Saung Bu Mansur, ternyata sekarang ada Culinary “Iwak” yang juga menawarkan menu. Kabar baiknya, di sini banyak menu iwak atau ikan. Tidak terbatas pada Gurameh. Bisa dibilang, Culinary “Iwak” ini spesialis kuliner serba ikan. Kubilang spesialis karena di sini lebih dominan menyediakan kuliner ikan seperti: Iwak Kali, Betutu, Lele, Bawal, Gurameh, Mujahir, Nila, dll.

CULINARY IWAK GEMURUH BANJARNGARA 2

FYI, iwak dalam tanda kutip bukan berarti punya maksud lain. Arti nama warung yang terdiri dari dua kata, dan dua bahasa yaitu culinary yang berarti kuliner, sedangkan “iwak” diambil dari bahasa jawa yang berarti ikan air tawar. Menggunakan tanda kutip karena bukan dari bahasa nasional, melainkan bahasa daerah. Lidah mbanjar mbanget pokoke. *asli, ini penting banget dibahas* *padahal masih mungkin* *belum tanya pemiliknya* 😆

Ihh…tiba-tiba ngomongin Culinary “Iwak” Gemuruh

Sebelum mengajak Milzana ke sini, aku dan suami terlebih dahulu nyobain kulineran di sini. Bukan tanpa sebab, kami datang ke tempat makan yang lokasinya cukup jauh dari tengah kota, kurang lebih 2 km. Akhir bulan Maret, ada acara meet up bareng Blogger Banjarnegara yang bertempat di Culinary “Iwak”.

Kami, tuh, belum pernah singgah di sini. Tapi, karena tahu lokasi tepatnya, yaitu kurang lebuh 50 meter sebelum Perumahan Gemuruh Griya Indah, kami pun mudah mencarinya. Apalagi aku tahu, sebelum Culinary “Iwak” berdiri, tempat ini dimanfaatkan sebagai pasar ikan Gemuruh.

CULINARY IWAK GEMURUH

“Pokoknya kanan jalan dari arah timur, setelah SMA Bawang, eks. pasar ikan Gemuruh.” Kataku kepada suami yang saat itu mengantarkanku, sekaligus hendak turut acara. Kurasa sudah cukup detail, tapi Suami masih belum paham, dong. Maklumin saja, ya, karena sampai sekarang dia masih belum hafal rute jalan di Banjarnegara. Jadi, kalau punya rencana main seputar Banjarnegara, aku ada di belakang, tapi sebagai sopir. “Nggemesin” banget, kan. Hahaha.

Kenapa Memilih Culinary Iwak Gemuruh?

Alasan utama karena tempatnya cocok banget buat kumpul bersama empat belas orang Blogger. Ini bukan tentang luasnya, tapi karena ruang terbuka, gitu. Ngumpul Blogger di ruang terbuka terasa lebih santai, dan segar. Terlebih, ditambah suguhan hamparan persawahan yang baru banget ditanami padi. Segeer, padhang njembrang!

Tempat seperti ini ternyata mempengaruhi semangat juga berdiskusi, ya. Jauh dari kata bosan, dan malah makin seru. Apalagi setelah menikmati ikan bakar, cocol sambal pedas, lengkap dengan urab daun ketela. Lidah dan perut betul-betul dimanjakan.

Alasan berikutnya, karena harga menu makanan cukup terjangkau. Kulihat di daftar menu, harga termahal untuk seporsi menu ikan yaitu Rp 20.000 per porsi. Kecuali Ikan Gurameh yang dihitung dengan harga beli per ons. Camilan seperti nugget ikan, harganya Rp 15.000 per porsi, dan ini camilan paling mahal di Culinary “Iwak”. Ngga bikin dompet kosong banget lah, ya.

Kemudian, yang menarik dari Culinary “Iwak”, selain makan-makan, pengunjung bisa santai di Kedai Kopi yang menawarkan berbagai macam kopi lokal, kopi yang dipanen dari berbagai penjuru Desa di Banjarnegara. Kedai Kopi Sabin, namanya. Pengunjung tinggal pilih; cukup menikmati kopi, perlu makan-makan, atau makan dan setelahnya ngopi-ngopi. 😀 Jarang, kan, tempat makan yang sekaligus ada kedai kopinya.

Lalu, Gimana dengan Fasilitasnya?

Memang, tempat ini eks. Pasar Ikan Gemuruh, namun fasilitas penting a la warung makan termasuk cukup, meski masih sederhana, dan seadanya. Mushola, misalnya. Mungkin pengunjung cukup susah menemukan Mushala di sini. Selain ngga ada tanda semacam kubah, pemilik Culinary “Iwak” belum membuat papan sign board yang dapat digunakan sebagai petunjuk menuju Mushola.

