Menilik Pembuatan Nopia di Dapur Pak Narwan

Kalian pernah mendengar orang jualan es krim keliling kampung? Es krim enak, dua ribu rupiah. Rasa tobeli, vanila, moca, melon. 😆 😛 😛 Ngga tahu kenapa, saat diajak ke rumah produksi Nopia, tiba-tiba aku pingin banget teriak gini: “Nopia…enaak…rasa cokelat, rasa durian, rasa brambang, rasa gula merah. Gulanya asli. Aman buat Si Kecil” 😆 😀 Ini datang-datang songong amat, ya. Bisa-bisa kualat dan kena marah Pak Narwan beserta jajaran warga Banyumas kalau teriak-teriak di depan rumahnya. 😀

Acara #JuguranBloggerIndonesia yang diselenggarakan di Kabupaten Banyumas sukses menambah pengetahuanku. Salah satunya yaitu tentang Nopia yang ternyata adalah penganan favoritku. 😆

Ya, aku baru tahu saat itu juga kalau nama penganan yang aku sukai sejak kecil bernama Nopia. Bahkan saat Tante kelinci memastikan ketidaktahuanku tentang Nopia, dia nampak heran karena Nopia ini termasuk deretan jajanan hits di Banyumas dan juga masuk daftar oleh-oleh khas Banyumas.

“Serius? Masak ngga tahu Nopia, sih!” Geregeet pun sampai muncul. 😆

KEMASAN NOPIA BANYUMAS
Kemasannya menarik, ya…

Masuk dapur Nopia Pak Narwan yang telah berdiri semenjak Tahun 1987, Yasmin langsung nyelonong menuju ruang tengah. Anak itu memang lagi gesit-gesitnya. Aku pun mengejarnya, lalu menangkapnya. Takut bikin onaar. Hahaha. Di sini lah Nopia mulai diproses oleh tangan-tangan yang handal, penuh ketelatenan. Dari tangan terampil mereka, tiap hari dapat memproduksi 2.000 lebih Mino tiap pekerja. Saat itu, di ruang ini ada empat pekerja. Banyak juga produksi tiap harinya, ya.

Aku mulai terheran-heran saat melihat penganan ini ternyata berbentuk bulat kecil persis bakpia Yogya. Sampai sini, aku memastikan kepada Tante kelinci bahwa yang sedang aku lihat adalah bakpia versi Banyumas.

NOPIA BANYUMAS
Mirip Bakpia banget, kaaan?

“Kalau yang ini aku tahu. Ini kan Bakpia, ih.” Aku mencoba konfirmasi kepadanya yang mulai sibuk dengan IG Stories.

“Bukaaaan! Ini bukan bakpia, cuma mirip dowang pas belum mateng.” Pembantahan dari Blogger yang punya jimat warna merah itu, sontak membuatku makin penasaran dengan Nopia. Padahal sudah di rumah produksi, tapi masih penasaran. Hahaha. Aku pun lanjut keliling untuk tahu lebih detil proses pembuatan Nopia.

Dapur Pak Narwan atau rumah produksi Nopia ngga terlalu luas. Terbagi menjadi tiga ruang, dan ruang kedua yaitu ruang produksi awal dimana para karyawan memasukan isi ke dalam Nopia. Ya, proses pembuatan Nopia dimulai dari sebuah adonan yang dibentuk bulat. Pembentukannya dibedakan menjadi dua, yaitu bulat kecil yang memiliki nama Mino (Mini Nopia) dan bulat besar dengan nama Nopia.

PEMBUATAN MINI NOPIA
Ini lagi diisi rasa, biar hidup makin istimewa… 😀

Setelah dibentuk, bulatan tersebut dibiarkan selama satu malam supaya kalis, punel, menul-menul kayak pipi Yasmin. Paginya, barulah diberi isi seperti gula merah, durian, cokelat, atau brambang (abon). Empat isian ini menjadikan Nopia kaya akan rasa dan membuat penggemarnya bisa gonta-ganti memilih rasa. Ngga melulu rasa nyeri di hati, atau rasa pilu karena rindu. 😀

Dari sini aku mulai pingin lihat hasilnya. Bertanya kepada Mas Yono yang sedang memasukan isi Nopia rasa gula jawa, ternyata Nopia dan Mino yang siap makan ada di ruang depan. Yaudah permisi, aku langsung menuju ruang depan dan izin kepada si empunya untuk mengambil satu Mino yang masih digelar di atas tampah (wadah).

“Yasalaam…ini mah Ndog Dinosaurus, namanya.” Batinku saat itu. Aku tahu banget penganan ini laaaah. Secara termasuk penganan favoritku semenjak semenjak kecil. *diperjalas lagi* hahaha Jadi emang beneran, awal adonan masih bulat agak pipih memang mirip bakpia. Tapi setelah dipanggang, ternyata si Nopia ini punya punggung mirip kura-kura, gitu. 😆

DITEMPEL DI GENTONG
Ini ovennya…Eh, Gentong yang very HOT!

Udah melihat hasilnya, mencicipinya juga, sekarang giliran penasaran dengan oven yang buat manggang si Mino. Gimana ngga penasaran, bulatan yang tadinya rata, berubah menjadi punya punggung kura-kura. 😆 😆 Belum lagi, jumlah produksinya kan banyak, penasaran juga segede apa ovennya. Melunasi rasa penasaran, aku menuju ruang paling belakang, ruang khusus untuk barbeque. *eh

Oven, alat canggih untuk memanggang. Nopia dan Mino ngga keluar dari alat canggih tersebut. Sebuah gentong yang menurutku mirip kurungan ayam karena luarnya terbuat dari bambu, di sini lah si manis Nopia dipanggang. Sederet berisi kira-kira sepuluh Mino, lalu ditempel di dalam gentong yang dalamnya terbuat dari tanah liat. Lalu kenapa Mino bisa punya punggung? Ternyata karena nempelnya ngga satu per satu, Cyiint. Langsung sederet, dan agak ditekan supaya nempel kuat di dinding gentong. Makanya bagian depan lebih tinggi, ngga datar lagi.

GENTONG NOPIA BANYUMAS
Nempelnya telaten banget…

Btw, ruangan ini panas banget. VERY VERY HOT! Jangan coba-coba berdiri lama-lama di ruang ini kalau bukan ahlinya. Soalnya keringat bakal gobyos! Di sini aku hanya bertahan beberapa detik dowang. Selanjutnya duduk-duduk cantik di ruang utama atau tempat untuk mengemas Nopia.

Bagi kalian yang sedang di Banyumas dan temannya suka minta oleh-oleh, beliin aja Nopia atau Mino yang punya label Pak Narwan. Harga untuk 300 gram Mino Rp 13.000 rupiah. Sedangkan untuk Nopia, Rp 20.000 rupiah per 300 gram. Pemesanan bisa langsung lewat telepon (0281) 796412. Kalian bisa juga datang langsung ke Rumah Produksi Nopia Pak Narwan yang beralamat di jalan Jaya Serayu No. 88, Banyumas, sekalian melihat proses pembuatannya.

Oleholeh khas banyumas
Hayoook…pilih Nopia, Mino, atau KAMI? Bungkuuuus! 😛

Eeeh…ini sudah terpecahkan, kenapa Nopia dan Mino punya punggung. Karena cara meletakkannya bukan pada sisi bulatan yang datar, melainkan samping kanan atau kiri bulatan. Jadilah si Nopia dan Mino melendung. Hahaha…sumpah, paragraf ini penting banget. 😀

🙂 Catatan Perjalanan “Juguran Blogger Indonesia 2017” kerjasama antara Komunitas Blogger Banyumas dengan Bappeda Litbang Banyumas dan didukung oleh  Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto. Makasih buat PANDI, @fourteen_adv, @lojadecafe, dan Hotel Santika Purwokerto yang turut mendukung acara ini. 🙂

Credit photos: Om Indra.

 

Warna Warni Agrowisata Lembah Asri, Serang

Mobil semi terbuka berkapasitas 13 orang telah siap di depan LA Homestay, sebuah penginapan milik warga Desa Serang yang telah kami tempati semalam. Mobil ini lah yang mengantar aku bersama beberapa Blogger dari berbagai daerah menuju Agrowisata Lembah Asri, sebuah obyek wisata yang berlokasi di lereng timur Gunung Slamet. Tepatnya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Terlihat dari desainnya, mobil yang khusus digunakan untuk mengantar wisatawan keliling Lembah Asri nampak nyaman dan menyenangkan. Bagaimana tidak, wisatawan dapat menikmati suguhan pemandangan lansekap Gunung Slamet, beragam jenis sayuran yang tumbuh segar di ladang warga secara lepas karena mobilnya tanpa pembatas berupa kaca. Menyenangkan, bukan? Belum lagi udara segar, hawa sejuk khas pegunungan yang menyehatkan.

Cukup membayar Rp 3.000 per orang, wisatawan akan diantar ke beberapa obyek yang berdiri di atas tanah bengkok seluas 1.3 hektar tanpa harus jalan kaki. Mengirit tenaga, malas berjalan, entah apa alasannya, yang jelas Agrowisata yang dikelola oleh BUMDes Serang telah memaksimalkan fasilitas untuk wisatawan.

Lembah Asri Dulunya…

Sebelum resmi menjadi obyek wisata, tempat ini dulunya adalah rest area yang telah dilengkapi dengan warung-warung berjejer milik warga desa. Namun, dengan berkembangnya pengetahuan dan pengalaman masyarakat Serang, warga Serang sepakat mengemas rest area menjadi Agrowisata menarik yang kini lebih dikenal dengan nama LA (baca: EL E).

Ini menjadikan Desa Wisata Serang makin ramai. Ya, di Desa Serang terdapat Desa Wisata yang menawarkan banyak potensi di dalamnya. Salah satunya yaitu agrowisata petik buah strawberry. Kalian pasti tak asing, kan?

Perjalanan dari LA Homestay menuju Agrowisata LA tidak membutuhkan waktu lama. Kira-kira sepuluh menit, kami sampai di gerbang utama Agrowisata LA.

lansekap_lembah_asri[1]

Wisata kali ini terasa istimewa karena kami ditemani Bapak Sugito, Kepala Desa Serang, dimana beliau mudah membaur dengan anak muda, dan sangat bersahabat. Sepanjang perjalanan, Pak Gito berbagi cerita tentang perjuangannya merangkul masyarakat untuk turut memanfaatkan potensi alam yang dimiliki Desa Serang. Lingkungan yang mendukung, tanah subur, dan iklim yang sejuk, misalnya.

Sesampainya di LA, mobil langsung parkir di depan Pendopo, sebuah ruang terbuka serbaguna. Pendopo ini biasanya digunakan untuk kegiatan masyarakat, pentas seni, dan tempat lomba, baik yang diselenggarakan oleh Desa maupun Sekolah yang berada di kompleks Desa Serang. Dari titik ini, Pak Gito mengajak kami menyusuri Agrowisata Lembah Asri.

 Outbound di Lembah Asri

Area outbound nampak jelas dari pertama masuk kawasan LA. Ya, area ini berada di atas atau dekat pintu masuk LA.

Cukup banyak wahana yang ditawarkan. Untuk dapat outbound di sini, kalian bisa mengambil paket outbound yang telah disediakan. Omong-omong, paket ini terpisah karena LA belum membuat paket terusan. Kedepannya, mungkin pihak LA akan membuat paket wisata bila seluruh wahana sudah siap.

lembah_asri_serang[1]

“Sebelum ke obyek wisata yang masih dalam pengembangan, Teman-teman akan saya ajak ke Lorong Cinta yang menjadi salah satu spot menarik untuk berfoto.” Ujar Pak Gito sembari mengarahkan pandangan kami ke Lorong Cinta.

“Anak muda zaman sekarang, menyebut Lorong Cinta ini sebagai obyek yang instagramable.” Tambahnya.

Spot Menarik untuk Berfoto di Lembah Asri

Seperti halnya wisata lain, agrowisata LA setidaknya mempunyai tiga spot menarik dan ikonik untuk narsis.

Pertama adalah Lorong Cinta. Lorong ini bukan lorong utuh melainkan semacam gapura yang terbuat dari besi, dan membentuk simbol LOVE. Yang menarik dari lorong ini yaitu adanya rangkaian bunga plastik warna warni yang tersusun rapih, dan membentuk simbol love. Makanya dinamai lorong cinta. Penggunaan bunga plastik ini hanya sementara, sembari menunggu bunga hidup yang telah ditanam “merangkai cinta” dengan sendirinya. 😉

lorong_cinta_lembah_asri_purbalingga[1]

Saking menariknya lorong ini, kami pun betah berfoto dengan berbagai pose secara bergantian. Luar biasa narsisnya. Blogger emang gitu, ya. Hahaha

Kedua yaitu replika strawberry raksasa. 😀 Kira-kira, kenapa buah strawberry dibangun sebesar raksasa dan menjadi ikon tempat wisata ini? Yaaaa…tak lain karena strawberry menjadi buah kebanggan Desa Serang.

strawberry_serang[2]

Pada waktu tertentu, buah merah menyala yang rasanya penuh kejutan ini menjadi salah satu penghasilan yang tergolong tinggi bagi masyarakat Desa Serang. Memang tidak semua masyarakat mempunyai kebun strawberry. Namun sebagian besar yang merawat kebun strawberry adalah masyarakat Serang. Jadi ya sama saja mendapat rezeki, ya.

warna_warni_lembah_asri_purbalingga[1]

Ketiga yaitu taman bunga yang lengkap dengan gazebo di sekelilingnya.

Melihat bunga warna warni seperti di atas, siapa yang kameranya rela dibiarkan istirahat di dalam saku atau tas? Duuh…sayang banget kalau kamera sampai diumpetin, ya. 😆 Di sini mau berfoto dari sudut mana saja akan mendapat hasil yang bagus. Kalau aku lebih suka dengan warna warni bunga yang melingkar. Segar banget.

Di sini kami berpencar seolah-olah sedang berlomba-lomba mendapat hasil foto terbaik. Hahaha. Lagi-lagi, jiwa narsis kembali muncul. Namanya Blogger, lihat taman yang lengkap dengan tatanan bunga warna-warni, pasti tidak bisa menahan hasrat untuk narsis. Terlebih aku yang saat itu mengajak Si Kecil. Please, jangan tanya berapa banyak jepretan yang dihasilkan. Hihihi

blogger_trip_lembah_asri[1]

Perjalanan dilanjut menuju beberapa obyek. Kami tidak menggunakan mobil menuju obyek karena ingin lebih santai, dan menikmati tiap obyek yang masih dalam tahap pembangunan. Obyek pertama yang sudah siap digunakan yaitu camping ground.

Segala perlengkapan, dan area untuk camping telah disediakan oleh LA. Pohon pinus yang nampak kokoh, serta kawasan yang bersih, dan asri, seakan mengajak kami untuk camping barang sehari. Uhh…sementara hanya bisa berandai-andai.

Selain camping ground, Agro Kids juga telah berjalan. Cukup banyak anak-anak sekolah yang berminat petik sayur sendiri. Nah, supaya bisa petik sayur dengan puas, dua bulan sebelumnya harus ada komunikasi dengan pihak LA agar ada kesiapan. Begitu juga dengan petik buah Stroberi. Telah disediakan lahan khusus.

Makin jauh kaki melangkah, makin banyak lahan yang masih dalam pengembangan. Taman Labirin, misalnya. Saat itu, pepohonan yang akan dijadikan Labirin sudah mulai tumbuh tinggi. Ada tiga petak yang siap dijadikan Taman Labirin. Kebayang serunya main di taman ini.

camping_ground[1]

Pak Gito mencukupkan perjalanan sampai di Labirin karena lahan setelahnya sudah milik warga. Menurutnya, lahan-lahan yang dekat dengan kawasan wisata LA ada kemungkinan akan dijadikan obyek wisata sembari menunggu ide-ide kreatif dari masyarakat, atau wisatawan itu sendiri. Pokdarwis Desa Serang, dan BUMDes terbuka menerima saran dan kritik.

Sayang banget, waktu untuk mengunjungi LA sangat terbatas. Karena, jam 10.00 WIB, kami sudah harus berkumpul di Lapangan Desa Kutabawa untuk menghadiri Undangan Kongres Gunung. Padahal, sebenarnya aku ingin mencoba outbound dan merasakan wahana High Rope, Flying Fox, dan Naik Kuda tunggang juga.

ikon_lembah_asri[1]

Hayuk…piknik ke Agrowisata Lembah Asri. Cukup membayar tiket masuk Rp 1.000 per orang, wisatawan dapat bersenang-senang sampai puas di sini. Selain itu, transportasi dari pusat Kota sudah tersedia sampai lokasi. Pun dengan akomodasinya. Ada banyak homestay di sekitar Desa Serang dengan harga terjangkau, nyaman, dan aman.

Soal makanan, kalian tidak usah khawatir karena di agrowisata ini telah tersedia beberapa warung yang menyediakan aneka makanan, minuman dan camilan khas desa setempat. ^_^

Buka Bersama a la GenPI Jateng di Radja Pendapa, Ungaran

Haii…siapa yang sudah follow akun instagram dan twitter @genpijateng? Ada banyak informasi penting yang telah dibagikan melalui akun tersebut, lho. Open recruitmen volunteer baru, misalnya. Atau, kegiatan yang sedang berjalan sekarang yaitu kuis #pesonaramadan2017 yang berhadiah pulsa seatus ribu tiap harinya dan lomba vlog dan blog yang berhadiah smartphone. Kece banget, kan?

Nah, untuk mempersiapkan kegiatan di atas, ternyata ngga cukup dengan hanya ngobrol melalui online saja. Meet up yang dikemas dalam bentuk buka bersama a la GenPI pun akhirnya diselenggarakan pada hari Minggu (4/6) bertempat di Gallery Radja Pendapa, Ungaran, Semarang.

Aku berangkat dari Banjarnegara pukul 10.00 WIB menggunakan travel favorit yaitu Tri Kusuma. Sengaja lebih awal karena acara akan dimulai pukul 16.00 WIB. Sesampainya di Semarang, aku turun di ADA Banyumanik untuk mokah di McD. *eh. Yawla…aku anak solehah dan ngga mungkin mokah. Hahaha.

Bukan. Bukan untuk mokah, melainkan untuk menunggu Pak Ketua untuk berangkat bersama menuju Radja Pendapa. Tapi karena sampai ADA masih terlalu siang, aku pun jalan-jalan dulu. Itung-itung cuci mata, melihat dan meraba baju. 😀

Pukul 14.30 WIB, Pak Ketua bersama isterinya menjemput aku dan teman-teman lain yang masih di rumah. Ada Mas Hyudee, Mas Vicky, dan Mbak Dedew bersama kedua anaknya. Ini pertemuan kedua dengan mereka setelah acara pembentukan GenPI Jateng. Kali ini aku betul-betul paham dengan yang namanya Mas Shafig (Pak Ketua), Mas Hyudee dan Mas Vicky karena dulu saat FGD hanya say hello. Hahaha. Kalau sama Mbak Dedew, sih, udah cukup kenal. 😛

Buka Bersama GenPI
Selamat datang di Gallery Radja Pendapa!

Ungaran sore itu ngga begitu ramai. Jalan raya pun ngga begitu padat. Perjalanan dari ADA menuju Radja Pendapa dengan bantuan Google Maps ngga lebih dari tiga puluh menit.

Sesampainya di Radja Pendapa, ternyata kami datang paling awal, dong. Tuan rumah, Pak Don, belum sampai. Kami pun langsung bersantai layaknya di rumah sendiri karena emang homey banget. Duduk sambil main gadget di pinggir kolam yang berisi ikan koi. Nostalgia ke masa kecil dengan bermain congklak. Foto-foto di rumah adat karena gebyoknya emang asyik buat pepotoan. Bisa juga ngadain acara bareng teman-teman, rekan kerja, atau para mantan, karena sudah disediakan dua pendapa di bawah rumah adat.

Selang beberapa menit, Pak Don beserta keluarga akhirnya datang. Btw, Radja Pendapa ini bukan rumah Pak Don. Hanya saja, beliau kerap menjamu tetamunya di sini. Isteri Pak Don yang ramah dan cantik banget hadir dengan membawa bunga-bunga untuk ditaruh di pot meja. Beragam bunga segar yang telah tertata rapih di atas meja menambah suasana pendapa makin hidup.