Aku juga awalnya cukup meraba buat mencarai Mushala karena diskusi waktu itu ternyata sampai sore. Tapi setelah bertemu dengan seorang Ibu yang sedang membakar ikan di sebelah Kedai, aku jadi tahu letak Mushala. Dan ternyata, fasilitas lain seperti: tempat wudhu, tempat cuci tangan, toilet, ada di di belakang Mushola. 😆 😀

CULINARY IWAK GEMURUH BANJARNGARA

Terlepas dari fasilitas yang masih seadanya, luasnya tempat parkir dan mudahnya akses menuju tempat makan ini menjadi kelebihan dari Culinary Iwak. Kendaraan dapat parkir di samping atau di depan warung. Jangan lupa helm di bawa masuk, dan ditaruh pada tempatnya yang terletak di pintu masuk supaya lebih tenang, dan aman. 🙂

Btw nih, ya. Kabupaten Banjarnegara masih terus mengembangkan sistem pengelolaan budi daya ikan air tawar di lahan sawah pertanian padi atau biasa dikenal dengan istilah minapadi. Ini betul-betul program bagus karena area persawahan di Kabupaten Banjarnegara masih tergolong luas. Selain hasilnya nanti dapat dijual, setidaknya pemerintah juga turut menyemangati program yang telah dicanangkan pemerintah yaitu Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARI).

Warung makan seperti Culinary Iwak ini rekomendasi bagi kalian yang ingin mencicipi beragam menu ikan yang merupakan bahan pangan sehat yang bergizi tinggi. Tersedia juga aneka menu khas Desa seperti Nasi Jagung, lengkap dengan urab. Di sini juga menyediakan menu Ayam, kok. Cocok lah buat ngajak Milzana ngedate. 😛 😛

Culinary Iwak Gemuruh, Banjarnegara.

  • Alamat: Jl. Raya Gemuruh (50 meter sebelum Perumahan Gemuruh Griya Indah)
  • Pemesanan: 0853 2727 0707 atau 0822 2635 5594 (Elly)
  • Jam buka: 09.00-22.00 WIB
  • Instagram: @culinary_iwak

Sebelum Membeli Mesin Jahit Mini, Cari Tahu Kelebihan dan Kekurangannya

Aku termasuk tipe perempuan yang ngga bisa rajin kalau harus menjahit manual. Meski hanya memasukkan benang ke dalam jarum, dan lanjut menjahitnya. Sesederhana itu, tapi aku susah rapih untuk hal yang satu ini.

Menjahit yang kumaksud di sini tuh sekadar menjahit baju sobek barang sepuluh centi meter. Bukan menjahit bahan menjadi pakaian utuh. Hihihi. Ya bayangin saja, rok kerja sobek bagian saku, harus ke penjahit. Celana Jasmine sobek cuma sepuluh centi meter, musti nunggu tukang jahit keliling. Duuuuh…dikit-dikit penjahit, ya.

Memang, seberapapun panjang sobekan kalau menjahitnya di Penjahit pasti ada tarifnya. Tapi semisal Penjahit lagi pada sibuk, rasa-rasanya gombelan tidak akan langsung diperhatikan. Kalau udah gini, kadang aku ingin menambah peralatan rumah tangga berupa Mesin Jahit Mini.

Di Indonesia ada beberapa jenis mesin jahit terkenal seperti mesin jahit mini. Jenis mesin jahit ini biasanya digunakan oleh para pemula dalam hal menjahit. Karena bentuknya yang mini atau kecil dan ringan, maka mesin ini menjadi banyak disukai oleh orang-orang. Simpel, dan tidak membutuhkan banyak ruang.

Secara umum, mesin jahit ukuran mini ini terbagi menjadi dua macam yaitu:

  • Mesin Jahit Tangan.

Mesin jahit tangan merupakan jenis mesin jahit dengan ukuran mini yang sering disebut dengan mesin jahit staples karena memiliki bentuk yang hampir mirip dengan staples. Jenis mesin jahit ini memiliki ukuran yang sangat kecil dengan hasil jahitan yang sangat standar.

MESIN JAHIT TANGAN

Jahitan yang dihasilkan hampir mirip seperti rantai karena hanya menggunakan satu benang saja. Dengan ukurannya yang hanya segenggam tangan, jenis mesin jahit ini memiliki harga yang sangat terjangkau yaitu hanya sekitar puluhan ribu rupiah saja. Pingin nyoba beli yang ini.

  • Mesin Jahit Portable.

Mesin jahit ini merupakan jenis mesin jahit yang memiliki ukuran mini atau kecil dengan pengoperasian mesin yang hampir mirip dengan mesin jahit pada umumnya. Bedanya adalah jenis mesin ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan ringan.

MESIN JAHIT MINI PORTABLE

Secara umum, hasil jahitan dari mesin jahit ini hampir mirip dengan mesin jahit besar karena jenis mesin jahit ini menggunakan 1 benang spool dan 1 benang sekoci.