Satu per satu teman-teman GenPI Jateng akhirnya mulai berdatangan. Acara diskusi pun dimulai pukul 16.30 WIB, sembari menunggu waktu bukber. Acara bukber a la GenPI Jateng ini lain dari bukber pada umumnya. Lebih produktif karena banyak yang kami diskusikan. *uhuuuk

Don Kardono Radja Pendapa
Pemetaan itu penting!

Tindak lanjut dari open recruitmen menjadi topik yang membuatku dag dig dug. Pendaftaran volunteer baru dibuka selama lima hari dan aku ngga yakin teman-teman se eks karesidenan Banyumas banyak yang daftar atau ngga. Hahaha. Ini penting banget, asli. Takut embrio-embrio ngga banyak bermunculan di karesidenanku ini. Berat, Sist. 😀

“Paling ngga, kita punya dua bagian penting untuk promosi wisata di Jawa Tengah. Ada yang ‘cek ombak’, dan fokus pada bagian konten. Pemetaan itu penting.” Ungkap Pak Don saat diskusi.

Bagian ini, nih, yang membuatku makin ngga yakin dan baper. Hahaha. Karesidenan Banyumas terdiri atas empat Kabupaten: Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap. Sementara ini, aku belum pernah bebarengan dengan netizen Purbalingga dan Cilacap dalam suatu acara. Kalau Banyumas, sih, ada banyak teman di sana. Blogger dan pegiat sosial media di Banyumas kece-kece banget.

Radja Pendapa Ungaran
Ukiran rumah adatnya bagus, ya.

Mestinya aku ngga perlu was was, sih. Karena GenPI, kan, wadah buat para volunteer nih, ya. Jadi yang ikut bergabung ya memang hanya yang mau saja. Ngga boleh ada unsur pemaksaan, apalagi iming-iming untuk mendapat “materi”. Selain itu, sesama korwil, kami saling membantu untuk gaaaas polll. 😆 Saling support juga untuk kemajuan pariwisata Jawa Tengah.

Diskusi berlangsung hingga bedug maghrib, dan dilanjutkan dengan buka puasa dengan takjil yang menggoda, dan menu-menu spesial yang tiada duanya. Empek-empek, urab, sohun, sate lilit, sambel matah, ikan terbang, ayam betutu. Yuuumm…aku kalaaap! Hahaha.

Buka bersama GenPI Jateng di Radja Pendapa. Ini dia menu buka spesial kami hari ini ? #GenPIJateng #KulinerRamadhan #PesonaRamadan2017

A post shared by GenPI Jawa Tengah (@genpijateng) on

Usai buka bersama dan ibadah, diskusi kembali dilanjutkan dengan pemetaan dan makin terperinci. Tanpa disadari, PR pun makin banyak tentang promosi wisata Jawa Tengah dan bikin gereget. 😆 Bukber ditutup pukul 19.30 WIB. Aku pun kembali ke Banjarnegara diantar oleh Mas Don Suke, Mbak Uniek, Tina dan Mia. 😉

Btw, terima kasih buat teman-teman yang sudah mendaftarkan diri menjadi volunteer GenPI Jateng. Semoga bisa  bareng-bareng ngeGAAAAAS pariwisata Jawa Tengah, ya. ^-*

Radja Pendapa, Ungaran

Leyangan, Jl. Leyangan Raya, Ungaran Timur, Desa Jetis, Kab. Semarang

http://www.radjapendapa.com/

Intramuros, dan Liburan Singkat ke Manila

Bagiku, tahun ini betul-betul menjadi tahun terdisiplin di dunia kerja. Hampir setengah tahun berjalan, izin ngga masuk kerja bisa dihitung jari. Berbeda dengan tahun lalu, hampir tiap dua minggu izin untuk ini itu. 😀

Jatah cuti pun belum diambil karena aku terlalu banyak angan-angan dan rencana untuk liburan. Salah satunya menjelajah Intramuros, Manila. Duuh…belum apa-apa sudah pamer, ya. 😀 😆 Semoga beneran bisa ke sana. *doain sajaa, doakaaan* Sementara, aku berandai-andai dulu liburan ke Manila. Halal kan, ya. 😛

Perjalanan berawal dari Banjanegara pukul 16.00 WIB menuju Jakarta dengan naik Bus. Kira-kira empat belas jam perjalanan sampai terminal terminal Lebak Bulus. Kami memilih terminal ini karena di sekitar sini ada saudara dan berniat untuk silaturahim dan jalan-jalan dulu.

Penerbangan ke Manila rencana pukul 22.00 WIB. Sehari di Jakarta, kami udah cukup puas main ke TMII atau Dufan. Ya…ketimbang ngga ada kegiatan, ya. 😀

Tepat pukul 4.35, kami tiba di Ninoy Aquino International Airport setelah menempuh kurang lebih tujuh jam perjalanan dari Jakarta menuju Manila, dengan satu kali transit di Singapore. Capek? Ngga. Karena kami hanya transit dua jam di Singapore, dan hanya di bandara saja karena sudah larut malam.

Ternyata bandara Ninoy Aquino lokasinya di tengah kota Manila. Hanya butuh waktu tiga puluh menit ke pusat kota. Ini sangat memudahkan kami untuk memulai liburan singkat di Manila, dua hari satu malam.

Mungkin ini akan menjadi pengalaman pertama kali liburan ke luar negeri. Belum banyak pengalaman, namun kami memilih untuk jelajah Manila tanpa guide. Nekat, ya. Untuk mengawali memang sebaiknya begitu, supaya ngga ketergantungan, dan ngga manja. Kata suami, sih. Terlebih sekarang udah jarang orang tersesat atau bingung. Hanya berbekal gadget dan internet, informasi apapun bisa dapat. Ya, kan?

Destinasi yang menjadi tujuan kami yaitu Intramuros, sebuah distrik yang menyimpan jejak sejarah terbesar di Manila. Ya, berlibur ke Manila kurang lengkap tanpa menyusuri jejak sejarah yang lengkap dengan peninggalan berupa bangunan-bangunan kuno. Kawasan ini merupakan kawasan kota tua yang dikelilingi bangunan bergaya Spanyol peninggalan zaman penjajahan.

intramuros manila

Untuk menuju Intramuros, kami menggunakan Jeepney, angkutan umum legendaris di Manila. Angkutan ini nenyerupai jeep dengan bagian belakang memanjang. Dulunya digunakan sebagai transportasi untuk mengangkut tentara Amerika pada masa perang dunia kedua. Transportasi ini dibiarkan begitu saja setelah perang berakhir. Dan sampai saat ini, Jeepney terus dirawat sebagai moda transportasi umum.

Selain ingin lebih asyik, kami memilih transportasi ini untuk meminimalisir penipuan. Hahaha. Iya, beberapa teman yang sudah sampai Manila berbagi cerita, kalau transportasi Taxi dari Bandara menuju kota kerap nakal. Awalnya udah deal bayar sekian, tiba di tujuan berubah, menjadi lebih mahal. Duuh…

Sesampainya di Intramuros, kami berjalan kaki menyusuri kota tua, menghirup udara pagi yang belum terkontaminasi dengan asap kendaraan, dan singgah di beberapa bangunan dengan arsitektur budaya barat, peninggalan zaman penjajahan Spanyol selama tiga abad silam.

Ternyata menyusuri kota tua manila membutuhkan waktu yang ngga sedikit. Kota yang dikelilingi dengan dinding artistik ini memiliki bangunan-bangunan menarik yang sayang banget kalau hanya dilewati begitu saja. Dan kalian tahu? Tiap melihat dinding tebal dan kuno, dikit-dikit jepret, dikit-dikit ngoceh di depan kamera. Hahaha. Norak abis, ya. Emaang tujuannya gitu. 😛

Fort Santiago menjadi bangunan pertama di Intramuros yang kami kunjungi. Benteng Santiago dibangun sebagai pertahanan awal dari serangan laut. Beberapa orang tewas di penjara Benteng ini selama periode kolonial Spanyol dan Perang Dunia II. Salah satunya yaitu Jose Rizal, pahlawan nasional Filipina yang dipenjara disini sebelum menjalani pada tahun 1896. Sebagai penghormatan, sebuah patung dan museum didedikasikan untuknya.

Fort Santiago

Terletak di sisi timur Intramuros, di sini terdapat The Rizal Shrine Museum yang menampilkan memorabilia dari pahlawan Jose Rizal yang memperlihatkan beberapa koleksi peninggalannya serta jejak terakhirnya dari sel menuju lokasi eksekusi. Di halaman dalam, ada patung-patung yang bercerita. Asyik juga masuk ke dalam benteng yang sampai saat ini terawat baik.

Aku dan suami suka banget dengan bangunan kuno, beserta sejarahnya. Kami pun minta ditemani guide karena ingin tahu lebih banyak tentang bangunan ini secara langsung.

Destinasi berikutnya yaitu Katedral Manila. Katedral ini di sepanjang sejarahnya pernah hancur tujuh kali baik karena gempa bumi, angin topan, saat perang, maupun kebakaran.

Manila Cathedral

Katedral Manila didirikan oleh seorang pendeta yang ditugaskan untuk mendukung kolonialisme Spanyol di Filipina bernama Juan de Vivero. Lokasinya tidak jauh dari Fort Santiago.

Dari Katredal Manila, kami langsung menuju Manila Bay karena hari sudah sore. Kami sengaja memilih Manila Bay sebagai tujuan akhir pada hari itu karena saat memesan tiket pesawat, kami memilih penginapan di sekitar Manila Bay.

Alasan kami memilih penginapan di Manila Bay karena ingin makan malam sekaligus menikmati sunset di sini yang katanya menggoda banget.

Bagi kami, booking tiket sekaligus penginapan adalah pilihan tepat karena bisa hemat waktu, dan juga biaya. Apalagi pesannya lewat traveloka yang kini menyediakan paket wisata manila.

Pencarian tiket dan hotel melalui menu Pesawat & Hotel sangat mudah. Tinggal klik menu tersebut, kami bisa cek jadwal pemberangkatan pesawat lengkap dengan maskapai dan penawaran harga paket.

Kemudahan akses melalui website atau aplikasi booking tiket online masih berlanjut ketika akan booking hotel. Cukup ketik kota yang menjadi tujuan penginapan, lalu klik search. Traveloka akan memberi banyak rekomendasi hotel yang tentunya dapat disesuaikan dengan budget. Saat hendak membayar pun mudah karena tersedia banyak metode pembayaran. Ngga bingung.

Sebelum memilih paket, kami sempat cek harga tiket dan hotel secara terpisah buat pembanding. Ternyata selain hemat waktu, dengan memilih paket pesawat & hotel jauh lebih murah. Artinya, bisa berhemat dan bisa buat tambahan untuk keperluan lain. Makan, atau ikut tour calesa esok hari.

Ya, setelah bermalam di Manila Bay, kami tour calesa mengelilingi Binondo, Pecinan Manila. Binondo salah satu tempat bersejarah bagi masyarakat Filipina dikarenakan pada tahun 1603 di kota tersebut terjadi pemberontakan yang telah menewaskan kurang lebih 20.000 jiwa warga Tiongkok. Setelah kejadian tersebut, Pemerintah Filipina resmi menjadikan Binondo sebagai pusat tempat tinggal warga Tiongkok.

calesa manila

Btw, Calesa itu kereta kuda. Kebayang, dong, bahagianya Yasmin naik tutak dan Emaknya milih-milih pernak-pernik, oleh-oleh. Sementara Ayah bisa jadi galw takut Emak kalap belanja. 😀

Usai jalan-jalan di Pecinan, rencananya ingin kami melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Lihat paket hemat lagi di Traveloka, dong. 😉

Eeeh…kalian juga suka jalan-jalan melihat bangunan tua, kan? Yuuk…jalan bareng. Open trip atau gimana, gitu. Hahaha.

Notes: seluruh foto di atas diambil dari blog: https://theincoherentellipsis.wordpress.com/

Nyadran Gede di Pemakaman Ki Ageng Giring, Gumelem

Beragam tradisi untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan di beberapa daerah, Jawa Tengah khususnya, terus dilestarikan. Mulai dari Padusan, Keramas Masal, Dugderan, sampai pada Nyadran. Tentang tradisi ini, aku baru mengenal nyadran, itupun di desa sendiri. Makanya ketika mendengar ada acara nyadran gede, aku penasaran dan tertarik untuk mengikutinya.

Kamis (25/5), aku bersama suami, dan juga Yasmin mengikuti acara Nyadran Gede di Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Tradisi ini dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis, seminggu sebelum ramadhan. Dipilih hari terdekat diantara dua hari tersebut.

Ini bukan kali pertama kami ke Desa Gumelem. Namun, menjadi pengalaman pertama kami mengikuti Nyadran Gede. Selain tradisi, Nyadran Gede merupakan acara tahunan yang telah masuk kalender event Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Tak heran, jika yang turut Nyadran bukan hanya masyarakat Gumelem, namun para kerabat Keraton Surakarta, dan Sekda Banjarnegara pun turut.

Sesampainya di Gapura masuk Desa Gumelem, kami berhenti di pos ojek untuk mencari informasi tentang lokasi Nyadran Gede.

“Lurus terus, sampai balai desa ambil kanan. Nanti sampai Pemakaman Ki Ageng Giring” Petunjuk yang aku dapat dari babang ojek cukup jelas. Kami pun permisi untuk melanjutkan perjalanan.

Menuju Pemakaman Ki Ageng Giring

Sepeda motor yang kami naiki melaju cepat karena ada rasa was was akan ketinggalan nyadran. Sampai di depan Balai Desa Gumelem Wetan, pertunjukan kuda kepang sudah dimulai.

“Duuh…bisa jadi, nyadran sudah dimulai.” Batinku pesimis karena di sekitar Balai Desa sepi. Hanya ada sekelompok anak muda yang sedang bermain kuda lumping. Kemungkinan besar aku tidak bisa ikut nyadran dari awal. Dan firasatku betul saudara-saudaraaaa!

Melewati jalan masuk pesarean Ki Ageng Giring, beberapa mobil ber plat merah sudah berjejer rapih. Atas saran dari hansip desa yang menjaga tempat parkir, kami pun melanjutkan perjalanan sampai kompleks Pemakaman. Luar biasa! Di kompleks pemakaman ini sudah ramai. Terlihat para tamu undangan duduk di sekitar Paseban Gumelem, tepatnya di pelataran pemakaman Ki Ageng Gumelem. Para pedagang yang berjualan di sekitar kompleks pemakaman juga ramai.

NYADRAN GEDE GUMELEM BANJARNEGARA
Kompleks Pemakaman Ki Ageng Gumelem, Paseban Gumelem. . .

“Mari aku antar naik, Mbak. Nyadran baru saja dimulai.” Sebabang ojek yang mengenakan kaus biru menghampiriku, dan mengajakku naik. Aku pun kaget karena masih bingung melihat keramaian sekitar pemakaman.

“Baaang, memangnya mau naik kemana?” Tanyaku penuh penasaran, dan juga takut. Ya, takut diajak naik pelaminan. 😀

Setelah ngobrol bentar, ternyata kami akan diantar ke Pemakaman Ki Ageng Giring yang mana berlokasi di Bukit Girilangan. Ternyata kompleks pemakaman yang sudah ramai orang bukan Pemakaman Ki Ageng Giring, melainkan Ki Ageng Gumelem. 🙂

Ke Bukit Girilangan Bareng Babang Ojek

Babang ojek ini baik banget. Melihat aku bawa ransel merah, mungkin dia tahu kalau aku bukan warga Gumelem. Usut punya usut, setelah ketemu dengan Pak Udin, Kasi Umum Dinbudpar, ternyata semua babang ojek yang mengenakan seragam biru ini memang sudah ditugaskan untuk mengantar siapapun yang akan ke makam Ki Ageng Giring.

Jalan menuju makam Ki Ageng Giring merupakan jalan bebatuan, dan belum diaspal. Bebatuan kecil yang sudah tidak tertata, dan tanjakan yang cukup terjal membuatku cukup merinding karena aku membawa Yasmin. Akhirnya kupercayakan perjalanan ini kepada Babang Ojek. Kalau kata suami, mending lambaikan tangan, atau jalan kaki ketimbang dia harus nyetir motor sendiri. 😆 😛

NYADRAN GEDE 2
Di depan Pemakaman Ki Ageng Giring

Babang ojek berhenti di bawah tanjakan menuju pemakaman. Kami pun turun, dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Ngos-ngosan sudah barang pasti karena pemakaman Ki Ageng Giring berada di bukit. Berjalan kurang lebih lima menit, kami sampai Bukit Giringlangan, tempat keranda Ki Ageng Giring dimakamkan.

Kenapa yang dimakamkan hanya kerandanya saja? Nanti aku tulis terpisah, ya. 😛

Nyadran di Pemakaman Ki Ageng Giring

Enam laki-laki yang mengenakan pakaian adat jawa berjaga di pintu utama pemakaman. Di sini ternyata tidak kalah ramainya. Banyak masyarakat yang membawa ancak (talam dibuat dari anyaman), pejabat daerah, dan anak-anak sekolah pun turut menghormati acara ini.

NYADRAN RAMADHAN

Sayup-sayup terdengar suara tahlil dari cungkub atau makam Ki Ageng Giring. Aku betul-betul terlambat karena menurut Mbah Darisan, wakil juru kunci sekaligus tukang sapu pemakaman ini, nyadran atau ziarah sudah berlangsung, dan tidak lama lagi selesai. Kami pun turut bergabung di pelataran cangkub, dan membaca lanjutan tahlil yang dipimpin oleh juru kunci makam.

Usai mendoakan Ki Ageng Giring, satu per satu pejabat daerah keluar dari cungkub. Beberapa dari mereka ada yang kembali turun menuju kompleks pemakaman Ki Ageng Gumelem. Selebihnya, menunggu di bukit girilangan untuk menyantap hasil bumi yang telah disediakan.

NYADRAN GEDE 4
Kompleks Pemakaman Ki Ageng Giring

Aku kira nyadran telah usai, tapi ternyata belum. Sebelum adzan dzuhur berkumandang, juru kunci masih mempersilakan pengunjung untuk mendoakan Ki Ageng Giring. Setelahnya, barulah dimulai ritual adat nyadran, dan kenduri atau makan bersama di kompleks bukit girilangan. Merasa masih ada kesempatan, kami pun turut bergabung, tahlil, dan doa bersama di makam.

Sedihnya, Kami Gagal ikut Kirab

Kirab Babad Dalan Giling, dan Kirab Adat Sadran Gede. Dua kirab ini terlewati karena kami telat datang. Padahal, dua kirab ini sangat aku nantikan. Menyedihkan, bukan. 🙁

Menyaksikan puluhan perempuan menggendong ancak, seperti melihat perjuangan pada dahulu kala. Apalagi ini digendong dari Balai Desa Gumelem menuju Bukit Girilangan dengan jarak tempuh kira-kira 1 km. Betul-betul taat, dan penuh pengabdian, ya.

NYADRAN GUMELEM 58
Di sini acara kenduri untuk masyarakat Gumelem…

Belum lagi iring-iringan kirab yang diikuti para sesepuh Desa, juru kunci makam, dan pejabat daerah yang mengenakan baju kebesarannya, baju adat khas Jawa. Rasa-rasanya seperti kilas balik enam abad yang lalu, di mana para pengikut, dan para santri Ki Ageng Giring dengan setia menemani perjalanan Ki Ageng Giring kemanapun.

Sayang banget saat itu kami tidak menyaksikan moment tersebut. Semoga diberi umur panjang, tahun depan bisa datang lebih awal untuk turut kirab, dan tentunya dengan jalan kaki tanpa babang ojek supaya bisa menikmati tradisi nyadran gede. Bisa lebih khidmat mengikuti tradisi Nyadran Gede.

Kenduri, atau Makan Bersama di Bukit Girilangan

Adzan dzuhur berkumandang. Seluruh masyarakat bersiap-siap untuk makan bersama. Mempersiapkan nasi giling beserta lauk tradisional yang sudah dibawa oleh masyarakat Gumelem Wetan.

Siap makan bersama…

Di Bukit Girilangan terdapat semacam pendapa khusus untuk acara. Makanan pun ditata, berjejer memenuhi bukit untuk dikepung bersama. Sementara para tamu undangan yang nyadran di pemakaman Ki Ageng Gumelem turut bersiap-siap untuk acara Pisowanan di Paseban Gumelem. Pisowanan di sini merupakan acara puncak Nyadran Gede. Acara ini diisi dengan sambutan-sambutan, santap ancak, dan tenong.