Jenis mesin jahit portable ini memiliki harga yang bervarian sesuai dengan mereknya. Beberapa diantarnya menggunakan baterai dan juga tenaga listrik. Jadi, jika sedang mati listrik maka tidak perlu khawatir karena mesin ini memiliki baterai, namun penggunaannya dalam waktu tertentu saja.

Uuuh…ingin punya mesin jahit yang ini. Musti nabung dulu, ya.

Penggunaan mesin jahit mini dalam kegiatan jahit menjahit memberikan banyak kelebihan dan juga kekurangan yang dapat dirasakan oleh penggunanya.

Nah, berikut beberapa kelebihan dan kekurangan jenis mesin jahit ukuran mini:

Kelebihan:

  • Secara umum semua mesin jahit yang memiliki bentuk mini atau kecil di pasaran memiliki harga yang sangat murah dan terjangkau oleh siapa saja.
  • Semua jenis mesin jahit ukuran mini memiliki bentuk yang kecil dan ringan sehingga sangat mudah untuk dibawa kemana saja.
  • Memiliki dynamo atau baterai sehingga saat terjadi mati listrik maka tidak perlu khawatir karena penggunaannya bisa menggunakan daya baterai.
  • Merupakan jenis mesin jahit yang memiliki pola pengoperasian yang sangat mudah sehingga sangat cocok untuk digunakan oleh para pemula maupun anak-anak. Untuk itu jenis mesin jahit ini sangat baik digunakan sebagai sarana belajar menjahit.
  • Beberapa jenis mesin jahit ini memiliki desain jahitan yang cantik dan menarik.

Kekurangan:

  • Merupakan jenis mesin jahit yang menggunakan bahan dasar plastik sehingga lebih body mesin relatif ringkih.
  • Dalam penggunaannya kurang bisa digunakan untuk menjahit pakaian yang menggunakan bahan tebal seperti jeans, tas dan lain sebagainya.
  • Mesin jahit dengan ukuran mini biasanya tidak memiliki garansi resmi seperti jenis mesin jahit portable.
  • Jika digunakan untuk kebutuhan bisnis seperti konveksi maka jenis mesin jahit ukuran mini kurang cocok untuk digunakan.

Setelah tahu kelebihan dan kekurangan, sekarang makin tahu tentang dunia penjahit. ?? Btw, sekarang mesin jahit mini dapat dengan mudah ditemukan, dan dibeli di toko alat khusus mesin jahit. Tapi ya gitu, kalau udah punya duit, kadang ada saja kebutuhan lain yang lebih primer. Hahaha.

Butuh Kursi Sofa Murah, dan Elegan. Nyari Referensi Dulu!

Di ruang tengah atau ruang keluarga yang biasa kami jadikan untuk nonton teve sembari bersantai, ada satu kursi sofa yang usianya lebih tua dari aku. Ya…kalau tahun ini usiaku 17 tahun, mungkin  kursi sofa itu usianya 27 tahun. Secara ya, kursi sofa dengan warna hijau pekat, dibeli oleh Almarhum Mbah Kung sebelum aku lahir. Udah lama banget lah, ya.

Konon,  untuk membeli kursi sofa, Mbah Kung harus menjual seekor pedhet, atau anak sapi. Menurutku perjuangan banget. Kata Bapakku, kursi sofa yang bersudut ini tergolong sofa paling bagus pada masa itu. Namanya di Desa, orang zaman dulu  ngga pada mentingin kursi sofa. Bagi mereka,  perut isteri, anak, cucu, bisa kenyang saja sudah lebih dari cukup. 😀

Perjuangan ngga hanya sampai pada jual anak sapi. Soalnya, setelah kursi sofa terbeli, beberapa anak dari Simbah yang sudah menikah pun  naksir. Memang, kursi sofa berbalut kain tanpa motif nampak manis, dan juga kokoh. Awet pula. Siapa yang ngga tertarik, ya. Simbah pun mulai nabung lagi, tentunya dibarengi anak-anaknya juga. Berusaha bersama.

Usia kursi sofa boleh dibilang udzur, tapi masih nampak kuat, dan masih layak dimanfaatkan. Hanya saja, dua kaki kursi sudah patah. Tepatnya kaki kursi sofa yang letaknya di paling kanan. Selain kaki, busanya juga sudah tidak begitu penuh, kalau dipakai buat duduk, ngga mental alias ambles. Hihihi.

Orang rumah sih sudah tahu, makanya jarang duduk di kursi yang paling kanan. Cuma, kalau ada tamu, dan langsung masuk ke ruang tengah, biasanya mereka memilih untuk duduk di paling kanan. Posisi saat hendak duduk semangat banget, saat landing malah makbles. Kenaaaa, deh! Qiqiqi.