Masyarakat Gumelem santap ancak di Bukit Girilangan. Sementara para tamu undangan di Paseban Gumelem. Karena pukul 14.00 WIB Ayah Yasmin ada keperluan, kami pun tidak ikut bergabung menikmati ancak. Berdoa lagi, semoga tahun depan bisa mengikuti nyadaran dari awal sampai akhir. 😉

Bangkok, dan 5 Destinasi Impian yang Manja

Punya teman yang perhatian, dan baik adalah berkah. Terlebih, saat mereka terus ingat, bahwa punya teman baik (juga). Tak peduli dengan jarak, apalagi status. Bahagia banget, euy!

“Idah sudah pernah naik pesawat?”

“Sudah.”

“Idah sudah pernah traveling keluar negeri?”

“Belum.”

“Tapi sudah punya paspor, kan?”

“Belum.”

“Juni traveling ke Jepang, ya. Bikin paspor dulu, aku tunggu di sini.”

Satu bulan lagi menuju Juni. Sayangnya, percakapan di atas terjadi dua tahun yang lalu. Teman baik yang aku kenal semenjak SMA, saat itu sedang tugas belajar di Jepang. Saking baiknya, dia ingin mentraktirku. Namun aku belum bisa menerima traktirannya karena aku baru masuk kerja di sebuah Instansi. Tergolong pegawai baru, gitu.

“Ini anak baru mulai kerja, kok, udah berani izin. Ngga benar, ini.”

Aku betul-betul ngga memiliki keberanian untuk izin, apalagi mengajukan cuti. Takut mendapat anggapan, atau pendapat buruk dari teman-teman kantor yang bikin sakit hati. Traveling ke luar negeri dengan jaminan traktiran pun gagal. 😛

Tawaran serupa kembali datang. Kali ini dari saudara yang saat ini sedang melanjutkan study di sana. Dia ingin, aku bersama keluarga kecilku menyambanginya selagi dia di Jepang.

“Yakin ke Jepang?” Tanya adikku setengah memastikan.

“Kenapa ngga yakin? Ada saudara di sana, kok.”

“Emangnya kalau ada keluarga di sana, kelar hidup loe?” 😆

“Eiiiits…busyet, deh. Bikin goyah.”

“Asean dulu, lah. Traveling yang dekat-dekat dulu. Pelan-pelan merasakan atmosfer negara tetangga. Lagipula ngga harus ada saudara, kan? Tanpa saudara, teman justeru makin bertambah.”

Asli. Ini bikin rencana buyar, dan iman menjadi goyah. Niat ingin memesan tiket pesawat lebih awal pun, terpaksa aku urungkan. Memang jika ada saudara yang welcome, rasanya lebih tenang. Apalagi kalau sudah jelas sedang menetap di negara yang hendak dikunjungi. Pasti akan sangat terbantu nantinya. Uunch…

Karena iman sudah terlanjur goyah, dengan beberapa pertimbangan, aku memilih trip ke asean terlebih dahulu sebagai perkenalan, dan Ibukota Negara Thailand menjadi destinasi impian pertama yang ingin aku kunjungi.

Thailand dikenal sebagai negara yang cantik dengan berbagai adat budaya, dan keindahan alamnya. Selain banyak pantai cantik yang tersebar di seluruh penjuru negeri, Thailand juga punya Bangkok yang tak hanya menjadi Ibukota Negara tapi juga memiliki destinasi wisata andalan Negeri Gajah Putih itu.

Pantai bukan destinasi utama yang ingin aku kunjungi, karena aku ingin piknik manja, gitu. Traveling yang ngga membutuhkan banyak tenaga. Jalan beberapa menit, dapat tempat wisata yang asyik. Naik transportasi umum ngga sampai satu jam, bisa melihat objek yang memikat. Uuuh…manjaaa!

Rencananya, sih, aku akan menghabiskan waktu dua hari di Bangkok. Dan berikut 5 destinasi impian di Bangkok yang ingin aku kunjungi:

Siam Ocean World

Begitu sampai Bangkok, aku ingin menyenangkan Yasmin terlebih dahulu dengan destinasi yang satu ini. SEA LIFE Bangkok Ocean World. Salah satu akuarium terbesar di Asia Tenggara.

Ya, Bangkok punya taman bawah laut yang begitu megah. Uniknya, akuarium ini menempati ada di basement mal Siam Paragon. Di sini kamk bisa melihat berbagai ikan dari bawah akuarium raksasa, termasuk penguin dan hiu berukuran besar.

Sensasinya, tentu seru dan menyenangkan serta memberikan pengetahuan baru tentang kehidupan bawah laut yang dipertunjukan setiap 30 menit sekali.

siam ocean world1

Siam Ocean World memiliki koleksi satwa laut yang cukup lengkap. Pengalaman membawa Yasmin ke purbasari pancuran mas, dia tertarik banget melihat biota-biota laut yang lucu itu. Makanya, aku rasa Yasmin pasti senang menyambangi Ocean World ini.

Grand Palace

Usai melihat biota laut, kami meneruskan perjalan ke Grand Palace. Ke Bangkok, tapi ngga menyambangi wisata yang satu ini sepertinya hambar. Karena Grand Palace ini masuk rekomendasi wisata yang musti dikunjungi saat ke Bangkok.

Istana Kerajaan Thailand ini berdiri tegak di pusat kota, dengan bangunan megah berlapis emas. Istana ini juga menjadi tempat tinggal Raja dan keluarganya. Selain menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan, Grand Palace juga menjadi museum yang menyimpan banyak sejarah Thailand yang selalu update.

Dan yang membuatku penasaran, ternyata di sini juga terdapat Kantor Pemerintahan. Penasarannya, seperti apa suasana kantor yang berada di kompleks wisata. 😀

credit: nurulnoe.com

Terlepas dari kegunaannya, bangunan istana ini sangat menarik, karena dibuat dengan arsitektur khas Thailand yang memiliki detail rumit, dan cantik.

Terus, di sini mau ngapain?

Foto-foto! Hahaha. Penting banget narsis di sini, ya. Iyalaah, soalnya ngga tahan melihat kilau emas di tiap sudut Grand Palace. 😀 Duuuh…kebayang hebohnya Yasmin di sini.

Wat Pho

Setelah melihat bangunan megah yang menyilaukan mata, kami memilih Wat Pho sebagai kunjungan destinasi berikutnya.

Wat Pho ini dikenal dengan Kuil Budha Berbaring. Sebenarnya patung seperti ini, tuh, ada di Indonesia. Tepatnya di Mojokerto. Aku oernah melihat beberapa teman share foto mereka di depan patung budha yang sedang berbaring. Tapi karena Wat Pho ini lokasinya berdekatan dengan Grand Palace, ngga ada salahnya mampir lah, ya.

Kalau tadi habis melihat bangunan megah, kali ini di Wat Pho melihat patung budha dengan lapisan emas yang tak kalah megah.

Kuil Pho merupakan kuil yang terbesar, dan salah satu kuil tertua di Bangkok. Cukup jalan kaki dari Grand Palace untuk sampai Golden Buddha.

Btw, di sini katanya bisa belajar mijit tradisional, gitu. Aaah…suami bisa belajar, nih. Atau, aku boleh mlipir cari tukang pijit selesai main. 😀

Wat Arun

Yuhuuui…ke kuil lagi, tapi beda arsitekturnya, dong. Wat Arun berdiri megah di tepi sungai yang bersih, dan katanya memiliki pemandangan sangat indah ketika subuh tiba. Namun demikian, Wat Arun lebih terkenal dengan sunsenya yang menawan.

Letaknya ada di tepi barat sungai Chao Phraya. Jika matahari mulai terbenam, objek yang memiliki menara yang puncaknya setinggi 70 meter, akan terefleksi di permukaan sungai Chao Phraya. Katanya, makan di restauran sekitar sini, tuh, syahdu banget.

Untuk sampai sini, perlu banget naik feri. Kebayang foto di atas kapal, dengan background Wat Run. Euuuuh…emang bisa? 😀

 MBK Center

Jalan ke Bangkok tapi nggak belanja rugi, katanya. Barang-barang di sana harganya sangat terjangkau, bahkan ketika dirupiahkan sekalipun harganya bisa jauh lebih murah daripada Blok M di Jakarta. Katanyaaaaa!

Jadi, ngga heran kalau pusat perbelanjaan seperti MBK Center di Bangkok ini selalu menjadi tujuan utama para pedagang untuk mengambil barang. Kulakan. Hahaha.

mbk bangkok

Kalau masih punya waktu, dan ngga terasa capek, aku pingi mampir sini. Entah mau belanja, atau kulakan. 😀 Bangkok, tunggu Yasmin agak gede dikit, ya. Sehari buat piknik manjah, dan satu hari buat ke pantaaaaaai. Yuhuuuui…doakan impian kami terwujud ya, Kawans! 😉

Kurma, Daging dan Bijinya Sama-sama Bermanfaat

“Waaah…udah mulai banyak Kurma, Bu. Beragam merek, dengan harga yang berbeda pula. Bedanya apa, sih?”

Nampak penasaran, suami melihat satu per satu Kurma yang sudah di kemas. Kurma yang berderet di atas etalase mini market langganan kami memang ngga hanya satu merek. Kalau ditanya perbedaanya, yang jelas beda merek, kemasan, dan berat netto. Hahaha.

“Kurma makin empuk, semakin enak lho, Mbak. Pilih yang besar, bijinya kecil, dan warnanya lebih gelap.”

Mbak Mawar (bukan nama sebenarnya), kasir mini market, kelihatannya cukup paham dengan buah yang memiliki nama ilmiah Phoenik dactylifera. Dia pun merekomendasikan kurma dengan merek tertentu kepada kami. Etapi, gimana bisa tau kalau kurma yang udah dikemas ini empuk-empuuuuk. Kan ngga megang. Hahaha.

Kalau suami, sih, terpenting dibeliin. Ngga mandang empuk, apalagi merek. Karena pada dasarnya, dia memang doyan kurma yang merupakan salah satu tanaman buah dari timur tengah ini.

Buah dengan warna coklat dan memiliki rasa yang manis ini mengandung karbohidrat sederhana yang dapat dengan mudah dicerna tubuh untuk diolah menjadi energi. Kurma biasanya dijadikan sebagai buah wajib untuk orang berpuasa karena dapat menjadi sumber energi serta membuat tidak mudah lapar.