Karena punya nilai history yang begitu kuat, Bapakku pinginnya memperbaikinya saja. Tapi menurut Ibu, ada baiknya nyari yang baru karena modelnya sama sudah ngga usum.  Aku ngga bisa banyak komentar, takut dimintai pertanggungjawaban. 😛

Aku sempat bilang ke Bapak, buat nyari kursi sofa murah, dan elegan. Murah, dan awet. Murahh, dan bagus. Ini prinsip banget. Ngga pakai tapi. 😆 Memang ada, gitu? Pasti ada, karena selalu ada jawaban untuk tiap pilihan. Yaaaa, kaaan? 😛

Akupun mulai bantu mencari referensi kursi sofa murah yang modelnya simpel, murah, dan elegan.

Kursi Sofa Model “L”

Ini paling aku rekomendasikan. Panjangnya tidak melebihi kursi sofa yang sekarang. Namun, hanya ada satu dengan tipe memanjang. Pas buat bersantai sambil nonton teve, atau kruntelan sama bojo, dan  Jasmine. Uuffh…Orang lain yang mau duduk di sini kayaknya juga mikir-mikir. Karena kursi sofa yang kurekomendasiksn ini hanya muat dua sampai tiga orang dalam satu tempat. Kurang nyaman kalau buat ngobrol bareng tetamu.

kursi-sofa-model-l-1Selain itu, dari model udah nampak private banget. Aaak…ternyata harganya cukup terjangkau. Satu jutaan! Uuuwh…

Kursi Sofa Model Sudut.

Kursi Sofa ini memang akan ditempatkan di ruang tengah, namun Mbah Kung kerap mempersilakan para tetamu untuk duduk di bersama di ruang ini. Banyak alasan, sedang nanggung nonton suatu acara, sambil nonton berita, atau merasa ngga nyaman di ruang tamu. *kapan-kapan perlu posting ruang tamu yang kayak gudang* Hihihi.

kursi-sofa-model-sudut-1

Jadi yaaa, kursi sofa yang biasanya hanya ditempati keluarga, bisa sekaligus dijadikan kursi tamu. Multi fungsi, gitu. Kursi sofa model sudut yang aku rekomendasikan ini tidak membutuhkan space yang luas. Kalau beneran tertarik dengan model ini, space ruang tengah akan tetap.

Kursi sofa model sudut ini ternyata harganya juga terjangkau, yaitu dua juta-an. Aku kira bakalan mahal karena nampak elegan.

Kursi Sofa Model “L”

Waaainiiii…cocok banget ditaruh di depan televisi. Model simpel, desain menarik, nampak elegan, harganya terjangkau pula. Ini menjadi kursi sofa idamanku banget, nih. Bakal betah berlama-lama di depan televisi. Kenapa? Sembari nonton teve, pasti nyaman buat nenenin Jasmine, sampai kami tidur pulas. 😀 😆

Sofa Murah

Keliatannya kecil, ya? Padahal ngga lho. Ini cukup lebar. Nyaman buat bobok juga karena bahan kainnya adem, dan busanya empuk. Siapa yang ngga pingin bobok di atas sofa macam ini, coba? Sesekali dalam seminggu  bisa jadi Puteri Tidur lah, ya.

Membaca lewat kolom detail informasi, ketiga kursi sofa di atas tergolong murah, elegan, dan sepertinya awet. Ini dengan pertimbangan bahan yang digunakan. Tapi, kembali lagi pada anggaran ya, PakBuk. 😉

Omong-omong, kalian suka kursi sofa model yang mana untuk nyantai di ruang tengah? Atau, ada rekomendasi lain? ??

Yuk, Menjadi Bagian dari Komunitas GenPI Wilayah Jawa Tengah

Komunitas GenPI Jawa Tengah – Sebelum tulisan ini sampai tiga ribu kata, aku mau norak dulu, yaaa. 😀 😛 😆 Jum’at (10/03), aku dapat telepon dari Mas Artadi, salah satu Staff Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI. Ngga tahu kenapa, setelah menutup telepon, aku giraaang banget karena aku diundang untuk suatu event.

Norak berkelanjutan saat menerima undangan perihal pembentukan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah yang direncanakan pada hari Senin (13/03). Ini nih event yang kumaksud. Membaca daftar nama yang bakal hadir di acara GenPI Jateng. Soalnya sedulur Banyumasan: Mas Pradna, Pungky, Tante Neli, dan Afri, juga tercantum sebagai peserta. Qiqiqi. Mereka adalah Blogger wilayah Banyumas yang sudah kukenal lama, dan cukup sering berkomunikasi. Ya…meski pada akhirnya Mas Pradna dan Pungky ngga bisa hadir karena suatu hal. Fufufu.

Makin tinggi level noraknya ketika acara sudah dimulai. Kenapa? Karena Banjarnegara dimention oleh Pak Urip Sihabudin, Kadis Porpar Provinsi Jawa Tengah. Kemudian lanjut dimention oleh Bapak Don Kardono, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Komunikasi. Secara, peserta yang datang kan ngga hanya dari Banjarnegara saja, ya. Qiqiqi. Gini aja dinorakin, ya. 😆

Memang sih, aku menghadiri undangan ini atas nama Blogger. Namun karena GenPI dibentuk per wilayah, dalam hal ini adalah wilayah Jawa Tengah, maka aku dan Banjarnegara akan terus berdampingan untuk GenPI. 😀 😀 Yaudah Pamernyaaaa. 😛

GenPI Wilayah Jawa Tengah merupakan tindak lanjut dari pembentukan komunitas GenPI yang sudah dilaksanakan di lima wilayah yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Barat dan Maluku yang dimaksudkan untuk mengembangkan promosi wisata nusantara dengan melibatkan generasi muda khususnya penggiat sosial media.

Disaat GenPI Lombok Sumbawa telah berhasil mencapai kesuksesan dalam mempromosikan wisata secara digital, aku justeru baru tahu ada sebentuk komunitas yang didukung oleh Kemenpar untuk fokus mempromosikan pariwisata Indonesia. Hellow…kemana aja, Sist. Qiqiqi

Mbak Jhe adalah koordinator GenPI Lombok Sumbawa yang saat itu turut menghadiri acara Focus Group Discussion Pembentukan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Wilayah Jawa Tengah yang bertempat di Hotel Aston Semarang. Dia berbagi pengalaman perihal kegiatan GenPI yang membuat kami, para peserta FGD, makin gereget dan semangat menjadi relawan GenPI.

Selain Mbak Jhe, hadir pula perwakilan dari GenPI yang telah terbentuk sebelumnya: Bang Esmat (GenPI Mentawai), Bang Glen (GenPI Maluku), Bang Aswi (GenPI Jabar), dan Bang Siapa Bang (GenPI Sumbar) yang ternyata kami belum sempat berkenalan. 😆 Keren, ya!

Tentunya bukan tanpa sebab Kemenpar memilih Jawa Tengah menjadi chapter berikutnya. Dari banyaknya objek pariwisata di Jawa Tengah, ternyata jumlah kunjungan wisatawan, macanegara khususnya, masih tergolong rendah. Kalah saing dengan Jawa Barat. Padahal, Jawa Tengah mempunyai objek pariwisata yang sudah mendunia. Candi Borobudur, misalnya. Makanya, Kemenpar menggandeng para netizen yang berdomisili di Jawa Tengah untuk turut mempromosikan pariwisata Jawa Tengah dengan harapan

Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) merupakan generasi muda yang mempunyai kemampuan lebih dalam dunia internet berbasis komunitas yang memiliki aktivitas rutin dan aktif dalam mempromosikan pariwisata Indonesia baik melalui blog, media sosial, dan media digital lainnya kepada masyarakat luas.

Namanya komunitas di bawah payung Kementerian, punya niat sebaik apapun, biasanya timbul pro dan kontra, ya.

“Halaaaaaaaah…kalian mau-maunya dimanfaatin Kementerian Pariwisata untuk ikutan promosi pariwisata Indonesia. Kayak ngga punya kerjaan aja.”

Kira-kira ada yang berkomentar seperti itu, ngga? Semisal ada, berarti sifat gotong royong dalam diri telah luntur, mungkin. 😛 😛 Untuk mensukseskan pemasaran pariwisata Go Digital, Kemenpar ngga mungkin bisa bekerja sendiri. Menggandeng generasi Millennial: para Blogger dan pegiat sosial media, untuk turut mempromosikan pariwisata Indonesia yang sangat beragam menjadi solusi baik bagi kemajuan wisata Indonesia.

Yakali, pihak Kementerian mampu membagikan kekayaan pariwisata Nusantara yang jumlahnya seabreeeeg. Kemampuan mereka pasti terbatas lah, ya. Apalagi, saat ini banyak anak muda yang memanfaatkan sosial media untuk share kekayaan pariwisata Indonesia. Yaudah, anggap aja ini keuntungan bagi Kemenpar, kan.

Kenapa Generasi Milenial?

Karena generasi yang lahir pada tahun 80-an ke atas dianggap siap dan sanggup berlama-lama online, dan pegang gadget. Generasi ini juga dekat dengan teknologi, perangkat digital dalam gaya hidup, dan kesehariannya.

Adanya wadah bernama GenPI ini pas banget digunakan untuk menyatukan para relawan yang punya tujuan sama untuk Go Digital pariwisata Indonesia.

Lalu, kenapa harus ada GenPI?

Memang, tiap daerah kini sudah terbentuk komunitas: blogger, dan Instagram, khususnya. Namun, dalam komunitas tersebut masih gado-gado. Blogger Banjarnegara, misalnya.