Umumnya, yang sering dikonsumsi dari buah kurma adalah dagingnya atau diambil sarinya. Namun, ternyata biji kurma juga bermanfaat. Iya, ngga hanya daging, dan sarinya saja. Berikut beberapa manfaat biji kurma yang diambil dari beberapa sumber artikel.

Pertama adalah dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan kopi. Khasiat dari kopi biji buah timur tengah tersebut yaitu:

  • Menyembuhkan diabetes.
  • Menjaga stamina dan menghilangkan lesu dan capek.
  • Menghangatkan badan.
  • Merilekskan tubuh.
  • Mengobatimasuk angin, gatal-gatal, keputihan dan kembung.
  • Melancarkan peredaran darah.

Untuk membuat kopi dari biji Phoenik dactylifera, caranya yaitu:

  • Siapkan biji kurma, lalu cuci bersih dengan cara di gosok dengan sikat gigi dan air.
  • Jemur biji hingga kering di tempat yang jauh dari debu dan gangguan semut. Jika panas matahari cukup terik maka hanya membutuhkan waktu selama 2 hari agar benar-benar kering.
  • Sangrai hingga warnanya kehitaman dan mengeluarkan aroma yang sedap agar bakteri pada biji yang masih menempel dapat terbunuh.
  • Tumbuk hingga halus seperti kopi.
  • Seduh 1 sdm kopi Phoenik dactylifera dengan 1 sdm gula pasir dan Anda dapat mengkonsumsinya hingga 3x sehari.

Kedua adalah membantu untuk menguatkan tulang dan gigi.

Kurma memiliki kalsium yang cukup tinggi sehingga dapat membantu untuk menjaga agar tulang dan gigi menjadi lebih kuat. Membantu untuk mencegah osteoporosis atau pengeroposan tulang sejak masih muda.

Ketiga yaitu membantu untuk memperlancar pencernaan dan mengatasi sembelit.

Phoenik dactylifera memiliki kandungan serat yang tinggi dan manfaatnya sama seperti mengkonsumsi oatmeal. Untuk mengatasi sembelit, cara yang dapat dilakukan adalah dengan merendam buah yang rasanya manis tersebut selama satu malam di dalam air matang. Konsumsi air rendaman tersebut keesokan harinya.

Keempat adalah membantu untuk merawat kesehatan mata karena adanya kandungan vitamin A.

Biji buah yang berasal dari timur tengah tersebut dapat dikombinasikan dengan mengkonsumsi daging buahnya untuk menjaga agar mata tetap sehat terutama bagi kamu yang sering duduk di depan komputer. Ini cukup membantu.

Kelima adalah bagus untuk penderita anemia.

Tiap butir buah kurma ternyata juga mengandung zat besi. Artinya, ini bagus untuk memproduksi sel darah merah sehingga tidak mudah lemah.

BUAH KURMA YANG ENAK

Manfaat lainnya dari kurma yaitu untuk membantu menjaga kesehatan tubuh diantaranya:

  • Mengurangi adanya risiko jantung koroner karena dalam Phoenik dactylifera terdapat kandungan kalium yang bagus untuk mengendalikan denyut jantung.
  • Membantu mempercepat pembekuan darah sehingga meminimalkan risiko kehilangan darah yang terlalu banyak. Terutama saat kamu mengalami kecelakaan atau mendapatkan luka.
  • Meningkatkan responsivitas karena kandungan kalium untuk membantu menyehatkan sistem syaraf.
  • Membantu untuk mencerdaskan dan mengoptimalkan pertumbuhan otak pada bayi saat masih dalam kandungan. Nah ini, mengingatkanku saat hamil, dulu. Hampir tiap hari konsumsi sari kurma.

Ternyata banyak banget manfaat buah Kurma, ya. Terlebih untuk bijinya yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Sejauh ini, kalau melihat biji kurma, sih, pasti aku buang. Setelah tahu manfaatnya, tiba-tiba pingin buat kopi dari biji kurma. Hahaha. Tantangan, nih. 😛

Makasih buat rekomendasi Kurma yang empuk ya, Mbak Kasiiiiiir. 😉

Welcome Blogger Serayu!

Berita tentang Banjarnegara pernah beberapa kali tayang di televisi. Lebih sering berita sedih, sih. Tanah longsor, misalnya. Pada saat tertentu, aku kerap terharu ketika mendapat colekan dari teman-teman Blogger di media sosial. Ini bukan sekadar colekan biasa, karena kurasa lebih ke perhatian.

Teman-teman Blogger yang kukenal mention aku di jejaring sosial, menanyakan kabarku beserta keluarga, dan tentunya tanah Banjarnegara. Apakah kami baik-baik saja? Dekat atau jauh dari TKP? Deeegh! Siapa yang ngga bahagia punya teman-teman Blogger yang care? Belum pernah berjumpa sekalipun, mereka memiliki rasa khawatir yang begitu dalam. Rasa-rasanya sudah seperti keluarga.

Saat itu, mungkin blogger dari Banjarnegara yang mereka kenal baru aku, Idah. Mereka belum kenal dengan blogger lain yang berdomisili di Banjarnegara. Jangankan mereka, aku pun merasa belum punya teman di sini. Sampai akhirnya, aku tekadkan untuk mengikuti acara Pesta Blogger kala itu, tahun 2013.

Saking pinginnya punya teman Blogger dari daerahnya sendiri, rasa malu betul-betul kusingkirkan. Kupikir, dengan punya teman yang sama-sama punya hobi ngeblog akan menambah semangat. Akupun mendaftar secara online. Sesampainya di acara, ternyata hanya ada satu orang yang kukenal, itupun tetangga, dan dia menjadi MC sekaligus moderator acara. 😀

Pesta Blogger Banjarnegara adalah acara yang diselenggarakan oleh Ruang Belajar Masyarakat (RBM). Aku ngga paham siapa yang ada di balik RBM, dan dimana “tempat nongkrongnya”. 😀 Maklum, aku belum begitu gawl saat itu. Hahaha.

Baca juga: RBM dan Pesta Blogger Banjarnegara.

Inti acara pesta blogger, RBM mengajak Blogger Banjarnegara untuk turut mempromosikan produk unggulan dan potensi daerah. Ajakan yang menyenangkan, bukan? Apalagi bagiku, Blogger yang begitu sayang dengan tanah kelahiran. Jangankan potensi daerah, Pak Bupati minta dibuatkan Blog aja akan kubuatkan, kok. 😆 😛 😛

Btw, apa kabar RBM? Masih ada atau sudah ganti nama, ya? Mungkin hanya para pengurus dan anggota yang tahu, karena setelah Pesta Blogger yang meriah banget, aku ngga pernah mendengar ada pertemuan lagi.

Tidak hanya Pesta Blogger, aku juga pernah ikut lomba blog dengan tema wisata Banjarnegara. Lomba ini diikuti kurang lebih 15 Blogger Banjarnegara. Lagi-lagi acaranya meriah, pun dengan hadiahnya. Bertempat di The Pikas, teman Blogger mulai bertambah, meski kami ngga sampai membuat forum.

Baca juga: Lomba Blog di The Pikas.

Beruntunglah, Dinas Pariwisata Banjarnegara pernah mengadakan acara Blog Competition. Jadi sedikit tahu blogger-blogger yang berdomisili di Banjarnegara. Berbekal dari pengumuman lomba, akupun mulai kepoh cantik, yang kemudian memberanikan diri untuk japri mereka satu per satu melalui Twitter.

Malu? Nggaaaaa laaah! Jangankan cuma DM, ngajak ketemuan saja aku jabaniiiin. 😛

Aku, Hendi, Mas Ganjar, Mas Jujun (yang saat itu berhalangan hadir), memutuskan untuk meet up. Dalam hal blogging, aku merasa tujuanku dengan mereka hampir sama, yaitu ingin membagikan isu positif di Banjarnegara lewat media Blog, dan jejaring sosial. Semoga sama. Semoga. 😀

CULINARY IWAK BANJARNEGARA

Pertemuan yang cukup singkat memberanikan kami untuk mengumpulkan lebih banyak lagi blogger-blogger di Banjarnegara dengan membuat pertemuan di Culinary “Iwak”.

Baca juga: Review Culinary “Iwak” Gemuruh.

Pertemuan perdana cukup membuatku (khususnya) optimis untuk bersama berbagi tentang Banjarnegara karena yang datang lebih dari tarjet, yaitu 14 Blogger. Meet up ini juga dihadiri oleh teman-teman media, ada Mas Acil dan Mas Nur. Terasa makin lengkap, dan gereget.

Sesuai kesepakatan, meet up perdana kami manfaatkan untuk perkenalan, berdiskusi ringan perihal nama, pembuatan akun official, dan tata laksana rumah tangga. 😀 😆 Nama Blogger Banjarnegara ngga kami gunakan karena berbagai pertimbangan. Kami justeru memilih nama Blogger Serayu. Meski nama tersebut pernah dipakai oleh Pangeran Antah (bukan nama sebenarnya), namun untuk seluruh akun socmed masih available.

Permisi melalui Pangeran Antah, nama Blogger Serayu akhirnya fix kami gunakan untuk nama komunitas kami. TOK…TOK…TOK…!

Dan inilah yang kemarin turut meet up Blogger Serayu:

  • Mas Jujun ( http://eventbanjarnegara.com)
  • Mas Ganjar (http://www.banjarnegaraku.com/)
  • Mas Doni (http://komikselonjor.com/)
  • Mas Ipong (http://www.indiegigsmedia.com)
  • Hendi (https://ndayeng.wordpress.com)
  • Lutfi (https://fahrezy.wordpress.com/)
  • Havid (http://www.northbackpacker.com)
  • Razin (http://www.blogx.id/)
  • Faiz (http://www.niguradev.id/)
  • Mad Solihin (http://www.madsolihin.com)
  • Mei (http://blekkedet.blogspot.com)
  • Ella (https://ellafitria.blogspot.co.id)
  • Ira (https://pandanwangi156.wordpress.com)
BLOGGER SERAYU
Alhamdulillaah, udah punya banyak teman bloger di Kota kelahiran. ^_*

Alasan memilih nama Blogger Serayu tentunya bukan asal. Sungai Serayu yang melintasi lima kabupaten, termasuk Banjarnegara, bagi kami merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Terlebih, Banjarnegara kerap menggunakan kata “Serayu” untuk berbagai acara. Festival Serayu Banjarnegara, misalnya. Selain itu, arus sungai serayu Banjarnegara juga cukup potensial untuk olahraga Arung Jeram, dan Tubing. Makanya, kami memilih Serayu untuk nama komunitas Blogger.