Tulisan dari anggota  komunitas tersebut sangat beragam: pendidikan, budaya, ekonomi, politik, wisata, dan masih banyak kategori sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.  Makanya, Kementerian Pariwisata membuat wadah atau komunitas  bernama GenPI. Tujuannya, agar para netizen, Blogger, dan pegiat media sosial, yang telah bergabung dengan GenPI dapat fokus membagikan informasi Pariwisata Indonesia.

Generasi Pesona Indonesia
Pak Don Kardono ngomongin M-17. Qiqiqiqi

Dalam acara ini, hadir juga Kadisporapar Provinsi Jawa Tengah, Bapak Urip, dan tiga pemateri dari Kementerian Pariwisata:  Taufik Rahzen (Budayawan dan Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Budaya), Don Kardono (Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Media dan Komunikasi), dan Taufan Rahmadi (Anggota Tim Percepatan Wisata Halal dan Tim Percepatan 10 Destinasi Wisata Prioritas).

Pematerinya keren-keren, ya. Materi yang disampaikan pun betul-betul berbobot kek yang nulis blog post ini. Wkwkwk. Pak Taufik Rahzen, misalnya. Beliau menyampaikan, bahwa rempah-rempah Indonesia bisa menjadi kekuatan global karena kekayaan ini ngga dimiliki bangsa lain. Perjalanan rempah di Indonesia pun sangat potensial untuk diangkat sebagai wisata tematik karena mempunyai potensi wisata budaya, alam, bahari, dan kuliner khas nusantara. 

Dengan jalur ini, diharapkan wisatawan dapat menemukan dan memahami sejarah proses perjalanan menikmati keindahan alam, kelezatan kuliner, dan kehangatan dari beragam budaya Indonesia. Topiknya pas banget dengan tema dari GenPI yaitu “Peran Strategis Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Dalam Rangka Penyusunan Strategi Pemasaran Wisata Tematik Jalur Rempah.”

GenPI Jawa Tengah
Semangatnya Pak Taufan luar biasaa!

“Netizen berusaha untuk berbagi gambar, tulisan, informasi yang bermanfaat, dan tidak menjatuhkan reputasi.” Seperti itu pesan dari Pak Don Kardono. Perihal dunia pariwisata, sebagai Blogger dan pegiat sosial media, ada baiknya menyampaikan informasi baik, dan juga menarik tentang pariwisata Indonesia. Ngga memposting informasi HOAX, apalagi sampai menjatuhkan reputasi pariwisata Indonesia. Semisal ada kekurangan, atau bahkan kejelekan tentang obyek wisata di Indonesia, ada baiknya menyampaikan dengan bahasa halus. Saling menjaga reputasi kalau ini, ya.

“Netizen pariwisata indonesia bersatu, bersama-sama menjadikan Indonesia pusat epicentrum pariwisata dunia.” Ini mimpi Pak Taufan. Apakah bisa  terwujud? Bisa banget kalau kamu, para generasi milenial, turut menyukseskan program GenPI. 😉

Acara ini ditutup dengan pemilihan Ketua Koordinator untuk wilayah Jawa Tengah. Mas Safigh Pahlevi Lontoh, pegiat pariwisata Jawa Tengah terpilih menjadi ketua GenPI Wilayah Jawa Tengah. Selamat ya, Kaaak. Semoga Komunitas GenPI Jateng bisa mewujudkan harapan Kemenpar untuk menaikkan jumlah Wisatawan Nusantara dan juga Wisatawan Mancanegara.

Btw, saat ini GenPI Wilayah Jawa Tengah masih dalam tahap pembentukan kepengurusan. Buat kamu yang tinggal di Jawa Tengah, nanti ikut gabung dan menjadi bagian dari GenPI Jateng, ya. Menjadi relawan untuk Pariwisata Indonesia. Tunggu saja rekruitmennya. 🙂 Buat yang di luar Jateng, gabung aja dengan GenPI yang sudah terbentuk. Kalau belum terbentuk di Provinsimu, tunggu saja. Siapa tahu menjadi generasi berikutnya. ^_*

Oleh-oleh Menarik dari Perkebunan Teh Tambi, Wonosobo

Membuatkan teh untuk keluarga telah menjadi rutinasku tiap pagi hari. Satu gelas minuman teh tanpa gula atau teh tawar untuk Ayah Jasmine. Empat gelas minuman teh dengan gula sepucuk sendok makan untuk aku, adik, dan orang tua.

Untuk kebutuhan teh tiap harinya, kami memilih teh celup supaya lebih praktis. Tinggal celup, angkat. Celup lagi, angkat lagi. Celup terus, angkat bentar. Celup celup, angkat angkat. Eh, ini ngapain celup angkaat muluuuk? 😆 😆

“Kalau kalian nyeduh teh celup, jangan terlalu lama membiarkan teh tersebut di dalam gelas, ya.”