Baca juga: Festival Serayu Banjarnegara

Aku (khususnya) punya banyak harapan bersama Blogger Serayu. Salah satunya, dapat bersama membagikan informasi positif tentang Banjarnegara di berbagai bidang, karena Banjarnegara adalah Kabupaten yang -insya allah- kaya. Asli. Meski sampai sekarang masih pelan-pelan beradaptasi, aku (khususnya) yakin teman-teman Blogger Serayu akan berusaha membagikan yang terbaik untuk Kabupaten yang memiliki banyak potensi lewat media digital. Doakan kami, teman-teman. ^-*

Akun Official Blogger Serayu

website | instagram |twitter | fan page

Sindu Kusuma Edupark, Alternatif Wisata Keluarga di Yogyakarta

Mencari rekomendasi wisata di Yogyakarta sangatlah mudah karena Daerah Istimewa yang satu ini memang banyak menawarkan objek wisata. Termasuk untuk wisata keluarga, dan masih ada Si Kecil yang musti turut menikmati wisata. Ada Taman Pintar, atau Kids Fun, yang sudah lama berdiri.

Selain keduanya, ada alternatif wisata keluarga yang recommended. Adalah Sindu Kusuma Edupark (SKE) yang berlokasi di Jl. Magelang Km.3, Jambon, Sleman, Yogyakarta. Berdiri di atas lahan seluas 7 hektar, objek wisata ini mengandalkan konsep edukasi dan mengusung nilai-nilai Adiluhung Budaya Jawa sebagai tata laku utama.

Surprise banget saat tahu bahwa suami ngga dapat jatah libur tahun baru lalu. Artinya, kami gagal menjemput Sunrise di kawasan Borobudur yang lama telah kami idamkan. Bisa dibilang, ini piknik keluar kota terkilat. Ngga masalah, sih. Terpenting orang tua dan Jasmine dapat menikmati liburan.

Nah, supaya semua bahagia, kami memilih wisata keluarga dengan konsep wahana wisata. Beruntung banget…saat itu kami mendapat gratis liburan ke Sindu Kusuma Edupark, menjajal seluruh wahana di SKE. Yasalaam…Ibu solehah yang satu ini girang banget, dong. 😀

Pasti bahagia, karena bisa dibilang SKE masuk objek wisata sesuai kebutuhan kami. Jasmine dapat bermain di playground ditemani Mbah, aku dan suami bisa pacaran, menghabiskan waktu berdua menjajal wahana wisata SKE. Btw, sebelumnya kami dolan ke Candi Borobudur untuk melunasi keinginan orang tua. Setelahnya, barulah kami menujut SKE untuk bersenang-senang.

CANDI BOROBUDUR MAGELANG

Awalnya, aku ngga yakin dapat menikmati seluruh wahana permainan di SKE karena sampai lokasi sudah sore. Tapi setelah bertemu dengan Mbak Syifa dan Mas Ucup, karyawan SKE, aku kembali semangat karena mereka dapat membawa kami ke masa-masa ABG. 😀 Mereka juga menyambut kami dengan baik, tutur katanya lembut, sopan, dan ramah.

“Di sini ada 19 wahana permainan yang bisa banget dicoba semua. Mbak Idah, dan suami boleh memulainya dari Cakra Manggilingan yang merupakan ikon SKE. Sementara adeknya boleh main sepuasnya di Dino Park.”

EDUPARK YOGYAKARTA INDONESIA
Sedeep banget malam-malam naik ini…

Widiih…Mbak Syifa tahu banget kalau Jasmine udah pingin mainan. 😆 😛 😀 Secara ngga langsung, Mbak Syifa mempersilakan Mbah dan Jasmine menuju tempat permainan, ya. 😆 😆 Betapa bahagianya aku, bisa bebas lepas dan main sampai puas. Pun dengan Jamsine, dan mungkin tidak buat Mbah karena sudah terlalu capek keliling Candi. Qiqiqi. *maafken*

Sesuai arahan Mbak Syifa, kami pun menuju wahana Cakra Manggilingan atau Ferris Whell. Wahana ini merupakan ferris whell tertinggi di Indonesia, dan menduduki peringkat 6 besar di Asia.

WISATA KELUARGA DI YOGYAKARTA SINDU KUSUMA
Mirip mobil-mobilan, ya… 😀

Saat kami naik wahana yang memiliki 28 kabin dengan ketinggian 50 meter, mobil yang ada si parkiran tuh nampak seperti mobil-mobilan. Saat posisi kabin kami pas banget di paling atas, viewnya sedap banget. Di atas kabin, kami sibuk banget foto-foto, dong. Wefie dengan berbagai pose, dan asli rusuh banget. Beruntungnya, kabin yang biasanya terisi empat orang, hanya diisi aku dan suami dowang. Lepaaaas! 😆

Btw, wahana ini geraknya lambat. Insya allah aman buat si kecil. Tadinya aku mau mengajak Jasmine naik wahana paling hits di SKE ini, tapi keburu dibawa Mbah Uti dan Mbah Kung. Yaudah, pan kapan lagi.

Wahana selanjutnya yang kami coba yaitu Sepeda Mabur. Malam-malam mengayuh seped ternyata asyik. Apalagi ini sepedanya berada di ketinggian 3 meter di udara.

Sepeda Mabur Sindu Kusuma Edupark

Wahana yang berkapasitas dua orang ini mengharuskan kami untuk kompak mengayuh. Misal salah satu berhenti mengayuh, pejalanannya akan lambat. Kasihan yang di belakang, dong. Santai saja sih mengayuhnya, sembari menikmati pemandangan sekitar wahana. Saking fokusnya melihat Mas Ucup membantu suami mengenakan sabuk pengaman, cerita-cerita sembari mengayuh, kami sampai lupa ngga foto-foto di sini. Hahaha. Pinjamlah foto https://letswalk18.blogspot.co.id.

Next, ada Kursi Mabur. Ini mirip-mirip wahana yang di pasar malam. Hanya saja, kursi ini bisa terbang setinggi 4 meter di udara dengan durasi putar selama lima menit. Merinding ngga? Banget!

SINDU EDUPARK
Lumayan merinding… 😀

Basicnya ngga punya keberanian untuk terbang sih, ya. 😀 Tapi aku sempat kesal dengan suami dan dua anak kira-kira usia 10 tahun. Kesal karena mereka menertawakanku. Saat kursi mulai terbang, aku teriak-teriak manja, gitu. 😀 Kukira dengan teriak dapat sedikit tenang, ternyata ngga. Perut tetap saja mak syeeer. Padaha tenggorokan sampai kering, lho. Rugi banget teriak-teriak, ya. 😀 Detak jantung kembali normal saat mainan Pit Egrang. 

PIT EGRANG

Btw, aku baru merasakan kalau mainan Pit Egrang itu ternyata seru. Awalnya aku takut karena mainan ini kan hanya stang dowang. Ngga ada remnya, gitu. Tapi, setelah dapat edukasi dari Mas Ucup, aku jadi tahu cara mainnya. Intinya, tarik ke belakang kalau mau ngerem, sih. Namun, tetap hati-hati. Semisal ragu, bisa minta didampingi petugas. 😀

Kalau sudah sampai SKE ngga nyobain Pit Egrang, kurang mantap lah. Meski pengunjung harus bayar lagi Rp 40.000 per orang, karena permainan ini ngga masuk tiket terusan seharga Rp 70.000 per orang, tapi puas keliling sirkuit Pit Egrang selama 30 menit.

SINDU KUSUMA EDUPARK

Ini nih salah satu sudut taman SKE. Di sini cukup ramai karena ada wahana Panggon Lunjak. Seharusnya aku teriak-teriaknya tuh kalau main di panngon lunjak, bukan kursi mabur. 😀 Salah tempat. Sayangnya, baik aku maupun suami ngga ada yang berani main wahana yang dapat memacu adrenalin karena akan dibawa kabur terbang sampai ketinggian 10 meter di udara.

“Ketimbang Panggon Lunjak, mending temenin kami ke Rumah Teror saja, Mbak Syifa. Pacu adrenalin di sana.” Ucap suami kepada Mbak Syifa usai main Pit Egrang. Grrr…

WAHANA SINDU KUSUMA EDUPARK

Sebenarnya aku ogahan masuk rumah yang ngga ada mendoannya ini. Tapi gimana lagi, suami ngebet pingin masuk. Untungnya sih kami ngga berdua dowang. Ada beberapa orang, jadi bisa njerit ramai-ramai sambil manja-manja meluk suami. 😀

Dengan menggunakan kereta elektrik, perjalanan keliling rumah teror hanya membutuhkan waktu kurang lebih 4 menit. Di sini pas lagi sebel-sebelnya dengar suara kuntilanak, mas bojo sempet-sempetnya tanya tentang sensor yang digunakan untuk wahana ini. Yasalaam…pingin tak gujeees.

PERMAINAN ANAK DI YOGYAKARTA

Sebelum melanjutkan permainan, kami menyempatkan untuk menengok Jasmine di Dino Park di mana lokasinya cukup dekat dengan House Of Terror. Ternyata Jasmine betah banget mainan di sini. Dia menclok dari satu permainan ke permainan lain. Terus, Mbah Uti sama Mbah Kung tambah capek, dong. Hahaha. Ngga apa-apa, yang penting cucu senang, damai hiduuup inii. 😀

Wahana yang cocok buat anak-anak, pengunjung harus mengeluarkan uang lagi untuk dapat bermain. Paling mahal Rp 15.000 sih, untuk wahana mandi bola. Kata Mbah Uti, hampir semua permainan dicoba. Lalu, aku tanya sudah habis berapa duit, katanya ngga bayar. 😀 Rejeki lagi, nih. Kami kira gratisnya di orang dewasa dowang. 😛

BUMPER CAR SINDU KUSUMA EDUPARK

Setelah dadah-dadah dengan Jasmine, kami keluar Dino Park dan menuju wahana berikutnya yaitu Montor Tumbur atau Bumper Car. Ini pertama kali aku naik Bumper Car, dan ternyata sama asyiknya dengan naik Sepeda Mabur. Hihihi SKE menyediakan Bumper Car dengan seat single dan double. Bertabrakan di atas arena seluas 200 meter, sebenarnya lebih asyik milih yang single seat. Tapi apa daya aku ngga berani tumbur dengan suami di ruang tebuka. Alasan banget, sih. Karena aslinya, aku ngga berani mainan Bumper Car. 😀

Eeeeh, ini sudah berapa wahana, ya. Panjang banget tulisannya. Hahaha. Maaph lagi doyan ngetik, nih. Total dari 15 wahana wisata, yang ngga kami coba yaitu Montor Listrik dan Panggon Lunjak (Trampoline). Selain wahana di atas, wahana  lain seperti: Roti Puter, Sepur Cilik, Cangkir Puter, Komidi Puter, Sepur Kluthuk, dan Cinema 7D, telah kami coba.

Btw, nama wahananya unik, ya. Menggunakan bahasa jawa, gitu. Seperti yang sudah kutulis di awal, bahwa konsep wisata Sindu Kusuma Edupark tuh mengusung nilai-nilai Adiluhung Budaya Jawa. Nguri-nguri basa jawa, melestarikan bahasa jawa. Makanya, nama wahana pun menggunakan bahasa jawa yang mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat yang tentunya bukan dari Jawa.

SINDU KUSUMA EDUPARK

Nilai edukasi di wahana ini memang belum maksimal, baru terdapat Oemah Batik dan replika-replika objek wisata, gitu. Replika Candi Prambanan, misalnya. Kata Mbak Syifa, masih dalam tahap pengembangan, dan tiap tahunnya juga menambah wahana baru. Seperti tahun ini, ada Waterpark dan Grass Slide.

Objek wisata keluarga semenarik, semurah, dan seramah Sindu Kusuma Edupark ini ternyata belum begitu memasyarakat, banyak orang yang belum tahu. Yuuuk ah, ajak keluarga untuk liburan ke Yogyakarta dan ramaikan SKE. Fasilitas umum seperti tempat parkir, mushala, dan toilet, memadai. Ada juga tempat makan dan pusat oleh-oleh khas Yogyakarta di sini.

Sindu Kusuma Edupark, Yogyakarta

  • Jam buka: Weekdays: 13.00-22.00 WIB. Weekend: 10.00-22.00 WIB
  • Lokasi: JL. Magelang KM 2, Jl. Jambon, Sinduadi, Mlati, Kab. Sleman, Yogyakarta.
  • Nomor Telpon : (0274) 6429660.
  • HTM: Rp 70.000 (tiket terusan)

Culinary Iwak Gemuruh, Spesialis Kuliner Serba Ikan 

Culinary Iwak Gemuruh, Spesialis Kuliner Serba Ikan – Setidaknya, aku punya seorang teman perempuam yang ngga doyan daging; ayam, sapi, dan kambing. Sama sekali enggak doyan. Mau diolah seenak apa pun enggak bakal doyan.

Selain daging, dia juga agak susah kalau diajak makan seafood. Ngga bakal habis satu porsi. Bisa dibilang hanya ambil dua sampai tiga ekor udang, cumi, atau seafood lainnya yang udah dipesan. Selebihnya, aku yang menghabiskan. Asyik ya, punya teman macam ini. Hahaha. Milzana, namanya.

Sebagai teman baik, tiap kali kami ngedate, aku lebih sering mengajaknya kulineran ke warung yang menyediakan ikan. Biasanya sih di Saung Bu Mansur karena di sana menyediakan menu ikan Gurameh yang endeus. Ya…meski dia jarang memesan ikan, tapi setidaknya aku telah memberi pilihan terbaik untuknya. Qiqiqi.

Selain Saung Bu Mansur, ternyata sekarang ada Culinary “Iwak” yang juga menawarkan menu. Kabar baiknya, di sini banyak menu iwak atau ikan. Tidak terbatas pada Gurameh. Bisa dibilang, Culinary “Iwak” ini spesialis kuliner serba ikan. Kubilang spesialis karena di sini lebih dominan menyediakan kuliner ikan seperti: Iwak Kali, Betutu, Lele, Bawal, Gurameh, Mujahir, Nila, dll.

CULINARY IWAK GEMURUH BANJARNGARA 2

FYI, iwak dalam tanda kutip bukan berarti punya maksud lain. Arti nama warung yang terdiri dari dua kata, dan dua bahasa yaitu culinary yang berarti kuliner, sedangkan “iwak” diambil dari bahasa jawa yang berarti ikan air tawar. Menggunakan tanda kutip karena bukan dari bahasa nasional, melainkan bahasa daerah. Lidah mbanjar mbanget pokoke. *asli, ini penting banget dibahas* *padahal masih mungkin* *belum tanya pemiliknya* 😆

Ihh…tiba-tiba ngomongin Culinary “Iwak” Gemuruh

Sebelum mengajak Milzana ke sini, aku dan suami terlebih dahulu nyobain kulineran di sini. Bukan tanpa sebab, kami datang ke tempat makan yang lokasinya cukup jauh dari tengah kota, kurang lebih 2 km. Akhir bulan Maret, ada acara meet up bareng Blogger Banjarnegara yang bertempat di Culinary “Iwak”.

Kami, tuh, belum pernah singgah di sini. Tapi, karena tahu lokasi tepatnya, yaitu kurang lebuh 50 meter sebelum Perumahan Gemuruh Griya Indah, kami pun mudah mencarinya. Apalagi aku tahu, sebelum Culinary “Iwak” berdiri, tempat ini dimanfaatkan sebagai pasar ikan Gemuruh.

CULINARY IWAK GEMURUH

“Pokoknya kanan jalan dari arah timur, setelah SMA Bawang, eks. pasar ikan Gemuruh.” Kataku kepada suami yang saat itu mengantarkanku, sekaligus hendak turut acara. Kurasa sudah cukup detail, tapi Suami masih belum paham, dong. Maklumin saja, ya, karena sampai sekarang dia masih belum hafal rute jalan di Banjarnegara. Jadi, kalau punya rencana main seputar Banjarnegara, aku ada di belakang, tapi sebagai sopir. “Nggemesin” banget, kan. Hahaha.

Kenapa Memilih Culinary Iwak Gemuruh?

Alasan utama karena tempatnya cocok banget buat kumpul bersama empat belas orang Blogger. Ini bukan tentang luasnya, tapi karena ruang terbuka, gitu. Ngumpul Blogger di ruang terbuka terasa lebih santai, dan segar. Terlebih, ditambah suguhan hamparan persawahan yang baru banget ditanami padi. Segeer, padhang njembrang!

Tempat seperti ini ternyata mempengaruhi semangat juga berdiskusi, ya. Jauh dari kata bosan, dan malah makin seru. Apalagi setelah menikmati ikan bakar, cocol sambal pedas, lengkap dengan urab daun ketela. Lidah dan perut betul-betul dimanjakan.

Alasan berikutnya, karena harga menu makanan cukup terjangkau. Kulihat di daftar menu, harga termahal untuk seporsi menu ikan yaitu Rp 20.000 per porsi. Kecuali Ikan Gurameh yang dihitung dengan harga beli per ons. Camilan seperti nugget ikan, harganya Rp 15.000 per porsi, dan ini camilan paling mahal di Culinary “Iwak”. Ngga bikin dompet kosong banget lah, ya.

Kemudian, yang menarik dari Culinary “Iwak”, selain makan-makan, pengunjung bisa santai di Kedai Kopi yang menawarkan berbagai macam kopi lokal, kopi yang dipanen dari berbagai penjuru Desa di Banjarnegara. Kedai Kopi Sabin, namanya. Pengunjung tinggal pilih; cukup menikmati kopi, perlu makan-makan, atau makan dan setelahnya ngopi-ngopi. 😀 Jarang, kan, tempat makan yang sekaligus ada kedai kopinya.

Lalu, Gimana dengan Fasilitasnya?

Memang, tempat ini eks. Pasar Ikan Gemuruh, namun fasilitas penting a la warung makan termasuk cukup, meski masih sederhana, dan seadanya. Mushola, misalnya. Mungkin pengunjung cukup susah menemukan Mushala di sini. Selain ngga ada tanda semacam kubah, pemilik Culinary “Iwak” belum membuat papan sign board yang dapat digunakan sebagai petunjuk menuju Mushola.

Aku juga awalnya cukup meraba buat mencarai Mushala karena diskusi waktu itu ternyata sampai sore. Tapi setelah bertemu dengan seorang Ibu yang sedang membakar ikan di sebelah Kedai, aku jadi tahu letak Mushala. Dan ternyata, fasilitas lain seperti: tempat wudhu, tempat cuci tangan, toilet, ada di di belakang Mushola. 😆 😀

CULINARY IWAK GEMURUH BANJARNGARA

Terlepas dari fasilitas yang masih seadanya, luasnya tempat parkir dan mudahnya akses menuju tempat makan ini menjadi kelebihan dari Culinary Iwak. Kendaraan dapat parkir di samping atau di depan warung. Jangan lupa helm di bawa masuk, dan ditaruh pada tempatnya yang terletak di pintu masuk supaya lebih tenang, dan aman. 🙂

Btw nih, ya. Kabupaten Banjarnegara masih terus mengembangkan sistem pengelolaan budi daya ikan air tawar di lahan sawah pertanian padi atau biasa dikenal dengan istilah minapadi. Ini betul-betul program bagus karena area persawahan di Kabupaten Banjarnegara masih tergolong luas. Selain hasilnya nanti dapat dijual, setidaknya pemerintah juga turut menyemangati program yang telah dicanangkan pemerintah yaitu Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARI).

Warung makan seperti Culinary Iwak ini rekomendasi bagi kalian yang ingin mencicipi beragam menu ikan yang merupakan bahan pangan sehat yang bergizi tinggi. Tersedia juga aneka menu khas Desa seperti Nasi Jagung, lengkap dengan urab. Di sini juga menyediakan menu Ayam, kok. Cocok lah buat ngajak Milzana ngedate. 😛 😛

Culinary Iwak Gemuruh, Banjarnegara.

  • Alamat: Jl. Raya Gemuruh (50 meter sebelum Perumahan Gemuruh Griya Indah)
  • Pemesanan: 0853 2727 0707 atau 0822 2635 5594 (Elly)
  • Jam buka: 09.00-22.00 WIB
  • Instagram: @culinary_iwak