Tiap kali mencelupkan teh ke dalam gelas, kata-kata Pak Puji, tour guide dari PT. Perkebunan Teh Tambi, seperti sudah nempel banget di jidat.

Kenapa?

Pak Puji memberi informasi, bahwa bungkus dari teh celup yang berupa kertas putih kurang menyehatkan. Ada semacam zat apa gitu, aku lupa. Jadi, aku nyelupin tehnya cukup bentar, ngga lebih dari tiga detik. Terpenting airnya panas supaya teh mudah larut. Ya, kaaan?

Ini salah satu oleh-oleh yang kudapat setelah dua jam keliling Perkebunan Teh Tambi yang luasnya kurang lebih 2 hektare.

agrowisata-tambi

Tea walk di perkebunan Teh Tambi lebih asyik dan menarik jika dilakukan di bawah jam 10.00 WIB. Selain karena terik matahari yang kadang begitu menantang, pengunjung dapat berkomunikasi dengan Ibu-ibu pemetik teh. Jadwal mereka petik teh itu mulai pukul 06.00-10.00 WIB. Setelahnya, istirahat. Kemudian dilanjut lagi siang hari habis dzuhur.

Melihat, sekaligus belajar memetik teh baik secara manual, menggunakan gunting, maupun mesin, langsung dari para Ibu-ibu tangguh. Ini yang aku idamkan. Ngrecokin para pemetik Teh ngga apa-apa, lho. Asal ngga kelamaan, soalnya mereka punya tarjet memetik teh tiap harinya. 😉

Perkebunan teh yang terletak di lereng sebelah barat daya Gunung Sindoro memang menyediakan paket wisata tea walk. Kamu ngga harus menyambangi seluruh hamparan pohon teh yang terbagi menjadi tiga area. Ada pilihan rute yang ditawarkan: rute pendek (1-2 km), rute menengah (2-3 km), dan rute jauh (3-9 km).

Mengambil rute terpendek, yaitu dari pintu masuk yang terletak di samping kanan front office Tambi, sampai pintu keluar yang cukup dekat dengan Pabrik Teh Tambi, sudah cukup mengeluarkan banyak energi. Apalagi, sambil mendengarkan penjelasan dari Pak Puji tentang dunia dalam sepucuk teh yang ternyata ada banyak cerita yang pada akhirnya menambah pengetahuan seputar perjalanan daun teh sampai teh tersebut siap saji.

Familirization Trip Jawa Tengah
Famtrip bareng Blogger dan Dinpar Jateng…

“Jalannya pelan-pelan, ya.” Pak Puji seperti menuntun langkahku bersama teman-teman blogger yang mengikuti famtrip. Memang, hujan sempat mengguyur Tambi semalaman, namun jalan ngga begitu licin. Kami pun bebas berjalan tanpa takut terpleset. Tapi tetap sih, hati-hati itu perlu.

Melihat hamparan perkebunan teh yang begitu rapih, rasa-rasanya ingin segera pepotoan. Menghabiskan baterai kamera, atau menghabiskan space memory card. Hihihi. Sayangnya, tea walk di Tambi tuh betul-betul terarah. Ada saatnya jalan-jalan sambil narsis, menyapa para pemetik daun teh, ada juga sesi serius seperti sedang menimba ilmu di bangku sekolah.

Sebelum menyapa Ibu-ibu yang tengah sibuk dengan peralatan petik teh, kami diajak Pak Puji ke bagian tengah perkebunan. Kami santai sejenak sembari melihat, dan menyentuh dedaunan teh segar.

Berdiri di antara pepohonan teh ternyata dapat menambah energi. Masih dalam bentuk daun saja sudah menyegarkan, ya. Pantas saja, tubuh pun menjadi lebih segar ketika menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari.

“Tiga pucuk ter atas adalah daun teh terbaik. Pucuk Peko, namanya.”

Di sini, Pak Puji mulai berbagi pengetahuan sekaligus praktik cara memetik teh dengan benar. Kali ini, Pak Puji mengambil sampel pucuk peko. Bahwa tiga daun ter atas atau ujung pucuk daun dengan kuncup tunas aktif yang berbentuk runcing adalah pucuk peko yang nantinya akan menghasilkan teh berkualitas baik.

TEH PUCUK PEKO
Pucuk Peko, nih. . .

Kenapa pucuk peko berkualitas baik? Karena di dalam pucuk peko mengandung banyak senyawa katekin yang belum mengalami degradasi. Pucuk Peko akan mengalami dormansi setelah menghasilkan 4-7 pucuk. Makanya, saat menjumpai Pucuk Peko, para pemetik akan lebih berhati-hati memetiknya supaya dapat tumbuh lagi dengan cepat.

Ini oleh-oleh kedua. Bahwa pucuk teh yang bagus itu yang runcing. Terlihat jelas, bahwa yang masih runcing itu daunnya masih muda banget. Jika diolah, hasilnya pun ngga pekat. Bening, tapi tetap lah mengarah pada beningnya teh, bukat nening putih. Hihihi. Dan ini lah teh yang bagus, dan memiliki harga jual lebih tinggi ketimbang jenis daun teh lainnya.

tour-guide-tambi
Famtrip bareng Mbakyu Blogger Wonosobo…

Selain Pucuk Peko yang mempunyai kualitas teh bagus, ada juga pucuk teh yang menghasilkan kualitas buruk. Yaitu Pucuk Burung. Untuk mendapat sampelnya, Pak Puji mengajak kami ke area atas. Ini oleh-oleh ketiga.

Pucuk burung adalah tunas tidak aktif yang berbentuk titik yang terletak pada ujung pucuk. Pada periode ini pucuk in-aktif mereduksi atau memperlambat pertumbuhan.

Pucuk burung sering terbentuk jika pemupukan tanaman kurang dan ketersediaan air yang kurang. Kalau tidak segera ditangani, bisa-bisa cepat diremajakan.

Memangnya ada peremajaan pada pohon teh, gitu?

peremajaan-teh-tambi
Usianya sudah ratusan tahun. . .

Adaaaa banget! Peremajaan pohon teh dilakukan secara berkala. Pohon yang usianya puluhan tahun, atau puluhan tahun, bila dirasa sudah tidak produktif, maka segera dilakukan peremajaan.

Sebelum sampai peremajaan, ternyata ada aktifitas unik yang dilakukan oleh para karyawan perkebunan Teh Tambi. Adalah membersihkan lumut yang menempel pada batang pohon teh. Membersihkannya tanpa menggunakan porselen lho, ya. Hahaha. Cukup mengerok menggunakan alat khusus sampai si ijo lumut habis. Kegiatan ini juga dilakukan secara berkala, tiap empat tahun sekali.

TEH TAMBI PEMETIKAN
Pakai gunting petik daun Teh…

Btw nih, ya. Dalam pemilihan teh, aku lebih suka teh dengan warna hitam pekat. Rasa-rasanya lebih mantap. Tapi oleh-oleh terakhir yang kudapat dari Pak Puji, makin pekat warna teh, berarti kulitasnya ngga semakin bagus. Justeru sebaliknya. Dan itu sudah aku buktikan saat kunjungan Pabrik Teh Tambi.

Saat filterisasi -semoga bahasanya betul-, daun teh akan memilih muara sendiri-sendiri. Berjalan di atas mesin, lalu masing-masing daun akan terpisah sesuai kualitasnya. Dan daun teh dengan kualitas yang kurang bagus rata-rata daunnya ngga muda. Makanya, jika diolah akan menghasilkan warna yang pekat. 🙂

Semenjak tahu kenyataan tersebut, aku dapat menerima teh yang yang ngga begitu pekat. Sudah ngga pernah beli teh corbang, teh yang saat dicor langsung abang (begitu dituang, langsung merah pekat).

Nah, supaya secangkir teh yang tiap hari diseduh memberi manfaat bagi tubuh:

  • Hindari minum teh dicampur dengan Es, atau yang lazim disebut Es Teh. Kalau udah seperti ini, teh sama sekali ngga ada manfaatnya bagi tubuh.
  • Campur dengan gula secukupnya. Ini dapat menambah tenaga, dan ngga menambah kada gula dalam darah.
  • Teguk lah saat teh masih dalam keadaan hangat agar tubuh mendapat reaksi. Karena teh hangat memang dipercaya dapat mengjangatkan tubuh.
  • Jangan diminum jika sudah lebih dari satu jam, atau sudah dalam keadaan dingin karena teh ngga akan memberi manfaat apapun. Teh sudah tergolong basi jika sudah dingin.
tambi-tea-walk
Sama Kecemut pas masih di dalam perut. . . 😛

Selain aktivitas tea walk, Tambi juga menawarkan paket outbound, tour Dieng, paket arung jeram, dll. Ada juga penginapan yang cukup recommended. Penginapan di Tambi ini semacam homestay, satu rumah bisa digunakan untuk beberapa orang. Cocok banget untuk wisata keluarga.;)

Makasih buat Mbakyu Blogger, dan juga Dinpar Jateng yang udah ngajakin jalan-jalan ke Perkebunan teh Tambi. Udah ngajak nginep di penginapan Tambi yang masih satu lokasi dengan Perkebunan Teh Tambi, dan juga jalan-jalam di Pabrik Teh Tambi. Makasih untuk pengalaman yang penuh manfaat, Pak Puji. 🙂

PT. Perkebunan Teh Tambi

Alamat: Desa Tambi, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo
Reservasi: (0286) 321077, 081 548 564 988